Saturday, 10 April 2021


Bisa bersantai bareng dengan keluarga besar itu bersyukur banget. Apalagi bisa ke pantai sambil menikmati suasana sore hari. Menunggu senja tiba dan menikmati segelas kopi. Duh nikmat sekali. 

Kebetulan sebelum Puasa Ramadhan, ada long weekend. Saya bersama keluarga besar, berkunjung ke rumah nenek di Desa Batuyang, Lombok Timur. Waktu tempuh perjalanan dari Kota Mataram kurang lebih dua jam. Berangkat sekitar jam sembilan pagi. Bapak mama sebelumnya menjemput kami di rumah. Maklum, saya bersama keluarga kecil sudah pindah ke rumah baru di daerah Lombok Barat.

Dari rumah kami, perjalanan dilanjutkan menuju arah Lombok Timur. Melewati Kediri, Narmada, Mantang, Kopang, Terara, Sikur, Masbagik, Aikmel, Apitaik dan finish di Desa Batuyang yang letaknya berdekatan dengan Pohgading dan Pringgabaya, Lombok Timur. Cuaca cerah dan sangat bersahabat, perjalanan lumayan ramai lancar.

Berjumpa dengan nenek dan anggota keluarga lainnya adalah kebahagiaan buat kami. Alhamdulillah nenek sudah sehat dan bisa beraktivitas seperti biasanya. Jadi beberapa minggu sebelumnya, nenek jatuh sakit dan dilarikan ke klinik dekat rumah beliau. Sempat beberapa hari dirawat, nenek akhirnya diijinkan pulang ke rumah. Baru beberapa hari kemudian kami baru bisa menjenguk beliau. Melihat nenek sudah bisa tertawa melihat cicitnya yang datang, membuat hati kami semua lega. 

Berhubung nenek sudah sehat, kami berencana untuk refreshing sejenak. Kebetulan ada tempat bersantai yang asyik yang lokasinya gak jauh dari rumah nenek. Jadi, kami pergi bareng-bareng kecuali nenek yang gak mau diajak. Beliau lebih nyaman beristirahat di rumah saja. Oke kalau begitu. 

Tempatnya sih rekomendasi dari kedua adek sepupu yang bernama Desi dan Wulan. Kata mereka tempatnya kece dan ada cafe-cafenya. Terpenting makanan dan minumannya enak. Sekitar jam lima sore, kami menuju lokasi. Sebut saja namanya, Pantai Tanjung Menangis atau orang sekitar menyebutnya Pantai Segara. Sempat bingung sih kenapa namanya Segara, padahal di tulisannya Pantai Tanjung Menangis. 



Jadi menurut penuturan kedua adek sepupu saya, dulu memang disebut Pantai Segara yang diambil dari bahasa Sasak memiliki arti pantai lautan. Emang bener sih yang dilihat di pantai itu hamparan lautan luas. Tapi seiring berjalannya waktu, pantai ini diberi nama Pantai Tanjung Menangis. Ada juga yang menamainya Pantai Ketapang. Menurut saya sih, hal ini gak perlu diperdebatkan. Atau temen-temen yang tau sejarah kenapa pantai ini punya tiga nama ?. Bisa isi komentar di bawah !. 

Jalur menuju pantai ini dibilang gak begitu sulit. Dari perempatan Pringgabaya (eks Pasar Pringgabaya) atau di Puskesmas Batuyang, kita berbelok ke kanan. Kondisi jalannya ada yang kurang baik dan ada yang mulus. Tapi disepanjang perjalanan, kita dimanjakan oleh hamparan persawahan dan deretan perkebunan kelapa. Apalagi kalau cuaca cerah, kita bisa melihat megahnya Gunung Rinjani. Masih di musim penghujan ini, kami beruntung bisa menikmati hijaunya persawahan dan tanaman lainnya. Kece dah pokoknya. 

Sekitar dua kilometer, kami melewati jalanan yang lumayan baik sampai di pintu gerbang "Selamat Datang di Pantai Tanjung Menangis". Sore itu suasana di sepanjang pantai sangat ramai oleh anak-anak muda dari desa sekitar. Mereka ada yang nongkrong bareng temen, keluarga, pacar, atau gebetan. Suasananya mirip seperti salah satu tempat nongkrong di Lombok Barat bernama Tanjung Bias yang sedang ngehits sampai sekarang. 






Banyak dibuka cafe-cafe lengkap dengan atributnya. Kecenya lagi tempatnya keren. Meskipun pantainya berpasir hitam, menurut saya ini hitamnya beda. Hitamnya pekat dan lembut. Cocok buat bersepeda di pinggir bibir pantai. Beda dengan pantai berpasir hitam yang pernah saya datangi. 

Setelah turun dari kendaraan, kami mencari tempat untuk bersantai. Meskipun banyak cafe disini, kami mencari yang gak banyak orang dan bisa buat duduk nyaman. Maklum saja, di jaman Covid-19 yang gak tau kapan berakhir ini, kami harus menjaga diri. Jadi harus pandai-pandai mencari tempat bersantai. 

Pilihan kami jatuh pada Nakama Cafe Taman Sakura, salah satu cafe diantara cafe-cafe lainnya yang cukup kece. Bukanya dari sore hari sampai malam. Uniknya ada deretan tanaman bunga sakuranya. Ini bunga gak asli Bunga Sakura lhoo ya. Hanya saja, dirangkai menyerupai pohon dengan bunga-bunga sakuranya yang terbuat dari bahan pelastik. Cukup instagramable untuk eksis foto-foto. Serasa seperti di Jepang. 







Menariknya disini, tempat duduknya yaitu bean bag warna-warni dan meja kayu. Pasir pantainya juga bersih dan gak banyak sampah yang berserakan. Angin laut juga gak kencang dan gak ada ombak. Pas banget untuk sekedar bermain air dan berenang di pantai ini.  

Menurut beberapa artikel yang sudah saya baca dari pantai ini, ada kepercayaan apabila mandi di air laut Pantai Tanjung Menangis bisa mengobat beberapa penyakit seperti asam urat, gatal-gatal di kulit, stroke, rematik, pegal linu dan lain sebagainya karena ada kandungan zat ionnya. Bisa percaya bisa gak, tapi buat saya duduk di pantai dan berenang itu bisa meningkatkan imunitas dan buat suasa hati happy. Bener gak ?. Kapan-kapan saya pengen berenang disini dah kalau kesini lagi. 

Semakin sore, langit semakin cerah dan berwarna orange. Dari kejauhan, di sebelah utara terlihat Bukit Kayangan dan Gunung Rinjani yang sangat kokoh. Di sebelah barat, terlihat matahari sebentar lagi akan tenggelam. Di sebelah timur atau yang menghadap Selat Alas terlihat deretan perbukitan Pulau Sumbawa yang sangat indah. 

Duduk bersantai sambil melihat buku menu, ada beberapa menu yang kami pesan. Meskipun namanya Nakama Cafe, bukan berarti menunya ada sushi, dorayaki (kesukaan Doraemon), atau donburi. Di cafe ini menunya ala-ala cafe jaman sekarang. Kebanyakan sih cemilan sih yang saya ingat. So, saya gak tau juga kenapa dinamakan Nakama Cafe. Mungkin ada yang tau asal muasal dinamakan demikian ?.




Menu yang kami pesan; ada kopi hitam panas, kebab, kentang goreng, es teler dan lain-lain. Pelayanannya sejauh ini cukup memuaskan. Mas-masnya sangat ramah kepada pengunjung, pakaian juga sangat rapi dan kompak. Memakai kaos hitam bertuliskan Nakama Cafe. Buat saya ini cafe cukup profesional dan serius dalam memanjakan para pengunjung yang datang sambil bersantai. 

