Sunday, 27 September 2026

Nongkrong Sambil Ngopi Pagi di Rota Kopi : Harat Coffee

 


Buat sebagian orang, upacara minum kopi pagi merupakan hal yang wajib, terutama bagi kaum laki-laki. Di Kota Mataram, sudah banyak kedai kopi yang buka mulai jam tujuh pagi. Kabar gembira buat saya pribadi karena sudah gak bingung kalau mau ngopi pagi di sela jam kantor. 

Biasanya kalau Hari Jumat, agendanya itu jalan pagi. Kebetulan gak jauh dari kantor ada beberapa coffee shop yang sudah punya pelanggan setia. Salah satunya yaitu Rota Kopi. Tempat ngopi satu ini bisa dibilang cukup terkenal di Kota Mataram. Gak pernah sepi oleh pengunjung baik kaum milenial maupun gen Z. 

Rota Kopi beralamatkan di Jalan Catur Warga no 8, Pejanggik, Kota Mataram. Tepatnya gak jauh dari kawasan perkantoran (Kantor Gubernur NTB, Bappeda NTB, RS Mata NTB). Dari kantor saja, saya cukup berjalan kaki kurang lebih lima menit hingga sampai di lokasi.

Sudah beberapa kali saya datang buat ngopi disini. Rasanya gak pernah bosan karena saya suka dengan menu-menu kopinya. Salah satunya itu Zeed Coffee yang pernah saya coba dan sempat saya buat reviewnya di blog. 

Alasan saya datang lagi kesini karena tertarik dengan salah satu menu kopi yang belum pernah saya coba yaitu Harat Coffee. Nama yang bagus yang berhasil buat saya penasaran. Lihat di media sosial,Harat Coffee memiliki campuran kopi susu dengan rum. 







Pagi itu, saya jalan pagi sendirian. Saat itu pengen sendirian saja. Memang sudah direncanakan setelah jalan pagi maunya mampir di Rota Kopi sambil mencari sarapan. Sekali-kali sarapan dengan menu yang gak seperti biasanya (nasi bungkus). 

Setelah muter-muter di kawasan Kantor Gubernur Prov. NTB dan melewati Jalan Pejangik dan berbelok ke arah Jalan Catur Warga yang dikenal dengan kawasan coffee shop, salah satunya Rota Kopi ini. 

Jam setengah delapan pagi, coffee shopnya sudah buka. Penampakan bangunan dengan desaign coffee shop modern. Area parkir gak begitu luas tapi masih aman buat motor dan mobil. 

Dari pintu gerbang, nampak bangunan utama bertuliskan Rota Kopi di bagian atas pintu. Sudah terlihat beberapa pengunjung yang sedang asyik menikmati kopi sambil menatap layar smartphone dan laptop. 

Ada beberapa ruang yang ada di coffee shop ini. Ada ruang indoor dan semi outdoor. Ada juga ruang meeting buat kalian yang ingin rapat atau sekedar berkumpul dengan banyak teman. 

Di dalam ruang indoornya cukup adem. Terdiri dari meja tempat memesan menu. Kursi empuk yang saling berhadapan dengan meja kecil. Sayangnya ruang indoornya cukup kecil. Berhubung masih pagi, saya rasa bersantai di semi outdoornya cukup asyik. 

Dibilang panas juga gak karena ada beberapa tanaman hias yang terasa rindang dan terlindung dari sinar matahari. Disini tempat duduknya cukup banyak. Terdiri dari kursi dan meja kayu. Di plafonnya ada kipas angin dan ada area tempat para ahli hisap untuk nongkrong. Tapi beruntungnya,pagi itu pengunjung gak ada yang ngerokok, jadinya nyaman buat duduk di luar.

Buat yang sedang buka laptop atau ingin ngecash gadget kalian, disini sudah disediakan juga tempat colokan di setiap mejanya. Wifinya juga cukup kencang. Bisa buat nonton youtube atau download film sampai puas. 

Fasilitas lainnya disini juga ada mushola dan toilet yang cukup bersih. Area taman dengan tanaman hias dan bebatuan membuat coffee shop ini semakin cantik dan nyaman. 









Untuk pesan menunya, kita bisa langsung ke meja pemesanan. Sistemnya pesan menu langsung bayar. Pelayanannya sejauh ini masih tetap sama yaitu cukup baik. Kita gak terlalu lama menunggu di meja pemesanan. Kita nya saja yang ditunggu lama karena masih baca-baca daftar menu dan bingung sendiri mau pesan apa. Pernah kejadian gak di diri kalian juga ? hehehe.

Saya pesan satu porsi Harat Coffee. Untuk packagingnya cukup menarik. Menggunakan botol kaca gelap ukuran 250 ml. Kemudian diberi cangkir gelas bening dan beberapa potong es batu.

Cara minumnya, Kopi Haratnya dituang ke dalam gelas bening yang berisi es batu, lalu dinikmati selagi dingin. Memang enak banget minum es kopi pagi-pagi, meskipun kebanyakan lebih senang minum kopi pagi itu dalam keadaan panas atau masih hangat.

Untuk rasa Harat Coffeenya cukup enak. Perpaduan kopi espresso ditambah dengan susu dan rum. Jadi saat dilidah, terasa aroma rumnya. Paling pas diminum pagi-pagi biar mata tambah melek untuk memulai berkegiatan pagi itu. Harganya cukup terjangkau yaitu 33K.  

Untuk snacknya, saya memesan Butter Cream Cheese yaitu roti sisir dengan butter dan cream cheese. Roti sisirnya lembut dan gak seret ditenggorokan. Rasa rotinya manis, apalagi ditambah dengan butter dan cream chesee. Ada rasa gurih dan kremi. Pas banget untuk menemani ngopi pagi, temannya ya sama roti. Untuk harga cukup terjangkau yaitu 20K.



Kebetulan sedang nongki disini, penasaran juga ingin mencoba mencicipi Kentang Perancis alias kentang goreng. Selain itu saya memesan Sate Taichan ala Rota dimana sate dengan daging ayam bakar yang disajikan dengan sambal dan totole. 

Untuk Sate Taichannya sangat enak terdiri dari sepuluh tusuk sate Taichan. Dicocol dengen sambal bawang dan ditambahkan perasaan jeruk nipis dan garam. Enak banget dimakan pakai nasi putih juga.Untuk porsinya sudah cukup buat saya sendiri. Harganya 28K. Sangat terjangkau untuk sekelas coffee shop.

Sebagai ganti nasi putih, ada kentang goreng sebagai karbohidratnya. Untuk porsi kentang gorengnya cukup mengenyangkan. Ada rasa bumbu rempah di kentang gorengnya, jadinya gak terasa hambar. Harganya bisa dibilang cukup mahal 20K,  dibandingkan dengan kentang goreng yang pernah saya coba di cafe lainnya.Tapi kembali lagi, ada harga ada rasa. 

Gimana menarik bukan ?

Buat kalian yang sedang mencari tempang nongkrong sambil mencari sarapan,makan siang atau makan malam, bisa mampir di Rota Kopi yang ada di jalan Catur Warga no.8,Pejanggik Kota Mataram (gak ngendorse). Ohya, Rota Kopi sudah buka cabang di daerah Selaparang yaitu di Jalan Adisucipto, Rembiga. Namanya Rota Kopi 1969. Kapan-kapan kita coba ngopi disana sambil mereview tempat dan menu-menunya.

Mungkin itu dulu review singkat yang bisa saya bagi kepada teman-teman pembaca setia Lazwardy Journal. Kalau ada yang punya pengalaman pernah ngopi di Rota Kopi, bisa berbagi cerita di kolom komentar ya. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Saturday, 5 September 2026

Kencan di Atas Bendungan Meninting : Angkringan Dara


Dari judulnya saja agak geli-geli gimana gitu. Tapi beneran ceritanya ini saya dan istri tumben motoran berdua tanpa anak-anak karena mereka sedang sekolah. Sebenarnya ini ide dadakan yang direncakan malam sebelum tidur. Kebetulan hari Sabtu, saya libur kerja dan giliran nganter anak-anak sekolah. Biasanya habis anter anak sekolah, balik ke rumah bantuin istri ngurusin rumah. 


Tapi kali ini sepertinya lagi pengen ngajakin istri motoran ke tempat yang viewnya cakep. Banyak pilihan, tapi setelah diskusi sama si doi, akhirnya kami memilih untuk motoran ke salah satu tempat nongkrong baru yang ada di Lombok Barat. 


Jaraknya lumayan jauh dari rumah. Sekitar tiga puluh menit berkendara. Lokasinya ada di kawasan Bendungan Meninting. Berhubung waktu sangat terbatas, setelah nganter anak-anak sekolah, saya dan istri lanjut ke lokasi. 


Pas banget, cuaca lagi bersahabat dengan kami berdua. Setelah melewati padatnya arus lalu lintas Kota Mataram pagi itu, kami melalui jalur pedesaan yang cukup asri. Dari jalan besar, kami menyusuri jalan perkampungan yang masih padat karena kesibukan warga kampung pagi itu. Melewati pasar, sekolah dan tibalah kami di jalur persawahan dan perbukitan. Saya kurang tau nama bukitnya apa. Lebih jelasnya, nanti saya cantumkan di maps menuju lokasi tujuan kami. 





Udara pagi perbukitan yang sangat sejuk menyambut kami di sepanjang perjalanan. Jalanan yang berliku dengan aspal yang mulus. Gak begitu lebar tapi masih bisa antar mobil berpapasan. Saran saja, kalau mau motoran kesini, kondisi kendaraan harus  dalam keadaan baik karena jalanan sempit dan menanjak. Sempat kepikiran, pas perginya menanjak gini kebayang pas baliknya bakalan berhadapan sama jalur menurun yang cukup ekstrim. 


Kurang lebih lima ratus meter sebelum lokasi tujuan, ada pertigaan jalan dimana kalau belok kiri itu merupakan jalur menuju Bendungan Meninting dari pintu timur. Tapi karena sudah laper banget, kami mencari sarapan dulu. Mungkin nanti kalau masih ada waktu, kami bakalan ke kawasan bendungan. 


Singkat cerita, kami sudah sampai di lokasi. Namanya Angkringan Dara. Lokasinya di Dusun Murpeji, Desa Dasan Geria, Lingsar, Lombok Barat. Tepatnya satu jalur menuju Wisata Kampung Lebah Murpeji. 


Tempatnya cukup sederhana, tapi view dari tempat nongkrong ini cakep banget. Dari sini, kita bisa melihat Bendungan Meninting dari atas dengan latar belakang perbukitan hijau yang asri. 


Gak hanya view bendungan saja. Dari sini kita bisa melihat view Kota Mataram, Islamic Center Lombok, Masjid Hubbul Wathan dan gedung lainnya. Pasti kalau malam cakep banget bisa melihat jutaan lampu-lampu perkotaan. 


Dari informasi beberapa teman dan foto orang-orang di sosial media yang sudah datang kesini, saya pun jadi tertarik buat nyobain nongkrong disini sambil ngopi. Di lokasi yang sama, ada beberapa angkringan juga yang menjual view yang sama. Tapi saya pilih Angkringan Dara karena tempatnya cukup luas.


Setelah memarkirkan motor di area parkir yang berada di seberang angkringan, kami berjalan menuju area dalam angkringan. Suasana pagi itu masih belum ada pengunjung. Beberapa karyawan masih menata kursi dan meja. Ada juga yang sedang menyapu halaman. Sempat ragu, ini tempatnya sudah buka apa belum. 







Kami masuk saja dan pas bertanya ke mbaknya yang jaga, ternyata tempatnya sudah buka. Dari penampakan, beneran seperti tempat angkringan mahasiswa jaman saya kuliah dulu. Ada meja panjang dan kursi kayu. Atapnya dari bahan spandek sehingga gak panas. 


Meskipun sederhana, tapi viewnya sangat mewah. Meja kursinya terbagi beberapa tempat. Gak ada indoor, semuanya outdoor karena udara disini sudah sangat sejuk. Angin perbukitan yang sepoi-sepoi. Suara kicauan burung-burung menyapa kami. Deretan pepohonan yang rindang dan sapaan warga desa yang sedang melintas. 


Ada untungnya kami datang kepagian. Jadinya masih bisa bebas pilih tempat duduk. Selain ada meja kursi, angkringan ini juga memiliki beberapa berugaq (gazebo) yang berada di pinggir tebing dan langsung menghadap ke bendungan. Saya dan istri lebih memilih bersantai di berugaq yang ukurannya bisa untuk empat orang dewasa. 


Datang ke tempat secakep ini, sayang sekali gak ambil beberapa foto. Spot foto disini lumayan cakep. Kita bisa fotoan ala-ala anak muda atau prewed gitu. Fotoan berdua kayaknya lebih romantis kali ya, hehehe. 






Bendungan Meninting menjadi magnet bagi warga lokal maupun pendatang. Bendungan ini dibangun sekitar tahun 2019 sampai 2025 sekaligus diresmikan dan dibuka untuk umum. Bendungan ini berada di ketinggian sehingga pengunjung bisa melihat view Kota Mataram dari atas. Kapan-kapan kita review bendungan ini ya. 


Kembali ke laptop !. 


Kami memesan beberapa menu sarapan yang wajib dicoba. Ada nasi goreng ayam pakai telur, kebab, pisang cokelat, susu jahe dan es matcha. Pengennya sih pesen banyak tapi kembali lagi, kita pakai prinsip jalan-jalan hemat. 


Sambil menunggu pesanan datang, kami mengexplore tempat ini. Dari fasilitas umum yang ada seperti mushola, toilet, area parkir kendaraan, tempat duduk yang berada di pinggiran tebing. Tanaman hias dan pepohonan hijau yang rindang di halaman samping bangunan utama. Semuanya ada disini, bersih dan terawat. 


Mbak karyawannya juga ramah-ramah. Tapi pagi itu hanya ada dua orang saja. Satunya melayani pengunjung, satunya bersih-bersih area angkringan. 


Yang saya suka dari tempat ini yaitu gak kotor dan areanya tertata rapi. Sampah-sampah dibuang pada tempatnya. Berhubung angkringan ini berada di pinggir tebing, saya coba cek ke bawah tebingnya. Ternyata bebas dari sampah. Biasanya ada saja penjual atau pengunjung usil buang sampah ke bawah tebing seperti tempat lain. Gak boleh ditiru  !.


Pelayanan disini cukup cepat. Gak menunggu lama, pesanan kami sudah datang. Ada nasi goreng ayam dan telur. Mau dimanapun, paling suka menu sarapan nasi goreng meskipun menginap di hotel bintang lima, pasti nyarinya nasi goreng. Kalau gak gitu ya nasi bungkus, hehe. 







Nasi gorengnya cukup enak. Gak pelit bumbu dan pedasnya pas di mulut. Potongan ayamnya juga banyak. Ditambah toping telur mata sapi yang gurih. Ada sayurannya dan porsinya banyak. Dimakan bersama dengan kerupuk, maknyus. Harganya cukup murah yaitu 15 ribu saja. 


Ada juga kebab pesanan istri. Isian kebabnya sama seperti kebab pada umumnya. Ada telur dadar, potongan tomat, timun, sayuran dan diberi saus mayo atau sambel. Ukuran roti kebabnya juga besar dan dihidangkan hangat-hangat. Harganya hanya 8 ribu saja. 


Untuk snacknya, kami pesan pisang cokelat. Sangat gurih dan renyah di mulut. Ada rasa manis dari pisang dan cokelatnya. Porsinya juga cukup banyak. Pas banget dinikmati bersama minuman hangat. Harganya cukup murah yaitu 10 ribu. 


Kalau minumnya, kali ini saya gak pesan kopi. Lagi pengen minum yang hangat di tenggorokan karena udara disini cukup sejuk. Susu Jahe hangat pas banget. Sudah lama juga gak minum susu jahe. Pas diminum, enak banget di tenggorokan. Susunya juga gurih dan saya menikmatinya. Harganya 5 ribu kita sudah dapat menikmati secangkir susu jahe (sachetan). 


Es Matcha yang dipesan sama istri juga seger di tenggorokan. Es batunya gak begitu banyak juga jadinya rasa matchanya masih kuat. Saya sih gak begitu suka minum matcha, tapi pas cobain eh ternyata enak juga ya. Btw, ini matcha sachetan apa gak ya ? Hehehe. 


Harga makanan minuman disini gimana ?. Kalau saya disini harganya sangat murah. Rata-rata harganya dari 5 ribu hingga 35 ribu. Untuk tempat secakep ini, kalau bayangan saya pastinya harganya lumayan mahal karena yang dijual view. Tapi gak berlaku di Angkringan Dara ini. Semoga saja tetap pasang harga kaki lima tapi rasa bintang lima. 



Sambil menunggu anak-anak pulang sekolah, saya dan istri menikmati sarapan disini sambil ngobrol ngalor ngidul. Sudah lama juga gak kencan berdua. Biasanya pergi makan berempat sama anak-anak. Sekalinya kencan lagi, di angkringan ini sambil melihat view cakep dari atas Bendungan Meninting. Mengulang kembali masa pacaran dulu, hehehe. 


Untuk jam bukanya setiap hari dari jam enam pagi hingga malam hari. Pas banget datang kesini saat sore untung melihat sunset bareng teman, gebetan atau keluarga di rumah. Buat meeting juga cocok, mau ngerjain tugas sekolah, kuliah atau mencari inspirasi buat bahan tulisan juga cocok disini. 


Rute menuju tempat ini gak begitu susah. Kalian tinggal ketik Angkringan Dara di maps, ikuti saja apa kata mbak google mapsnya. Jangan lupa ketik alamat yang lengkap ya. Jangan sampai salah alamat  !. 


Penulis : Laswardy Perdana Putra

Saturday, 29 August 2026

Jalan-Jalan Pagi ke Senggigi dengan Suasana Baru : Matta Siput dan Dermaga Senggigi


Siapa yang gak kenal dengan Pantai Senggigi, Lombok. Destinasi wisata yang berada di daerah Lombok Barat ini dulunya sangat terkenal dengan keindahan pantai berpasir putih, ombak yang tenang dan sunset yang cantik. Banyak wisatawan domestik maupun mancanegara kalau berlibur ke Pulau Lombok, pasti datang ke Senggigi. 


Senggigi berjarak kurang lebih sepuluh kilometer dari pusat Kota Mataram. Waktu tempuh kurang lebih lima belas menit menggunakan motor atau mobil. Transportasi umum yang melayani dari Kota Mataram ke destinasi ini yaitu DAMRI saja. Selain itu kita bisa memesan ojek online atau menyewa kendaraan. 


Senggigi juga merupakan kawasan perhotelan, resort dan villa. Gak hanya itu saja, sejak dulu Senggigi sangat terkenal dengan hiburan malamnya. Puluhan cafe, resto maupun bar ada disini. Bagi warga Kota Mataram dan sekitarnya, kalau ingin mencari hiburan sambil berkumpul dengan teman atau keluarga, pastinya Senggigi menjadi pilihan utama. Tapi itu dulu sebelum Kuta Mandalika dan Desa Sembalun gak seramai sekarang. 


Sejak tragedi Bom Bali puluhan tahun yang lalu dan parahnya lagi, Indonesia dan dunia sempat dilanda wabah Covid-19 di tahun 2020 sampai 2022, kawasan Senggigi mulai ditinggalkan oleh wisatawan domestik dan mancanegara. Banyak dari mereka yang lebih memilih stay di Gili Trawangan atau Kuta Mandalika. 


Sebenarnya dari nama-nama berikut, Senggigi gak kalah soal keindahan pantainya. Bahkan menurut saya pribadi, Senggigi jauh lebih hemat dari sisi budget karena menawarkan destinasi wisata yang murah tapi gak murahan. 


Kalau lagi suntuk di rumah atau pekerjaan, saya biasanya jalan-jalan ke Senggigi. Jalur Senggigi juga merupakan jalur favorit saya kalau gowes. Cerita gowes ke Senggigi pernah saya tulis di blog ini. Bisa kalian cari di daftar tulisan blog ya  !. 


Sudah lama gak jalan-jalan ke Senggigi, saya mengajak istri dan anak-anak ke salah satu spot cakep di kawasan Senggigi. Pas banget di Minggu pagi, cuaca cerah. Setelah sarapan di rumah, kami bersiap-siap untuk jalan. 


Masih pakai motor kesayangan "Blumax", estimasi perjalanan kurang lebih setengah jam. Kami berencana mengajak anak-anak main air dan pasir. Jadinya membawa perlengkapan mandi dan pakaian ganti. 


Melewati pinggiran Kota Mataram menuju arah Kota Tua Ampenan, lanjut menuju arah Pantai Senggigi. Kondisi lalu lintas pagi itu cukup ramai lancar. Gak sepadat di hari kerja karena orang-orang masih pada tidur di rumah masing-masing. 


Setelah melewati padatnya daerah Ampenan, kami sudah berada di jalur menuju Pantai Senggigi. Jalanan sudah aspal mulus semua. Baik kendaraan roda dua dan roda empat, ramai juga mengarah ke Senggigi. 


Sesampainya di tanjakan Batu Layar, view Pantai dan perbukitan hijau cakep benar. Sedikit ada perbaikan jalan tapi gak menghalangi arus lalu lintas pagi itu. Jalur Senggigi dari Kota Mataram merupakan jalur pinggir laut. Jadinya selama di perjalanan, waktu gak terasa. Eh, ternyata kami sudah sampai di pusat keramaian Senggigi. Udara pagi yang sejuk, langit yang biru, lautan yang indah, pasir putih yang menyambut kami pagi itu. 


Tujuan kami yaitu ke Pantai Senggigi atau biasa disebut Dermaga Cicak Senggigi. Lokasinya gak jauh dari Pasar Seni Senggigi, Hotel Merumata dan Matta Siput. Untuk menemukan pantai ini gak sulit. Patokannya, setelah Hotel Aruna dan Hotel Montana, di sebelah kiri ada jalanan kecil dimana ada tulisan Hotel Merumata. 






Kita belok ke kiri menyusuri jalanan kecil tersebut. Kurang lebih dua ratus meter, ada area parkiran kendaraan Pelabuhan fast boat Senggigi. Kita bisa memarkirkan kendaraan di parkiran dengan membayar uang parkir 5 ribu saja. Tenang saja, parkirannya resmi dan gak ada biaya tambahan lagi masuk ke dalam pantainya. 


Suasana pagi itu cukup ramai oleh pengunjung yang sama-sama lagi menghabiskan akhir pekan bersama keluarga tercinta. Setelah kendaraan aman, kami berjalan kaki menuju pantai. Dari depan masih terlihat sama seperti terakhir saya kesini. Tapi setelah memasuki area pantai. Ada yang sedikit berubah. 


Dermaga pelabuhan sudah direnovasi. Banyak fast boat yang bersandar disini menunggu jam keberangkatan. Oh ya, dermaga ini sudah dioperasikan setiap hari untuk melayani penyeberangan Senggigi menuju Pelabuhan Padangbai, Gili Trawangan dan Nusa Lembongan (pulang pergi). 


Bila kita ingin menggunakan fast boat atau kapal cepat menuju Bali, bisa melalui Senggigi. Operator yang melayani penyeberangan ini cukup banyak, salah satunya yaitu KM Eka Jaya. Selain itu ada beberapa operator lainnya dengan harga tiket yang beragam. Kisarannya yang saya ketahui dari 450 ribu hingga 650 ribu. Lebih jelasnya kalian bisa cek di website masing-masing. 


Pas kami tiba di pantai, suasana ramai sekali. Yang berbeda dari pantai ini selain dermaga yang semakin cakep yaitu gak ada lagi perahu-perahu nelayan yang terparkir di pinggir pantai. Jadinya agak lengang kalau kita ingin bersantai menikmati suasana pantai sambil cuci mata. 


Anak-anak sudah gak sabaran mau main pasir dan air. Tapi saya dan istri, mengajak mereka dulu berjalan menuju salah satu spot cakep untuk menikmati view. Kurang lebih seratus meter berjalan kaki menyusuri jalanan stapak yang sudah tertata rapi. 







Kami menuju ke Matta Siput, salah satu spot favorit saya kalau datang ke Pantai Senggigi. Kalau dilihat dari atas pesawat, Matta Siput ini berbentuk seperti kepala siput dengan dua sungutnya. Bisa dibilang spot ini merupakan tanjung kecil di sudut Pantai Senggigi. 


Dari sini kita bisa melihat perbukitan hijau, Kota Mataram dari kejauhan, ujung pulau Lombok paling barat, Pulau Nusa Penida dan Gunung Agung di Bali. Aktivitas yang bisa kita lakukan disini yaitu duduk santai di atas undakan tangga yang sudah di paping blok sambil makan kacang rebus dan ngopi. Yang hobi mancing, kalian juga bisa mancing dan surfing disini karena ombak disini lumayan besar. Terlihat batu karang dari permukaan air laut yang berwarna gradasi biru dan hijau. 


Yang paling cakep lagi, spot ini persis di depannya Hotel Merumatta. Buat kalian yang menginap di Merumatta sangat beruntung karena bisa langsung ke spot ini tanpa ada drama ketinggalan moment sunset. Cukup buka pintu kamar, lalu berjalan kaki beberapa langkah. Kalian sudah berada di salah satu spot cakep buat menikmati sunset. 


Sayangnya kami datangnya pagi hari, jadinya gak sampai sore disini. Next time, ajak anak istri buat kesini lagi. Btw, berhubung angin cukup kencang dan khawatir anak-anak masuk angin, kami memutuskan puter balik menuju dekat dermaga. 


Rencananya mau duduk santai sambil menemani anak-anak main pasir dan air. Kami cukup menyewa tikar untuk duduk biar pantat gak kotor. Untuk sewanya cukup 10 ribu saja dan dipakai sepuasnya. Sampai malam pun boleh asalkan gak dibawa pulang saja tikarnya. 


Selain itu ada juga yang menawarkan sewa life jacket buat berenang di pantai atau bermain banana boat dan kano. Untuk sewanya saya kurang tau ya karena gak nanyak juga. Disini juga kita bisa bermain jetsky. Pastinya mahal nih sewanya.






Karena kali ini temanya liburan paket hemat, jadi kami hanya bersantai dan menemani anak-anak saja. Selain itu kami memesan masakan khas Lombok. Apa itu?. Ya bener, Sate Bulayak. 


Sate Bulayak merupakan salah satu kuliner khas Lombok yang menawarkan perpaduan rasa gurih, pedas, dan aroma rempah yang cukup kuat. Sekilas memang terlihat seperti sate pada umumnya, tetapi yang membuatnya berbeda adalah cara penyajian serta pasangan uniknya, yaitu bulayak.


Bulayak adalah lontong khas Lombok yang dibungkus menggunakan daun aren atau daun kelapa dengan bentuk memanjang dan sedikit berpilin. Untuk menikmatinya, kita harus membuka pembungkusnya terlebih dahulu, kemudian menyantapnya bersama potongan sate dan siraman bumbu khasnya.


Sate yang digunakan biasanya berupa daging sapi atau jeroan, meskipun di beberapa tempat terdapat variasi lainnya. Dagingnya dipotong kecil-kecil, ditusuk menggunakan tusukan bambu, lalu dibakar hingga matang. Aroma sate yang sedang dibakar menjadi salah satu hal yang cukup menggoda, apalagi saat disantap langsung dalam keadaan masih hangat.


Dari dulu kalau mau makan Sate Bulayak, kita bisa ke Pantai Senggigi. Tapi sekarang sudah banyak tempat yang menjual masakan khas Lombok yang terkenal ini. Perpaduan aneka rempah di bumbunya yang menarik kita untuk pengen makan lagi. Harganya kisarab 25 ribu -35 ribu (tergantung tempat). Porsinya juga cukup banyak dan mengenyangkan. 


Paling enak lagi habis makan Sate Bulayak, kita bisa memesan kelapa muda yang segar. Namanya kalau sudah di pantai, pastinya banyak penjual kelapa muda. Apalagi di Lombok yang banyak memiliki pohon kelapa di sepanjang pantainya. 


Karena akhir pekan, pengunjung yang datang ramai sekali. Meskipun suasana ramai, tapi kami masih bisa menikmati pantai dengan pasir putih yang lembut, gradasi hijau biru air laut, angin sepoi-sepoi dan yang paling saya sukai disini yaitu kita bisa melihat fast boat yang akan nyandar di dermaga. Jadi pengen naik kapal cepat ini ke Bali. 


Selain fast boat, ada juga privat boat yang bisa kalian sewa menuju beberapa pantai yang ada di sekitaran Senggigi dan ada juga yang menyewa untuk nyeberang ke Gili Trawangan. Biasanya sih tamu bule yang pakai jasa ini karena pastinya harga sewanya mahal. 




Gak terasa, sudah tiga jam kami main air. Tapi masih betah juga lama-lama disini. Enaknya di Pantai Senggigi ini gak panas karena banyak pohon-pohon rindang dan pohon kelapa yang menjulang tinggi di sepanjang pantai. So, pengunjung sangat nyaman bersantai disini. 


Pantai Senggigi sekarang sudah tertata rapi dan bersih. Penjual souvenir dan Sate Bulayak sudah ditempatkan di tempat yang sudah disediakan oleh pengelola. Dermaga pelabuhan fast boat juga sudah cakep. Untuk jadwal fast boatnya cukup banyak dari pagi hingga sore hari. Jadinya rame banget fast boat silih berdatangan dan berangkat menuju Bali dan Gili Trawangan. 


Kerennya lagi disini gak ada para penjual souvenir yang resek dan memaksa pengunjung untuk beli barang dagangannya seperti di kawasan pantai lainnya. Over all, buat kalian yang sedang merencanakan berlibur ke Lombok dan masih bingung mau menginap dimana, kalian bisa memilih Senggigi sebagai tempat untuk berlibur. Tapi kembali lagi ke selera ya. 


Penulis : Lazwardy Perdana Putra