Sudah dua minggu hiatus dari nulis blog karena kesibukan kerjaan, akhirnya kembali lagi dengan dunia perblogkan. Bisa dibilang ini tulisan pertama di Bulan Februari dan cerita dalam rangka menyambut Bulan Suci Ramadhan. Asyiik.
Mungkin banyak yang sudah gak sabar dengan cerita saya selanjutnya atau ada yang sudah kangen juga (kepedean). Pas banget yang pengen saya ceritakan ini bisa kalian catat untuk referensi tempat ngabuburit sambil menunggu waktu berbuka.
Bisa dibilang ini tempatnya cukup jauh dari Kota Mataram bahkan tempatnya cukup pelosok. Tapi buat kalian yang hobi motoran atau ada agenda touring di Bulan Ramadhan, bisa dijadikan tujuan menjelajah Pulau Lombok.
Btw, kalau sudah bercerita tentang destinasi wisata Pulau Lombok, emang gak ada habisnya. Ada saja yang baru bermunculan dan viral di media sosial. Sebut saja Gumbang Ganang. Salah satu tempat yang berada di Desa Obel-Obel, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur.
Kalau nyari di google maps, lokasinya persis di atas Desa Sembalun alias bagian utara dari peta Pulau Lombok. Kalau dari Kota Mataram membutuhkan waktu kurang lebih dua sampai tiga jam perjalanan. Tempat ini paling dekat dengan Desa Sembalun, Lombok Timur tapi kita harus turun gunung dulu dari Sembalun menuju lokasi.
Saya dan teman-teman melakukan touring yang kedua kali setelah touring ke Desa Sapit di bulan lalu. Ceritanya bisa kalian baca di tulisan sebelumnya !.
Masih dengan formasi sebelumnya. Saya, Mas Den, Enwal dan Kadek. Kami berempat awalnya berencana touring ke Desa Sembalun, tapi berhubung ada godaan buat ke Desa Obel-Obel, yasudah kita gass saja.
Untuk cerita Desa Sembalun saya langkahi dulu ya. Ditunggu cerita Desa Sembalun setelah cerita Gumbang Ganang ini. Mungkin buat kalian yang sering pantengin reel Instagram saya, pastinya sudah bisa menebak tujuan kami di Desa Sembalun. Yang jelas ditunggu cerita lengkapnya.
Siang itu cuaca berubah menjadi mendung dan hujan turun cukup lebat. Menunggu beberapa jam di Sembalun, akhirnya hujanpun reda. Menerawang langit ke arah utara, sepertinya sudah gak hujan lagi. Kami lanjut gass ke Desa Obel-Obel melalui jalur utara.
Itulah enaknya touring di Lombok. Mau lewat jalan manapun pastinya akan nyambung. Jalur Desa Sembalun juga cukup menjadi favorit bagi yang hobi motoran karena desa ini menghubungkan jalur timur dan utara Pulau Lombok.
Menuruni jalur yang berkelok-kelok dari Sembalun, kemudian sampai di Desa Sajang. Kami berhenti sejenak di jalur ini untuk berfoto dan ambil video. View jalur ini salah satu paling keren disini. Jalan mulus berkelok, ada jembatan, rimbunnya hutan dan sesekali bertemu dengan kawanan pengikut "songgokong" yang menunggu tuannya pulang mencari kitab suci ke barat (yang paham pasti tau). Vibesnya mirip jalur hutan di Jepang meskipun belum pernah motoran ke Jepang, hehehe.
Setelah berhenti sejenak, kami melanjutkan perjalanan masih dengan jalur menurun berkelok. Setelah sampai di pertigaan Kokoq Puteq (artinya: Sungai yang airnya berwarna keputihan), kami mengambil jalur lurus menuju Desa Obel-Obel. Sedangkan belok ke kiri, kita menuju Senaru, Bayan hingga ke Gili Trawangan Kab.Lombok Utara.
Dari pertigaan ini jalurnya sudah gak menurun. Posisi kami sudah berada di ujung utara. Melewati jalur sempit pinggiran pantai. Disini kondisi jalannya cukup mulus dan bergelombang. Pinggiran jalan masih ditumbuhi semak-semak. Harus ekstra hati-hati bila motoran disini. Menurunkan kecepatan sambil menikmati suasana.
Sudah lama rasanya gak melintas di jalur ini. Kurang lebih sudah delapan tahun semenjak gempa Lombok di tahun 2018. Saat itu saya dan teman-teman mengantar bantuan ke salah satu desa di Kecamatan Sambelia. Ceritanya bisa kalian baca di blog ini juga.
Kurang lebih sudah satu jam berkendara, akhirnya kami sudah sampai di Desa Obel-Obel. Suasana desanya cukup sepi dan sangat jarang berpapasan dengan kendaraan. Tapi disini letak serunya membawa motor di atas jalan yang meliuk-liuk tanpa banyak kendaraan yang melintas.
Kami gak perlu membuka google maps untuk mencari lokasi yang dituju. Setelah memasuki Desa Obel-Obel, itu tandanya tujuan kami sudah dekat. Di sebelah kanan jalan utama, terdapat plank petunjuk bertuliskan Gumbang Ganang. Kami tinggal belok ke kanan dan menyusuri jalanan bebatuan dan area persawahan. Jaraknya gak begitu jauh dari jalan utama. Untuk motor matic masih aman lewat jalur ini.
Rasa capek motoran dari Kota Mataram ke Desa Obel-Obel via Desa Sembalun hilang seketika setelah melihat view kece dari destinasi ini. Perpaduan hutan yang asri, perbukitan, persawahan dan aliran sungai seperti muara yang jernih. Tau gini, bawa pakaian ganti tadi. Pengennya nyemplung ke dalam sungai dengan rimbun pohon yang terbilang umurnya lebih tua dari kakek nenek saya sendiri.
Setelah membayar tiket masuk 5 ribu rupiah per orang (sudah termasuk kendaraan), kami mencari area parkir motor. Setelah memarkirkan motor, kami lanjut berjalan menuju tepi sungai yang mirip seperti muara. Penataannya rapi sekali. Dari pinggiran sungai yang disemen. Kemudian diberi jembatan kayu untuk spot berfoto.
Gumbang Ganang adalah destinasi wisata alam berupa embung mata air alami yang terletak di Desa Obel-Obel, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur, NTB. Destinasi ini menonjol sebagai wisata air dengan pemandangan hutan, perbukitan, dan pepohonan purba yang rimbun, sehingga menciptakan suasana sejuk dan tenang bagi pengunjung
Dasar sungainya pun terlihat jelas dengan bebatuan dan air yang jernih. Merasakan airnya cukup dingin karena disini menjadi sumber mata air untuk kehidupan di desa ini. Salah satu manfaatnya paling penting untuk lingkungan, persawahan dan perkebunan.
Selain itu kita bisa menyewa perahu bebek dan perahu kayu yang muat untuk dua orang dewasa. Kita dikenakan tarif 10 ribu untuk orang dewasa dan 5 ribu rupiah untuk anak-anak.
Wahana lainnya disini ada kolam renang yang cukup besar. Gak dikenakan tarif lagi karena ini sudah termasuk biaya masuk tadi sebesar 5 ribu rupiah. Selain itu yang menjadi daya tarik buat kami datang kesini selain sungainya yaitu ada permainan kereta api. Sebenarnya ini wahana untuk anak-anak, tapi orang dewasa juga diperbolehkan naik untuk mendampingi anak-anaknya.
Kereta api yang terdiri dari empat gerbong dan satu lokomotif ini berdiri di atas rel besi kereta pada umumnya. Lokasi relnya ada di area persawahan. Kereta api ini didesain semirip mungkin untuk berjalan di atas rel di tengah persawahan. Benar-benar sangat menarik. Kereta api di playground mall-mall besar pasti kalah sama ini.
Kami berempat saja tergoda buat naik. Awalnya sih saya gak mau naik,tapi karena bujuk rayu teman lainnya, akhirnya saya duduk di paling depan alias duduk di lokomotifnya. Hahaha.
Untuk naik keretanya, kami dikenakan tarif 15 ribu rupiah orang dewasa sedangkan 10 ribu rupiah anak-anak selama tiga putaran. Berhubung kami bilang datang dari Kota Mataram, kami dikasi bonus dua putaran. Kata masnya yang pegang kendali kereta, "jauh-jauh dari kota, sayang sekali hanya tiga putaran". Masnya baik sekali.
Setelah puas muter-muter sawah naik kereta, kami bersantai sejenak di tepi sungai. Disini enak banget buat nenangin pikiran. Suasananya tenang gitu. Untungnya siang itu gak ramai pengunjung datang. Jadinya masih bisa menikmati suasana.
Buat kalian yang kelaparan, disini ada kedai makan. Beragam menu dijual disini. Tempat buat ngopi juga sangat cocok. Tempat ini juga cukup bersih. Di beberapa titik disediakan tempat sampah. Benar-benar dikelola dengan baik.
Waktu sudah sore saja. Cerita hari ini belum selesai, setelah satu setengah jam berada di destinasi ini, kami melanjutkan pulang balik ke rumah Mas Den. Tapi jalur yang kami lalui berbeda. Kami mencoba untuk muterin Pulau Lombok bagian timur. Lewat Desa Blanting, Dara Kunci, kota kecamatan Sambelia, Labuan Lombok, Pringgabaya, Aikmel dan sampai di rumah Mas Den. Waktu tempuhnya hampir dua jam. Lumayan jauh muternya gara-gara penasaran, hahahaha.
Over all, destinasi Gumbang Ganang menawarkan view yang keren dengan harga yang terjangkau. Masuk ke destinasinya terbilang cukup mengeluarkan duit 5 ribu saja. Wahana di dalamnya juga cukup baik kondisinya. Dari perahu bebek, perahu kayu, kolam renang, kolam alami dan kereta yang bisa kalian coba semua dengan harga terjangkau.
Ini gak terlepas dari pengelolaan destinasi ini yang langsung dikelola oleh Pokdarwis Maju Bersama bekerja sama dengan BUMDes Desa Obel-Obel, dan pengembangan awalnya merupakan inisiatif masyarakat setempat.
Apalagi mendapat dukungan dari program PLN Peduli turut membantu penataan kawasan, wahana, dan promosi destinasi ini.
Bukanya setiap hari dari pagi hingga sore kecuali kedai makan yang sampai malam. Kata pengelolanya, paling ramai pengunjung datang kesini yaitu pas akhir pekan. Meskipun cukup jauh dari Kota Mataram, destinasi ini wajib kalian kunjungi. Apalagi buat kalian yang kebetulan habis ngecamp di Desa Sembalun, pulangnya bisa mampir kesini.
Penulis : Lazwardy Journal































































