Showing posts with label Kedai Kopi Lombok. Show all posts
Showing posts with label Kedai Kopi Lombok. Show all posts

Friday, 3 April 2026

Tempat Ngopi Sesyahdu di Stoic by episode Coffee & Space Lombok

 


Sudah lama saya mau datang ke cafe ini, baru kesampaian minggu lalu tepatnya setelah lebaran Idul Fitri 1 Syawal 1447 H. Janjian sama temen-temen motor dan mereka ada waktu buat kumpul. Kebetulan di akhir pekan, kami berencana nyari kedai kopi buat ngobrol-ngobrol santai.

Setelah berdiskusi yang cukup alot di chat grup, akhirnya kami memilih ngopi di Stoic Coffee & Space. Tempatnya asyik buat nongki. Review lengkapnya, baca sampai habis !.

Janjian sore mau kesana, eh malah hujan lebat. Sempat galau jadi apa gak. Syukurnya ada jas hujan, jadinya saya terabas saja. Mau pakai mobil, sayangnya mobilnya masih di dealernya. Untungnya Si Nmax kesayangan menemani sepanjang jalan sambil hujan-hujanan. Kontak teman-teman, ternyata ada yang sudah datang duluan. "Semangat amat bung !". Jujur, ini pertama kami juga kesini. 

Stoic Coffee saya menyebutnya merupakah sebuah kedai kopi yang instagrammable dan lagi ngehits. Lokasinya di Jalan Bung Karno no.31, Cilinaya, Kec.Cakranegara, Kota Mataram. Tepatnya di depan Polsek Mataram. Buka dari jam sembilan pagi hingga sebelas malam. 

Cukup unik dibandingkan kompetitor lainnya yang berada di Kota Mataram. Cafe ini memiliki area yang cukup luas. Sebelum ada cafe ini, tempat ini dikenal dengan nama Sayung Resto. Salah satu restaurant ternama di kota ini. Sayangnya Sayung Resto sudah gak seramai dulu. Sempat tutup juga dan entah sampai sekarang masih buka apa gak.

Masih satu area dengan bangunan Sayung restonya, pemilik resto membangun cafe yang cukup menarik bernama Stoic Coffee & Space. Ditata semenarik mungkin. Berada di tengah-tengah pepohonan yang sangat rindang. Bisa dibilang cafe dibangun di tengah hutan kota yang asri. Mau siang atau sore, kita gak bakal kepanasan duduk santai sambil ngopi. 

Yuk kita ulik gimana sensasi nongkrong di Stoic Coffee !. 





Untuk lokasinya gak perlu bingung. Cafe ini berada persis di pinggir jalan raya tengah kota. Tinggal buka google maps, ketik Stoic Coffee atau Sayung Resto, langsung keluar tempatnya. 

Tapi buat kalian yang masih bingung, tenang saja. Di pinggir jalan sudah terdapat plank berwarna cokelat bertuliskan Stoic by episode Coffee & Space. 

Sensasi memasuki area cafenya, pastinya kalian sudah dibuat senang. Kita disambut oleh rimbunnya pepohonan besar yang cukup rindang. Belum lagi ada kolam ikan yang cukup luas. Dari pintu masuk, udara yang sejuk menyapa saat memasuki area cafenya

Menuruni jalanan berbatu menuju area parkirnya yang berada di bagian belakang. Area parkirnya cukup luas. Baik mobil maupun motor bisa menampung dengan jumlah puluhan unit. 

Sesampainya di lokasi, sudah ada personil yang sudah duduk santai di depan area kolam ikan. Setelah memarkirkan motor, saya langsung berjalan ke mereka. Ada Enwal dan Kadek yang sudah nongki duluan. Tinggal Mas Den yang belum datang. Yang lainnya gak tau ikut gabung apa gak. 

Berhubung mereka sudah pesan minuman. Saya langsung menuju meja kasir buat pesan minuman dan makanan. Berhubung perut juga laper, saya putuskan buat makan sore. 




Berjalan menuju meja kasir buat pesan menu. Saya harus menaiki anak tangga karena bangunan utama cafenya berada di atas. Menunggu antrian pengunjung lainnya di depan saya. Sempat bingung mau pesan apa. Lihat-lihat daftar menunya. Ada beberapa menu yang cukup familiar. Selain itu masih asing. 

Setelah giliran saya, mata langsung tertuju ke salah satu menu yaitu salah satu menu. Untuk menunya cukup banyak dan beragam. Dari snack sampai dessert. Dari kopi hingga non kopi juga ada disini. Soal harga kalian nongkrong disini bisa menghabiskan budget 25 ribu hingga 50 ribu rupiah, ini standar ya. Kalau pengen nambah yang lain bisa lebih dari itu.

Menu apa yang saya pesan, kita spill nanti pas bagian review minuman dan makanannya ya !. Sabar. 

Untuk pembayaran bisa pake Qris atau cash. Saya memilih pembayaran cash saja biar gak terbiasa pake Qris. Untuk pemesanan cukup cepat ya. Mbak stafnya juga sangat ramah dan manis, asyiiik (semoga gak dibaca sama istri). 

Setelah memesan menu, saya coba berkeliling area cafe sebentar. Disini cafenya cukup unik dan estetik. Pemilik cafe sepertinya ingin buat pengunjungnya betah berlama-lama duduk disini sambil ngumpul bareng teman atau keluarga. Betah berlama-lama juga untuk bekerja dengan laptop. Tempat anak-anak rekreasi juga bisa. 

Tempat duduknya juga cukup banyak dan beragam. Kalian bisa memilih bersantai di ruang indoor, semi outdoor dan outdoor

Untuk ruang indoor-nya sangat estetik. Buat kalian yang suka foto-foto ala Instagram bisa pilih duduk disini. Ruangannya didesain semenarik mungkin. Buat meeting juga cocok. Asalkan jangan ngumpul buat gibah saja. Ruangannya juga sudah dilengkapi AC jadinya betah berlama-lama kerja di laptop. 

Menuruni tangga, disini ada ruang semi outdoor. Ada beberapa meja kursi yang nyaman dengan lampu hias di atasnya. Buat kalian yang gak betah di dalam ruang ber-AC tapi masih ingin bekerja, cocok duduk disini. 

Nah ini yang paling saya suka yaitu tempat duduk outdoornya. Masih di lantai yang sama dengan semi outdoor, ada tempat duduk yang berada di pinggir bangunan cafe. Meja panjang dari cor-coran semen dengan kursi merah yang nyaman. Kalian yang datang sendiri dan mencari ketenangan, bisa pilih tempat ini. Di hadapan kita juga terlihat area hutan kota yang asri dengan kolam ikan dan pepohonan yang rindang. 

Tempat duduk terakhir yaitu di area hutan kota dengan kolam ikannya. Disini gak terlalu banyak meja kursinya. Siapa yang datang cepat, dia yang dapat. Untungnya si Enwal datang duluan jadinya masih dapat tempat duduk disini. Untuk meja kursinya ada yang diberi payung dan gak. Jumlahnya juga terbatas. 

Dikelilingi oleh hutan kota dan kolam ikan yang kedalamannya sekitar satu meter. Dulunya kolam ikan ini merupakan kolam permandian karena gak jauh dari kolam ini ada sumber mata air yang masih ada sampai sekarang. Sekitar sumber mata air ini terdapat pura kecil tempat persembahyangan umat Hindu. Karena yang punya tempat ini orang keturunan Bali. 

Fasilitas lainnya ada musholla dan toilet yang cukup bersih dan terawat. Sayangnya saya gak sempat fotoin. Selain itu kebersihan tempatnya juga baik. Gak ada sampah atau binatang pengganggu seperti kucing dan anjing. Cafe ini benar-benar dikelola dengan baik. 






Setelah berkeliling sekitar cafe, saya kembali ke tempat duduk. Gak lama kemudian, pesanan saya datang. Wah, cepat juga ya. Padahal baru saja pesan. Penyajiannya juga masih fresh. 

Saya memesan Stoic Sweet Coffee. Ini jenis es kopi. Perpaduan esspreso, sirup strauberry, jeruk, dan simple syrup sebagai pemanis. Alasan pesan kopi ini karena penasaran sama sensasi minum kopi dengan perpaduan rasa asam atau kecut dari strauberry dan jeruk. Untuk pemanisnya ditambah simple sirup. Untuk rasa ini enak dan seger banget. Tumben saya minum es kopi bikin mata melek. Harganya 32 ribu sudah termasuk PPN. 

Untuk makan besarnya, saya pesan Beef Black Paper. Sudah lama juga gak makan nasi lada hitam ini. Biasanya kalau ada acara kondangan atau hajatan baru nemu menu ini,hehehe. Untuk harga 37 ribu sudah sama PPN. Jadi total saya belanja yaitu 69 ribu plus PPN. Pas 70 ribu dengan uang parkir, hehehe. 

Selain menu yang saya pesan. Pesanan teman-teman yaitu Es Cappucino yang pada umumnya dan Ginger Peach Glow yaitu campuran ginger, lemon dan buah peach yang memiliki kesan manis sedikit asam. Pas banget diminum di siang hari, seger dan cocok buat tenggorokan dan badan. Harganya kisaran 25 ribu hingga 30 ribu.  

Untuk makanan beratnya ada yang pesan Nasi Ayam Tempong. Masakan khas Banyuwangi ini cukup favorit. Saya juga suka sama Nasi Tempong. Penyajiannya disini cukup lebay menurut saya. Dengan harga 36 ribu, porsinya parah. Sangat besar alias mengenyangkan. Apalagi ikuran ayam gorengnya mantap besarnya. Bisa untuk berdua. Sambel tempongnya juga seger. Rekommended buat dipesan bila datang kesini. 






Sengaja ambil sore hari karena pengen menikmati vibes senjanya. Ditambah lagi habis hujan, semakin syahdu rasanya. Sambil menikmati makanan dan minum kopi, kami berempat ngobrol ngalor ngidul dan kembali lagi ke topik utama yaitu touring selanjutnya kita bakalan kemana. 

Untuk tujuannya saya gak spill disini. Yang jelas kami akan touring lagi ke salah satu tempat yang menarik di explore kalau ke Pulau Lombok. Ditunggu saja !. 

Semakin sore, suasana di Stoic Coffee & Space semakin asyik dan tenang. Lampu-lampu cafe sudah dinyalakan. Permukaan air kolam berkilau terkena pantulan lampu. Vibesnya seperti cafe di Bali yang sudah saya kunjungi. Pengunjung mulai ramai berdatangan. 

Yang menarik buat dilihat disini yaitu banyak pasangan cowok cewek yang berkencan disini. Sementara kami bapak-bapak yang doyan ngopi padahal di rumah sudah ditungguin sama para istri dan anak-anak ( "Bapak kapan pulangnya ?") hahaha. 

Melihat anak-anak muda yang sedang pacaran disini, jadi ingat masa muda dulu. Kalau ngajakin pacar keluar makan, nyarinya warung bakso atau mie ayam (disesuaikan dengan budget). Jarang-jarang ngajakin pacar ke cafe se-kece ini. Beda sama anak muda jaman sekarang. Kalau ngajakin pasangannya ya ke cafe atau ke resto yang nge-hits. Beda jaman kali yaak ? Hahaha. 

Kalau sekarang mah, ngajakin istri dan anak itupun jarang ngopi ke luar karena istri gak terlalu suka nongki di cafe. Sukanya nongkrong berdua di rumah sambil nonton film di depan tv (malah curhat). 

Over all, buat saya Stoic Coffee sangat rekommended buat didatangi baik bareng temen, gebetan, pacar dan keluarga. Tempatnya keren habis. Didesain seperti kita di sebuah hutan kota yang rindang dengan dikelilingi pepohonan besar. Udaranya juga sejuk padahal berada di tengah kota. 

Pelayanannya juga sangat baik. Orderan cepat datang, stafnya ramah, responnya cepat, menunya juga beragam, rasanya enak dan harganya juga cocok dengan porsi yang diberikan. Kalau dilihat review di google maps juga dapat bintang 4,9/5. Baca-baca komentar orang yang sudah kesini juga sangat positif. Tapi kembali lagi ke selera ya. 

Oke, review singkat dari saya untuk Stoic by episode Coffee & Space. Kurang lebihnya seperti itu menurut pengalaman saya dan teman-teman saat datang kemarin. Mungkin ada yang masih perlu direview?, bisa ditulis di kolom komentar ya atau bisa chat WhatsApp saya langsung. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Saturday, 28 February 2026

Touring Santai dan Ngopi Asyik di Teras Sawah Resto & Guest House Syariah Sembalun


Sabtu pagi di Bulan Februari, hujan turun dengan derasnya. Setelah bangun tidur, saya bergegas ke kamar mandi untuk mandi dan bersiap berangkat ke arah timur. Tepatnya ke rumah Mas Deni yang berada daerah Kotaraja, Lombok Timur.

Dari Mataram, saya gak sendirian. Si Enwal, Kadek dan Mas Deni sendiri ikut gabung dalam perjalanan touring ke Lombok Timur. Agenda pagi itu kami berempat akan touring ke salah satu destinasi yang cukup jauh dari Kota Mataram. Tapi menuju ke lokasi, kami akan mampir dulu di Desa Sembalun. 

Baik wisatawan domestik maupun mancanegara pastinya sudah familiar dengan Desa Sembalun. Apalagi sekarang desa tertinggi di Pulau Lombok ini sudah banyak perubahan dimana sudah banyak dibuka penginapan yang menawarkan view kece seperti glamping, homestay maupun cabin. 

Begitu juga dengan cafe dan resto yang jumlahnya sudah puluhan di Sembalun dengan menawarkan tempat yang nyaman dengan view khas alam Desa Sembalun. Salah satu yang akan kami datangi yaitu Teras Sawah Resto & Guest House Syariah.

Menunggu hujan reda hingga jam delapan pagi. Saya memutuskan untuk jalan dari rumah. Sedangkan ketiga teman tadi sudah jalan duluan. Kami berempat sepakat kumpul di SPBU sekitar Narmada, Lombok Barat. 

Setelah berpamitan sama anak istri, saya gass motor dalam keadaan jalan basah dan langit masih mendung. Alhamdulillah, hujan sudah agak reda. Selalu pakai jas hujan agar pakaian gak basah dan masuk angin. 

Perjalanan di pagi hari cukup ramai lancar. Banyak kendaraan yang akan keluar kota. Harus hati-hati berkendara di sepanjang jalur Mataram - Lombok Timur karena kendaraan besar seperti bus lintas pulau, truk dan paling banyak ya motor. Apalagi jalur Lombok Timur ini terkenal dengan pengemudi motor yang bandel karena sering gak pakai helm. Bawa motor juga ugal-ugalan, sorry ya itu faktanya di lapangan. 

Setengah jam perjalanan, sampailah saya di titik kumpul yang sudah disepakati. Mereka bertiga sudah sampai duluan dan menunggu saya datang. Oke, setelah personel lengkap, kami isi bensin full tank agar perjalanan lancar sampai tujuan. Setelah itu kami lanjut gas menuju rumahnya Mas Den sebagai cek point selanjutnya. 

Waktu tempuh satu jam perjalanan, sampailah kami di rumahnya Mas Den. Ini kedua kalinya saya kesini. Sesampainya disana, kami disambut dengan keluarga Mas Den. Disuguhi cemilan dan sarapan. Sambilan istirahat sebelum melewati tanjakan dan jalan yang berliku. 

Setengah jam istirahat, kami melanjutkan perjalanan ke Desa Sembalun. Cuaca pagi itu cerah berawan meskipun angin cukup kencang. Sekitar jam sebelas pagi, kami berangkat. 

Melewati beberapa daerah seperti Pasar Aikmel, kemudian mengambil jalur ke arah Desa Suela. Sesampainya di pertigaan Desa Suela, kami belok ke kiri menuju arah Desa Sapit dan Desa Sembalun. 

Untuk jalur dari Suela ke arah Sembalun cukup baik dengan kondisi jalan aspal yang menanjak. Melewati Kebun Raya Lemor dengan jalan mulus dengan kiri kanan hutan belantara. Uniknya disini, kami melewati Rumah Sakit Umum Daerah Selaparang. Salah satu rumah sakit milik Pemda Kab. Lombok Timur yang baru diresmikan beberapa tahun yang lalu. 




Setelah bertemu dengan pertigaan yang mengarah ke Desa Sapit, kami jalan lurus terus menuju Desa Sembalun. Disini jalanannya sudah menanjak sampai Puncak Pusuk Sembalun. Kiri kanan hutan belantara dengan jalanan yang meliuk-liuk. Disini saya sering berjumpa dengan para anak-anak muda yang membawa tas caril. Sepertinya mereka akan mendaki salah satu Sevent Summits yang ada di Sembalun. Salah satunya yang sudah pernah saya daki yaitu Bukit Pergasingan. 

Jalanan masih dalam kondisi basah. Harus ekstra hati-hati, apalagi sesampainya di Puncak Pusuk, kabut tebal menyambut kami. Di atas puncak Pusuk, sudah ramai sekali dengan para pengunjung yang beristirahat sambil berfoto. Kendaraan bermotor berjejer rapi di pinggir jalan. Tenda-tenda pedagang juga dibanjiri pengunjung. 

Kami gak berhenti di Puncak Pusuk karena sudah gak sabaran sampai di Teras Sawah. Dari puncak, jalanan berubah menjadi jalanan menurun yang cukup terjal. Beberapa hari sebelumnya, lokasi jalanan menurun ini terjadi tanah longsor saat hujan deras. Bekasnya masih terlihat meskipun sudah dibersihkan oleh petugas. So, harus tetap ekstra hati-hati. 

Welcome Sembalun !.

Sudah cukup lama gak ke Sembalun lewat jalur timur. Terakhir kali ke desa ini saat menginap di salah satu penginapan bernama Sembalun Kita Cottage bersama anak-anak dan istri melewati jalur utara. 

Setelah menuruni jalanan terjal, kami sudah tiba di Sembalun Bumbung. Disini kita banyak menjumpai perkebunan strauberry. Biasanya di pinggir jalan, kita banyak menjumpai pedagang strauberry. Tapi saat kemarin, kami gak menjumpai strauberry karena belum musim. Sayang sekali ya. 

Gak jauh lagi, kami segera tiba di Teras Sawah. Lokasi restonya tepat di pinggir jalan utama. Tepatnya di sebelah kanan apabila dari jalur timur. Sesampainya di lokasi, terlihat cafenya masih cukup sepi. Setelah memarkirkan motor, kami langsung masuk menuju meja kasir untuk memesan minuman. 




Teras Sawah beralamatkan di Jalan Raya Sembalun Lawang no.11, Sembalun Bumbung. Lokasinya sangat strategis. Dekat dengan beberapa penginapan dan wahana bermain. Di depan restonya ada penginapan Taman Hijau Rinjani dan wahana bermain Taman Surga. 

Infonya resto ini sering didatangi oleh artis ibukota seperti Desta, Gading Martin, Vincent, Ariel Noah beberapa tahun yang lalu. Wisatawan juga banyak yang singgah makan maupun ngopi disini. Tempatnya emang asyik banget. 

Penampakan restonya cukup simple. Bangunan memanjang ke samping dan dominan kayu dengan ruang semi outdoor. Meja kayu berjejer rapi. Restonyaa terdiri dari dua lantai yang dihubungkan dengan tangga kayu. Atap bangunan berbentuk joglo. View resto ini keren. Duduk di resto ini, kita bisa melihat kawah perbukitan hijau, persawahan dan perkebunan. Melihat aktivitas para petani yang sedang bekerja di sawah. 




Sesuai namanya, Teras Sawah memang menawarkan suasana wisata kuliner dengan latar hamparan sawah yang luas. Tempat duduknya cukup nyaman, ada area semi outdoor yang jadi favorit karena bisa langsung menikmati pemandangan.

Angin sepoi-sepoi dengan suara alam bikin suasana makin syahdu. Cocok banget buat
nongkrong bareng teman, ngopi santai habis touring, quality time bareng keluarga atau sekadar me-time sambil menikmati suasana.

Setelah memesan minuman dan cemilan, kami memutuskan untuk bersantai di lantai dua. Disini kondisinya masih sepi, lebih sepi daripada di lantai satu. Meja kursi kayu masih gak berpenghuni. Kami bebas memilih tempat. Paling enak duduk santai di pinggir pagar kayu bangunan resto. 

Selain resto, tersedia juga guest house dengan konsep syariah. Cocok buat yang ingin menginap dengan suasana tenang jauh dari keramaian kota. Lingkungannya terasa nyaman dan lebih privat. Lokasi guest housenya berada di bawah restonya. Untuk menuju kamarnya, kita menuruni tangga. Tepat di pinggir sawah lokasi kamarnya. Jumlah kamarnya kurang lebih sepuluh kamar dengan fasilitas penginapan standar. 



Kerennya, kamarnya menghadap ke arah timur. Jadinya kita bisa menikmati sunrise di saat pagi hari sambil memandang beberapa bukit yang termasuk kedalam Sevent Summit Sembalun. Untuk harga per kamarnya kalian bisa cek di platform online seperti tiket.com, booking.com atau trip.com. Harganya bisa bervariasi di setiap platformnya. 

Satu lantai dengan guest housenya, fasilitas lainnya ada kamar mandi, toilet dan mushola yang cukup bersih. Wah, jadi betah menginap disini. 

Gak menunggu waktu lama, orderan kami sudah datang. Saya memesan segelas Vietnam Drip Coffee dengan sedikit manis pastinya. Sedangkan yang lainnya tetap memesan susu jahe hangat. Btw, saya heran kenapa mereka gak pesan kopi ya. Padahal kan tema riding kami kan nyari tempat ngopi yang kece. Ini sudah kedua kali lhoo ya !. 

Untuk cemilannya, kami pesan pisang goreng. Lagi-lagi kami gak pesan menu berat karena kami sudah makan banyak di rumahnya Mas Den. Jadinya pesan minuman dan cemilan saja. 




Khusus Vietnam Dripnya saya rasa cukup enak. Jenis kopi yang digunakan yaitu robusta. Cara menyeduh kopi itu dengan metode khas Vietnam menggunakan alat saring berupa saringan logan kecil bernama phin untuk menghasilkan kopi kental dengan tetesan lambat. 

Biasanya kopi ini menggunakan dark roast atau kopi panggang gelap dan disajikan di atas susu kental manis sehingga menciptakan perpaduan rasa pahit dan manis. Disajikan dalam bentuk panas atau dingin. Kali ini saya pesan yang panas saja karena udara di Sembalun sudah dingin banget. Segelas Vietnam Drip seharga 20 ribu. 

Sedangkan minuman yang lain beragam ya harganya. Dari kopi-kopian, minuman dingin hingga jus harganya kisaran 15 ribu  sampai 30 ribu. 

Untuk cemilannya kami pesan Pisang Goreng Cokelat Keju. Untuk porsinya cukup besar dan mengenyangkan. Cocok dijadikan cemilan saat bersantai sambil ngopi. Harga seporsi Pisang Goreng Cokelat Keju yaitu 23 ribu. 

Selain itu, menu disini cukup lengkap. Dari makanan dan snack kisaran harganya 20 ribu hingga 40 ribu. Awalnya tadi saya berminat pesan Indomie Rebus karena udara di Desa Sembalun cukup dingin apalagi suasana hujan gene. Tapi karena perut gak kompromi, saya urungkan buat pesan. Next time kalau datang kesini lagi, pasti pesan Indomie Rebus. 





Saat duduk santai menikmati ngopi dan cemilan, tiba-tiba hujan turun dengan deras. Suasananya tambah syahdu sekali. Puncak-puncak bukit tertutup kabut tebal. Angin dingin yang berhembus menyapa kulit. Kopi yang tadinya panas, perlahan-lahan menjadi dingin. Mau panas maupun dingin Vietnam Drip Coffee tetap nikmat di mulut. 

Sambil menikmati hujan, kami berempat ngobrol-ngobrol santai. Awalnya dilema mau meneruskan perjalanan ke tujuan utama. Tapi dengan modal nekat dan kami sudah menyiapkan jas hujan di dalam jok motor. Akhirnya kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke arah utara. 

Bisa tebak tujuan kami selanjutnya kemana ?. Kalian bisa baca ceritanya di tulisan saya sebelumnya. Setelah menunggu hujan reda, kami meneruskan perjalanan menuju Desa Obel-Obel melalui jalur utara. 

Sebelum itu, saya menyempatkan mampir di salah satu tenda sayur-sayuran Sembalun yang banyak di pinggir jalan. Beberapa sayuran saya beli seperti edamame, sawi, wortel, kentang, dan daun bawang. Disini sayurannya segar karena baru dipetik. Harganya juga bisa ditawar bagi yang pintar nawar seperti saya, hehehe.

Touring dan ngopi ke Teras Sawah Resto & Guest House Syariah jadi salah satu pengalaman santai yang layak diulang di waktu lain. Tempatnya nyaman, view-nya juara, suasananya tenang, dan cocok untuk berbagai suasana.


Kadang yang kita butuhkan memang bukan perjalanan jauh, tapi tempat sederhana dengan pemandangan hijau dan secangkir kopi hangat.

Kalau kalian sedang mencari destinasi touring santai di Lombok Timur, tempat ini bisa banget masuk daftar kunjungan berikutnya. Jarak dari Mataram ke Teras Sembalun yaitu 93 kilometer dengan waktu tempuh 2 jam 30 menit. 

Info lebih lengkapnya kalian bisa kunjungi aku instagramnya (@terassawah). Buka dari jam sembilan pagi hingga sembilan malam. 

Btw, setelah semua sayuran pesanan istri sudah dibeli, kami melanjutkan riding ke lokasi selanjutnya. Jangan lupa mampir di tulisan sebelumnya ya !.

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Friday, 30 January 2026

Touring Perdana di Awal Tahun : Ngopi di Atas Awan Desa Sapit



Ini dia cerita yang sudah ditunggu-tunggu. Cerita di awal tahun 2026 bersama teman-teman motor baru. Kalian yang sudah pernah berkunjung ke reel saya di facebook Didit Lombok, pastinya sudah melihat potongan video saya touring sambil ngopi ke salah satu kedai kopi yang ada di Desa Sapit. 

Bisa dibilang ide ini lahir dari saya dan Mas Den yang membentuk club motor kecil-kecilan. Dimana anggotanya dari teman satu kantor dan memiliki motor Yamaha. Anggotanya masih beberapa orang saja  tanpa paksaan untuk gabung. Kami terbuka untuk siapa saja yang mau gabung. Mau bapak atau wanita juga boleh. Asalkan mau ikutan touring.

Bisa dibilang club motor ini sudah enam bulan berdiri. Tapi belum juga ada kegiatan touring. Hanya ngobrol-ngobrol ringan di dalam grup whatsApp maupun saat nongkrong bareng di area tempat kerja. Untuk nama club motornya, nanti saya spill di akhir tulisan.

Kebetulan juga kami satu frekuensi dimana dalam keseharian di dalam grup whatsApp, kami sering membahas tentang motor khususnya Yamaha. Seperti perawatan NMAX, Aerox dan motor lainnya. Dan akhir-akhir ini kami sudah ngelist, tempat-tempat yang akan kami explore.

Berhubung waktu libur kami bisa berbarengan karena ada yang ngeshift. Akhirnya saya dan Mas Den memutuskan untuk touring ke Desa Sapit. Tepatnya ke salah satu kedai kopi baru yang saat ini sedang nge-hits di media sosial. 

Sabtu pagi tanggal 17 Januari 2026, saya bersiap-siap berangkat ke tempat kerja karena kami akan kumpul disana. Dari sekian anggota, hanya empat orang yang bisa ikutan. Ada saya, Elwal, Kadek dan Mas Den sendiri. Untuk Mas Den, beliau menunggu di daerah Masbagik, Lombok Timur karena kami akan melewati jalur tersebut. 

Sudah berkumpul di tempat kerja, saya bertiga sekitar jam delapan pagi mulai jalan ke Lombok Timur. Jalur yang dilewati yaitu Kota Mataram menuju daerah Narmada, lanjut ke arah Kopang dan bertemu dengan Mas Den di daerah Masbagik, Lombok Timur. 

Situasi dan kondisi lalu lintas pagi itu cukup padat karena jalur yang kami lewati adalah jalur terpadat di Pulau Lombok karena menghubungkan empat kabupaten/kota, Kota Mataram, Lombok Barat, Lombok Tengah dan Lombok Timur. Apalagi hari itu merupakan akhir pekan dimana warga kota banyak yang keluar daerah untuk pulang kampung dan berlibur. 



Hampir satu setengah jam perjalanan akhirnya kami sampai di daerah Masbagik untuk bertemu dengan Mas Den. Beliau sudah menunggu kami di pinggir jalan. Setelah bertemu, kami diajak untuk ke rumahnya yang lokasinya cukup dekat dengan tempat kami bertemu.

Di rumah Mas Den, kami istirahat dan sarapan meskipun kami sudah sarapan sebelum berangkat tadi. Istri beliau sudah menyiapkan beberapa masakan dan cemilan buat kami. Makasi Mas Den dan keluarga sudah repot-repot. 

Menu sarapan kedua kami pagi itu ada nasi putih, pelecing kangkung, tahu tempe goreng, ikan goreng dan kerupuk. Untuk cemilannya ada berbagai jenis jajanan pasar. Gak lupa di akhir sarapan, kami ngopi-ngopi dulu.

Setelah satu jam beristirahat di rumah Mas Den, kami berempat melanjutkan perjalanan ke Desa Sapit yang waktu tempuhnya kurang lebih satu jam melewati beberapa jalan pintas desa. Jalur yang kami lewati yaitu Desa Lenek, Aikmel, lalu mengambil jalur lurus di perempatan Pasar Aikmel menuju arah Desa Suela, kemudian gas pooll menuju jalur Desa Sembalun.

Di cerita ini, kami gak sampai touring ke Desa Sembalun. Melewati Kebun Raya Lemor dan sekitar dua kilometer, kami sampai di pertigaan Desa Sapit. Berbelok ke kanan menuju Desa Sapit, sedangkan kalau lurus kita mengarah ke Desa Sembalun.

Sapit merupakan desa yang terletak di Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Desa ini dikenal karena keindahan alamnya, kekayaan budaya, dan aktivitas masyarakatnya.

Berada di lereng Gunung Rinjani, dengan ketinggian sekitar 700 sampai 1100 meter di atas permukaan laut. Udara di desa ini sangat sejuk dan pemandangan alam pedesaan yang indah.

Sebagian besar mata pencaharian warga desa sini yaitu petani tradisional dengan komoditas pertanian yang terkenal yaitu kopi (robusta dan arabica). Selain itu ada padi, jagung, tembakau dan rempah-rempah.

Desa ini sangat dikenal dengan produk kopinya yaitu Kopi Sapit. Oleh karena itu, alasan kami datang kesini untuk mencari kopi sambil duduk santai menikmati alam pedesaan. Ada trasering sawah, perbukitan, view puncak Gunung Rinjani dan sunrise maupun sunsetnya.



Sekitar jam sebelas pagi, kami sampai di desa ini. Kondisi jalan sesampainya di desa ini cukup menantang. Jalanan beraspal dan naik turun karena desa ini berada di lereng gunung. Kabut juga sering menyelimuti desa ini.

Disini banyak sekali kedai kopi. Sebelum berangkat, saya mencari dulu mau ke kedai kopi mana. Kami pilih saja kedai kopi yang lokasinya paling atas.

Berada di area perkampungan warga dengan jalan yang menanjak dan menurun. Ada rumah warga yang berada di atas dan di bawah jalan. Ngebayangin kalau hujan deras air yang mengalir seperti sungai melewati jalanan sempit.

Di pertigaan Masjid Sulul Muttaqin Sapit, ada papan petunjuk bertuliskan "Welcome to Sapit Village" dan Serata Coffee & Camp di sudut pertigaan. Kami mengikuti jalanan kecil menuju Serata Coffee & Camp.

Jalanan menanjak dengan aspal yang gak rata. Sedikit bergelombang dan berbatu. Harus ekstra hati-hati saat menanjak. Mengatur gas motor jangan sampai gagal nanjak karena dari pertigaan hingga sampai di kedainya, jalannya menanjak terus.

Melewati trasering persawahan hijau dan perkebunan warga. Meskipun menanjak, jalannya aman untuk motor dan mobil. Terpenting kendaraan harus dalam kondisi baik.

Gak terasa menanjak, kami sudah berada di ketinggian kurang lebih 1000 meter di atas permukaan laut. Terlihat Selat Alas di sisi sebelah timur. Puncak Gunung Rinjani yang tertutup oleh awan tebal. Area hutan belantara Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani.

Gak jarang pula berpapasan dengan warga desa yang beraktivitas pagi itu. Kurang lebih satu jam perjalanan dari rumahnya Mas Den, kami sudah sampai di Serata Coffee & Camp yang lokasinya berada persis di sebelah kiri jalan.

Posisi kedai kopi ini di ujung jalan yang bisa dilalui motor dan mobil. Selebihnya, sudah jalanan setapak orang yang akan melakukan pendakian ke salah satu Bukit yang ada di daerah Sembalun. Kapan-kapan kita bahas !.




Sesampainya di lokasi, kami memarkirkan motor di tempat parkir motor yang sudah disediakan. Tempat parkirnya cukup luas. Apalagi area ngecampnya yang luas sekali.

Ada beberapa tempat nongkrong. Terlihat ada meja kayu panjang dengan kursi kayu yang berada di pinggiran area camping. Ada juga bangunan seperti pendopo yang saat itu belum difungsikan. 

Bangunan lainnya yaitu kedai kopinya sendiri yang cukup estetik. Ada bar kecil-kecilan dimana tempat pengunjung untuk memesan minuman dan cemilan. Karyawan disini juga ramah-ramah. Gak pelit informasi kepada pengunjung. Selain itu ada bangunan kamar mandi permanen. Dan bangunan dapur untuk memasak. 

Serata Coffee & Camp selain menjadi kedai kopi, tempat ini juga sebagai tempat pengunjung untuk membuka tenda dan ngecamp. 

Kita bisa membangun tenda di area rumput yang cukup luas. Bisa membangun tenda bebas dimana saja. Asalkan jangan bangun tenda di pinggiran tebing saja karena bisa berbahaya. 

Kedai kopi ini mulai buka di tahun lalu. Bisa dibilang masih tergolong baru. Apalagi kedai kopinya baru tiga bulan dibangun menjadi lebih bagus lagi.




Sampai di kedai kopinya, kami langsung memesan minuman. Pastinya saya memesan kopi. Yang saya pesan yaitu Vietnam Drip. Sedangkan lainnya memesan susu putih dan susu jahe. Gak paham saya kenapa mereka pesan susu. Padahal kan tujuan utama kesini untuk ngopi. Ngapain kalian nyusu kesini, hehehe.

Setelah memesan minuman dan cemilan pisang goreng dan tempe mendoan, kami mencari tempat untuk duduk bersantai sambil ngobrol ngalor ngidul.

Disini kita bisa membawa tenda sendiri atau menyewa tenda untuk ngecamp. Dari informasi yang saya tanyakan sama owner-nya, untuk sewa tenda disini dikenakan tarif 60 ribu per tenda. Bisa untuk empat orang dewasa atau satu keluarga. Sedangkan kalau bawa tenda sendiri dikenakan sewa lahan yaitu 25 ribu per orang. Untuk anak-anak umur dibawah 10 tahun gak dikenakan biaya alias gratis.

Next time, bisa kita coba camping disini. Pastinya seru dan asyik bareng keluarga atau temen. 

Untuk udara disini cukup sejuk dan berkabut. So, bawa jaket tebel biar gak kedinginan. Meskipun gak sesejuk di Desa Sembalun, tapi it's oke untuk datang buat ngopi atau bermalam disini. Untuk kedainya bisa dibilang buka hampir dua puluh empat jam. 

Kalian tau gak, karyawan disini hampir gak pernah turun ke desa meskipun mereka asli warga sini. Kata mereka, seminggu sekali mereka turun untuk membeli beberapa kebutuhan dari kedai kopi ini. 

Ohya, untuk bersantai di area rumput, kami mengambil alas tikar yang sudah disiapkan. Gak ada tambahan biaya sewa tikar karena kami sudah pesan minuman. 

Kami mengambil dua tikar untuk berempat. Mengambil posisi di tengah biar mudah untuk mengambil dokumentasi. Saat kami sampai di lokasi, ada dua rombongan keluarga yang mendirikan tenda berukuran besar. Sepertinya mereka sudah bermalam disini sejak kemarin. 

Selain kami berempat, ada juga rombongan lainnya yang datang buat ngopi-ngopi juga. Sebagian besar pengunjung berasal dari luar daerah seperti Kota Mataram atau wisatawan domestik yang kebetulan mampir ke desa ini. 




Cuaca siang itu cukup mendukung. Agak mendung dan berkabut, tapi gak ada hujan. Hanya gerimis sesekali dengan durasi yang gak lama. Masih aman buat kami yang bersantai di atas tikar. 

Ngobrol ngalor ngidul, akhirnya pesanan kami datang. Ada segelas Vietnam Drip, susu jahe, susu putih, pisang goreng dan mendoan tempe. Berhubung sudah makan berat tadi di rumah Mas Den, kami gak pesan makanan berat. 

Untuk kopi Vietnam Dripnya saya pesan yang agak sedikit manis. Soal rasa, strong banget kopinya. Aromanya juga enak. Ini pertama kalinya saya memesan kopi Vietnam. Bikin ketagihan, kalau datang kesini lagi, bakalan pesan kopi yang sama. 

Untuk cemilannya, saya pesan pisang goreng dan tempe mendoan. Pisang gorengnya enak banget. Gak banyak tepung tapi gurih. Enak banget dimakan selagi hangat. Apalagi ditambah dengan minum kopi. 

Untuk harga, disini saya kaget banget. Meskipun jauh dari kota. Ditambah lagi lokasinya yang butuh effort datang kesini pakai drama jalan menanjak dengan kondisi jalan yang kurang mulus. Tapi soal harga menurut saya terjangkau banget.

Kopi Vietnam Drip saja harganya hanya 15 ribu. Cemilannya serba 10 ribu dengan porsi besar. Minuman lainnya juga dimulai dari 7 ribu hingga 15 ribu. Gak mahal kan !. Rekommended buat kalian yang ingin motoran jauh, bisa datang ke Serata Coffee & Camp. Bukanya hampir dua puluh empat jam. 

Motoran jauh dari Kota Mataram, rasanya rugi banget kalau kesini hanya sebentar. Jadinya kami menghabiskan waktu dari siang hingga sore hari sambil bermain kartu Uno. Berharap bisa melihat puncak Gunung Rinjani dari dekat tapi sayangnya hingga kami balik ke Mataram, puncaknya selalu tertutupi awan mendung.



Kata owner tempat ini, paling pas datang kesini kalau sekalian ngecamp. Saat pagi hari kalian bisa menikmati moment sunrise. Pasti akan terlihat jelas puncak Gunung Rinjani dari dekat. Dengan catatan cuaca saat itu sedang cerah. 

Artinya kami disuruh kembali lagi kesini untuk mencoba ngecamp. Apalagi masih banyak tempat yang belum kami explore dari desa ini. Next time, harus kembali lagi buat ngopi dan mencari Kopi Sapit buat dibawa pulang.

Biar gak panjang ceritanya, saya cukupkan tulisannya sampai disini dulu untuk touring ke Desa Sapit. Karena ada salah satu netizen saya bilang, tulisan saya terlalu panjang buat dibaca. Namanya juga cerita, pastinya panjang dong. Tapi gak apa-apa dah buat tulisan pendek biar dibaca sama mereka (malah curhat).

Over all, Serata Coffee & Camp rekommended buat didatangi. Memiliki tempat yang keren. Viewnya persawahan, pegunungan dan perkebunan kopi. Udara disini juga sejuk. Menyiapkan area buat camping. Pelayanannya cukup baik. Ada fasilitas mushola dan kamar mandinya juga bersih.

Terakhir, saya sarankan kalau datang kesini, persiapkan kendaraan kalian dan lihat kondisi cuaca. Terpenting ban motor dan pengereman harus dalam kondisi baik. Khusus motor matic, cek dulu CVT dan vibelt motor kalian. Jangan sampai mesin motor mati disaat menanjak. Itu saja dari saya. Ditunggu di cerita touring club motor kami "EMBG" lainnya !. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra