Tuesday, 19 March 2019

photo from : FSAI 2019 Lombok

Akhirnya Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) tahun ini singgah di Kota Mataram, Lombok. Saya pun bersemangat untuk ikut berpartisipasi mengikuti festival film kontemporer ini. Berawal dari teman satu kantor bernama Bang Romi yang membagikan brosur FSAI 2019 sehari sebelum festival dimulai. Cepat-cepat saya buka website FSAI dan langsung mendaftar.

Di tahun 2019 Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) kembali menampilkan film-film terbaik dari Australia dan Indonesia. Berbagai genre film panjang dari Australia dan Indonesia akan diputar di festival tahun ini. FSAI 2019 juga untuk pertama kalinya akan menayangkan pilihan film-film pendek yang ditampilkan di Flickerfest, sebuah festival film pendek terdepan di Australia. Di tahun keempat ini, jangkauan FSAI diperluas di lima kota  yaitu Jakarta, Mataram, Bandung, Makassar dan Surabaya.

Khusus di Kota Mataram, FSAI dimulai dari tanggal 15 s/d 17 Maret 2019,bertempat di CGV Transmart Kota Mataram. Kebetulan saya ditemani sama si doi untuk pergi nonton salah satu film yang diputar di FSAI. Kami memilih menonton di Sabtu malam, malam santai dan sekalian malam mingguan. Film yang kami tonton berjudul Gurrumul, seorang laki-laki buta asli Suku Aborigin, Autralia yang memiliki keahlian dalam bermusik dengan suara yang sangat merdu. Laki-laki hebat yang memiliki nama lengkap Geoffrey Gurrumul Yunupingu merupakan seorang artis yang sangat terkenal di Australia. Dia menemukan tujuan dan arti hidup melalui lagu dan musik yang terinspirasi dari komunitas dan tanah kelahirannya Pulau Elcho di Timur Laut Arnhem Land.




Tiket nontonnya gratis lhoo, caranya kita mendaftar di situs websitenya https://www.eventbrite.com terlebih dahuluSetelah masuk ke websitenya, kita tinggal memilih film yang akan ditonton. Lihat juga jadwal filmnya ya, jangan sampai salah klik. Mau nonton di Mataram,malah klik nonton di Makassar, kan lucu hehehe. Setelah memilih film, kita melanjutkan untuk registrasi terlebih dahulu dengan persyaratan yang sudah ditentukan. Setelah registrasi berhasil, kita akan menerima konfirmasi e-tiket di email masing-masing. Nantinya konfirmasi e-tiket dari email tersebut saat akan menonton, bisa kita tukarkan dengan tiket manual di meja konfirmasi panitia di bioskop tempat FSAI digelar.

Antusias para penikmat film di Kota Mataram terhadap festival film ini sungguh diluar dugaan saya pribadi. Sehari sebelum film tayang, seat sudah sold out. Kece banget kan !. FSAI 2019 di Kota Mataram digelar di CGV Transmart Mataram. Salah satu bioskop favorit saya disini. Setelah registrasi ulang di meja panitia, kami berdua menunggu di ruang tunggu. Sambil menunggu, kita bisa duduk santai di ruang tunggu penonton. Bioskopnya instagrammable banget dan nyaman menurut saya. Meskipun lumayan jauh dari rumah, saya sering nonton di bioskop ini karena gak terlalu ramai dibandingkan bioskop tetangga,hehehe. 



Dua tiket film Gurrumul sudah ditangan. Para penonton pun sudah ramai berdatangan menunggu film yang sama tayang. Ini pertama kalinya FSAI digelar di Kota Mataram dengan pilihan film-film terbaik. Kami berdua sangat mendukung dengan adanya festival film semacam ini di Kota Mataram. Semoga saja di setiap tahunnya, FSAI selalu digelar di Pulau Lombok dengan film-film terbaik lainnya.

Sekitar jam setengah tujuh malam, film Gurrumul dimulai. Adegan demi adegan di dalam film saya menikmatinya. Apalagi saat kematian ibu dan ayahnya Si Gurrumul yang membuat penonton mengeluarkan air mata (colek si doi). Saya salut dengan jalan hidup Si Gurrumul. Dengan keterbatasan, dia sukses menjadi artis yang disayang oleh para fansnya melalui suaranya yang merdua berbahasa Aborigin. Terkadang kita gak tau artiya apa, tapi kita bisa merasakan maksud dari lagu dan musik yang disampaikan. Film yang disutradai oleh Paul Damien Williams dengan durasi satu setengah jam ini, sukses membuat penonton terkagum-kagum. Film yang penuh inspirasi ini wajib kalian tonton (Spoiler colongan).



Setelah film selesai, ternyata di dalam studio Mr.Paul sutradara film Gurrumul hadir di tengah-tengah penonton. Suprise banget dan kami semua pun kaget dibuat. Ada perasaan senang dan terharu bisa berjumpa langsung dengan sutradara film biografi ini. Mr.Paul pun menceritakan suka duka dalam pembuatan film ini. Mr.Paul sebelumnya adalah orang yang dekat dengan Gurrumul dan Michel (sahabat Gurrumul) yang suka membuatkan teh dan sarapan Gurrumul. Terpintas di pikiran Mr.Paul kalau akan membuat film biografi dari Si Gurrumul. Setelah meminta ijin, akhirnya Si Gurrumul bersedia dibuatkan film tentang jalan hidupnya.

Sesi tanya jawab pun berjalan dengan lancar. Para penonton sangat terkesan dengan film Gurummul. Di salah satu pertanyaan dari penonton untuk sutradara "Apakah tradisi Suku Aborigin saat ada orang meninggal di Suku Aborigin ada hubungannya dengan kebakaran hutan di Pulau Elcho ?". Jawaban Mr.Paul, tidak ada hubungannya tradisi orang meninggal disana dengan kebakaran hutan. Sutradara film hanya ingin memperlihatkan peralihan kehidupan kota dengan kehidupan di suku pedalaman (Spoiler sedikit).

Gurrumul Trailer from to youtube.com

Mr Paul pun menjelaskan bahwa tradisi adat Suku Aborigin saat ada kematian yaitu acara kematian bisa dua belas hari atau tiga minggu, tergantung ibu mertua.  Untuk tarian, lima belas suku bangsa mencerminkan suku bangsa masing-masing. Mulai jam tiga sore sudah menari, mencerminkan suku dan budaya suku tersebut. Foto orang yang mati gak boleh diperlihatkan sesuai permintaan keluarga.

Jalannya cerita di dalam film sangat natural dan menggambarkan kehidupan Suku Aborigin melalui Gurrumul. Saya jadi tahu kehidupan Suku Aborigin di pedalaman Australia yang bisa dibilang menjadi minoritas di tanahnya sendiri. Kemegahan kota-kota Australia dan penduduk yang mayoritas berkulit putih, tapi menjunjung tinggi yang namanya perbedaan. Saling menghargai satu sama lain yang diperlihatkan dari film Gurrumul. Karya-karya Gurrumul diterima dan sangat disukai di negaranya bahkan Amerika dan negara-negara lainnya. Filmnya keren dan wajib kalian tonton !!!.

Bagi kalian yang berada di Kota Makassar, Bandung dan Surabaya, nantikan FSAI 2019 mampir di kota kalian di bulan ini. Info lebih jelasnya bisa kalian buka di webnya https://www.eventbrite.com

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

6 comments:

  1. giliran ada yg ketahuan mewek aja nyolek doi 😝

    pdahal ada yg terharu juga tuh kmrn.. hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terharu n kagum.. Yg mewek kan adeq aj.. Bsok qta bawa tissue yg banyak yaak klo nnton lg hehehe

      Delete
  2. niat hati mau datang...tap nggak jadi..kebayang keseruannya

    ReplyDelete
  3. Saya nonton yang di Jakarta tahun 2016. Habis itu nggak ikutan lagi. Tahun depan ikutan nonton lagi deh...

    ReplyDelete