Friday, 30 January 2026

Touring Perdana di Awal Tahun : Ngopi di Atas Awan Desa Sapit



Ini dia cerita yang sudah ditunggu-tunggu. Cerita di awal tahun 2026 bersama teman-teman motor baru. Kalian yang sudah pernah berkunjung ke reel saya di facebook Didit Lombok, pastinya sudah melihat potongan video saya touring sambil ngopi ke salah satu kedai kopi yang ada di Desa Sapit. 

Bisa dibilang ide ini lahir dari saya dan Mas Den yang membentuk club motor kecil-kecilan. Dimana anggotanya dari teman satu kantor dan memiliki motor Yamaha. Anggotanya masih beberapa orang saja  tanpa paksaan untuk gabung. Kami terbuka untuk siapa saja yang mau gabung. Mau bapak atau wanita juga boleh. Asalkan mau ikutan touring.

Bisa dibilang club motor ini sudah enam bulan berdiri. Tapi belum juga ada kegiatan touring. Hanya ngobrol-ngobrol ringan di dalam grup whatsApp maupun saat nongkrong bareng di area tempat kerja. Untuk nama club motornya, nanti saya spill di akhir tulisan.

Kebetulan juga kami satu frekuensi dimana dalam keseharian di dalam grup whatsApp, kami sering membahas tentang motor khususnya Yamaha. Seperti perawatan NMAX, Aerox dan motor lainnya. Dan akhir-akhir ini kami sudah ngelist, tempat-tempat yang akan kami explore.

Berhubung waktu libur kami bisa berbarengan karena ada yang ngeshift. Akhirnya saya dan Mas Den memutuskan untuk touring ke Desa Sapit. Tepatnya ke salah satu kedai kopi baru yang saat ini sedang nge-hits di media sosial. 

Sabtu pagi tanggal 17 Januari 2026, saya bersiap-siap berangkat ke tempat kerja karena kami akan kumpul disana. Dari sekian anggota, hanya empat orang yang bisa ikutan. Ada saya, Elwal, Kadek dan Mas Den sendiri. Untuk Mas Den, beliau menunggu di daerah Masbagik, Lombok Timur karena kami akan melewati jalur tersebut. 

Sudah berkumpul di tempat kerja, saya bertiga sekitar jam delapan pagi mulai jalan ke Lombok Timur. Jalur yang dilewati yaitu Kota Mataram menuju daerah Narmada, lanjut ke arah Kopang dan bertemu dengan Mas Den di daerah Masbagik, Lombok Timur. 

Situasi dan kondisi lalu lintas pagi itu cukup padat karena jalur yang kami lewati adalah jalur terpadat di Pulau Lombok karena menghubungkan empat kabupaten/kota, Kota Mataram, Lombok Barat, Lombok Tengah dan Lombok Timur. Apalagi hari itu merupakan akhir pekan dimana warga kota banyak yang keluar daerah untuk pulang kampung dan berlibur. 



Hampir satu setengah jam perjalanan akhirnya kami sampai di daerah Masbagik untuk bertemu dengan Mas Den. Beliau sudah menunggu kami di pinggir jalan. Setelah bertemu, kami diajak untuk ke rumahnya yang lokasinya cukup dekat dengan tempat kami bertemu.

Di rumah Mas Den, kami istirahat dan sarapan meskipun kami sudah sarapan sebelum berangkat tadi. Istri beliau sudah menyiapkan beberapa masakan dan cemilan buat kami. Makasi Mas Den dan keluarga sudah repot-repot. 

Menu sarapan kedua kami pagi itu ada nasi putih, pelecing kangkung, tahu tempe goreng, ikan goreng dan kerupuk. Untuk cemilannya ada berbagai jenis jajanan pasar. Gak lupa di akhir sarapan, kami ngopi-ngopi dulu.

Setelah satu jam beristirahat di rumah Mas Den, kami berempat melanjutkan perjalanan ke Desa Sapit yang waktu tempuhnya kurang lebih satu jam melewati beberapa jalan pintas desa. Jalur yang kami lewati yaitu Desa Lenek, Aikmel, lalu mengambil jalur lurus di perempatan Pasar Aikmel menuju arah Desa Suela, kemudian gas pooll menuju jalur Desa Sembalun.

Di cerita ini, kami gak sampai touring ke Desa Sembalun. Melewati Kebun Raya Lemor dan sekitar dua kilometer, kami sampai di pertigaan Desa Sapit. Berbelok ke kanan menuju Desa Sapit, sedangkan kalau lurus kita mengarah ke Desa Sembalun.

Sapit merupakan desa yang terletak di Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Desa ini dikenal karena keindahan alamnya, kekayaan budaya, dan aktivitas masyarakatnya.

Berada di lereng Gunung Rinjani, dengan ketinggian sekitar 700 sampai 1100 meter di atas permukaan laut. Udara di desa ini sangat sejuk dan pemandangan alam pedesaan yang indah.

Sebagian besar mata pencaharian warga desa sini yaitu petani tradisional dengan komoditas pertanian yang terkenal yaitu kopi (robusta dan arabica). Selain itu ada padi, jagung, tembakau dan rempah-rempah.

Desa ini sangat dikenal dengan produk kopinya yaitu Kopi Sapit. Oleh karena itu, alasan kami datang kesini untuk mencari kopi sambil duduk santai menikmati alam pedesaan. Ada trasering sawah, perbukitan, view puncak Gunung Rinjani dan sunrise maupun sunsetnya.



Sekitar jam sebelas pagi, kami sampai di desa ini. Kondisi jalan sesampainya di desa ini cukup menantang. Jalanan beraspal dan naik turun karena desa ini berada di lereng gunung. Kabut juga sering menyelimuti desa ini.

Disini banyak sekali kedai kopi. Sebelum berangkat, saya mencari dulu mau ke kedai kopi mana. Kami pilih saja kedai kopi yang lokasinya paling atas.

Berada di area perkampungan warga dengan jalan yang menanjak dan menurun. Ada rumah warga yang berada di atas dan di bawah jalan. Ngebayangin kalau hujan deras air yang mengalir seperti sungai melewati jalanan sempit.

Di pertigaan Masjid Sulul Muttaqin Sapit, ada papan petunjuk bertuliskan "Welcome to Sapit Village" dan Serata Coffee & Camp di sudut pertigaan. Kami mengikuti jalanan kecil menuju Serata Coffee & Camp.

Jalanan menanjak dengan aspal yang gak rata. Sedikit bergelombang dan berbatu. Harus ekstra hati-hati saat menanjak. Mengatur gas motor jangan sampai gagal nanjak karena dari pertigaan hingga sampai di kedainya, jalannya menanjak terus.

Melewati trasering persawahan hijau dan perkebunan warga. Meskipun menanjak, jalannya aman untuk motor dan mobil. Terpenting kendaraan harus dalam kondisi baik.

Gak terasa menanjak, kami sudah berada di ketinggian kurang lebih 1000 meter di atas permukaan laut. Terlihat Selat Alas di sisi sebelah timur. Puncak Gunung Rinjani yang tertutup oleh awan tebal. Area hutan belantara Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani.

Gak jarang pula berpapasan dengan warga desa yang beraktivitas pagi itu. Kurang lebih satu jam perjalanan dari rumahnya Mas Den, kami sudah sampai di Serata Coffee & Camp yang lokasinya berada persis di sebelah kiri jalan.

Posisi kedai kopi ini di ujung jalan yang bisa dilalui motor dan mobil. Selebihnya, sudah jalanan setapak orang yang akan melakukan pendakian ke salah satu Bukit yang ada di daerah Sembalun. Kapan-kapan kita bahas !.




Sesampainya di lokasi, kami memarkirkan motor di tempat parkir motor yang sudah disediakan. Tempat parkirnya cukup luas. Apalagi area ngecampnya yang luas sekali.

Ada beberapa tempat nongkrong. Terlihat ada meja kayu panjang dengan kursi kayu yang berada di pinggiran area camping. Ada juga bangunan seperti pendopo yang saat itu belum difungsikan. 

Bangunan lainnya yaitu kedai kopinya sendiri yang cukup estetik. Ada bar kecil-kecilan dimana tempat pengunjung untuk memesan minuman dan cemilan. Karyawan disini juga ramah-ramah. Gak pelit informasi kepada pengunjung. Selain itu ada bangunan kamar mandi permanen. Dan bangunan dapur untuk memasak. 

Serata Coffee & Camp selain menjadi kedai kopi, tempat ini juga sebagai tempat pengunjung untuk membuka tenda dan ngecamp. 

Kita bisa membangun tenda di area rumput yang cukup luas. Bisa membangun tenda bebas dimana saja. Asalkan jangan bangun tenda di pinggiran tebing saja karena bisa berbahaya. 

Kedai kopi ini mulai buka di tahun lalu. Bisa dibilang masih tergolong baru. Apalagi kedai kopinya baru tiga bulan dibangun menjadi lebih bagus lagi.




Sampai di kedai kopinya, kami langsung memesan minuman. Pastinya saya memesan kopi. Yang saya pesan yaitu Vietnam Drip. Sedangkan lainnya memesan susu putih dan susu jahe. Gak paham saya kenapa mereka pesan susu. Padahal kan tujuan utama kesini untuk ngopi. Ngapain kalian nyusu kesini, hehehe.

Setelah memesan minuman dan cemilan pisang goreng dan tempe mendoan, kami mencari tempat untuk duduk bersantai sambil ngobrol ngalor ngidul.

Disini kita bisa membawa tenda sendiri atau menyewa tenda untuk ngecamp. Dari informasi yang saya tanyakan sama owner-nya, untuk sewa tenda disini dikenakan tarif 60 ribu per tenda. Bisa untuk empat orang dewasa atau satu keluarga. Sedangkan kalau bawa tenda sendiri dikenakan sewa lahan yaitu 25 ribu per orang. Untuk anak-anak umur dibawah 10 tahun gak dikenakan biaya alias gratis.

Next time, bisa kita coba camping disini. Pastinya seru dan asyik bareng keluarga atau temen. 

Untuk udara disini cukup sejuk dan berkabut. So, bawa jaket tebel biar gak kedinginan. Meskipun gak sesejuk di Desa Sembalun, tapi it's oke untuk datang buat ngopi atau bermalam disini. Untuk kedainya bisa dibilang buka hampir dua puluh empat jam. 

Kalian tau gak, karyawan disini hampir gak pernah turun ke desa meskipun mereka asli warga sini. Kata mereka, seminggu sekali mereka turun untuk membeli beberapa kebutuhan dari kedai kopi ini. 

Ohya, untuk bersantai di area rumput, kami mengambil alas tikar yang sudah disiapkan. Gak ada tambahan biaya sewa tikar karena kami sudah pesan minuman. 

Kami mengambil dua tikar untuk berempat. Mengambil posisi di tengah biar mudah untuk mengambil dokumentasi. Saat kami sampai di lokasi, ada dua rombongan keluarga yang mendirikan tenda berukuran besar. Sepertinya mereka sudah bermalam disini sejak kemarin. 

Selain kami berempat, ada juga rombongan lainnya yang datang buat ngopi-ngopi juga. Sebagian besar pengunjung berasal dari luar daerah seperti Kota Mataram atau wisatawan domestik yang kebetulan mampir ke desa ini. 




Cuaca siang itu cukup mendukung. Agak mendung dan berkabut, tapi gak ada hujan. Hanya gerimis sesekali dengan durasi yang gak lama. Masih aman buat kami yang bersantai di atas tikar. 

Ngobrol ngalor ngidul, akhirnya pesanan kami datang. Ada segelas Vietnam Drip, susu jahe, susu putih, pisang goreng dan mendoan tempe. Berhubung sudah makan berat tadi di rumah Mas Den, kami gak pesan makanan berat. 

Untuk kopi Vietnam Dripnya saya pesan yang agak sedikit manis. Soal rasa, strong banget kopinya. Aromanya juga enak. Ini pertama kalinya saya memesan kopi Vietnam. Bikin ketagihan, kalau datang kesini lagi, bakalan pesan kopi yang sama. 

Untuk cemilannya, saya pesan pisang goreng dan tempe mendoan. Pisang gorengnya enak banget. Gak banyak tepung tapi gurih. Enak banget dimakan selagi hangat. Apalagi ditambah dengan minum kopi. 

Untuk harga, disini saya kaget banget. Meskipun jauh dari kota. Ditambah lagi lokasinya yang butuh effort datang kesini pakai drama jalan menanjak dengan kondisi jalan yang kurang mulus. Tapi soal harga menurut saya terjangkau banget.

Kopi Vietnam Drip saja harganya hanya 15 ribu. Cemilannya serba 10 ribu dengan porsi besar. Minuman lainnya juga dimulai dari 7 ribu hingga 15 ribu. Gak mahal kan !. Rekommended buat kalian yang ingin motoran jauh, bisa datang ke Serata Coffee & Camp. Bukanya hampir dua puluh empat jam. 

Motoran jauh dari Kota Mataram, rasanya rugi banget kalau kesini hanya sebentar. Jadinya kami menghabiskan waktu dari siang hingga sore hari sambil bermain kartu Uno. Berharap bisa melihat puncak Gunung Rinjani dari dekat tapi sayangnya hingga kami balik ke Mataram, puncaknya selalu tertutupi awan mendung.



Kata owner tempat ini, paling pas datang kesini kalau sekalian ngecamp. Saat pagi hari kalian bisa menikmati moment sunrise. Pasti akan terlihat jelas puncak Gunung Rinjani dari dekat. Dengan catatan cuaca saat itu sedang cerah. 

Artinya kami disuruh kembali lagi kesini untuk mencoba ngecamp. Apalagi masih banyak tempat yang belum kami explore dari desa ini. Next time, harus kembali lagi buat ngopi dan mencari Kopi Sapit buat dibawa pulang.

Biar gak panjang ceritanya, saya cukupkan tulisannya sampai disini dulu untuk touring ke Desa Sapit. Karena ada salah satu netizen saya bilang, tulisan saya terlalu panjang buat dibaca. Namanya juga cerita, pastinya panjang dong. Tapi gak apa-apa dah buat tulisan pendek biar dibaca sama mereka (malah curhat).

Over all, Serata Coffee & Camp rekommended buat didatangi. Memiliki tempat yang keren. Viewnya persawahan, pegunungan dan perkebunan kopi. Udara disini juga sejuk. Menyiapkan area buat camping. Pelayanannya cukup baik. Ada fasilitas mushola dan kamar mandinya juga bersih.

Terakhir, saya sarankan kalau datang kesini, persiapkan kendaraan kalian dan lihat kondisi cuaca. Terpenting ban motor dan pengereman harus dalam kondisi baik. Khusus motor matic, cek dulu CVT dan vibelt motor kalian. Jangan sampai mesin motor mati disaat menanjak. Itu saja dari saya. Ditunggu di cerita touring club motor kami "EMBG" lainnya !. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra


2 comments: