Saturday, 11 August 2018

Kolam Renang Alami : Air Terjun Tibu Tereng


Lagi bete, bingung mau kemana saat weekend ?. Renang saja mas/mbak broo. Mau renang di pantai, kolam renang hotel, di bawah air terjun juga bebas mau pilih dimana. 

Nah, ngebahas tentang renang nih. Saya punya informasi tempat berenang yang kece. Kolam renang alami yang berada di tengah-tengah Hutan Dusun Batu Kemaliq, Desa Bukittinggi, Kecamatan Gunung Sari, Lombok Barat. Beberapa minggu yang lalu saya bareng teman-teman ngetrip, pergi menjelajah alam Desa Bukittinggi. Disana ada beberapa air terjun yang wajib kalian explore. Khusus buat para pembaca setia blog saya, rekommended  buat mengisi liburan kalian. 

Sebenarnya cerita ini lanjutan dari perjalanan saya ke Air Terjun Tibu Kelambu yang lalu. Bagi kalian yang sudah membaca ceritanya, pasti sudah paham jalur menuju kesana. Yang belum, dibaca dulu ya biar gak bingung saat melanjutkan membaca cerita ini !

Bisa diklik disini --> Air Terjun Tibu Kelambu




Setelah puas basah-basahan di bawah Air Terjun Tibu Kelambu, kami kembali berjalan kaki menaiki tangga demi tangga yang tadi dilewati. Tadinya saat menuju air terjun, kami menuruni tangga yang cukup curam dan agak licin. Sekarang kami harus berjalan menaiki tangga demi tangga yang membuat nafas kami gak beraturan. Sudah lama gak menjelajah hutan belantara, jadi terasa nafas ngos-ngosan. Terasa jalan menanjaknya panjang sekali, hehehe

Setelah sampai di pertigaan, kami berbelok ke kanan menuju Air Terjun Tibu Tereng. Jalurnya menurun lagi, Asyiik gak capek nanjak-nanjak lagi. Jalur menuju air terjun kedua gak terlalu jauh dari parkiran kendaraan dibandingkan yang air terjun pertama. Setelah sampai di sungai yang dipenuhi bebatuan besar, kami beristirahat sejenak sambil mengeluarkan sangu makan siang. Kami makan siang dulu sebelum melanjutkan perjalanan ke air terjun. 




Setelah makan siang, saya mencoba mencari lokasi Air Terjun Tibu Tereng. Kebetulan saya bertemu dengan rombongan anak muda yang berjalan dengan pakaian basah kuyup. Sedangkan teman-teman lainnya lagi sibuk dengan krucil-krucil yang ikut (anak-anaknya Mas Irfan dan Mbak Ika). Mas Junk juga sibuk dengan kamera dslrnya. 

"Broo, lewat mana ke Air Terjun Tibu Tereng ?"
"Lewat sini hep (panggilan akrab di Lombok)" 

Menuju Air Terjun Tibu Tereng gak sesulit jalur menuju ke Tibu Kelambu. Setelah menuruni tangga, kami hanya berjalan kaki menyusuri sungai melewati bebatuan besar yang gak licin. Kebetulan juga lagi musim kemarau, jadi debit airnya gak besar, jadi kami mudah melewati bebatuan hingga sampai di Air Terjun Tibu Tereng tanpa basah-basahan.






Akhirnya sampai juga kami di Air Terjun Tibu Tereng. Melihat penampakan air terjunnya, membuat saya gak sabar untuk berenang di kolam renang alaminya. Meskipun debit airnya sangat kecil, tapi gak membuat kolam alaminya berkurang kecenya. 

Kenapa dinamakan Air Terjun Tibu Tereng ?. Nah, saya mau menebak-nebak sendiri lagi, kenapa namanya Tibu Tereng. Ini sih mudah sekali jawabannya, karena air terjun ini dikelilingi oleh pohon bambu. So, Tibu itu air yang jatuh, sedangkan Tereng itu berasal dari bahasa Sasak yang artinya pohon bambu. Di sekitar air terjun atau kolam alami ini terdapat banyak sekali pohon-pohon bambu. Jadi jelaskan kenapa namanya Tibu Tereng,hehehe. 

Keunikan dari kolam renang ini yaitu bebatuannya yang gak terpisah-pisah. Aliran lahar yang sudah membeku ribuan tahun yang lalu, membentuk batuan besar dan sebuah lubang besar yang cukup dalam dan sampai sekarang menjadi kolam alami yang kece. 

Saya jadi penasaran, kalau musim hujan dan debit air sungai besar, seperti apa penampakan Air Terjun Tibu Tereng. Bisa jadi lebih kece dari foto-foto saya di atas. Next, pas musim hujan, saya akan datang kesini lagi dengan cerita yang beda dengan suasana yang beda pula. 

Gak terasa, hari sudah semakin sore. Betah juga nih berenang sambil berendam di kolam alami ini. Berenang sambil menghirup udara segar hutan belantara Desa Bukittinggi. Para krucil-krucil juga gak mau berhenti mandi. Airnya yang dingin, ditambah kolamnya yang aman dan udara yang sejuk, membuat kami enggan untuk beranjak pulang. 

Itu salah satu keindahan alam dari Pulau Lombok tercinta ini. Cepet sembuh Pulau Lombok ! Gak ada namanya gempa-gempa lagi dan gak ada lagi air mata kesedihan. Semoga Pulau Lombok yang kita cintai ini pulih dari kesedihannya. Amiiin

Cerita ini saya tulis dengan penuh kesedihan karena Pulau Lombok beberapa minggu ini diguncang gempa hebat. Meluluhlantakkan Gumi Sasak dan banyak sekali korban yang berjatuhan. Ceritanya saya akan tulis di postingan selanjutnya. Comming Soon !

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Wednesday, 8 August 2018

Nasi Bakar Ayam Balado ala Kampong Melayu Enak Lhoo !


Laper juga, sudah lama gak bahas masakan khas Indonesia di blog ini. Kalian yang doyan wisata kuliner, mari merapat barisan ! (kayak mau perang aje).

Bagi yang sudah ada rencana mau liburan ke Pulau Lombok dalam waktu dekat ini dan masih bingung mencari tempat-tempat kuliner di Pulau Lombok, ada satu tempat yang rekommended. Kampong Melayu, terdengar sangat Indonesia banget.

Resto ini berada di Lantai 1 Lombok Epicentrum Mall (LEM). Kalau kebingungan mencari lokasinya, kalian bisa keliling-keliling dulu sambil cuci mata,hehehe. Kampong Melayu adalah anak cabang dari My Kopi O, salah satu kedai kopi terlaris di Pulau Lombok. Dulu saya sempat menulis tentang Kampong Melayu yang berada di salah satu mall, masih berada di Kota Mataram. Karena beberapa hal, resto tersebut tutup dan gak lama kemudian dibukalah Kampong Melayu di LEM. Mungkin saja yang punya satu orang, bisa jadi,hehehe 

Bisa baca juga di : Kampong Melayu Transmart





Kebetulan di hari kami sekeluarga makan disini, big bos alias papa lagi ulang tahun. Untuk nyebut umur, papa gak mau sebut. Katanya biar awet muda terus, Asyiiik. So...malam itu kami ditraktir semua. Dan saya bertugas untuk menentukan makan dimana. Buka-buka Go-Food, akhirnya Kampong Melayu menjadi pilihan. 

Alasan memilih Kampong Melayu, karena menu-menu disini beragam dan sesuai selera. Terpenting, tempatnya nyaman dan adem. Desain ruangan resto ini saya banget. Saya suka desain ruang seperti ini, warna-warni, klasik, dan Indonesia banget. Beberapa hiasan yang berupa burung, ayam, dan makan-makanan yang terpajang. Ini semua gak asli lhoo ya alias mainan. 

Ruangan juga dibagi dua, ada no smoking dan smoking. Berhubung si papa ahli hisap, kami memilih tempat duduk diantara dua ruang tersebut. So.. jadi gak ribet nyari tempat ngisap. Keluarga juga sangat senang kuliner disini karena pelayanan yang super cepat dan ramah. Orderan gak meleset, tepat dan cepat. 

Oke, sekarang kita bahas menu-menunya !. 






Buka-buka daftar menu, beragam masakan yang tersaji disini. Semuanya Indonesian Food, seperti nasi goreng, sop, mie-miean, sate ada disini semua. Berbagai jenis minuman juga tersedia, seperti kopi,teh, jus dan es campur. Gak perlu bingung memilih dan kembali lagi ke selera masing-masing.

Soal harga, disini harganya lumayan lah. Gak mahal dan gak murah. Sesuai dengan rasa dan porsi. Sebelum datang makan kesini, saya sarankan kalian bisa liat foto-foto menu yang sudah saya posting di atas. Jadi gak bingung mau makan apa nantinya. Duitnya bisa disiapkan sebelumnya kalau yang mau kencan bareng si doi disini, hehehe. 



Di Kampong Melayu, saya punya menu favorit yaitu Nasi Bakar Ayam Balado dan Semutis Pisang. Berhubung saya suka sama nasi bakar, saya mencoba memesan masakan ini. Dilihat dari foto di daftar menunya sih meyakinkan banget. Mari kita coba permirsa,hehehe

Nasi Bakar Ayam Balado khas Kampong Melayu tampilannya kece. Nasi putih ditaburi potongan daging ayam serta dilumuri dengan saos balado, jagung dan potongan tomat. Kemudian dibungkus dengan daun pisang dan dimasukkan ke dalam tempat mirip dengan panci berwarna hitam dan ditutup dengan kayu berbentuk lingkaran. Proses akhir selanjutnya dibakar. Aroma nasi bakar langsung tercium disaat saya membuka bungkusan daun pisang yang masih panas. Soal rasa, nyam nyam nyam dan gurih, enak ternyata.

Untuk minuman, saya memesan Semutis Pisang. Berhubung saya suka dengan aneka olahan pisang, jadi pertama melihat pilihan minuman ini, langsung saya memesannya. Semutis ini mirip seperti jus dengan campuran air soda dan es cream vanilla sebagai pelengkap. Seger dan buat mata melek. 


Selain kedua menu di atas, masih banyak menu-menu lainnya yang wajib kalian coba. Buat yang mau nongkrong sambil ngopi-ngopi, disini juga banyak pilihan kopinya. Ngumpul bareng keluarga, sahabat, rekan kerja atau gebetan, rekommended banget.

Gimana, kalian ingin mencoba ?. Saya tunggu cerita dan pengalaman kalian makan di Kampong Melayu dimana saja berada. Buat para admin akun kuliner di instagram, rekommended buat kalian endorse. Colek admin ig @makanasyik dan @kuliner.mataram. hehehe 


Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Thursday, 2 August 2018

Jelajah Air Terjun Tibu Kelambu : Air Terjun Tersembunyi

My Trip ini berawal dari tergodanya saya melihat postingan temen blogger menjelajahi air terjun yang lokasinya gak jauh dari Kota Mataram, sebut saja namanya Air Terjun Tibu Tereng.

Air Terjun Tibu Tereng berada di wilayah Lombok Barat. Tapi bukan air terjun ini yang akan saya ceritakan. Di postingan kali ini saya ingin berbagi cerita tentang penjelajahan saya bareng sahabat tercinta ke Air Terjun Tibu Kelambu.

Nah, "terus hubungannya dengan Air Terjun Tibu Tereng apa ya?". Disimak terus sampai selesai !.

Weekend yang lalu, saya bareng Mas Junk, dokter Irfan dengan istri "dokter Ika" dan ketiga buah hati mereka, berangkat ke sebuah desa yang memiliki beberapa air terjun yang menjadi daya tarik Kids Jaman Now Pulau Lombok.

Tujuan kami yaitu ke Dusun Batu Kemaliq. Dusun ini berada di wilayah Desa Bukittinggi, Kecamatan Gunung Sari,  Lombok Barat. Dusun ini berjarak sekitar empat belas kilometer dari Kota Mataram. Kurang lebih memakan waktu tiga puluh menit menggunakan sepeda motor atau mobil dari tengah kota.

Dusun Batu Kemaliq memiliki beberapa air terjun yang menjadi tujuan kami saat itu. Diantaranya ada Air Terjun Tibu Kelambu dan Tibu Tereng. 

Untuk menuju lokasi, kita bisa melewati Jalan Jenderal Sudirman, Selaparang ke arah timur. Setelah bertemu dengan perempatan lampu merah daerah Sayang-Sayang, kami berbelok ke kanan mengikuti arah ke Penimbung. Suasana di perjalanan cukup ramai dan macet oleh aktivitas warga pagi itu. Ditambah lagi ada perbaikan jalan, lumayan capek nyelip-nyelip diantara rombongan motor dan kendaraan lainnya.

Setelah terbebas dari kemacetan, kami bertemu dengan perempatan kecil di Pasar Penimbung. Dari petunjuk teman blogger, kami harus mengikuti jalur menuju Pasar Bukittinggi.  Awalnya bingung pasarnya dimana. Biar gak tersesat,  kami bertanya ke salah satu warga yang sedang nongkrong di atas motor di pinggir jalan Pasar Penimbung.

Dari penjelasan si masnya, kami harus mengikuti jalanan aspal terus sampai mentok. Gak belok kanan-kiri lagi,  apalagi belok ke rumah mantan juga gak perlu (gak punya mantan juga yang tinggal di Penimbung). Lebih jelasnya, kalian tanya sang mantan saja,eh maksudnya Google Maps.hihihihi.

Oke, fokus ke cerita!

Setelah petunjuk ke lokasi sudah jelas, kami melanjutkan perjalanan mengikuti jalanan aspal. Jalanan mulai menanjak dan berkelok-kelok. Di samping kanan-kiri jalan, saya melihat keindahan dari perbukitan alam Penimbung. Kece, ditambah lagi udara yang sangat sejuk. Sepanjang jalan kita melewati kebun-kebun duren (durian). Baca doa biar gak ketiban buah duren yang jatuh. 



Gak terasa kami sudah sampai di persimpangan Pasar Bukittinggi. Dari sini  penjelajahan kami dimulai. Untuk menuju air terjun, kami harus berbelok ke kanan, mengikuti jalanan tanah. Sekitar satu kilometer kami harus melintasi jalan tanah berkelok-kelok, ditambah lagi kita melewati jalanan tanah dengan jurang yang cukup curam. Jalur tanah ini hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua saja. Untuk saat ini, mobil mungkin lebih baik dititipkan di rumah warga, sekitar Pasar Bukitinggi. Kemudian dilanjutkan berjalan kaki cukup jauh menuju post terakhir (parkiran kendaraan roda dua).

Panorama alam hutan Dusun Batu Kemaliq ini sangat asri, hijau dan keren. Saking terpesonanya melewati jalur tanah di tengah hutan perbukitan, kami sudah sampai di parkiran kendaraan. Disinilah post terakhir kami sebelum berjalan kaki menuju lokasi air terjun.

Parkiran kendaraannya sangat rapi dan bersih. Disini juga terdapat warung yang menjual beberapa cemilan dan minuman ringan. Saya sarankan, beli air dan makanan disini saja, soalnya di lokasi air terjun gak ada pedagang yang berjualan.

Pemilik warung sekaligus yang menjaga kendaraan pengunjung, sangat ramah kepada kami.  Dari keterangan beliau, tiket masuk dan parkir "free" alias gratis tis tis. "Beneran tempat seperti ini kok gak ada pungutan biaya ya?". Heran bercampur seneng juga sih, hehehe. Meskipun gratis,  kami tetap berbelanja di warung beliau biar ada pemasukannya. Sadar diri lah,hehehe.

Setelah kendaraan kami terparkir dengan aman. Kami bersiap-siap menuruni tangga yang terbuat dari batu dan semen. Meskipun keliatannya aman, kita harus ekstra hati-hati karena di beberapa titik ada kondisi jalanan menurun yang licin. Untuk menuju Air Terjun Tibu Kelambu, kami harus memilih jalur ke kanan, sedangkan ke kiri adalah jalur menuju Air Terjun Tibu Tereng (cerita selanjutnya).





Berhubung dari awal kami akan menuju Air Terjun Tibu Kelambu terlebih dulu, kami berbelok kanan mengikuti jalur menurun kurang lebih sekitar lima menit dari parkiraan. Saat menuruni tangga menuju air terjun pertama, saya melihat banyak sekali pohon-pohon duren. Tapi sayang, pohonnya belum berbuah karena belum musimnya. 

Kita lupakan buah duren di otak dulu. Fokus ke arah mana kami menuju Air Terjun Tibu Kelambu. Setelah menuruni tangga, kami kebingungan. "Kemana nih arah kami selanjutnya ?". Ingin bertanya, tapi gak ada satu pun pengunjung lain untuk tempat kami bertanya. 

Saya curiganya mendengar suara air jatuh dan melihat jembatan bambu yang lumayan kokoh. Berhubung membawa anak kecil, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di bebatuan sungai yang airnya gak terlalu deras. Setelah beristirahat, saya dan Mas Junk berinisiatif mencari posisi air terjun misterius itu. Akhirnya saya dan Mas Junk berpencar. Saya menyeberangi jembatan bambu, sedangkan Mas Junk melewati jalur tanah yang mencurigakan di balik semak-semak. 

"Terus, si abang dokter bersama keluarganya gimana ?". Mereka sih asyik bersantai makan dan main air di sungai sambil menunggu saya dan Mas Junk mencari lokasi air terjun. Berhubung debit air sungai kecil, jadi sangat aman untuk anak-anak kecil mandi disini. Mereka pun memutuskan gak ikut dengan kami berdua turun tebing. Akhirnya. 

Lanjut !

Saat saya menyeberangi jembatan bambu, saya melihat ke arah bawah. Ternyata air terjunnya tepat di bawah jembatan bambu ini. Gila, ini namanya niat banget nyari air terjun sampai main petak umpet segala. Selanjutnya saya mencari jalur menuju ke bawah. Jalur yang saya pilih yaitu menuruni tebing sampai rela basah-basahan menyeberangi sungai dengan kedalaman sepaha orang dewasa.




Itu cerita saya, "Gimana dengan cerita Mas Junk ?".

Jalur yang dilalui si Mas Junk cukup menegangkan. Awalnya sih sama seperti saya yang menuruni tebing. Tapi, eh ada tapinya. Saat akan menuju sungai, ada sebuah jembatan kayu yang sudah rusak. Jarak antara tebing dan jembatan kayu cukup terjal. Kerennya, si masnya menggunakan jurus Spiderman. Bayangin dah sendiri gimana cara Spiderman nempel di tebing,hehehe. Syukurnya, kami berdua selamat sampai di lokasi Air Terjun Tibu Kelambu. Demi sebuah keindahan, rela dah kotor dan basah-basahan. 

Dari cerita teman-teman yang sudah menulis perjalanan ke air terjun ini, memang sangat kece ini destinasi. "Cara buatnya gimana ya ?". Hanya Allah SWT yang punya jawabannya. Kita hanya bisa selalu bersyukur dan menjaga keindahan ini biar tetap indah dan lebih kece lagi. Amiin (jadi pak ustad broo?). 

"Kenapa dinamakan Air Terjun Tibu Kelambu ?". Tibu sendiri berarti air yang jatuh, sedangkan kelambu berarti tirai atau kain yang menutupi. So, arti dari Tibu Kelambu yaitu air terjun yang tertutup seperti kelambu karena air terjun ini posisinya terjepit oleh bebatuan sehingga susah terlihat alias bersembunyi. Nah, itu menurut saya sendiri sih. Semoga pendapat saya bener itu artinya,hehehe. 





Jujur, baru kali ini saya mendapatkan hasil foto yang kece di lokasi air terjun. Berkat dari tangan Mas Junk sang calon fotografer pro, saya dapat foto yang bisa dibilang cukup untuk dipamerin lah,hehehe...peace. Apalagi penampakan Air Terjun Tibu Kelambu sangat instagrammable banget. Selain memiliki bentuk yang keren, air terjun ini juga memiliki kolam alami yang berwarna jernih kehijauan dan dingin menyegarkan. Datang di waktu musim kemarau, cukup beruntung sih karena aliran sungai gak terlalu deras, sehingga kita dapat mengatur kamera untuk mendapatkan hasil foto yang kece. 

Kesempurnaan itu gak seratus persen. Mirisnya di lokasi, saya sempat melihat sampah-sampah yang dibuang sembarangan. Ayok, please !. Kalian yang merasa pecinta alam atau suka traveling, minta bantuannya untuk kalian bawa sampah dan membuangnya di tempat yang sudah disediakan !. Kalau bahasa gaulnya, "Loe Gak Keren Kalo Nyampah Sembarangan Brooo !!!"

Gak perlu panjang lebar lagi saya menulis tentang keindahan air terjun ini. Cukup melihat foto-foto kece di postingan ini saja sudah membuat kemupengan teman-teman pembaca setia blog lazwardyjournal.com untuk segera datang ke tempat ini. 

Air Terjun Tibu Kelambu sudah lama ditemukan, tapi baru beberapa bulan ini naik pamornya ke permukaan. Berkat adanya Instagram dan cerita-cerita teman blogger yang lebih dulu datang kesini, saya baru tau ada air terjun kece yang dekat dari rumah. Gak perlu jauh-jauh jelajah air terjun, di dekat kota juga masih banyak yang belum saya ketahui.

Next time... saya akan datang kembali dan mencari lagi air terjun yang belum dijelajahi. Katanya sih di lokasi ini masih banyak air terjunnya, "jadi penasaran kan ?",hehehe...sama saya juga.  Cerita saya di postingan berikutnya tentang Air Terjun Tibu Tereng masih dengan waktu yang sama dan rombongan yang sama juga. Comming Soon !. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Thursday, 26 July 2018

Bersantai di Cafe Rasa Rumah Sendiri : Bites Cafe Lombok


Berawal dari buka instagram, saya melihat ada sebuah cafe yang baru beberapa bulan ini sudah buka. Dari akun ig nya : @bitescafelombok, saya jadi tertarik untuk datang. Dari foto-foto yang sudah diunggah sih sangat menarik dan menggoda. Saya pun mencoba untuk mengirim pesan ke admin akunnya. Isi pesannya apa ?. Rahasia doang,hehehe.

Kebetulan saya punya jadwal ngumpul bareng sahabat trip dan gokil-gokilan, Si Ocha, Eza, Mbak Novi dan Mas Junk di keesokan harinya. So... Bites Cafe ini menjadi korban kami selanjutnya (kayak nyidak aje). Bites Cafe berlokasi di Jalan Sriwijaya St.2E Taman Baru, Kota Mataram. Tepatnya di samping Woods Barbershop (tempat nyukur rambut ala-ala jaman now). Kalau masih bingung, kalian bisa buka Google Maps. 




Dilihat dari bentuk ruangannya, cafe ini bisa dibilang mini cafe. Gak seperti cafe-cafe pada umumnya yang memiliki ruangan yang cukup luas dan terdiri dari beberapa meja dan kursi. Bites Cafe hanya memiliki dua tempat duduk untuk empat sampai lima orang. Di pinggiran jendela kaca, ada meja panjang dan bangku bagi yang ingin bersantai sambil ngecas hp atau laptop. Sedangkan di bagian depan ruang dalam, ada beberapa meja dan kursi bagi ahli hisap alias bagian outdoornya. 

Di beberapa dinding ruang dalam, terdapat beberapa lukisan berbingkai, panjangan berupa buku-buku dengan miniatur sepeda ontel dan hiasan lainnya. Semuanya menambah unsur klasik dari ruangannya. Cafe ini   tenyata terhubung dengan ruang Woods Barbershop. Usut punya usut, ternyata pemilik barbershop tersebut adalah pemilik cafe ini juga. So.. bagi kalian yang sedang menunggu antrian, bisa bersantai sejenak sambil mencoba beberapa menu yang ada biar gak membosankan. 




Yang saya suka dengan cafe ini yaitu ruang dalamnya alias ruang utamanya. Gak luas memang, tapi terasa seperi ruang privasi, mirip ruang tamu lengkap dengan bar mini. Ruangan yang adem, tenang, gak ribut sama pengunjung lainnya dan lagu-lagu yang kita dengar semuanya lagu berjenis klasik. 

Untuk mencari spot foto, kita gak perlu bingung lagi. Ruangan di Bites Cafe sengaja didesain untuk para Kids Jaman Now yang doyan eksis dan berfoto ala-ala anak instagram. Bagi kalian yang tertarik datang ke Bites Cafe, saya kasi contoh beberapa gaya berfoto di cafe ini (lihat foto di atas). 

Ada gaya bersantai di sebuah sofa sambil membaca buku (pencitraan), ada juga yang baca buku di depan jendela sambil memandang keluar jendela (mandangin orang pacaran) dan ada yang lebih parah yaitu fotoan ala-ala anak galau yang liat hp mulu, berharap si doi cepat bales chatnya (sering dialami oleh banyak orang). Gimana, kalian suka gaya fotoan yang mana ?. Mungkin juga ada yang punya gaya lain, bisa dishare nanti.




Nongkrong asyik gak lengkap rasanya kalau gak mencoba menu-menu favorit yang ada. Beberapa menu yang ada, kami coba pesan. Untuk cemilannya, ada Chocolate Cake with Ice Cream, Meatballs with BBQ Sauce, Samosa dan Pannacota Vanilla. Sedangkan minumannya kami memesan Ice Tea dan Hot Cappucinno. Gak banyak pilihan menu memang, tapi itu sudah cukup buat kami. 

Rekommended yang mana ?. Menurut saya yang wajib kalian coba kalau datang ke cafe ini yaitu Chocolate Cake with Ice Creamnya. Rasanya enak dan gak buat enek. Porsinya juga gak terlalu besar, jadi pas buat kita yang lagi proses diet. Semua menu disini, porsinya gak terlalu besar. Jadi gak perlu khawatir berat badan naik,hehehe. Soal harga, semuanya terjangkau buat mahasiswa dan pekerja alias ramah di dompet. 

Pelayanan selama kami di cafenya cukup memuaskan. Gak lama menunggu, pesanan kami sudah datang sesuai dengan apa yang diorder. Karena cafe ini masih tahap promosi, seorang karyawan cafenya menawarkan kami untuk berfoto bersama. Enaknya lagi, kami dipersilahkan untuk berfoto sepuasnya di dalam cafe. Kecenya, hanya kami yang ada di dalam ruangan dalam. Kebanyakan pengunjung lainnya berada di ruangan luar. So..bisa ribut bareng, curhat bareng dan ujung-ujungnya curhatin mantan (bukan saya tapi yang curhat).

By the way, gak banyak yang saya bisa ceritakan ke kalian tentang cafe ini. Kalau penasaran, langsung tancap gas ke Bites Cafe Lombok !.Tempat nongkrong rekommended bareng gebetan dan sahabat tercinta. Gak rekommended buat nongkrong bareng selingkuhan karena jendelanya tembus pandang,hahahaha. (Ngacoo...)

Catatan:
- Buka dari jam 10 pagi sampai 10 malam
- Menerima orderan Go-Food dan M-Jek
- Free Pengamen
- 100 % HALAL


Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Sunday, 22 July 2018

Nongkrong Asyik di Berugaq Elen, Batu Layar


Nongkrong asyik di pantai sambil menikmati kelapa muda dan sunset atau nongkrong di sebuah cafe bareng teman-teman atau gebetan mungkin sudah hal yang biasa dilakukan. Menghabiskan waktu gak hanya itu saja. Kita bisa memanfaatkan waktu luang dengan berolahraga, membaca buku, menonton film dan lainnya (kegiatan yang positif).

Pengen bersantai tapi dengan suasana baru dan kece, ada gak ?. Jawabannya "ada dong". Nah hubungannya dengan beberapa hal di atas, saya punya tempat baru nih buat kita-kita yang bosan dengan rutinitas yang gitu-gitu saja.

Pulau Lombok memang gak ada habisnya untuk diceritakan yang bisa buat siapa saja tertarik untuk datang. Di Bulan ini (akhir Bulan Juli), saya menemukan tempat nongkrong yang bisa dibilang berbeda dari biasanya (menurut saya).

Tempat nongkrong yang kece,  sebut saja namanya Berugaq Elen. Berugaq Elen memiliki arti gazebo sejuk atau adem, hahaha lucu juga kalau diartikan ke Indonesia. Lokasinya berada di atas Bukit Batulayar,  Lombok Barat. Untuk menuju kesini, kalian bisa melewati Jalur Kota Mataram - Senggigi Beach.

Jalur menuju kesini gak susah kok. Bagi kalian dari Kota Mataram, kalian bisa memilih jalur ke Senggigi. Gak ada papan petunjuk menuju tempat ini. Jadi kalian harus baca baik-baik petunjuk yang saya tulis !.

Lanjut... !.

Setelah sampai di kantor Camat Batulayar, disamping kiri kantor camat, ada jalan kecil menuju Melase Hill dan Rara Villa. Kondisi jalannya sudah beraspal dan mulus. Berbeda dengan beberapa tahun yang lalu, saat saya menulis tentang Rara Villa. Dimana kondisi jalannya dulu sangat menantang dan masih dalam proses perbaikan.

Bisa baca di postingan : Rara Villa,Senggigi





Lain dulu lain cerita sekarang. Dimana jalur menuju lokasi sudah mulus. Jangan senang dulu mbak bro. Jalur yang kita lalui masih cukup menantang, walaupun sudah beraspal mulus. Karena trek jalurnya menanjak dan berkelok-kelok, dibutuhkan kondisi kendaraan yang prima. Kita bisa menggunakan kendaraan pribadi roda dua maupun empat. Berhubung ini jalur pedesaan, gak ada akutan umum menuju ke lokasi. 

Jalurnya pun sering digunakan oleh para pecinta olahraga ekstrem yaitu skateboard. Bila menjelang sore, para pecinta skateboard sudah bersiap-siap untuk meluncur. So, yang kebetulan melintas harap hati-hati ya, soalnya mereka meluncur dengan kecepatan yang sangat tinggi. Saya saja pengen nyoba olahraga ini, pengen beli alat skateboardnya. Harganya berapaan yaak ? Malah ngebahas skateboard,hehehehe. 

Kembali ke laptop !

So, lokasinya berada sekitar dua ratus meter sebelum Rara Villa. Sebuah warung sangat sederhana yang berada di atas perbukitan. Pemiliknya bernama Haji Basar, seorang warga asli Batu Layar. Saya memanggilnya Pak Haji. Beliau bercerita kalau tempat ini sudah lama ada. Tempat ini dijadikan warga lokal atau pengunjung yang kebetulan lewat untuk bersantai sejenak sambil menikmati pemadangan. Tapi saat ini, beliau menambahkan beberapa fasilitas untuk siapa saja yang datang, betah berlama-lama nongkrong.

Selain bangunan warung, ada beberapa gazebo yang dibuat dari potongan bambu dan rotan. Gazebonya pun unik, gak ada atap dan dibangun di pinggir tebing. Lokasinya persis di pinggir jalan raya. Ada empat gazebo yang beliau buat untuk tempat pengunjung bersantai.  





Sabtu Sore

Saya bareng Mas Junk dan Ocha, sengaja datang agak siang biar dapat tempat duduk. Kami bertiga menggunakan sepeda motor. Suasana sore itu cukup cerah, meskipun jalur menuju Senggigi sedang macet-macetnya. Saya pun heran sekarang ini sering sekali terjadi kemacetan di jalur menuju Senggigi. Bangga sih iya, tapi prihatin juga ada. Prihatinnya, Pulau Lombok yang kita kenal memiliki udara yang sejuk dan polusi udara yang sedikit, saat ini sudah mirip seperti Jogya atau Denpasar. Bangganya, sudah banyak orang yang datang ke Pulau Lombok. 

Setelah bebas dari kemacetan, gak lama lagi kami sampai di lokasi. Melewati jalan yang menanjak dan berkelok-kelok, gak terasa kami sudah sampai di atas bukit. Bagian barat, pemandangan laut Selat Lombok yang sangat indah. Pantai Senggigi terlihat jelas dari sini. Sedangkan di sebelah timur, kita bisa melihat pemandangan Kota Mataram dari atas bukit. Keren !.

Sesampainya di lokasi, sudah banyak pengunjung yang nongkrong. Wah ramai juga ya, gak nyangka jam segini sudah banyak yang datang. Mereka ada yang habis joging sore, nongkrong bareng temen-temen, ada yang sambil baca novel dan ada juga yang bareng gebetan. Mungkin kalau nongkrong bareng gebetan di jam-jam segini saya rasa kurang pas,hehehe. 

Kami bertiga mencari spot untuk bersantai. Untungnya kami mendapat tempat duduk yang pas. Pas untuk melihat sunset dan pas untuk melihat kelap-kelip hamparan lampu Kota Mataram saat malam harinya. Sepintas saya membaca sebuah tulisan yang sangat menarik. Ternyata di Warung Pak Haji Basar ada Wifi gratisnya lhoo. Wifi gratis tapi syaratnya harus belanja, hehehe. Pas saya coba, ternyata kenceng sinyalnya. Bisa download macem-macem nih (jangan ngeres dulu).




Namanya warung sangat sederhana, menu-menu makanan dan minumannya pun gak macem-macem. Kalau kalian nyari nasi goreng, pizza atau bebek goreng, mohon maaf gak ada disini. Warung Pak Haji Basar hanya menjual es kopi sasetan, kopi Sasak, berbagai macam jenis snack dan mie goreng (Indomie). Bagi yang gak doyan ngopi, disini ada kelapa muda juga lhoo. Soal harga mah, sangat sederhana dan ramah di dompet.

Kami memesan segelas es Nutri Sari, es Capucinno, Kelapa Muda dan Mie Goreng. Pak Haji Basar sangat ramah kepada kami dan pengunjung lainnya. Seperti sudah kenal lama sekali. Pelayanannya pun sangat cepat dan tepat. Apa yang kami pesan sesuai dengan apa yang dibuat. Salut buat Pak Haji, meskipun hidup seorang diri dan tinggal menyatu dengan warungnya, gak membuat Pak Haji berkeluh kesah. Justru karena punya jiwa seni, mengubah warungnya menjadi tempat yang sangat rekommended buat kalian kunjungi. Gak butuh modal besar kok. Yang penting pinter memilih lokasi, tekun dan doa, itu saja sudah cukup.

Cuaca sore itu cukup cerah, kami memutuskan untuk bermalam minggu di lokasi ini. Rasanya malas melakukan apa-apa selain menikmati sunset sambil duduk santai di atas gazebo. Semakin sore, para pengunjung semakin ramai saja. Senja yang cantik meskipun sunsetnya gak terlihat jelas.



Yang tadinya kami menghadap ke arah barat sambil memandangi lautan yang sangat luas. Gelap pun datang, kami berganti memandang ribuan cahaya lampu dari Kota Mataram di sebelah timur bukit. Banyak orang yang menyebut tempat ini "Bukit Bintang". Alasannya, karena ribuan cahaya lampu Kota Mataram mirip seperti bintang yang jatuh dari langit. Sungguh pemandangan yang sangat indah malam itu. 

Dari kejauhan kita bisa melihat sebuah bangunan yang memiliki cahaya paling terang diantara cahaya-cahaya lainnya. Itulah cahaya dari Masjid Hubbul Wathan, Islamic Center. Masjid yang sudah menjadi ikon dari Pulau Lombok. Masjid terbesar dan termegah, kebanggaan masyarakat Pulau Lombok dan Sumbawa. 

Asyiknya lagi, disini udaranya gak begitu dingin. Yang ada kami merasakan angin pantai yang sepoi-sepoi menyentuh kulit dan rambut. Bagi yang hobi jepret-jepret, disini spot terbaik buat kalian kunjungi. Bisa dibilang paket lengkap, dapat pemandangan pantai, sunset, pemandangan Kota Mataram saat malam hari dan sunrise saat paginya. Kece gak tuh !

Ada rencana buat kami untuk bermalam disini suatu saat nanti. Sepertinya kalau ngecamp asyik kali yaak di Berugaq Elen "Bukit Bintang". Comming Soon !.

Setelah puas mengambil foto malam dengan berlatar Kota Mataram, kami bertiga memutuskan untuk pamit ke Pak Haji Basar. Pak Haji Basar yang sedang ngobrol-ngobrol bareng warga desa yang kebetulan sedang ngumpul menikmati suasana malam minggu, melempar senyum kepada kami. Gak lupa juga ucapan salam ketika pamit. 

Waktu menunjukkan jam sembilan malam waktu setempat, kami bertiga kembali ke Kota Mataram. Sejauh ini cerita kami bertiga di Berugaq Elen "Bukit Bintang" memuaskan dan kece. Rekommended buat kalian !

Penulis : Lazwardy Perdana Putra