Saturday, 27 March 2021

 


Akhir-akhir ini kita diramaikan oleh isu dimana di tengah panen raya, pemerintah malah justru mengimpor beras. Jujur, saya gak begitu paham alasan pemerintah mengimpor beras. Bukan mendukung atau menolak impor beras, tapi menurut saya pemerintah gak perlu impor beras andaikan produksi beras kita meningkat dari tahun ke tahun.  

Kalau saya yang penting bisa beli beras, makan tiga kali sehari ditambah buat nasi goreng di rumah, cukuplah buat saya sekeluarga. Sayangnya saya gak ahli soal menghitung kebutuhan beras selama setahun. Namun harapan saya, selagi pasokan beras tercukupi, gak perlu mengimpor beras dari negara lain. 

Masih tentang panen raya dan beras. Beberapa minggu yang lalu, saya dan anak istri jalan-jalan ke sebuah desa yang memiliki panorama alam sungguh pempesona. Kebetulan lagi musim begabah "panen padi" di desa tersebut. Gimana ceritanya, dibaca sampai habis tulisan ini  !.





Desa Banyu Urip

Bagi kita yang tinggal di Kota Mataram atau dari luar wilayah Lombok Barat, nama desa ini mungkin gak pernah terdengar atau melewatinya. Lebih sering kita mendengar Desa Sembalun yang terkenal dengan pemandangan perbukitan di bawah kaki Gunung Rinjani dan udaranya yang sejuk. Desa Sade yang terkenal dengan budaya dan rumah-rumah adat Suku Sasaknya, atau Desa Senaru yang terkenal dengan desa adat dan pintu masuk pendakian Gunung Rinjani dan Air Terjun Tiu Kelepnya . Ketiganya menjadi tujuan wisata di Pulau Lombok yang wajib dikunjungi. 

Gak hanya ketiga desa itu saja. Masih banyak lagi desa-desa yang kece di Pulau Lombok yang wajib diexplore. Salah satunya Desa Banyu Urip yang berada di Kabupaten Lombok Barat. Desa ini memiliki pemandangan yang mempesona. Di tulisan sebelumnya, saya sempat bercerita tentang Gunung Mareje di tulisan Desa Tempos. Nah, ini masih ada hubungannya dengan Desa Banyu Urip. 


Desa Banyu Urip bertetangga dengan Desa Tempos. Dimana Desa Tempos letaknya di bawah Gunung Sasak, sedangkan Desa Banyu Urip terletak di bawah kaki Gunung Mareje yang sama-sama berada di wilayah Kabupaten Lombok Barat. Ada dua jalur menuju Desa Banyu Urip. Bisa melewati Desa Tempos atau melewati jalur lainnya yaitu daerah Jembatan Kembar, Lombok Barat. Kita bahas jalur dari Desa Tempos dulu. 

Baik Desa Tempos dan Desa Banyu Urip letaknya sangat  strategis skali. Dekat dengan Pelabuhan Lembar dan Gili Mas. Dari Bandara Bizam atau Bandara Internasional Lombok, juga bisa diakses dengan waktu tempuh setengah jam saja. Bagi yang sudah membaca tulisan saya gowes ke Desa Tempos, wajib hukumnya baca sampai habis tulisan Desa Banyu Urip ini. Kalau ketiduran, lanjut baca lagi pas bangunnya (ngarep.com)

Sengaja jalan pagi dari rumah menggunakan sepeda motor. Rencananya mau pergi ke pantai, tapi kami melewati Desa Banyu Urip yang kebetulan masih satu jalur menuju pantai. Setelah ngecek perlengkapan yang akan dibawa biar gak ada yang tertinggal. Kami segera berangkat. 







Apabila menuju Desa Banyu Urip, kami harus melewati Pusat Pemerintahan yang berada di Kota Gerung, Lombok Barat. Setelah itu menuju arah Desa Tempos dengan memakan waktu tempuh hanya sepuluh menit saja. Melewati hamparan sawah dengan tanaman padi yang sudah menguning pertanda musim panen sudah tiba. Jalanan aspal yang lurus dengan pemandangan Gunung Sasak yang berada di sebelah timur dan Gunung Mareje di sebelah selatan. Pertanda kami sudah berada di Desa Tempos. 

Sempat berhenti sejenak di pinggir jalan untuk mengambil beberapa foto. Gak lama setelah itu, kami melanjutkan perjalanan. Gak banyak kendaraan bermotor yang kami temui. Hanya saja banyak rombongan bersepeda dari luar desa. Kebetulan juga hari libur, jadi banyak yang bersepeda. 

Setelah meninggalkan Desa Tempos, jalanan mulai berliku dan menanjak. Di sepanjang perjalanan  kami melewati kebun-kebun warga. Sangat rindang dan sejuk, bahkan sinar matahari pun nyaris gak terlihat. Gak lama kemudian, kami berhenti sejenak di sebuah titik dimana terlihat pemandangan yang sangat kece. Kami akhirnya sampai di Desa Banyu Urip. Disini istri dan anak sangat menikmati, begitu pun dengan saya sendiri. Melihat kebahagiaan mereka, membuat hati juga ikut bahagia. Kapan lagi bisa membahagiakan hati istri dan anak tercinta (curhat.com).

Desa Banyu Urip memiliki wilayah lebih luas tiga kali luas Desa Tempos. Keindahan alamnya juga gak kalah dengan desa lainnya. Sama seperti Desa Tempos, mata pencaharian warga Desa Banyu Urip yaitu sektor pertanian dan peternakan. Bahkan desa ini disebut sebagai lumbung padi Kabupaten Lombok Barat. Memiliki lahan pertanian yang sangat luas. Begitu juga daerah ini sangat subur karena berada di lereng Gunung Mareje.

Datang pertama kali kesini, saya dibuat takjub. Datang kedua dan seterusnya, gak bosan-bosan berlama-lama memandang Desa Banyu Urip dari kejauhan. Kondisi jalan yang sangat mulus. Gak banyak kendaraan yang lalu-lalang seperti di perkotaan. Bebas dari polusi udara. Menghirup udara yang sangat sejuk sambil melihat aktivitas warga desa yang sedang memanen hasil padi yang sudah menguning. Pemandangan yang buat imunitas kita kembali meningkat. 





Hampir di setiap bertemu dengan area persawahan, kami selalu melihat warga desa sedang memanen. Dari anak-anak, remaja, ibu dan bapak-bapak sangat sibuk melakukan pekerjaan mereka. Panasnya matahari dari pagi hingga sore hari yang menyengat di kulit, gak mereka rasakan. Yang ada mereka sangat menikmati pekerjaan menuai padi yang sudah menguning. Disini kita bisa belajar, "Apapun yang menjadi tugas kita, apabila dikerjakan dengan hati yang senang dan tulus, Insyaallah kita akan menikmati hasilnya". 

Jadi kita bisa belajar dari petani. Menanam dari bibit unggul, merawat, hingga memanen apa yang kita tanam di kemudian hari. Pekerjaan gak ada yang instan. Harus dari nol sampai kita berada di puncak kejayaan di kemudian hari. Itu butuh proses ya guys !.

Disini kami sempat berbincang-bincang dengan seorang bapak yang sedang beristirahat di pinggir jalan. Beliau sangat senang desanya didatangi oleh pengunjung luar. Apalagi datang dengan tujuan ingin melihat pemandangan desa dan aktivitas warga desa. Kami juga sangat senang disambut dengan hangat. Ada juga beberapa ibu-ibu yang minta difoto saat sedang memanen, biar masuk pesbuk katanya (maksudnya facebook), hehehe. 

Agak lama kami berbicang-bincang saat itu. Bahkan ada salah seorang bapak-bapak yang menawarkan kami untuk diantar ke air terjun yang letaknya berada di lereng Gunung Mareje. Saya bilang lain kali saja pak, waktunya gak memungkinkan juga. Beliau tersenyum dan mengiyakan.








Hari sudah mulai siang, kami pun melanjutkan perjalanan menuju pantai. Tapi ada satu titik yang memaksa kami untuk berhenti sejenak. Disini kami melihat deretan pohon-pohon kelapa yang cukup banyak dengan pemandangan Gunung Mareje. Hamparan persawahan yang sangat luas yang mengelilingi kami. 

Disini kami bertemu dengan rombongan bersepeda. Mereka asyik selfiean dengan berbagai macam gaya. Kebanyak sih para emak-emak heboh. Tapi saya pikir, mereka kuat juga ya mengayuh sepeda sampai di desa ini. Gak hanya numpah eksis dengan sepeda masing-masing, tapi mereka juga memang hobi bersepeda. Kapan-kapan saya juga pengen sepedaan sampai di Desa Banyu Urip. Ditunggu saja cerita selanjutnya. 

Gak banyak yang bisa saya ceritakan karena bingung mau cerita sampai mana. Over all, Desa Banyu Urip rekommended buat kalian yang mencari rute bersepeda bareng keluarga, teman atau gebetan. Mungkin kalau gebetan, disini tempat pembuktian kalau kalian emang serius. Tapi harus dijaga tuh anak orang, jangan sampai lecet jatuh dari sepeda ! (buat kaum lelaki yang masih jomblo). Atau yang mau nyari tanah, bisa tanya-tanya warga desa. Siapa tau ada tanah yang mau dijual. Rekommended buat investasi tanah disini.

Sudah dulu ya, takutnya ngebahas yang lain-lain. Jangan lupa dibaca juga tentang Desa Tempos di tulisan sebelumnya. Biar kita semakin akrab, jangan lupa juga baca-baca dan dikomentarin cerita saya lainnya di blog ini. Banyak cerita dari saya yang wajib kalian baca. 

Tetap jaga kesehatan. Cuci tangan pakai sabun/handsanitaizer, pakai masker, jaga jarak, jauhi kerumunan, dan kurangi kegiatan yang gak penting. Terpenting Jangan Lupa Vaksinasi !. 

Salam sehat.

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

2 comments:

  1. selalu suka sama situasi di daerah manapun di Lombok
    apalagi pas lewat hamparan sawah kayak gini. seingatku kayaknya aku pernah ke desa ini, lupa juga, waktu sewa mobil jadi sama si driver di ajak keliling keliling gitu
    sampe sekarang masih menyimpan keinginan untuk explore desa desa disana, ini gara gara buku Lombok karangan temen blogger Lalu Fatah, jadi pengen explore lombok lagi sampe ke desa desanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener mbak. Desa2 di Lombok selalu buat kita jatuh cinta. Sesuai dgn salah satu visi misi NTB saat ini yaitu NTB yg Bersih dan Lestari.

      Delete