Saturday, 14 July 2018

Fokus ke modelnya yaak !!! 

Beberapa minggu lalu saya sudah menulis tentang perjalanan saya bareng si doi ke destinasi-destinasi kece yang ada di Sumbawa Barat. Saya ingin melanjutkan cerita kami berdua, masih tentang mengexplore alam Sumbawa Barat. Cerita kali ini agak berbeda dengan dua cerita saya sebelumnya, mengexplore Pantai Maluk dan Pantai Poto Batu

Ceritanya ada disini : Pantai Maluk & Pantai Poto Batu

Sebelum melanjutkan cerita. Bagi kalian yang baru pertama kali berkunjung ke blog pribadi saya ini, gak ada salahnya untuk follow on my blog yaa ! Terimakasi

Kembali ke Laptop !!!

Bagi kalian yang sudah membaca cerita sebelumnya, pasti sudah bisa menebak kemana kami berdua tuju dong ?. Setelah dari Pantai Poto Batu, kami berdua menuju Kota Taliwang untuk bertemu teman baru saya alias sahabatnya si doi, asli orang Taliwang. Sebut saja namanya " Si Yudik".




Kami bertemu dengan Si Yudik di Masjid Agung Darussalam. Masjid megah dan tekece di Sumbawa Barat. Masjid Agung Darussalam terletak di pinggiran Kota Taliwang. Bagi yang belum pernah ke Kota Taliwang, jangan khawatir. Bila ingin ke masjid ini, kalian tinggal buka google maps dan masalah bingung di jalanpun teratasi.

Bertepatan dengan masuknya waktu Shalat Ashar, kami tiba di halaman parkir masjid. Kami melaksanakan shalat ashar sebelum mengexplore masjid ini. Masjid megah kebanggaan orang Taliwang, berada di kawasan komplek kantor pemerintahan Kabupaten Sumbawa Barat yang diberi nama komplek Komutar Telu Center (KTC).

Masjid Agung Darussalam selesai dibangun pada bulan Juni 2010 dimasa pemerintahan Bupati KH.Zulkifli Muhadli dengan menghabiskan dana sekitar 30 miliyaran rupiah. Luas bangunan masjid sendiri 15.500 m2, sedangkan luas secara keseluruhan 48.500 m2, dengan daya tampung mencapai 8000 jamaah. Besar juga nih masjid. Pantesan saja disebut-sebut salah satu masjid termegah di Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Secara keseluruhan bangunan masjid ini mirip dengan masjid-masjid lainnya. Hanya saja masjid ini dikelilingi oleh kolam yang ukurannya dua kali lebih luas dari bangunan masjid. Memiliki empat lantai dimana ada paling dasar berupa basemant, lantai satu (lantai utama ) dan dua lantai untuk jamaah perempuan. Di bagian dalam dinding kubah tertulis sifat-sifat Allah SWT dalam bentuk kaligrafi yang cukup indah dipandang. Memiliki warna dasar hijau tua dan putih membuat siapapun yang berada di dalam masjid, baik shalat atau pun i'tikaf, merasa tenang dan damai. 

Bagian yang paling saya suka dari masjid ini yaitu Masjid Agung Darussalam  memiliki taman yang hijau dan di jauh mata memandang, kita bisa melihat hamparan perbukitan alam Sumbawa Barat. Beruntungnya saat kami kesana, bukit-bukit di sekitar Kota Taliwang masih hijau. 

Sore itu gak terlalu banyak para jamaah yang shalat berjamaah di masjid. Mungkin letaknya yang lumayan jauh dari pusat keramaian kota atau masih tidur di rumah masing-masing. Maklum, suasana Bulan Puasa dan cuaca agak panas. So, malas keluar rumah, tapi ibadah jangan dibawa malas yaa !! Hehehe

Berada di dalam Masjid Agung Darussalam, membuat hati saya tenang dan bahagia. Kenapa gak ?. Serasa perjalanan trip kami berdua gak sia-sia. Dapat mengexplore pantai-pantai kece dan Alhamdulillah, ibadah gak terlewatkan. Dapat shalat di Masjid Agung Darussalam, melengkapi perjalanan trip saya kali ini. Apalagi tripnya bareng si doi, Asyik.

Si Yudik si murah senyum 

Setelah Shalat Ashar dan jepret-jepret bagian terpenting dari Masjid Agung Darussalam meskipun belum puas jepret sih, kami berjumpa dengan Si Yudik.

Kalau boleh jujur, saya gak nyangka Si Yudik ini supel banget. Ramah dan gak (bukan agak) pendiam, hahaha. Ada saja yang diceritakan tentang Kota Taliwang ke kami. Mirip-mirip guide travel gitu. Bahkan saya khawatir kalau dia minta jasa tour guide sih, hehehe..becanda.

Rencana selanjutnya yaitu mencari takjil untuk bekal kami berbuka puasa. Kami bertiga segera meluncur ke sebuah tempat dimana banyak para pedagang takjil yang menjual berbagai macam kue khas Sumbawa Barat. Si Yudik yang memiliki kenalan salah satu pedagang, mengantarkan kami untuk mencari takjil yang dicari. 



Ibu Emi sedang sibuk melayani pembeli

Menyusuri jalan Kota Taliwang di sore itu membuat saya kaget, ternyata Kota Taliwang sangat ramai. Beda seperti dua puluh tahun yang lalu, dimana saat saya datang pertama kali ke Kota Taliwang, kota ini masih sepi dan jauh dari kata Polusi Udara.

Kami bertiga sudah berada di pertigaan Jalan Teuku Umar, Kampung Selayar. Lebih tepatnya berada di depan kantor Keluarahan Dalam, Kota Taliwang. Deretan tenda-tenda pedagang takjil sudah ramai diserbu oleh warga lokal. 

Si Yudik mengantarkan kami menuju ke sebuah tenda takjil milik dari Ibu Emi. Ibu hitam manis dan agak gemuk ini sangat ramah ke kami berdua. Beliau sudah menduga, kami berdua bukan asli orang Taliwang. Nyangkanya sih wartawan yang lagi nyari takjil. Emang saya seperti wartawan ya ?,hehehe...Ada-ada saja si ibu mah. 

Banyak kue khas Sumbawa Barat yang dijual oleh Ibu Emi. Ada namanya Tepung Pria, Goges, Tepung Dange, Plopo dan Es Bardan. Aneh-aneh kan namanya ?. Jelas saja aneh, nama kuenya kan nama-nama khas yang berasal dari bahasa Sumbawa Barat alias Bahasa Samawa. 

Tepung Pria "Idaman Seorang Wanita"
Tepung Pria

Tepung Pria, dari namanya saja aneh. Jenis kue ini paling banyak diburu oleh warga Kota Taliwang. Karena rasanya yang sangat lezat, saat digigit terasa kenyel-kenyel gitu. Kue ini mirip seperti kelepon tapi ukurannya lebih besar dari kelepon yang kita kenal. Terbuat dari tepung beras dan kanji membuat kue ini sangat lezat di mulut. Isi dalam kue Tepung Pria yaitu kelapa bercampur gula merah. Rekommended buat dicoba saat berkunjung ke Kota Taliwang.

Bolu Berai 
Bolu Berai

Kue ini biasa disebut dengan sebutan bolu yang memiliki kadar air. Hanya saja kadar air ini bukan air putih pada umumnya tapi cairan gula. Gula yang digunakan disini yaitu gula putih. Cara membuatnya yaitu sama halnya seperti membuat kue bolu pada umumnya. Hanya saja setelah menjadi bolu, kemudian direndam di air gula dan siap untuk dinikmati. Enaknya dimakan saat berbuka puasa. Dicobain saja deh. 

Tepung Dange "Baroncong Khas Sumbawa Barat"

Tepung Dange

Dange berasal dari salah satu kue khas Pulau Sumbawa. Mirip dengan kue Baroncong dari Sulawesi Selatan. Hanya saja kue Baroncong teksturnya lebih lembut, sedangkan Tepung Dange memiliki tekstur yang agak kasar. Kue ini terbuat dari tepung ketan dengan parutan kelapa yang dikukus lalu dibakar setelah tercetak berbentuk segitiga. Kemudian isiannya diberikan gula merah. Gak kebayang kan makan kue ini rasanya gimana. Kalau penasaran, dicobain saja. Saya saja pengen makan lagi karena gurih dan krenyes-krenyes sih. 

Palopo "Susu Kerbau"

Palopo

Inti dari tulisan ini ada disini sebenarnya. Saya ingin mengenalkan kepada kalian makanan khas sekaligus sangat legendaris di Sumbawa Barat. Bagi kalian yang datang ke Kota Taliwang atau Sumbawa Barat, kalau gak nyoba makanan ini, jangan bilang sudah ke Sumbawa Barat. 

Kenapa makanan saya bilang sangat legendaris, karena di jaman dulu orang asli Sumbawa Barat banyak memiliki ternak kerbau. Selain mengkonsumsi dagingnya, masyarakat setempat memanfaatkan susu kerbau untuk diolah menjadi makanan dengan cara susu kerbau diperah dan diambil airnya. Kemudian diendapkan dalam sebuah ember atau wadah, kemudian diberi garam. Dulu kala, masyarakat Sumbawa Barat mengkonsumsi olahan susu ini untuk lauk dan pelengkap nasi yang dimakan. 

Seiring berjalannya waktu, dengan alasan selera. Olahan susu kerbau ini dimodifikasi bukan lagi hanya sebagai lauk saja tapi kue khas Sumbawa Barat. Olahan susu kerbau ini sudah berhenti diberi garam. Sebagai gantinya dicampur dengan air gula jawa sehingga agak berasa manis. Oleh sebab itu, olahan susu kerbau ini sekarang lebih dikenal dengan sebutan Palopo alias susu kerbau gula jawa. Kalau saya sih belum terbiasa makan olahan susu kerbau ini karena masih belum berteman dengan rasanya yang enek. Bagi penggemar aneka bubur, Palopo perlu kalian coba. 


Es Badar "Es Campur Khas Sumbawa Barat"

Es Badar

Sebagai pelengkap, saya membeli es campur khas Sumbawa Barat. Kata Si Yudik sih namanya Es Badar. Saya masih merasa asing dengan nama esnya. Kalau diperhatikan sih, ini es campur dengan aneka macam campuran buah, kolang kaling, agar-agar dan rumput laut. Apapun nama yang diberikan, yang jelas es campur ini seger banget, pengen nambah dan nambah lagi. Harga seporsi Es Badar sangat murah di kantong yaitu hanya sepuluh ribu saja. Dengan harga segitu, kita sudah dapat seporsi Es Badar dengan ukuran yang sangat besar bagi saya. 

Setelah semua takjil yang kami cari sudah dibeli. Kami bertiga menuju ke rumah Si Yudik yang gak jauh dari tempat membeli takjil tadi. Kami berencana berbuka puasa di rumanya Si Yudik. Dadakan sih, tapi karena kami berdua diundang, yasudah gak apa-apa, hehehe.

Trip yang sangat lengkap bagi saya pribadi. Jauh-jauh nyeberang dari Pulau Lombok. Hanya memiliki waktu sehari bisa dapat pantai-pantai kece ala Sumbawa Barat, Shalat Ashar di Masjid Agung Darussalam dan terakhir berburu takjil khas Sumbawa Barat. Hal yang paling spesial yaitu trip bareng si doi.

Saatnya berbuka puasa, menikmati kuliner khas Sumbawa Barat bersama Yudik sekeluarga membuat saya merasakan memiliki keluarga baru. Ada satu kalimat yang masing saya ingat dari Si Yudik. Kata dia "Pantang pulang sebelum kenyang". Artinya kalau makan belum kenyang, gak boleh pulang. Mantaap !.

Perut sudah kenyang, saatnya balik ke Pulau Lombok. Biar gak kemalaman sampai Kota Mataram, kami berdua pamit.

Sebenarnya sih pengen cerita lebih panjang lagi tentang trip kami berdua ke Sumbawa Barat. Tapi ada beberapa hal yang saya gak ceritakan disini. Biar jadi rahasia kami berdua, Asyiiik. Kesimpulannya kami berdua sangat menikmati perjalanan sehari ke Sumbawa Barat.

Bagi kalian yang ingin tahu catatan trip kami berdua saat itu, saya kasi listnya deh.

Catatan 
Trip Perjalanan :
6AM        : Berangkat dari Kota Mataram ke Pelabuhan Kayangan, Lombok Timur
8AM        : Sampai di Pelabuhan Kayangan
8.30AM   : Berlayar ke Pelabuhan Poto Tano, Sumbawa Barat
11AM      : Sampai di Pelabuhan Poto Tano dan menuju Kota Taliwang
12.30PM : Sampai di Pantai Maluk, Desa Maluk
2PM        : Sampai Pantai Poto Batu, Taliwang
4PM        : Shalat Ashar di Masjid Agung Darussalam, Taliwang
5PM        : Ngabuburit sambil berburu takjil
6PM        : Berbuka bersama
8PM        : Balik menuju Pelabuhan Poto Tano
10PM      : Berlayar menuju Pelabuhan Kayangan
12AM      :Sampai di Pelabuhan Kayangan
1AM        : Sampai di Kota Mataram lagi - Finish

Budget : 
1. Bensin motor : 50ribu
2. Tiket Kapal Ferry : 100ribu (PP)
3. Tiket masuk pantai : gratis
4. Berburu Takjil dan biaya gak terduga : 50 ribu (sesuai selera dan isi dompet)
Total : 200 ribu perjalanan (bisa menyesuaikan)
      
Semoga bermanfaat dan sekian dari saya, Si blogger kece dari Pulau Lombok (kasi julukan sendiri).

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Tuesday, 10 July 2018


Hari Sabtu, tanggal 7 Juli 2018

Hotel Lombok Raya diserbu oleh ribuan mahasiswa kece dari berbagai perguruan tinggi di Pulau Lombok. Gak tanggung-tanggung sekitar tiga ribu mahasiswa memenuhi Convention Hall lantai dua, Hotel Lombok Raya, Kota Mataram.

Kebetulan saya berkesempatan hadir dalam acara akbar ini bersama teman-teman dari Genpi Lombok Sumbawa dan beberapa blogger yang ikut memeriahkan. Ini acara akbar yang baru pertama kali saya ikuti dengan jumlah peserta terbanyak, tiga ribu orang broo...Gilaa gak tuh.

Dialog Nasional “Indonesia Maju” tiba di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Program diskusi besutan Lembaga Pengkajian Pendidikan (LPP) Edukasi Yogyakarta ini telah memasuki seri ke lima belas.

Dialog Nasional Indonesia Maju sendiri sebelum berlangsung di Pulau Lombok, telah dilaksanakan di empat belas lokasi berbeda di berbagai daerah Indonesia. Untuk di tahun 2017 saja sudah terlaksana tujuh seri di berbagai lokasi. Di setiap seri dengan narasumber dari Kementrian yang berbeda-beda.

Yogyakarta, Tegal, Slawi, Lampung, Semarang, Boyolali, dan Medan menjadi daerah yang telah menjadi lokasi kegiatan dialog nasional di tujuh seri di tahun 2018 ini.




Pulau Lombok menjadi tempat di seri kelima belas dari Dialog Nasional “Indonesia Jaya” dan berlangsung di Convention Hall Lombok Raya Hotel, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Menteri Pariwisata dengan ditemani Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi serta Menteri Sosial Republik Indonesia menjadi narasumber dalam acara tersebut.

Tema khusus yang diangkat dalam Dialog Nasional Indonesia Jaya kelima belas adalah Pemberdayaan Pariwisata Daerah dan Membangkitkan Semangat Kewirausahaan Karang Taruna dan Mahasiswa Melalui Koperasi.

Dihadirkannya Menteri Pariwisata selaku narasumber sangatlah tepat dengan keadaan Nusa Tenggara Barat yang saat ini tengah mencuri perhatian dunia melalui perkembangan industri pariwisatanya.

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, World’s Best Halal Tourism Destination, Penobatan Geopark UNESCO pada Gunung Rinjani, merupakan deretan kecil dari banyaknya hal menarik yang mencuri perhatian dua terkait pariwisata di Pulau Lombok.




Dalam kesempatan Dialog Nasional Indonesia Jaya kali ini Menpar " Bapak Arief Yahya" menjelaskan tentang serunya pariwisata Indonesia saat ini, terutama dalam hal program Destinasi Digital.

Apalagi sehari sebelum Dialog Nasional berlangsung, Menpar "Bapak Arief Yahya" telah berkunjung ke salah satu destinasi digital yang ada di Pulau Lombok yaitu Pasar Pancingan. Sehingga sudah dapat dipastikan bahwa keseruan-keseruan yang beliau alami selama melakukan kunjungan, menjadi cerita menarik yang beliau presentasikan selama dialog nasional ini.

Selain Bapak Menpar yang datang ke Pasar Pancingan, ada bintang tamu gak kalah kece juga yang turut hadir. Gak nangung-nanggung, Gracia Indri untuk kedua kalinya datang ke Pasar Pancingan. Pertama kali dia datang saat Pasar Pancingan mulai buka untuk pertama kalinya, tapi sayang saat itu saya berhalangan hadir.

Untuk kali ini saya gak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu langsung dengan artis yang sering memerankan peran antagonis di setiap sinetron yang pernah dia bintangi. Akhirnya saya bisa fotoan bareng eneng geulis Gracia Indri. Ternyata aslinya geulis pisan (nasib anak pulau yang jarang ketemu artis ibukota),hehehe.




Dalam kunjungan Bapak Menpar ke Pasar Pancingan, ada hal yang menarik untuk kita saksikan. Salah satunya adalah terkait pertemuan Menpar "Bapak Arief Yahya" dengan salah satu Pelaku UMKM di Desa Bilebante yang beliau kenal karena prestasi dan keahliannya yang telah dikenal di jajaran Kementerian yang bernama Ibu Zaenab. Ibu berjilbab berkacamata dan berbadan gemuk ini berhasil menyita perhatian para pengunjung yang datang ke Pasar Pancingan.

Setelah mendengarkan testimoni dari Ibu Zaenab serta melakukan foto bersama, Menpar Arief Yahya pun berjanji akan menjadikan kisah sukses Ibu Zaenab sebagai bagian dari cerita dalam presentasi beliau di keesokan harinya saat Dialog Nasional ke lima belas berlangsung. 

Setelah Bapak Menteri Pariwisata "Arief Yahya" memberikan sambutan yang sangat membanggakan buat kemajuan pariwisata Provinsi NTB saat ini, ada dua Menteri yang memberikan sambutan yang gak kalah serunya yaitu Menteri Sosial "Bapak Idrus Marham" dan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi "Bapak Eko Putro Sandjojo".



Dengan dipandu oleh moderator kocak dan kece "Bapak Gazali Effendi", acara dialog nasional berjalan dengan lancar dan seru. Serunya gak hanya menyimak apa saja yang bapak-bapak menteri sampaikan kepada seluruh peserta yang hadir, tapi ada puluhan hadiah yang dibagikan dengan syarat harus bisa menjawab pertanyaan seputaran hal-hal yang disampaikan oleh beliau-beliau yang hebat di depan.

Kurang lebih empat jam acara berlangsung, gak terasa kegiatan hari itu ditutup dengan sesi foto-foto. Beruntungnya saya bisa fotoan bareng dengan Bapak Menpar "Arief Yahya". Bapak yang murah senyum dan ramah ini telah membuktikan bahwa dunia pariwisata Indonesia mampu bersaing dan dapat mengalahkan dunia pariwisata negara lain. Sukses selalu pak. Amiiin

Bila kalian ingin melihat keindahan dan keunikan di Indonesia, kunjungi juga : GenPi.co 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Thursday, 5 July 2018

Ada Batu Bolong di Pantai Poto Batu, Sumbawa Barat


Menulis kisah perjalanan saya ke Sumbawa Barat belum berakhir di Pantai Maluk saja. Pantai Maluk yang terletak kurang lebih tiga puluh empat kilometer dari Kota Taliwang, Sumbawa Barat, menambah daftar deretan pantai terkece yang pernah saya datangi di Pulau Sumbawa.

Bisa dibaca disini juga : Pantai Maluk

Sumbawa Barat saya akui banyak menyimpan keindahan alam yang belum semua travelers tau. Beberapa diantaranya sudah saya tulis di blog ini. Salah satunya Pantai Maluk yang baru-baru ini saya posting dan cukup banyak para pembaca yang berkomentar baik di blog maupun di email.

Selain Pantai Maluk yang kece dengan pasir putih lembut dan air lautnya yang hijau toska, ada satu destinasi lagi yang gak kalah kece dengan Pantai Maluk. Sebut saja, Poto Batu.

Poto Batu terletak diantara Kota Taliwang dan Desa Labuan Lalar. Lebih tepatnya Poto Batu terletak di pinggir jalan raya, jalur Kota Taliwang menuju Jereweh dan Pantai Maluk. Hanya lima menit dari Kota Taliwang, kita sudah sampai di destinasi ini.

Bisa dibaca disini juga : Desa Labuan Lalar




Setelah memarkirkan sepeda motor di depan sebuah tulisan besar "Poto Batu", kami berdua berjalan kaki menuju pantai. Gak ada tiket masuk ke pantai ini, bahkan parkir pun gak dipungut biaya, asyik kan ?. Disaat kami sudah berada di pinggiran pantai, saya melihat para pedagang sedang mendirikan tendanya untuk berjualan menjelang berbuka puasa sampai malam hari. Pemandangan yang asyik menurut saya bila datang ke sebuah pantai yang jauh dari rumah. 

Poto Batu merupakan sebuah pantai yang cukup unik. Ada sebuah batu besar yang ditengah-tengahnya ada lubang berdiameter tiga hingga empat meter yang menyerupai terowongan yang menembus hingga ke bibir pantai yang dipenuhi oleh batu-batu karang.







Oleh warga setempat dinamakan Pantai Poto Batu karena ada sebuah batu besar di salah satu sisi pantai. Poto Batu memiliki arti "Batu di ujung" maksudnya di ujung pantai ini terdapat sebuah batu besar yang menyerupai goa karena memiliki lubang di tengahnya. Lubang ini seperti terowongan yang menembus sisi bagian batu yang menghadap ke laut. Saya pun penasaran dengan batu berlubang ini. Saya bersama si doi mencoba untuk memasuki lubang yang lumayan besar untuk menuju bagian batu-batu karang.

Disamping keunikan dari batu ini, ada sisi lain yang cukup membuat saya sedih. Di salah satu bagian dinding batu ada coretan yang gak perlu, bahkan merusak keindahan dari pantai ini. Ayook, buat para pengunjung, jaga kebersihan dan keindahan pantai kita yaa !. Jangan melakukan vandalisme alias coret-coret di sembarang tempat !. Semoga saja sesudah tulisan ini saya posting, coretan di batu itu sudah dibersihkan oleh pengelola setempat.




Next... Keunikan lainnya dari pantai ini yaitu pasirnya yang berwarna kecokelatan seperti tanah. Setelah diperhatikan, Poto Batu merupakan muara yang mempertemukan aliran sungai-sungai yang mengalir dari Kota Taliwang. So.. Mungkin ini yang membuat warna pasir dari pantai ini berwarna cokelat karena bercampur dengan tanah. Lagi-lagi si doi suka sekali dengan pasir Poto Batu. Bawa pasirnya jangan kebanyakan ya yank, nanti motor kakak bisa-bisa mirip seperti truk pasir, hehehe.

Cuaca di Pantai Poto Batu cukup cerah. Angin sore yang cukup kencang dan deburan ombak yang lumayan besar membuat pakaian yang saya kenakan setengah basah oleh ombak yang menabrak batu karang. Pemandangan dari pantai ini bisa dibilang kece. Kita bisa melihat para nelayan yang akan berangkat memancing dengan perahu layar yang sangat sederhana.




Perahu-perahu layar jaman sekarang sudah dilengkapi dengan mesin tempel. Beda seperti jaman saya masih kecil yang hanya mengandalkan arah angin darat untuk menuju ke tengah lautan. Melihat Gili Puyung dari kejauhan, deretan perbukitan yang hijau dan paling penting, sinyal hp cukup kencang disini.

Saya suka dengan pantai ini karena ini merupakan kampung halaman papa. Sejak kecil saya memang suka pantai. Suka suasananya, suka mencari ketenangan di pantai sambil bermain air dan pasir.

Kami berdua tiba di pantai ini sore hari sehabis mengexplore Pantai Maluk. Karena suasana bulan puasa, banyak para pengunjung yang datang kesini untuk ngabuburit menunggu waktu berbuka puasa dan menikmati sunset. Para pedagang kaki lima juga sudah bersiap-siap menjajakan dagangannya. Tenda-tenda pun sudah dipasang di pinggir pantai. Suasana yang membuat saya kembali ke kisah masa kecil dulu. 

Meskipun warna air pantainya gak seperti hijau toskanya air laut di Pantai Maluk, Pantai Poto Batu memiliki panorama alam yang cocok untuk menanti sunset. Sunset disini katanya indah lhoo. Tapi sayang kami berdua gak sampai menikmati sunset di pantai ini karena agenda selanjutnya mencari kuliner khas Sumbawa Barat sekalian nyari menu buka puasa. hehehe.



Karena letaknya sangat dekat dengan Kota Taliwang, setiap sore baik di weekday maupun weekend Pantai Poto Batu sangat ramai dikunjungi oleh warga setempat. Buat para travelers atau fotografer yang lagi bingung nyari spot untuk hunting-hunting foto, ayook buruan ke Pantai Poto Batu !. Pantai yang unik dengan memiliki batu besar yang berlubang dengan pasir cokelat dan ombak yang sangat mempesona.

Menurut informasi dari salah satu warga yang sempat saya ajak ngobrol-ngobrol. Di Pantai Poto Batu bisa dijadikan tempat mendirikan tenda lhoo. Kalian yang hobi ngecamp bareng sahabat atau komunitas, bisa memilih pantai ini menjadi tempat rekommended terkece buat kalian menginap dan menikmati sunset.

Sambil menikmati keindahan sunset, kita juga bisa menikmati air kelapa muda yang bisa diambil dari pohonnya langsung. Gratis..tis..tis..tis, tapi syaratnya harus manjat sendiri yaak,hehehe. 

Sebelum meninggalkan Pantai Poto Batu, si doi menghubungi salah satu sahabatnya yang tinggal di Kota Taliwang. Namanya Si Yudik, anaknya rame dan ramah. Si Yudik siap jadi tour guide kami mencari jajanan khas dari Sumbawa Barat.

Oke.. Kami berdua segera balik menuju Kota Taliwang untuk bertemu dengan Si Yudik yang sudah menunggu kami di Masjid Agung Darussalam, Kota Taliwang. Gimana keseruannya kami berburu takjil khas Sumbawa Barat, ditunggu ya cerita saya selanjutnya. Comming Soon !!!

***
Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Saturday, 30 June 2018

Soft Opening The Gade Coffee & Gold Lombok


Buat kalian yang hobi minum kopi apalagi suka nongkrong-nongkrong ngopi (nongki) di coffee shop, saya punya rekommended baru nih. Tempat yang kece dan buat betah duduk berlama-lama sambil menikmati minuman kopi favorit

Coffee shop sudah mejamur dimana-mana, bahkan di setiap sudut jalan banyak kita jumpai berbagai macam coffee shop dengan desain interior yang menarik. 

Saya termasuk orang yang suka menghabiskan waktu di coffee shop. Menulis dan ngobrol-ngobrol santai bareng rekan kerja dan gebetan. Selain suasana yang sangat nyaman dan menyenangkan, di coffee shop juga banyak pilihan menu yang sesuai dengan lidah. Gak hanya menyediakan aneka macam kopi, di coffee shop juga terdapat aneka minuman selain kopi yang menggoda untuk dicoba. 

Buat kalian yang tinggal di Kota Tua Ampenan, Lombok, kini sudah hadir tempat ngopi yang kece dengan nuansa yang berbeda dari tempat ngopi lainnya. The Gade Coffee & Gold, nama yang unik bagi saya. Terletak di samping Kantor Pegadaian Ampenan, Jalan Koperasi No.1, Ampenan, Kota Mataram. 


Hari Jumat malam, tanggal 29 Juni 2018, The Gade Coffee & Gold Lombok baru saja soft opening. Para direksi dan undangan lainnya sudah ramai yang datang menunggu acara dimulai. Saya yang termasuk undangan pun segera berbaur dengan tamu undangan lainnya, diantaranya para karyawan Pegadaian dari berbagai kantor cabang di Pulau Lombok dan saya sendiri dari blogger. Ada live music, nyicip kopi gratis dan nonton bareng Piala Dunia Russia 2018 yang diadakan di acara soft opening.

Pasti kalian bertanya, "Kok yang diundang para karyawan Pegadaian yaak?". The Gade Coffee & Gold merupakan coffee shop milik dari PT.Pegadaian (Persero). Kurang lebih sudah empat cabang yang dibuka, antara lain Jakarta,Yogya, Bali dan yang terkini yaitu di Kota Tua Ampenan, Lombok. 

Dari namanya saja sudah unik, The Gade Coffee & Gold. Alasannya yaitu meminum kopi sambil menabung emas (gold) karena PT.Pegadaian (Persero) identik dengan emas. Habis menabung emas, kita ngopi-ngopi kece dulu biar tabungan emas kita banyak. Tabungan buat ngelamar dia, Asyiikk. 







Desain Interior 

Saat memasuki ruang The Gade Coffee & Gold yang minimalis, nuansa gold menjadi dominan. Warna lampu, hiasan, kursi duduk dan jendela semuanya serba gold. Pencahayaan lampu yang terpancarkan membuat ruang coffee shop menjadi sangat elegan. 

Ruang coffee shop ini dibagi menjadi dua. Ada ruang indoor dan outdoor. Bagi yang ingin duduk santai sambil pengen ngadem, kalian bisa memilih duduk di dalam coffee shop. Ada sofa-sofa empuk di bagian sudut ruang lengkap dengan meja minimalis, lengkap dengan tempat colokan di bagian bawah sofa, ruang yang dingin beraromakan khas kopi. Bagi yang bekerja menggunakan laptop, sangat cocok memilih duduk disini. Ada juga tempat duduk yang terdiri dari meja minimalis dengan empat kursi yang berwarna brown & gold. Untuk ruang outdoornya masih dalam proses pengerjaan dan akan saya tulis di tulisan selanjutnya.

Buat yang datang sendirian, kalian bisa memilih duduk di bagian bar di sebuah kursi yang cukup tinggi sambil melihat barista kece dan manis yang lihai membuat minuman kopi dengan keahliannya. Saya pun sempat berkenalan dengan baristanya yang bernama Mbak Della. Kalau gak salah si mbaknya asli Semarang, Jawa Tengah. Mbak Della sudah lama menjadi seorang barista profesional dan sudah diundang kemana-mana, keren kan !. 

Tapi tunggu dulu, Mbak Della hanya sementara saja di Lombok alias bukan barista tetap di The Gade Coffee & Gold Lombok. Mbak Della bersama kelima rekannya dari Jakarta menjadi supervisor saja dan informasinya lagi buka lowongan kerja nih. Mereka lagi mencari dua barista pro untuk bekerja di The Gade Coffee & Gold Lombok. Bagi kalian yang baca blog ini dan berminat, bisa langsung kontak instagramnya (ig: @thegade.coffeegold). 







Pilihan Kopi

Kalian pecinta kopi pasti merasa senang kalau datang ke coffee shop yang memiliki aneka kopi dan bisa dicicipi satu per satu. Saya pun memesan secangkir Cappucinno Hot sambil duduk di bar dan memperhatikan barista membuat kopi. 

Pilihan kopi yang berkualitas dapat disajikan menjadi minuman yang khas dari beberapa biji kopi yang ada diantaranya Gayo, Flores Bhajawa, Lintong Silabang, Blue Raung, Kerinci (Black Honey) dan jenis Robusta (Dewata Madu dan Temanggung). Untuk Kopi Sembalun asli Lombok sepertinya belum tersedia dan menjadi request saya saat itu saat ngobrol-ngobrol santai bareng Mbak Della si barista cantik dari Semarang. 

Meskipun gak terlalu paham sama ilmu perkopian, tapi saya sedikit demi sedikit tau mana saja kopi yang enak dan favorit bagi si pecinta kopi. Mbak Della banyak menjelaskan tentang cara membuat kopi. Meracik kopi saja ada formulanya lhoo, sama seperti meracik obat. Takaran harus pas dan membuat kopi harus pakai hati. Mood lagi bagus, pasti minuman kopi itu enak meskipun pahit. Sepahit-pahit kopi yang diminum, dibalik itu ada seorang barista cantik yang membuatnya, Asyiikk...peace Mbak Della. 



Suasana malam itu sangat ramai sekali oleh para tamu undangan yang datang. Beberapa dari mereka ada yang eksis banget. Maklumlah, jaman sekarang yang namanya medsos itu sudah menjadi virus. Virus yang membuat kita gak mau ketinggalan eksis di dunia maya. 

Ngopi-ngopi kece sambil duduk santai, gak lengkap rasanya kalau gak fotoan alias eksis bareng. Datang ngopi gratsis dan dapat kenalan baru, sangat menyenangkan bagi saya. Sebelum acara selesai, kamipun ngobrol-ngobrol dan fotoan bareng. Saling tukar akun medsos dan ujung-ujungnya minta dikirimin foto-foto,hehehe. 

Cerita saya tentang The Gade Coffee & Gold Lombok belum selesai. Ini masih acara Soft Opening dan gak lama lagi The Gade Coffee & Shop akan Grand Opening. Untuk hari dan waktunya akan diinfokan lewat akun instagramnya. Bocorannya sih di awal bulan depan dan akan diundang para blogger juga lhoo, ditunggu saja !. 

Thank's The Gade Coffee & Gold Lombok sudang mengundang saya. Semoga semua persiapan Grand Openingnya lancar sampai hari H dan Sukses Selalu. Amiiinn 

***

Lokasi The Gade Coffee & Gold 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra