Tuesday, 28 January 2020


Biasanya lihat di media sosial kepadatan para penumpang KRL terutama di jam-jam sibuk, pagi dan sore hari. Gak kebayang kalau saya benar-benar berada di tengah kepadatan para penumpang yang naik KRL. Berdesakan, panas dan rawan akan tindak kejahatan. Bayangan itu berubah menjadi nyata. Saya benar-benar merasakan suasana gimana padatnya para penumpang yang berada di dalam gerbong kereta. Gak dapat jatah duduk, berdiri pun jadi. Lirik kanan-kiri, ada yang tua, anak-anak, laki perempuan berkumpul menjadi satu di dalam gerbong kereta favorit warga Jabodetabek saat ini.

Di awal tahun 2020 ini, saya berkesempatan ke Jakarta lagi. Tepatnya ada perjalanan dinas ke Bekasi, Jawa Barat. Namanya Bekasi, gak jauh-jauh dengan Jakarta. Kita yang lagi di Bekasi, bisa dengan mudah datang ke Jakarta. Banyak transportasi umum yang bisa kita pilih. Dari bus Damri/AKAP, Commuter Line (KRL) dan gak lama lagi akan hadir LRT Jabodebek lhoo. Proyek pembangunannya sedang dalam proses pengerjaan. 

Berhubung stay di Bekasi kurang lebih lima malam, gak ada salahnya donk jalan-jalan ke Jakarta. Setelah tugas semuanya sudah beres, saya bareng temen-temen dari daerah lain janjian nyari oleh-oleh ke Tanah Abang dan Tamrin City, Jakarta Pusat. Kami memilih untuk mencoba naik KRL dari Stasiun Bekasi menuju Stasiun Tanah Abang. Ini pengalaman pertama saya mencoba moda transportasi satu ini. Dulu pernah naik KRL ekonomi jaman gak enak, banyak pengamen, pedagang dan preman pastinya. Tapi KRL sekarang sudah berubah lebih baik lagi. Pastinya gak ada preman, pedagang dan pengamen yang mondar-mandir di dalam gerbong kereta lagi.

Gimana ceritanya, yuuk dibaca sampai selesai !



Berawal dari Abang Fauzan yang mengajak saya mencari pakaian murah di Tamrin City. Berhubung hari itu kegiatan sudah selesai, tinggal menunggu acara penutupan sore harinya, saya mengiyakan ajakan si abang. Rencana jalannya pagi sehabis sarapan di hotel. Kami gak berdua yang akan ke Tamrin City, tapi ada tiga orang temen yang ikut dalam rombongan. Jadi, kami berangkat berlima. Seru nih rame-rame perginya.

Untuk menghindari macet, kami naik KRL dari stasiun Bekasi. Jarak dari hotel gak begitu jauh. Kurang lebih lima menit saja, kami sudah sampai di depan pintu masuk stasiun yang sedang dalam tahap renovasi. Kami menggunakan ojol dari hotel untuk mempersingkat waktu dan jarak tempuh. Kebetulan aplikasi ojolnya sedang ada promo menyambut Hari Raya Imlek nih. 

Ini pertama kalinya saya mencoba merasakan sensasi naik KRL. Sudah lama saya ingin merasakan naik KRL yang kata orang-orang sekarang pelayanan dan fasilitas yang diberikan sudah semakin baik. Sesampai di pintu masuk stasiun, kami segera membeli tiket di loket. Tiketnya bisa dibeli Go Show ya. Harganya pun sangat murah yaitu 3 ribu rupiah saja dari Bekasi ke Tanah Abang. Masing-masing penumpang mendapatkan tiket dalam bentuk kartu yang didepositkan seharga 10 ribu. Uang kita bisa kembali setelah kita selesai bepergian menggunakan KRL pada hari yang sama dengan cara menukarkan kartu sekali jalan ke loket kembali. Bentuk kartunya bisa dilihat di atas ya !

Dengan kartu ini kita baru bisa masuk dan keluar stasiun. Jadi jangan hilangkan kartu ini bila masih menggunakannya. Bisa-bisa kalau hilang, turun dari KRL eh malah gak bisa keluar stasiun tujuan.  Kan lucu ceritanya. Suasana di stasiun Bekasi pagi itu cukup ramai. Ternyata kita berangkatnya kepagian alias masih kategori jam sibuk. Tapi gak apa-apa, sudah terlanjur juga. Dari stasiun ini, kami menaiki KRL jurusan Jakarta Kota transit stasiun Manggarai. 

Untuk tipsnya, kita jangan sampai kebingungan kereta mana yang akan dinaiki. Setiap peron ada running textnya yang bertuliskan tujuan kereta. Kalau masih ragu, kita bisa menanyakan kepada petugas berbaju hitam dengan rompi berwarna hijau muda lengkap dengan topi berwarna orange. Abang petugasnya ramah-ramah dan hafal jalur kereta. Jelas harus hafal, kalau gak hafal nanti kita dapat zonk. Mau ke Tanah Abang eh malah ke Bogor. Mau ke Tamrin City, eh malah ke hatimu, asyik.

Lanjut !.








Kami sudah siap, pasrah dan tetap waspada dengan kondisi sekitar. Kereta yang akan membawa kami ke stasiun Manggarai berada di jalur 3. Kurang dari lima menit lagi, kereta akan berangkat. Kami sadar kalau kecil kemungkinan mendapat tempat duduk. Masuk di gerbong paling depan, suasana di dalam gerbong sudah ramai banget. Hampir seluruh tempat duduk sudah terisi semua. Ada yang sampai sudah berdiri memegang pegangan tangan yang tergantung di bagian sisi atas gerbong.

Kami gak menyerah, saya bersama yang lainnya terus berjalan menuju gerbong demi gerbong sampai kami berada di gerbong paling tengah. Hasilnya sama juga, gak ada tempat duduk buat kami. Yasudah, kami akhirnya berdiri memegang pegangan tangan yang menggantung sambil bersenda gurau. Saya memilih untuk berdiri di sisi sebelah kanan pintu kereta. Tepat lima menit kemudian, pintu kereta tertutup otomatis. Saya mendengar informasi dari toa yang berada di sudut stasiun bahwa kereta akan segera berangkat menuju stasiun selanjutnya. 

Saya pun tersenyum dan senang dalam hati. Akhirnya saya pun naik KRL juga. Agak katrok memang, tapi inilah saya. Saya sangat suka bepergian menggunakan transportasi umum dari bus, kapal laut, pesawat dan kereta. KRL berjalan dari lambat dan perlahan-lahan semakin cepat. Suara gesekan roda dengan rel kereta begitu khas. 

Suasana di dalam kereta cukup hening. Gak nyangka ternyata para penumpang cukup tertib. Sangat nyaman sekali dan paling penting di dalam gerbong kereta sangat adem. Jalan kereta sangat mulus, masinisnya cukup cekatan menjalankan kereta ini. Berbeda dengan dua belas tahun yang lalu, dimana KRL dulu dikenal dengan sebutan kereta listrik kelas ekonomi. Dimana gerbong yang dipenuhi oleh penumpang yang saling berdesakan. Ditambah lagi dengan pedagang, pengamen dan gak jarang kita temui preman yang memasuki gerbong kereta. Manalagi KRL jaman dulu ada dua jenis, ada yang pakai ac dan non ac. Harganya pun berbeda, jelas lebih mahal yang pakai ac. Sekarang KRL kelas non ac sudah dihapus. Lebih nyaman dan aman lah sekarang dibandingkan dulu. God Job buat pemerintah yang selalu memperhatikan perkembangan perkeretaapian. 







Kurang dari setengah jam, kami sudah tiba di stasiun Manggarai. Kami turun dari kereta untuk transit disini. Melanjutkan perjalanan dengan KRL yang berbeda. Kami harus menunggu KRL yang melewati stasiun Tanah Abang. Bisa dibilang stasiun Manggarai merupakan stasiun transit terbesar yang memiliki banyak percabangan. Bagi yang akan ke Bogor, Cikarang, Tangerang, Tanah Abang, Kemayoran, Bekasi, Sudirman dan Jakarta Kota transitnya di stasiun Manggarai. Pertama-tama ribet memang, tapi kalau sudah dipelajari gak begitu susah. 

Makanya di dalam gerbong kereta, di atas pintu kereta tertempel jalur KRL se-Jabodetabek. Tujuannya untuk mempermudah para penumpang yang baru pertama kalinya naik KRL. Jalur yang tertempel sudah jelas memberikan informasi jalur mana saja yang dilewati KRL dari Bekasi, Bogor hingga sampai ke Jakarta Kota. Semuanya nama stasiun tertera di dalam KRL Maps. Bila masih ragu atau ingin mempertegas, kalian jangan segan-segan tanya penumpang di sebelah kalian. Mungkin saja mereka paham sama jalur yang kalian tanyakan. 

Gimana suasana di Stasiun Manggarai alias stasiun transit menuju Tanah Abang ?

Luar biasa ramai nan padat. Sudah jam sepuluh pagi, para penumpang masih ramai saja. Lebih ramai daripada penumpang yang hilir mudik di stasiun Bekasi. Sudah jelas penyebabnya karena ini stasiun transit. Penumpang dari berbagai arah, bertemunya di stasiun ini. Pemandangan yang cukup menghibur buat saya. Gak lupa suasana di stasiun saya abadikan dalam sebuah foto-foto yang lumayan lah, maklum fotografer amatiran. Saya terheran-heran, ini orang yang jumlahnya banyak banget datangnya darimana saja ?. Gak habis-habis yang naik dan turun kereta. 

Kurang lebih sepuluh menit, kami harus menunggu kereta yang akan menuju stasiun Tanah Abang. Disini kami harus bertanya lagi dengan petugas, jalur berapa kereta yang akan ke stasiun Tanah Abang. Bapak petugas memberitahukan kalau kereta ke Tanah Abang datang dari jalur 5. Kami langsung buru-buru berjalan menuju jalur 5 karena kereta akan segera tiba. 

Bener dugaan saya, keretanya lebih ramai lagi dari kereta sebelumnya. Hampir penuh dengan penumpang. Gak dapat tempat duduk, akhirnya kami berlima berdiri lagi. Telapak kaki sudah terasa pegal tapi harus dinikmati perjalanannya. Untung saja, jarak yang ditempuh gak terlalu jauh. Hanya melewati satu stasiun saja yang saya lupa namanya, akhirnya kereta kami sudah tiba di stasiun Tanah Abang. 

Kereta berjalan melambat dan akhirnya berhenti dengan sempurna. Pintu otomatis terbuka dan kami bersama penumpang lainnya, turun dari kereta di stasiun Tanah Abang. Waaah, stasiun ini sudah banyak mengalami perubahan. Sudah keren dan nyaman. Tapi tetap saja penumpang yang turun dan naik disini sangat ramai. Bisa dibilang yang ke Tanah Abang juga sangat ramai di jam-jam segini. 

Kesimpulannya apa ?.

Saya baru tau kalau penampilan KRL sekarang gak sejelek yang saya bayangkan, peace. Pertama kali naik KRL Jabodetabek saya langsung takjub. Keren, mewah, nyaman, wangi, kursinya empuk, aman dan yang paling penting bersih. Jadi pengen naik lagi di lain kesempatan. Next time kalau ke Jakarta lagi, saya bakalan naik transportasi umum ini. Apalagi harganya sangat terjangkau. 

Buat kalian yang belum berkesempatan mencoba KRL, boleh dicoba kalau ke Jakarta. Aksesnya juga sangat terjangkau, sudah terhubung dengan shelter TransJakarta, MRT, LRT dan stasiun kereta api jarak jauh seperti Stasiun Pasar Senen, Gambir, Tanah Abang, Jatinegara dan Bogor.

Saran saja, kalau ingin naik KRL bisa menghindari waktu-waktu sibuk seperti jam enam pagi dan jam lima sore hingga delapan malam. Khusus di stasiun Manggarai, bila yang ingin melanjutkan ke bandara Soekarno Hatta, kalian bisa mencoba menggunakan kereta bandara. Saya sudah mencobanya. Gimana ceritanya, sabar dulu ya. Di postingan selanjutnya saya akan menulis kesan-kesan naik kereta bandara dari stasiun Manggarai ke Bandara Soekarno Hatta. 

Comming Soon !!!

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Friday, 17 January 2020

Black Burger It's Milk Lombok Enak Banget, Cobain Dah !


Masih inget dengan tulisan saya di It's Milk Lombok beberapa tahun yang lalu ?. Bener banget, sekitar awal November tahun 2016 lalu, saya pernah mereview kedai yang pada waktu itu sedang ngehits. Wah sudah lama banget reviewnya ya. Apa masih ngehits sampai sekarang ya ?.

bisa dibaca disini juga : It's Milk Lombok

Di awal tahun 2020 alias empat tahun berlalu, ada yang baru dari It's Milk Lombok. Berhubung sudah jarang nongki-nongki di cafe, saya baru tahu cafe kece ini pindah alamat ke tempat yang bisa dibilang sangat strategis dari tempat sebelumnya.

Saat itu saya bareng istri sedang mencari tempat santai sambil dinner. Maklum kami berdua lagi suntuk di rumah. Pengen nyari tempat yang santai dan bisa ngobrol-ngobrol. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk dinner di It's Milk Lombok yang baru. Lokasinya gak terlalu jauh dengan tempat yang lama. It's Milk Lombok berlokasi di jalan Majapahit. Tepat di depan Kampus Universitas Mataram (Unram) atau depan Rumah Sakit Unram yang baru. bila kalian masih bingung, lokasinya gampang banget. Dari Lombok Epicentrum Mall ambil arah menuju Kampus Unram. Pas sampai di bundaran Unram, It's Milk berada di sebelah kiri jalan. Di google maps masih tercantum lokasi yang lama ya. Jadi jangan bingung !.










Bisa dibilang It's Milk di lokasi barunya menjadi tempat nongkrong terhits saat ini. Cafe ini buka dari jam sepuluh pagi sampai sebelas malam. Bagi yang ingin makan siang bareng temen kantor (bukan selingkuhan lhoo ya), bisa datang ke cafe ini. Kalau saya sih lebih suka datangnya sore atau malam karena tempatnya keren, lampunya unik-unik dan gak panas juga. Tapi kembali ke selera lhoo ya.

Bila ditanya lebih enakan lokasi lama atau yang baru, pasti saya menjawab lebih enakan tempat yang baru. Disini ruangnya lebih luas, jadi gak khawatir kehabisan tempat duduk. Apalagi ruangnya terdiri dari outdoor dan indoor. Bagi yang suka ngumpul rame-rame dan ahli hisap, bisa memilih di tempat outdoor. Sedangkan yang lebih ingin ada suasana privat atau pengen nyari ketenangan alias ngadem, bisa memilih indoor karena ada AC nya broo.

Kebetulan saya bareng istri datangnya habis shalat magrib. Suasana cafenya masih sepi pengunjung. Perlu kalian tau, cafe ini selalu dipenuhi oleh anak-anak muda tiap sore sampai malam. Ada yang datangnya ramai-ramai satu genk. Ada yang bareng gebetan, tapi gak tau itu gebetan atau selingkuhan. Ada yang bareng temen bisnis. Dan seperti saya datangnya bareng istri tercinta sepanjang masa, hahaha.

Jangan saya disuruh menghitung jumlah meja kursi di cafe ini. Pastinya meja dan kursinya keren, jumlahnya banyak dan gak perlu khawatir kehabisan. Kami berdua memilih duduk di ruang indoornya. Suasananya nyaman, adem dan gak berisik. Lagu-lagunya yang diputar juga update banget. Ruang indoornya sih gak terlalu luas, tapi nyaman kok buat kami berdua.

Nah, setelah dapat tempat duduk yang agak nyaman. Saya langsung ke meja resepsionis untuk memesan makanan. Sistem memesan makanan disini, kita diberi selembar kertas yang isinya daftar menu. Tinggal centang mana saja yang akan diorder. Karyawannya juga sangat ramah. Bila ditanya tentang menu yang kami kurang paham, mereka gak segan-segan untuk menjawabnya dengan jelas. Senyumnya juga gak lupa, harus itu senyum biar pelanggan betah datang kesini.

Oke, sekarang kita bahas menu-menu yang kami berdua pesan. Jadi gak sabaran direview satu per satu. Sudah siap laper ?. 


Black Burger (BB)

Sudah pada tau kan menu satu ini ?. Hampir semua anak jaman sekarang sangat paham bahkan sering sekali memakan cemilan satu ini. Banyak yang bilang sih ini jenis junk food, tapi menurut saya ini makanan sehat. Ada roti, sayur-sayuran, potongan daging sapi/ayam, saos tomat, saos cabe dan lain-lain. 

Burger yang saya pesan kali ini warna rotinya hitam lhoo. Beberapa tahun ini, black burger sudah akrab di lidah kita orang Indonesia. Warna hitamnya berasal dari bambu hitam yang berasal dari Jepang. Buat saya black burger ala It's Milk memiliki cita rasa tersediri. Saya suka dengan tekstur roti hitamnya, empuk dan enak banget. Berbeda dengan roti pada burger biasanya. Ini sangat empuk dan lembut dilidah. Di dalamnya ada potongan daging ayam, sayur-sayuran, irisan tomat, bawang bombai dan saosnya itu lhooo, lumer dilidah. Bikin nambah laper dibuat. 

Kalau diajak datang lagi ke It's Milk, saya pasti akan memesan Black Buger lagi. Makanan pembuka yang saya bareng istri cicipi sambil menunggu menu utama datang. Ukurannya juga sedang, gak besar ataupun gak kecil. Jadi gak kenyang duluan bila dijadikan menu pembuka. Seporsi Black Burger diberi harga 15 ribu. Cukup murah dan sangat enak, rekommended buat dicoba. 

 Indomie pakai kuah
Indomie gak pakai kuah

Noodle Bowl With Chicken Katsu

Menu utama yang kami pesan yaitu menu di atas. Agak susah nyebutnya kalau pakai bahasa Inggris. Intinya ini indomie yang diberi potongan daging ayam yang digoreng pakai tepung dan diberi potongan sayuran dan kuah. Disini kami memesan dua macam yaitu Indomie yang diberi kuah dan Indomie goreng.

Soal rasa, gak perlu diragukan lagi. Berhubung kami berdua doyan makan indomie tapi kami bukan berarti anak generasi micin ya. Saat buka daftar menu, ada menu ini yasudah langsung saja kami pesan. Apalagi sore tadi turun hujan dan masih dalam suasana hujan rintik-rintik, pas banget makan yang hangat-hangat. Seporsi Indomie ....... (lanjutin sendiri) seharga 18 ribu. Enak dan murah banget. 

Selamat makan !. Bentar dulu, kok buru-buru makan sih ?. Belum selesai nih ceritanya.

Banana (Yellow) & Bubblegum (White)

It's Banana Milk Premium

Buat saya kalau mendengar kata It's Milk, dibayangan saya pasti terpintas It's Banana Milk Premiumnya. Minuman es susu satu ini paling enak buat saya. Apalagi perpaduan antara rasa susu dan pisangnya itu membuat betah lama-lama nongkrong disini. Ukurannya juga bisa kita pilih, ada ukuran premium dan pertamax. Saya lupa harganya beda atau gak. Pastinya kalau premium, ukuran gelasnya agak kecilan dibandingkan yang pertamax. Kayak istilah bahan bakar di SPBU saja ya, hehehe. 

Bagi yang suka susu, wajib dicoba. Selain pisang, ada juga rasa yang lain. Bisa kalian lihat sendiri di daftar menunya ya. Segelas It's Banana Milk Premium diberi harga 12 ribu. Untuk ukuran minuman ini murah banget. Kalau di cafe ternama lainnya, mana ada harga segitu. Bener kan ?, hehehe

It's Bubblegum Milk Premium

Berbeda dengan istri saya. Dia memesan segelas It's Bubblegum Milk Premium. Saya sih belum pernah mencicipi minuman es susu ini. Dari penampakannya sih, warnanya putih seperti susu biasanya. Pas dicoba, sensasinya itu lhoo. Ternyata rasanya seperti permen karet. Bener-bener rasa permen karet. Kalau saya sih kurang begitu suka dengan rasanya. Lebih baik ngunyah permen karet saja lebih baik. Tapi berbeda dengan istri saya. Dia begitu suka dengan rasanya. Katanya seger dan nyes nyes. 

Bagi yang doyan dengan minuman es susu ini, gak ada salahnya dicoba. Segelas minuman susu ini diberi harga 10 ribu. Lebih murah dibandingkan dengan It's Banana Milk Premium. Mungkin saja harga pisang yang lebih mahal dari permen karet, hehehe.... i just kidding guys. 


Tempura Yummy

Menu terakhir yang kami pesan yaitu tempura. Untuk rasa tempuranya oke, tapi tekstur tempuranya yang agak keras. Mungkin saja terlalu over cook, jadi warnanya juga terlalu kecoklatan. Mungkin sedikit saran saja, tempuranya digoreng jangan terlalu lama. Sebentar saja, pasti renyah dan enak dimakan selagi panas. 

Tempura Yummy cukup lumayan melengkapi daftar menu yang kami pesan di It's Milk. Sejauh ini kami berdua sangat puas dengan pelayanan disini. Waktu tunggu pesanan juga gak terlalu lama. Bahkan sangat cepat menurut saya. Tempat juga nyaman dan sangat asyik. Bisa ngadem sambil ngerjain tugas pakai laptop karena banyak colokan. Tapi ada yang kurang yaitu area parkirannya yang menurut saya cukup sempit. Sukses terus buat It's Milk Lombok. 

Ceritanya sudah selesai. Gimana sudah laper belum ?. Yuuk makan, Selamat Makan !

Tulisan ini disponsori oleh kamera Oppo F1s dan duit sendiri. Sekian dan Terimakasi :)


Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Monday, 13 January 2020

Terbang di 32000 Feet : Garuda Indonesia Boeing 737-800 NG


Sejak kecil, saya seneng banget kalau diajak traveling bareng kakek kemana saja beliau pergi. Sempat saat masih bertugas di Bea Cukai Denpasar, saya bareng nenek dan adik diajak beberapa hari berlibur di Pulau Dewata. Sejak kecil saya sudah mengenal namanya kapal laut, bus dan pesawat terbang.

Khususnya untuk pesawat terbang, saya sangat suka mengamati setiap pesawat yang take off dan landing di bandara yang letaknya sangat dekat dengan rumah. Bahkan dulunya, hampir setiap sore saya bareng kakek selalu datang ke runway bandara melewati jalan setapak persawahan. Tujuannya satu, kakek mencari ikan di sungai kecil pinggir runway, sedangkan saya duduk manis sambil menunggu pesawat terbang dan landing.

Kalau ditanya dulu sukanya pesawat apa?. Pasti saya jawab, Garuda karena dulu pesawat berbadan besar yang turun di Bandara Selaparang (sebelum pindah ke BIL, Lombok Tengah) hanya Garuda Indonesia saja. Sedangkan maskapai yang lain pesawatnya kecil-kecil. Keren aja gitu liatnya. Apalagi saya yang termasuk sangat jarang bepergian naik pesawat, jadi pengen banget suatu saat nanti naik pesawat yang tulisannya Garuda Indonesia, hehehe..keliatan ndesonya.

Kuliah di Yogya kalau pulang mudik naik pesawat naiknya sih maskapai yang lain karena lebih murah, maklum anak mahasiswa. Sampai lulus kuliah pun belum kesampaian naik ini pesawat. Alhamdulillah saat sudah bekerja, akhirnya kesampaian juga merasakan sensasinya terbang bersama burung besi berplat merah ini (curhat pak?)




Setelah urusan tugas dinas kelar di Jakarta, saatnya balik ke rumah. Penerbangan yang saya pilih untuk balik ke Lombok yaitu GA430 siapa lagi kalau bukan Garuda Indonesia. Ini pertama kalinya saya naik maskapai ini pake gratis alias dibayarin pemerintah. Kalian tau kan harga tiket pesawat satu ini lebih mahal dibandingkan maskapai nasional lainnya. Tapi dimana-mana harga gak bisa bohong. Harga menunjukkan kualitas dan servisenya. 

Kali ini saya gak sendirian, saya ditemani oleh Mbak Eka, temen satu kantor. Jadi ada nemenin buat konten alias ada yang dimintain foto, hahaha. Kebetulan jam penerbangan kami lumayan agak pagi yaitu jam sebelas waktu setempat. Kami check out dari hotel tempat acara sekaligus tempat kami menginap sekitar jam tujuh pagi dengan alasan pengen agak santaian menuju bandara. 

Dari hotel sampai Bandara Soekarno Hatta (Soeta) memakan waktu satu jam perjalanan. Syukurnya gak terkena macet. Setibanya di terminal 3 Bandara Soeta, kami langsung melakukan check in. Suasana di terminal 3 lumayan cukup lengang. Gak terjadi antrian yang panjang karena masih pagi. Jujur, ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di terminal 3 Bandara Soeta. Kesan pertama, wah banget lihat gedung terminal 3. Megah, bersih, arsitekturnya keren, menggambarkan gedung bandara kekinian, pelayanan di counter check in nya sangat baik dan cepat. Tapi satu yang agak lucu, terminalnya panjang banget. Jalan dari gate 4 ke gate kami di gate 28 saja, bisa lima belas menit berjalan kaki. Lumayan buat nurunin berat badan, hehehe. 








Setelah melakukan check in, kami segera berjalan menuju gate 28. Tapi berhubung pakai Garuda, kami mendapatkan servise makan sepuasnya di lounge Garuda Indonesia yang berada di lantai dua. Menu yang tersedia lumayan enak. Karena sudah sarapan banyak di hotel sebelum check out, saya hanya mengambil cemilan saja. Ada berbagai macam jajanan pasar favorit dan segelas juice apple yang seger. Lumayan menunggu waktu boarding tiba. Tempat duduknya juga sangat santuy kalau bahasa anak muda sekarang, hahaha.

Setibanya di ruang tunggu gate 28, waktu menunjukkan jam sepuluh pagi. Masih ada setengah jam menuju waktu boarding. Saya yang gak bisa diam, jalan-jalan dulu melihat suasana di bandara super megah dan masuk sepuluh besar bandara terbaik di Asia. Sempat cek kamar kecilnya (toilet) juga. Lavatory Inspection, asyiik. Toiletnya cukup bersih dan harum. Gak banyak yang saya bisa review dari bandara ini karena pengen gak foto-foto dan buat konten. Tapi gak bisa juga, ujung-ujungnya jepret sana jepret sini. Hasil jepretan didukung oleh sebuah kamera Oppo F1S dan Xiaomi Yi #BukanPromosi.




Setengah jam berlalu, akhirnya waktu boarding pun tiba. Sudah gak sabar terbang bersama maskapai yang sempat masuk sepuluh besar maskapai terbaik di Asia. Proses boarding gak terlalu lama. Budaya antrinya juga sangat tertib dan aman. Satu per satu petugas memeriksa boarding pass yang ditunjukkan oleh calon penumpang. Setelah giliran saya dan Mbak Eka dicek boarding passnya, kami berdua segera bergegas turun ke bawah menuju bus yang akan mengantarkan kami menuju pesawat.

Cuaca saat itu cukup bersahabat dan gak ada angin kencang juga. Saya lupa nomor pesawat yang kami naiki. Yang jelas Garuda Indonesia Boeing 737-800 NG. Jenis pesawat yang gak terlalu saya sukai karena getarannya yang cukup kencang (pengalaman naik maskapai lain). Nah, gimana rasanya terbang bersama pesawat ini ?. Itu yang saya tunggu-tunggu dan penasaran. 

Sebelum masuk ke dalam pesawat. jangan lupa foto-foto eksis dulu. Untuk Garuda sendiri, ada dua kelas penerbangan yaitu kelas bisnis dan ekonomi. Dalam penerbangan kali ini, saya dan Mbak Eka duduk di kelas ekonomi. Untuk jumlah penumpangnya saat itu bisa dibilang full. Banyak juga ternyata orang ke Pulau Lombok pakai maskapai ini lagi (jadi terharu). Kami berdua dapat jatah duduk di seat 23A dan B, lumayan agak depan dan dekat dengan kelas bisnis. Pesawatnya harum, bersih, suasana kabin pesawat yang sejuk mata memandang apalagi sejuk melihat para pramugarinya yang manis-manis. 





Di kelas ekonomi, tempat duduknya dengan formasi tiga tiga. Kursinya empuk dan di depan ada sebuah layar LED yang bisa kita gunakan untuk memutar musik, video, movie dan maps. Kita juga diberi sebuah headset yang bisa dipakai selama penerbangan. Tapi jangan sampai dibawa pulang ya, apalagi dengan sengaja dimasukkan ke dalam tas. 

Saya kebagian duduk di bagian tengah, jadi gak bisa ngambil foto dengan maksimal. Untungnya di beberapa moment, saya meminta ijin sama Mbak Eka untuk mengambil beberapa foto saat pesawat sudah terbang. Pemandangannya keren dan luar biasa indahnya. 

Penerbangan Jakarta - Lombok memakan waktu dua jam. Untuk Garuda sendiri, kami mendapat jatah makan lagi. Kali ini saya mencoba untuk mencicipi menu nasi opor ayam, jeli dan segelas orange jus. Semua menunya enak banget, baru kali ini saya menikmati makanan cukup mengenyangkan di dalam pesawat. Apalagi makannya di ketinggian 32000 feet, kece kan ? hehehe....sombong dikit. 

Over all, penerbangan dari Jakarta menuju Lombok menggunakan Garuda Indonesia GA430 cukup memuaskan bagi saya. Disamping akhir-akhir ini ada kabar yang kurang baik buat Garuda sendiri, dimana belum lama ini terungkap ditemukannya Harley Davidson dan Motor Brompton di dalam pesawat baru Garuda. Belum selesai masalah satu, timbul masalah berikutnya. Salah satu penumpang bersama istri dan anaknya ditahan oleh kapten Garuda sendiri karena diduga menghina Garuda dalam penerbangan Jakarta - Denpasar, Bali. Pasti kalian sudah pada tau beritanya di media sosial. Bukan berarti saya membahas lagi masalah ini, tapi buat saya biarkan masalah ini ditangani oleh pihak berwajib dan berwenang. 

Apapun itu buat saya, Garuda Indonesia masih menjadi maskapai favorit semua masyarakat Indonesia. Dari segi keamanan dan servise menurut saya Garuda Indonesia masih menjaga konsistensinya. Sukses terus buat Garuda Indonesia ! Terbanglah sampai ujung dunia !.

Setelah dua jam berlalu, pesawat kami bersiap-siap untuk landing. Cuaca di sekitar Bandara Internasional Lombok (BIL) saat itu cukup mendung dan hujan ringan. Tapi gak ada masalah. Sempat berputar-putar di langit Lombok Tengah. Terbang di bawah Pantai Kuta Mandalika, Tanjung Aan, Pantai Gerupuk, Taman Wisata Alam Gunung Tunak. Sunggu indah destinasi wisata alam Pulau Lombok bila dilihat dari atas. Kece buat Lombok. 

Landing mulus, perasaan semakin bahagia karena gak lama lagi berjumpa dengan istri dan keluarga di rumah. Terimakasi buat Garuda Indonesia sudah mempertemukan kami semua dengan keluarga dan orang tercinta lagi.

Penulis : Lazwardy Perdana Putra


Friday, 3 January 2020

Menginap di Hotel Kapsul Enak Gak Sih ? : Nomad Hostel Kemang


Diawal cerita ini saya menyampaikan turut berduka cita atas musibah banjir dan tanah longsor yang dialami oleh saudara kita yang berada di daerah yang terkena bencana.

Ditengah euforia jutaan orang merayakan malam pergantian tahun, kita gak menyangka keesokan paginya bencana yang gak kita inginkan pun terjadi.

Jakarta banjir lagi, eh gak hanya Jakarta saja tapi judulnya Jabodetabek dilanda banjir. Parah memang, tapi kita mau bilang apa. Sejak sore hingga detik-detik menuju tahun 2020, hujan terus mengguyur Pulau Lombok. Buka-buka berita ternyata hampir seluruh wilayah di Indonesia turun hujan lebat.

Saya pun awalnya senang hujan turun di malam pergantian tahun, syahdu banget. Tapi keesokan paginya mendengar berita banjir melanda Jabodetabek. Hati ini menjadi sedih melihat wajah-wajah yang sebagian besar anak-anak dan lansia berjuang menyelamatkan diri di tengah dinginnya malam. Banjir yang terparah menurut saya. Mungkin kalian sependapat ?. Banyak yang menjadi korban, dari anak-anak hingga lansia. Syukurnya gak ada kabar korban yang meninggal dunia.

Banyak yang mengungsi, bahkan yang paling memilukan beberapa diantara korban sudah dua hari belum mendapat bantuan dan terjebak di rumah mereka sendiri. Banyak diantara mereka yang kebingungan mau mengungsi kemana. Sanak saudara gak ada, bahkan sama-sama menjadi korban banjir juga. Posko-posko pengungsian sudah dibangun tapi gak bisa memberikan harapan besar. Mereka harus merelakan rumah, mobil, motor bahkan kehilangan hewan ternak. Meskipun gak menjadi korban banjir, tapi saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan.

Beberapa hari setelah banjir terjadi, saya melihat banyak korban yang mengungsi ke beberapa hotel yang aman dari banjir. Untuk itu, kebetulan saya mempunyai referensi salah satu hotel yang menurut saya bisa menjadi pilihan teman-teman yang menjadi korban banjir. Selain nyaman, harganya pun terjangkau alias sangat murah dibanding hotel-hotel lainnya. Yuuk disimak !!!

***

Jakarta, kota kedua saya merasakan sensasi menginap di hotel kapsul. Kalau ditanya,"hotel mana yang gak boleh ngomong keras-keras?". Jawabannya, menginap di hotel kapsul.

Apa itu hotel kapsul?. Bentuknya kayak kapsul gitu?. Terus dimasukkin ke dalam mulut langsung ditelen?. Itu mah kapsul obat bu. Saya pernah menulis tentang hotel kapsul yang ada di kawasan legian, Bali saat honeymoon bareng istri tercinta. Kesan pertama kali menginap, sangat menyenangkan. Apa kalian sudah membacanya ?.

Hotel Kapsul hanya istilah saja buat menyebutkan hotel-hotel unik yang sengaja tercipta karena kehadiran para backpacker di seluruh dunia. Pertama kalinya Jepang yang memperkenalkan istilah hotel kapsul ini. Setelah itu beberapa negara termasuk Indonesia tertarik untuk membuat hotel kapsul dengan konsep uniknya.

Penampakan hotel kapsul berbeda seperti hotel pada umumnya yang memiliki kamar, dimana di dalamnya ada tempat tidur, ac, kamar mandi, toilet, meja kerja, sofa, tv led, jendela biar bisa melihat putri duyung berenang di kolam renang.

Sedangkan Hotel kapsul lebih sederhana lagi. Terdiri dari beberapa pods/kabin yang dipasang bersusun seperti ranjang susun. Kemudian di dalamnya ada kasur, bantal, meja lipat, lampu belajar dan diberi tirai untuk menjaga privasi kita. Ada laci juga buat menyimpan barang bawaan.

Biasanya yang menjadi pertimbangan saya memilih hotel kapsul karena bisa ngirit dan bentuk hotel kapsul yang ada di Indonesia saat ini unik-unik dan instagramable banget. Jangan diragukan soal keamanan dan kenyamanan. Selama pengalaman saya menginap di hotel kapsul, sejauh ini sangat nyaman dan asyik. Bisa dapat temen baru dan pengalaman baru pasti.








Hotel kapsul yang saya coba kali ini bernama Nomad Hostel. Hotel ini berlokasi di daerah Kemang, Jakarta Selatan yang mulai beroperasi sejak awal Juli 2018 lalu. Alasan utama kenapa memilih Nomad Hostel karena tempatnya kece, instagramable, harga yang murah dan lokasinya yang strategis. Dekat dengan shelter transjakarta dan stasiun MRT (St.Haji Nawi) itu yang penting.

Denger-denger juga, Nomad Hostel menjadi akomodasi berbiaya paling murah dari perusahaan Archipelago International Group yang merupakan perusahaan penginapan yang membawahi Fave Hotel, Neo Hotel dan Aston Hotel.

Pertama kali mengenal Nomad Hostel dari aplikasi tiket online (tiket.com). Langsung saja saya memesan satu pods untuk menginap semalam saja karena keesokan harinya harus berpindah hotel untuk menjalankan tugas negara. Ada jatah satu hari untuk bersantai-santai sambil mengexplore ibukota dan bermalamnya di Nomad Hostel.

Dari lokasinya saja gak susah mencarinya. Berangkat dari daerah Tebet, saya menggunakan ojek online menuju Nomad Hostel yang berada di daerah Kemang. Kurang lebih memakan waktu lima belas menit saja melewati daerah Pancoran. Syukurnya gak terkena macet karena kebetulan di hari biasa.

Di dalam mobil ojek online, saya pun penasaran ingin melihat lokasi hotelnya lewat google maps. Ternyata keterangan lokasi hotel ini cukup detail. Salut sama google maps. Sesekali pak supir mengajak saya ngobrol juga sepanjang perjalanan. Bapaknya nanya kenapa menginap di daerah Kemang ?.

Saya yang bukan orang Jakarta, sempat heran. Ternyata bapaknya menceritakan bahwa tempat elit dan surganya hiburan malam di Jakarta, Kemanglah tempatnya. Waaaww, saya saja baru tau kalau Kemang terkenal dengan hiburan malam dan daerah elit ibukota.

Ngobrol ngalor ngidul bareng pak supir, gak terasa kita sudah memasuki jalanan kecil, hampir mirip seperti gang gitu. Lirik kanan kiri, memang bener ini daerah elit dan banyak cafe sepanjang jalan. Kita sudah memasuki daerah Kemang. Buka google maps, kurang lebih lima ratus meter lagi kita sampai di lokasi tujuan.

Sampai juga !!!

Dari penampilan luar, bangunan hotelnya cukup instagramable, elit, kece dan bener kata pak supir tadi. Setelah turun dari mobil, saya langsung masuk ke dalam hotelnya. Bertemu dengan karyawan di meja resepsonis. Karyawannya cukup ramah kepada saya. Proses check in punya berlangsung. Saya mendapatkan satu buah kartu yang bertuliskan kode pintu.

Untuk lokasi kamarnya, Nomad Hostel terdiri dari tiga lantai yang dihubungkan dengan lift. Dimana lantai satu dan tiga untuk kamar cowok, sedangkan lantai dua untuk cewek. Berhubung sedang ada renovasi di lantai satu dan tiga, untuk yang cowok dapat jatah di salah satu kamar di lantai dua. Jadi di satu lantai kurang lebih ada empat kamar, dimana dalam satu kamar ada sekitar 12 sampai 20 pods / tempat tidur.

Setelah proses check in selesai, gak langsung menuju pods di lantai dua. Saya bersantai-santai dulu di sharing roomnya. Disini ada cafenya lhoo. Kalau gak salah namanya Coliving Cafe. Bukanya dari jam sepuluh pagi sampai tengah malam. Penampilan cafenya pasti kecelah. Mengangkat konsep industrial, instagramable karena banyak mural-mural disini.

Di belakang cafe ada tempat santai outdoor gitu dan kolam renang portable. Yang menjadi perhatian saya yaitu bentuk kolam renangnya. Gak seperti kolam renang pada umumnya, kolam renang Nomad Hostel seperti ember raksasa yang terbuat dari kain parasut. Tapi sayang, saya gak menyempatkan berenang karena lagi kurang enak badan. Sejauh ini cukup oke menurut saya. Gak sabar kalau malam seperti apa suasana di dalam cafenya. Katanya ada live musiknya segala.




Mengangkat tema spent less explore more, adanya Nomad Hostel ini memang diperuntukkan untuk para backpacker atau kalian yang hanya numpang tidur saja setelah seharian jalan-jalan.

Masuk ke dalam kamar dengan cara menekan sebuah kode rahasia. Kecenya setiap penghuni kamar, punya kode yang berbeda-beda. Untungnya saya mendapat kode yang gak terlalu sulit dihafal. Setelah kode berhasil dan pintu kamar terbuka. Suasana di dalam kamar sangat adem. Dingin banget dan buat kita ngantuk.

Saya dapat pods nomor 2010 dan letaknya di bawah. Enakan di bawah, jadi gak mengganggu penghuni pods di bawah kita. Suasana cukup hening padahal di dalam kamar, tamu full. Saya sempat berkenalan dengan tetangga sebelah pas saat beres-beres. Inilah asyiknya menginap di hotel kapsul. Kita dapat saling berkenalan dan sharing tanpa mengurangi rasa kenyamanan saat beristirahat. Bagi yang phobia dengan ruang sempit, gak saya sarankan mencoba hotel ini.

Untuk reviewnya, podsnya terbuat dari kayu dengan model tempat tidur susun dua. Setiap podsnya dilengkapi dengan lampu tidur, stop kontak, lemari penyimpanan, dan tirai. Adanya tirai, kita tetap bisa mendapat privasi meski harus berbagi kamar dengan orang lain. Tapi jangan sampai berbagi hati dengan orang lain yaak !!!

Kamar mandinya juga mengangkat tema sharing bathroom. Gak hanya kamar saja yang berkonsep sharing, tapi kamar mandi dan toilet pun mengangkat tema seperti itu. Terdiri dari banyak bilik dan wastafel. Jadi buat kalian yang sudah kebelet, gak perlu khawatir. Mandi pun gak perlu lama mengantri.




Gak hanya menghabiskan waktu di kamar saja, pada malam hari kita bisa turun ke ruang lobi yang instagramable. Masih satu ruang dengan ruang lobi, di cafenya juga asyik buat nongkrong. Kebetulan malam itu ada live music. Saya yang seorang diri, memilih untuk mojok sambil kencan bareng si lepi, hahahaha.

Suasana semakin malam semakin ramai. Gak hanya tamu hotel saja, tapi pengunjung lainnya juga banyak memilih cafe ini untuk menghabiskan waktu bersama. Pemilihan lagu-lagunya juga update banget. Saya pun merequest sebuah lagu cinta milik Andmesh yang berjudul "Cinta Luar Biasa". Lagu ini saya persembahkan buat istri tercinta di rumah yang sedang hamil tua. I miss u sayang 

Semakin malam suasana semakin asyik saja. Sambil menikmati live music, satu tulisan di lepi akhirnya selesai juga. Setelah beberapa jam nongkrong, saya memutuskan untuk mencari makan malam dulu. Buka aplikasi gofood, ternyata ada tempat makan yang enak nih. Karena lagi males makan makanan cafe, saya akhirnya pergi nyari nasi goreng.

Selamat makan !!!




Keesokan paginya, saya memutuskan untuk jalan-jalan ke Bundaran HI naik MRT. Cerita jalan-jalan bareng MRT ada di tulisan sebelumnya, bisa dicek sendiri ya.

Sebelum jalan, saya dapat jatah sarapan gratis dari hotel. Disini sarapannya gak begitu surprise menurut saya. Biasa saja, sarapan ala-ala backpacker gitu. Saya dikasi Rice Bowl pake ayam. Rasanya lumayan enak dan lumayan ganjel perut. Untuk minuman, kita hanya disediakan air putih yang bisa kita ambil di dispenser. Ini baru bener-bener sarapan ala-ala backpacker.

Sarapan dimulai jam tujuh pagi, tapi saya sudah standby setengah jam sebelumnya karena gak mau berangkat kesiangan. Ohya, saat duduk santai sambil makan, saya melihat banyak motor warna kuning. Setelah saya tanya, itu motor ternyata disewakan. Satu harinya 50 ribu pakai sepuasnya. Pengen nyoba sih tapi masih banyak agenda hari itu. Next time saja...

Oke, itu dia cerita singkat pengalaman saya menginap di Nomad Hostel. Bagi kalian yang punya rezeki, bisa ajak keluarga, teman dekat dan sanak saudara menginap disini.

Kalau ditanya kekurangan menginap disini hanya satu, kita gak disediakan handuk gratis. Jadi kalau minta, satu handuk dikenakan tarif sewa 10 ribu saja. Mungkin kedepannya bisa menyediakan handuk gratis bagi tamu yang menginap.

Untuk sarannya, semoga ada peningkatan pelayanan kedepannya. Kamar ditambah, fasiltas juga ditambah dan harganya jangan dinaikkan, hahahaha.



Penulis : Lazwardy Perdana Putra