Friday, 10 July 2026

Mengexplore Air Terjun Ai Kalela Jereweh : Gak Ada Obat

 


Perjalanan dari Lombok hingga menginjakkan kaki di Jereweh, salah satu kota kecamatan yang ada di Kab.Sumbawa Barat, tenaga masih lebih dari cukup karena sepanjang perjalanan kami merasa bahagia. Ditambah lagi anak-anak semakin semangat diajak melanjutkan perjalanan. Syukurnya kami semua dalam keadaan sehat dengan waktu istirahat yang lebih dari cukup. 

Setelah dari Pantai Balad, kami kembali ke penginapan untuk packing barang. Kebetulan siangnya kami langsung check out dan melanjutkan perjalanan ke lokasi berikutnya. 

Jaraknya kurang lebih dua puluh kilometer dari Kota Taliwang. Ini alasan kami punya rencana berkunjung kesini. Kebetulan juga sudah janjian bareng temen kuliah istri dulu yang rumahnya di Jereweh. 

Hari itu tepat Hari Jumat, kami check out sekitar jam sebelas siang. Target kami, sampainya di Jereweh sebelum shalat Jumat. Kemanapun kita jalan, jangan lupa melaksanakan kewajiban kepada Allah SWT agar perjalanan kita lancar dan selamat sampai balik ke rumah lagi. 

Estimasi kurang lebih lima belas menit motoran dari Taliwang ke Jereweh. Jalur yang kami lewati yaitu Desa Labuan Lalar yang merupakan desa tanah kelahiran nenek dan bapak saya sendiri. Kebetulan keluarga di Labuan Lalar sudah gak ada. Jadinya kami gak sempat mampir. 

Jalur yang kami lewati yaitu jalan yang berkelok-kelok. Melewati pinggir pantai dengan view yang sangat eksotis. View pantai di Sumbawa Barat ini gak kalah dengan Lombok punya. Melewati Desa Labuan Lalar, kurang lebih lima menit berjalan, kami sudah sampai di pertigaan kota kecamatan Jereweh. 





Kami menuju rumah temen istri yang bernama Mbak Afri. Rumahnya gak jauh dari jalan besar. Memasuki perkampungan warga khas Sumbawa dengan rumah-rumah panggung yang masih terjaga dan kita bisa lihat sampai sekarang. 

Sesampainya di depan rumah Mbak Afri, kami disambut dengan hangat. Anak-anak juga gak rewel bertamu ke rumah orang. Istirahat sebentar, saya lanjut menuju Masjid Besar Nurul Ihsan untuk melaksanakan shalat Jumat yang lokasinya gak jauh dari rumah mbaknya. 

Selesai Shalat Jumat, saya balik ke rumah mbaknya. Lanjut makan siang yang sudah dihidangkan oleh tuan rumah. Setelah makan siang, kami sudah janjian bakal mengexplore Air Terjun Ai Kalela. 

Waktu menunjukkan jam setengah dua siang. Kami langsung menuju air terjun yang jaraknya gak begitu jauh dari perkampungan warga. Berhubung ditemani oleh orang sini, jadinya kami merasa aman saja.

Ini kedua kalinya saya sendiri datang ke Ai Kalela. Sudah hampir delapan tahun lamanya sejak pertama kali kesini. Jadinya agak lupa jalur yang dilewati. Seingat saya, kita bakalan lewat jalur tanah di tengah sawah. Belum lagi ada sedikit tanjakan. Pokoknya bakalan seru perjalanan ini. 

Jarak lokasi air terjun dari rumahnya Mbak Afri itu kurang lebih dua kilometer. Keluar perkampungan warga, kami melewari jalur persawahan. Awalnya kondisi jalan aspal mulus, belok ke kiri mendadak kondisi jalan berubah menjadi berbatu dan berdebu.

Untungnya pakai motor Nmax yang ukurannya lebih besar dan ban motor yang terpenting. Tapi disini tantangannya dimulai. Kami harus melewati jalanan berbatu yang sempit. Memasuki kebun warga dan jalanan sempit mulai menanjak. Viewnya sebenarnya keren. Area persawahan yang dikelilingi oleh perbukitan hijau. 

Cuaca juga sangat mendukung. Tapi karena jalanan berdebu dan berbatu, fokus kami hanya gimana caranya keluar dari rintangan ini dengan selamat terutama ban motor gak ada masalah. Itu saja yang saya khawatirkan, semoga ban motor gak ada yang pecah karena beban kami yang cukup berat. Sementara Mbak Afri dan kedua anaknya, santai sekali melewati jalanan berdebu dan berbatu. Mungkin karena orang sini dan sudah biasa datang kesini kali ya.

Kurang lebih lima belas menit waktu yang ditempuh, sampai juga kami di pintu masuk Air Terjun Ai Kalela. Berhubung Hari Jumat dan datangnya siang hari, otomatis sepi pengunjung. Saya memarkirkan motor di area parkir yang sudah disediakan. Disini sudah ada penjaga parkirnya, jadi kendaraan kita sangat aman. 




Terlihat ada beberapa pengunjung yang datang lebih pagi dari kami. Mereka datangnya rombongan, keliatannya dari luar pulau. Selain kami ada warga lokal yang datang kesini buat mandi siang. Terlihat pakaian mereka basah kuyup. Kebanyakan emak-emak yang bawa bocil masing-masing. 

Gak hanya mereka saja, tapi kami membawa para bocil juga. Untungnya mereka aman-aman saja di atas motor. Bahkan di luar ekspektasi saya dan istri, mereka ketawa-ketawa saat motor bergetar karena menginjak batu-batu krikil. 

Setelah memarkirkan motor, kami berjalan kaki menyusuri hutan melewati jalanan tanah. Fasilitas umum disini ada kamar mandi dan toilet untuk berbilas. Hanya saja, kondisinya agak kurang terawat. Disini juga gak ada tiket masuk ke air terjun. Hanya kita bayar sukarela saja kepada bapak penjaga parkirnya. Kurang tau juga kalau weekends, mungkin ada petugas yang menarik uang tiket masuk ke lokasi air terjun.

Perjuangan menuju air terjun belum sampai di parkiran saja. Tapi kami harus menyusuri hutan dengan trek menanjak. Apalagi ini kali pertamanya anak-anak kami bawa ke alam liar. Gak kebayang jalur treknya seperti ini. Dulu sepertinya aman-aman saja. Apa saya sudah lupa ya kondisi treknya seperti ini. Andai masih ingat, mungkin mikir-mikir bawa anak-anak kesini. 

Sekitar seratus meter berjuang menyusuri hutan liar dengan jalanan setapak sempit. Suara air terjun sudah terdengar. Terdengar pula, suara anak-anak yang sedang mandi disini. Gak terasa, Air Terjun Ai Kalela sudah terlihat. Ujian terakhir yaitu menuruni jalanan tanah menuju bawah sungai. Gak semudah itu turun kebawah dalam keadaan bawa anak kecil. Fokus menjaga mereka agar aman sampai bawah. 

Welcome Air Terjun Ai Kalela !. 

Mengenal air terjun ini, banyak warga desa yang menamakan air terjun ini dengan sebutan yang berbeda-beda. Ada yang menyebutnya Air Terjun Ai Koa, Air Terjun Jantup dan nama yang tertulis di papan petunjuk, membuat kami kebingungan yaitu Air Terjun Semporon Tangkil. 

Saya pernah bertanya pada saat datang pertama kali kesini kepada salah satu warga, ternyata Semporon Tangkil adalah sebutan lain dari Air Terjun Ai Kalela dan nama Ai Kalela lebih dikenal oleh warga Jereweh maupun dari luar Jereweh. 






Meskipun saya sudah pernah datang kesini, tapi rasanya bahagia bisa berkunjung lagi ke salah satu air terjun terindah di Pulau Sumbawa. Kolam alami dengan air berwarna hijau toska. Bebatuan yang putih kecokelatan. Air terjun yang jatuh ke kolam alami dengan derasnya. 

Beruntungnya kami datang kesini pas peralihan dari musim hujan ke musim kemarau. Jadi debit air terjunnya masih cukup melimpah. Bebantuan yang umurnya ribuan tahun lalu membentuk sebuah lelukan dan ruang di balik air terjun. Mirip seperti air terjun Mata Jitu yang ada di Pulau Moyo. 

Kolam alaminya cukup dalam dan gak disarankan buat kalian yang gak jago renang untuk berenang di kolam alami ini. Bagi yang bawa anak kecil juga harus ekstra hati-hati. Orang tua jangan sibuk foto-fotoan saja. Ingat jaga anak yang lebih penting  !. 

Untuk airnya cukup dingin dan udara disini sangat sejuk. Sinar matahari menyinari dari balik rimbunnya pepohonan hutan alami. Destinasi alam yang masih cukup dijaga dan belum banyak orang luar yang datang kesini. 

Pointnya tempat seperti ini harus dijaga dari sisi kebersihan, gak ada sampah plastik dimana-mana, gak menebang pohon sembarangan. Gak merusak benda apapun yang ada di sekitar area destinasi. 

Waktu yang pas buat datang kesini saat pagi hari dan selain hari libur sekolah dan kerja. Untuk mendapatkan alaminya itu bisa datang di luar waktu libur panjang juga. Menikmati serasa kolam dan air terjun milik sendiri. 

Btw, istri dan anak-anak sangat bahagia diajak kesini. Awalnya saya menawarkan untuk ke tempat lain yang lebih dekat dengan penginapan di Kota Taliwang. Tapi berhubung mau jalan-jalan ke Jereweh, yasudah kita gass ke Air Terjun Ai Kalela. 

Over all, buat yang akan merencanakan mengexplore Sumbawa Barat, gak ada salahnya berkunjung kesini. Lokasinya gak jauh dari pusat kota kecamatan. Hanya saja dicek kembali kendaraan yang akan dibawa karena jalur menuju kesini masih benar-benar alami. 

Destinasi wisatanya aman dan nyaman. Sepanjang perjalanan dari pusat kota menuju lokasi air terjun jika berpapasan dengan warga desa, mereka pada ramah semua. Begitu juga dengan petugas yang menjaga tempat tersebut juga sangat ramah. 

Saking ramahnya, gak tega kami gak memberikan sekedar untuk beli rokok dan kopi. Bapaknya menerima dengan ramah. Itu yang saya suka kalau mengexplore Pulau Sumbawa, warga lokalnya ramah dan gak segan-segan mau menolong. 

Singkat cerita, setelah menikmati view air terjun Ai Kalela yang menjadi kisah terindah tersendiri bagi anak-anak dan istri. Pastinya akan dikenang sampai mereka besar nanti (kecuali istri yang memang sudah besar). 

Pulang dari air terjun, waktu sudah menuju sore hari. Sebelum ashar, kami berpamitan kepada Mbak Afri dan keluarga. Sayangnya suami mbaknya belum pulang kerja, jadinya gak sempat bertemu. 

Setelah lepas dari Jereweh, kami menuju arah utara yaitu Desa Alas, Kab. Sumbawa. Gimana keseruan cerita kami di Desa Alas, ditunggu ceritanya di minggu depan  !. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra






Saturday, 4 July 2026

Jalan-Jalan Pagi di Kota Taliwang : Sumbawa Barat

 


Rencana tiga hari mengexplore Sumbawa Barat, hari pertama kami memilih untuk menginap di Kota Taliwang. Alasannya karena gak jauh dari kota ini terdapat beberapa destinasi wisata alam yang bisa diexplore. Dari wisata kota, kuliner, pantai hingga air terjun. 

Kota ini juga mengalami beberapa perubahan seperti penataan kota yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Sudah banyak penginapan yang nyaman dengan harga terjangkau. Mau wisata kuliner juga banyak pilihan. Buat anak-anak juga sangat ramah karena udara disini cukup sejuk karena diapit oleh beberapa perbukitan. 

Sampai di kota ini sekitar jam setengah enam sore. Kami putuskan sesampai di penginapan nanti bersih-bersih dan istirahat sejenak. Lumayan kurang lebih delapan jam motoran dari Mataram sampai di Taliwang. Itupun sudah dipotong sama penyeberangan tiga jam-an. Buat saya dan istri aman-aman saja. Tapi kasihan anak-anak terlihat capek meskipun nyatanya tenaga masih tiga puluh watt, hehehe. 

Sangat penting menjaga stamina dan kesehatan anak-anak karena keesokan harinya, kami akan memulai mengexplore beberapa destinasi wisata alam di Sumbawa Barat. 

Menginap di RIDAY Guest House 

Seminggu sebelum hari keberangkatan, saya mencari penginapan di Kota Taliwang. Ada beberapa pilihan, tapi kami memilih menginap di RIDAY Guest House saja karena kami rasa tempatnya nyaman dan dekat dari pusat kota

Saya memesan lewat whatsapp dimana dapat nomor kontak pemiliknya lewat google maps. Syukurnya nomor yang ada di google maps adalah nomor yang tepat. Responnya juga cepat dan si pemilik sangat ramah. 






Kesan pertama bagi saya dan istri pribadi sangat positif memilih penginapan ini. Kami pesan satu kamar untuk semalam saja karena keesokan harinya kami pindah tempat. Harganya juga cukup murah yaitu 350 ribu untuk kelas guest house. Itupun bisa bayar di tempat saat sudah sampai di penginapan. 

Disini tipe kamarnya hanya satu. Kalian bisa memilih mau yang double bed atau single beds. Kami memilih yang double bed untuk dua orang dewasa dan dua anak-anak. Kamarnya juga cukup nyaman. Ukurannya seperti di kamar rumahan. Fasilitas cukup lengkap, ada AC 1 PK, meja kerja, lemari menyimpan pakaian,  cangkir dan alat pemanas air lengkap dengan kopi sachetan. 

Penampakan guest housenya mirip kos-kosan. Bersih, penataannya rapi. Terdiri dari empat kamar dengan cat tembok serba putih. Ada teras dan dua kursi untuk nongkrong di depan kamar. Kamar mandinya cukup luas dengan adanya water heater, closed duduk, shower, peralatan mandi, handuk dua buah, cermin dan yang saya suka kamar mandinya harum dan lantainya gak licin. 

Wort it banget ada penginapan kelas guest house di kota ini. Lokasinya juga dekat dengan pusat pemerintahan dan Masjid Agung Darussalam Sumbawa Barat dan Tugu Kemutar Telu Center (KTC). 



Riday Guest House ini beralamat di Dusun Kuang, Taliwang, Sumbawa Barat. Dekat dengan area perkantoran. Mau ke pusat keramaian kota juga cukup dekat. 

Buat kalian yang berencana perjalanan tugas dinas atau ada urusan di Kota Taliwang, bisa memilih penginapan ini. Info dari pemilik yang bernama Ibu Rida, penginapannya sering dipesan oleh para pegawai dari luar kota yang sedang melakukan tugas dinas di Sumbawa Barat. 

Di halaman depan penginapan ini juga terdapat area bermain anak-anak. Terdapat ayunan buat bersantai. Anak-anak sangat nyaman menginap disini. Kesan pertama sudah buat kami tersenyum. 

Selain dapat kamar yang cukup bagus dan nyaman, kami juga mendapatkan fasilitas sarapan yang dimasakin langsung oleh asisten rumah tangga si pemilik karena bangunan penginapan ini nyambung dengan bangunan rumah si pemilik. Vibesnya ngekos bareng ibu kost. Hehehe. 

Makan Malam di Rumah Makan Tarasa Taliwang

Setelah mandi dan shalat magrib di kamar, kami keluar untuk mencari makan malam. Kebetulan juga perut sudah memanggil-manggil untuk diisi. Sekalian keliling kota di malam hari karena penasaran melihat suasana Kota Taliwang di malam hari. 

Sempat bingung mau makan apa dan dimana. Muter-muter Kota Taliwang yang gak begitu luas. Terlihat banyak pedagang kaki lima dan warung makan yang buka di tengah pusat keramaian kota. 

Ada serba lalapan, sate dan soto Madura, nasi rendang, bakso, sampai jajanan pasar ada yang buka hingga malam hari. Kota ini cukup ramai dan jangan khawatir untuk mencari segala kebutuhan ada semua disini. Yang penting jangan cari mall saja karena belum ada disini. 

Fasilitas umum seperti masjid agung, rumah sakit, klinik, apotek, bank, ruang terbuka dan SPBU ada disini. Jalan kota juga dalam kondisi baik dengan aspal mulus. Penataan kotanya sangat rapi dan enak dipandang. Trafic light juga berfungsi dengan baik. Warga kota juga sangat taat berlalu lintas. Itu yang saya suka jika datang ke suatu daerah yang dimana warganya sangat cinta kebersihan dan tertib di jalan. 




Muter-muter kota sambil memilih mau makan dimana. Akhirnya kami menjatuhkan pilihan di rumah makan Tarasa. Ini yang dipilih ibunya anak-anak. Biasanya apapun urusan makan di luar, saya serahkan ke istri. Kalau saya makan apa saja mau. Apalagi sudah laper banget. 

Dari depan rumah makan, tempatnya cukup sederhana. Di depan pintunya terpampang daftar menu lengkap dengan foto dan harganya. Jadi kita bisa tau menu apa saja yang ada disini dan harganya berapa. Menurut saya harganya cukup terjangkau. Menu-menunya juga sangat cocok sama anak-anak. 

Kalau saya dan istri memesan nasi goreng ayam, sedangkan anak-anak, kami pesanan nasi goreng telur. Makan yang hangat-hangat di tengah udara malam yang cukup dingin. Soal rasa menurut saya enak banget. Bumbunya berasa, gak banyak minyak dan toping ayamnya cukup banyak. Apalagi diberi kerupuk biar nafsu makan bertambah. 

Untuk minumnya kami memesan es jeruk peras dan jus alpukat. Seger banget habis makan nasi goreng. Porsinya juga lebih dari cukup. Tempatnya cukup nyaman dan bersih karena ada lesehannya. Pelayanannya juga baik dan ramah-ramah. 

Jalan Pagi di KTC Taliwang, Ruang Terbuka Hijau 

Keesokan harinya, bangun pagi kuterus shalat subuh dan gak lupa menggosok gigi. Setelah itu kami berencana untuk jalan pagi di ruang terbuka hijau KTC Taliwang yang jaraknya gak begitu jauh dari penginapan. 

Lokasi pertama yang kamj tuju yaitu lapangan depan pendopo Bupati Kab. Sumbawa Barat.  Disini banyak warga yang berolahraga. Penatataanya juga sangat rapi. Terdapat trotoar mengeliling lapangan pendopo. Disini juga ada panggung permanen yang dipakai untuk acara formal, event atau konser. 

Dari kejauhan telihat perbukitan yang diseluti kabut. Udara pagi yang sejuk dan segar. Jauh dari yang namanya polusi. Suasana perkotaan yang nyaman dan damai. Apalagi warga kota yang sangat ramah terhadap pendatang. 








Setelah muterin lapangan pendopo bupati dan berfoto-foto mengabadikan moment. Kami berjalan menuju ke KTC (Kamuter Telu Center). Disini bisa dibilang mirip seperti Jalan Udayana di Kota Mataram. 

Ruang terbuka hijau dengan dibuatkan trotoar untuk penjalan kaki dan disediakan beberapa bangku panjang untuk warga bersantai. Pohon-pohon rindang membuat warga kota nyaman untuk berolahraga.

Yang saya suka dari KTC adalah suasananya yang tenang. Gak terlalu ramai, tetapi tetap terasa hidup. Sesekali terdengar suara burung dan obrolan ringan para warga yang membuat pagi terasa begitu damai. 

Sepanjang jalan di KTC ini sangat bersih. Terdapat beberapa bak sampah yang disediakan untuk warga yang ingin membuang sampah. Petugas kebersihan juga standby melaksanakan tugasnya setiap hari. 


Bagi saya, jalan pagi bukan hanya soal olahraga, tetapi juga kesempatan untuk menikmati suasana kota dari sisi yang berbeda. Gak perlu terburu-buru, cukup melangkah perlahan sambil menikmati setiap sudut KTC yang mulai dipenuhi aktivitas warga.


Sebelum berpindah ke lokasi lain, kami berfoto terlebih dahulu di depan kantor bupati Kab. Sumbawa Barat dan depan tugu KTC berlatar Masjid Agung Darussalam, Taliwang. 


Penasaran Melihat Deburan Ombak Pantai Balad 

Habis jalan pagi di kawasan KTC Taliwang, kami beralih ke pantai yang jaraknya sekitar sembilan kilometer atau sekitar sepuluh menit dari Kota Taliwang. 

Perjalanan menuju pantai ini terasa menyenangkan. Jalan yang dilalui cukup nyaman dengan pemandangan perbukitan hijau dan perkampungan warga. Jalan menuju pantainya juga cukup baik. Begitu tiba di Pantai Balad, suasananya langsung membuat pikiran terasa lebih ringan.

Saya baru tau di depan Pantai Balad, banyak terdapat penginapan atau homestay dan bungalow yang harganya relatif terjangkau. Kapan-kapan pengen staycation di pantai ini. 

Gak ada pintu masuk resmi menuju pantainya. Kita bisa mengambil jalan tanah sempit yang mengarah ke pantai. Saya gak tau yang mana biasanya jalan masuk menuju pantai yang banyak orang lewati. Tapi melihat dari kejauhan ada sekelompok remaja laki-laki yang sedang berkumpul di salah satu gubuq bambu. Langsung saja kami menuju ke arah mereka. 

Gak ada bayar masuk dan parkir. Bisa dibilang kami gak bayar sepeserpun masuk ke dalam wilayah pantai. Udara pantai sudah tercium dan mengucapkan selamat datang ke kami. 







Setibanya di pinggir pantai, kami memarkirkan motor di depan warung. Setelah itu kami berjalan menuju bibir pantai. Saat itu ombaknya cukup tinggi tapi angin gak terlalu kencang. 

Kami memilih duduk di salah satu bangku kayu panjang milik warung. Pemilik warung sangat ramah kepada kami. Suasana pantainya juga tergolong sepi. 

Pantai ini memiliki pasir yang bersih dengan air laut yang jernih. Meskipun warna pasirnya gak putih alias agak kehitaman. Ombak disini tergolong sedang tergantung cuaca saat itu. Angin laut yang bertiup pelan menjadi teman terbaik untuk melepas penat setelah rutinitas yang padat.

Warna air laut di pantai ini cukup keren. Gradasi hijau toska dan birunya air laut ditambah lagi dengan deburan ombak yang membuat suasana menjadi syahdu. Angin pantai yang sepoi-sepoi dan deretan pohon kelapa yang melambai-lambai. Eksotis sekali !. 

Di sebelah utara terlihat lereng perbukitan dan kawasan perkampungan nelayan. Perahu-perahu nelayan berjejer rapi. Garis Pantai Balad cukup panjang. Dari kejauhan sebelah selatan terlihat deretan perbukitan hijau dan pulau-pulau kecil. 

Saya memilih duduk di salah satu bangku panjang sambil menikmati secangkir kopi susu hangat. Gak perlu banyak aktivitas, cukup memandang laut yang membentang luas, sesekali melihat perahu nelayan yang melintas, rasanya sudah cukup untuk mengisi ulang energi.

Tapi gak berlaku bagi anak-anak, mereka asyik bermain pasir sambil sesekali menunggu ombak datang. Saya dan istri mau gak mau ikut menemani mereka karena ombak pantai saat itu cukup tinggi. 





Over all, aktifitas hari pertama di Kota Taliwang, menuju penginapan, malamnya pergi makan malam di Rumah Makan Tarasa. Keesokan harinya, bangun pagi, lanjut jalan pagi di ruang terbuka hijau KTC Taliwang. Setelah itu lanjut ke Pantai Balad menjadi agenda kami di Kota Taliwang sebelum melanjutkan perjalanan ke Jereweh. 

Jadi saya cukupkan cerita keliling Kota Taliwang dalam tulisan ini. Minggu depan saya lanjutkan cerita menuju destinasi wisata alam lainnya masih di wilayah Sumbawa Barat. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Friday, 26 June 2026

Motoran ke Pulau Sumbawa : Pelayaran Bersama KMP Garda Maritim II


Kembali lagi dengan cerita seru lainnya. Kali ini saya akan mengajak kalian mengexplore tetangga Pulau Lombok. Hari yang ditunggu-tunggu sudah tiba. Sudah lama direncanakan, akhirnya jadi juga saya dan anak istri motoran ke Pulau Sumbawa. Kebetulan kondisi kesehatan anak-anak baik, saya dan istri memutuskan untuk mengexplore beberapa destinasi wisata yang ada di daerah yang terkenal dengan susu kuda liarnya. 


Bagi kalian yang sudah berteman di instagram maupun facebook, pastinya sudah pernah melihat beberapa cuplikan video motoran saya dan keluarga ke Pulau Sumbawa bulan lalu. Cerita lengkapnya saya bagi beberapa episode agar gak kepanjangan nulis ceritanya. 


Dimulai dari perjalanan menuju Pelabuhan Pototano, Kab. Sumbawa Barat di hari yang bersahabat. Ada libur empat hari karena ada tanggal merah dan cuti bersama di Hari Kamis dan Jumat, disambung dengan Sabtu Minggu dimana saya libur kerja. 


Kami berangkat di Kamis pagi. Bangun subuh, lanjut mempersiapkan segala kebutuhan. Cek ban dan mesin motor agar aman di perjalanan. Mandi dan sarapan pagi, lanjut isi bensin penuh di SPBU dekat rumah. 


Langit pagi cukup bersahabat. Cek kembali barang bawaan agar gak ada yang tertinggal. Anak-anak sangat antusias sekali diajak jalan-jalan ke Sumbawa. Begitu juga saya dan istri yang sudah lama sekali gak nyeberang ke Pulau Sumbawa. 


Ini pertama kalinya anak-anak menyeberang ke Sumbawa. Setelah beberapa tahun terakhir mereka sudah saya ajak motoran ke Bali dan Banyuwangi. Jadinya sudah gak khawatir soal kondisi fisik mereka karena sudah teruji dan gak rewel di jalan. 


Kakak Ken dan Adeq Lala sudah lengkap dengan jaket touring, masker dan helm. Gak lupa pakai kacamata hitam agar gak silau di jalan. Saya dan istri juga pakai jaket tebal agar gak masuk angin. Berabe entar kalau bikernya mabuk di jalan. 


Sekitar jam sembilan pagi, kami berangkat dari rumah. Agak kesiangan jalannya tapi berhubung kami gak kejar waktu, jadinya jalan santai saja. Penginapan juga sudah kami pesan dan sudah menginfokan ke pihak penginapan kalau sampainya kesorean. 


Estimasi waktu tempuh dari rumah ke Pelabuhan Kayangan, Lombok Timur  diperkirakan paling telat tiga jam. Jalur yang dilewati melalui jalur selatan yaitu By Pass Bandara BIZAM, belok kiri di perempatan Penujak menuju arah Kota Praya. Lanjut ke arah timur yaitu Ganti, Keruak, Sakra dan Kota Selong. 


Dari Kota Selong, mengambil jalur pintas melalui Pancor dan tembus perempatan Rempung, Lombok Timur. Alasannya karena menghindari arus lalu lintas yang padat apabila melewati jalur tengah. Meskipun agak jauh sedikit tapi kami bisa pangkas waktu lebih cepat setengah jam dari jalur tengah. 




Sampai di Desa Aikmel, kami beristirahat sambil ke kamar mandi. Lumayan pantat panas setelah hampir dua jam duduk di jok motor tanpa berhenti. Kami mampir di Masjid Besar Al-Mujahidin Aikmel yang dekat dengan Pasar Umum Aikmel. Lokasinya persis di pinggir jalan besar atau tepatnya di perempatan Aikmel. 


Masjid ini sering dijadikan tempat singgah bagi yang melakukan perjalanan jauh untuk shalat dan beristirahat. Fasilitasnya cukup lengkap. Yang paling saya suka mampir di masjid ini yaitu air nya yang dingin banget karena desa ini berada di ketinggian 280 mdpl dan dekat dengan Gunung Rinjani. Bagi yang mau ke Sembalun pastinya akan melewati masjid ini. 


Oke, setelah beristirahat kurang lebih sepuluh menit. Kami melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Kayangan. Kurang lebih setengah jam lagi sampai di pelabuhan. Perjalanan dari Aikmel ke Pelabuhan Kayangan cukup lancar. 


Dari perempatan Aikmel, kami menuju arah Poh gading, Batuyang, Kec. Pringgabaya. Sedangkan kalau ke Sembalun, kita mengambil arah jalur Desa Suela dan Sapit. 


Baca ini juga : Ngopi di Awal Tahun : Serata Coffee & Camp


Waktu sudah menuju siang hari, sekitar jam sebelas menjelang siang kami sampai di pertigaan Labuan Lombok. Belok ke kanan menuju pelabuhan. Moment ini yang ditunggu-tunggu. Sebelum memasuki pelabuhan, kami melewati jalur menanjak dan berkelok-kelok di Bukit Kayangan. 


View dari sini keren habis. Ke sebelah barat, kita akan melihat cantiknya Puncak Gunung Rinjani dan Pelabuhan Labuan Lombok. Sedangkan kalau melihat ke arah timur, kita bisa melihat indahnya Selat Alas dan jejeran perbukitan Pulau Sumbawa. 


Birunya laut dan angin pantai yang sepoi-sepoi. Dari jauh terlihat puluhan kapal feri yang sedang berlayar. Pelabuhan Kayangan sudah gak jauh lagi. Jalur disini keren habis. Aspal mulus dan jalanan yang lebar. 





Sebelum masuk pelabuhan, saya membeli tiket dulu di  salah satu warung kecil khusus menjual tiket kapal yang ada di pinggir jalan. Sebenarnya bisa beli lewat aplikasi ferizy, tapi karena gak tau jam berapa sampai pelabuhan, enaknya langsung beli di warung pinggir jalan saja. 


Jangan khawatir, jumlah warung tiket disini banyak dan buka dua puluh empat jam. Jadinya gak bakalan bingung mau beli tiket langsung dimana. Dari terminal Labuan Lombok sampai pintu pelabuhan berjejer warung penjual tiket dengan harga yang sama karena dikelola oleh koperasi setempat. 


Untuk harga tiketnya agak lebih mahal dibandingkan beli lewat aplikasi ferizy karena belum kena jasa. Namanya saja mereka jual jasa juga kan. Harap maklum. 


Harga tiket penyeberangan Kayangan - Potatano kalau motor itu 80 ribu. Itupun bervariasi tergantung kelas kendaraannya. Bagi yang gak mau ribet pesan lewat ferizy, bisa langsung beli disini. Petugasnya juga ramah-ramah. 


Untuk harga tiket motor itu sudah termasuk sama penumpang. Berapapun penumpangnya, yang dihitung tiket hanya kendaraan yang dibawa. 


Btw, setelah beli tiket, kami melanjutkan perjalanan memasuki pelabuhan. Sebenarnya kami mengejar salah satu kapal bernama KMP Trimas Elisa tapi berhubung kondisi pelabuhan yang padat oleh kendaraan dan penumpang, sepertinya gak berjodoh dengan Si Elisa. 




Suasana pelabuhan siang itu sangat ramai oleh penumpang yang akan menyeberang ke Pulau Sumbawa. Hari itu juga bertepatan dengan hari libur alias long weekends. Jadinya banyak perantau dan anak sekolah yang pulang kampung ke Sumbawa, Dompu dan Bima. 


Dan pelabuhan Kayangan ini termasuk salah satu pelabuhan tersibuk di Indonesia. Disini ada sekitar 25 (dua puluh lima) kapal yang beroperasi selama dua puluh empat jam. Pelabuhan ini gak pernah sepi. Memiliki dua dermaga kapal roro alias feri. Terkadang kalau salah satu dermaga rusak, pasti akan macet. 


Kurang lebih menunggu hampir dua jam, akhirnya kami berjodoh dengan KMP Garda Maritim I yang dijadwalkan berangkat jam dua siang. Salah satu kapal favorit di penyeberangan ini. Sambil menunggu kapalnya mengantri nyandar di dermaga, anak dan istri istirahat di ruang tunggu penumpang yang ber-AC. Sedangkan saya menjaga motor di antrian sambil cuci mata. 


Tiba-tiba petugas mengarahkan para pemotor untuk menuju pintu dermaga I. Termasuk kendaraan di dalam rombongan tersebut. Kami menuju pintu dermaga I untuk mengantri masuk ke dalam lambung kapal. 


Untuk jumlah kendaraan yang akan masuk ke dalam kapal cukup banyak dengan mayoritas pemotor. Sisanya mobil pribadi, travel dan bus sedang. 


Berhubung lagi ramai penumpang, istri berinisiatif jalan kaki naik ke atas kapal saat rumdoor kapal susah turun. Alasannya agar dapat tempat duduk. Sedangkan saya dan anak-anak stay di atas motor menunggu ijin dari petugas pelabuhan untuk masuk ke dalam kapal. 


Satu per satu petugas mengecek tiket baik kendaraan maupun penumpang. Setelah proses pengecekan tiket, kami dipersilahkan masuk menuju kapal. Kendaraan masuk satu per satu ke deck kendaraan dengan tertib. Terlihat ABK sibuk mengatur posisi kendaraan di dalam kapal agar kapal dalam posisi stabil. 


KMP Garda Maritim merupakan kapal jenis roro (roll on-roll off) atau biasa kita menyebutnya kapal feri. Dimana bisa mengangkut kendaraan kecil hingga besar dan penumpang. Kapal ini dioperasikan oleh PT Multi Guna Maritim dan melayani penyeberangan Pelabuhan Kayangan - Pelabuhan Pototano dari tahun 2017 hingga sekarang. 


Memiliki panjang 57 meter dan lebar 14 meter dengan tinggi deck kendaraan sekitar 4,5 meter sehingga kendaraan seperti truk dan bus yang tingginya sekitar 4,4 meter bisa masuk ke dalam deck kapal. 


Bentuk kapal ini cukup unik. Mirip seperti piramida yang memiliki dua sisi yang sama. Ada dua ruang anjungan atau ruang kemudi yang berada di bagian depan dan belakang kapal kapal. Baling-baling juga berada di bagian depan dan belakang sehingga mempermudah laju kapal saat berlayar. 


Selain KMP Garda Maritim I, ada juga KMP Garda Maritim II, Garda Maritim 6 dan Garda Maritim 8 yang beroperasi di lintas Kayangan - Pototano. Banyak orang menyebutnya kapal-kapal ini "kapal kembar" karena bentuknya mirip dan satu perusahaan. 






Ruang penumpang hanya satu lantai. Semuanya kelas ekonomi duduk dan lesehan dalam satu ruangan. Tempat duduknya dari plastik tebal tapi sangat nyaman. Lesehan tempat selonjorannya juga gak begitu besar tapi cukup buat beberapa orang. 


Bagi yang ingin bersantai di luar juga ada beberapa tempat duduk di pinggiran kapal. Berhubung suasana kapal sangat ramai oleh penumpang tapi syukurnya masih nyaman. 


Kurang lebih setengah jam kapal melakukan proses bongkar muat, sekitar jam dua siang kapal diberangkatkan ke Pelabuhan Pototano. Cuaca sangat bersahabat. Sayangnya puncak Gunung Rinjani tertutupi oleh awan. Angin laut normal dan diprediksi Selat Alas cukup tenang. 


Jadi gak sabar melihat proses kapal berangkat. Rumdoor kapal ditutup oleh ABK kapal. Suasana deck kendaraan sangat padat. Kapal membunyikan klakson pendek sebanyak dua kali pertanda akan berpapasan dengan kapal lain yang giliran nyandar di dermaga. 


Kecepatan kapal masih tergolong sedang. Berpapasan dengan kapal lainnya yang sedang menunggu giliran masuk pelabuhan. Melakukan penyeberangan Lombok - Sumbawa ini adalah impian banyak travelers. View yang ditawarkan sangat indah. 


Laut dengan gradasi hijau dan biru. Pulau-pulau kecil yang bakalan akan kita lihat sepanjang perjalanan seperti Gili Kapal, Gili Kondo, Pulau Paserang, Pulau Belang, dan yang sangat terkenal yaitu Pulau Kenawa yang posisinya sangat dekat dengan Pelabuhan Pototano. 


Estimasi penyeberangan kurang lebih dua jam. Jadinya bisa kita gunakan untuk tidur siang dan keliling di atas kapal. Berhubung belum makan siang, kami makan siang dulu dengan nasi bungkus yang sudah dibeli di pelabuhan tadi. Sedangkan anak-anak sudah dibawakan bekal dari rumah sebelum berangkat tadi. 


Fasilitas lain kapal ini antara lain ada mushola, kantin, toilet yang bersih, ruang medis dan ruang ibu menyusui. Over all, kapal ini cukup nyaman dan bersih. Sayangnya kecepatan kapalnya agak santai. Jalan kapal yang gak pada umumnya. Bisa dibilang sangat lambat. 


Tapi untungnya kami gak diburu waktu. Jadinya gak masalah. Justru kami diuntungkan karena bisa tidur siang agak lama. Lumayan dua jam duduk di atas motor dari rumah hingga pelabuhan, pantat juga lumayan anget.  hahaha. 






Penyeberangan hari itu cukup lancar. Laut tenang dan angin gak begitu kencang. Langit juga sedikit berawan meskipun terlihat dari jauh Pelabuhan Pototano diguyur hujan. 


Kurang lebih tiga jam pelayaran, kapal sampai juga di Pelabuhan Pototano. Salah satu pelabuhan terindah di Indonesia. Gak menunggu lama masuk pelabuhan, kapal pun bersiap-siap bersandar di dermaga 2.


Untungnya sudah selesai hujan, jadinya gak perlu menggunakan jas hujan. Jam lima sore, kami turun dari kapal. Ini pertama kalinya anak-anak menginjakkan kaki di Pulau Sumbawa. 


Mereka berdua sangat senang sampai di Pulau Sumbawa. Apalagi ditambah dengan panorama alam Sumbawa yang khas alam Indonesia Timur. Perbukitan hijau ketika musim hujan. Saat musim kemarau, perbukitan berwarna kuning kecokelatan. 





Pertengahan Bulan Mei, perbukitan sebagian kecokelatan. Sebagian juga ada yang masih kehijauan. Suasana habis hujan menyambut kami di Pelabuhan Pototano, Kab. Sumbawa Barat. 


Perjalanan kurang lebih setengah jam lagi sampai di Kota Taliwang. Kota Kabupaten Sumbawa Barat. Keluar dari pelabuhan, saya membawa motor agak santai sambil menikmati surganya Sumbawa Barat. Bertemu pertigaan Kamuter Telu, kami berbelok ke kanan menuju arah Kota Taliwang. Sedangkan kalau mengambil jalan lurus, akan mengarah ke Kota Sumbawa Besar, Kab. Sumbawa. 


Yang khas kalau motoran di Pulau Sumbawa, kita bisa bertemu dengan kawanan sapi dan kerbau yang melintas di jalan raya. Jadinya harus ekstra hati-hati jika melintas. Mereka memang dibiarkan mencari makan sendiri dan akan pulang ke kandang dengan sendirinya tanpa khawatir dicuri. Keren kan  !. 


Menuju Kota Taliwang, kami melewati Desa Tapir, Kec. Seteluk dimana desa menuju Bukit Mantar yang terkenal itu. Selanjutnya kami sampai di Danau Lebok. Danau yang cukup luas yang tertutupi tanaman Eceng Gondok. Kalau sudah sampai di danau ini, tandanya sebentar lagi kami akan memasuki Kota Taliwang. 


Sesampainya di Kota Taliwang, kami segera menuju penginapan yang sudah kami pesan melalui whatsapp. Perasaan senang dan lega akhirnya sampai di tujuan dengan selamat dan sehat. Anak-anak juga sangat senang dan baik-baik saja. Suasana kota yang cukup ramai. Taliwang sekarang sudah semakin ramai. Banyak pedagang yang berjualan. Tata kota yang semakin indah dan rapi. 


Di tulisan selanjutnya, saya akan mengajak kalian jalan-jalan di Kota Taliwang. Jadi saya cukupkan tulisannya sampai disini. Ditunggu ceritanya minggu depan !. 


Penulis : Lazwardy Perdana Putra