Showing posts with label Kedai Kopi Bali. Show all posts
Showing posts with label Kedai Kopi Bali. Show all posts

Thursday, 4 June 2026

Ngopi Santai bersama Air Terjun Campuhan : River Flow Cafe


Kalau lagi cari tempat di Bali yang suasananya lebih adem, jauh dari hiruk pikuk keramaian Kuta dan jalanan Kota Denpasar yang macet, saya menemukan salah satu spot yang cocok buat menghabiskan waktu seharian yaitu Air Terjun Campuhan. 


Lokasinya berada gak jauh dari Danau Ulun Danu Beratan, Bedugul. Waktu tempuh sekitar dua jam perjalanan dari kawasan Seminyak dan Legian menggunakan kendaraan pribadi. 


Bisa baca disini : Menginap Rasa camping di Taman Danu Glamping Bedugul


Tempat ini memiliki nuansa yang sederhana tapi justru itu daya tariknya. Suara aliran sungai, kicauan burung, pepohonan hijau, dan suasana yang bikin pengen duduk lama tanpa diburu oleh waktu. 


Berawal dari iseng-iseng buka instagram. Lalu secara kebetulan muncul di beranda reel salah satu kedai kopi dengan view cantik dari air terjun. Nama kedai kopinya River Flow Cafe. Pas melihat titik lokasinya yang aksesnya gak terlalu susah, kok jadi tertarik buat kesana. 






Perjalanan siang itu dimulai dari Grand Mercure Hotel Seminyak Bali. Setelah check out dari hotel, saatnya mulai mengexplore Bali. Kalau pulang langsung ke Lombok, rasanya sayang banget sudah jauh-jauh motoran ke Bali hanya untuk menghadiri acara dan stay di hotel saja. 

Sebelum pulang ke rumah, saya sudah punya rencana buat ridding tipis dulu. Kebetulan juga motoran sendirian, jadi bebas mau kemana saja. 

Setelah makan siang di salah satu tempat makan yang cukup ramai di kawasan Badung, saya melanjutkan perjalanan ke arah utara. Kondisi lalu lintas dari Badung ke arah Denpasar cukup padat merayap. Apalagi lagi long weekend jadinya harap bersabar.

Google maps saya aktifkan untuk membantu perjalanan agar gak tersesat. Sudah sering motoran ke Bali tapi masih gak hafal jalan. Tau sendiri kondisi jalan di Bali itu penuh dengan percabangan, tapi disitulah keunikan Bali. 

Kurang lebih setengah jam perjalanan, akhirnya saya keluar dari Kota Denpasar, menuju arah Mengwi. Dari pertigaan Mengwi, mengambil arah jalan lintas provinsi yaitu destinasi wisata alam Ulun Danu Beratan, Bedugul dan Kab. Singaraja. 

Langit Bali siang itu yang awalnya cerah jadi agak mendung. Pertanda di bagian utara akan turun hujan. Dari arah Mengwi ke Bedugul gak terlalu padat kendaraan. Jadinya saya bisa menggeber motor agak kencang agar cepat sampai. 

Terlihat kendaraan yang dari arah berlawanan sudah basah. Wah, agak cemas karena pastinya akan kedapatan hujan juga. Sesampainya di pertigaan jalanan kecil menuju cafenya, kondisi sudah gerimis. 

Dari jalan utama, saya berbelok ke arah jalan kecil memasuki perkampungan warga desa. Nama kampungnya yaitu Banjar Kerobokan, Mekarsari, Kec. Baturiti, Tabanan. Kondisi jalanan disini cukup baik. Aspal mulus penampakan perkampungan disini juga bersih dan tertata rapi khas kampung Bali. 

Selain Air Terjun Campuhan yang akan dituju, gak jauh dari perkampungan ini juga terdapat destinasi wisata alam bernama Air Terjun Leke-Leke. Dari pertigaan menuju Air Terjun Leke-Leke, kita berbelok ke kiri menuju arah River Flow Cafe. 

Keluar dari perkampungan, kita bertemu dengan jalanan berkelok-kelok dan sedikit menanjak. Kiri-kanan terlihat area perkebunan warga. Pepohonan rindang dengan perbukitan hijau yang sudah tertutup kabur. Hawa dingin sudah terasa. Udara sejuk khas perbukitan membuat hati dan pikiran menjadi syahdu. Rasanya sudah berada jauh dari keramaian. 

Kurang lebih menempuh dua jam perjalanan, saya sudah sampai di area parkir pintu masuk menuju Air Terjun Campuhan dan River Flow Cafe. Suasana benar-benar hening dan gak banyak orang yang saya temui. Hanya beberapa motor saja yang terparkir. 

Area parkir kendaraan cukup luas. Setelah memarkirkan motor, saya membawa barang secukupnya saja. Sisanya saya taruh di dalam jok motor. 











Untuk masuk ke area air terjun, kita membeli tiket masuk di loket  sebesar 10 ribu saja. Itu sudah bebas mengexplore air terjun dan cafenya. Tapi untuk pembelian makanan dan minuman di cafenya, tetap bayar lagi sesuai menu yang dipesan. 

Dari loket, kita harus berjalan kaki menyusuri jalanan setapak. Terdapat gapura masuk ke dalam. Kurang lebih lima puluh meter lagi, kita bakalan sampai di lokasi. 

Terlihat taman kecil penuh dengan rerumputan hijau. Bangunan tua yang gak berpenghuni. Agak horor auranya pas melewati bangunan tersebut. Demi cafe estetik dengan view air terjunnya, rasa takut agak berkurang. Mana sendirian lagi, gak terlihat tanda-tanda akan berpapasan dengan pengunjung lainnya. Apa salah waktu datang kesini ?,pikir saya saat itu. 

Sore itu hujan sudah mulai turun. Saya percepat langkah biar gak basah kuyup. Gak enaknya saat itu kaki agak sakit karena kelamaan pakai sepatu. Agak sedikit bengkak di area ibu jari dan sakit sekali. Untungnya masih kuat berjalan. 

Suara air yang cukup deras sudah terdengar samar-samar. Tandanya sebentar lagi kita akan sampai. Dari kejauhan sudah terlihat cafenya. Sebelum sampai, saya harus menyeberangi sungai kecil melalui jembatan kayu. Kalau cuaca cerah bakalan bagus buat spot foto. 

Setelah melewati jembatan kayu, akhirnya sampai juga di River Flow Cafe. Tepat di depannya Air Terjun Campuhan. Dipisahkan oleh sungai kecil dengan air yang cukup jernih. Ini namanya sekali mendayung dua tiga pulau terlewati. 

Suasana hening sekali. Hanya ada saya dan tiga orang pengunjung. Itupun mereka satu rombongan keluarga. Kebetulan ini masih hari biasa dan waktu juga sudah menuju sore hari. Sekitar jam empat sore saya baru sampai sini. 

Penampakan cafenya saya suka. Terdapat beberapa tempat duduk dari semen beton. Bangku-bangku besi juga tertata rapi. Bangunannya dibuat konsep outdoor dan bertingkat. Hanya terdapat bangunan outlet berbentuk kotak bercat putih untuk tempat memesan minuman. 

Di tingkat paling atas terdapat tempat duduk beratapkan kanopi. Syukurnya masih ada sisa tempat duduk disana. Jadinya bisa terlindung dari hujan yang turun sore itu. 



Berlokasi di kawasan Air Terjun Campuhan, River Flow menawarkan konsep yang sederhana tapi justru menjadi daya tarik tersendiri. Begitu sampai, yang langsung terasa bukan aroma kopi duluan, tapi suara aliran air dan suasana alam yang bikin waktu terasa melambat.

Area duduknya dibuat menyatu dengan lingkungan sekitar. Tidak terasa berlebihan atau terlalu ramai dekorasi. Bahkan memiliki nuansa terbuka dengan pemandangan hijau di sekelilingnya yang membuat tempat ini nyaman untuk bersantai menghabiskan waktu seharian. 

Karena kesini tujuannya ingin ngopi santai sambil menikmati air terjun, saya memesan Coffee Late hangat dengan harga 22 ribu. Ditambah lagi dengan hujan turun dengan derasnya, rasanya syahdu sekali. Rasa ragu dan lelah motoran di tengah keramaian Kota Denpasar hilang begitu saja. 

Benar-benar menenangkan. Jauh dari sinyal internet dan benar-benar rasanya menyatu dengan alam. Langit semakin gelap, hujanpun turun semakin deras. Saya mencoba tetap menikmati sisa moment-moment yang ada meskipun sempat khawatir juga kalau hujan gak reda sampai malam, bakalan kemaleman sampai Padangbai.



View dari cafe ini gak ada obatnya. Mungkin ini satu-satunya cafe dengan konsep menyatu dengan alam yaitu Air Terjun Campuhan dengan kolam alami tempat bermain air. 

Menikmati aliran sungai dengan air jernih, mengalir dengan deras di sela-sela bebatuan. Kolam alami yang berukuran gak terlalu lebar. Air terjun yang begitu deras, suara kicauan burung dan hujan membuat suasana begitu menenangkan dan syahdu. 

Gak nyesel datang kesini meskipun berjumpa dengan hujan dan kaki kurang bersahabat. Benar-benar pengalaman yang sangat seru. Lain waktu kalau motoran ke Bali lagi, bakalan datang kesini lagi bareng anak-anak dan istri. 

Dengan tiket masuk 10 ribu ditambah pesan Coffee Late 22 ribu jadi total 32 ribu sudah bisa menikmati alam Air Terjun Campuhan sambil duduk santai di River Flow Cafe. 

Selain Caffe Latte, masih banyak minuman lainnya baik panas maupun dingin. Menu berat sampai snack juga ada buat menikmati minum kopi. Harganya pun ramah di kantong. 

Over all, tempatnya bersih dan tertata rapi. Beberapa titik ada tempat sampah. Toilet juga bersih. Aman dan nyaman bagi pengunjung. Agak sedikit horor sih kalau baliknya kemalaman karena lokasinya benar-benar di dalam hutan dan di lereng perbukitan. 

Untuk Air Terjunnya buka dari jam tujuh pagi sampai lima sore. Sedangkan untuk River Flow Cafenya buka dari jam tujuh pagi hingga sepuluh malam.  Berani juga ya karyawan cafenya stay disini hingga malam hari. Hehehe. 

Waktu sudah menunjukkan jam lima sore. Jadwal kapal balik ke Lombok saya ambil yang jam depalan malam. Ada waktu dua jam  perjalanan menuju Pelabuhan Padangbai. Beruntungnya, hujan juga sudah mulai reda. 

Bisa dibilang beruntung bisa kesini di waktu yang gak ramai pengunjung. Biasanya di waktu libur kerja dan anak sekolah, cafe ini selalu ramai dikunjungi. Yuuk, kapan lagi kesini kalau kalian datang berlibur ke Bali. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Friday, 14 September 2018

Nongkrong Asyik di Bali United Cafe, Stadion Kapten I Wayan Dipta


Masih inget cerita saya saat pertama kali datang ke Stadion Kapten I Wayan Dipta untuk nonton bola, antara Bali United melawan Barito Putera dulu ?. Pasti diantara kalian pembaca setia blog, sudah pernah membacanya (berharap dibaca).

Beberapa kali datang ke stadion kebanggaan Bali United ini, saya selalu sendiri (miris amat). Meskipun datang sendirian, saya banyak bertemu teman baru yang datang nonton juga dengan nasib yang sama (nonton sendirian). Sampai sekarang kami masih say hello di medsos.

Baca juga :  Keseruan Nonton Bola di Stadion Kapten I Wayan Dipta

Nah, untuk kali ini, saya datang gak sendirian. Saya ditemani sama si doi, Asyiik. Kebetulan dia ada kegiatan di Bali dan saya datang untuk jenguk. Maklum kangen ditinggal seminggu ke Bali (curhat bang??).

Kebetulan ada jadwal pertandingan Bali United melawan Persela Lamongan di Stadion Kapten I Wayan Dipta. So, kami berdua menyempatkan untuk nonton langsung ke stadion. Si doi sebenarnya gak suka nonton bola katanya ramai dan berdesakan. Tapi saya mencoba untuk merayu dan akhirnya dia mau juga. Alasannya, penasaran juga gimana sih nonton langsung di stadion.

Pertandingan dijadwalkan Hari Selasa, tanggal 11 September 2018 pukul 16.30 WITA yang lalu. Kebetulan hari libur, jadi bisa nonton langsung."Pertandingannya sore nih, sebelumnya kita kemana yank ?". Saya mengajak si doi jalan-jalan ke Bedugul. Nyari tempat yang adem-adem dulu. Cerita Bedugulnya di postingan selanjutnya yaak!!.





Kembali ke Laptop !

Habis explore alam Bedugul, kami berdua menuju ke stadion yang berada di Gianyar. Kurang lebih satu jam perjalanan dari Bedugul. Perjalanan cukup lancar dan gak terlalu ramai. Melewati jalan-jalan tikus biar cepat sampai, gak lama kemudian kami sudah sampai di pintu gerbang stadion. Ada yang berbeda dari stadion ini. Sekarang ada halaman parkir kendaraan baik roda dua dan empat yang sudah diaspal. Rapi banget dan gak berdebu.

Kerennya lagi, sekarang di Stadion Kapten I Wayan Dipta sudah dibuka sebuah cafe dan arena permainan anak-anak, mirip seperti Time Zone dan kawan-kawannya. Sudah seperti mini mall saja ini stadion. Fasilitas lengkap banget. Cuma satu yang belum saya temukan disini yaitu musholla untuk kita-kita yang muslim yang akan beribadah.

Berhubung tema tulisan ini nongkrong di cafe ala-ala Kids Jaman Now, saya akan ngebahas tentang sebuah cafe kece yang memanjakan para penonton dan fans Bali United pastinya. Sebut saja namanya, Bali United Cafe. Kapan dibukanya saya lupa, tapi yang jelas cafe ini baru saja dilaunching alias masih baru. Bau catnya saja masih tercium. Setelah si new blue (motor Nmax)  sudah aman nongkrong di parkiran. Kami berdua, langsung masuk ke dalam cafe kece ini. Letaknya menyatu dengan bangunan stadion. Lebih tepatnya berada di sisi sebelah barat stadion, disamping pintu masuk VIP selatan.

Membuka pintu masuk, kami sudah dimanjakan oleh desain ruangan yang kekinian. Minimalis dan sporty banget. Desain ruangan serba merah dan hitam, sesuai dengan warna dari jersey Bali United. Di bagian depan cafe, kita bisa memilih beberapa baju kaos serba Bali United. Habis memilih, jangan lupa dibayar yaak. Hehehe. Ada juga spot-spot foto yang instagrammable banget dah di depan pintu masuk.

Di dalam cafe ini juga terdapat beberapa permainan anak-anak. Jadi yang membawa anak kecil, jangan khawatir. Biar betah, ada beberapa permainan yang tersedia di bagian belakang cafe ini. Untuk kursi balita juga tersedia disini, so..gak bingung nyari tempat duduk untuk si kecil.






Suasana di dalam cafe sudah ramai oleh pengunjung yang memakai jersey kebanggaan Bali United. Kami  pun berdua mencari tempat duduk yang asyik buat nongkrong berdua. Disini tempat duduknya sangat beragam. Ada ruang smooking dan no smooking. Kerennya, kedua ruang tersebut memakai pendingin ruangan semua. Jadi bagi kita yang gak ahli hisap, masih bisa nyaman duduk sambil makan di ruang smooking tanpa terganggu dengan pengunjung lain yang ahli hisap.

Nah, uniknya lagi di Bali United Cafe ada sebuah tempat duduk yang sudah disiapkan bagi para pengunjung yang akan menonton pertandingan langsung. Sebuah meja panjang dengan desain miniatur lapangan sepakbola lengkap dengan kursi-kursi yang sudah ada nomornya. Ada juga tempat duduk seperti undakan yang terbuat dari kayu. Bagi pengunjung yang mau menonton dari dalam cafe, bisa membeli tiket yang sudah tersedia di Bali United Cafe. Kecenya, kita bisa menonton pertandingan lewat dinding kaca tebal. Gak perlu khawatir panas-panasan. Kita juga bisa menonton secara puas dari sini.

Awalnya saya gak tau kalau meja ini dikhususkan bagi pengunjung cafe yang akan menonton langsung dari dalam cafe. Kami berdua dengan santainya duduk manis menunggu pesanan. Kebetulan juga pertandingannya masih dua jam lagi. So, masih aman lah kencan sambil makan siang di meja khusus ini. 







Selain itu ada meja-meja kecil dengan empat kursi dimana di belakang kursi tertulis nama-nama pemain Bali United musim ini. Bagi yang pengen suasana tenang, bisa memilih tempat duduk di ruang no smooking. Meja dan kursi sofa empuk yang menggoda untuk berlama-lama duduk disini.

Bagi yang gak membeli tiket nonton di dalam cafe,masih bisa nonton gak tanpa membeli tiket ?. Jawabannya sangat bisa. Di dalam cafe sudah dipasangan LCD berukuran besar untuk kita yang gak membeli tiket pertandingan. Cukup makan minum sepuasnya, kita bisa nonton dari layar kaca.




Dua jam sebelum pertandingan, kami makan siang disini. Seorang pelayan cafe menghampiri kami dan menyodorkan selembar daftar menu. Liat-liat daftar menunya, disini makanan dan minumannya ala-ala cafe gitu. Ada main course serba Indomie, nasi goreng, rendang dan nasi ayam. Untuk lebih jelasnya, bisa diliat di daftar menu di atas.

Berhubung belum makan nasi dari pagi,  saya memesan Nasi Ayam Sambel Geprek. Sedangkan si doi pengen makan Nasi Ayam Sambal Matah. Sebenarnya sih pesen Nasi Goreng Tendangan Maut, tapi lagi kosong. Sabar dulu deh.

Untuk Nasi Ayam Sambel Gepreknya,  disini memakai ayam potong. Kebetulan yang dihidangkan bagian paha dengan ukuran besar. Ini ayam makan apa yaak ?, kok besar banget pahanya kalah-kalah pahanya Si Zohri pelari 100 meter,hehehe. Yang paling saya suka dari masakan ini yaitu sambel gepreknya. Campuran bumbu khas Bali banget, enak. Si doi juga suka sama sambelnya. Kalau dinilai dari satu sampai sepuluh, saya beri nilai sembilan. 

Beralih ke Nasi Ayam Sambel Matah, pesanan si doi. Ini masakan masing asing di telinga saya. Sambel matah itu kayak gimana yaak ?.  Ternyata pas datang, ternyata Sambel Matah itu sambel dengan campuran potongan bawang merah, telur orak arik dan bumbu lainnya. Apalagi dilengkapi dengan potongan ayam dan telur mata sapi. Si doi seneng sama masakan ini. Enak enak. Kalau diberi nilai satu sampai sepuluh, saya beri nilai delapan, sedangkan si doi beri nilai sembilan. Gak apa-apa, namanya pendapat kan?, hehehe. Untuk halalnya sendiri, dijamin halal secara cafe ini sudah bawa nama klub besar di Liga Indonesia.




Untuk minumannya, saya memesan Strauberry Milkshake dan si doi memesan Chocolate Milkshake. Panas-panas gene enaknya minum yang dingin-dingin memang. Kalau dikasi nilai satu sampai sepuluh, saya kasi nilai sembilan untuk minumannya. Seger banget, apalagi Chocolate Milkshakenya ada campuran almondnya. Jadi berasa gurih dan pengen minum dan minum lagi. Untuk hidangan penutupnya, saya memesan Pisang Bakar Cokelat Keju. Ini makanan yang sangat saya suka, serba pisang. Rasanya gurih dan gak buat enek. Untuk penilaian, saya beri nilai sepuluh kalau pisang mah,hehehe.

Soal harga menu disini sangat terjangkau sekali. Cafe ini memang sudah disiapkan untuk anak-anak muda yang nongkrong, nonton bareng Bali United dan seru-seruan. Semua kalangan bisa datang kesini, gak ada dibeda-bedakan pastinya.

Pelayanan di Bali United Cafe secara keseluruhan sangat memuaskan. Pesanan cepat, tepat sesuai dengan pesanan. Makanan dan minumannya yang kami pesan enak semua. Pengen rasanya cepat balik untuk mencoba menu-menu lainnya yang ada disini.

Habis makan siang, nongkrong bentar sambil ngobrol ngebahas tentang pertandingan nanti. Si doi penasaran sama atmosfer pertandingan nanti. Pertandingan satu jam lagi dimulai, kami berdua meninggalkan Bali United Cafe untuk membeli tiket di loket. Kenapa gak nonton di dalam cafe saja?, kan enak nonton sambil ngadem. Kami sudah berencana nonton di dalam stadion saja biar terasa seru dan hebohnya. Apalagi saya memang ingin memperkenalkan pertandingan sepakbola yang kece itu ke doi, hehehe. 



Kami memilih nonton di tribun timur (Gate 8). Harap-harap cemas penuh doa, semoga saja Bali United menang dalam lanjutan Liga 1 Gojek musim ini. Setelah tiket sudah di tangan, kami berdua memasuki dalam stadion. Pemeriksaan cukup ketat saat itu. Minuman botolan yang kami beli,dipindahkan isinya ke dalam plastik. Yang tadinya bayangin nonton bola sambil minum pakai botol, eh malah minum air dari plastik. Jadi inget jaman SD dulu (minum limun seratus perak), hahaha. 

Perasaan sedikit cemas liat si doi baru pertama kalinya nonton bola langsung ke stadion.  Tapi semua kecemasan itu hilang karena kami berdua menikmati pertandingan sampai selesai. Bali United menang 3-2 atas Persela Lamongan. Si doi pun ngajakin nonton lagi di lain waktu. Jadi ketagihan nih, Kece !.

Sedikit cerita yang dibumbuin curhatan saya tentang keseruan nonton bola sambil nongkrong di Bali United Cafe. Gimana, kalian penasaran?  Yuuk langsung saja datang ke Bali United Cafe. Buka setiap hari dari jam 11 pagi sampai 11 malam (tutup di hari-hari besar).


Penulis : Lazwardy Perdana Putra