Tuesday, 18 September 2018

Sarapan Lumpia di Pantai Sanur, Bali


Good Morning semua !.

Khusus buat para pembaca setia lazwardyjournal.com, semoga kalian selalu sehat dan masih semangat membaca curhatan jalan dan kuliner saya pastinya (berharap begitu). Karena kalian dan kamu, alasan saya masih semangat untuk menulis "curhatan di awal tulisan".

Masih tentang cerita jalan-jalan saya di Bali bareng si doi. Tapi kali ini kami gak berdua saja, ada teman baru dari Bali yang menemani. Sebut saja,  Si Liliy anak asli Karangasem, Bali. Dia sahabatnya si doi dan saya kenal dia dari si doi juga.

Oke, kali ini cerita saya selanjutnya jalan-jalan ke Pantai Sanur, Bali. Waaaah, Pantai Sanur lagi !. Jujur,  ini kali kedua saya datang ke salah satu pantai terindah dengan sunrisenya ini. Tapi menurut saya sih, dimana-mana pantai yang berada di sebelah timur, pasti sunsrisenya indah. Tergantung sama kondisi cuaca juga.

Apapun itu,  Pantai Sanur sudah dikenal dengan sunrisenya yang indah. Banyak orang yang datang ke Bali, berlomba-lomba bangun pagi untuk mengejar sunrise. Karena lokasinya di pinggiran Kota Denpasar, jadi pantai ini selalu ramai oleh pengunjung.

Lokasi saya menginap gak terlalu jauh dari Pantai Sanur yaitu di daerah Renon sana. Setelah dijemput sama si doi dan Si Liliy, kami bertiga menuju daerah Sanur. Hari libur, membuat pagi itu sudah ramai oleh kendaraan yang lalu lalang.

Melewati Lapangan Puputan, Renon atau lebih dikenal dengan Monumen Bajra Sandhi. Banyak pepohonan, membuat udara pagi itu sangat sejuk. Banyak anak-anak muda dan para orang tua yang memanfaatkan waktu libur untuk joging dan bersepeda.

Selanjutnya melewati Jalan Hang Tuah dan bertemu dengan perempatan lampu merah KFC Sanur, ambil jalur lurus dan memasuki pintu gerbang Pantai Sanur.










Untung saja dekat, so..gak berlama-lama di jalan.  Sesampainya di Pantai Sanur, pengunjung sudah ramai saja nih. Sayang sekali,  kami gak dapat melihat sunrise karena cuaca lagi kurang berpihak. Alasan utama sih bangun kesiangan, hahaha. Tapi memang bener lhoo, banyak awan yang menutupi matahari sehingga memang gak terlihat sunrisenya, *pembelaan*.

Setelah memarkirkan kendaraan, kami bertiga memasuki kawasan Pantai Sanur. Pantainya mirip seperti Pantai Kuta, hanya saja disini banyak publik boat yang parkir menunggu waktu keberangkatan ke Nusa Penida tiba. So.. Pantai Sanur ini merupakan salah satu penyeberangan ke Nusa Penida selain dari Pelabuhan Padangbai dan Benoa.

Terlihat banyak sekali para penumpang yang beragam rupa alias dari mancanegara membawa koper dan ransel. Menanti boat mereka sambil duduk santai di pinggir pantai. Suasana Pantai Sanur sangat padat dan macet oleh ribuan manusia. Travelers dari berbagai negara ada disini semua.




Ada yang bertanya ngapain saja di Pantai Sanur?

Kami ke Pantai Sanur untuk jalan-jalan pagi saja sambil menikmati suasana pagi hari. Berhubung belum sarapan, jadi kami mencari cemilan buat mengisi perut. Siapa bilang di Bali susah nyari makanan halal bagi kita yang muslim?.

Menurut saya sih, pinter-pinter kita saja untuk memilih makanan yang akan kita makan. Apalagi di Bali sudah banyak penjual makanan pendatang dari luar Bali contohnya dari Lombok dan Jawa. Jadi aman lah buat nyari makanan disini.

Ujung-ujungnya ngebahas kuliner lagi. Memang sih,  jalan-jalan itu gak lepas dari cerita kulinernya. Habis jalan kan haus dan pasti laper. Mau gak mau kita mencari tempat makan yang enak dan halal. Apalagi jaman sekarang, banyak tempat makan yang instagrammable banget. Para food blogger pasti sudah paham, hehehe.

Di Pantai Sanur kami menemukan penjual Lumpia. Kata Si Lili Lumpianya enak banget. Apalagi si doi, seneng banget sama makanan khas Semarang ini. Jujur, saya belum pernah makan Lumpia di Pantai Sanur, so penasaran juga pengen nyoba. Hanya bermodalkan wadah yang terbuat dari kaca dan aluminium, mirip wadah akuarium gitu dan mas si penjual Lumpia hanya duduk di atas bangku kecil sambil melayani pembeli.


Tampang baru bangun tidur,hehehe 

Sambil melayani pembeli, saya menanyakan asal dari masnya. Penasaran sih biar kita tenang makan Lumpianya, hehehe. Masnya dari Jawa (katanya), cuma gak nyebut Jawa mana. "Yowes, sing penting mas e jowo tulen

Satu porsi Lumpia seharga 5 ribu dollar. Eh salah, 5 ribu rupiah maksud saya, masnya bisa becanda juga ternyata hehehe. Selain Lumpia, ada juga tahu jawa, bakwan dan ada beberapa gorengan lainnya. Satu porsi itu sudah dicampur. Bumbu petisnya pun enak banget. Pedes manis dan gurih. Hanya 5 ribu saja, sudah kenyang. Porsinya pun besar banget.  Cocok buat sarapan di Pantai Sanur sambil menikmati lautan yang sangat luas. Indah dan kece, apalagi denganmu itu membuat suasana menjadi milik kita berdua (masuk Pak Eko).

Bagi kalian yang kebetulan ke Pantai Sanur, bisa cobain Lumpia ini. Enak, gurih dan dijamin halal pastinya. #ArisanBloggerLombok

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Friday, 14 September 2018

Nongkrong Asyik di Bali United Cafe, Stadion Kapten I Wayan Dipta


Masih inget cerita saya saat pertama kali datang ke Stadion Kapten I Wayan Dipta untuk nonton bola, antara Bali United melawan Barito Putera dulu ?. Pasti diantara kalian pembaca setia blog, sudah pernah membacanya (berharap dibaca).

Beberapa kali datang ke stadion kebanggaan Bali United ini, saya selalu sendiri (miris amat). Meskipun datang sendirian, saya banyak bertemu teman baru yang datang nonton juga dengan nasib yang sama (nonton sendirian). Sampai sekarang kami masih say hello di medsos.

Baca juga :  Keseruan Nonton Bola di Stadion Kapten I Wayan Dipta

Nah, untuk kali ini, saya datang gak sendirian. Saya ditemani sama si doi, Asyiik. Kebetulan dia ada kegiatan di Bali dan saya datang untuk jenguk. Maklum kangen ditinggal seminggu ke Bali (curhat bang??).

Kebetulan ada jadwal pertandingan Bali United melawan Persela Lamongan di Stadion Kapten I Wayan Dipta. So, kami berdua menyempatkan untuk nonton langsung ke stadion. Si doi sebenarnya gak suka nonton bola katanya ramai dan berdesakan. Tapi saya mencoba untuk merayu dan akhirnya dia mau juga. Alasannya, penasaran juga gimana sih nonton langsung di stadion.

Pertandingan dijadwalkan Hari Selasa, tanggal 11 September 2018 pukul 16.30 WITA yang lalu. Kebetulan hari libur, jadi bisa nonton langsung."Pertandingannya sore nih, sebelumnya kita kemana yank ?". Saya mengajak si doi jalan-jalan ke Bedugul. Nyari tempat yang adem-adem dulu. Cerita Bedugulnya di postingan selanjutnya yaak!!.





Kembali ke Laptop !

Habis explore alam Bedugul, kami berdua menuju ke stadion yang berada di Gianyar. Kurang lebih satu jam perjalanan dari Bedugul. Perjalanan cukup lancar dan gak terlalu ramai. Melewati jalan-jalan tikus biar cepat sampai, gak lama kemudian kami sudah sampai di pintu gerbang stadion. Ada yang berbeda dari stadion ini. Sekarang ada halaman parkir kendaraan baik roda dua dan empat yang sudah diaspal. Rapi banget dan gak berdebu.

Kerennya lagi, sekarang di Stadion Kapten I Wayan Dipta sudah dibuka sebuah cafe dan arena permainan anak-anak, mirip seperti Time Zone dan kawan-kawannya. Sudah seperti mini mall saja ini stadion. Fasilitas lengkap banget. Cuma satu yang belum saya temukan disini yaitu musholla untuk kita-kita yang muslim yang akan beribadah.

Berhubung tema tulisan ini nongkrong di cafe ala-ala Kids Jaman Now, saya akan ngebahas tentang sebuah cafe kece yang memanjakan para penonton dan fans Bali United pastinya. Sebut saja namanya, Bali United Cafe. Kapan dibukanya saya lupa, tapi yang jelas cafe ini baru saja dilaunching alias masih baru. Bau catnya saja masih tercium. Setelah si new blue (motor Nmax)  sudah aman nongkrong di parkiran. Kami berdua, langsung masuk ke dalam cafe kece ini. Letaknya menyatu dengan bangunan stadion. Lebih tepatnya berada di sisi sebelah barat stadion, disamping pintu masuk VIP selatan.

Membuka pintu masuk, kami sudah dimanjakan oleh desain ruangan yang kekinian. Minimalis dan sporty banget. Desain ruangan serba merah dan hitam, sesuai dengan warna dari jersey Bali United. Di bagian depan cafe, kita bisa memilih beberapa baju kaos serba Bali United. Habis memilih, jangan lupa dibayar yaak. Hehehe. Ada juga spot-spot foto yang instagrammable banget dah di depan pintu masuk.

Di dalam cafe ini juga terdapat beberapa permainan anak-anak. Jadi yang membawa anak kecil, jangan khawatir. Biar betah, ada beberapa permainan yang tersedia di bagian belakang cafe ini. Untuk kursi balita juga tersedia disini, so..gak bingung nyari tempat duduk untuk si kecil.






Suasana di dalam cafe sudah ramai oleh pengunjung yang memakai jersey kebanggaan Bali United. Kami  pun berdua mencari tempat duduk yang asyik buat nongkrong berdua. Disini tempat duduknya sangat beragam. Ada ruang smooking dan no smooking. Kerennya, kedua ruang tersebut memakai pendingin ruangan semua. Jadi bagi kita yang gak ahli hisap, masih bisa nyaman duduk sambil makan di ruang smooking tanpa terganggu dengan pengunjung lain yang ahli hisap.

Nah, uniknya lagi di Bali United Cafe ada sebuah tempat duduk yang sudah disiapkan bagi para pengunjung yang akan menonton pertandingan langsung. Sebuah meja panjang dengan desain miniatur lapangan sepakbola lengkap dengan kursi-kursi yang sudah ada nomornya. Ada juga tempat duduk seperti undakan yang terbuat dari kayu. Bagi pengunjung yang mau menonton dari dalam cafe, bisa membeli tiket yang sudah tersedia di Bali United Cafe. Kecenya, kita bisa menonton pertandingan lewat dinding kaca tebal. Gak perlu khawatir panas-panasan. Kita juga bisa menonton secara puas dari sini.

Awalnya saya gak tau kalau meja ini dikhususkan bagi pengunjung cafe yang akan menonton langsung dari dalam cafe. Kami berdua dengan santainya duduk manis menunggu pesanan. Kebetulan juga pertandingannya masih dua jam lagi. So, masih aman lah kencan sambil makan siang di meja khusus ini. 







Selain itu ada meja-meja kecil dengan empat kursi dimana di belakang kursi tertulis nama-nama pemain Bali United musim ini. Bagi yang pengen suasana tenang, bisa memilih tempat duduk di ruang no smooking. Meja dan kursi sofa empuk yang menggoda untuk berlama-lama duduk disini.

Bagi yang gak membeli tiket nonton di dalam cafe,masih bisa nonton gak tanpa membeli tiket ?. Jawabannya sangat bisa. Di dalam cafe sudah dipasangan LCD berukuran besar untuk kita yang gak membeli tiket pertandingan. Cukup makan minum sepuasnya, kita bisa nonton dari layar kaca.




Dua jam sebelum pertandingan, kami makan siang disini. Seorang pelayan cafe menghampiri kami dan menyodorkan selembar daftar menu. Liat-liat daftar menunya, disini makanan dan minumannya ala-ala cafe gitu. Ada main course serba Indomie, nasi goreng, rendang dan nasi ayam. Untuk lebih jelasnya, bisa diliat di daftar menu di atas.

Berhubung belum makan nasi dari pagi,  saya memesan Nasi Ayam Sambel Geprek. Sedangkan si doi pengen makan Nasi Ayam Sambal Matah. Sebenarnya sih pesen Nasi Goreng Tendangan Maut, tapi lagi kosong. Sabar dulu deh.

Untuk Nasi Ayam Sambel Gepreknya,  disini memakai ayam potong. Kebetulan yang dihidangkan bagian paha dengan ukuran besar. Ini ayam makan apa yaak ?, kok besar banget pahanya kalah-kalah pahanya Si Zohri pelari 100 meter,hehehe. Yang paling saya suka dari masakan ini yaitu sambel gepreknya. Campuran bumbu khas Bali banget, enak. Si doi juga suka sama sambelnya. Kalau dinilai dari satu sampai sepuluh, saya beri nilai sembilan. 

Beralih ke Nasi Ayam Sambel Matah, pesanan si doi. Ini masakan masing asing di telinga saya. Sambel matah itu kayak gimana yaak ?.  Ternyata pas datang, ternyata Sambel Matah itu sambel dengan campuran potongan bawang merah, telur orak arik dan bumbu lainnya. Apalagi dilengkapi dengan potongan ayam dan telur mata sapi. Si doi seneng sama masakan ini. Enak enak. Kalau diberi nilai satu sampai sepuluh, saya beri nilai delapan, sedangkan si doi beri nilai sembilan. Gak apa-apa, namanya pendapat kan?, hehehe. Untuk halalnya sendiri, dijamin halal secara cafe ini sudah bawa nama klub besar di Liga Indonesia.




Untuk minumannya, saya memesan Strauberry Milkshake dan si doi memesan Chocolate Milkshake. Panas-panas gene enaknya minum yang dingin-dingin memang. Kalau dikasi nilai satu sampai sepuluh, saya kasi nilai sembilan untuk minumannya. Seger banget, apalagi Chocolate Milkshakenya ada campuran almondnya. Jadi berasa gurih dan pengen minum dan minum lagi. Untuk hidangan penutupnya, saya memesan Pisang Bakar Cokelat Keju. Ini makanan yang sangat saya suka, serba pisang. Rasanya gurih dan gak buat enek. Untuk penilaian, saya beri nilai sepuluh kalau pisang mah,hehehe.

Soal harga menu disini sangat terjangkau sekali. Cafe ini memang sudah disiapkan untuk anak-anak muda yang nongkrong, nonton bareng Bali United dan seru-seruan. Semua kalangan bisa datang kesini, gak ada dibeda-bedakan pastinya.

Pelayanan di Bali United Cafe secara keseluruhan sangat memuaskan. Pesanan cepat, tepat sesuai dengan pesanan. Makanan dan minumannya yang kami pesan enak semua. Pengen rasanya cepat balik untuk mencoba menu-menu lainnya yang ada disini.

Habis makan siang, nongkrong bentar sambil ngobrol ngebahas tentang pertandingan nanti. Si doi penasaran sama atmosfer pertandingan nanti. Pertandingan satu jam lagi dimulai, kami berdua meninggalkan Bali United Cafe untuk membeli tiket di loket. Kenapa gak nonton di dalam cafe saja?, kan enak nonton sambil ngadem. Kami sudah berencana nonton di dalam stadion saja biar terasa seru dan hebohnya. Apalagi saya memang ingin memperkenalkan pertandingan sepakbola yang kece itu ke doi, hehehe. 



Kami memilih nonton di tribun timur (Gate 8). Harap-harap cemas penuh doa, semoga saja Bali United menang dalam lanjutan Liga 1 Gojek musim ini. Setelah tiket sudah di tangan, kami berdua memasuki dalam stadion. Pemeriksaan cukup ketat saat itu. Minuman botolan yang kami beli,dipindahkan isinya ke dalam plastik. Yang tadinya bayangin nonton bola sambil minum pakai botol, eh malah minum air dari plastik. Jadi inget jaman SD dulu (minum limun seratus perak), hahaha. 

Perasaan sedikit cemas liat si doi baru pertama kalinya nonton bola langsung ke stadion.  Tapi semua kecemasan itu hilang karena kami berdua menikmati pertandingan sampai selesai. Bali United menang 3-2 atas Persela Lamongan. Si doi pun ngajakin nonton lagi di lain waktu. Jadi ketagihan nih, Kece !.

Sedikit cerita yang dibumbuin curhatan saya tentang keseruan nonton bola sambil nongkrong di Bali United Cafe. Gimana, kalian penasaran?  Yuuk langsung saja datang ke Bali United Cafe. Buka setiap hari dari jam 11 pagi sampai 11 malam (tutup di hari-hari besar).


Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Saturday, 8 September 2018

Berkunjung ke Desa Dara Kunci, Sambelia : Trauma Healing


"Crew Patrick mengguncang Sambelia", kalimat yang menarik untuk saya tulis di postingan ini. Bukan mengguncang seperti Si Gempa 7 SR dan kawan-kawannya yang membuat semua orang takut dan berduka ,tapi guncangan kali ini membuat kita semua happy dan lupa sama kesedihan yang dirasakan.

Sebelum melanjutkan cerita ini, kalian sudah tau kan Crew Patrick itu siapa ?. Bukan LSM atau komunitas besar yang sudah memiliki nama keren lhoo yaa. Crew Patrick merupakan kumpulan bocah-bocah yang hobinya suka jalan, makan dan nongkrong sambil ngopi di kedai-kedai kopi. Nah, saya termasuk di dalam bagian crew ini. Asal muasal terbentuknya crew ini panjang ceritanya.

Ketemunya pas jalan-jalan dulu, kenalan dan buat agenda trip tiap minggu dan sampe sekarang silaturahmi tetap berjalan. Berhubung kita dari lintas profesi yang berbeda-beda (hampir semuanya tenaga kesehatan), jadi kesibukan kerja yang membuat kita sulit ngumpul bareng. Itu dia profil dari crew ini. So, bagi kalian yang sudah mengikuti blog ini dari tiga tahun yang lalu, pasti gak asing denger nama Crew Patrick,hehehe.

Kembali lagi soal mengguncang Sambelia. So, gimana keseruan Crew Patrick mengguncang Sambelia.  Yuuk dibaca terus tulisan saya sampai selesai !.



Tanggal 2 September 2018

Berangkat di Hari Minggu pagi, gak membuat semangat kami kendor. Gak tanggung-tanggung kami berangkat jam enam pagi. Bisa dibilang jalannya sesudah melaksanakan Shalat Subuh. Berhubung perjalanan kami kali ini lebih jauh dari sebelumnya, segala kebutuhan sudah siap. Dari Logistik dari teman-teman donatur, kendaraan yang dipakai dan personelnya juga sudah siap semua.

Perjalanan kali ini ditempuh tiga sampai empat jam dari Kota Mataram menuju sebuah desa yang berada di Kecamatan Sambelia, Lombok Timur. Desa ini bernama Desa Dara Kunci. Terletak di sebelah barat dari pusat kota kecamatan. Cuaca pagi itu cukup cerah. Kami berangkat menggunakan mobil, ada dua mobil lebih jelasnya. Perjalanan cukup lancar dan gak macet seperti perjalanan kami sebelumnya ke Lombok Utara beberapa hari yang lalu. 

Sambelia merupakan sebuah daerah kecamatan yang berada di ujung timur Pulau Lombok. Daerah ini sempat menjadi pusat gempa beberapa minggu yang lalu dengan berkekuatan 6,9 SR. Hampir seluruh daerah di Pulau Lombok merasakan guncangan hebat yang terjadi sekitar jam sebelas malam (jam tidur warga). Ini adalah gempa terbesar dan terlama terakhir yang kami rasakan di Pulau Lombok sampai saya menuli cerita ini. 




Seperti biasa, kami menuju Desa Dara Kunci, Sambelia untuk berbagi kebahagiaan bersama para korban Gempa Lombok disana. Gak banyak bantuan yang kami bawa. Hanya membawa bingkisan untuk para korban yang kami rasa sangat berarti buat mereka. Seperti pakaian layak pakai, pakaian anak bayi, buku tulis, perlengkapan mandi, makanan ringan dan terpenting kami membawa keceriaan dan semangat. 

Semangat hidup yang saya rasa harus kami berikan untuk mereka. Setelah sampai di lokasi, kami disambut dengan penuh suka cita. Melihat keceriaan anak-anak kecil yang lucu, para ibu-ibu yang tersenyum memandang kami dengan penuh harap, dan bapak-bapak yang gak mau kalah menyambut kami dengan sibuk membantu menurunkan beberapa logistik yang kami bawa.

Kami sudah berada di tengah-tengah pengungsian warga Desa Dara Kunci. Cuaca pagi menjelang siang sangat cerah, sinar matahari sudah menyengat di kulit. Tapi gak berlaku di posko pengungsian kami saat itu. Pepohonan di tengah pengungsian, membuat kami semua terlindungi dari teriknya sinar matahari. Beberapa remaja sibuk mempersiapkan tempat untuk kegiatan hari itu. Setelah tempat sudah disiapkan, kami mempersilahkan warga untuk mengambil tempat untuk ikut seneng dan ceria bareng dengan kami. 

Trauma Healing, lagi-lagi kami melakukan Trauma Healing. Dari informasinya, ini adalah trauma healing pertama kalinya yang diadakan di pengungsian mereka. Beruntung sekali buat kami bisa menghibur mereka sebentar. Di tulisan sebelumnya, saya sudah menjelaskan apa itu trauma healing dan beberapa contoh cara kita memberikan trauma healing tersebut. Intinya trauma healing dalam bahasa sederhananya yaitu membuat orang yang lagi sedih, bisa kembali senang, tersenyum dan semangat hidup lagi. Apapun caranya, terpenting melakukannya dengan cara-cara positif. 





Trauma Healing yang pertama yaitu senam sehat, kemudian dilanjutkan dengan joget yang lagi heboh saat ini yaitu Joget Kewer-Kewer. Antusias warga sangat senang sama joget ini. Saya pun sangat senang dengan goyangannya karena musik dan gerakan demi gerakan bisa buat kita tertawa dan lupa dengan masalah yang ada. Cocok buat kesehatan jantung. Bagi yang punya riwayat asam urat, harus hati-hati karena joget ini sangat cepat gerakannya. 

Dari anak-anak, sampai orang tua gak mau kalah unjuk gigi dalam berjoget. Ada salah satu warga yang bernama Papuq Suriah (Nenek Suriah) yang ikut berjoget juga. Beliau sangat semangat sekali dalam berjoget. Keringat yang terlihat mengalir dari kulit beliau, membuat saya agak sedikit was-was. Semoga saja si nenek gak kenapa-kenapa. Maklum saja, umur beliau kurang lebih sudah menginjak kepala delapan. Sehat-sehat terus nek, doa kami buat nenek dan semuanya. Joget Kewer-Kewer mampu mengguncang Desa Dara Kunci dengan heboh dan kece, hehehe. 




Setelah dibuka dengan senam dan berjoget happy, trauma healing selanjutnya yaitu merenung sejenak. Dalam bahasa sederhananya seperti intropeksi diri. Si Eza dan Si Odi yang bertugas saat itu, mengajak kami semua untuk memejamkan mata dengan telapak tangan di taruh di atas dahi. Membayangkan semua hal yang sudah terjadi sebelumnya. Dari hal yang menyedihkan sampai hal-hal yang menyenangkan. 

Menanyakan di dalam hati, kesalahan apa saja yang pernah kita lakukan. Berdamai dengan hati dan membuang jauh-jauh kesedihan yang ada. Apabila sudah berdamai dengan hati kita sendiri, segala macam kesedihan dapat terobati dengan sendirinya. Percayalah musibah yang menimpa kita semua, pasti ada hikmah di balik semuanya. Gak ada yang sia-sia di dunia ini. Rencana Allah SWT paling indah daripada rencana manusia itu sendiri. 

Dengan diiringi alunan musik yang dapat menyentuh hati, gak sedikit ibu-ibu meneteskan air mata. Saya pun sempat dibuat terharu. Gempa yang mengguncang Pulau Lombok lebih dari seribu kali ini, membuat kita sadar begitu berharganya hidup ini. Menghargai alam dan berdamai dengan hati adalah solusi terbaik untuk kita menjadi tenang dan semangat hidup lagi. 

Setelah kegiatan trauma healing selesai, acara terakhir yaitu membagikan bingkisan untuk anak-anak dan para orang tua. Ada perlengkapan mandi, snack dan perlengkapan sekolah buat anak-anak. Mereka gak boleh berlama-lama di tenda pengungsian. Mereka harus bersekolah dan belajar. Untuk ibu-ibu yang memiliki anak bayi atau balita, kami sudah membawa pakaian bayi. Dan untuk seluruh warga, ada pakaian layak pakai dan logistik lainnya yang semoga semuanya bermanfaat. Amiin. 





Hari sudah semakin siang, kami pun pamit untuk kembali ke Kota Mataram. Alhamdulillah, kegiatan berjalan dengan lancar. Gak sedikit para warga yang menyuruh kami berlama-lama di pengungsian mereka. Mereka semua sangat haus dengan hiburan. Kalau gak kita, siapa lagi yang akan menghibur mereka. 

Anak-anak kecil dan para orang tua, melambaikan tangan sambil berteriak "Terimakasih" ketika mobil kami mulai bergerak meninggalkan posko pengungsian. Ada perasaan senang melihat mereka tersenyum kembali. Semoga semangat hidup mereka gak pernah padam. Doa saya buat mereka, semoga selalu sehat dan bahagia. Amiin. 

Di sepanjang perjalanan pulang ke rumah, kami melihat ada pemandangan yang sangat kece. Kecenya itu ada rombongan kerbau yang lagi makan rumput yang mengering. Padang rumput dan perbukitan menguning. Gak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Kedua mobil pun berhenti di pinggir jalan. Kami keluar semua dari mobil untuk berfoto-foto. 

Indah banget padang rumputnya. Mirip seperti di Baluran, Banyuwangi sana. Apalagi ditambah dengan rombongan kerbau yang fotoan bareng kami, membuat hari itu sangat kece. Habis mentraumahealingkan para korban, kami pun trauma healing buat kami sendiri. Keindahan Pulau Lombok gak akan pernah berkurang meskipun gempa yang mengguncang pulau ini bertubi-tubi selama lebih dari sebulan.

Cepat sembuh Lombok, biar kita bisa mengexplore alammu yang kece ini lagi. #LombokBangkit

Penulis : Lazwardy Perdana Putra