Thursday, 7 February 2019

Menikmati Es Kopi Susu Guren di Soetjipto Coffee & Resto


Hai..hai guys, berjumpa lagi dengan Lazwardy Journal !

Di cerita sebelumnya tentang mengexplore Buwun Mas Hill,sudah dibaca belum ? .Kali ini kembali lagi dengan tulisan tentang segelas ice coffee yang menurut saya wajib buat diceritakan. Kalau berbicara tentang segelas ice coffee, pasti ada hubungannya dengan kedai atau cafenya yang kece dan unik.

Sepulang kerja, saya ngajak si doi buat keluar bentar biar gak boring di rumah terus. Kebetulan dianya juga gak ada kesibukan. So, kami berdua mencari tempat nongkrong sambil ngisi perut (inget diet woii),hehehe.





Tempat yang menjadi tujuan kami bernama Soetjipto Coffee & Resto. Lokasinya gak jauh dari rumah saya berada, tepatnya di Jalan Adi Sucipto No 99A-C, Ampenan, Kota Mataram. Cafe ini sudah dua kali renovasi. Antara tampilan pertama dan kedua, agak jauh berbeda. Tampilan sekarang pastinya jauh lebih kece.


Dari segi tampilan, Soetjipto Coffee & Resto yang baru masih mempertahankan konsep minimalis. Untuk ruangannya, ada penambahan menjadi dua lantai. Ruangannya terbagi menjadi dua yaitu indoor dan outdoor. Keren kan !. Kali ini saya bareng si doi, mencoba untuk nongki di lantai satunya. Tempat duduknya nyaman, mejanya pun cocok buat kerja. Ada banyak pilihan meja dan kursinya. Ada untuk ngumpul bareng teman-teman, berbentuk meja panjang. Ada untuk berempat dan ada untuk berdua. Tinggal pilih saja dan semuanya dilengkapi dengan colokan.

Untuk ruangan indoornya juga, sudah dilengkapi dengan alat pendingin (adeemmm poool). Lebih kecenya lagi, wifinya kenceng banget lhoo. Disini juga disediakan beberapa buku bacaan yang bisa kalian baca. Ada juga beberapa permainan seperti kartu atau bongkar pasang balok. Pokoknya dijamin betah berlama-lama disini. 



Di lantai dua juga gak kalah kece. Bagi yang ingin ketenangan dalam bekerja, bisa memilih tempat duduk di lantai dua karena suasananya agak lebih sepi dibandingkan di lantai satu. Gak tau kalau malam minggu atau libur, mungkin di lantai dua ramai sama kids jaman now. Bagi ahli hisap jangan khawatir, disini disediakan ruang outdoor untuk kalian tanpa mengganggu pengunjung di ruang indoor. Baik di lantai satu dan dua, ada ruang outdoornya. 

Untuk di ruang indoor lantai dua ada yang saya suka. Di bagian dindingnya ada coretan mural yang keren. Bisa jadi referensi buat dinding di rumahnya nantinya, gimana neng ? (colek si mbaknya, eh si doi maksudnya).



Review ruangannya sudah, sekarang review menu-menunya. Datang ke cafe ini gak lengkap kalau gak ngopi. Minuman yang saya pesan yaitu Ice Kopi Susu Guren. Ada yang tau sejenis kopi apa itu ?. Kopi Susu Guren yaitu kopi susu gula aren, hanya disingkat jadi guren biar lebih keren. Untuk Kopi Susu Gurennya, lumayan joss dan stroong. Manis gula arennya kalah dengan kopinya. Berbeda dengan Kupi Susu Inaq yang pernah saya review di tulisan sebelumnya. Kedua-duanya sama menggunakan gula aren tapi untuk di Soetjipto, agak lebih stroong kopinya.
Segelas Es Kopi Susu Guren seharga 15K.


Si doi memesan kopi yang berbeda yaitu Es Thai Tea. Soal rasa, Thai Tea di cafe ini lebih enak dibandingkan Thai Tea di tempat lainnya. Warnanya pun berbeda dengan Thai Tea pada umumnya yaitu warna orange. Es Thai Tea ala Soetjipto berwarna cokelat seperti susu. Ada campuran kopi juga nih, nikmat dan pengen nyicip lagi (nyicip Thai Tea punyanya si doi). Untuk segelas Es Thai Tea seharga 20K.



Untuk cemilannya, kami berdua memesan Pancake Vanilla. Pancake yang ditaburi es cream vanilla di atasnya, enak banget. Porsinya pun gede dan kami berdua gak kuat habisin. Yakin gak dihabisin?, tapi ujung-ujungnya tetap dihabisin, hehehe. Tekstur pancakenya yang sangat lembut dan gak cepat buat enek. Enak-enak, jadi menu wajib dipesan kalau datang ke cafe ini lagi. Seporsi Pancake Vanilla seharga 20K. 

Untuk sekelas kedai cofe jaman now, harga menu-menu disini sangat terjangkau buat kalangan mahasiswa dan kita-kita yang punya modal pas-pasan. Overall, nongki disini sangat nyaman sekali. Pelayanannya sejauh ini luar biasa, saya suka. Keramahan para karyawannya juga saya acungin jempol. Penataan ruangannya juga instagrammable banget. Cocok buat kita-kita yang pengen ngumpul menghabiskan waktu bersama. Pas juga datang bareng pasangan, bukan selingkuhan lhoo yaa.

Untuk jam bukanya, cafe ini buka setiap hari dari jam 3 sore sampai jam 10 malam. Khusus untuk malam minggu, biasanya tutup di atas jam 10 malam. Buat kalian yang pengen nongki tapi bingung mau dimana, bisa ke Soetjipto Coffee & Resto. Tempatnya keren abis.

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Saturday, 2 February 2019

Spot Foto Tercantik Di Pulau Lombok : Buwun Mas Hill


Tinggal di Pulau Lombok sungguh menyenangkan. Mau jalan-jalan tinggal pilih mau ke pantai, gili, air terjun, perbukitan atau desa wisata. Yang hobinya jalan ke mall, di Pulau Lombok juga ada mall lhoo yang lokasinya berada di pusat Kota Mataram. Jangan kira di Pulau Lombok gak ada mall, meskipun hanya ada satu dua biji. Gak banyak memang seperti di Bali dan Jawa. Tapi saya gak akan ngebahas tentang jalan-jalan ke mallnya. Biar emak saya saja nanti ngomong soal mallnya kalau sudah jadi emak blogger,hehehe #intermezo

Jalan-jalan ke Pulau Lombok identik dengan alamnya, bener gak?. Kalian kalau ditanya, "liburan ke Pulau Lombok,  mau kemana saja?". Pasti jawabannya, pantai, air terjun atau desa wisata. Image Pulau Lombok gak lepas dari deretan pantai-pantainya yang indah, budayanya yang kece, makanan tradisional yang lezat dan keramahan orang Lomboknya pastinya (jangan kegeeran dulu !). Jadi jangan heran, kita sendiri saja kalau mendengar nama Pulau Lombok, terbayang hal-hal tersebut.

Di awal tahun ini, ada sebuah tempat baru yang keren abis di bagian barat Pulau Lombok. Tepatnya di wilayah Dusun Lemer, Desa Buwun Mas, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat. Dari awal kemunculan di media sosial, tempat ini sukses membuat Pulau Lombok bergairah lagi semenjak terjadinya bencana gempa bumi yang melanda "pulau seribu masjid" sampai porak-poranda. Pulau Lombok sekarang sudah mulai bangkit lagi. Dunia pariwisata di pulau ini juga sudah bangun dari tidurnya. Lupakan kesedihan, menatap masa depan yang lebih cerah. Asyiik..!

Kembali ke laptop !

Di Hari Minggu lalu, saya bareng si doi pergi ke rumah salah seorang sahabat bernama Bang Jack. Kebetulan Bang Jack ini warga asli dari Dusun Lemer, Desa Buwun Mas. Kebetulan kami bertiga ditugaskan mengikuti lomba Calender Of Event 2019 oleh komunitas kami bernama Genpi Lombok Sumbawa. Sesampainya di rumah Bang Jack cuaca masih gak menentu. Kami putuskan bersantai-santai sejenak sambil menikmati kopi hangat yang dihidangkan. Setelah berdiskusi mengenai lomba dengan strategi yang kami siapkan, tiba-tiba cuaca menjadi cerah. Hari masih pagi juga, Bang Jack mengajak kami mengexplore Buwun Mas Hill. Lokasinya gak jauh dari rumah beliau. Dari pintu masuk sampai di atas bukit, katanya memerlukan waktu dua puluh menit. Bener gak yak? Mari kita buktikan.





Buwun Mas Hill !. Sebuah perbukitan yang sangat indah dimana untuk menuju kesana kita hanya memerlukan waktu satu setengah jam perjalanan dari Kota Mataram, hingga sampai di Desa Buwun Mas menggunakan kendaraan baik roda dua maupun roda empat. Sayangnya, belum ada transportasi umum menuju desa ini. Jadi bagi yang akan menuju tempat ini, pilihannya bisa menggunakan kendaraan pribadi atau sewa. Dari Kota Mataram sampai di Desa Buwun Mas Hill, kita dimanjakan oleh pemandangan yang luar biasa indah. Melewati Teluk Lembar, melihat puluhan kapal yang berlabuh. Melewati jalanan berkelok-kelok di tengah perbukitan. Oh ya, disini kalian bisa memilih dua jalur lhoo. Mau jalur atas yang memangkas waktu tempuh menjadi lebih singkat. Atau memilih jalur bawah dengan pemandangan indah Teluk Lembar yang memakan waktu tempuh agak lama. Tergantung pilihan, pastinya sama-sama akan sampai di Desa Buwun Mas.

Setelah bertemu dengan pertigaan Sekotong, tepatnya setelah Puskesmas Sekotong. Kita mengambil jalur ke kiri mengarah ke Teluk Sepi, sedangkan ke kanan, kita menuju penyeberangan ke Gili Nanggu dan Gili Kedis. Berbelok ke kiri, kita melewati perkebunan dan perbukitan dengan kondisi jalan yang sudah mulus. Kurang lebih lima belas menit dari pertigaan Sekotong, kita sampai di rumahnya Bang Jack. Perjalanan dari Kota Mataram sangat lancar tanpa ada kendala yang berarti.

Bagi kalian yang suka kepoin akun-akun wisata Lombok di twitter, instagram atau facebook, pasti pernah melihat hastag #sekotongmendunia. Termasuk di dalam tulisan saya sebelumnya tentang Pantai Sangap dan Mangrove Jerangkang yang memakai hastag #sekotongmendunia juga. Saat ini wilayah Sekotong sedang naik daun di dunia pariwisata Pulau Lombok. Keindahan alamnya yang kece, membuktikan destinasi ini layak menjadi pesaing destinasi-destinasi kece lainnya di Pulau Lombok. Kita ambil contoh; Pantai Senggigi, Gili Trawangan, Gunung Rinjani, Desa Sembalun, Air Terjun Tiu Kelep dan lainnya yang terlebih dulu terkenal dengan keindahan alamnya.




Salah satu destinasi andalan dari Desa Buwun Mas, Sekotong ini yaitu Buwun Mas Hill. Kenapa bisa begitu terkenalnya, sampai banyak wisatawan lokal maupun luar Pulau Lombok yang berlomba-lomba datang kesini. Bahkan beberapa media pun sudah banyak meliput tempat ini. Dibaca terus tulisan saya sampai selesai ya !. 

Disini cerita saya mengexplore Buwun Mas Hill dimulai. Sekitar jam sebelas siang, kami berempat menuju pintu masuk Buwun Mas Hill. Jarak dari rumah Bang Jack ke lokasi pintu masuk, gak terlalu jauh. Kurang lebih sekitar lima menit menggunakan sepeda motor, kami sudah sampai di area parkir Buwun Mas Hill yang letaknya persis di tengah-tengah rumah warga desa. Jangan khawatir, kendaraan kita dijamin aman parkir disini karena ada penjaganya.

Untuk tiket masuk saat itu, kami gak dipungut biaya sepersen pun. Apa jangan-jangan memang gak ada tiket masuk alias hanya bayar parkir saja. Atau mungkin karena bareng sama Bang Jack, hahaha. Bisa saja dikasi masuk gratis dan saya gak sempat menanyakan itu ke si empunya Buwun Mas Hill. Menuju ke puncak Buwun Mas Hill ada dua pilihan. Bisa berjalan kaki sambil trekking, hitung-hitung olahraga. Atau yang gak kuat jalan, bisa naik ojek sampai puncak dengan membayar 10ribu per orang saja.

Ternyata kami gak hanya berempat saja yang menuju puncak Buwun Mas Hill. Kami bertemu dengan dua teman lagi, salah satunya bernama Bang Bowo dan saya lupa nama mas yang satunya,hehehe. Mereka berdua adalah teman dari Bang Jack yang kebetulan di hari yang sama juga mau trekking ke Buwun Mas Hill.

Perjalanan menuju puncak bukit bisa dibilang lumayan menguras keringat. Dimana sepuluh menit pertama, kita dihadapi dengan kondisi jalan tanah yang sedikit menanjak. Di beberapa titik, agak licin karena habis hujan dan tantangannya kita harus berhati-hati saat melintas di trek ini. Saya yang sudah lama gak trekking, lumayan ngos-ngosan, sedangkan si doi dan teman lainnya sama juga,hehehe. 




Sepanjang perjalanan kita dimanjakan oleh hijaunya perbukitan, tanaman padi yang sengaja ditanam di lereng-lereng bukit serta udara yang sangat sejuk yang selalu menemani di sepanjang perjalanan. Capek pun hilang sekejap setelah melewati jalanan yang menanjak. Sepuluh menit terakhir, kami melintasi jalur yang landai dengan pemandangan yang gak kalah cantiknya. Dua puluh menit kami berjalan, akhirnya sampai juga di parkiran atas. Di parkiran atas ini, tempat pemberhentian terakhir si bapak ojek kalau kita pakai jasa mereka. Disini banyak sekali warung-warung dadakan lengkap dengan tendanya untuk kita beristirahat. Banyak jenis cemilan dan minuman yang dijual. Dijamin gak bakalan kelaparan pemirsa. 

Kurang lebih lima puluh meter setelah melewati deretan warung tenda, kami sudah sampai di sebuah padang savana yang sangat hijau. Ada ayunan di bawah pepohonan yang cukup rindang untuk mengambil foto. Perbukitan hijaunya mirip seperti bukit Teletubis (bagi kids jaman old pasti tau),hehehe. Untungnya lagi di hari itu, gak ramai pengunjung yang datang kesini seperti cerita di awal kemunculannya. Saat pertama kali terkenal di media sosial, jumlah pengunjung ke Buwun Mas Hill sampai membeludak. Bisa dibayangin kan, gimana suasana ribuan orang berkumpul di atas bukit Buwun Mas ?, pasti padat banget. Mengambil foto bagus saja susah, sampai ada beberapa komunitas rela bermalam di Buwun Mas Hill demi mendapatkan hasil jepretan yang kece.





Begitu beruntungnya kami menginjakkan kaki di Buwun Mas Hill dalam keadaan sepi saat itu. Kemungkinan besar kenapa bisa sepi padahal hari libur, karena sampai saat ini di Pulau Lombok hampir setiap hari turun hujan. So...banyak yang gak datang ke Buwun Mas Hill dalam keadaan cuaca yang kurang bersahabat.

So....berhubung lagi sepi, kami gak menyia-nyiakan waktu untuk mengambil foto-foto kece. Dan hasil jepretan kami bisa kalian lihat di dalam postingan ini,hehehe. Saya bareng si doi pun melakukan sesi prewed ala-ala kami berdua. Menyatu dengan alam adalah hobi kami berdua. Bang Jack serta anak perempuannya, Si Ola juga mengambil foto di tengah semak-semak hijau.

Untuk kali ini Bang Jack menjadi fotografer dadakan kami berdua. Gak direncakan, Bang Jack berbaik hati memfoto kami berdua dengan segala macam gaya. Tapi tetap memakai ala-ala kami berdua. Than's Bang Jack sudah fotoin kami, foto-fotonya kece-kece,hehehe. Bagi kalian yang pengen difoto sama Bang Jack, bisa koment di kolom komentar,hehehe.

taken by : Zakaria (Bang Jack) 

taken by : Zakaria (Bang Jack) 




Yang paling saya suka sama tempat ini yaitu perbukitannya yang hijau, rumput liar yang tumbuh membuat bukit ini sangat cantik. Belum pernah saya menemukan perbukitan seperti yang ada di Buwun Mas Hill sebelumnya. Apalagi ditambah dengan pemandangan lautnya yang indah, membuat siapa saja yang datang kesini dibuat jatuh cinta pada pandangan pertama. Seperti saya yang jatuh cinta pada pandangan pertama ke si doi,hehehe.

Menurut informasi, di Buwun Mas Hill kita bisa mendirikan tenda untuk menginap. Tapi ada beberapa aturan yang harus dipatuhi antara lain, gak membuang sampah sembarangan, berperilaku sopan, gak melakukan hal-hal yang negatif lainnya. Untuk mendirikan tenda kita dikenakan biaya 25ribu rupiah kalau gak salah *mohon dikoreksi kalau keliru*.

Daripada berdiam diri di rumah dan gak ngapa-ngapain, lebih baik datang ke Buwun Mas Hill. Dijamin gak akan kecewa dan pastinya ingin balik lagi kesini. Bisa dibilang Buwun Mas Hill paket lengkap. Trekkingnya, pantai, perbukitan hijau dan foto kecenya dapat semua. Untuk masuk ke tempat ini juga sangat murah meriah sekali. Dijamin gak buat dompet bolong.

Gimana, kalian tertarik datang ke Buwun Mas Hill ?. Saya tunggu cerita dari kalian. #sekotongmendunia

Catatan :
- Belum ada tempat sampah yang mencukupi.
- Keamanan sudah lumayan baik.
- Kenyaman oke banget.
- Kondisi jalur trekking menuju atas bukit, masih perlu perbaikan.
- Pengelola masih warga desa.
- Paling baik untuk mendapatkan foto kece saat sunrise dan sunset.
- Datang disaat musim hujan yaitu pagi hari.
- Perlu promosi yang lebih optimal lagi. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Monday, 21 January 2019

Lezatnya Nasi Goreng Puyung ala Acibara Coffee


Banyak pesan masuk via email, "Bang Di, kapan ngereview cafe atau resto lagi ?". Saya jawab saja, "Insyaallah dalam waktu dekat ini, doain saja !". Sudah lama juga saya gak ngereview sebuah cafe atau resto kece lagi, mungkin ada dua bulanan,hehehe (cukup lama juga).

Dalam tulisan kali ini, saya ada tempat tongkrongan yang rekommended banget buat kalian datangi. Masih di wilayah Kota Mataram, nama cafenya "Acibara Coffee". Beberapa minggu yang lalu, saya bareng si doi datang ke cafe ini. Ini kali keduanya kami datang kesini semenjak dilaunching dua bulan yang lalu. 

Acibara Coffee berlokasi di parking area Lesehan Mimi Asri, Jalan Jenderal Sudirman, Rembiga, Kota Mataram. Gak jauh dari Bandara Selaparang, Kota Mataram. Semenjak hari pertama dibuka sampai sekarang, cafe ini selalu ramai. Kenapa sih bisa seramai ini, penasaran ? Yuuk, ikutin terus sampai cerita ini selesai !




Berhubung kami berdua lagi mencari tempat yang cocok buat kerja sambil nongkrong, terpilihlah Acibara Coffee. Alasan kenapa kami memilih cafe ini, karena tempatnya nyaman, menarik dan menu makanannya yang enak-enak. Kebetulan sore itu belum terlalu ramai pengunjung, kami berdua bisa leluasa mencari tempat duduk.

Setibanya di area parkir, ada pemandangan yang buat saya tersenyum yaitu ada sepeda motor merk Honda 70 warna merah yang dipajang di samping pintu masuk cafe. Kondisi Honda 70annya sih keliatannya masih oke dan masih bisa dijalankan. Tampak dari luar, bangunan cafenya klasik nan kece. Jadi gak sabar masuk ke dalam.  

Acibara Coffee memiliki dua ruang, ada bagian outdoor dan indoor. Untuk bagian outdoornya sendiri, saya rasa bagus banget. Tempatnya semi taman gitu dengan pepohonan di sekitarnya. Kalau malam tiba, lampu kelap-kelip yang dipasang di dahan-dahan pepohonan, menghiasi ruang outdoornya. Bagi yang ahli hisap, bisa memilih bagian outdoor, sedangkan yang pengen ngadem, bisa pilih ruang indoor. Baik outdoor maupaun indoornya, sama-sama nyaman dan dijamin buat betah duduk berlama-lama. Ada full musicnya juga lhoo dengan lagu-lagu terkini pastinya.





Gimana sih, penampakan ruang indoornya ?. Saat memasuki ruang indoornya, kami disambut dengan senyuman para barista dan karyawan cafe lainnya. Ruang indoornya sangat luas, dimana di setiap sudut ruang terdapat tempat duduk yang kece menurut saya. Konsep ruangannya bisa dibilang klasik dan industrial. Ukuran jendelanya besar dan dijadikan tempat duduk, keren kan ?. Apalagi terdapat beberapa motor klasik lainnya yang terpajang di setiap sudut ruang, menambah kesan klasik dari cafe ini. Penataan ruangnya cukup kece menurut saya. Dari tempat duduk, mini bar, hiasan lampu, pajangan motor dan toiletnya yang cukup bersih. Paling penting menurut kami berdua, ruangan yang nyaman dan adem buat kerja sambil ngobrol-ngobrol.

Kami berdua memilih duduk di deket jendela yang ada sofa panjang dan meja kayu yang unik. Ukuran sofanya panjang mengkuti ukuran jendela dan sangat empuk, pas banget buat selonjoran kaki. Bisa juga buat tiduran guys,hehehe. Ditambah lagi ada bantal, tergoda buat tidur nih. Sayangnya, gak turun hujan. Coba hujan, kita bisa melihat hujan dari balik jendela. Kalau dibayangin, sangat romantis menikmati hujan turun bareng pasangan (korban drama korea).





Oke...Lupain dulu drama koreanya.

"Kenapa sih dinamakan Acibara Coffee ?". Dari jawaban si akang baristanya, Acibara itu kebalikan dari Arabica. Baru paham saya namanya itu, gak kepikiran saja,hahaha. Berhubung ini kedai kopi kekinian, jadi namanya pun disesuaikan dengan salah satu jenis kopi. Sejauh ini dari nama, tempat dan konsep sangat kece menurut saya.

Saatnya memesan menu disini. Sebelum datang ke cafe ini, saya melihat menu-menu terbaru yang diposting di akun instagram Acibara Coffee (ig: @acibara.coffee). Ada menu yang menarik buat saya pesan yaitu Nasi Goreng Puyung sebagai menu utamanya. Minumannya yaitu Es Kupi Susu Inaq, kopi susu gula aren gitu. Sedangkan si doi memesan Indomie Mirip, unik ya namanya. Untuk minumnya, si doi suka Es Thai Tea. Untuk cemilannya, kami memesan donat yang ditaburi gula putih. Gagal diet dah nih, hehehe. 

Sambilan menunggu pesanan datang, kami main Uno dulu. Semacam main kartu dengan angka dan warna. Seru mainnya, sampai lupa waktu karena sering kalahnya,hahahha. Di cafe ini sudah disiapkan beberapa permainan yang buat kita gak bosan nongkrong disini. Gak terasa main Uno, pesanan kami pun datang. Gak butuh waktu lama untuk menunggu. Pelayanannya sejauh ini lumayan oke. Perut sudah lapar, saatnya menyantap menu yang sudah terhidang di atas meja. Mari makan !!!. 



Nasi Goreng Puyung (25K)


Mungkin kalian bertanya, kok judulnya tentang Nasi Goreng Puyung ?. Padahal kan ini tentang cafe coffee gitu. Nah disini keunikannya, sangat jarang kita temukan makanan tradisional ada di sebuah cafe coffee terkini. Saat melihat ada menu Nasi Goreng Puyung, saya langsung memesannya. Penasaran sama rasanya gimana ?. Biasa makan nasi goreng pada umumnya, tapi kalau Nasi Goreng Puyung belum pernah sama sekali. 

Diliat dari penyajiannya, terlihat sangat menggoda. Aroma bumbu nasi gorengnya sangat sedap. Ohya, Nasi Goreng Puyung ini terinspirasi dari Nasi Puyung yang sangat terkenal di Pulau Lombok lhoo. Yang liburan ke Pulau Lombok, pasti sudah mencoba menu khas Pulau Lombok ini. Perbedaan dengan Nasi Puyung pada umumnya, terletak dari penyajiaannya. Kalau Nasi Puyung biasa terdiri dari nasi putih, kemudian lauknya kedelai goreng, ayam suir kering dan ayam suir pedas. Antara nasi dan lauknya dipisah, sedangkan Nasi Goreng Puyung, ayam suir pedasnya dicampur dengan bumbu dan nasi gorengnya dengan penambahan telur mata sapi di atas nasinya. Enak...enak...enak...!!!.

Soal rasa, bisa dibilang Nasi Goreng Puyung lebih berasa pedasnya. Berhubung saya gak terlalu kuat makan yang terlalu pedas, jadi nasi gorengnya si doi yang habisin. Bagi kalian yang doyan pedas, cocok makan Nasi Goreng Puyung ala Acibara Coffee. Dari satu sampai sepuluh, saya kasi nilai delapan buat nasi gorengnya. Seporsi Nasi Goreng Puyung seharga 25K. 

Indomie Mirip (13K)

Ada lagi menu yang unik disini yaitu Indomie Mirip (sorry nyebut merk). Mie kuah pada umumnya, hanya saja penyajiannya hampir mirip dengan gambar di bungkus mienya meskipun gak mirip-mirip amat sih. Ngomong-ngomong soal mie rebus, kami berdua adalah penghobi makan mie rebus ini. Meskipun dianjurkan gak boleh dikonsumsi terlalu sering, karena bisa mengganggu kesehatan. Suka makan mie rebus, tapi gak sering-sering amat. Sebulan empat kali atau seminggu sekali, itupun kalau lagi pengen saja. 

Berhubung di cafe ini ada menu ini, si doi langsung memesannya. Soal rasa sama saja seperti mie rebus yang biasa kami buat. Nilai plusnya yaitu cara penyajiannya yang unik dan mirip dengan gambarnya. Seporsi Indomie Mirip seharga 13K. Menikmati indomie rebus bareng pasangan disaat kondisi hujan seperti ini, romantis banget yaak (ngomong sama si doi yang lagi maen game).




Es Kupi Susu Inaq (15K)

Namanya nongkrong di kedai kopi, kurang rasanya kalau gak nyobain kopinya. Ada satu menu kopi yang wajib kalian dicoba, namanya Es Kupi Susu Inaq. Agak lucu namanya dan unik. Kalau dibahasakan ke bahasa Indonesia, artinya Es Kopi Susu Ibu. Rancu gak sih penyebutannya ?,hehehe. Jangan mikir ngeres dulu, maksud gak gitu. Arti sesungguhnya yaitu Es Kopi Susu buatan ibu/mama atau hanya istilah saja biar unik dan buat penasaran.

Es Kupi Susu Inaq campuran dari kopi hitam, susu dan gula aren sebagai pemanisnya. Soal rasa, jelas enak, manis dan bikin mata melek. Rasa susu dan gula arennya yang buat kopi ini terasa enak dan pengen nambah lagi. Apalagi penyajiannya ditambah dengan es, jadi seger guys. Segelas Es Kupi Susu Inaq seharga 15K. Gak terlalu mahal juga untuk sekelas kopi yang ada di kedai kopi pada umumnya. 

Sedangkan si doi memesan Es Thai Tea dan donat sebagai cemilannya. Untuk Es Thai Teanya sendiri, sama seperti Thai Tea pada umumnya. Hanya saja porsinya yang lumayan besar dan agak sedikit terlalu manis. Over all semua yang kami pesan, enak-enak semua dan kami berdua puas dengan pelayanan dan menu-menunya. 



Nongkrong bareng pasangan, keluarga atau sahabat, Acibara Coffee tempatnya. Menurut informasi, tempat ini selalu menyelenggarakan beberapa kegiatan seperti Acibara Talk : Digital Marketing For Beginner yang diselenggarakan beberapa waktu yang lalu. Dan masih banyak lagi kegiatan-kegiatan positif yang ada di Acibara Coffee. 

Bagi kalian yang bingung mau nyari tempat nongkrong atau mau buat acara semacam gathering gitu, kalian bisa kepoin ig dari Acibara Coffee yaak. Untuk lokasi detailnya, kalian bisa buka di Google Maps. Disana sudah jelas lokasi dari Acibara Coffee.

Catatan :
 Jam buka : 10.00 AM-10.00PM


Penulis : Lazwardy Perdana Putra