Saturday, 7 November 2026

Menginap Murah Rasa Bintang Lima : Diva Lombok Resort

 


Akhir tahun 2026 sebentar lagi. Apa kalian sudah buat rencana mau liburan kemana?. Yogya, Bali, Labuan Bajo, Lombok atau ke luar negeri. Jauh-jauh hari menabung buat jalan-jalan solo trip atau bersama keluarga pastinya kalian sudah persiapkan. Kecuali bagi yang bingung mau menghabiskan uangnya buat apa. Pastinya mau kemana, tinggal buka aplikasi biru atau merah. Tinggal nyari destinasi wisata yang akan dituju. 


Beda seperti saya dan istri, pengen ke Yogya atau ke Bali, tapi harus nabung dulu setahun. Namanya juga masih ada kebutuhan yang paling mendesak. Seperti kebutuhan sekolah anak-anak, biaya pemeliharaan rumah, pajak kendaraan dan paling penting kebutuhan makan di rumah. Sisanya, kami tabung buat kebutuhan dadakan dan jalan-jalan (curhat colongan).


Jalan-jalan bagi saya dan keluarga adalah sebuah obat biar tetap selalu bahagia. Rasa capek kerja akan berkurang bila kami traveling atau kulineran. Untungnya istri dan anak-anak juga doyan jalan-jalan. Sering keluyuran tapi dengan prinsip "menghemat budget". 


Pengen sekali-kali menginap di hotel. Paling gak dalam setahun ada sekali atau dua kali. Kami mencari hotel yang nyaman, ramah anak, low budget dan tempatnya asyik. Salah satunya hotel yang dekat dengan destinasi wisata. 


Pulau Lombok punya semua yang kami butuhkan. Nyari hotel yang dekat pantai, ada kolam renangnya, dan fasilitas lengkap ada disini. Dari kelas homestay sampai bintang lima gak perlu bingung lagi. 






Sebenarnya ini agenda liburan yang sempat tertunda dikarenakan kami sekeluarga mendapat ujian sakit flu yang cukup panjang. Anak-anak sempat keluar masuk rumah sakit, sedangkan saya dan istri gantian sakit ditambah lagi harus jagain anak-anak. 

Alhamdulillah, ujian itu sudah terlewati. Kami sekeluarga sudah sehat kembali meskipun masih ada rasanya gak enak di tenggorokan. Meskipun saya sendiri yang masih agak kurang sehat, tapi kami putuskan untuk mengajak anak-anak buat kabur sejenak dari kesibukan yang menguras pikiran dan tenaga.

Dalam episode ini, saya akan mengajak kalian para pembaca setia untuk merasakan gimana rasanya menginap di salah satu hotel yang terbilang cukup nyaman tapi memiliki vibes hotel bintang lima. Namanya Diva Lombok Resort yang berada di daerah Pantai Klui. Tepatnya di Jalan Raya Senggigi, Klui, Malaka, Kec.Pemenang, Kab.Lombok Utara. 

Jarak dari rumah kurang lebih tiga puluh kilometer menggunakan motor. Untuk menuju penginapan ini, kita bisa melalui arah Pantai Senggigi, lalu lanjut ke arah utara melewati beberapa pantai yang sudah terkenal seperti Pantai Senggigi, Pantai Kerandangan dan Pantai Klui. Untuk transportasi umum saat ini masih ada DAMRI yang melayani ruter Bandara BIZAM - Kota Mataram - Senggigi sampai ke Pelabuhan Bangsal. Lalu lanjut lagi hingga Desa Sembalun melewati jalur utara Lombok.

Seminggu sebelumnya, saya memesan hotel melalui platform Agoda. Lebih menarik kalau lewat aplikasi ini karena banyak promonya dan lebih amanah. Cara pesannya simple, tinggal mencari penginapan yang diinginkan, lalu klik pesan dan terakhir bayar. 

Kebetulan disaat memesan, harga kamarnya di kelas superior twin roomnya sedang ada promo setelah ajang Motogp seminggu yang lalu. Kami mendapatkan harga 350 ribu di kelas superior twin. Berhubung membawa kedua anak,jadinya kami memilih dua bed terpisah. 

Pelayanan saat memesan kamarnya juga saya puas. Setelah melakukan pemesanan, saya langsung menghubungi nomor kontak admin hotelnya. Gak menunggu lama, pesan saya dibalas untuk konfirmasi ulang biar gak ragu apakah kode booking saya sudah masuk ke sistem hotel atau belum.

Kami memesan kamar satu malam saja dari Sabtu siang hingga keesokan harinya. Mengambil waktu stay di akhir pekan itu rasanya sangat menyenangkan. Tepat di hari H, kami bersiap-siap berangkat. Perjalanan menuju hotel di siang itu cukup menyenangkan. Melewati jalan raya Senggigi yang terkenal dengan jalan pinggir pantainya. Sepanjang perjalanan kami disungguhkan dengan view laut yang berwarna biru toska serta deretan perbukitan yang hijau.

Kurang lebih satu jam perjalanan, kami tiba di hotel. Suasana siang itu cukup sepi karena lalu lintas gak begitu ramai di daerah ini. Tepat di seberang Jeeva Klui Hotel, posisi hotel kami. Gak jauh dari hotel, ada Pantai Klui dan beberapa destinasi pantai lainnya. Di belakang hotel terdapat perbukitan dan deretan pohon kelapa. Sangat terasa sekali suasana Pulau Lomboknya.

Penampakan hotelnya gak begitu mewah dari depan. Area parkir yang gak begitu luas. Kendaraan roda empat bisa terparkir di halaman depan hotel, sedangkan untuk motor bisa diparkirkan di samping hotel. Meskipun dari depan gak begitu besar, tapi pas masuk ke dalam lobi yang bergabung dengan area restonya, kondisinya sangat bagus dan bersih. Staf hotel juga sangat ramah baik bagi kami tamu lokal.

Di area lobi hotel tersedia kursi dan meja untuk menunggu waktu check in dan bersantai. Untuk waktu check in nya sama seperi hotel pada umumnya yaitu jam dua siang. Selain tempat duduk, ada ornamen dan pajangan seperti lukisan dan sepeda ontel. Ada juga mini perpustakaan tempat para tamu membaca buku. Ada area resto yang gak begitu luas yang berada di bagian depan atau pintu masuk hotel. 







Sambil menunggu proses check ini, kami disungguhkan welcome drink berupa "jus jeruk". Pas banget sampai di hotel haus, disungguhkan es jus jeruk, tenggorokan langsung ploong dan mata jadi gak ngantuk. Setelah proses check in, kami diantarkan oleh salah satu staf hotel menuju kamar yang berada di lantai dua. 

Saya kira hotel ini kecil, tapi saat berjalan ke bagian belakang menuju kamar, ternyata hotel ini gak kecil-kecil amat. Keren sekali dengan suasana yang asri. Melewati area taman yang dipenuhi dengan tanaman hias. Ada tanaman bambu-bambuan dan jumlah kamarnya cukup banyak.

Yang menarik dari hotel ini, biarpun gak besar tapi punya kolam renang yang besar. Kolam renangnya dibedakan untuk kolam anak-anak dan dewasa. Ini yang membuat anak-anak sangat kegirangan dan sudah gak sabar untuk main air di kolam.

Menuju lantai dua, kami menaiki anak tangga. Kamar kami persis di sebelah tangga dan langsung menghadap ke luar. Setelah membuka pintu kamar, staf tadi langsung pamit ke kami. Memasuki kamarnya, langsung adem. Kamarnya dingin banget dan ukurannya juga cukup luas standar hotel bintang tiga.

Twin bed dengan kasur yang empuk dan lebar. Dilengkapi juga dengan kamar mandi dalam dan closed duduk. Fasilitas lainnya ada layar televisi android, cermin, lemari tempat menyimpan barang bawaan, meja kerja, ada ketel pemanas air lengkap dengan, dua botol air mineral, dua cangkir dan perkopian sachet. 

Sayangnya pas nyobain shower atasnya malah gak bisa berfungsi. Untungnya ada shower bawah yang berfungsi dengan baik. Saya gak tau juga ini emang lagi ada kerusakan atau kebetulan saja. Tapi untuk kebersihan kamar mandi cukup oke. 

Ohya yang paling saya sukai menginap di hotel ini yaitu sinyal wifinya kenceng parah. Saya lupa cek kecepatan downloadnya. Pastinya seharian mau nonton youtube atau download film gak lelet. Anak-anak juga lacar nonton youtube di TV android. Buat betah di kamar mana siang itu lagi ngantuk-ngantuknya. Enaknya langsung ngorok di kasur.

Agenda di sore hari kami gak berenang di kolam renang, tapi mau jalan-jalan menikmati pantai yang ada di seberang hotel "Pantai Klui". Rencananya mau sunsetan juga tapi liat kondisi di lapangan nanti. Maklum bawa anak-anak kecil yang cepat bosanan. Kalau emak bapaknya sih pengennya sampai matahari terbenam. Pasti romantis duduk di pinggir pantai bersama pasangan. Sudah lama rasanya gak nongkrong seperti ini. 






Berhubung jarak dari hotel ke pantai dekat banget, kami berjalan kaki menuju pantai. Kalau pejalan kaki gak dikenakan biaya masuk, sedangkan bagi yang membawa kendaraan dikenakan tarif parkir lima ribu rupiah saja. 

Penampakan pantainya ada area rumput menguning dan deretan pohon kelapa yang berjejer rapi. Ada pintu gerbang berwarna putih di depan pintu masuk tapi masih ditutup. Kami masuk ke pantai melewati jalanan kecil yang sudah dicor di pinggiran kali kecil.

Suasana di Pantai Klui cukup ramai menjelang malam mingguan. Banyak anak-anak muda yang duduk bareng pasangannya. Ada juga yang membawa anak seperti kami. Duduk di atas tikar yang gak gratis. Maksudnya, duduk saja yang penting beli makanan dan minuman yang di jual di warung si pemilik tikar. 

Angin pantai cukup kencang dan ombak gak begitu besar. Disini rumput pantainya menguning karena belum pernah turun hujan. Pohon kelapa yang menjulang tinggi dan pasir pantai yang berwarna hitam. Kalau air laut sedang surut, kita bisa berjalan di terumbu karang yang muncul hingga ke arah tengah pantai sambil mencari ikan dan bintang laut yang terdampar. Kami cukup menikmati moment kebersamaan bareng keluarga. Cara sederhana yang membuat kami bahagia.

Karena anak-anak sudah mulai bosan dan minta balik ke hotel, kami memutuskan untuk balik ke hotel. Sampainya di hotel, kok lapar lagi ya. Akhirnya istri memesan Meat Lover Pizza  yang isinya ada chicken, beef rasher, capsicum,onion,mushroom, tomato sauce dan mozarella cheese (susah banget nyebutnya) . Porsinya besar sekali dan cukup buat kami berempat. Roti pizzanya saat digigit, renyah sekali. Harganya juga lumayan yaitu 85K. Perut sudah kenyang, mari kita istirahat biar besok gak bangun kesiangan.








Bangun pagi cuaca sangat mendukung. Langit cerah dan udara sejuk menyambut. Setelah bangun tidur, saya dan anak-anak menuju kolam renang. Tapi sebelumnya, kami nongkrong dulu di lantai paling atas hotel. Disini ada rooftop buat santai-santai. Dari balik perbukitan, terpancar sinar matahari yang belum terbit. 

Saat ayahnya masih ngantuk, anak-anak sudah ngajakin nyemplung ke kolam. Bisa dibilang kami orang pertama ketika matahari belum terbit tapi sudah nongkrong di kolam renang. Anak-anak sudah memakai pakaian renangnya karena sudah gak sabaran buat nyemplung ke kolam.

Kolam terbagi menjadi dua area, ada kolam anak-anak dan kolam dewasa. Beberapa peraturan juga harus ditaati seperti kalau berenang harus menggunakan pakaian renang, gak boleh bawa hewan peliharaan, gak boleh makan minum di pinggir kolam, dan beberapa aturan yang gak boleh dilanggar.

Air kolamnya juga gak begitu dingin. Anak-anak sangat nyaman main air disini. Kedalaman kolam anak-anaknya juga sepinggang mereka. Sedangkan untuk kolam dewasa, kedalamannya lebih satu setengah meter. Cukup dalam bagi saya yang memiliki tinggi badan seratus tujuh puluh sentimeter.

Air kolamnya juga sangat bersih dan sedikit kaporit. Bentuk kolamnya juga memanjang, jadi sangat leluasa buat kita berenang. Di sekeliling kolam renang juga terdapat beberapa tanaman hias yang cukup tinggi sehingga membuat suasana menjadi asri. Saking nyamannya, sampai anak-anak gak mau berhenti berenang. Kurang lebih dua jam lamanya kami di dalam air. Istri pun menyusul buat ikutan renang. Untungnya hanya kami saja yang berada di kolam karena tamu lainnya masih pada tidur, hehehe.








Setelah berenang,kami balik menuju kamar untuk bebilas dan bersiap untuk menuju resto mengambil jatah sarapan. Suasana di resto sudah gak ramai. Sekitar jam sepuluh pagi kami sarapan. Saya memesan sato ayam lamongan beserta kopi hitam, sedangkan istri dan anak-anak memesan nasi goreng telur. Disini kami gak mengambil sarapan secara prasmanan tapi tinggal pesan mau makan apa yang bisa kita pilih di buku daftar menu.


Untuk sarapannya kami mendapatkan bonus dua piring puding dan softdrink sebagai pencuci mulut. Gak menunggu lama, pesanan sarapan kami sudah datang. Untuk soto lamongannya enak banget. Dihidangkan bersamaan dengan nasi putih, mantap pool. Kebetulan juga perut sudah lapar dan ditambah habis renang, sarapan sangat nikmat. 


Sebagai catatan saja untuk nasi putihnya agak sedikit keras. Menu sarapan juga gak bervariasi. Ketika kami mau nambah pesanan kok harga menunya agak mahal dari yang semalam ya. Apa karena ini cafe dan hotelnya manajemennya berbeda ya?. Kurang tau juga. Selebihnya masih oke menurut saya. 


Sambil sarapan, kami nongkrong ala-ala di restonya sambil buka tab dan menemani anak-anak nonton film kartun. Kita ngopi sejenak, menghabiskan sisa waktu staycation di hotel ini. Anak-anak dan istri juga cukup puas dengan pelayanan yang diberikan dari Diva Lombo Resort.


Overall, Menginap di Diva Lombok Resort sangat saya rekomendasikan bagi kalian yang ada rencana mencari penginapan yang cukup murah dengan fasilitas lengkap dan view pantai yang cakep di daerah Klui,Malaka, Kab.Lombok Utara. Cocok sekali buat menginap bareng keluarga dan menghabiskan waktu liburan. 


Lebih kurangnya dari pihak hotel memperbaiki beberapa sarana dan prasarana hotel untuk kepuasan tamu yang menginap. Dari menu sarapan juga mungkin lebih bervariasi lagi dan nasi putihnya tolong jangan yang keras lagi ya. Yang lainnya sudah oke. 


Jaraknya juga gak jauh dari Gili Trawangan, Pantai Senggigi dan beberapa tempat wisata yang ada di Lombok bagian Utara. Apalagi sebentar lagi menjelang tahun baru, Lombok sudah menanti kalian buat datang !. 


Penulis : Lazwardy Perdana Putra


Saturday, 31 October 2026

Nonton Race Moto3 Dari Sudut Yang Berbeda : Sirkuit Internasional Mandalika


Gak terasa Motogp Mandalika sudah digelar selama lima tahun. Setiap tahunnya, mata selalu tertuju ke Pulau Lombok. Saya yang anak kampung sini saja masih gak nyangka, Motogp bisa digelar di Lombok. Dengan segala kekurangan dan kelebihan, kita mampu berbicara di dunia bahwa Indonesia juga punya sirkuit yang indah di dunia. Salah satunya, Sirkuit Internasional Mandalika. 

Kalian pastinya sudah mengetahui lokasi sirkuit ini. Sirkuit Internasional Mandalika terletak di kawasan KEK Mandalika, Kuta, Kab. Lombok Tengah. Sirkuit ini mulai dibangun sekitar tahun 2019 dan diresmikan di tahun 2021. Sirkuit Internasional Mandalika memiliki panjang lintasan kurang lebih 4,3 kilometer dengan memiliki 17 tikungan. Sudah melahirkan juara kelas Motogp yang berbeda di setiap tahunnya. 

Di tahun ini awalnya saya gak berencana untuk nonton langsung ke sirkuit karena pengalaman yang sebelum-sebelumnya. Dimana kita rela panas-panasan saat menuju sirkuit. Parkiran kendaraan yang jaraknya cukup jauh. Rebutan suttle bareng penonton lainnya di saat sedang ramai-ramainya. Berjemur di atas tribun saat balapan dimulai. So, persiapan kalau ke sirkuit itu butuh effort lebih. Apalagi jarak dari rumah ke sirkuit cukup jauh. Kurang lebih satu jam perjalanan menggunakan motor atau mobil. Itu kalau situasi normal, kalau ketemu macet bisa dua jam-an. 


Dua hari menjelang balapan tepatnya di Hari Jumat, saya mendapatkan tiket dari salah satu teman. Tiketnya berbentuk gelang seperti biasanya. Tapi warnanya berbeda yaitu warna hijau. Tahun sebelumnya, saya mendapatkan tiket berwarna merah. Artinya mendapatkan tribun di area tengah sirkuit. 


Bisa baca disini  : Nonton Motogp Mandalika 2025


Sedangkan warna hijau, kita mendapatkan zona di luar sirkuit. Tepatnya di gate 3 atau zona I,J,K dan L. Kebetulan saya mendapatkan zona I atau kita biasa menyebutnya tribun merah putih karena kursi tribunnya perpaduan warna merah dan putih seperti warna bendera Indonesia. 


Mendadak saya senang sekali dapat tiket di zona I. Selama empat tahun nonton langsung, baru tahun ini dapat nonton di zona I. Posisi tribunnya ada di sebelah barat sirkuit atau berada di tikungan 15,16 dan 17. Sebenarnya banyak yang mengincar tribun ini karena dari sini, mata dapat melihat para pembalap mencapai garis finish karena tribun ini berhadapan langsung dengan lintasan panjang dan tikungan mematikan sebelum garis finish. 


Tapi karena tribun ini merupakan tribun beratapkan langit, jadinya orang-orang agak ragu mau nonton balapan sambil berjemur. Kalau bule mah suka di tempat seperti ini karena kulit mereka putih. Lah kalau saya sudah hitam gini, bisa-bisa kayak ikan teri yang sudah dijemur berminggu-minggu nanti. Bukannya tambah hitam tapi kulit jadi kering. 


Tiket Motogp kali ini berlaku untuk tiga hari. Dimulai hari Jumat hingga race di Hari Minggu. Berbeda di tahun pertama digelar, tiket gelang dibedakan per harinya. Harganya pun berbeda ketiga harinya. Tapi kalau sekarang harga sudah termasuk nonton tiga hari. Terserah mau ke sirkuit kapan. Tiga hari juga gak masalah. Yang penting jangan hari Senin karena yang kalian lihat nantinya, panitia lagi bongkar panggung konser. 


Berhubung jarak dari rumah cukup jauh, saya pergi nontonnya di Hari Minggu saja. Itupun rencananya mau nonton balapan kelas Moto3 saja. Mau lihat secara langsung Veda Pratama balapan di sirkuit. Pembalap kebanggaan Indonesia diharapkan mampu naik podium di rumah sendiri. 


Cuaca di Minggu pagi cukup cerah. Kebayang nanti di sirkuit pasti terik banget. Persiapan buat nonton sudah beres. Dari topi, kacamata hitam, baju warna putih, sunblock, dan terpenting bawa botol termos satu liter yang isinya air mineral es. 


Berangkat dari rumah jam sembilan pagi menggunakan motor. Estimasi sampai di sirkuit sebelum race Moto3 yang jadwalnya dimulai jam dua belas siang. Sepanjang jalan By Pass BIZAM, kondisi lalu lintas ramai lancar. Motor dan mobil pun cukup ramai yang melintas. Begitu juga dengan beberapa club motor yang datang dari luar Lombok sedang berkumpul di salah satu SPBU jalur lintas sirkuit. 


Gak begitu terburu-buru, saya bawa motor santai saja. Oh ya saya berangkat berdua bareng adik, tapi bawa motor masing-masing. Tribunnya nontonnya pun sama. Setibanya di bundaran bandara BIZAM, lalu lintas cukup padat. Disini penonton yang memiliki gelang di zona VIP, paddock, A, B, C, D, E, F, G dan H diarahkan melalui By Pass Mandalika atau mengarah ke Pantai Tanjung Aan. Sedangkan bergelang hijau di zona I, J, K dan L diarahkan melalui jalur Desa Sade dan Kuta Mandalika. 


Untuk jarak ke sirkuit  kurang lebih sama. Tapi untungnya yang bergelang hijau, parkir kendaraannya gak jauh dari tribun. Oke, saya pun melalui jalur Desa Sade. Sudah lama rasanya gak melalui Desa Sade. Kondisi lalu lintas arah Desa Sade gak begitu ramai dibandingkan melalui jalur By Pass Mandalika. 






Singkat cerita, melewati Desa Sade yang sedang proses pembangunan kembali paska musibah kebakaran hebat yang menghanguskan hampir seluruh rumah adat beberapa bulan yang lalu. Sampai di Bundaran Kuta Mandalika, petugas standby mengarahkan kendaraan yang akan memasuki area parkir. Saya pun diminta untuk jalan terus hingga Hotel Pullman, salah satu hotel bintang lima yang baru dibuka di daerah Kuta Mandalika. 


Sedangkan ada puluhan kendaraan yang mengarah ke arah berbeda. Sempat bingung tapi masih mengikuti instruksi petugas. Akhirnya sampai juga di salah satu area parkir tepat di persimpangan yang akan mengarah ke Hotel Pullman. Terlihat ratusan kendaraan roda dua sudah terparkir. Petugas sudah standby disini. 


Tanpa ragu saya masuk ke area parkir dan dipandu oleh salah satu petugas parkir. Untuk masuk ke area parkir, kita membayar 20 ribu per motor. Ini parkir resmi dan pastinya aman karena dijaga ketat oleh petugas. 


Setelah memarkirkan motor, saya berjalan menuju ke tempat shelter bertuliskan Gate 3. Tapi anehnya, disini banyak bapak-bapak ojek yang menawarkan mengantar penonton hingga sampai di tribun. Awalnya saya menolak tawaran bapak ojek. Pas di shelter, saya bertanya ke salah satu petugas untuk suttlenya datangnya lama apa gak. Ternyata petugasnya menyarankan untuk saya berjalan kaki karena jarak ke tribun gak begitu jauh. 


Sekarang bukan masalah jaraknya yang dekat tapi saat itu panas banget. Gak sanggup rasanya untuk jalan kaki karena saya harus menjaga kondisi tubuh agar gak dehidrasi. Lumayan juga jalan kaki saat sinar matahari sedang terik-teriknya. 


Akhirnya saya memutuskan untuk naik ojek saja seharga sepuluh ribu rupiah. Mau naik ojek mana pun, tetap harganya dipatok sepuluh ribu. Gak ada aturan tawar menawar ya. Ini harga yang sudah disepakati sesama bapak-bapak ojek. 


Naik ojek sepuluh ribu eh ternyata bener, jaraknya hanya seratus meter saja. Gak apa-apalah. Hitung-hitung bagi rezeki kepada bapak ojek. Turun dari ojek, saya berjalan menuju Gate 3. Di kiri kanan trotoar, banyak sekali pedagang jersey bertema Motogp. Dari penjual kaos, jersey tim, kain pantai dan topi. Saya hanya melihat sepintas saja. Gak tertarik buat beli karena pastinya harga saat event itu jauh lebih mahal. 





Sesampainya di Gate 3,saya langsung menuju area pengecekan tiket dan barang bawaan. Disini suasananya gak terlalu ramai seperti di gate lain yang berada di area tengah sirkuit. Enak juga ternyata, menghemat waktu dan tenaga. 


Pengecekan tiket dan barang bawaan begitu ketat. Satu per satu penonton dicek barang bawaannya. Petugas meminta tas bawaan dibuka dan memeriksa apa saja yang dibawa. Gak ada drama barang bawaan disita petugas, saya langsung menuju tribun yang jaraknya hanya beberapa langkah dari pintu masuk. 


Tribun zona I sudah terlihat ramai. Sampai di tribun sedang berlangsung balapan Asia Talents Cup. Sorak sorai penonton terdengar riuh. Pembalap asal Indonesia yang saya lupa namanya keluar jadi juara dan naik podium. Saya gak langsung naik ke tribun karena lagi menyimpan tenaga buat nanti race Moto3. 


Kebayang panas banget di atas tribun. Nengok ke langit, gak ada satupun awan putih terlihat. Gila ini bisa buat kita gosong kalau berlama-lama di atas tribun. Saya dan adik memutuskan duduk santai di bawah tribun. Gak hanya kami berdua saja, tapi penonton lainnya pun ikutan bersantai di bawah tribun besi dan baja. Kalau balapannya sudah mau dimulai baru kita naik ke tribun. Asyik juga, ada kesan tersendiri nonton di tribun ini. Hehehe. 






Di bawah tribun ada yang makan siang, ngopi, ngemil dan tidur siang. Niat banget ada yang sempat-sempatnya tidur siang. Emang enak kalau duduk di bawah tribun. 


Kurang lebih setengah jam sebelum race Moto3 dimulai, ada parade pembalap Motogp yang memutari sirkuit sambil menyapa para penonton di tribun. Mereka naik di atas sebuah minibus tanpa atap. Memakai jersey tim masing-masing. Melambaikan tangan dan melepaskan senyuman hangat. 


Hampir seluruh pembalap saya kenal. Ada abang Pecco, Jorge Martin, Pedro Acosta, dan si calon juara dunia tahun ini yaitu abang Marc Marquez yang masih mencari wangsit buat menaklukkan Sirkuit Mandalika. Semoga dia bisa menaklukkan sirkuit ini setelah "Disembek" sama Mamiq Iqbal (Gubernur Prov.Nusa Tenggara Barat) saat baru tiba di Lombok. 


Saya dan adik, naik ke atas tribun dan duduk di bagian tengah karena di bagian atas sudah dipenuhi penonton yang sudah dari tadi duduk berjemur. Saya menuju tribun yang paling selatan karena dari sini kita bisa melihat lintasan lurus dan garis finish. 


Dari kejauhan terlihat tribun zona A dan B, paddock dan tribun zona H. Di sisi selatan terlihat tribun zona J dan K sudang sesak oleh penonton. Tribunnya beratap jadinya enak nonton disana. Next time, tahun depan semoga bisa dapat tiket di tribun J,K atau L. Dari pagi sampai sore pastinya bakalan betah duduk tanpa harus panas-panasan.


Setelah parade pembalap Motogp selesai, saya turun dari tribun lagi dan duduk di bawah kolong tribun buat menghindari sinar matahari yang sangat terik. Nyempatin beli air mineral lagi di depan tribun. Ada beberapa stand yang buka. Dari menjual minuman, makanan dan pernak pernik bertemakan Motogp. Fasilitas umum lainnya yang disediakan oleh panitia yaitu toilet portabel yang jumlahnya cukup banyak. Ada juga tenda mushola bagi yang muslim untuk melaksanakan shalat Dzuhur karena kalau ke masjid, kita harus keluar sirkuit lagi dan jaraknya cukup jauh.





Waktu sudah menunjukkan jam dua belas kurang, suara motor yang digeber terdengar dari paddock. Tandanya sebentar lagi race Moto3 segera dimulai. Para penonton yang berada di bawah kolong tribun berbondong-bondong naik ke atas tribun. Saya pun ikutan naik dan ternyata kursi sudah hampir terisi penuh. Untungnya di bagian tengah masih ada kursi tersisa. Siapa cepat dia yang dapat.


Gak peduli siang itu terkena teriknya matahari. Untungnya langit agak berawan. Angin laut berhembus ke arah kami. Cukup membuat suasana menjadi sedikit sejuk. Sorak sorai penonton dari berbagai tribun terdengar meriah. Layar LED raksasa yang berada di beberapa titik terlihat persiapan race di garis start. 


Kok saya deg-deg kan ya. Ada rasa haru dan bangga bisa melihat Veda Ega Pratama bisa melangkah sejauh ini. Penonton lainnya juga agak tegang dan berharap Veda bisa meraih podium. Peluang besar bisa menang di rumah sendiri. Seluruh bangsa Indonesia berdoa yang terbaik buat Veda Pratama.


Saya yang sudah menggunakan jersey Timnas Indonesia, mendukung penuh Veda Ega Pratama bisa mengharumkan Indonesia di rumah sendiri. Semoga gak terjatuh saja dan bisa finish di barisan terdepan. Helikopter Dorna sudah terbang tinggi di atas Sirkuit Mandalika. Suara komentator berbahasa Indonesia terdengar di speaker yang ada di beberapa sudut pagar sirkuit.


Ketika pembalap sudah berada di posisinya masing-masing dan akan bersiap memulai balapan. Terdengar suara penonton yang meneriakkan "Veda" Veda" membuat seluruh sirkuit menggema meneriakkan nama Veda Pratama.


Lampu hijau sudah menyala,suara motor yang digeber terdengar sangat berisik. Pembalap sudah adu ketangkasan menaklukkan tikungan demi tikungan Sirkuit Mandalika. Para pembalap saling salip menyalip. Veda sempat berada di posisi kedua sehingga kita semua bersorak senang. Sayangnya sampai di akhir balapan, Veda finish di posisi enam. 


Pembalap yang keluar menjadi juara yaitu Maximo Quiles, pembalap asal Spanyol yang sekaligus memastikan mengunci gelar juara dunia kelas Moto3 musim 2026 di Sirkuit Mandalika. Meskipun gagal naik podium, kami semua bangga Veda bisa di posisi enam dan masih berada di rangking sepuluh besar dunia di kelas Moto3. Luar biasa buat Veda Pratama.


Balapan yang sangat seru sampai saya gak merasakan panasnya matahari dari atas tribun. Seluruh mata tertuju ke Veda Ega Pratama. Lap demi lap kami menantikan Veda masih berada di barisan terdepan bersaing bersama para pembalap favorit dari berbagai belahan dunia. Berharap bisa sukses sampai garis finish.


Menurut saya, di tahun depan Veda Ega Pratama bisa berkembang lagi menjadi pembalap yang mampu bersaing dengan pembalap dunia lainnya di kelas Moto3. Ini tahun pertamanya di kelas Moto3, semoga tahun depan dan seterusnya, Veda bisa sampai di kelas Motogp. Good Job Veda !.


Jadi, masih kapok nonton Motogp ke Sirkuit Internasional Mandalika lagi !. Ditunggu di tahun depan. 


Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Saturday, 24 October 2026

Spot Foto Cantik di Kopi Susu Kuta Lombok


Langit sedang cerah-cerahnya. Terik sinar matahari yang cukup menyengat. Untungnya masih dibantu dengan hembusan angin dari arah laut saat saya dan ribuan penonton berada di atas tribun. 


Saat itu saya dan ribuan penonton sedang menantikan pembalap kebanggaan Indonesia di race kelas Moto3. Ya benar, saya sudah gak sabar melihat secara langsung aksi Veda Ega Pratama menggeber motornya di atas aspal Sirkuit Internasional Mandalika. 


Singkat cerita, kurang lebih satu jam berada di atas tribun beratapkan langit untuk menyaksikan keseruan race di kelas Moto3. Untuk keseruan nonton racenya, nanti saya tulis ceritanya di postingan berikutnya.


Btw, saya memutuskan untuk gak melanjutkan menonton kelas Moto2 dan MotoGP di atas tribun. Siang yang sangat terik sampai mengeringkan tenggorokan. Meskipun ribuan penonton menantikan satu pembalap lagi asal Indonesia di kelas Moto2, tapi saya gak begitu tertarik menontonnya. Begitu juga dengan MotoGP, musim ini bagi saya MotoGP sudah membosankan. Apalagi saya bukan fans fanatik Marc Marquez. Tapi lagi-lagi MotoGP bagi saya sangat membosankan. 


Setelah selesai balapan di kelas Moto3, saya balik ke parkiran motor yang jaraknya gak begitu jauh. Berjalan kaki sekitar dua ratus meter dari pintu masuk (Gate 3), saya sudah tiba di parkiran kendaraan. 


Gak seperti di tahun-tahun sebelumnya kalau nonton MotoGP di Mandalika, pastinya pakai drama adu sikut sama penonton lainnya saat rebutan naik ke dalam suttle. Gak pakai acara jalan kaki puluhan kilometer untuk menuju tribun. Tahun ini gak seberat tahun lalu. 






Setelah mengambil motor di parkiran kendaraan, saya gak langsung pulang ke rumah. Pengen ngopi di dekat-dekat sirkuit saja. Apalagi siang yang terik ini, minum yang dingin-dingin sepertinya asyik. Mencari cafe atau kedai kopi sekitaran Kuta Mandalika cukup banyak pilihan. Tapi kebanyakan cafe-cafe disini pengunjungnya para bule semua. Suasananya juga sepeti cafe-cafe yang ada di Gili Trawangan dan di Legian Bali. 


Setelah keluar dari area sirkuit, saya menuju Jalan Raya Kuta. Kondisi jalanan arah keluar sirkuit agak lengang, tapi yang akan menuju sirkuit kondisinya macet parah. Penonton baru pada datang, sedangkan saya sudah pulang duluan. 


Melalui jalur seperti biasanya. Belok ke kiri, menuju arah Masjid Nurul Bilad. Salah satu masjid terbesar di Pulau Lombok dan menjadi daya tarik destinasi wisata religi di daerah Kuta Mandalika. Gak jauh dari masjid, saya sudah berada pusat keramaian Kuta. Sepanjang jalan berjejer cafe-cafe dari kecil sampai besar. Gak hanya cafe, beberapa penginapan seperti homestay, bungalow dan hotel ada disini. 


Buat yang berlibur serta berencana untuk stay di Kuta Mandalika, banyak pilihan penginapan dengan budget yang bervariasi dari harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Kalian tinggal memilih sesuai selera.


Paling enak datang kesini, di sore hingga malam hari karena banyak hiburan yang ada. Dari live music di beberapa cafe dan pastinya suasana sore hari di Kuta pastinya asyik sambil menikmati terbenamnya matahari.


Tujuan saya kali ini yaitu Kopi Susu Kuta Lombok. Salah satu cafe atau tempat ngopi yang beberapa waktu lalu sempat ngehits dan ramai di media sosial. Banyak saya lihat deretan foto anak-anak muda yang datang kesini. Entah datang hanya untuk berfoto saja atau nongkrong disini sambil mencoba makanan dan minuman. 


Saya pun gak mau kalah. Meskipun umur sudah tiga puluhan tapi gak mau kalah sama anak-anak muda jaman sekarang. Untuk menuju lokasi gak begitu sulit. Tinggal buka google maps, ketik Kopi Susu Kuta Lombok dan kita tinggal ikutin petunjuknya.


Kebetulan pas lagi berada di daerah Kuta, jadinya sempatin mampir disini. Kalau gak nonton MotoGP, saya sudah jarang sekali motoran ke Kuta dan sekitar. Lumayan juga kalau dari dari rumah bila pengen kesini. Berat di bensin juga, hehehe (malah curhat). 


Kopi Susu Kuta Lombok beralamatkan di Jalan Raya Kuta no.1, Kuta, Kec.Pujut, Kab.Lombok Tengah. Alasan saya tertarik untuk datang kesini yaitu penampakannya yang etnic dan exotic. Mengingatkan saya saat bersantai di salah satu cafe yang ada di Gili Trawangan. Vibesnya dengan suasana tropikal dan berada di pinggir pantai. Angin pantai cukup terasa disaat saya berada di depan cafe ini.


Suasana yang cukup ramai. Jalan Raya Kuta pun dipadati oleh tamu-tamu mancanegara yang terlihat berjalan kaki di sepanjang jalan. Suara musik pun terdengar dari cafe-cafe yang sudah buka siang itu. Seperti bukan di daerah sendiri. Saya merasa minoritas disini. Apalagi sedang ada event MotoGP, jadinya daerah Kuta sangat ramai sekali.








Setibanya di depan cafe, saya memarkirkan motor di tempat parkiran yang ukurannya gak begitu luas. Ada beberapa mobil dan motor yang sudah terparkir. Kebetulan posisi cafe ini berada dekat sekali dengan pantai. Aroma angin laut cukup tercium segar sampai di paru-paru.

Penampakan Kopi Susu Kuta Lombok cukup menarik buat dijelajahi. Bangunan dua lantai dengan taman cukup luas di tengah bangunan. Gak hanya cafe saja disini. Ada toko yang menjual berbagai souvenir khas Lombok dan baju kaos yang harganya kalian sudah pasti tau kalau di tempat wisata seperti apa. Selain itu, ada mini market,  money changer dan beberapa toko souvenir lainnya.

Di area spot foto ini, banyak sekali anak-anak muda yang berfoto ala model (selebgram). Backgroundnya juga pas banget untuk mengambil foto keren. Tanpa malu-malu dengan berpakaian ala model, mereka antusias untuk bergaya. Apalagi ditambah dengan topi pantai dan kacamata hitam. Kita bisa cuci mata disini, karena sebagian besar yang berfoto disini para kaum wanita yang bening-bening, hehehe.

Setelah kepoin ada apa saja di area ini, saya lanjut menuju cafenya. Suasana siang itu cukup ramai. Bangunan bergaya etnic dengan dua lantai. Dimana di setiap lantainya ada meja kursi berbagai pilihan. Saya memilih duduk di lantai satu dekat dengan area parkir dan banyak pepohonan seperti pohon kelapa dan tanaman hias. Karena datangnya sendirian, jadi memilih meja yang berukuran kecil untuk dua orang saja. 

Selain itu ada juga meja kursi untuk empat hingga enam orang. Ada juga sofa panjang untuk kalian yang akan bersantai sambil menikmati suasana Kuta. Sayangnya dari cafe ini, kita gak bisa melihat pantai karena tertutup oleh bangunan lainnya. Padahal jarak dari cafe ke pantainya cukup dekat. 

Lampu-lampu hias dari rotan kemudian beberapa perabotan juga dari kayu dan rotan menambah kesan etnic dari cafe ini. Pelayanan juga sejauh ini cukup cepat dan baik. Saat saya masuk ke dalam cafe, seorang bapak-bapak berambut gondrong berpakaian santai dengan baju pantai menghampiri saya dan menanyakan mau duduk dimana. Dia juga menyarankan untuk duduk yang nyaman buat saya sendiri, Tapi kembali lagi yang menentukan tamunya.

Bapaknya ramah sekali dan murah senyum. Wajahnya sih seperti wajah orang India. Logat bahasa Indonesianya juga agak kurang lancar. Apa jangan-jangan dia benar berasal dari India atau Bangladesh ?, nebak-nebak sendiri.

Di lantai satu ada beberapa meja kursi untuk tamu. Dari sini kita bisa melihat barista dengan tangan lincahnya membuat beberapa menu minuman, salah satunya minuman kopi. Ada juga spot foto yang menjadi favorit tamu disini yaitu berfoto di tulisan Kopi Susu Kuta Lombok di salah satu dinding dalam bangunan. Sayangnya pas waktu itu, tempatnya sudah keduluan tamu lainnya. 

Menuju ke lantai dua, kita menaiki tangga yang cukup lebar. Di lantai dua lebih ramai dibandingkan di lantai satu. Apa karena view dari lantai dua lebih menarik daripada lantai satu. Menurut saya sama saja, tapi disini angin pantainya cukup terasa sepoi-sepoi. Beberapa tempat duduk juga seperti sofanya sangat menarik di lantai dua. Sayangnya lagi-lagi sudah diambil sama tamu yang lebih dulu sampai disini.







Setelah memilih tempat duduk, saya mulai memesan menu. Cek daftar menu yang disodorkan oleh salah satu karyawan cafe. Kali ini si mbak jilbab yang membawakan saya selembar kertas menu. Cara memesan menu disini, kita tinggal mencentang list menu di kertas. Kalau gak ada, kita tinggal menambahkan sendiri.


Banyak pilihan menu yang enak-enak. Ada hot coffee, ice coffee, matcha and tea, smoothies, soft drinks dan masih ada lainnya. Untuk menu makanan, ada breads and bakery, eggs, fruit and veg, cheese, protein dan sweet. Karena banyaknya, saya jadi bingung mau pesan menu makanan yang mana. 


Tujuan datang kesini ya untuk ngopi. Jadinya saya pesan salah satu menu favorit disini yaitu Ice Long Black/ Americano. Saya pesan dengan tambahan gula cair biar gak terlalu pahit. Awalnya mau pesen yang hot, tapi karena cuaca siang itu sangat terik, jadinya pesen yang dingin seger saja. 


Untuk Ice Long Black Americanonya enak banget. Ice Long Black Americano memiliki rasa kopi yang kuat dan seger. Aroma kopinya terasa khas dengan perpaduan rasa pahit yang pas dan sedikit rasa asam yang menyegarkan. 


Disajikan dengan es batu, minuman ini cocok dinikmati saat cuaca panas atau ketika lagi pengen bersantai, melepas keletihan saat bekerja seharian. Rasanya simpel, gak terlalu berat dan cocok untuk pecinta kopi hitam tanpa tambahan susu. Overall, recommended banget untuk kalian yang suka kopi dengan cita rasa autentik dan menyegarkan. 


Porsinya juga cukup besar. Apalagi kalau datang nongkrong di Kopi Susu Kuta Lombok, rasanya pengen berlama-lama disini. Mencari inspirasi tulisan, baca buku, ngobrol bareng pasangan, atau meeting kayaknya cocok disini.


Kita beralih ke menu makanannya. Saya gak memesan menu berat karena sudah bawa bekal nasi dari rumah sebelum berangkat ke sirkuit. Untuk menemani ice kopi, saya pesan Mini Burger dengan egg, coleslaw yang isinya biasanya irisan kol yang diiris tipis, wortel parut dan saus mayones, dan ditambah onion. 


Burger berukuran mini dan lembut saat digigit. Soal rasa, gak perlu diragukan lagi. Isian telur dadarnya lembut, coleslawnya gak berlebihan dan bumbunya nendang banget. Awalnya ragu mau pesan satu karena takutnya gak kenyang. Pas dihabiskan,  ternyata cukup kenyang juga. 


Pas banget dimakan untuk menemani ngopi sambil menikmati suasana siang di Kuta Mandalika. Semakin sore, pengunjung semakin ramai yang berdatangan. Hampir semua meja sudah terisi semua. Untuk harga disini masih masuk akal. Apalagi disini ada paket 35 ribu bisa pesan beberapa makanan atau cemilan. 


Ice Long Black / Americano yang saya pesan kena di harga 35 ribu dan Mini Burger kena di harga 35 ribu juga jadi total 70 ribu, belum termasuk PPN. So, masih masuk akal menurut saya kalau lokasinya di Kuta. Di Kota Mataram saja, harganya sama saja. Bahkan jauh lebih mahal dibandingkan di Kopi Susu Kuta Lombok. 


Overall, saya suka nongkrong di Kopi Susu Kuta Lombok. Di lain kesempatan, pengen datang lagi mencoba menu lainnya sambil nulis blog atau baca novel. Tempatnya nyaman sekali buat bekerja atau mencari inspirasi. Membutuhkan waktu kurang lebih satu jam dari Kota Mataram sampai di cafe ini.


Untuk informasinya, Kopi Susu punya dua lokasi di Pulau Lombok. Pertama yang sudah buka lebih lama yaitu Kopi Susu Gili Air dan yang baru buka yaitu Kopi Susu Kuta Lombok. Penasaran juga dengan Kopi Susu Gili Air. Next time, kalau datang ke Gili Air, semoga dapat mampir di Kopi Susu Gili Air.


Untuk jam buka di Kopi Susu Kuta Lombok dari jam tujuh pagi hingga sebelas malam (koreksi bila keliru). Bagi kalian yang lagi mencari lokasi buat ngumpul bareng temen atau keluarga sambil menuju destinasi wisata Kuta Mandalika, bisa mampir di Kopi Susu Kuta Lombok. 


Penulis : Lazwardy Perdana Putra