Wednesday, 20 January 2021


"Nasinya hangat dan pulen, dibungkus dengan daun pisang membuat aromanya semerbak kemana-mana. Dimakan dengan lauk daging sapi nan empuk dengan berbagai macam lalapan. Gurih dan rasanya unik. Apalagi ditambah sambal dadak yang pedas. Maknyus... !".

Meskipun telat ngucapin selamat tahun baru 2021 di blog, gak apa-apa. Daripada gak sama sekali ngucapin kepada para pembaca setia blog ini. Tulisan pertama saya di tahun 2021 sekaligus review pembuka di awal tahun ini. Terasa lama sekali gak ngeblog dikarenakan awal tahun lagi sibuk-sibuknya pindahan rumah, beradaptasi dengan suasana baru. Belum lagi kerjaan kantor yang tau sendiri di awal tahun banyak laporan yang harus diselesaikan. 

Sampai saat ini juga kalian sudah tau pandemi Covid-19 masih menghantui kita. Sudah banyak korban yang berjatuhan dari tenaga kesehatan sampai masyarakat umum. Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan dan dijauhkan dari bencana. Amin. Biar imun kita selalu terjaga, kita bahas tentang kuliner saja. Namanya makan itu bisa menghibur diri lhoo. Gak percaya, buktikan saja !.

Kembali ke laptop !.




Sudah lama gak datang ke Panyawangan Resto lagi. Pertama kali kesini sekitar 2017 lalu. Cukup lama juga ya. Ceritanya sempat saya tulis di blog, bisa kalian mampir nantinya. Kesan pertama kali kesini dulu, saya puas banget. Menu-menu hampir semuanya enak. Kesan temen-temen juga kebanyakan suka sama tempat dan menunya. God Job buat Panyawangan Resto. 

Baca juga disini : Bersantai di Panyawangan Resto

Beda dulu beda sekarang. Alasan saya datang kesini lagi karena penasaran dengan Timbel Gepuknya. Kata temen menu satu ini enak banget. Rekommended buat dicoba bila datang kesini. Biar percaya dan gak penasaran lagi, saya coba memesan satu porsi Timbel Gepuk. 

Oh ya, saya datang kesini gak sendirian. Saya bareng temen satu kantor. Akhir tahun kemarin kami berencana nyari tempat makan siang yang kece dan nyaman di sekitaran Lombok Barat. Akhirnya jatuhlah pilihan ke Panyawangan Resto. 

Biar gak terlalu panjang saya menuliskan jalurnya disini, lokasinya bisa dilihat di google maps. Tepatnya resto ini berada di daerah Bengkaung, Sandik, Lombok Barat. Kurang lebih lima belas menit dari kantor di pusat Kota Mataram. Berada di atas perbukitan, membuat tempat ini sangat nyaman dengan udaranya yang sejuk. Kondisi jalannya juga sudah aspal mulus  berkelok dan sedikit menanjak. Buat kita yang membawa mobil harus ekstra hati-hati. Jangan salah atur gigi kopling !. 




Panyawangan Resto sudah lima tahun buka. Namanya pun gak pudar oleh waktu. Dibandingkan tempat lain yang sudah pernah saya review dan kebanyakan sudah gulung tikar, tapi resto ini selalu disebut-sebut oleh kebanyakan orang. Menu-menu ditawarkan juga gak pernah buat para pengunjung kecewa termasuk saya sendiri. Apa saja menu-menunya, sabar dulu ya !. Kita review tempatnya dulu.

Ukuran resto ini gak terlalu besar dan luas. Tempat duduknya dibagi dua ruang. Ada bagian indoor dan outdoor. Meskipun gak terlalu luas, tapi pemandangan yang dimiliki sangat kece sekali. Bila menghadap ke arah barat, kita bisa melihat perbukitan Batu Layar dan lautan. Keren buat menunggu sunset disini. Bila menghadap sebelah utara, kita bisa melihat perbukitan hijau. Apalagi sekarang ada destinasi wisata baru bernama Taman Langit Lombok yang jalurnya satu arah dengan resto ini. 

Kami memilih tempat di dalam saja biar bisa bareng-bareng satu meja. Suasana di ruang dalam cukup lengang karena hanya rombongan kami saja. Sedangkan pengunjung lainnya berada di meja luar. Buat saya sih lebih santai duduk di luar daripada di dalam karena sambil menikmati hidangan, kita bisa melihat pemandangan kece. 

Lirik kanan-kiri, saya melihat resto ini menyiapkan tempat cuci tangan dan handsanitaizer. Saat sekarang hal ini wajib dilakukan untuk mencegah kita dari penularan virus Covid-19. Sebelum makan, kita bersihkan tangan dulu dengan mencuci tangan pakai sabun atau handsanitaizer.




Sampai juga di topik utama yaitu menikmati Timbel Gepuknya. Kok ada menu khas Sunda di resto ini ?. Sebagai informasi, pemilik resto ini orang asli Sunda. Para karyawannya pun saat berbicara menggunakan logat Sunda atuh mah. Dari suasana dan udara disini, sangat cocok memang dengan menu khas Sunda. Berasa seperti di daerah Puncak Bogor atau Ciwidey,Kab.Bandung, hahaha.

Saya sendiri memilih menu Timbel Gepuk karena penasaran dengan rasanya. Sebelumnya tau dari temen-temen yang katanya Timbel Gepuk disini enak banget. Gak mikir dua kali, langsung saja bilang tetehnya Timbel Gepuk dan segelas es kopi susu. 

Menu makan siang Timbel Gepuk saya rasa pas banget. Timbel Gepuk merupakan masakan khas Sunda yang terdiri dari nasi yang dibungkus dengan daun pisang sehingga memiliki aroma yang super duper lezat. Ini pertama kalinya saya mencicipi jenis masakan khas Sunda ini. 

Yang masih penasaran dengan apa sih Timbel Gepuk ?. Konon katanya Timbel Gepuk atau nasi timbel awalnya dibuat sebagai bekal para petani di ladang. Agar lebih peraktis, nasinya dibungkus dengan daun pisang. Sebagai pelengkap, ditemani dengan tahu, tempe, sayur asem, lalapan dan sambel dadak. Daging empalnya disajikan dengan taburan serundeng dan bawang goreng di atasnya. Teksturnya super duper empuk dan mudah disuwir. 

Soal rasa gak perlu diragukan lagi. Rasanya gurih dan manis. Saat gulungan daun pisang dibuka, aroma wangi nasinya tercium. Nasi putih yang pulen ini makin menggoda karena berbaur dengan aroma daun pisang yang wangi. Disuap bersama sambel dadak yang disajikan di atas piring. Ditambah lalapan segar.

Gak sadar karena enaknya, nasi timbelnya ludes. Ini karena emang laper atau doyan ya ?. Beda-beda tipis lah. Apalagi ditemani dengan sambel dadak dan sayur asem, membuat nafsu makan semakin bertambah. Cuaca siang itu juga agak sedikit mendung. Lengkap sudah makan siang hari itu, ditemani dengan segelas es kopi susu sebagai minuman penutup pula.

Soal harga sih menurut saya lumayan mahal juga ya. Satu porsi Timbel Gepuk diberi harga 45ribu. Saya kurang tau juga, apa emang di tempat asalnya harganya memang segitu ?. Mungkin ada bisa bantu menjawab ?. Menurut saya sih kemahalan, tapi balik lagi ke si pemilik resto. Mungkin ada alasan tertentu yang membuat menu satu ini lumayan mahal. Tapi gak apa-apa, biarpun harganya lumayan, soal rasa gak mengecewakan. Apalagi restonya yang kece, buat kita-kita pengen balik lagi kesini. 




Saya gak bisa satu per satu mereview menu yang ada. Untuk lebih jelasnya kalian bisa lihat foto di atas untuk daftar menu dan harganya. Rekommended buat kalian yang sedang bingung mau makan dimana. Panyawangan Resto bisa kalian jadikan referensi kuliner di tahun ini (bukan endorse).

Bila kalian masih penasaran sama review tempat dan menu-menu disini. Kalian bisa mampir di tulisan saya sebelumnya tentang Panyawangan Resto. Link nya ada di atas. 

Over all, meskipun saat ini banyak sekali resto atau tempat nongkrong yang ngehits di Pulau Lombok, Panyawangan Resto selalu eksis sampai sekarang. God Job !.

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Maps Panyawangan Resto

Sunday, 13 December 2020

Mencoba Kopi Baru di Rota Kopi Coffee & Eatery : Rotkop Zeed

 


Mau tau kedai kopi baru di Kota Mataram yang grand openingnya di tengah pandemi Covid-19 ?. Ya bener, jawabannya Rota Kopi. Meskipun ada beberapa kedai kopi lainnya yang baru buka juga, tapi saya lebih tertarik untuk datang ke Rota Kopi. Yang lebih menarik lagi tempatnya menurut saya kece abis. Bentuk bangunan memakai konsep industrial kekinian. Tempat tongkrongannya juga dibagi dua, ada semi outdoor dan indoor. Parkiran kendaraan juga lumayan luas dan sekaligus menjadi halaman depan kedai kopi ini. 

Bukanya sekitar awal pertengahan tahun ini (2020). Lokasinya beralamatkan di Jalan Catur Warga no. 8, Pejanggik, Kota Mataram. Gak jauh dari Kantor Gubernur Provinsi NTB dan Taman Sangkareang, Kota Mataram. 

Sebelum saya datang kesini, saya gak tau apa saja menu-menu yang ada disini. Kebetulan ada temen yang ngajakin ngopi sambil bantuin kerjaannya dia, saya memilih ke Rota Kopi saja. Ini pertama kalinya saya datang kesini. Sudah lama juga saya gak pernah ngopi-ngopi lagi di luar semenjak pandemi Covid-19. Lebih suka ngopi di rumah ditemani istri dan si kecil, asyik.








Saya janjian sama temen sehabis shalat magrib. Setelah melaksanakan kewajiban shalat magrib, saya langsung menuju ke lokasi. Sorenya sempat hujan, menambah suasana menjadi lebih syahdu. Sesampainya di lokasi, para pengunjung belum terlalu ramai. Syukurnya ada meja yang berada di luar masih kosong. Saya memilih duduk di luar karena tempatnya asyik dan ada colokan buat ngecas pastinya.

Sambil menunggu teman datang, saya masuk ke dalam kedai. Ruangan di dalam gak begitu luas tapi sepertinya asyik juga nongkrong di dalam karena adem ada ACnya. Mungkin kalau siang, saya lebih memilih duduk di dalam daripada di luar. Nah, berhubung sudah malam dan habis hujan, kita duduk di luar saja sambil menikmati udara sejuk alami. Over all, Rota Kopi memiliki area yang lumayan luas alias gak sempit.

Saya suka dengan tempat ini karena banyak jenis tanamannya. Mengikuti fenomena sekarang dimana orang-orang banyak yang bertanam tanaman hias untuk memperindah pekarangan rumah mereka. Dari tanaman biasa saja sampai katanya punya harga yang fantastis mengalahkan harga sepeda lipat merk Brompton.

Untuk meja dan kursinya saya suka banget. Semuanya terbuat dari kayu dan besi. Buat referensi meja santai di rumah cocok kali ya. Disini juga menyediakan mushola yang bangunannya terpisah dari bangunan utama kedai. Posisinya berada di sebelah bangunan utama. Buat kita muslim yang sedang nongkrong jangan lupa kalau sudah masuk waktu shalat, nongkrongnya dilanjutkan lagi setelah shalat.





Oke, sekarang kita bahas menu yang saya pesan. Sesuai dengan judul di atas, saya memesan Rotkop Zeed. Kopi susu gula aren yang katanya paling laris dipesan di Rota Kopi. Yes, karena penasaran sama kopi susu gula arennya, saya pesen satu gelas. Eh, yang keluar gak hanya gelas saja, tapi ada botol kecil. Botol kaca berwarna kecoklatan bertuliskan Zeed, di dalamnya ada kopi susu gula aren. Selain botol, dikasi gelas kecil dengan potongan es batu. Cerita baru yang menarik nih. Belum pernah sama sekali mencoba minuman kopi seperti ini. 

Gimana soal rasanya ?. Rasanya sedikit berbeda. Sebelumnya saya menikmati kopi susu gula aren ada sedikit rasa pahit dan manisnya. Kali ini Rotkop Zeed ada rasa rempah-rempahnya. Kalau gak salah, ada campuran jahenya. Jadi berasa hangat di badan. Apalagi diminum saat udara dingin dan habis hujan. Bener-bener gak salah pilih minuman ini. 

Untuk harganya, jangan kaget ya !. Satu porsi Rotkop Zeed seharga 30ribu. Menurut saya harganya sudah sebanding dengan rasa dan tempat nongkrongnya. Selebihnya tergantung selera masing-masing. Selain Rotkop Zeed ada juga jenis minuman yang lainnya. Kalian bisa kepoin akun instagramnya @rotakopi.

Seenak apapun kopi yang kita minum, rasanya gak lengkap kalau gak dibarengi dengan cemilan. Saya pesen cookies cokelat yang ukurannya lumayan besar. Tekstur cookiesnya lembut dan gurih. Lagi-lagi terasa campuran rempah-rempahnya. Cocok juga dimakan dalam udara dingin habis hujan gene. Dibarengi dengan kopi susu gula aren lagi. Maknyus rasanya. Satu porsi cookies cokelat seharga 17 ribuan kalo gak salah.

Rekommended buat kalian coba. Tempatnya kece dan menu-menunya beragam. Dipastikan nongkrong kalian betah. Untuk jamnya, Rota Kopi selain hari Jumat buka dari jam 9 pagi sampai 9 malam. Sedangkan di hari Jumat buka dari jam 2 siang sampai 10 malam.

Over all, pelayanannya sangat memuaskan. Para karyawannya juga ramah-ramah dan cepat. Mantap dah. Tapi satu hal yang bisa dijadikan bahan koreksi yaitu kurang menerapkan protokol kesehatan.  Saya perhatikan selama nongkrong disana, para pengunjung kebanyakan gak menggunakan masker dan menjaga jarak. Menjadi perhatian kita semua, bahwa di tengah pandemi Covid-19, kita harus sadar dengan protokol kesehatan. Mulai dari kita, siapa lagi yang akan menjaga kesehatan diri sendiri dan orang di sekitar.

Gimana, kalian tertarik ke Rota Kopi ?. Jangan lupa pakai masker dan jaga jarak ya selagi pandemi Covid-19 !.

Penulis : Lazwardy Perdana Putra


Friday, 4 December 2020

Jalan-Jalan Pagi ke Taman Bawaq Kokoq "Tabako"

Gak perlu jauh-jauh mencari tempat bersantai yang asyik. Di deket rumah ada sebuah tempat kece yang cocok banget buat jalan-jalan pagi ataupun sore hari. Sebut saja namanya "Tabako", kepanjangan dari Taman Bawaq Kokoq yang diambil dari bahasa Sasak (Lombok). Kalau dibahasa Indonesiakan berarti Taman Bawah Kali atau Sungai. 

Bukan berarti keberadaannya di dalam air sungai, tapi dari dulu kala masyarakat sekitar menyebut taman ini dengan sebutan Bawaq Bako yang lokasinya berada persis di pinggir Kali Jangkok, Kota Mataram. Denger-denger taman ini dibangun dari anggaran pusat lhoo. Kalau gak salah informasi dari sumber yang dipercaya, taman ini dibangun menghabiskan total biaya sekitar 9 miliar rupiah (koreksi bila keliru). Nilai yang begitu fantastis menurut saya. Tapi apakah penampakannya sebanding dengan biayanya ? Kita review taman ini satu per satu.

Tabako berada di lingkungan Sukaraja Timur, tepatnya di Jalan Tanggul, Kota Mataram. Saya gak membutuhkan kendaraan untuk datang kesini. Cukup berjalan kaki lima menit saja, saya sudah sampai di pintu masuk Tabako. Kebetulan hari libur kerja, saya mengajak istri dan si  kecil jalan-jalan pagi kesini. Sekitar setengah enam pagi kami sudah bersiap-siap. Gak lupa membawa sarapan si kecil yang ditaruh di kereta dorong. 

Langit saat itu mendung, tapi gak menandakan akan turun hujan. Sinar matahari pagi timbul tenggelam dibalik awan kelabu. Udara pagi yang sangat sejuk diiringi suara kicauan burung-burung tetangga. Jalanan sekitaran komplek perumahan masing lengang yang menandakan penghuninya masih tertidur lelap. Hanya kami bertiga saja yang ada di sepanjang jalan (emang niat banget bapaknya).

Setelah berjalan kurang lebih lima menitan, tibalah kami di pertigaan ujung jalan. Kalau belok kiri ke arah Kota Tua Ampenan, belok kanan ke arah Tabako. Kalau lurus gimana ?. Lurus kalian akan nyebur di Kali Jangkok. 






Agak beda sih, yang biasanya pergi ke tempat jauh dari rumah, sekarang hanya beberapa langkah saja sudah sampai di lokasi tujuan. Mana sering ketemu sama tetangga lagi. Ada yang baru bangun belum cuci muka, ada yang sudah berjualan jajanan pasar, ada yang nyapu, ada juga yang lagi pacaran pagi buta (mumpung ada kesempatan ngajak si doinya kencan kali). Sudahlah, emang saya pikirin yang lagi pacaran di lokasi ?. Lebih baik mikirin pacaran sama istri dan main-main sama anak lebih seru.

Sesampainya di lokasi, sudah ada para emak-emak duduk di area taman. Mau pada arisan atau begosip pagi kali. Ada juga anak-anak yang sedang bermain, lari kesana-kemari. Cukup ramai area taman saat itu. Kami menikmati dengan berjalan-jalan kecil mengelilingi taman. Si kecil "Kenzi" yang sudah berumur 9 bulan sangat senang diajak kesini. Area tamannya cukup luas dan memanjang. 

Ada area bermain anak-anak, tempat duduk untuk bersantai, jembatan penghubung, pepohonan yang cukup rindang menambah kesejukan taman ini, area lapak yang berbentuk lumbung yang nantinya akan digunakan untuk berjualan dan ada sebuah aula semi outdoor yang nanti juga akan digunakan untuk mengadakan beberapa acara. 

Tapi sabar dulu, Tabako saat itu belum diresmikan. Kalau gak salah baca, tempat ini akan diresmikan sekitar Bulan Oktober lalu, tapi berhubung ada kendala kemungkinan diundur. Semoga gak lama lagi tempat ini akan diresmikan.

Tamannya bersih banget dan saya suka banyak tempat sampah yang disediakan disini. Jadi buat kita-kita nih yang kebetulan sedang nongkrong disini, jangan lupa buang sampah pada tempatnya ya !. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan menjaga tempat seperti ini. 





Asyiknya lagi disini, selain menikmati area taman, kita juga bisa menikmati Kali Jangkok. Melihat pemukiman warga, tapi sayangnya agak kumuh, mirip seperti di kota-kota besar lainnya. Air kalinya butek, banyak sampah di pinggiran kalinya. Bentar lagi kan ada pilkada nih di Kota Mataram. Buat bapak/ibu yang terpilih nantinya, jangan lupa memperhatikan kebersihan dan kesehatan bataran kali khususnya Kali Jangkok yang berada di tengah-tengah Kota Mataram. 

Kalau indah dan kece kan siapa yang gak bangga punya kali yang keren seperti di negara-negara Eropa sana. Apalagi Pulau Lombok sudah dikenal memiliki destinasi wisatanya yang kece-kece di mancanegara. Kalau kali butek dan bau, kan malu dilihat sama para wisatawan yang datang berlibur ke Pulau Lombok. 






Over all, Tabako cukup kece menurut saya. Lokasinya juga sangat strategis. Berada di Kota Tua Ampenan dan persis di pinggiran Kali Jangkok. Jadi buat kalian yang sedang jalan-jalan di Kota Tua Ampenan, sekalian mampir di Taman Bawaq Kokoq. Bisa banget yang sedang gowes, gak lupa mampir kesini. Banyak yang dapat kita lihat. Bisa foto-foto selfie dan tiktokan pastinya. Tapi tetap menerapkan protokol kesehatan Covid-19. Memakai masker itu wajib, mencuci tangan pakai sabun, dan menjaga jarak dengan sekitar.

Semoga Tabako bisa menjadi destinasi wisata kota yang cukup ramai, bersih dan terjaga nantinya. Amin.

Lokasinya : arah Kota Mataram - Jalan Majapahit - Seruni - Stadion Malomba - Jembatan Jangkok belok ke kanan arah Jalan Tanggul - Taman Bawaq Kokoq.

Friday, 13 November 2020

Happy Family : Jalan-Jalan ke Lombok Wildlife Park



Tik tik tik, bunyi hujan di atas genteng. Airnya turun gak terhingga. Cobalah tengok, dahan dan ranting. Pohon dan kebun basah semua. Kayak lirik lagu yaa ? hahaha. Memang bener itu lirik lagu sejak saya kecil. Bila hujan turun, saya selalu menyanyikan lagu ini. 

Ngebahas hujan, beberapa minggu yang lalu saya bersama keluarga besar mengadakan liburan bareng ke sebuah kebun binatang yang paling kece di Pulau Lombok (hanya satu-satunya). Dari agenda, kami mulai berangkat jam sembilan pagi. Tapi dari subuh hujan turun dengan derasnya. Sempat khawatir sih kalau agenda jalan-jalan dipending gara-gara hujan lebat. 

Setengah jam sebelum jalan, hujanpun reda. Agak lega sedikit, meskipun langit masih mendung. Setelah semuanya kumpul dan menyiapkan segala keperluan yang akan dibawa, kami mulai berangkat. Alhamdulillah, anggota keluarga lengkap yang ikut kecuali adek saya yang bungsu karena kerja. Ada saya sendiri, istri, anak, orang tua, mertua dan adek-adek. Kami menggunakan dua mobil dan perjalanan menempuh waktu satu jam perjalanan.

Gerimis menemani kami di sepanjang jalan, melewati jaur Pusuk yang penuh dengan rimbunnya pepohonan perbukitan dan jalan yang berkelok-kelok. Buka kaca mobil, udara sejuk perbukitan Pusuk menambah kesyahduan di perjalanan. Melihat para kelompok monyet yang sedang menunggu makanan di pinggir jalan. Sudah lama rasanya gak merasakan moment ini semenjak pandemi Covid-19. Liburan boleh-boleh saja, asalkan jangan lupa selalu menggunakan masker, membawa handsanitizer bila diperlukan. Sehat suatu keharusan agar liburan tetap lancar dong. 





Melihat keindahan alam Pulau Lombok yang gak ada tandingannya di sepanjang jalan, sampailah kita di pintu masuk Lombok Wildlife Park atau bahasa umumnya kebun binatang. Ini kedua kalinya saya datang kesini saat tempat ini masih bernama Lombok Elephant Park yang pertama dibuka sekitar pertengahan tahun 2017 lalu . Banyak anggota yang gak menyangka bila lokasi kebun binatang ini berada di tengah-tengah perkebunan. Melewati perkampungan dengan jalan yang lumayan baik.

Bisa baca disini juga ---> Elephant Park Lombok (Lombok Wildlife Park)

Kebun binatang ini berubah nama pada tahun 2019 dengan nama yang baru "Lombok Wildlife Park". Sempat ditutup sekitar empat bulan lamanya semenjak pandemi Covid-19. Kebun binatang yang berada di Desa Singgar Penjalin, Kabupaten Lombok Utara ini dibuka lagi pada tanggal 1 Agustus 2020 dengan promo yang sangat menggoda pastinya.

Promonya tiket masuk menjadi 50 ribu dari 100 ribu rupiah untuk anak (2-12 tahun) dan dewasa (domestik) hingga akhir Bulan November 2020. Lumayan hemat lhoo kalau bawa pasukan banyak. Ada juga promo tiket masuk plus makan siang sebesar 180 ribu buat domestik. Lebih jelasnya, bisa lihat foto di atas.

Memiliki lahan parkir yang gak begitu luas, tapi suasananya sangat sejuk. Dari bentuk bangunan sih gak jauh berbeda dengan nama sebelumnya alias gak ada perubahan. Kebun binatang ini benar-benar berada di tengah perkebunan dengan memiliki luas lahan sekitar empat hektar. Gak begitu luas menurut saya. 

Ada apa saja di dalam Lombok Wildlife Park ? 

Setelah membeli tiket di counter tiketing, kami segera memasuki pintu gerbang mirip-mirip gerbang Taman Jurasic Park gitu. Ada patung gajah di kanan-kiri pintu gerbang. Sebelumnya kami dicek kelengkapan pelindung diri terutama masker. Sebelumnya kami dipersilahkan mencuci tangan pakai sabun di tempat yang sudah disediakan. Setelah itu dicek suhu badan satu per satu menggunakan thermalgun. Salut dengan protokol kesehatan yang diterapkan oleh pengelola bersama tim. 

Alhamdulillah kami semua sehat dan gak ada suhu badan melebihi 37 derajat. Setelah aman semua, kami menuruni anak tangga. Udara sejuk dan suara burung dan binatang lainnya menyambut kami. 

"Selamat datang di rumah kami !", kata burung kakatua










Tuan rumah yang pertama menyambut kami yaitu para burung-burung indah dan kece, termasuk mamang pawangnya juga pastinya. Kita bertemu dengan Elang Bondol, Elang Brontok, Burung Kakatua Jambul Kuning dan ada juga Kakatua Putih, Kakatua, Kakatua Raja dan jenis burung lainnya. Meskipun saya gak suka pelihara burung, saya suka melihat burung cakep dan cantik seperti ini. 

Setiap pengunjung boleh fotoan bersama si burung. Berhubung masih pagi, pengunjung masih sepi yang datang. So, saya dan keluarga lainnya bisa fotoan dengan puas. Kenzi juga sangat senang bermain sama burung, walaupun Si Elang sempat mematuk tangan si kecil. Kerennya Kenzi gak nangis, hebat anak ayah bunda. 

Bisa dibilang Lombok Wildlife Park didominasi dengan burung yang cakep dan cantik. Setelah bermain dengan burung-burung, kami berjalan menuju lokasi selanjutnya. Para karyawan yang bertugas hari itu cukup ramah kepada kami meskipun wajah mereka saya lihat sempat khawatir kalau burung mereka jadi stress karena kami banyak foto-foto sama burung mereka. Ada juga yang sempat nolak dengan alasan burungnya lagi gak mau difoto, malu katanya, hahaha... i just kidding men



Selanjutnya kami berjumpa dengan para gajah. Kalau gak salah namanya Rieka dan Melati. Sempat sedih saat mendapat kabar Si Rambo yang dulu pernah kenalan dengan saya saat pertama kali datang kesini, sudah tiada. Sekitar empat gajah yang masih ada saat ini dan langsung didatangkan dari habitat asli mereka yaitu Way Kambas, Lampung. Masing-masing gajah memiliki pawang yang langsung didatangkan dari sekolah gajah. Jadi jangan khawatir bila mendekati gajah karena mereka semua sudah jinak dan didampingi oleh pelatih mereka.

Dulu gajah-gajah ini boleh dinaiki dan kita diajak berkeliling mengitari kebun binatang. Tapi sekarang  sudah gak dibolehkan karena pecinta gajah melarang pengunjung untuk menaiki gajah. Keren, prikehewanan juga diterapkan disini. Jadi, kami hanya bisa bermain dengan gajah sambil foto-foto dan memberikan makanan yang sudah disiapkan oleh pengelola. Gak sembarangan makanan lhoo ya. 





Lanjut ke spot lainnya, kami menuju area penghuni lainnya seperti orang utan, kuda nil yang katanya didatangkan jauh-jauh dari Benua Afrika, bisa jadi dari Zimbabwe atau Sungai Nil. Selain itu ada bekantan, beruang madu, siamang, buaya darat eh buaya beneran maksudnya, landak, rusa, komodo dan lebih keren ada ular piton. Saya sempat mengalungkan ular piton di badan saya pastinya. Geli-geli kenyel gimana gitu sensasinya. 

Menurut informasi dari mamang pawang ularnya, ular piton ini beratnya kurang lebih dua puluh kilogram. Memang beneran berat saat saya kalungkan di badan. Tapi tenang saja, ular ini gak berbahaya kok selama ada si pawang yang mendampingi. So, tetap berhati-hati pastinya. Jangan sampai kalian dimakan sama ular gara-gara nantangin si ular lomba makan bukan kerupuk.






Saya kira kebun binatang ini hanya ada itu-itu saja, tapi ada yang baru lagi di tempat ini. Sekarang sudah ada burung pelikan lhoo. Uniknya kita harus masuk ke dalam kandangnya yang sangat luas. Di dalamnya ada berbagai macam jenis tanaman dan kolam untuk mereka minum dan berendem. Kurang lebih ada sepuluh ekor burung pelikan di dalam kandang ini. Kalian pernah nonton film Jurasic Park III, saat adegan masuk ke dalam kandang Pteranodon salah satu jenis burung di jaman dinosaurus.

Nah, kandang burung pelikan ini mirip dengan kadang Pteranodon. Sensainya itu terasa menegangkan. Kenapa demikian ? Karena burung ini gak boleh disentuh, hanya boleh dilihat dari dekat dan foto bareng pastinya. Ingat gak boleh disentuh karena mereka belum jinak. 
 
Gak terasa sudah satu jam kami berkeliling kebun binatang ini. Istirahat sejenak di sebuah gazebo yang sudah disediakan. Sejauh ini kebersihan saya acungin jempol. Toilet juga bersih dan wangi. Gak ada sampah satupun yang saya temui di tempat ini. Pengelola juga melarang pengunjung untuk membawa makanan dan minuman dari luar. Bila ingin makan atau minum, bisa ke cafenya yang kece. Saya sih belum sempat makan di cafenya karena menurut saya harganya mehong guys. 

Selain tempat menghabiskan waktu di hari libur, Lombok Wildlife Park juga bisa dimanfaatkan untuk tempat belajar bagi anak-anak. Mengajarkan mereka peduli terhadap binatang. Saling sayang menyayangi antar sesama makhluk hidup. Gak boleh menyakiti apalagi sampai membunuh binatang. 

Pulau Lombok gak melulu berbicara tentang pantainya yang indah, Gunung Rinjaninya yang megah, gilinya yang eksotis dan budayanya yang unik. Pulau Lombok juga memiliki kebun binatang yang rekommended buat menjadi tujuan wisata kalian. 

Apalagi sekarang sedang ada promo sampai akhir November, gak lengkap rasanya jalan-jalan ala pandemi Covid-19 ke Lombok kalau gak berkunjung ke Lombok Wildlife Park (bukan ngendorse).

So, gak terasa hari sudah siang. Perut juga sudah mulai lapar, akhirnya kami memutuskan untuk keluar dari kebun binatang. Senang melihat keluarga puas dan menikmati liburan ke kebun binatang. Terutama si kecil "Kenzi", sangat menikmati dan pengen diajak keliling terus. 

Happy Family !

Penulis : Lazwardy Perdana Putra


Lokasi