Kembali lagi dengan cerita seru lainnya. Kali ini saya akan mengajak kalian mengexplore tetangga Pulau Lombok. Hari yang ditunggu-tunggu sudah tiba. Sudah lama direncanakan, akhirnya jadi juga saya dan anak istri motoran ke Pulau Sumbawa. Kebetulan kondisi kesehatan anak-anak baik, saya dan istri memutuskan untuk mengexplore beberapa destinasi wisata yang ada di daerah yang terkenal dengan susu kuda liarnya.
Bagi kalian yang sudah berteman di instagram maupun facebook, pastinya sudah pernah melihat beberapa cuplikan video motoran saya dan keluarga ke Pulau Sumbawa bulan lalu. Cerita lengkapnya saya bagi beberapa episode agar gak kepanjangan nulis ceritanya.
Dimulai dari perjalanan menuju Pelabuhan Pototano, Kab. Sumbawa Barat di hari yang bersahabat. Ada libur empat hari karena ada tanggal merah dan cuti bersama di Hari Kamis dan Jumat, disambung dengan Sabtu Minggu dimana saya libur kerja.
Kami berangkat di Kamis pagi. Bangun subuh, lanjut mempersiapkan segala kebutuhan. Cek ban dan mesin motor agar aman di perjalanan. Mandi dan sarapan pagi, lanjut isi bensin penuh di SPBU dekat rumah.
Langit pagi cukup bersahabat. Cek kembali barang bawaan agar gak ada yang tertinggal. Anak-anak sangat antusias sekali diajak jalan-jalan ke Sumbawa. Begitu juga saya dan istri yang sudah lama sekali gak nyeberang ke Pulau Sumbawa.
Ini pertama kalinya anak-anak menyeberang ke Sumbawa. Setelah beberapa tahun terakhir mereka sudah saya ajak motoran ke Bali dan Banyuwangi. Jadinya sudah gak khawatir soal kondisi fisik mereka karena sudah teruji dan gak rewel di jalan.
Kakak Ken dan Adeq Lala sudah lengkap dengan jaket touring, masker dan helm. Gak lupa pakai kacamata hitam agar gak silau di jalan. Saya dan istri juga pakai jaket tebal agar gak masuk angin. Berabe entar kalau bikernya mabuk di jalan.
Sekitar jam sembilan pagi, kami berangkat dari rumah. Agak kesiangan jalannya tapi berhubung kami gak kejar waktu, jadinya jalan santai saja. Penginapan juga sudah kami pesan dan sudah menginfokan ke pihak penginapan kalau sampainya kesorean.
Estimasi waktu tempuh dari rumah ke Pelabuhan Kayangan, Lombok Timur diperkirakan paling telat tiga jam. Jalur yang dilewati melalui jalur selatan yaitu By Pass Bandara BIZAM, belok kiri di perempatan Penujak menuju arah Kota Praya. Lanjut ke arah timur yaitu Ganti, Keruak, Sakra dan Kota Selong.
Dari Kota Selong, mengambil jalur pintas melalui Pancor dan tembus perempatan Rempung, Lombok Timur. Alasannya karena menghindari arus lalu lintas yang padat apabila melewati jalur tengah. Meskipun agak jauh sedikit tapi kami bisa pangkas waktu lebih cepat setengah jam dari jalur tengah.
Sampai di Desa Aikmel, kami beristirahat sambil ke kamar mandi. Lumayan pantat panas setelah hampir dua jam duduk di jok motor tanpa berhenti. Kami mampir di Masjid Besar Al-Mujahidin Aikmel yang dekat dengan Pasar Umum Aikmel. Lokasinya persis di pinggir jalan besar atau tepatnya di perempatan Aikmel.
Masjid ini sering dijadikan tempat singgah bagi yang melakukan perjalanan jauh untuk shalat dan beristirahat. Fasilitasnya cukup lengkap. Yang paling saya suka mampir di masjid ini yaitu air nya yang dingin banget karena desa ini berada di ketinggian 280 mdpl dan dekat dengan Gunung Rinjani. Bagi yang mau ke Sembalun pastinya akan melewati masjid ini.
Oke, setelah beristirahat kurang lebih sepuluh menit. Kami melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Kayangan. Kurang lebih setengah jam lagi sampai di pelabuhan. Perjalanan dari Aikmel ke Pelabuhan Kayangan cukup lancar.
Dari perempatan Aikmel, kami menuju arah Poh gading, Batuyang, Kec. Pringgabaya. Sedangkan kalau ke Sembalun, kita mengambil arah jalur Desa Suela dan Sapit.
Baca ini juga : Ngopi di Awal Tahun : Serata Coffee & Camp
Waktu sudah menuju siang hari, sekitar jam sebelas menjelang siang kami sampai di pertigaan Labuan Lombok. Belok ke kanan menuju pelabuhan. Moment ini yang ditunggu-tunggu. Sebelum memasuki pelabuhan, kami melewati jalur menanjak dan berkelok-kelok di Bukit Kayangan.
View dari sini keren habis. Ke sebelah barat, kita akan melihat cantiknya Puncak Gunung Rinjani dan Pelabuhan Labuan Lombok. Sedangkan kalau melihat ke arah timur, kita bisa melihat indahnya Selat Alas dan jejeran perbukitan Pulau Sumbawa.
Birunya laut dan angin pantai yang sepoi-sepoi. Dari jauh terlihat puluhan kapal feri yang sedang berlayar. Pelabuhan Kayangan sudah gak jauh lagi. Jalur disini keren habis. Aspal mulus dan jalanan yang lebar.
Sebelum masuk pelabuhan, saya membeli tiket dulu di salah satu warung kecil khusus menjual tiket kapal yang ada di pinggir jalan. Sebenarnya bisa beli lewat aplikasi ferizy, tapi karena gak tau jam berapa sampai pelabuhan, enaknya langsung beli di warung pinggir jalan saja.
Jangan khawatir, jumlah warung tiket disini banyak dan buka dua puluh empat jam. Jadinya gak bakalan bingung mau beli tiket langsung dimana. Dari terminal Labuan Lombok sampai pintu pelabuhan berjejer warung penjual tiket dengan harga yang sama karena dikelola oleh koperasi setempat.
Untuk harga tiketnya agak lebih mahal dibandingkan beli lewat aplikasi ferizy karena belum kena jasa. Namanya saja mereka jual jasa juga kan. Harap maklum.
Harga tiket penyeberangan Kayangan - Potatano kalau motor itu 80 ribu. Itupun bervariasi tergantung kelas kendaraannya. Bagi yang gak mau ribet pesan lewat ferizy, bisa langsung beli disini. Petugasnya juga ramah-ramah.
Untuk harga tiket motor itu sudah termasuk sama penumpang. Berapapun penumpangnya, yang dihitung tiket hanya kendaraan yang dibawa.
Btw, setelah beli tiket, kami melanjutkan perjalanan memasuki pelabuhan. Sebenarnya kami mengejar salah satu kapal bernama KMP Trimas Elisa tapi berhubung kondisi pelabuhan yang padat oleh kendaraan dan penumpang, sepertinya gak berjodoh dengan Si Elisa.
Suasana pelabuhan siang itu sangat ramai oleh penumpang yang akan menyeberang ke Pulau Sumbawa. Hari itu juga bertepatan dengan hari libur alias long weekends. Jadinya banyak perantau dan anak sekolah yang pulang kampung ke Sumbawa, Dompu dan Bima.
Dan pelabuhan Kayangan ini termasuk salah satu pelabuhan tersibuk di Indonesia. Disini ada sekitar 25 (dua puluh lima) kapal yang beroperasi selama dua puluh empat jam. Pelabuhan ini gak pernah sepi. Memiliki dua dermaga kapal roro alias feri. Terkadang kalau salah satu dermaga rusak, pasti akan macet.
Kurang lebih menunggu hampir dua jam, akhirnya kami berjodoh dengan KMP Garda Maritim I yang dijadwalkan berangkat jam dua siang. Salah satu kapal favorit di penyeberangan ini. Sambil menunggu kapalnya mengantri nyandar di dermaga, anak dan istri istirahat di ruang tunggu penumpang yang ber-AC. Sedangkan saya menjaga motor di antrian sambil cuci mata.
Tiba-tiba petugas mengarahkan para pemotor untuk menuju pintu dermaga I. Termasuk kendaraan di dalam rombongan tersebut. Kami menuju pintu dermaga I untuk mengantri masuk ke dalam lambung kapal.
Untuk jumlah kendaraan yang akan masuk ke dalam kapal cukup banyak dengan mayoritas pemotor. Sisanya mobil pribadi, travel dan bus sedang.
Berhubung lagi ramai penumpang, istri berinisiatif jalan kaki naik ke atas kapal saat rumdoor kapal susah turun. Alasannya agar dapat tempat duduk. Sedangkan saya dan anak-anak stay di atas motor menunggu ijin dari petugas pelabuhan untuk masuk ke dalam kapal.
Satu per satu petugas mengecek tiket baik kendaraan maupun penumpang. Setelah proses pengecekan tiket, kami dipersilahkan masuk menuju kapal. Kendaraan masuk satu per satu ke deck kendaraan dengan tertib. Terlihat ABK sibuk mengatur posisi kendaraan di dalam kapal agar kapal dalam posisi stabil.
KMP Garda Maritim merupakan kapal jenis roro (roll on-roll off) atau biasa kita menyebutnya kapal feri. Dimana bisa mengangkut kendaraan kecil hingga besar dan penumpang. Kapal ini dioperasikan oleh PT Multi Guna Maritim dan melayani penyeberangan Pelabuhan Kayangan - Pelabuhan Pototano dari tahun 2017 hingga sekarang.
Memiliki panjang 57 meter dan lebar 14 meter dengan tinggi deck kendaraan sekitar 4,5 meter sehingga kendaraan seperti truk dan bus yang tingginya sekitar 4,4 meter bisa masuk ke dalam deck kapal.
Bentuk kapal ini cukup unik. Mirip seperti piramida yang memiliki dua sisi yang sama. Ada dua ruang anjungan atau ruang kemudi yang berada di bagian depan dan belakang kapal kapal. Baling-baling juga berada di bagian depan dan belakang sehingga mempermudah laju kapal saat berlayar.
Selain KMP Garda Maritim I, ada juga KMP Garda Maritim II, Garda Maritim 6 dan Garda Maritim 8 yang beroperasi di lintas Kayangan - Pototano. Banyak orang menyebutnya kapal-kapal ini "kapal kembar" karena bentuknya mirip dan satu perusahaan.
Ruang penumpang hanya satu lantai. Semuanya kelas ekonomi duduk dan lesehan dalam satu ruangan. Tempat duduknya dari plastik tebal tapi sangat nyaman. Lesehan tempat selonjorannya juga gak begitu besar tapi cukup buat beberapa orang.
Bagi yang ingin bersantai di luar juga ada beberapa tempat duduk di pinggiran kapal. Berhubung suasana kapal sangat ramai oleh penumpang tapi syukurnya masih nyaman.
Kurang lebih setengah jam kapal melakukan proses bongkar muat, sekitar jam dua siang kapal diberangkatkan ke Pelabuhan Pototano. Cuaca sangat bersahabat. Sayangnya puncak Gunung Rinjani tertutupi oleh awan. Angin laut normal dan diprediksi Selat Alas cukup tenang.
Jadi gak sabar melihat proses kapal berangkat. Rumdoor kapal ditutup oleh ABK kapal. Suasana deck kendaraan sangat padat. Kapal membunyikan klakson pendek sebanyak dua kali pertanda akan berpapasan dengan kapal lain yang giliran nyandar di dermaga.
Kecepatan kapal masih tergolong sedang. Berpapasan dengan kapal lainnya yang sedang menunggu giliran masuk pelabuhan. Melakukan penyeberangan Lombok - Sumbawa ini adalah impian banyak travelers. View yang ditawarkan sangat indah.
Laut dengan gradasi hijau dan biru. Pulau-pulau kecil yang bakalan akan kita lihat sepanjang perjalanan seperti Gili Kapal, Gili Kondo, Pulau Paserang, Pulau Belang, dan yang sangat terkenal yaitu Pulau Kenawa yang posisinya sangat dekat dengan Pelabuhan Pototano.
Estimasi penyeberangan kurang lebih dua jam. Jadinya bisa kita gunakan untuk tidur siang dan keliling di atas kapal. Berhubung belum makan siang, kami makan siang dulu dengan nasi bungkus yang sudah dibeli di pelabuhan tadi. Sedangkan anak-anak sudah dibawakan bekal dari rumah sebelum berangkat tadi.
Fasilitas lain kapal ini antara lain ada mushola, kantin, toilet yang bersih, ruang medis dan ruang ibu menyusui. Over all, kapal ini cukup nyaman dan bersih. Sayangnya kecepatan kapalnya agak santai. Jalan kapal yang gak pada umumnya. Bisa dibilang sangat lambat.
Tapi untungnya kami gak diburu waktu. Jadinya gak masalah. Justru kami diuntungkan karena bisa tidur siang agak lama. Lumayan dua jam duduk di atas motor dari rumah hingga pelabuhan, pantat juga lumayan anget. hahaha.
Penyeberangan hari itu cukup lancar. Laut tenang dan angin gak begitu kencang. Langit juga sedikit berawan meskipun terlihat dari jauh Pelabuhan Pototano diguyur hujan.
Kurang lebih tiga jam pelayaran, kapal sampai juga di Pelabuhan Pototano. Salah satu pelabuhan terindah di Indonesia. Gak menunggu lama masuk pelabuhan, kapal pun bersiap-siap bersandar di dermaga 2.
Untungnya sudah selesai hujan, jadinya gak perlu menggunakan jas hujan. Jam lima sore, kami turun dari kapal. Ini pertama kalinya anak-anak menginjakkan kaki di Pulau Sumbawa.
Mereka berdua sangat senang sampai di Pulau Sumbawa. Apalagi ditambah dengan panorama alam Sumbawa yang khas alam Indonesia Timur. Perbukitan hijau ketika musim hujan. Saat musim kemarau, perbukitan berwarna kuning kecokelatan.
Pertengahan Bulan Mei, perbukitan sebagian kecokelatan. Sebagian juga ada yang masih kehijauan. Suasana habis hujan menyambut kami di Pelabuhan Pototano, Kab. Sumbawa Barat.
Perjalanan kurang lebih setengah jam lagi sampai di Kota Taliwang. Kota Kabupaten Sumbawa Barat. Keluar dari pelabuhan, saya membawa motor agak santai sambil menikmati surganya Sumbawa Barat. Bertemu pertigaan Kamuter Telu, kami berbelok ke kanan menuju arah Kota Taliwang. Sedangkan kalau mengambil jalan lurus, akan mengarah ke Kota Sumbawa Besar, Kab. Sumbawa.
Yang khas kalau motoran di Pulau Sumbawa, kita bisa bertemu dengan kawanan sapi dan kerbau yang melintas di jalan raya. Jadinya harus ekstra hati-hati jika melintas. Mereka memang dibiarkan mencari makan sendiri dan akan pulang ke kandang dengan sendirinya tanpa khawatir dicuri. Keren kan !.
Menuju Kota Taliwang, kami melewati Desa Tapir, Kec. Seteluk dimana desa menuju Bukit Mantar yang terkenal itu. Selanjutnya kami sampai di Danau Lebok. Danau yang cukup luas yang tertutupi tanaman Eceng Gondok. Kalau sudah sampai di danau ini, tandanya sebentar lagi kami akan memasuki Kota Taliwang.
Sesampainya di Kota Taliwang, kami segera menuju penginapan yang sudah kami pesan melalui whatsapp. Perasaan senang dan lega akhirnya sampai di tujuan dengan selamat dan sehat. Anak-anak juga sangat senang dan baik-baik saja. Suasana kota yang cukup ramai. Taliwang sekarang sudah semakin ramai. Banyak pedagang yang berjualan. Tata kota yang semakin indah dan rapi.
Di tulisan selanjutnya, saya akan mengajak kalian jalan-jalan di Kota Taliwang. Jadi saya cukupkan tulisannya sampai disini. Ditunggu ceritanya minggu depan !.
Penulis : Lazwardy Perdana Putra



















0 comments:
Post a Comment