Bagi sebagian orang mungkin belum mengenal destinasi satu ini. Namanya gak seterkenal Panti Kuta Mandalika, Pantai Senggigi, Gili Trawangan atau Desa Sembalun yang sudah menjadi tujuan utama wisatawan kalau berlibur ke Pulau Lombok.
Meskipun begitu, destinasi yang sudah saya explore ini ternyata menjadi salah satu destinasi pilihan bagi wisatawan domestik maupun mancanegara saat ini. Sejak kemunculannya sekitar tahun 2020 di media sosial, para kaum milenial dan gen Z berlomba-lomba datang kesini. Ada yang punya kepentingan buat konten, adu nyali, adu fisik dan banyak juga yang datang untuk menikmati keindahan surga dunia Sang Maha Pencpita yang hadir di Pulau Lombok.
Sudah enam tahun destinasi ini dibuka untuk umum, di pertengahan tahun 2026 akhirnya saya diberi keinginan untuk mengexplore tempat ini yang lokasinya dibilang cukup jauh. Apalagi treknya yang memacu adrenalin. Awalnya gak ada pernah berpikir atau berencana ke destinasi ini karena dari beberapa cerita treknya memang cukup ekstrem. Apalagi saya sudah gak pernah treking ke alam lagi seperti air terjun, perbukitan dan gunung. Berat badan juga sudah naik dan saat ini sukanya motoran ke tempat yang keren dan kulineran saja. Main aman lebih jelasnya, hehehe
Entah gimana ceritanya, kok saya dan rombongan bisa sampai di destinasi ini. Gak ada persiapan apa-apa. Hanya modal atur jadwal dan membawa kebutuhan seadanya. Agenda motoran serba dadakan. Kebetulan saling tegur sapa di chat group. Sudah lama juga kami gak motoran bareng. Terakhir kali saat ke Desa Sembalun, lanjut ke Gumbang Ganang muterin Lombok Timur. Ceritanya bisa kalian baca di beberapa tulisan sebelumnya !.
Sabtu pagi, setelah antar anak-anak ke sekolah. Saya menuju tempat kumpul di rumah teman. Disana sudah menunggu beberapa teman yang akan ikut motoran ke Sekotong. Setelah semuanya kumpul, kami segera berangkat menuju destinasi tujuan.
Sekitar jam sembilan pagi, kami bertujuh memulai perjalanan dari Labuapi, Lombok Barat. Kurang lebih waktu tempuh dua jam perjalanan yang akan kami habiskan di jalan karena gak diburu waktu juga.
Cuaca pagi yang sangat cerah. Sudah kami siapkan tabir surya karena lokasi yang akan kami tuju cukup terik ditambah kondisi trek yang cukup terjal.
Kami melewati jalur pintas menuju arah Pelabuhan Lembar. Jalanan aspal yang masih mulus ditambah view perbukitan yang menguning karena sudah jarang turun hujan.
Btw, kenapa pilih jalur Sekotong untuk agenda motoran edisi kali ini. Alasannya karena jalur Sekotong merupakan salah satu jalur favorit bagi para riders. Selain jalur Sembalun dan Senggigi, Sekotong memiliki jalur dengan view cakep alias paket lengkap. Ada perbukitan, laut, hutan mangrove dan air terjun yang airnya ada saat musim hujan saja. Kapan-kapan kita bahas.
Di sepanjang perjalanan, saya beberapa kali memperlambat laju motor hanya untuk menikmati pemandangan. Gak perlu terburu-buru karena salah satu alasan melakukan perjalanan dengan motor adalah menikmati suasana perjalanan, bukan hanya ingin cepat sampai ke tempat tujuan.
Setelah perjalanan yang cukup menguras tenaga dan pakai drama salah jalur segala, akhirnya Orong Bukal semakin dekat. Rasa panas dan lelah perlahan terbayar ketika sampai di tujuan. Ada rasa puas yang sederhana.
Melewati jalur pinggir laut, menanjak dengan aspal yang cukup mulus. Meskipun di beberapa titik kami melewati sisa-sisa puing bebatuan dan jalanan berlobang akibat bencana longsor beberapa bulan yang lalu.
Sesampainya di parkiran motor Orong Bukal, kami beristirahat sejenak di berugaq (gazebo) yang masih satu area dengan parkiran. Fasilitas disana bagi saya cukup lengkap. Ada area parkir kendaraan yang tertata rapi, ada kantin makan, ada mushola, kamar mandi dan beberapa berugaq untuk pengunjung beristirahat.
Orong Bukal merupakan destinasi alam yang ngehits sekitar tahun 2020 lalu hingga sekarang. Lokasinya berada di Desa Buwun Mas, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat. Tempat ini terkenal dengan panorama laut biru kehijauan, gugusan pulau kecil, serta perbukitan yang membuatnya sering disebut “Raja Ampatnya Lombok.”
Penyebutan Orong Bukal karena destinasi ini terdapat gua kelelawar "bukal" yang posisinya ada di tebing bukit berbatu. Untuk mencapai kesana, kalian bisa menuruni bukit dan tebing hingga sampai di bibir pantai. Di celah-celah tebingnya terdapat gua kelelawar. Oleh sebab itu warga setempat menyebutnya dengan nama Orong Bukal. Tapi disini harus hati-hati karena hempasan ombat laut lepasnya lumayan kencang.
Untuk jam berkunjungnya, dari jam enam pagi hingga lima sore. Banyak pengunjung kesini untuk melihat sunrise maupun sunset. Jadi jangan heran lokasi ini cukup ramai dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara.
Setelah kurang lebih lima belas menit istirahat di parkiran motor sambil melakukan peregangan badan, saya dan Mas Den terlebih dahulu memulai trekking. Sedangkan yang lainnya masih menunggu pesanan mie rebus. Saya dan Mas Den sudah sempat makan sebelum berangkat, jadinya masih kenyang.
Kami berdua duluan jalan, biar nanti mereka nyusul karena kami berdua mau jalan kaki santai saja. Harap-harap cemas semoga masih kuat jalan nanjak dan selamat hingga kembali ke parkiran nantinya.
Sebelum melanjutkan perjalanan, kami membeli tiket masuk terlebih dahulu. Harga tiket yaitu 10 ribu per orang baik wisatawan domestik maupun mancanegara. Ditambah tiket parkir 5 ribu, jadi totalnya 15 ribu.
Loket tiketnya persis berada di sebelah pintu masuk menuju Orong Bukal. Informasinya jarak dari pintu masuk menuju Orong Bukal kurang lebih 1,5 km. Melewati empat pos yaitu pos 1,2,3 dan 4. Setiap pos memiliki view yang berbeda.
Yuuk kita lanjut jalan menuju pos 1 !.
Trek pertama yang kami lewati yaitu langsung jalanan menanjak dengan kondisi jalur tanah dan berdebu. Sinar matahari siang itu cukup terik. Untungnya pakai topi dan kacamata hitam. Semoga saja kami bisa melalui segala rintangan sampai pos 1.
Seperti lagunya Ninja Hatori "Mendaki Gunung Lewati Lembah....", bener banget nih. Sudah nanjak, eh ketemu trek menurun dan terjal. Untungnya disediakan tali pengaman untuk berpegangan agar gak tergelincir.
Habis jalur menurun, lanjut tanjakan lagi hingga sampai pos 1. Meskipun capek sudah terasa, tapi view dari pos 1 sudah cakep banget. Sisi sebelah timur terlihat pantai tebing dan laut lepas. Lautan biru dan di tengah ada pulau kecil yang memiliki menara mercusuar. Sayangnya gak ketangkep sama kamera.
Di pos 1 ada spot foto menarik untuk dicoba. Fasilitas spot foto terbuat dari kayu yang cukup aman untuk kita mengambil foto. Cukup ramai yang berfoto disini, baik pengunjung lokal maupun para bule yang trekking ke Orong Bukal juga.
Di pos 1, saya dan Mas Den istirahat sejenak sambil mengatur nafas dan minum. Lumayan sekilo jalan kaki nurunin bukit dan menanjak. Kaki sudah mulai pegal-pegal. Maklum sudah lama gak berkegiatan di alam lagi.
Sambil menunggu teman-teman yang menyusul di belakang, kami foto-foto dulu disini. Ternyata siang itu banyak juga pengunjung yang ikutan trekking menuju Orong Bukal. Mayoritas anak-anak gen Z dan emak-emak fomo, hehehe.
Oh ya, buat kalian yang gak kuat jalan, kalian bisa sewa ojek dari pintu parkiran hingga pos 1 saja. Untuk sewanya 25 ribu per sekali jalan. Kalau pulang pergi totalnya 50 ribu. Kalau saya sih ogah mau pakai ojek. Nanggung sekali soalnya, biar dapat pengalaman trekking kalau masih tahan lebih baik jalan kaki saja. Kalau gak kuat, angkat bendera putih.
Setelah kurang lebih sepuluh menitan nungguin yang lainnya di pos 1, akhirnya teman-teman di belakang sudah sampai. Kami bertujuh lanjut bberjuang berjalan kaki ke pos 2 yang jaraknya gak begitu jauh tapi treknya semakin menantang.
Dari pos 1 menuju pos 2, jalur didominasi dengan jalanan menurun. Untungnya disini banyak pohon, jadinya gak terkena langsung paparan sinar matahari siang itu. Cukup rindang untuk jalan kaki menuruni bukit.
Sepanjang jalan, kami sering berpapasan dengan pengunjung lainnya yang balik ke parkiran. Keliatannya mereka dari pagi sudah sampai disini. Gan terasa capek karena menjumpai orang di tengah hutan belantara.
Setibanya di pos 2, kami langsung lanjut ke pos 3. Jalur semakin curam dan licin. Untungnya banyak tali pengaman disini. Syukurnya, kami selamat sampai di pos 3. Suasananya di pos 3 cukup ramai oleh pengunjung yang melepas lelah sambil bersantai disini.
Di pos 3, kita bisa melihat view Orong Bukal dari atas bukit. Akhirnya kami sudah sampai di spot foto yang sering saya lihat di media sosial. Rasa lelah dan senang bercampur aduk. Gak hanya melihat dari layar handphone saja, tapi saya masih diberikan kesempatan dan rezeki bisa melihat secara langsung keindahan Orong Bukal.
Kami memutuskan untuk istirahat dan bersantai di pos 3 saja. Fasilitas disini cukup buat hati tambah senang dan nyaman. Disini ada warung kecil-kecilan yang menjual pop mie, cemilan dan minuman dingin. Warung ini dikelola oleh warga setempat. Yang buat saya senang, disini juga disediakan kantong sampah. Bahkan di setiap jalur yang kami lewati, banyak dijumpai kantong-kantong sampah.
Disini juga dibangun spot foto dengan background Orong Bukal. Fasilitas lainnya, tersedia bangku-bangku dari papan kayu yang dibangun oleh warga setempat dan desa. Warga desa disini juga sangat ramah oleh pengunjung. Jadinya kami merasa aman berkunjung ke destinasi ini.
Saya, Mas Den dan Enwal memutuskan untuk bersantai di pos 3 saja, sedangkan yang lainnya lanjut ke pos 4 dan turun ke pantainya. Sebenarnya view yang paling cakep itu di pos 4,tapi apa daya. Saya gak mau memaksakan kondisi fisik. Sampai pos 3 saja sudah bersyukur nafas masih teratur. Hanya kaki saja yang sudah pegal-pegal, hahaha.
Kurang lebih satu jam lebih kami duduk bersantai di pos 3. Sempat makan pop mie, minum kopi dan cemilan. Gak terasa waktu sudah beranjak ke sore hari. Setelah berfoto-foto sambil cuci mata melihat view cantik, kami memutuskan untuk balik ke parkiran.
Perjalanan balik dengan jalur yang sama. Tapi medan jalurnya terbalik. Tadinya kebanyakan jalur menurun, sekarang jalurnya menanjak. Untungnya di pos 3, kami menambah tenaga untuk bahan bakar balik ke parkiran.
Perjuangan belum selesai, kami harus berjuang berjalan kaki menanjak di kondisi jalur yang agak licin. Kaki sudah cukup pegal tapi tenaga masih banyak. Kami berjalan perlahan-lahan sambil menikmati perjalanan.
Alhamdulillah, satu jam waktu tempuh, kami sampai di parkiran kendaraan dalam kondisi sehat dan selamat. Gak ada yang mengalami cidera meskipun sempat terjatuh di beberapa spot karena jalur yang licin.
Sampai di parkiran, perut lapar lagi. Tenaga juga sudah habis. Kami harus mengisi bahan bakar untuk pulang ke rumah masing-masing. Perjalan ke rumah masih satu jam lagi.
Kami memesan nasi goreng di warung. Namanya Warung Cilinaya yang menjual banyak makanan dan minuman dingin. Harga makanan minuman disini juga standar. Pastinya mengenyangkan dan puas.
Over all, rekommended banget kalau berlibur ke Lombok harus ke Orong Bukal. Fasilitasnya cukup baik dan aman. Disini juga kita membeli tiketnya resmi dan dapat wifi gratis yang cukup kencang pula.
Pengelolaannya juga sangat baik antara warga setempat dan pihak desa. Tempatnya juga bersih dan bebas dari sampah. Warga desa yang ramah ,memberi kenyamanan dan rasa aman bagi orang yang berkunjung.
Apalagi ya yang saya mau ceritakan, sepertinya sudah cukup lengkap. Mungkin bagi kalian yang belum pernah ke Orong Bukal atau yang sudah kesana, bisa diceritakan di kolom komentar !.
Penulis : Lazwardy Perdana Putra
0 comments:
Post a Comment