Showing posts with label Explore Surabaya. Show all posts
Showing posts with label Explore Surabaya. Show all posts

Sunday, 11 January 2026

Bandara Penuh Kenangan : Lion Air JT 642


Cuaca Minggu pagi di Kota Surabaya sangat cerah. Gak terasa waktunya balik ke Lombok setelah empat hari di Kota Pahlawan. Pulang ke rumah dengan penuh suka cita. Sudah gak sabar bertemu dengan anak-anak dan istri di rumah.


Setelah menambah sehari di Surabaya, pakai acara pindah hotel segala dari Suites Hotel Surabaya ke Tab Capsule Kayoon Surabaya yang lokasinya berdekatan. Ceritanya bisa kalian baca di postingan sebelumnya. 


Kebetulan penerbangan ke Lombok jam setengah sembilan pagi. Bangun tidur, saya segera mandi dan beres-beres. Sempat mencari sarapan dulu di sekitaran hotel. Sehabis sarapan, bersiap untuk jalan ke bandara. Pesan taxi bluebird group via aplikasi. Urusan check out hotel sudah beres. saatnya menunggu penjemputan taxi yang sudah dipesan. 


Gak lupa sebelum berangkat, cek kembali barang bawaan jangan sampai tertinggal di hotel. Terutama yang gak boleh tertinggal itu oleh-oleh, hehe. Seperti biasa barang bawaan saat balik ke rumah lebih banyak dibandingkan saat pergi. Rencananya saya pakai bagasi saja biar ringan saat naik ke dalam pesawat. 


Berangkat jam setengah tujuh pagi dengan estimasi sampai di bandara jam setengah delapan. Masih tersisa satu jam sebelum waktu boarding. Jalan santai karena saya sudah check in online sebelas jam sebelum berangkat. 


Menunggu taxi datang gak terlalu lama. Sekitar tiga menit setelah order, sebuah mobil new Avanza berwarna biru muda tiba di depan hotel. Salah seorang bapak supir yang keluar dari taxi, segera menghampiri saya untuk membantu membawakan dua tas ransel dan satu tas oleh-oleh masuk ke dalam mobil. 


Perjalanan dari hotel ke bandara kurang lebih empat puluh lima menit waktu normal. Kalau di hari libur kerja dan sekolah,  jalanan kota agak lengang apalagi di pagi hari. Sepanjang perjalanan saya melihat warga kota yang berolahraga pagi. Beberapa jalan ditutup karena ada car free day


Melewati beberapa jalan yang sudah familiar saya lewati seperti jalan depan Kebun Binatang Surabaya, Stasiun Waru dan kali ini mobil taxi akan melalui Tol Waru - Bandara Juanda. Jadinya sesampai di bandara lebih cepat dari rencana. Jam tujuh lebih sepuluh menit, saya sudah tiba di Terminal 1 Bandara Internasional Juanda. 




Berhubung penerbangan pagi ini saya menggunakan maskapai Lion Air, saya turun di pintu keberangkatan barat Terminal 1 Bandara Internasional Juanda. Sedangkan untuk maskapai seperti Garuda Indonesia, Citilink, dan Sriwijaya berada di pintu keberangkatan bagian timur. Jadi jangan sampai kalian salah pintu masuk. 


Ada banyak cerita tentang bandara ini bagi saya pribadi. Cerita solo trip, terbang bareng mantan dan bertemu sama mantan di bandara ini (curhat colongan). Dulu semasih kuliah di Jogya, beberapa kali bandara ini menjadi tempat transit. Pulang ke Lombok, naik bus Patas dari Jogya ke Surabaya. Lalu turun di Terminal Bungurasih, lanjut naik bus DAMRI ke Bandara Juanda. Begitu pun saat dari Lombok, mau ke Jogya terbang ke Surabaya dulu. 


Pertama kali ke bandara ini saat saya pulang ke Lombok pakai maskapai Wings Air MD90 sekitar tahun 2008 lalu. Bisa dibilang bandara ini sudah sering saya kunjungi karena aksesnya mudah. Mau ke Yogya, Solo, Malang, Semarang dan kota lainnya, bisa transit dulu di Surabaya. 


Bahagia rasanya bisa datang ke bandara ini lagi. Dan sudah banyak perubahan karena beberapa tahun belakangan ini bandara ini sudah mengalami renovasi besar-besaran. 


Bandara Internasional Juanda berlokasi di Sedati, Kab.Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Memiliki luas kurang lebih lima hektar. Jarak dari Kota Surabaya kurang lebih dua belas sampai dua puluh kilometer. 


Memiliki hanya satu landasan pacu yang panjangnya kurang lebih tiga ribu meter. Mampu melayani pesawat berbadan besar seperti Boeing 777. 


Pemberian nama "Juanda" untuk pernghormatan kepada mantan Perdana Menteri Indonesia, Djuanda Kartawijaja yang mencetuskan pengembangan bandara ini. 


Pertama kali dioperasikan sekitar tahun 1964 sebagai pangkalan TNI AL dan sekaligus dibukanya penerbangan sipil pertama kali. Di tahun 1990-an bandara ini mulai digunakan untuk penerbangan internasional hingga sekarang. 


Bandara Internasional Juanda memiliki dua terminal. Di bagian utara ada Terminal I untuk melayani penerbangan domestik sedangkan di bagian selatan ada Terminal II untuk melayani penerbangan internasional seperti ke China, Singapura, Malaysia, Australia, Brunei dan negara lainnya. Jadi buat pertama kali terbang melalui bandara ini jangan sampai salah terminal ya. Soalnya jalan menuju kedua terminal itu berbeda. 


Saya kurang tau, apa ada shuttle yang melayani penumpang dari Terminal I ke II seperti yang ada di Bandara Soeta Tangerang. Semoga next time, PT.Angakasa Pura I membuat Kalayang (Kereta Layang) atau shuttle bus agar perpindahan penumpang antar terminal lebih mudah. 




Kembali ke laptop ! 


Setibanya di bandara, saya langsung turun dari taxi dan mengambil troli barang. Buat pelayanan taxi blue bird nya tetap oke. Order lewat aplikasi gak ribet, on time, supirnya ramah-ramah dan harga terjangkau. Good Job !. 


Saya berjalan menuju pintu keberangkatan. Beberapa petugas bandara berdiri berjaga di depan pintu untuk mengecek satu per satu penumpang yang akan berangkat. Setelah melewati pintu keberangkatan, saya berjalan menuju area check in. 


Berhubung ada bagasi, saya gak mencetak boarding pass mandiri. Saya ikutan mengantri di salah satu  loket check in. Suasana di area check in ramai sekali. Jadwal penerbangan pagi itu juga cukup padat. Lion Air membuka seluruh loket check in


Lihat layar besar untuk mengecek tujuan dan nomor penerbangan agar gak salah tempat mengantri karena di layar tertera nomor loket check in nya. Karena sudah check in online, saya hanya melapor kepada petugas untuk bagasi dan cetak boarding pass. Jangan lupa mengeluarkan kartu identitas bagi KTP atau SIM (penting dibawa). 


Kurang lebih dua puluh menit mengantri karena ramai sekali, akhirnya boarding pass dan bagasi sudah beres. Saya lanjut berjalan menuju ruang tunggu penumpang. Berjalan santai sambil menikmati suasana Bandara Juanda dari dalam. 


Bentuk bangunan di bandara ini cukup unik. Meskipun ada renovasi sebelumnya, tapi suasana Jawa nya masih terasa. Atap Joglo rumah adat Jawa masih terlihat. Lampu-lampu hias nuansa Jawa dan modern juga ada. 


Fasilitas lainnya ada mushola, resto, playground, toilet, tenang-tenan oleh-oleh khas Surabaya dan yang terbaru ada hotel di dalam bandara yaitu Tab Capsule Bandara Juanda. Hotel kapsul ini masih satu pemilik dengan Tab Capsule Kayoon Surabaya. 




Kalian yang sedang transit dan menunggu penerbangan selanjutnya, bisa nyobain fasilitas dari hotel kapsul ini. Biaya per jamnya yaitu 50 ribu. Lokasinya persis di depan gate 8. Pengen nyobain tapi penerbangan saya kurang dari satu jam lagi hehehe. 


Oke, setelah melewati pemeriksaan ruang x-ray, saya lanjut berjalan menuju gate 12. Untuk posisi gatenya ada di paling ujung. Jadinya harus berjalan kaki dari depan gate 6 menuju gate 12. Wah cukup jauh juga. Lumayan olahraga kecil-kecilan. 


Kurang lebih setengah jam lagi dari jadwal boarding, saya sudah berada di gate 12. Mencari tempat duduk untuk beristirahat sejenak sambil cuci mata. Disini penumpangnya bercampur ya. Ada yang ke Palembang, Padang, Denpasar, Lombok seperti saya dan daerah lainnya. 


Sama seperti bandara lainnya, dari dalam ruang tunggu kita bisa melihat pesawat yang terparkir di apron. Bisa juga melihat pesawat yang hendak take off maupun landing. Semoga nanti pas naik ke dalam pesawat, tanpa melalui garbarata. 


Masih belum puas cuci mata, penumpang Lion Air JT 642 tujuan Lombok sudah dipanggil untuk naik ke dalam pesawat. Cukup cepat juga waktu boarding. Lebih cepat dari jadwal yang semestinya. 


Mengantri di antrian pengecekan tiket dan kartu identitas sebelum berjalan menuju pintu pesawat. Ramai juga penumpang yang akan terbang ke Lombok. Lebih ramai daripada gate sebelah yang akan menuju Palembang. Terdengar bahasa Sasak dari beberapa penumpang lainnya. Rasanya sudah berada di rumah sendiri. 


Setelah pengecekan tiket beres, saya dan para penumpang lainnya berjalan menuju pesawat. Sayangnya semua penumpang dipersilahkan untuk memasuki pesawat melalui garbarata. Padahal pengen ambil foto pesawatnya secara utuh. 





Btw, entah ini kebetulan atau gak. Pesawat yang akan membawa saya dan penumpang lainnya ke Lombok ternyata pesawat yang sama saat saya berangkat ke Surabaya kemarin. Lion Air Boeing 737 800 dengan kode registrasi PK LOR. Untuk cerita penerbangan saya ke Surabaya, kalian bisa baca di tulisan sebelumnya. 


Pengalaman pertama kali pulang pergi naik pesawat yang sama. Sempat berpikir, kemungkinan pesawat ini memang dikhususkan untuk melayani penerbangan dengan rute Lombok - Surabaya PP. Mungkin ada yang lebih ahli untuk menjawab, bisa di kolom komentar ya !. 


Meskipun naik pesawat yang sama, pastinya kru atau awak kabinnya pastinya berbeda. Kalau mereka sama, itu artinya kalian beruntung sekali dan pengalaman yang unik. 


Keunikan kedua yang saya dapatkan saat itu, saya duduk di pintu darurat. Saya minta tolong ke adik untuk check in online. Kata adik saya, nanti untuk seatnya random alias dilihat mana yang masih kosong. Ternyata dipilihin duduk di seat emergency yaitu di nomor 18F. Saya duduk samping jendela atau pintu darurat. 


Ada sensasi tersendiri duduk di seat emergency. Ada perasaan khawatir dan tanggung jawabnya besar. Kalau terjadi apa-apa orang yang pertama kali buka pintu darurat yaitu orang yang berada paling dekat dengan pintu. Untuk membukanya juga sudah ada Standar Operasional Prosedurnya (SOP).


Seinget saya, kalau pesawat sudah berhenti dengan sempurna dalam keadaan darurat dan dipastikan gak ada api di badan dan sayap pesawat, baru diperbolehkan untuk membuka pintu darurat. Caranya tarik tuas yang ada di atas jendela, kemudian pintu daruratnya kita dobrak hingga terbuka. Turun terlebih dahulu kemudian menyelamatkan penumpang lainnya. Kurang lebih begitu seingat instruksinya. 


Sebelum ada waktu demo keselamatan dari pramugari, yang duduk seat paling dekat dengan pintu darurat diberikan penjelasan mengenai tata cara membuka pintu. Lebih jelasnya lagi, kita bisa baca di sebuah lembar petunjuk keselamatan. 


Untungnya di window seat emergency ini jarak antar seat di depannya cukup longgar. Buat saya yang tingginya 165 cm, cukup luas. Mari kita menikmati penerbangan ini !. 





Saat itu penumpang Lion Air JT 642 tujuan Lombok full seat. Akhir-akhir ini penerbangan ke Lombok lagi ramai. Semoga saja kedepannya pariwisata NTB khususnya Lombok semakin baik terutama dari segi fasilitas dan SDMnya. 


Setelah seluruh penumpang sudah semua naik ke dalam pesawat. Awak kabin memeriksa kembali barang-barang penumpang yang ada di bagasi atas kabin. Suara pintu pesawat sudah ditutup. Sebentar lagi pesawat akan berangkat. 


Proses push back, pesawat berjalan mundur. Cuaca di langit Surabaya cukup cerah. Kapten pilot menginformasikan kepada penumpang bahwa penerbangan berada di cuaca normal. Tapi tetap namanya terbang itu pastinya sedikit deg-degkan di take off dan landing


Status pesawat sudah "taxi", tandanya sudah boleh berjalan menuju runway 10 untuk lepas landas. Gak lupa sebelum take off mematikan handphone agar penerbangan berjalan dengan lancar dan kita semua selamat. 


Suara bising dari mesin pesawat semakin keras, apalagi saya duduk tepat di samping sayap pesawat. Suara mesin jauh lebih bising. Pesawat berjalan cepat di atas landasan. Rotate, badan pesawat menukik ke atas dengan kecepatan penuh. Roda pesawat terdengar sudah dinaikkan. Getaran khas saat take off. Semakin lama, gedung-gedung semakin terlihat kecil. 


Lampu tanda sabuk pengaman masih menyala. Suasana hening di dalam kabin pesawat. Hanya terdengar suara mesin pesawat. Saya duduk sambil mengarahkan pandangan ke luar jendela. Posisi pesawat sudah berada di atas laut. 


Penerbangan kali ini memakan waktu kurang dari satu jam. Gak sampai satu jam tergantung kondisi cuaca sepanjang perjalanan.





Cuaca sejauh ini tergolong cerah. Gak banyak melewati kumpulan awan. Sehingga saya bisa melihat beberapa view cantik seperti Jalan Tol Probowangi (Probolinggo-Situbondo-Banyuwangi) seperti bentuk ular putih. Karena ada pihak yang baper, jadinya diganti menjadi Tol Prosiwangi. Pejabat kok baperan yaak ? Hehehe. 


Selain itu terlihat PLTU Paiton yang berada di daerah Situbondo, Taman Nasional Bali Barat, Pulau Menjangan,  Selat Bali, Danau Batur, Gunung Agung di Bali dan kapal-kapal yang berlayar sekitaran perairan utara Jawa dan Bali. 


Karena penerbangannya gak terlalu lama, saya memutuskan gak tidur di dalam pesawat. Sayang sekali rasanya kalau melewatkan moment-moment seperti ini. Suatu saat saya ingin mengajak anak-anak dan istri naik pesawat bareng. Semoga selalu diberikan kesehatan, rezeki dan kesempatan. 


A few moment later 


Kurang lebih dua puluh menit sebelum landing, posisi pesawat sudah berada di Selat Lombok. Hamparan perbukitan hijau sudah terlihat. Berhubung duduknya di bagian kanan badan pesawat dan pesawat akan landing dari arah barat, jadinya gak melihat view Tiga Gili dan Gunung Rinjani. Hanya melihat view deretan gili di wilayah Sekotong, Lombok Barat dan Pelabuhan Lembar. Sama-sama kerennya karena Pulau Lombok itu destinasi wisatanya selalu keren. 


Suara "deg" dari roda pesawat sudah diturunkan. Pertanda pesawat sudah siap untuk landing. Hamparan persawahan hijau sudah terlihat lebih dekat. Pesawat sudah menurunkan ketinggian. Goyangan kecil kiri kanan yang terlihat dari sayap pesawat. 


Semakin lama pesawat semakin menurunkan ketinggian. Begitupun dengan suara mesin yang terdengar agak pelan. Runway 13 pun sudah terlihat. Roda pesawat akhirnya menyentuh aspal runway dengan halus. Tumben Lion Air landing dengan halus dan gak banyak getaran. Pilotnya keren-keren nih sekarang. 



"Selamat Datang di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid Praya, Lombok !"


Ucapan yang terdengar dari salah satu pramugari setibanya pesawat di Lombok. Alhamdulillah, kita sudah sampai di Lombok dengan selamat dan sehat. 


Pesawat pun berjalan menuju apron. Setelah pintu pesawat sudah dibuka, satu per satu penumpang turun dari pesawat. Lagi-lagi saya masih belum beruntung bisa mengambil foto secara utuh karena penumpang yang duduknya di barisan tengah ke depan itu dipersilahkan turun dari pintu depan alias lewat garbarata. Dan saya pun termasuk penumpang di barisan tengah ke depan. 


Sedangkan penumpang yang duduknya di barisan belakang, bisa turun dari pintu belakang. Sayangnya pas mau turun, penumpang di barisan belakang masih ramai. Yasudah, turun lewat depan saja. 


Turun dari pesawat, lalu berjalan ke arah area pengambilan bagasi, setelah itu keluar menuju pintu kedatangan. Pesan taxi seperti biasa karena saya gak sempat dijemput. Bertemu dengan anak istri lagi di rumah, bersyukurnya bukan main. 


Over all, pengalaman terbang bersama Lion Air cukup berkesan. Penerbangannya on time. Gak banyak drama yang biasanya kita lihat di media sosial. Ada yang komentarnya dalam kabin pesawatnya panas sampai dobrak paksa pintu darurat. Ada yang delay berjam-jam dan masih banyak drama lainnya. 


Untungnya pas pergi dan pulangnya, saya mendapatkan service yang cukup baik. Dalam kabinnya gak terlalu panas. Anget-anget sedikit sebelum berangkat itu hal yang wajar. Gak dapat delay yang berjam-jam juga. Kondisi pesawatnya juga baik dan liverynya masih putih mulus. 


Bahagia bisa terbang ke Lombok Surabaya lagi. Dapat cerita unik karena dapat pesawat yang sama pergi dan pulangnya. Pesawatnya masih dalam kondisi baik. Untuk review pesawatnya sudah saya ceritakan di tulisan sebelumnya pas berangkat ke Surabaya. 


Bukannya ngendorse, tapi jangan takut terbang bersama Lion Air !. Apalagi Lion Air merupakan maskapai nasional yang memiliki rute terbanyak di Indonesia. Mau kemanapun pasti Lion Air mendominasi baik di dalam negeri maupun ke luar negeri.


Safe Flight Enjoyed ! 


Penulis : Lazwardy Perdana Putra 


Friday, 26 December 2025

Sensasi Tidur di Dalam Kamar Kapsul Pesawat Luar Angkasa : Tab Capsule Hotel Kayoon Surabaya


Sudah tiga hari berada di Surabaya, ujian kompetensi pun sudah selesai dengan predikat lulus. Saya dan teman-teman lainnya satu per satu balik ke rumah masing-masing. Ada yang pulang ke Malang, Probolinggo, Jakarta dan ada yang masih lanjut stay di Surabaya seperti saya, hehehe. 

Ada waktu sehari di Surabaya, saya manfaatkan untuk refreshing setelah tiga hari gak keluar hotel buat jalan karena belajar mati-matian biar lulus. Malu kalau gak lulus, mana sudah dibayarin sama rumah sakit. Jadinya harus lulus (curhat colongan). 

Istri juga dirumah sudah kasi ijin untuk refreshing sehari dulu di Surabaya baru pulang ke Lombok. Karena jatah menginap di Suites Surabaya Hotel sudah berakhir dan harus check out paling telat jam dua belas siang di Hari Sabtunya, rencananya saya mau nyari hotel yang dekat-dekat saja. 

Bisa saja nambah hari tapi dengan biaya sendiri di hotel yang sama. Berhubung pengen nyari yang murah biar hemat, saya pilih salah satu hotel yang menurut saya cukup unik dan menarik. Sebut saja namanya, Tab Capsule Kayoon Surabaya. Hotel bintang satu yang strategis. Lokasinya berada di Jalan Kayoon No.11D, Embong Kaliasin, Kec. Genteng, Kota Surabaya. 

Hanya berjalan kaki sejauh enam ratus meter dari Suites Hotel ke Tab Capsule Hotel Kayoon melewati Plaza Surabaya, lalu menyeberang di depan Museum Kapal Selam dan kurang lebih sepuluh menit berjalan kaki, saya sudah sampai di depan hotelnya. 

Bagi yang doyan jalan kaki, bisa ngikutin cara saya. Tapi yang gak kuat jalan apalagi jalan kakinya pas siang hari di tengah kota dengan lalu lintas padat, jangan dicontoh ya. Hehehe. 

Tab Capsule Hotel Kayoon kalau gak salah pelopor hotel kapsul di Kota Surabaya. Salah satu alasan saya pengen datang ke Surabaya karena pengen menginap di hotel kapsul ini. Melihat pertama kali di video ulasan salah satu conten creator di youtube, buat saya penasaran merasakan sensasi tidur di dalam pod kapsul mirip pesawat luar angkasa. 

Meskipun review hotel ini di google maps banyak yang kurang puas dan memberi bintang satu karena beberapa alasan. Salah satunya ruang lobinya yang panas seperti warnet dan ada pod kapsul yang butuh pemeliharaan. Kalau saya yang menjadi perhatian kemarin itu, lemari penyimpan barangnya yang rusak dan gak terawat. Untungnya dapat kamar dan pod kapsul yang cukup baik dan tombolnya berfungsi semua. Kamar mandinya cukup bersih dan harum. 

Sejauh ini, sudah tiga kali saya menginap di hotel kapsul di beberapa daerah seperti Denpasar dan Jakarta. Nah pas banget ke Surabaya sendiri, gak boleh dilewatkan untuk merasakan moment tidur di dalam kapsul. Buat kalian yang punya perasaan parno berada di dalam ruang sempit, gak disarankan untuk mencoba menginap di hotel ini. 




Saya memesan hotel ini melalui aplikasi tiket.com dengan biaya per malamnya 124 ribu rupiah karena dapat harga promo akhir pekan. Gak lupa setelah melakukan pemesanan dan pembayaran, kita harus konfirmasi ke hotelnya melalui whatsapp apakah pesanan kita lewat aplikasi online sudah masuk ke data mereka apa belum. Kalau sudah masuk, berarti aman. 

Disini ada tiga jenis kamar kapsulnya. Ada single room untuk satu orang dewasa dan capsule room untuk dua orang dewasa. Dan compact room yang bisa untuk dua orang dewasa dan dua anak-anak minimal berumur tiga tahun. Perlu dicoba nanti !.

Oh ya, catatannya, disini baik laki-laki maupun wanita kamarnya dipisah. Jadinya pas memesan lewat aplikasi online, jangan salah pilih kamar ya. Di aplikasinya dicantumkan single room laki-laki dan wanita. Kecuali yang bersama keluarga ya, bisa pesan yang compact room. 

Setelah sampai di depan hotelnya, waktu menunjukkan jam satu siang. Tinggal satu jam lagi kita bisa melakukan check in. Rencananya saya mau ngadem sambil bersantai di ruang lobi sampai waktu check in tiba. 

Penampakan bangunan hotelnya gak terlalu wah banget. Di depan hotel ada area parkir yang sempit. Hanya bisa memuat beberapa motor dan mobil saja. Tapi tenang, disini penjagaannya dua puluh empat jam. Pak security-nya juga sangat ramah kepada tamu yang menginap. Terlihat pas saya datang, bapaknya yang membukakan pintu kaca lobi hotel. 

Bangunan hotel yang memiliki lima lantai. Dimana di lantai satu ada ruang lobi yang gak begitu luas dan meja resepsionis. Untuk kamarnya berada di lantai dua hingga lantai lima yang dihubungkan dengan dua unit lift. Infonya di lantai lima ada area rooftopnya.

Sesampainya di hotel, saya ijin untuk bersantai di ruang lobinya sambil menunggu waktu check in. Hanya terdapat satu meja dan empat kursi. Di bagian pinggir dinding kaca, terdapat meja panjang dan mesin untuk memesan kamar mandiri. Untuk ruangannya panas banget karena gak ada ac. Hanya ada kipas angin tempel yang gak begitu terasa.

Terlihat suasana di dalam hotel gak begitu ramai, tapi kenyataannya hari itu sudah full booking alias kamar sudah penuh. Berhubung mas resepsionisnya baik banget, akhirnya saya diijinkan untuk check in lebih awal karena kamar yang sudah saya pesan sudah siap. Thanks banget mas broo !. Sejauh ini pelayanan yang diberikan cukup baik dari respon yang cepat saat dikonfirmasi via whatsapp hingga proses check in

 


Saya diberikan satu kunci berbentuk kartu untuk menuju ke kamar. Jadi apabila mau ke kamar, kita tab kartu di alat scan dalam liftnya lalu pencet angka sesuai lantai kamar kita. Setelah keluar dari lift menuju ke kamar, tab lagi kartunya di pintu kamar. Tab terakhir saat membuka pod kapsul. Cukup aman ya, jadi tenang ninggalan barang berharga di dalam kapsul. 

Kamar saya ada di lantai empat yaitu kamar  404. Setelah mendapatkan kunci, saya diantar oleh salah satu staf hotel menuju ke dalam kamar. Masnya menjelaskan cara membuka pintu kamarnya. Setelah pintu kamar terbuka dengan cara tab kartunya di gagang pintunya, barulah di dalam kamar ada empat pod kapsul. Dua di bawah dan dua di atas. Saya kebagian dapat pod kapsul nomor satu yang berada di bagian atas. 

Untuk membuka pod kapsul, tab kartu lagi di bagian scan. Setelah berbunyi dan lampu berwarna hijau, pintu kapsul otomatis terbuka. Cara bukanya, pintunya kita geser ke kiri. Ada anak tangga untuk pijakan naik ke dalam kapsul. 

Penampakan pod kapsulnya sangat unik bagi saya. Berbentuk seperti kapsul persegi panjang berwarna putih. Saat masuk suasana seperti di dalam kabin pesawat luar angkasa. Lampu LED yang bisa diatur tingkat kecerahan dan warnanya. Terdapat satu buah kasur untuk satu orang. Ada dua bantal empuk, selimut dan handuk lengkap dengan perlengkapan mandi. 




Di dalam pod kapsulnya juga ada cermin besar, tombol pengatur pendingin ruangan, wifi, ada headset, lampu baca, alat pemadam kebakaran mini, layar LED yang berfungsi untuk menonton tv dan film. Terpenting ada colokan charger handphone, usb dan headset.

Untuk kasurnya cukup empuk dan harum. Bantalnya juga bersih. Jadi sangat nyaman untuk beristirahat. Barang bawaan seperti tas ransel dan tas lainnya saya bawa masuk ke dalam kapsul karena lemari barangnya yang berada di luar kapsul sedang dalam perbaikan. 

Enaknya di dalam kamar ini yaitu pintu kamar otomatis gak bisa terbuka dari luar ataupun dari dalam sebelum kita pencet tombol yang berada di sebelah pintu. Jadi orang asing yang gak tidur di kamar ini gak bisa masuk. Aman kan ?. 

Begitu juga dengan pintu pod kapsulnya, otomatis gak bisa terbuka kalau kita gak pencet tombol pintu terbuka yang ada di sebelah kasur. Jadinya jenis kapsul ini jauh lebih aman dibandingkan kapsul yang pernah saya cobain di hotel kapsul lainnya. Mau ninggalin barang di dalam kapsul jadi lebih aman. 

Over all, buat saya yang punya tinggi 165 cm dan berat badan 90 kg, sangat nyaman tidur di dalam pod kapsulnya. Apalagi ditambah dengan barang bawaan. Masih nyaman buat tiduran.

Hari masih siang hari. Saya manfaatkan untuk tidur siang karena semalam kurang tidur. Badan juga agak kurang fit. Suasana hening di dalam kapsul buat saya cepat tertidur. Tamu hotel lainnya yang sekamar juga sedang beristirahat di dalam kapsul masing-masing. 

Fasilitas lainnya di dalam kamar yaitu ada ac kamar yang dingin banget untuk empat unit pod kapsul. Lemari penyimpan barang untuk setiap pod kapsul. Ada jendela kecil sebagai penerang.

Kerennya ada kamar mandi dalam untuk kami berempat. Kamar mandinya bersih dan wangi. Ada closed duduk, shower air panas dan air dingin. Dengan harga 124 ribu, kita dapat fasilitas yang standar dan berfungsi dengan baik. 

Kerennya di pod kapsul ini, ada tombol sedang istirahat. Kita pencet tombolnya lalu ada lampu merah menyala. Itu tandanya tamu yang berada di dalam pod kapsul gak boleh diganggu. 

A few moments later !.

Di sore harinya, saya keluar hotel berjalan kaki menikmati Kota Surabaya. Jalan kakinya gak jauh. Hanya muter-muter lewat depan Museum Kapal Selam, lanjut nyari oleh-oleh di depan Stasiun Gubeng Surabaya. Nyari makan sore sekalian nongkrong yang murah meriah. Setelah itu balik ke hotel lagi. 




Sebelum sampai hotel, saya tertarik melihat banyak orang yang mancing di pinggiran Bendungan Karet Gubeng di Kali Mas. Sungai terbesar yang membelah Kota Surabaya hingga sampai di Pelabuhan Tanjung Perak. Di pinggiran Kali Mas juga terdapat beberapa tempat nongkrong yang asyik buat dicoba. 

Di tulisan berikutnya, saya akan mereview salah satu cafe yang berada di pinggiran Kali Mas yang gak jauh dari hotel tempat saya menginap. 

Lanjut !. 

Gak terasa langit sudah gelap. Lampu-lampu gedung kota Surabaya sudah menyala. Suasana akhir pekan di kota terbesar kedua di Indonesia sungguh ramai. Setelah perut kenyang, saya memutuskan untuk balik ke hotel. 

Sampai di hotel, saya packing barang karena besok pagi sekali harus sudah jalan ke bandara untuk balik ke Lombok. Setelah packing, lanjut mandi dan tidur. Semalaman di hotel, saya manfaatkan untuk tidur agar besok pagi kembali fit karena besok akan berjumpa sama anak-anak dan istri. Sudah empat hari ninggalin mereka.

Memang nyaman tidur di dalam pod kapsul. Apalagi lampu kapsulnya saya redupkan. Hanya terdengar suara ac dan saya merasakan tidur di dalam pesawat yang sedang berjalan. Ada sensasi tidur di benda yang sedang bergerak.

Mungkin kalian ada pengalaman menginap di pod kapsul ?. Bisa sharing di kolom komentar !. 

Next !. 

Gak terasa, sudah pagi saja. Saya langsung mandi dan rapi-rapi. Sebelum jalan ke bandara, saya mencari sarapan dulu di sekitaran hotel. Berhubung di hotel gak nyiapin sarapan, jadinya nyari sarapan di luar. Untuk tempat sarapan gak sulit kalau di Surabaya. 

Keluar hotel, langsung banyak pilihan. Saya tertarik untuk sarapan nasi bungkus yang lokasinya gak jauh dari hotel. Tinggal jalan kaki beberapa langkah, kita sudah sampai di salah satu gerobak angkringan.

Disapa oleh ibu penjual nasi dengan sangat ramah. Dari nadanya sih sepertinya orang Madura karena bahasanya bukan bahasa Jawa Timuran. 




Disini ada nasi bungkus, sate hati, gorengan dan lain sebagainya. Saya ambil satu bungkus nasi yang isinya ada ayam goreng, oseng-oseng tempe, tahu isi seharga 10 ribuan saja. Ditambah minumnya teh hangat seharga 3 ribu. Jadi total sarapan pagi itu 13 ribu. 

Porsi nasi bungkusnya lumayan banyak. Nasi putihnya pulen dan padat. Saya suka sama oseng-oseng tempenya. Bumbunya enak banget. Awalnya tadi mau nambah sebungkus lagi, tapi lihat porsinya banyak jadinya sudah kenyang. Tehnya juga wangi dan enak banget. Ini yang saya suka kalau datang ke Jawa, pasti tehnya wangi-wangi. 

Sambil menyantap nasi ayam, kita nikmatin Kota Surabaya di pagi hari. Berhubung di hari libur kerja dan sekolah, banyak warga Surabaya yang olahraga lari pagi dan sepedaan. Mereka olahraga, saya makan. Hahaha 

Setelah urusan perut sudah beres, saatnya balik ke hotel untuk siap-siap berangkat ke bandara. Cuaca di Minggu pagi cukup cerah. Berharap penerbangan nanti lancar dan selamat sampai rumah. 

Bagi kalian yang berencana ke Surabaya dengan low budget, bisa pilih menginap di Tab Capsule Hotel Kayoon. Cocok banget buat para backpacker yang sedang transit di Surabaya untuk menuju kota selanjutnya karena hotel ini dekat banget dengan Stasiun Gubeng dan akses menuju Pelabuhan Tanjung Perak dan Bandara Juanda juga mudah. 

Untuk waktu pelayanan check in nya dua puluh empat jam. Bila sampai di Surabaya tengah malam, jangan khawatir untuk melakukan reservasi. 

Dengan harga menginap di bawah 200 ribuan, hotel kapsul ini sangat nyaman dengan fasilitas yang standar. Saya beri bintang empat untuk Tab Capsule Hotel Kayoon Surabaya. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra 


Thursday, 18 December 2025

Menginap di Tengah Kota Surabaya : Suites Surabaya Hotel


Pagi Surabaya !.


Setelah sampai di Surabaya malam hari, saya segera menuju ke penginapan sekaligus hotel tempat kegiatan pelatihan. Saya mengambil paket pelatihan sekaligus menginap selama empat hari tiga malam karena kegiatan berlangsung selama empat hari. Dimulai dari Kamis pagi sampai Sabtu siang. 


Tapi peserta sudah bisa check in di Hari Rabunya. Kali ini saya menginap di salah satu hotel yang berada di tengah Kota Surabaya. Tepatnya di Hotel Suites Surabaya Jalan Plaza Boulevard atau Jalan Pemuda no.33-37, Embong Kaliasin, Genteng, Kota Surabaya. 


Suites Hotel Surabaya merupakan sebuah hotel bintang empat. Hotel ini dibangun pada tahun 1993 menurut surabayasuites.com. Memiliki tujuh lantai. Dimana di setiap lantainya dapat diakses melalui lift yang ada di tengah bangunan hotel. 


Bisa dibilang hotel ini berada di kawasan pusat perbelanjaan, wisata kota dan pemerintahan kota. Di depan hotel ada WTC Plaza sedangkan di sampingnya ada Plaza Surabaya. Gak jauh dari hotel ada Museum Kapal Selam dan Stasiun KA Gubeng. 


Dari Bandara Juanda Surabaya, saya memilih menggunakan taxi ke hotel agar cepat sampai. Selain taxi ada juga transportasi umum lainnya seperti travel dan bus DAMRI bandara dengan tujuan Terminal Bungurasih, Sidoarjo. 


Untuk taxi saya memilih menggunakan mybluebird kelas gold nya. Penasaran sama pelayanannya eksekutifnya dan armadanya yang bagus. Kali ini saya dapat armada Kijang Inova hitam. Untuk biaya dari bandara ke hotel dikenai tarif 240 ribu, sudah termasuk masuk tol dan bebas parkir. 


Perjalanan dari bandara ke hotel cukup lancar. Pak supirnya juga ramah dan pembawaan mobilnya juga smoth alias kalem. Sambil duduk di kursi yang super empuk, saya menikmati Kota Surabaya di malam hari. Melalui jalan tol Waru, gedung-gedung tinggi, lampu-lampu jalan yang indah dan jalanan kota yang lebar nan padat. Bisa dibilang Kota Surabaya ini hampir mirip dengan Jakarta karena banyak gedung-gedung pencakar langitnya. 


Waktu tempuh kurang lebih empat puluh menit dari bandara, akhirnya sampai hotel. Suasana malam yang begitu ramai di depan hotel. Para pedagang kaki lima yang berjejer rapi di seberang jalan. Kendaraan yang melintas di depan hotel. Mall di seberang hotel yang masih ramai oleh pengunjung. Gak nyangka, lokasi hotel ini berada di tengah keramaian. 


Foto : Lazwardy Journal 


Sesampai di hotel, saya turun dari taxi dan segera masuk ke ruang lobi hotel. Petugas yang berjaga di depan pintu membukakan pintu dengan sambutan hangat. Ruang lobi yang begitu megah dengan ornamen-ornamen klasik perpaduan Eropa dan Jawa. 


Suasana lobi yang nyaman dengan lampu-lampu hias bercahayakan kuning. Ada sofa panjang dan kursi bernuansa klasik yang nyaman di tengah lobi. Saya berjalan menuju meja resepsionis untuk check in


Sejauh ini staf hotel sangat ramah dan bekerja secara profesional terhadap tamu hotel. Staf hotel memberikan saya kartu kamar. Kamar saya berada di lantai tiga dengan nomor 341. Untuk kelas kamarnya sepertinya superior pada umumnya. Untuk kamar sudah disiapkan oleh panitia. Di kamar saya gak sendirian, ada peserta lainnya yang sekamar sama saya. 


Setelah proses check in beres, saya menuju lantai tiga menggunakan lift. Liftnya berjumlah empat unit dan saling berhadapan. Ada cerita lucu saat masuk ke dalam lift. Saya masuk ke lift gak sendirian. Ada beberapa tamu hotel di dalam lift. Awalnya saya pencet angka tiga, tapi gak nyala. Sedangkan tamu lainnya pencet angka dan menyala. 


Setelah mereka keluar lift. Saya kembali pencet angka tiga tapi tetap gak menyala juga. Pintu lift tertutup lagi. Saya sendirian di dalam lift. Dan ternyata lift turun ke lantai satu lagi. Saya bingung, kenapa turun ke lobi lagi. Akhirnya saya keluar lift dan pindah ke lift satunya. Di dalam lift saya bersama seorang bapak yang mau menuju lantai lima. Saya pencet lagi angka tiga. Dan ternyata liftnya bergerak sampai ke lantai lima. Tambah bingung lagi, ini lift kenapa ngambek ya. Dan ternyata, pas bapak itu keluar lift. Beliau menyarankan saya untuk tab kartunya dulu baru pencet angka. 


Dan ternyata benar, angka tiganya menyala. Pintu lift tertutup lagi dan bergerak turun ke lantai tiga. Pintu lift terbuka, akhirnya saya sampai juga di lantai tiga. Ternyata beda hotel, beda juga cara naik liftnya ya. Atau saya saja yang katrok.hahaha 


Setelah keluar lift, saya mencari kamar. Untuk mencari kamar gak susah. Ada petunjuk menuju kamar sesuai nomor kamarnya. Untungnya posisi kamar gak begitu jauh dari lift. Dan juga lorong menuju kamar gak begitu horor. Cahaya lorongnya terang dan berlantai karpet tebal. 


Dari lift saya berjalan ke arah lorong sebelah kiri. Belok ke kanan setelah bertemu pertigaan. Setelah bertemu pertigaan lagi, belok kanan dan kamar saya berada di pojokan. 


Foto : Lazwardy Journal


Membuka kamar dengan tab kartu. Pintu kamar berbunyi dan taraaaaa...., kamarnya luas sekali. Saya menyalakan lampu kamar, lampunya remang-remang. Gila ini kamar apa rumah BTN, luas banget. Terdapat dua buah bed terpisah seukuran satu orang dewasa. Ada kursi sofa, lampu tidur, meja kerja, tv, lemari penyimpan pakaian, kotak brankas, alat pemanas air, cangkir, mini kulkas yang menyala dengan baik. 


Untuk botol air mineral gak tersedia disini karena hotel ini menerapkan "no sampah plastik". Jadinya pihak hotel menyediakan muk kosong dari kaca untuk dipakai mengambil air di dispenser yang tersedia di pojok-pojok lorong kamar. Semua hotel di Surabaya menerapkan hal demikian karena ini program Pemerintah Kota Surabaya. Salut !. 


Untuk kamar mandinya juga luas banget. Ada handuk dua buah,wastafel, kaca cermin lebar, closed duduk, bathub untuk berendam dan shower lengkap dengan sabun, shampo dan perlengkapan mandi lainnya. 


Sesampainya di kamar, teman satu kamar belum datang. Infonya beliau dari Madiun dan akan menginap di rumah mertuanya di Surabaya. Jadinya malam ini saya tidur sendirian di kamar yang luas banget. Terkesan horor, apalagi ada jendela besar ditutupi gorden putih. Apalagi lantai kamar dilengkapi dengan karpet tebal bergaya jadul gitu.  


Wajar saja kesannya jadi horor. Tapi karena sudah terbiasa di kamar hotel sendirian kalau perjalanan dinas, jadinya rasa takut saya lawan dengan menyalakan tv keras-keras. Untungnya chanel tv-nya cukup banyak. Jadinya gak bosen dan rasa takut berkurang selama di dalam kamar. 


Setelah beres-beres barang bawaan, saya pergi ke bawah dan mencari makan malam di depan hotel karena malam ini kami gak dapat jatah makan malam dari pihak hotel dan panitia. Waktu juga masih sekitar jam delapan malam. Kalau di Lombok sudah jam sembilan malam. Gak lupa berkabar dulu sama orang rumah kalau sudah sampai hotel. 


Sempat bingung mau makan apa. Di depan hotel ada beberapa cafe yang menjual makanan seperti pizza, dan masakan ala resto. Ada juga coffee shop yang menggoda. Tapi kali ini saya pengen makan makanan kaki lima saja. Lumayan untuk mensejahterakan usaha kecil dan UMKM. Nengok kanan kiri, saya melihat salah satu gerobak dimana menjual nasi goreng. 


Foto : Lazwardy Journal


Saya akhirnya pesan nasi goreng mawut satu porsi seharga 13 ribu. Uniknya porsi nasi gorengnya seukuran porsi kuli. Banyak amat, sampai kenyang banget. Nasi gorengnya enak, nasinya agak kering. Bumbu rempah-rempahnya nendang banget. Perpaduan antara nasi dan mie yang digoreng bersamaan. Maknyuuss ala mendiang Pak Bondan.


Setelah makan nasi goreng di depan hotel, saya kembali ke kamar dan beristirahat. Gak banyak kegiatan yang saya lakukan malam itu. Tidur sampai pagi dan keesokan paginya bisa bangun cepat dan bisa olahraga pagi. 


Bangun pagi, langsung shalat subuh dan bersiap-siap joging pagi. Pakai sepatu dan turun ke lobi. Langit Kota Surabaya pagi itu cukup cerah. Saya memutuskan untuk muter-muter sekitar hotel saja. Melewati Jembatan Boulevard, kemudian berjalan di trotoar sepanjang Jalan Ketabang Kali dan sampai di Jembatan Bendungan Karet Gubeng.


Bisa baca sini : Sensasi Berada di Kapal Selam KRI Pasopati


Suasana lalu lintas kota yang masih lengang. Melewati Museum Kapal Selam dan Plaza Surabaya. Udara Kota Surabaya pagi itu cukup segar. Banyak juga warga yang berolahraga. Ada yang bersepeda, joging pagi dan sekedar berjalan kaki seperti saya. 



Foto : Lazwardy Journal


Dua kali muter hotel, saya rasa cukup berkeringat. Lumayan olahraga pagi biar badan dan pikiran fresh sebelum memulai kegiatan seharian nanti. Sehabis olahraga, lihat jam tangan menunjukkan jam enam pagi. Saatnya kembali ke hotel. 


Sesampainya di ruang lobi, saya langsung menuju resto untuk sarapan. Untuk jadwal sarapan dimulai dari jam enam pagi hingga sepuluh pagi. Resto hotelnya berada di lantai satu tepat di depan lobi. Ruangan restonya cukup luas. Suasana resto bergaya klasik. Meja kursi bernuansa Eropa terbuat dari kayu jati. Dinding resto full kaca, sehingga kita bisa melihat ke arah luar hotel. 


Untuk menu sarapannya beragam. Ada menu nusantara seperti nasi goreng, nasi putih, mie goreng, mie mihun, soto ayam, ayam goreng, ayam bakar bumbu kecap, sayuran dan lain-lain. Ada juga spaggeti, kentang goreng. Untuk cemilannya ada bubur kacang ijo, bubur ketan hitam, bubur ayam dan lain-lain. 


Menu sehatnya ada buah potong, salad, jus buah, susu putih dan infus water. Selain itu ada minuman favorit saat pagi yaitu kopi susu dan kopi hitam. Habis makan enaknya ngopi. 



Foto : Lazwardy Journal


Ohya, setiap paginya menu-menunya berubah-ubah ya. Gak selalu sama seperti hari sebelumnya. Kalau untuk menu sarapannya saya suka banget. Banyak pilihan dan mengenyangkan. Kita bisa makan sepuasnya tapi ingat jangan berlebihan karena berlebihan itu gak baik bagi kesehatan. 


Untuk restonya terbagi dua ruangan. Ada ruang di dalam dan ada ruang makan di luar area resto tapi masih berdekatan. Letaknya semi outdoor gitu. Kita bisa nongkrong sambil melihat pemandangan sekitar hotel. Bisa melihat lift berjalan turun naik. Bisa melihat staf hotel yang cantik. Bisa ngopi pagi disini sambil ngobrol dengan tamu hotel lainnya. 


Untuk Suites Surabaya Hotel ini merupakan hotel lama kelas bintang empat. Bangunannya juga bisa dikatakan terawat dan adem. Dari ruang lobi yang adem dan sejuk. Tercium aroma wangi khas hotel berbintang. Lantainya berkarpet tebal. Ada sofa panjang dan kursi bergaya Eropa. Banyak tanaman hias hijau di area dalam hotel. Liftnya berjalan dengan baik sehingga gak buat saya khawatir. 


Kamar tempat saya menginap juga sangat bersih, luas, bed-nya kasurnya empuk, pendingin ruangan yang dingin, wifi-nya kencang, bed-nya empuk lengkap dengan bed cover dan bantal. Ada kursi dan meja. Belum lagi ada meja kerja. Tv yang memiliki banyak channel, ada lemari penyimpan pakaian, kulkas yang berfungsi dengan baik. 


Kamar mandinya juga luas banget. Mungkin bisa dibilang luas kamar mandinya seluas kamar tidur saya di rumah. Lantai marmer dan bersih. Semuanya berfungsi dengan baik. Gak kecewa kalau menginap di hotel ini. Menurut saya hotel ini saya kasi bintang lima. 


Selesai sarapan di resto, saya kembali ke kamar untuk bersiap-siap mandi dan memulai hari ini dengan belajar hal yang baru. Selama empat hari kedepan saya akan mengikuti Pelatihan Pengadaan Barang Jasa Pemerintah Level 1 yang diadakan oleh LPKN (Lembaga Pelatihan dan Konsultasi Nasional) dan di hari terakhir, saya akan mengikuti uji kompetensi yang diadakan kerjasama LPKN dengan LKPP. 


Foto : Lazwardy Journal


Untuk kegiatannya dimulai pukul 08.00 WIB yang lokasinya berada di ruang Lengkuas lantai dua. Total peserta pelatihan berjumlah tujuh belas orang yang berasal dari berbagai daerah. Paling dekat dari Kota Malang dan paling jauh dari Maluku. 


Ini merupakan ilmu baru yang saya dapatkan dan ilmu ini juga gak jauh-jauh dari keilmuan profesi yang saya punya saat ini. Ilmu yang berkaitan dengan perencanaan dan pengadaan, tapi konteksnya jauh lebih kompleks. Bukan hanya perencanaan dan pengadaan obat dan alat kesehatan saja tapi pengadaan lainnya seperti bangun gedung, pengadaan barang lainnya, pemeliharaan dan konsultansi. 


Over all, menginap dan berkegiatan di Suites Surabaya Hotel sangat rekommended banget menurut saya. Lokasi hotelnya yang sangat strategis. Dekat dengan pusat perbelanjaan, destinasi wisata, pusat pemerintahan dan gak jauh dari stasiun kereta api yaitu Stasiun Gubeng. 


Untuk tarif menginap lebih jelasnya kalian bisa lihat di aplikasi seperti tiket.com, booking.com atau traveloka. Estimasi tarif per malam hotel ini untuk kelas superior seharga 400 hingga 500 ribuan (tergantung season). Harga bisa berubah-ubah sewaktu-waktu. 


Pelayanannya juga sangat oke. Menu-menu makanannya juga gak mengecewakan. Saya suka dengan beberapa jajanan pasarnya yang enak-enak. Selama empat hari berkegiatan, saya gak pernah jajan di luar (makan di luar maksudnya). Dari pagi sampai malam, makan dari hotel saja karena panitia kegiatan menyediakan makan siang dan malam untuk peserta. Good Job !. 


Cukup sampai disini dulu cerita Suites Surabaya Hotel nya. Nanti kita sambung lagi di tulisan berikutnya. Jangan bosan dibaca !. Ditunggu ceritanya di minggu depan !.


Penulis : Lazwardy Perdana Putra


Saturday, 26 April 2025

Dilarang Lapar di KM Dharma Rucitra 8 : Lombok - Surabaya


Awal perjalanan saya dan keluarga menuju Pulau Jawa. Ada beberapa daerah yang akan kami kunjungi. Sekalian ingin bersilaturahmi dengan keluarga besar disana. Kebetulan juga masih suasana lebaran dan pastinya jajan lebaran masih tersisa dong ya. 


Sebulan lamanya saya dan istri sudah mempersiapkan segala sesuatu seperti tiket transportasi, hotel, dan lain sebagainya. Dari awal kami ingin menikmati perjalanan menggunakan kapal laut dengan rute Lombok menuju Surabaya.


Menyesuaikan dengan hari keberangkatan, akhirnya kami memesan tiket KM Dharma Rucitra 8 dengan jadwal keberangkatan di Hari Jumat pukul 20.00 WITA, tanggal 11 April 2025. 


Kapal mewah dari PT.Dharma Lautan Utama yang berkantor pusat di Tanjung Perak, Surabaya ini tergolong masih baru melayani rute Lombok - Surabaya PP. Sebelumnya pernah melayani Surabaya - Ende via Lombok dan Labuan Bajo PP, tapi dari informasinya sudah gak buka rute itu lagi. 


Saya memesan tiket di kelas ekonomi tidur, dua ekonomi tidur dengan harga 258K per bed dan dua ekonomi tidur anak 200K per bed via aplikasi DLU Ferry. Harga bisa berubah-ubah setiap harinya. Lengkapnya bisa dicek di aplikasi.


Pesannya pun dua minggu sebelum keberangkatan. Itupun ekonomi tidur tinggal beberapa seat lagi karena masih musim arus balik lebaran. 





Singkat cerita, di hari H keberangkatan, tepatnya jam delapan pagi. Saya mendapatkan informasi via whatsApp kalau kapalnya mengalami keterlambatan keberangkatan. Dimana awal keberangkatan pukul 20.00 menjadi pukul 02.00 WITA di keesokan harinya. 


Alasan keterlambatan sesuai informasi dari pihak kapalnya dikarenakan masalah operasional. Namanya kalau naik kapal laut itu pastinya harus siap-siap menerima berita seperti ini. Pesawat saja bisa delayed, apalagi kapal laut yang menyesuaikan dengan cuaca di laut. 


Informasi seperti ini gak masalah karena kami sudah memesan penginapan di Surabaya sebelum melanjutkan perjalanan ke kota selanjutnya. So, gak terburu-buru.


Tas ransel dengan segala macam isinya, tas obat-obatan selama perjalanan dan tas berisikan logistik pun sudah siap. Cek semua barang agar gak ada yang tertinggal. 


Setelah semua dirasa sudah siap, kami berangkat ke pelabuhan sekitar pukul 21.30 WITA menggunakan ojek online yang kebetulan mobilnya temen sendiri. 


Ini pertama kalinya saya dan istri mengajak anak-anak ke Pulau Jawa. Mereka berdua pun sangat antusias diajak backpacker menggunakan kapal laut bersama ortunya. 


Perjalanan menuju pelabuhan cukup lancar. Terlihat bintang-bintang di langit menandakan cuaca malam itu cukup cerah meskipun sorenya turun hujan. 


Kapal yang akan kami naiki bersandarnya di Pelabuhan Gili Mas, bukan di Pelabuhan Lembar. Jadi jangan salah pelabuhan ya !. Cek jadwal keberangkatan kapal yang akan kalian naiki karena khusus penyeberangan ke Bali dan Jawa di Lombok ada dua pelabuhan yaitu Gili Mas untuk kapal berukuran besar dan Lembar untuk kelas kapal ferry berukuran lebih kecil. 


Kurang lebih lima belas menit perjalanan dari rumah menuju Pelabuhan Gili Mas, Lembar. Kami pun segera turun dari mobil dan berjalan kaki menuju tempat check in. 


Suasana di Pelabuhan Gili Mas malam itu sangat ramai sekali. Didominasi oleh mahasiswa/mahasiswi yang akan balik ke perantauan setelah berlebaran bersama keluarga di kampung halaman. Terlihat yang berangkat hanya satu orang tapi pengantarnya sampai satu bus, hehehe.

 

Selain itu truk-truk pengangkut logistik dan sembako sudah berjejer rapi dalam antrian untuk menunggu masuk ke dalam kapal. 


Kami menuju tenda yang sudah disiapkan oleh perusahaan kapal untuk check in dan sebagai ruang tunggu. Proses check innya gak begitu lama karena belum terlalu ramai antriannya.


Setelah proses check in, kami segera boarding dengan diberikan gelang tangan berwarna merah sesuai dengan kelas di tiket. 


Di lembar tiket juga tertulis nomor tempat tidur di atas kapal. Dan beruntungnya nomor tempat tidur kami berempat satu deret. Kami membeli empat tiket sesuai dengan aturan kapal dimana anak umur 3 tahun sudah terhitung satu tiket anak-anak. 


Setelah proses boarding selesai, kami bersama calon penumpang lainnya menunggu di ruang tunggu yang sudah disediakan.


Sambil menunggu naik ke dalam kapal, anak-anak kami tidurkan terlebih dahulu agar nanti pas naik kapal gak begitu ngantuk. 





Sekitar pukul 02.00 WITA kapal yang kami tumpangi belum juga datang. Menurut informasi kapalnya sudah berlabuh dan menunggu giliran bersandar di dermaga. Memang sih malam itu di dermaga ada dua kapal besar yang masih bersandar yaitu Kapal Pesiar Norwegian dan KM Mutiara Barat rute Lombok-Banyuwangi kalau gak salah. 


Baru sekitar pukul 03.00 WITA kapal kami baru nyandar dan melakukan bongkar barang yang membutuhkan waktu paling lama satu jam. 


Sekitar satu jam kemudian, kami dan penumpang lainnya dipersilahkan untuk naik ke dalam kapal. Dari ruang tunggu ke kapal cukup jauh dan kami semua harus berjalan kaki. 


Untungnya anak-anak sudah pada tidur dan mereka kami bangunkan untuk berjalan menuju ke dalam kapal. Sambil jalan kaki membawa tas ransel dan anak-anak cukup menguras tenaga. Untungnya pas malam hari jadinya gak terlalu capek. Kebayang kalau siang hari, bakalan gosong dah tuh kulit, hehehe. 


Jalan kaki beramai-ramai jadi gak terasa. Mengabadikan moment dari dermaga dengan view paling kece di tahun ini. Lampu-lampu dermaga yang sangat terang ditambah lagi dengan lampu kapal yang mewah. Suara mesin kapal sudah terdengar. Saatnya kita memulai petualangan. 


Ukuran kapal KM Dharma Rucitra 8 cukup besar. Memiliki panjang 146 meter dan lebar 26 meter. Mampu berjalan dengan kecepatan 21 knot. Dan menampung penumpang kurang lebih 1300 orang. 


Ini kapal dengan ukuran besar yang pertama kali saya naiki. Bukan hanya saya saja tapi istri dan anak-anak juga. 


Kami memasuki kapal melalui rampdoor bagian depan kapal. Memasuki lambung kapal yang masih kosong karena belum ada kendaraan baik mobil dan truck yang memasuki kapal. 


Setelah itu, saya dan anak istri menunggu giliran naik ke atas kapal melalui lift. Keren ya kapal ini punya lift dua buah. Bahkan hampir semua penumpang menggunakan lift daripada tangga. So, harus bersabar mengantri. 


Gak begitu lama mendapat giliran masuk ke dalam lift, kami segera menuju ruang kelas tempat tidur sesuai dengan tiket. Kebetulan ruang tempat tidur kami berada di Deck 4. 


Ukuran liftnya gak begitu besar. Sama seperti ukuran lift pada umumnya. Yang buat sempit itu karena barang bawaan kami yang besar-besar. Ada yang bawa koper lebih dari dua, ada yang bawa dus yang isinya oleh-oleh. Hehehe. 


Setelah keluar dari lift, kami sudah berada di Deck 4 dan segera mencari ruang kelas ekonomi tidur I. Untungnya semua awak kapal melayani kami dengan ramah. Salah satu awak kapal mengantarkan kami menuju tempat tidur. Posisi tempat tidur kami berada di area atas. Jadi tempat tidur di kapal ini susun dua. Ada di bawah dan di atas. 


Kami dapat tempat tidur di atas. Awalnya sempat khawatir karena membawa anak-anak tapi gak masalah asalkan harus hati-hati. 




Ruang informasi dan lobi

Ruang ekonomi tidur


Enaknya di depan tempat tidur kami ada kompartemen untuk menaruh tas dan koper. Jadinya barang bawaan kami taruh di tempat yang sudah disediakan. Hanya tas yang isinya barang berharga saja yang kami taruh di atas tempat tidur. 


Tempat tidurnya enak banget. Kasurnya empuk, bersekat gitu dan diatasnya ada tempat untuk menaruh tas bawaan. Asyiknya lagi ada tempat colokan hp dan laptop di setiap kasurnya. 


Ruang ekonomi tidurnya ACnya dingin. Ada layar LED untuk menonton film. Lampu ruangannya dibuat remang gitu agar mata gak silau. Pokoknya top markotop. 


Berhubung sudah lelah sekali menunggu hampir enam jam, untuk keliling kapalnya besok pagi saja setelah bangun tidur. 


Pas bangun, saya pun penasaran apakah kapalnya sudah jalan apa belum. Anak-anak dan istri masih tidur dengan lelap. Saya keluar ruangan untuk melihat situasi. Dan ternyata kapalnya masih belum berangkat. 


Melihat jam sudah pukul 06.00 pagi. Terlihat truk masih menunggu giliran masuk ke dalam kapal. Berdiri di pinggiran kapal sambil menikmati suasana pagi hari dan matahari terbit dari balik perbukitan. Lombok indah banget pagi itu. Kurang kopi saja nih, hehehe. 






Sekitar pukul 07.00 WITS kapal sudah bersiap berangkat. Rampdoor sudah ditutup. Dua kapal tunda atau tugboat sudah mendekati kapal kami untuk ditarik dan dipandu keluar dari pelabuhan. 


Kapal perlahan-lahan menjauhi pelabuhan melewati Teluk Lembar yang terkenal dengan keindahannya ini. Salah satu pelabuhan terindah di Indonesia. 


Good Bye Lombok ! Sampai berjumpa di minggu depan. 


Setelah kapal berangkat, saya balik ke tempat tidur. Anak-anak dan istri sudah bangun. Kebetulan Adeq Nala lagi kurang sehat karena sariawan. Jadinya kami bersantai di tempat tidur saja. 


Sekitar pukul 08.00, service makan pertama sudah datang. Dua nasi kotak untuk dewasa dan dua nasi kotak untuk anak-anak. Enaknya lagi di kapal ini, nasi buat dewasa dan anak dibedakan menunya. Wah mantap nih ! Salut buat DLU. 


Makan pertama dengan menu nasi putih, telur opor, sayur tumis, mie goreng dan gelas air mineral. Sedangkan menu untuk anak-anak ada nasi putih, nuget ayam, sayur wortel dan susu ultra kemasan kecil. Enak sekali ya sarapannya. 




Deck paling atas dan area atletik


Setelah sarapan, saya dan anak istri berkeliling kapal. Berhubung kapalnya besar banget, jadinya keliling kapalnya dicicil dulu ya. Gak sanggup berkeliling kapal di pagi itu. Mana mata masih ngantuk semalaman gak tidur. 


Kami naik ke deck paling atas. Disana terdapat playground anak-anak, lintasan atletik bagi yang mau lari-lari cuantik. Ada juga ruang gym dan barbershopnya. Pagi itu banyak sekali penumpang yang bersantai di deck paling atas. Udara juga masih segar dan view perbukitan Pulau Lombok masih terlihat indah. 


Turun ke deck 5 dan berjalan menuju bagian depan kapal melalui anak tangga. Tepat di bawah anjungan, terdapat tempat untuk duduk santai dengan meja dan kursi. Dari sini kita bisa melihat view kapal dari depan. Apalagi kalau bertemu dengan rombongan lumba-lumba yang mengiringi kapal. 


Disini angin lautnya gak begitu kencang. Anak-anak pun betah berlama-lama disini sambil menikmati view ciptaan Allah SWT.


Ruang ekonomi duduk


Resto kapal


Bergeser ke bagian belakang kapal melewati beberapa ruang penumpang yang ada di dalam kapal ini. KM Dharma Rucitra 8 memiliki beberapa kelas ruang penumpang. Ada ruang kelas III duduk, Single Cabin, Double Cabin dan VIP Sweet yang dimana untuk aksesnya kita diberi kartu untuk masuk ke dalam ruangannya. Ini bagi yang membeli tiket tersebut ya. 


Selain itu, ada kelas ekonomi tidur seperti saya beli, ada kelas ekonomi duduk dan non seat. Dimana non seat ini artinya penumpang gak dapat kebagian tempat duduk dan tidur ekonomi. Hanya bisa mengakses tempat duduk yang ada di sekitaran restoran, deck luar atau sofa yang ada sekitaran kapal. 


Fasilitas lainnya ada kursi pijet, ruang menyusui bagi para ibu-ibu yang membawa anak bayi, ruang medis, ruang baca mushola, kamar mandi dan toilet yang cukup bersih, ruang merokok dan ada beberapa fasilitas lainnya yang gak bisa disebut satu per satu. 


Untuk keamanannya, kapal ini sudah begitu lengkap. Ada sekoci, baju keselamatan, dan beberapa peringatan dan aturan yang sudah tertempel di dinding kapal.  


Ruang Baca



Playground anak


Duduk di bagian belakang kapal, kami bisa melihat buih-buih air dari baling-baling kapal. Jalannya kapal ini kencang sekali. Kalau gak salah sekitar 19 knot jalannya pagi itu. 


Diperkirakan sampai di Tanjung Perak, sekitar jam 12 malam. Semoga saja gak ngantri sandar di pelabuhan.


Posisi kapal pagi itu sudah berada di perairan Karangasem, Pulau Bali. Laut yang cukup tenang. Sinar matahari yang cukup terik dan angin laut yang sepoi-sepoi. 


Kami bersantai sejenak di resto kapal yang berada di bagian belakang. Disini ruangannya dingin. Sambil duduk santai, menikmati cemilan dan view indah dari Gunung Agung, Bali. 


Beruntungnya langit saat itu cerah, gak banyak awan putih yang menyelimuti puncak Gunung Agung yang terlihat sangat megah. 


Disini sinyal masih cukup kencang, jadinya masih bisa online. Biasanya kalau sudah menjauhi pulau, sinyal kembang kempis. Mari kita manfaati sinyal semaksimal mungkin. 


Sudah bosen nongkrong, kami kembali ke tempat tidur untuk beristirahat. Rencananya nanti sore, berkeliling kapal lagi sambil menikmati sunset dari atas kapal. 


Beralih siang hari, service makan siang sudah datang. Makan kedua kami di kapal dengan lauk ikan opor dan sayur tumis Sedangkan anak-anak dapat makan ayam goreng dan susu ultra kemasan. Ditambah lagi ada potongan buah melon dan semangka ya. Bisa bebas ngambilnya hehehe. 


Setelah makan siang, waktunya melaksanakan shalat Dzuhur di mushola. Selanjutnya, kita istirahat siang sampai sore. 





Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WITA. Posisi kapal sudah berada di Utara Pulau Madura melewati beberapa pulau kecil. Salah satu pulau yang saya tahu yaitu Pulau Sapudi. 


Disini sinyal hp sudah kembali normal, dimana sebelumnya sinyal sempat hilang saat posisi kapal menjauhi pulau. 


Setelah mandi dan bersih-bersih, kami berkeliling kapal lagi. Anak-anak terlihat senang saat diajak jalan berkeliling kapal. Pengalaman pertama mereka berlayar jauh menggunakan kapal long trip. 


Menikmati sunset dari atas kapal bener-bener nilai plus naik kapal ini. Lengkap malah, bisa lihat sunrise dan sunset. 


Beranjak ke malam hari, kurang lebih sekitar 5 jam lagi tiba di Tanjung Perak, service makan ketiga datang. Gak nyangka saja ada service ketiga. Padahal di tiket hanya dapat jatah makan dua kali. Berarti ini kompensasi atas keterlambatan keberangkatan kapal kemarin ya. Luar biasa !.


Gak nanggung-nanggung, kita dapat menu enak juga. Ada ayam opor, mie goreng, sayur tumis dan buah melon. Sedangkan anak-anak dapat ayam goreng CFC, telur, sayur dan susu ultra lagi. Bener-bener service maksimal nih !. Gak rugi berlayar bersama Dharma Rucitra 8. 


Setelah makan dan shalat isya, saya berjalan ke arah ruang duduk ekonomi karena disana ada sesi karaouke. Ada dua biduan yang bernyanyi sambil mengajak penumpang berjoget juga. 


Setelah menonton hiburan, saya kembali ke tempat tidur. Anak-anak dan istri masih tidur. Saya pun melanjutkan tidur sambil menunggu kapal tiba di Tanjung Perak. 


Kerjaan di kapal itu memang sangat mengasyikkan. Tidur, keliling kapal, makan, tidur lagi hehehe. Untungnya di depan tempat tidur kami ada layar LED yang memutar film-film. Jadinya gak bosen di tempat tidur. 





Gak tersadar, saya pun ikut terlelap. Dan bangun-bangun kapal sudah tiba di Tanjung Perak dan bersiap untuk sandar di dermaga.


Lampu-lampu Pelabuhan Tanjung Perak kelap-kelip terang benderang. Kapal-kapal barang dan penumpang terlihat sandar di dermaga.


Ada KM Timur Mila Utama IV dan kapal Pelni yang saya gak lihat namanya apa sedang bersandar di dermaga Jamrud Pelabuhan Tanjung Perak. 


Kapal kami persis akan bersandar di sebelah KMP Timur Mila Utama. Para ABK kapal sudah bersiap-siap akan melempar tali tambang ke dermaga sebagai pengikat kapal. Moment-moment yang saya tunggu-tunggu setiap naik kapal. 


Terlihat para porter pelabuhan sudah siap memasuki kapal untuk mencari penumpang yang bersedia memakai jasa mereka. 


Sekitar pukul 23.00 WIB kapal sudah bersandar dan seluruh penumpang dipersilahkan untuk turun dari kapal. 


Antrian penumpang yang begitu ramai saat menunggu giliran turun dari kapal. Kami berempat, bersantai sejenak di kursi sofa depan ruang informasi sambil menunggu suasana lenggang. 


Ketika sudah agak lenggang, barulah kami turun dari atas kapal menggunakan tangga karena kalau pakai lift agak lama dapat gilirannya. Jadi turun lewat tangga saya rasa lebih cepat dan gak buang-buang waktu. 


Alhamdulillah kami selamat sampai Tanjung Perak dan bersiap menuju pintu kedatangan Pelabuhan Tanjung Perak. Begitu ramai area pelabuhan malam itu. Banyak penumpang naik yang akan berangkat dan baru datang dari berbagai daerah di Indonesia. 


Untuk menuju penginapan, saya memesan taxi online yang berada di check point dekat pelabuhan. Nunggunya pun gak lama, kami pun masuk ke dalam taxi dan segera menuju penginapan. 


Kesimpulannya :


Pelayaran menggunakan KM Dharma Rucitra 8 saya akui sangat rekommended buat kalian yang akan berpergian menggunakan kapal laut menuju Lombok atau yang akan ke Surabaya. 


Pelayanannya sangat baik. Dari pemesanan tiket melalui aplikasinya. Respon operator via WhatsApp juga cepat. Pelayanan saat check in dan boarding juga sangat baik. 


Service selama pelayaran bintang lima. Fasilitas yang ada di dalam kapal bisa kita akses semua. Dari ruang penumpang sampai kamar mandinya sangat terawat dan cukup bersih.


Kapalnya cepat sampai. Bintang limanya, adanya kompensasi berupa penambahan makan disaat kapal mengalami keterlambatan. 


Jadi kalau dihitung-hitung, kita berangkat pukul 07.00 WITA dari Lombok. Sampai di Pelabuhan Tanjung Perak pukul 23.00 WIB. Total perjalanan kurang lebih 15-16 jam perjalanan. Lebih cepat dari estimasi yaitu 20 jam perjalanan. Luar biasa ! 


Oh ya, untuk review service makannya,  menunya sangat enak dan porsinya banyak. Makanannya juga cocok buat anak-anak. Good Job buat PT.Dharma Lautan Utama. 


Dengan harga 258 ribu untuk ekonomi tidur buat saya wort it banget dari Lombok ke Surabaya. Apalagi menaiki kapal semewah ini seperti naik kapal pesiar. 


Cerita selanjutnya, ditunggu ya.... ! 


Penulis : Lazwardy Perdana Putra