Saturday, 21 May 2022

Mencicipi Ayam Merangkat Khas Pasar Bambu Bonjeruk

Makan bareng di area kebun bambu ?, mungkin belum pernah kebayang sebelumnya. Nah, di Pulau Lombok ada tempat makan baru nan asyik yang berada di kebun bambu gitu. Sebut saja namanya Pasar Bambu Bonjeruk. 

Awal mengetahui tempat ini pas Pak Sandiaga Uno datang ke Lombok, tepatnya ke Desa Wisata Bonjeruk dan meresmikan Pasar Bambu Bonjeruk beberapa bulan yang lalu. Terlihat unik dan buat saya penasaran ingin datang kesini untuk menikmati berbagai kuliner yang disajikan. 

Maunya sih pas Bulan Ramadhan lalu, tapi berhubung waktu gak memungkinkan buat kesini, jadi datangnya setelah Lebaran Idul Fitri. Berawal dari ajakan teman-teman kantor buat makan siang disini setelah paginya bertugas. Sambilan refreshing dan mencari menu makan siang berbeda dari biasanya. Saya seneng banget akhirnya kesini juga.


Jam makan siang tiba, jadilah kita serombongan berangkat ke Pasar Bambu Bonjeruk. Dari informasinya tempat makan ini bukanya dari jam 11 siang sampai 8 malam lhoo ya. Jadi jangan khawatir yang mau makan malam, bisa datang kesini. 

Ohya, lokasi Pasar Bambu Bonjeruk terletak dai Jalan Raya Ubung, Desa Bonjeruk, Kec.Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah. Jalurnya dari Kota Mataram, kita mengambil arah ke Kota Praya. Di pertigaan Ubung, belok kiri dan gak jauh dari Puskesmas Ubung di sebelah kanan, lokasi Pasar Bambu Bonjeruk. Kurang lebih memakan waktu hanya 20 menit saja dari Kota Mataram. Lebih jelasnya di akhir tulisan, saya kasi mapsnya ya. 


Dibilang apes sih gak juga, di pertengahan jalan hujan lebat turun. Sesampainya di area parkir Pasar Bambu hujan semakin lebat. Kami di dalam mobil terjebak. Mau turun gak bawa payung. Kalau gak turun, gak bisa makan,hahaha. Untungnya para pelayan yang cantik-cantik sigap membantu membawakan payung buat pengunjung yang baru datang. Kondisi parkiran saat itu hampir full yang didominasi kendaraan roda empat semua. Sekedar saran saja, mungkin area parkir ditata kembali sehingga terlihat lebih rapi kedepannya.

Meskipun sudah ada payung, tetap saja basah kuyup. Dan sepatu kotor penuh dengan lumpur. Gak apa-apa, ini namanya ngetrip ala-ala. Seru sih iya. Kami pun tertawa tanpa ada keluhan karena hujan. Sejauh ini enjoyed semua.

Sesampai di lokasi, kami mencari tempat duduk. Siang itu tempat sudah hampir terisi semua oleh pengunjung. Untungnya di sisi bagian belakang, masih ada tempat kosong dan cukup luas buat kami bersepuluh. Semua tempat makannya berupa berugaq (gazebo) gitu atau bahasa umumnya "saung".



Dari segi penampilan, tempatnya ethnic banget. Kebun bambu disulap menjadi tempat makan yang cakep dan Instagramable. Semua tempat berupa berugaq bambu dengan atap dari alang-alang. Ada tiga lapak yang dibangun dari bambu dan alang-alang sebagai atap. Para pelayan juga semuanya menggunakan pakaian adat Sasak serba hitam semua. 

Dari infonya tempat makan ini berawal dari ide warga desa yang bernama Pak Dayat. Beliau bersama temannya mendapat ide membuat tempat makan yang berbeda dari lainnya. Dengan konsep etnic Sasak dengan berbagai macam menu masakan tradisional khas Sasak, Pasar Bambu Bonjeruk berhasil membuat pengunjung datang beramai-ramai kesini. 


Menu yang laris disini yaitu Ayam Merangkat. Ayam kampung yang dibakar kemudian disuir-suir dan diberi sambal terasi super pedas diatasnya. Disajikan di atas piring tanah liat dan daun pisang. 

Kalian tau kenapa dinamakan Ayam Merangkat ?. Dari penjelasan Pak Dayat, Ayam Merangkat berasal dari Merangkat yang artinya upacara prosesi di malam hari untuk menyambut calon pengantin wanita yang berhasil diculik oleh calon pengan pria. Masakan ini dikhususkan untuk calon pengantin. Sedangkan untuk rombongan yang hadir mendapatkan dalam bentuk porsi. 

Pasar Bambu Bonjeruk ingin memperkenalkan kuliner khas dari Desa Bonjeruk dan tradisi merangkat ini kepada para pengunjung yang datang terutama warga dari luar desa. Cukup unik sih. Ayam yang digunakan yaitu ayam kampung yang berusia kalau gak salah tiga bulan biar tulangnya lunak. Bumbunya juga harus pedas dan semuanya mentah dan minyak yang digunakan yaitu minyak kelapa alias bukan minyak goreng. Cocok nih buat yang doyan pedas, bisa pesen Ayam Merangkat satu porsi.


Selain Ayam Merangkat, ada juga menu Ikan Nila Goreng, Tempe Goreng, Ayam Kampung Goreng, dan Sayur Bening (Jagung dan Daun Kelor). Disini menunya pake paket lho ya. Satu paket yang berisikan Ayam Merangkat dan kawan-kawannya itu seporsinya 145 ribu untuk bertiga. Kalau menurut saya sih ini bisa untuk berenam. Porsinya lumayan cukup banyak. 

Tambahannya ada Pelecing Kangkung dan Urap. Sambel Pelecing Kangkungnya mantap banget. Rekommended dipasangkan dengan Ayam Merangkat. Jangan lupa pakai nasi putih ya biar tambah nikmat. Untuk cemilannya kami pesan lupis dan jajanan pasar lainnya. 



Menu penutupnya, saya memesan segelas kopi hitam Sasak hangat dengan gula sedang saja. Sangat pas diminum sambil menikmati hujan turun. Apalagi udara khas perkebunan bambu dari Pasar Bambu Bonjeruk sejuk banget. Tambah betah berlama-lama disini sambil ngobrol. 

Over all, saya suka datang makan ke Pasar Bambu Bonjeruk. Pelayanannya cepat sekali, para pelayannya juga ramah dan baik semua. Nila plusnya,  semua penampilan pelayannya serba tradisional dengan menggunakan pakaian khas gadis Sasak yang serba hitam. Cantik-cantik semua, buktikan dah buat para cowok-cowok yang masih jomblo, hehehe. 

Cara penyajiannya juga serba tradisional. Dari tempat cuci tangan menggunakan "ceret" yang terbuat dari tanah liat. Makanannya juga disajikan secara tradisional. Ditutup dengan "tebolak" berwarna merah dan semua hidangan ditaruh di atas daun pisang. Benar-benar menggunakan tradisi orang tua jaman dulu. 

Semuanya serba tradisional dan menarik buat sering-sering dikunjungi. Gak hanya Pasar Bambu Bonjeruk saja yang ada di desa ini, tapi ada beberapa destinasi wisata yang Desa Bonjeruk miliki. Kapan-kapan kita explore ya tempatnya !.

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Friday, 13 May 2022


Libur panjang cuti lebaran telah usai. Kita kembali lagi dengan rutinitas seperti biasanya alias nyari duit lagi buat lebaran tahun depan, Asyiik. 

Kalau ditanya ngapain saja selama libur. Pasti hampir semuanya menjawab jalan-jalan sambil kumpul bareng keluarga. Yups, benar saja. Di media sosial hampir tiap hari saya melihat updatetan temen-temen yang sedang liburan ke pantai, makan di sebuah resto yang sedang ngehits, ada yang staycation di sebuah hotel dan ada juga yang naik gunung. Bisa dibilang di medsos sedang terjadi perang pamer foto, hehehe. 

Buat yang gak kemana-mana selama liburan, jangan jengkel dulu ya !. Kalian boleh gak lanjutin baca cerita saya kali ini. Tapi yang sedang ada rencana mau jalan-jalan setelah libur lebaran, boleh dibaca sampai habis. Gak rugi malahan untung banget. 




Nah kali ini saya mau perkenalkan destinasi baru ke teman-teman pembaca setia blog ini. Lokasinya ada di ujung timur Pulau Lombok, tepatnya di Kabupaten Lombok Timur. Sebut saja namanya; Bukit Kayangan. Seperti tempatnya bidadari ?. Namanya saja Bukit Kayangan, tapi bukan tempat tinggalnya bidadari. Buat para cowok yang bawa pasangan, kalau sudah di atas bukit, baru pas namanya Bukit Kayangan, hehehe.

Bukit Kayangan menjadi destinasi baru yang lokasinya di sebelah timur Desa Labuan Lombok, Kab.Lombok Timur. Tempat ini diresmikan pada Bulan Desember 2021 lalu. Dikelola sendiri oleh pihak Desa Labuan Lombok. Sebelumnya kita mengenal tempat ini dengan nama Bukit Sampoerna karena ada tulisan besar Sampoerna di bukit ini bila dilihat dari atas kapal ferry. Bukit yang tandus ini mampu disulap menjadi tempat yang keren dan mampu mendapatkan pemasukan desa. 

Jarak yang ditempuh bila dari Kota Mataram sekitar 75 kilometer menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat dengan memakan waktu hampir 2 jam perjalanan. Untuk menuju bukit ini, kita melalui beberapa daerah antara lain Narmada, Mantang, Kopang, Masbagik, Aikmel, Pringgabaya dan finish di Labuan Lombok. 



Untuk menuju bukit, pengunjung akan melalui dulu Desa Labuan Lombok terlebih dahulu. Setelah bertemu dengan pertigaan Terminal Labuan Lombok, kita berbelok ke kanan menuju Pelabuhan Kayangan. Setelah itu akan melewati sebuah tanjakan dan di sebelah kanan kita akan melihat papan petunjuk ke Bukit Kayangan. Tepat sebelum Puskesmas Labuan Lombok, ada jalan kecil yang masih berupa tanah dan batu. Inilah jalur menuju Bukit Kayangan. Kabar baik, kedepannya akan diaspal agar pengunjung merasa nyaman menuju Bukit Kayangan. 

Sudah gak jauh lagi kita sampai di lokasi tujuan. Oh ya, kondisi kendaraan harus cukup baik lhoo ya karena kita akan sedikit off roud, jalan tanah berbatu dan menanjak sekitar 200 meter. Setelah melewati jalan tanah, kita sudah sampai di pintu masuk menuju Bukit Kayangan. Untuk mobil cukup membayar tiket parkir 10 ribu saja, sedangkan motor 5 ribu. Sedangkan untuk tiket masuk gratis lhoo ya (untuk saat ini). 




Setelah mobil diparkir, saya bersama bapak berjalan ke beberapa spot foto yang ada di Bukit Kayangan. Suasana pagi itu masih cukup sepi dari pengunjung. Terlihat tanaman lamtoro dan pohon-pohon kecil yang tumbuh di atas bukit ini. Sinar matahari cukup terik tapi gak terasa oleh angin yang berhembus dari perbukitan. Pemandangan yang saya lihat dari atas bukit ini sangat kece. Benar-benar keren guys. 

Dari atas bukit ini kita dapat melihat Selat Alas dan daratan Pulau Sumbawa. Selain itu terlihat beberapa pulau-pulau kecil yang berada di Selat Alas. Kapal-kapal ferry yang melayani penyeberangan dari Pelabuhan Kayangan menuju Pelabuhan Pototano pun terlihat. Di sebelah barat, terlihat Puncak Gunung Rinjani yang sangat jelas bila kondisi cuaca cerah tanpa berawan. Para pengunjung bisa berfoto dengan latar belakang view ini buat diposting di instagram atau facebook, hehehe. 




Di Bukit Kayangan terdapat beberapa spot foto diantaranya rumah pohon, becak, cidomo, rumah adat Sasak, dan masih ada beberapa lainnya. Disini juga terdapat sebuah cafe/warung buat ngopi-ngopi. Sayangnya saat kami kesana, cafenya belum buka. Apa masih suasana lebaran kali ya, jadinya masih libur jualan ?. 

Ada salah satu spot foto yang saya suka banget yaitu padang rumputnya. Saat kami datang kesana rumputnya sudah menguning. Disini kita bisa dapat foto kece dengan latar belakang Selat Alas dan daratan Pulau Sumbawa. Bagi kalian yang mau prewed, pas banget spot foto ini dijadikan referensi. 

Waktu yang pas menurut saya untuk datang kesini yaitu pagi sekitar jam 5 subuh untuk menikmati sunrise dan jam 6 sore untuk menikmati sunset Kece kan bisa dapat menikmati dua-duanya. So, bolehlah  tempat ini dijadikan camping atau dibuat semacam camping ground gitu biar tambah rame yang datang kesini. 




Oh ya, di sekitar Bukit Kayangan juga ada beberapa destinasi wisata alam yang gak kalah kece. Ada Dende Seruni, Pantai Kayangan, Goa Biawak yang bisa sekalian kalian kunjungi bila datang ke Bukit Kayangan.

Over all, dari sisi fasilitas, di Bukit Kayangan sudah cukup baik menurut saya. Tempat-tempah sampah harus diperbanyak lagi. Tanda-tanda peringatan juga perlu dibuatkan agar pengunjung lebih disiplin lagi. Dari segi keamanan juga perlu ditingkatkan lagi karena saya lihat di beberapa sisi dari bukit ini masih curam. Salah melangkah saja, kita bisa jatuh ke jurang. Mungkin perlu dibuatkan pagar pengaman biar aman dan pengunjung juga nyaman berada di atas Bukit Kayangan. 



Untuk saat ini Bukit Kayangan menjadi destinasi wisata andalan yang dimiliki oleh Desa Labuan Lombok. Masih akan dikembangkan menjadi lebih baik lagi dari segi sarana prasarana dan fasilitas pendukung lainnya. Gak hanya memberikan pemandangan Selat Alas, pulau-pulau dan Gunung Rinjani saja, tapi akan mengenalkan tradisi adat masyarakat setempat. Seperti rumah tradisional, penggunaan pakaian adat masyarakat Labuan Lombok yang memiliki dua suku utama yaitu Suku Sasak dan Bugis. 

Harapannya Bukit Kayangan lebih tertata lagi dan dapat menarik minat para wisatawan baik domestik maupun mancanegara untuk datang ke destinasi baru dari Labuan Lombok, Kab.Lombok Timur ini. Kita tunggu saja updatetan selanjutanya !. 

Penulis : Lazwardy Perdana 


Wednesday, 4 May 2022

Buat kalian yang mudik atau libur lebaran Idul Fitri ke Pulau Lombok, pasti bakalan jalan-jalan ke salah satu destinasi kece yang ada di pulau seribu masjid ini. Atau mungkin ada juga yang berencana untuk staycation bareng keluarga di salah satu hotel favorit kalian. 

Siapa yang gak kenal dengan Pulau Lombok. Pulau yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Barat ini banyak memiliki destinasi wisata alam yang sangat memanjakan siapa saja yang datang berlibur kesini. Beberapa contoh ada Gili Trawangan, Gunung Rinjani, Desa Sembalun, Air Terjun Tiu Kelep dan yang sedang ngehits saat ini yaitu Kuta Mandalika. Selain alamnya, Lombok juga terkenal dengan kuliner dan budayanya. Pasti sudah akrab di telinga kalian dengan Pelecing Kangkung, Sate Rembiga dan Nasi Balap Puyung. Begitu juga dengan Desa Sade dan Bau Nyale. 

Belum lama ini Lombok tambah dikenal di dunia dengan Sirkuit Mandalika tempat digelarnya MotoGP 2022 Bulan Maret lalu. Puluhan juta mata tertuju ke sirkuit yang memiliki panorama alam pantai dan perbukitan hijau ini. Surga dunia yang dimiliki oleh Indonesia khususnya Lombok.



Hotel-hotel di Pulau Lombok juga jangan diragukan kualitasnya. Ada salah satu hotel yang menurut saya rekommended buat dijadikan tempat staycation. Sebut saja Aruna Senggigi Resort & Convention. Dari pertama kali dibuka, saya sudah pengen menginap di hotel ini. Dan beberapa bulan lalu, saya menghadiri pertemuan disana dan mendapatkan fasilitas menginap. 

Aruna Senggigi Resort & Convention merupakan sebuah hotel bintang empat yang ada di wilayah Senggigi. Lokasinya berada di Jalan Raya Senggigi, Kec. Batu Layar, Kab.Lombok Barat. Bila dari Kota Mataram, memakan waktu tempuh sekitar dua puluh menit menggunakan mobil atau motor. 

Karena lokasinya yang sangaat strategis, mau kemana pun dekat seperti ke Pantai Senggigi dan Pasar Seni Senggigi tinggal jalan kaki, nyeberang dari Pelabuhan Bangsal ke Gili Trawangan juga hanya menempuh dua puluh menit perjalanan dari hotel menggunakan kendaraan pribadi atau sewa. Mau ke Kota Mataram juga dapat ditempuh dengan bus DAMRI atau kendaraan pribadi/sewa. 

Akses menuju Senggigi juga sudah terlayani dengan angkutan bus DAMRI dengan rute Bandara BIZAM - Kota Mataram - Senggigi. Kita bisa turun dari bus tepat di depan hotel. Selain itu kita juga bisa memesan ojek online baik mobil dan motor menuju hotel. 

Sesampainya di depan area parkir hotel, saya langsung menuju lobi. Penampakan hotel ini sangat instagramable di setiap sudutnya. Penataan ruang per ruang enak dipandang mata. Berjalan menuju ruang pertemuan saya melihat beberapa lukisan yang tertempel di dinding. Bisa dibilang bangunan hotel ini semi outdoor karena gak tertutup seluruhnya, jadi angin dari luar bisa masuk dengan leluasa. 

Asyiknya lagi, di depan ruang pertemuan langsung berhadapan dengan taman belakang hotel yang dimana ada landmark bertuliskan Aruna Senggigi Resort & Convention. Dimana di taman belakang juga terdapat kolam renang yang bisa dijadikan spot foto. Deretan pohon-pohon kelapa juga menambah suasana tropis  khas Pulau Lombok. 


Saya sudah beberapa kali datang ke hotel ini untuk urusan kerjaan. Untuk yang sekarang masih seputar kerjaan juga sih, bukan murni liburan bareng keluarga. Pengennya sih ke hotel ini untuk berlibur, tapi masih belum ada waktu dan duit, hehehe. 

Untungnya pada saat pertemuan kemarin, saya dapat kesempatan menginap di hotel ini dari panitianya. Asyiik, akhirnya dapat menikmati kasur empuk Aruna Senggigi Resort & Convention (kelihatan katroknya),hahahaha. 

Acara pertemuan dimulai jam dua siang. Saya berangkat dari kantor sekitar jam satu siang. Masih bisa jalan santai menuju Senggigi. Cuaca saat itu mau turun hujan dan benar saja, di tengah perjalanan saya terjebak hujan. Akhirnya berteduh sebentar di sebuah mini market. Hujan agak reda sekitar jam tiga siang. Saya pun terlambat sampai hotel. Sekitar jam empat sore, saya baru tiba di lobi dan untungnya panitia gak ngomel-ngomel (sedikit curhat).

Acara hari itu dilaksanakan seharian penuh. Bakalan sampai malam nih rasa-rasanya. Berhubung acara dilanjutkan setelah makan malam, sore itu para peserta pertemuan dipersilahkan untuk beristirahat sejenak di kamar masing-masing. Saya pun diberikan kunci kamar oleh salah satu panitia. Katanya check out nya besok siang ya. 

Wah, saya awalnya gak tau nih bakalan menginap karena ditugaskan oleh bos dadakan sih. Jadi gak bawa perlengkapan menginap. Ruginya lagi saya gak bawa perlengkapan renang. Mau balik ke rumah, tapi jauh banget. Bisa satu jam perjalanan dari hotel ke rumah,wkwkwk. Ya sudah saya menikmati fasilitas kamarnya saja. Lain kali saja menikmati kolam renangnya bareng keluarga. 



Waktu sudah magrib, saatnya menuju kamar yang sudah ditentukan panitia. Saya mendapatkan kamar kelas deluxe twin room yang berada di lantai satu sisi sebelah kanan dari lobi. Kamarnya menurut saya sudah sangat kece. Dari beberapa hotel yang pernah saya menginap, kamar di Aruna Senggigi ini berbeda dari lainnya. Konsepnya sangat elegan dan modern. Kecenya lagi konsepnya nuansa etnik Lombok.

Fasilitas dari kamarnya ada dua tempat tidur lengkap dengan bantal dan selimut, ada layar LED, Wifi, meja kerja, kamar mandi, tempat menyimpan barang berharga, lemari, AC, balkon dan masih banyak lainnya. Kamar deluxe yang dirancang dengan gaya interior etnik modern dan tempat tidur yang sangat nyaman buat saya pribadi. 

Setelah beristirahat sejenak dan mandi di kamar, saya bergegas menuju restaurant yang berada di lantai satu dekat dengan kolam renang bernama Resto Pandan. Area restonya lumayan luas dan meja kursi yang cukup banyak. Malam itu hanya peserta pertemuan, panitia dan sebagian tamu hotel yang makan malam disini. Perut sudah lapar banget dan saatnya kita makan !.





Menu yang dihidangkan cukup beragam. Dari jajanan pasar seperti kue basah dan donat. Minumannya beragam, ada es kelapa muda, sirup jeruk, jus dan minuman dingin lainnya. Untuk menu beratnya ada semur ayam, daging lada hitam, tahu tempe cabe ijo, mie goreng dan menu nusantara lainnya. Gak ketinggalan ada segala macam jenis sambel seperti sambel rujak, matah dan sambel terasi khas Lombok. Biar sehat, ada buah-buahan dingin dan sayuran pastinya. 

Over all, pelayanan di Aruna Senggigi Resort & Convention cukup baik menurut saya. Sayangnya saya gak bisa menginap sampai esok hari karena istri dan anak berduaan di rumah. So, sehabis acara pertemuan selesai sekitar jam sebelas malam, saya langsung pamit pulang ke rumah. Next time, kalau ada waktu dan kesempatan, pengen staycation bareng istri dan kedua anak saya. Amin

Saya dan keluarga mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1443 H untuk teman-teman muslim dimanapun berada. Minal Aidin Walfaidzin. Mohon Maaf Lahir dan Bathin. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Thursday, 28 April 2022


Datang ke Kota Bima, gak lengkap rasanya bila gak mengunjungi salah satu bangunan bersejarah yang ada di kota ini. Sebut saja Museum ASI Mbojo Bima yang lokasinya gak jauh dari tempat saya menginap. 

Sabtu sore adalah waktu yang pas buat saya datang ke museum ini. Letaknya juga sangat strategis. Jadi gak perlu repot-repot mencari transportasi umum atau online. Tinggal berjalan kaki menuju arah Alun-Alun Kota Bima, kita sudah bisa melihat dari jauh bangunan dari Museum ASI Mbojo ini yang berada di sebelah timur dari Alun-Alun Kota Bima. 



Sesampainya di depan pintu gerbang museum, saya melihat salah seorang penjaga di loket tiket masuk. Saya pun bertanya apakah museum Hari Sabtu buka untuk umum atau gak. Ternyata hari itu saya beruntung sekali. Museum dibuka sampai jam lima sore. Lihat jam tangan, waktu masih jam empat sore. Masih ada waktu satu jam untuk berkeliling di luar dan dalam bangunan museum. 

Saya waktu itu membayar tiket masuk 2 ribu rupiah saja. Setelah mendapatkan ijin masuk, saya langsung berjalan ke sisi barat bangunan museum. Penampakan bangunan museumnya kece banget. Perpaduan antara bangunan Eropa dan Bima. Taman di sekitar bangunan museum juga cukup terawat. Jadi penasaran ingin melihat di dalam ada apa saja ya ?. 

ASI Mbojo atau Istana Bima merupakan istana peninggalan Kesultanan Bima. Istana ini terletak di Jalan Sultan Ibrahim no.2, Kota Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat. ASI Mbojo saat ini sudah beralih fungsi menjadi museum dan diberi nama Museum ASI Mbojo. Bangunannya masih terlihat anggun meskipun telah berumur ratusan tahun. Di masa lalu, bangunan ini gak hanya sebagai pusat pemerintahan saja melainkan sebagai kediaman serta lambang identitas sebuah bangsa. Dari beberapa artikel yang saya pernah baca, di istana ini bendera merah putih pertama kali dikibarkan di Bima.

ASI Mbojo dibangun pada abad ke-19. Tapi pada tahun 1927, bangunan aslinya dibongkar karena sudah gak layak lagi digunakan. So, dibangun bangunan istana yang lebih besar dari sebelumnya pada tahun 1930. Sultan Bima yang melaksanakan pembangunan istana ini yaitu Sultan Ibrahim dan Sultan Muhammad Salahudin. 



Istana Bima merupakan bangunan yang bergaya campuran Mbojo dan Eropa. Perancangnya yaitu Rahatta, seorang arsitek kelahiran Kota Ambon yang sengaja didatangkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda ke Bima. Untuk dapat terselesaikan dengan segera, Rahatta dibantu oleh Bumi Jero Istana sampai selesai pada tahun 1929. Pembangunan dapat terselesaikan dalam waktu tiga tahun. 

Istana ASI Mbojo merupakan bangunan permanen yang memiliki dua lantai. Arsitekturnya merupakan perpaduan arsitektur asli Bima dan Belanda. Pembangunan dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat. Untuk biaya pembangunan berasal dari anggaran belanja kesultanan. Bangunan istana diapit oleh dua pintu gerbang timur dan barat yang dijaga oleh pengawal kesultanan pada masa itu. Konsep dari bangunan itu hampir sama dengan bangunan istana lain di tanah air yang menghadap ke arah barat.



Apa saja ya ada di dalam bangunan museum ?. Saya pun berjalan memasuki museum. Terlihat di depan teras depan, ada sekelompok siswi yang sedang latihan tari. Saya kurang tau tarian apa, yang jelas dari musiknya yaitu tarian khas Bima. Gerakannya juga sangat bagus apalagi yang nari guys, hahaha

Gak terbuai melihat yang latihan menari, saya segera masuk ke dalam. Terlihat banyak sekali pajangan foto-foto di dinding ruangan. Foto-foto ini menceritakan perjalanan panjang masa kejayaan Kesultanan Bima di masa lalu. Di salah satu dinding terdapat nama-nama raja dan sultan pertama sampai terakhir yang menjabat tahun 1951. 

Terlihat lantai dan dinding ruangan cukup terawat dan bersih sekali. Bener saja, memasuki area ruangan saya merasakan suasana yang berbeda yaitu hening dan sunyi. Namanya juga bangunan jaman dulu. Untungnya disini masih ada beberapa orang yang berada di dalam ruang. Jadi gak sendirian. Horor juga kalau jalan sendirian memasuki ruang per ruang. Ada beberapa kamar juga, salah satunya kamar Bung Karno yaitu Presiden RI yang pertama.

Saya hanya berdiri di depan pintu yang memang dibuka. Saya melihat ada beberapa perabotan yang masih terawat seperti tempat tidur dengan kelambunya, meja kerja kayu, lemari dan beberapa foto yang tergantung di beberapa sisi kamar. Dari beberapa artikel yang baca, dulu kalau presiden atau pejabat negara datang ke Bima. Menginapnya di Istana ASI Mbojo Bima. 




Btw, sempat merinding juga kalau datang sendirian kesini. Disini saya gak menakut-nakuti siapapun, tapi yang saya rasakan kemarin demikian. Saran saja, kalau mau kesini ya bareng temen biar ada nemenin ngobrol. Sebenarnya disini ada tour guidenya yang menjelaskan sejarah ASI Mbojo tapi gak tau pas saya kesana gak ada salah satu petugas. Apa mungkin sudah sore kali ya ?. Jadi beberapa pegawai museum sudah pulang. 

Setelah mengexplore lantai pertama museum ini, saya melanjutkan menaiki anak tangga yang terbuat dari kayu kokoh menuju lantai dua. Disini saya melihat beberapa peninggalan bersejarah yang disimpan. Seperti senjata, pakaian adat kerajaan Bima dan lain sebagainya. Di lantai ini lebih sunyi dan hening. Wah, kebayang kan sensasinya berada seorang diri di lantai dua. Mana ada patung-patung pula. Horor dikit sih, tapi Alhamdulillah gak terjadi apa-apa selama saya mengexplore museum ini. 



Hari semakin sore, cahaya matahari yang masuk ke dalam ruangan juga semakin sedikit. Suasana juga sudah mulai lebih hening dari sebelumnya. Saatnya saya berjalan ke luar menuju pintu teras depan. Masih tampak para siswi yang sedang latihan tari. Saya pun gak lupa mendokumentasikannya. 

Sebelum meninggalkan area museum, saya menyempatkan berkeliling di taman museum. Ada beberapa buah meriam yang masih terawat di depan museum. Tanaman juga sangat beragam. Rerumputan yang hijau dan rapi menggoda saya untuk duduk sejenak menikmati penampakan bangunan  ASI Mbojo Bima yang sudah berubah fungsi menjadi museum. Saya membayangkan kehidupan jaman dulu di istana ini. Jauh dari kehidupan serba modern seperti sekarang.

Di seberang museum, tampak para warga yang sedang asyik bersantai di Lapangan Serasuba. Dulunya lapangan ini digunakan untuk latihan para prajurit atau tentara pada masa itu. Sekarang Serasuba difungsikan untuk tempat bermain, berolahraga dan bersantai warga Kota Bima dan sekitarnya. Disini juga kita gak khawatir kelaparan dan kehausan. Banyak sekali para penjual makanan dan minuman disini. Ada jual Gado-Gado Madura yang super enak itu lhoo disini. Kok jauh bener ya dari Madura ? Hehehe.

So, saya merasa senang bisa ke Museum ASI Mbojo Bima karena saya bisa belajar sejarah dari Kerajaan Bima pada masa lalu. Untuk kesannya sih agak sedikit serem buat saya pribadi saat berada di antara ruang di dalam museum. Bener-bener bangunan yang klasik nan anggun. Bukannya saya menakut-nakuti tapi memang benar rasanya agak sedikit merinding. Tapi namanya kita hidup berdampingan dengan makhluk lain di dunia ini. Jangan takut karena kita beda alam. Itu saja ! Asyiiik. 

Over all, saya sangat mengagumi bangunan Museum ASI Mbojo Bima ini. Salut sama pemerintah setempat yang merawat dan menjaga cagar budaya yang menjadi saksi sejarah kejayaan Kerajaan Bima pada masa lalu. 

Di penutup cerita mengexplore Museum ASI Mbojo, saya ingin mengingatkan kepada generasi muda bahwa janganlah lupa sama sejarah karena bangsa yang besar yaitu bangsa yang gak lupa dengan sejarahnya ! Asyiiik. 

Oke itu dia sedikit cerita tentang Museum ASI Mbojo, untuk lebih lengkap dan jelasnya info tentang museum ini. Kalian bisa kunjungi website resmi dari Pemerintah Kab.Bima. Disana dijelaskan secara detail profil museum ini. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra