Saturday, 15 February 2020


Sebagai seorang suami dan sekarang menyandang status sebagai seorang ayah, saya ingin sedikit berbagi cerita tentang perjuangan istri saya dalam melahirkan anak pertama kami berdua. Gak terasa kehamilan istri sudah memasuki sembilan bulan. Banyak persiapan yang sudah kami lakukan, dari menyiapkan pakaian bayi dan segala kebutuhan si kecil ketika sudah lahir nanti. Kami berusaha gak ada sedikitpun kebutuhan yang tertinggal. Insyaallah semuanya sudah siap.

Begitu juga dengan kesehatan istri dan anak. Sejak kandungan berumur sebulan sampai delapan bulan, kami berdua rutin ngontrol ke dokter tempat nantinya istri akan melahirkan. Alhamdulillah selama kehamilan berumur satu sampai menginjak di angka sembilan, kesehatan istri dan bayi sehat-sehat semua.

Kali ini saya akan menulis cerita yang cukup mengharukan buat saya dan istri alami selama proses persalinan. Gak ada yang menyangka kami berdua mengalami kisah yang cukup menegangkan. Siapa yang tau sebelumnya kalau ceritanya akan menjadi begini. Tapi itulah perjalanan hidup. Kami berdua hadapi dengan sabar dan tegar.

Cerita dimulai dari malam Jumat, tanggal 6 Februari 2020. Istri yang sudah dari sore hari sudah merasakan rasa gak enak di perutnya. Ketika malamnya, tiba-tiba istri memberitahukan ke saya kalau dia merasakan ada kontraksi. Awalnya dia ragu, tapi mau gak mau harus kasitau saya segera mungkin. Saya yang orangnya agak panikan langsung memberitahukan ke orang tua. Kami berdua sementara ini tinggal bareng orang tua saya karena istri dalam kondisi akan melahirkan. Ketika itu ada bercak darah di maaf (celana dalam) istri. Saya amati lebih lama, dan langsung saya bilang, "Yuk, kita segera ke rumah sakit !".

Kami berdua memutuskan pergi ke IGD Rumah Sakit Ibu dan Anak Permata Hati yang jaraknya gak terlalu jauh dari rumah. Rumah Sakit Ibu dan Anak Permata Hati merupakan rumah sakit khusus bersalin dan anak yang berada di Kota Mataram. Syukurnya waktu tempuh perjalanan dari rumah hanya lima menit saja. Selama perjalanan, istri hanya mengalami mules saja dan masih bisa diajak bicara.

Setelah sampai di IGD, istri langsung diperiksa oleh perawat jaga. "ibunya masih bukaan dua pak !", si perawat memberitahukan keadaan istri kepada saya. Terus saya menanyakan tindakan selanjutnya apa. "Istri bapak bisa dibawa pulang dulu ke rumah, nanti kalau sudah kontraksi lebih sering dan sakit lagi, baru dibawa lagi kesini !". Saya sempat bingung, kenapa gak ditunggu saja di IGD ya. Namanya juga kehamilan anak pertama, jadi banyak paniknya. Saya pun mengiyakan perintah si perawat. Kami berdua pulang ke rumah.

Liat jam tangan, waktu menunjukkan jam dua pagi. Kurang lebih satu jam istri saya diobservasi lebih dulu.  Gak terasa waktu begitu cepat berlalu. Hari Jumat dilewati dengan merasakan mules ringan saja. Lagi-lagi sebelum waktu Jumatan, istri mengalami kontraksi yang cukup sering. Cek celana dalam, bercaknya semakin melebar. Langsung saja kami ke IGD RS lagi. Hasil pemeriksaan disana, istri masih bukaan dua. Disuruh pulang lagi. Yoo wes, pulang lagi kita. Namanya juga yang pertama, jadi agak panikan, hehehe.

Karena penasaran saya iseng buka google. Banyak informasi yang menjelaskan gejala yang dialami oleh si istri. Ternyata gejala itu dinamakan kontraksi palsu. Kontraksi yang timbul ngilang sama seperti cowok yang PHPin ceweknya (fokus wooi).

Lanjut !.

Hari Jumat terlewatkan begitu saja sambil was-was kalau saja ada keadaan emergency lagi. Keesokan harinya, Hari Sabtu, tanggal 8 Februari. Keadaan istri masih tetap saja, mengalami kontraksi palsu. Gak ada kondisi yang begitu mengkhawatirkan. Bapak dan ibu mertua datang ke rumah untuk melihat keadaan anaknya. Alhamdulillah keadaan istri dalam kondisi sehat. Masih mengalami mules dan harus jalan mondar-mandir di dalam rumah.

Hari gak terasa sudah malam saja. Sekitar jam sepuluh malam, istri mengalami kontraksi yang begitu hebat. Gak mikir dua kali,saya langsung melarikan dia ke rumah sakit. Saya pikir sudah bukaan tiga atau empat.  Ortu, mertua dan adek-adek sudah saya beritahu. Setelah sampai di  IGD, istri segera menuju tempat tidur di ruang IGD. Suasana hening dan terdengar suara petir menyambar. Gak lama hujan pun turun. Syahdu banget dengan bercampur suasana menegangkan !.

Saat itu dokter jaga memeriksa istri saya dan ternyata informasi dari dokter, istri sudah pecah ketuban dini tapi masih bukaan 2. Istri pun ditangani oleh perawat jaga. Obat injeksi segera diberikan ke istri. Dokter jaga ketika itu memutuskan bahwa istri saya harus di opname dan dipindahkan ke ruang bersalin. Saya sangat cemas, tapi saya berusaha menenangkan dan terus berikan semangat  ke istri biar gak kendor.


Gak memakan waktu lama, kami sudah berada di sebuah ruangan yang hening bernama ruang bersalin. Istri beristirahat disini sambil menunggu detik-detik persalinan. Saya pun berada di samping istri apapun yang terjadi. Tepat jam sebelas malam, perawat di ruang bersalin datang untuk memeriksa istri saya kembali. Hasilnya masih bukaan dua. Cemasnya, kontraksi semakin menjadi-jadi sampai istri saya seorg diri harus merasakan sakitnya kontraksi. Saya pun dibuat mules dan cemas. 

