Thursday, 9 April 2020

Menikmati Penyeberangan di Selat Bali


Sudah hampir setahun berlalu dan saya masih merasakan keseruan di sepanjang perjalanan Lombok - Banyuwangi melewati jalanan Pulau Bali yang penuh lika-liku. Menggunakan motor Nmax kesayangan, menambah perjalanan saya bersama istri semakin seru dan kece.

Ini pertama kalinya saya mudik ke Jawa, ke kampung halaman istri tercinta. Sejak menikah, kami berdua memang merencanakan untuk merayakan Idul Fitri di Banyuwangi. Sekalian berbulan madu di salah satu kabupaten paling ujung timur dari Provinsi Jawa Timur yang memiliki berbagai destinasi wisata alam yang sudah sangat terkenal seperti ; Kawah Ijen, De Djawatan, Baluran dan masih banyak lagi.

Sudah setahun berlalu, tapi cerita perjalanan masih terbayang. Dari Lombok berangkat malam hari, bawa motor ngantuk-ngantuk karena gak tidur di kapal, akhirnya tidur sebentar di masjid dekat pelabuhan Gilimanuk dan akhirnya sampai juga di Rogojampi. Salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Banyuwangi. Gak sabar ingin menceritakan cerita ini di dalam tulisan blog. Yuk ikutin sampai cerita ini selesai !.






Berangkat dari rumah (Kota Mataram,Lombok) sekitar jam delapan malam. Sehabis berbuka puasa saya dan istri sudah bersiap-siap berangkat. Kali ini kami berdua gak berlebaran bareng dengan keluarga besar di Lombok. Ini pertama kalinya saya akan berlebaran dengan keluarga besar istri di Banyuwangi. Sedih gak lebaran bareng papa mama sih gak juga. Kan masih bisa video call lewat whatsapp. Memanfaatkan tehnologi lah jaman sekarang.

Kami gak hanya berdua saja, tapi ada bapak ibu mertua dan adek ipar yang juga berangkat. Mereka menggunakan mobil, sedangkan saya dan istri motoran. Sambil menyelam minum air. Sekalian mudik, gak ketinggalan touringnya dong. Kebetulan saya dan istri punya hobi touring. 

Sudah lama juga, saya menunggu moment ini. Kapan lagi bisa touring ke Banyuwangi bareng istri. Dulunya gak ada kepikiran bakalan touring ke Banyuwangi sendirian. Eh, akhirnya dikasi jodoh orang Banyuwangi. Disini saya merasakan namanya kalau sudah rezeki gak bakalan kemana. Bener gak ?.


Saya percepat saja ceritanya karena saya akan fokus menceritakan suasana di atas kapal fery penyeberangan di Selat Bali. Sengaja mengambil jam malam dari Lombok biar nantinya sampai di Banyuwangi gak kemalaman. Perjalanan yang kami tempuh dari Lombok ke Banyuwangi kurang lebih dua belas jam. Menyeberangi dua pulau dan dua selat.  

Pelayaran dari Pelabuhan Lembar ke Pelabuhan Padangbai, Bali memakan waktu normal empat jam saja. Berhubung penyeberangan malam, saya dan istri habiskan untuk tidur saja. Mau lihat pemandangan juga gak bisa karena gelap gulita. Hanya terlihat lampu-lampu perahu nelayan yang sedang menangkap ikan di tengah laut.

Sesampai di Pelabuhan Padangbai sekitar jam enam pagi. Kami berdua melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Gilimanuk yang berada di ujung barat Pulau Bali memakan waktu sekitar lima jam perjalanan (bawa motor santai). Alhamdulillah, kami gak bertemu dengan kemacetan sepanjang jalan di Pulau Bali. Sampai di Pelabuhan Gilimanuk sekitar jam sebelas siang. Masih banyak waktu untuk beristirahat sejenak sambil menunggu mertua yang berada di belakang kami.

Akhirnya kami memutuskan untuk istirahat sejenak di Masjid Agung, Gilimanuk. Lokasinya sekitar seratus meter dari Pelabuhan Gilimanuk. Kami tertidur di teras depan masjid karena sudah ngantuk berat. Mana sedang berpuasa lagi. Kurang lebih dua jam beristirahat sambil melaksanakan shalat dzuhur disini, kami melanjutkan perjalanan. Antrian memasuki kapal fery di Pelabuhan Gilimanuk ramai lancar. Kalau gak salah seminggu sebelum Idul Fitri alias baru hari pertama waktu orang mudik. Banyak kendaraan roda dua yang mengantri. Gak terlalu lama menunggu, akhirnya kami memasuki kapal fery. Kapal ferynya lumayan bagus. 






Cuaca di Selat Bali cukup cerah meskipun angin lumayan kencang. Arus lalu lintas penyeberangan juga sangat lancar. Cukup ramai para pemudik baik dari Bali mau ke Jawa, begitu sebaliknya. Paling banyak para pemudik yang menggunakan kendaraan roda dua. Apalagi di jaman sekarang, roda dua menjadi pilihan favorit untuk mudik. Biaya cukup murah, efisien dan lebih cepat sampai. Kurangnya sih, gak bisa bawa banyak barang seperi kulkas dua pintu atau lemari pakaian, hahahaha.

Kami berdua sudah di atas kapal. Kapal yang kami tumpangi bernama KMP Rheni II. Ukuran kapalnya sih gak terlalu besar tapi sangat nyaman. Suasana di dalam kapal sangat ramai. Syukurnya kami dapat tempat duduk. Ruang penumpang ada dua macam. Ada ruang VIP/indoor ber-AC dan ruang ekonomi (outdoor). Kami berdua memilih untuk duduk sambil bersantai di outdoor saja. Lebih sejuk, kena AC alami dan pengen menikmati perjalanan intinya. Fasilitas di KMP Rheni II menurut saya sangat oke. Toiletnya cukup bersih, kursi atau bangkunya juga sudah direnovasi. Cat livery kapalnya juga baru. So, secara keseluruhan kapalnya oke. 

Sambil menunggu kapal berangkat, saya ambil kamera untuk hunting foto. Si istri duduk santai di kursi sambil menikmati perjalanan. Sudah lama saya gak menginjakkan kaki di Pelabuhan Gilimanuk. Terakhir kali nyeberang di Selat Bali pas lulus kuliah enam tahun yang lalu. Penyeberangan di Selat Bali hanya memakan waktu setengah jam saja di waktu normal. Bila cuaca kurang bersahabat, bisa sampai satu jam lebih. 








Yang paling saya suka di penyeberangan Selat Bali yaitu waktu tempuhnya gak lama dan pemandangan di pagi dan sore hari sangat kece. Di sebelah barat, kita bisa melihat kokohnya Gunung Ijen di Kabupaten Banyuwangi. Sedangkan di sebelah timur kita bisa melihat perbukitan hijau dari Taman Nasional Bali Barat, Pulau Bali. 

Kecenya lagi sebagai orang yang punya hobi fotography, banyak kapal yang bisa kita ambil fotonya disini. Kapal-kapal fery yang melayani penyeberangan di Selat Bali cukup banyak dan saya sendiri hampir hafal nama-namanya. Kapal fery favorit saya di Selat Bali ada beberapa. Salah satunya KMP Dharma Rucitra, KMP Dharma Kencana II dan KMP Rheni II sendiri. Senengnya bisa kebagian naik salah satu kapal fery favorit saat itu.


Sekitar setengah jam bongkar muat barang, kapal kami akhirnya berangkat. Perjalanan cukup menyenangkan sejauh ini. Bisa melihat Selat Bali lagi itu sudah cukup puas buat saya pribadi. KMP Rheni II lumayan cepat juga jalannya. Ombak di awal keberangkatan juga gak terlalu besar. Tapi pas di pertengahan kurang lebih sepuluh menit lagi sampai Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, arus di Selat Bali cukup kencang. Kapal mulai oleng kapten !. Banyak penumpang yang ketakutan tapi itu gak berlaku buat saya dan istri. Kami berdua sangat menikmati perjalanan. Menikmati goyangan kapal dan angin laut. Yang penting nantinya gak mual dan masuk angin saja.

Selat Bali terkenal dengan arus lautnya yang cukup kencang. Apalagi di musim-musim ombak, bisa sampai empat meter ketinggian ombaknya. Paling asyik nyeberang ke Pulau Bali atau sebaliknya di pagi hari atau tengah malam karena disaat itu arus lautnya gak cukup kencang. 








Setelah kurang lebih satu jam perjalanan menyeberangi Selat Bali, sampailah kami di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Senang banget rasanya menginjakkan kaki di Banyuwangi lagi. Waktu sudah menunjukkan jam empat sore waktu Banyuwangi. Kurang lebih satu jam lagi kami sampai di Rogojampi, Banyuwangi. 

Di depan Pelabuhan Ketapang ini ada sebuah masjid yang punya cerita lhoo. Dulu pas jaman kuliah, saya sempat tidur di masjid ini setelah melakukan perjalanan dua belas jam dari Jogyakarta menaiki Kereta Ekonomi Sritanjung. Di dekat pelabuhan ini juga ada stasiun kereta. Namanya Stasiun Ketapang yang dulunya bernama Stasiun Banyuwangi Baru. Stasiun kereta api paling ujung timur Pulau Jawa. Saya beberapa kali turun dari kereta di stasiun ini. 


Oke, Biar gak kemaleman dan ngejer buka puasa di rumah si mbah, kami melanjutkan perjalanan ke Rogojampi. Jalanan menuju Kota Banyuwangi sangat ramai sekali apalagi jarak Pelabuhan Ketapang ke pusat Kota Banyuwangi cukup dekat, sekitar sepuluh menit saja. 

Ini pertama kalinya saya datang di Kota Banyuwangi. Kotanya ramai, banyak taman hijaunya. Ada Taman Sritanjung dan satu lagi saya lupa namanya. Suasana ngabuburit di Kota Banyuwangi cukup terasa. Gak jauh beda dengan suasana puasa di kampung halaman tercinta. 

Kurang lebih setengah jam lagi kami sampai di Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi. Disini juga suasanan kota kecamatannya ramai banget. Apalagi ada pasar induk bernama Pasar Rogojampi yang malamnya berubah menjadi pasar malam. Bener-bener saya langsung jatuh cinta dengan Banyuwangi. 

So, perjalanan dari Pulau Lombok sampai di Banyuwangi berjalan dengan lancar dan kece. Sejauh ini cukup memuaskan. Gak sabar rasanya ingin mengexplore destinasi wisata yang ada di Banyuwangi. Banyuwangi rekommended buat kalian yang ingin motoran atau touring. Banyak destinasi wisata yang bakalan memanjakan kalian disini. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

6 comments:

  1. Waaah seru ya bisa touring bareng istri yg hobynya sama..jadi gak bakalan ngeluh capek capek dan capek lah kalo gitu...karena pastinya bisa menikmati semuanya selama didalam perjalanan

    ReplyDelete
  2. pernah nyebrang disitu juga, lebih lama nunggunya/ngantrenya daripada nyebrang nya, heuheuheu

    ReplyDelete
  3. Seru bgt mudik sambil touring bareng istri..

    aku pernah melewati selat ini, dulu bgt tapi, pas study tour SMA ke Bali, gak ngerti pake kapal feri yg mana.. :D

    -Traveler Paruh Waktu

    ReplyDelete