Sunday, 3 May 2020

Melihat Tumbuhan Kaktus di Kebun Raya Bedugul



Berbicara tentang Pulau Bali saat ini, kita pasti sangat merindukannya. Begitu juga dengan daerah lain yang memiliki keindahan alam yang sungguh mempesona. Mau ke Bali ?. Kita tunda dulu sampai wabah Covid-19 pergi dari negara kita tercinta, Indonesia. Bersabar dulu gak ngetrip sampai kondisi aman dan tenang.

Untuk mengobati rasa rindu kita dengan Pulau Bali, saya masih menyimpan beberapa foto yang belum sempat dituliskan di blog. Baru kali ini ada kesempatan untuk menceritakannya.So,cerita ini udah setahun yang lalu dan menurut saya masih seru untuk diceritakan. Hitung-hitung mengobati rasa rindu untuk ngetrip. Tapi saran saya, buat kalian yang gampang baperan, saya gak sarankan untuk membaca ini cerita karena kebanyakan foto-fotonya kemesraan saya bareng istri, hehehe. 

Buat saya Pulau Bali itu tujuan ngetrip favorit banget. Disamping sangat dekat dengan Pulau Lombok, untuk mengatur waktu ngetrip dan touring ke Bali sangat simple. Pas bujang dulu, biasanya kalau weekend atau tanggal merah, saya pasti ngetrip ke Pulau Bali. Nah, setelah menikah saya gak mau ambil pusing mau jalan-jalan kemana bareng istri. Langsung saja kami berdua memutuskan untuk berlibur ke Pulau Bali beberapa hari. 

Bisa dibilang ngetrip ke Bali saat itu dadakan banget. Itupun ngetripnya hari Sabtu dan Minggu. Hanya dua hari saja di Bali, tapi beberapa destinasi wisata bisa kita datangi. Salah satunya Kebun Raya Bedugul, Bali. Niat saya dulu jauh sebelum bertemu dengan istri, kalau besok sudah nikah, saya bakalan datang kesini lagi bareng istri. So, niatan tersebut terkabul beberapa tahun kemudian.

Untuk kalian yang belum membaca cerita saya ke Kebun Raya Bedugul pas masih bujang, bisa klik disini : Menikmati Kesejukan Kebun Raya Bedugul .




Waktu untuk berangkat ke Bali kami memilih waktu malam hari. Sekitar jam sembilan malam kami berdua menuju Pelabuhan Lembar, Lombok Barat menggunakan motor. Motor adalah pilihan yang tepat untuk jalan-jalan ke Bali. Memakan waktu satu jam dari rumah, kami sudah sampai di Pelabuhan Lembar. Suasana pelabuhan di malam hari cukup ramai oleh sepeda motor dan truk. Orang-orang lebih suka berangkat malam ke Bali karena sampai di Bali keesokan paginya. Arus laut juga lebih tenang di malam hari dibandingkan siang atau sore hari. 

Setelah membeli tiket seharga 128ribu rupiah untuk kendaraan roda dua kurang dari 250cc, kami langsung menuju antrian kendaraan. Saat itu kami menunggu kapal selanjutnya. Gak menunggu lama, akhirnya kami masuk ke dalam kapal feri. Jadwal penyeberangan Lombok-Bali ini 24 jam. Jadi gak perlu khawatir ditinggal si feri, eh kapal feri maksudnya. 

Waktu tempuh penyeberangan dari Pelabuhan Lembar ke Pelabuhan Padangbai di Bali, memakan waktu empat hingga lima jam kondisi normal. Tergantung cuaca dan kapal juga. Ada kapal feri yang cepat dan ada juga yang lambat. Belum lagi cuaca di tengah laut yang terkadang gak menentu. Apapun itu saya dan istri sangat menikmati setiap perjalanan yang kami lalui,asyik.

Sekitar jam sebelas malam, kapal feri yang kami naiki mulai meninggalkan Pelabuhan Lembar. Syukurnya, kami mendapatkan kapal feri yang lumayan keren dan besar. Jadi gak perlu khawatir bila dihantam gelombang di tengah laut nanti. Hampir di dalam pelayaran, kami berdua menghabiskan waktu dengan tidur biar paginya seger dan gak ngantuk di jalan.  

Saya terbangun saat mendengar suara bel kapal yang menandakan kapal akan segera sandar di dermaga Pelabuhan Padangbai. Langit sudah berwarna kemerahan dan Pelabuhan Padangbai sudah terlihat di depan mata. Kami berdua segera bersiap-siap menuju area parkir kendaraan yang berada di lantai dasar kapal. Penumpang lainnya juga sibuk dengan persiapan mereka. Ada juga yang masih tertidur pulas dan masih melaksanakan Shalat Subuh. Waktu menunjukkan jam setengah enam pagi. Alhamdulillah sampai Bali sesuai dengan target waktu.

Tujuan kami selanjutnya menuju daerah Bedugul. Kurang lebih dua jam perjalanan dari Pelabuhan Padangbai. Target jam sembilan pagi sampai di Bedugul. Setelah turun kapal, kami langsung menuju Bedugul melalui jalur Denpasar. Sengaja melewati Denpasar untuk beristirahat sarapan pagi disana. Selesai sarapan dan bersih-bersih, lanjut ke arah Bedugul. Cuaca pagi sangat cerah. Perjalanan ke Bedugul juga sangat lancar. Melewati area perkebunan dan persawahan, apalagi menjelang sampai di Bedugul, kami melalui jalan yang berkelok-kelok dan menanjak. Jauh mata memandatang terlihat bukit-bukit hijau dan vila. Kece !.

Di pertigaan tugu jagung, ada gapura bertuliskan Kebun Raya "Eka Karya" Bedugul. Gak jauh lagi kami sampai di tujuan. Sekitar satu kilometer dari tugu jagung, kami sampai di Kebun Raya "Eka Karya" Bedugul. Kebun Raya ini letaknya gak jauh dari dari Danau Beratan dan Pura Ulun Danu. Ini kedua kalinya saya datang ke Kebun Raya Bedugul. Datang pertama belum semua diexplore saking luasnya kebun raya ini. Datang kedua kali ini, gak mau menyia-nyiakan kesempatan donk, hehehe. 






Kenapa disebut Kebun Raya " Eka Karya " ? 

Eka berarti satu, sedangkan Karya berarti hasil. Jadi pengertian dari Kebun Raya  "Eka Karya " yaitu kebun raya satu-satunya hasil dari pemikiran anak bangsa pasca kemerdekaan Republik Indonesia. Kebun Raya "Eka Karya" Bali, Bedugul secara resmi dibuka pada tanggal 15 Juli 1959, waah ini orang tua saya  belum lahir,hehehe.

Kebun Raya Bali Bedugul, nama aslinya yaitu Kebun Raya "Eka Karya" Bali. Tapi masyarakat setempat lebih sering menyebutnya dengan sebutan Kebun Raya Bali, Bedugul karena letaknya memang di daerah Bedugul.

Kapan sih Kebun Raya "Eka Karya" Bali ini dibuka ?. Berbicara soal sejarah kapan kebun raya kece ini dibuka, dari beberapa tulisan di media sosial yang terpercaya, Kebun Raya Bali ini dibangun berawal dari ide Prof. Ir. Kusnoto Setyodiwiryo sebagai Presiden dari Badan Pusat Penelitian Lingkungan sekaligus menjadi kepala dari kebun-kebun raya yang ada di Indonesia. Bersama dengan I Made Taman sebagai Kepala Badan Konservasi Lingkungan dan Pelestarian, untuk membuat sebuah kebun raya di luar Pulau Jawa dan pilihan yang tepat yaitu di Pulau Bali.

Kenapa lokasinya dipilih di daerah Bedugul ?. Daerah Bedugul merupakan daerah yang bersuhu sejuk dan beberapa tanaman hutan hujan tropis cocok sekali tumbuh disini. Kalau siang suhunya berkisaran 15 - 25 derajat Celcius sedangkan malam hari antara 10- 15 derajat Celcius. Memiliki kelembapan antara 70 - 90 %. Ketinggian dari daerah ini juga sekitar 1250 - 1450 mdpl. Jadi itulah beberapa pertimbangan kenapa Bedugul dijadikan lokasi untuk dibangun kebun raya seperti Kebun Raya Bogor, Jawa Barat.

Kebun Raya "Eka Karya" Bali dibangun dengan luas mencapai 157,5 hektar. Jadi gak kebayang begitu luasnya kebun raya ini. Perlu tenaga yang banyak bila ingin mengexplore kebun raya ini dengan berjalan kaki. Siapkan juga payung dan jaket hangat karena disini cuaca gak menentu, kadang hujan, cerah dan berkabut (dingin pool).

Sebagai tempat konservasi tanaman hutan hujan tropis yang sangat cocok hidup di suhu sejuk, penelitian, pengamatan beberapa jenis burung yang hidup di area kebun raya dan sebagai tempat rekreasi. Ada sekitar 2000 jenis tanaman yang hidup disini dan merupakan kebun raya yang memiliki beragam jenis tanaman terlengkap di Indonesia.








Banyak sekali hal yang bisa kita lakukan. Bersantai sejenak di sebuah taman rerumputan bersama keluarga sambil mendirikan tenda, berkumpul di bawah pohon yang sangat rindang. Ada juga kegiatan outbond disini. Jadi sangat rekomended banget untuk acara keluarga, kantor dan reunian sambil mengexplore kebun raya kece ini

Dari area parkir kendaraan, setelah membeli tiker seharga sembilan ribu per orang, kami berjalan menuju patung Rahwana yang sedang berkelahi dengan pasukan Hanoman (koreksi bila salah). Sempat foto-foto sejenak sambil menghirup udara yang sangat sejuk dan bersih. Setelah itu kami berjalan menuju taman yang sangat luas, dikelilingi oleh pohon-pohon cemara yang jenisnya kita bisa temukan di kebun raya ini saja. Mata kami dimanjakan dengan hijaunya rerumputan dan deretan pepohonan. Rasa capek tiba-tiba hilang setelah berada disini. Ingin rasanya berlama-lama disini.

Kebun Raya Bedugul yang saya lihat saat pertama kali sebelumnya, gak ada yang berubah. Masih tetap seperti Kebun Raya Bedugul sebelumnya. Berhubung saat datang pertama kali kesini, sudah kesorean. Jadi, gak bisa mengexplore lokasi lainnya di kebun raya ini.

Bisa dibilang ini kelanjutan kunjungan saya sebelumnya ke Kebun Raya Bedugul. Ada dua lokasi yang buat saya penasaran untuk melihatnya yaitu Taman Kaktus dan Anggrek. Meskipun gak ahli dalam kedua-duanya, saya penasaran untuk melihat-lihat jenis kaktus dan anggrek yang ada di kebun raya ini. 




Ada kurang lebih 68 jenis tumbuhan kaktus yang ada di Taman Kaktus Kebun Raya Bedugul. Tumbuhan ini berasal dari Amerika dan Meksiko. Tumbuhan Kaktus yang bisa hidup di udara panas memiliki 2000 spesies dan 300 genus. Beberapa diantaranya ada di Kebun Raya Bedugul. 

Saya sering melihat jenis tumbuhan ini di salah satu film kartun, Si Oscar. Kadal jenius yang memiliki seribu akal. Sering lihat juga di film-film Koboi yang sedang naik kuda di tanah yang tandus dan panas. Di rumah juga ada beberapa tumbuhan kaktus yang ditaruh di pot-pot kecil. 

Ada bentuknya bundar dengan duri yang cukup panjang, ada yang memiliki batang panjang dengan berbentuk duri yang lembut, dan ada juga jenis kaktus yang berukuran kecil dan raksasa. Semuanya ada di Kebun Raya Bedugul. Spot selfiean juga sangat cocok disini. Kami gak membuang kesempatan untuk foto-foto disini. 

Lokasi kedua selanjutnya yaitu Taman Anggrek. Tapi sangat disayangkan, waktu kami datang tanaman anggreknya belum berbunga. Bisa dibilang gak ada sama sekali  anggrek yang bermekaran. Jadi kami hanya berkeliling saja dan melihat-lihat para petani anggrek sedang  melakukan tugasnya menyemprot tanaman anggrek yang belum berbunga. Saya kurang tau waktu yang pas datang kesini untuk melihat anggrek yang sedang bermekaran. Mungkin teman-teman yang kebetulan membaca tulisan saya ini bisa membatu menjawab di kolom komentar. Ditunggu ya, Terimakasi. 

Gak terasa kami sudah dua jam lebih berkeliling di Kebun Raya Bedugul. Masih banyak tempat lainnya yang belum kami kunjungi. Memang ya tempat ini sangat luas sekali. Mungkin harus menginap disini kali ya biar bisa mengexplore tempat-tempat lainnya.

Next time, ada kelanjutan dari cerita saya kali ini. Mungkin nanti bareng si kecil ke Kebun Raya Bedugul. Ceritanya sudah dulu ya. Semoga kita selalu diberikan kesehatan dan wabah Covid-19 segera berlalu biar kita bisa jalan-jalan lagi, Amin.


Penulis : Lazwardy Perdana Putra


Thursday, 23 April 2020



Hallo para pembaca setia Lazwardy Journal !. Sehat-sehat kan, Pasti sehat dong. 

Gak terasa ya bentar lagi kita akan kedatangan bulan yang ditunggu-tunggu yaitu Bulan Suci Ramadhan. Meskipun saat ini kita masih diselimuti rasa cemas dan was-was oleh Virus Corona, tapi saya yakin kalian semua tetap semangat untuk hidup bersih dan menjaga diri dari penularan virus ini. Intinya hindari keramaian, jangan keluar rumah bila gak mendesak, cuci tangan pakai sabun atau handsanitizer, dan terpenting pakai masker guys !. 

Di rumah bukan berarti berdiam diri seharian di rumah saja. Perlu juga keluar untuk kerja (bagi orang kantoran), membeli kebutuhan sehari-hari, ambil duit di ATM kalau isi dompet kosong, beli makan terus bawakan ke rumah si doi, atau numpang makan di rumah si doi mungkin. Apapun kegiatan kalian di luar rumah, tetap selalu jaga kebersihan tangan dan badan ya guys.






Mumpung kalian yang lagi keluar untuk nyari makan atau minum yang seger-seger, ada nih saya rekomendasikan tempatnya. Namanya Sel Sel Cheese Tea Mataram. Tempatnya sih sudah lama buka, hampir setahun. Bukan kebetulan sih, ini saya diberitau oleh adek saya yang terlebih dulu mencoba minuman ini. Kepoin instagramnya, kok jadi penasaran ya. Yasudah, ada waktu senggang, saya langsung capcus ke lokasi.

Alamatnya di Jalan Pemuda no.2, Gomong Lama. Tepatnya di depan Alfamart Gomong Lama. Sebuah kedai kecil dengan desain kontainer gitu. Desainnya instagram banget, anak muda banget seperti saya ini (inget woi sudah punya anak satu!).

Minuman franchise yang satu ini sedang digemari oleh anak-anak muda. Kalau kalian nongkrong lama disini, pasti banyak anak-anak muda yang beli. Bagi yang jomblo, bisa tempat nyari jodoh disini. Buat yang masih jomblo lhoo ya, ya sudah punya pasangan jaga pandangan mata guys.

Kalian tenang juga, disini terbebas dari virus lhoo ya. Tempatnya bersih, ada handsanitizernya juga yang disediakan, bahkan penjualnya juga pake masker pas melayani pembeli. Ini penting, mengingat saat ini situasinya banyak orang bawa virus yang berkeliaran di jalan.

Sudah capek basa basinya, yuuk kita cobain menu minumannya satu-satu !. Sel Sel Cheese Tea menawarkan beberapa jenis minuman yang sangat berbeda dari para kompetitor lainnya. Dijamin seger dan ketagihan.

 Scarlet Dream (10K)

Lychee Yakult (10K) 

Strauberry Yakult (10K) 

Manggo Yakult (10K)

Banyak menu minuman yang tersedia, antara lain; Sunset Original Tea (10K), Joyfull Greentea (10K), Modness Choco (10K), Purple Rain (10K), Coffee Smack (10K), Mermold Blue (10K), Scarlet Dream (10K), Sky Marine (10K), dan Fully Black (10K). Bila ingin menambahkan cheese cream ada biaya tambahan 3K.

Ada lagi menu lainnya, seperti Lychee Yakult (10K), Strauberry Yakult (10K), dan Mango Yakult (10K). Sama, kalau mau nambah cheese cream sebagai toping, ada biaya tambahan 3K. Selain itu ada menu selain tea yaitu coffee. Banyak menu coffee disini yang bisa kita pesan. Harganya pun terjangkau guys. Sambil nongkrong di kedai Sel Sel Cheese Tea, jangan lupa ngopi dan ngeteh guys.



dapat kupon berisikan 9 point

Sudah lebih dari satu kali saya mampir untuk nyicipin beberapa menu teanya. Nah, terakhir kali saya datang kesini, saya penasaran pengen nyobain menu coffeenya. Kata si pemilik kedai ini sih, dia baru-baru belajar dunia perkopian. Dan menu coffee ini tergolong baru. So, saya nyobain yang Coffee Gula Aren seharga 14K. 

Sebenarnya yang favorit saya banget yaitu Manggo Yakult. Kalian cobain deh, saya susah mengungkapkan dengan kata-kata, asyik. Minuman ini paling seger dan bikin mata melek. Sensasi asem dan seger. Mantap dah dan rekommended buat kalian coba. 

Lanjut !.

Sambil menunggu, saya duduk santai sambil melihat proses pembuatan coffeenya. Coffee Exsfreso Fresh ditambah susu dan gula aren. Alat yang digunakan bernama Rok Exsfreso. Denger-denger sih alatnya seharga 3 jeti (3 juta), Gilaaa amat ada alat buat coffee seharga segitu. Alat canggih pasti rasa juga menjanjikan. Kita tunggu saja hasil buatan Coffee Gula Arennya.

Gak perlu nunggu lama, pesanan saya sudah jadi. Sedotan pertama, mata langsung terang. Seger minum es coffee pakai gula aren lagi di siang hari. Mata yang tadinya ngantuk, jadi ilang. Rasa hampir mendekati coffee gula aren dari kompetitor yang namanya sudah besar (gak perlu disebut disini).

Informasi tambahannya, kalian bisa kepoin akun instagramnya ya di @selselcheesetea.mtrm. Buat jam buka selama Bulan Ramadhan yaitu dari jam 4.30 sore sampai 10 malam ya guys. Satu hal lagi, setiap pembelian kalian bakalan dapat kupon yang berisikan point. Beli satu dapat point satu. Setelah terkumpul 9 point, kalian dapat gratis satu minuman free. Kece kan !.

Pokoknya kalian gak bakalan kecewa soal rasa dari Sel Sel Cheese Tea ini (bukan endorse lhoo ya). Cocok juga menjadi pilihan menu minuman kalian untuk berbuka puasa. Yuuk dicoba, jangan sampai ketinggalan. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Saturday, 18 April 2020

Mengemban Misi Kemanusian Bersama Hercules TNI-AU A-1316


Ada hal yang menarik ketika saya dan rombongan kantor mendampingi ibu bos ke Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (Eks.BIL), Lombok Tengah dalam rangka menjemput sejumlah bantuan Alat Pelindung Diri (APD) dari Gugus Tugas Pusat Krisis. Bukan mengenai logistiknya, tapi yang membawa logistik dari Jakarta tersebut.

Sebuah pesawat berbadan lebar bernama Hercules yang landing membuat saya takjub. Sudah lama gak melihat secara dekat pesawat yang menjadi kebanggaan TNI ini. Bisa mengangkut barang dalam jumlah banyak, bahkan bisa mengangkut mobil dan alat perang lainnya. Keren kan !. 

Yuk kita kenalan dulu dengan Hercules TNI AU A-1316 !

www.kaskus.com



Profil Hercules TNI-AU A-1316

Pesawat ini merupakan Hercules berjenis C-130 yang berasal dari Amerika Serikat. Dimana C-130 merupakan pesawat terbang bermesin empat turboprop sayap tinggi (high wing) yang bertugas sebagai pesawat angkut militer utama untuk pasukan militer di banyak bagian dunia. Memiliki kemampuan mendarat dan lepas landas di landasan pendek atau darurat. Awalnya pesawat ini sebagai pengangkut tentara dan pesawat kargo yang sekarang ini digunakan untuk berbagai macam peran termasuk airbone, pengamatan cuaca, infantri, pengisian bahan bakar di udara, pemadam kebakaran udara, dan ambulance udara. Sejarahnya sangat panjang sekali dan kalian bisa bacanya di berbagai macam sumber ya. Saya gak menuliskan sejarahnya secara detail disini. Oke.

Sudah lebih dari 40 model Hercules yaitu beberapa kapal senapan dan juga digunakan lebih dari 50 negara. Melayani lebih dari 50 tahun. Tipe C-130 sudah menciptakan rekor yang baik untuk kehandalan dan daya tahannya, berpartisipasi dalam militer, sipil dan bantuan kemanusiaan (sumber : id.wikipedia.org).

Bisa baca juga : KRI dr. Soeharso 990

Pesawat Hercules A-1316 ini merupakan Hercules Tipe C-130H yang dibeli pada tahun 80-an oleh Indonesia. Tiga C-130H (A-1315, A-1316 dan A-1323), Satu unit C-130MPH (A-1322), dan Tujuh unit C-130HS (A-1317, A-1318, A-1319, A-1320, A-1321, A-1322, A-1324, A-1341), dan Satu unit L-100-30 (A-1314). Pusing kan bacanya, bisa-bisa jadi soal ujian Mata Pelajaran Sejarah kalian nih disaat Work from Home (WFH) nih.

Hingga saat ini Indonesia sudah mengoperasikan 28 unit C-130 Hercules dan terbanyak di belahan dunia. Denger-denger juga masih menunggu kedatangan 9 unit Hercules lagi nih, jadi totalnya bisa mencapai 37 unit. Mantap Jiwa, Kece banget !.

Itu dia sedikit profil ala kadarnya dari pesawat Hercules TNI AU A-1316 yang saya baca di berbagai sumber. Kalau ada yang keliru dari informasi di atas, mohon dikoreksi ya. Terimakasi. 





Sesuai jadwal yang diinfokan oleh Gugus Tugas Provinsi NTB, pesawat Hercules akan tiba di BIZAM sekitar siang hari. Kami dari kantor mulai berangkat sekitar jam sebelas siang. Awalnya ada cerita lucu. Kami diberitahukan kalau pesawat Hercules akan landing di Bandara Selaparang, Kota Mataram. Agak sedikit seneng juga karena gak terlalu jauh dari kantor. Ternyata eh ternyata, ada sedikit kesalahan informasi. Pesawat Hercules akan landing di BIZAM, Lombok Tengah.

Sudah bawa tiga mobil. Dua mobil pick up untuk angkut logistik. Soalnya kata ibu bos, kita akan mengangkut sekitar 200 koli APD. Saya bayangin, gimana rupanya ngangkut 200 koli dengan dua mobil pick up yang berukuran sedang. Bisa-bisa gempor ini badan ngangkat ratusan koli. Hahahaha.

Berhubung salah alamat, kami berangkat dari Bandara Selaparang menuju BIZAM. Denger-denger informasi juga, pesawat Hercules sudah lepas landas dari Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta. Sekitar dua jam lagi pesawat akan tiba di Lombok. Oke lanjut ke BIZAM !.

Sepanjang perjalanan saya perhatikan sudah agak sepi kendaraan yang melintas di By Pass Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid. Biasanya kendaraan baik bus Damri maupun travel sangat ramai melintas. Agak sedih sih lihatnya. Lombok yang sudah mulai ramai lagi oleh wisatawan pasca Gempa Lombok tahun 2018 lalu. Sekarang sepi lagi gara-gara Covid-19. Semoga wabah ini cepat berlalu, Amin.

Sekitar satu jam perjalanan, akhirnya kami tiba di BIZAM. Sempetin makan siang dulu di salah satu rumah makan sekitar bandara. Setelah itu baru ke posko Gugus Tugas yang berada di bandara. Disana kami diperkenankan untuk masuk ke dalam area parkir pesawat. Terlihat sudah banyak yang menunggu kedatangan sang Hercules. Ada dari TNI AU, BPBD dan Dikes Provinsi NTB. Bahkan tim dari BPBD sudah menunggu dari jam delapan pagi. Busyet dah !.

Cuaca cukup cerah dan untungnya angin cukup kencang. Jadi gak terlalu panas. Gak lama menunggu sekitar sepuluh menitan, Sang Hercules mendarat dengan mulus di BIZAM. Kita semua langsung berbondong-bondong masuk ke dalam area parkir pesawat. Pesawat sudah terlihat dengan gagahnya. Ada perasaan haru bahagia gak disangka saya mendapatkan moment seperti ini. Kapan lagi melihat Hercules dari dekat.









Setelah pesawat berhenti dengan sempurna, baru pintu pesawat dibuka dan seluruh tim baik dari TNI dan BPBD dengan segera mengangkut 10 ribu APD ke dalam truk pengangkut. Gak lupa ada acara serah terima juga. Diserahterimakan oleh Komandan Pangkalan Udara Zainuddin Abdul Madjid, Kolonel Penerbang Andry Gandhy kepada Kalak BPBD NTB dan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat beserta rombongan (termasuk saya). Dimana nanti 10 ribu APD tersebut akan dibagikan kepada Puskesmas se-Kabupaten dan Kota yang ada di Provinsi NTB.  

Disini ada yang lucu juga. Kami gak pakai pakaian dinas, hanya menggunakan kaos dan celana jeans. Sedangkan ibu-ibu bos pakai kaos Germas, hahaha. Tapi gak ada orang yang syirik saat itu karena bisa dibilang kami menjadi pengawal ibu-ibu bos.hahahaha (mirip seperti preman pasar, hahaha).

Syukurnya semua APD diangkut di truk-truk dari BPBD Prov.NTB  dan TNI yang berukuran besar. Jadi kami gak bawa oleh-oleh pulang ke kantor. Nanti APDnya tinggal kami ambil di kantor BPBD Prov.NTB.

Yang menjadi perhatian saya sih bukan APD-nya, tapi pesawat Hercules TNI AU A-1316 yang sungguh gagah di angkasa. Sejak kecil saya sangat suka dengan moda transportasi umum salah satunya pesawat. Tapi gak pernah ada keinginan jadi seorang pilot. Hanya sebagai penikmat dan penulis review moda transportasi saja.

Kapan lagi ya bertemu dengan pesawat Hercules lagi ?. Next Time, Amin

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Thursday, 9 April 2020

Menikmati Penyeberangan di Selat Bali


Sudah hampir setahun berlalu dan saya masih merasakan keseruan di sepanjang perjalanan Lombok - Banyuwangi melewati jalanan Pulau Bali yang penuh lika-liku. Menggunakan motor Nmax kesayangan, menambah perjalanan saya bersama istri semakin seru dan kece.

Ini pertama kalinya saya mudik ke Jawa, ke kampung halaman istri tercinta. Sejak menikah, kami berdua memang merencanakan untuk merayakan Idul Fitri di Banyuwangi. Sekalian berbulan madu di salah satu kabupaten paling ujung timur dari Provinsi Jawa Timur yang memiliki berbagai destinasi wisata alam yang sudah sangat terkenal seperti ; Kawah Ijen, De Djawatan, Baluran dan masih banyak lagi.

Sudah setahun berlalu, tapi cerita perjalanan masih terbayang. Dari Lombok berangkat malam hari, bawa motor ngantuk-ngantuk karena gak tidur di kapal, akhirnya tidur sebentar di masjid dekat pelabuhan Gilimanuk dan akhirnya sampai juga di Rogojampi. Salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Banyuwangi. Gak sabar ingin menceritakan cerita ini di dalam tulisan blog. Yuk ikutin sampai cerita ini selesai !.






Berangkat dari rumah (Kota Mataram,Lombok) sekitar jam delapan malam. Sehabis berbuka puasa saya dan istri sudah bersiap-siap berangkat. Kali ini kami berdua gak berlebaran bareng dengan keluarga besar di Lombok. Ini pertama kalinya saya akan berlebaran dengan keluarga besar istri di Banyuwangi. Sedih gak lebaran bareng papa mama sih gak juga. Kan masih bisa video call lewat whatsapp. Memanfaatkan tehnologi lah jaman sekarang.

Kami gak hanya berdua saja, tapi ada bapak ibu mertua dan adek ipar yang juga berangkat. Mereka menggunakan mobil, sedangkan saya dan istri motoran. Sambil menyelam minum air. Sekalian mudik, gak ketinggalan touringnya dong. Kebetulan saya dan istri punya hobi touring. 

Sudah lama juga, saya menunggu moment ini. Kapan lagi bisa touring ke Banyuwangi bareng istri. Dulunya gak ada kepikiran bakalan touring ke Banyuwangi sendirian. Eh, akhirnya dikasi jodoh orang Banyuwangi. Disini saya merasakan namanya kalau sudah rezeki gak bakalan kemana. Bener gak ?.


Saya percepat saja ceritanya karena saya akan fokus menceritakan suasana di atas kapal fery penyeberangan di Selat Bali. Sengaja mengambil jam malam dari Lombok biar nantinya sampai di Banyuwangi gak kemalaman. Perjalanan yang kami tempuh dari Lombok ke Banyuwangi kurang lebih dua belas jam. Menyeberangi dua pulau dan dua selat.  

Pelayaran dari Pelabuhan Lembar ke Pelabuhan Padangbai, Bali memakan waktu normal empat jam saja. Berhubung penyeberangan malam, saya dan istri habiskan untuk tidur saja. Mau lihat pemandangan juga gak bisa karena gelap gulita. Hanya terlihat lampu-lampu perahu nelayan yang sedang menangkap ikan di tengah laut.

Sesampai di Pelabuhan Padangbai sekitar jam enam pagi. Kami berdua melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Gilimanuk yang berada di ujung barat Pulau Bali memakan waktu sekitar lima jam perjalanan (bawa motor santai). Alhamdulillah, kami gak bertemu dengan kemacetan sepanjang jalan di Pulau Bali. Sampai di Pelabuhan Gilimanuk sekitar jam sebelas siang. Masih banyak waktu untuk beristirahat sejenak sambil menunggu mertua yang berada di belakang kami.

Akhirnya kami memutuskan untuk istirahat sejenak di Masjid Agung, Gilimanuk. Lokasinya sekitar seratus meter dari Pelabuhan Gilimanuk. Kami tertidur di teras depan masjid karena sudah ngantuk berat. Mana sedang berpuasa lagi. Kurang lebih dua jam beristirahat sambil melaksanakan shalat dzuhur disini, kami melanjutkan perjalanan. Antrian memasuki kapal fery di Pelabuhan Gilimanuk ramai lancar. Kalau gak salah seminggu sebelum Idul Fitri alias baru hari pertama waktu orang mudik. Banyak kendaraan roda dua yang mengantri. Gak terlalu lama menunggu, akhirnya kami memasuki kapal fery. Kapal ferynya lumayan bagus. 






Cuaca di Selat Bali cukup cerah meskipun angin lumayan kencang. Arus lalu lintas penyeberangan juga sangat lancar. Cukup ramai para pemudik baik dari Bali mau ke Jawa, begitu sebaliknya. Paling banyak para pemudik yang menggunakan kendaraan roda dua. Apalagi di jaman sekarang, roda dua menjadi pilihan favorit untuk mudik. Biaya cukup murah, efisien dan lebih cepat sampai. Kurangnya sih, gak bisa bawa banyak barang seperi kulkas dua pintu atau lemari pakaian, hahahaha.

Kami berdua sudah di atas kapal. Kapal yang kami tumpangi bernama KMP Rheni II. Ukuran kapalnya sih gak terlalu besar tapi sangat nyaman. Suasana di dalam kapal sangat ramai. Syukurnya kami dapat tempat duduk. Ruang penumpang ada dua macam. Ada ruang VIP/indoor ber-AC dan ruang ekonomi (outdoor). Kami berdua memilih untuk duduk sambil bersantai di outdoor saja. Lebih sejuk, kena AC alami dan pengen menikmati perjalanan intinya. Fasilitas di KMP Rheni II menurut saya sangat oke. Toiletnya cukup bersih, kursi atau bangkunya juga sudah direnovasi. Cat livery kapalnya juga baru. So, secara keseluruhan kapalnya oke. 

Sambil menunggu kapal berangkat, saya ambil kamera untuk hunting foto. Si istri duduk santai di kursi sambil menikmati perjalanan. Sudah lama saya gak menginjakkan kaki di Pelabuhan Gilimanuk. Terakhir kali nyeberang di Selat Bali pas lulus kuliah enam tahun yang lalu. Penyeberangan di Selat Bali hanya memakan waktu setengah jam saja di waktu normal. Bila cuaca kurang bersahabat, bisa sampai satu jam lebih. 








Yang paling saya suka di penyeberangan Selat Bali yaitu waktu tempuhnya gak lama dan pemandangan di pagi dan sore hari sangat kece. Di sebelah barat, kita bisa melihat kokohnya Gunung Ijen di Kabupaten Banyuwangi. Sedangkan di sebelah timur kita bisa melihat perbukitan hijau dari Taman Nasional Bali Barat, Pulau Bali. 

Kecenya lagi sebagai orang yang punya hobi fotography, banyak kapal yang bisa kita ambil fotonya disini. Kapal-kapal fery yang melayani penyeberangan di Selat Bali cukup banyak dan saya sendiri hampir hafal nama-namanya. Kapal fery favorit saya di Selat Bali ada beberapa. Salah satunya KMP Dharma Rucitra, KMP Dharma Kencana II dan KMP Rheni II sendiri. Senengnya bisa kebagian naik salah satu kapal fery favorit saat itu.


Sekitar setengah jam bongkar muat barang, kapal kami akhirnya berangkat. Perjalanan cukup menyenangkan sejauh ini. Bisa melihat Selat Bali lagi itu sudah cukup puas buat saya pribadi. KMP Rheni II lumayan cepat juga jalannya. Ombak di awal keberangkatan juga gak terlalu besar. Tapi pas di pertengahan kurang lebih sepuluh menit lagi sampai Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, arus di Selat Bali cukup kencang. Kapal mulai oleng kapten !. Banyak penumpang yang ketakutan tapi itu gak berlaku buat saya dan istri. Kami berdua sangat menikmati perjalanan. Menikmati goyangan kapal dan angin laut. Yang penting nantinya gak mual dan masuk angin saja.

Selat Bali terkenal dengan arus lautnya yang cukup kencang. Apalagi di musim-musim ombak, bisa sampai empat meter ketinggian ombaknya. Paling asyik nyeberang ke Pulau Bali atau sebaliknya di pagi hari atau tengah malam karena disaat itu arus lautnya gak cukup kencang. 








Setelah kurang lebih satu jam perjalanan menyeberangi Selat Bali, sampailah kami di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Senang banget rasanya menginjakkan kaki di Banyuwangi lagi. Waktu sudah menunjukkan jam empat sore waktu Banyuwangi. Kurang lebih satu jam lagi kami sampai di Rogojampi, Banyuwangi. 

Di depan Pelabuhan Ketapang ini ada sebuah masjid yang punya cerita lhoo. Dulu pas jaman kuliah, saya sempat tidur di masjid ini setelah melakukan perjalanan dua belas jam dari Jogyakarta menaiki Kereta Ekonomi Sritanjung. Di dekat pelabuhan ini juga ada stasiun kereta. Namanya Stasiun Ketapang yang dulunya bernama Stasiun Banyuwangi Baru. Stasiun kereta api paling ujung timur Pulau Jawa. Saya beberapa kali turun dari kereta di stasiun ini. 


Oke, Biar gak kemaleman dan ngejer buka puasa di rumah si mbah, kami melanjutkan perjalanan ke Rogojampi. Jalanan menuju Kota Banyuwangi sangat ramai sekali apalagi jarak Pelabuhan Ketapang ke pusat Kota Banyuwangi cukup dekat, sekitar sepuluh menit saja. 

Ini pertama kalinya saya datang di Kota Banyuwangi. Kotanya ramai, banyak taman hijaunya. Ada Taman Sritanjung dan satu lagi saya lupa namanya. Suasana ngabuburit di Kota Banyuwangi cukup terasa. Gak jauh beda dengan suasana puasa di kampung halaman tercinta. 

Kurang lebih setengah jam lagi kami sampai di Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi. Disini juga suasanan kota kecamatannya ramai banget. Apalagi ada pasar induk bernama Pasar Rogojampi yang malamnya berubah menjadi pasar malam. Bener-bener saya langsung jatuh cinta dengan Banyuwangi. 

So, perjalanan dari Pulau Lombok sampai di Banyuwangi berjalan dengan lancar dan kece. Sejauh ini cukup memuaskan. Gak sabar rasanya ingin mengexplore destinasi wisata yang ada di Banyuwangi. Banyuwangi rekommended buat kalian yang ingin motoran atau touring. Banyak destinasi wisata yang bakalan memanjakan kalian disini. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra