Showing posts with label Explore Banyuwangi. Show all posts
Showing posts with label Explore Banyuwangi. Show all posts

Friday, 14 November 2025

Kembali ke Lombok Berlayar Bersama KM Mutiara Barat : Kapal Hantu yang Gak Berhantu

 


Setelah hampir seminggu trip ke Banyuwangi, tibalah waktunya pulang ke rumah. Berhubung waktu cuti segera berakhir, dengan berat hati saya dan keluarga harus balik lagi ke Lombok. 


Pengennya sih nambah beberapa hari lagi di Tanah Blambangan ini, tapi kondisi belum mengijinkan. Masih banyak tempat-tempat yang belum saya explore seperti Pantai Pulau Merah, touring ke Alas Gumitir, Kawah Wurung dan lainnya. 


Oke, kita mulai saja cerita di tulisan terakhir edisi Banyuwangi 2025. Kali ini saya akan mengajak kalian para pembaca setia Lazwardy Journal untuk berlayar bersama kapal yang banyak orang menyebutnya "kapal hantu". 


Kapal yang sejak pertama kali beroperasi dari Lombok ke Banyuwangi, bikin saya penasaran untuk mencobanya. Alasan utama kenapa saya pengen banget nyobain kapal ini yaitu karena kapal ini cukup legend. Umurnya sudah gak muda lagi. Ukurannya juga sangat besar. Saking besarnya, banyak ruang di dalam kapal ini yang terkunci atau gak digunakan. 


Fasilitas di dalam kapalnya juga klasik. Dari lorong kapal, kantin yang dulunya restoran pada zamannya, sampai kamarnya berkesan vintage. Maklum saja, kapal ini merupakan kapal bekas Jepang. Saking klasiknya, saat memasuki kapal ini saya merasakan vibes berada di dalam sebuah kapal mewah Jepang di tahun 90-an.


Cerita dimulai dari pembelian tiket. Saya memesan kapal ini cukup unik. Mungkin kalian yang sudah membaca tulisan pertama saya trip ke Banyuwangi, pastinya sudah tau. Jauh-jauh hari sebelum berangkat ke Banyuwangi. Saya berhasil mendapatkan beberapa nomor kontak kru kapal yang akan saya naiki dari temen yang sering bolak-balik Lombok Banyuwangi. 


Menyesuaikan jadwal keberangkatan kapal dengan hari kepulangan. Setelah melihat jadwal keberangkatan kapal di website PT.Antosium Lampung Pelayaran (ALP), pas banget dengan keberangkatan kapal KM Mutiara Barat. Orang biasa menyebutnya dengan kapal "City Line" karena tulisan di badan kapalnya tertulis jargon tersebut. 


Kapal ini merupakan salah satu tol laut yang menjadi program dari Pak Jokowi semenjak menjabat menjadi presiden dulu. Hingga sekarang banyak masyarakat yang menggunakan tol laut ini untuk bepergian dari satu pulau ke pulau lainnya. Saya rasa sih cukup membantu bagi kita yang tinggal di kepulauan. 


Ada beberapa kapal yang sama yang melayani rute Lombok - Banyuwangi PP yaitu KM Mutiara Berkah II, KM Mutiara Sentosa III, KM Mutiara Barat, KM Mutiara Ferindo I dan II. Jadi saat ini ada lima kapal ALP yang beroperasi lintas Pel.Gili Mas menuju Pel. Tanjungwangi PP. Banyak juga orang menyebutkan kapal-kapal ini dengan sebutan kapal kembar City Line karena dari bentuk dan ukuran kapalnya hampir sama semua. 


Balik ke laptop !. 


Setelah memutuskan akan naik kapal tersebut, saya mengontak salah satu kru kapalnya. Kerennya direspon cepat sama mereka. Yang saya tanyakan apakah kapalnya dipastikan jalan dan harga sewa kamar karena rencananya saya dan keluarga akan menyewa kamar di dalam kapal. 


Dari informasinya kapal akan berangkat ke Lombok sekitar jam dua belas malam. Tapi kendaraan sudah bisa masuk sekitar jam delapan malam. Begitu juga dengan kamarnya, saya berhasil nego kamar kelas VIP dengan empat bed, lengkap dengan satu sofa dan pendingin ruangan seharga 250 ribu. Untuk pembayaran sewa kamarnya bisa nanti di atas kapal. 


Saat sudah memastikan kapal dalam kondisi baik-baik saja dan akan berangkat ke Lombok, saya langsung memesan tiket via website resmi PT.ALP. Caranya cukup mudah sekali.


Kita tinggal masuk ke dalam websitenya. Mengisi beberapa data yang diminta. Dari pilihan rute kapal, tanggal berangkat, nama kapal, jenis kendaraan, nomor kendaraan, nama penumpang sampai proses pembayaran. 


Hal yang perlu diperhatikan disini. Ketika akan memesan tiket, kita pastikan kendaraan yang akan kita gunakan. Jangan salah memasukkan jenis kendaraan dan nomor kendaraan. 


Setelah jenis kendaraan sudah diinput, lalu nama-nama penumpang jangan lupa dimasukkan. Jika membawa motor, itu sudah termasuk dua penumpang gratis. Caranya klik supir dan kernet. Lalu masukkan nama penumpangnya sejumlah dua orang. 


Hal penting lagi, jika penumpang kendaraan lebih dari dua orang, kita bisa menginput penumpang lainnya tapi bayar seharga penumpang. Kalau gak salah untuk dewasa seharga 105 ribu sedangkan anak-anak hanya 15 ribu. Tapi bisa juga gak dimasukkan kalau ingin berhemat, hehehe. 


Untuk pembayarannya sementara ini hanya bisa pakai Livin Mandiri bila ingin transaksi online. Bagi yang gak mau ribet, kalian bisa pesan di agent-agent resmi yang bekerjasama dengan PT.ALP di sekitar pelabuhan. 





Oke... Setelah urusan pertiketan beres, sekitar jam enam sore sehabis shalat magrib, kami berangkat menuju Pelabuhan Tanjungwangi. Sedih juga saat berpamitan dengan keluarga Banyuwangi. Kapan lagi kesini, semoga masih diberikan kesehatan, rezeki dan waktu buat datang kesini lagi. 


Saya bersama anak istri menggunakan Blumax, sedangkan bapak ibu pakai motor Vario. Untuk urusan barang bawaan jangan ditanya lagi. Apa yang bisa dibawa, kami bawa. Sisanya saya dan istri paket lewat ekspedisi hehehe. 


Perjalanan dari Rogojampi ke Pelabuhan Tanjungwangi memakan waktu tempuh kurang lebih empat puluh lima menit. Melewati Kota Banyuwangi dan Pelabuhan Ketapang. Akhirnya kami tiba tepat waktu di Pelabuhan Tanjungwangi. 


Langit malam saat itu agak mendung. Kecepatan angin juga cukup kencang. Sepertinya akan turun hujan. Semoga waktu memasuki kapalnya belum turun hujan. 


Memasuki pintu pelabuhan, kami diarahkan oleh petugas pelabuhan menuju portal pemeriksaan tiket. Setelah di depan portal, saya mengeluarkan handphone untuk membuka barcode pemesanan tiket. Setelah itu, barcode diarahkan ke layar yang ada di mesin scan.


Setelah terscan, artinya proses check in berhasil dan sudah bisa masuk ke dalam kapal. Gak perlu nyetak e-tiket lagi. Tinggal tunjukkin barcode e-tiket kepada petugas. Semuanya sudah beres. 


Untuk urusan check ini beres, selanjutnya kami diarahkan menuju ruang tunggu penumpang. Suasana di pelabuhan malam itu belum begitu ramai oleh penumpang pejalan kaki atau kendaraan. Yang ramai itu antrian truk-truk ekspedisi yang akan ikut menyeberang ke Lombok. 


Kapal KM Mutiara Barat sudah bersandar di dermaga bersama beberapa kapal barang lainnya. Gak lama menunggu, seluruh penumpang baik pejalan kaki maupun yang membawa kendaraan pribadi dipersilahkan memasuki kapal melalui ramdor yang berada di bagian buritan kapal. 


Gila ukuran kapalnya gede dan panjang banget. Ini pertama kalinya saya naik kapal berukuran panjang seperti ini. Mana bentuknya juga seperti kapal perang dengan livery dominan putih polos dan biru tua bertuliskan City Line di badan kapal. Benar-benar memberi kesan tersendiri.


Sepertinya perjalanan nanti akan seru karena saya rencananya akan mengexplore kapal ini dari buritan hingga haluan. Semoga kaki ini kuat jalan dan persiapan mental karena memang benar, kapal ini seperti kapal hantu saking besarnya. Sampai anak saya saja nanya, "ayah kok kapalnya serem dan gelap?". Saya bingung jawabnya gimana. 


Saat memasuki lambung kapal, gerimis pun datang. Cepat-cepat saya membawa motor masuk ke dalam cardeck. Untungnya petugas kapal mengarahkan motor saya dan bapak, parkir di samping ramdor yang berada di bagian buritan. Gak perlu jauh-jauh parkir motor. 


Cardeck kapal ini ada dua lantai. Lantai satu untuk kendaraan besar dan berat, sedangkan lantai dua untuk kendaraan sedang seperti truck kecil, mobil dan motor. 


KM Mutiara Barat ini memiliki bobot muat kotor sekitar 11.500 ton dengan panjang 166 meter dan lebar 25 meter. Bisa memuat kendaraan sekitar 115 unit dan penumpang sejumlah 1000 orang. Kapal ini dibangun pada tahun 1991 di Jepang. Dulu saat masih beroperasi di Jepang, kapal ini sudah beberapa kali berubah nama. Salah satunya bernama Ocean West (sumber : marine traffic).


Meskipun kapal ini tergolong sudah tua dan bekas kapal Jepang, fisiknya masih tetap terjaga. Bagi saya kapal ini memiliki kesan tersendiri. Kalau dibandingkan dengan kapal-kapal yang sudah saya naiki seperti punyanya PT.DLU pastinya kalah dari sisi fasilitas. Tapi kapal-kapal milik ALP ini banyak yang cari karena harga tiketnya cukup terjangkau dan hanya satu-satunya penyeberangan Banyuwangi langsung ke Lombok saat ini. 


Setelah memarkirkan motor dengan aman, kami berjalan menuju lantai atas untuk menuju deck penumpang. Suasana cardeck cukup lengang karena baru kendaraan kecil saja yang dipersilahkan masuk. Kendaraan besar masih berada di parkiran pelabuhan menunggu giliran masuk kapal. 


Penerangan di cardeck cukup minim pencahayaan. Kami melalui jalan menanjak ke cardeck lantai dua. Cukup terjal juga tanjakannya. Lumayan nyari keringet malam-malam. Berada di cardeck lantai dua, kondisi masih kosong melompong. Kami mencari tangga untuk menuju deck atas. Melalui pintu, di pinggir cardeck terlihat tangga menuju deck atas. Gila anak tangganya banyak banget. Benar-benar nih kapal buat saya jadi olahraga hahaha. 





Sesampainya di deck atas. Hujan turun dengan lebatnya. Kami segera masuk ke dalam ruang penumpang. Suasana ruang penumpangnya adem banget. Masih sepi dengan penumpang. Hanya terlihat beberapa kru kapal yang sedang bertugas. Dengan ramahnya, kami langsung ditawari kamar. Saya pun langsung menjawab sudah pesan kamar sama Mas Tian. Salah satu kru tempat saya berkomunikasi sebelumnya. 


Kami langsung disamperin oleh Mas Tian dan mengantarkan kami ke kamar VIP yang berada di Deck A. Menaiki tangga lagi penghubung Deck A dan Deck B. Kami memasuki pintu kaca dorong. Melewati lorong kamar VIP. Disini kamarnya banyak banget. Saking banyaknya saya gak sempat hitung jumlahnya berapa. Lantai lorongnya juga bersih. 


Mas Tiang langsung membuka pintu kamar dan taraaaaa, kamarnya cukup lega. Tersedia empat bed susun. Kasurnya juga empuk dan seprainya bersih. Kamarnya gak usah ditanya. Bersih banget meskipun beberapa perabotan sudah usang. 


Sejauh ini, kami senang dan puas. Terutama anak-anak ceria mendapatkan kamar yang super lega. Untuk kami berenam cukup nyaman mendapatkan kamar ini. Untuk review kamarnya menurut saya, kamar dan bed-nya bersih, seprainya juga wangi. Sayangnya gak ada bantalnya ya. Tapi it's oke, gak apa-apa. Yang penting dapat tidur pulas malam ini. 


Ada sofa panjang yang menghadap ke jendela. Pendingin ruangan bekerja dengan baik. Ada wastafel yang berfungsi dengan baik. Lemari untuk menyimpan barang dan ada lift jacket dewasa sebanyak empat buah. Penerangan kamarnya juga cukup terang. Melihat hujan turun dengan lebatnya dari dalam kamar. Gak peduli kapal berangkat jam berapa. Yang ada di pikiran kami malam itu, bisa tidur dengan nyenyak. 


Berhubung sudah ngantuk banget, saya tertidur sebentar. Sedangkan anak-anak masih asyik bermain di dalam kamar. Bangun-bangun kapal masih belum berangkat. Lihat jam tangan, waktu menunjukkan jam sebelas malam. Hujan juga sudah berhenti. Sepertinya asyik juga keluar kamar untuk melihat suasana di luar. Saya ijin sama istri untuk keluar sebentar. Ibu bapak dan anak-anak juga sudah tertidur. 


Sebelum keluar, terdengar informasi untuk jatah makan pertama sudah disiapkan dan bisa diambil di kantin kapal. Saya pun mengambil jatah makan untuk enam orang. Ini sudah termasuk tiket ya. Jadinya gak perlu bayar lagi. Untuk menunya, nanti saya bahas di saat pengambilan jatah makan kedua keesokan harinya. 




Muter-muter di atas kapal, suasana di sekitar pelabuhan syahdu banget karena habis turun hujan. Berjalan ke arah haluan, ternyata view malam keren banget. Dari sini kita bisa melihat lampu-lampu kapal ferry yang melintas dari Pelabuhan Gilimanuk, Bali ke Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.


Nongkrong sebentar di pinggir pagar kapal, selanjutnya kembali ke kamar untuk melanjutkan tidur. Gak banyak kegiatan yang dilakukan saat malam. Mau nunggu kapalnya berangkat, tapi sepertinya masih lama karena antrian truk yang akan masuk ke dalam kapal masih panjang.


Besok saja kalau sudah terang, baru kita explore kapal ini. Masuk ke dalam kamar untuk lanjut tidur sambil mengedit beberapa tulisan blog yang belum selesai. Sekitar jam setengah satu pagi waktu Banyuwangi, terdengar bunyi bel kapal sebanyak dua kali. Pertanda kapal akan segera diberangkatkan. 


Ini moment yang saya tunggu-tunggu. Kapan lagi melihat kapal sebesar kapal pesiar ini berangkat dengan cara ditarik oleh kapal tunda atau disebut tugboat. Saya pun kembali keluar untuk melihat proses kapal berangkat. Terlihat dua tugboat bersiap-siap menarik kapal KM Mutiara Barat. Tali tambat kapal sudah dilepas. Perlahan-lahan kapal meninggalkan dermaga menuju ke tengah. 


Keren juga ya, dua tugboat bisa menarik kapal besar menggunakan tali tambat. Langit malam itu cukup cerah. Angin laut juga cukup kencang. Semoga pelayaran aman-aman saja. Sempat khawatir juga naik kapal ini karena beberapa insiden pernah dialami oleh kapal lainnya yang satu bendera dengan KM Mutiara Barat seperti kejadian terbakarnya KM Mutiara Timur dan tenggelam di Selat Lombok beberapa tahun yang lalu.


Belum lagi insiden KM Mutiara Berkah II yang mengalami trouble di mesin saat akan berangkat dari Pelabuhan Gili Mas, Lombok menuju Pelabuhan Tanjungwangi, Banyuwangi di hari kami berangkat menuju Banyuwangi seminggu sebelumnya. 


Bisa baca ceritanya disini : Tiket Kapal Hangus : Touring Lombok - Banyuwangi


Sejauh ini kapal aman-aman saja. Setelah kapal berangkat, saya memutuskan untuk kembali ke kamar. Lanjut tidur biar gak kesiangan bangun. Semoga bisa bangun pagi sebelum matahari terbit. Dan benar saja, saya dan lainnya bangun kesiangan. Waktu menunjukkan jam enam pagi. Lihat jendela kamar, langit sudah terang di luar. 


Shalat subuh dulu, habis itu lanjut jalan-jalan pagi di pinggir kapal bareng anak-anak yang sudah bangun juga. Istri gak mau ketinggalan untuk ikutan juga. Sedangkan bapak ibu masih pengen di kamar saja. 





Semalam saya tidur cukup pulas. Jadinya badan terasa kembali seger dan siap keliling kapal. Btw, posisi kapal sudah berada di utara Pulau Bali tepatnya di atasnya Buleleng. Biasa di perairan ini kita bisa melihat kawanan lumba-lumba yang berenang di pinggir kapal seakan-akan mengiringi kami menuju tujuan. 


Sayangnya kami belum berhasil bertemu dengan kawanan lumba-lumba secara dekat. Hanya bisa melihat dari kejauhan. Belum beruntung namanya. Oke, kami berjalan menuju haluan kapal untuk menikmati matahari terbit. Disini juga sudah beberapa penumpang lainnya yang menunggu sunrise. 


Cuaca sangat cerah dan lautan dalam keadaan tenang. Kurang lebih sudah enam jam kapal ini berlayar dari Banyuwangi. Masih ada enam jam lagi kapal akan berlayar menuju Lombok. Anak-anak pun sangat senang diajak keliling kapal. Mereka sangat antusias melihat Pulau Bali dari kejauhan. 


Pagi itu saya, istri dan anak-anak menghabiskan waktu untuk berkeliling kapal dari deck A ke deck B, dari haluan sampai buritan. Ada beberapa ruangan yang menarik direview. Kapal ini memiliki beberapa ruang penumpang. Dari ruang penumpang kelas ekonomi lesehan tanpa adanya AC. Selain itu ada kamar khusus supir yang berada di bagian paling belakang. 



Ada kamar penumpang kelas VIP dengan fasilitas tempat tidur, sofa, meja kerja, lemari, wastafel dan AC. Ada juga kamar penumpang kelas bisnis tanpa AC. Ada kamar kelas paling tinggi untuk satu keluarga lengkap dengan kamar mandi dalam.


Uniknya lagi, di dalam kamar mandinya ada semacam jacuzzi yaitu bak air untuk berendam. Biasanya dilengkapi dengan air panas dan gelembung air. Kebiasaan berendam di jacuzzi ada di Jepang. Gak heran karena kapal ini bekas kapal Jepang. Sayangnya sudah gak digunakan lagi saat ini. 

 





Fasilitas toilet dan kamar mandi di kelas VIP semuanya bersih tanpa ada aroma yang aneh. Untuk kamar yang kami sewa,toilet dan kamar mandinya ada di luar. Sedangkan untuk kelas lesehan, toilet dan kamar mandinya terpisah dengan kelas VIP. Untuk kebersihan kamar mandi kelas lesehan agak kurang terjaga kebersihannya dan aromanya gak sedap. 


Di kapal ini gak ada ruang penumpang yang ada kursi duduknya seperti kapal ferry dan lainnya. Jadinya hanya ada ruang lesehan dan kamar tidur penumpang. Tinggal memilih mau dimana sepanjang pelayaran dua belas jam lamanya. Untuk ruang kantin ada satu saja dan itu gak terlalu luas. Ada kursi sofa dan meja. Tapi sayangnya, bagi kita yang gak suka asap rokok, jangan duduk disini karena banyak para supir yang merokok. 


Anehnya, ruang kapal ini terutama di depan kantin ber-AC dan ada peringatan gak boleh merokok. Tapi kenyataannya, banyak yang merokok. Serem juga kalau terjadi kebakaran gara-gara seputung rokok. Perlu jadi perhatian buat dinas perhubungan khususnya petugas kapal. Harus tegas dalam melarang penumpang merokok di dalam ruang ber-AC.


Untuk fasilitas lainnya, kapal ini juga sudah dilengkapi dengan alat keamanan seperti kapal sekoci, ban pelampung dan lift jacket yang bisa digunakan disaat keadaan darurat. Ada juga area muster station atau area tempat berkumpul jika terjadi sesuatu yang gak kita inginkan. 


Setelah puas berkeliling sekitar kapal, kami mampir di kantin untuk mengambil jatah makan kedua. Selain itu saya memesan dua gelas kopi susu hangat seharga 10 ribu buat saya dan bapak. Cemilannya, kami beli pisang goreng seharga 5 ribu dapat tiga pisang goreng. 


Habis itu lanjut ke kamar untuk menyantap menu sarapan yang kami ambil di petugas kantin. Untuk menu makan pertama dan kedua, menurut saya cukup enak. Pastinya ada kelebihan dan kekurangan. 





Menu makan pertama, kita dapat nasi putih, ikan lele goreng, sayur hijau dan sambal lalapan. Berhubung malam itu laper banget, saya menghabiskan dua kotak nasi karena ada sisa satu kotak yang gak dimakan. Untuk ikan lelenya ukurannya cukup besar. Dagingnya lembut dan sambelnya nendang pooool.


Kalau menu makan kedua, kita dapat ayam goreng, capcay dan sambel. Menu sarapan ini enak banget. Ayam gorengnya empuk dan lembut, capcaynya juga enak. Nasi putihnya juga lembut. Baik makan pertama dan kedua, porsinya cukup banyak. Jadinya mengenyangkan seukuran perut saya. 


Di luar ekspektasi saya, menu makan yang didapat selama perjalanan, ternyata semuanya enak dan gak mengecewakan. Meskipun lauknya sederhana, tapi sangat mengenyangkan dan gak pelit bumbu. 





Setelah sarapan, saya lebih banyak berada di dalam kamar untuk melanjutkan istirahat sejenak sambil mengecek draft tulisan yang belum selesai. Ngopi pagi, duduk di pinggir jendela sambil memandang Pucak Gunung Agung, Bali. 


Sebenarnya ada hiburan di depan tangga dan kantin yaitu live music yang dibawakan oleh dua biduwan dengan penampilan menarik. Suara biduannya cukup bagus dan lagu-lagu dibawakan kebanyakan dangdut dan Jawa. Keluar sebentar untuk nonton, tapi mata ini sudah gak kuat. Mau diajak tidur saja. Balik lagi ke kamar buat lanjutkan tidur. 


Posisi kapal sudah berada di ujung timur Pulau Bali. Itu artinya sebentar lagi, kita sudah memasuki Selat Lombok. Langit pagi itu cukup cerah. Gelombang laut yang cukup tinggi. Sudah terasa kapal oleng ke kanan dan ke kiri tapi hanya terasa samar-samar gitu. 


Yang saya suka dari kapal ini meskipun umur sudah senior, tapi semenjak berangkat meninggalkan Pelabuhan Tanjungwangi semalam, kami merasa nyaman. Kecepatan kapal ini juga sedang. Gak terlalu lambat dan gak terlalu cepat.


Meskipun sering menonton beberapa review dari youtuber yang sudah mencoba naik kapal milik PT.ALP rute Banyuwangi - Lombok dengan rata-rata ulasan mereka cukup menarik. Rasanya gak percaya sebelum mencobanya sendiri. Dan benar sekali, kapal ini cukup nyaman dan bagi saya sangat beruntung bisa naik kapal ini. Sebelum dipensiunkan, sayang banget kalau gak dicoba. 


Kurang lebih tiga jam lagi kapal akan tiba di Pelabuhan Gili Mas, Lombok. Sisa waktu tersebut, saya manfaatkan untuk tidur sejenak. Anak-anak juga kembali tidur. Bangun-bangun kapal sudah berlabuh di Teluk Lembar untuk menunggu antrian masuk ke dermaga Pelabuhan Gili Mas. 


Waktu menunjukkan jam dua belas siang. Kurang lebih dua belas jam perjalanan dari Banyuwangi ke Lombok. Dan gak menunggu lama, mesin kapal sudah dinyalakan lagi. Pertanda kapal sudah berjalan untuk sandar di dermaga. 





Dua buah kapal tunda segera mendekati kapal untuk membantu dalam proses sandar. Ini sudah menjadi standar operasional prosedur dari dunia perkapalan. Dimana ketika ada kapal besar akan sandar di dermaga, maka akan dibantu oleh satu atau dua buah kapal tunda. Alasannya karena kapal besar susah untuk bermanuver sendiri di pelabuhan. Bisa-bisa nanti kapal akan kandas di perairan dangkal. 


Setelah kapal sudah sandar sempurna di dermaga, kami bersiap-siap untuk menuju cardeck. Gak lupa mengecek barang bawaan jangan sampai ada yang tertinggal. Para petugas kapal jalan berkeliling kamar untuk mengambil kunci kamar. 


Kami segera turun ke cardeck menuju kendaraan yang terparkir di seberang ramdor kapal. Motor bisa keluar duluan dari kendaraan lainnya. 


Pelayaran memakan waktu dua belas jam, akhirnya kami menginjakkan kaki di Pulau Lombok lagi. Cuaca siang itu cukup cerah meskipun beberapa wilayah terlihat awan mendung. Angin laut sepoi-sepoi mengiringi kami seakan-akan mengucapkan selamat datang di rumah kembali. 


Over all, di luar ekspektasi. Dimana diawal saya mengira kapal ini banyak kekurangannya dari ruang yang panas, toilet yang gak bersih dan menu makan yang gak sesuai di lidah. Ternyata semuanya tertepis karena kapal ini sangat nyaman sekali. Kamar yang dingin, toilet dan kamar mandi yang bersih, menu makanan yang enak dan mengenyangkan. 


Dengan harga 250 ribu untuk motor, saya rasa worth it banget. Meskipun kekurangannya banyak perokok yang berada di ruang ber-AC. Jadinya tercium bau asap rokok yang menyengat. 


Bagi kalian yang gak dikejar waktu dalam bepergian, pas banget mencoba naik kapal ini. Untuk jadwal keberangkatan kapal ini gak tentu. Gak sesuai dengan jadwal keberangkatan yang tertera di website resminya. Saran saya, kalian bisa menanyakan ke salah satu kru kapalnya yang kalian dapat nomor kontaknya atau bisa menanyakan jadwal keberangkatan langsung di agent-agent resmi. 


Untuk nomor kontaknya kalian bisa japri saya ya. Nanti saya kasi nomor kontak kru kapal-kapal ALP rute Lombok - Banyuwangi PP. 




Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Saturday, 25 October 2025

Minggu Pagi Keliling Kota Banyuwangi : Pantai Marina Boom dan Taman Blambangan


Bangun pagi, saya dan istri sudah merencanakan untuk ajak anak-anak motoran ke Kota Banyuwangi. Hari Minggu seluruh kegiatan sekolah dan perkantoran diliburkan. Kebetulan juga di Kota Banyuwangi hari itu ada car free day (CFD) di Jalan Diponegoro, Kepatihan, Kecamatan Banyuwangi. 

Berangkat dari rumah mbah uyut di Rogojampi menuju arah utara. Waktu tempuh kurang lebih dua puluh lima menit dengan jarak tiga belas kilometer dari Rogojampi ke Kota Banyuwangi. Anak-anak dari jam enam pagi sudah bangun karena sudah dijanjikan bakalan jalan-jalan pagi.

Cuaca pagi hari itu cukup cerah meskipun sehari sebelumnya Rogojampi dan sekitarnya diguyur hujan lebat. Udara pagi sangat segar menemani kami diperjalanan. Arus lalu lintas berjalan dengan normal. Melihat aktivitas warga kota di hari libur. 

Ada yang joging pagi, bersepeda, berbelanja ke pasar, dan ada yang jalan-jalan menuju Kota Banyuwangi. Kami perginya hanya berempat saja. Saya, istri dan anak-anak. Mereka berdua sangat antusias kalau diajak jalan bareng ayah bundanya. Kakak Ken yang sudah menginjak umur lima tahun dan Adeq Lala berjarak dua tahun dari kakaknya. 

Pantai Marina Boom Banyuwangi 

Tempat pertama yang kami kunjungi yaitu Pantai Marina Boom Banyuwangi. Salah satu pantai yang menjadi ikon Kota Banyuwangi selain Pantai Watu Dodol yang ada di daerah Ketapang sana. 

Pantai Boom terletak di Kelurahan Kampung Mandar, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Rute yang kami lewati menuju pantai bisa dimulai dari Simpang Lima Banyuwangi kemudian mengarah ke Jalan Dr. Sutomo, Taman Blambangan, menyusuri Jalan Nusantara dan Jalan Ikan Cucut hingga sampai di pintu gerbang Pantai Boom. 

Lebih jelasnya kalian bisa buka google maps di smartphone masing-masing. Ketik Pantai Boom Banyuwangi. Lokasinya gak begitu jauh dari pusat Kota Banyuwangi. 



Setelah sampai di pintu gerbang masuk menuju Pantai Boom, kami berhenti di pos loket untuk membeli tiket masuk. Harga masuknya relatif murah yaitu 7,5 ribu rupiah saja per orang. Berhubung bawa anak-anak dua orang diberi gratis sama petugasnya. Jadinya total biaya masuk 15 ribu rupiah saja. 

Petugas loketnya ramah-ramah. Apalagi pas melihat plat motor dari Lombok, petugasnya langsung paham bahwa kami dari Lombok. Kesan baik yang kami dapatkan ketika awal masuk ke area destinasi wisata ini. 

Setelah urusan tiket masuk selesai, kami berkeliling sejenak sekitaran pantai. Area pantainya luas banget. Jalannya juga kondisi baik yaitu aspal yang mulus. 

Penataan area pantainya yang cukup baik. Bahkan lebih rapi untuk pantai yang ada di dalam kota. Plank petunjuk juga cukup lengkap. Jadinya kami gak kesasar mau kemana. 

Disini ada beberapa area yang bisa kita explore. Ada dermaga kayu untuk kapal-kapal pesiar ukuran kecil.  Ada bangku-bangku panjang di sekitar trotoar pinggiran dermaga. Cafe dan resto juga ada disini termasuk tempat nge-gym ada disini. 

Selain itu ada patung macan yang menjadi simbol kekuatan dan keberanian masyarakat Osing Banyuwangi. Gak ketinggalan ada jembatan estetik dan area taman yang tertata rapi.

Mungkin di beberapa tempat yang saya lihat masih perlu dibenahi. Over all, kesan awal datang pertama kali kesini cukup menyenangkan. 




Terlihat beberapa kapal pesiar bersandar di dermaga. Sempat bingung mau kemana dulu. Muter-muter sebentar, kami melihat dari kejauhan beberapa pengunjung lain yang sedang bersantai di pinggiran pantai. 

Akhirnya kami kesana saja. Apalagi ada playground anak-anak disana. Ada penyewaan mobil remot, sepeda listrik dan beberapa wahana lainnya.

Melihat ada penyewaan mobil remot kontrol, anak-anak langsung kegirangan. Mereka berdua sangat suka main mobil remot  kontrol. 

Pantai Boom dahulu dikenal sebagai pelabuhan penting pada masa kolonial. Saat ini, area tersebut dikembangkan menjadi kawasan wisata pantai yang modern dan instagramable. Begitu memasuki area pantai, pengunjung akan disambut dengan ikon besar bertuliskan “Pantai Boom Marina Banyuwangi” yang sangat cocok sebagai latar foto.  

Pantai yang sering disebut Pantai Marina Boom ini juga setiap tahunnya menggelar beberapa event. Salah satu event yang pengen saya nonton dari dulu yaitu Festival Gandrung Sewu. 

Festival yang menampilkan seribu penari yang menggunakan pakaian khas penari Banyuwangi. Seribu penari menari di atas hamparan pasir pantai yang luas. Ini sudah agenda rutin tiap tahunnya yang selalu ditunggu banyak orang baik domestik maupun mancanegara. Keren kan !. 

Kawasan Pantai Boom ini cukup luas sekali. Terbagi dari beberapa bagian. Ada berupa teluk yang terdapat beberapa dermaga kapal. Terdapat Eco Park Marina yang berada di sebelah utara dimana disini kita bisa melakukan kegiatan trekking dan berlari karena ada jalur track khusus berlarinya. 

Sedangkan bagian pantainya dengan hamparan pasir yang begitu luas menghadap ke arah Selat Bali dan Pulau Bali

Di pantainya juga terdapat beberapa kursi santai dan diberi payung untuk bersantai dan berjemur sehabis mandi pantai. Sayangnya pagi menjelang siang tersebut sinar matahari menyengat sekali. Jadinya kami urungkan niat untuk berjalan menuju pinggir pantai. Cukup menikmati suasana pantai dari bawah pohon yang cukup rindang. 



Disini juga ada penyewaan kuda. Kita bisa berkeliling pantai sambil duduk di atas punggung kuda dengan ditemani oleh yang punya kudanya. Sekali berkeliling dikenakan tarif dari 25 ribu saja. Cukup worth it me urut saya sih. Sayangnya kudanya gak terlalu besar. Jadinya ragu buat nyobain, hehehe. Anak-anak pun takut nunggang kuda. 

Yasudah, kami menghabiskan waktu di Pantai Boom sambil menemani anak-anak main mobil remot saja. Harga sewanya 20 ribu per mobil dengan waktu hanya 15 sampai 25 menit saja. 

Gak banyak kegiatan yang kami lakukan selain berkeliling motoran muterin kawasan pantai, duduk santai di bawah pohon rindang sambil menikmati view Selat Bali dan Pulau Bali dan anak-anak menghabiskan waktu bermain saja. 

Berhubung waktu masih cukup pagi, tujuan selanjutnya kami akan ke Taman Blambangan sambil melihat suasana car free day khas Banyuwangi. 

Taman Blambangan Banyuwangi

Taman yang berada di pusat jantung Kota Banyuwangi ini menjadi daya tarik bagi siapa pun yang melintas di tempat ini. Dikelilingi oleh jalan besar membuat akses ke tempat ini menjadi lebih mudah. 

Jarak dari Pantai Marina Boom ke Taman Blambangan sangat dekat. Bahkan kedua tempat ini bisa dibilang satu jalur. Kurang lebih hanya lima menit waktu tempuh dari Pantai Marina Boom, kami sudah sampai di area parkir taman yang berada di sebelah barat. 

Suasana sangat rindang dan asri sekali karena area parkirnya persis di bawah pohon-pohon besar seperti Pohon Beringin. Gak khawatir kepanasan dan udara disini sangat sejuk di tengah cuaca panas kota.



Taman Blambangan merupakan ruang terbuka hijau terbesar dan sekaligus ikon Kota Banyuwangi. Siapapun yang datang ke Banyuwangi, pasti pengen mampir ke taman yang menjadi daya tarik masyarakat untuk berkumpul, berolahraga atau menghilangkan penat seharian bekerja. 

Taman Blambangan memiliki sejarah panjang sebagai pusat kegiatan masyarakat. Letaknya yang berada di tengah kota menjadikannya titik strategis yang mudah diakses dari mana saja. Dikelilingi fasilitas publik, pusat belanja, hingga tempat wisata kuliner, taman ini setiap harinya digunakan untuk berolahraga. 

Lapangan luas yang tertata rapi, mulai dari area olahraga, event seni, budaya, hingga kegiatan keagamaan skala besar sering digelar di sini. 



Ada area untuk jogging, bermain basket, bermain bola, sampai ada beberapa fasilitas olahraga untuk orang dewasa dan anak-anak seperti jungkat-jungkit, alat nge-gym sederhana.

Dari beberapa review orang lain yang saya baca, biasanya pagi hari adalah waktu teramai bagi para pegiat kesehatan yang menikmati udara segar sambil menggerakkan badan.

Saat kami disana, kebetulan juga hari libur, ramai sekali warga yang datang ke taman ini. Ada yang duduk santai sambil berkumpul bersama teman, gebetan dan keluarga. Ada yang lagi asyik main basket. Ada yang asyik menyantap beberapa makanan khas daerah sini. Ada juga yang sekedar olahraga jalan kaki seperti saya dan istri (sambilan nurunin berat badan) hehehe. 

Ada beberapa spot yang bisa dipakai untuk mengambil foto. Di bagian tengah taman, ada panggung permanen gitu dengan background bangunan khas Blambangan mirip seperti candi berwarna putih. Biasanya saya lihat bentuk bangunan ini di salah satu novel atau buku yang menceritakan tentang Kerajaan Blambangan dahulu kala. 




Di kiri-kanan panggung, ada dua bangunan berbentuk joglo Jawa. Terlihat banyak pengunjung yang duduk sambil bersantai di bangunan ini. 

Di sisi sebelah barat taman, ada surganya kuliner. Beberapa makanan khas sini, kami cobain seperti sego cawuk, sego tempong dan nasi pecel. 

Dari ketiga makanan tersebut, yang paling saya suka yaitu nasi tempongnya. Berasa banget sambel tomat dan ikan terinya. Kalau datang ke Banyuwangi, gak lengkap rasanya gak nyobain nasi tempongnya. 

Taman Blambangan juga sering dijadikan pusat penyelenggaraan acara besar seperti konser musik, festival budaya dan pasar malam. 

Saat malam hari, suasana taman berubah menjadi tempat nongkrong yang seru. Banyak anak muda berkumpul untuk bermain musik, bersantai dengan komunitas, hingga mengabadikan momen dengan latar suasana Kota Banyuwangi. Gak sedikit juga yang memanfaatkan taman ini untuk membuat konten foto maupun video untuk dishare di tiktok, Instagram atau youtube. 

Masuk ke Taman Blambangan ini gratis ya. Gak ada tiket masuk. Hanya bayar parkir motor saja 2 ribu rupiah. Bukanya dua puluh empat jam. Kapanpun bisa datang kesini. 

Berhubung waktu sudah menjelang siang dan anak-anak sudah mulai capek dan ngantuk. Kami balik ke rumah mbah uyut. 

Rasanya keliling kota belum cukup hanya dua tempat saja. Next time... Bakalan explore lagi ke tempat yang lainnya sekitaran Kota Banyuwangi. 

Over all, jika kalian sedang berada di Banyuwangi, jangan lupa luangkan waktu sejenak untuk mampir dan menikmati atmosfer hangat di Pantai Marina Boom dan Taman Blambangan. Atau tempat lainnya yang menarik juga. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Saturday, 18 October 2025

Menjelajah Misteri dan Keindahan Alam Taman Nasional Alas Purwo. Kapok Gak ?


Salah satu tempat yang ingin saya explore jika datang ke Banyuwangi akhirnya teralisasi juga. 

Setiap sudut Banyuwangi memang menyimpan keindahan alam. Setiap merencanakan ngetrip ke Banyuwangi, pastinya sudah membuat daftar tempat-tempat yang akan dikunjungi. 

Sebelumnya saya sudah menulis tentang salah satu kuliner yang wajib kalian coba saat datang ke Banyuwangi. 

Bisa baca disini : Nasi Pecel Romot Rogojampi

Kali ini, saya akan menulis cerita yang saya dapatkan ketika berkunjung ke salah satu surganya Banyuwangi yang banyak orang kunjungi. Gak hanya keindahannya saja yang  didapat. Tapi ada hal yang membuat kita penasaran untuk selalu datang.  

Salah satu tempat yang paling legendaris di Banyuwangi yaitu Taman Nasional Alas Purwo. Gak hanya dikenal karena keindahan alamnya yang masih sangat alami, tapi juga karena kisah mistis dan aura magis yang kita rasakan bila datang ke tempat ini. 

Menginjakkan kaki di sana, mengexplore hutan purba, pantai tersembunyi, dan savana luas yang menakjubkan. 

Mendengar cerita dari keluarga dan teman yang sudah ke Alas Purwo, kebanyakan ceritanya berbau horor. 

Ada yang dilempar centong air saat berada di kamar mandi. Ada yang melihat asap putih tebal saat melintas di daerah pesisir. Paling sering mendengar cerita, beberapa pengunjung ada yang tersesat saat berada di dalam hutan karena gak tau jalan keluar. 

Percaya gak percaya, Alas Purwo memiliki salah satu pantai yang dipercaya sebagai tempat pintu gerbang masuk ke alam jin alias Nyi Roro Kidul sang legenda Ratu Pantai Selatan. 

Sebenarnya pengen sekali dari dulu datang kesini. Tapi masih ragu karena cerita-cerita seram seperti tadi.

Aslinya saya orangnya penakut. Tapi kalau berangkatnya ramai-ramai apalagi sama orang yang sudah sering kesini, kita gasss saja !. 

Cerita ke Banyuwangi beberapa minggu yang lalu, Alas Purwo akhirnya masuk ke dalam list tulisan yang akan segera tayang di blog Lazwardy Journal (ngendorse diri sendiri). 

Sebenarnya ini agenda dadakan. Berawal dari ajakan bapak mertua buat ke Alas Purwo. Untungnya ngajaknya berangkat pagi dan pulangnya sebelum sore hari. Kebetulan juga istri dan anak-anak pengen ikutan juga. 

Tanpa ragu dan berpikir dua kali, saya pun setuju. Asalkan berangkatnya pagi dan pulangnya siang, kita gass saja !. 

Perjalanan saya dimulai dari pusat Kota Rogojampi menuju Alas Purwo yang berjarak sekitar lima puluh kilometer ke arah selatan. 

Saya berangkatnya bareng bapak, istri, adek sepupu dan anak-anak. Kami menggunakan mobil milik Om Har (adeknya ibu). Sayangnya beliau gak bisa ikut karena sibuk jaga warung. 

Segala perlengkapan seperti topi, kacamata hitam, sunscreen, cemilan dan air mineral sudah masuk ke dalam tas. Mobil juga sudah dinyalakan. 

Kami berangkat dari rumah mbah uyut sekitar jam sembilan pagi. Cuaca pagi itu sangat cerah. Kebayang panasnya di perjalanan nanti. 





Jalan menuju kesana bisa dibilang cukup aman untuk kendaraan yang kami gunakan. Sebagian aspal mulus, sebagian lagi jalan tanah berbatu yang membuat adrenalin meningkat. 

Namun, sepanjang perjalanan, mata saya dimanjakan oleh pemandangan hutan jati dan desa-desa kecil yang tenang.

Begitu memasuki Gerbang Rowobendo, suasana langsung berubah. Angin terasa lebih lembap, pohon-pohon tinggi menjulang, dan suara burung serta serangga menjadi latar alami yang menenangkan sekaligus mistis.

Mengecek sinyal handphone, ternyata sinyal sudah timbul tenggelam. Posisi kami masih di pintu masuk ke Alas Purwo. 

Mobil pun berhenti untuk pengecekan oleh petugas. Saya keluar dari mobil dan berjalan kaki menuju loket pembelian tiket masuk. 

Tiket untuk kendaraan roda empat seperti mobil seharga 10 ribu saja. Sedangkan orang dewasa dikenakan tiket masuk 20 ribu. Anak-anak gratis masuk. 

Saat membeli tiket,petugas bertanya asal kami dari mana. Saya pun menjawab, "kami dari Rogojampi". Petugas berseragam tersebut hanya mengangguk kepala saja. 

Tatapannya serius amat itu bapak-bapak. Mirip seperti film horor Indonesia ketika rombongan anak-anak muda yang masuk ke dalam hutan dan bertemu orang asing. Bisa bayangin sendiri kan ? hehehe. 

Melihat suasana sekitar, sepertinya hanya kita saja pengunjung yang memasuki Alas Purwo pagi itu. Sepanjang jalan gak terlihat kendaraan yang berpapasan dengan kami. 

Baru ingat, saat itu hari kerja. Pantes saja gak banyak pengunjung datang kesini. Pikir saya, pasti nanti bakalan bertemu pengunjung lainnya saat sudah di dalam hutan. 

Kami pun melanjutkan perjalanan. Jalan dengan aspal mulus. Semakin ke dalam hutan, jalanpun semakin mengecil. Pohon-pohon besar menjulang tinggi. Udara sejuk khas aroma tanah basah. 

Suara kicauan burung dan serangga lainnya yang menemani sepanjang perjalanan. Daun-daun kering banyak berjatuhan ke jalan. Tujuan pertama kami yaitu ke Savana Sadengan karena lokasinya paling dekat dengan posisi kami saat itu. 

Alas Purwo dikenal sebagai salah satu hutan tertua di Pulau Jawa. Saat berjalan di antara pepohonan besar dan rimbun, saya benar-benar merasa seperti kembali ke masa lalu. Sinar matahari yang menembus celah daun menciptakan suasana magis, seolah-olah alam sedang menjaga rahasia besar di balik ketenangannya.

Gak heran, banyak orang percaya bahwa Alas Purwo adalah tempat lahirnya bumi atau tempat para leluhur bersemayam. Tapi bagi saya, tempat ini justru menunjukkan bagaimana alam bisa tetap lestari jika manusia bisa menjaga dan gak berbuat seenaknya. 

Menurut cerita dari bapak mertua, setiap malam satu Suro dalam kalender Jawa, banyak orang datang kesini sampai bermalam. Tujuan mereka bermacam-macam. Ada yang nyari wangsit, ada yang bersemedi, ada juga yang hanya ikut-ikutan teman saja. Percaya gak percaya ya. Kembali ke keyakinan kalian masing-masing.



Kembali ke laptop ! 

Niat kami kesini hanya untuk mengexplore Alas Purwo saja. Ini pertama kalinya juga saya dan anak istri datang kesini. Kalau bapak mertua sama sepupu yang ikut saat itu, sudah beberapa kali datang kesini. Jadi agak tenang bareng mereka karena sudah tau situasi. 

Menuju ke Savana Sadengan, kami melewati sebuah Pura bernama Pura Luhur Giri Salaka atau disebut Situs Kawitan Alas Purwo. 

Situs Kawitan merupakan tempat yang dipercaya sebagai asal mula kehidupan dan pusat spiritual tertua di tanah Jawa. Tempat sakral ini juga sangat penting bagi umat Hindu. Banyak umat Hindu baik yang dari Bali, Lombok atau daerah lain datang kesini untuk bersembahyang atau melakukan upacara keagamaan. 

Sayangnya kami gak sempat mampir ke situs ini karena suasana pagi itu masih sepi sekali. Dengar cerita dari sepupu, beberapa bulan yang lalu sempat ada insiden pengunjung yang kesurupan. Jadi ragu mampir disini apalagi bawa anak kecil. 

Melewati Situs Kawitan, kami melanjutkan menuju Savana Sadengan. Dari jalan utama beraspal mulus, mobil kami mengambil jalanan tanah bebatuan di persimpangan. 

Jarak Savana Sadengan sudah gak jauh lagi. Gak sabar ingin segera sampai dan melihat Padang savana yang ikonik sekali di Alas Purwo.  

Selamat Datang di Savana Sadengan ! 

Kurang lebih menempuh jarak dua belas kilometer dari Gerbang Rowobendo,  kami sudah sampai di area parkir Savana Sadengan. Gak ada pengunjung lainnya selain kami. Ada senangnya juga bisa dengan tenang menikmati view padang savana tanpa banyak pengunjung. 

Dari parkir mobil, kami berjalan kaki kurang lebih dua puluh meter ke area menara pandang. Meja dan bangku dari kayu tersedia untuk pengunjung beristirahat. 

Kondisi menara pandangnya cukup terawat. Bangunan di samping menara pandang juga terawat dengan baik. Hanya saja gak ada petugas yang kami temui disana. 




Berada disini vibesnya seperti savana yang saya lihat di film Jurasic Park. Benar-benar tenang sekali. Dari kejauhan terlihat perbukitan hijau, padang rumput luas dan suara hembusan angin yang terdengar. Langit menjelang siang itu juga cukup bersahabat. 

Dari menara pandang, saya bisa melihat hamparan padang rumput luas dengan latar hutan tropis. Di kejauhan, tampak kawanan banteng Jawa, rusa, burung elang, dan burung merak yang bebas berkeliaran. Rasanya seperti berada di padang Afrika meskipun belum pernah ke Afrika, hehehe. 

Savana Sadengan merupakan zona pengamatan satwa liar. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pagi hari (sekitar pukul 06.00–09.00) atau sore hari (15.00–17.00). Pada waktu tersebut, hewan-hewan keluar untuk mencari makan.

Terdapat pagar kayu sebagai tanda bahwa pengunjung hanya bisa mengamati satwa yang berada di savana dari luar pagar kayu saja. 

Berhubung kami sampai di savana ini sekitar jam sepuluh pagi tapi masih beruntung bisa melihat sekelompok banteng liar sedang merumput gak jauh dari menara. Di sisi lain, beberapa burung merak jantan menampilkan bulu indahnya. Momen yang luar biasa untuk diabadikan dengan kamera. Sayangnya saya gak bawa kamera DSLR dari rumah. Gak apa-apa dah !.

Menurut cerita bapak mertua yang merupakan pensiunan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) bahwa di musim tertentu, jumlah satwa bisa lebih banyak karena mereka turun dari hutan ke padang rumput mencari air. 




Gak perlu mencari petugas disini buat bertanya informasi tentang Alas Purwo karena sudah ada bapak mertua yang dulunya bekerja di Taman Nasional. Apalagi beliau sudah sering datang kesini. 

Kurang lebih setengah jam kami berada di menara pandang untuk menikmati panorama alam yang tersaji. Kapan lagi datang kesini kalau gak pas ke Banyuwangi. Buat kalian yang suka fotografi, tempat ini wajib dikunjungi. Terpenting harus menjaga etika. Jangan berbicara keras dan jaga sopan santun. Terpenting gak mengganggu kehidupan satwa disini. 

Waktu sudah menunjukkan jam sebelas menjelang siang. Kami melanjutkan perjalanan ke arah pantai yang ada di Alas Purwo. Ada beberapa pantai yang cukup familiar di telinga saya seperti Pantai Plengkung, G-Land dan Teluk Biru. Kebetulan ada pantai yang terdekat dari Savana Sadengan dan jalurnya searah dengan Pantai Plengkung dan G-Land. 

Selamat Datang di Pantai Trianggulasi ! 

Awalnya yang ada di pikiran saya, bapak mengajak kami ke Pantai Plengkung atau Pantai G-Land yang sering saya lihat foto dan videonya di instagram. 

Tapi yang disebut beliau Pantai Trianggulasi. Nama yang sangat asing bagi saya. Apa karena saya jarang sekali buka google maps Alas Purwo, jadinya gak tau pantai ini. 

Dari cerita beliau, pantai ini sangat menarik buat dikunjungi. Bahkan jaraknya yang gak begitu jauh dari Savana Sadengan. Kurang lebih sepuluh kilometer dari Gerbang Rowobendo. Wah sangat menarik pikir saya. Tambah semangat dong !. 

Perasaan takut sejak masuk hutan belantara Alas Purwo, jadi hilang perlahan karena sudah melihat Savana Sadengan. Dan sebentar lagi akan bertemu dengan pantai. Dapat explore hutan liarnya, dapat pula explore pantainya. 

Keluar dari Savana Sadengan, kami bertemu lagi dengan jalan utama dengan aspal yang mulus menuju arah selatan. Suasana masih sama seperti tadi. Rimbunnya pohon-pohon tinggi. Udara sejuk beraroma tanah basah. Terlihat kawanan monyet yang duduk santai di pinggir jalan menunggu makanan yang dilempar oleh pengunjung yang melintas.




Begitu sampai di area pantai, suara deburan ombak langsung menyambut dengan lembut. Udara laut bercampur aroma hutan menciptakan perpaduan yang unik dan menenangkan.

Mobil berhenti tepat di area parkir pantai. Ternyata di pintu masuk pantai ini sudah ada sebuah penginapan yang saya lupa namanya. Ada restonya juga. Beberapa pengunjung kami lihat saat itu. 

Dari parkiran mobil, kami berjalan kaki kurang lebih dua puluh meter menuju pantai. 

Pantai Trianggulasi memiliki garis pantai yang panjang dengan pasir putih kecokelatan dan ombak besar. Gak ada keramaian, gak ada pedagang. Hanya pantai, ,alam dan kamu yang kucintai. Asyiiik. 

Inilah yang membuat pantai ini terasa istimewa. Berbagai jenis tumbuhan di tepi pantai sangat rimbun seperti pohon pandan laut dan cemara udang tumbuh berjajar, memberi ketenangan jiwa. Di beberapa sudut, terlihat jejak satwa liar seperti burung dan biawak yang sesekali muncul dari balik semak.

Keheningan di pantai ini benar-benar luar biasa. Duduk di bawah pohon sambil mendengarkan ombak, kalian bisa merasakan waktu berjalan lebih lambat. Cocok buat kalian yang ingin melepas penat semingguan bekerja, bisa datang kesini bareng keluarga atau pasangan. 

Dari beberapa referensi yang saya baca. Nama “Trianggulasi” berasal dari istilah geodesi karena dulu kawasan ini digunakan sebagai titik triangulasi (pengukuran peta) oleh pemerintah kolonial. 

Sekarang tempat ini berubah menjadi destinasi ekowisata yang menonjolkan keseimbangan antara manusia dan alam.

Menariknya, pantai ini juga menjadi jalur penyu bertelur, terutama antara bulan Mei hingga September. Akan tetapi, aktivitas ini diawasi ketat oleh petugas taman nasional untuk menjaga kelestariannya.

Pantai Trianggulasi termasuk kawasan wisata yang masih alami. Jadi fasilitasnya cukup terbatas. Ada pos jaga petugas, area parkir sederhana, kamar mandi, toilet dan beberapa gazebo untuk beristirahat. Ada resto di pintu masuk pantai. Tapi kalau boleh saran, bawa bekal sendiri dari rumah. 




Ada beberapa aktivitas yang kalian bisa lakukan di pantai ini seperti menikmati sunset di sore hari, bersepeda atau berjalan kaki di pinggir pantai, main pasir bagi yang membawa anak-anak, camping dan berfoto. 

Untuk mandi atau berenang di pantainya sangat gak disarankan. Petugas sudah menandakan bendera merah di sekitar area pantai bahwa dilarang keras untuk berenang karena ombak dan arus lautnya yang cukup besar. 

Saya sangat kaget dengan view pantai ini. Hampir mirip dengan pantai-pantai di Lombok bagian selatan. Warna gradasi air lautnya yang biru toska dan biru tua. Deburan ombak yang indah. Keren banget pantai ini. 

Kegiatan yang kami lakukan selama berada di pantai ini yaitu duduk santai di tepi pantai sambil menemani anak-anak bermain pasir di bawah pohon rindang. 

Sesekali melihat laut lepas dengan deretan perbukitan Taman Nasional Alas Purwo yang begitu luas. Kami menghabiskan waktu di pantai ini hingga balik ke Rogojampi. 

Untuk edisi Taman Nasional Alas Purwo kali ini, cukup dua destinasi dulu. Semoga next time kalau ke Banyuwangi lagi, bisa mengexplore tempat-tempat terindah yang berada di kawasan Taman Nasional Alas Purwo karena masih banyak tempat-tempat yang belum sempat saya explore. 

Sampai bapak mertua nantangin next time kalau ke Alas Purwo lagi, kita perginya malam sambil menginap disini. Antara mau bilang iya apa gak. Tapi kalau perginya ramai-ramai lagi, kenapa gak ?. Asyiiik. 

Jujur, sewaktu memasuki pintu gerbang masuk ke Taman Nasional Alas Purwo. Ada perasaan khawatir semoga kami semua dalam kondisi baik-baik saja. Apalagi membawa anak-anak kecil. 

Tapi perasaan itu hilang seketika disaat saya sangat menikmati ngetrip kami menyusuri hutan purba. Bisa melihat beberapa satwa liar yang di Savana Sadengan. 

Apalagi di penghujung waktu ngetrip kami, saya takjub dengan Pantai Trianggulasi. Salah satu surga tersembunyi yang Alas Purwo, Banyuwangi miliki. 

Sekitar jam dua belas siang, kami balik ke Rogojampi. Perjalanan ke luar hutan Alas Purwo lancar jaya tanpa ada drama. 

Anak-anak senang sekali. Ini pertama kalinya mereka kami bawa ke hutan legendaris yang Banyuwangi miliki. 

Kalian kapan ke Taman Nasional Alas Purwo ?. Ditunggu ya ceritanya. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra