Saturday, 15 June 2019


Bali selalu punya cerita. Kalau sudah ngebahas ngetrip ke pulau ini, yang kita rencanakan "mau kemana ?" dan "nginap dimana ?". Kalau mau ke Bali bagian selatan seperti Pantai Kuta, Sanur dan Uluwatu mungkin sudah biasa. Apalagi ke Ubud, Bedugul dan Patung GWK juga sangat banyak kita jumpai tulisan dan foto yang membahas tentang mereka. 

Di Bali bagian utara ada destinasi baru yang gak kalah kece dari para seniornya. Meskipun keberadaannya terbilang masih baru, tempat ini sudah ngehits di dunia instagram. Cocok sekali buat kita yang ingin ke tempat kece tapi gak seramai pengunjung seperti di Kuta, Ubud atau Bedugul. Namanya Taman Adelweis. Lokasi berada di Banjar Dinas Temukus, Desa Besakih, Kabupaten Karangasem. Lebih tepatnya di bawah kaki Gunung Agung.

Keseruan cerita saya bareng istri datang ke Taman Adelweis berawal dari teman-teman Genpi Bali yang sering sekali memposting tempat ini di akun instagram mereka. Apalagi taman ini dijadikan tempat diadakan Pasar Peken yang diadakan oleh temen-temen Genpi Bali. Pasar Peken merupakan pasar destinasi digital yang digarap oleh temen-temen Genpi Bali. Sama seperti Pasar Pancingan di Lombok, Pasar Karetan di Semarang, Pasar Kaki Langit di Jogya dan lain-lain. Di setiap daerah yang ada Genpinya, pasti ada pasar destinasi digitalnya. Tapi kali ini saya gak ngebahas tentang pasar digitalnya dan Genpinya. Saya akan bercerita apa saja sih yang saya dapatkan saat berkunjung ke Taman Adelweis. Yuk disimak terus cerita ini sampai selesai. Siapin kopi dan kacang untuk nemenin baca,hahahaha.




Punya waktu dua hari ngetrip ke Pulau Bali, kami gak mau sia-siakan kesempatan buat datang ke tempat ini dong. Hari dimana kami berdua akan balik ke Pulau Lombok, masih ada waktu untuk mengexplore tempat satu lagi sebelum pulang. Taman Adelweis menjadi tujuan terakhir kami waktu liburan kemarin. Asyiknya lagi, cuaca pagi itu cukup cerah dan besahabat. Kenapa memilih Taman Adelweis menjadi destinasi terakhir saat ngetrip ke Pulau Bali kemarin?. Kebetulan dari Kota Denpasar menuju Pelabuhan Padangbai, searah dengan jalur ke Taman Adelweis. Bermodalkan google maps, kami berdua semangat meluncur. Sepanjang perjalanan lumayan lancar meskipun bertemu dengan namanya si macet saat  akan keluar dari Kota Denpasar. Padahal masih pagi, tapi lalu lalang kendaraan sudah padat. Satu kata buat Kota Denpasar "Panas dan Macet Poooll"."

Keluar dari Kota Denpasar, kami sudah berada di By Pass Ida Bagus Mantra. Si Blue (motor kesayangan) saya gass full menuju Kabupaten Karangasem. Lalu lintas cukup ramai dengan banyaknya trafic light yang kami jumpai. Untungnya by pass ini berada di pinggiran Pulau Bali bagian timur dan gak jauh dari pantai. Hembusan angin pantai yang sepoi-sepoi menyelamatkan kami dari teriknya matahari saat itu. Lumayan ada yang kipasin, hahaha. 

Setelah satu jam perjalanan dari Kota Denpasar, kami sudah tiba di pertigaan pertemuan arah ke Kota Karangasem dan Pelabuhan Padangbai. Kami melanjutkan perjalanan ke arah Kota Karangasem.  Tinggal bentar lagi nih sampai (pikiran saya dalam hati).

Masih mengikuti jalur di google maps, gak lama kemudian kami belok kiri di pertigaan kedua. Nah,..dari sini jalurnya sudah mulai menantang. Melewati perkampungan penduduk, jalanan sudah mulai menanjak. Kami sudah berada dimana harus melewati jalanan perbukitan yang berliku-liku dan sempit. Untungnya kondisi jalan mulus dan gak berlubang. Meskipun masing asing dan hanya mengandalkan google maps, sejauh ini kami menikmati perjalanan. Kerennya melewati jalur ini, kita bisa melihat pemandangan laut dan perbukitan hijau khas Pulau Bali. Kece abis dan rekommended buat kalian yang ingin mencoba melewati jalur ini.

Setelah melewati jalan besar, kami harus melewati jalur yang agak sempit. Kurang lebih sekitar delapan kilometer lagi kami sampai di tujuan. Panorama alam di kiri kanan jalan semakin cantik. Perbukitan dan persawahan hijau menemani kami di sepanjang perjalanan. Sayangnya kami gak bisa melihat kemegahan Gunung Agung karena terhalang oleh awan tebal. Tanpa kendala yang berarti, kami sudah sampai di lokasi parkir Taman Adelweis. Penataan tamannya oke banget. Gak nyangka ada destinasi yang dikelola oleh warga desa sekeren ini.

Setelah memarkirkan motor, kami menuju loket tiket. Tiket masuk seharga 15K per orang. Gak terlalu mahal sekelas tempat seperti ini. Dari pintu masuk sudah terlihat tulisan "Selamat Datang di Taman Adelweis". Perasaan senang dan puas akhirnya sampai juga di tempat ini.







Rasa capek dan penasaran seakan hilang setelah melihat taman ini dari dekat. Gak sabar rasanya masuk ke dalam area taman. Setelah memperlihatkan tiket masuk ke petugas, kami langsung mengelilingi area taman. Kekhasan dari taman ini yaitu bunga yang mirip sekali dengan Adelweis terdapat hampir di setiap sudut area taman. Bunga yang biasa kita temui di lereng atau tebing saat mendaki gunung dan jenis bunga ini dilarang dipetik dan dibawa pulang oleh pendaki. 

Bunga yang mirip dengan Adelweis ini bernama Bunga Kasna. Menurut informasi bunga ini sering dipetik untuk digunakan pada upacara keagamaan Umat Hindu. Jadi sangat beruntung sekali buat kita yang dapat melihat bunga ini lagi mekar-mekarnya pada waktu-waktu tertentu. Dari kejauhan bunga ini sangat mirip sekali dengan Bunga Adelweis. Apa bedanya ?, saya pun kurang memahami karena bertemu dengan Bunga Adelweis saja belum pernah. Melihat Bunga Kasna secara langsung saja, sudah sangat beruntung. Belum melihat Bunga Adelweis, Bunga Kasna pun jadi. Apalagi melihat secara langsung bersama kamu ya kamu (mulai leebaay).

Selain ribuan Bunga Kasna yang tersebar di setiap sudut taman, ada lagi bunga yang gak kalah mencoloknya disini yaitu Bunga Gumitir. Bunga yang dari kejauhan mirip dengan bunga matahari ini juga sering digunakan untuk upacara keagamaan Umat Hindu. Saat kami kesana, bunga gumitir lagi mekar-mekarnya. Tapi harus diingat, gak boleh memetik dan merusak tanaman disini. Yang saya suka dari tempat ini yaitu tamannya tertata dengan rapi. Deretan gazebo dan beberapa spot foto yang sangat instagramable banget.

Kerennya lagi, lokasi Taman Adelweis berada tepat di kaki Gunung Agung dan gak jauh dari Pura Besakih. Udara pegunungan yang sangat sejuk, kabut yang mendadak datang tanpa mengabari terlebih dahulu, hijaunya pepohonan dan keberadaan kita disambut hangat oleh warga desa. Cocok sekali buat kita yang ingin mencari ketenangan dari ramainya kesibukan ibukota.





Sebuah bangunan kayu berbentuk kincir angin seperti di negeri Belanda, membuktikan kami sedang berada di Taman Adelweis. Salah satu daya tarik dari tempat ini yaitu kincir anginnya. Gak fotoan berlatarbelakang kincir angin, berarti belum pernah ke Taman Adelweis. Jadi hukumnya wajib foto selfie ala-ala instagramable dengan kincir anginnya. 

Taman Adelweis berbeda dengan Pantai Kuta, Patung GWK, Ubud, atau Bedugul yang sangat ramai dikunjungi oleh pengunjung dari luar Bali dan mancanegara. Rata-rata pengunjung yang datang ke taman ini kebanyakan warga lokal atau sekitaran Pulau Bali saja. Ada plus minusnya buat saya. Plusnya gak apa-apa gak banyak datang kesini karena Taman Adelweis enaknya dinikmati dalam kondisi sepi. Minusnya, kalau sepi pengunjung, pemasukan desa juga sepi, hehehe.

Over all, untuk fasilitas umum lainnya cukup baik. Toilet dan warung makan sudah tersedia disini. Sistem tiketing juga sudah baik. Keramahan petugas juga saya acungin jempol. Satu lagi, gak ada saya temukan sampah yang berserakan di area taman. Tingkat kesadaran pengunjung saya acungin jempol. Tempat lain harus bisa mencontoh Taman Adelweis. Bisa dibilang tempat wisata ini berada di pedalaman dan jauh dari kota. Tapi banyak orang yang rela-rela datang kesini, demi bisa melihat Taman Adelweis dari dekat,contohnya saya bareng datang dari Lombok (gak nanya) hehehe. 

Saya bareng istri ingin sekali balik lagi kesini di lain waktu. Rasanya belum puas kalau gak lama-lama menikmati Taman Adelweis saat berkabut. Saat kami datang, kabutnya hanya sebentar dan gak sempat buat difoto. Mau keluarin kamera, eh kabutnya malah minggat (kelamaan sih). Berhubung gak banyak waktu untuk bisa berlama-lama disini karena harus balik ke Pulau Lombok, cerita di Taman Adelweis saya cukupkan sampai disini dulu. Sampai bertemu di cerita saya selanjutnya. Bocorannya, setelah Taman Adelweis, ada detinasi kece lainnya yang gak lama lagi saya posting. Ditunggu saja. Bukan saya namanya kalau gak memberikan cerita dan informasi terupdate tentang tempat-tempat kece yang sudah saya datangi. So.. sabar menunggu. 

Oke... Di akhir tulisan, di bawah ini saya beri peta jalur menuju Taman Adelweis versi google maps. No Hoax dan rekommended buat kalian. Bye !!!

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Tuesday, 4 June 2019

Menginap Semalam di Hotel Capsule : H-Ostel Kuta, Denpasar


Gak terasa nih sudah masuk musim libur lebaran. Pasti sudah banyak agenda mau liburan kemana. 

Bali,Yogya,Lombok,Labuan Bajo,Bandung atau mau ke Raja Ampat?. Selain menentukan tempat, kita juga pasti memperhitungkan budget. Apalagi sekarang ini harga tiket pesawat lagi mahal-mahalnya.

Jadi harus pinter-pinter memilih mau naik apa. Tetap pakai pesawat yang harganya bisa buat beli Oppo F11pro, atau alternatif lainnya seperti kereta api, bus, kapal laut atau kendaraan pribadi. Begitu juga dengan tempat menginap. Memilih penginapan juga penting. Menginap dengan budget murah dengan pelayanan yang lumayan bagus juga harus dong. 

Kali ini saya menulis pengalaman  saya bareng istri menginap di hotel kapsul di sekitaran Kuta, Bali. Hotel kapsul, gimana bentuknya?. Pasti  banyak pertanyaan seperti itu. Hotel kapsul merupakan hotel yang sedang nghehits bagi para traveler's yang butuh menginap dengan budget murah. Bentuknya pun unik, terdiri dari beberapa bed dalam satu ruang yang disusun seperti tempat tidur susun dengan diberi tirai sebagai penutup. Ada juga berbentuk tempat tidur seperti di dalam pesawat ruang angkasa. Jadi dibuat penasaran dan pengen coba. 

Sudah banyak hotel kapsul di Indonesia yaitu di Jakarta, Bandung, Jogya, Bandung, Malang dan Bali. Kebetulan sebelum Bulan Ramadhan, kami berdua berlibur dua hari di Pulau Bali. Buka chanel salah satu youtuber Bali yang kerjaannya review beberapa penginapan di Bali. Di salah satu kontennya, dia mereview hotel kapsul berbudget murah yang letaknya di daerah Kuta, Bali. Tertarik dong, mau mencoba menginap di sana.

Oke...setelah deal bareng istri mau jalan-jalan ke Bali, saya buka aplikasi Traveloka untuk booking kamar. Gak butuh waktu lama dalam proses booking. Kebetulan saat itu saya memesan Double Bed Mix seharga 232ribuan semalam. Cukup murah bagi saya. Apalagi lokasinya di sekitaran Kuta, surganya para wisatawan yang berlibur ke Bali.








Hari yang ditunggu-tunggu sudah tiba. Kami berdua berangkat ke Bali dari Lombok menggunakan motor. Kami memilih menyeberang ke Bali malam hari. Bermalam di kapal, esok paginya sudah sampai di Pelabuhan Padangbai, Karangasem. Perjalanan dari Pelabuhan Padangbai ke Kota Denpasar memakan waktu satu jam perjalanan. Cuaca pagi di Bali yang cukup cerah. Perjalanan yang lumayan lancar meskipun saat memasuki Kota Denpasar, kami merasakan kemacetan Kota Denpasar. Masih pagi Kota Denpasar sudah macet karena bertepatan dengan weekends. 

Waktu check in masih lama yaitu jam dua siang. Sambil menunggu, kami menuju salah satu destinasi di Bali yang kece. Dimana itu? Ceritanya di postingan selanjutnya, harap bersabar !!! hahaha.  

Setelah waktu check in tiba, kami menuju ke hotel namanya H-Ostel. Sebuah penginapan dengan konsep hotel kapsul. Hotel ini sudah tahun beroperasi. H-Ostel berlokasi di Kuta Square Blok E no 8,Kuta,Badung, Denpasar (ralat kalau keliru). Jadi sangat dekat dengan Bandara Ngurah Rai, Pasar Seni Kuta, Pantai Kuta, Waterboom Bali dan tempat menarik lainnya di sekitaran Kuta. Dari luar penampakan hotel ini cukup unik. Bagian dinding atas gedung terdiri dari kumpulan pintu dan jendela kayu tempo doeloe yang disusun menutupi tembok gedung aslinya. Kemudian dicat dengan warna yang menarik. Hotel kapsul ini memiliki tujuh lantai. Dimana area Ground/lobi hotel terdiri dari resepsionis, coffee shoop dan ruang santai tamu yang menginap. Ruangannya gak terlalu luas tapi sangat nyaman. Di lobinya juga terdapat komputer dan tumpukan buku-buku yang bisa digunakan oleh para tamu hotel. 

Setelah sampai depan hotel, saya memarkirkan motor di area depan hotel. Kemudian segera menuju resepsionis. Saat check in kami berdua diminta menunjuki KTP berdua. Mbak resepsionis menjelaskan kepada kami aturan menginap disini dan memberikan kami sebuah gelang tangan kece. Dimana gelang tangan ini ada fungsinya. Setelah dijelaskan, kami diantar menuju lantai lima dimana kamar kami berada menggunakan lift. Keren, hotel kecil seperti ini memiliki lift. Setelah sampai di lantai lima. Ada sebuah pintu yang bisa dibuka dengan menempelkan jempol tangan kita ke tombol yang ada di pintu. Pintu kebuka otomatis. Kereen





Setelah pintu kamar terbuka, apa yang terlihat pemirsa. Ternyata di dalam satu area kamar terdapat empat belas bed bersusun dua. Ruangannya juga dingin banget. Udara panas di luar hotel mendadak lenyap karena sejuknya kamar. Bed kami berada di bed nomor 501. Letaknya ada di bagian paling pojok. Asyik nih dapat bed di paling pojok dan di bagian bawah pula. Setelah check kamar, karyawan hotel menjelaskan kepada kami letak kamar mandinya. Antara cowok dan cewek kamar mandinya dipisah. Untuk cewek kamar mandinya ada di dalam area kamar yang letaknya di bagian pojok. Sedangkan kamar mandi cowok ada di luar area kamar yang masih berada di lantai yang sama. Oke.. Setelah beres semua, kami langsung istirahat sejenak. 

Untuk review bednya, buat saya ukuran bednya cukup lebar dan luas. Pas buat kami berdua. Kasurnya empuk, bantalnya juga gak kembos. Di dalam bed ada tempat colokan, meja lipat untuk laptop, gantungan baju, lampu baca, dan penutup seperti tirai gitu. Untuk menaruh barang bawaan, sudah ada locker sesuai nomor bed kami. Untuk membuka looker,tinggal tempelkan gelang tangan tadi ke tombol looker. Secara otomatis kebuka sendiri, kereen kan. Baru pertama kali saya melihat hotel sekece ini. Semuanya serba canggih. Ukuran lookernya cukup besar. Bisa untuk menyimpan dua bagpack. Itu dulu reviewnya, kami istirahat dulu yaak. Good Night !!!








Good Morning !!!

Enak bener tidur di bed empuk sampe gak terasa sudah pagi saja. Saya bareng istri enggan untuk segera bangun karena bener-bener kamar ini buat kami betah buat tidur. Para tamu yang menginap di kamar yang sama juga sudah terdengar suara mereka ngobrol berbisik-bisik pake bahasa yang saya gak mengerti. Yang jelas bukan bahasa Indonesia. Kok bisik-bisik?  Ya aturan menginap di hotel kapsul ini, kita dilarang untuk ngomong bernada tinggi dan tertawa di area kamar agar gak mengganggu tamu lainnya. Gak enaknya ya itu, jadi pakai cara berbisik-bisik, hahaha seru juga. 

Habis mandi dan beres-beres, kami menuju roftop yang berada di lantai paling atas (lantai 6) untuk sarapan. Di roftopnya ada pilihan tempat duduk. Bisa duduk di sofa, meja dan kursi kayu dan bisa juga duduk di pinggiran roftop sambil sarapan. Menu sarapan hari itu potongan buah nanas, semangka,roti bakar diberi selai kacang, dan telur dadar. Untuk minumnya, saya memilih teh hangat. Semua hidangan sarapan sudah disiapkan di mini bar. Kita tinggal mengambilnya. Disini semuanya bisa dibilang harus mandiri. Buat teh sendiri, bakar roti sendiri dan habisin sendiri (lapeeeer). Habis sarapan seperti piring, sendok, garpu dan gelas harus kita bawa ke minibar. Jadi meja makan harus dalam keadaan bersih kembali. 

Sambil menikmati sarapan di roftop, kami bisa menikmati pemandangan deretan pantai yang jaraknya gak jauh dari hotel. Terlihat juga Patung New GWK yang baru saja selesai pengerjaannya dari kejauhan. Langit cerah dan hembusan angin pantai yang buat suasana menjadi tambah syahdu.

Semakin siang, para tamu berdatangan untuk sarapan. Jam sarapan dari jam tujuh pagi sampai sebelas siang. Suasana di roftop semakin ramai saja. Disini saya tersadar ternyata kami berdua saja tamu lokal. Lainnya tamu bule dan china,hahaha.

Bagi kalian yang ada rencana liburan ke Bali habis lebaran atau yang kebetulan mudik ke Bali, bisa nyobain menginap di H-Ostel Capsule. Untuk pemesanan bisa melalui online atau datang langsung ke hotelnya. Pilihan bednya ada single bed, double bed, dan double bed mix. Untuk fasilitasnya ada kamar mandi, toilet, handuk, wifi dan sarapan. Dengan harga 200ribuan sudah dapat pelayanan seperti itu. Murah meriah bukan ? #NoEndorse

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Saturday, 1 June 2019


Gak terasa kita sudah berada di penghujung Bulan Ramadhan. Segala macam hidangan menu favorit disaat berbuka selalu tersaji setiap hari bersama orang tersayang. Belum lagi bukber di luar rumah. Mencari resto atau cafe untuk ngumpul bersama keluarga besar, teman lama (reunian),teman kerja, genk, pasangan dan gebetan mungkin.

Berhubung Bulan Ramadhan tinggal beberapa hari lagi,  saya punya tempat bukber rekomended buat kalian yang berada di sekitaran Pantai Senggigi, Pulau Lombok. Tempatnya baru dan asyik buat yang mencari tempat dengan suasana pantai. Sebut saja namanya Kedai Lury (bukan ngendorse). Lokasi di Tanjung Bias, Montong, Lombok Barat. Tepatnya menuju jalur Pantai Senggigi dari Kota Mataram. Di Tanjung Bias, banyak sekali deretan kedai/lesehan yang menawarkan aneka macam seafood sebagai menu andalan. Salah satunya Kedai Lury ini.

Beberapa hari yang lalu saya bareng keluarga besar yang terdiri dari istri, papa, mama, bapak mertua, ibu mertua dan adek-adek bukber di kedai ini. Alasannya karena ingin mencari suasana berbeda. Intinya ya mencari moment bisa kumpul bareng keluarga baru. Kapan lagi kalau gak di Bulan Ramadhan.

Kita gak perlu bingung mencari lokasi kedai ini karena lokasinya sudah ngehits di medsos. Sebenarnya yang ngehits itu kedai di sebelahnya yaitu Kedai Panorama. Ngehitsnya hampir sama seperti VPN beberapa hari yang lalu, hahahaha (anak milenials pasti ngerti). Tapi berhubung kami telat memesan tempat, jadinya kami bergeser bukber di sebelahnya yang lumayan kece juga. 






Sekitar jam lima sore, kami sekeluarga bersiap-siap menuju Kedai Lury. Sementara bapak dan ibu mertua, sudah janjian bertemu kami di lokasi saja. Cuaca saat itu cukup berawan. Asyiknya angin pantai gak terlalu kencang, jadi masih santai menikmati suasana. Perjalanan dari rumah juga lancar. Mobil menuju arah Pantai Senggigi kemudian setelah sampai di perempatan Montong, berbelok ke kiri menuju perkampungan nelayan Tanjung Biasa.

Kok menuju kampung nelayan?. Ya bener, lokasi tempat kami bukber ini berada gak jauh dari perkampungan nelayan. Kurang lebih hanya lima puluh meter saja. Setelah bertemu dengan jalan mentok, belok ke kanan menuju deretan kedai/lesehan. Banyak nama-nama kedai yang terpampang, so.. tinggal memilih sesuai dengan selera.

Kami memilih Kedai Lury bukan karena bersebelahan dengan Kedai Panorama, tapi menurut saya bareng istri, kedai ini lumayan nyaman. Khusus di Bulan Ramadhan, bagi yang ingin berbuka di lokasi Tanjung Bias harus memesan sebelumnya. Tapi di hari biasanya, bebas mau datang kapan saja (sesuai jadwal buka lhoo ya). Banyak pilihan tempat duduk. Ada yang menggunakan bean bag warna-warni, meja dan kursi kayu dan ada juga di berugak. Awalnya saya pengen memesan bean bag, tapi sudah dipesan semua. So.. Saya memesan meja dan kursi kayu untuk sembilan orang.

Sesampai di lokasi, ribuan orang yang akan berbuka sudah duduk manis selfiean di tempat mereka masing-masing. Setelah turun dari mobil, kami menuju Kedai Lury. Bagusnya disini, lokasi parkirnya tertata rapi baik roda dua maupun roda empat, I like it. Setelah sampai di kedainya, kami disambut oleh salah satu karyawan kedai dan mempersilahkan kami menuju tempat yang sudah disiapkan. Posisi tempat duduk kami bisa dibilang kece. Tepat berada di pinggir pantai dengan pasir berwarna hitam. Pantainya lumayan bersih. Dan uniknya disini ada beberapa ayunan yang terbuat dari kayu dengan desain yang berbagai macam, instagramable banget. Bagi yang sering buka instagram, pasti pernah liat model ayunan seperti ini. Sayangnya saya gak sempat mencoba ayunannya, hehehe.











Oke kita lanjut ke menunya !!!

Menu yang kami pesan lumayan banyak. Diantaranya ada Ikan Kakap Rajang, Ikan Kakap Bakar, Ikan Baronang Bakar, Ayam Bakar Madu, Udang Asem Manis, Cah Kangkung, Tahu Tempe Goreng, Es Teh, dan Minuman favorit saya yaitu Lury Sunset Mocktail.

Soal rasa, yang paling berkesan buat saya yaitu Ikan Kakap Rajang sama Udang Asem Manisnya. Bumbu Rajangnya gak terlalu strong, pas dilidah. Kuahnya juga gak terlalu kental dan gak terlalu cair. Tekstur daging ikannya juga lembut dan gak amis. Untuk Udang Asem Manisnya, enak banget. Gak terlalu pedas juga. Apalagi saos asem manisnya, enak bener.

Sayangnya, tahu dan tempenya menurut saya terlalu asin. Entah asin dari tahunya atau dari bumbunya. Tapi, over all semuanya enak dan kami sangat menikmati. Habis makan, gak enak kalau gak mencoba minuman yang dingin-dingin. Saya memesan Lury Sunset Mocktail. Setau saya sunset mocktail ini bahannya terdiri dari sirup marjan cocopandan, jus mangga, jus apel, soda /sprit (pernah buat sendiri). Tapi sunset mocktail khas Kedai Lury punya kekhasan soal rasa. Khasnya apa, rahasia perusahaan donk, hahaha.

Untuk harga menu yang ada, bisa kalian liat foto daftar menu di atas. Masih banyak menu-menu favorit lainnya yang kebetulan kami gak pesan. Over all, untuk pelayanan lumayan oke. Karyawannya juga ramah-ramah. Dan terpenting suasana kedai di pinggir pantai yang kece. Menikmati buka puasa bareng keluarga besar sambil meliat senja, suatu kenikmatan dan indahnya Bulan Ramadhan di tahun ini. Sudah punya keluarga baru dan istri terbaik. Alhamdulillah...





Setelah berbuka puasa dan shalat magrib, sepertinya ada yang kurang. Pengennya langsung pulang ke rumah, tapi rasanya berat banget. Kenapa ya? 

Ternyata jawabannya, semakin malam suasana semakin kece saja. Para pengunjung belum beranjak dari tempat duduk mereka masing-masing. Lampu kelap kelip yang menghiasi kedai ditambah lagi suara deburan ombak dan angin pantai sepoi-sepoi,membuat kita malas untuk balik ke rumah. 

Langit yang tadinya berwarna kuning orange squash di ufuk barat, berubah menjadi biru kemerahan dan semakin lama warna itu semakin memudar ditelan malam. Penggantinya, muncul jutaan bintang kelap kelip menghiasi langit malam itu. Awan pun seakan segan untuk menutupi mereka para bintang.  Sangat cantik dipandang, seperti memandangmu yang berlari dengan wajah tersenyum di pinggir pantai, eheeemm. Rekommended dari saya buat kalian. 

Untuk jam bukanya sendiri, di hari biasa mulai jam sepuluh pagi sampai sepuluh malam. Sedangkan saat Bulan Puasa buka dari jam empat sore sampai sepuluh malam. Buat kalian yang ingin berbuka puasa di Kedai Lury atau kedai sekitarnya, bisa pesan sehari sebelum via telpon atau whatsapp. Atau yang gak punya nomor kontaknya, bisa datang langsung untuk memesan. 

Gimana, kalian tertarik?. Yuuk mumpung Bulan Puasa tersisa beberapa hari lagi, kita adakan moment buka puasa dan kumpul bareng keluarga demi mempererat tali silaturahmi. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra