Saturday, 10 April 2021


Bisa bersantai bareng dengan keluarga besar itu bersyukur banget. Apalagi bisa ke pantai sambil menikmati suasana sore hari. Menunggu senja tiba dan menikmati segelas kopi. Duh nikmat sekali. 

Kebetulan sebelum Puasa Ramadhan, ada long weekend. Saya bersama keluarga besar, berkunjung ke rumah nenek di Desa Batuyang, Lombok Timur. Waktu tempuh perjalanan dari Kota Mataram kurang lebih dua jam. Berangkat sekitar jam sembilan pagi. Bapak mama sebelumnya menjemput kami di rumah. Maklum, saya bersama keluarga kecil sudah pindah ke rumah baru di daerah Lombok Barat.

Dari rumah kami, perjalanan dilanjutkan menuju arah Lombok Timur. Melewati Kediri, Narmada, Mantang, Kopang, Terara, Sikur, Masbagik, Aikmel, Apitaik dan finish di Desa Batuyang yang letaknya berdekatan dengan Pohgading dan Pringgabaya, Lombok Timur. Cuaca cerah dan sangat bersahabat, perjalanan lumayan ramai lancar.

Berjumpa dengan nenek dan anggota keluarga lainnya adalah kebahagiaan buat kami. Alhamdulillah nenek sudah sehat dan bisa beraktivitas seperti biasanya. Jadi beberapa minggu sebelumnya, nenek jatuh sakit dan dilarikan ke klinik dekat rumah beliau. Sempat beberapa hari dirawat, nenek akhirnya diijinkan pulang ke rumah. Baru beberapa hari kemudian kami baru bisa menjenguk beliau. Melihat nenek sudah bisa tertawa melihat cicitnya yang datang, membuat hati kami semua lega. 

Berhubung nenek sudah sehat, kami berencana untuk refreshing sejenak. Kebetulan ada tempat bersantai yang asyik yang lokasinya gak jauh dari rumah nenek. Jadi, kami pergi bareng-bareng kecuali nenek yang gak mau diajak. Beliau lebih nyaman beristirahat di rumah saja. Oke kalau begitu. 

Tempatnya sih rekomendasi dari kedua adek sepupu yang bernama Desi dan Wulan. Kata mereka tempatnya kece dan ada cafe-cafenya. Terpenting makanan dan minumannya enak. Sekitar jam lima sore, kami menuju lokasi. Sebut saja namanya, Pantai Tanjung Menangis atau orang sekitar menyebutnya Pantai Segara. Sempat bingung sih kenapa namanya Segara, padahal di tulisannya Pantai Tanjung Menangis. 



Jadi menurut penuturan kedua adek sepupu saya, dulu memang disebut Pantai Segara yang diambil dari bahasa Sasak memiliki arti pantai lautan. Emang bener sih yang dilihat di pantai itu hamparan lautan luas. Tapi seiring berjalannya waktu, pantai ini diberi nama Pantai Tanjung Menangis. Ada juga yang menamainya Pantai Ketapang. Menurut saya sih, hal ini gak perlu diperdebatkan. Atau temen-temen yang tau sejarah kenapa pantai ini punya tiga nama ?. Bisa isi komentar di bawah !. 

Jalur menuju pantai ini dibilang gak begitu sulit. Dari perempatan Pringgabaya (eks Pasar Pringgabaya) atau di Puskesmas Batuyang, kita berbelok ke kanan. Kondisi jalannya ada yang kurang baik dan ada yang mulus. Tapi disepanjang perjalanan, kita dimanjakan oleh hamparan persawahan dan deretan perkebunan kelapa. Apalagi kalau cuaca cerah, kita bisa melihat megahnya Gunung Rinjani. Masih di musim penghujan ini, kami beruntung bisa menikmati hijaunya persawahan dan tanaman lainnya. Kece dah pokoknya. 

Sekitar dua kilometer, kami melewati jalanan yang lumayan baik sampai di pintu gerbang "Selamat Datang di Pantai Tanjung Menangis". Sore itu suasana di sepanjang pantai sangat ramai oleh anak-anak muda dari desa sekitar. Mereka ada yang nongkrong bareng temen, keluarga, pacar, atau gebetan. Suasananya mirip seperti salah satu tempat nongkrong di Lombok Barat bernama Tanjung Bias yang sedang ngehits sampai sekarang. 






Banyak dibuka cafe-cafe lengkap dengan atributnya. Kecenya lagi tempatnya keren. Meskipun pantainya berpasir hitam, menurut saya ini hitamnya beda. Hitamnya pekat dan lembut. Cocok buat bersepeda di pinggir bibir pantai. Beda dengan pantai berpasir hitam yang pernah saya datangi. 

Setelah turun dari kendaraan, kami mencari tempat untuk bersantai. Meskipun banyak cafe disini, kami mencari yang gak banyak orang dan bisa buat duduk nyaman. Maklum saja, di jaman Covid-19 yang gak tau kapan berakhir ini, kami harus menjaga diri. Jadi harus pandai-pandai mencari tempat bersantai. 

Pilihan kami jatuh pada Nakama Cafe Taman Sakura, salah satu cafe diantara cafe-cafe lainnya yang cukup kece. Bukanya dari sore hari sampai malam. Uniknya ada deretan tanaman bunga sakuranya. Ini bunga gak asli Bunga Sakura lhoo ya. Hanya saja, dirangkai menyerupai pohon dengan bunga-bunga sakuranya yang terbuat dari bahan pelastik. Cukup instagramable untuk eksis foto-foto. Serasa seperti di Jepang. 







Menariknya disini, tempat duduknya yaitu bean bag warna-warni dan meja kayu. Pasir pantainya juga bersih dan gak banyak sampah yang berserakan. Angin laut juga gak kencang dan gak ada ombak. Pas banget untuk sekedar bermain air dan berenang di pantai ini.  

Menurut beberapa artikel yang sudah saya baca dari pantai ini, ada kepercayaan apabila mandi di air laut Pantai Tanjung Menangis bisa mengobat beberapa penyakit seperti asam urat, gatal-gatal di kulit, stroke, rematik, pegal linu dan lain sebagainya karena ada kandungan zat ionnya. Bisa percaya bisa gak, tapi buat saya duduk di pantai dan berenang itu bisa meningkatkan imunitas dan buat suasa hati happy. Bener gak ?. Kapan-kapan saya pengen berenang disini dah kalau kesini lagi. 

Semakin sore, langit semakin cerah dan berwarna orange. Dari kejauhan, di sebelah utara terlihat Bukit Kayangan dan Gunung Rinjani yang sangat kokoh. Di sebelah barat, terlihat matahari sebentar lagi akan tenggelam. Di sebelah timur atau yang menghadap Selat Alas terlihat deretan perbukitan Pulau Sumbawa yang sangat indah. 

Duduk bersantai sambil melihat buku menu, ada beberapa menu yang kami pesan. Meskipun namanya Nakama Cafe, bukan berarti menunya ada sushi, dorayaki (kesukaan Doraemon), atau donburi. Di cafe ini menunya ala-ala cafe jaman sekarang. Kebanyakan sih cemilan sih yang saya ingat. So, saya gak tau juga kenapa dinamakan Nakama Cafe. Mungkin ada yang tau asal muasal dinamakan demikian ?.




Menu yang kami pesan; ada kopi hitam panas, kebab, kentang goreng, es teler dan lain-lain. Pelayanannya sejauh ini cukup memuaskan. Mas-masnya sangat ramah kepada pengunjung, pakaian juga sangat rapi dan kompak. Memakai kaos hitam bertuliskan Nakama Cafe. Buat saya ini cafe cukup profesional dan serius dalam memanjakan para pengunjung yang datang sambil bersantai. 

Menu sudah dipesan, pelayan yang sibuk menuliskan nama-nama menu di sebuah selembar kertas kecil, segera bergegas menuju kasir untuk segera diproses. Terlihat orang-orang di dapur kerja sangat cepat sekali. Sambil menunggu pesanan datang, emak-emak asyik ngobrol ngalor-ngidul. Istri terdiam menikmati suasana pantai. Saya sibuk foto-foto gak jela. Bapak mah biasa, menjiwai sebagai ahli hisap yang konsisten berada dimana saja. Adek-adek sibuk eksis dan tiktokan. Kalau si kecil ngapain ya ?.

Si kecil gak mau duduk, pengennya diajak jalan-jalan sekitaran pantai. Melihat anak-anak kecil mandi di pantai, para nelayan yang mau pergi melaut dan ada juga warga desa yang sedang menangkap ikan menggunakan jala dari pinggir pantai. Suasana desa nelayan yang sudah lama gak saya lihat semenjak membatasi diri untuk gak kemana-mana di tengah pandemi Covid-19 setahun yang lalu. 

Es Teler

Kopi hitam panas

Kebab

Kentang goreng

Sedikit mereview menu yang kami pesan. Saya sendiri memesan kopi hitam saja, sedangkan istri memesan kebab dan es teler. Disini es telernya enak banget lho ya. Gak menggunakan pemanis buatan. Ada cincaunya, ada potongan buah alpukat, buah naga, nangka dan kelapa muda. Apalagi ditambah dengan sirup pandan dan susu kental manis, menambah aroma menyengarkan di setiap tegukannya. 

Saya juga mencicipi kebabnya. Ada potongan sosis sapi, saos dan bumbu kebab seperti biasanya. Kulit kebabnya lumayan renyah. Sekedar saran saja, mungkin perlu ditambahkan sayur kol dan sayuran lainnya biar tambah enak. Cara penyajiannya juga saya rasa masih kurang oke. Mungkin kedepannya lebih baik lagi dalam hal penyajiannya makanan dan minumannya. Kalau kentang gorengnya rasanya biasa saja. Perlu ada inovasi kedepannya, gimana cara untuk membuat makanan itu menarik dan buat para pengunjung penasaran. 

Over all, pelayanannya cukup baik dan tempatnya juga bersih menurut saya. Kami gak terlalu lama menunggu menu yang kami pesan. Makanannya juga gak dingin alias masih hangat. Kopi hitam panas juga sudah mantap rasanya. Sangat cocok dinikmati sambi duduk di atas bean bag.

Buat kalian yang sedang bingung mencari tempat nongkrong sore hari, bisa mencoba di Nakama Cafe, Pantai Tanjung Menangis. Lokasinya ada di Pringgabaya, Lombok Timur. Untuk mencari lokasinya gak terlalu sulit. Bila gak mau ribet nanya orang, kalian bisa buka google maps. Atau mau ngajak saya juga boleh. Pantai Tanjung Menangis buka dua puluh empat jam. Untuk masuk, gak dikenakan tarif (di hari-hari tertentu saja). Rekomendad buat ngabuburit besok disaat Bulan Puasa yang tinggal menghitung hari.

Penulis : Lazwardy Perdana Putra


8 comments:

  1. waw ada sakura di pantai di Lombok

    ReplyDelete
  2. mantap jiwa besok suasana nya akan ada tambahan lagi kayak ya di nakama cafe taman sakura😁

    ReplyDelete
  3. tempatnya instaagrammable juga tuh mas. paling mencolok ada di pohon sakuranya itu (pasti buatan dong ya). ternyata ramai juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perlu datang dan rasakan kenikmatan nongkrong disini bang

      Delete
  4. tempat nya udah beda sekarang mas lazwardi kapan2 mampir lagi ya.

    ReplyDelete