Showing posts with label Explore Lombok. Show all posts
Showing posts with label Explore Lombok. Show all posts

Saturday, 5 September 2026

Kencan di Atas Bendungan Meninting : Angkringan Dara


Dari judulnya saja agak geli-geli gimana gitu. Tapi beneran ceritanya ini saya dan istri tumben motoran berdua tanpa anak-anak karena mereka sedang sekolah. Sebenarnya ini ide dadakan yang direncakan malam sebelum tidur. Kebetulan hari Sabtu, saya libur kerja dan giliran nganter anak-anak sekolah. Biasanya habis anter anak sekolah, balik ke rumah bantuin istri ngurusin rumah. 


Tapi kali ini sepertinya lagi pengen ngajakin istri motoran ke tempat yang viewnya cakep. Banyak pilihan, tapi setelah diskusi sama si doi, akhirnya kami memilih untuk motoran ke salah satu tempat nongkrong baru yang ada di Lombok Barat. 


Jaraknya lumayan jauh dari rumah. Sekitar tiga puluh menit berkendara. Lokasinya ada di kawasan Bendungan Meninting. Berhubung waktu sangat terbatas, setelah nganter anak-anak sekolah, saya dan istri lanjut ke lokasi. 


Pas banget, cuaca lagi bersahabat dengan kami berdua. Setelah melewati padatnya arus lalu lintas Kota Mataram pagi itu, kami melalui jalur pedesaan yang cukup asri. Dari jalan besar, kami menyusuri jalan perkampungan yang masih padat karena kesibukan warga kampung pagi itu. Melewati pasar, sekolah dan tibalah kami di jalur persawahan dan perbukitan. Saya kurang tau nama bukitnya apa. Lebih jelasnya, nanti saya cantumkan di maps menuju lokasi tujuan kami. 





Udara pagi perbukitan yang sangat sejuk menyambut kami di sepanjang perjalanan. Jalanan yang berliku dengan aspal yang mulus. Gak begitu lebar tapi masih bisa antar mobil berpapasan. Saran saja, kalau mau motoran kesini, kondisi kendaraan harus  dalam keadaan baik karena jalanan sempit dan menanjak. Sempat kepikiran, pas perginya menanjak gini kebayang pas baliknya bakalan berhadapan sama jalur menurun yang cukup ekstrim. 


Kurang lebih lima ratus meter sebelum lokasi tujuan, ada pertigaan jalan dimana kalau belok kiri itu merupakan jalur menuju Bendungan Meninting dari pintu timur. Tapi karena sudah laper banget, kami mencari sarapan dulu. Mungkin nanti kalau masih ada waktu, kami bakalan ke kawasan bendungan. 


Singkat cerita, kami sudah sampai di lokasi. Namanya Angkringan Dara. Lokasinya di Dusun Murpeji, Desa Dasan Geria, Lingsar, Lombok Barat. Tepatnya satu jalur menuju Wisata Kampung Lebah Murpeji. 


Tempatnya cukup sederhana, tapi view dari tempat nongkrong ini cakep banget. Dari sini, kita bisa melihat Bendungan Meninting dari atas dengan latar belakang perbukitan hijau yang asri. 


Gak hanya view bendungan saja. Dari sini kita bisa melihat view Kota Mataram, Islamic Center Lombok, Masjid Hubbul Wathan dan gedung lainnya. Pasti kalau malam cakep banget bisa melihat jutaan lampu-lampu perkotaan. 


Dari informasi beberapa teman dan foto orang-orang di sosial media yang sudah datang kesini, saya pun jadi tertarik buat nyobain nongkrong disini sambil ngopi. Di lokasi yang sama, ada beberapa angkringan juga yang menjual view yang sama. Tapi saya pilih Angkringan Dara karena tempatnya cukup luas.


Setelah memarkirkan motor di area parkir yang berada di seberang angkringan, kami berjalan menuju area dalam angkringan. Suasana pagi itu masih belum ada pengunjung. Beberapa karyawan masih menata kursi dan meja. Ada juga yang sedang menyapu halaman. Sempat ragu, ini tempatnya sudah buka apa belum. 







Kami masuk saja dan pas bertanya ke mbaknya yang jaga, ternyata tempatnya sudah buka. Dari penampakan, beneran seperti tempat angkringan mahasiswa jaman saya kuliah dulu. Ada meja panjang dan kursi kayu. Atapnya dari bahan spandek sehingga gak panas. 


Meskipun sederhana, tapi viewnya sangat mewah. Meja kursinya terbagi beberapa tempat. Gak ada indoor, semuanya outdoor karena udara disini sudah sangat sejuk. Angin perbukitan yang sepoi-sepoi. Suara kicauan burung-burung menyapa kami. Deretan pepohonan yang rindang dan sapaan warga desa yang sedang melintas. 


Ada untungnya kami datang kepagian. Jadinya masih bisa bebas pilih tempat duduk. Selain ada meja kursi, angkringan ini juga memiliki beberapa berugaq (gazebo) yang berada di pinggir tebing dan langsung menghadap ke bendungan. Saya dan istri lebih memilih bersantai di berugaq yang ukurannya bisa untuk empat orang dewasa. 


Datang ke tempat secakep ini, sayang sekali gak ambil beberapa foto. Spot foto disini lumayan cakep. Kita bisa fotoan ala-ala anak muda atau prewed gitu. Fotoan berdua kayaknya lebih romantis kali ya, hehehe. 






Bendungan Meninting menjadi magnet bagi warga lokal maupun pendatang. Bendungan ini dibangun sekitar tahun 2019 sampai 2025 sekaligus diresmikan dan dibuka untuk umum. Bendungan ini berada di ketinggian sehingga pengunjung bisa melihat view Kota Mataram dari atas. Kapan-kapan kita review bendungan ini ya. 


Kembali ke laptop !. 


Kami memesan beberapa menu sarapan yang wajib dicoba. Ada nasi goreng ayam pakai telur, kebab, pisang cokelat, susu jahe dan es matcha. Pengennya sih pesen banyak tapi kembali lagi, kita pakai prinsip jalan-jalan hemat. 


Sambil menunggu pesanan datang, kami mengexplore tempat ini. Dari fasilitas umum yang ada seperti mushola, toilet, area parkir kendaraan, tempat duduk yang berada di pinggiran tebing. Tanaman hias dan pepohonan hijau yang rindang di halaman samping bangunan utama. Semuanya ada disini, bersih dan terawat. 


Mbak karyawannya juga ramah-ramah. Tapi pagi itu hanya ada dua orang saja. Satunya melayani pengunjung, satunya bersih-bersih area angkringan. 


Yang saya suka dari tempat ini yaitu gak kotor dan areanya tertata rapi. Sampah-sampah dibuang pada tempatnya. Berhubung angkringan ini berada di pinggir tebing, saya coba cek ke bawah tebingnya. Ternyata bebas dari sampah. Biasanya ada saja penjual atau pengunjung usil buang sampah ke bawah tebing seperti tempat lain. Gak boleh ditiru  !.


Pelayanan disini cukup cepat. Gak menunggu lama, pesanan kami sudah datang. Ada nasi goreng ayam dan telur. Mau dimanapun, paling suka menu sarapan nasi goreng meskipun menginap di hotel bintang lima, pasti nyarinya nasi goreng. Kalau gak gitu ya nasi bungkus, hehe. 







Nasi gorengnya cukup enak. Gak pelit bumbu dan pedasnya pas di mulut. Potongan ayamnya juga banyak. Ditambah toping telur mata sapi yang gurih. Ada sayurannya dan porsinya banyak. Dimakan bersama dengan kerupuk, maknyus. Harganya cukup murah yaitu 15 ribu saja. 


Ada juga kebab pesanan istri. Isian kebabnya sama seperti kebab pada umumnya. Ada telur dadar, potongan tomat, timun, sayuran dan diberi saus mayo atau sambel. Ukuran roti kebabnya juga besar dan dihidangkan hangat-hangat. Harganya hanya 8 ribu saja. 


Untuk snacknya, kami pesan pisang cokelat. Sangat gurih dan renyah di mulut. Ada rasa manis dari pisang dan cokelatnya. Porsinya juga cukup banyak. Pas banget dinikmati bersama minuman hangat. Harganya cukup murah yaitu 10 ribu. 


Kalau minumnya, kali ini saya gak pesan kopi. Lagi pengen minum yang hangat di tenggorokan karena udara disini cukup sejuk. Susu Jahe hangat pas banget. Sudah lama juga gak minum susu jahe. Pas diminum, enak banget di tenggorokan. Susunya juga gurih dan saya menikmatinya. Harganya 5 ribu kita sudah dapat menikmati secangkir susu jahe (sachetan). 


Es Matcha yang dipesan sama istri juga seger di tenggorokan. Es batunya gak begitu banyak juga jadinya rasa matchanya masih kuat. Saya sih gak begitu suka minum matcha, tapi pas cobain eh ternyata enak juga ya. Btw, ini matcha sachetan apa gak ya ? Hehehe. 


Harga makanan minuman disini gimana ?. Kalau saya disini harganya sangat murah. Rata-rata harganya dari 5 ribu hingga 35 ribu. Untuk tempat secakep ini, kalau bayangan saya pastinya harganya lumayan mahal karena yang dijual view. Tapi gak berlaku di Angkringan Dara ini. Semoga saja tetap pasang harga kaki lima tapi rasa bintang lima. 



Sambil menunggu anak-anak pulang sekolah, saya dan istri menikmati sarapan disini sambil ngobrol ngalor ngidul. Sudah lama juga gak kencan berdua. Biasanya pergi makan berempat sama anak-anak. Sekalinya kencan lagi, di angkringan ini sambil melihat view cakep dari atas Bendungan Meninting. Mengulang kembali masa pacaran dulu, hehehe. 


Untuk jam bukanya setiap hari dari jam enam pagi hingga malam hari. Pas banget datang kesini saat sore untung melihat sunset bareng teman, gebetan atau keluarga di rumah. Buat meeting juga cocok, mau ngerjain tugas sekolah, kuliah atau mencari inspirasi buat bahan tulisan juga cocok disini. 


Rute menuju tempat ini gak begitu susah. Kalian tinggal ketik Angkringan Dara di maps, ikuti saja apa kata mbak google mapsnya. Jangan lupa ketik alamat yang lengkap ya. Jangan sampai salah alamat  !. 


Penulis : Laswardy Perdana Putra

Saturday, 29 August 2026

Jalan-Jalan Pagi ke Senggigi dengan Suasana Baru : Matta Siput dan Dermaga Senggigi


Siapa yang gak kenal dengan Pantai Senggigi, Lombok. Destinasi wisata yang berada di daerah Lombok Barat ini dulunya sangat terkenal dengan keindahan pantai berpasir putih, ombak yang tenang dan sunset yang cantik. Banyak wisatawan domestik maupun mancanegara kalau berlibur ke Pulau Lombok, pasti datang ke Senggigi. 


Senggigi berjarak kurang lebih sepuluh kilometer dari pusat Kota Mataram. Waktu tempuh kurang lebih lima belas menit menggunakan motor atau mobil. Transportasi umum yang melayani dari Kota Mataram ke destinasi ini yaitu DAMRI saja. Selain itu kita bisa memesan ojek online atau menyewa kendaraan. 


Senggigi juga merupakan kawasan perhotelan, resort dan villa. Gak hanya itu saja, sejak dulu Senggigi sangat terkenal dengan hiburan malamnya. Puluhan cafe, resto maupun bar ada disini. Bagi warga Kota Mataram dan sekitarnya, kalau ingin mencari hiburan sambil berkumpul dengan teman atau keluarga, pastinya Senggigi menjadi pilihan utama. Tapi itu dulu sebelum Kuta Mandalika dan Desa Sembalun gak seramai sekarang. 


Sejak tragedi Bom Bali puluhan tahun yang lalu dan parahnya lagi, Indonesia dan dunia sempat dilanda wabah Covid-19 di tahun 2020 sampai 2022, kawasan Senggigi mulai ditinggalkan oleh wisatawan domestik dan mancanegara. Banyak dari mereka yang lebih memilih stay di Gili Trawangan atau Kuta Mandalika. 


Sebenarnya dari nama-nama berikut, Senggigi gak kalah soal keindahan pantainya. Bahkan menurut saya pribadi, Senggigi jauh lebih hemat dari sisi budget karena menawarkan destinasi wisata yang murah tapi gak murahan. 


Kalau lagi suntuk di rumah atau pekerjaan, saya biasanya jalan-jalan ke Senggigi. Jalur Senggigi juga merupakan jalur favorit saya kalau gowes. Cerita gowes ke Senggigi pernah saya tulis di blog ini. Bisa kalian cari di daftar tulisan blog ya  !. 


Sudah lama gak jalan-jalan ke Senggigi, saya mengajak istri dan anak-anak ke salah satu spot cakep di kawasan Senggigi. Pas banget di Minggu pagi, cuaca cerah. Setelah sarapan di rumah, kami bersiap-siap untuk jalan. 


Masih pakai motor kesayangan "Blumax", estimasi perjalanan kurang lebih setengah jam. Kami berencana mengajak anak-anak main air dan pasir. Jadinya membawa perlengkapan mandi dan pakaian ganti. 


Melewati pinggiran Kota Mataram menuju arah Kota Tua Ampenan, lanjut menuju arah Pantai Senggigi. Kondisi lalu lintas pagi itu cukup ramai lancar. Gak sepadat di hari kerja karena orang-orang masih pada tidur di rumah masing-masing. 


Setelah melewati padatnya daerah Ampenan, kami sudah berada di jalur menuju Pantai Senggigi. Jalanan sudah aspal mulus semua. Baik kendaraan roda dua dan roda empat, ramai juga mengarah ke Senggigi. 


Sesampainya di tanjakan Batu Layar, view Pantai dan perbukitan hijau cakep benar. Sedikit ada perbaikan jalan tapi gak menghalangi arus lalu lintas pagi itu. Jalur Senggigi dari Kota Mataram merupakan jalur pinggir laut. Jadinya selama di perjalanan, waktu gak terasa. Eh, ternyata kami sudah sampai di pusat keramaian Senggigi. Udara pagi yang sejuk, langit yang biru, lautan yang indah, pasir putih yang menyambut kami pagi itu. 


Tujuan kami yaitu ke Pantai Senggigi atau biasa disebut Dermaga Cicak Senggigi. Lokasinya gak jauh dari Pasar Seni Senggigi, Hotel Merumata dan Matta Siput. Untuk menemukan pantai ini gak sulit. Patokannya, setelah Hotel Aruna dan Hotel Montana, di sebelah kiri ada jalanan kecil dimana ada tulisan Hotel Merumata. 






Kita belok ke kiri menyusuri jalanan kecil tersebut. Kurang lebih dua ratus meter, ada area parkiran kendaraan Pelabuhan fast boat Senggigi. Kita bisa memarkirkan kendaraan di parkiran dengan membayar uang parkir 5 ribu saja. Tenang saja, parkirannya resmi dan gak ada biaya tambahan lagi masuk ke dalam pantainya. 


Suasana pagi itu cukup ramai oleh pengunjung yang sama-sama lagi menghabiskan akhir pekan bersama keluarga tercinta. Setelah kendaraan aman, kami berjalan kaki menuju pantai. Dari depan masih terlihat sama seperti terakhir saya kesini. Tapi setelah memasuki area pantai. Ada yang sedikit berubah. 


Dermaga pelabuhan sudah direnovasi. Banyak fast boat yang bersandar disini menunggu jam keberangkatan. Oh ya, dermaga ini sudah dioperasikan setiap hari untuk melayani penyeberangan Senggigi menuju Pelabuhan Padangbai, Gili Trawangan dan Nusa Lembongan (pulang pergi). 


Bila kita ingin menggunakan fast boat atau kapal cepat menuju Bali, bisa melalui Senggigi. Operator yang melayani penyeberangan ini cukup banyak, salah satunya yaitu KM Eka Jaya. Selain itu ada beberapa operator lainnya dengan harga tiket yang beragam. Kisarannya yang saya ketahui dari 450 ribu hingga 650 ribu. Lebih jelasnya kalian bisa cek di website masing-masing. 


Pas kami tiba di pantai, suasana ramai sekali. Yang berbeda dari pantai ini selain dermaga yang semakin cakep yaitu gak ada lagi perahu-perahu nelayan yang terparkir di pinggir pantai. Jadinya agak lengang kalau kita ingin bersantai menikmati suasana pantai sambil cuci mata. 


Anak-anak sudah gak sabaran mau main pasir dan air. Tapi saya dan istri, mengajak mereka dulu berjalan menuju salah satu spot cakep untuk menikmati view. Kurang lebih seratus meter berjalan kaki menyusuri jalanan stapak yang sudah tertata rapi. 







Kami menuju ke Matta Siput, salah satu spot favorit saya kalau datang ke Pantai Senggigi. Kalau dilihat dari atas pesawat, Matta Siput ini berbentuk seperti kepala siput dengan dua sungutnya. Bisa dibilang spot ini merupakan tanjung kecil di sudut Pantai Senggigi. 


Dari sini kita bisa melihat perbukitan hijau, Kota Mataram dari kejauhan, ujung pulau Lombok paling barat, Pulau Nusa Penida dan Gunung Agung di Bali. Aktivitas yang bisa kita lakukan disini yaitu duduk santai di atas undakan tangga yang sudah di paping blok sambil makan kacang rebus dan ngopi. Yang hobi mancing, kalian juga bisa mancing dan surfing disini karena ombak disini lumayan besar. Terlihat batu karang dari permukaan air laut yang berwarna gradasi biru dan hijau. 


Yang paling cakep lagi, spot ini persis di depannya Hotel Merumatta. Buat kalian yang menginap di Merumatta sangat beruntung karena bisa langsung ke spot ini tanpa ada drama ketinggalan moment sunset. Cukup buka pintu kamar, lalu berjalan kaki beberapa langkah. Kalian sudah berada di salah satu spot cakep buat menikmati sunset. 


Sayangnya kami datangnya pagi hari, jadinya gak sampai sore disini. Next time, ajak anak istri buat kesini lagi. Btw, berhubung angin cukup kencang dan khawatir anak-anak masuk angin, kami memutuskan puter balik menuju dekat dermaga. 


Rencananya mau duduk santai sambil menemani anak-anak main pasir dan air. Kami cukup menyewa tikar untuk duduk biar pantat gak kotor. Untuk sewanya cukup 10 ribu saja dan dipakai sepuasnya. Sampai malam pun boleh asalkan gak dibawa pulang saja tikarnya. 


Selain itu ada juga yang menawarkan sewa life jacket buat berenang di pantai atau bermain banana boat dan kano. Untuk sewanya saya kurang tau ya karena gak nanyak juga. Disini juga kita bisa bermain jetsky. Pastinya mahal nih sewanya.






Karena kali ini temanya liburan paket hemat, jadi kami hanya bersantai dan menemani anak-anak saja. Selain itu kami memesan masakan khas Lombok. Apa itu?. Ya bener, Sate Bulayak. 


Sate Bulayak merupakan salah satu kuliner khas Lombok yang menawarkan perpaduan rasa gurih, pedas, dan aroma rempah yang cukup kuat. Sekilas memang terlihat seperti sate pada umumnya, tetapi yang membuatnya berbeda adalah cara penyajian serta pasangan uniknya, yaitu bulayak.


Bulayak adalah lontong khas Lombok yang dibungkus menggunakan daun aren atau daun kelapa dengan bentuk memanjang dan sedikit berpilin. Untuk menikmatinya, kita harus membuka pembungkusnya terlebih dahulu, kemudian menyantapnya bersama potongan sate dan siraman bumbu khasnya.


Sate yang digunakan biasanya berupa daging sapi atau jeroan, meskipun di beberapa tempat terdapat variasi lainnya. Dagingnya dipotong kecil-kecil, ditusuk menggunakan tusukan bambu, lalu dibakar hingga matang. Aroma sate yang sedang dibakar menjadi salah satu hal yang cukup menggoda, apalagi saat disantap langsung dalam keadaan masih hangat.


Dari dulu kalau mau makan Sate Bulayak, kita bisa ke Pantai Senggigi. Tapi sekarang sudah banyak tempat yang menjual masakan khas Lombok yang terkenal ini. Perpaduan aneka rempah di bumbunya yang menarik kita untuk pengen makan lagi. Harganya kisarab 25 ribu -35 ribu (tergantung tempat). Porsinya juga cukup banyak dan mengenyangkan. 


Paling enak lagi habis makan Sate Bulayak, kita bisa memesan kelapa muda yang segar. Namanya kalau sudah di pantai, pastinya banyak penjual kelapa muda. Apalagi di Lombok yang banyak memiliki pohon kelapa di sepanjang pantainya. 


Karena akhir pekan, pengunjung yang datang ramai sekali. Meskipun suasana ramai, tapi kami masih bisa menikmati pantai dengan pasir putih yang lembut, gradasi hijau biru air laut, angin sepoi-sepoi dan yang paling saya sukai disini yaitu kita bisa melihat fast boat yang akan nyandar di dermaga. Jadi pengen naik kapal cepat ini ke Bali. 


Selain fast boat, ada juga privat boat yang bisa kalian sewa menuju beberapa pantai yang ada di sekitaran Senggigi dan ada juga yang menyewa untuk nyeberang ke Gili Trawangan. Biasanya sih tamu bule yang pakai jasa ini karena pastinya harga sewanya mahal. 




Gak terasa, sudah tiga jam kami main air. Tapi masih betah juga lama-lama disini. Enaknya di Pantai Senggigi ini gak panas karena banyak pohon-pohon rindang dan pohon kelapa yang menjulang tinggi di sepanjang pantai. So, pengunjung sangat nyaman bersantai disini. 


Pantai Senggigi sekarang sudah tertata rapi dan bersih. Penjual souvenir dan Sate Bulayak sudah ditempatkan di tempat yang sudah disediakan oleh pengelola. Dermaga pelabuhan fast boat juga sudah cakep. Untuk jadwal fast boatnya cukup banyak dari pagi hingga sore hari. Jadinya rame banget fast boat silih berdatangan dan berangkat menuju Bali dan Gili Trawangan. 


Kerennya lagi disini gak ada para penjual souvenir yang resek dan memaksa pengunjung untuk beli barang dagangannya seperti di kawasan pantai lainnya. Over all, buat kalian yang sedang merencanakan berlibur ke Lombok dan masih bingung mau menginap dimana, kalian bisa memilih Senggigi sebagai tempat untuk berlibur. Tapi kembali lagi ke selera ya. 


Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Saturday, 15 August 2026

Salah Satu Surganya Lombok : Motoran ke Orong Bukal

 


Bagi sebagian orang mungkin belum mengenal destinasi satu ini. Namanya gak seterkenal Pantai Kuta Mandalika, Pantai Senggigi, Gili Trawangan atau Desa Sembalun yang sudah menjadi tujuan utama wisatawan kalau berlibur ke Pulau Lombok. 


Meskipun begitu, destinasi yang sudah saya explore ini ternyata menjadi salah satu destinasi pilihan bagi wisatawan domestik maupun mancanegara saat ini. Sejak kemunculannya sekitar tahun 2020 di media sosial, para kaum milenial dan gen Z berlomba-lomba datang kesini. Ada yang punya kepentingan buat konten, adu nyali, adu fisik dan banyak juga yang datang untuk menikmati keindahan surga dunia Sang Maha Pencpita yang hadir di Pulau Lombok.


Sudah enam tahun destinasi ini dibuka untuk umum. Di pertengahan tahun 2026 akhirnya saya diberi keinginan untuk mengexplore tempat ini yang lokasinya dibilang cukup jauh dari Kota Mataram. Apalagi treknya yang memacu adrenalin. Awalnya gak ada pernah berpikir atau berencana ke destinasi ini karena dari beberapa cerita treknya memang cukup ekstrem. Apalagi saya sudah gak pernah trekking ke alam lagi seperti air terjun, perbukitan dan gunung. Berat badan juga sudah naik dan saat ini sukanya motoran ke tempat yang keren dan kulineran saja. Main aman lebih jelasnya, hehehe


Entah gimana ceritanya, kok saya dan rombongan bisa sampai di destinasi ini. Gak ada persiapan apa-apa. Hanya modal atur jadwal dan membawa kebutuhan seadanya. Agenda motoran serba dadakan. Kebetulan saling tegur sapa di chat group. Sudah lama juga kami gak motoran bareng. Terakhir kali saat ke Desa Sembalun, lanjut ke Gumbang Ganang muterin Lombok Timur. Ceritanya bisa kalian baca di beberapa tulisan sebelumnya  !. 






Sabtu pagi, setelah antar anak-anak ke sekolah. Saya menuju tempat kumpul di rumah teman. Disana sudah menunggu beberapa teman yang akan ikut motoran ke Sekotong. Setelah semuanya kumpul, kami segera berangkat menuju destinasi tujuan. 

Sekitar jam sembilan pagi, kami bertujuh memulai perjalanan dari daerah Labuapi, Lombok Barat. Kurang lebih waktu tempuh dua jam perjalanan yang akan kami habiskan di jalan karena gak diburu waktu juga. 

Cuaca pagi yang sangat cerah. Sudah kami siapkan tabir surya karena lokasi yang akan kami tuju cukup terik ditambah kondisi trek yang cukup terjal. 

Kami melewati jalur pintas menuju arah Pelabuhan Lembar. Jalanan aspal yang masih mulus ditambah view perbukitan yang  menguning karena sudah jarang turun hujan. 

Btw, kenapa pilih jalur Sekotong untuk agenda motoran edisi kali ini. Alasannya karena jalur Sekotong merupakan salah satu jalur favorit bagi para riders. Selain jalur Sembalun dan Senggigi, Sekotong memiliki jalur dengan view cakep alias paket lengkap. Ada perbukitan, laut, hutan mangrove dan air terjun yang airnya ada saat musim hujan saja. Kapan-kapan kita bahas.

Di sepanjang perjalanan, saya beberapa kali memperlambat laju motor hanya untuk menikmati pemandangan. Gak perlu terburu-buru karena salah satu alasan melakukan perjalanan dengan motor adalah menikmati suasana perjalanan, bukan hanya ingin cepat sampai ke tempat tujuan.

Setelah perjalanan yang cukup menguras tenaga dan pakai drama salah jalur segala, akhirnya Orong Bukal semakin dekat. Teriknya siang itu dan menguras keringat, perlahan terbayar ketika sampai di tujuan. Ada rasa puas yang sederhana. 

Melewati jalur pinggir laut, menanjak dengan aspal yang cukup mulus. Meskipun di beberapa titik kami melewati sisa-sisa puing bebatuan dan jalanan berlobang akibat bencana longsor beberapa bulan yang lalu. 

Sesampainya di parkiran motor Orong Bukal, kami beristirahat sejenak di berugaq (gazebo) yang masih satu area dengan parkiran. Fasilitas disana bagi saya cukup lengkap. Ada area parkir kendaraan yang tertata rapi, ada kantin makan, ada mushola, kamar mandi dan beberapa berugaq untuk pengunjung beristirahat. 

Orong Bukal merupakan destinasi alam yang ngehits sekitar tahun 2020 lalu hingga sekarang. Lokasinya berada di Desa Buwun Mas, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat. Tempat ini terkenal dengan panorama laut biru kehijauan, gugusan pulau kecil, serta perbukitan yang membuatnya sering disebut “Raja Ampatnya Lombok.”

Penyebutan Orong Bukal karena destinasi ini terdapat gua kelelawar "bukal" yang posisinya ada di tebing bukit berbatu. Untuk mencapai kesana, kalian bisa menuruni bukit dan tebing hingga sampai di bibir pantai. Di celah-celah tebingnya terdapat gua kelelawar. Oleh sebab itu warga setempat menyebutnya dengan nama Orong Bukal. Tapi disini harus hati-hati karena hempasan ombat laut lepasnya lumayan kencang. 

Untuk jam berkunjungnya, dari jam enam pagi hingga lima sore. Banyak pengunjung kesini untuk melihat sunrise maupun sunset. Jadi jangan heran lokasi ini cukup ramai dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. 






Setelah kurang lebih lima belas menit istirahat di parkiran motor sambil melakukan peregangan badan, saya dan Mas Den terlebih dahulu memulai trekking. Sedangkan yang lainnya masih menunggu pesanan mie rebus. Saya dan Mas Den sudah sempat makan sebelum berangkat, jadinya masih kenyang. 

Kami berdua duluan jalan, biar nanti mereka nyusul karena kami berdua mau jalan kaki santai saja. Harap-harap cemas semoga masih kuat jalan nanjak dan selamat hingga kembali ke parkiran nantinya.  

Sebelum melanjutkan perjalanan, kami membeli tiket masuk terlebih dahulu. Harga tiket yaitu 10 ribu per orang baik wisatawan domestik maupun mancanegara. Ditambah tiket parkir 5 ribu, jadi totalnya 15 ribu. 

Loket tiketnya persis berada di sebelah pintu masuk menuju Orong Bukal. Informasinya jarak dari pintu masuk menuju Orong Bukal kurang lebih 1,5 km. Melewati empat pos yaitu pos 1,2,3 dan 4. Setiap pos memiliki view yang berbeda.

Yuuk kita lanjut jalan menuju pos 1  !. 

Trek pertama yang kami lewati yaitu langsung jalanan menanjak dengan kondisi jalur tanah dan berdebu. Sinar matahari siang itu cukup terik. Untungnya pakai topi dan kacamata hitam. Semoga saja kami bisa melalui segala rintangan sampai pos 1.

Seperti lagunya Ninja Hatori "Mendaki Gunung Lewati Lembah....", bener banget nih. Sudah nanjak, eh ketemu trek menurun dan terjal. Untungnya disediakan tali pengaman untuk berpegangan agar gak tergelincir. 

Habis jalur menurun, lanjut tanjakan lagi hingga sampai pos 1. Meskipun capek sudah terasa, tapi view dari pos 1 cakep banget. Alis yang sudah mengkerut, mendadak sumringah karena melihat laut lepas bagian selatan Pulau Lombok. Sisi sebelah timur terlihat pantai tebing dan laut lepas. Lautan biru dan di tengah ada pulau kecil yang memiliki menara mercusuar. Sayangnya gak ketangkep sama kamera. 

Di pos 1 ada spot foto menarik untuk dicoba. Fasilitas spot foto terbuat dari kayu yang cukup aman untuk kita mengambil foto. Cukup ramai yang berfoto disini, baik pengunjung lokal maupun para bule yang trekking ke Orong Bukal juga. 










Di pos 1, saya dan Mas Den istirahat sejenak sambil mengatur nafas dan minum. Lumayan sekilo jalan kaki nurunin bukit dan menanjak. Kaki sudah mulai pegal-pegal. Maklum sudah lama gak berkegiatan di alam lagi. 

Sambil menunggu teman-teman yang menyusul di belakang, kami foto-foto dulu disini. Ternyata siang itu banyak juga pengunjung yang ikutan trekking menuju Orong Bukal. Mayoritas anak-anak gen Z dan emak-emak fomo, hehehe. 

Oh ya, buat kalian yang gak kuat jalan, kalian bisa sewa ojek dari pintu parkiran hingga pos 1 saja. Untuk sewanya 25 ribu per sekali jalan. Kalau pulang pergi totalnya 50 ribu. Kalau saya sih ogah mau pakai ojek. Nanggung sekali soalnya, biar dapat pengalaman trekking kalau masih tahan lebih baik jalan kaki saja. Kalau gak kuat, angkat bendera putih. 

Setelah kurang lebih sepuluh menitan nungguin yang lainnya di pos 1, akhirnya teman-teman di belakang sudah sampai. Kami bertujuh lanjut bberjuang berjalan kaki ke pos 2 yang jaraknya gak begitu jauh tapi treknya semakin menantang. 

Dari pos 1 menuju pos 2, jalur didominasi dengan jalanan menurun. Untungnya disini banyak pohon, jadinya gak terkena langsung paparan sinar matahari siang itu. Cukup rindang untuk jalan kaki menuruni bukit. 

Sepanjang jalan, kami sering berpapasan dengan pengunjung lainnya yang balik ke parkiran. Keliatannya mereka dari pagi sudah sampai disini. Gan terasa capek karena menjumpai orang di tengah hutan belantara. 

Setibanya di pos 2, kami langsung lanjut ke pos 3. Jalur semakin curam dan licin. Untungnya banyak tali pengaman disini. Syukurnya, kami selamat sampai di pos 3. Suasananya di pos 3 cukup ramai oleh pengunjung yang melepas lelah sambil bersantai disini. 

Di pos 3, kita bisa melihat view Orong Bukal dari atas bukit. Akhirnya kami sudah sampai di spot foto yang sering saya lihat di media sosial. Rasa lelah dan senang bercampur aduk. Gak hanya melihat dari layar handphone saja, tapi saya masih diberikan kesempatan dan rezeki bisa melihat secara langsung keindahan Orong Bukal. 

Kami memutuskan untuk istirahat dan bersantai di pos 3 saja. Fasilitas disini cukup buat hati tambah senang dan nyaman. Disini ada warung kecil-kecilan yang menjual pop mie, cemilan dan minuman dingin. Warung ini dikelola oleh warga setempat. Yang buat saya senang, disini juga disediakan kantong sampah. Bahkan di setiap jalur yang kami lewati, banyak dijumpai kantong-kantong sampah. 

Disini juga dibangun spot foto dengan background Orong Bukal. Fasilitas lainnya, tersedia bangku-bangku dari papan kayu yang dibangun oleh warga setempat dan desa. Warga desa disini juga sangat ramah oleh pengunjung. Jadinya kami merasa aman berkunjung ke destinasi ini. 

Saya, Mas Den dan Enwal memutuskan untuk bersantai di pos 3 saja, sedangkan yang lainnya lanjut ke pos 4 dan turun ke pantainya. Sebenarnya view yang paling cakep itu di pos 4,tapi apa daya. Saya gak mau memaksakan kondisi fisik. Sampai pos 3 saja sudah bersyukur nafas masih teratur. Hanya kaki saja yang sudah pegal-pegal, hahaha. 






Kurang lebih satu jam lebih kami duduk bersantai di pos 3. Sempat makan pop mie, minum kopi dan cemilan. Gak terasa waktu sudah beranjak ke sore hari. Setelah berfoto-foto sambil cuci mata melihat view cantik, kami memutuskan untuk balik ke parkiran. 

Perjalanan balik dengan jalur yang sama. Tapi medan jalurnya terbalik. Tadinya kebanyakan jalur menurun, sekarang jalurnya menanjak. Untungnya di pos 3, kami menambah tenaga untuk bahan bakar balik ke parkiran. 

Perjuangan belum selesai, kami harus berjuang berjalan kaki menanjak di kondisi jalur yang agak licin. Kaki sudah cukup pegal tapi tenaga masih banyak. Kami berjalan perlahan-lahan sambil menikmati perjalanan. 

Alhamdulillah, satu jam waktu tempuh, kami sampai di parkiran kendaraan dalam kondisi sehat dan selamat. Gak ada yang mengalami cidera meskipun sempat terjatuh di beberapa spot karena jalur yang licin. 

Sampai di parkiran, perut lapar lagi. Tenaga juga sudah habis. Kami harus mengisi bahan bakar untuk pulang ke rumah masing-masing. Perjalan ke rumah masih satu jam lagi. 

Kami memesan nasi goreng di warung. Namanya Warung Cilinaya yang menjual banyak makanan dan minuman dingin. Harga makanan minuman disini juga standar. Pastinya mengenyangkan dan puas. 

Over all, rekommended banget kalau berlibur ke Lombok harus ke Orong Bukal. Fasilitasnya cukup baik dan aman. Disini juga kita membeli tiketnya resmi dan dapat wifi gratis yang cukup kencang pula. 

Tips dari saya buat kalian yang pertama kali mengexplore destinasi ini, pertama harus sehat jiwa dan raga. Kalau agak kurang enak badan, lebih baik tunda dulu. Kedua, siapin keperluan seperti botol minum, sunblok, baju cerah atau putih, kacamata hitam dan topi. Ketiga harus siapin mental dan keberanian. 

So, destinasi ini aman buat kalian kunjungi. Pengelolaannya juga sangat baik antara warga setempat dan pihak desa. Tempatnya juga bersih dan bebas dari sampah. Warga desa yang ramah ,memberi kenyamanan dan rasa aman bagi orang yang berkunjung. 

Apalagi ya yang saya mau ceritakan, sepertinya sudah cukup lengkap. Mungkin bagi kalian yang belum pernah ke Orong Bukal atau yang sudah kesana, bisa diceritakan di kolom komentar !.


Penulis : Lazwardy Perdana Putra