Friday, 18 October 2019


Di tengah cuaca panas yang masih melanda Pulau Lombok sampai detik ini, membuat keinginan untuk kabur dari rumah, mencari tempat yang adem. Bila hari libur, gak lengkap rasanya kalau gak jalan-jalan. Berhubung si doi lagi tengah hamil, gak tega rasanya ngajakin ke air terjun atau panas-panasan di pantai. Bukannya nantinya menikmati tapi merasa gak nyaman dan pengen cepat pulang.

Mau ke air terjun gak mungkin. Pergi ke pantai yang dekat dari rumah juga sudah biasa. Akhirnya berubah rencana untuk pergi renang di kolam renang saja. Dan baru ingat, di dalam tas kecil ada satu lembar voucher renang.

"Gimana cara dapetin vouchernya ?". Sedikit bercerita, kebetulan beberapa minggu yang lalu saya diundang pihak Wyndham Sundancer dalam kegiatan World Clean Up Days 2019. Kegiatan ini dilaksanakan di pantai Sundancer Beach Cafe, tepat di depan hotel Wyndham dimana ini masih dalam wilayah kekuasan Wyndham Sundancer. Nah, diacara tersebut saya pihak panitia kegiatan bagi-bagi doorprise. Alhamdulillah saya beruntung mendapatkan salah satu doorprisenya yaitu voucher berenang untuk satu orang saja. Bonusnya saya dapat ajak istri juga, kece kan ? #NyombongDikit

Mumpung gratis, saya putuskan untuk renang di kolam renang kece milik Wyndham Sundancer Resort Lombok. Mendengar saya ngajak renang, wajah si doi langsung berbinar-binar. Melihat kondisi si doi lagi tengah hamil, sempat ragu karena lokasinya lumayan jauh dari Kota Mataram yaitu di wilayah Sekotong sana. Sekitar satu jam perjalanan menggunakan Nmax kesayangan (Si Blue). Bawa Nmaxnya pelan-pelan biar si dedek bayi di dalam perut gak terganggu.

Di beberapa minggu yang lalu saya sudah pernah menulis tentang hotel ini tapi dalam cerita yang berbeda. Jalur dan lokasi hotel ini juga sudah beberapa kali saya tulis di postingan sebelumnya.






Setelah semuanya sudah siap tanpa ada yang tertinggal, kami berangkat menuju Sekotong. Cuaca pagi itu cukup terik, maklum saja sudah lama sekali gak turun hujan. Sepanjang perjalanan melihat perbukitan yang kekuningan. Sepanjang perjalanan debu banyak yang bertebaran di pinggir jalan. Kacamata dan masker sudah terpasang dengan sempurna (ala-ala Demian).

Untuk lebih menikmati perjalanan, saya sengaja melalui jalur Teluk Lembar. Bisa melihat birunya teluk dengan jejeran kapal-kapal ferry yang sedang off berdinas. Perbukitan dengan jalanan yang berkelok-kelok. Panas pun hilang sementara karena hembusan angin laut yang sepoi-sepoi. Lama-lama ngantuk juga kena angin laut, padahal sedang membawa motor.

Gak terasa dengan berjalan santai, kami berdua sudah sampai di pintu masuk menuju Wyndham Sundancer. Kami bertemu dan lapor ke pos penjaga. Melaporkan maksud dan tujuan datang kesini. Setelah diijinkan masuk, kami menuju area parkir kendaraan. Suasana hotel cukup sunyi dan tenang. Gak seramai hotel-hotel yang ada di daerah Kota Mataram dan Senggigi. Disini tenang, nyaman dan kece pastinya. Hanya suara angin laut dan dedaunan pohon kelapa saja yang terdengar.






Tujuan utama ya renang. Setelah menuju meja reseptionis, kami bertemu dengan karyawan hotelnya (saya lupa namanya). Langsung saja saya bilang mau renang. Kebetulan voucher yang saya bawa hanya untuk satu orang saja. Karyawan hotel tersebut mengantarkan kami menuju area kolam renang. Disini bebas memilih mau duduk dimana. Kami berdua memilih duduk di tempat tidur santai yang  berada tepat di pinggiran kolam. Tempat tidur santainya lengkap dengan payung dan beruntungnya tempatnya berada di bawah pohon kelapa langsung.

Suasananya benar-benar mantap jiwa banget. Kolam renangnya besar dan dikelilingi oleh bangunan hotel dan pohon-pohon kelapa. Apalagi di sebelah selatan kolam renang itu area perbukitan. Jadi udaranya sangat sejuk meskipun masih musim kemarau panjang.

Tapi ingat sebelum berenang di cuaca panas seperti sekarang ini jangan lupa melindungi kulit dari paparan sinar ultraviolet dari matahari. Untuk itu istri saya membawa produk dari Mark Venus yaitu body milk green tea yang bermanfaat sebagai anti oksidan.

Secara kemasan,Venus Body Milk Green Tea ini dikemas tube flip top berwarna putih dengan penutup berwarna biru. Kemasan plastik ini sangat mudah digunakan dan mudah diatur saat akan dituangkan pada telapak tangan. Jadi sebelum membeli, dipastikan lagi keadaannya masih tersegel atau gak. Bentuk sediaannya cream dan semi gel sehingga gak hanya merawat kulit namun sesuai dengan kegunaannya memberikan kesegaran pada kulit. Cocok sekali digunakan buat kita-kita yang sering traveling panas-panasan #BukanEndorse

***

Gak menunggu waktu lama, saya langsung buka baju dan nyebur ke kolam renangnya. Disini kolam renangnya memiliki kedalaman bervariasi. Ada yang hanya satu sampai empat meter untuk kolam dewasa. Sedangkan untuk kolam anak-anak juga ada. Antara kolam dewasa dan anak-anak hanya dibatasi dengan tali tambang dan bola-bola kecil untuk menandakan batasannya. Saya suka dengan bentuk kolam renangnya.

Dilihat dari atas, kolam renangnya sangat unik. Mirip seperti danau buatan. Gak seperti kolam renang hotel yang rata-rata berbentuk persegi panjang. Tapi disini kolamnya dibuat seperti danau dan sungai lengkap dengan jembatannya. Uniknya lagi di tengah-tengah kolam renang ada mini barnya. Enak buat yang kehausan habis renang, bisa nongki disini sambil liat bule-bule renang. Ada air pancurannya juga lhoo. Bagi yang mau berendam ala-ala bertapa gitu, bisa nyobain berdiam diri di bawah air pancurannya.







Setelah beberapa jam saya berenang, si doi juga ikutan renang. Tapi voucher kan buat satu orang. Pas saya nego sama mas karyawannya, eh malah diijinkan. Dengan ramah masnya mempersilahkan si doi buat ikut renang. Thanks mas bro.

Tanpa menunggu lama, si doi bersiap-siap turun ke kolam renang. Disini air kolamnya bersih, jernih dan kadar kaporitnya rendah banget. Terasa di tangan kalau airnya bersih dan gak lengket, jadi saya ijinkan si doi untuk nemenin saya renang. Meskipun waktu sudah siang dan sinar matahari sedang terik-teriknya, gak terasa bagi kami. Kami menikmati berenang dan berendam di kolam renangnya.

Untuk paket renangnya disini dikenakan 125 ribu per nett. Itu sudah dapat handuk, pizza satu loyang, soft drink yang punya banyak variasi dan renang sepuasnya. Mau renang dari subuh sampai isya juga boleh asalkan kuat lhoo ya. Hahahaha.

Saat itu suasana di kolam renang gak begitu ramai. Hanya beberapa tamu saja bersama keluarga yang renang. Ada juga pasangan bule yang berjemur sambil baca buku, sesekali mereka berenang dan kembali berjemur lagi. Ada juga yang olahraga jalan santai mengelilingi area hotel yang berbukit-bukit.

Yang saya sukai dari kolam renang ini, kita bisa berenang, bersantai sambil mendengarkan lagu-lagu hits terkini. Sesekali ada lagu-lagu reagenya. Benar-benar suasana seperti di pinggir pantai. Kece jiwa !!!




Untuk pizzanya, bener-bener dibuat puas sama pihak hotelnya. Satu voucher kan dapat satu loyang pizza, eh malah yang keluar ada dua loyang pizza. Mana lagi ukuran pizzanya gede banget, porsinya orang bule. 

Beruntungnya kami berdua doyan makan, jadinya gak apa-apa deh. Kenyataannya, kami nyerah juga mau habisin. Baru setenga loyang, sudah kekenyangan. Sisanya kami minta dibungkus buat dibawa pulang. Lumayan buat oleh-oleh orang rumah. Sebagai pelengkap yang seger-seger pun keluar yaitu Juice Melon. Di tengah cuaca panas begini, habis renang enaknya minum juice melon. Segeeerr !!!.

Gak terasa waktu sudah sore. Ternyata kami renangnya sudah empat jam. Ini renang terlama saya sepanjang hidup. Biasanya sudah satu jam, langsung berhenti. Kalau disini, renangnya dibuat betah sama kolam renangnya. Apalagi mencoba renang di kedalaman empat meter, sensasinya beda guys. Rasanya dingin di bawah. Biasanya yang kedalaman empat meter digunakan untuk latihan diving. Kapan-kapan saya pengen latihan diving lagi disini.

Setelah bilas dan bersih-bersih, kami siap-siap untuk balik ke Mataram. Rencananya sih mau ke Sundancer Beach Cafe yang berada di seberang hotelnya. Mau liat-liat pantai. Tapi berhubung sudah ngantuk dan capek renang, kami memutuskan untuk pulang saja.

