Friday, 12 July 2019

Destinasi Wisata Baru di Pulau Lombok : Seruni Mumbul


Pulau Lombok  gak hanya dikenal dengan deretan pantainya yang indah, air terjunnya yang cantik dan Gunung Rinjaninya yang megah. Disisi lain, Pulau Lombok juga memiliki destinasi wisata yang kekinian alias destinasi jaman now yang sedang ngehits di dunia instagram. Jumlahnya juga sudah semakin menjamur. Sebagai contoh Pasar Pancingan yang berada di Desa Bilebante, Narmada Botanic Garden di Narmada, Bukit Tiga Rasa di Gunung Sari dan satu destinasi yang menjadi perhatian saya kali ini yaitu Seruni Mumbul yang berada di Lombok Timur.

Beberapa bulan yang lalu, saya bareng istri berkesempatan mengunjungi tempat ini. Awalnya sih belum tau sama sekali ada lokasi wisata yang ngehits di daerah paling ujung timur di Pulau Lombok. Saat berkunjung ke rumah nenek di Desa Batuyang, Pringgabaya, saya iseng-iseng buka google. Tujuannya ya mencari tempat wisata dekat dari rumah nenek yang saya rasa pas banget dikunjungi hari itu. Untuk mengobati kejenuhan saya yang hanya duduk dan tidur siang di rumah nenek, saya mencoba ngajak istri untuk jalan-jalan sekitaran Kecamatan Pringgabaya. Alhamdulillah istri juga merasakan hal yang sama. Sayang dong, datang jauh-jauh dari Kota Mataram, hanya berdiam diri di rumah nenek. Gak ada salahnya kita jalan-jalan. 

Secara gak sengaja ada beberapa foto yang menjadi perhatian saya. Salah satunya ya Seruni Mumbul. So, tanpa berpikir panjang lebar lagi, terpilihlah Seruni Mumbul, obyek wisata yang akan kami explore. Penasaran juga dengan tempat baru ini. Dilihat dari foto-foto di google, tempatnya instagramable banget dan sejauh ini kece bila dilihat dalam sebuah foto. Apakah penampakannya sama seperti dalam foto?. Yuuk kita explore dari berbagai macam sudut.

Berhubung kami berdua gak menggunakan motor dari Kota Mataram, jadi kami meminjam motor adek sepupu. Kebetulan adek sepupu saya lagi baik hati meminjamkan motornya ke kakaknya yang cute ini, hahahaha (lupakan). Setelah siapin segala keperluan selama disana, sekitar jam tiga siang kami berdua cuuss ke lokasi.




Seruni Mumbul berlokasi di Desa Seruni Mumbul, Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur. Kurang lebih enam puluh menit waktu tempuh dari Kota Mataram menuju tempat ini. Kalian bisa menggunakan angkutan umum dari terminal Mandalika, Bertais, Kota Mataram. Bisa juga menggunakan kendaraan sewa atau pribadi baik roda dua maupun roda empat. Jalurnya pun sama kalau kita akan menuju penyeberangan ke Gili Kondo, Bidara dan Petagan, Lombok Timur. Lebih jelasnya, saya kasi peta jalurnya di akhir tulisan.
Gak memakan waktu lama, sekitar lima belas menit dari rumah nenek, kami sudah sampai di lokasi. Jadi lokasi Seruni Mumbul gak jauh dari perkampungan nelayan Labuan Lombok. Hanya saja saat tiba di pertigaan Labuan Lombok, kita memilih jalur lurus saja ke arah Sambelia. Sedangkan kalau ke kanan, arah ke Pelabuhan Kayangan (penyeberangan kapal ferry ke Pulau Sumbawa). Jangan salah arah ya guys, jangan salah memilih juga. Asyiiik.





Kurang lebih sekitar tiga ratus meter dari Labuan Lombok, di kiri jalan ada plank kayu bertuliskan Seruni Mumbul. Tapi pintu masuknya bukan di sebelah kiri, melainkan di sebelah kanan. Sebuah jalan tanah memasuki sebuah kebun warga gitu. Setelah melewati jalanan tanah, kami sampai juga di area parkir Seruni Mumbul. Meskipun masih siang, area parkir sudah dipenuhi oleh kendaraan roda dua. Rame juga jam segini, apalagi menjelang sore.

Setelah membayar parkir 5 ribu rupiah dan masuknya gratis ( saat itu), kami berdua segera berjalan melewati jalan setapak seperti jembatan mini yang terbuat dari papan kayu. Kok bisa gratis masuknya ?. Ya, karena saat itu Seruni Mumbul belum dilaunching secara resmi. Jadi masuknya masih gratis. Saat kami kesana juga, masih dalam tahap pembenahan di beberapa spot foto. Kok bisa masuk sebelum dilaunching ?. Hmmmm.. Alasan pengelola sih, karena merasa kasian buat tamu korban foto di medsos yang datang jauh-jauh dari luar kota. Jadi,meskipun masih belum dilaunching (saat itu), penampakan dari Seruni Mumbul menurut saya sudah kece. Sejauh ini mirip dengan foto-foto di google.
Meskipun nama kerennya Seruni Mumbul, Tapi banyak juga warga menyebutnya dengan nama Dende Seruni karena konon disini dulunya adalah tempat permandian putri cantik bernama Dende Seruni. Percaya tidak percaya, begitulah cerita dari warga disini. Disini juga banyak ditemukan mata air. Lebih dari dua puluh mata air yang sudah ditemukan oleh warga. Sekilas airnya memang jernih meskipun banyak kita lihat tanaman berupa ganggang gitu (saya lupa jenis tanamannya) di permukaan rawa. Sejauh ini saya suka dengan keasrian, kebersihan dan inovasi warga yang sudah menyulap tempat ini semakin cantik dan memiliki nilai jual. Bak-bak sampah juga sudah tersedia. Semoga para pengunjung sadar untuk membuang sampah pada tempatnya.





Seruni mumbul merupakan sebuah rawa atau telaga yang dipercantik oleh warga sekitar desa. Tidak tanggung-tanggung, mereka membuat tempat ini menjadi destinasi wisata keluarga. Siapa saja bisa datang kesini bersama keluarga, teman dan gebetan (calon pasangan hidup). Jalan setapak yang terbuat dari kayu menjadi akses kita menyusuri tempat ini dari ujung ke ujung. Rumah pohon dan spot-spot lainnya, bisa kalian manfaatkan untuk berfoto selfie ala-ala anak jaman milenial. Pastinya para kids jaman now yang mayoritas cewek-cewek suka dengan tempat seperti ini.
Setelah di launching saat lebaran Idul Fitri kemarin, pengunjung sudah dikenakan tiket masuk.  Tiket masuknya juga cukup murah. Hanya 5 ribu rupiah per orangnya, kita sudah bisa mengexplore Seruni Mumbul. Bagi kalian yang akan berencana datang kesini, wajib hukumnya membawa kamera yang kualitas fotonya bagus. Sayang sekali kalau kesini gak fotoan. Banyak sekali spot-spot foto yang bisa kalian pamerkan di instagram.
Selain tempatnya yang instagramable, air telaganya juga bening sekali. Bagi kalian yang ingin berkeliling sekitar telaga, bisa menyewa perahu yang disiapkan oleh pengelola. Untuk bayarnya per orang dikenakan 2 ribu rupiah (harga bisa berubah sewaktu-waktu).
Setelah eksis foto-foto dan berkeliling Seruni Mumbul, pasti capek kan?. Kalian bisa duduk sambil santai-santai di kursi kayu yang sudah disiapkan. Bersantai sejenak sambil menikmati panorama alam dari Seruni Mumbul. 





Paling enak datang kesini saat sore hari. Selain tidak panas, udara di sekitar Seruni Mumbul juga sangat sejuk dan kita juga bisa menunggu waktu senja tiba. Apalagi datangnya bareng pasangan, bisa foto berdua nih disini. Yang penting jangan buat para jomblowan/jomblowati baper disana yaak !!!. Datangnya bareng pasangan halal lebih baik. Pasangan belum halal, harus jaga sopan santun selama disana.
Yang kelaperan atau kehausan, jangan khawatir. Di dalam area Seruni Mumbul ada pedagang makanan dan minuman ringan yang harganya terjangkau. Tapi ingat, setelah makan atau minum, sampahnya dibuang di tempatnya. Kan sudah ada bak sampah yang sudah disediakan oleh pengelola.
Jadi gimana, kalian tertarik ke Seruni Mumbul ?. Mumpung dalam suasana liburan nih, jangan lewatkan kesempatan untuk menikmati pemandangan yang ditawarkan oleh Seruni Mumbul. Apalagi sekarang sudah memasuki musim libur anak kuliahan dan anak sekolah. Tidak ada salahnya dong, bagi para bapak-bapak dan ibu-ibu yang doyan jalan, bisa tuh ajak anak-anak kalian liburan ke Seruni Mumbul. Gak hanya jalan ke mall saja, tapi Seruni Mumbul bisa menjadi destinasi liburan rekomendasi buat keluarga kalian.

Untuk jam bukanya, setiap hari dari pagi hingga sore yaa. Informasi tambahannya, sekarang Seruni Mumbul sudah agak lebih bagus lagi dibandingkan saat kami berdua kesana. Sudah banyak spot-spot baru yang dibuat oleh pengelola. 

Over all, saya suka dengan tempat ini. Rekommended buat dikunjungi saat berlibur ke Pulau Lombok. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Friday, 5 July 2019


Berawal dari buka grup blogger Lombok di whatsapp, ada ajakan salah satu blogger senior untuk datang di acara launching pasar malam. Ada lima blogger yang bisa ikut saat itu, termasuk saya sendiri.

Namanya pasar malam, pastinya disana ada makanan, minuman, mainan dan pentas musik seperti dangdutan (salah satu contoh saja). Tapi ini bukan pasar malam seperti yang biasa kita kunjungi di tanah lapang atau lapangan sepakbola di kota maupun di kampung tempat kita tinggal. Tapi ini pasar malamnya ada di salah satu hotel berbintang, sebut saja namanya Aruna Senggigi atau nama kecenya Aruna Senggigi Resort & Convention. Hotel ini beralamatkan di Jalan Raya Senggigi, Kec.Batulayar, Kab.Lombok Barat. Gak jauh dari Pantai Senggigi dan Bukit Senggigi. Untuk mencapai hotel ini, kita bisa menggunakan bus Damri jurusan Bandara - Senggigi atau menggunakan kendaraan sewa/pribadi.

Hotel yang menjadi salah satu hotel terbaik dan tercantik di Pulau Lombok khususnya di Senggigi ini membuat sebuah inovasi baru yaitu pasar malam yang diadakan setahun penuh. Gak mau kalah dengan para pesaingnya, pihak managemen Aruna Senggigi membuat sebuah tempat kuliner yang murah dan enak sehingga banyak orang yang datang. Terpenting lagi bukan hanya tamu-tamu hotel saja yang bisa menikmati, tapi masyarakat umum juga bisa datang ke pasar malam untuk mencicipi segala macam menu kuliner yang ada.

Jadwal pasar malamnya yaitu hari Senin, Rabu, Jumat dan Minggu. Dimulai dari jam tujuh malam sampai sembilan malam waktu setempat. Apa saja yang ada di pasar malamnya?. Penasaran, yuuk dibaca sampai habis.









Acara launching yang diselenggarakan pada Hari Kamis tanggal 4 Juli 2019 bertempat di area kolam renang Aruna Senggigi. Jujur, ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di hotel mewah dan megah ini. Maklum, jarang main di hotel-hotel di daerah Senggigi. Kebetulan saya gak mengajak istri alias berangkat sendiri dari rumah karena dia lagi gak enak badan, tepatnya lagi.....hahaha (rahasia). Berangkat habis magrib menggunakan si blue menuju arah Senggigi. Kurang lebih dua puluh menit perjalanan dari rumah di Ampenan, saya sudah sampai di hotel. 

Sesampainya di lobi hotel, saya langsung menuju area kolam renang untuk bergabung bersama teman-teman blogger dan media lainnya. Suasana pasar malam sudah mulai ramai. Mbak pembawa acara segera membuka acara launching pasar malam ditemani oleh General Manager Aruna Senggigi yaitu Mbak Weni. Mbak Weni menyapa kami semua yang hadir sekaligus memberikan penjelasan tentang konsep pasar malam yang dirancang sekaligus membuka pasar malam untuk pertama kalinya di hadapan para blogger, media dan masyarakat umum. Gak hanya itu saja, para tamu hotel juga ikut bergabung di acara launching pasar malam.

Semakin malam suasana semakin ramai. Para chef alias juru masak sudah siap untuk memasak di stand mereka masing-masing. So.. Menu yang disajikan di pasar malam saat itu yaitu nasi goreng mawut, nasi goreng ikan asin, nasi goreng kampung, sate telur puyuh, sate usus, sate hati, aneka jenis bakso, nasi puyung dan gorengan. Ada juga minuman yang dihidangkan yaitu wedang jahe, wedang ronde, wedang cor, aneka jus, kopi dan minuman lainnya. Enak semua ya, jadi gak sabar nyicipin satu per satu. hahaha.

Yang saya suka dari pasar malam ini yaitu lokasinya yang berada di sebuah taman dengan rumput yang hijau, dikelilingi oleh pepohonan dan perbukitan hijau. Gak kalah kecenya lagi berada di samping area kolam renang. Angin pantai sepoi-sepoi yang berhembus malam itu membuat acara launching menjadi tambah syahdu. Apalagi ada live music dengan lagu-lagu terkini, membuat suasana semakin mencair.

Tempat duduknya juga ada dua pilihan. Kita bisa duduk santai di atas tikar yang memuat bisa sampai enam orang (buat yang ukuran badannya kecil-kecil). Ada juga meja kayu bagi kalian yang gak kebagian tikarnya. Yang gak kebagian dua-duanya, kalian bisa duduk di atas rumput. Tenang saja, rumput hijaunya kualiatasnya bagus seperti rumput stadion bola di Eropa sana. Yang penting masih bisa menikmati makanan sambil nonton live music. 



Ada yang unik disaat kita memesan atau membeli segala jenis menu disini. Uniknya kita gak pakai duit asli untuk berbelanja. Tapi sebelum berbelanja, kita tukarkan duit asli kita di meja money changer dengan duit-duitan. Duit-duitan disini yaitu dollar Aruna, duit yang hanya berlaku di pasar malam saja. Jangan terus dipakai untuk membeli makanan di tempat lain, hahaha. Saya pun iseng tanya-tanya ke petugasnya aturan berbelanja dengan dollar Aruna. Dari penjelasan petugasnya, duit dollar ini hanya berlaku untuk berbelanja di pasar malam. Bila kita ingin menukarkan dollar Aruna dengan duit asli kita,sangat bisa. Dibawa pulang juga bisa untuk dipakai saat berbelanja di pasar malam berikutnya. Unik bukan !!!

Sangat unik dan menarik menurut saya. Sebuah inovasi yang membuat pengunjung senyum-senyum lucu dan tertarik untuk berbelanja disini. Kenapa dinamakan dollar Aruna? Karena di salah satu lembar duit kertas dollar Aruna bertuliskan $1. Ada juga kelipatan $2,$5 dan $10. Dimana pecahan $1 senilai 10 ribu rupiah, $2 = 20 ribu, $5 = 50 ribu dan $10 = 100 ribu.

Uniknya lagi di dalam kertas duit dollar Aruna ada foto Mbak Weni, General Managernya (menurut saya lhoo yaa). Kalau alasan pastinya kenapa diberi nama dollar Aruna karena ingin mencari hal unik dan tau sendiri yang berlibur ke Pulau Lombok bukan hanya tamu dari domestik saja, tapi dari mancanegara juga. Sekiranya begitu, hehehe.




Next... kita bahas menu-menunya. Pertama yang saya coba cicipin yaitu wedang ronde. Ini sejenis minuman hangat yang banyak kita jumpai di Alun-Alun Kidul Yogyakarta. Sejalannya waktu, gak hanya di Yogya saja, wedang ronde sudah banyak kita jumpai di berbagai kota, salah satu contohnya Kota Mataram, Lombok.

Gimana rasa wedang ronde di pasar malam Aruna Senggigi ?. Jawabannya, enak banget, saya suka rondenya. Teksturnya bulat besar dan gak keras. Saat digigit, sangat terasa isian kacang tanahnya, manis dan gurih. Apalagi wedangnya sangat hangat di tenggorokan. Bumbu rempah-rempahnya pas banget. Selain enak, wedang ronde ini sukses membuat badan saya hangat dan enak kembali. Wedang Ronde sangat cocok bagi kalian yang lelah habis beraktivitas seharian. Menikmati semangkuk wedang ronde, membuat badan kembali fit.

Semangkuk wedang ronde diberi harga $2 (dua dollar Aruna) pemirsa. Gimana murah atau mahal menurut kalian ?, koment di kolom komentar ya guys. Selain wedang ronde, ada juga aneka wedang lainnya yaitu wedang jahe dan wedang angsle. Foto di atas itu campuran wedang ronde dengan wedang angsle karena berhubung saya pengen cicip semua bahan wedangnya, jadi kecampur semua dah. Ada potongan roti dan kacang hijau. Jadi namanya wedang campur-campur,hahahha.



Setelah mencicipi wedang ronde sebagai menu pembuka, saya coba makan yang berat-berat nih. Nasi Puyung ala Aruna Senggigi. Dari lauknya sih gak ada beda dengan nasi puyung yang kita biasa makan. Ada kacang kedelai goreng, suir-suir ayam, kentang goreng, orek tempe dan tumis kacang panjang. Enak gak ?, menurut sih bumbunya pas dilidah saya, tapi kurang nendang pedasnya (sok-sokan doyan pedas) hahaha.

Kalau pedasnya nasi puyung seperti ini, masih okelah di lidah saya. Tapi di lidah kalian yang doyan pedas, bisa kalian coba sendiri deh. Datang langsung ke pasar malam Aruna Senggigi. Gak ada yang istimewa dari nasi puyungnya. Dari segi penyajian juga gak terlalu istimewa. Mungkin kalau boleh saran, pedasnya boleh ditambah lagi biar lebih nendang. Cara penyajian juga, lebih dipercantik lagi. Sepiring nasi puyung diberi harga $2, Cukup murah menurut saya sekelas pasar malam di hotel.





Sebagai pendamping makan nasi puyung, saya memesan aneka jenis sate. Ada sate telur puyuh, sate hati dan sate usus. Kenapa gak ada sate rembige atau sate bulayak yaak ?. Mungkin next time kali yaa,hehehe. Untuk satenya sih, hmmmm...lumayan enak. Apalagi makan nasi puyung ditemani dengan makan sate, lebih terasa pedasnya.

Yang saya suka dengan satenya yaitu sate telur puyuh. Seporsi aneka satenya diber harga $2. Hmmm...mahal gak ya ?. Menurut saya sih lumayan mahal kalau hanya segitu porsinya. Cara penyajiannya juga gak terlalu istimewa menurut saya. Bagi kalian yang suka jenis saus-sausan, bisa memilih berbagai macam saus. Ada saus tomat, cabe, kacang tanah dan saus kecap. Tinggal pilih sesuai selera. Asyiknya sambil menunggu pesanan, kita bisa melihat para chef memasak.



Wedang Ronde sudah, nasi puyung sudah, sate juga sudah. Apalagi ya yang belum ?, Ahaaaiii...ada satu menu yang gak boleh saya lewatkan yaitu nasi goreng. Berhubung masih laper pemirsa, saya coba memesan satu porsi nasi goreng mawut. Nasi Goreng Mawut ini mirip seperti magelangan yang ada di Yogya. Bahannya ada nasi puith, segala macam bumbu dan dicampur dengan mie kuning. Bisa bayangin kan nasi goreng dicampur dengan mie kuning, double karbohidrat pemirsa,hehehe.

Sambil menunggu nasi goreng mawut dibuat, saya coba ajak ngobrol mas chefnya. Masnya ramah dan ternyata asli Lombok. Disini karyawannya ramah-ramah tapi agak sedikit pemalu. Pas ditanya sudah bekeluarga, anaknya berapa, istrinya berapa ???. Masnya senyum-senyum (lagi ngesensus penduduk bang), hahahhaa.

Gak lama menunggu, akhirnya nasi goreng mawut pesanan saya jadi juga. Sepiring nasi goreng mawut diberi harga $2 juga. Nah, ini nasi goreng mawutnya enak banget. Bumbu rempah-rempahnya berasa dilidah. Gak terlalu pedas juga dan porsinya juga gak terlalu banyak.

Setelah makan yang berat-berat, kita bisa pesan aneka jenis minuman ringan. Disini minuman ringannya ada softdrink, susu jahe, kopi-kopi dan minuman sachet lainnya seharga $1. Ada juga ada aneka wedang lainnya seperti wedang secang, stmj dan wedang cor. Karena namanya unik, saya pesan wedang cor biar badan lebih hangat lagi. Sedangkan teman-teman yang lain memesan minuman lainnya. Segelas wedang cor, secang dan stmj diber harga $2. Mahal gak ?, bisa komen di kolom komentar.




Over all, menikmati menu yang ada di pasar malam Aruna Senggigi bareng teman-teman blogger dan media lainnya menambah meet up malam itu semakin lebih akrab. Mungkin satu hal lagi kalau boleh kasi saran, tempat penyajiannya jangan pakai bahan sterofom karena kurang sehat. Mungkin bisa diganti dengan pakai tempat atau piring yang terbuat dari kayu atau daun pisang agar memberi kesan tradisional. Selain itu aman dari zat kimia berbahaya.

Ngobrol ngalor-ngidul, keliling pesan aneka menunya, fotoin menunya, tanya-tanya sama chefnya, makan bareng sambil kasi komentar. Itulah kerjaan kita para blogger. Jadi, jangan takut ngundang blogger ya. Blogger Lombok baik-baik kok, hahaha (promosi colongan bang ?).

Thanks buat Mbak Weni dan teman-teman Aruna Senggigi yang sudah mengundang kami di acara launching Pasar Malam Aruna Senggigi. Jangan lupa mampir di blog kami khususnya blog saya, tapi tunggu postingan tentang pasar malam selesai dulu, hahaha.

Thanks juga buat teman-teman blogger yang sudah ikut gabung. Ditunggu di acara kumpul blogger di tempat lainnya lagi. Oke... !!!



Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Saturday, 29 June 2019

Mampir Yuuk ke Taman Jinja !


Masih ingat dengan cerita saya di Taman Edelweis Karangasem Bali ?. Saya saranin buat kalian yang belum baca, boleh buka postingannya di bawah cerita ini. Kenapa ?, biar nyambung dan kalau sudah dibaca, baru kalian lanjut baca cerita saya kali ini (kayak novel saja berseri).

Satu lagi, pasti kalian bertanya tentang foto cover di atas. Itu dimana, di Jepang ya ?. Jawabannya, itu masih di Pulau Bali. Di Pulau Bali ada bangsa Jepang ya ?. Dulu ada pas jaman penjajah, pas nenek buyut kita masih muda. Sekarang sudah pada pulang kampung ke negeri asalnya. Berarti itu peninggalan bangsa Jepang ya ?. Aduuh, banyak nanya nih. Sudah, kalian simak saja deh cerita saya kali ini. Siapin kacang dan kopi buat nemenin baca cerita yang biasanya agak alay dan baper ini.

Masih dekat dengan Pura Besakih Bali, ada sebuah taman yang gak kalah kecenya dengan Taman Edelweis. Meskipun memiliki konsep yang hampir sama yaitu taman instagenic, namun keduanya punya kekhasan. Taman Edelweis khas dengan bangunan kincir anginnya, dan sebut saja Taman Jinja memiliki kekhasan dengan Toriinya.

Ya, namanya Taman Jinja yang memiliki arti Taman Ekspresi atau Kekaguman, itu kata si istri. Maklum istri doyan nonton drakor/drama jepang gitu. Kenapa dinamakan Taman Jinja, saya pun gak tau pasti. Kalau menurut saya sih, dinamakan Taman Jinja karena letaknya yang keren banget. Berada di daerah pegunungan yang memiliki udara sejuk dengan latar belakang Gunung Agung. Penuh kagum dan pengen rasanya balik lagi kesini. Sayangnya pas kami berdua datang kesini, Gunung Agungnya tertutup dengan awan tebal.




Setelah kami ke Taman Edelweis, nanggung dong kalau gak mampir di Taman Jinja. Jalurnya pun sama, hanya saja Taman Jinja berada sebelum Taman Edelweis. Taman Jinja berada di Desa Besakih, Kabupaten Karangasem. Hanya berjarak delapan ratus meter dari Taman Edelweis. Jalurnya pun gak buat pusing bagi kalian yang berencana kesini. Tinggal buka google maps, ketik Taman Jinja dan tinggal kalian ikutin arah yang diberi oleh si mbah goggle.

Untuk penjelasan jalurnya, bisa kalian baca di postingan Taman Edelweis ya (makanya baca Taman Edelweis dulu). Taman Jinja baru dibuka sekitar Bulan Februari 2019 lalu. Bisa dibilang taman ini masih tergolong baru dan langsung ngehits di medsos. Taman Jinja seratus persen dikelola oleh warga desa setempat. Saya salut sekali, meskipun dikelola oleh warga desa, penataan tamannya kece dan niat banget buat taman sekeren ini.

Dari parkiran kendaraan yang berada di pinggir jalan, Taman Jinja berada di seberangnya. Saya bareng istri sudah gak sabar pengen cepat-cepat masuk ke taman ini. Sebelumnya, kami harus membeli tiket masuk di pos tiket. Harga tiketnya pun tergolong murah yaitu 10 ribu per orang. Dengan harga segitu, kita bebas mengexplore Taman Jinja dari pagi sampai sore. Untuk jam bukanya dari jam 8 pagi sampai 7 malam (koreksi kalau salah).









Setelah membeli tiket, kami berdua langsung memasuki area taman. Penampakan taman ini berbukit-bukit dengan jalan setapak yang lumayan menguras keringat (menurut saya). Anggap saja sekalian olahraga kecil-kecilan. Uniknya di sepanjang jalan setapak, banyak sekali dibangun Torii. Torii merupakan gerbang kuil yang berwarna merah. Gerbang kuil yang sering kita temukan di kuil-kuil Shinto, Jepang yang terbuat dari kayu. Torii di Jepang biasa dibuat dengan palang sejajar yang kemudian ditunjang dengan dua batang vertikal. Namun uniknya di Taman Jinja, toriinya dibuat dari bambu kemudian dicat merah dan di bagian bawah tiang, dicat warna hitam.

Mistisnya, selain menjadi pintu gerbang kuil, Torii sendiri dipercaya memiliki aura horor. Horornya, torii berfungsi sebagai pembatas antara kehidupan manusia dengan Kami. Kami sendiri merupakan sosok spritiual yang menjadi obyek penyembahan para penganut agama Shinto di Jepang (sumber dari mbah google). Percaya gak percaya, ya selama kita masih berada di tempat tersebut, kita harus jaga sopan santun dan menghormati tempat tersebut. Yang pengen kenalan dengan Kami juga boleh, tapi jangan tanya saya caranya gimana,hahaha...peace.

Lupakan yang mistis-mistis dulu !!!

Suasana Taman Jinja saat itu cukup ramai. Pengunjung yang akan atau sudah ke Taman Edelweis, pasti mampir ke Taman Jinja. Begitu pun dengan kami berdua, sayang banget kalau gak mampir. Sambil menyelam minum air. Capek-capek motoran turun naik bukit, dua tempat kece digass langsung, hahaha. 




Dari anak kecil hingga emak-emak sangat semangat mendaki dan turun bukit ala Taman Jinja. Ada satu turunan dan dua tanjakan. Buat yang punya riwayat asma atau asam urat, jalannya harus pelan-pelan ya. Terpenting, sebelum jalan ke Taman Jinja, obatnya harus dibawa. Sepanjang jalan setapak yang penuh dengan Torii, kalian bisa foto-foto eksis karena spot foto disini instagramable banget. Rombongan emak-emak saja eksis fotoan disini. Masak kalian yang anak milenials, kalah sama mereka,hahaha (Ngomporin).

Gak berbeda jauh dengan Taman Edelweis, di Taman Jinja juga banyak kita temukan Bunga Kasna lhoo. Hampir seluruh area taman dipenuhi dengan Bunga Kasna. Bunga Kasna sangat mirip dengan Bunga Adelweis. Dari kejauhan memang mirip, tapi sebenarnya kedua bunga ini sangat berbeda. Bunga Edelweis biasa kita temukan di lereng atau tebing di gunung. Hanya saja yang kita lihat di Taman Edelweis dan Taman Jinja, bukan Bunga Edelweis ya, tapi Bunga Kasna, So..kalian jangan debat di dalam mobil atau di atas motor bareng pasangan gara-gara bunga satu ini seperti saya sama istri,hahahhaa. Yang harus diingat lagi, Bunga Kasnanya gak boleh dipetik ya !.

Habis turun naik bukit dan foto-foto, pasti capek kan. Tenang saja, disini ada beberapa tempat duduk buat santai-santai. Nyari pedagang juga ada disini. Saya lihat kemarin ada penjual sate (gak tau satenya daging apaan), makanan dan minuman ringan disini. Tapi jangan lupa, sampahnya dibuang di tempah sampah ya. Sayang sekali tempat sekece ini, rusak dan kurang indah gara-gara sampah yang dibuang sembarangan oleh pengunjung.

Over all, Saya dan istri suka dengan Taman Jinja. Tamannya bersih, kreatif, banyak spot foto yang instagenic, dan buat betah berlama-lama disini. Bagi kalian yang masih mencari tempat prewed ala-ala instagramable, Taman Jinja bisa jadi solusinya. 

Oke, hari sudah semakin sore, saatnya kami melanjutkan perjalanan pulang ke Pulau Lombok. Ada perasaan puas bisa datang ke Taman Jinja. Tempat yang awalnya gak masuk ke dalam list touring/motoran bareng istri saat itu, tapi berhubung ada teman asal Bali yang rekomendasikan ke kami untuk mampir ke Taman Jinja. Taman Jinja rekommended banget buat kalian pecinta foto-foto instagramable.


Share Lokasi : Taman Edelweis ke Taman Jinja

Penulis : Lazwardy Perdana Putra