Saturday, 12 June 2021

Biasanya kalau lagi weekends gini, saya bareng anak istri suka jalan-jalan ke rumah orang tua atau pergi kulineran. Mencari tempat makan yang belum pernah kami datangi dan mencoba menu-menu yang belum pernah dicoba. Ini salah satu cara refreshing saat ini ditengah masih tingginya kasus Covid-19 di negara kami tercinta. Lagi-lagi harus pintar mencari tempat yang gak banyak orang berdatangan tanpa melupakan kenyamanan dan pelayanan yang memuaskan pastinya. 

Dibilang sulit mencari lokasi tempat tersebut, gak juga. Ada beberapa tempat makan semisal cafe atau resto yang saat ini sepi pengunjung tapi masih tetap eksis. Salah satunya Lesehatan Unram Farming Narmada yang beberapa bulan ini baru soft opening.

Beberapa hari terakhir, kondisi saya agak kurang sehat. Kerjaan numpuk, so pengen nyari udara segar. Kebetulan weekends yang lalu bapak mama ngajakin jalan-jalan ke arah Lingsar dan Narmada. Siapa tau dapat beli buah manggis pesenan nenek di Lombok Timur. Sayangnya belum musim buah manggis. So, sepanjang jalan dari arah Kota Mataram menyusuri daerah Lingsar, gak ada satupun pedagang buah yang menjual buah manggis.






"Buah Manggis Buah Kedondong". Cakep. "Kalau laper, makan di Lesehan Unram Farming Narmada dong !". (gak ngendorse)

Buah manggis gak dapat, perut jadi laper. Sudah waktunya makan siang. Mau melanjutkan ke arah Suranadi, Lombok Barat tapi kejauhan. Kebetulan posisi kami saat itu dekat dengan sebuah lesehan yang sedang ngehits di facebook. Sebut saja Lesehan Unram Farming Narmada atau disebut LUF. Alamatnya di Jalan Suranadi No 15 Nyur Lembang, Narmada. Lokasinya tepat persis di belakang SMA 1 Narmada dan gak jauh dari Pasar Narmada. Lebih jelasnya bisa dilihat di google maps di akhir cerita. 

Menurut informasi yang didapat, lesehan ini dibuka oleh teman-teman alumni Fakultas Pertanian Universitas Mataram (Unram). Di lokasi yang sama, disini juga terdapat tempat penelitian mahasiswa Fakultas Pertanian Unram. Bisa dilihat dari banyaknya tanaman budidaya seperti berbagai macam sayur-sayuran, bibit Manggis, Mangga, Durian dan lain sebagainya. Selain kulineran, kita juga bisa berkeliling di perkebunannya secara gratis tis tis. 

Gak hanya itu saja, penampakan lesehannya juga lumayan kece. Berada di lahan perkebunan dan area persawahan  dengan jalan setapak yang sudah disemen. Untuk tempat bersantainya berupa saung dari bambu, kalau bahasa Lomboknya itu berugak yang ukurannya lumayan besar. Ada dua jenis saungnya. Ada bentuk lesehan dan ada juga bentuk meja kursi dari bambu. Ada juga kolam renang baik kolam untuk anak-anak dan dewasa. So, kita bisa berenang santai sambil menikmati suasana persawahan dan sungai yang berada persis di pinggir lesehan dan kolam renangnya. Ada juga spot-spot foto tempat kita berselfie ria. Dijamin betah berlama-lama disini. 




Saya bareng anak istri dan bapak mama memilih bersantai di berugaq depan kolam renang. Sayangnya gak bawa baju ganti, jadi lain waktu saja renangnya. Padahal kolam renangnya menggoda sekali. Hahahaa. 

Terik matahari siang itu gak terasa karena hembusan angin persawahan yang sepoi-sepoi. Kalau sudah kena angin gini, enaknya tidur siang. Eh, tapi jangan tidur dulu. Salah satu karyawan LUF datang menghampiri kami membawa daftar menu yang buat saya penasaran. Apa saja menunya?. Sabar dulu, baca cerita saya sampai habis. 




Membuka daftar menu, saya tertarik dengan masakan Nila Bakar Bambu. Katanya ini masakan andalan dari lesehan ini. Ada juga pesan Lele Goreng, Nila Bumbu Kuning, Es Buah, Es Teh dan Es Kelapa Muda. Dan masih banyak lagi masakan dan minuman yang gak mungkin dipesan satu per satu. Lebih jelasnya, bisa dilihat di daftar menu di atas. Kalau ditanya soal rasa, sabar. Kita bahas satu per satu yang sudah kami pesan. 



Nila Bakar Bambu

Dari namanya saja, sudah buat saya penasaran. Nila Bakar Bambu, berarti dibakar di dalam bambu seperti Nasi Bakar Bambu yang pernah saya makan di tempat lain. Si mbaknya yang mengantarkan daftar menu ke kami menjelaskan kalau olahan Ikan Nila ini menjadi andalan di Lesehan Unram Farming ini. So, karena penasaran dibuat oleh si mbaknya, kami pesan satu porsi Nila Bakar Bambu. 

Rasanya pun gak mengecewakan. Ikan Nila yang dibaluri bumbu pelecingan kemudian dibungkus oleh daun pisang, kemudian dimasukan ke dalam batang bambu kemudian dibakar dengan arang yang membara. Cara penyajiannya, bambu dibelah menjadi dua, kemudian Nila Bakar yang terbungkus daun pisang tadi dibuka. Dan siap untuk disantap. 

Saya suka dengan bumbu Nila Bakarnya, enak pooll. Apalagi aroma asapnya itu lhoo yang membuat masakan ini bener-bener kece rasanya. Rekommended buat kalian cicip. Seporsi Nila Bakar Bambu diberi harga 45 ribu. Sudah cukup terjangkau, apalagi porsinya juga bisa untuk berempat. 


Nila Bumbu Kuning

Wah olahan Nila lagi nih. Ada yang bakar, ada juga yang berkuah. Biar seimbang gitu maksudnya. Kami memesan Nila Bumbu Kuning. Ceritanya, ini masakan favorit di keluarga kami. Biasanya kami menyebutnya Pelumara atau Ikan Bumbu Kuning. Ikannya bisa dari jenis apa saja. Yang penting bukan dari jenis Ikan Cupang lhoo ya,hahaha.

Kebetulan ada menu masakan ini di LUF, jadi otomatis kami pesan. Kuahnya sangat kental dan kaya bumbu. Agak sedikit asam dan ini yang saya cari, rasa asam yang buat lidah bergoyang dan mau nambah nasi lagi (antara laper atau doyan). Pedasnya pas, berhubung juga di keluarga gak ada yang bener-bener hobi pedes. Jangan heran kalau makan masakan agak pedas sedikit saja, wajah langsung berkeringat sampai garuk-garuk kepala, hahaha. 

Untuk daging Ikan Nilanya bener-bener terbaik dah. Saya suka bagian ekornya. Ukuran Ikan Nilanya juga lumayan besar, jadi puas buat disantap. Ditambah lagi dengan daun singkong menjadi masakan ini saingan dari Nila Bakar Bambu tadi. Seporsi Nila Bumbu Kuning diberi harga 20 ribu. Cukup terjangkau dan rasa gak menghianati kami sekeluarga.


Lele Goreng

Ini pesanan tambahan saya, Lele Goreng. Sudah lama juga gak mencicipi Iele. Terakhir kali makan lele itu sekitar dua tahun yang lalu. Di rumah juga gak ada yang doyan lele kecuali saya dan istri saja. Dulunya Lele Goreng menjadi menu saya hampir tiap hari saat masih menjadi mahasiswa Jogya. Kalau malam pergi makan ke Warung Lalapan. Carinya ya Lele Goreng sama nasi. Ssstsss, itu soalnya yang paling murah,hahahaha.

Bukan soal murahnya, Lele memang dagingnya agak sedikit manis dan digoreng sampai krispi itu enak banget. Di LUF menu Lele Gorengnya gak jauh beda dengan Lele Goreng di Jogya sana. Bedanya terletak di sambelnya. Sambel terasinyanya seger banget dan cocok disantap saat makan siang. Satu porsi Lele Goreng ada dua ekor. Harganya juga lumayan terjangkau yaitu 15 ribu. 


Es Buah

Habis makan yang pedas-pedas, enaknya minum yang segar dan manis. Pilihannya jatuh ke Es Buah. Disini campuran Es Buahnya ada potongan buah naga, apel, alpukat, nata de coco dan sirup rasa Cocopandan. Ukuran manisnya menurut saya pas.

Ada yang menjadi komplain saya disini yaitu masih ada rasa bumbu-bumbu. Bisa jadi pisau yang digunakan belum dicuci sempurna jadi terikut di potongan buahnya. Tapi masih bisa dinikmati dan dihabiskan. Satu porsi Es Buah diberi harga 10 ribu. Sangat terjangkau menurut saya. Apalagi tempatnya yang kece banget dengan suasana persawahan dan pedesaaan. 


Masih banyak lagi menu-menu lainnya yang ada di Lesehan Unram Farming. Kalau ada kesempatan lagi, saya akan mencoba menu lainnya yang rekommended buat dicoba. Mungkin diantara kalian yang sudah datang ke Lesehan Unram Farming punya menu favorit atau rekommended yang perlu dicoba. Bisa ditulis di kolom komentar ya !. 

Gimana menurut kalian, tempatnya sangat kece bukan ?. Soal rasa masakan yang sudah saya coba gak mengecewakan. Dari segi pelayanan juga cukup memuaskan. Gak terlalu lama menunggu dan kami bisa bersantap siang sambil bersantai menikmati suasana persawahan dan pedesaan di Lesehan Unram Farming.

Buat yang membawa anak juga sangat rekommended datang ke Lesehan Unram Farming. Disini bisa mengajak si buah hati berjalan kaki menyusuri jalan setapak di persawahan. Bisa melihat aneka tanaman di area penelitian Mahasiswa Pertanian Unram. Bila yang berenang juga bisa renang bareng di kolam renang yang berada di depan lesehan. 

Lesehan Unram Farming Narmada buka setiap hari dari jam 10 pagi sampai sore. Sebelum datang kesini bisa reservasi di alamat facebooknya Lesehan Unram Farming Narmada. Bisa juga datang langsung tanpa memesan terlebih dahulu. Disini dijadikan tempat acara reunian dan outbond juga. Pokoknya buat acara seru-seruan bareng temen kantor, sahabat dan keluarga di Lesehan Unram Farming Narmada tempatnya (bukan ngendorse). 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Sunday, 16 May 2021



Di tengah masih tingginya kasus Covid-19 di Pulau Lombok, banyak tempat tongkrongan baru yang memberanikan diri untuk launching. Meskipun dari pemerintah sendiri masih membatasi tempat kerumunan orang banyak, salah satunya yang sedang ngehits jaman sekarang yaitu tempat nongkrong sambil ngopi. Kalau boleh jujur, dulunya saya suka sekali pergi nongkrong sambil mereview tempat dan menunya. Tapi saat ini lebih sering ngopi dan nongkrong di rumah saja bareng istri dan anak tercinta. Apalagi masih pandemi gini, bener-bener membatasi diri buat pergi makan di luar. 

Godaan itu datang ketika ada tempat nongkrong baru yang belum lama ini launching. Lokasinya gak jauh dari rumah orang tua di Kota Tua Ampenan. Sebut saja namanya Meninting Park Coffee & Resto Kenapa diberi nama Meninting Park ?. Konsep dari coffee and resto satu ini yaitu mengambil tema alam dengan deretan pohon-pohon yang menjulang tinggi, ditambah spot-spot foto yang instagramable banget. 

Berhubung pas ada waktu kumpul bersama keluarga, saya bersama anak istri, papa mama dan adek-adek untuk pertama kalinya datang ke Meninting Park. Sebenarnya sudah lama ingin datang kesini, tapi karena ada kesibukan kerjaan, jadi baru kali ini kesampaian. Penasaran dengan suasana tempatnya dan rasa makanan minumannya pastinya.





Bila dicari lokasinya di google maps, Meninting Park berada di daerah Meninting, Lombok Barat. Tempatnya agak tersembunyi dari jalan raya besar. Tapi jangan khawatir, sudah ada papan petunjuk menuju lokasi. Dari Kota Mataram, kita mengarah ke arah Kota Tua Ampenan. Kemudian lanjut ke arah Senggigi. Nanti setelah bertemu dengan Jembatan Meninting yang merupakan perbatasan antara Kota Mataram dengan Kabupaten Lombok Barat, kalian jangan ngebut-ngebut. Pas turunan Jembatan Meninting, di seberang kanan ada jalan masuk yang bertuliskan Meninting Park. Kalian bisa puter balik tapi harus hati-hati pastinya. 

Ikuti saja jalannya hingga sampai di sebuah parkiran Hotel bernama Coconut Resort,Lombok. Bagus juga ini resort. Lokasinya tersembunyi, tempatnya kece, ada kolam renangnya yang kece pula. Pas banget buat menenangkan diri atau bersantai, melupakan sejenak urusan kerjaan yang buat mumet. Kapan-kapan menginap disini bawa anak istri. Nah, di depan Coconut Resort ini lokasi Meninting Park. Apa jangan-jangan yang punya orang yang sama ya ? (penuh curiga).

Setelah turun dari kendaraan di parkiran yang sudah disediakan, kami berjalan memasuki coffee and resto ini. Syukurnya saat itu pengujung gak terlalu ramai, jadi masih bisa pilih-pilih tempat duduk. Yang saya suka dari tempat ini yaitu tetap menerapkan protokol kesehatan. Dari adanya peringatan tentang bahaya Covid-19, ada tempat cuci tangan lengkap dengan sabunnya, ada pengecekan suhu badan juga.








Sesampai kami di lokasi bertepatan dengan adzan Magrib. Masih terlihat langit di kala senja dari celah pepohonan. Lampu-lampu cafe sudah dinyalakan, cantik sekali. Mengusung konsep alam, tempat duduk pun dibuat sekece mungkin. Ada tempat duduk dengan tema rumah pohon, rumah kayu, ada pula dengan tema tenda camping. Sebagian besar tempat duduk dibuat outdoor lengkap dengan bean bag yang berwarna-warni dengan meja kayu di tengahnya. Kalau hujan gimana ?. Nah itu yang belum sempat saya tanyakan ke pelayannya. 

Di sini juga pelayanannya lumayan memuaskan. Kami datang disambut dengan keramahan dan daftar menu. Karyawannya juga lumayan banyak. Jadi kita gak perlu khawatir lama dilayani. Kami memilih meja nomor 67. Rekommended banget buat kalian yang khawatir hujan, bisa memilih nomor ini bila gak kebagian di meja yang diharapkan. Mejanya besar, tempat duduknya ada yang bersofa lengkap dengan beberapa bantal. Bisa buat tiduran, tapi jangan sampai ketiduran lhoo ya !. 

Buka-buka daftar menu, ada beberapa yang kami pesan. Untuk review menunya, nanti saya tulis di paragraf berikutnya. Sabar dulu, orang sabar disayang bapak ibu mertua. 

Setelah makanan minuman sudah dipesan, sambil menunggu, kami muter-muter di lokasi cafe dulu. Papa mama lagi asyik selfiean, saya asyik foto-foto anak istri, sedangkan adek-adek sedang whatsappan bareng si doi karena doi mereka gak ikut. Foto-fotonya ada di bawah ini. 





Cafe ini lumayan luas juga. Pencahayaannya juga cukup, sehingga gak menimbulkan kesan horor meskipun kita sedang berada di tengah-tengah perkebunan. Apalagi banyak pilihan tempat bermain anak-anak. Jadi seneng ngajakin anak kesini. Gak khawatir rewel karena para orang tua bisa mengajak anak mereka bermain disini. Jadi inget waktu TK dulu, seneng main prosotan, ayunan dan lain sebagainya. Sayangnya anak saya masih umur setahun, jadi masih takut diajak bermain disini. Next time lah, semoga cafe ini masih tetap eksis beberapa tahun kedepan, Amin.

Disini juga ada spot-spot foto yang instagramable seperti becak, cidomo, beberapa spot lainnya. Dijamin para milenial dibuat betah berlama-lama disini. Bagi yang ngajakin gebetan ada beberapa tempat romantis buat kalian selfiean. Nah, yang saya lebih sukai lagi, cafe ini menyediakan mushola untuk shalat. Sedikit curhat, saat saya wudhu, agak horor juga tempatnya karena pas di depan kita ada deretan pohon bambu. Itu yang saya rasakan lhoo ya, tapi nyatanya gak ada apa-apa. Hanya sedikit takut karena saya orangnya penakut juga,hahahaha.

Meskipun malam minggu, syukurnya sampai malam, cafe ini gak terlalu ramai banget. Apa karena masih suasanan lebaran kali ya. Masih berada di luar kota, walaupun mudik dilarang, hahahaha. Suara serangga malam terdengar malam itu, alunan musik pun menambah suasana menjadi hangat. Malam yang sangat spesial buat kami karena bisa berkumpul sambil menikmati makan malam disini. 



Chicken Steak Burger 30K

Setelah melaksanakan kewajiban dulu (shalat Magrib), pesanan kami datang. Ada Chicken Steak Burger (steak dan burger rasa ayam). Porsinya gak saya sangka-sangka. Ternyata lumayan besar dan lengkap dengan kentang goreng. Roti burgernya lembut, steak daging ayamnya empuk, potongan tomat, sayuran dan mayones yang menambah cita rasanya. Soal rasa buat saya pribadi lumayan enak. Dibandingkan dengan burger lainnya yang pernah saya coba, Chicken Steak Burger ini hampir sama enaknya dengan burger terenak yang pernah saya cicipi. 

Untuk harga, masih tergolong terjangkau menurut saya. Seporsi Chicken Steak Burger diberi harga 30 ribu sudah sama ppn dan lain sebagainya. Buat yang hobi makan burger, rekommended buat kalian coba. Saya dan istri memesan menu ini dan cukup mengenyangkan.


Banana Smoothies 25K

Untuk minumannya, saya memesan segelas Banana Smoothies. Berhubung doyan makan pisang, jadi saya memesan minuman ini. Dimanapun yang memiliki minuman dari pisang, pasti saya memesannya. Minuman satu ini menurut saya seger banget. Meskipun ada yang agak kurang menurut saya yaitu rasanya yang kemanisan. Apa karena pisang yang digunakan terlalu mateng, atau ditambahi gula ya ?. Saya juga kurang tau. Untung saja, minuman ini agak kental, jadi sesuai dengan harapan saya.

Untuk seporsi harga Banana Smoothies diberi harga 25 ribu. Menurut saya sedikit kemahalan dibandingkan ukuran gelasnya yang gak terlalu besar. Mungkin bisa diturunkan harganya, biar nanti saya pesan lagi,hehehehe (ngarep dot com)



Mie Goreng Ayam 25K

Kalau ini pesanan mama. Sempat mencicipi mie gorengnya dan rasanya enak. Gak banyak minyaknya. Perpaduan bumbunya juga cukup berasa dilidah. Gak banyak menggunakan merica, jadi gak terlalu pedas. Yang terasa dilidah yaitu rasa bawangnya dan ayamnya. Hmmmm, uenak poolll. Berhubung ini menunya mama, jadi saya gak habiskan,hahahaha.

Seporsi Mie Goreng Ayam diberi harga 25 ribu. Gak terlalu mahal kalau dilihat dari rasa dan porsinya yang cukup besar. Mengeyangkan lah menurut saya peribadi. 


Nasi Goreng Seafood 27K

Bisa ditebak yang punya pesanan Nasi Goreng Seafood ?. Yaap, ini pesanan wajib papa saya. Dimanapun tempat makannya, makannya pasti nasi goreng. Berhubung papa orangnya gak bisa makan yang aneh-aneh dan pecinta Nusantara Food, jadi pesannya nasi goreng. 

Nasi Goreng Seafood ala Meninting Park lumayan enak. Tapi buat saya, porsi nasi gorengnya terlalu kecil. Udangnya juga sedikit, kerupuk sedikit dan ukuran telurnya kecil. Seporsi Nasi Goreng Seafood juga menurut saya sedikit mahal yairu 27 ribu. 



Buat kalian yang lagi mencari tempat bersantai bersama keluarga, teman,sahabat atau gebetan sambil duduk di bawah rimbunnya pepohonan, bisa datang kesini. Waktu yang enak datang kesini yaitu sore hari hingga malam. 

Meninting Park buka setiap hari dari jam delapan pagi hingga sepuluh malam (koreksi bila keliru). Bila datang kesini selalu ingat protokol kesehatan. Pakai masker, jaga jarak, jauhi kerumunan banyak orang, dan mencuci tangan pakai sabun sehabis menyentuh benda di sekitar !

Banyak kerjaan boleh, tapi jangan lupa bahagia (Pesan Ibu) !


Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Friday, 30 April 2021

Berbuka Puasa Bareng di Masa Covid-19 : Kampong Melayu


Sudah lama rasanya gak menikmati berbuka puasa di luar bareng keluarga, teman, dan sahabat. Hampir setiap orang sangat menunggu moment bisa berkumpul bersama dengan tema buka puasa bareng atau bahasa kerennya "bukber". Tapi sangat disayangkan sekali, setahun yang lalu sejak Virus Corona/ Covid-19 melanda dunia, kita semua harus menjaga kesehatan diri dengan gak berkumpul, menjaga jarak dengan orang sekitar, memakai masker dan mencuci tangan pakai sabun/handsanitaizer setelah menyentuh sesuatu. Boro-boro mau buka puasa bareng di luar, ngundang teman ke rumah saja itu gak mungkin disaat itu. 

Setahun berlalu apakah moment bukber sudah bisa dilakukan ?. Jawabannya tergantung situasi dan kondisi. Perlu diingat, wabah Covid-19 masih menghantui kita sampai detik ini. Bahkan kita dengar di berita, India sedang terjadi Tsunami Covid-19 jenis baru atau mutasi Covid-19. Hampir dua ratus ribu kasus kematian melanda India gara-gara Covid-19 dan tiga ratus ribu kasus positif Covid-19 setiap harinya. Apakah kita takut dengan berita ini ?. Rasa takut sih pasti ada, tapi kita juga harus tetap menjaga diri dengan cara menerapkan protokol kesehatan yang sudah dibuat oleh pemerintah. 

Gimana sih rasanya buka puasa di luar bareng keluarga di masa pandemi saat ini ?.

Kalau boleh jujur, rasa khawatir pasti ada. Hanya saja apabila ingin mencari tempat berbuka, harus pintar. Beberapa hari yang lalu, saya bersama keluarga berencana untuk jalan-jalan di akhir pekan. Pas moment di bulan puasa tahun ini, pemerintah sudah membolehkan kita untuk berbuka puasa di luar. Hanya saja tetap menerapkan protokol kesehatan. Pembatasan jam operasional tempat makan juga sudah diatur oleh pemerintah setempat. 



Kebetulan juga sudah hampir setahun gak menginjakkan kaki di sebuah mall bernama Lombok Epicentrum Mall yang berlokasi di tengah-tengah Kota Mataram. Sudah lama juga gak menulis nama mall ini di blog. Ada rasa rindu yang terdalam (sorry lebay). Dulu jauh sebelum Si Covid menyerang bumi, saya sering datang ke mall ini untuk nonton film di salah satu bioskop kesayangan. Tapi setelah Si Covid datang ke Lombok, hanya memandang dari kejauhan saja bangunan megah dari mall ini. 

Sore itu hujan turun yang sangat lebat. Bisa dibilang hujan angin. Papa mama menjemput kami di rumah. Alhamdulillah Kenzi sudah sembuh dari sakitnya. Istri juga sehat walhafiat. Saya sedang kelaperan dan kehausan karena berpuasa (gak perlu diceritaain kaleee). Hujan-hujan kami harus menempuh jarak sekitar tiga belas kilometer menuju pusat kota menggunakan mobil Avanza hitam.

Sepanjang jalan ramai lancar. Hanya saja sesudah memasuki pertengah kota, macet parah. Banyak kendaraan yang hilir mudik alias ngabuburit. Aneh sekali, hujan deras seperti ini masih saja ada yang ngabuburit. Mungkin saja gak mau kehilangan momen, apalagi akhir pekan cuuyy. Ada sepasang muda-mudi yang berbocengan di atas sepeda motor sambil mandi hujan ala-ala Dilan dan Milea, hahahaha. 

Yang jelas, warga kota sedang mencari tempat berbuka, sama seperti kami yang akan ke mall untuk mencari tempat buka puasa. Saat itu, kami belum memastikan mau buka puasa di tenan mana. Prediksi saya sih, semua tenan sudah penuh dengan para pengunjung yang akan berbuka puasa juga. Kita lihat saja nanti setelah sampai di mall.

Langit sudah mulai gelap, lampu-lampu jalan sudah dinyalakan. Mobil kami sudah memasuki kawasan mall. Saat turun dari mobil, terdengar adzan magrib berkumandang. Saatnya berbuka puasa. Untung saja, istri membawakan sebotol air minum di dalam tasnya. Luas biasa nih si istri, tambah sayang deh. 

Setelah membatalkan puasa, kebingungan dimulai. Memasuki mall dengan pemeriksaan yang sangat ketat, dari mengecek suhu sampai memeriksa kita pakai masker apa gak. Setelah lolos dari pemeriksaan, kami berjalan menuju lantai paling atas. Saya takjub saat itu. Gak ada satupun tempat makan yang menyisakan untuk kami. Semuanya meja kursi sudah full dipesan oleh pengunjung lainnya. Kami dibuat bingung mau mencari dimana lagi. Yasudah, kami memutuskan untuk berkeliling sambil cuci mata saja dulu.






Saya mencoba memberikan rekomendasi kepada papa mama tempat makan lainnya yang berada di lantai 1 mall ini. Akhirnya jatuh ke Kampong Melayu. Itupun hampir gak dapat tempat duduk juga. Syukurnya ada sepasang suami istri yang memanggil kami untuk mengambil tempat mereka.  Baik sekali mereka, semoga kebaikan mereka mendapat pahala dari Allah SWT. Amin.

Setelah pelayan sudah membersihkan dan membereskan semua yang ada di atas meja, kami segera duduk. Selanjutnya, si pelayan menyerahkan sebuah daftar menu ke kami. Pilih-pilih menu, syukurnya semua yang kami pesan tersedia. Ini yang saya suka, tempat kece dengan menu-menu kece pula. 

Lihat-lihat daftar menu, beragam masakan yang tersaji disini. Semuanya Indonesian Food, seperti nasi goreng, sop, mie-miean, sate ada juga disini. Berbagai jenis minuman juga ada. Seperti kopi, teh, jus, es campur dan masih banyak lainnya. Gak perlu mikir kelamaan mau milih menu yang mana, semunya terlihat enak dan saya sudah beberapa kali datang kesini untuk mencicipi menu-menunya. Bagi saya sih uenak banget. 

Soal harga, disini ada yang gak terlalu mahal, ada juga yang harga mahasiswa. Ada pepatah "Harga Gak Pernah Menghianati Rasa". Rasanya enak, hargapun mengikuti. Ada juga rasa kurang, tapi harganya waw banget. Tapi syukurnya di Kampong Melayu, kelezatan masakannya gak perlu diragukan lagi (bukan ngendorse).





Alasan memilih Kampong Melayu yaitu tempatnya nyaman dan adem. Desain ruangan restonya juga kece dan saya suka. cat dinding ruangan berwarna klasik dan Indonesia banget. Beberapa hiasan yang berupa burung, ayam dan makanan yang terpajang di sudut ruang. Kursi dan meja juga dibuat kekinian. Nuansa klasik tapi semua asesorisnya kekinian.

Ruangan dibagi dua, ada no smooking dan smooking. Berhubung hanya si papa saja yang ahli hisap, kami memilih meja di no smooking. Kalau si papa mau ngisap, bisa ke ruang smooking yang sudah disediakan. Keluarga sangat senang berbuka puasa disini meskipun diburu-buru dengan waktu. Terpenting semuanya masih bisa menikmati pelayanan yang diberikan dari tempat ini.

Lagi-lagi tantangan bukber di luar rumah seperti ini. Makan bareng di suatu ruangan bersama orang banyak yang kita gak tau apakah mereka ada membawa virus atau gak. Apalagi saya dan istri membawa anak kecil umur setahun. Semuanya terlihat tenang dan nyaman-nyaman saja. Meskipun begitu, kita semua harus tetap mematuhi protokol kesehatan yang gak bosan-bosannya disosialisasikan oleh pemerintah. Semoga saja kita semua dijauhi oleh wabah penyakit, apapun itu. Amin. 

Di beberapa kesempatan, saya sering sekali mensosialisasikan untuk tetap menjaga kesehatan dan selalu menerapkan protokol kesehatan baik di akun twitter, facebook, whatsaap maupun di tulisan blog pribadi. Bukannya menentang bukber di luar rumah sambil berkumpul-kumpul. Tapi harus sadar diri, pandemi ini belum selesai. Kalau sekali-kali bolehlah, asalkan tempatnya nyaman, jarak antara meja satu dan lainnya gak berdekatan, dan terpenting gak berdesak-desakan. 


Nasi Bakar Ayama Balado


Kita lupakan sejenak Covid-19, Yuuk berbuka puasa dulu, mencicipi beberapa menu yang sudah dipesan !.

Di Kampong Melayu, saya punya pilihan menu favorit yaitu Nasi Bakar Ayam Balado. Sudah dua kali saya datang kesini, sudah dua kali pula saya memesan menu yang sama. Rasaya enak banget. Kebetulan juga saya penyuka nasi bakar, saya langsung memesan masakan ini. Dari fotonya sangat meyakinkan sekali. Kalau gak percaya boleh kalian pesan (bukan ngendorse). 

Nasi Bakar Ayam Balado khas Kampong Melayu tampilannya kece. Nasi putih ditaburi potongan daging ayam serta dilumuri dengan saos balado, jagung dan potongan tomat. Kemudian dibungkus dengan daun pisang dan dimasukkan ke dalam tempat mirip dengan panci berwarna hitam dan ditutupi dengan kayu berbentuk lingkaran. Proses akhir selanjutnya dibakar. Aroma nasi bakar langsung tercium disaat saya membuka bungkusan daun pisang yang masih panas. 

Sayangnya ada perbedaan yang saya rasakan disaat memesan menu ini. Porsi Nasi Bakar Ayam Baladonya agak sedikit dibandingkan saat saya pertama kali mencicipi masakan ini. Terlihat nasinya hanya sedikit, belum lagi yang lainnya juga diberikan sedikit. Masih banyakan porsi yang pertama. Agak sedikit kecewa tapi mau gimana lagi. Rasa sih oke, tapi porsi sedikit, jadi pas mau bayar agak berat karena harga juga gak sedikit. Seporsi Nasi Bakar Ayam Balado yaitu 38 ribuan. 


Gado-Gado Kampong Melayu

Nasi Uduk Ayam Goreng


Untungnya masih bisa mencicipi menu-menu lainnya yang dipesan oleh istri dan mama yaitu Gado-Gado Kampong Melayu yang bumbunya nendang banget. Ada potongan ketupat, sayur-sayuran, bumbu kacang yang dihaluskan dan kerupuk. Sayangnya kurang pedas di lidah saya sih. Tapi it's oke, rasanya sudah enak kok. Seporis gado-gado seharga 34,8 ribu rupiah. Hmmmmm, mahal atau murah ya kalau dilihat dari rasa dan porsi ?.

Selanjutnya ada Nasi Uduk Ayam Goreng. Nah ini dia menu yang pertama kali saya coba. Gak terlalu banyak sih saya makan karena ini punyanya istri, takut dia manyun kalau saya banyak habisin,hehehe. Saya suka dari penampilannya. Dihidangkan dengan rantang kayak jaman dulu. Kalau ke sawah, habis mencangkul, dibawakan sangu makan siang dengan menggunakan rantang. Ada tiga rantang, rantang yang isinya nasi uduk, sayur-sayuran dan bumbu dan rantang yang isinya ayam goreng. Soal rasa, lumayan enak. Bumbu sudah pas, tapi pedasnya kurang nendang. Seporsi Nasi Uduk Ayam Goreng diberi harga 28 ribuan (koreksi kalau salah). 


Kentang Goreng

Es Mangga Buah

Selfie dulu (Tampang belum makan)

Untuk menu Si Kenzi, bundanya memesankan dia Kentang Goreng. Untuk rasanya gak perlu dibahas terlalu detail. Sama seperti kentang-kentang goreng pada umumnya, tapi disini ukuran kentangnya lumayan besar dan ada porsinya banyak. Kenzi pun sangat menyukai kentang goreng ini. 

Untuk menu penutupnya, saya pesan yang segar-segar. Kebetulan ini minuman yang bisa diminum banyak orang karena porsinya besar banget. Sebut saja Es Mangga Buah. Ada campuran potongan buah nanas, leci, apel, lemon dan pastinya sirup mangga. Seporsi Es Mangga Buah bisa untuk empat orang. Jadi tinggal tuang di gelas dan nikmati kesegaran buahnya. Seporsi Es Mangga Buah yaitu 51 ribuan.

Meskipun di awal kecewa dengan porsi Nasi Bakar Ayam Baladonya, tapi setelah mencicipi menu lainnya, rasa kecewa itu sedikit menghilang. Untungnya rasa menu-menu disini enak-enak (gak ngendorse lhoo ya). Rekomendasi buat kalian yang lagi jalan-jalan ke Lombok Epicentrum Mall Mataram. Cari Kampong Melayu di lantai 1 Lombok Epicentrum Mall. Lebih jelasnya, bisa kalian kepoin akun instagramnya di @kampongmelayu.id 

Selamat Berbuka Puasa. Semoga kita semua selalu sehat dan tetap patuh dengan protokol kesehatan !

Penulis : Lazwardy Perdana Putra