Setelah berpamitan sama pihak hotel, kami balik pulang. Tadinya ngantuk melanda kami berdua, tapi hilang seketika saat di sepanjang perjalanan pulang. Waktu sore hari, waktu yang pas untuk mengexplore alam Sekotong. Gak panas dan angin laut semakin sepoi-sepoi.

Gili Nanggu, Gili Sudak, Gili Kedis, Pantai Elak-Elak, Gili Gede dan lainnya, destinasi wisata terdekat dari Wyndham Sundancer Resort Lombok.

Over all, rekommended buat kalian yang ingin berlibur ke Pulau Lombok. Jangan sampai tertinggal. Untuk paket menginap di Wyndham Sundancer Resort Lombok bisa kepoin langsung websitenya.

Thanks buat Mas Kam (Kemal) atas pelayanannya saat kami berdua menghabiskan waktu libur di Wyndham Sundancer. Meskipun saat itu kita gak bertemu karena kau disana dan kami disini, Asyiik. Jangan whatsapp yang alay-alay yaak ! Hahahaha.

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Wednesday, 16 October 2019

Mendaki di Tengah Dinginnya Kawah Ijen


Mengenal pertama kali Banyuwangi yaitu tentang pendakian ke Kawah Ijennya. Sudah lama saya menginginkan traveling ke Banyuwangi dan mencoba sensasi mendaki ke Kawah Ijen. Dari menonton video salah seorang youtuber yang bercerita pengalamannya mendaki ke Kawah Ijen. Buka-buka artikel kisah petualangan travel blogger menembus dinginnya Puncak Kawah Ijen. Semua informasi tentang tempat ini saya pelajari untuk bekal bila suatu saat nanti dapat traveling ke Banyuwangi.

Beberapa tahun bersabar, akhirnya doa saya terkabulkan. Gak disengaja, saya bertemu dengan seorang wanita yang sangat saya cintai dan sayangi. Dia berasal dari tanah Blambangan alias Banyuwangi. Kami berdua memutuskan untuk menikah. Saat libur lebaran tahun ini, kami berdua traveling ke Banyuwangi bersama keluaga besar. Banyak destinasi yang sudah kami explore, antara lain De Jawatan Benculuk, Kampung Kali Lo, Pantai Boom, dan Taman Nasional Baluran.

Meskipun sudah ke beberapa destinasi wisata di Banyuwangi, rasanya masih ada yang kurang.  Ibarat minum es kopi, tapi lupa bayar. Itu namaya kurang duit, hahaha (pengalaman pribadi). Kebetulan menyisakan satu hari lagi sebelum balik ke Pulau Lombok, gak lengkap rasanya kalau belum ke Kawah Ijen. Gak ada persiapan yang lebih. Hanya menyiapkan jaket hangat, baju ganti, sarung tangan, topi, senter, sepatu dan isi perut pastinya.

Saat itu yang berangkat ke Kawah Ijen berjumlah tiga belas orang termasuk saya, istri dan adek-adek. Kerennya lagi, bapak mertua juga ikutan. Kata beliau pengen melihat blue fire yang kata mbah google, ada dua di dunia. Salah satunya ada di Kawah Ijen, Banyuwangi. Gak mau membuang kesempatan dong, mumpung lagi di Banyuwangi.

"Jangan ngaku sudah ke Banyuwangi jika belum ke Kawah Ijen !", kata orang Banyuwangi mah gitu. 

Kali ini yang menjadi pemimpin perjalanan yaitu Si Riki, adek sepupu istri. Kebetulan dia bersama teman-temannya sudah sering naik turun Kawah Ijen. Sedangkan saya, istri, adek-adek dan bapak mertua belum pernah ke Kawah Ijen. Hanya tau Kawah Ijen dari sosial media saja.

foto eksis dulu sebelum mendaki

suasana saat mengantri tiket mendaki

suasana pada malam hari saat pendakian

Setelah diputuskan secara matang, kami mulai berangkat dari rumah sekitar jam sebelas malam. Jarak dari rumah di Rogojampi ke Paltuding, memakan waktu satu jam perjalanan. Kami semua menggunakan sepeda motor berjalan beriringan. Gak lupa mengecek kondisi kendaraan dari ban, rem, lampu penerang dan bahan bakar pastinya.

Suasana di perjalanan menuju Paltuding cukup sepi karena sudah beranjak tengah malam. Sesekali bertemu dengan rombongan lain yang barengan menuju arah yang sama, Kawah Ijen. Sebelum memasuki hutan cemara di Paltuding, kami sudah sampai di salah satu pos pemberhentian. Bagi yang akan melanjutkan perjalanan ke Kawah Ijen harus melapor di pos ini dulu. Disini kami dikenakan biaya sukarela per orangnya. Pos ini berfungsi untuk mendata tamu yang akan ke Kawah Ijen.

Bapak-bapak pejaganya ramah sekali kepada pengunjung. Saya sempat ngobrol-ngobrol sebentar sambil beristirahat sejenak. Saya melihat di daftar buku tamuanya, jumlah pengunjung yang lewat sini sudah lebih dari seribu orang. Saya tanya-tanya, mereka semua akan mendaki Kawah Ijen. Gak kebayang di Puncak Ijen nanti bertemu dengan ribuan pendaki yang datang dari berbagai daerah. Di pos pemberhentian ini juga ada fasilitas kamar kecil yang dapat digunakan oleh para pengunjung.  Gratis kok !. Ada juga para pedagang topi kupluk dan shall untuk menghindari dinginnya suhu di Kawah Ijen. Harganya lumayan murah dan bisa ditawar pastinya.

Setelah beristirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan ke Paltuding. Jadi Paltuding ini merupakan pintu gerbang untuk memulai pendakian ke Kawah Ijen. Sepanjang perjalanan menuju Paltuding, kami melewati hutan dan perbukitan. Sayangnya malam, jadi gak terlihat apa-apa. Katanya kalau lewat sini pada pagi hari, pemandangan hutan cemaranya kece sekali.

Sekitar lima belas menit dari pos pemberhentian, kami sudah sampai di area parkir Paltuding. Suasana sangat ramai melihat banyak rombongan yang bersiap-siap mendaki. Ada juga yang lagi berkumpul mengelilingi api unggun. Ada juga yang lagi tidur nyenyak di dalam tenda. Saya dan rombongan memutuskan untuk beristirahat di sebuah warung makan. Disini kita bisa makan-makan dulu. Pesen mie rebus, bakso, nasi goreng dan minuman hangat, lengkap disini. Mau tiduran juga boleh. Di dalam warung ada sebuah ranjang yang bisa digunakan untuk beristirahat buat pengunjung.

Suhu disini sangat dingin. Lebih dingin dari suhu di pos pemberhentian tadi. Cek aplikasi suhu di handphone, ternyata suhunya mencapai 10 hingga 8 derajat celcius. Saking dinginnya bila berbicara, uap-uap putih dari mulut akan terlihat. Keren sih, sama seperti di drama Korea. Kalau mereka berbicara, uap putih dari mulutnya terlihat. "Sangarange" (sambil berhembus ala-ala Dong Hae).

Kendaraan sudah terparkir dengan aman. Saatnya beristirahat sejenak, mengumpulkan tenaga untuk bekal mendaki yang katanya susah-susah gampang. Disini kita gak boleh meremehkan apapun. Belajar dari orang-orang yang sudah berpengalaman mendaki disini. Jadi semua aturan dan hal-hal yang penting harus diikuti dan gak boleh dilanggar.

Waktu mendaki sekitar satu jam lagi. Aturan mendaki ke Kawah Ijen dimulai dari jam satu pagi. Sebelum waktu itu, para pendaki gak diijinkan untuk memulai pendakian agar terhindar dari hal-hal yang gak diinginkan. Loket tiket juga dibuka jam satu pagi. Kebetulan saat itu kondisinya sangat ramai. Jadi, loket tiket dibuka agak pagian untuk menghindari antrian yang sangat panjang.

Salah satu teman kami, ditugaskan untuk mengantri di depan loket. Cukup panjang juga antriannya. Beberapa menit kemudian, tiket untuk lima belas orang sudah ditangan. Harga tiket masuk untuk satu orangnya yaitu 7500 rupiah. Itu sudah termasuk biaya pendakian. Sebelum mendaki mari cek-cek lagi kebutuhan yang diperlukan. Jangan sampai ada yang lupa. Berdoa agar diberi kelancaran dan kemudahan dalam perjalanan.

Waktu menunjukkan hampir jam satu pagi. Kami sudah berada di tengah-tengah ribuan pendaki. Saya hanya bisa melemparkan senyuman ke istri, begitu pula si doi yang dengan riangnya akan mendaki. Bapak mertua juga gak kalah sigap. Jaket hangat, sarung tangan, dan topi kupluk sudah melekat di badan. Kita semua sudah siap menuju Kawah Ijen.

Welcome to Blue Fire !

Petugas memperbolehkan kami semua untuk memulai pendakian. Suara sorak-sorai ribuan pendaki terdengar jelas. Kami gak sendirian, banyak teman disini. Saya memegang tangan istri terus berjalan di tengah gelapnya malam. Ribuan sinar senter terlihat seperti rombongan kunang-kunang yang terbang kesana-kemari.

Kondisi jalurnya sementara ini cukup aman menurut saya. Jalan tanah dan agak lebar. Di awal perjalanan, jalurnya gak terlalu menanjak. Setelah setengah jam perjalanan, jalurnya sudah mulai menanjak, bahkan kemiringannya sekitar empat puluh lima derajat. Di beberapa titik, kondisi jalurnya cukup curam. Kita harus berhati-hati saat melangkah. Sedikit salah, kaki bisa terperosok ke jurang yang lumayan dalam.

Berhubung sudah lama sekali gak mendaki, nafas sempat ngos-ngosan. Keringat bercucuran di tengah malam. Pengalaman pertama saya mendaki ke Kawah Ijen membuat cerita agak berbeda dari pendakian-pendakian sebelumnya. Si doi lumayan kuat juga, maklum anak Pramuka. Tapi sempat di beberapa titik peristirahatan, kami berhenti sejenak untuk mengatur nafas. Lumayan juga nih gunung, meskipun kondisi jalurnya bagus tapi tanjakkannya itu membuat agak PHPin (pemberi harapan palsu). Terlihat dari jauh sebentar lagi sampai, nyatanya jaraknya masih jauh.

Uniknya di pendakian Gunung Ijen ini ada taksi ojeknya. Bagi pengunjung yang gak kuat jalan, bisa menggunakan taksi ojek ini. Biaya yang harus kita keluarkan untuk naik ke Kawah Ijen saja sebesar 500 - 700 ribu per orang. Sedangkan untuk turunnya bisa dinego. Bentuk taksi ojeknya bukan seperti sepeda motor, mobil atau kendaraan bermesin. Tapi bentuknya seperti kereta dorong membawa barang.

Dimana saat mendaki dibutuhkan tiga tenaga manusia. Dua orang bertugas untuk menarik, sedangkan satu orangnya mendorong dari belakang. Bila saat turun, satu orang bertugas menarik dan mengerem dan dua orangnya bertugas untuk mendorong dari belakang. Jangan khawatir, kereta dorongnya sudah dilengkap dengan tempat duduk yang empuk dan jangan takut terjatuh. Para pengemudi taksi ojeknya sudah profesional.





Kurang lebih memakan waktu dua jam perjalanan dan menempuh jarak 3,4 kilometer, akhirnya kami tiba di atas Kawah Ijen. Rasa lelah mendaki hilang seketika ketika melihat banyak pendaki yang berkumpul menyaksikan blue fire. Saat itu blue firenya gak terlalu banyak terlihat. Tapi kami masih diberikan rezeki untuk melihatnya. Api biru yang dihasilkan dari proses reaksi gas bumi ketika bertemu dengan oksigen pada tekanan tertentu. Hasil dari reaksi inilah yang menghasilkan api berwarna biru.

Menurut informasi yang kami dapat dari salah satu penjaga Kawah Ijen, sehari sebelum kami mendaki telah terjadi erupsi Gunung Ijen. Jadi semua orang dilarang mendekati kawah. Begitu juga dengan para penambang belerang, dilarang beraktifitas untuk sementara waktu. Gunung Ijen masih termasuk gunung berapi yang aktif. Jadi suatu waktu bisa erupsi dan mengeluarkan gas yang sangat berbahaya.

Sayang ya, saat itu kami gak diijinkan untuk turun ke bawah kawah. Padahal saya dan istri pengen banget melihat secara dekat blue fire yang sungguh indah dan hanya ada dua di dunia. Untuk foto-foto blue firenya mohon maaf gak ada dikarenakan kualitas kamera yang pas-pasan. Untuk turun juga gak diperbolehkan. Jadi, hanya bisa menikmati dengan kedua mata sendiri saja. Mohon maaf sekali lagi. 

Waktu menunjukkan jam setengah lima subuh, suhu udara semakin dingin. Lebih dingin dari di Paltuding tadi. Jaket tebal yang saya gunakan pun tembus oleh dinginnya pagi itu. Bibir terasa tebal, tangan yang sudah dilapisi sarung tangan pun ikut menggigil. Gak hanya saya seorang yang mengalami hal seperti itu, hampir semua pendaki mengalaminya. Sempat khawatir ada yang terkena hipotermia, tapi kekhawatiran tersebut ditepis dengan kondisi rombongan sehat semua. Meskipun dingin melanda, kami tertawa sangat riang. Canda gurau pun tiada henti-hentinya.

Gak lama kemudian di sebelah timur, terlihat warna keemasan. Gak lama lagi, sang fajar akan bangun dari tempat tidurnya. Pemandangan yang luar biasa, melihat sunrise dan kita berada di atas awan. Awan putih menyambut pagi dengan keindahannya. Sekali lagi, rasa lelah hilang seketika ketika melihat di sebelah timur lautan awan putih dan di sebelah barat  Kawah Ijen yang sudah tampak jelas.




foto bareng dengan Mr.bule dari Australia

Langit sudah terang, tapi dingin yang gak wajar masih menyelimuti tubuh. Suhu saat itu mencapai 8 derajat celcius. Apa ini namanya cuaca ekstrim ?. Menggigil gak henti-hentinya. Bibir terlihat biru, wajah pucat seperti mayat hidup. Alhamdulillah, kami masih diberikan kekuatan di tengah dinginnya Kawah Ijen.

Hanya berharap terkena hangatnya sinar mentari pagi yang bisa mengurangi dingin yang menyelimuti tubuh ini. Ribuan pendaki terlihat berjalan di sepanjang bibir kawah. Dari anak kecil hingga orang tua ada disini. Jadi kebayang punya anak kelak, pasti saya bareng istri bawa si dedek traveling kemana saja.

Sungguh pemandangan yang luar biasa. Melihat Kawah Ijen yang berwarna hijau toska secara langsung. Asap putih beracun yang mengepul dari celah-celah bebatuan belerang menambah kecantik an dari Kawah Ijen. Dari berbagai posisi kita berada, Kawah Ijen tetap selalu mempesona. Seperti mimpi bisa sampai disini. Gak nyangka sebelumnya bisa benar-benar bertemu dengan Kawah Ijen.

Dari penampakan di foto dan aslinya, sama-sama kece. Gak ada yang berbeda antara di foto dengan aslinya. Keindahan surga dunia yang Allah SWT ciptakan untuk selalu kita syukuri dan menambah keimanan kita kepada Sang Pencipta.




Setelah puas berfoto-foto saatnya kita kembali turun ke Paltuding. Hari sudah beranjak siang, sekitar jam delapan pagi kami semua balik turun. Para pendaki lainnya pun banyak yang turun juga. Jalur yang kami lewati semalam ternyata pemandangannya begitu indah. Dari kejauhan kita bisa melihat Kawah Wurung yang hijau. Kawah Wurung sendiri berada di Kabupaten Bondowoso. Jadi, Kawah Ijen berada di perbatasan antara Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso.

Di sebelah Kawah Wurung, dengan begitu megahnya kita bisa melihat Gunung Raung. Gunung favorit bagi para pendaki dengan memiliki jalur yang begitu curam tapi banyak pendaki yang tertantang untuk menaklukkan gunung ini hingga puncak.

Untuk saat ini saya cukup menaklukkan Kawah Ijen dan hati istri saja dulu, asyiik. Kawah Ijen dengan ketinggian 2799 Mdpl berhasil saya capai dan sangat puas sekali. Puncak gunung tertinggi yang saya capai sepanjang hidup saya.




Destinasi wisata Banyuwangi saat ini sangat menggiurkan seperti De Djawatan Benculuk, Taman Nasional Baluran, Pantai Pulau Merah, Pulau Menjangan, dan yang paling favorit saat ini yaitu Kawah Ijen. Untuk menuju Banyuwangi bisa menggunakan pesawat, kereta api, bus dan jalur laut. Gak butuh modal besar untuk berlibur ke Banyuwangi. Dengan budget pas-pasan juga bisa traveling ke Banyuwangi. Percaya gak ?

Apalagi banyak paket promo dari beberapa aplikasi travel yang ada. Ambil contoh saja, traveloka. Saya sudah beberapa kali menggunakan aplikasi ini untuk memesan hotel, tiket pesawat, kereta api dan travel agent. Sejauh ini traveloka masih menjadi favorit buat saya.

Harga promonya pun lumayan murah dan terjangkau. Dengan kemudahan tersebut, bisa didapat bila kita menggunakan paket wisata Traveloka Xperience. Segala kebutuhan yang kita inginkan, tersedia di aplikasi Traveloka.

Bila kita ingin berlibur ke Banyuwangi apalagi ke tempat yang keren-keren seperti Kawah Ijen, ada beberapa paket yang ditawarkan.




Salah satunya paket 1 Hari Tour ke Kawah Ijen. Banyak kemudahan yang bisa kita dapat. Dengan harga 192 ribu per orang, kita sudah bisa mengexplore Kawah Ijen.

#XperienceSeru kalian baik bareng kekasih, keluarga ataupun sahabat, bisa merubah mimpi menjadi kenyataan. Dengan paket tour 1 hari ke Kawah Ijen, membuat cerita perjalanan kalian mendaki Kawah Ijen menjadi berkesan.



foto pasca wedding dulu 

Kemudahan lainnya yang didapat dari Traveloka Xperience kita yang memiliki budget pas-pasan gak perlu gigit jari dengan perkataan orang kalau ke Banyuwangi itu mahal. Tenang, segala macam kegalauan kalian akan diselesaikan oleh Traveloka Xperience. Segalanya menjadi lebih mudah, jelas dan sesuai budget pastinya.

Gimana buat kalian yang sudah membaca cerita saya berjuang di tengah dinginnya suhu Kawah Ijen ?. Bila tertarik ke Banyuwangi, bisa menggunakan Traveloka Xperience. Jadi tunggu apalagi, yuuk wujudkan keinginan kalian untuk berlibur bersama Traveloka Xperience. Banyak paket liburan ke Banyuwangi yang bisa kalian dapatkan #XperienceSeru.

Penasaran, yuk langsung download aplikasi traveloka di handphone kalian terus pilih Traveloka Xperience. Disana banyak paket wisata ke destinasi yang ada di Banyuwangi. Dijamin gak nyesel. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Monday, 14 October 2019

Food Review : Re-Launching Seaview Resto Aruna Senggigi


Hari Selasa jam setengah delapan pagi, panggilan whatsapp berbunyi. Ternyata ada pesan dari salah satu blogger senior bernama Bunsal. Beliau memberikan undangan kepada saya untuk menghadiri sebuah launching menu kuliner di Aruna Senggigi Resort & Convention.

Undangan sore di hari yang sama. Dadakan banget tapi syukurnya saya menyanggupi untuk datang ke acara tersebut. Wah, makan-makan lagi kita. Setelah dapat balasan "Ok" dari Bunsal, saya mengabari istri di rumah. Istri sayangnya gak bisa ikutan, nunggu rumah saja katanya. Namanya ibu hamil ya gitu, lebih senang dan nyaman berada di rumah.

Setelah pulang kantor, saya langsung menuju Senggigi. Sore itu jalanan di Kota Mataram sudah mulai macet. Orang pulang kerja dan sekolah bertemu bersamaan. Apalagi di Kota Mataram sudah mulai banyak mobil dan motor. Setiap persimpangan lampu merah gak kebayang dah macetnya seperti apa.

Setelah keluar dari macetnya ibukota, saya sudah berada di Jalan Raya Senggigi. Disini juga kendaraan padat merayap. Kurang lebih setengah jam dari kantor, saya sudah sampai di lokasi.




foto eksis bareng @kuliner.mataram dan Mas Yaris

Waktu menunjukkan jam setengah lima sore. Saya berjalan kaki menuju lokasi acara, sebut saja Seaview Resto Aruna Senggigi. Lokasinya tepat di depan hotel Aruna Senggigi. Kursi dan meja sudah siap. Mini panggung juga sudah gak sabar menampilkan tontonan yang menghibur para tamu yang hadir.

Yang saya suka sama resto ini, berada di pinggir pantai. Kita bisa melihat pemandangan laut, pasir putih, dan yang ditunggu-tunggu yaitu sunset moment. Sunset disini terlihat keren. Apalagi pada saat cuaca di Bali cerah, kita bisa melihat matahari terbenam dan Gunung Agung, Bali. Sayangnya saat itu angin lautnya kencang sekali, tapi tetap menikmati momentnya.

Saya kebetulan datang sendirian mewakili Blogger Lombok dan Genpi Lombok Sumbawa. Saya disambut oleh salah satu karyawan hotel, namanya Mas Yaris. Beliau kebetulan menjabat sebagai direktur sales di Aruna Senggigi. Postur tubuh sama-sama gendut seperti saya, hahahaha mengakui juga.

Setelah ngobrol-ngobrol bareng Mas Yaris dan beberapa dari pihak hotel, saya memilih tempat duduk yang nyaman dan enak buat mengambil foto. Namanya food & travel blogger ya begini. Dimana ada lauching makanan disitu ada kita-kita.

Gak lama kemudian, datang juga beberapa media dan admin endorsmen seperti ig @kuliner.mataram (Si Dina), ada juga datang para ladies dari ig @kulinerdilombok. Kami memiliki satu tujuan yaitu meliput acara dan mencicipi semua hidangan yang ada. Gimana rasanya dan harus jujur enak apa gak.

Disini saya harus jujur, ada beberapa makanan yang saya suka dan kurang suka. Sukanya karena rasanya yang enak, sedangkan gak sukanya karena memang gak doyan sama makanannya.



Setelah para tamu undangan sudah mulai berdatangan, panitia membuka acara. Kali ini acara dibuka oleh host cantik bernama "Mbak Mira". Dengan senyumannya yang teduh menyapa para undangan yang hadir. Dengan berbusana pakaian Lumbung Suku Sasak, mencerminkan tema yang diambil yaitu traditional etnic. Gak hanya mbak Mira saja tapi semua pihak dari Aruna Senggigi menggunakan pakaian Sasak.

Setelah acara pembuka, ada sambutan dari bapak Linggom Mula Siahaan selaku owner representatif Aruna Senggigi. Beliau mengucapkan terimakasi kepada seluruh karyawan Aruna Senggigi yang telah bekerja keras mengadakan acara ini. Ucapan terimakasih juga disampaikan untuk para tamu undangan yang berkenan hadir mensukseskan acara ini.

Jadi sebenarnya Seaview Resto sudah dilaunching sebelum gempa Lombok terjadi. Pasca gempa, dunia pariwisata Lombok sempat mati suri. Dampaknya dirasakan langsung oleh pihak Aruna dan Seaview resto. Dengan re-launching ini diharapkan tamu-tamu banyak yang datang dan suka sama pelayanan di Seaview Resto Aruna kembali. Mengangkat konsep tradisional dengan perpaduan menu-menu tradisional dan modern. Bukanya dari jam 7 pagi sampai malam. Untuk breakfast dimulai dari jam 7 pagi sampai 10 pagi. 

Setelah sambutan Pak Linggom, Mbak Weni sebagai General Manager Aruna Senggigi menjelaskan apa saja menu-menu baru yang ada di Seaview Resto Aruna Senggigi. Banyak juga menu-menu yang hadir dalam re-launching kali ini. Kebetulan ini pertama kalinya saya mencicipi menu yang ada di Seaview Resto, jadi penasaran ingin cicip semuanya. Ingat diet wooiii !!!



Bebek Panggang 

Tahu Gimbal

Pisang Goreng & Singkong Goreng

Beberapa menu yang buat saya penasaran yaitu Bebek Panggangnya. Ada juga Tahu Gimbal dan Nasi Goreng Hokian. Lucu-lucu namanya, terutama tahu gimbalnya. Mirip pecel kangkung atau tahu tek-tek. Hanya saja tahunya dibuat gimbal. Keren kan !!!.

Untuk cemilannya ada dua menu andalan yang dikeluarkan oleh Seaview Resto yaitu Pisang Goreng dan Singkong Goreng. Untuk kedua cemilan ini juara soal rasa dan saya suka banget. Kulit tepung untuk pisangnya gak terlalu tebel. Renyah dan manis. Ditambah dengan parutan keju dan susu. Enak banget.

Untuk singkong gorengnya ada campuran bumbu rempah-rempahnya. Seperti makan singkong goreng di deket rumah dulu. Legendaris dan rasanya enak banget. Cocok dimakan dengan ditemani segelas kopi hitam Lombok. Belum coba kan ? Yuuk dicoba kalau gak ketagihan nanti, hehehe.


Pisang Goreng Kriwel

Nasi Goreng Hokian

Selain menikmati hidangan yang ada, kita juga bisa melihat live cooking dari para chef-chef kece Aruna Senggigi. Kali itu mereka membuat dua macam menu yaitu sandwich dan pisang kriwel. Kalau sandwich gak ada yang spesial buat saya karena sandwichnya seperti biasa kita makan, tapi ukurannya yang lumayan gede.

Yang menjadi perhatian saya yaitu pisang goreng kriwelnya. Baru pertama kali saya melihat cemilan ini. Biasanya pisang goreng dibuat dengan adonan tepung. Tapi kalau ini dilumuri dengan kulit pangsing yang sebelumnya dipotong kecil-kecil. Rasanya enak banget. Pisang yang digunakan yaitu pisang ketip dan bisa juga pisang kepok. Saat gigitan pertama, ada krunci-krunci dari kulit pangsitnya. Renyah dan makannya nambah-nambah lagi. Gak terasa sudah habis saja satu piring, hahaha.

Untuk harga menu-menu yang ada di Seaview Resto bisa kalian lihat foto di atas, tapi gak semua menu sempat difoto. Soal harga menurut saya masih aman lah. Rasa juga lumayan enak. Mungkin kedepannya, ditambah menu-menu lainnya dengan cita rasa yang gak kalah dengan tempat lainnya.




Menikmati hidangan yang sudah di atas meja, sambil menonton penampilan grup band dari atas panggung dengan lagu-lagu keren. Bener-bener kita terbawa oleh suasana. Merasakan angin pantai, melihat deburan ombak Pantai Senggigi dan sunset yang indah.

Sudah kenyang, saatnya kami pamit pulang. Over all, acara re-launchingnya keren. Menu-menu yang dihidangkan juga lumayan enak. Saya saja makan sampai kenyang. Saya suka Nasi Goreng Hokiannya. Bumbu rempah-rempahnya pas dan ada potongan jagungnya. Saya beri nilai 8 dari 10. 

Untuk Bebek Panggangny saya rasa terlalu manis dan rasanya aneh dilidah. Gak biasa saya makan bebek panggang seperti ini. Daging bebeknya empuk tapi rasanya aneh menurut saya. Menurut kalian yang sempat makan gimana ?. Boleh komen di kolom komentar. 

Cemilannya enak banget. Pisang Goreng Kriwel saya rekommended banget. Kapan-kapan kalau datang ke Seaview Resto lagi, saya pasti memesan menu ini. 

Itu dulu review dari saya. Sukses selalu buat Seaview Resto Aruna Senggigi. Ditunggu undangan selanjutnya, Amiin hehehe. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra