Saturday, 26 May 2018

Berbuka Puasa di Warung Wisco


Sudah lama juga nih saya gak nulis tentang kuliner lagi di blog. Sampai ada pembaca setia whatsapp saya dan nanyain "kok gak pernah lagi kulineran bang ?". Saya jawab santai saja, "lagi program diet neng". Dia malah ketawa. Memang serba salah nih sering posting tempat-tempat makan kece dan memang keadaan badan saya yang gak bisa dibohongi kalau orangnya doyan makan. 

Demi permintaan si dia, saya mulai bergerilya mencari tempat kuliner yang pas dan rekommended buat kalian. Jarang-jarang lho blogger yang baik hati dengerin saran dan kritik dari pembaca setia lazwardyjournal.com (mulai dah kegeeran). Mumpung sudah hampir dua minggu kita berpuasa, jadi gak ada salahnya nulis tentang cerita saya datang ke sebuah tempat makan dan rekommended. Soal kelezatan menu-menunya gak perlu diragukan lagi. 

Welcome to Warung Wisco !

Berada di tengah-tengah Kota Mataram, Warung Wisco memiliki lokasi yang sangat strategis. Berada di Jalan Airlangga No.105, Punia, Kota Mataram. Bila dari arah Airlangga menuju Lombok Epicentrum Mall (LEM), kita pasti melewati warung ini. Kalau belum jelas, bisa buka google maps dengan ketik "Warung Wisco". 






Awalnya tau tempat tongkrongan ini dari si mantan dulu. Dia suka datang kesini bareng temen-temennya. Kebetulan juga yang punya tempat ini temannya juga. Kata si doi yang sudah jadi mantan, menu-menu disini enak-enak. Tempat boleh biasa, tapi kualitas rasa boleh diadu sama makanan hotel. 

Memang bener sih rasa makanannnya luar biasa enaknya. Bagi saya sih tempatnya juga kece. Sebuah tempat tongkrongan yang sederhana tapi bisa buat kita nyaman dan betah berlama-lama disini. Kenapa saya katakan demikian?. Alasannya, karena pelayanan disini luar biasa memuaskan. Setiap pengunjung yang datang, disambut dengan ramah oleh para karyawan. Karyawannya pun selalu menanyakan tentang menu yang dipesan oleh para pengunjung soal rasa. Kalau rasanya kurang enak, karyawan gak segan-segan meminta maaf dan menggantinya dengan yang baru. Pokoknya pelayanan seperti di hotel. 

Saya merasakannya sendiri dan ini keempat kalinya saya datang kesini, jadi saya bisa menilai kualitas rasa dan pelayanan disini dan baru sempet nulis sekarang,hehehe. Warung Wisco sudah hampir tiga tahun berdiri dan tetap eksis sampai sekarang. Bukannya menjelekkan tempat makan lain, tapi sekelas Warung Wisco yang bisa bertahan sampai tiga tahun itu sudah sangat luar biasa. 

Untuk ruangan sendiri dibagi dua macam, ada indoor dan outdoor. Untuk indoor sendiri gak memakai pendingin ruangan karena sudah adem. Jadi, untuk ahli hisap bisa memilih duduk di dalam atau di luar ruang. Tapi perlu diingat bagi ahli hisap untuk menghargai teman-teman yang gak bisa menghirup asap rokok. Jadi bisa memilih secara bijak mau duduk dimana agar pengunjung lainnya gak terganggu sama asap rokok (hanya saran saja). 

Warung Wisco di hari biasa buka dari jam sebelas pagi sampai pengunjung terakhir pulang. Khusus di Bulan Ramadhan ini, bukanya dari jam tiga siang sampai pengunjung terakhir kenyang dan siap-siap pulang untuk tidur nyenyak,hehehe. 

Kebetulan juga saya kenal dengan salah satu karyawannya yang memang jago masak. Namanya Abang Ikran yang murah senyum dan terkadang grogi kalau saya tanyain sesuatu hal. Abangnya yang selalu menjamu para pengunjung yang datang. Dari informasi abangnya juga saya banyak tau tentang Warung Wisco ini. Denger-denger sih seluruh karyawan disini jago-jago masak lhoo. Gak tanggung-tanggung, pembimbing mereka yaitu salah satu finalis dari Master Chef Indonesia asal Pulau Lombok (nama disamarkan). Keren kan !. Saya sih gak nyangka saja ada tempat makan sekece ini. Nyesel juga gak tau dari dulu, itupun taunya beberapa bulan yang lalu dari si doi yang sudah jadi mantan.


Fried Kwetiau 20K 

Mie Goreng Ayam 15K 

Berhubung perut sudah laper seharian gak diisi, saya mencoba memesan seporsi Fried Kwetiau 20K dan segelas Purple Dragon Ice 15K. Sedangkan sahabat saya Si Agus, memesan seporsi Mie Goreng Ayam 15K dan segelas Orange Jus 10K. Sepertinya sangat cocok untuk menu utama berbuka puasa. Selain menu-menu yang dipesan, masih banyak lagi daftar menu yang belum saya coba. Next time, kalau datang kesini lagi, pasti saya coba semuanya. Apalagi Pizzanya, enak banget. Kapan-kapan nanti saya ceritakan, hehehe.

Sambil menunggu pesanan datang, saya mencoba menjepret beberapa bagian dari warung kece ini. Saat kami berdua datang, pengunjung lainnya banyak juga yang berbuka puasa bareng disini. Mereka lagi ngadain acara buka puasa bareng teman satu sekolah SMA dulu. Jaman Now seperti ini kebanyakan buka puasa bareng temen-temen sekolah daripada sama keluarga besar,eeeh.

Untuk ngadain acara buka puasa bareng juga bisa disini. Tinggal kontak Abang Ikran dan pesan mau ngadain acara bukber kapan dan berapa orang. Kebetulan juga tempatnya sangat nyaman dan gak jauh dari mana-mana, tepat di pusat keramaian. Habis makan di Warung Wisco bisa jalan kaki ke Mall (bagi emak-emak),hehehe. 

Lanjut ngebahas menu pesanan !

Fried Kwetiau merupakan makanan yang berasal dari Tiongkok sekelas mie. Hanya saja bentuknya pipih dan sangat gurih. Apalagi perpaduan antara bumbu dan campuran telurnya, membuat rasa semakin enak dilidah dan kita gak berhenti untuk mengunyahnya. Satu porsinya juga sangat pas untuk sekelas perut saya. 

Untuk minumnya, segelas Purple Dragon. Minuman yang keinggrisan ini sebenarnya campuran Pepsi dan buah Naga. Tapi soal segernya, mantap dah. Wajib kalian coba bila datang ke Warung Wisco. Apalagi manfaat buah Naga yang sangat baik buat kesehatan karena bisa sebagai antioksidan dan antidiabet. Dipadukan dengan campuran soda, membuat seger dan gregetan di lidah. Soal harga, semua menu-menu di Warung Wisco sangat terjangkau dan harga sesuai untuk semua kalangan. 


dari kiri ke kanan "Purple Dragon 15K & Orange Jus 10K

Inilah warung sekelas cafe rekommended bagi kalian yang akan berencana berbuka puasa di luar rumah bareng keluarga, sahabat, teman kerja atau gebetan baru. Gimana ? Kalau kalian tertarik, bisa datang langsung besok ke Warung Wisco (buat kalian yang berada di Lombok dan sekitarnya).

"Tempat boleh biasa saja, tapi kualitas rasa dan pelayanan boleh diadu dengan menu selevel hotel".

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Saturday, 19 May 2018

Menyusuri Jalanan Kota Makassar


Jalan-jalan ke salah satu kota besar baik di Indonesia maupun di luar negeri, gak lengkap rasanya gak menyusuri jalanan yang ada disana. Mencari spot-spot kece salah satu sudut kota sampai mencari keunikan yang ada dan bisa didokumentasikan. Ujung-ujungnya mupengin kalian semua,hehehe.

Cerita kali ini masih tentang jalan-jalan saya di Kota Makassar. Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan ini bisa dibilang salah satu kota besar dan tersibuk di Indonesia khususnya Indonesia bagian timur. Kota Makassar banyak menyimpan sejarah pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pahlawan yang kita kenal dari Kota Makassar yaitu Sultan Hasanuddin. Seorang pahlawan nasional yang berjuang mati-matian melawan penjajah demi kemerdekaan Indonesia. 

Jujur, saya masih asing dengan kota ini. Maklum saja, ini kedua kalinya saya menginjakkan kaki di kota ini dan masih belum hafal bener sama jalanan disini. Untuk lebih mengenal kota ini, saya mengajak Mbak Luh (calon kakak ipar) untuk mengexplore salah satu kompleks di Kota Makassar menggunakan becak. Berhubung ada waktu buat jalan-jalan sebelum balik ke Lombok, kami berdua berencana menuju ke dua tempat yang sayang kalau gak didatangi. 









Sekitar jam sembilan pagi, saya mengirim pesan ke Mbak Luh untuk mengajak dia nemenin saya jalan-jalan. Untungnya mbaknya mau dan memang gak ada kegiatan hari itu. Sedangkan teman-teman yang lain sedang sibuk sama jalan-jalan mereka ke tempat berbeda, hehehe. Berangkat dari hotel dengan berjalan kaki menyusuri Jalan Kajaolalido. Awalnya sih pengen jalan kaki, tapi cuaca saat itu panas banget dan polusi dimana-mana. Kami berdua akhirnya mencari alat transportasi khas dari kota ini. Alat transportasi tradisional yang ada di kota ini salah satunya bentor dan becak. Bentor adalah alat transportasi mirip becak tapi menggunakan sepeda motor. Bedanya bentor tanpa dikayuh, sedangkan becak dikayuh. 

Karena lama menunggu si bentor lewat, akhirnya kami menggunakan becak saja. Kebetulan bapak yang punya becak menghampiri kami dan menawarkan mencari oleh-oleh dan ke Benteng "Fort Rotterdam". 

Saya : "Kalau ke pusat oleh-oleh dan ke benteng, berapaan pak daeng?"
Bapak Becak : "Bayarnya berapa-berapa saja daeng".

Daeng adalah sebutan bangsawan seorang laki-laki yang sudah dewasa di Sulawesi Selatan. Tadinya keberatan dipanggil "daeng", tapi berhubung papa punya garis keturunan bangsawan Sulawesi dari Suku Bajo. So...gak apa-apalah, lagian rasanya kita sangat dihargai sama penduduk setempat dipanggil "daeng",hehehe. 

Bisa dibilang menggunakan becak atau alat transportasi di Kota Makassar gak mahal-mahal banget. Bayar berapa saja, seikhlasnya. Tapi dilihat dari bapak becaknya yang sudah tua, gak mungkilah saya memberikan upah seikhlasnya. Pastinya upah sesuai dengan jarak yang ditempuh. Disini memang gak ada standar harga, jadi bayar seikhlasnya. 

Si bapak becak (saya lupa namanya), mengantarkan kami ke salah satu pusat oleh-oleh yang cukup terkenal di Kota Makassar, sebut saja Somba Opu. Kurang lebih lima belas menit dari hotel, kami berdua sudah berada di kawasan Somba Opu, gak jauh memang. Gak hanya mengantarkan ke Somba Opu saja, si bapak becak mengantarkan kami salah satu toko yang menjual berbagai macam oleh-oleh khas Makassar. 

Baiknya lagi, si bapak menunggu kami berbelanja dengan sabar. Bisa dibilang Si bapak jadi tour guide kami saat itu. Karena ada beberapa oleh-oleh titipan yang belum sempat saya beli, disini apa yang kita cari ada semua. Saya membeli dua buah kaos dan kain tenun khas Makassar. Pilihan kainnya sangat beragam dan tergantung selera. Soal harga, gak terlalu mahal alias harga standar pengunjung. 










Setelah puas berbelanja dan apa yang dicari sudah didapat, kami bertiga melanjutkan perjalanan ke benteng "Fort Rotterdam". Waktu sudah menunjukkan jam sepuluh pagi, masih ada waktu untuk mengexplore benteng yang sudah sangat terkenal hingga ke rumah saya,hehehe. 

Fort Rotterdam atau warga lebih mengenalnya dengan sebutan Benteng Ujung Pandang. Terletak di Jalan Ujung Pandang No 1, Kota Makassar. Menurut sejarah, benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa 'risi'kallona. 

Bila dilihat dari atas udara, secara keseluruhan bentuk benteng ini menyerupai "penyu". So..orang Gowa dan Makassar masa lalu menyebut benteng ini dengan sebutan Benteng Panyyua atau Penyu. Dulu benteng ini dijadikan markas pasukan katak Kerajaan Gowa. Sejak penjajah Belanda menguasai dan menduduki benteng ini, Benteng Ujung Pandang berubah nama menjadi Fort Rotterdam. 

Kita menyebutnya dengan sebutan "Fort Rotterdam" saja ya ? Sepakat !!!

Di depan bangunan benteng terdapat tulisan tiga dimensi "Fort Rotterdam". Kece nih selfie dan foto-foto disini. Apalagi kami berdua datang dari pulau seberang "Pulau Lombok", jadi wajib eksis fotoan disini. Setelah fotoan di depan bangunan, kami berdua memasuki kawasan benteng. Pintu masuk benteng Fort Rotterdam merupakan benteng setinggi tiga meter. Pengunjung dipersilahkan untuk mengisi buku tamu sebelum masuk ke dalam benteng dan gak dipungut biaya sepeserpun untuk masuk ke dalam.

Memasuki area ditengah benteng, kita disambut dengan halaman yang penuh ditumbuhi rumput-rumput hijau dan taman yang tertata rapi. Taman ini dikelilingi oleh bangunan-bangunan klasik yang masih terjaga bentuk dan sangat terawat. Terlihat bahwa benteng ini berfungsi sebagai "Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan" dibawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 





Area taman dikelilingi oleh bangunan lantai dua, sementara tembok setinggi tiga meter mengelilingi Fort Rotterdam. Bagi kalian yang hobi fotografi, tempat ini sangat cocok untuk didokumentasikan. Apalagi para model Jaman Now maupun Jaman Old, pas banget untuk eksis disini. 

Beberapa spot foto dari bangunan ini gak lupa saya abadikan. Lagi-lagi Mbak Luh yang menjadi korban jepretan kamera dslr dan go pro yang saya bawa. Jepret sana jepret sini. Meskipun terik matahari yang menyengat, kami berdua gak pikirin. Paling penting dapat foto kece buat kenang-kenangan,hehehe.

Di dalam Fort Rotterdam terdapat musem bernama La Galigo. Di dalam museum yang terasa hening dan sunyi, kita dapat melihat perjalanan sejarah masyarakat Sulawesi Selatan. Terdapat juga beberapa benda peninggalan berupa kapak, mata panah, patung dan masih banyak lagi. 

Museum La Galigo juga menampilkan kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan yang sebagian besar adalah pelaut ulung. Terlihat dari miniatur Kapal Phinisi terpajang di salah satu sudut museum yang menggambarkan masyarakat Sulawesi Selatan adalah pelaut.




Setelah keluar dari Museum La Galigo, dari kejauhan saya melihat beberapa pengunjung yang memakai pakaian adat Sulawesi Selatan. Pakaiannya pun berwarna-warni. Saya pun penasaran dan mencoba untuk berinteraksi dengan mereka. 

Setelah bertanya-tanya, mereka adalah pegawai dari instansi terkait dan saat itu sedang ada kegiatan pemotretan. Tujuan pemotretannya saya kurang jelas, mungkin saja untuk keperluan instansi mereka atau untuk ucapan "Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan", entahlah hehehe. Kami berdua menyempatkan untuk foto bareng dengan mereka. 

Kami memberitahukan kepada mereka bahwa kami dari Pulau Lombok. Mereka semua kaget dan pengen banget ke Pulau Lombok. Saya sangat senang saat itu, ternyata Pulau Lombok sudah kece dan mulai dilirik oleh masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Makassar. 

"Ditunggu liburannya ke Pulau Lombok bu dan bapak daeng !" hehehe

Waktu sudah beranjak siang hari, kami berdua memutuskan untuk kembali ke hotel. Lagian si bapak becak sudah lama menunggu di depan benteng. Kembali ke hotel sambil menikmati kesibukan Kota Makassar siang itu dari atas becak. 

"Terimakasi Bapak Becak, sudah mengantarkan kami mengunjungi dua tempat yang sangat kece !".

Cerita saya jalan-jalan di Kota Makassar belum selesai, masih ada kelanjutannya. Next...tentang kulinernya. Comming Soon !!! 

Catatan :
- Buka saat jam kantor : 08.00 WITA - 16.00 WITA
- Berjarak 1 km dari Pantai Losari
- Waktu tempuh 30 menit dari Bandara Sultan Hasanuddin
- Waktu tempuh 15 menit dari Pelabuhan Soekarno Hatta

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Wednesday, 16 May 2018


Dibilang mimpi juga gak, tepatnya sih rezeki anak sholeh. Beberapa hari yang lalu, saya ditugaskan untuk berangkat ke Kota Makassar untuk studi banding ke salah satu rumah sakit disana. Jalan-jalan dibayar sama pemerintah, hehehe.

Saya gak sendirian, kami bersepuluh mendapat amanat untuk melaksanakan tugas negara. Sambil menyelam minum air, bertugas rasa liburan lebih tepatnya. Kurang lebih tiga hari dua malam saya bersama rombongan berada di kota yang terkenal dengan Pisang Ijo dan Pisang Epenya ini. Kalau ngomong soal kuliner, Kota Makassar banyak memiliki makanan khas yang cukup terkenal. Selain kuliner, Kota Makassar juga terkenal dengan Pantai Losarinya. Dapat tugas ke Kota Makassar, dibayangan saya langsung terlintas Pantai Losari. 

Berangkat ke Makasar, saya pun langsung membuat list mau kemana saja nantinya. Pantai Losari adalah tujuan utama karena saya sangat penasaran sama pantai ini. Kok bisa seterkenal sekarang, sampai ada lagu dangdut yang judulnya "Pantai Losari", hebat kan ? (ketauan doyan lagu dangdut).

Apa saja sih yang keseruan saat berada di Pantai Losari ?. Yuuk..dibaca terus sampai habis !.





Rombongan kami menginap di Hotel Singgasana. Gak terlalu jauh dari Pantai Losari. Katanya sih bisa jalan kaki. Berhubung saya belum paham jalanan Kota Makassar dan dikejar waktu juga, akhirnya kami menyewa ojek mobil online. Gak mahal-mahal amat kok. Hanya 13K, kami dijemput di hotel dan turun tepat di pintu gerbang pantai. Pelayanannya juga cepat, pesen lewat aplikasi dan langsung direspon, Jaman Now.

Kami datang ke pantai ini di hari terakhir sebelum kami balik ke Lombok. Berhubung di hari sebelumnya, Kota Makassar turun hujan sorenya. So.. ke Pantai Losarinya ditunda keesokan harinya. Gak mau menyia-nyiakan waktu, saya mengajak teman-teman habis subuh jalan pagi ke pantai ini. Akhirnya kesampaian juga dapat menikmati kesejukan Kota Makassar di pagi hari. 

Setibanya di sepanjang Pantai Losari, suasana masih sepi. Hanya ada beberapa pengunjung yang datang untuk joging, bersantai bersama keluarga dan ada juga yang pagi buta sudah kencan sama gebetan. Ternyata disini banyak juga Kids Jaman Now,hehehe. Ngenesnya lagi saya datang kesini bareng emak-emak eksis semua. Tadinya pingin cuci mata, siapa tau ada cewek yang bening-bening. Eh..ujung-ujungnya jadi tukang jepretin emak-emak eksis,hehehe...peace

Embun pagi, lantai yang masih basah diguyur hujan semalam dan angin pantai yang sepoi-sepoi menyapa kami berempat saat berada di lokasi. Gak lama kemudian, langit berubah menjadi kuning orange dan sinar matahari muncul menyinari kami. 









Sepanjang jalan di Pantai Losari, banyak sekali ornamen atau patung yang menjadi landmark Kota Makassar. Contohnya saja seperti foto di atas, ada patung perahu pinisi yang sangat melegenda dan menjadi ciri khas dari Kota Makassar. Ada juga beberapa tulisan tiga dimensi yang berukuran besar seperti tulisan Bugis, City of Makassar dan masih banyak lagi patung-patung lainnya. 

Beruntungnya kami datangnya habis subuh dan di hari kerja. So... gak banyak pengunjung yang datang dan kami bisa mengexplore Pantai Losari dengan leluasa. Gak kebayang kalau di hari libur. Dari pagi sampai malam, pantai ini selalu penuh dengan pengunjung. Di beberapa artikel wisata yang bercerita tentang pantai ini, bila sudah hari libur, untuk jalan pun kita bisa kesusahan karena terlalu banyak pengunjung yang datang dan macet oleh kendaraan. Untung ya ? hehehe. 

Kalau malam di sepanjang jalan Pantai Losari banyak sekali penjual jajanan khas Makassar. Ada Pisang Epe, Coto Makassar, Mie Titi, Sop Saudara dan masih banyak lagi yang lainnya. Bisa dibilang, tempat surganya kuliner. Beruntungnya lagi, saya dapat mencicipi kelezatan Pisang Epe. Saya mencicipi Pisang Epe rasa cokelat, enak beneran. Nanti kalau kalian datang ke Makassar, wajib coba yang namanya Pisang Epe. Rekommended.  




Di sisi sebelah selatan dari Pantai Losari, berdiri sebuah masjid yang bernama "Masjid Amirul Mukminin". Bentuk masjid yang sangat unik. Memiliki dua kubah berwarna biru dan dua menara yang berada di kiri kanan bangunan masjid. Dibangun di atas air dengan pondasi dari puluhan tiang beton yang kokoh. Masjid Amirul Mukminin memiliki sebutan kece yaitu Masjid Apung (Terapung). Meskipun gak terapung sepenuhnya, tapi masjid ini bisa dibilang satu-satunya masjid yang dibangun di atas air di Kota Makassar. Di tempat tinggal saya saja gak ada masjid seperti ini. 

Sayangnya, saya belum sempat masuk ke dalam masjid. Next... kalau ke Kota Makassar lagi, wajib hukumnya shalat di masjid apung ini. Masjid Amirul Mukminin dibuka untuk umum saat waktu shalat tiba. Memiliki dua pintu gerbang utama. Satu di sisi kanan dan satunya di sisi kiri. 

Meskipun gak sempat masuk, dari kejauhan masjid apung ini sudah terlihat cantik dan kece. Untuk background foto cocok banget. Apalagi yang doyan maen instagram, hukumnya wajib fotoan disini. Waktu yang pas fotoan di masjid apung yaitu sore hari menjelang senja tiba dan pagi hari sambil menikmati sunrise. 



Dibalik keindahan Pantai Losari, ada yang membuat saya agak sedikit kurang puas saat memandangi lautan disini. Saat ini di hadapan Pantai Losari, sedang dibangun beberapa bangunan yang mirip dengan kubah masjid dan sebuah jembatan bentuk khas Toraja. Dulunya bangunan ini gak ada dan semuanya lautan. Dari Pantai Losari, kita bisa melihat kapal-kapal besar lalu lalang dan indahnya lautan Selat Makasar. Tapi dengan adanya Reklamasi, pemandangan yang tadinya indah, berubah kurang indah (menurut saya sih).

Semoga saja kedepannya tempat ini menjadi jauh lebih indah meskipun adanya reklamasi. Sayang saja sih, nama Pantai Losari yang sudah terkenal sampai rumah saya, jadi kurang indah dan ujung-ujungnya orang gak bisa melihat sunset lagi akibat terhalang dengan bangunan-bangunan yang ada. 

Selain reklamasi, saya juga melihat beberapa di antara bangunan disini terdapat bekas coretan tulisan-tulisan yang gak jelas oleh orang yang gak bertanggung-jawab. Sayang sekali kan, sudah bangun capek-capek, eh ada orang jahil yang gak bertanggung-jawab sengaja merusak keindahan dari Pantai Losari. Harapan saya sih pengelola Pantai Losari bisa menjaga dan melestarikan pantai ini semakin baik lagi, itu saja sih. Dimana ada kelebihan, disitu juga ada kekurangan. Hidup gak ada yang sempurna. Sempurna hanya milih Allah SWT. 

Kebetulan juga sudah memasuki Bulan Suci Ramadhan. So... bagi kalian yang kebetulan datang berlibur atau tugas dinas ke Kota Makassar, gak ada salahnya dong ngabuburit ke Pantai Losari. Ngabuburit ke Pantai Losari sambil mencari takjil untuk berbuka puasa. Pantai Losari merupakan tempat favorit masyarakat Kota Makassar untuk menunggu datangnya waktu berbuka puasa. Jangan lupa nyobain Pisang Epe yaak !. hehehe.

Itu dulu cerita pertama saya tentang Kota Makassar. Next.. ada cerita yang lebih seru lagi, masih tentang Kota Makassar dong. Comming Soon !!!

"Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan"

"Marhaban Ya Ramadhan"

Penulis : Lazwardy Perdana Putra