Sunday, 20 September 2020

Bersantai Sambil Kulineran di Pantai Kerandangan


Gak terasa sudah memasuki pertengahan Bulan September 2020. Sudah tujuh bulan wabah Covid-19 masih menghantui kita. Mau kemana-mana perlu mikir seribu kali. Boro-boro mau berpergian, keluar rumah hanya sekedar beli kopi di Indo**rt dekat rumah saja harus pake masker dan cuci tangan sebelum masuk rumah. 

Tujuh bulan rasanya menyebalkan gak liburan ke tempat-tempat kece. Biasanya sebulan dua kali, pergi touring, kulineran atau bersantai di sebuah tempat buat melepas penat sama tugas kantor. Apalagi sekarang sudah punya anak istri, tambah semangat pengen pergi ke suatu tempat yang keren dan asyik. Tapi untuk saat ini mau gak mau kita harus mematuhi aturan pemerintah. Gak boleh datang ke tempat berkerumun banyak orang, selalu pakai masker dan terpenting harus jaga jarak atau bahasa kerennya, physical distancing

Kita lupakan dulu yang namanya Covid-19 dengan bersantai di pantai sambil makan sate bulayak dan secangkir kopi susu hangat. Beberapa hari yang lalu, tepatnya Hari Sabtu saya bersama keluarga datang ke sebuah pantai yang gak jauh dari rumah. Hitung-hitung plesiran untuk meningkatkan imun biar gak stress. 

Ada aturan untuk menerapkan protokol kesehatan Covid-19, bukan berarti sekarang gak boleh kemana-mana. Syukurnya sekarang kita sudah diperbolehkan berlibur ke pantai, gili, air terjun atau camping di Desa Sembalun. Semuanya boleh dilakukan asalkan tetap mematuhi aturan yang ada. Liburan dengan kebiasan baru. 





Berangkat jam sembilan pagi dari rumah di Ampenan menyusuri jalan raya Senggigi dengan cuaca yang cukup cerah. Gak lupa masker harus digunakan. Takutnya kena razia masker di jalan. Anggota keluarga yang ikut ada bapak, mama, bibi dan gak lupa anak istri pastinya. Ini juga kali kedua saya membawa Kenzi main-main ke pantai. Dimana sebelumnya pergi ke pantai yang ramai pengunjung saat itu, jadi gak betah berlama-lama di lokasi (ceritanya menyusul).

Sekitar dua puluh menit waktu tempuh dari rumah, kami sudah sampai di pintu masuk Pantai Kerandangan yang berada persis di sebelah Pantai Senggigi. Suasana pagi itu masih sepi. Wah, beruntung nih masih sepi pengunjung. Biasanya menjelang sore hari apalagi hari libur, banyak yang datang bersantai di pantai ini. 

Pantai Kerandangan merupakan salah satu pantai di Pulau Lombok yang cukup laris dikunjungi oleh wisatawan lokal. Meskipun gak seterkenal dengan tetangganya Pantai Senggigi, buat saya pantai ini sangat nyaman dan asyik untuk bersantai dan kumpul keluarga. Pantai ini juga sering digunakan untuk kegiatan outbound dan camping karena memiliki padang rumput yang sangat luas disertai dengan deretan pohon-pohon kelapa yang jumlahnya ratusan, sehingga pantai ini sangat rindang. 

Masuk ke dalam pantai, kita dikenakan tiket masuk 5 ribu rupiah untuk mobil dan 2 ribu rupiah untuk motor. Bisa dibilang pantai ini sangat aman dan ramah pengunjung karena selalu dijaga oleh penduduk setempat.

Dari pintu masuk, kendaraan kami harus menyusuri jalanan tanah melewati deretan pohon kelapa hingga sampai di parkiran yang berada tepat di pinggir pantai. Dari kejauhan sudah terlihat deretan gubuk-gubuk sederhana terbuat dari kayu dan alang-alang sebagai atapnya tempat para pengunjung bersantai. Mirip seperti gazebo dengan dipan-dipan bambu sebagai tempat duduknya. 

Setelah turun dari mobil, kami disambut dengan suara ibu-ibu warung yang menawarkan ke kami apa yang mereka jual. Ada ikan bakar, sate bulayak, kelapa muda, dan masih banyak lainnya. Kami pun langsung memilih tempat bersantai yang masih banyak kosong. Di warung sebelah ada pengunjung yang sepertinya habis gowes, terlihat sepeda yang berjejer di bibir pantai. 

Banyak warung-warung disini yang bisa kita pilih. Pastinya dengan dagangan yang hampir sama. Kami memilih tempat santai yang langsung berhadapan dengan pantai tanpa ada yang menghalangi di depannya. 

Ibu yang punya warung menghampiri kami untuk mencatat apa saja yang kami pesan. Pagi menjelang siang enaknya makan sate bulayak dengan sebuah kepala muda. Sebelum pesanan datang, kami bermain-main di pinggir pantai. Si Kenzi yang digendong sama bundanya, sudah gak sabar bermain pasir.  Deburan ombaknya gak terlalu besar. Air laut yang kebiruan dengan angin pantai yang sepoi-sepoi. Baru kali merasakan yang namanya liburan ke pantai, bersama keluarga pula. 








Suasana pantainya cukup sepi. Masih amanlah menikmati pantai tanpa khawatir bertemu dengan banyak orang. Di sebelah selatan pantai, ada muara sungai yang biasa dijadikan tempat foto-foto. Viewnya keren lhoo, saya dan istri punya foto dengan view muara sungainya. 

Sayangnya kami gak membawa pakaian ganti untuk mandi pantai. Memang sih niatnya gak mandi atau berenang. Cukup menikmati pemandangan yang ada sambil bersantai melupakan kerjaan sejenak. Asyik bermain dengan Kenzi sambil foto-foto, sate bulayak dan minuman sudah datang. Kami kembali ke tempat duduk. Perut sudah lapar, saatnya makan !. 




Untuk Sate Bulayak, kita sudah tau kan. Salah satu kuliner khas dari Pulau Lombok ini cukup terkenal bagi wisatawan yang datang berlibur ke Pulau Lombok. Cita rasa bumbu rempah-rempahnya yang menggoda lidah untuk menyantapnya. Sate Bulayak terdiri dari sate daging sapi dan ayam yang dibakar di atas arang membara. Kemudian dihidangkan dengan ketupat yang dibungkus dengan daun kelapa yang diberi nama "bulayak". Menu kuliner ini sangat familiar di lidah warga Pulau Lombok. Soalnya enak banget apalagi disantap disaat perut lapar. Bisa nambah dua piring hehehe

Sebagai pelengkapnya saya memesan kelapa muda. Habis makan sate bulayak, minum yang seger-seger sambil cuci mata melihat keindahan alam Pulau Lombok yang sudah lama kami rindukan. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya, sangat menikmati liburan kali ini. 

Istri dan Kenzi juga sangat senang bisa berlibur ke luar rumah tanpa ada rasa khawatir dan takut. Terpenting mau kemana saja, jangan lupa menggunakan masker, cuci tangan pakai sabun setelah memegang benda di sekitar, dan jaga jarak dengan orang lain. Kalau semuanya bisa kita lakukan dengan konsisten dan penuh kesadaran, Insyallah semuanya akan sehat dan kembali beraktivitas normal.

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Sunday, 6 September 2020

Suasana Bersantai di Hawai : Kenza Cafe Lombok


Akhir-akhir ini di Pulau Lombok sedang hangatnya proyek pembangunan Sirkuit Motogp Mandalika. Sudah gak sabar lihat Valentino Rossi dan kawan-kawan ngaspal di lintasan sirkuit jalan raya yang rencananya akan rampung di tahun depan. Semoga gak molor dari waktu yang sudah ditentukan.

Ngebahas tentang Sirkuit Motogp Mandalika, kalian sudah tau kan lokasi sirkuit ini ?. Bagi kita orang Lombok dan sekitarnya pasti sudah tau lokasinya. Yes bener, lokasinya di KEK Mandalika. Tepatnya berdekatan dengan Pantai Seger dan Pantai Kuta Mandalika. Gak kebayang puluhan ribu orang akan datang ke Pulau Lombok untuk menyaksikan balapan Motogp. Pasti sangat ramai. Hotel-hotel akan terisi penuh dan cafe-cafe akan mendapatkan banyak keuntungan. 

Ngomong-ngomong soal cafe, kali ini saya akan ngebahas sebuah cafe yang dekat banget dengan Sirkuit Mandalika, sebut saja namanya Kenza Cafe Lombok. Beberapa hari yang lalu, saya diundang dalam acara KRNK Chef Challenge di KRNK Restaurant. Nah si pemilik KRNK inilah yang punya Kenza Cafe Lombok juga. 

Ceritanya tinggal kalian klik ---> KRNK Chef Challenge

Berawal dari undangan untuk mereview event KRNK Chef Challenge, saya dan seorang teman blogger diajak menikmati makan siang di Kenza Cafe Lombok satu jam sebelum acara dimulai. Lokasi cafenya persis di seberang KRNK Restaurant tempat acara berlangsung.









Salah satu teman blogger juga pernah mereview cafe ini beberapa tahun yang lalu. Infonya gak jauh berbeda dengan apa yang saya lihat ketika datang kesana. Kenza Cafe Lombok mulai dibuka sekitar tahun 2017 lalu. Sempat ngehits dengan penampilan yang cukup unik dari cafe pada umumnya yang ada di sekitar Pantai Kuta Mandalika.\

Berada di pinggir jalan besar menuju Pantai Kuta Mandalika dan Pantai Mawun, cafe ini gak sulit ditemukan. Dari penampakan bangunannya didominasi dengan warna putih dan biru tosca. Dimana cat dinding berwarna putih. Kusen-kusen pintu, jendela dan atap genteng diberi warna biru tosca. Cafe ini sangat eksotik sekali. Saat memasukinya kita dibawa dalam suasana di Hawai, meskipun saya belum pernah ke Hawai langsung. 

Menurut saya meskipun tampilan cafenya cukup sederhana, tapi sangat instagramable banget. Tampilan cafe ini terinspirasi dari warna laut dan langit. Buat kalian yang datang kesini, jangan lupa bawa kamera dan pakai pakaian yang cocok dengan warna cafenya,hehehe. 

Disini saya dan Mbak Bunsal (blogger senior), ngobrol-ngobrol dengan pemilik cafenya yaitu Mrs.Milou dan Mr.Larbi. Tapi berhubung Mr.Larbinya lagi sibuk persiapan KRNK Chef Challenge, so ngobrol sama Mrs.Milou saja. Tanya-tanya tentang Kenza Cafe Lombok di masa pandemi Covid-19. Jadi, cafe ini sempat tutup beberapa bulan akibat wabah pandemi Covid-19. Buka lagi tiga bulan yang lalu sampai sekarang.  

Ngobrol santai bersama Mrs. Milou, gak lupa saya jepret-jepret cafenya. Jujur, saya sangat suka dengan konsep yang diambil. Meja kursi semuanya terbuat dari kayu. Begitu juga dengan tiang-tiang kayu di dalam cafenya. Ada tempat duduk berbentuk sofa tapi dibuat dari batu bata dan semen, kemudian dicat warna putih dan di atasnya diberi bantal-bantal. Kecenya di dalam cafe ada pohon pisang dan tanaman hias lainnya. Semua ruang disini non AC ya. Tapi jangan kecewa dulu, ruangan cafenya adem karena angin pantai masuk ke dalam ruang melalui celah-celah jendela dan pintu yang dibiarkan terbuka. 

Apalagi saat berada di dalam cafe, seperti di luar negeri. Pengunjungnya bule semua kecuali saya dan para karyawannya. Kenza Cafe juga menjual beberapa souvenir lucu-lucu. Ada tas rajutan, boneka penyu, topi pantai bertuliskan "Kenza Cafe", dompet, sabun, aromaterapi dan lain-lain. Soal harga, yang jelas harganya pakai standar bule yaa. 



Untuk daftar menunya, hampir semuanya makanan minuman sehat dan vegan friendly. Bahan-bahan didapat dari produk lokal yang dibeli dari pasar tradisional atau langsung dari petaninya, kemudian dikreasikan oleh para chef profesional menjadi menu yang instagenic dan sehat pastinya. 

Halal gak ?. Setiap saya menulis tentang makanan, pasti ada pertanyaan halal atau gak ?. Menu-menu di Kenza Cafe semuanya halal. Bagi yang suka daging dan makanan nusantara, disini ada Nasi Goreng, Nasi Rendang, Steak, dan Kari Ayam. Soal harga kalau boleh jujur, harganya lagi-lagi standar bule ya. Dibilang mahal atau murah, saya kembalikan ke kalian pembaca setia blog ini. 

Berhubung bahasa Inggris saya agak kurang, saya langsung menanyakan menu yang rekommended dan sering dipesan oleh pengunjung disini. Males banget baca daftar menu full dari atas sampai bawah, depan belakang. Semuanya bahasa Wong Londo, jadi sudah bingung duluan. Ada sih beberapa menu yang familiar dan sering saya temukan, tapi kali ini saya ingin mencoba menu yang berbeda dari biasanya. Mumpung gratis juga hehehe...peace. 


Mermaid Kiss

Untuk makanannya saya ingin mencoba menu yang berbau bule dulu. Saya memesan Mermaid Kiss, ini rekomendasi dari pelayannya. Katanya ini menu enak banget dan seger. Berhubung masih kenyang dan males makan makanan berat, jadi saya memilih menu ini. 

Mermaid Kiss termasuk ke dalam Smoothie Bowls. Kalian tau kan Smoothie Bowls ?. Makanan satu ini merupakan makanan sehat dan cocok bagi kita yang sedang program menurunkan berat badan. Biasanya terbuat dari sayur dan buah-buahan. Mermaid Kiss terdiri dari buah naga yang dicampur dengan potongan buah pisang, buah nanas, semangka, almond, parutan kelapa dan biji selasih. Mirip seperti kita makan bubur buah naga. Enak banget dan seger. 

Saya juga merekomendasikan buat kalian yang lagi diet dan kebetulan datang kesini, wajib dicoba menu satu ini. Soal harga satu porsi Mermaid Kiss dibanderol harga 60K (60 ribu). Lagi-lagi harganya bule banget tapi kalau dilihat dari ukurannya sangat memuaskan. 


Tumeric Scrambled Tofu

Menu satu ini dipesan sama Mbak Bunsal (blogger senior). Saya bilang ini seperti cemilan yang dimana ada roti bakar yang diatasnya ditaburi sayur bayam, jamur, kelapa parut dan minyak sayur. Khas dari menu ini yaitu aroma kunyitnya sangat kental sekali. Perpaduan bumbunya juga pas. Ukuran rasa lumayan cocok di lidah kita orang Indonesia. 

Tumeric Scrambled Tofu merupakan menu baru yang ada di Kenza Cafe Lombok. Dari tampilan juga sangat instagenic banget. Dijamin sehat dan no micin. Untuk harga, satu porsinya diberi harga 40K. Buat kalian doyan makan jamur, bisa memesan menu satu ini. 


Dusty Diamonds

Untuk minumannya saya memesan dua macam menu. Pertama, Dusty Diamonds. Entah kenapa dinamakan nama itu yang jelas rasanya seger. Awalnya saya kira ini jus buah naga, ternyata bukan. Dusty Diamonds terbuat dari campuran buah beet, wortel, jahe, buah berry, flax seeds, dan rosemerry yang dimix menjadi satu. Dihidangkan dalam sebuah gelas berukuran sedang dengan pipet bambu menambah kesan instagenic. Harganya lumayan terjangkau yaitu 30K saja. 


Silver Monkey

Nah ini dia minuman favorit saya. Kebetulan saya suka dengan pisang dan susu kedelai, jadi saya langsung memesan minuman ini. Minuman satu ini mirip seperti jus. Terbuat dari campuran pisang, selai kacang dan susu kedelai. Enak banget guys. Wajib kalian coba. Kalau saya datang kesini lagi, saya akan memesan minuman sehat ini lagi. Satu gelas Silver Monkey diberi harga 40K. 


Masih banyak menu-menu sehat lainnya yang belum sempat saya coba. Bila kalian sedang di kawasan Kuta Mandalika dan mencari menu sehat, bisa datang ke Kenza Cafe Lombok. 

Menikmati makan siang di Kenza Cafe Lombok menambah daftar menu makanan yang pernah saya makan, sehat pula. Sebelum balik ke Kota Mataram, gak lupa fotoan dengan abang tampan satu ini "Bang Adit", seorang foodies dan penulis di beberapa media. Sambilan ngebahas bisnis kecil-kecilan juga, hehehe. 

Terimakasi Kenza Cafe LOmbok atas jamuannya !. Jangan kapok ngundang saya lagi yaa, hehehe.

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Tuesday, 1 September 2020

KRNK Chef Challenge : Menghidangkan Menu Nasi Goreng


Berbicara tentang Pulau Lombok, gak melulu soal keindahan pantai, Gunung Rinjani, deretan gili dan budayanya. Jangan melupakan kalau di Pulau Lombok juga surganya kuliner. Berbagai macam jenis kuliner tersaji disini. Apalagi beberapa tahun belakangan ini, di Pulau Lombok sedang menjamur resto dan cafe yang berlomba-lomba menyajikan menu-menu andalan masing-masing. Seperti beberapa review sebuah resto dan cafe di Pulau Lombok yang sudah saya tulis dan posting di blog ini. Dimana memiliki keunggulan dan harga jual tinggi. Hal ini juga yang sedang dibangun kembali oleh salah satu resto bernama KRNK Restaurant yang berlokasi di Jalan Kuta Mandalika.

Semenjak wabah Covid-19 melanda dari Bulan Maret lalu hingga sekarang, sebagian besar usaha kuliner di Pulau Lombok tutup dan mau gak mau merumahkan sebagian karyawannya. Ini yang dialami oleh beberapa karyawan hotel dan resto yang terpaksa off dari pekerjaan mereka sebagai juru masak atau chef. 

KRNK Restaurant mencoba untuk membangkitkan lagi semangat mereka dengan mengadakan sebuah event berkonsep chef challenge. Dimana dalam perlombaan ini, setiap peserta diharuskan untuk memiliki kreatifitas yang tinggi dan membuat hidangan yang super lezat sehingga buat para juri jatuh cinta. 

Gimana keseruan jalan perlombaan masaknya ?. Yuk, dibaca cerita saya sampai selesai.




Seminggu sebelum event ini digelar, saya dihubungi oleh teman sejawat sesama blogger bernama Mbak Zi. Dia menginfokan bahwa nanti saya akan dihubungi oleh pihak Kenza Cafe Lombok bernama Milou. Saya pun mengiyakan dan berselang sehari kemudian, Milou menghubungi saya via private whatsapp. Dia mengundang saya dalam event ini sebagai food blogger dan membuat sebuah review. Kebetulan saya ada waktu luang dan gak sibuk dengan pekerjaan utama. 

KRNK Chef Challenge digelar pada Hari Minggu tanggal 30 Agustus jam dua siang. Segera saya mengosongkan agenda pada hari itu dan meminta ijin dengan istri. Syukurnya istri mengijinkan, hehehe. Berselang seminggu kemudian saya bersiap-siap berangkat ke Kuta Mandalika, Lombok Tengah. Blogger gak saya sendirian, tapi ditemani oleh blogger senior Pulau Lombok bernama Mbak Bunsal. 

Jarak tempuh dari Kota Mataram menuju lokasi sekitar empat puluh lima menit. Jam menunjukkan sekitar jam satu siang. Kami sudah berada di kawasan Kuta Mandalika. Sesampainya di lokasi yang berada tepat di perempatan Pasar Seni Pantai Kuta Mandalika atau di depan Kenza Cafe dan El-Bazar, kami segera menuju Kenza Cafe tempat kami janjian dengan Milou.

Milou seorang wanita cantik berasal dari Belanda. Dia bersama Mr.Larbi si pemilik sekaligus yang mengelola Kenza Cafe, KRNK dan El-Bazar. Untuk cerita Kenza Cafenya saya buat tersendiri nantinya. Ditunggu saja di blog. 

Setelah berkenalan dengan keduanya. Sambil duduk santai dan menyantap makan siang, Milou menjelaskan kepada kami tentang persiapan lomba dan bayangan jalannya lomba nanti dengan bersemangat. Keliatan seru nih. Pengalaman pertama saya juga diundang ke acara event lomba masak memasak. 

Sekitar jam dua siang, kami berpindah tempat ke KRNK Restaurant karena acara segera dimulai. Jadi lomba memasak kali ini bertemakan nasi goreng. Siapa yang mampu membuat nasi goreng spesial dan lezat dialah yang keluar menjadi juara dan membawa uang 2 juta rupiah, 1 juta untuk juara kedua dan juara ketiga mendapatkan hadiah uang sebesar 500 ribu. 

Ada empat chef yang menjadi juri kali ini. Ada Pak Made dari Marina Group & The Square, Pak Jiwa dari Lombok Lodge, Pak Sukiman dari Cruise Line, dan Pak Larbi sekaligus pemilik Kenza, KRNK dan El-Bazar. Gak lupa juga ada saya, Mbak Bunsal dan Mas Adit dari Lombok Friendly turut serta dalam memberikan penilaian soal rasa hidangan dan jalannya event untuk diangkat di media sosial dan blog masing-masing. 







apapun acaranya, tetap menggunakan masker dan jaga jarak

Aturan lomba kali ini setiap peserta diharuskan memasak selama lima belas menit yang dibagi beberapa kelompok. Satu kelompok terdiri dari tiga peserta yang beradu menyajikan yang lezat. Adapun kriteria yang ditentukan oleh juri antara lain, eksekusi, presentasi, kreatifitas dan rasa. Keempat kriteria tersebut harus dimiliki oleh setiap hidangan dari proses awal memasak hingga hidangan siap dicicipi oleh juri. 

Jumlah peserta yang mendaftar ada dua puluh tiga orang. Namun yang hadir hanya tujuh belas peserta saja. Meskipun demikian, gak menurunkan euforia acara tersebut. Para pengunjung sekaligus penonton juga sangat ramai saat itu. Mereka memiliki jagoan masing-masing. 

Setelah persiapan selesai, ketiga peserta yang masuk dalam kelompok pertama sudah bersiap-siap di posisi mereka masing-masing. Api kompor sudah menyala menandakan lomba dimulai. Suasana menjadi riuh oleh sorak-sorai penonton. Para chef beraksi dengan cepatnya. Tangan mereka sangat lihai dan cepat dalam membuat nasi goreng. Penasaran juga gimana rasa nasi goreng mereka. 

Di kelompok pertama saya memperhatikan peserta yang bernama Hendra. Dia memasak dengan fokus meskipun ada kendala di tengah perlombaan. Api kompornya tiba-tiba mati. Panitia lomba segera menangani masalah tersebut. Syukurnya gak lama api kompor pun menyala kembali. Bener-bener suasana menjadi panas saat itu. Salut dengan panitia lomba yang cepat dan cekatan menangani masalah di pertengah lomba. 

Si Hendra pun menyelesaikan hidangannya dengan sempurna. Nasi Goreng yang diberi nama Nasi Goreng Toro ini pun membuat para juri tersenyum sumringah. Rasa nasi gorengnya lezat dan disukai oleh para juri. Meskipun begitu juri memberikan masukan soal ayam gorengnya yang kurang mateng yang bisa berakibat berbahaya bagi pelanggan. 



nasi goreng ala Lalu Samsul

Ada juga peserta bernama Lalu Samsul yang menyajikan nasi goreng menggunakan piring gerabah atau di Pulau Lombok dikenal dengan nama cobek yang terbuat dari tanah liat. Selain itu dia juga memberikan sambal spesial dan acar dalam sebuah mangkuk kecil dari gerabah juga. Untuk menambah nilai penampilan, dia juga memberikan alas dengan nampan kayu. Katanya gerabah yang digunakan sengaja dibeli khusus untuk lomba kali ini. Gak cukup sampai disitu, dia juga memberikan cemilan berupa kripik yang sangat gurih sebagai pelengkap di nasi gorengnya. Luar biasa kamu Samsul , Good Job !. 

Kreasinya, ditambah presentasi dan rasa membuat para juri dan saya meyakini Samsul bisa menjadi yang terbaik. Semoga saja. Gak hanya Samsul dan Hendra saja yang membuat para juri memberikan pujian, tapi ada beberapa peserta juga menyajikan hidangan yang enak dan membuat kita laper. Aroma perpaduan bumbu bercampur menjadi satu. Menandakan para peserta benar-benar serius dalam lomba ini. 


foto bersama para food blogger

Setelah semua peserta selesai dengan hidangannya dan sudah dinilai oleh para juri, tibalah saatnya menentukan siapa yang akan menjadi juara. Gak terasa tiga jam lamanya lomba berjalan, kini saatnya kita menjadi saksi siapa yang akan keluar sebagai yang terbaik dan menu nasi gorengnya akan menjadi menu tetap di KRNK Restaurant. 

Terlihat para juri sedang asyik berunding siapa yang dipilih menjadi juara. Para peserta pun harap-harap cemas. Ada yang duduk santai sambil menikmati hidangan nasi goreng yang mereka masak, ada yang asyik ngobrol dengan temannya, ada juga yang ditemani oleh pasangannya,so sweet. 

Setelah lima belas menit kami menunggu, tibalah detik-detik penentuan siapa yang menjadi juara. Selamat kepada Lalu Samsul yang keluar sebagai juara pertama. Disusul oleh Lalu Abdul Rahman Wahid sebagai juara dua dan juara ketiga diraih oleh Tohri Junaidi. 

Saya berharap event ini diadakan setiap sebulan sekali dengan menu-menu yang berbeda di setiap bulannya. Mengambil menu nasi goreng merupakan langkah awal yang luar biasa kece. Saya sangat senang sekali dapat ikut hadir menyaksikan perlombaan membuat nasi goreng yang memiliki cita rasa dan penampilan yang gak murahan. Saya pun ikut mencicipi di beberapa hidangan nasi goreng. Bener-bener rasanya luar biasa enak dan bisa dijual dengan harga terjangkau.

Saya yakin yang keluar sebagai juara, menu nasi goreng yang akan dihidangkan di KRNK Restaurant nantinya membuat para pengunjung suka dengan menu baru kali ini. KRNK yang dikenal hanya menyajikan hidangan western seperti burger, pizza, pasta dan hotdog, nantinya akan memiliki masakan nusantara yang sesuai dengan lidah orang Indonesia. Salah satu contoh yang sudah terwujud yaitu Nasi Goreng ala Samsul. 

Bagi kalian yang sedang berlibur ke Pulau Lombok dan kebetulan datang ke Pantai Kuta Mandalika, jangan lupa mampir di KRNK Restaurant untuk menikmati hidangan yang super lezat. Gak jauh kok dari Pantai Kuta. Lebih detailnya bisa dilihat di bawah ini. 

Lagi sekali Selamat untuk para pemenang. Kalian hebat-hebat semua !

Penulis : Lazwardy Perdana Putra


Saturday, 29 August 2020

Kalau ditanya tempat makan yang nyaman dengan penampilan kece di seputaran Kota Mataram. Saya langsung menjawab Bebek Goreng Pondok Galih Gajah Mada.

Sudah lama juga saya gak mereview tempat makan sambil kulineran. Akibat terlalu lama virus Covid-19 menghantui kita, sampai-sampai mau makan keluar saja harus mikir beribu kali. Pertimbangannya pastinya keamanan dan kesehatan diri sendiri.

Untuk kali ini saya gak mau kehilangan momentum. Kebetulan ada libur empat hari dan gak traveling kemana-mana. So, saya bareng keluarga berencana pergi kulineran ke tempat yang belum didatangi. Wah, ini yang saya tunggu-tunggu. Saya pun merekomendasikan mencoba olahan bebek yang cukup terkenal di Kota Mataram, yaitu Bebek Goreng Pondok Galih. Dari namanya saja agak kesunda-sundaan ya. Memang bener, resto ini bernuansa khas Sunda. 

Gimana ceritanya ?. Pasti seru dong. Buat yang gak berminat sama tulisan ini, bisa leave. Tapi buat kalian pembaca setia blog ini, pasti sudah gak sabaran sama cerita-cerita saya dong (kepedean dikit). 




Resto itu merupakan cabang baru yang menggantikan Bebek Goreng Pondok Galih yang berada di bundaran Jempong alias pindah lokasi saja. Alasan kenapa pindah, saya juga kurang tau. Yang jelas lokasi yang baru tempatnya lebih luas dan viewnya lebih kece. 

Bisa baca cerita ini juga : Bebek Goreng Pondok Galih

Bebek Pondok Galih baru dibuka beberapa bulan ini. Meskipun masih suasana wabah Covid-19, resto ini gak pernah sepi pengunjung sejak pertama kali dibuka. Terlihat beberapa kali saya lewat depan resto ini, kendaraan yang parkir sangat ramai sekali. Begitu juga saat kami datang, pengunjung sore itu cukup ramai. 

Khawatir gak dapat tempat duduk, ternyata masih ada tempat yang sesuai dengan keinginan kami. Saya gak lupa keliling sejenak melihat-lihat suasana restonya. Maklum baru pertama kali datang kesini sejak dibuka. Jadi agak katrok dikit, foto sana-sini dilihat sama karyawannya. "Mas siapa ya ?", mbaknya siapa juga ?". hahaha 

Resto ini berada di Jalan Gajah Mada no. 9, Kota Mataram. Kurang lebih dua kilometer dari lokasi sebelumnya (bundaran Jempong). Lebih tepatnya berada persis di samping Kampus baru UIN Mataram yang sama-sama baru dibangun juga. Buat kalian yang ingin datang kesini, gak perlu bingung. Lokasinya persis di jalan besar yang menghubungkan Kota Mataram dengan By Pass Bill 2. Detail lokasinya ada di akhir tulisan. 

Dari segi bangunan dibandingkan di tempat yang lama jauh lebih besar dan gak sempit. Dimulai dari area parkir kendaraan yang cukup luas. Di pintu masuknya juga dibuat seperti taman. Ada lampu taman dan kursi panjang. Disini kita bisa berfoto bareng berlatarbelakang tulisan Bebek Goreng Pondok Galih. Instagramable banget pokoknya. Bagi kalian yang datang kesini, wajib hukumnya fotoan dulu sebelum menyesal. 

Masuk ke dalam, sebelumnya jangan lupa mencuci tangan dulu pakai sabun dan dicek suhu badan menggunakan thermalgun oleh petugas. Ini salah satu langkah dalam mencegah penularan Covid-19. Datang menikmati kuliner sambil bersantai, jangan lupa harus tetap waspada dengan virus yang menyebalkan ini.




Setelah itu, kita melewati satu ruang yang cukup luas. Disini  berjejer meja dan kursi kayu dan di bagian dinding, terpajang foto-foto menu yang tersedia disini dan ruang kasir. Saya melihat kesibukan para karyawan resto yang sedang melayani pengunjung. Kami melangkah lebih ke dalam lagi untuk mencari tempat duduk. Dapatlah kita di salah satu saung yang menghadap ke arah persawahan yang ditumbuhi dengan ratusan bunga dan menghadap ke jalan. Disini kami bisa melihat matahari terbenam. Sungguh indah sekali suasana sore itu. 

Saung-saungnya pun (berugaq) dibuat lebih besar. Jadi kita bisa beramai-ramai makan di satu saung. Mejanya pun sangat besar dan memang dibuat untuk sepuluh orang bahkan lebih. Saya gak sempat menghitung berapa saung yang ada saat itu. Gak lupa di setiap saung dilengkapi dengan bak cuci tangan dan pentungan untuk memanggil karyawan. Kerennya di bawah saungnya merupakan kolam yang cukup luas. Jadi jangan coba-coba fotoan di pinggiran saungnya. Bisa-bisa handphone kalian jatuh ke dalam kolam. 

Selain saung, ada juga tempat makannya yang berupa ruang semi outdoor dengan jejeran meja dan kursi kayu. Ada juga yang di indoor berupa rumah lengkap dengan meja dan kursi kayunya. Tinggal pilih mau makan sambil bersantai dimana. 

Ciri khas dari resto ini semua bangunan terbuat dari kayu dan bambu kecuali bangunan berbentuk rumah yang dibuat untuk meeting atau acara lainnya. Ada juga jalan setapak yang ukurannya lebih lebar dibandingkan yang dulu dan terakhir ada tanaman bunga dan kolam ikannya menambah suasana benar-benar dalam suasana pedesaan. 

Saya bersama istri dan Si Kenzi sangat senang datang kesini. Begitu juga dengan bapak, mama dan adek-adek. Melihat restonya saja sekece ini, apalagi menyantap menu-menunya. Sudah gak sabar dan sudah laper banget. 




Setelah dapat tempat duduk yang kece abis, karyawan resto menghampiri kami membawa daftar menu. Lihat-lihat daftar menunya, saya langsung  memilih Bebek Goreng dan segelas es teh. Istri memesan Bebek Bakar biar bervariasi katanya. Sedangkan yang lainnya ada yang memesan Nila Bakar. Pelengkapnya biar ada sayurnya, kami memesan Cah Kangkung, Pelecing Kangkung dan Sayur Asem. Mantap makan malam kali ini. 

Sambil memenunggu pesanan datang, saya bersama istri mengajak si Kenzi jalan-jalan melihat suasana menjelang malam di resto ini. Kesibukan yang semakin malam semakin terasa. Para pengunjung juga semakin malam semakin ramai saja yang datang. Gak lupa sebelum makan, melaksanakan kewajiban Shalat Magrib dulu di mushola yang sudah disediakan. Baik Mushola, tempat wudhu dan kamar mandi dibuat sekece mungkin. Suasana malam begitu indah melihat lampu-lampu di resto ini. 

Shalat sudah, pesanan pun sudah datang dan siap di atas meja. Meja yang tadinya kosong melompong, sudah terisi penuh dengan makanan. Perut semakin laper dan waktunya makan. Mengambil posisi duduk senyaman mungkin, sedangkan Si Kenzi sibuk dengan snack bayinya dan maenan yang dibawa. Untungnya Si Kenzi gak pernah rewel dibawa kemana-mana. Sehat-sehat terus yang nak. Harus jadi jagoan ayah bunda nanti besarnya.  


Bebek Goreng Paha

Bebek Goreng Paha menu yang saya pesan. Tumben nih gak pesan dada. Untuk kali ini saya ingin mencoba bagian pahanya biar gak dada mulu yang dimakan, hehehe (jangan ngeres bacanya). Dari beberapa menu bebek yang ada, saya lebih suka dengan bebek gorengnya. Daging pahanya empuk banget. Apalagi bumbunya berasa perpaduan rempah-rempahnya. Apalagi sambelnya, pedas dan seger sekali. Saking pedesnya nambah nasi lagi, hahaha. Soal rasa bebek gorengnya gak perlu diragukan lagi. Harga seporsinya 25 ribu dan kita sudah bisa makan puas dan sekenyangnya. 


Bebek Bakar Paha

Kalau menu bebek satu ini yang jelas dibayangkan kita pasti rasanya pedas manis. Suka juga sih olahan yang bakar tapi berhubung pengen yang goreng, yang bakarnya dicoba di lain kesempatan deh. Kebetulan istri memilih menu satu ini. Dapat nyicip juga sih. Untuk rasa, dagingnya empuk sama seperti yang goreng. Bumbunya kecapnya pas dilidah dan porsinya besar sekali. Baik yang goreng maupun bakar, ukuran paha bebeknya besar dan gak kecewa deh. Untuk harga seporsinya yaitu 27 ribu. Masih tergolong murah dan terjangkau pastinya. 

Nila Bakar

Menu yang satu ini dipesan oleh bapak mama. Karena beliau berdua gak suka makan bebek. Untungnya masih ada menu nila dan itu kesukaan mereka berdua. Pas banget. Dari hasil nanya-nanya bapak mama soal rasa Nila Bakarnya, yang jelas ukuran nilanya besar sekali. Satu porsi gak habis lhoo. Bukannya gak enak, tapi memang sudah kekenyangan. Saya sempat icip-icip nilanya dan memang bener tekstur dagingnya lembut dan bumbunya meresap sampai dalam dagingnya. Apalagi makan kulitnya, enak banget pemirsa. Satu porsi Nila Bakar seharga 20 ribu saja.

Sebagai pelengkap ada Sayur Asem dengan potongan jagung yang menambah nafsu makan kami semakin menggebu-gebu. Belum lagi pedasnya Pelecing Kangkung dan Cah Kangkungnya. Mantap jiwa kuliner malam kali ini. 



Bagi kalian yang gak suka bebek, masih banyak menu lainnya. Ada ayam, nasi goreng telur, nasi uduk dan lain-lain. Selengkapnya bisa dilihat di daftar menu di atas. 

Gak terasa Bebek Goreng dan Bakarnya sudah habis tersisa Ikan Nila yang belum habis. Disuruh habisin, perut sudah gak sanggup lagi. Mau dipaksa gak baik. Untuk Nasi Goreng Telurnya, next time saya akan mencobanya. 

Sudah dulu ya ceritanya, saya nulis review ini jadi laper. Ditunggu cerita kuliner selanjutnya yang lebih informatif, menggoda lidah dan buat kalian laper pastinya. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra