Friday, 12 June 2026

Nyobain Nasi Tempong Indra, Legian : Pedas Poolll !!!



Kalau lagi cari kuliner khas Banyuwangi di Bali yang rasanya nampol, satu tempat yang wajib dicoba adalah Nasi Tempong Indra. Tempat makan ini sudah cukup terkenal di Bali, terutama buat pecinta sambal pedas yang bikin keringetan tapi tetap gak bisa berhenti makan.

Buat kebanyakan orang kalau liburan ke Bali, nyari menu kuliner yang aksesnya mudah dan terletak di tengah kota yaitu Nasi Tempong Indra. Penasaran kenapa rumah makan ini ramai dikunjungi, Yuuk kita ulik  !. 

By the wea, siang yang sangat terik di Kota Denpasar, saya menyempatkan diri buat nyari oleh-oleh. Kebetulan ada yang nitip Sambel Tempong Indra. Lokasinya gak jauh dari hotel tempat saya menginap. 

Setelah selesai acara dan check out dari hotel, saya lanjut nyari tempat kulineran yang ada di Bali sebelum menuju ke Padangbai buat balik ke Lombok. Salah satu tempat yang menjadi tujuan yaitu Nasi Tempong Indra yang berada di Jalan Dewi Sri no. 788, Legian, Kuta, Kab. Badung, Bali.

Kalau gak salah ada lima cabang yang ada di Bali. Yaitu di daerah Renon, Denpasar Barat, Tuban, Bedugul dan di Legian sendiri.  Awalnya rencana ke cabang yang di Tuban tapi berhubung ngikutin google maps yang lebih condong ke Legian, jadinya kesini saja. Sama saja menurut saya. 

Ada yang menjadi perhatian saya dari Nasi Tempong Indra. Dari beberapa informasi yang pernah saya baca, penamaan Indra berasal dari nama Ibu Indra si pemilik rumah makan. Mulai buka bisnis kuliner di tahun 2006.

Sebelumnya Ibu Indra juga sebagai pemilik beberapa apotek yang ada di Bali. Beliau juga mengembangkan bisnis di dunia travel. Akan tetapi bisnis travelnya mengalami kerugian dan bangkrut karena kena tipu. 

Bangkit dari keterpurukan, akhirnya Ibu Indra membuka rumah makan Nasi Tempong Indra karena beliau suka sekali dengan nasi tempong masakan khas Banyuwangi, Jawa Timur. 

Bisnis kulinernya gak hanya dikenal oleh tourist domestik saja tapi tourist mancanegaranya juga karena cita rasanya yang lezat dan sambel tempongnya yang bikin nagih. 




Siang itu arus lalu lintas di daerah Seminyak dan jalan utama Legian padat sekali. Apalagi bertepatan dengan long weekends, jadinya benar-benar harus bersabar. Capeknya itu bukan di macetnya tapi karena panasnya Legian siang itu. 

Setibanya di lokasi, saya melihat parkiran kendaraan cukup ramai. Benar saja, setelah memarkirkan motor dan masuk ke dalam rumah makannya, wowww ramai banget guys. Gila ini benar-benar ramai dan pas banget sampai di lokasi pas jam makan siang.

Di depan rumah makannya, terdapat beberapa gambar menu yang menarik buat dicoba. Salah satu yang pengen saya coba yaitu Nasi Ati Ampela  karena suka makan ati (bukan hati) lhoo ya, hehehe. 

Berjalan masuk ke dalam, terlihat ratusan pengunjung sudah memadati tempat duduk. Nyaris tempat duduknya penuh semua. Untungnya di bagian depan, ada meja dan bangku dari kayu yang masih kosong. Berhubung saya sendirian, saya diarahkan menempati meja yang ukurannya gak terlalu panjang. 

Penampakan tempat makannya cukup sederhana. Bangunan berbentuk joglo khas rumah adat Jawa Timur. Tiang-tiang kayu jati kokok berdiri. Meja dan bangku juga semuanya kayu jati yang sudah diplamir. 

Lampu-lampu bercahaya kuning menghiasi dalam bangunan. Terlihat gak hanya pengunjung domestik saja yang makan disini, dari mancanegara pun ramai datang kesini siang itu. Untuk ukuran rumah makannya cukup luas dan nyaman. 

Saya sempat melihat salah satu artis bersama rombongan juga makan siang disini di waktu yang sama. Tapi saya lupa namanya siapa karena saya paling ingat kalau wajah saja hahaha. Kebanyakan yang datang makan siang kesini rata-rata rombongan atau berdua sama gebetan. Seperti di sebelah saya, datangnya berdua. Entah temen kerja, gebetan, suami istri atau tiiittt (sensor). Untuk itu saya hati-hati mengambil foto. Takut kena pelanggaran undang-undang ITE, hehehe. 




Salah satu karyawan rumah makan menghampiri saya membawa selembar daftar menu. Saya memesan Nasi Ati Ampela Sambel Tempong satu porsi dan dua gelas Es Teh karena haus banget. Butuh yang dingin dan manis untuk memulihkan tenaga kembali. 

Pelayanannya cukup baik dan cepat. Gak menunggu waktu lama, pesanan saya sudah datang. Sepiring Nasi Tempong Ati Ampela seharga 36 ribu dan Es Teh Manis seharga 15 ribu. Untuk porsinya kalian bisa lihat sendiri di foto, banyak sekali isi di atas piringnya. 

Ada nasi putih, ati ampela, tahu tempe goreng, terong goreng, potongan timun, bayam, potongan labu yang direbus, ikan asin dan sambel tempong khas Nasi Tempong Indra yang super duper pedas. 

Sambelnya gurih, manis, sedikit asem segar dari jeruk nipis dan pedas. Tapi ini pedasnya keterlaluan. Sampai saya nambah satu porsi nasi putih lagi. Enak banget dan meningkatkan nafsu makan. Apalagi waktunya makan siang. 

Ukuran ati ampelanya cukup besar. Gurih, empuk dan gak terasa pahit. Tahu tempe gorengnya gak banyak minyak. Labu rebusnya juga enak. Ditambah sayur bayam dan timun yang segar. 



Benar kata teman-teman yang sudah datang kesini. Sambel Tempong Indra emang juaranya. Karena sambelnya enak, saya membeli sambel tempong buat dibawa pulang ke rumah. 

Kebetulan juga teman ada yang pesan, jadinya saya beli tiga botol sambel tempong seharga 103 ribu per botolnya. Untuk stok sambel tempongnya cukup tersedia. Jadinya gak khawatir kehabisan. Kalian juga bisa bawa sebagai oleh-oleh orang rumah dan teman kantor. 

Ohya, jangan khawatir buat teman-teman muslim, disini makanannya sudah dipastikan halal. Menjadi pilihan buat kalian yang datang berlibur atau ada bisnis di Bali, bisa mampir makan di Nasi Tempong Indra. Buka dari jam sembilan pagi hingga jam sebelas malam. 

Sekarang ini Nasi Tempong Indra gak hanya ada di Bali saja, tapi ada di Jakarta dan Medan juga. Selain menu Ati Ampela, masih banyak juga menu lainnya dengan harga yang berbeda. Ada Nasi Tempong Ayam, Bebek, Cumi, Udang, Lele, Empal dan Nasi Tempong biasa tanpa lauk. 

Jadi kalau liburan ke Bali, bisa mampir di Nasi Tempong Indra!. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Thursday, 4 June 2026

Ngopi Santai bersama Air Terjun Campuhan : River Flow Cafe


Kalau lagi cari tempat di Bali yang suasananya lebih adem, jauh dari hiruk pikuk keramaian Kuta dan jalanan Kota Denpasar yang macet, saya menemukan salah satu spot yang cocok buat menghabiskan waktu seharian yaitu Air Terjun Campuhan. 


Lokasinya berada gak jauh dari Danau Ulun Danu Beratan, Bedugul. Waktu tempuh sekitar dua jam perjalanan dari kawasan Seminyak dan Legian menggunakan kendaraan pribadi. 


Bisa baca disini : Menginap Rasa camping di Taman Danu Glamping Bedugul


Tempat ini memiliki nuansa yang sederhana tapi justru itu daya tariknya. Suara aliran sungai, kicauan burung, pepohonan hijau, dan suasana yang bikin pengen duduk lama tanpa diburu oleh waktu. 


Berawal dari iseng-iseng buka instagram. Lalu secara kebetulan muncul di beranda reel salah satu kedai kopi dengan view cantik dari air terjun. Nama kedai kopinya River Flow Cafe. Pas melihat titik lokasinya yang aksesnya gak terlalu susah, kok jadi tertarik buat kesana. 






Perjalanan siang itu dimulai dari Grand Mercure Hotel Seminyak Bali. Setelah check out dari hotel, saatnya mulai mengexplore Bali. Kalau pulang langsung ke Lombok, rasanya sayang banget sudah jauh-jauh motoran ke Bali hanya untuk menghadiri acara dan stay di hotel saja. 

Sebelum pulang ke rumah, saya sudah punya rencana buat ridding tipis dulu. Kebetulan juga motoran sendirian, jadi bebas mau kemana saja. 

Setelah makan siang di salah satu tempat makan yang cukup ramai di kawasan Badung, saya melanjutkan perjalanan ke arah utara. Kondisi lalu lintas dari Badung ke arah Denpasar cukup padat merayap. Apalagi lagi long weekend jadinya harap bersabar.

Google maps saya aktifkan untuk membantu perjalanan agar gak tersesat. Sudah sering motoran ke Bali tapi masih gak hafal jalan. Tau sendiri kondisi jalan di Bali itu penuh dengan percabangan, tapi disitulah keunikan Bali. 

Kurang lebih setengah jam perjalanan, akhirnya saya keluar dari Kota Denpasar, menuju arah Mengwi. Dari pertigaan Mengwi, mengambil arah jalan lintas provinsi yaitu destinasi wisata alam Ulun Danu Beratan, Bedugul dan Kab. Singaraja. 

Langit Bali siang itu yang awalnya cerah jadi agak mendung. Pertanda di bagian utara akan turun hujan. Dari arah Mengwi ke Bedugul gak terlalu padat kendaraan. Jadinya saya bisa menggeber motor agak kencang agar cepat sampai. 

Terlihat kendaraan yang dari arah berlawanan sudah basah. Wah, agak cemas karena pastinya akan kedapatan hujan juga. Sesampainya di pertigaan jalanan kecil menuju cafenya, kondisi sudah gerimis. 

Dari jalan utama, saya berbelok ke arah jalan kecil memasuki perkampungan warga desa. Nama kampungnya yaitu Banjar Kerobokan, Mekarsari, Kec. Baturiti, Tabanan. Kondisi jalanan disini cukup baik. Aspal mulus penampakan perkampungan disini juga bersih dan tertata rapi khas kampung Bali. 

Selain Air Terjun Campuhan yang akan dituju, gak jauh dari perkampungan ini juga terdapat destinasi wisata alam bernama Air Terjun Leke-Leke. Dari pertigaan menuju Air Terjun Leke-Leke, kita berbelok ke kiri menuju arah River Flow Cafe. 

Keluar dari perkampungan, kita bertemu dengan jalanan berkelok-kelok dan sedikit menanjak. Kiri-kanan terlihat area perkebunan warga. Pepohonan rindang dengan perbukitan hijau yang sudah tertutup kabur. Hawa dingin sudah terasa. Udara sejuk khas perbukitan membuat hati dan pikiran menjadi syahdu. Rasanya sudah berada jauh dari keramaian. 

Kurang lebih menempuh dua jam perjalanan, saya sudah sampai di area parkir pintu masuk menuju Air Terjun Campuhan dan River Flow Cafe. Suasana benar-benar hening dan gak banyak orang yang saya temui. Hanya beberapa motor saja yang terparkir. 

Area parkir kendaraan cukup luas. Setelah memarkirkan motor, saya membawa barang secukupnya saja. Sisanya saya taruh di dalam jok motor. 











Untuk masuk ke area air terjun, kita membeli tiket masuk di loket  sebesar 10 ribu saja. Itu sudah bebas mengexplore air terjun dan cafenya. Tapi untuk pembelian makanan dan minuman di cafenya, tetap bayar lagi sesuai menu yang dipesan. 

Dari loket, kita harus berjalan kaki menyusuri jalanan setapak. Terdapat gapura masuk ke dalam. Kurang lebih lima puluh meter lagi, kita bakalan sampai di lokasi. 

Terlihat taman kecil penuh dengan rerumputan hijau. Bangunan tua yang gak berpenghuni. Agak horor auranya pas melewati bangunan tersebut. Demi cafe estetik dengan view air terjunnya, rasa takut agak berkurang. Mana sendirian lagi, gak terlihat tanda-tanda akan berpapasan dengan pengunjung lainnya. Apa salah waktu datang kesini ?,pikir saya saat itu. 

Sore itu hujan sudah mulai turun. Saya percepat langkah biar gak basah kuyup. Gak enaknya saat itu kaki agak sakit karena kelamaan pakai sepatu. Agak sedikit bengkak di area ibu jari dan sakit sekali. Untungnya masih kuat berjalan. 

Suara air yang cukup deras sudah terdengar samar-samar. Tandanya sebentar lagi kita akan sampai. Dari kejauhan sudah terlihat cafenya. Sebelum sampai, saya harus menyeberangi sungai kecil melalui jembatan kayu. Kalau cuaca cerah bakalan bagus buat spot foto. 

Setelah melewati jembatan kayu, akhirnya sampai juga di River Flow Cafe. Tepat di depannya Air Terjun Campuhan. Dipisahkan oleh sungai kecil dengan air yang cukup jernih. Ini namanya sekali mendayung dua tiga pulau terlewati. 

Suasana hening sekali. Hanya ada saya dan tiga orang pengunjung. Itupun mereka satu rombongan keluarga. Kebetulan ini masih hari biasa dan waktu juga sudah menuju sore hari. Sekitar jam empat sore saya baru sampai sini. 

Penampakan cafenya saya suka. Terdapat beberapa tempat duduk dari semen beton. Bangku-bangku besi juga tertata rapi. Bangunannya dibuat konsep outdoor dan bertingkat. Hanya terdapat bangunan outlet berbentuk kotak bercat putih untuk tempat memesan minuman. 

Di tingkat paling atas terdapat tempat duduk beratapkan kanopi. Syukurnya masih ada sisa tempat duduk disana. Jadinya bisa terlindung dari hujan yang turun sore itu. 



Berlokasi di kawasan Air Terjun Campuhan, River Flow menawarkan konsep yang sederhana tapi justru menjadi daya tarik tersendiri. Begitu sampai, yang langsung terasa bukan aroma kopi duluan, tapi suara aliran air dan suasana alam yang bikin waktu terasa melambat.

Area duduknya dibuat menyatu dengan lingkungan sekitar. Tidak terasa berlebihan atau terlalu ramai dekorasi. Bahkan memiliki nuansa terbuka dengan pemandangan hijau di sekelilingnya yang membuat tempat ini nyaman untuk bersantai menghabiskan waktu seharian. 

Karena kesini tujuannya ingin ngopi santai sambil menikmati air terjun, saya memesan Coffee Late hangat dengan harga 22 ribu. Ditambah lagi dengan hujan turun dengan derasnya, rasanya syahdu sekali. Rasa ragu dan lelah motoran di tengah keramaian Kota Denpasar hilang begitu saja. 

Benar-benar menenangkan. Jauh dari sinyal internet dan benar-benar rasanya menyatu dengan alam. Langit semakin gelap, hujanpun turun semakin deras. Saya mencoba tetap menikmati sisa moment-moment yang ada meskipun sempat khawatir juga kalau hujan gak reda sampai malam, bakalan kemaleman sampai Padangbai.



View dari cafe ini gak ada obatnya. Mungkin ini satu-satunya cafe dengan konsep menyatu dengan alam yaitu Air Terjun Campuhan dengan kolam alami tempat bermain air. 

Menikmati aliran sungai dengan air jernih, mengalir dengan deras di sela-sela bebatuan. Kolam alami yang berukuran gak terlalu lebar. Air terjun yang begitu deras, suara kicauan burung dan hujan membuat suasana begitu menenangkan dan syahdu. 

Gak nyesel datang kesini meskipun berjumpa dengan hujan dan kaki kurang bersahabat. Benar-benar pengalaman yang sangat seru. Lain waktu kalau motoran ke Bali lagi, bakalan datang kesini lagi bareng anak-anak dan istri. 

Dengan tiket masuk 10 ribu ditambah pesan Coffee Late 22 ribu jadi total 32 ribu sudah bisa menikmati alam Air Terjun Campuhan sambil duduk santai di River Flow Cafe. 

Selain Caffe Latte, masih banyak minuman lainnya baik panas maupun dingin. Menu berat sampai snack juga ada buat menikmati minum kopi. Harganya pun ramah di kantong. 

Over all, tempatnya bersih dan tertata rapi. Beberapa titik ada tempat sampah. Toilet juga bersih. Aman dan nyaman bagi pengunjung. Agak sedikit horor sih kalau baliknya kemalaman karena lokasinya benar-benar di dalam hutan dan di lereng perbukitan. 

Untuk Air Terjunnya buka dari jam tujuh pagi sampai lima sore. Sedangkan untuk River Flow Cafenya buka dari jam tujuh pagi hingga sepuluh malam.  Berani juga ya karyawan cafenya stay disini hingga malam hari. Hehehe. 

Waktu sudah menunjukkan jam lima sore. Jadwal kapal balik ke Lombok saya ambil yang jam depalan malam. Ada waktu dua jam  perjalanan menuju Pelabuhan Padangbai. Beruntungnya, hujan juga sudah mulai reda. 

Bisa dibilang beruntung bisa kesini di waktu yang gak ramai pengunjung. Biasanya di waktu libur kerja dan anak sekolah, cafe ini selalu ramai dikunjungi. Yuuk, kapan lagi kesini kalau kalian datang berlibur ke Bali. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Thursday, 28 May 2026

Menginap di Grand Mercure Hotel Seminyak, Bali : Ramai Bulenya !

 


Bali selalu punya cara untuk membuat siapa saja ingin kembali. Mulai dari pantai yang indah, sunset yang menenangkan, sampai pilihan hotel yang menawarkan pengalaman menginap berkelas. Salah satu hotel yang menarik perhatian di kawasan Seminyak adalah Grand Mercure Seminyak Bali

Hotel ini cocok untuk bagi kalian jiwa traveler yang ingin menikmati suasana Bali dengan sentuhan modern, nyaman, dan tetap dekat dengan berbagai destinasi favorit. Saya punya cerita menginap di hotel ini di bulan lalu. 

Gimana asyiknya menginap di salah satu hotel bintang lima di kawasan Seminyak yang terkenal dengan suasana pantai dan tourist mancanegaranya, yuuk kita jalan-jalan bareng!. 




Lokasi hotel ini di Jalan Arjuna no. 40, Seminyak. Kurang lebih waktu tempuh hanya sepuluh menit dari bandara dan pusat Kota Denpasar. 

Terletak di kawasan Seminyak, Kuta, hotel ini punya lokasi yang sangat strategis. Hanya beberapa menit menuju Pantai Double Six dan berbagai beach club terkenal di Seminyak. Selain itu, akses menuju area kuliner, cafe, dan pusat hiburan malam juga sangat mudah.

Bagi wisatawan yang ingin menikmati Bali tanpa harus sering terjebak perjalanan jauh, lokasi hotel ini menjadi nilai tambah tersendiri. Cocok untuk staycation, honeymoon, maupun perjalanan bisnis.

Pas tau bakalan menginap disini saat melaksanakan tugas dinas menghadiri pertemuan pameran dan business matching yang diadakan oleh Kementerian Kesehatan RI, saya pun dibuat tersenyum sumringah. Ini pertama kalinya saya menginap di hotel bintang lima dengan view pantai. Katrok juga ya anak kampung seperti saya bisa menginap di hotel mewah!. 

Biasanya kalau ke Bali bareng keluarga, staycationnya di hotel-hotel low budget seperti hotel kapsul atau glamping. Penasaran juga gimana rasanya kasur empuk hotel bintang lima ini. Rasanya jadi orang kaya dua hari. Hahaha. 




Saat pertama masuk lobby hotel, suasana modern langsung terasa. Interiornya memadukan nuansa kontemporer dengan sentuhan khas Bali yang hangat. Area lobby terlihat luas, bersih, dan memberikan kesan premium tanpa terasa berlebihan.

Pelayanan staff juga ramah dan responsif. Proses check in terasa cepat sehingga tamu bisa langsung menikmati fasilitas hotel tanpa menunggu lama.

Terlihat siang ini banyak tourist dari berbagai negara menginap disini. Apalagi hotel ini berada di jantungnya keramaian di Kuta, Bali. Siapa yang gak pernah ke kawasan Seminyak kalau liburan ke Bali. Bisa dibilang hukumnya wajib kesini.

Uniknya hotel ini berada di jalanan sempit kawasan Seminyak. Bisa dibilang tiap hari sudah langganan macet. Masih ingat bila menjelang pergantian tahun. Kawasan ini sudah pasti macet. Gak jauh dari hotel ini banyak toko-toko suvenir, cafe, hotel lainnya dan tempat hiburan malam. Kalau mau nyari padatnya Bali, datang kesini deh!. 








Saat awal sampai di hotel ini, saya sudah gak sabaran untuk menuju ke kamarnya, merasakan kasur empuk sambil nonton TV dan main hp. Wifinya cukup kenceng juga lhoo. 

Syukurnya panitia sudah menanggung semua akomodasi peserta dari transport, penginapan, konsumsi dan uang saku. Beruntung sekali lokasi acaranya di Seminyak. Berharap juga acaranya di daerah Nusa Dua sana, hahaha. Dikasi hati minta jantung nih namanya. 

Saya dan peserta lainnya, mendapat jatah menginap di kamar kelas superior roomnya. Tipenya yang twin bed, dimana saya gak sendirian di kamar tapi akan berbagi dengan peserta lainnya. Kebetulan saya sudah dapat teman satu kamar yaitu Mas Tyo. Bareng-bareng dari Kota Mataram biar asyik ngobrolnya. 

Kamar di Grand Mercure Bali Seminyak dirancang dengan konsep modern minimalis. Tempat tidur yang nyaman, pencahayaan hangat, serta desain interior yang elegan membuat suasana istirahat terasa lebih maksimal.

Saya kebetulan dapat kamar yang langsung menghadap ke jalan depan hotel. Ukuran kamarnya cukup luas. Ada beberapa fasilitas hotel pada umumnya antara lain; smart TV, wifi kencang, coffee and tea maker, bathroom modern, balkon dengan dua kursi malas dan meja kayu. 



Salah satu spot favorit di hotel ini adalah area kolam renangnya. Desainnya modern dengan suasana tropis khas Bali. Cocok untuk berenang santai di pagi atau sore hari sambil menikmati udara Seminyak.

Area poolside juga instagramable dan nyaman untuk bersantai. Tidak heran banyak tamu menghabiskan waktu cukup lama di area ini. Terutama saya yang gak sengaja setelah balik dari pantai Double Six, berkeliling sejenak di area poolsidenya. Suasana ramai dengan alunan musik latin. Vibesnya seperti di Hawai meskipun belum pernah kesana. 

Sayangnya saya gak bawa pakaian renang. Jadinya gak sempah nyobain renang di kolam renangnya. Disini ukuran kolam renangnya luas banget. Dikelilingi oleh taman dan resto hotel. Setelah ini saya akan mengajak kalian mereview suasana restonya. 





Nah sampai juga di bagian icip-icip menu yang dihidangkan di resto hotel ini. Kali ini saya dan tamu lainnya dapat jatah sarapan. Sebelum acara di hari kedua dimulai, saya dan peserta lainnya sarapan dulu di bagian restonya. 

Lokasi restonya berada di lantai satu, samping kolam renang dan lobby. Suasana tropis alam Bali cukup terasa. Kami disambut oleh para karyawan resto berpakaian Khas Bali baik wanita maupun laki-laki. Saat memasuki restonya, terdengar juga musik instrumen Bali yang cukup familiar di telinga yaitu karya Gus Teja. Salah satu seniman Bali yang terkenal dengan musik-musik instrumen tradisional Balinya. 

Para tamu yang menginap disambut oleh staf hotel dengan penuh senyum dan ramah. Gak pandang bulu baik tamu domestik maupun mancanegara mereka layani dengan baik. Gak segan mereka menjelaskan berbagai menu sarapan pagi itu. Salah satu staf hotel si mbak cantik menemani kami berkeliling menjelaskan apa saja menu yang dihidangkan. 

Sampai saya grogi dibuat. Bukannya fokus ke menunya, tapi gagal fokus lihat mbaknya yang cantik ala wanita khas Bali yang terkenal dengan kecantikannya, Asyiik (semoga istri gak baca bagian ini). 

Lanjut ke cerita  !. 

Hotel ini menyediakan pilihan menu sarapan yang cukup beragam, mulai dari makanan nusantara hingga western. Area restorannya juga nyaman dengan suasana yang santai. Cocok untuk memulai hari sebelum menjelajah destinasi wisata alam Bali. 

Dimanapun hotelnya, yang pastinya saya mencari menu sarapan ala nusantara dulu. Nasi goreng menjadi menu pilihan wajib. Saya mengambil nasi goreng dengan toping dua telur mata sapi yang dibuat langsung oleh chef-chef terbaik hotel ini. 

Ditambah masakan khas Bali pastinya yaitu Ayam Betutu. Jujur, saya baru pertama kali makan Ayam Betutu. Mirip seperti Ayam Opor atau Rendang. Tapi bumbu yang khas dari Ayam Betutu yaitu Base Genepnya. Aroma bumbunya yang nendang banget. Emang namanya bumbu masakan Bali itu juara dah. 






Selain itu ada beberapa menu lainnya yang gak bisa saya sebut satu per satu. Seperti daging lada hitam, ada kentang goreng, dan cemilan seperti donat, kue-kue enak lainnya. 

Sebagai penutup saya mengambil jus nanas yang seger banget. Beneran enak sekali jusnya. Gak banyak gula, manisnya alami dari buah nanasnya. Selain itu gak lupa upacara minum kopi. Saya pesan satu cangkir capucinno panas. 

Sarapan pagi yang berkualitas. Duduk santai,ngobrol bareng teman, sarapan sambil menikmati view kolam renang dari balik jendela. Banyak pilihan tempat duduk yang bisa kalian tempati. Ada sofa panjang di pinggir kaca jendela yang lebar. Ada juga tempat bersantai di pinggir kolam. 

Pelayanan resto di hotel ini juara dah. Emang tingkat sumber daya manusianya benar-benar nomor satu. Kalau mau belajar dan meningkatkan skill di dunia perhotelan, pasti pilihannya ke Bali. Penguasaan bahasa Inggris mereka juga luar biasa fasihnya. Belum lagi bahasa-bahasa asing lainnya. 

Over all, ini bukan saya ngendorse, bagi saya pribadi menginap di hotel ini sangat senang. Pelayanannya gak perlu kita ragukan lagi. Sayangnya kemarin kita para peserta check innya jam empat sore yang seharusnya susah bisa check in jam dua siang. Kurang lama sih menurut saya merasakan semua fasilitas dari hotel ini, hehehe. 

Buat kalian yang akan berlibur ke Bali bareng keluarga dengan budget lebih. Bisa mencoba menginap di Grand Mercure Seminyak. Hotel bintang lima yang berada di kawasan pantai Seminyak ini cukup rekommended. Akses ke hotel ini juga gak terlalu jauh dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. 

Dengan harga per kamar disini kisaran satu juta hingga dua juta rupiah (harga bisa berubah-ubah di aplikasi), kalian bisa menikmati semua fasilitas yang ada di hotel ini. Tunggu apa lagi  !. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra