Saturday, 19 May 2018

Menyusuri Jalanan Kota Makassar


Jalan-jalan ke salah satu kota besar baik di Indonesia maupun di luar negeri, gak lengkap rasanya gak menyusuri jalanan yang ada disana. Mencari spot-spot kece salah satu sudut kota sampai mencari keunikan yang ada dan bisa didokumentasikan. Ujung-ujungnya mupengin kalian semua,hehehe.

Cerita kali ini masih tentang jalan-jalan saya di Kota Makassar. Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan ini bisa dibilang salah satu kota besar dan tersibuk di Indonesia khususnya Indonesia bagian timur. Kota Makassar banyak menyimpan sejarah pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pahlawan yang kita kenal dari Kota Makassar yaitu Sultan Hasanuddin. Seorang pahlawan nasional yang berjuang mati-matian melawan penjajah demi kemerdekaan Indonesia. 

Jujur, saya masih asing dengan kota ini. Maklum saja, ini kedua kalinya saya menginjakkan kaki di kota ini dan masih belum hafal bener sama jalanan disini. Untuk lebih mengenal kota ini, saya mengajak Mbak Luh (calon kakak ipar) untuk mengexplore salah satu kompleks di Kota Makassar menggunakan becak. Berhubung ada waktu buat jalan-jalan sebelum balik ke Lombok, kami berdua berencana menuju ke dua tempat yang sayang kalau gak didatangi. 









Sekitar jam sembilan pagi, saya mengirim pesan ke Mbak Luh untuk mengajak dia nemenin saya jalan-jalan. Untungnya mbaknya mau dan memang gak ada kegiatan hari itu. Sedangkan teman-teman yang lain sedang sibuk sama jalan-jalan mereka ke tempat berbeda, hehehe. Berangkat dari hotel dengan berjalan kaki menyusuri Jalan Kajaolalido. Awalnya sih pengen jalan kaki, tapi cuaca saat itu panas banget dan polusi dimana-mana. Kami berdua akhirnya mencari alat transportasi khas dari kota ini. Alat transportasi tradisional yang ada di kota ini salah satunya bentor dan becak. Bentor adalah alat transportasi mirip becak tapi menggunakan sepeda motor. Bedanya bentor tanpa dikayuh, sedangkan becak dikayuh. 

Karena lama menunggu si bentor lewat, akhirnya kami menggunakan becak saja. Kebetulan bapak yang punya becak menghampiri kami dan menawarkan mencari oleh-oleh dan ke Benteng "Fort Rotterdam". 

Saya : "Kalau ke pusat oleh-oleh dan ke benteng, berapaan pak daeng?"
Bapak Becak : "Bayarnya berapa-berapa saja daeng".

Daeng adalah sebutan bangsawan seorang laki-laki yang sudah dewasa di Sulawesi Selatan. Tadinya keberatan dipanggil "daeng", tapi berhubung papa punya garis keturunan bangsawan Sulawesi dari Suku Bajo. So...gak apa-apalah, lagian rasanya kita sangat dihargai sama penduduk setempat dipanggil "daeng",hehehe. 

Bisa dibilang menggunakan becak atau alat transportasi di Kota Makassar gak mahal-mahal banget. Bayar berapa saja, seikhlasnya. Tapi dilihat dari bapak becaknya yang sudah tua, gak mungkilah saya memberikan upah seikhlasnya. Pastinya upah sesuai dengan jarak yang ditempuh. Disini memang gak ada standar harga, jadi bayar seikhlasnya. 

Si bapak becak (saya lupa namanya), mengantarkan kami ke salah satu pusat oleh-oleh yang cukup terkenal di Kota Makassar, sebut saja Somba Opu. Kurang lebih lima belas menit dari hotel, kami berdua sudah berada di kawasan Somba Opu, gak jauh memang. Gak hanya mengantarkan ke Somba Opu saja, si bapak becak mengantarkan kami salah satu toko yang menjual berbagai macam oleh-oleh khas Makassar. 

Baiknya lagi, si bapak menunggu kami berbelanja dengan sabar. Bisa dibilang Si bapak jadi tour guide kami saat itu. Karena ada beberapa oleh-oleh titipan yang belum sempat saya beli, disini apa yang kita cari ada semua. Saya membeli dua buah kaos dan kain tenun khas Makassar. Pilihan kainnya sangat beragam dan tergantung selera. Soal harga, gak terlalu mahal alias harga standar pengunjung. 










Setelah puas berbelanja dan apa yang dicari sudah didapat, kami bertiga melanjutkan perjalanan ke benteng "Fort Rotterdam". Waktu sudah menunjukkan jam sepuluh pagi, masih ada waktu untuk mengexplore benteng yang sudah sangat terkenal hingga ke rumah saya,hehehe. 

Fort Rotterdam atau warga lebih mengenalnya dengan sebutan Benteng Ujung Pandang. Terletak di Jalan Ujung Pandang No 1, Kota Makassar. Menurut sejarah, benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa 'risi'kallona. 

Bila dilihat dari atas udara, secara keseluruhan bentuk benteng ini menyerupai "penyu". So..orang Gowa dan Makassar masa lalu menyebut benteng ini dengan sebutan Benteng Panyyua atau Penyu. Dulu benteng ini dijadikan markas pasukan katak Kerajaan Gowa. Sejak penjajah Belanda menguasai dan menduduki benteng ini, Benteng Ujung Pandang berubah nama menjadi Fort Rotterdam. 

Kita menyebutnya dengan sebutan "Fort Rotterdam" saja ya ? Sepakat !!!

Di depan bangunan benteng terdapat tulisan tiga dimensi "Fort Rotterdam". Kece nih selfie dan foto-foto disini. Apalagi kami berdua datang dari pulau seberang "Pulau Lombok", jadi wajib eksis fotoan disini. Setelah fotoan di depan bangunan, kami berdua memasuki kawasan benteng. Pintu masuk benteng Fort Rotterdam merupakan benteng setinggi tiga meter. Pengunjung dipersilahkan untuk mengisi buku tamu sebelum masuk ke dalam benteng dan gak dipungut biaya sepeserpun untuk masuk ke dalam.

Memasuki area ditengah benteng, kita disambut dengan halaman yang penuh ditumbuhi rumput-rumput hijau dan taman yang tertata rapi. Taman ini dikelilingi oleh bangunan-bangunan klasik yang masih terjaga bentuk dan sangat terawat. Terlihat bahwa benteng ini berfungsi sebagai "Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan" dibawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 





Area taman dikelilingi oleh bangunan lantai dua, sementara tembok setinggi tiga meter mengelilingi Fort Rotterdam. Bagi kalian yang hobi fotografi, tempat ini sangat cocok untuk didokumentasikan. Apalagi para model Jaman Now maupun Jaman Old, pas banget untuk eksis disini. 

Beberapa spot foto dari bangunan ini gak lupa saya abadikan. Lagi-lagi Mbak Luh yang menjadi korban jepretan kamera dslr dan go pro yang saya bawa. Jepret sana jepret sini. Meskipun terik matahari yang menyengat, kami berdua gak pikirin. Paling penting dapat foto kece buat kenang-kenangan,hehehe.

Di dalam Fort Rotterdam terdapat musem bernama La Galigo. Di dalam museum yang terasa hening dan sunyi, kita dapat melihat perjalanan sejarah masyarakat Sulawesi Selatan. Terdapat juga beberapa benda peninggalan berupa kapak, mata panah, patung dan masih banyak lagi. 

Museum La Galigo juga menampilkan kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan yang sebagian besar adalah pelaut ulung. Terlihat dari miniatur Kapal Phinisi terpajang di salah satu sudut museum yang menggambarkan masyarakat Sulawesi Selatan adalah pelaut.




Setelah keluar dari Museum La Galigo, dari kejauhan saya melihat beberapa pengunjung yang memakai pakaian adat Sulawesi Selatan. Pakaiannya pun berwarna-warni. Saya pun penasaran dan mencoba untuk berinteraksi dengan mereka. 

Setelah bertanya-tanya, mereka adalah pegawai dari instansi terkait dan saat itu sedang ada kegiatan pemotretan. Tujuan pemotretannya saya kurang jelas, mungkin saja untuk keperluan instansi mereka atau untuk ucapan "Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan", entahlah hehehe. Kami berdua menyempatkan untuk foto bareng dengan mereka. 

Kami memberitahukan kepada mereka bahwa kami dari Pulau Lombok. Mereka semua kaget dan pengen banget ke Pulau Lombok. Saya sangat senang saat itu, ternyata Pulau Lombok sudah kece dan mulai dilirik oleh masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Makassar. 

"Ditunggu liburannya ke Pulau Lombok bu dan bapak daeng !" hehehe

Waktu sudah beranjak siang hari, kami berdua memutuskan untuk kembali ke hotel. Lagian si bapak becak sudah lama menunggu di depan benteng. Kembali ke hotel sambil menikmati kesibukan Kota Makassar siang itu dari atas becak. 

"Terimakasi Bapak Becak, sudah mengantarkan kami mengunjungi dua tempat yang sangat kece !".

Cerita saya jalan-jalan di Kota Makassar belum selesai, masih ada kelanjutannya. Next...tentang kulinernya. Comming Soon !!! 

Catatan :
- Buka saat jam kantor : 08.00 WITA - 16.00 WITA
- Berjarak 1 km dari Pantai Losari
- Waktu tempuh 30 menit dari Bandara Sultan Hasanuddin
- Waktu tempuh 15 menit dari Pelabuhan Soekarno Hatta

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Wednesday, 16 May 2018


Dibilang mimpi juga gak, tepatnya sih rezeki anak sholeh. Beberapa hari yang lalu, saya ditugaskan untuk berangkat ke Kota Makassar untuk studi banding ke salah satu rumah sakit disana. Jalan-jalan dibayar sama pemerintah, hehehe.

Saya gak sendirian, kami bersepuluh mendapat amanat untuk melaksanakan tugas negara. Sambil menyelam minum air, bertugas rasa liburan lebih tepatnya. Kurang lebih tiga hari dua malam saya bersama rombongan berada di kota yang terkenal dengan Pisang Ijo dan Pisang Epenya ini. Kalau ngomong soal kuliner, Kota Makassar banyak memiliki makanan khas yang cukup terkenal. Selain kuliner, Kota Makassar juga terkenal dengan Pantai Losarinya. Dapat tugas ke Kota Makassar, dibayangan saya langsung terlintas Pantai Losari. 

Berangkat ke Makasar, saya pun langsung membuat list mau kemana saja nantinya. Pantai Losari adalah tujuan utama karena saya sangat penasaran sama pantai ini. Kok bisa seterkenal sekarang, sampai ada lagu dangdut yang judulnya "Pantai Losari", hebat kan ? (ketauan doyan lagu dangdut).

Apa saja sih yang keseruan saat berada di Pantai Losari ?. Yuuk..dibaca terus sampai habis !.





Rombongan kami menginap di Hotel Singgasana. Gak terlalu jauh dari Pantai Losari. Katanya sih bisa jalan kaki. Berhubung saya belum paham jalanan Kota Makassar dan dikejar waktu juga, akhirnya kami menyewa ojek mobil online. Gak mahal-mahal amat kok. Hanya 13K, kami dijemput di hotel dan turun tepat di pintu gerbang pantai. Pelayanannya juga cepat, pesen lewat aplikasi dan langsung direspon, Jaman Now.

Kami datang ke pantai ini di hari terakhir sebelum kami balik ke Lombok. Berhubung di hari sebelumnya, Kota Makassar turun hujan sorenya. So.. ke Pantai Losarinya ditunda keesokan harinya. Gak mau menyia-nyiakan waktu, saya mengajak teman-teman habis subuh jalan pagi ke pantai ini. Akhirnya kesampaian juga dapat menikmati kesejukan Kota Makassar di pagi hari. 

Setibanya di sepanjang Pantai Losari, suasana masih sepi. Hanya ada beberapa pengunjung yang datang untuk joging, bersantai bersama keluarga dan ada juga yang pagi buta sudah kencan sama gebetan. Ternyata disini banyak juga Kids Jaman Now,hehehe. Ngenesnya lagi saya datang kesini bareng emak-emak eksis semua. Tadinya pingin cuci mata, siapa tau ada cewek yang bening-bening. Eh..ujung-ujungnya jadi tukang jepretin emak-emak eksis,hehehe...peace

Embun pagi, lantai yang masih basah diguyur hujan semalam dan angin pantai yang sepoi-sepoi menyapa kami berempat saat berada di lokasi. Gak lama kemudian, langit berubah menjadi kuning orange dan sinar matahari muncul menyinari kami. 









Sepanjang jalan di Pantai Losari, banyak sekali ornamen atau patung yang menjadi landmark Kota Makassar. Contohnya saja seperti foto di atas, ada patung perahu pinisi yang sangat melegenda dan menjadi ciri khas dari Kota Makassar. Ada juga beberapa tulisan tiga dimensi yang berukuran besar seperti tulisan Bugis, City of Makassar dan masih banyak lagi patung-patung lainnya. 

Beruntungnya kami datangnya habis subuh dan di hari kerja. So... gak banyak pengunjung yang datang dan kami bisa mengexplore Pantai Losari dengan leluasa. Gak kebayang kalau di hari libur. Dari pagi sampai malam, pantai ini selalu penuh dengan pengunjung. Di beberapa artikel wisata yang bercerita tentang pantai ini, bila sudah hari libur, untuk jalan pun kita bisa kesusahan karena terlalu banyak pengunjung yang datang dan macet oleh kendaraan. Untung ya ? hehehe. 

Kalau malam di sepanjang jalan Pantai Losari banyak sekali penjual jajanan khas Makassar. Ada Pisang Epe, Coto Makassar, Mie Titi, Sop Saudara dan masih banyak lagi yang lainnya. Bisa dibilang, tempat surganya kuliner. Beruntungnya lagi, saya dapat mencicipi kelezatan Pisang Epe. Saya mencicipi Pisang Epe rasa cokelat, enak beneran. Nanti kalau kalian datang ke Makassar, wajib coba yang namanya Pisang Epe. Rekommended.  




Di sisi sebelah selatan dari Pantai Losari, berdiri sebuah masjid yang bernama "Masjid Amirul Mukminin". Bentuk masjid yang sangat unik. Memiliki dua kubah berwarna biru dan dua menara yang berada di kiri kanan bangunan masjid. Dibangun di atas air dengan pondasi dari puluhan tiang beton yang kokoh. Masjid Amirul Mukminin memiliki sebutan kece yaitu Masjid Apung (Terapung). Meskipun gak terapung sepenuhnya, tapi masjid ini bisa dibilang satu-satunya masjid yang dibangun di atas air di Kota Makassar. Di tempat tinggal saya saja gak ada masjid seperti ini. 

Sayangnya, saya belum sempat masuk ke dalam masjid. Next... kalau ke Kota Makassar lagi, wajib hukumnya shalat di masjid apung ini. Masjid Amirul Mukminin dibuka untuk umum saat waktu shalat tiba. Memiliki dua pintu gerbang utama. Satu di sisi kanan dan satunya di sisi kiri. 

Meskipun gak sempat masuk, dari kejauhan masjid apung ini sudah terlihat cantik dan kece. Untuk background foto cocok banget. Apalagi yang doyan maen instagram, hukumnya wajib fotoan disini. Waktu yang pas fotoan di masjid apung yaitu sore hari menjelang senja tiba dan pagi hari sambil menikmati sunrise. 



Dibalik keindahan Pantai Losari, ada yang membuat saya agak sedikit kurang puas saat memandangi lautan disini. Saat ini di hadapan Pantai Losari, sedang dibangun beberapa bangunan yang mirip dengan kubah masjid dan sebuah jembatan bentuk khas Toraja. Dulunya bangunan ini gak ada dan semuanya lautan. Dari Pantai Losari, kita bisa melihat kapal-kapal besar lalu lalang dan indahnya lautan Selat Makasar. Tapi dengan adanya Reklamasi, pemandangan yang tadinya indah, berubah kurang indah (menurut saya sih).

Semoga saja kedepannya tempat ini menjadi jauh lebih indah meskipun adanya reklamasi. Sayang saja sih, nama Pantai Losari yang sudah terkenal sampai rumah saya, jadi kurang indah dan ujung-ujungnya orang gak bisa melihat sunset lagi akibat terhalang dengan bangunan-bangunan yang ada. 

Selain reklamasi, saya juga melihat beberapa di antara bangunan disini terdapat bekas coretan tulisan-tulisan yang gak jelas oleh orang yang gak bertanggung-jawab. Sayang sekali kan, sudah bangun capek-capek, eh ada orang jahil yang gak bertanggung-jawab sengaja merusak keindahan dari Pantai Losari. Harapan saya sih pengelola Pantai Losari bisa menjaga dan melestarikan pantai ini semakin baik lagi, itu saja sih. Dimana ada kelebihan, disitu juga ada kekurangan. Hidup gak ada yang sempurna. Sempurna hanya milih Allah SWT. 

Kebetulan juga sudah memasuki Bulan Suci Ramadhan. So... bagi kalian yang kebetulan datang berlibur atau tugas dinas ke Kota Makassar, gak ada salahnya dong ngabuburit ke Pantai Losari. Ngabuburit ke Pantai Losari sambil mencari takjil untuk berbuka puasa. Pantai Losari merupakan tempat favorit masyarakat Kota Makassar untuk menunggu datangnya waktu berbuka puasa. Jangan lupa nyobain Pisang Epe yaak !. hehehe.

Itu dulu cerita pertama saya tentang Kota Makassar. Next.. ada cerita yang lebih seru lagi, masih tentang Kota Makassar dong. Comming Soon !!!

"Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan"

"Marhaban Ya Ramadhan"

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Thursday, 10 May 2018

Bertugas di KRI dr.Soeharso 990 : MNEK 2018


"Ayo serang, tembaaaakk !!!".

Sudah cocok belum gaya saya seperti foto di atas ?,hehehe.. (jawabnya di kolom komentar). Foto di atas hanya adegan saja. Gak beneran dan hanya rekayasa semata, mirip pencitraan gitu lah. Lagian kalau beneran nembak, sasarannya paling mbaknya yang manis berdiri di pagar pembatas anjungan,hehehe #Abaikan.

Langit cerah dan teriknya matahari mengiringi langkah kaki menuju sebuah tempat yang bisa dibilang sangat luar biasa di catatan traveling saya selama ini. Hari Minggu yang lalu, tanggal 6 Mei 2018, saya bersama rombongan rumah sakit tempat saya bertugas, melaksanakan pengabdian masyarakat di wilayah Lombok Utara. Kami satu tim mendapat tugas melakukan operasi katarak gratis. Kegiatan ini merupakan salah satu agenda dari MNEK 2018. Ada yang bertanya, apa itu MNEK 2018 ?. MNEK 2018 memiliki kepanjangan yaitu Multilateral Naval Exercise Komodo 2018. Berhubung kepanjangan kalau dieja, jadi sebut saja MNEK 2018, Sepakat !.

Di tahun ini, Pulau Lombok mendapatkan kesempatan untuk menjadi tuan rumah di event internasional dua tahunan ini. Sejak tanggal 29 April 2018 lalu, puluhan kapal perang dari berbagai macam negara sudah tiba di Pelabuhan Lembar, Kabupaten Lombok Barat. MNEK 2018 resmi dibuka Hari Jumat, tanggal 4 Mei 2018. Dalam acara pembukaan MNEK 2018, turut hadir Bapak Gubernur Provinsi NTB "Bapak TGB Muh.Zainul Majdi, Lc" dan Bapak Menteri Komunikasi dan Informastika "Bapak Rudiantara". Acara pembukaan MNEK 2018 sangat meriah dan sayangnya, saya gak dapat menyaksikan acara tersebut.

Dengan mengambil tema "Cooperation to Respond to Disaster and Humanitarian Issues" yang artinya kerja sama untuk menanggapi bencana dan permasalahan kemanusiaan. Mengapa mengambil tema tersebut ?. Alasannya, disesuaikan dengan letak geologis Indonesia yang sangat rawan bencana karena terletak pada cincin api yang berpotensi terjadi bencana gempa bumi, gunung meletus, tsunami, dan tanah longsor (sumber:indomiliter.com).

Dengan kata lain MNEK 2018 merupakan latihan militer laut gabungan yang terprogram dua tahunan. Diadakan secara rutin oleh TNI Angkatan Laut Republik Indonesia dan didukung oleh negara-negara asing. Event MNEK 2018 diikuti oleh Angkatan Laut dari 37 negara. Keren kan ? 



sumber picture :www.portalkata.id

Gak hanya di Pelabuhan Lembar saja kegiatan MNEK 2018 berlangsung. Tapi di beberapa lokasi di Pulau Lombok juga ambil bagian dalam event internasional ini. Sesuai dengan tema "Cooperation to Respond to Disaster and Humanitarian Issues", MNEK 2018 memiliki berbagai macam kegiatan. Diantaranya, ada pameran maritim, kirab kota, fun run 5K and 10K, berbagai macam lomba, pelayaran kebangsaan, kemah pesisir, festival budaya dan pengobatan gratis. Dimana seluruh kegiatan berlangsung mulai tanggal 4 Mei sampai dengan 8 Mei 2018.

Khusus untuk kegiatan pengobatan, dipusatkan di Pelabuhan Carik, Lombok Utara. Kurang lebih dua jam perjalanan dari Kota Mataram menyusuri jalur Pusuk, Kota Tanjung dan berakhir di Bayan, Lombok Utara. 

Seluruh dokter dan tim medis lainnya dari berbagai macam negara berkumpul di Pelabuhan Carik, Lombok Utara. Berbagai macam pengobatan yang dilakukan. Diantaranya ada cek tensi darah, konsultasi kesehatan, penyuluhan kesehatan, operasi katarak gratis dan operasi bedah gratis. Khusus rumah sakit tempat saya bertugas mendapat kesempatan untuk melaksanakan Operasi Katarak Gratis. Berkolaborasi dengan tim dari rumah sakit daerah di Lombok Utara, kegiatan operasi difokuskan dilaksanakan di atas kapal KRI dr.Soeharso 990.







Tim medis yang bertugas, berangkat dari Kota Mataram sekitar jam tujuh pagi dan sampai di lokasi sekitar jam sembilan pagi. Sesampai di pintu gerbang Pelabuhan Carik, dari kejauhan terlihat kapal yang berukuran sangat besar sedang bersandar di dermaga. Suasana di sekitar dermaga juga sudah ramai oleh para tim medis yang saat itu bertugas juga. Dilihat dari seragamnya, mereka semua adalah tim medis militer dari berbagai macam negara yang saat itu berkumpul dan bersiap-siap melaksanakan tugas negara. Selain tim medis, masyarakat juga terlihat memandang benda besi terapung yang sangat besar ukurannya. Gak sedikit juga ada yang berselfie ria mengagumi kerennya kapal perang ini. 

Gimana dengan saya ?, yang jelas saya juga gak mau ketinggalan untuk mendokumentasikan moment-moment yang ada. Kalau boleh jujur, ini kapal terbesar yang pernah saya naiki, keliatan katroknya,hehehe. 

Kapal ini bernama KRI dr.Soeharso 990. Diambil dari nama dokter ortopedi atau bedah tulang bernama dr.Soeharso. Sekilas profil dari kapal ini, KRI dr.Soeharso 990 merupakan kapal rumah sakit satu-satunya yang dimiliki oleh Indonesia. Sebelum berubah nama menjadi KRI dr.Soeharso, kapal ini dulunya bernama Tanjung Dalpele 972. Kapal buatan dari Daesun Shipbuildings & Engineering Cp.Ltd, Korea Selatan merupakan kapal jenis bantu rumah sakit atau disingkat BRS. Jadi selain menjadi kapal perang, KRI dr.Soeharso 990 berfungsi menjadi rumah sakit jika dibutuhkan. 

Sejarahnya, kapal ini dulunya berfungsi sebagai Bantu Angkut Personal (BAP) bernama KRI Tanjung Dalpele 972. Dikarenakan perubahan fungsi, pada tanggal 17 Desember 2008 di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, dikukuhkan oleh KASAL saat itu Laksamana TNI Slamet Soebijanto (sumber:wikipedia.org).






Kapal ini memiliki bobot 11.394 ton kosong dan 16.000 ton terisi penuh. Kapal sepanjang 122 meter, lebar 22 meter dan draft 6,7 meter ini mempunyai geladak yang panjang dan luas. Oleh sebab itu, mampu mengoperasikan dua buah helikopter sekelas Super Puma. Berada di tengah-tengah geladak, jadi pengen main bola nih.

KRI dr.Soeharso 990 sudah memiliki beberapa penugasan antara lain; operasi bhakti sosial kesehatan setiap tahun di pulau-pulau terpencil dan terdepan, operasi bantuan bencana tsunami Aceh tahun 2004 dan operasi bantuan bencana gempa bumi Sumatera Barat tahun 2009.

Dalam kondisi sebagai kapal angkut, KRI dr.Soeharso 990 mampu mengangkut 14 truk atau tank dengan bobot per truk atau tank 8 ton, 3 helikopter Super Puma, 2 Landing Craft Unit tipe 23 M dan 1 hovecraft. Persenjataan di kapal dilengkapi dengan 2 pucuk meriam penangkis serangan udara bernama Rheinmetall 20mm.

Menurut informasi yang ada, kapal ini memiliki kurang lebih 75 anak buah kapal, 65 staf medis dan mampu menampung 40 pasien rawat inap. Dalam kondisi darurat, KRI dr.Soeharso 990 juga dapat menampung 400 pasukan dan 3000 penumpang sipil.




















Sesampai di atas kapal, perasaan senang dan terharu bercampur menjadi satu. Suatu keberuntungan dapat kesempatan mengenal secara langsung KRI dr.Soeharso 990 sekaligus melakukan kegiatan kemanusiaan. 

Kapal yang berlambang palang merah ini, memiliki lima lantai. Dimana lantai paling atas merupakan ruang kemudi, lantai keempat merupakan ruang atau kamar VIP dan VVIP, sedangkan lantai ketiga merupakan rumah sakit. Sayangnya saya gak sempat menyusuri lantai paling bawah dan kedua dikarenakan waktu yang gak mencukupi. 

Sebagai kapal rumah sakit , di kapal ini terdapat 1 ruang UGD, 3 ruang bedah, 6 ruang poliklinik, 1 ruang Apotek, 14 ruang P-jang klinik dan 2 ruang perawatan berkapasitas masing-masing 20 tempat tidur. Kerennya lagi, ini kapal sudah berstatus rumah sakit kelas B. Tau sendiri kan fasilitas dan sumber daya manusia rumah sakit kelas B. Dimana dokter spesialisnya merupakan dokter-dokter wajib militer dari Rumah Sakit Ramelan Surabaya yang ditugaskan untuk mengabdi di KRI dr.Soeharso 990 sesuai dengan masa penugasan. 

Sebuah keberuntungan juga para dokter spesialis mata dan tenaga kesehatan dari Rumah Sakit Mata Nusa Tenggara Barat dan RSUD Tanjung diberi tugas dalam kegiatan Operasi Katarak Gratis. Dengan dibantu  oleh dokter spesialis mata lainnya dari KRI dr.Soeharso 990 yaitu dr. Amri, Sp.M dan tim, kegiatan operasi berjalan dengan lancar. 

Kegiatan operasi dimulai jam sembilan pagi sampai selesai. Suasana di ruang operasi sangat sibuk. Para dokter spesialis mata bersama para perawat terlihat sangat fokus meskipun kapal mulai goyang dihantam gelombang laut yang semakin siang semakin besar dan diantara kami ada yang mabuk laut (curhat colongan).

Di dalam catatan, jumlah pasien yang berhasil dioperasi berjumlah 31 orang dimana seluruhnya berasal dari beberapa desa di Lombok Utara. Dimana seluruh pasien yang akan dioperasi, sehari sebelumnya diinapkan di atas kapal. Keesokan harinya dilakukan operasi. Setelah operasi berjalan dengan lancar, seluruh pasien diinapkan kembali di ruang rawat inap KRI dr.Soeharso 990. Selanjutnya, di hari berikutnya dilakukan pengontrolan dan boleh dipulangkan ke rumah masing-masing. 




Gak terasa, waktu sudah beranjak siang hari. Suasana di atas kapal mulai ramai oleh keluarga pasien yang menunggu keluarga mereka yang selesai di operasi. Gak hanya Operasi Katarak saja yang dilakukan saat itu, tapi ada beberapa operasi lainnya juga. Salah satunya yaitu Operasi Bedah Mulut dan Khitan yang dilakukan oleh dokter yang berkompeten di bidangnya.

Di bawah kapal, tepatnya di sebelah utara dari dermaga, dilakukan juga bhakti sosial oleh tim medis dari berbagai negara. Suasana di Pelabuhan Carik sungguh luar biasa. Kekaguman saya melihat masyarakat yang sudah mulai sadar akan pentingnya kesehatan diri sendiri. Mereka bersemangat untuk datang berobat dalam kegiatan pengobatan MNEK 2018. Harapan saya semoga masyarakat Provinsi Nusa Tenggara Barat semakin sadar akan pentingnya kesehatan diri sendiri karena sehat itu mahal. Lebih mahal berobat daripada beli pakaian di mall atau pergi liburan ke luar negeri. Jadi mulai dari sekarang, "Hidup Sehat dan Jauhi Sakit".

Kegiatan Operasi Katarak berjalan dengan lancar dan mendapat apresiasi yang sangat luar biasa dari masyarakat. Dengan berakhirnya kegiatan operasi, berakhir pula jalan-jalan kami di KRI dr. Soeharso 990. Liburan rasa bertugas atau bertugas rasa liburan ya? (jawab sendiri).

Sebelum meninggalkan lokasi, kami semua berfoto bersama dengan para dokter baik dari Indonesia maupun dari luar negeri. Sebenarnya mau posting semua foto yang kece-kece, tapi itu gak mungkin,hehehe. 

Cerita apa lagi ya ?. Sepertinya saya cukupkan dulu menulis tentang KRI dr.Soeharso 990. Nantikan tulisan-tulisan saya selanjutnya yang lebih kece lagi. Bagi yang ingin beri saran atau masukan, bisa di kolom komentar.

*Bila ada kesalahan informasi dari nama atau tempat, saya mohon maaf*

Penulis : Lazwardy Perdana Putra