Friday, 24 July 2020

Minggu Pagi ke Taman Langit Lombok

Meskipun kita lagi dihantui oleh Si Covid-19, keindahan Pulau Lombok gak ada habisnya. Mengapa begitu ?. Nyatanya disaat pemerintah masih memperketat protokol pencegahan Covid-19, banyak destinasi wisata baru yang bermunculan di Pulau Lombok. Salah satu contoh tempat tongkrongan baru ala-ala anak muda jaman sekarang yang doyan fotoan instagramable dan mencari tempat ngumpul. Sebut saja namanya Taman Langit Lombok.

Taman Langit Lombok termasuk tempat nongkrong baru yang menampilkan keindahan perbukitan Pulau Lombok dan yang menjadi ciri khasnya yaitu pemandangan Kota Mataram  dan sekitarnya saat malam hari. Kela-klip lampu perkotaan di malam hari yang menambah suasana romantis dari tempat ini. Seperti yang bias kita lihat di Bukit Bintang yang ada di Yogyakarta, Omah Kayu yang ada di Kota Batu, Malang dan daerah lainnya. Taman Langit Lombok menurut saya gak kalah dengan keindahan dari tempat lain yang menawarkan keindahan yang serupa.

Gimana keseruan perjalanan saya menuju Taman Langit Lombok ?, Bacanya dihabiskan ya !.

Berawal dari chat whastapp sahabat jalan saya bernama Mas Irfan. Dia japri saya mengajak untuk liat sunrise dari atas Taman Langit Lombok. Gak berdua saja, tapi dia mengajak istri dan anaknya. Gak lama kemudian nambah satu orang lagi yang ikut, Mas Junk. Sudah lama juga kami gak colab jalan bareng lagi semenjak saya nikah dan Covid-19 menyerang. Pas ada waktu, Pada hari itu saya gak ada kesibukan yang lain kecuali sibuk sama istri ngurus si kecil saja.

Kami janjian Minggu pagi sehabis shalat subuh berkumpul di salah satu Indo**t yang ada di sekitaran Rembige, Kota Mataram. Sekitar jam setengah enam pagi, saya meminta ijin ke istri untuk pergi sebentar. Kebetulan si istri gak bias saya ajak karena ada si kecil. Syukurnya si istri mengijinkan meskipun dia juga pengen ikut. Sabar ya sayang, nanti kalau anak kita sudah besaran, baru kita ajak jalan kesana.




Jam enam kurang saya sudah tiba di lokasi tempat kami janjian bertemu. Hanya ada saya dan si blue alias saya yang dating pertama. Sudah jam enam lewat, kok belum pada dating ya. Saya kira gak jadi atau ketiduran. Gak lama ada chat masuk. Mas Irfan dan istri masih di jalan alias otw ke lokasi. Oke, saya tunggu akhirnya.

Langit sudah mulai terang. Semoga saja sampai di lokasi gak telat liat sunrisenya. Gak lama kemudian Mas Irfan dan istri tiba di lokasi. Mau nunggu Mas Junk sepertinya gak ada waktu lagi. Akhirnya saya chat Mas Junk untuk nyusul kami saja. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan.

Untungnya lokasi gak jauh dari Kota Mataram. Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit saja dengan jalur yang sungguh mempesona, hehehe. Taman Langit Lombok sebenarnya sudah terkenal beberapa waktu lalu dengan sebutan Bukit Bengkaung. Berhubung saat itu wabah Covid-19 melanda dunia bahkan sudah memasuki Indonesia, tempat ini ditutup sementara. Meskipun ditutup, masih banyak warga yang dating kesini untuk mengabadikan keindahan Kota Mataram dari atas bukit. Sempat viral di media social khususnya instagram yang dimana banyak foto-foto kece yang ditampilkan banyak akun.

Saat ditutup buat umum, pihak pengelola yang dimana dari masyarakat setempat melakukan renovasi sehingga tempat ini menjadi lebih bagus lagi, dimana ada café atau tempat nongkrongnya. So, tempat ini berubah nama menjadi Taman Langit Lombok atau Kedai Taman Langit Lombok. Tempat ini baru dilaunching beberapa minggu yang lalu, tepat tanggal 8 Juli 2020 yang mengusung konsep kedai kopi sekaligus tempat wisata mirip seperti Taman Adelweis yang berada di Karangasem, Bali dan Bukit Bintang yang berada di Yogyakarta.

Setelah dilaunching, bukannya masih sepi pengunjung. Melainkan semakin ramai warga Kota Mataram dan sekitarnya yang berlomba-lomba datang kesini. Ada yang bareng gebetan (tahap pedekate), pacar baru, mantan (masih belum move on), pasangan halal, teman dan keluarga. Semakin viral dengan tampilan baru pastinya. Benar-benar tempat tongkrongan anak muda Lombok dan sekitarnya.

Dua hari setelah launching, saya melihat banyak foto-foto yang berjamuran di instagram. Jadi pengen dong datang kesini, tapi saat itu masih disibukkan dengan pulang pergi kantor. Memang rezeki namanya, ada yang ngajakin ramai-ramai kesini yaitu Mas Irfan dan kawan-kawan. Cerita dari teman yang sebelumnya sudah datang kesini, tempatnya sangat ramai. Apalagi menjelang sore hingga malam, bakalan ngantri untuk masuk karena tempatnya gak terlalu luas juga.

Biasanya banyak pengunjung yang datang ketika malam hari agar bisa menikmati view Kota Mataram yang penuh gemerlap dengan cahaya lampu dari atas perbukitan. Biar lebih greget lagi, dibangun juga dua spot foto yang sangat instagenic dan ini yang saya bilang sebelumnya, spot yang fotonya banyak berjamuran di media social khususnya instagram.  Ada yang mengatakan, kalau belum fotoan disini, belum ke Taman Langit Lombok. Ada-ada saja warga +62 ini, hehehe. Pokoknya spotnya sangat recommended banget untuk berfoto eksis, mamerin ke dunia social media kalau sudah fotoan di Taman Langit Lombok.

***


Bagi yang masih ragu datang kesini karena melihat tempatnya di atas perbukita, jangan khawatir. Kondisi jalannya baik dan mulus, meskipun berkelok-kelok dan menanjak di beberapa titik. Melewati persawahan dan perkampungan dengan udara pagi yang aduhai menambah semangat untuk segera sampai di lokasi tujuan. Taman Langit Lombok berada di Desa Lembah Sari, Kecamatan Batulayar, Kabupaten Lombok Barat. Berjarak sekitar 10 kilometer dari pusat Kota Mataram dengan waktu tempuh 10 hingga 20 menit. Kita bisa mengambil jalur ke arah Pusuk dari Kota Mataram. Setelah sampai di perempatan Pasar Gunungsari, kita bisa memilih dua jalur. Pertama, kita belok kiri dari Pasar Gunungsari kemudian sesampainya di Pasar Puncang, belok kanan menuju jalur ke Penyawangan Resto.

Bisa baca juga : Panyawangan Resto

Pilihan kedua, dari Pasar Gunungsari, kita mengambil arah lurus saja. Setelah melewati Pom Bensin Gunungsari dan Kolam Renang Cafless Waterpark, ada jalan kecil di kiri jalan. Belok kiri dan ikutin saja jalannya sampai bertemu pertigaan, belok kiri dan pertigaan kedua, belok kanan. Bingung kan ?. Kalau masih bingung, kalian bisa buka google maps. Tinggal ketik Taman Langit Lombok langsung terakses lokasinya.  Keren bukan ?.

Tempatnya sendiri berada di daerah perbukitan yang lumayan tinggi. Buka informasi di google, ketinggian tempat ini sekitar 550 mdpl. Gak heran kalau viewnya memang cakep dari ketinggian tersebut.

Yang menjadi tantangan tersendiri itu, tanjakan dengan jalan yang berkelok-kelok. Sebelum datang kesini, dipastikan kendaraan kita dalam kondisi baik. Selain itu, jalurnya sangat cocok bagi yang hobi bersepeda dan mencari tantangan tersendiri. Perlu saya coba bersepeda kesini. Siapkan tenaga yang banyak nih.







Setelah sampai di lokasi, kalian jangan bingung lagi. Disini selain Taman Langit Lombok, ada juga tempat-tempat lain yang dibangun dengan view yang sama. Sama-sama berada di Bukit Bengkaung, tapi pengelolanya keliatannya berbeda. Dan yang ngehits saat ini ya Kedai Kopi Taman Langit Lombok. Oh ya, kalian harus hati-hati ya, posisi tempat ini tepat di belokan yang cukup terjal dan menanjak. Dipastikan lagi yang membawa kendaraan harus ekstra hati-hati dan gak ugal-ugalan.

Sekitar jam setengah tujuh pagi, saya bersama teman-teman sampai di lokasi. Alhamdulillah gak kesiangan. Sebelumnya menikmati sunrise dulu di lokasi yang berbeda, gak jauh dari Taman Langit Lombok. Foto dan videonya saya tampilkan di atas ya.

Yang saya suka dari kedai kopi ini yaitu penataanya yang cukup baik. Ada area parkir kendaraan yang cukup luas, sudah disiapkan Thermalgun dan Sabun untuk cuci tangan, lengkap dengan bak airnya. Para pengunjung dicek suhu badan dan kesehatannya. Bila sedang sakit, dilarang masuk ke dalam kedai kopi. Sangat bagus disaat ini, negeri kita masih dilanda wabah Covid-19 yang gak kunjung hilang dari muka bumi. Meskipun kita jalan-jalan, tetap harus memperhatikan protokol pencegahan Covid-19. Jaga jarak, pake masker, dan cuci tangan pakai sabun bila sudah menyentuh benda di sekitar kita.

Dengan adanya ini semua, saya merasa tenang berada di tempat seperti ini. Para pengunjung terlihat mematuhi protokol yang sudah ditetapkan meskipun masih ada beberapa pengunjung yang masih bandel, gak pake masker. Tapi sudahlah, yang penting kita sudah bisa menjaga jarak dan selalu waspada.

Setelah memarkirkan kendaraan, kami segera masuk ke dalam. Sebelumnya suhu badan kami dicek terlebih dahulu menggunakan Thermalgun. Saat itu suhu badan saya berkisar 36,3 derajat celcius. Cukup aman lah. Untuk tarif masuknya, kita dikenakan 5 ribu per orang. Sedangkan untuk parkirnya dikenakan tariff 2 ribu rupiah untuk motor dan 5 ribu untuk mobil.







Setelah masuk, saya melihat sudah ramai saja nih pengunjung yang datang. Syukurnya, tempat duduk masih banyak tersedia. Kita bisa memilih mau duduk dimana. Ada berbagai lokasi tempat duduk yang bisa kita pilih. Mau duduk di lantai bawah, lantai dua atau di atas gazebo yang dibangun hanya satu-satunya. Meja kursinya semuanya dari kayu yang ditata semenarik mungkin.

Kami pun memilih untuk bersantai di atas gazebo sambil menikmati view Kota Mataram dan perbukitan. Gak hanya view kota dan perbukitan saja, tapi kita bisa melihat garis pantai dan lautan yang berada di sebelah barat dari Kota Mataram. Gak berhenti sampai situ saja. Bila cuaca cerah, kita bisa melihat penampakan puncak Gunung Agung yang berada di Pulau Bali. Kece kan ?.

Dapat tempat santai sudah, tinggal mengantri untuk berfoto di spot yang lagi cetar membahana seperti kata Syahrini. Ada dua spot yang ada di Taman Langit Lombok. Spot sayap malaikat dan spot pintu langit. Sangat cocok dari namanya Taman Langit Lombok dimana ada sayap malaikat dan pintu langit (bukan pintu Doraemon ya).

Nongkrong menikmati surga dunia gak lengkap kalau gak ngopi pagi disini. Saya memesan secangkir Kopi Sasak yang tekenal dengan aromanya yang khas. Biasanya kalau bertamu ke rumah keluarga atau kerabat di Lombok, pasti dihidangkan ngopi ini. Selain kopi, saya memesan seporsi Pop Mie karena perut sudah lapar. Harga makanan dan minuman standar warung kopi. Jadi cukup terjangkau buat kalian-kalian dengan modal terbatas yang membawa pasangan untuk mentraktir. Lumayan jadi modal pedekate, biar pasangan kalian tambah sayang dan cinte gitu. Asyikkkk.

Taman Langit Lombok dibuka dari jam enam pagi sampai sepuluh malam. Untuk kedai kopinya dibuka dari jam sepuluh pagi hingga sepuluh malam. Jadi bagi kalian yang sudah datang sebelum jam sepuluh pagi, jangan khawatir. Pengelola siap melayani hanya pembuatan kopi dan pop mie ya guys. Selain itu ditunggu kedai kopinya buka ya guys. Harap bersabar !.

Lengkap sudah Minggu pagi ceria, bisa berkumpul bercanda gurau bersama sahabat yang sudah lama gak jalan dan nongkrong bareng karena kesibukan kita masing-masing. Gak hanya nongkrong dan foto-foto saja. Secara gak sengaja kita buat konten video perjalanan ke Taman Langit Lombok. Videonya saya tampilkan di akhir cerita ini ya.

Kalau boleh saran, waktu yang pas datang kesini yaitu malam hari. Kita bisa melihat view Kota Mataram malam hari. Tapi terserah kalian mau datang jam berapa. Bagi saya datang ke Taman Langit Lombok gak cukup sekali saja. Kayak judul lagu?. Harus datang pas malam harinya ini. Datang bareng keluarga enaknya sambil kuliner dan ngopi. Pasti kece dah.

Sudah di penghujung cerita nih. Buat kalian yang sedang berada di Pulau Lombok, gak ada salahnya datang kesini. Hitung-hitung mengobati kejenuhan di rumah saja. Tapi harus selalu menerapkan protokol pencegahan Covid-19 ya. Selalu pake masker, jaga jarak, dan cuci tangan pakai sabun biar kita terhindar dari virus bernama Si Entong eh salah Si Covid-19 maksudnya.


Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Saturday, 11 July 2020

Mencoba Nasi Kuning Ala Garuda Indonesia


Hampir lima bulan lamanya gak pernah naik pesawat dan mencicipi menu makanannya. Sudah lama juga saya gak mereview makanan semenjak Si Covid-19 menyerang bumi. Ya harus bersabar dan menerima pil pahit kenyataan ini, Asyik. 

Ngomong-ngomong soal mereview makanan. Ada satu review yang tertinggal dan hampir lupa saya tulis dalam blog. Cerita perjalanan terbang saya bersama Garuda Indonesia yang merupakan maskapai penerbangan kebanggaan milik Indonesia. 

Perjalanan yang saya lakukan bersama teman kantor dalam rangka menghadiri pertemuan dinas di Bekasi sekitar Bulan Februari tahun ini. Artinya beberapa bulan sebelum kita dihebohkan dengan Covid-19. Mendapat perintah tugas dinas dari atasan ke luar Lombok merupakan kebahagiaan tersendiri buat saya. Sedihnya, gak bisa ajak istri dan anak. 

Saat itu, saya harus meninggalkan istri yang sedang hamil tua. Sempat ragu untuk berangkat disaat menunggu waktunya si kecil lahir. Tapi saya buang jauh-jauh keraguan itu demi menjalankan tanggung jawab yang diberikan. Syukurnya semenjak di Bekasi sampai kepulangan ke Lombok, kondisi masih aman terkendali dan dua minggu setelah itu, si kecil lahir kedunia. 






Kembali ke Laptop !

Setelah semua berkas yang wajib dibawa sudah beres, saya berpamitan dengan istri untuk berangkat ke bandara. Ke bandara saya diantar oleh my brother menggunakan mobil. Alhamdulillah situasi saat itu aman-aman saja. Cuaca juga sangat cerah. Semoga perjalanan lancar sampai di Jakarta nantinya. 

Sesampai di bandara, saya langsung melakukan check-in. Setelah mendapatkan boarding pass, saya lanjut menuju ruang tunggu penumpang yang berada di lantai dua Bandara Internasional Lombok. Setelah duduk di salah satu kursi di ruang tunggu, saya menghubungi teman. Dia sedang dalam perjalanan menuju bandara. Sambil menunggu teman kantor tiba, saya menikmati pemandangan yang ada di hadapan saya yaitu pesawat yang lalu lalang lengkap dengan pemandangan deretan perbukitan dan Gunung Rinjani. 

Ohya, saya menggunakan pesawat Garuda Indonesia keberangkatan jam dua siang. Sengaja sih biar sampai di Bekasi sore harinya karena acara pembukaan dimulai keesokan harinya. Bisa istirahat sejenak di hotel tempat semua peserta menginap sambil jalan-jalan malam di Kota Bekasi. Untuk cerita jalan-jalan di Bekasi dan sekitarnya, sudah saya tulis di postingan blog sebelumnya. 

Ada yang lupa, saya belum sempat makan siang. Mau makan di bandara rasanya males banget. Disamping males, harga makanan di dalam bandara juga tergolong lumayan mahal. Lebih baik nanti makan di atas pesawat saja. Lagian naik Garuda Indonesia pasti dikasi makan dan minum. Penasaran pilihan menu apa saja yang dihidangkan di dalam pesawat nantinya.

Gak lama menunggu pesawat tiba, teman saya pun tiba juga. Setelah menunggu sekitar setengah jam. Suara panggilan penumpang untuk boarding sudah terdengar. Saya dan teman bersama penumpang lainnya segera menuju pesawat. Terlihat pesawat kami sudah parkir dan kami menuju pesawat melalui Gate 1. Keliatannya juga kondisi pesawat masih baru. Bisa dilihat dari perpaduan cat putih dan biru yang masih mengkilat. Pesawat Garuda Indonesia yang kami naiki yaitu Boeing 737-800. Salah satu pesawat favorit saya selain Airbus A320. 




Saya duduk di kursi kelas ekonomi nomor 22B yang berada di bagian depan. Kursi yang empuk lengkap dengan layar LCD di depannya dan sebuah headset yang bisa kita gunakan gratis. Tapi gak boleh dimasukkan ke dalam tas lhoo ya !. Nanti kena pelanggaran undang-undang penerbangan. 

Penumpang yang menuju Jakarta saat itu ramai banget, seluruh seat full. Penerbangan ditempuh dalam waktu dua jam lebih lima belas menit menuju Bandara Soekarno Hatta, Banten. Gak lupa membaca doa dan mengirim pesat singkat ke istri sebelum pesawat take-off. Itu sudah rutinitas sebelum pesawat meninggalkan landasan agar diberi keselamatan dan kelancaran dalam perjalanan. 

Sekitar jam dua lebih dua puluh menit, pesawat berjalan menuju runway. Bismillah, pesawat melaju dengan kecepatan tinggi saat lepas landas. Pepohonan dan persawahan semakin lama terlihat semakin mengecil. Pesawat perlahan-lahan menaikkan ketinggian. Terlihat garis pantai bagian selatan Pulau Lombok. Sungguh indahnya Pulau Lombok. Gak lama, pesawat berbelok layaknya burung yang terbang tinggi. Terlihat dari ketinggian deretan gedung-gedung dan perumahan. Kita sudah berada di atas Pulau Lombok. 

Tanda mengecangkan sabuk pengaman sudah dipadamkan. Artinya pesawat sudah dalam kondisi stabil di udara. Penumpang sudah bisa membuka sabuk pengaman, tapi alangkah baiknya sabuk pengaman tetap dalam kondisi dikencangkan untuk berjaga-jaga sewaktu-waktu turbulensi dadakan.

Gak lama kemudian terlihat para pramugari cantik khas Garuda Indonesia bersiap-siap untuk memberi pelayanan makan kepada penumpang. Ini yang saya tunggu-tunggu. Berhubung juga sudah sangat lapar karena jam makan siang sudah lewat. Pilihan menu yang dihidangkan yaitu Nasi Ayam dan Nasi Kuning. Otomatis saya memilih Nasi Kuning saja. Saat ditanya oleh salah satu pramugari mau makan apa, spontan saya menjawab "Nasi Kuning mbak". Nasi Kuning dan Segelas Jus Jeruk segera datang. 

Penasaran gimana sih rasa Nasi Kuningnya. Setelah menu sudah datang, segera saya mencicipinya. Selain Nasi Kuning, ada menu lainnya lhoo. Kita dapat beberapa potong buah melon dan puding rasa jambu. Wah lengkap juga ya, ada menu pembuka, utama dan penutup nih, hehehe. 



Untuk soal rasa Nasi Kuningnya cukup enak. Warna dari kunyitnya juga kuningnya pas alias gak pucet. Bumbunya juga berasa banget. Yang saya suka, ada potongan ayam dan wortelnya. Bumbu Nasi Kuningnya harum dan tekstur nasinya juga gurih dan lembut. Sayangnya porsinya kurang banyak, hahaha. Saya lupa menanyakan yang masak Nasi Kuningnya ini siapa. Berhubung saya pecinta Nasi Kuning, untuk nasi kuning ala Garuda Indonesia saya beri nilai 80. Kalau ditanya kurangnya apa ?. Ya tadi, kurang banyak, kurang sambel tempe dan krupuk. Sepertinya kalau menyediakan krupuk sangat jarang di pesawat. 

Setelah menghabiskan seporsi Nasi Kuning, saya lanjut menyantap buah dan puding rasa jambu bijinya. Pudingnya enak banget dan saya pun dibuat ketagihan. Sayangnya gak bisa nambah. Yang bisa nambah hanya satu yaitu jus jeruknya. Kesegaran es jus jeruknya gak perlu diragukan. Ada rasa sunkise gitu dan seger banget ditenggorokan. Saya pun meminta nambah segelas lagi kepada pramugari. Terimakasi sudah diberi tambahan es jus jeruk, hehehe. 

Over all, selain pesawatnya yang nyaman, pelayanan makannya juga sangat baik untuk Garuda Indonesia. Bukannya ngendorse lhoo ya karena saya gak dibayar sama pihak Garuda. Yang jelas ini penilaian saya kepada Garuda Indonesia soal pelayanan makannya secara pribadi. Mungkin sedikit saran saja, kalau memberi hidangan makan siang, jangan lupa ada tambahan kotak jajannya ya atau roti biar kenyang, hahahaha. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Saturday, 27 June 2020

Melihat Suasana Senggigi Menjelang "New Normal" di Pulau Lombok


Menjelang era New Normal, banyak hal yang sempat tertunda gara-gara Si Covid menyerang kampung kita, akhirnya perlahan-lahan bisa kita lakukan. Seperti bersepeda, joging di pagi hari, ke pasar tradisional dan kegiatan lainnya. Tapi tetap harus dilakukan dengan protokol Covid-19, memakai masker dan jaga jarak dengan orang sekitar. 

Berbicara tentang bersepeda yang menjadi hits saat ini, banyak yang berbondong-bondong membeli sepeda. Selain trend memakai masker dan face shield, bersepeda juga sudah mulai trend dan menjadi primadona.

Saya kurang tau sejak kapan trend ini muncul. Yang jelas dalam sebuah artikel yang mengatakan bersepeda mampu menangkal virus yang namanya Covid-19 dari tubuh kita. Mungkin maksud dari artikel tersebut, dengan berolahraga seperti bersepeda, mampu meningkatkan daya tahan tubuh dan gak gampang terserang virus atau penyakit. Apapun itu, virus bersepeda sepertinya mampu mengalahkan Covid-19. Itu menurut saya sih. 

Ngomong-ngomong soal bersepeda (gowes), saya ingin menunjukkan ke kalian jalur gowes yang menjadi favorit warga Kota Mataram dan sekitarnya, termasuk saya juga.Bisa dibilang ini jalur paket komplit untuk para goweser pemula atau profesional.






Berhubung sudah lama banget saya gak ke daerah Senggigi. Ingin rasanya bergowes kesana. Itung-itung uji kemampuan lagi menaklukkan jalur tanjakan yang penuh dengan keeksotisan perpaduan bukit dan pantainya. Gimana ya suasana Senggigi disaat pandemi Covid-19. Beberapa teman yang bekerja di hotel sekitaran Senggigi pernah curhat ke saya kalau sekarang hotel mereka hampir tutup dan karyawannya banyak yang dirumahkan karena gak ada tamu. Untung saja sekarang, sudah mulai ada tamu yang menginap. Itupun mereka ada urusan bisnis dan hal yang mendesak. 

Si Gebleks (sepeda kesayangan) sudah ready nih. Cek kedua ban, rantai, botol minum, helm, masker, sarung tangan dan yang terpenting ngisi tenaga dulu buat mengayuh dengan jarak tempuh sekitar 20 kiloan. Setelah semua siap, berangkat kita.

Cekibrooott !!!

Sekitar jam enam pagi, saya dan Si Gebleks mulai jalan. Istri dan si kecil masih tertidur pulas di kamar. Langit sudah mulai terang, udara pagi yang sangat sejuk. Hari Minggu yang sangat indah. 

Setelah keluar dari kompleks rumah, di sepanjang jalan saya banyak melihat warga kota yang bersepeda. Dari anak kecil sampai orang tua banyak yang bersepeda menuju arah Senggigi. Saya gak sendirian, banyak temen gowes ke Senggigi. 

Mengayuh sepeda dengan santai dulu. Itung-itung pemanasan biar kaki gak kram di tengah jalan. Setelah memasuki daerah Batulayar yang memiliki jalur yang menanjak, saya harus mengatur posisi gear belakang dan depan biar mulus nanjaknya. Beruntung kondisi Si Gebleks masih topcer nih. Gak rewel alias bandel. Tanjakan pertama dilewati dengan mulus. Saya menyempatkan untuk berinstirahat sejenak sambil menikmati pemandangan pantai dan perbukitan di Tanjakan Batulayar. 

Setelah beristirahat kurang lebih sepuluh menit, saya melanjutkan perjalanan ke tanjakan selanjutnya. Tanjakan kedua gak begitu terjal dibandingkan yang pertama. Namanya Tanjakan Batubolong. Disini ada sebuah pura bernama Pura Batubolong yang menjadi tujuan wisata di Lombok. Tempat sembahyangan umat Hindu ini memiliki keunikan yaitu Pura yang berada di pinggir pantai. Tulisannya pernah saya posting di blog ini. Di Tanjakan Batubolong saya gak berhenti dan memilih melanjutkan perjalanan. 





Gak jauh dari Tanjakan Batubolong, saya sudah tiba di tanjakan ketiga atau Tanjakan Senggigi. Bagi saya ini tanjakannya paling terjal. Memilki kemiringan sekitar 45 derajat dan menguras tenaga. Saya memilih gear depan nomor 1 dan belakang nomor 3. Ini posisi gear yang ternyaman buat saya. Di Tanjakan ini, banyak sekali para goweser yang beristirahat karena memang ini tanjakan yang benar-benar menguras tenaga. Tapi saya memilih melanjutkan perjalanan setelah berhasil melewati tanjakan ketiga. 

Bisa baca ini juga : Gowes ke Pantai Senggigi

Setelah tanjakan ketiga, sampailah saya di Senggigi. Lihat jam tangan,,waktu menunjukkan jam tujuh pagi. Disini banyak sekali hotel-hotel dari bintang tiga sampai lima berjejeran. Pusat keramaian di daerah Senggigi. Biasanya kalau pagi banyak bule-bule dan wisatawan lainnya yang berjalan kaki sepanjang kawasan Senggigi. Tapi saat itu, sepi banget. Sedih lihat Senggigi sepi begini. Semoga setelah wabah ini pergi dari Indonesia, dunia pariwisata khususnya Lombok dan Sumbawa kembali pulih.  

Kalian sudah tau kan Senggigi ?. Senggigi merupakan daerah di Kabupaten Lombok Barat yang memiliki deretan pantai yang sangat kece. Gak hanya pantai-pantai saja, disini juga merupakan tempat menginap terbaik di Pulau Lombok selain di Gili Trawangan dan Pantai Kuta Mandalika. Bagi kalian yang berencana ke Pulau Lombok dalam waktu dekat ini, wajib hukumnya  mengexplore destinasi yang ada di Senggigi. Senggigi juga terkenal dengan keindahan sunsetnya. Surganya para wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang sedang berlibur ke Pulau Lombok. 







Setelah melewati pusat keramaian Senggigi, saya melanjutkan perjalanan ke Tanjakan selanjutnya. Namanya Tanjakan Sheraton karena di bawah tanjakan ini ada sebuah hotel bintang lima bernama Sheraton Hotel. Tanjakannya lumayan terjal sama seperti Tanjakan Senggigi. Di atas tanjakan ini viewnya kece habis. Disini kita bisa melihat Pantai Senggigi dari atas Bukit Senggigi. Kalau sore hari sampai malam, banyak para pedagang jagung bakar yang berjejeran disini. Tempat nongkrong sambil ngopi juga tempatnya disini. Disini saya memilih untuk beristirahat sejenak mungkin agak lama karena ingin berlama-lama menikmati suasana Senggigi dari atas bukit.

Semakin siang para goweser semakin ramai yang beristirahat di atas Bukit Senggigi. Saya rencananya pengen lanjut ke Kerandangan sampai Pantai Klui sana, tapi tenaga hari itu cukup terkuras. So, saya memutuskan untuk sampai di Bukit Senggigi saja sambil nongkrong menikmati keindahan pemandangan Senggigi di pagi hari. Sinar mentari perlahan-lahan muncul dari balik perbukitan. Cahaya yang hangat serta udara yang sangat sejuk. 

Gak terasa waktu sudah menunjukkan jam sembilan pagi. Saatnya balik ke rumah karena istri sudah menyiapkan sarapan pagi. Kurang lebih tiga jam waktu tempuh gowes ke Senggigi (pulang pergi) dari rumah. Cukup menyegarkan, keringat juga cukup banyak yang keluar. 

Cara bahagia yang sederhana bisa kita lakukan dengan cara berolahraga seperti bersepeda. Biar imun kita tetap terjada dan mood juga kembali baik. Kalau hati bahagia, imun juga bertambah dan mood juga akan kembali baik. Ini salah satu cara untuk melawan wabah Covid-19. Gak hanya berdiam diri di rumah saja, tapi kita harus melakukan hal-hal yang positif dan bermanfaat.

Tapi harus tetap menjaga diri dengan menggunakan masker bila keluar rumah, mencuci tangan pakai sabun setelah memegang sesuatu, jaga jarak, jaga pandangan juga (liat cewek-cewek maksudnya), mandi sesampai di rumah (habis beraktivitas) dan terpenting selalu bahagia. 

Covid1-19 pasti bisa kita lawan. Pasti bisa !. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Saturday, 20 June 2020


Berlibur sekaligus berlebaran di Banyuwangi gak hanya mendapat rezeki ngetrip ke Kawah Ijen, Baluran dan Djawatan Benculuk. Tapi libur panjang saya bersama keluarga di Banyuwangi cukup berkesan. Kenapa gak, banyak tempat-tempat kece yang sempat kami explore. Begitu juga tempat yang satu ini, Festival of Light Banyuwangi. Sebuah festival dimana kita akan menikmati indahnya cahaya gemerlap warna-warni dari lampu-lampu dengan berbagai macam bentuk. 

Awalnya saya gak mengetahui ada festival lampu hias semacam ini diselenggarakan tepat saat libur lebaran tahun 2019. Setiba saya bersama keluarga di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Kami langsung menuju Rogojampi, sebuah kecamatan yang berada di Kabupaten Banyuwangi. Kurang lebih setengah jam perjalanan, setelah melewati pusat Kota Banyuwangi, saya melihat di pinggir jalan raya ada sebuah naga raksasa, balon udara dan kawan-kawan. Naganya gak beneran lhoo ya, hanya sebuah lampion yang sengaja dibuat menyerupai naga. Berhubung masih sore, jadi lampu-lampunya belum terlihat. Kalau ada waktu, pengen rasanya datang kesini. 

Berlokasi di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kedayun, Kecamatan Kabat, Banyuwangi. Tepatnya berada di jalur lintas Jember - Banyuwangi. Dengan penataan cahaya lampu yang dipadukan dengan keindahan taman hijau seakan pengunjung yang datang akan merasakan berada di negeri dongeng. Ini dikarenakan di setiap sisi taman dihiasi lampu-lampu cantik berbentuk bunga dan pepohonan yang bersinar indahnya membuat kita selalu betah berada di sekelilingnya. 




Tepat di malam lebaran Idul Fitri, saya mengajak istri dan adek-adek untuk datang ke festival ini. Kalau gak salah, festival ini dibuka di hari biasa (Senin-Kamis) dari jam empat sore sampai sepuluh malam. Sedangkan Hari Jumat - Minggu, dari jam empat sore sampai sebelas malam Enaknya datang pas malam hari, jadi kita bisa melihat dan menikmati warna-warni lampu yang kece habis. 

Dari informasi yang saya dapatkan waktu itu, Festival of Light Banyuwangi diselenggarakan selama libur lebaran 2019, tepatnya selama 48 hari. Penggagasnya yaitu dari Management Taman Pelangi, PT Cikal Bintang Bangsa. Dengan bertemakan "Sensation of Playing", para pengunjung akan dimanjakan oleh berbagai wahana yang sangat menarik. 

Ada lampu berbentuk naga berwarna kuning dengan ekor merahnya, ada beruang putih, bunga-bunga dan masih banyak lainnya. Untuk harga tiket masuk, setiap pengunjung dikenakan biaya 25 ribu per orang. Buat saya sih lumayan mahal (menurut saya lhoo ya). Tapi kalau gak salah, setiap tiket dapat bonus minuman teh kotak lhoo ya. Jadi yang capek berkeliling di antara lampu-lampu kece, kalian bisa mengambil minuman di tempat yang sudah disediakan. 




Pada malam itu, pengunjung lumayan ramai tapi gak sampai berdesakan mengantri mendapatkan tiket. Setelah membeli tiket, kami pun menyodorkan tiket tadi ke petugas di pintu masuk. Petugasnya bapak-bapak yang begitu ramah terhadap pengunjung. Setelah berada di area festival, kami sempat bingung mau kemana dulu. Kiri-kanan depan belakang, kami dikelilingi oleh lampu-lampu cantik.  Keren nih untuk fotoan. Untung saja saya membawa kamera dslr, jadi gak khawatir untuk mengambil foto dalam suasana gelap. Smartphone yang dibawa juga cukup menghasilkan foto yang keren. 

Bagi yang doyan selfie atau narsis, pas banget tempatnya disini. Spot-spot fotonya instagramable banget. Istri dan adek-adek sudah siap difoto. Lagi-lagi yang bakalan jadi nasib tukang foto abadi ya saya sendiri. Hahaha. Untungnya saya punya foto juga, berdua bareng istri pula (senyum jengkelin).

Spot foto yang saya bareng istri suka yaitu di antara puluhan bunga-bunga yang menyala dengan indahnya. Ada juga hiasan lampu warna-warni seperti lorong. Disini kita bisa rebahan juga karena ada rumput, bukan tanah lhoo ya. Mau fotoan bareng bunga-bunga sambil tiarap ala-ala tentara juga gak apa-apa. Sekalian tiduran juga boleh, asalkan gak ngorok saja,hahaha...becanda. 





Semakin malam, para pengunjung semakin ramai saja yang datang. Apa karena malam lebaran kali ya. Banyak pasangan yang datang sambil berkencan di Festival of Light pada saat itu. Ada yang jalan berdua sambil bergandengan tangan kayak di drama Korea itu. Ada yang datang bareng anak-anak. Ada yang sekampung bareng keluarga. Saya gak melihat ada yang datang sendirian terus duduk termenung menatap lampu warna-warni temani oleh Teh Botol Sasro. Jadi malam lebaran yang sangat indah, ditemani oleh lampu-lampu cantik. 

Gak terasa sudah malam, saatnya balik ke rumah. Jalan-jalan di malam lebaran ke Festival of Light menjadi pengalaman pertama saya datang ke festival lampu ini. Ini juga pertama kalinya diadakan di Banyuwangi lhoo. Semoga saja di waktu yang akan datang, ada lagi festival semacam ini di Banyuwangi atau tempat yang saya singgahi nantinya. Buat saya, Festival of Light Banyuwangi yang akan datang perlu diperbanyak lagi wahananya biar semakin ramai dan bertambah spot foto-fotonya. 

Ada satu yang ketinggalan, saya gak sempat menaiki balon udaranya. Padahal pengen banget menikmati alam Banyuwangi dari atas balon udara. Denger-denger kita bisa terbang dengan balon udara ini setinggi 40 meter selama 4-5 menit. Belum rezekinya, Gak apa-apalah.

Penulis : Lazwardy Perdana Putra