Menu sudah dipesan, pelayan yang sibuk menuliskan nama-nama menu di sebuah selembar kertas kecil, segera bergegas menuju kasir untuk segera diproses. Terlihat orang-orang di dapur kerja sangat cepat sekali. Sambil menunggu pesanan datang, emak-emak asyik ngobrol ngalor-ngidul. Istri terdiam menikmati suasana pantai. Saya sibuk foto-foto gak jela. Bapak mah biasa, menjiwai sebagai ahli hisap yang konsisten berada dimana saja. Adek-adek sibuk eksis dan tiktokan. Kalau si kecil ngapain ya ?.

Si kecil gak mau duduk, pengennya diajak jalan-jalan sekitaran pantai. Melihat anak-anak kecil mandi di pantai, para nelayan yang mau pergi melaut dan ada juga warga desa yang sedang menangkap ikan menggunakan jala dari pinggir pantai. Suasana desa nelayan yang sudah lama gak saya lihat semenjak membatasi diri untuk gak kemana-mana di tengah pandemi Covid-19 setahun yang lalu. 

Es Teler

Kopi hitam panas

Kebab

Kentang goreng

Sedikit mereview menu yang kami pesan. Saya sendiri memesan kopi hitam saja, sedangkan istri memesan kebab dan es teler. Disini es telernya enak banget lho ya. Gak menggunakan pemanis buatan. Ada cincaunya, ada potongan buah alpukat, buah naga, nangka dan kelapa muda. Apalagi ditambah dengan sirup pandan dan susu kental manis, menambah aroma menyengarkan di setiap tegukannya. 

Saya juga mencicipi kebabnya. Ada potongan sosis sapi, saos dan bumbu kebab seperti biasanya. Kulit kebabnya lumayan renyah. Sekedar saran saja, mungkin perlu ditambahkan sayur kol dan sayuran lainnya biar tambah enak. Cara penyajiannya juga saya rasa masih kurang oke. Mungkin kedepannya lebih baik lagi dalam hal penyajiannya makanan dan minumannya. Kalau kentang gorengnya rasanya biasa saja. Perlu ada inovasi kedepannya, gimana cara untuk membuat makanan itu menarik dan buat para pengunjung penasaran. 

Over all, pelayanannya cukup baik dan tempatnya juga bersih menurut saya. Kami gak terlalu lama menunggu menu yang kami pesan. Makanannya juga gak dingin alias masih hangat. Kopi hitam panas juga sudah mantap rasanya. Sangat cocok dinikmati sambi duduk di atas bean bag.

Buat kalian yang sedang bingung mencari tempat nongkrong sore hari, bisa mencoba di Nakama Cafe, Pantai Tanjung Menangis. Lokasinya ada di Pringgabaya, Lombok Timur. Untuk mencari lokasinya gak terlalu sulit. Bila gak mau ribet nanya orang, kalian bisa buka google maps. Atau mau ngajak saya juga boleh. Pantai Tanjung Menangis buka dua puluh empat jam. Untuk masuk, gak dikenakan tarif (di hari-hari tertentu saja). Rekomendad buat ngabuburit besok disaat Bulan Puasa yang tinggal menghitung hari.

Penulis : Lazwardy Perdana Putra


Saturday, 27 March 2021

 


Akhir-akhir ini kita diramaikan oleh isu dimana di tengah panen raya, pemerintah malah justru mengimpor beras. Jujur, saya gak begitu paham alasan pemerintah mengimpor beras. Bukan mendukung atau menolak impor beras, tapi menurut saya pemerintah gak perlu impor beras andaikan produksi beras kita meningkat dari tahun ke tahun.  

Kalau saya yang penting bisa beli beras, makan tiga kali sehari ditambah buat nasi goreng di rumah, cukuplah buat saya sekeluarga. Sayangnya saya gak ahli soal menghitung kebutuhan beras selama setahun. Namun harapan saya, selagi pasokan beras tercukupi, gak perlu mengimpor beras dari negara lain. 

Masih tentang panen raya dan beras. Beberapa minggu yang lalu, saya dan anak istri jalan-jalan ke sebuah desa yang memiliki panorama alam sungguh pempesona. Kebetulan lagi musim begabah "panen padi" di desa tersebut. Gimana ceritanya, dibaca sampai habis tulisan ini  !.





Desa Banyu Urip

Bagi kita yang tinggal di Kota Mataram atau dari luar wilayah Lombok Barat, nama desa ini mungkin gak pernah terdengar atau melewatinya. Lebih sering kita mendengar Desa Sembalun yang terkenal dengan pemandangan perbukitan di bawah kaki Gunung Rinjani dan udaranya yang sejuk. Desa Sade yang terkenal dengan budaya dan rumah-rumah adat Suku Sasaknya, atau Desa Senaru yang terkenal dengan desa adat dan pintu masuk pendakian Gunung Rinjani dan Air Terjun Tiu Kelepnya . Ketiganya menjadi tujuan wisata di Pulau Lombok yang wajib dikunjungi. 

Gak hanya ketiga desa itu saja. Masih banyak lagi desa-desa yang kece di Pulau Lombok yang wajib diexplore. Salah satunya Desa Banyu Urip yang berada di Kabupaten Lombok Barat. Desa ini memiliki pemandangan yang mempesona. Di tulisan sebelumnya, saya sempat bercerita tentang Gunung Mareje di tulisan Desa Tempos. Nah, ini masih ada hubungannya dengan Desa Banyu Urip. 


Desa Banyu Urip bertetangga dengan Desa Tempos. Dimana Desa Tempos letaknya di bawah Gunung Sasak, sedangkan Desa Banyu Urip terletak di bawah kaki Gunung Mareje yang sama-sama berada di wilayah Kabupaten Lombok Barat. Ada dua jalur menuju Desa Banyu Urip. Bisa melewati Desa Tempos atau melewati jalur lainnya yaitu daerah Jembatan Kembar, Lombok Barat. Kita bahas jalur dari Desa Tempos dulu. 

Baik Desa Tempos dan Desa Banyu Urip letaknya sangat  strategis skali. Dekat dengan Pelabuhan Lembar dan Gili Mas. Dari Bandara Bizam atau Bandara Internasional Lombok, juga bisa diakses dengan waktu tempuh setengah jam saja. Bagi yang sudah membaca tulisan saya gowes ke Desa Tempos, wajib hukumnya baca sampai habis tulisan Desa Banyu Urip ini. Kalau ketiduran, lanjut baca lagi pas bangunnya (ngarep.com)

Sengaja jalan pagi dari rumah menggunakan sepeda motor. Rencananya mau pergi ke pantai, tapi kami melewati Desa Banyu Urip yang kebetulan masih satu jalur menuju pantai. Setelah ngecek perlengkapan yang akan dibawa biar gak ada yang tertinggal. Kami segera berangkat. 







Apabila menuju Desa Banyu Urip, kami harus melewati Pusat Pemerintahan yang berada di Kota Gerung, Lombok Barat. Setelah itu menuju arah Desa Tempos dengan memakan waktu tempuh hanya sepuluh menit saja. Melewati hamparan sawah dengan tanaman padi yang sudah menguning pertanda musim panen sudah tiba. Jalanan aspal yang lurus dengan pemandangan Gunung Sasak yang berada di sebelah timur dan Gunung Mareje di sebelah selatan. Pertanda kami sudah berada di Desa Tempos. 

Sempat berhenti sejenak di pinggir jalan untuk mengambil beberapa foto. Gak lama setelah itu, kami melanjutkan perjalanan. Gak banyak kendaraan bermotor yang kami temui. Hanya saja banyak rombongan bersepeda dari luar desa. Kebetulan juga hari libur, jadi banyak yang bersepeda. 

Setelah meninggalkan Desa Tempos, jalanan mulai berliku dan menanjak. Di sepanjang perjalanan  kami melewati kebun-kebun warga. Sangat rindang dan sejuk, bahkan sinar matahari pun nyaris gak terlihat. Gak lama kemudian, kami berhenti sejenak di sebuah titik dimana terlihat pemandangan yang sangat kece. Kami akhirnya sampai di Desa Banyu Urip. Disini istri dan anak sangat menikmati, begitu pun dengan saya sendiri. Melihat kebahagiaan mereka, membuat hati juga ikut bahagia. Kapan lagi bisa membahagiakan hati istri dan anak tercinta (curhat.com).

Desa Banyu Urip memiliki wilayah lebih luas tiga kali luas Desa Tempos. Keindahan alamnya juga gak kalah dengan desa lainnya. Sama seperti Desa Tempos, mata pencaharian warga Desa Banyu Urip yaitu sektor pertanian dan peternakan. Bahkan desa ini disebut sebagai lumbung padi Kabupaten Lombok Barat. Memiliki lahan pertanian yang sangat luas. Begitu juga daerah ini sangat subur karena berada di lereng Gunung Mareje.

Datang pertama kali kesini, saya dibuat takjub. Datang kedua dan seterusnya, gak bosan-bosan berlama-lama memandang Desa Banyu Urip dari kejauhan. Kondisi jalan yang sangat mulus. Gak banyak kendaraan yang lalu-lalang seperti di perkotaan. Bebas dari polusi udara. Menghirup udara yang sangat sejuk sambil melihat aktivitas warga desa yang sedang memanen hasil padi yang sudah menguning. Pemandangan yang buat imunitas kita kembali meningkat. 





Hampir di setiap bertemu dengan area persawahan, kami selalu melihat warga desa sedang memanen. Dari anak-anak, remaja, ibu dan bapak-bapak sangat sibuk melakukan pekerjaan mereka. Panasnya matahari dari pagi hingga sore hari yang menyengat di kulit, gak mereka rasakan. Yang ada mereka sangat menikmati pekerjaan menuai padi yang sudah menguning. Disini kita bisa belajar, "Apapun yang menjadi tugas kita, apabila dikerjakan dengan hati yang senang dan tulus, Insyaallah kita akan menikmati hasilnya". 

Jadi kita bisa belajar dari petani. Menanam dari bibit unggul, merawat, hingga memanen apa yang kita tanam di kemudian hari. Pekerjaan gak ada yang instan. Harus dari nol sampai kita berada di puncak kejayaan di kemudian hari. Itu butuh proses ya guys !.

Disini kami sempat berbincang-bincang dengan seorang bapak yang sedang beristirahat di pinggir jalan. Beliau sangat senang desanya didatangi oleh pengunjung luar. Apalagi datang dengan tujuan ingin melihat pemandangan desa dan aktivitas warga desa. Kami juga sangat senang disambut dengan hangat. Ada juga beberapa ibu-ibu yang minta difoto saat sedang memanen, biar masuk pesbuk katanya (maksudnya facebook), hehehe. 

Agak lama kami berbicang-bincang saat itu. Bahkan ada salah seorang bapak-bapak yang menawarkan kami untuk diantar ke air terjun yang letaknya berada di lereng Gunung Mareje. Saya bilang lain kali saja pak, waktunya gak memungkinkan juga. Beliau tersenyum dan mengiyakan.








Hari sudah mulai siang, kami pun melanjutkan perjalanan menuju pantai. Tapi ada satu titik yang memaksa kami untuk berhenti sejenak. Disini kami melihat deretan pohon-pohon kelapa yang cukup banyak dengan pemandangan Gunung Mareje. Hamparan persawahan yang sangat luas yang mengelilingi kami. 

Disini kami bertemu dengan rombongan bersepeda. Mereka asyik selfiean dengan berbagai macam gaya. Kebanyak sih para emak-emak heboh. Tapi saya pikir, mereka kuat juga ya mengayuh sepeda sampai di desa ini. Gak hanya numpah eksis dengan sepeda masing-masing, tapi mereka juga memang hobi bersepeda. Kapan-kapan saya juga pengen sepedaan sampai di Desa Banyu Urip. Ditunggu saja cerita selanjutnya. 

Gak banyak yang bisa saya ceritakan karena bingung mau cerita sampai mana. Over all, Desa Banyu Urip rekommended buat kalian yang mencari rute bersepeda bareng keluarga, teman atau gebetan. Mungkin kalau gebetan, disini tempat pembuktian kalau kalian emang serius. Tapi harus dijaga tuh anak orang, jangan sampai lecet jatuh dari sepeda ! (buat kaum lelaki yang masih jomblo). Atau yang mau nyari tanah, bisa tanya-tanya warga desa. Siapa tau ada tanah yang mau dijual. Rekommended buat investasi tanah disini.

Sudah dulu ya, takutnya ngebahas yang lain-lain. Jangan lupa dibaca juga tentang Desa Tempos di tulisan sebelumnya. Biar kita semakin akrab, jangan lupa juga baca-baca dan dikomentarin cerita saya lainnya di blog ini. Banyak cerita dari saya yang wajib kalian baca. 

Tetap jaga kesehatan. Cuci tangan pakai sabun/handsanitaizer, pakai masker, jaga jarak, jauhi kerumunan, dan kurangi kegiatan yang gak penting. Terpenting Jangan Lupa Vaksinasi !. 

Salam sehat.

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Saturday, 13 March 2021

Ngeteh Sehat Bersama Teh Kelor "Moringa Kidom"

Hujan-hujan gene enaknya ngeteh kali ya. Tapi menikmati teh beda dari teh pada umumnya mungkin lebih seru kali. Bukan teh hijau atau teh manis yang berasal dari daun teh yang kita kenal. Tapi kali ini kita akan ngebahas tentang produk teh yang berasal dari daun kelor. Pasti kalian penasaran kan ?. Yuk simak terus tulisan saya kali ini. 

Kelor, pasti kita sudah sangat familiar dengan nama tumbuhan ini. Hampir di setiap rumah, banyak kita temui pohon kelor. Soal rasa, daun kelor gak perlu diragukan lagi buat dijadikan sayur. Saya sendiri sangat suka dengan sayur kelor. Makan siang dengan ikan goreng, sayur kelor dan sebagai pelengkap yaitu sambel terasi. Bisa nambah dua piring tuh (pura-pura lupa harga cabai lagi mahal)...hahaha. 

Tumbuhan yang memiliki nama latin Moringa oleifera ini, sudah dikenal sebagai tumbuhan kaya manfaat. Kelor memiliki kandungan seperti Vitamin B1, serat, fosfor, silenium, zink, polifenol yang dimana sebagai antioksidan. Beberapa manfaatnya antara lain menjaga tekanan darah, mencegah kanker, menurunkan gula darah, mengatasi peradangan, menjaga daya tahan tubuh dan lain sebagainya. 

Kelor banyak ditemui di daerah tropis dan bisa tumbuh di tanah yang kurang subur. Daun kelor bisa diolah menjadi jamu, teh herbal, sampai menjadi suplemen. Banyak juga orang mengolah kelor sebagai bahan masakan. Disamping kaya manfaat dari daun kelor, ada juga yang gak suka makan kelor karena seperti di Jawa, kelor dikenal sebagai tanaman yang digunakan dalam memandikan orang meninggal dan kelor juga dipercaya sebagai penangkal dari ilmu kanuragan dan ilmu hitam. Bisa percaya bisa gak ya guys, kembali ke diri kita masing-masing. 




Oke, kembali ke laptop saya !.

Beberapa minggu yang lalu bersama tim dari kantor tempat saya bertugas, Dinas Kesehatan Provinsi NTB, kami mengunjungi tempat produksi teh kelor yaitu CV.Tri Utami Jaya dalam rangka kegiatan Monitoring dan Evaluasi Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT). Lokasinya di Jalan Sakura no.53, BTN Sweta, Kota Mataram. Alamat lengkap saya cantumkan di akhir tulisan. 

Sesampainya di tempat produksi, kami disambut hangat oleh Bapak Nasrin Muhtar, pemilik CV.Tri Utami Jaya sekaligus menjadi direktur utama. Pak Nasrin panggilan sapaannya, dikenal sosok yang ramah, lucu, murah senyum dan gak sungkan menceritakan produknya yang berbahan dasar kelor. 

Dalam kesempatan kunjungan kali ini, kami diajak berkeliling pabrik produksi teh kelor atau dikenal dengan nama "Moringa Kidom". Kenapa dinamakan Moringa Kidom ?. Moringa berasal dari bahasa latin teh itu sendiri, sedangkan Kidom singkatan dari Kilo, Dompu. Sebuah daerah yang bernama Kilo yang berada di Kabupaten Dompu, Provinsi NTB. 

Di tangan Pak Nasrin, kelor disulap menjadi tanaman yang tidak sekedar dijadikan sayur, namun menjadi produk teh herbal yang menyegarkan dan menyehatkan. Beliau juga berkata, semua jenis daun yang berasal dari bumi bisa dijadikan teh kecuali daun pintu dan daun telinga saja, hahaha..bapaknya emang suka ngelucu. 




Berkeliling di tempat produksi teh kelor, Pak Nasrin menjelaskan tahap demi tahap dalam pengolahan produk tehnya. Dari pemilihan simplisia daun kelor yang didatangkan langsung dari daerah Kilo, Dompu dengan luas lahan sekitar 100 hektar. Setelah itu dilakukan proses produksi dari penyimpanan bahan baku hingga menjadi produk teh kelor yang siap disajikan selagi hangat disaat hujan turun. 

Over all, bangunan tempat produksinya sudah lumayan baik dari segi aturan meskipun masih banyak yang perlu diperbaiki dan dikembangkan. Beruntungnya kami bisa memasuki area produksi dan bercakap-cakap dengan beberapa karyawan yang sedang bekerja. Semuanya bekerja dengan fokus dan cekatan. Teh Kelor produksinya juga sudah memiliki nomor ijin BPOM. Jadi aman dan halal pastinya guys. 

Menurut informasi, Teh Kelor ini sudah menembus pasar Asia bahkan beberapa hari yang lalu produk Moringa Kidom ini sudah dikirim ke Malaysia dan Amerika Serikat. Kerennya lagi, sudah banyak permintaan teh kelor dari negara-negara Eropa. Keliling dunia nih teh kelor, Kece !.

Sampai saat ini produksi teh kelor "Moringa Kidom" milik Pak Nasrin sudah mendunia. Ini semua gak lepas dari dukungan pemerintah daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat dalam mempromosikan teh kelor hingga menembus pasar dunia. 


Foto bersama dengan Pak Nasrin (baju kaos putih)

Saya asli penduduk Nusa Tenggara Barat, sangat bangga Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) asli NTB bisa terbang tinggi hingga pasar dunia seperti Moringa Kidom produksi CV.Tri Utami Jaya ini. Dan untuk mensukseskan salah satu program pemerintah daerah, kami dari Seksi Farmasi, Makanan Minuman dan Alkes, Dinas Kesehatan Provinsi NTB akan selalu melakukan kegiatan monev setiap tahun sebagai langkah kita melakukan pembinaan dari proses perijinan hingga menghasilkan produk yang aman,sehat dan legalitasnya diakui sesuai dengan Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik dan Benar (CPOTB) agar para pelaku UMKM seperti CV.Tri Utami Jaya atau lainnya yang berada di Provinsi NTB bisa eksis dan usaha mereka semakin maju.

Setelah selesai berkeliling di area produksi, kami disungguhi secangkir teh kelor hangat. Wah, kebetulan lagi haus juga dan cuaca sangat mendukung menikmati secangkir teh kelor yang sangat menyehatkan dan nikmat. Apalagi saat ini kita diharuskan untuk selalu menjaga tubuh agar gak mudah terinfeksi virus Covid-19 dan lainnya. 

Solusinya, Ngeteh Sehat Bersama Teh Kelor "Moringa Kidom" !.

Penulis : Lazwardy Perdana Putra