Saturday, 28 February 2026

Touring Santai dan Ngopi Asyik di Teras Sawah Resto & Guest House Syariah Sembalun


Sabtu pagi di Bulan Februari, hujan turun dengan derasnya. Setelah bangun tidur, saya bergegas ke kamar mandi untuk mandi dan bersiap berangkat ke arah timur. Tepatnya ke rumah Mas Deni yang berada daerah Kotaraja, Lombok Timur.

Dari Mataram, saya gak sendirian. Si Enwal, Kadek dan Mas Deni sendiri ikut gabung dalam perjalanan touring ke Lombok Timur. Agenda pagi itu kami berempat akan touring ke salah satu destinasi yang cukup jauh dari Kota Mataram. Tapi menuju ke lokasi, kami akan mampir dulu di Desa Sembalun. 

Baik wisatawan domestik maupun mancanegara pastinya sudah familiar dengan Desa Sembalun. Apalagi sekarang desa tertinggi di Pulau Lombok ini sudah banyak perubahan dimana sudah banyak dibuka penginapan yang menawarkan view kece seperti glamping, homestay maupun cabin. 

Begitu juga dengan cafe dan resto yang jumlahnya sudah puluhan di Sembalun dengan menawarkan tempat yang nyaman dengan view khas alam Desa Sembalun. Salah satu yang akan kami datangi yaitu Teras Sawah Resto & Guest House Syariah.

Menunggu hujan reda hingga jam delapan pagi. Saya memutuskan untuk jalan dari rumah. Sedangkan ketiga teman tadi sudah jalan duluan. Kami berempat sepakat kumpul di SPBU sekitar Narmada, Lombok Barat. 

Setelah berpamitan sama anak istri, saya gass motor dalam keadaan jalan basah dan langit masih mendung. Alhamdulillah, hujan sudah agak reda. Selalu pakai jas hujan agar pakaian gak basah dan masuk angin. 

Perjalanan di pagi hari cukup ramai lancar. Banyak kendaraan yang akan keluar kota. Harus hati-hati berkendara di sepanjang jalur Mataram - Lombok Timur karena kendaraan besar seperti bus lintas pulau, truk dan paling banyak ya motor. Apalagi jalur Lombok Timur ini terkenal dengan pengemudi motor yang bandel karena sering gak pakai helm. Bawa motor juga ugal-ugalan, sorry ya itu faktanya di lapangan. 

Setengah jam perjalanan, sampailah saya di titik kumpul yang sudah disepakati. Mereka bertiga sudah sampai duluan dan menunggu saya datang. Oke, setelah personel lengkap, kami isi bensin full tank agar perjalanan lancar sampai tujuan. Setelah itu kami lanjut gas menuju rumahnya Mas Den sebagai cek point selanjutnya. 

Waktu tempuh satu jam perjalanan, sampailah kami di rumahnya Mas Den. Ini kedua kalinya saya kesini. Sesampainya disana, kami disambut dengan keluarga Mas Den. Disuguhi cemilan dan sarapan. Sambilan istirahat sebelum melewati tanjakan dan jalan yang berliku. 

Setengah jam istirahat, kami melanjutkan perjalanan ke Desa Sembalun. Cuaca pagi itu cerah berawan meskipun angin cukup kencang. Sekitar jam sebelas pagi, kami berangkat. 

Melewati beberapa daerah seperti Pasar Aikmel, kemudian mengambil jalur ke arah Desa Suela. Sesampainya di pertigaan Desa Suela, kami belok ke kiri menuju arah Desa Sapit dan Desa Sembalun. 

Untuk jalur dari Suela ke arah Sembalun cukup baik dengan kondisi jalan aspal yang menanjak. Melewati Kebun Raya Lemor dengan jalan mulus dengan kiri kanan hutan belantara. Uniknya disini, kami melewati Rumah Sakit Umum Daerah Selaparang. Salah satu rumah sakit milik Pemda Kab. Lombok Timur yang baru diresmikan beberapa tahun yang lalu. 




Setelah bertemu dengan pertigaan yang mengarah ke Desa Sapit, kami jalan lurus terus menuju Desa Sembalun. Disini jalanannya sudah menanjak sampai Puncak Pusuk Sembalun. Kiri kanan hutan belantara dengan jalanan yang meliuk-liuk. Disini saya sering berjumpa dengan para anak-anak muda yang membawa tas caril. Sepertinya mereka akan mendaki salah satu Sevent Summits yang ada di Sembalun. Salah satunya yang sudah pernah saya daki yaitu Bukit Pergasingan. 

Jalanan masih dalam kondisi basah. Harus ekstra hati-hati, apalagi sesampainya di Puncak Pusuk, kabut tebal menyambut kami. Di atas puncak Pusuk, sudah ramai sekali dengan para pengunjung yang beristirahat sambil berfoto. Kendaraan bermotor berjejer rapi di pinggir jalan. Tenda-tenda pedagang juga dibanjiri pengunjung. 

Kami gak berhenti di Puncak Pusuk karena sudah gak sabaran sampai di Teras Sawah. Dari puncak, jalanan berubah menjadi jalanan menurun yang cukup terjal. Beberapa hari sebelumnya, lokasi jalanan menurun ini terjadi tanah longsor saat hujan deras. Bekasnya masih terlihat meskipun sudah dibersihkan oleh petugas. So, harus tetap ekstra hati-hati. 

Welcome Sembalun !.

Sudah cukup lama gak ke Sembalun lewat jalur timur. Terakhir kali ke desa ini saat menginap di salah satu penginapan bernama Sembalun Kita Cottage bersama anak-anak dan istri melewati jalur utara. 

Setelah menuruni jalanan terjal, kami sudah tiba di Sembalun Bumbung. Disini kita banyak menjumpai perkebunan strauberry. Biasanya di pinggir jalan, kita banyak menjumpai pedagang strauberry. Tapi saat kemarin, kami gak menjumpai strauberry karena belum musim. Sayang sekali ya. 

Gak jauh lagi, kami segera tiba di Teras Sawah. Lokasi restonya tepat di pinggir jalan utama. Tepatnya di sebelah kanan apabila dari jalur timur. Sesampainya di lokasi, terlihat cafenya masih cukup sepi. Setelah memarkirkan motor, kami langsung masuk menuju meja kasir untuk memesan minuman. 




Teras Sawah beralamatkan di Jalan Raya Sembalun Lawang no.11, Sembalun Bumbung. Lokasinya sangat strategis. Dekat dengan beberapa penginapan dan wahana bermain. Di depan restonya ada penginapan Taman Hijau Rinjani dan wahana bermain Taman Surga. 

Infonya resto ini sering didatangi oleh artis ibukota seperti Desta, Gading Martin, Vincent, Ariel Noah beberapa tahun yang lalu. Wisatawan juga banyak yang singgah makan maupun ngopi disini. Tempatnya emang asyik banget. 

Penampakan restonya cukup simple. Bangunan memanjang ke samping dan dominan kayu dengan ruang semi outdoor. Meja kayu berjejer rapi. Restonyaa terdiri dari dua lantai yang dihubungkan dengan tangga kayu. Atap bangunan berbentuk joglo. View resto ini keren. Duduk di resto ini, kita bisa melihat kawah perbukitan hijau, persawahan dan perkebunan. Melihat aktivitas para petani yang sedang bekerja di sawah. 




Sesuai namanya, Teras Sawah memang menawarkan suasana wisata kuliner dengan latar hamparan sawah yang luas. Tempat duduknya cukup nyaman, ada area semi outdoor yang jadi favorit karena bisa langsung menikmati pemandangan.

Angin sepoi-sepoi dengan suara alam bikin suasana makin syahdu. Cocok banget buat
nongkrong bareng teman, ngopi santai habis touring, quality time bareng keluarga atau sekadar me-time sambil menikmati suasana.

Setelah memesan minuman dan cemilan, kami memutuskan untuk bersantai di lantai dua. Disini kondisinya masih sepi, lebih sepi daripada di lantai satu. Meja kursi kayu masih gak berpenghuni. Kami bebas memilih tempat. Paling enak duduk santai di pinggir pagar kayu bangunan resto. 

Selain resto, tersedia juga guest house dengan konsep syariah. Cocok buat yang ingin menginap dengan suasana tenang jauh dari keramaian kota. Lingkungannya terasa nyaman dan lebih privat. Lokasi guest housenya berada di bawah restonya. Untuk menuju kamarnya, kita menuruni tangga. Tepat di pinggir sawah lokasi kamarnya. Jumlah kamarnya kurang lebih sepuluh kamar dengan fasilitas penginapan standar. 



Kerennya, kamarnya menghadap ke arah timur. Jadinya kita bisa menikmati sunrise di saat pagi hari sambil memandang beberapa bukit yang termasuk kedalam Sevent Summit Sembalun. Untuk harga per kamarnya kalian bisa cek di platform online seperti tiket.com, booking.com atau trip.com. Harganya bisa bervariasi di setiap platformnya. 

Satu lantai dengan guest housenya, fasilitas lainnya ada kamar mandi, toilet dan mushola yang cukup bersih. Wah, jadi betah menginap disini. 

Gak menunggu waktu lama, orderan kami sudah datang. Saya memesan segelas Vietnam Drip Coffee dengan sedikit manis pastinya. Sedangkan yang lainnya tetap memesan susu jahe hangat. Btw, saya heran kenapa mereka gak pesan kopi ya. Padahal kan tema riding kami kan nyari tempat ngopi yang kece. Ini sudah kedua kali lhoo ya !. 

Untuk cemilannya, kami pesan pisang goreng. Lagi-lagi kami gak pesan menu berat karena kami sudah makan banyak di rumahnya Mas Den. Jadinya pesan minuman dan cemilan saja. 




Khusus Vietnam Dripnya saya rasa cukup enak. Jenis kopi yang digunakan yaitu robusta. Cara menyeduh kopi itu dengan metode khas Vietnam menggunakan alat saring berupa saringan logan kecil bernama phin untuk menghasilkan kopi kental dengan tetesan lambat. 

Biasanya kopi ini menggunakan dark roast atau kopi panggang gelap dan disajikan di atas susu kental manis sehingga menciptakan perpaduan rasa pahit dan manis. Disajikan dalam bentuk panas atau dingin. Kali ini saya pesan yang panas saja karena udara di Sembalun sudah dingin banget. Segelas Vietnam Drip seharga 20 ribu. 

Sedangkan minuman yang lain beragam ya harganya. Dari kopi-kopian, minuman dingin hingga jus harganya kisaran 15 ribu  sampai 30 ribu. 

Untuk cemilannya kami pesan Pisang Goreng Cokelat Keju. Untuk porsinya cukup besar dan mengenyangkan. Cocok dijadikan cemilan saat bersantai sambil ngopi. Harga seporsi Pisang Goreng Cokelat Keju yaitu 23 ribu. 

Selain itu, menu disini cukup lengkap. Dari makanan dan snack kisaran harganya 20 ribu hingga 40 ribu. Awalnya tadi saya berminat pesan Indomie Rebus karena udara di Desa Sembalun cukup dingin apalagi suasana hujan gene. Tapi karena perut gak kompromi, saya urungkan buat pesan. Next time kalau datang kesini lagi, pasti pesan Indomie Rebus. 





Saat duduk santai menikmati ngopi dan cemilan, tiba-tiba hujan turun dengan deras. Suasananya tambah syahdu sekali. Puncak-puncak bukit tertutup kabut tebal. Angin dingin yang berhembus menyapa kulit. Kopi yang tadinya panas, perlahan-lahan menjadi dingin. Mau panas maupun dingin Vietnam Drip Coffee tetap nikmat di mulut. 

Sambil menikmati hujan, kami berempat ngobrol-ngobrol santai. Awalnya dilema mau meneruskan perjalanan ke tujuan utama. Tapi dengan modal nekat dan kami sudah menyiapkan jas hujan di dalam jok motor. Akhirnya kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke arah utara. 

Bisa tebak tujuan kami selanjutnya kemana ?. Kalian bisa baca ceritanya di tulisan saya sebelumnya. Setelah menunggu hujan reda, kami meneruskan perjalanan menuju Desa Obel-Obel melalui jalur utara. 

Sebelum itu, saya menyempatkan mampir di salah satu tenda sayur-sayuran Sembalun yang banyak di pinggir jalan. Beberapa sayuran saya beli seperti edamame, sawi, wortel, kentang, dan daun bawang. Disini sayurannya segar karena baru dipetik. Harganya juga bisa ditawar bagi yang pintar nawar seperti saya, hehehe.

Touring dan ngopi ke Teras Sawah Resto & Guest House Syariah jadi salah satu pengalaman santai yang layak diulang di waktu lain. Tempatnya nyaman, view-nya juara, suasananya tenang, dan cocok untuk berbagai suasana.


Kadang yang kita butuhkan memang bukan perjalanan jauh, tapi tempat sederhana dengan pemandangan hijau dan secangkir kopi hangat.

Kalau kalian sedang mencari destinasi touring santai di Lombok Timur, tempat ini bisa banget masuk daftar kunjungan berikutnya. Jarak dari Mataram ke Teras Sembalun yaitu 93 kilometer dengan waktu tempuh 2 jam 30 menit. 

Info lebih lengkapnya kalian bisa kunjungi aku instagramnya (@terassawah). Buka dari jam sembilan pagi hingga sembilan malam. 

Btw, setelah semua sayuran pesanan istri sudah dibeli, kami melanjutkan riding ke lokasi selanjutnya. Jangan lupa mampir di tulisan sebelumnya ya !.

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

0 comments:

Post a Comment