Saturday, 21 September 2019

Menenangkan diri di Pantai Pangsing : Buwun Mass, Sekotong


Happy Weekend !!!

Penat rasanya sudah sebulan gak traveling. Dari Hari Senin sampai Jumat bolak balik kantor. Sedangkan Sabtu Minggu melakukan kesibukan yang lainnya. Menyibukkan diri dengan hal lain, sampai lupa yang namanya traveling. Apalagi istri lagi hamil muda, lebih baik di rumah saja daripada keluar tapi bingung mau kemana. Intinya, lagi kangen-kangennya sama istri. Gak tega ninggalin lama-lama (curhat dikit).

Beberapa hari yang lalu, tepatnya Hari Sabtu pagi saya bersama tim Genpi Lombok Sumbawa melakukan touring kecil-kecilan ke wilayah Sekotong, Lombok Barat. Tujuan kegiatan ini untuk mensurvei lokasi yang kabarnya akan dijadikan lokasi merayakan Ulang Tahun Genpi LS yang ketiga. Bentar lagi Genpi LS berumur tiga tahun. Sambil menyelam minum air. Sambil survei, sekalian jalan-jalan gitu, hahaha.

Waaah Sekotong !!!

Kalian tahu gak Sekotong memiliki banyak destinasi wisata yang kece. Hanya saja, dulunya Sekotong kalah eksis dengan Pantai Kuta Mandalika, Lombok Tengah. Gunung Rinjani dengan Danau Segara Anak di Lombok Timur dan Gili Trawangan di Lombok Utara. Tapi sekarang Sekotong menjadi wilayah yang diimpi-impikan oleh para travelers yang liburan ke Pulau Lombok. Gak hanya satu atau dua destinasi kece yang ada di wilayah Sekotong, tapi hampir puluhan banyaknya. Apalagi di Sekotong ada hotel bintang lima lhoo. Apa namanya ?. Jawabannya ada di tulisan selanjutnya. 

Sekotong merupakan sebuah kecamatan yang berada di Kabupaten Lombok Barat, Provinsi NTB. Berbatasan langsung dengan Kabupaten Lombok Tengah pada bagian timur. Sekotong terbagi menjadi tiga wilayah, antara lain; Sekotong Barat, Sekotong Tengah dan Sekotong Timur.

Bisa ditempuh satu jam perjalanan dari Kota Mataram, tiga puluh menit dari Pelabuhan Lembar dan satu setengah jam dari Bandara Internasional Lombok. Alat transportasi yang bisa gunakan yaitu Bus Damri dari Pool Damri yang berada di Sweta, Kota Mataram. Bus Damri ini melayani rute Kota Mataram menuju Bangko-Bangko, wilayah paling ujung barat dari Kecamatan Sekotong. Untuk jam keberangkatan, bisa cek langsung ke kantor Damrinya. Selain itu kalian bisa menggunakan kendaraan pribadi atau sewa.

Untuk kondisi jalannya, kalian gak perlu khawatir. Jalur dari Kota Mataram sampai di wilayah Sekotong hampir semuanya aspal mulus. Memiliki jalur yang cocok sekali untuk touring atau gowes. Ingin mencoba, monggo dicoba suatu saat nanti. 

Untuk menuju Sekotong bisa menggunakan dua jalur. Jalur Sekotong Bawah dan Sekotong Atas. Apabila menggunakan jalur Sekotong Bawah, kalian akan dimanjakan dengan keindahan teluk Lembar. Melihat Pelabuhan Lembar yang melayani penyeberangan ferry rute Lombok - Bali dan Lombok - Surabaya. Belum lagi melewati Pelabuhan Gili Mas, pelabuhan yang digadang-gadang akan menjadi pelabuhan terbesar di Asia Tenggara yang melayani kapal pesiar dunia.

Sedangkan jalur Sekotong Atas, kalian akan memotong jalur dengan waktu yang lebih cepat dibandingkan jalur Sekotong Bawah. Melalui jalur perbukitan dan berkelok-kelok. Harap berhati-hati, jalur ini lebih ramai dibandingkan dengan jalur Sekotong Bawah.

Pakai jalur laut juga bisa, tapi jalannya dari Pelabuhan Lembar dengan menggunakan perahu warga. Tujuannya kemana ?. Ada yang ke Gili Nanggu, Kedis dan sekitar wilayah Sekotong. Soal harga, bisa dinego saat transaksi. 

Memiliki pemandangan yang indah dan alami. Apalagi melihat deretan perbukitan dan garis pantai cantik khas Pulau Lombok. Berpasir putih dengan ratusan pohon kelapa, membawa kita ke surga dunia.  Belum lagi penampakan bawah lautnya juga mempesona. Berbagai jenis terumbu karang dan biota laut bisa kita temukan disini.

Sekitar jam sembilan pagi dengan beranggotakan tujuh personil. Saya bersama istri, Mbak Jhe, Bang Jack, Zar, Bang Toni dan Arasy. Cuaca saat itu cukup cerah meskipun panas sangat menyengat. Angin cukup kencang dan kering. Memakai masker dan kacamata adalah pilihan yang tepat untuk menghindari debu-debu di jalan masuk ke mata. Apapaun, kemanapun dan sama siapapun, tetap utamakan keselamatan dan kesehatan.






Tujuan kami kali ini menuju sebuah destinasi baru yang katanya memiliki pemandangan yang kece dan belum banyak yang mengexplore.  Jika pada trip sebelumnya tim Genpi LS sudah mengexplore beberapa gili di Sekotong Barat, untuk kali ini Buwun Mas menjadi opsi buat kami explore. Tapi sebelum sampai, singgah dulu di Loezawa Tourist Information Center. Pemiliknya bernama Kak Loezawa. Beliau adalah penggiat pariwisata yang termasuk member Genpi LS juga. Kak Loezawa ini pentolan pejuang pariwisata  Sekotong yang saat ini menjabat sebagai Anggota Dewan Kabupaten Lombok Barat.

Disana kami beristirahat sejenak, berbincang-bincang dengan beliau dan menikmati secangkir kopi Lombok yang menggoda keharumannya.  Beberapa hal yang asyik kami perbincangkan, salah satunya mencari ramuan jitu untuk memperkenalkan Genpi LS ke masyarakat Sekotong khususnya masyarakat yang tinggal di dusun-dusun pelosok.

Waktu sudah semakin siang, kami bergegas menuju lokasi tujuan kami. Lokasi pertama yaitu Pantai Nambung. Berada di paling ujung timur wilayah Sekotong. Pantai Nambung ini sangat ikonik dengan air terjun asinnya. Dan garis pantainya merupakan perbatasan Kabupaten Lombok Barat dengan Lombok Tengah. Gak banyak yang bisa diceritakan tentang pantai ini. Pantai Nambung menjadi destinasi pilihan kedua apabila lokasi pertama gak memungkinkan.

Selesai mengeksplorasi Pantai Nambung, kami bergeser ke pantai lainnya. Jalannya cukup bagus dan ada beberapa ruas jalan baru yang sedang dibangun. Menghubungkan jalan utama dengan destinasi pantai.





Cuaca cerah siang itu membuat kami terpacu untuk semakin mengeksplore keindahan beberapa pantai yang kami lewati. Gak begitu jauh dari Pantai Nambung, kami sudah tiba pertigaan menuju Pantai Pangsing. Jalurnya masih tanah berdebu dan tampaknya sedang ada pengerjaan. Kita doakan saja, beberapa bulan kedepan jalurnya sudah bagus.

Setelah melalui jalan tanah, kami sampai di sebuah perkampungan nelayan. Gak jauh dari perkampungan nelayan, kami melihat sebuah pantai yang cukup tenang. Beneran tenang tanpa ada deburan ombak.  Inilah yang dinamakan Pantai Pangsing. Pantai ini sangat tenang karena berada di teluk yang sepi. Air laut disini sangat jernih airnya, bewarna hijau ke biru-biruan. Dengan panorama mangrove di ujung sebelah timur pantai.

Cocok sekali buat kalian yang sedang mencari tempat untuk menenangkan diri dan ingin menjauh dari hingar bingarnya ibukota. Untuk sinyal handphone, hanya beberapa sinyal operator saja yang kencang disini. Jadi harap bersabar buat kalian yang datang kesini dan ingin eksis di dunia medsos, tapi sinyal gak ada.




Cukup lama kami disini. Berjalan kaki menyusuri bagian barat dari Pantai Pangsing. Terik matahari pun gak terasa karena angin pantai yang sepoi-sepoi menyentuh kulit. Disana ada sebuah villa keren lhoo. Katanya sih pemiliknya orang Jepang yang tinggal di Jepang. Setiap tiga bulan sekali, beliau datang kesini untuk melihat villanya. Villanya saat itu sedang sepi. Si pemilik kelihatannya lagi di Jepang main sama Nobita dan Doraemon. Tapi ketika kami singgah untuk berteduh, kami melihat penjaganya. Bapak penjaganya hanya tersenyum dari kejauhan saja kearah kami.

Kami minta ijin untuk masuk sebentar melihat-lihat keadaan sekitar. Lihat kiri kanan, siapa tau si pemilik tiba-tiba nongol pakai kantong ajaibnya Doraemon. Merasa bentengnya didatangi oleh orang asing. Pengen menyerbu dan menundukkan Kaisar Takhesi dan anak buahnya. Kok larinya ke Benteng Takhesi ?. Lupakan. 

Gak jauh dari villa tersebut, kami bertemu dengan anak-anak kecil yang sedang memanjat pohon kelapa untuk mengambil kepala muda. Keliatannya sangat segar, akhirnya kami mengupah mereka untuk mengambilkan kami kelapa muda. Baik banget anak-anak tersebut. Sangat ramah kepada kami.

Pantai Pangsing ini sangat cocok sekali dijadikan tempat ngecamp. Memiliki pasir berwarna putih, air lautnya yang tenang, warga desanya yang sangat ramah dan terpenting penampakan teluknya yang kece. Dari kejauhan kami melihat kapal-kapal nelayan dan perbukitan Buwun Mas.

Waktu gak terasa sudah sore saja. Kami segera meninggalkan Pantai Pangsing. Saat kami balik, ternyata kita bisa menggunakan perahu menuju dusun seberang. Tim kami dibagi dua. Ada yang menggunakan jalur darat dan ada yang menyeberang dengan perahu sambil mengeksplorasi mangrove disepanjang teluk sepi. Hanya memakan waktu lima belas menit, perahu kami sudah sampai di Dusun Sepi. Salah satu dusun di Desa Buwun Mas yang menawarkan berbagai panorama seru seperti Buwun Mas Hill.








Gak terasa mengexplore Pantai Pangsing,perut pun gak bisa dinego. Kami lapar dan segera mencari makan siang. Sajian ikan segar khas masakan warga siap untuk disantap. Oh ya pantai disepanjang Sekotong ini kaya akan berbagai jenis ikan, khususnya tuna dengan ukuran yang beragam. Tuna bakar dicolek sambel mentah khas Lombok tentu sangat menggoda.

Setelah kenyang, kami dari tim Genpi LS melanjutkan perjalanan balik ke Kota Mataram. Over all, perjalanan kali ini cukup seru. Tapi sayang, saya dan kawan-kawan gak sempat berenang dan berjemur di Pantai Pangsing. Rekommended buat datang kesini lagi. Kalau ada rencana kesini lagi, jangan lupa bawa celana renang, sun block, kacamata hitam, tikar, payung, dan bahan-bahan makanan. Mau pelesir pak ?. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Sunday, 15 September 2019

Dinner di Caca Garden Cafe, Ampenan


Salam laper guys !!!

Lagi-lagi bosen hanya nongki di rumah saja. Apalagi habis baca kisahnya Widya dan Nur saat KKN di Desa Penari. Belum lagi emosi nonton Indonesia lawan Malaysia (emosi liat ulah suporter timnas kita), perut jadi laper guys  #BukanNgomporin

Pengen makan malam sambil nongki di luar bareng si doi (istri), tapi dimana ya?. Muter-muter kota, eh ternyata di deket rumah ada tempat nongki baru dan kece. Beneran kece lhoo guys. Ya kan yank ? (meyakinkan pembaca ke doi).



Namanya Caca Garden Cafe. Katanya sih baru buka dua minggu yang lalu. Kok saya gak tau ya ? (efek sibuk nguli mulu). Kalau sudah nemu tempat nongki kece, alamat harus kita cobain menu-menu disini. Sebelum bahas menunya apa saja yang ada disini. Yuuk kita review tempatnya dulu !.

Caca Garden Cafe. Namanya imut-imut gitu.  Lokasinya berada di Jalan Laksda Adi Sucipto, Ampenan Utara, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram. Dekat dengan Bandara Selaparang, Kota Mataram. Tempatnya sangat strategis sekali karena berada di jalur Kota Mataram menuju Pantai Senggigi.

Konsepnya oke banget yaitu box container gitu. Sudah ada beberapa cafe yang ada di Kota Mataram memiliki konsep serupa tapi gak sedikit diantaranya sudah gulung tikar karena persaingan produk. Selain memiliki konsep tempat yang menarik, kelezatan masakan dan manajemen juga harus diperhatikan.

Pengalaman saya ketika datang di sebuah cafe yang tempatnya kece, hebohnya hanya di awal saja. Tapi semakin hari, pengunjung semakin sepi karena yang dijual hanya tempatnya saja. Kelezatan makanan dan minumannya kurang terlalu diperhatikan. Kadang datang pertama, rasanya enak. Setelah datang kesekian kali, rasanya berubah-ubah. Parahnya lagi kita cepat bosen karena rasanya itu-itu saja, gak ada inovasi. Selain itu, keramahan pelayanan juga penting. Pelayan jutek, mana betah pengunjung. Kalau pelayan cantik, manis dan murah senyum, berkali-kali kita datang kesana. Ya gak ? hehehehe (hanya berlaku bagi yang jomblo).






Setelah sampai di area parkir yang lumayan luas dan kendaraan sudah aman pada posisinya, kami berdua segera menuju ke dalam cafe. Untuk keamanan, dijamin oke. Ada lebih dari satu satpam yang berjaga di pintu masuk cafe ini. Wajahnya sangar-sangar lagi, tapi ramah guys.

Cafenya terbagi menjadi dua ruang yaitu outdoor dan semi outdoor. Dimana ada beberapa pilihan tempat duduk disini.  Untuk ruang semi outdoornya cukup kece. Desainnya minimalis dengan lantai terbuat dari kayu. Meja dan kursi juga dari kayu dan rangkaian baja. Tiang-tiang bangunan yang dari baja cukup kokoh dengan diberikan spandek sebagai atapnya. Jadi, gak terasa panas guys. Untuk ruang outdoornya sangat menarik dimana ada meja dan kursi dengan desain terbaru alias menyatu. Jadi, kursinya gak bisa digeser-geser. Ada juga meja dan kursi jenis lainnya. 

Bagi yang bawa anak kecil jangan khawatir. Disini ada kursi khusus untuk bayi dan anak kecil juga. Jadi bisa tenang nih makannya tanpa terganggu dengan si anak yang lagi lincah-lincahnya berlarian. Kalau saya disuruh memilih mau duduk dimana, saya pilih di ruang semi outdoornya. Alasannya biar aman dari hujan, hahahaha.




Buat kalian yang datangnya ramai-ramai atau sedang mengadakan acara, kalian bisa mencoba duduk di bean bagnya. Sudah tau kan bean bag ?. Tempat duduk yang berwarna-warni berbentuk mirip seperti bantal atau ban penyelamat gitu. Enak sekali untuk bersantai-santai sambil ngobrol bareng teman-teman. Apalagi bean bagnya beralaskan rumput sintetis. Bisa-bisa betah banget duduk dan ngobrol disini. 

Enaknya disini, ada live musicnya lhoo guys. Kalian bisa merequest lagu apa saja untuk dinyanyikan. Asalkan jangan lagu dangdut atau pantura lhoo ya. Bukannya gak suka, tapi gak cocok aja lagu dangdut diputar disini. Hebatnya lagi, dari kami berdua datang sampai pulang, penyanyinya gak capek-capek bernyanyi. Itu pita suara terbuat dari apa ya ?. Cocok ikut audisi Indonesian Idol, suaranya bagus dan enak didengar (penyanyinya mbak-mbak soalnya).

Mirisnya buat yang jomblo, jangan baperan ya kalau datang kesini. Soalnya kalian pasti melihat fenomena seperti foto di atas,hehehe. Saya datang bareng istri saja, masih dibuat bengong. Gimana gak bengong, orang mereka duduk di depan kami. Tangan itu lhoo, bergerilya kemana-mana, hahahaha. 



Ini dia yang paling saya suka. Caca Garden Cafe sedikit agak berbeda dengan cafe-cafe yang pernah saya review sebelumnya. Untuk musholanya saya beri nilai 9 dari 10. Desain musholanya saya suka. Cukup luas dan bisa menampung sekitar dua puluh jamaah. Musholanya bersih dan wangi. Tenang sekali shalat disini tanpa terganggu dari suara-suara gak jelas dari pengunjung lainnya.

Selain mushola, ada ruang khusus bermain anak-anak. Ada perosotan, mobil-mobilan, kolam bola dan lainnya. Bagi yang bawa anak dan biar gak rewel, bisa diajak main disini. Biarkan anak-anak bermain sepuasnya.



Gimana cara kita memesan makanan dan minuman?

Kalian bisa berkeliling dulu ke setiap stand yang bentuknya sangat unik. Disini stand-standnya berbentuk box container tapi bukan sungguhan. Sengaja didesain menyerupai box container gitu. Setiap stand memiliki warna yang berbeda-beda. Ada warna kuning, merah,biru,orange, ungu. Kalau gak salah ada lima stand dengan menawarkan menu yang berbeda-beda. Ada segala jenis nasi-nasian dan aneka jenis mie, ada cemilan, ada kopi, ada jenis minuman, dan ada jenis junk food gitu. 

Kita bisa memilih menu yang akan diorder. Setelah itu, salah satu pelayan akan menuliskan menu yang kita sudah pesan pada sebuah kertas pesanan. Kemudian kertas tersebut kita serahkan ke kasir. Nanti setelah membayar, kasir akan memberikan nomor antrian atau nomor meja. Order beres, kita tinggal duduk santai sambil menunggu pesanan datang. Untuk kecepatan pelayanan, cukup cepat. Gak menunggu waktu lama, pesanan sudah datang. Pelayan-pelayannya juga sangat gesit dan ramah-ramah. Semuanya gak sakit gigi. Sejauh ini lumayan memuaskan


Nasi Goreng Spesial Thanos

Ada yang buat saya heran ketika melihat menu satu ini. Pertama kali membacanya, saya bayangkan tokoh jahat di dalam film Avenggers "End Game". Masih gagal paham kenapa namanya Thanos ?. Kepo dikit, akhirnya saya tanya apa saja campuran dari nari goreng ini. Apa Si Thanos doyan makan nasi goreng atau bisa buat nasi goreng ?.  

"Mas, kenapa ada nama Thanosnya ?". Jawaban masnya justru menjelaskan apa saja yang ada di dalam nasi goreng ini. Agak sedikit kecewa kok namanya bisa ada Thanosnya. Bayangan saya tadi nasi goreng kesukaan Thanos. "Emang ada gitu nasi goreng di dunia Avenggers?" (efek obat sudah mulai habis). Ooohhh, bisa jadi nama chefnya Thanos (ngomong sama tembok).

Dari penampakan, seperti nasi goreng pada umumnya, tapi nasinya digoreng sedikit kering. Apalagi ditambah potongan jagung dan wortel. Untuk menambah cita rasa diberi sambel goreng, acar timun dan sate ayam. Bumbu sate ayamnya enak banget. Tapi disini daging satenya agak over cook alias terlalu mateng, jadinya sedikit keras saat digigit. Kebetulan saat itu saya lagi sakit gigi, jadi satenya gak habis saya makan. 

Over all, Nasi Goreng Spesial Thanos lumayan enak. Untuk nilai saya kasi 7 dari 10. Seporsi Nasi Goreng Spesial Thanos diberi harga 20 ribu. Hmmmm... Cukup mahal sih menurut saya.



Nasi Bakar Baby Cumi

Menu satu ini si istri yang pesen. Awalnya gak mau makan, pas cicipin Nasi Goreng Spesial Thanos, kok enak ya. Akhirnya dia pesen makanan dengan menu yang berbeda yaitu Nasi Bakar Baby Cumi. Namanya juga lucu "baby cumi". Harganya cukup murah 12 ribu saja.

Penasaran donk sama rasanya. Dari penampilan sih oke banget. Setelah suapan pertama, kok ada yang aneh ya dari rasanya. Tanya istri, doi pun mengiyakan. Terasa kalau nasi bakarnya sudah lama dibuat. Agak sedikit kecut gitu dan tekstur nasinya agak benyek.

Beda sekali dengan cuminya yang lumayan enak menurut saya. Ohya, jadi lupa, nasi bakarnya ternyata nasi goreng yang dibakar dengan potongan-potongan cumi. Kemudian dibungkus dengan daun pisang dan terakhir dibakar.

Akhirnya si doi gak menghabiskan nasinya. Saya juga gak terlalu suka sama menu satu ini. Saya suruh pesan yang lain, tapi dia menolak. Sudah badmood duluan. Sekedar saran saja, mungkin Nasi Bakar Baby Cuminya bisa disiapkan saat pesanan datang biar agak fress dan gak berbau amis dan kecut. Itu saja saran dari saya. 




Es Campur

Untuk minumnya seger ini, saya acungin jempol. Seger dan enak banget. Perpaduan jeli, aneka potongan buah, sirup dan susu kentalnya enak banget. Setelah makan Nasi Goreng Thanos yang cukup mengenyangkan, enaknya langsung minum es campurnya. Seporsi es campur ini seharga 15 ribu. Cukup murah meriah menurut saya. Kalau datang kesini lagi, saya pasti pesan es campur ini lagi.

Es Buah

Ini minuman penyelamat buat si doi yang kecewa berat sama Nasi Bakar Baby Cumi yang dia pesan. Harga seporsi sama dengan es campur yaitu 15 ribu saja. Enaknya, varian buahnya banyak dan seger. Apalagi pilihan buahnya favorit si doi semua. Lega liat senyumannya kembali lagi. Sekali suapan dia tersenyum kepadaku, oh cinta (mulai alay). Untuk nilai kedua jenis minuman yang dipesan, saya kasi nilai 8 dari 10. Masih banyak lagi menu yang belum kami coba. Ada beberapa menu enak yang belum dicoba. Next time kalau datang kesini lagi, pasti saya coba. 



Gak banyak yang bisa kami berdua ceritakan dari cafe ini. Caca Garden Cafe buka dari jam 4 sore sampai 12 malam setiap harinya. Woww, bagi yang suka begadang dan nongki sampai malam, cocok nih tempatnya. Segala kekesalan nonton Indonesia kalah dengan Malaysia agak sedikit terobati setelah datang ke cafe instagramable ini.

Kalau kepo, monggo datang langsung ke Caca Garden Cafe. Bukan promosi lhoo ya, tapi saya seneng ngereview tempat-tempat makan yang sudah saya datangi. Tapi buat yang mau direview cafe atau tempat makannya, silahkan hubungi saya langsung via instagram @lazwardy_perdana atau di email diditpharm1@gmail.com

Selamat Makan !. Jangan lupa berdoa dan nambah lagi yaak !!! hahahaha 



Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Tuesday, 10 September 2019

Mengunjungi Pasar Minggu Kerujuk : Desa Wisata Kerujuk


Minggu pagi, ketika bangun dari tidur si istri merayu-rayu saya untuk nemanin dia jalan. Pengennya lihat yang hijau-hijau. Saya pun mengiyakan dengan mata masih mengantuk. Maklum istri saat ini lagi ngidam. Mungkin saja ini permintaan si bayi yang masih di dalam kandungan. Semoga sehat selalu nak sama bunda sampai lahiran nanti, Amiin.

Sempat bingung mau kemana. "Kita ke pasar yuuk !", candaan saya. "Lhoo, ngapain ke pasar?", tanya si doi. "Kan, lihat yang hijau-hijau alias liat sayuran", hahaha. Si doi pun langsung pasang muka cemberut sambil menyuruh saya cepat-cepat mandi. 

Di kamar mandi, saya bawa handphone. Untung di dalam kamar mandi, sinyalnya cukup kenceng. Googling sambil menikmati surga dunia (belum lulus sensor), akhirnya saya ada rencana ngajak si doi jalan-jalan ke sebuah desa wisata yang cukup menarik buat dikunjungi. 

Setelah mandi dan sarapan, kami berdua pun berangkat. Jalanan pagi cukup ramai dengan banyak orang yang berolahraga. Melewati pasar yang membuat macet. Maklum emak-emak ramai berbelanja ke pasar. Melihat aktivitas warga yang sedang pergi berbelanja. Begitulah suasana pagi dengan udaranya yang sejuk namun sudah beberapa bulan ini gak turun hujan. 

Btw, setiap menulis tentang sebuah desa, dibayangan saya melihat yang hijau-hijau, udaranya yang sejuk jauh dari polusi, warganya yang sangat ramah dan hidup sederhana. Sudah lama saya gak jalan-jalan ke sebuah desa yang memiliki panorama alam yang kece. Kebetulan istri mengajak, why not menghabiskan waktu bertiga sama si kecil di dalam kandungan. 

Meskipun beberapa bulan ini jarang turun hujan, tapi jalur yang kami lalui cukup sejuk dan indah dipandang. Melalui perbukitan yang hijau, berbeda dengan bukit-bukit lainnya yang menguning dan kering karena gak pernah mendapatkan air hujan.



Gak memakan waktu perjalanan yang lama, akhirnya kami berdua sampai di pintu gerbang desa yang berada di sebelah kanan jalan. Sebut saja Desa Kerujuk. Desa ini memiliki pesona alam yang sangat indah. Dikelilingi oleh perbukitan hijau, persawahan dan sungai yang airnya cukup deras.


Sedikit mengenang kejadian tahun lalu, Desa Kerujuk termasuk desa yang menjadi korban keganasan Gempa Lombok di tahun 2018. Tepat setahun yang lalu, desa ini porak-poranda dilanda gempa dengan kekuatan terbesar 6,9 SR. Untungnya setahun kemudian, Desa Kerujuk kembali bangkit dan pulih dari kelamnya masa lalu. Secara perlahan, Desa Kerujuk kembali lagi menjadi salah satu destinasi desa wisata yang cukup menarik untuk dikunjungi. 

Menariknya lagi setiap Hari Minggu di Desa Kerujuk ada pasar tradisional yang sangat unik. Sebut saja, Pasar Minggu Ekowisata Kerujuk atau biasa orang menyebutnya Pasar Kerujuk.  Pasar tradisional ini menawarkan aneka jenis kuliner tradisional dan suasana alam hijau pedesaan buat para pengunjung.



Pasar Kerujuk merupakan pasar kuliner lokal. Bukanya hanya setiap Hari Minggu dari jam sembilan pagi sampai jam empat sore. Untuk menuju lokasinya, para travelers tidak perlu bingung. Pasar Kerujuk tepatnya berada di Kerujuk, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara. Bila dari Kota Mataram, kita bisa menggunakan jalur Pusuk, Lombok Utara. Sedangkan dari Senggigi, kita bisa melalui jalur Bangsal, kemudian berbelok ke arah Pusuk.

Untuk alat transportasinya, kita bisa menaiki angkutan umum dari Terminal Mandalika, Kota Mataram (jalur Kota Mataram – Tanjung, Lombok Utara). Bus Damri juga melayani trayek ini. Selain itu bisa menggunakan kendaraan pribadi atau sewa.
   
Kita pasti sudah tau betul saat ini banyak retail-retail modern menjamur dimana-mana khususnya di Pulau Lombok. Gak sedikit juga yang sudah gulung tikar karena persaingan produk. Belum lagi semakin berkurangnya diantara kita yang cinta pada produk lokal. Sehingga secara perlahan, produk lokal semakin berkurang dilirik bahkan gak lama kemudian ditinggalkan. Oleh sebab itu, Pokdarwis Desa Kerujuk menghadirkan pasar minggu Kerujuk yang menawarkan beberapa kuliner lokal asli buatan warga desa sendiri.

Pasar Kerujuk sendiri dikelola oleh kelompok sadar wisata (pokdarwis) Kerujuk Lestari. Pasar Kerujuk dibuka dengan tujuan mengupayakan pembukaan ruang usaha bagi warga desa, terutama kelompok usaha kecil.  Sehingga bisa meningkatkan dan menguatkan peran serta masyarakat dalam bidang budaya, sosial dan ekonomi.

Peran lainnya dari pasar kuliner ini yaitu diharapkan sebagai media pengenalan pada warga akan potensi lokal serta menumbuh kembangkan kecintaan terhadap produk lokal. Terpenting dengan adanya pasar kuliner ini, mampu menarik minat masyarakat baik lokal maupun dari luar Pulau Lombok untuk datang kesini, menikmati alam desa dan berkuliner ria pastinya.




Ada apa saja sih di Pasar Kerujuk ? (masih kepo)

Di Pasar Kerujuk kita bisa menemukan berbagai macam kuliner tradisional seperti Pelecing Kangkung, Pecel Kangkung, Sate Ikan, Pepes Ikan, Kue Serabi, dan aneka jajanan pasar khas dari Pulau Lombok. Soal rasa dijamin enak dan harganya murah meriah.

Keunikan dari Pasar Kerujuk, bila ingin berbelanja disini, kita harus menukarkan uang asli yang kita keluarkan dari dompet dengan uang koin. Uang koinnya sangat unik dan lucu. Terbuat dari kayu dan dituliskan nilai nominalnya. Ada tiga nominal dari uang koin disini, antara lain 10, 5 dan 2,5. Untuk koin 10 itu artinya 10 ribu sedangkan koin 5 (5 ribu ) dan koin 2,5 (2 ribu 5 ratus).  Hampir sama dengan Pasar Pancingan yang ada di Desa Bilebante. Bawa uang banyak ke Pasar Kerujuk, kita bisa makan sepuasnya. Tapi harus ingat, berat badan dijaga ya !






Selain kuliner, kita bisa berkeliling desa dengan bersepeda dan jalan kaki, mengkuti jalan setapak dan pematang sawah yang hijau. Bagi yang lagi galau dan putus cinta, bisa datang kesini untuk menemukan kebahagiaan. Siapa tau, dapat jodoh disini.

Ada lagi kegiatan memancing. Bagi kalian yang hobi memancing, bisa datang ke Pasar Kerujuk dan mencoba sensasi memancing disini. Lokasi pemancingannya gak jauh dari lokasi pasar kulinernya. Siapa tahu kalian bisa bawa banyak ikan dan jodoh, hahaha. Selain itu kita juga bisa beli gantungan kunci yang dibuat dari kayu dan baberglass, asli buatan anak muda Desa Kerujuk lhoo.

Permainan terbaru yang ditawarkan dari Pasar Kerujuk yaitu Flying fox . Cukup membayar uang koin senilai 30 saja. Panjang flying foxnya sendiri sekitar 200 meter. Melewati persawahan khas Desa Kerujuk. Pokoknya seru deh berkuliner dan bermain di alam Desa Kerujuk.

Over all, kami berdua cukup puas datang kesini. Disambut sangat ramah dengan warga desa. Makanannya juga enak-enak, terutama serabinya yang sangat gurih dan bikin ketagihan. Harganya pun cukup murah. Sudah murah, sehat pula. 

Tapi yang buat saya agak bingung disini, antara penjual dengan harga makanannya gak sesuai dengan besar nominal koin kayunya. Kita ambil contoh, seperti saya kemarin beli serabi harganya 6 ribu. Tapi yang ada nominal koinnya, 2,5 5 dan 10. Terus kalau kembaliannya berapaan dong ?. Mau gak mau saya sesuaikan dengan harga serabinya. Biar pas, saya pun membeli pecel kangkung seharga 6,5 ribu. Total belanja saya jadi 12,5. Pakai koin 10 dan 2,5. Jadi begitu guys.

Mungkin, pihak pengelola memberikan sosialisasi kepada para emak-emak yang berjualan disana. Biar pembeli gak bingung, harga makanan harus disesuaikan dengan koin kayunya. Bukannya membandingkan, kita ambil contoh bagusnya yaitu di Pasar Pancingan. Disana manajemen belanjanya sudah terkontrol dan sesuai.

Bentar lagi Hari Minggu. Kalian yang kebetulan sedang berada di Pulau Lombok, gak ada salahnya datang kesini. Sambil berolahraga, kulineran dan berkeliling desa. Dijamin gak nyesel deh. Para artis saja, sudah banyak kesini.

Penulis : Lazwardy Perdana Putra