Thursday, 18 April 2019

Kemeriahan Pemilu Aman 2019 : Gak Jamannya Golput Lagi


Kalian pasti sering berhadapan dengan pertanyaan dari teman atau orang terdekat "Kamu pilih siapa?". "Siapa capres cawapres kamu?" atau "Kamu Si Joko/Bowo yaa ?". "Saya Didik pak, bukan Joko atau Bowo". Bener juga ya, terkadang lucu juga mendapatkan pertanyaan seperti itu.

Bisa dibilang setiap orang sering sekali ditanya demikian. Paling parahnya lagi, bila kita pakai pakaian yang warnanya identik dengan warna pakaian salah satu capres dan cawapres, pasti mengira pendukung mereka. Itu bukti terlalu sensitifnya para pendukung yang fanatik di negeri ini.

Bahkan setiap sudut kota, dari warung hingga ruang kantor pun selalu membicarakan perkembangan menjelang Pemilu 2019 bergulir. Ada juga saya mendengar kabar, ada suami yang bertengkar dengan istrinya gara-gara berbeda pilihan dan masih banyak lagi kejadian lainnya yang gak perlu kita contoh. Berbeda pilihan boleh-boleh saja, tapi harus selalu damai dan saling menghargai.

Di dalam tulisan kali ini, saya bukannya mau berpolitik atau menjatuhkan salah satu pihak. Tapi di dalam tulisan ini, saya ingin berbagi pengalaman saya ikut berpartisipasi dalam memeriahkan Pemilu 2019 yang bisa dibilang Pemilu paling unik di dunia saat ini. Kenapa bisa unik ?. Yuuk, ikutin terus cerita ini yang terkadang banyak curhatnya,hahahaha.




Jujur saja, selama empat kali calon pemimpin negara ini dipilih secara langsung oleh rakyat. Ini kedua kalinya saya ikut memilih. Pertama, saat jamannya Pak SBY terpilih sebagai presiden Indonesia di periode kedua. Dan kedua, di Pemilu 2019 ini. Sisanya Golput karena masih belum yakin dengan calon pemimpin yang akan dipilih. 

Untuk di Pemilu tahun 2019 ini, saya gak Golput lagi. Golput itu dilarang karena saya rasa kita gak boleh gak memilih. Jangankan calon pemimpin, calon pasangan saja harus kita pilih. Ya kan ?. Masak Golput saat memilih pasangan hidup, nanti gak laku-laku lagi (ngomong apa sih ?),hahaha. Jadi, jangan Golput !. Memilih dengan cerdas dan terpenting memilih dari hati, Asyiik.

Hari Rabu, tanggal 17 April 2019, seluruh warga Indonesia dimana pun berada, berbondong-bondong menuju Tempat Pemilihan Suara (TPS) masing-masing. Begitupun warga negara Indonesia yang tinggal di luar negeri, mereka juga ikut memilih meski jadwal pemilihan dimajukan lebih awal sebelum hari pemilihan di Indonesia. Di media online kita bisa melihat begitu antusiasnya mereka disana untuk memilih. Ada yang di Amerika, China, Rusia, Malaysia dan beberapa negara lainnya. Mereka rela mengantri panjang untuk menunggu giliran untuk mencoblos. Hal tersebut menjadi perhatian media asing dan warga negara lainnya salut dengan warga Indonesia yang semangat untuk mencoblos. Semuanya berpesta demokrasi untuk satu tujuan, memilih pemimpin yang terbaik di mata Allah SWT dan warga negara Indonesia, Amin.

Gak hanya kemeriahan terjadi di luar Indonesia saja, tapi di dalam negeri juga gak kalah meriahnya. Dari anak kecil sampai orang tua kalau ditanya, "pilih siapa?". Pasti mereka sudah memiliki jawaban masing-masing. Kemajuan teknologi di negeri ini juga sangat mempengaruhi jalannya proses Pemilu yang bisa dikatakan cukup menarik untuk diikuti. Menyalakan televisi, isi beritanya tentang Pemilu. Buka twitter, facebook atau instagram, isinya Pemilu. Chat-chatan sama si doi, ujung-ujungnya bahas Pemilu. Makan bareng dengan keluarga besar, bahas Pemilu. Ketemu teman lama, bahas Pemilu. Kita yang tadinya gak paham politik, jadi ikut keseret untuk membahas hal-hal tersebut. Pokoknya gak jauh-jauh dari obrolan seputaran Pemilu dah.

Begitupun yang saya rasakan di lingkungan kerja dan di rumah. Bertemu pasien, ujung-ujungnya bahas Pemilu. Lagi rapat, kalau gak gosip bareng emak-emak, bahas Pemilu juga. Biasanya sih yang emak-emak yang pada heboh soal Pemilu. Ngebahas tentang harga sembako naik, harga apa-apa naik dan rempong kalau mendengar para emak-emak curhat saat sudah pada ngumpul. Terpenting buat saya bukan soal sembako naik atau apa-apa naik, tapi gimana caranya kita sebagai warga negara Indonesia melaksanakan Pemilu 2019 ini dengan damai, gak pakai acara ribut-ribut segala. Alhamdulillah sampai tulisan ini selesai, gak ada keributan yang terjadi di negara ini. Pemilu 2019 berjalan dengan damai.

***

Sekitar jam sembilan pagi, saya bareng keluarga menuju TPS dimana nama kami terdaftar. Hari itu kami semua libur karena tanggal merah. Kebetulan kami memilih di TPS nomor 9, Kelurahan Ampenan Tengah, Kota Mataram, Lombok. Jarak TPS dari rumah gak cukup jauh. Hanya sekitar seratus meter sudah sampai dengan berjalan kaki. Suasana Pemilu kali ini bisa saya rasakan sangat meriah sekali. Seperti kita merayakan hari kemenangan atau Idul Fitri. Melihat keramaian warga yang berbondong-bondong menuju TPS dengan senyum ikhlas dan semangat. Seneng melihat mereka semua. Berbeda jauh dengan Pemilu sebelumnya. Pemilu yang sekarang gak hanya memilih presiden dan wakil presiden saja, tapi kita juga memilih calon legislatif DPR-RI, DPRD Provinsi, DPRD Kota/Kabupaten dan DPD. Jadi, yang akan kita coblos berjumlah lima buah surat suara. Gak heran bila Pemilu kali ini adalah Pemilu yang paling unik dari sebelumnya.

Sesampainya kami di lokasi, antrian sudah panjang saja. Ini membuktikan antusias warga untuk memilih sangat tinggi. Setelah mendaftar, kami menunggu nama kami dipanggil satu per satu oleh petugas. Papa mama dan adik-adik sibuk melihat kertas suara yang berisi nama-nama caleg yang tertempel di dinding TPS. Saya pun juga ikut melihat-lihat siapa saja yang akan saya pilih. Sempat bingung mau pilih siapa terutama nama-nama calon wakil rakyat atau istilah kecenya "caleg". Gak ada yang terlalu saya kenal. Kalian yang membaca cerita ini begitu juga kan ?. Kalau sama seperti yang saya alami, bisa ikut komentar di bawah ya.

Untung saja cuaca pagi itu cukup cerah. Lokasi TPS juga sangat nyaman dan kondusif. Para warga juga tertib untuk menunggu dan mengikuti jalannya pemilihan. Dari panitia, keamanan dan pengawas jalannya Pemilu juga bekerja dengan baik. Saya melihat para pemilih juga gak ada yang mengeluh lama menunggu dan komplain hal lainnya. Semuanya berjalan dengan baik dan sukses. Salut dengan para petugas keamanan dari Polda NTB yang selalu menjaga proses Pemilu 2019 dari awal hingga akhir dengan aman dan kece pastinya. 

Sambil menunggu nama dipanggil, saya berbincang-bincang dengan para warga di lokasi yang sedang mengantri juga. Bukannya kepo atau apa, tapi saya ingin menanyakan gimana pendapat mereka tentang Pemilu kali ini. Jujur saja, dari sekian warga yang saya tanyakan, kebanyakan dari mereka menjawab hal yang sama yaitu bingung mau pilih caleg dari partai yang mana. Jujur saja, saya juga merasakan begitu.

Disamping kita memilih presiden dan wakil presiden, kita juga memilih caleg secara bersamaan. Dimana dari masa kampanye baik di media cetak maupun media elektronik/online, yang paling banyak disorot yaitu capres dan cawapres saja. Apalagi bila dilihat dari surat suara, daftar nama-nama caleg di setiap partai gak hanya satu dua nama, tapi lebih dari itu. Kalau saya sih kurang efektif bila dijadikan satu dengan Pilpres-cawapres. Hanya pendapat saja, bukan menjatuhkan salah satu pihak lhoo ya.




Gak menunggu lama, nama saya bersamaan dengan keluarga dipanggil satu per satu. Meyakinkan keputusan untuk memilih siapa, sudah ada di dalam hati. Memantapkan langkah kaki untuk mengambil lima surat suara kemudian dengan wajah senyum harap-harap cemas berjalan menuju bilik suara yang diarahkan oleh petugas. Uniknya lagi, bilik suaranya terbuat dari kardus bekas dengan ukuran gak terlalu besar. Saya memilih bilik suara yang sudah kosong dan saya rasa nyaman. Pertama surat suara yang saya buka yaitu surat suara capres dan cawapres. Ukuran surat suara gak terlalu besar dan hanya berisi empat wajah dan nama disana. Dengan ucapkan Bismillah, saya memantapkan hati untuk mencoblos salah satu paslon. Siapa dia ?, Rahasia donk.

Setelah surat suara pertama selesai dicoblos, lanjut membuka surat suara yang lainnya. Ukuran ketiga surat suara tersebut seukuran kertas koran. Besar dan banyak sekali nama-nama yang tertulis. Tanpa menunggu lama-lama, saya pun mencoblos salah satu nama dan partainya. Siapapun mereka yang saya pilih dan menang nantinya, semoga mereka orang baik dan mengemban amanah yang diberikan oleh Allah SWT. Itu doa dan harapan saya saat memasukkan surat suara ke kotak suara masing-masing. Untuk kotak suaranya juga berbeda dari Pemilu sebelumnya. Kotak suara kali ini terbuat dari kardus juga. Menurut saya sih, lebih memakan biaya sedikit tapi dari segi keamanan kurang sepertinya. Gimana kalau terkena hujan atau tertimpa benda berat ?. Kotak suara yang terbuat dari kardus, rawan rusak dan rawan adanya kecurangan. Menurut pendapat saya sih.




Oke, Hak dan kewajiban sebagai warga negara sudah kami laksanakan. Selanjutnya, saya berharap apapun hasilnya nanti kita semua tetap bersatu. Gak ada yang saling bermusuhan dan rusuh. Selamat buat yang menang, sedangkan yang kalah tetap semangat dan ikhlas menerima hasil nantinya. Untuk semua tim sukses dan pihak-pihak lainnya yang sudah bekerja dengan maksimal, harus bersatu demi kemajuan negara kita yang tercinta "Indonesia".

Setelah mecoblos, kami sekeluarga mengabadikan moment yang bersejarah ini. Gak lain ya selfien ala-ala anak Milenials. Eksis sambil menunjukkan jari kelingking yang sudah tercelup tinta biru. Meskipun kami sekeluarga mempunyai pilihan yang berbeda, tapi kami saling menghargai dan menghormati pilihan masing-masing. Siapapun yang nantinya menang, merekalah pemimpin kita nanti. Yang memimpin Indonesia menuju terang benderang dan menjadi negara yang paling ditakuti di dunia nantinya. Amiiin.

Terimakasi kepada Polda NTB dan seluruh warga Indonesia khususnya warga Nusa Tenggara Barat yang telah melaksanakan Pemilu 2019 ini dengan damai dan aman. Enak kan, kalau suasana jadi aman tanpa adanya kerusuhan disana-sini. Mau ke mall tenang, mau piknik gak perlu khawatir, atau mau ke rumah mertua juga aman dan tenang, gak khawatir diajak debat sama mertua soal siapa yang menang, hahaha.

Sudah dulu yaa, panjang juga nulisnya. Ambil baiknya dan buang jauh-jauh yang gak baiknya. Siapapun yang menang nanti, merekalah pilihan Allah SWT untuk rakyat Indonesia. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa. Selanjutnya Allah SWT penentu semuanya. Pemilu 2019 Aman dan Kece !!!

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Lomba Blog Pemilu Aman 2019 Bersama Polda NTB

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Saturday, 30 March 2019


Di Hari Minggu yang lalu (24/3/2019), ada yang seru lhoo di Pasar Botani. Sudah ada yang tau belum Pasar Botani itu seperti apa dan dimana?. Pasar Botani merupakan pasar destinasi digital yang dipelopori oleh temen-temen dari Genpi Lombok Sumbawa yang berada di bawah Kementerian Pariwisata RI. Nah, ada yang bertanya lagi apa itu Genpi Lombok Sumbawa?.  Kalian bisa baca postingan saya sebelumnya tentang Genpi Lombok Sumbawa di blog ini. Bisa dicari di kolom artikel.

Baca juga di : New Pasar Pancingan

Sudah dibaca belum ?. Ada baiknya dibaca dulu postingan sebelumnya biar gak bertanya lagi. Jadi saat ini Genpi Lombok Sumbawa memiliki dua pasar digital yang berada di Pulau Lombok. Pertama, Pasar Pancingan yang berada di Desa Bilebante, Pringgarata, Lombok Tengah. Dan kedua, Pasar Botani di Narmada Botanic Garden, Lombok Barat.

Bila kalian ingin ke Pasar Botani, gak perlu bingung. Buka google maps, selanjutnya ketik Narmada Botanic Garden dan langsung muncul di layar gadget kalian masing-masing. Sedangkan yang menggunakan jasa ojek online, kalian buka aplikasi ojek online favorit kalian dan pilih arah tujuan "Narmada Botanic Garden". Selanjutnya tinggal tunggu dijemput dan bayar jangan lupa, hehehe.

Alat transportasi umum ke Narmada Botanic Garden gak susah. Kalian bisa pakai mobil angkutan antar kabupaten (mobil engkel), bisa pake damri (jurusan Lombok Timur) atau yang simple saja, kalian bisa numpang di bus atau truk yang menuju arah Lombok Timur (tinggal kasi duit rokok). #HariGeneKokRepot

Baca juga di : Narmada Botanic Garden

Berhubung saya pakai motor sendiri, tinggal beli bensin sendiri dan bonceng si doi di belakang. Perjalanan dari Kota Mataram menuju Narmada kurang lebih memakan waktu setengah jam (itu sudah sama macet di lampu merah). Sesampainya di Narmada Botanic Garden, kendaraan di area parkir sudah hampir penuh. Sepagi ini sudah ramai saja nih.

Oke.. Sebelum saya melanjutkan menulis, mungkin ada diantara kalian yang bertanya-tanya. Apa bedanya Narmada Botanic Garden dengan Pasar Botani ?. Soalnya di awal tadi saya membahas sedikit tentang Pasar Botani yang berada di Narmada Botanic Garden. 








Jadi begini, Narmada Botanic Garden merupakan destinasi wisata keluarga yang bisa dikatakan masih baru di Pulau Lombok. Di awal launching, destinasi wisata ini langsung ngehits dengan foto-foto bunga mataharinya yang menjamur di sosmed khususnya di instagram. Pengelola fokus membangun tempat ini untuk dijadikan taman rekreasi dan edukasi tentang berbagai jenis tanaman bunga yang ada disini. Tempat instagrammable banget menurut saya. Gak hanya menikmati berbagai jenis tanaman bunga saja, tapi ada beberapa buah yang ditanam dan buahnya bisa dipetik sendiri (jangan lupa dibayar di kasir).Ada juga rumah-rumah hobit dan area panahan yang bisa kalian coba.

Beberapa fasilitas seperti cafe, aula pertemuan, mushola dan toilet yang bersih juga tersedia. Bisa dikatakan hampir lengkap fasilitas disini, kece.

Next... Temen-temen Genpi Lombok Sumbawa bekerjasama dengan pengelola Narmada Botanic Garden untuk membuat semacam pasar digital yang kemudian diberi nama Pasar Botani yang hanya buka di Hari Minggu, dari jam 7 pagi sampai 11 siang.

Gak jauh berbeda dengan Pasar Pancingan, disini kita berbelanja aneka makanan tradisional menggunakan kepeng (semacam alat tukar). Baik di Pasar Pancingan maupun Pasar Botani nama alat tukarnya yaitu kepeng. Kepeng itu artinya uang. 

Di Pasar Botani, kita bisa menemukan jajanan pasar, sate bulayak, urap dan jus. Gak banyak memang pilihan menu yang kita temukan bila dibandingkan dengan Pasar Pancingan. Tapi gak apa-apalah, semoga kedepannya lebih banyak pilihan menu lagi.




Nah.. Di Hari Minggu yang lalu, saya bareng temen-temen Genpi Lombok Sumbawa mengadakan sebuah perlombaan mewarnai tingkat TK dan SD. Bekerjasama dengan Susu Zee, Pasar Botani dan Narmada Botanic Garden sendiri. Jumlah peserta yang mendaftar kurang lebih 40 orang yang sebagian besar berasal dari Kota Mataram, Lombok Barat dan sisanya dari Praya, Lombok Tengah. Melihat semangat para orang tua dan anak-anaknya membuat saya pribadi teringat waktu jaman SD dulu yang sering sekali mengkuti perlombaan menggambar. Hanya beberapa kali ikut dan hanya satu kali juara, itupun juara harapan. Prestasi di jaman imoet-imoet dulu. Hehehe.

Sekarang, gak nanggung-nangung. Saya pun bertugas menjadi juri dadakan. Ada tiga juri saat itu, yaitu Bli Bayu, si doi dan saya sendiri. Namanya juri itu tanggung jawabnya besar banget. Sama seperti wasit di sebuah pertandingan. Semoga saja gak salah pilih juara nih. Amiiin.

Acara lomba berada di Aula pertemuan Narmada Botanic Garden. Sekitar jam delapan pagi, Bang Ajie yang bertugas sebagai PIC lomba sekaligus menjadi MC membuka acara lomba. Setelah itu, sambutan dari pihak Susu Zee dan kemudian lomba mewarnai dimulai. Panitia lomba segera membagikan lembar kertas berukuran A4 yang memiliki pola gambar kepada semua peserta.






Setelah semua kertas gambar sudah dibagikan semua. Panitia lomba menjelaskan aturan lomba. Untuk tingkat TK dipersilahkan untuk mewarnai gambar yang ada sebagus, semenarik dan serapi mungkin. Sedangkan untuk tingkat SD selain mewarnai, dipersilahkan untuk menambahkan gambar lainnya sebagai nilai tambah dalam penilaian. Peran orang tua adalah membantu anak-anak untuk mewarnai. Jadi harus kompak antara anak dengan orang tua. Panitia lomba memberikan waktu dua jam untuk semua peserta menyelesaikan semua karyanya. Lumayan lama tuh. 

Melihat semangat anak-anak bersama orang tua mereka membuat saya tertarik untuk melihat mereka mewarnai. Ada yang kompak sekali antara anak dan bapaknya, ada pula yang lari kesana-kemari sedangkan ibu mereka asyik mewarnai sendirian. Yang menarik lagi, ada yang mewarnai sendiri dan didampingi oleh orang tuanya. Bagus sekali untuk melatih kemandirian mereka meskipun dalam jalannya lomba, boleh membantu si anak untuk menyelesaikan gambar yang bagus dan rapi. 

Jujur saja, di pertengahan lomba saya tertarik melihat perpaduan warna yang dihasilkan. Ada yang menggunakan crayon dan ada juga yang menggunakan pensil warna. Saya gak melihat ada peserta yang menggunakan cat warna. Mungkin terlalu ribet kali yaak,hehehe. Kalau menurut saya sih, lebih bagus pakai crayon karena menghasilkan perpaduan warna yang jelas dan detail. 





Sudah dua jam berlalu, para peserta satu per satu mengumpulkan hasil karyanya ke panitia. Menariknya ada beberapa peserta yang memberitahu kakak-kakak panitia kalau mereka mau bernyanyi di depan. Bang Ajie pun mengiyakan karena mereka semua berani tampil dan lucu-lucu. Kalau gak salah ada namanya adeq Grasia yang tampil pertama. Dengan lugunya, adeq Grasia dengan pedenya ngambil mic kemudian mulai bernyanyi. Saya lupa judul lagunya, tapi seneng saja liat si adeq lucu yang pipinya kayak Boboho,hehehe. 

Ternyata banyak juga adek-adek kita yang tampil bernyanyi. Dulu jaman saya kecil, malu-malu kucing kalau disuruh nyanyi. Tapi anak-anak sekarang, sudah berani tampil sejak TK. Salut buat para orang tua yang menanamkan jiwa pemberani dan percaya diri kepada anak-anak mereka. Syukurnya gak ada dari adek-adek kita yang nyanyi lagu dangdut. Gak tau dah gimana kalau ada yang nyanyi lagu dangdut. Mungkin ikutan joget kita semua, Asyiik..tarik maang !!!.

Gak terasa waktu mewarnai sudah habis. Setelah semua karya terkumpul di panitia. Saatnya waktu penjurian dimulai. Kami bertiga sempat bingung mau memilih siapa yang juara. Semuanya bagus-bagus. Akhirnya kami memilih hasil gambar yang paling baik dari yang terbaik. 

Saatnya waktu pengumuman. Kok saya sendiri yang deg-degkan yaak ?,hehehe. Para orang tua dan anaknya harap-harap cemas saat panitia mengumumkan siapa saja juaranya. Disini ada enam juara di setiap tingkat baik TK maupun SD. Juara harapan 1,2,3 dan juara 1,2,3. Melihat wajah-wajah orang tua yang sangat bahagia ketika nama anak mereka disebut sebagai juara. Bagi yang mendapatkan juara, Selamat ya. Bagi yang belum dapat juara, tetap semangat dan berjuang lagi untuk menjadi juara. Amiin. 

Waktu sudah menuju siang hari. Lomba mewarnai berjalan dengan lancar dan sukses. Semuanya Happy !!!. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Monday, 25 March 2019


Bingung mau sarapan pake apa?, Montana Premier Senggigi punya beberapa menu sarapan baru yang rekommended buat kalian.

Di awal tahun 2019, Montana Premier Senggigi memiliki segudang promo untuk kalian. Dari promo menginap, event-event dan yang paling saya suka yaitu promo kulinernya. Beberapa minggu yang lalu saya bareng doi diundang untuk mencicipi beberapa menu dengan acara Festival Kuliner Jalanan. Menu-menunya oke dan soal rasa, sangat cocok dilidah orang Indonesia. Kaya akan bumbu rempah-rempah dan rasanya maknyus. Soal harga, gak kalah dengan kuliner jalanan yang dijual di tenda-tenda makanan di pinggir jalan.

Bisa baca disini : Festival Kuliner Jalanan

Di Hari Minggu pagi kemarin, saya ditelpon oleh Mbak Lia, salah satu staf Montana Premier Senggigi. Mbak Lia menawarkan beberapa menu sarapan. Berhubung saya sedang laper, beberapa menu yang ditawarkan terkirim ke rumah. Gak nanggung-nanggung, Mbak Lia sendiri yang mengantarkan langsung ke rumah. Thanks Mbak Lia, hehehe.

Saya kira hanya satu macam sarapan yang dibawa, ternyata ada empat menu sarapan yang menggoda untuk segera dimakan. Mau dihabisin sendiri kan gak mungkin. Untungnya di Hari Minggu adek-adek sedang ngumpul di rumah, ada si doi juga datang. Jadi bisa rame-rame nyicipinnya.


Chicken Katsu Ricebowl

Kali ini saya tertarik mencoba Chicken Katsu Ricebowl. Dari namanya saja sudah ketebak ini apa. Ya bener, ini adalah makanan berbahan dasar ayam. Potongan ayam crispi yang diberi saos kecapnya dan bumbu rempah lainnya. Selain ada ayam, ada telur setengah mateng dan sayuran juga. Gak lupa pake nasi dong.

Untuk rasa, lumayan enak banget. Daging ayamnya empuk, tepung crispinya gurih dan potongan ayamnya pas. Saosnya enak banget apalagi dimakan bersama dengan telur setengah mateng, maknyus. Untuk sayurannya, cocok dengan lidah saya. Untuk nilai saya beri 8 dari 1 sampai 10.


Fish Sweet & Sour Ricebowl

Menu kedua, ada Fish Sweet & Sour Ricebowl. Sarapan satu ini sudah pernah beberapa kali saya coba. Olahan ikan yang dibalut dengan tepung crispi yang sangat renyah. Ikan yang dipakai saya kurang tau. Pastinya dagingnya empuk dan tebal dan gak amis. Disiram dengan saos tomat dan bumbu rempah lainnya menambah cita rasa dari Fish Sweet & Sour Ricebowlnya. Namanya romantis yaa, apalagi yang mencicipi menu ini adalah si doi. Doi juga nyuapin saya, bener-bener romantis sesuai namanya hehehe (mulai curhat). Untuk nilai saya kasi 8,5 dari 1 sampai 10.


Beef Blackpaper Ricebowl

Oke... Ricebowl terakhir yaitu Beef Blackpaper Ricebowl. Menu berbahan dasar potongan daging sapi ini, cukup empuk dan pas dilidah. Hanya saja, saos kecap yang terlalu asin dilidah menurut saya. Sekedar saran saja, mungkin perlu ditambah penyedap lainnya biar rasa asinnya gak terlalu tertutupi sedikit. Kembali lagi ke selera lhoo ya. Kalau saya sih gak terlalu suka sama makanan yang terlalu asin. Untuk nilai saya berikan 7 dari 1 sampai 10.


Sandwich Montana

Next... Menu sarapan terakhir. Dari namanya ini bisa jadi menu sarapan khas dari Montana. Namanya Montana Sandwich. Jujur, saya sangat jarang sekali mencicipi jenis makanan yang bernama sandwich. Saya lebih suka makan burger atau pizza sih, itupun gak sering-sering amat. Makannya kalau pengen saja. Lebih suka makanan Nusantara sebenarnya. Tapi gak apa-apa, berhubung sudah dibawain Montana Sandwich saya penasaran juga ingin mencicipinya.

Ukuran sandwichnya gede banget guys. Pas buat kalian yang doyan makan sandwich. Untuk isinya ada sayur-sayuran, potongan daging sapi dan irisan bawang bombai. Tapi porsi irisan bawang bombainya terlalu banyak sedangkan potongan daging sapinya terlalu sedikit. Kembali lagi ke selera ya guys. Soal rasa, saya beri nilai 7 dari 1 sampai 10.

Untuk semua menu sarapan diberi harga 25K. Bisa juga menggunakan GoFood free ongkir guys. Bisa dikatakan harga terjangkau dan enak pastinya. Semua dijamin HALAL bin Kenyang

Bagi kalian yang ingin mencicipi aneka menu sarapan serba Ricebowl bisa langsung ke alamat instagram Montana Premier Senggigi (ig : @montanapremiersenggigi).


Montana Premier Senggigi

Alamat : Jalan Raya Senggigi, km 12, Senggigi, Lombok Barat
Phone   : 0370 - 6198899

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Tuesday, 19 March 2019

photo from : FSAI 2019 Lombok

Akhirnya Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) tahun ini singgah di Kota Mataram, Lombok. Saya pun bersemangat untuk ikut berpartisipasi mengikuti festival film kontemporer ini. Berawal dari teman satu kantor bernama Bang Romi yang membagikan brosur FSAI 2019 sehari sebelum festival dimulai. Cepat-cepat saya buka website FSAI dan langsung mendaftar.

Di tahun 2019 Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) kembali menampilkan film-film terbaik dari Australia dan Indonesia. Berbagai genre film panjang dari Australia dan Indonesia akan diputar di festival tahun ini. FSAI 2019 juga untuk pertama kalinya akan menayangkan pilihan film-film pendek yang ditampilkan di Flickerfest, sebuah festival film pendek terdepan di Australia. Di tahun keempat ini, jangkauan FSAI diperluas di lima kota  yaitu Jakarta, Mataram, Bandung, Makassar dan Surabaya.

Khusus di Kota Mataram, FSAI dimulai dari tanggal 15 s/d 17 Maret 2019,bertempat di CGV Transmart Kota Mataram. Kebetulan saya ditemani sama si doi untuk pergi nonton salah satu film yang diputar di FSAI. Kami memilih menonton di Sabtu malam, malam santai dan sekalian malam mingguan. Film yang kami tonton berjudul Gurrumul, seorang laki-laki buta asli Suku Aborigin, Autralia yang memiliki keahlian dalam bermusik dengan suara yang sangat merdu. Laki-laki hebat yang memiliki nama lengkap Geoffrey Gurrumul Yunupingu merupakan seorang artis yang sangat terkenal di Australia. Dia menemukan tujuan dan arti hidup melalui lagu dan musik yang terinspirasi dari komunitas dan tanah kelahirannya Pulau Elcho di Timur Laut Arnhem Land.




Tiket nontonnya gratis lhoo, caranya kita mendaftar di situs websitenya https://www.eventbrite.com terlebih dahuluSetelah masuk ke websitenya, kita tinggal memilih film yang akan ditonton. Lihat juga jadwal filmnya ya, jangan sampai salah klik. Mau nonton di Mataram,malah klik nonton di Makassar, kan lucu hehehe. Setelah memilih film, kita melanjutkan untuk registrasi terlebih dahulu dengan persyaratan yang sudah ditentukan. Setelah registrasi berhasil, kita akan menerima konfirmasi e-tiket di email masing-masing. Nantinya konfirmasi e-tiket dari email tersebut saat akan menonton, bisa kita tukarkan dengan tiket manual di meja konfirmasi panitia di bioskop tempat FSAI digelar.

Antusias para penikmat film di Kota Mataram terhadap festival film ini sungguh diluar dugaan saya pribadi. Sehari sebelum film tayang, seat sudah sold out. Kece banget kan !. FSAI 2019 di Kota Mataram digelar di CGV Transmart Mataram. Salah satu bioskop favorit saya disini. Setelah registrasi ulang di meja panitia, kami berdua menunggu di ruang tunggu. Sambil menunggu, kita bisa duduk santai di ruang tunggu penonton. Bioskopnya instagrammable banget dan nyaman menurut saya. Meskipun lumayan jauh dari rumah, saya sering nonton di bioskop ini karena gak terlalu ramai dibandingkan bioskop tetangga,hehehe. 



Dua tiket film Gurrumul sudah ditangan. Para penonton pun sudah ramai berdatangan menunggu film yang sama tayang. Ini pertama kalinya FSAI digelar di Kota Mataram dengan pilihan film-film terbaik. Kami berdua sangat mendukung dengan adanya festival film semacam ini di Kota Mataram. Semoga saja di setiap tahunnya, FSAI selalu digelar di Pulau Lombok dengan film-film terbaik lainnya.

Sekitar jam setengah tujuh malam, film Gurrumul dimulai. Adegan demi adegan di dalam film saya menikmatinya. Apalagi saat kematian ibu dan ayahnya Si Gurrumul yang membuat penonton mengeluarkan air mata (colek si doi). Saya salut dengan jalan hidup Si Gurrumul. Dengan keterbatasan, dia sukses menjadi artis yang disayang oleh para fansnya melalui suaranya yang merdua berbahasa Aborigin. Terkadang kita gak tau artiya apa, tapi kita bisa merasakan maksud dari lagu dan musik yang disampaikan. Film yang disutradai oleh Paul Damien Williams dengan durasi satu setengah jam ini, sukses membuat penonton terkagum-kagum. Film yang penuh inspirasi ini wajib kalian tonton (Spoiler colongan).



Setelah film selesai, ternyata di dalam studio Mr.Paul sutradara film Gurrumul hadir di tengah-tengah penonton. Suprise banget dan kami semua pun kaget dibuat. Ada perasaan senang dan terharu bisa berjumpa langsung dengan sutradara film biografi ini. Mr.Paul pun menceritakan suka duka dalam pembuatan film ini. Mr.Paul sebelumnya adalah orang yang dekat dengan Gurrumul dan Michel (sahabat Gurrumul) yang suka membuatkan teh dan sarapan Gurrumul. Terpintas di pikiran Mr.Paul kalau akan membuat film biografi dari Si Gurrumul. Setelah meminta ijin, akhirnya Si Gurrumul bersedia dibuatkan film tentang jalan hidupnya.

Sesi tanya jawab pun berjalan dengan lancar. Para penonton sangat terkesan dengan film Gurummul. Di salah satu pertanyaan dari penonton untuk sutradara "Apakah tradisi Suku Aborigin saat ada orang meninggal di Suku Aborigin ada hubungannya dengan kebakaran hutan di Pulau Elcho ?". Jawaban Mr.Paul, tidak ada hubungannya tradisi orang meninggal disana dengan kebakaran hutan. Sutradara film hanya ingin memperlihatkan peralihan kehidupan kota dengan kehidupan di suku pedalaman (Spoiler sedikit).

Gurrumul Trailer from to youtube.com

Mr Paul pun menjelaskan bahwa tradisi adat Suku Aborigin saat ada kematian yaitu acara kematian bisa dua belas hari atau tiga minggu, tergantung ibu mertua.  Untuk tarian, lima belas suku bangsa mencerminkan suku bangsa masing-masing. Mulai jam tiga sore sudah menari, mencerminkan suku dan budaya suku tersebut. Foto orang yang mati gak boleh diperlihatkan sesuai permintaan keluarga.

Jalannya cerita di dalam film sangat natural dan menggambarkan kehidupan Suku Aborigin melalui Gurrumul. Saya jadi tahu kehidupan Suku Aborigin di pedalaman Australia yang bisa dibilang menjadi minoritas di tanahnya sendiri. Kemegahan kota-kota Australia dan penduduk yang mayoritas berkulit putih, tapi menjunjung tinggi yang namanya perbedaan. Saling menghargai satu sama lain yang diperlihatkan dari film Gurrumul. Karya-karya Gurrumul diterima dan sangat disukai di negaranya bahkan Amerika dan negara-negara lainnya. Filmnya keren dan wajib kalian tonton !!!.

Bagi kalian yang berada di Kota Makassar, Bandung dan Surabaya, nantikan FSAI 2019 mampir di kota kalian di bulan ini. Info lebih jelasnya bisa kalian buka di webnya https://www.eventbrite.com

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Saturday, 16 March 2019


Bagi yang punya hobi trekking seperti saya mungkin susah kalau selama sebulan hanya berdiam diri di rumah saat libur akhir pekan. Akhir-akhir ini memang sulit mencari waktu luang untuk traveling dikarenakan sibuk dengan aktivitas yang ada.

Ketika ada waktu, saya gak mau membuang kesempatan untuk jalan-jalan menyusuri hutan dan bisa menemukan hal-hal yang menarik di dalamnya. Seperti berburu harta karun bagi saya pribadi. Asyik, seru, menegangkan dan happy pastinya. Trekking merupakan salah satu kegiatan yang paling saya suka. Apalagi tujuannya ke destinasi yang baru, jadi tambah semangat.

Dua minggu yang lalu, saya bareng si doi pergi ke suatu tempat yang sudah lama eksis tapi agak kurang peminatnya untuk kalangan kids jaman now. Sebut saja, Taman Wisata Alam Kerandangan. Mungkin di pikiran kalian, nama ini agak asing di telinga terutama dari luar Pulau Lombok. Masih kalah tenar dengan Pantai Senggigi, Gili Trawangan, Desa Sembalun atau Pantai Kuta Mandalika. Padahal Taman Wisata Alam ini lokasinya sangat dekat dengan Pantai Senggigi. Hanya lima menit dari Pantai Senggigi, kita sudah sampai di pintu masuk TWA Kerandangan. 

Dari informasi yang ada, di TWA Kerandangan kita bisa melihat beragam fauna yang dilindungi. Seperti Celepuk Rinjani, burung hantu endemik dari Pulau Lombok. Ukurannya sekitar 21-28 cm. Bisa kita jumpai saat sore hingga malam hari. Habitatnya di pepohonan bercabang terbuka, pinggiran hutan dan pemukinan dekat hutan. Bisa dibilang Celepuk Rinjani merupakan jenis burung hantu yang paling kecil dari segi ukuran. Ada juga Paok Laus atau lebih dikenal dengan Elegant Pitta. Jenis burung yang bisa dipanggil sewaktu-waktu, tapi biasanya keluar saat pagi hari. Dan masih banyak jenis burung lainnya baik yang dilindungi undang-undang maupun yang gak dilindungi tapi sering diburu oleh manusia. Sayangnya saat kesana, kami gak sempat bertemu dengan mereka semua. Next time kalau kesini lagi, pasti bisa berjumpa dengan mereka. Amiin. 







Minggu pagi yang cerah, udara yang sangat sejuk dan sisa-sisa hujan semalam masih terasa saat menghirup udara pagi. Pemandangan perbukitan hijau dan lautan biru menjadi tontonan kami sepanjang perjalanan dari Kota Mataram menuju arah Pantai Senggigi. Kendaraan baik roda dua dan empat sudah ramai hilir-mudik di jalanan kota. Pasar Kebon Roek sudah ramai oleh para pedagang dan pembeli. Warga ada yang lari pagi dan sepedaan. Hari santai dan pas untuk berolahraga. 

Rencana kami berdua memang ingin berolahraga dengan soft trekking. TWA Kerandangan menjadi pilihan kami untuk trekking saat itu. Gak butuh waktu lama, hanya lima belas menit saja kami sudah sampai di pintu masuk taman wisata alam. Melewati pusat Pantai Senggigi, menuju arah Kerandangan. Tepat setelah Hotel Svarga, ada belokan di kanan jalan menuju arah TWA Kerandangan. Setelah berbelok ke kanan, kami melewati kampung warga dan villa-villa kece yang pemiliknya rata-rata orang bule. Gak lama kemudian, kami sudah sampai di post TWA Kerandangan.

Setelah melapor di post jaga, kami berdua melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak menuju tempat favoritnya si doi. Jujur, saya baru pertama kali kesini. Dan baru kali ini ada waktu untuk datang, itupun diajak sama doi. Kali ini tour guidenya si doi karena dia sering banget kesini. Di pikiran saya, kok tempat sekece ini gak terpintas sebelumnya. Hutan tropis yang sungguh memanjakan mata. Rimbunnya pepohonan hijau, bertemu dengan kawanan monyet, menyeberangi sungai kecil dengan air yang jernih dan adem pastinya. 

Taman Wisata Alam Kerandangan ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 494/Kpts-II/1992 tanggal 1 Juni 1992 seluas 396,10 Ha. Menurut administrasi pemerintahan Taman Wisata Alam Kerandangan termasuk ke dalam wilayah Desa Persiapan Senggigi Kecamatan Batu Layar Kabupaten Lombok Barat Propinsi Nusa Tenggara Barat.

Beberapa obyek wisata yang terdapat di TWA Kerandangan antara lain Air terjun Putri Kembar, Goa Walet serta mata air Eat Beraik. Kemudian beberapa kegiatan wisata yang dapat dilakukan seperti Jungle Tracking, Jelajah sungai, Camping, Pendidikan Lingkungan serta Pengamatan Satwa. Untuk menuju Air Terjun Putri Kembar dan Goa Walet, kita membutuhkan waktu dua jam perjalanan dengan jarak tempuh hampir dua kilometer. Lumayan menguras keringat dan cocok buat pecinta trekking. Tapi saat itu, kami berdua gak berencana menuju air terjunnya. Kami berdua hanya ingin menikmati alam TWA Kerandangan dari atas menara dan bertemu dengan kupu-kupu cantik.




Setelah melewati jalanan setapak mulai dari landai sampai menanjak, akhirnya kami sampai di menara TWA Keradangan. Tinggi menara kurang lebih dua belas meter dan digunakan untuk memantau beragam satwa yang ada seperti Burung Elang dan kawan-kawan. 

Kami berdua pun gak sabar untuk naik hingga lantai tertinggi. Benar saja, dari atas menara saya bisa melihat begitu indahnya TWA Keradangan ini. Perbukitan yang hijau, hutan hujan tropis yang lebat dan di arah barat, saya melihat lautan biru Selat Lombok, kece guys. Setelah lumayan soft trekking, kami berdua nongkrong di atas menara sambil menikmati ciptaan Allah SWT yang sungguh indah. 

Cukup lama kami berada di atas menara. Gak lupa mengambil beberapa foto dan selfie kece pastinya. Awalnya pengen lama-lama di atas menara, tapi berhubung mau ke lokasi selanjutnya yaitu ke penangkaran kupu-kupu. Jadinya, harus segera kesana biar gak kesiangan. Kupu-kupu paling banyak kita jumpai saat pagi hari hingga menjelang siang. Kami pun segera turun dari menara dan berputar balik ke arah post jaga. 







picture : Toni Tastura


Penangkaran kupu-kupu lokasinya gak jauh dari post jaga. Sesampainya di lokasi, gak banyak jenis kupu-kupu yang kami jumpai. Kata si penjaga, kami berdua sudah datang kesiangan. Kalau mau melihat ratusan kupu-kupu, datangnya harus pagi-pagi banget. Saking banyaknya, kupu-kupu bisa hinggap di tubuh kita. Bayangin saja, gimana rupanya kupu-kupu nongki di tubuh saya. Kalau mereka sampai nongki, itu berarti saya manis semanis madu. Hueeekkk... 

Berhubung sudah siang, kami hanya berjumpa dengan beberapa kupu-kupu saja yang terbang kesana kemari mencari sisa-sisa madu bunga. Ada yang bewarna kuning, cokelat, merah, belang-belang dan toska. Indah banget dilihat. Apalagi terbang kesana-kemari, membuat mata dan hati sejuk dan senang. Untuk mengambil foto mereka saja sangat susah karena mereka gak berdiam lama di beberapa bunga. Harus extra sabar dan fokus. Pengennya sih ada kupu-kupu nongki di tubuh saya atau si doi, tapi gak ada satupun yang mau nongki. Apa karena kami berdua sudah bau matahari dan keringetan yaa, sampai ogah mau nongki. Nyapapun mereka gak mau, senyumpun gak ada (mulai ngomong ngelantur). 

Apapun hasil fotonya, kami berdua sudah senang datang kesini. Nyari keringetnya dapat, menikmati pemandangan dan bertemu dengan kupu-kupu cantik sudah senang banget. Gak dapat liat Elegant Pitta dan ratusan kupu-kupu, it's okelah. Next Time, harus datang kesini lagi untuk ngecamp dan belajar tentang kehidupan beragam burung dan satwa lainnya disini.

Sekedar saran saja, bagi kita yang ingin mengexplore TWA Kerandangan, atur niat terlebih dahulu (pesan dari si penjaga). Apabila ingin melihat dan belajar tentang burung, pilihannya bisa datang sore hingga malam hari atau ngecamp disini. Untuk melihat kupu-kupu bisa datangnya pagi-pagi banget karena umur kupu-kupu kurang sehari. Mereka akan mati disaat sudah gak ada cahaya matahari lagi. Untuk menuju air terjun, bisa datangnya disaat musim penghujan. Ajak keluarga, sahabat dan gebetan untuk belajar tentang flora dan fauna di TWA Kerandangan. Dijamin dapat semuanya, dapat liburan dan ilmu yang bermanfaat. Jaga Sopan Santun dan Kebersihan Disini, Oke !!!

Catatan 
- Tiket masuk
   domestik 5 ribu (weekday), 7,5 ribu (weekend)
   mancanegara 100 ribu (weekday), 150ribu (weekend)
- Biaya ngecamp 7,5 ribu/orang

Penulis : Lazwardy Perdana Putra