Di awal Januari ini, saya dapat libur tiga hari. Gak melewatkan moment, saya dan istri mengajak anak-anak motoran ke salah satu destinasi baru yang sedang viral di Lombok. Tepatnya di sebuah desa bernama Banyu Urip, Lombok Barat.
Saya sudah beberapa kali menulis cerita tentang mengexplore alam dari desa ini. Pernah gowes kesini juga. Kalian bisa menemukan ceritanya di beberapa postingan blog saya. Bisa dicari ya di tulisan sebelumnya !.
Sempat galau karena beberapa hari terakhir cuaca di Lombok lagi kurang bersahabat. Hujan lebat terus menerus sampai enggan kemana-mana. Habis kerja, langsung pulang ke rumah itupun hujan-hujanan.
Untungnya pas hari yang ditunggu-tunggu tiba, cuaca bersahabat buat kami. Bangun pagi, langsung bersiap-siap jalan. Istri sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Anak-anak sudah bangun tidur, cuci muka dan menyempatkan nonton tv. Sedangkan saya, cek motor yang akan digunakan sambil berharap gak turun hujan tiba-tiba.
Sekitar jam setengah delapan pagi, kami berangkat dari rumah. Gak banyak kebutuhan yang dibawa karena kami sarapan dulu di rumah sebelum berangkat. Jaket dan helm gak ketinggalan. Yuuk kita berangkat !.
Sebelum berangkat, saya pelajari dulu jalur yang akan dilalui. Terpenting lokasi tujuan yang harus dicatat. Jangan sampai salah alamat. Mesin motor sudah menyala, anak-anak sudah naik ke atas motor. Tinggal menunggu istri yang sedang mengunci gerbang rumah.
Desa Banyu Urip, Lombok Barat
Meluncur menuju arah Desa Tempos. Salah satu desa terindah yang ada di Lombok. Dikelilingi oleh perbukitan hijau dan persawahan. Ratusan pohon kelapa berjejer rapi di sepanjang jalan.
Untuk menuju Desa Tempos, kami tinggal mengikuti petunjuk di google maps. Jaman sekarang sudah serba canggih. Mau ke rumah calon mertua juga jadi lebih gampang.
Yang penting gadget kalian itu minimal ya sekelas Oppo A54 atau hp yang sudah 4G yang lancar google mapsnya. Terpenting lagi ada kuota internetnya biar si maps gak salah ngasi alamat.
A few moment later
Jalur yang dilalui yaitu Jalan Raya Lembar, kemudian bertemu dengan bundaran Patung Sapi Mendagi. Berhubung tanggal merah, kondisi di jalan gak terlalu ramai. Melewati Bundaran Mendagi yang sedang ramai juga di media sosial sama air mancur menarinya. Kapan-kapan kita bahas !.
Setelanjutnya, kami ambil arah Kantor Bupati Lombok Barat. Bertemu dengan perempatan, kita mengambil jalur menuju Desa Tempos. Sudah terasa vibes pedesaan dengan persawahan dan perbukitan hijau.
Setelah melewati Kantor Desa Tempos, kami bertemu dengan area perkampungan dan gak jauh dari perkampungan, ada pertigaan. Berbelok ke kanan, menuju jalan yang sudah diperbaiki. Jalan desa ini merupakan jalur pintas bagi para goweser karena jalur ini merupakan jalur favorit gowes.
Ada jembatan yang pernah nge-hits pada masanya yaitu Jembatan Pelengkung Tempos. Disini kita bisa beristirahat sejenak untuk mengembalikan tenaga untuk ngayuh sepeda kembali.
Dari jembatan, kami lanjut berjalan ke arah selatan menuju Desa Banyu Urip. Setelah bertemu pertigaan dan berbelok ke kiri. Kami bertemu dengan Pasar Banyu Urip dan Masjid Nurul Yakin Kemuning. Gak jauh dari masjid, kami sudah sampai di perempatan kecil.
Ambil jalan ke kanan yang agak menanjak. Disini kami sudah bertemu jalan menanjak dan sudah berada di atas punggung bukit. Di atas perbukitan cukup banyak rumah warga.
Gak nyangka saja, di punggung bukit yang saya gak tau namanya ini terdapat area persawahan yang luas. Lokasi jalan viral sudah gak jauh lagi.
Kalian setelah sampai disini jangan bingung ya. Ikuti saja jalan besarnya sampai mentok. Kalau bertemu dengan pertigaan yang menuju arah Bukit Keteri yang lagi viral juga, ambil jalan lurus saja.
Kurang lebih lima belas menit dari rumah, kita sudah sampai di jalan yang viral. Suasananya asri banget. Aspalnya masih hitam dan garis marka jalannya masih baru. Kiri kanan jalannya sudah dicor beton. Meskipun jalannya gak terlalu lebar, masih bisa mobil berpapasan dan kendaraan bisa terparkir di pinggir jalan.
Bila Hari Minggu pagi hingga sore, jalan ini sangat ramai oleh para pedagang yang berjualan. Pengunjung dari luar desa bahkan dari Kota Mataram rela kesini untuk menikmati vibes dari desa dan jalan viral ini. Emang gak ada obat sih ini.
Beberapa media sosial, menyebut jalan ini menjadi jalan terindah di Pulau Lombok saat ini. Dari beberapa sumber resmi yang sudah saya baca, pembangunan jalan desa ini menghabiskan anggaran 8,9 miliar rupiah bersumber dari APBN dengan panjang sekitar 2,3 kilometer.
Untuk kedepannya, pemerintah daerah dari desa hingga provinsi akan menata area ini lebih baik lagi menjadi daerah wisata yang bersih dan asri. Sehingga pengunjung nyaman dan betah berlama-lama disini.
Saya dan anak istri ikutan betah berlama-lama disini. Untungnya datangnya pagi hari dan udara disini masih sejuk. Sayangnya kalau selain hari Minggu, gak ada pedagang yang berjualan. Tadinya sih pengen wisata kuliner. Penasaran sama makanan khas dari desa ini. Next time, datang lagi kesini.
Sesampainya di lokasi, kami berempat menyempatkan berfoto dan membuat video. Pagi itu gak hanya kami saja, tapi terlihat beberapa warga yang bersepeda. Kelihatannya ini dari Kota Mataram dan sekitarnya.
Paling pas datang kesini pada waktu pagi dan sore hari. Disini kita bisa menikmati sunrise dan sunset sekaligus. Bawa keluarga, pacar atau gebetan juga boleh. Yang penting jangan bawa selingkuhan saja. Lucu kan kalau ketauan kencan disini. Bisa-bisa seperti drama FTV. Berantem sama pacar, jambakin selingkuhan sambil teriak "kita putus saja". dengan background jalan viral ini (hayalan ngaco).
Bendungan Pengga, Lombok Tengah
Next... !
Setelah beberapa saat berhenti disini. Kami melanjutkan perjalanan ke Bendungan Pengga, Lombok Tengah. Dilihat dari maps, lokasinya gak terlalu jauh dari jalan viral ini. Yasudah, "sekali mendayung, dua tiga pasar dilewati".
Kebetulan lagi disini, sekalian aja motoran ke salah satu bendungan terbesar di Pulau Lombok. Melewati beberapa desa dan jalurnya ternyata gak semudah yang dibayangkan.
Untungnya saya selalu melihat maps, sesekali bertanya sama warga desa arah menuju bendungan karena agak ragu sama jalur yang diberikan sama maps.
Akhirnya setelah lima belas menit berkendara, sampailah kita di Bendungan Pengga (bacaannya : Pengge) yang berada di Desa Pelambik, Kec.Praya Barat, Lombok Tengah.
Mumpung masih pagi, suasana di bendungan sangat syahdu dan cukup sepi. Angin sepoi-sepoi menyapa kami. Langit saat ini sedikit mendung tapi belum terlihat tanda-tanda mau turun hujan.
Jujur, ini pertama kalinya saya datang kesini. Sedangkan istri sudah beberapa kali kesini karena ada kegiatan Pramuka sebelumnya. Tapi tetap saja pas kami kesini, istri lupa jalan ke bendungannya, hehehe.
Setelah melalui pintu masuk bendungan, kami mengitari sisi utara bendungan dan berjalan menuju area bendungan.
Bendungan Pengga berada di Waduk Pengga yang memiliki luas 430 hektar yang dibangun sejak tahun 1991 dan mulai dibuka dan dimanfaatkan sekitar tahun 1994 sampai sekarang. Bendungan ini fungsinya sangat vital sekali. Terutama untuk irigasi pertanian, mengaliri area persawahan dan perkebunan warga. Selain itu berfungsi sebagai pencegah banjir di wilayah Lombok Tengah dan Lombok Barat.
Memarkirkan motor di pinggir bendungan yang jaraknya cukup dekat dengan pintu air bendungan. Terlihat aktivitas warga pagi itu seperti memancing, mengembala hewan ternak (kerbau), dan ada yang sekedar berjalan kaki.
Saya dan Kakak Ken, berjalan menuju pinggir pintu air bagian bawah, sedangkan Adeq Nala dan bundanya berjalan kaki di pinggiran bendungan bagian atas. Sejauh mata memandang, ternyata waduk ini sangat luas. Sepertinya kalau ada ground camp atau villa di pinggir waduk ini, pastinya keren banget.
Pagi itu kami sangat beruntung, ada empat dari total enam pintu air yang dibuka. Sehingga bisa melihat derasnya air waduk yang menuju ke sungai-sungai yang mengaliri beberapa desa.
Kesan pertama kalinya ngajak anak-anak dan istri motoran kesini. Mengisi waktu libur yang sangat berkualitas.
Setelah setengah jam mengexplore Bendungan Pengga meskipun gak seluruhnya, kami sudah lapar. Waktu sudah menunjukkan jam setengah sebelas menjelang siang.
Kami berencana untuk mencari makan siang. Terpintas untuk mampir di salah satu tempat makan yang ramai dikunjungi. Sepertinya makan yang pedes-pedes enak nih.
Pasar Bambu Bonjeruk, Lombok Tengah
Akhirnya kami memutuskan untuk mampir makan siang di Pasar Bambu Bonjeruk, Lombok Tengah. Perjalanan dari Bendungan Pengga memakan waktu tempuh, dua puluh menit.
Cuaca menjelang siang masih bersahabat dengan kami. Berkendara menuju arah utara. Dari bendungan kami melalui Desa Darek, jalan lurus mengikuti jalan raya lintas desa hingga bertemu dengan By Pass Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM).
Kami memilih mengambil jalur menuju simpang Penujak, belok ke kiri arah Bendungan Batujai dan Kota Praya, Lombok Tengah. Setelah di Kota Praya, ambil arah balik ke Kota Mataram.
Melewati Sekolah IPDN Lombok dan Kantor Bupati Kab.Lombok Tengah ke arah Kota Mataram. Setelah melewati daerah Puyung, kami sampai di pertigaan Ubung. Belok ke kanan menuju arah Desa Bonjeruk.
Sekitar dua kilometer dari Puskesmas Ubung, kami sudah sampai di Pasar Bambu Bonjeruk. Saya sudah sekali datang kesini saat makan siang bersama teman kantor. Kali kedua datang kesini bareng keluarga kecil sambil motoran.
Suasana masih sepi karena pasarnya baru buka. Lihat jam tangan masih jam sebelas siang. Setelah memarkirkan motor, kami berjalan kaki menuju area dalam pasar. Vibesnya seperti kita masuk ke dalam rumah warga desa yang dikelilingi pohon-pohon bambu. Suasananya rindang dan adem. Penataannya cukup sederhana dan tertata rapi.
Desain dari tempat makan ini cukup unik yaitu seperti pasar rakyat tradisional dengan mengutamakan budaya Lombok. Beberapa gazebo atau berugaq beratapkan jerami dan beralaskan tikar. Terlihat asap mengepul dari sela-sela pohon bambu yang berasal dari warga yang memasak.
Tempat makan ini ramai dikunjungi oleh tamu yang sedang berlibur di Lombok. Agent travel wajib mengantar tamu mereka untuk makan disini baik makan siang maupun makan sore. Beberapa artis ibukota dan tokoh nasional juga sudah berkunjung kesini. Termasuk blogger kece seperti saya juga sudah dua kali kesini (gak nanya).
Anak-anak terlihat sangat senang diajak kesini. Mereka melihat ada wayang kulit yang dipajang di salah satu bangunan bambu tempat lesehan.
Pasar Bambu Bonjeruk buka dari jam sebelas pagi hingga enam sore (setiap hari). Sedangkan buat kita yang pengen datang malam, gak perlu khawatir. Pasar Bambu ini memiliki satu cabang lagi yang buka sampai sembilan malam dengan view persawahan. Namanya Warung Bambu Bonjeruk. Kapan-kapan kita review ya !.
Sesampainya di dalam area tempat makannya, kami disambut oleh salah satu staf perempuan berbusana lumbung serba hitam khas Sasak (baju adat Lombok). Mbaknya mempersilahkan kami untuk memesan menu sambil memegang hp.
Cukup unik cara pesan disini. Untuk menunya hanya satu ya. Kita mau pesan berapa paket bisa. Gak pake daftar menu seperti tempat makan pada umumnya. Sepaket untuk empat orang.
Jadinya kami gak bisa memesan beberapa menu. Harus sepaket yang isinya ada nasi putih satu bakul, ayam merangkat, ikan nila goreng, ayam goreng, sayur kelor jagung, dan sambal dabu-dabu.
Yang khas disini itu Ayam Merangkatnya. Ayam yang digunakan yaitu ayam kampung pejantan utuh. Dagingnya empuk dan smoki karena ayamnya dibakar. Lalu dilumuri bumbu cabe merangkat. Rekommended buat kalian pecinta pedas. Datang ke Lombok, wajib dicobain.
Untuk harga sepaket menu di atas cukup terjangkau yaitu 145 ribu saja. Untuk tambahannya kalian bisa request sama stafnya. Selain makanan utama, kami pesan minuman segar.
Minuman yang kami pesan es kelapa muda dan es jeruk. Rasanya sih seperti es kelapa muda pada umumnya. Apalagi es jeruk, seger di tenggorokan dan buat mata melek karena rasa asam manisnya.
Selain menu tersebut, disini juga terdapat aneka jajanan pasar. Sebut saja, jajan lupis, pisang goreng, serabi dan aneka buah-buahan. Untuk harga mulai 10 ribuan.
Perut sudah kenyang, saatnya kami pulang ke rumah. Waktu sudah beranjak siang hari. Mata juga sudah sedikit mengantuk. Lumayan bisa motoran tipis-tipis bareng anak melintasi Kab.Lombok Barat dan Lombok Tengah.
Next time, ditunggu cerita motoran yang lainya di blog ini. Jangan bosen berkunjung ke blog ini dengan berbagai cerita unik yang terkadang gak jelas. Hehehe
Penulis : Lazwardy Perdana Putra

















0 comments:
Post a Comment