"Ibunya masih bukaan dua, jadi harus diobservasi dulu selama empat jam", kata perawat ke saya. Waktu yang begitu lama buat saya dan istri. Waktu menunggu selama empat jam bersamaan dengan kontraksi yang begitu menyakitkan. Obat injeksi sudah masuk ke tubuh istri tapi gak memberikan perubahan menjadi lebih baik.

Mondar-mandir di ruang bersalin sambil menjaga istri yg sedang kontraksi. Ruangan yg bgitu hening. Hanya menyisakan suara rintihan istri menahan kontraksi yg begitu panjang. Sesekali saya keluar sebentar untuk bergantian dengan mertua untuk menemani si istri. Dokternya belum datang dan harus menunggu menunggu dan menunggu (kayak lirik lagu).

Jam dua pagi perawat datang lagi. Hasilnya masih bukaan dua. Gimana ini ?. Ada apa dgn istri hamba ya Allah ?. Kontraksi yg dibarengi dengan naiknya asam lambung, buat saya gak tega melihat rintihan istri sambil meneteskan air mata menahan sakitnya kontraksi.

Observasi kedua dari jam dua sampai enam pagi. Waktu yang sangat lama dan panjang bagi saya terutama buat istri. Ingin rasanya menjemput dokter spesialis biar istri saya cepat tertangani. Keluarga pun sudah menunggu terlalu lama di ruang tunggu pasien. Hujan turun dengan derasnya dan suara petir menyambar seolah-olah menyambut kehadiran si kecil. Entah kebetulan atau sudah jadi cerita, tumben-tumbenan hujan turun dengan derasnya dibarengi dengan kilatan petir (mirip film-film horor Indonesia), hahaha..kebanyakan nonton film.

Hanya doa dan usaha yang masih bertahan. Semangat istri yg sudah mulai kendor buat saya semakin cemas. Saya berusaha gak mikir yang macem-macem dulu. Yang ada berusaha memikirkan cobaan ini akan berakhir dengan kebahagiaan. Hanya fokus ke istri dan selalu menemani apapun yg terjadi.

Tepat jam enam pagi sehabis saya shalat subuh, perawat datang lagi. Hasilnya tetap sama, masih bukaan dua. Sedangkan air ketuban sudah mulai keruh dikarenakan si bayi sudah buang kotoran di dalam kandungan. Segala usaha sudah dilakukan. Beri minum istri air zam-zam,kurma dan makanan yang manis-manis buat memulihkan tenaga lagi.

Saya harus mengambil keputusan cepat. Dokter melalui telepon menyuruh istri saya untuk mengambil tindakan operasi. Tadinya kami berdua memutuskan untuk normal saja. Dari hasi USG sebelumnya, posisi bayi sudah bagus. Tapi keadaan berkata lain. Berubah keputusan, mau gak mau harus operasi sesar.

Tanpa pikir dua kali, saya langsung mengiyakan saran dokter. Keputusan yang Insyaallah terbaik. Tepat jam tujuh pagi, dokter bersama tim melakukan tindakan operasi. Tepat Hari Minggu, tanggal 9 Februari 2020, jam tujuh lebih lima belas menit pagi, anak laki-laki kami telah lahir. Jagoan yang sudah kami berdua tunggu selama sembilan bulan. Alhamdulillah istri dan si kecil selamat. Anak laki-laki kami berdua dalam kondisi sehat dan cakep lagi mirip seperti ayahnya, asyik.

Terimakasi kepada tim dokter dan bidan yang sudah bekerja keras menyelamatkan istri dan anak saya. Untung tindakan operasinya tepat waktu dan semuanya berjalan dengan lancar. Alhamdulillah


Sampai tulisan ini selesai dan diposting, keadaan istri sudah mulai membaik. Si kecil sehat dan sudah memaksa kami berdua untuk piket malam, hahahaha. Malaikat kecil kami beri nama panggilan Kenzi. Anak pertama yang menjadi kado terindah kami berdua di tahun ini. Hanya dua hari bermalam di rumah sakit, dokter membolehkan kami pulang ke rumah.

Pelayanan di Rumah Sakit Permata Hati menurut saya sangat luar biasa. Segala macam tindakan medis sudah sesuai dengan SOP yang berlaku. Dokter yang sengaja saya gak menyebutkan namanya demi kode etik yang menangani istri juga sangat ramah dan enak diajak diskusi. Terimakasi dok atas pertolongannya!. Para bidan dan perawat yang cukup ramah dan cukup profesional. Dari bagian gizi juga sangat ramah dan makanannya enak-enak. Cleaning Service juga sangat telaten membersihkan ruangan pasien sehingga tetap bersih dan nyaman buat kami. Terakhir yang paling penting yaitu pemberian macam obat-obatan buat istri semuanya tepat dan aman. Semuanya berkat orang-orang di bagian Farmasi dari Apoteker sampai tenaga teknis kefarmasian. Terimakasi semuanya !.

Mohon maaf kalau fotonya gak detail dan lengkap dengan alasan di ruang-ruang tertentu kita gak boleh mengambil foto untuk menjaga privasi pasien dan keluarga. Jadi harap maklum saja. 

Pengalaman yang sangat istimewa buat saya dan istri. Next, hari-hari kami akan dipenuhi dengan tingkah laku si kecil yang menggemaskan. So, ditunggu cerita trip kami bertiga ya !. Thank's

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Wednesday, 5 February 2020

Kereta Keren Tapi Masih Sepi Penumpang : Railink Soekarno-Hatta


Bukan Jakarta namanya kalau gak langganan macet. Polusi disana-sini. Belum lagi kalau sudah terjebak macet. Tadinya jarak tempuh hanya sepuluh menit, bisa menjadi satu jam atau lebih. Bukan mengada-ngada, tapi ini realitanya. Yang sudah pernah ke Jakarta pasti punya pendapat yang sama. 
Mikir dua kali kalau mau keluar di jam-jam sibuk orang pulang kerja. Kalau saya sih baru beberapa kali ke Jakarta, tapi belum menemukan situasi yang bener-bener macet total (songong dikit). 

Pembangunan disana-sini membuat Jakarta menjadi kota metropolitan yang super megah. Jalan-jalan diperbaiki, taman-taman diperindah, moda transportasi diperbagus tapi masih banyak masalah dengan Jakarta diantaranya macet karena setiap tahun jumlah pendatang dan kendaraan semakin banyak dan banjir. Pak Jokowi juga sudah mengumumkan ibukota negara akan dipindahkan dari Jakarta ke Kalimantan Timur. So, seperti apa Jakarta esok kalau sudah gak menjadi ibukota negara lagi ?. Kita belum bisa banyak berbicara. Kembali lagi, gak ada namanya kesempurnaan kecuali Sang Maha Pecipta yang Maha Sempurna. Bener kan ?. 

Beberapa bulan yang lalu, saya ke Jakarta lagi setelah sekian lama gak pernah ke ibukota.Terakhir kali saat baru masuk kuliah. Itupun pas bareng temen jalan-jalan hanya beberapa hari saja. Pas ke Jakarta kemarin, saya pengen banget mencoba rasanya naik kereta bandara. Katanya keretanya keren seperti di negara tetangga sebelah gitu. Jadi penasaran donk. Tapi situasi gak berpihak kepada saya. Sampai di hari balik ke Lombok lagi, belum sempat naik kereta bandara. Sedikit kecewa sih, tapi  mau bilang apa. 

Beberapa bulan berikutnya, eh dapat tugas dinas ke Bekasi. Jakarta ke Bekasi kan jaraknya deket. Gak mau buang kesempatan kedua kali lagi. Pokoknya harus bisa nyobain kereta bandara. Saat itu saya berangkatnya berdua sama temen satu ruang. Dari informasinya, bila mau ke Bekasi, kita tinggal nyari Damri yang jurusan Bekasi langsung. Bener saja, kami berdua akhirnya pakai Damri karena buru-buru harus sampai hotel sebelum magrib. Alamat gagal lagi nih nyobain kereta bandara (kata saya dalam hati).

Sebagus apa sih kereta bandara Soekarno-Hatta sampai dibela-belain buat dicobain ?. Nih saya kasi alasannya. 





Jakarta sudah banyak berbenah terutama di bagian infastruktrur dan moda transportasi yang semakin tahun menunjukkan trend positif. Seperti di tetangga sebelah, Jakarta sudah memiliki TransJakarta, Commuter Line (KRL), MRT (Mass Rapid Transit), LRT (Light Rapid Transit) dan yang terbaru yaitu Railink atau biasa disebut KA Bandara. 

Untuk KRL dan MRT, saya pernah mencobanya saat ke Jakarta sebelumnya. Namanya travelers yang sedang menjalankan tugas negara, bela-belain nyari waktu longgar untuk nyobain KA Bandara. Kebetulan ada waktu yang tepat untuk menghilang dari hotel, saya berangkat ke Jakarta dari Bekasi menggunakan KRL terlebih dahulu. Berangkat dari Stasiun Bekasi sekitar jam dua belas siang. Sengaja mengambil jam segitu karena itu waktu dimana KRL lagi sepi-sepinya penumpang. Tujuan pertama menuju Stasiun Manggarai. 

Gak membutuhkan waktu yang lama, saya sudah sampai di Stasiun Manggarai. Situasi di dalam stasiun KRL saat itu cukup ramai karena Stasiun Manggarai merupakan stasiun transit teramai yang menghubungkan banyak stasiun, seperti Jatinegara, Bogor, RangkasBitung, Jakarta Kota, Tanah Abang, Bekasi dan lain-lain. 

Turun di Manggarai, saya lanjut menuju sebuah bangunan dua lantai yang terlihat masih baru. Tepat di sebelah barat Stasiun KRL Manggarai, terdapat stasiun KA Bandara. Saya bertanya ke petugas stasiun, dimana membeli tiket KA Bandara. Bapak petugas stasiun dengan sangat ramah mengarahkan menuju lantai dua. Setelah sampai di lantai dua, saya disambut oleh mbak-mbak yang menjadi petugas tiket. Mbaknya sangat ramah sekali. Memandu saya membeli tiket menggunakan vending machine ticket.

Sebenarnya untuk pembelian tiket KA Bandara sangat mudah. Pertama, kita bisa membelinya melalui aplikasi Railink yang bisa didownload dulu via Play Store atau IOS. Setelah itu buka aplikasinya dan ikuti prosedur yang ada. Di aplikasi Railink, kita bisa melihat jadwal keberangkatan KA Bandaranya. Jadi sebelum membeli, sesuaikan dengan jadwal penerbangan kalian ya. 

Kedua, pembelian bisa melalui go show atau beli melalui vending machine ticket yang sudah tersedia di dalam stasiun. Bagi saya lebih enak beli tiket secara go show dengan alasan gak buru-buru. Caranya sangat mudah, pertama kita berdiri di hadapan vending machinenya (jangan lupa senyum). Selanjutnya, tentukan tujuan mau kemana dengan menekan layar machine sesuai dengan stasiun yang dituju. Saya menekan Stasiun Soekarno-Hatta International Airport (SHIA). Ada lima pemberhentian khusus KA Bandara yaitu Stasiun Manggarai - Stasiun Sudirman Baru BNI City - Stasiun Duri - Stasiun Batu Ceper dan terakhir SHIA. Begitu juga sebaliknya. 

Setelah itu, masukkan nomor handphone yang masih aktif. Tujuannya sih saya kurang tau ya kenapa diminta nomor handphone. Biasanya sih ditransaksi lain mintanya kalau gak nama lengkap sesuai dengan KTP, ya nomor rekening, hehehe. Setelah memasukkan nomor handphone. Baru ke tahap selanjutnya yaitu pembayaran yang diterima berdasarkan non tunai, seperti menggunakan kartu debit atau kartu kredit, tap cach (T-Cash atau BRI Brizzi). Kalau saya, pakai kartu debit saja biar gak ribet. Harga tiket per orangnya sebesar 70 ribu. Buat kalian murah atau mahal ?. 

Setelah itu, tiket akan keluar secara otomatis dari machine. Di tiket sudah tertera stasiun keberangkatan dan stasiun tujuan. Jadwal keberangkatan kereta dan masih banyak lagi keterangan yang ada tertera di tiket. Sejauh ini lumayan kece buat saya. Pertama kalian merasakan beli tiket kereta non tunai pakai kartu debit pula, hahaha...dasar anak pulau. 




Setelah tiket dicetak, saya diarahkan untuk menunggu di ruang tunggu penumpang. Penampakan di stasiun Railink Manggarai cukup kece, megah seperti di luar negeri. Gak kalah dengan stasiun MRT Jakarta yang pernah saya coba sebelumnya. 

Lagi-lagi tujuan saya ke Bandara Soeta bukan balik ke Lombok atau naik pesawat. Tujuan sebenarnya pengen nyobain Railink ini saja. Penasaran dari kata orang dan nonton di youtube betapa kerennya ini kereta. Dibilang kurang kerjaan sih gak juga. Tapi saya memang hobi nyobain moda transportasi yang bagi saya sangat menyenangkan melakukan perjalanan bersamanya, asyik kayak judul lagu saja. 

Dari informasinya, KA Bandara berangkat setiap setengah jam sekali. Jadwal lebih lengkapnya kalian bisa cek di aplikasi Railink ya. Disana sudah jelas keberangkatan awal dan terakhir baik dari Stasiun Manggarai maupun SHIA. Untuk sementara, jalur KA Bandara baru sampai Stasiun Manggarai. Wacananya akan diperpanjang hingga stasiun Bekasi. Semoga saja, Amin. 

Ada sisa waktu lima belas menit sebelum kereta berangkat, saya sempat berkeliling stasiun. Di dalam stasiun terdapat mushola, toilet dan ruang tunggu penumpang yang cukup bersih. Saya suka dengan fasilitas yang ada. Di dinding kaca, ada jalur lengkap perjalanan menggunakan KRL yang menghubungkan dengan KA Bandara. Ruangannya sangat adem dan sejauh ini pelayanan yang diberikan sangat memuaskan. Situasi di dalam ruang tunggu cukup ramai oleh penumpang yang akan melakukan perjalanan menggunakan pesawat. Mungkin hanya saya saja orang iseng dan songong yang jalan-jalannya naik KA Bandara.






orang songong yang ketumbenan naik KA Bandara 

Tepat jam satu siang, kami dipersilahkan menuju kereta yang sudah nongkrong di jalur enam Stasiun Manggarai. Gerbong keretanya saya hitung berjumlah enam gerbong. Gerbongnya warna dasar putih dengan garis biru dan orange di bagian sisi bawah dan atas. KA Bandara buatan dari PT INKA Madiun. Keren !. 

Saya duduk di gerbong enam. Kita bebas mau duduk dimana saja karena di tiket gak tertera nomor seatnya. Tanya ke pramugarinya, "boleh duduk dimana saja ?". "Iya, silahkan mas", jawab mbak pramugarinya dengan senyuman manis (woi inget istri di rumah). 

Suasana di dalam kereta cukup lenggang. Hanya beberapa biji manusia saja yang nongol termasuk saya. Bisa dihitung dengan jari tangan. Buat saya sih nyaman dan asyik kalau sepi begini. Gak seperti suasana di dalam KRL saat jam sibuk. Kursinya empuk dan lebar, apalagi ada tempat colokan USB dan handphone. Jendelanya cukup lebar seperti jendela kereta eksekutif jarak jauh lengkap dengan tirainya. Ada tempat menaruh koper dan tas juga. Toiletnya juga super bersih, perut jadi mules liat toiletnya. Ruangannya adem banget dan yang paling penting keretanya jalannya mulus. 

Menurut jadwal sampai di Stasiun Soekarno-Hatta sekitar jam dua siang. Berarti perjalanan memakan sekitar lima puluh menit. Oke, saatnya bersiap memulai perjalanan. Tepat jam satu lebih sepuluh menit, suara "puoong" kereta terdengar. Artinya kereta akan berangkat dan ada waktu kurang satu jam menikmati perjalanan yang pertama kali buat saya.









Jalannya kereta cukup cepat. Sama seperti kereta jarak jauh. Saat duduk, saya gak merasakan banyaknya goyangan dari kereta. Keretanya sangat kece dan nyaman. Sayangnya, belum banyak orang yang mau naik kereta ini. Bisa dilihat dari suasana di dalam kereta yang cukup lenggang. Kita bisa duduk dimana saja. Mau berpindah tempat duduk juga bisa tanpa segan dengan penumpang lainnya. Tik Tok kan juga bisa asalkan jangan sampai mengganggu penumpang lainnya. 

Gak mau banyak berkomentar, saya hanya menikmati perjalanan sambil foto-foto pemandangan yang cukup keren buat saya. Melewati perkampungan kumuh di sekitaran Stasiun Tanah Abang. Berganti arah di stasiun Duri. Tadinya kita berjalan maju, tapi dari Stasiun Duri ke Soeta, kita berjalan mundur. Gak mau merasakan berjalan mundur, saya berpindah ke kursi yang berjalan maju. 

Pemandangan yang paling kece buat saya sepanjang perjalanan yaitu saat akan sampai di Stasiun Soeta. Kereta akan berjalan di sebelah runway 1 Terminal 1 Bandara Soeta. Banyak melihat pesawat yang parkir. Ada juga saya mendapatkan moment dimana ada pesawat yang take off dan landing. Sunggug pemandangan yang gak ada duanya. 

Gak lama kemudian, kereta sampai di stasiun terakhir (SHIA). Saya bersama penumpang lainnya turun disini. Penampakan stasiunnya luar biasa keren. Lebih keren dari stasiun KA Bandara lainnya yang saya lewati. Di dalam stasiun kereta Soeta cukup ramai. Ternyata banyak penumpang yang akan menaiki kereta dari sini. Tapi kembali lagi, masih jauh dari kata ramai. 

Fasilitas di dalam stasiun kereta bandara Soeta cukup lengkap. Dari layar jadwal KA Bandara. Ruang tunggu penumpang, tenan, dan akses menuju Terminal 1,2 dan 3. Untuk menuju ketiga terminal tersebut kita bisa melanjutkan perjalanan menggunakan Skytran atau bahasa kerennya "Kalayang". Sayangnya, saya belum sempat mencoba naik Kalayang. Next time pasti naik ini Kalayang. 

Istirahat sejenak di stasiun ini sambil cuci mata dan peregangan otot pantat dan pinggang. Setelah itu saya membeli tiket untuk balik ke Stasiun Manggarai. Kurang kerjaan kan ?. hahahhaa. Bagi yang membaca ini cerita, mungkin beranggapan saya kurang kerjaan. Tapi buat saya, ini namanya menikmati perjalanan, Asyik. 

Kesimpulan yang saya bisa dapatkan setelah mencoba KA Bandara ini yaitu tarif tiketnya masih mahal buat saya pribadi. Mungkin itu alasan utama kenapa kereta kece ini masih sepi penumpang. Sejak dioperasikan mulai 2 Januari 2018 lalu, kereta ini mengalami peningkatan dalam jumlah penumpang. Tapi masih saja jauh dari kata ramai. Saran saja buat yang membuat kebijakan, kalau bisa tarif tiketnya diturunkan. Kalau lebih murah lagi, saya jamin banyak yang menggunakan layanan kereta ini. Ya kan ?.

Kereta Bandara (Railink) bisa menjadi solusi mengatasi kemacetan bagi kita yang datang dari berbagai daerah untuk melakukan pekerjaan dinas di ibukota Jakarta. Kembali lagi ke pilihan kita, mau naik moda transportasi lainnya dengan harga lebih murah tapi sewaktu-waktu terkena macet atau mencoba kereta bandara dengan harga yang lebih mahal sedikit, tapi sampai tepat waktu di tujuan. 

Pilihannya, ada di dompet kalian masing-masing. Sekian 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra



Tuesday, 28 January 2020


Biasanya lihat di media sosial kepadatan para penumpang KRL terutama di jam-jam sibuk, pagi dan sore hari. Gak kebayang kalau saya benar-benar berada di tengah kepadatan para penumpang yang naik KRL. Berdesakan, panas dan rawan akan tindak kejahatan. Bayangan itu berubah menjadi nyata. Saya benar-benar merasakan suasana gimana padatnya para penumpang yang berada di dalam gerbong kereta. Gak dapat jatah duduk, berdiri pun jadi. Lirik kanan-kiri, ada yang tua, anak-anak, laki perempuan berkumpul menjadi satu di dalam gerbong kereta favorit warga Jabodetabek saat ini.

Di awal tahun 2020 ini, saya berkesempatan ke Jakarta lagi. Tepatnya ada perjalanan dinas ke Bekasi, Jawa Barat. Namanya Bekasi, gak jauh-jauh dengan Jakarta. Kita yang lagi di Bekasi, bisa dengan mudah datang ke Jakarta. Banyak transportasi umum yang bisa kita pilih. Dari bus Damri/AKAP, Commuter Line (KRL) dan gak lama lagi akan hadir LRT Jabodebek lhoo. Proyek pembangunannya sedang dalam proses pengerjaan. 

Berhubung stay di Bekasi kurang lebih lima malam, gak ada salahnya donk jalan-jalan ke Jakarta. Setelah tugas semuanya sudah beres, saya bareng temen-temen dari daerah lain janjian nyari oleh-oleh ke Tanah Abang dan Tamrin City, Jakarta Pusat. Kami memilih untuk mencoba naik KRL dari Stasiun Bekasi menuju Stasiun Tanah Abang. Ini pengalaman pertama saya mencoba moda transportasi satu ini. Dulu pernah naik KRL ekonomi jaman gak enak, banyak pengamen, pedagang dan preman pastinya. Tapi KRL sekarang sudah berubah lebih baik lagi. Pastinya gak ada preman, pedagang dan pengamen yang mondar-mandir di dalam gerbong kereta lagi.

Gimana ceritanya, yuuk dibaca sampai selesai !



Berawal dari Abang Fauzan yang mengajak saya mencari pakaian murah di Tamrin City. Berhubung hari itu kegiatan sudah selesai, tinggal menunggu acara penutupan sore harinya, saya mengiyakan ajakan si abang. Rencana jalannya pagi sehabis sarapan di hotel. Kami gak berdua yang akan ke Tamrin City, tapi ada tiga orang temen yang ikut dalam rombongan. Jadi, kami berangkat berlima. Seru nih rame-rame perginya.

Untuk menghindari macet, kami naik KRL dari stasiun Bekasi. Jarak dari hotel gak begitu jauh. Kurang lebih lima menit saja, kami sudah sampai di depan pintu masuk stasiun yang sedang dalam tahap renovasi. Kami menggunakan ojol dari hotel untuk mempersingkat waktu dan jarak tempuh. Kebetulan aplikasi ojolnya sedang ada promo menyambut Hari Raya Imlek nih. 

Ini pertama kalinya saya mencoba merasakan sensasi naik KRL. Sudah lama saya ingin merasakan naik KRL yang kata orang-orang sekarang pelayanan dan fasilitas yang diberikan sudah semakin baik. Sesampai di pintu masuk stasiun, kami segera membeli tiket di loket. Tiketnya bisa dibeli Go Show ya. Harganya pun sangat murah yaitu 3 ribu rupiah saja dari Bekasi ke Tanah Abang. Masing-masing penumpang mendapatkan tiket dalam bentuk kartu yang didepositkan seharga 10 ribu. Uang kita bisa kembali setelah kita selesai bepergian menggunakan KRL pada hari yang sama dengan cara menukarkan kartu sekali jalan ke loket kembali. Bentuk kartunya bisa dilihat di atas ya !

Dengan kartu ini kita baru bisa masuk dan keluar stasiun. Jadi jangan hilangkan kartu ini bila masih menggunakannya. Bisa-bisa kalau hilang, turun dari KRL eh malah gak bisa keluar stasiun tujuan.  Kan lucu ceritanya. Suasana di stasiun Bekasi pagi itu cukup ramai. Ternyata kita berangkatnya kepagian alias masih kategori jam sibuk. Tapi gak apa-apa, sudah terlanjur juga. Dari stasiun ini, kami menaiki KRL jurusan Jakarta Kota transit stasiun Manggarai. 

Untuk tipsnya, kita jangan sampai kebingungan kereta mana yang akan dinaiki. Setiap peron ada running textnya yang bertuliskan tujuan kereta. Kalau masih ragu, kita bisa menanyakan kepada petugas berbaju hitam dengan rompi berwarna hijau muda lengkap dengan topi berwarna orange. Abang petugasnya ramah-ramah dan hafal jalur kereta. Jelas harus hafal, kalau gak hafal nanti kita dapat zonk. Mau ke Tanah Abang eh malah ke Bogor. Mau ke Tamrin City, eh malah ke hatimu, asyik.

Lanjut !.








Kami sudah siap, pasrah dan tetap waspada dengan kondisi sekitar. Kereta yang akan membawa kami ke stasiun Manggarai berada di jalur 3. Kurang dari lima menit lagi, kereta akan berangkat. Kami sadar kalau kecil kemungkinan mendapat tempat duduk. Masuk di gerbong paling depan, suasana di dalam gerbong sudah ramai banget. Hampir seluruh tempat duduk sudah terisi semua. Ada yang sampai sudah berdiri memegang pegangan tangan yang tergantung di bagian sisi atas gerbong.

Kami gak menyerah, saya bersama yang lainnya terus berjalan menuju gerbong demi gerbong sampai kami berada di gerbong paling tengah. Hasilnya sama juga, gak ada tempat duduk buat kami. Yasudah, kami akhirnya berdiri memegang pegangan tangan yang menggantung sambil bersenda gurau. Saya memilih untuk berdiri di sisi sebelah kanan pintu kereta. Tepat lima menit kemudian, pintu kereta tertutup otomatis. Saya mendengar informasi dari toa yang berada di sudut stasiun bahwa kereta akan segera berangkat menuju stasiun selanjutnya. 

Saya pun tersenyum dan senang dalam hati. Akhirnya saya pun naik KRL juga. Agak katrok memang, tapi inilah saya. Saya sangat suka bepergian menggunakan transportasi umum dari bus, kapal laut, pesawat dan kereta. KRL berjalan dari lambat dan perlahan-lahan semakin cepat. Suara gesekan roda dengan rel kereta begitu khas. 

Suasana di dalam kereta cukup hening. Gak nyangka ternyata para penumpang cukup tertib. Sangat nyaman sekali dan paling penting di dalam gerbong kereta sangat adem. Jalan kereta sangat mulus, masinisnya cukup cekatan menjalankan kereta ini. Berbeda dengan dua belas tahun yang lalu, dimana KRL dulu dikenal dengan sebutan kereta listrik kelas ekonomi. Dimana gerbong yang dipenuhi oleh penumpang yang saling berdesakan. Ditambah lagi dengan pedagang, pengamen dan gak jarang kita temui preman yang memasuki gerbong kereta. Manalagi KRL jaman dulu ada dua jenis, ada yang pakai ac dan non ac. Harganya pun berbeda, jelas lebih mahal yang pakai ac. Sekarang KRL kelas non ac sudah dihapus. Lebih nyaman dan aman lah sekarang dibandingkan dulu. God Job buat pemerintah yang selalu memperhatikan perkembangan perkeretaapian. 







Kurang dari setengah jam, kami sudah tiba di stasiun Manggarai. Kami turun dari kereta untuk transit disini. Melanjutkan perjalanan dengan KRL yang berbeda. Kami harus menunggu KRL yang melewati stasiun Tanah Abang. Bisa dibilang stasiun Manggarai merupakan stasiun transit terbesar yang memiliki banyak percabangan. Bagi yang akan ke Bogor, Cikarang, Tangerang, Tanah Abang, Kemayoran, Bekasi, Sudirman dan Jakarta Kota transitnya di stasiun Manggarai. Pertama-tama ribet memang, tapi kalau sudah dipelajari gak begitu susah. 

Makanya di dalam gerbong kereta, di atas pintu kereta tertempel jalur KRL se-Jabodetabek. Tujuannya untuk mempermudah para penumpang yang baru pertama kalinya naik KRL. Jalur yang tertempel sudah jelas memberikan informasi jalur mana saja yang dilewati KRL dari Bekasi, Bogor hingga sampai ke Jakarta Kota. Semuanya nama stasiun tertera di dalam KRL Maps. Bila masih ragu atau ingin mempertegas, kalian jangan segan-segan tanya penumpang di sebelah kalian. Mungkin saja mereka paham sama jalur yang kalian tanyakan. 

Gimana suasana di Stasiun Manggarai alias stasiun transit menuju Tanah Abang ?

Luar biasa ramai nan padat. Sudah jam sepuluh pagi, para penumpang masih ramai saja. Lebih ramai daripada penumpang yang hilir mudik di stasiun Bekasi. Sudah jelas penyebabnya karena ini stasiun transit. Penumpang dari berbagai arah, bertemunya di stasiun ini. Pemandangan yang cukup menghibur buat saya. Gak lupa suasana di stasiun saya abadikan dalam sebuah foto-foto yang lumayan lah, maklum fotografer amatiran. Saya terheran-heran, ini orang yang jumlahnya banyak banget datangnya darimana saja ?. Gak habis-habis yang naik dan turun kereta. 

Kurang lebih sepuluh menit, kami harus menunggu kereta yang akan menuju stasiun Tanah Abang. Disini kami harus bertanya lagi dengan petugas, jalur berapa kereta yang akan ke stasiun Tanah Abang. Bapak petugas memberitahukan kalau kereta ke Tanah Abang datang dari jalur 5. Kami langsung buru-buru berjalan menuju jalur 5 karena kereta akan segera tiba. 

Bener dugaan saya, keretanya lebih ramai lagi dari kereta sebelumnya. Hampir penuh dengan penumpang. Gak dapat tempat duduk, akhirnya kami berlima berdiri lagi. Telapak kaki sudah terasa pegal tapi harus dinikmati perjalanannya. Untung saja, jarak yang ditempuh gak terlalu jauh. Hanya melewati satu stasiun saja yang saya lupa namanya, akhirnya kereta kami sudah tiba di stasiun Tanah Abang. 

Kereta berjalan melambat dan akhirnya berhenti dengan sempurna. Pintu otomatis terbuka dan kami bersama penumpang lainnya, turun dari kereta di stasiun Tanah Abang. Waaah, stasiun ini sudah banyak mengalami perubahan. Sudah keren dan nyaman. Tapi tetap saja penumpang yang turun dan naik disini sangat ramai. Bisa dibilang yang ke Tanah Abang juga sangat ramai di jam-jam segini. 

Kesimpulannya apa ?.

Saya baru tau kalau penampilan KRL sekarang gak sejelek yang saya bayangkan, peace. Pertama kali naik KRL Jabodetabek saya langsung takjub. Keren, mewah, nyaman, wangi, kursinya empuk, aman dan yang paling penting bersih. Jadi pengen naik lagi di lain kesempatan. Next time kalau ke Jakarta lagi, saya bakalan naik transportasi umum ini. Apalagi harganya sangat terjangkau. 

Buat kalian yang belum berkesempatan mencoba KRL, boleh dicoba kalau ke Jakarta. Aksesnya juga sangat terjangkau, sudah terhubung dengan shelter TransJakarta, MRT, LRT dan stasiun kereta api jarak jauh seperti Stasiun Pasar Senen, Gambir, Tanah Abang, Jatinegara dan Bogor.

Saran saja, kalau ingin naik KRL bisa menghindari waktu-waktu sibuk seperti jam enam pagi dan jam lima sore hingga delapan malam. Khusus di stasiun Manggarai, bila yang ingin melanjutkan ke bandara Soekarno Hatta, kalian bisa mencoba menggunakan kereta bandara. Saya sudah mencobanya. Gimana ceritanya, sabar dulu ya. Di postingan selanjutnya saya akan menulis kesan-kesan naik kereta bandara dari stasiun Manggarai ke Bandara Soekarno Hatta. 

Comming Soon !!!

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Friday, 17 January 2020

Black Burger It's Milk Lombok Enak Banget, Cobain Dah !


Masih inget dengan tulisan saya di It's Milk Lombok beberapa tahun yang lalu ?. Bener banget, sekitar awal November tahun 2016 lalu, saya pernah mereview kedai yang pada waktu itu sedang ngehits. Wah sudah lama banget reviewnya ya. Apa masih ngehits sampai sekarang ya ?.

bisa dibaca disini juga : It's Milk Lombok

Di awal tahun 2020 alias empat tahun berlalu, ada yang baru dari It's Milk Lombok. Berhubung sudah jarang nongki-nongki di cafe, saya baru tahu cafe kece ini pindah alamat ke tempat yang bisa dibilang sangat strategis dari tempat sebelumnya.

Saat itu saya bareng istri sedang mencari tempat santai sambil dinner. Maklum kami berdua lagi suntuk di rumah. Pengen nyari tempat yang santai dan bisa ngobrol-ngobrol. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk dinner di It's Milk Lombok yang baru. Lokasinya gak terlalu jauh dengan tempat yang lama. It's Milk Lombok berlokasi di jalan Majapahit. Tepat di depan Kampus Universitas Mataram (Unram) atau depan Rumah Sakit Unram yang baru. bila kalian masih bingung, lokasinya gampang banget. Dari Lombok Epicentrum Mall ambil arah menuju Kampus Unram. Pas sampai di bundaran Unram, It's Milk berada di sebelah kiri jalan. Di google maps masih tercantum lokasi yang lama ya. Jadi jangan bingung !.










Bisa dibilang It's Milk di lokasi barunya menjadi tempat nongkrong terhits saat ini. Cafe ini buka dari jam sepuluh pagi sampai sebelas malam. Bagi yang ingin makan siang bareng temen kantor (bukan selingkuhan lhoo ya), bisa datang ke cafe ini. Kalau saya sih lebih suka datangnya sore atau malam karena tempatnya keren, lampunya unik-unik dan gak panas juga. Tapi kembali ke selera lhoo ya.

Bila ditanya lebih enakan lokasi lama atau yang baru, pasti saya menjawab lebih enakan tempat yang baru. Disini ruangnya lebih luas, jadi gak khawatir kehabisan tempat duduk. Apalagi ruangnya terdiri dari outdoor dan indoor. Bagi yang suka ngumpul rame-rame dan ahli hisap, bisa memilih di tempat outdoor. Sedangkan yang lebih ingin ada suasana privat atau pengen nyari ketenangan alias ngadem, bisa memilih indoor karena ada AC nya broo.

Kebetulan saya bareng istri datangnya habis shalat magrib. Suasana cafenya masih sepi pengunjung. Perlu kalian tau, cafe ini selalu dipenuhi oleh anak-anak muda tiap sore sampai malam. Ada yang datangnya ramai-ramai satu genk. Ada yang bareng gebetan, tapi gak tau itu gebetan atau selingkuhan. Ada yang bareng temen bisnis. Dan seperti saya datangnya bareng istri tercinta sepanjang masa, hahaha.

Jangan saya disuruh menghitung jumlah meja kursi di cafe ini. Pastinya meja dan kursinya keren, jumlahnya banyak dan gak perlu khawatir kehabisan. Kami berdua memilih duduk di ruang indoornya. Suasananya nyaman, adem dan gak berisik. Lagu-lagunya yang diputar juga update banget. Ruang indoornya sih gak terlalu luas, tapi nyaman kok buat kami berdua.

Nah, setelah dapat tempat duduk yang agak nyaman. Saya langsung ke meja resepsionis untuk memesan makanan. Sistem memesan makanan disini, kita diberi selembar kertas yang isinya daftar menu. Tinggal centang mana saja yang akan diorder. Karyawannya juga sangat ramah. Bila ditanya tentang menu yang kami kurang paham, mereka gak segan-segan untuk menjawabnya dengan jelas. Senyumnya juga gak lupa, harus itu senyum biar pelanggan betah datang kesini.

Oke, sekarang kita bahas menu-menu yang kami berdua pesan. Jadi gak sabaran direview satu per satu. Sudah siap laper ?. 


Black Burger (BB)

Sudah pada tau kan menu satu ini ?. Hampir semua anak jaman sekarang sangat paham bahkan sering sekali memakan cemilan satu ini. Banyak yang bilang sih ini jenis junk food, tapi menurut saya ini makanan sehat. Ada roti, sayur-sayuran, potongan daging sapi/ayam, saos tomat, saos cabe dan lain-lain. 

Burger yang saya pesan kali ini warna rotinya hitam lhoo. Beberapa tahun ini, black burger sudah akrab di lidah kita orang Indonesia. Warna hitamnya berasal dari bambu hitam yang berasal dari Jepang. Buat saya black burger ala It's Milk memiliki cita rasa tersediri. Saya suka dengan tekstur roti hitamnya, empuk dan enak banget. Berbeda dengan roti pada burger biasanya. Ini sangat empuk dan lembut dilidah. Di dalamnya ada potongan daging ayam, sayur-sayuran, irisan tomat, bawang bombai dan saosnya itu lhooo, lumer dilidah. Bikin nambah laper dibuat. 

Kalau diajak datang lagi ke It's Milk, saya pasti akan memesan Black Buger lagi. Makanan pembuka yang saya bareng istri cicipi sambil menunggu menu utama datang. Ukurannya juga sedang, gak besar ataupun gak kecil. Jadi gak kenyang duluan bila dijadikan menu pembuka. Seporsi Black Burger diberi harga 15 ribu. Cukup murah dan sangat enak, rekommended buat dicoba. 

 Indomie pakai kuah
Indomie gak pakai kuah

Noodle Bowl With Chicken Katsu

Menu utama yang kami pesan yaitu menu di atas. Agak susah nyebutnya kalau pakai bahasa Inggris. Intinya ini indomie yang diberi potongan daging ayam yang digoreng pakai tepung dan diberi potongan sayuran dan kuah. Disini kami memesan dua macam yaitu Indomie yang diberi kuah dan Indomie goreng.

Soal rasa, gak perlu diragukan lagi. Berhubung kami berdua doyan makan indomie tapi kami bukan berarti anak generasi micin ya. Saat buka daftar menu, ada menu ini yasudah langsung saja kami pesan. Apalagi sore tadi turun hujan dan masih dalam suasana hujan rintik-rintik, pas banget makan yang hangat-hangat. Seporsi Indomie ....... (lanjutin sendiri) seharga 18 ribu. Enak dan murah banget. 

Selamat makan !. Bentar dulu, kok buru-buru makan sih ?. Belum selesai nih ceritanya.

Banana (Yellow) & Bubblegum (White)

It's Banana Milk Premium

Buat saya kalau mendengar kata It's Milk, dibayangan saya pasti terpintas It's Banana Milk Premiumnya. Minuman es susu satu ini paling enak buat saya. Apalagi perpaduan antara rasa susu dan pisangnya itu membuat betah lama-lama nongkrong disini. Ukurannya juga bisa kita pilih, ada ukuran premium dan pertamax. Saya lupa harganya beda atau gak. Pastinya kalau premium, ukuran gelasnya agak kecilan dibandingkan yang pertamax. Kayak istilah bahan bakar di SPBU saja ya, hehehe. 

Bagi yang suka susu, wajib dicoba. Selain pisang, ada juga rasa yang lain. Bisa kalian lihat sendiri di daftar menunya ya. Segelas It's Banana Milk Premium diberi harga 12 ribu. Untuk ukuran minuman ini murah banget. Kalau di cafe ternama lainnya, mana ada harga segitu. Bener kan ?, hehehe

It's Bubblegum Milk Premium

Berbeda dengan istri saya. Dia memesan segelas It's Bubblegum Milk Premium. Saya sih belum pernah mencicipi minuman es susu ini. Dari penampakannya sih, warnanya putih seperti susu biasanya. Pas dicoba, sensasinya itu lhoo. Ternyata rasanya seperti permen karet. Bener-bener rasa permen karet. Kalau saya sih kurang begitu suka dengan rasanya. Lebih baik ngunyah permen karet saja lebih baik. Tapi berbeda dengan istri saya. Dia begitu suka dengan rasanya. Katanya seger dan nyes nyes. 

Bagi yang doyan dengan minuman es susu ini, gak ada salahnya dicoba. Segelas minuman susu ini diberi harga 10 ribu. Lebih murah dibandingkan dengan It's Banana Milk Premium. Mungkin saja harga pisang yang lebih mahal dari permen karet, hehehe.... i just kidding guys. 


Tempura Yummy

Menu terakhir yang kami pesan yaitu tempura. Untuk rasa tempuranya oke, tapi tekstur tempuranya yang agak keras. Mungkin saja terlalu over cook, jadi warnanya juga terlalu kecoklatan. Mungkin sedikit saran saja, tempuranya digoreng jangan terlalu lama. Sebentar saja, pasti renyah dan enak dimakan selagi panas. 

Tempura Yummy cukup lumayan melengkapi daftar menu yang kami pesan di It's Milk. Sejauh ini kami berdua sangat puas dengan pelayanan disini. Waktu tunggu pesanan juga gak terlalu lama. Bahkan sangat cepat menurut saya. Tempat juga nyaman dan sangat asyik. Bisa ngadem sambil ngerjain tugas pakai laptop karena banyak colokan. Tapi ada yang kurang yaitu area parkirannya yang menurut saya cukup sempit. Sukses terus buat It's Milk Lombok. 

Ceritanya sudah selesai. Gimana sudah laper belum ?. Yuuk makan, Selamat Makan !

Tulisan ini disponsori oleh kamera Oppo F1s dan duit sendiri. Sekian dan Terimakasi :)


Penulis : Lazwardy Perdana Putra