Friday, 26 June 2026

Motoran ke Pulau Sumbawa : Pelayaran Bersama KMP Garda Maritim II


Kembali lagi dengan cerita seru lainnya. Kali ini saya akan mengajak kalian mengexplore tetangga Pulau Lombok. Hari yang ditunggu-tunggu sudah tiba. Sudah lama direncanakan, akhirnya jadi juga saya dan anak istri motoran ke Pulau Sumbawa. Kebetulan kondisi kesehatan anak-anak baik, saya dan istri memutuskan untuk mengexplore beberapa destinasi wisata yang ada di daerah yang terkenal dengan susu kuda liarnya. 


Bagi kalian yang sudah berteman di instagram maupun facebook, pastinya sudah pernah melihat beberapa cuplikan video motoran saya dan keluarga ke Pulau Sumbawa bulan lalu. Cerita lengkapnya saya bagi beberapa episode agar gak kepanjangan nulis ceritanya. 


Dimulai dari perjalanan menuju Pelabuhan Pototano, Kab. Sumbawa Barat di hari yang bersahabat. Ada libur empat hari karena ada tanggal merah dan cuti bersama di Hari Kamis dan Jumat, disambung dengan Sabtu Minggu dimana saya libur kerja. 


Kami berangkat di Kamis pagi. Bangun subuh, lanjut mempersiapkan segala kebutuhan. Cek ban dan mesin motor agar aman di perjalanan. Mandi dan sarapan pagi, lanjut isi bensin penuh di SPBU dekat rumah. 


Langit pagi cukup bersahabat. Cek kembali barang bawaan agar gak ada yang tertinggal. Anak-anak sangat antusias sekali diajak jalan-jalan ke Sumbawa. Begitu juga saya dan istri yang sudah lama sekali gak nyeberang ke Pulau Sumbawa. 


Ini pertama kalinya anak-anak menyeberang ke Sumbawa. Setelah beberapa tahun terakhir mereka sudah saya ajak motoran ke Bali dan Banyuwangi. Jadinya sudah gak khawatir soal kondisi fisik mereka karena sudah teruji dan gak rewel di jalan. 


Kakak Ken dan Adeq Lala sudah lengkap dengan jaket touring, masker dan helm. Gak lupa pakai kacamata hitam agar gak silau di jalan. Saya dan istri juga pakai jaket tebal agar gak masuk angin. Berabe entar kalau bikernya mabuk di jalan. 


Sekitar jam sembilan pagi, kami berangkat dari rumah. Agak kesiangan jalannya tapi berhubung kami gak kejar waktu, jadinya jalan santai saja. Penginapan juga sudah kami pesan dan sudah menginfokan ke pihak penginapan kalau sampainya kesorean. 


Estimasi waktu tempuh dari rumah ke Pelabuhan Kayangan, Lombok Timur  diperkirakan paling telat tiga jam. Jalur yang dilewati melalui jalur selatan yaitu By Pass Bandara BIZAM, belok kiri di perempatan Penujak menuju arah Kota Praya. Lanjut ke arah timur yaitu Ganti, Keruak, Sakra dan Kota Selong. 


Dari Kota Selong, mengambil jalur pintas melalui Pancor dan tembus perempatan Rempung, Lombok Timur. Alasannya karena menghindari arus lalu lintas yang padat apabila melewati jalur tengah. Meskipun agak jauh sedikit tapi kami bisa pangkas waktu lebih cepat setengah jam dari jalur tengah. 




Sampai di Desa Aikmel, kami beristirahat sambil ke kamar mandi. Lumayan pantat panas setelah hampir dua jam duduk di jok motor tanpa berhenti. Kami mampir di Masjid Besar Al-Mujahidin Aikmel yang dekat dengan Pasar Umum Aikmel. Lokasinya persis di pinggir jalan besar atau tepatnya di perempatan Aikmel. 


Masjid ini sering dijadikan tempat singgah bagi yang melakukan perjalanan jauh untuk shalat dan beristirahat. Fasilitasnya cukup lengkap. Yang paling saya suka mampir di masjid ini yaitu air nya yang dingin banget karena desa ini berada di ketinggian 280 mdpl dan dekat dengan Gunung Rinjani. Bagi yang mau ke Sembalun pastinya akan melewati masjid ini. 


Oke, setelah beristirahat kurang lebih sepuluh menit. Kami melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Kayangan. Kurang lebih setengah jam lagi sampai di pelabuhan. Perjalanan dari Aikmel ke Pelabuhan Kayangan cukup lancar. 


Dari perempatan Aikmel, kami menuju arah Poh gading, Batuyang, Kec. Pringgabaya. Sedangkan kalau ke Sembalun, kita mengambil arah jalur Desa Suela dan Sapit. 


Baca ini juga : Ngopi di Awal Tahun : Serata Coffee & Camp


Waktu sudah menuju siang hari, sekitar jam sebelas menjelang siang kami sampai di pertigaan Labuan Lombok. Belok ke kanan menuju pelabuhan. Moment ini yang ditunggu-tunggu. Sebelum memasuki pelabuhan, kami melewati jalur menanjak dan berkelok-kelok di Bukit Kayangan. 


View dari sini keren habis. Ke sebelah barat, kita akan melihat cantiknya Puncak Gunung Rinjani dan Pelabuhan Labuan Lombok. Sedangkan kalau melihat ke arah timur, kita bisa melihat indahnya Selat Alas dan jejeran perbukitan Pulau Sumbawa. 


Birunya laut dan angin pantai yang sepoi-sepoi. Dari jauh terlihat puluhan kapal feri yang sedang berlayar. Pelabuhan Kayangan sudah gak jauh lagi. Jalur disini keren habis. Aspal mulus dan jalanan yang lebar. 





Sebelum masuk pelabuhan, saya membeli tiket dulu di  salah satu warung kecil khusus menjual tiket kapal yang ada di pinggir jalan. Sebenarnya bisa beli lewat aplikasi ferizy, tapi karena gak tau jam berapa sampai pelabuhan, enaknya langsung beli di warung pinggir jalan saja. 


Jangan khawatir, jumlah warung tiket disini banyak dan buka dua puluh empat jam. Jadinya gak bakalan bingung mau beli tiket langsung dimana. Dari terminal Labuan Lombok sampai pintu pelabuhan berjejer warung penjual tiket dengan harga yang sama karena dikelola oleh koperasi setempat. 


Untuk harga tiketnya agak lebih mahal dibandingkan beli lewat aplikasi ferizy karena belum kena jasa. Namanya saja mereka jual jasa juga kan. Harap maklum. 


Harga tiket penyeberangan Kayangan - Potatano kalau motor itu 80 ribu. Itupun bervariasi tergantung kelas kendaraannya. Bagi yang gak mau ribet pesan lewat ferizy, bisa langsung beli disini. Petugasnya juga ramah-ramah. 


Untuk harga tiket motor itu sudah termasuk sama penumpang. Berapapun penumpangnya, yang dihitung tiket hanya kendaraan yang dibawa. 


Btw, setelah beli tiket, kami melanjutkan perjalanan memasuki pelabuhan. Sebenarnya kami mengejar salah satu kapal bernama KMP Trimas Elisa tapi berhubung kondisi pelabuhan yang padat oleh kendaraan dan penumpang, sepertinya gak berjodoh dengan Si Elisa. 




Suasana pelabuhan siang itu sangat ramai oleh penumpang yang akan menyeberang ke Pulau Sumbawa. Hari itu juga bertepatan dengan hari libur alias long weekends. Jadinya banyak perantau dan anak sekolah yang pulang kampung ke Sumbawa, Dompu dan Bima. 


Dan pelabuhan Kayangan ini termasuk salah satu pelabuhan tersibuk di Indonesia. Disini ada sekitar 25 (dua puluh lima) kapal yang beroperasi selama dua puluh empat jam. Pelabuhan ini gak pernah sepi. Memiliki dua dermaga kapal roro alias feri. Terkadang kalau salah satu dermaga rusak, pasti akan macet. 


Kurang lebih menunggu hampir dua jam, akhirnya kami berjodoh dengan KMP Garda Maritim I yang dijadwalkan berangkat jam dua siang. Salah satu kapal favorit di penyeberangan ini. Sambil menunggu kapalnya mengantri nyandar di dermaga, anak dan istri istirahat di ruang tunggu penumpang yang ber-AC. Sedangkan saya menjaga motor di antrian sambil cuci mata. 


Tiba-tiba petugas mengarahkan para pemotor untuk menuju pintu dermaga I. Termasuk kendaraan di dalam rombongan tersebut. Kami menuju pintu dermaga I untuk mengantri masuk ke dalam lambung kapal. 


Untuk jumlah kendaraan yang akan masuk ke dalam kapal cukup banyak dengan mayoritas pemotor. Sisanya mobil pribadi, travel dan bus sedang. 


Berhubung lagi ramai penumpang, istri berinisiatif jalan kaki naik ke atas kapal saat rumdoor kapal susah turun. Alasannya agar dapat tempat duduk. Sedangkan saya dan anak-anak stay di atas motor menunggu ijin dari petugas pelabuhan untuk masuk ke dalam kapal. 


Satu per satu petugas mengecek tiket baik kendaraan maupun penumpang. Setelah proses pengecekan tiket, kami dipersilahkan masuk menuju kapal. Kendaraan masuk satu per satu ke deck kendaraan dengan tertib. Terlihat ABK sibuk mengatur posisi kendaraan di dalam kapal agar kapal dalam posisi stabil. 


KMP Garda Maritim merupakan kapal jenis roro (roll on-roll off) atau biasa kita menyebutnya kapal feri. Dimana bisa mengangkut kendaraan kecil hingga besar dan penumpang. Kapal ini dioperasikan oleh PT Multi Guna Maritim dan melayani penyeberangan Pelabuhan Kayangan - Pelabuhan Pototano dari tahun 2017 hingga sekarang. 


Memiliki panjang 57 meter dan lebar 14 meter dengan tinggi deck kendaraan sekitar 4,5 meter sehingga kendaraan seperti truk dan bus yang tingginya sekitar 4,4 meter bisa masuk ke dalam deck kapal. 


Bentuk kapal ini cukup unik. Mirip seperti piramida yang memiliki dua sisi yang sama. Ada dua ruang anjungan atau ruang kemudi yang berada di bagian depan dan belakang kapal kapal. Baling-baling juga berada di bagian depan dan belakang sehingga mempermudah laju kapal saat berlayar. 


Selain KMP Garda Maritim I, ada juga KMP Garda Maritim II, Garda Maritim 6 dan Garda Maritim 8 yang beroperasi di lintas Kayangan - Pototano. Banyak orang menyebutnya kapal-kapal ini "kapal kembar" karena bentuknya mirip dan satu perusahaan. 






Ruang penumpang hanya satu lantai. Semuanya kelas ekonomi duduk dan lesehan dalam satu ruangan. Tempat duduknya dari plastik tebal tapi sangat nyaman. Lesehan tempat selonjorannya juga gak begitu besar tapi cukup buat beberapa orang. 


Bagi yang ingin bersantai di luar juga ada beberapa tempat duduk di pinggiran kapal. Berhubung suasana kapal sangat ramai oleh penumpang tapi syukurnya masih nyaman. 


Kurang lebih setengah jam kapal melakukan proses bongkar muat, sekitar jam dua siang kapal diberangkatkan ke Pelabuhan Pototano. Cuaca sangat bersahabat. Sayangnya puncak Gunung Rinjani tertutupi oleh awan. Angin laut normal dan diprediksi Selat Alas cukup tenang. 


Jadi gak sabar melihat proses kapal berangkat. Rumdoor kapal ditutup oleh ABK kapal. Suasana deck kendaraan sangat padat. Kapal membunyikan klakson pendek sebanyak dua kali pertanda akan berpapasan dengan kapal lain yang giliran nyandar di dermaga. 


Kecepatan kapal masih tergolong sedang. Berpapasan dengan kapal lainnya yang sedang menunggu giliran masuk pelabuhan. Melakukan penyeberangan Lombok - Sumbawa ini adalah impian banyak travelers. View yang ditawarkan sangat indah. 


Laut dengan gradasi hijau dan biru. Pulau-pulau kecil yang bakalan akan kita lihat sepanjang perjalanan seperti Gili Kapal, Gili Kondo, Pulau Paserang, Pulau Belang, dan yang sangat terkenal yaitu Pulau Kenawa yang posisinya sangat dekat dengan Pelabuhan Pototano. 


Estimasi penyeberangan kurang lebih dua jam. Jadinya bisa kita gunakan untuk tidur siang dan keliling di atas kapal. Berhubung belum makan siang, kami makan siang dulu dengan nasi bungkus yang sudah dibeli di pelabuhan tadi. Sedangkan anak-anak sudah dibawakan bekal dari rumah sebelum berangkat tadi. 


Fasilitas lain kapal ini antara lain ada mushola, kantin, toilet yang bersih, ruang medis dan ruang ibu menyusui. Over all, kapal ini cukup nyaman dan bersih. Sayangnya kecepatan kapalnya agak santai. Jalan kapal yang gak pada umumnya. Bisa dibilang sangat lambat. 


Tapi untungnya kami gak diburu waktu. Jadinya gak masalah. Justru kami diuntungkan karena bisa tidur siang agak lama. Lumayan dua jam duduk di atas motor dari rumah hingga pelabuhan, pantat juga lumayan anget.  hahaha. 






Penyeberangan hari itu cukup lancar. Laut tenang dan angin gak begitu kencang. Langit juga sedikit berawan meskipun terlihat dari jauh Pelabuhan Pototano diguyur hujan. 


Kurang lebih tiga jam pelayaran, kapal sampai juga di Pelabuhan Pototano. Salah satu pelabuhan terindah di Indonesia. Gak menunggu lama masuk pelabuhan, kapal pun bersiap-siap bersandar di dermaga 2.


Untungnya sudah selesai hujan, jadinya gak perlu menggunakan jas hujan. Jam lima sore, kami turun dari kapal. Ini pertama kalinya anak-anak menginjakkan kaki di Pulau Sumbawa. 


Mereka berdua sangat senang sampai di Pulau Sumbawa. Apalagi ditambah dengan panorama alam Sumbawa yang khas alam Indonesia Timur. Perbukitan hijau ketika musim hujan. Saat musim kemarau, perbukitan berwarna kuning kecokelatan. 





Pertengahan Bulan Mei, perbukitan sebagian kecokelatan. Sebagian juga ada yang masih kehijauan. Suasana habis hujan menyambut kami di Pelabuhan Pototano, Kab. Sumbawa Barat. 


Perjalanan kurang lebih setengah jam lagi sampai di Kota Taliwang. Kota Kabupaten Sumbawa Barat. Keluar dari pelabuhan, saya membawa motor agak santai sambil menikmati surganya Sumbawa Barat. Bertemu pertigaan Kamuter Telu, kami berbelok ke kanan menuju arah Kota Taliwang. Sedangkan kalau mengambil jalan lurus, akan mengarah ke Kota Sumbawa Besar, Kab. Sumbawa. 


Yang khas kalau motoran di Pulau Sumbawa, kita bisa bertemu dengan kawanan sapi dan kerbau yang melintas di jalan raya. Jadinya harus ekstra hati-hati jika melintas. Mereka memang dibiarkan mencari makan sendiri dan akan pulang ke kandang dengan sendirinya tanpa khawatir dicuri. Keren kan  !. 


Menuju Kota Taliwang, kami melewati Desa Tapir, Kec. Seteluk dimana desa menuju Bukit Mantar yang terkenal itu. Selanjutnya kami sampai di Danau Lebok. Danau yang cukup luas yang tertutupi tanaman Eceng Gondok. Kalau sudah sampai di danau ini, tandanya sebentar lagi kami akan memasuki Kota Taliwang. 


Sesampainya di Kota Taliwang, kami segera menuju penginapan yang sudah kami pesan melalui whatsapp. Perasaan senang dan lega akhirnya sampai di tujuan dengan selamat dan sehat. Anak-anak juga sangat senang dan baik-baik saja. Suasana kota yang cukup ramai. Taliwang sekarang sudah semakin ramai. Banyak pedagang yang berjualan. Tata kota yang semakin indah dan rapi. 


Di tulisan selanjutnya, saya akan mengajak kalian jalan-jalan di Kota Taliwang. Jadi saya cukupkan tulisannya sampai disini. Ditunggu ceritanya minggu depan !. 


Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Thursday, 18 June 2026

Coffee Morning di Iforest Coffee Lombok


Kalau mau ngopi pagi di tempat yang santai dan nyaman tapi bingung dimana. Kalian bisa cobain ngopi pagi di Iforest Coffee yang buka dari jam tujuh pagi sampai sebelas malam setiap harinya. 

Lokasinya di Jalan Prasarana no. 6, Dasan Agung Baru, Kota Mataram. Gak jauh dari Islamic Center Lombok, Masjid Hubbul Wathan, komplek sekolah dan kampus. Namanya cafe atau kedai kopi jaman sekarang itu pastinya ramai dikunjungi oleh para Gen Z. 

Para generasi milenial seperti saya gak mau kalah dong sama mereka yang menjadi harapan bangsa di era yang akan datang. Bisa membawa negeri ini menjadi negeri yang maju dan beretika, Asyik. Ini kita bahas apa sih?. 

Kalau Hari Jumat pagi biasanya kegiatan di kantor yaitu jalan sehat bareng teman kantor. Nah beberapa minggu yang lalu, biar gak bosan hanya jalan sehat sekitar kantor saja. Kita mampir di Iforest Coffee yang lokasinya hanya lima belas menit dari kantor dengan berjalan kaki. Kalau naik motor, bisa dua menitan. 




Alasan saya kenapa datang kesini karena Iforest Coffee lagi ada promo namanya Morning Coffee dimana kita bisa pesan kopi dari jam tujuh pagi hingga sepuluh pagi setiap hari. Menawarkan harga spesial yaitu hanya 20 ribu saja. 

Nah karena ada tempat ngopi yang menawarkan kopi pagi, saya tertarik buat datang. Untuk kopinya, kita bisa pilih antara lain americano, piccolo, cafe latte dan cappuccino. Semuanya hot dan original alias gak ada yang dingin. 

Buat saya pribadi, adanya tempat ngopi pagi-pagi sekece Iforest punya kebahagiaan tersendiri. Pagi itu pengennya ngopi sendiri sambil bersantai memikirkan kerjaan yang mau diselesaikan hari itu. Kebetulan juga lagi gak terlalu sibuk. Jadinya bisa berolahraga sambil ngopi santai. 

Cafe ini menawarkan suasana yang tenang dengan konsep yang terasa modern namun tetap hangat, cocok untuk berbagai aktivitas mulai dari bekerja, ngobrol santai, hingga sekadar menikmati secangkir kopi di pagi atau malam hari. 








Iforest Coffee menjadi salah satu destinasi favorit bagi para pecinta kopi maupun mereka yang mencari tempat nongkrong dengan suasana yang gak terlalu ramai. Begitu masuk, pengunjung langsung disambut dengan desain interior yang didominasi unsur kayu dan nuansa natural yang membuat suasana terasa nyaman.

Begitu tiba di halaman depan, saya disambut dengan area parkir yang cukup luas. Vibesnya seperti masuk ke pekarangan rumah masa kecil. Bangunan cafenya juga cukup sederhana dengan dominan cat tembok warna putih dan kusen pintu jendela warna tosca. 

Beberapa tanaman hias dan pohon mangga menyambut siapa saja pengunjung yang datang. Karena saya datangnya pagi, suasana masih sejuk dan masih sepi. 

Hal pertama yang saya rasakan saat berada di Iforest Coffee adalah suasananya yang cukup adem dan menenangkan. Penataan meja yang rapi membuat pengunjung tetap memiliki ruang untuk menikmati waktu tanpa merasa terganggu dengan pengunjung lainnya. 

Disini ada beberapa area tempat duduk yang bisa kita pilih. Ada bagian indoor dengan sofa panjang dan meja kayu. Cocok buat kalian yang ingin sendirian dan bekerja di depan laptop, bisa pilih area ini. 

Ada juga area outdoor dan semi outdoor. Cocok buat kalian yang mencari suasana kumpul bareng teman atau keluarga. Atau mau nonton bareng Piala Dunia 2026, pas banget. Area outdoornya cukup luas yang berada di bagian belakang dan samping bangunan utama. Meja dan kursi berjejer rapi. Buat yang lagi mencari tempat meeting, cafe ini juga menyediakan ruang meeting yang nyaman. 

Beberapa fasilitas lainnya seperti mushola, toilet dan wastafel juga tersedia. Semuanya bersih dan tertata rapi. 

Musik yang diputar juga gak terlalu keras sehingga tetap nyaman untuk mengobrol atau bekerja di laptop. Bagi yang suka mencari spot foto, beberapa sudut di kafe ini juga cukup Instagramable. Pencahayaan yang baik dan desain ruangan yang estetik membuat hasil foto terlihat menarik tanpa perlu banyak editan.




Memasuki ruangan cafe yang masih sepi dengan vibes suasana rumah masa kecil. Saya menuju meja kasir untuk memesan satu gelas kopi based cappuccino panas seharga 20 ribu dan kentang goreng seharga 25 ribu. 

Seorang karyawan cafe melayani dengan ramah. Setelah bayar, saya memilih duduk di ruang dalam saja. Duduk santai di pojokan samping jendela. Kursi sofanya berukuran panjang untuk dua orang. Ada meja dan kursi sofa ukuran untuk satu orang. 

Untuk kopi based cappuccino panasnya berasa espressonya. Gak manis tapi gak pahit juga. Enak banget dinikmati di pagi hari. Minum kopi sambil nyemil kentang goreng. Porsi kentang gorengnya juga cukup besar. Cukup untuk porsi saya sendiri. 

Sebagai coffee shop, tentu menu kopi menjadi daya tarik utama. Pilihan kopi di Iforest Coffee cukup beragam, mulai dari espresso based hingga kopi susu yang cocok untuk penikmat kopi ringan. Rasa kopinya terasa seimbang, gak terlalu pahit dan tetap memiliki karakter yang nikmat.

Selain kopi, tersedia juga berbagai pilihan minuman non kopi serta cemilan dan makanan ringan yang cocok menemani waktu bersantai. Penyajian menu terlihat menarik dan porsinya cukup memuaskan.

Over all, Saya suka ngopi disini. Disini kita bisa nongkrong lama sambil main handphone tanpa khawatir kehabisan baterai karena disediakan colokan listrik dan akses internet yang cukup kencang menjadi nilai tambah bagi pengunjung yang ingin berlama-lama.

Secara keseluruhan, Iforest Coffee menawarkan pengalaman ngopi yang menyenangkan di Kota Mataram. Dengan suasana yang nyaman, desain tempat yang menarik, pilihan menu yang beragam, serta pelayanan yang ramah, kafe ini layak masuk dalam daftar tempat nongkrong yang wajib dicoba saat berada di Kota Mataram.

Penulis : Lazwardy Perdana Putra


Friday, 12 June 2026

Nyobain Nasi Tempong Indra, Legian : Pedas Poolll !!!



Kalau lagi cari kuliner khas Banyuwangi di Bali yang rasanya nampol, satu tempat yang wajib dicoba adalah Nasi Tempong Indra. Tempat makan ini sudah cukup terkenal di Bali, terutama buat pecinta sambal pedas yang bikin keringetan tapi tetap gak bisa berhenti makan.

Buat kebanyakan orang kalau liburan ke Bali, nyari menu kuliner yang aksesnya mudah dan terletak di tengah kota yaitu Nasi Tempong Indra. Penasaran kenapa rumah makan ini ramai dikunjungi, Yuuk kita ulik  !. 

By the wea, siang yang sangat terik di Kota Denpasar, saya menyempatkan diri buat nyari oleh-oleh. Kebetulan ada yang nitip Sambel Tempong Indra. Lokasinya gak jauh dari hotel tempat saya menginap. 

Setelah selesai acara dan check out dari hotel, saya lanjut nyari tempat kulineran yang ada di Bali sebelum menuju ke Padangbai buat balik ke Lombok. Salah satu tempat yang menjadi tujuan yaitu Nasi Tempong Indra yang berada di Jalan Dewi Sri no. 788, Legian, Kuta, Kab. Badung, Bali.

Kalau gak salah ada lima cabang yang ada di Bali. Yaitu di daerah Renon, Denpasar Barat, Tuban, Bedugul dan di Legian sendiri.  Awalnya rencana ke cabang yang di Tuban tapi berhubung ngikutin google maps yang lebih condong ke Legian, jadinya kesini saja. Sama saja menurut saya. 

Ada yang menjadi perhatian saya dari Nasi Tempong Indra. Dari beberapa informasi yang pernah saya baca, penamaan Indra berasal dari nama Ibu Indra si pemilik rumah makan. Mulai buka bisnis kuliner di tahun 2006.

Sebelumnya Ibu Indra juga sebagai pemilik beberapa apotek yang ada di Bali. Beliau juga mengembangkan bisnis di dunia travel. Akan tetapi bisnis travelnya mengalami kerugian dan bangkrut karena kena tipu. 

Bangkit dari keterpurukan, akhirnya Ibu Indra membuka rumah makan Nasi Tempong Indra karena beliau suka sekali dengan nasi tempong masakan khas Banyuwangi, Jawa Timur. 

Bisnis kulinernya gak hanya dikenal oleh tourist domestik saja tapi tourist mancanegaranya juga karena cita rasanya yang lezat dan sambel tempongnya yang bikin nagih. 




Siang itu arus lalu lintas di daerah Seminyak dan jalan utama Legian padat sekali. Apalagi bertepatan dengan long weekends, jadinya benar-benar harus bersabar. Capeknya itu bukan di macetnya tapi karena panasnya Legian siang itu. 

Setibanya di lokasi, saya melihat parkiran kendaraan cukup ramai. Benar saja, setelah memarkirkan motor dan masuk ke dalam rumah makannya, wowww ramai banget guys. Gila ini benar-benar ramai dan pas banget sampai di lokasi pas jam makan siang.

Di depan rumah makannya, terdapat beberapa gambar menu yang menarik buat dicoba. Salah satu yang pengen saya coba yaitu Nasi Ati Ampela  karena suka makan ati (bukan hati) lhoo ya, hehehe. 

Berjalan masuk ke dalam, terlihat ratusan pengunjung sudah memadati tempat duduk. Nyaris tempat duduknya penuh semua. Untungnya di bagian depan, ada meja dan bangku dari kayu yang masih kosong. Berhubung saya sendirian, saya diarahkan menempati meja yang ukurannya gak terlalu panjang. 

Penampakan tempat makannya cukup sederhana. Bangunan berbentuk joglo khas rumah adat Jawa Timur. Tiang-tiang kayu jati kokok berdiri. Meja dan bangku juga semuanya kayu jati yang sudah diplamir. 

Lampu-lampu bercahaya kuning menghiasi dalam bangunan. Terlihat gak hanya pengunjung domestik saja yang makan disini, dari mancanegara pun ramai datang kesini siang itu. Untuk ukuran rumah makannya cukup luas dan nyaman. 

Saya sempat melihat salah satu artis bersama rombongan juga makan siang disini di waktu yang sama. Tapi saya lupa namanya siapa karena saya paling ingat kalau wajah saja hahaha. Kebanyakan yang datang makan siang kesini rata-rata rombongan atau berdua sama gebetan. Seperti di sebelah saya, datangnya berdua. Entah temen kerja, gebetan, suami istri atau tiiittt (sensor). Untuk itu saya hati-hati mengambil foto. Takut kena pelanggaran undang-undang ITE, hehehe. 




Salah satu karyawan rumah makan menghampiri saya membawa selembar daftar menu. Saya memesan Nasi Ati Ampela Sambel Tempong satu porsi dan dua gelas Es Teh karena haus banget. Butuh yang dingin dan manis untuk memulihkan tenaga kembali. 

Pelayanannya cukup baik dan cepat. Gak menunggu waktu lama, pesanan saya sudah datang. Sepiring Nasi Tempong Ati Ampela seharga 36 ribu dan Es Teh Manis seharga 15 ribu. Untuk porsinya kalian bisa lihat sendiri di foto, banyak sekali isi di atas piringnya. 

Ada nasi putih, ati ampela, tahu tempe goreng, terong goreng, potongan timun, bayam, potongan labu yang direbus, ikan asin dan sambel tempong khas Nasi Tempong Indra yang super duper pedas. 

Sambelnya gurih, manis, sedikit asem segar dari jeruk nipis dan pedas. Tapi ini pedasnya keterlaluan. Sampai saya nambah satu porsi nasi putih lagi. Enak banget dan meningkatkan nafsu makan. Apalagi waktunya makan siang. 

Ukuran ati ampelanya cukup besar. Gurih, empuk dan gak terasa pahit. Tahu tempe gorengnya gak banyak minyak. Labu rebusnya juga enak. Ditambah sayur bayam dan timun yang segar. 



Benar kata teman-teman yang sudah datang kesini. Sambel Tempong Indra emang juaranya. Karena sambelnya enak, saya membeli sambel tempong buat dibawa pulang ke rumah. 

Kebetulan juga teman ada yang pesan, jadinya saya beli tiga botol sambel tempong seharga 103 ribu per botolnya. Untuk stok sambel tempongnya cukup tersedia. Jadinya gak khawatir kehabisan. Kalian juga bisa bawa sebagai oleh-oleh orang rumah dan teman kantor. 

Ohya, jangan khawatir buat teman-teman muslim, disini makanannya sudah dipastikan halal. Menjadi pilihan buat kalian yang datang berlibur atau ada bisnis di Bali, bisa mampir makan di Nasi Tempong Indra. Buka dari jam sembilan pagi hingga jam sebelas malam. 

Sekarang ini Nasi Tempong Indra gak hanya ada di Bali saja, tapi ada di Jakarta dan Medan juga. Selain menu Ati Ampela, masih banyak juga menu lainnya dengan harga yang berbeda. Ada Nasi Tempong Ayam, Bebek, Cumi, Udang, Lele, Empal dan Nasi Tempong biasa tanpa lauk. 

Jadi kalau liburan ke Bali, bisa mampir di Nasi Tempong Indra!. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Thursday, 4 June 2026

Ngopi Santai bersama Air Terjun Campuhan : River Flow Cafe


Kalau lagi cari tempat di Bali yang suasananya lebih adem, jauh dari hiruk pikuk keramaian Kuta dan jalanan Kota Denpasar yang macet, saya menemukan salah satu spot yang cocok buat menghabiskan waktu seharian yaitu Air Terjun Campuhan. 


Lokasinya berada gak jauh dari Danau Ulun Danu Beratan, Bedugul. Waktu tempuh sekitar dua jam perjalanan dari kawasan Seminyak dan Legian menggunakan kendaraan pribadi. 


Bisa baca disini : Menginap Rasa camping di Taman Danu Glamping Bedugul


Tempat ini memiliki nuansa yang sederhana tapi justru itu daya tariknya. Suara aliran sungai, kicauan burung, pepohonan hijau, dan suasana yang bikin pengen duduk lama tanpa diburu oleh waktu. 


Berawal dari iseng-iseng buka instagram. Lalu secara kebetulan muncul di beranda reel salah satu kedai kopi dengan view cantik dari air terjun. Nama kedai kopinya River Flow Cafe. Pas melihat titik lokasinya yang aksesnya gak terlalu susah, kok jadi tertarik buat kesana. 






Perjalanan siang itu dimulai dari Grand Mercure Hotel Seminyak Bali. Setelah check out dari hotel, saatnya mulai mengexplore Bali. Kalau pulang langsung ke Lombok, rasanya sayang banget sudah jauh-jauh motoran ke Bali hanya untuk menghadiri acara dan stay di hotel saja. 

Sebelum pulang ke rumah, saya sudah punya rencana buat ridding tipis dulu. Kebetulan juga motoran sendirian, jadi bebas mau kemana saja. 

Setelah makan siang di salah satu tempat makan yang cukup ramai di kawasan Badung, saya melanjutkan perjalanan ke arah utara. Kondisi lalu lintas dari Badung ke arah Denpasar cukup padat merayap. Apalagi lagi long weekend jadinya harap bersabar.

Google maps saya aktifkan untuk membantu perjalanan agar gak tersesat. Sudah sering motoran ke Bali tapi masih gak hafal jalan. Tau sendiri kondisi jalan di Bali itu penuh dengan percabangan, tapi disitulah keunikan Bali. 

Kurang lebih setengah jam perjalanan, akhirnya saya keluar dari Kota Denpasar, menuju arah Mengwi. Dari pertigaan Mengwi, mengambil arah jalan lintas provinsi yaitu destinasi wisata alam Ulun Danu Beratan, Bedugul dan Kab. Singaraja. 

Langit Bali siang itu yang awalnya cerah jadi agak mendung. Pertanda di bagian utara akan turun hujan. Dari arah Mengwi ke Bedugul gak terlalu padat kendaraan. Jadinya saya bisa menggeber motor agak kencang agar cepat sampai. 

Terlihat kendaraan yang dari arah berlawanan sudah basah. Wah, agak cemas karena pastinya akan kedapatan hujan juga. Sesampainya di pertigaan jalanan kecil menuju cafenya, kondisi sudah gerimis. 

Dari jalan utama, saya berbelok ke arah jalan kecil memasuki perkampungan warga desa. Nama kampungnya yaitu Banjar Kerobokan, Mekarsari, Kec. Baturiti, Tabanan. Kondisi jalanan disini cukup baik. Aspal mulus penampakan perkampungan disini juga bersih dan tertata rapi khas kampung Bali. 

Selain Air Terjun Campuhan yang akan dituju, gak jauh dari perkampungan ini juga terdapat destinasi wisata alam bernama Air Terjun Leke-Leke. Dari pertigaan menuju Air Terjun Leke-Leke, kita berbelok ke kiri menuju arah River Flow Cafe. 

Keluar dari perkampungan, kita bertemu dengan jalanan berkelok-kelok dan sedikit menanjak. Kiri-kanan terlihat area perkebunan warga. Pepohonan rindang dengan perbukitan hijau yang sudah tertutup kabur. Hawa dingin sudah terasa. Udara sejuk khas perbukitan membuat hati dan pikiran menjadi syahdu. Rasanya sudah berada jauh dari keramaian. 

Kurang lebih menempuh dua jam perjalanan, saya sudah sampai di area parkir pintu masuk menuju Air Terjun Campuhan dan River Flow Cafe. Suasana benar-benar hening dan gak banyak orang yang saya temui. Hanya beberapa motor saja yang terparkir. 

Area parkir kendaraan cukup luas. Setelah memarkirkan motor, saya membawa barang secukupnya saja. Sisanya saya taruh di dalam jok motor. 











Untuk masuk ke area air terjun, kita membeli tiket masuk di loket  sebesar 10 ribu saja. Itu sudah bebas mengexplore air terjun dan cafenya. Tapi untuk pembelian makanan dan minuman di cafenya, tetap bayar lagi sesuai menu yang dipesan. 

Dari loket, kita harus berjalan kaki menyusuri jalanan setapak. Terdapat gapura masuk ke dalam. Kurang lebih lima puluh meter lagi, kita bakalan sampai di lokasi. 

Terlihat taman kecil penuh dengan rerumputan hijau. Bangunan tua yang gak berpenghuni. Agak horor auranya pas melewati bangunan tersebut. Demi cafe estetik dengan view air terjunnya, rasa takut agak berkurang. Mana sendirian lagi, gak terlihat tanda-tanda akan berpapasan dengan pengunjung lainnya. Apa salah waktu datang kesini ?,pikir saya saat itu. 

Sore itu hujan sudah mulai turun. Saya percepat langkah biar gak basah kuyup. Gak enaknya saat itu kaki agak sakit karena kelamaan pakai sepatu. Agak sedikit bengkak di area ibu jari dan sakit sekali. Untungnya masih kuat berjalan. 

Suara air yang cukup deras sudah terdengar samar-samar. Tandanya sebentar lagi kita akan sampai. Dari kejauhan sudah terlihat cafenya. Sebelum sampai, saya harus menyeberangi sungai kecil melalui jembatan kayu. Kalau cuaca cerah bakalan bagus buat spot foto. 

Setelah melewati jembatan kayu, akhirnya sampai juga di River Flow Cafe. Tepat di depannya Air Terjun Campuhan. Dipisahkan oleh sungai kecil dengan air yang cukup jernih. Ini namanya sekali mendayung dua tiga pulau terlewati. 

Suasana hening sekali. Hanya ada saya dan tiga orang pengunjung. Itupun mereka satu rombongan keluarga. Kebetulan ini masih hari biasa dan waktu juga sudah menuju sore hari. Sekitar jam empat sore saya baru sampai sini. 

Penampakan cafenya saya suka. Terdapat beberapa tempat duduk dari semen beton. Bangku-bangku besi juga tertata rapi. Bangunannya dibuat konsep outdoor dan bertingkat. Hanya terdapat bangunan outlet berbentuk kotak bercat putih untuk tempat memesan minuman. 

Di tingkat paling atas terdapat tempat duduk beratapkan kanopi. Syukurnya masih ada sisa tempat duduk disana. Jadinya bisa terlindung dari hujan yang turun sore itu. 



Berlokasi di kawasan Air Terjun Campuhan, River Flow menawarkan konsep yang sederhana tapi justru menjadi daya tarik tersendiri. Begitu sampai, yang langsung terasa bukan aroma kopi duluan, tapi suara aliran air dan suasana alam yang bikin waktu terasa melambat.

Area duduknya dibuat menyatu dengan lingkungan sekitar. Tidak terasa berlebihan atau terlalu ramai dekorasi. Bahkan memiliki nuansa terbuka dengan pemandangan hijau di sekelilingnya yang membuat tempat ini nyaman untuk bersantai menghabiskan waktu seharian. 

Karena kesini tujuannya ingin ngopi santai sambil menikmati air terjun, saya memesan Coffee Late hangat dengan harga 22 ribu. Ditambah lagi dengan hujan turun dengan derasnya, rasanya syahdu sekali. Rasa ragu dan lelah motoran di tengah keramaian Kota Denpasar hilang begitu saja. 

Benar-benar menenangkan. Jauh dari sinyal internet dan benar-benar rasanya menyatu dengan alam. Langit semakin gelap, hujanpun turun semakin deras. Saya mencoba tetap menikmati sisa moment-moment yang ada meskipun sempat khawatir juga kalau hujan gak reda sampai malam, bakalan kemaleman sampai Padangbai.



View dari cafe ini gak ada obatnya. Mungkin ini satu-satunya cafe dengan konsep menyatu dengan alam yaitu Air Terjun Campuhan dengan kolam alami tempat bermain air. 

Menikmati aliran sungai dengan air jernih, mengalir dengan deras di sela-sela bebatuan. Kolam alami yang berukuran gak terlalu lebar. Air terjun yang begitu deras, suara kicauan burung dan hujan membuat suasana begitu menenangkan dan syahdu. 

Gak nyesel datang kesini meskipun berjumpa dengan hujan dan kaki kurang bersahabat. Benar-benar pengalaman yang sangat seru. Lain waktu kalau motoran ke Bali lagi, bakalan datang kesini lagi bareng anak-anak dan istri. 

Dengan tiket masuk 10 ribu ditambah pesan Coffee Late 22 ribu jadi total 32 ribu sudah bisa menikmati alam Air Terjun Campuhan sambil duduk santai di River Flow Cafe. 

Selain Caffe Latte, masih banyak minuman lainnya baik panas maupun dingin. Menu berat sampai snack juga ada buat menikmati minum kopi. Harganya pun ramah di kantong. 

Over all, tempatnya bersih dan tertata rapi. Beberapa titik ada tempat sampah. Toilet juga bersih. Aman dan nyaman bagi pengunjung. Agak sedikit horor sih kalau baliknya kemalaman karena lokasinya benar-benar di dalam hutan dan di lereng perbukitan. 

Untuk Air Terjunnya buka dari jam tujuh pagi sampai lima sore. Sedangkan untuk River Flow Cafenya buka dari jam tujuh pagi hingga sepuluh malam.  Berani juga ya karyawan cafenya stay disini hingga malam hari. Hehehe. 

Waktu sudah menunjukkan jam lima sore. Jadwal kapal balik ke Lombok saya ambil yang jam depalan malam. Ada waktu dua jam  perjalanan menuju Pelabuhan Padangbai. Beruntungnya, hujan juga sudah mulai reda. 

Bisa dibilang beruntung bisa kesini di waktu yang gak ramai pengunjung. Biasanya di waktu libur kerja dan anak sekolah, cafe ini selalu ramai dikunjungi. Yuuk, kapan lagi kesini kalau kalian datang berlibur ke Bali. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra