Saturday, 28 April 2018


Sebelumnya saya sudah menulis tentang pengalaman pertama saya nonton bola langsung di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali. Kalian bisa mampir di Bali United vs PSMS Medan. Kalau ditanya, "kok bisa sih sering banget nonton bola ke Bali ?". Bisa saja sih, soalnya saya kan suka bola, jawaban singkat jelas namun ngeselin,hehehehe. 

Dibilang seru, pasti seru banget. Nonton langsung ke stadion lebih berasa serunya dibandingkan hanya nonton di tipi saja (pake pe gak pake ep). Sorak sorai para suporter dan penonton lainnya gak ada henti-hentinya menggema sepanjang jalannya pertandingan. Apalagi nontonnya bareng kamu, lebih berasa seru dan romantisnya. Jarang-jarang kan kencan sambil nonton bola di stadion, Asyiiik. 

Lebih seru lagi kalau nonton di tribun yang isinya para suporter fanatik dari tim yang kita dukung. Panas-panasan, kalau ada pemain yang nyebelin, rame-rame kita sorakin dengan kata-kata yang sopan pastinya, kalau wasitnya curang, kita timpukin rame-rame,hehehe..jangan dong. 





Oke...Ini lanjutan cerita saya dari postingan sebelumnya (Warunk Upnormal). Waktu sudah menunjukkan jam sebelas siang. Masih ada waktu beberapa jam lagi sebelum pertandingan dimulai. Hanya memakan waktu satu jam perjalanan saja dari Kota Denpasar, saya sudah sampai di halaman parkir bagian timur Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar. Kali ini saya memilih untuk nonton pertandingan Bali United melawan Barito Putera dari tribun timur stadion. Ini adalah tribun reguler alias kelas ekonomi.

Selain murah meriah yaitu hanya 50 ribu saja, kita juga bisa merasakan keseruan menonton bareng para suporter fanatik dari Bali United yang gak lain yaitu "Semeton Dewata". Dibandingkan nonton di tribun VIP, tribun timur lebih ribut dan penuh sesak soalnya gak pakai nomor kursi. Belum lagi kita harus ikut bernyanyi meneriakkan lagu-lagu mars dari Bali United. Yang tadinya gak hafal, lama-kelamaan jadi hafal meskipun gak semuanya. Maklum, saya fans baru soalnya. Kapan-kapan nanti saya nyanyikan di chanel youtube saya,ditunggu saja,hehehe.

Suasana di luar stadion saat itu sudah ramai. Para penonton yang sebagian besar pendukung dari tuan rumah (Bali United) sudah berdatangan. Ada datang bareng sahabat, keluarga dan paling ngeselin, ada yang datang bareng gebetan. Bisa dilihat dari atribut yang mereka pakai, dari jersey dan syal yang bertuliskan Bali United. Stadion Kapten I Wayan Dipta, dibanjiri dengan warna serba merah sesuai dengan warna utama dari Bali United. Saya juga gak mau ketinggalan, memakai jersey kedua Bali United berwarna putih lengkap dengan syal yang terlilit di leher ala-ala oppa Kim Jong Hae.

Untuk mendapatkan tiket reguler, gak perlu ngantri panjang dan lama. Saat itu loket tiket masih sepi dan belum ada yang mengantri. So..saya langsung saja membeli satu tiket reguler seharga 50 ribu saja. Setelah tiket gelang reguler sudah di tangan, saya harus menunggu beberapa jam lagi untuk masuk ke dalam stadion. Di luar stadion, banyak sekali pedagang yang berjualan. Jadi, gak khawatir apabila kelaperan dan kehausan. Selain itu, banyak para pedagang kaki lima yang menjual souvenir Bali United. Sambil menunggu, saya mencari souvenir buat bokap dan adek-adek di Lombok.




Tepat jam empat sore, pintu masuk tribun timur dibuka. Antrian saat itu cukup panjang dan penuh sesak. Karena sudah terlanjur ada di antrian tengah-tengah, apa boleh buat, saya pun harus bersabar menunggu. Untuk masuk ke dalam stadion, gak perlu waktu yang lama. Para petugas sangat profesional memeriksa tiket dan barang bawaan para penonton, sehingga terlihat tertib dan teratur. Salut sama bapak-bapak petugasnya

Setelah di atas tribun, saya mencari tempat duduk yang enak untuk nonton. Gak terlalu jauh dan gak terlalu dekat dari lapangan pertandingan. Saat mencari tempat duduk, saya bertemu dengan teman baru. Namanya Ignas, berasal dari Flores, NTT. Si Ignas gak datang sendirian, dia bersama bapaknya yang saat itu sudah selesai berobat ke Rumah Sakit Sanglah, Denpasar. Asyiikk...saya gak sendirian nih nontonnya. Memang gak sendirian nontonnya, selain Ignas kan masih ada ribuan penonton lainnya. Iya iya,hehehe.

Pertemuan pertama kali, membuat kami berdua langsung akrab. Saking akrabnya, kami berdua sudah ada rencana untuk nonton lagi di pertandingan berikutnya. Ini baru keren, sama-sama anak bola,hehehe.




Serunya Pertandingan

Tepat setengah lima sore, saatnya memerahkan Stadion Kapten I Wayan Dipta. Para pemain memasuki lapangan. Bali United memainkan hampir seluruh pemain utamanya. Sedangkan dari Barito Putera, ada satu pemain yang membuat saya sedikit khawatir kalau dia dimainkan yaitu Rizky Pora. Tapi setelah melihat tim utamanya, gak ada terlihat nama tersebut. Agak lega buat sementara.

Wasit meniupkan pluit pertanda pertandingan babak pertama dimulai. Sorak-sorai para penonton menggema tiada henti. Nyanyian para suporter menambah atmosfer pertandingan semakin seru dan membuat bulu kuduk berdiri. Namanya pertandingan bola, serunya bukan hanya di permainan bolanya saja. Tanpa teriakan dan nyanyian suporter, pertandingan bola gak bakalan seru. Percaya deh. Apalagi kalau stadion penuh, lebih berasa nonton bolanya.




Cuaca saat itu cukup cerah, tapi wajah para pendukung gak secerah cuaca sore itu. Semua penonton tegang termasuk saya sendiri. Hampir berakhirnya babak pertama skor masih imbang tanpa gol. Kedua tim saling jual-beli serangan. Kebetulan juga, Bali United melawan tim yang cukup tangguh dari Pulau Kalimantan (Barito Putera). 

Lima menit sebelum berakhirnya babak pertama, gol yang kami tunggu akhirnya datang juga. Stefano Lilipaly berhasil menjebol gawang Barito Putera yang dijaga oleh penjaga gawang yang cukup keren di awal musim Liga 1 Gojek tahun ini yaitu Si botak Aditya Harlan. Para pendukung langsung jingkrak-jingkrak dan meneriakkan nama Lilipaly sang pencetak gol pertama Bali United saat itu. 

***
Waktu terus berjalan, babak kedua pun sudah dimulai. Langit sudah mulai gelap pertanda datangnya senja. Lampu sorot stadion pun sudah dinyalakan. Pertandingan di babak kedua lebih seru lagi. Barito Putera yang saat itu tertinggal satu gol, gak ada henti-hentinya melakukan penyerangan. Di Babak kedua, pemain Barito Putera yang saya khawatirkan dimainkan akhirnya masuk juga. Rizky Pora sang kreator membuat penyerangan Barito Putera semakin ganas. Lagi-lagi, para bek Bali United harus bekerja keras untuk menghadang laju bola dari Barito Putera. 

Saya pun sempat dibuat terdiam saat melihat kedua tim saling jual-beli serangan. Tepatnya di akhir pertandingan, Bali United berhasil menambah gol lagi dari sontekan kaki Yandi Sofyan. Luar biasa para pemain Bali United saat itu. Dan akhirnya Bali United memenangkan pertandingan dengan dua gol tanpa balas. Saya dan para pendukung lainnya sangat senang melihat tim kami menang dengan skor cukup telak 2-0. Lumayan nambah tiga point di kandang sendiri. 

Ngomong-ngomong, saya seperti komentator saja nih,hehehe. Pengalaman nonton langsung dari tribun yang berbeda menambah cerita traveling saya di Bali saat itu. Dapat teman dan sahabat baru lagi. Gak hanya jalan-jalan ke destinasi yang kece atau makan ke tempat yang keren. Menonton bola juga bisa menjadi hiburan dan cerita yang berbeda yang bisa kita ceritakan ke teman-teman pembaca setia lazwardyjournal.com.

Gak selamanya nonton bola di Indonesia itu diwarnai dengan keributan antar suporter. Dari Stadion Kapten I Wayan Dipta, kita bisa melihat gak adanya wajah kekhawatiran dari para penonton yang datang langsung ke stadion bareng keluarga mereka untuk menonton pertandingan sepakbola tertinggi di Indonesia. Dari anak-anak, sampai orang tua sangat senang dan semangat menonton tim kesayangan mereka bertanding tanpa adanya rasa takut.

Sukses Selalu Liga 1 Gojek Indonesia 2018 !.

Sampai bertemu di pertandingan-pertandingan selanjutnya. Next Time... saya pengen nonton ke Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Bandung atau Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya bareng kamu calon istri saya, ya kamu. Semoga diberi rezeki yang lebih dan kesehatan.Amiiin.

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

0 comments:

Post a Comment