Selesai juga cerita mengexplore Sumbawa Barat dan sekitar. Meskipun gak banyak tempat yang didatangi tapi sudah buat kami puas terutama anak-anak yang baru pertama kali menginjakkan kaki di pulau yang terkenal dengan susu kuda liarnya ini.
Menginap di Kota Taliwang, jalan-jalan pagi ke Pantai Balad, menyusuri Air Terjun Ai Kalela, hingga sampailah di destinasi terakhir yaitu keliling Pulau Bungin sambil wisata kuliner di Lesehan Apung Bungin.
Setelah dari Bungin, kami kembali ke penginapan untuk berkemas dan balik ke Lombok. Gak terasa empat hari lamanya di jalan. Syukurnya anak-anak sehat dan waktu tidur mereka juga gak terganggu.
Sekitar jam dua belas siang, kami check out dari penginapan. Sebelum menuju pelabuhan, kami menyempatkan untuk membeli oleh-oleh buat keluarga di Mataram. Sudah tradisi kalau jalan ke luar kota, pastinya pada nyari oleh-oleh, hehehe.
Cuaca di Alas siang itu cukup cerah meskipun beberapa jam yang lalu sempat mendung pertanda akan turun hujan. Tapi gak lama kemudian cerah kembali. Berat rasanya mau balik ke Lombok. Pengen rasanya lanjut ke Kota Sumbawa Besar tapi besok sudah masuk kantor kembali. Anak-anak juga masuk sekolah. Next time "Kalau ada sumur di ladang boleh kita menumpang mandi. Kalau ada umur yang panjang. Boleh kita datang ke Sumbawa lagi" (malah pantun).
Setelah membeli oleh-oleh berupa makanan ringan seperti permen susu dan cemilan "dipang" khas Sumbawa, kami melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Pototano. Gak buru-buru juga, perjalanan balik ke Lombok santai saja.
Perjalanan dari Alas menuju Pototano hanya memakan waktu lima belas menit saja. Melewati jalanan aspal mulus berkelok-kelok dengan di kiri perbukitan dan di sebelah kanan pemandangan laut yang keren.
Kalian boleh coba kalau jalan darat ke Sumbawa dari Lombok, viewnya keren habis. Saya saja yang orang asli Lombok yang sering ke Sumbawa, gak bosen melihat view Sumbawa yang gak ada obatnya. Bisa kalian cek di beberapa tulisan saya terdahulu tentang destinasi di Sumbawa.
Sekitar jam satu siang, kami sudah berada di Desa Pototano. Mampir dulu di Ind**mrt untuk jajan. Lumayan mahal kalau beli di atas kapal. Setelah itu saya membeli tiket di counter tiket yang ada di pinggir jalan dekat dengan pelabuhan. Untuk harga tiket agak sedikit berbeda dari Kayangan. Kalau dari Kayangan itu harga tiket motor 80 ribu. Kalau dari Pototano harganya 85 ribu (koreksi bila keliru).
Sebenarnya bisa beli online lewat aplikasi ferizy. Tapi karena lagi males buka aplikasi, kita beli di jalan saja. Hitung-hitung bantu UMKM setempat. Bener gak?.
Setelah belanjaan beres dan tiket kapal juga sudah di tangan, kami melanjutkan masuk ke dalam pelabuhan. Suasana Pelabuhan Pototano agak sedikit lengang. Gak sepadat seperti biasanya. Padahal hari itu akhir pekan.
Terlihat beberapa kendaraan kecil seperti mobil dan travel parkir menunggu giliran masuk ke dalam kapal. Motor juga lumayan banyak yang mengantri tapi masih dibilang gak seramai pada biasanya karena penyeberangan Selat Alas ini terkenal padat. Apalagi kalau di akhir pekan karena banyak pekerja dan mahasiswa yang akan balik ke Mataram setelah pulang kampung.
Dari kejauhan sudah bersandar kapal di dermaga 1 maupun di dermaga 2. Di dermaga 2 ada kapal ferry bernama KMP Jax, salah satu kapal terbesar di penyeberangan Kayangan - Pototano. Sedangkan di dermaga 1 sedang persiapan bersandar kapal KMP Putri Gianyar.
Pas banget waktunya kami tiba di Pelabuhan Pototano. Mau naik kapal apapun waktu itu sama-sama kapal favorit. Beruntungnya kami kebagian naik ke KMP Putri Gianyar. Salah satu kapal favorit dan terkenal cepat. Kita masuk kapalnya dulu deh, baru saya mulai mereview kapalnya !.
Setelah memasuki lambung kapal, saya memarkirkan motor di car deck. Sedangkan istri dan anak-anak duluan masuk ke ruang atas kapal biar dapat tempat duduk. Suasana penumpang di KMP Putri dariGianyar gak begitu ramai dibandingkan kapal sebelah. Ini namanya beruntung sekali bisa dapat kapal bagus.
Setelah memarkirkan motor, saya segera menyusul ke ruang penumpang di atas car deck. Cuaca siang itu sangat cerah dan arus Selat Alas kelihatannya bersahabat (semoga saja). Suasana di ruang penumpang cukup lengang. Wah bakalan nyaman nih gak banyak penumpangnya. Enak di kami tapi gak enak di pihak kapalnya, hehehe.
KMP Putri Gianyar merupakan kapal feri jenis roro (roll-on/roll-off) yang melayani angkutan penumpang, kendaraan, dan logistik antarpulau. Kapal ini dioperasikan oleh PT Jemla Ferry dan telah lama menjadi bagian dari armada penyeberangan di Indonesia.
Sebelumnya kapal ini beroperasi pada lintasan Pelabuhan Padangbai, Bali - Pelabuhan Lembar, Lombok (PP). Berpindah rute sekitar tiga tahun yang lalu hingga sekarang melayani lintasan Pelabuhan Kayangan, Lombok – Pelabuhan Pototano, Sumbawa.
Kapal ini informasinya dibangun pada tahun 1983 dengan memiliki panjang 62 meter dan lebar 16 meter dan mampu membuat 36 kendaraan sedang dan berat dan sekitar 490 penumpang berdasarkan sumber terpercaya.
Terdiri dari tiga deck. Dimana deck pertama yaitu area parkir kendaraan (car deck), kemudian di deck kedua ada ruang penumpang kelas ekonomi semua. Di deck paling atas yaitu anjungan, kamar ABK dan area muster station dan ruang terbuka untuk penumpang yang ingin berjemur sambil menikmati sunrise maupun sunset.
Kita bahas ruang penumpang dulu. Disini ruangnya dibagi beberapa ruang. Ada ruang ber-AC dan ruang terbuka yang cocok bagi bapak-bapak yang ahli hisap. Sedangkan kami lebih memilih beristirahat di ruang ber-AC saja.
Di dalam ruang penumpang keren habis. Jumlah tempat duduknya lumayan banyak. Ada bentuk kursi sofa yang empuk memanjang dan berhadapan lengkap dengan meja kecil. Ada juga area lesehan tempat kita selonjoran dan tiduran. Lantainya empuk dan enak banget buat melepas lelah.
Yang paling saya suka dari ruangannya yaitu harum dan dingin. Di dalamnya terdapat beberapa fasilitas seperti ruang ibu menyusui, ruang medis, tempat colokan hp, layar LED buat nonton film yang diputar, kantin yang menjual berbagai macam makanan dan cemilan dan jaket pelampung.
Ruangannya juga cukup luas. Dari dalam kita bisa melihat view luar dari jendela full kaca semua. Anak-anak pun sangat senang naik kapal ini. Kalau ayah dan bundanya jangan ditanya, pastinya suka juga dong.
Untuk ruang outdoornya berada di bagian belakang dan deck paling atas. Di belakang ruang indoornya, terdapat beberapa kursi sofa memanjang. Dari sini kita bisa view dari arah buritan kapal. Cocok banget buat kalian yang lagi ada galau kerjaan atau putus cinta, bisa merenung di sini sambil melihat view cantik dari Pelabuhan Pototano. Insyaallah kembali good mood.
Selain itu yang saya suka dari kapal ini karena kapal ini sangatlah bersih dan menjaga kenyaman penumpang. Tong-tong sampah dengan berbagai macam warna dan fungsinya ada di beberapa sudut kapal. Alat pemadam kebakarannya (APAR) juga lengkap. Ada mushola dan toilet yang bersih dan nyaman.
Pantas saja kapal ini dulunya melayani penyeberangan Lembar - Padangbai yang waktu tempuhnya kurang lebih lima sampai enam jam tergantung cuaca di tengah laut. Kalau di Pototano - Kayangan yang waktu tempuhnya kurang dari tiga jam, rasanya kurang lama ya. Maunya lama-lama berada di kapal ini, hehehe.
Sekitar jam dua siang, kapal diberangkatkan gak lama setelah kapal sebelahnya yaitu KMP Jax diberangkatkan juga. Wah, bakalan melihat balapan kapal fery nih di Selat Alas. Moment langka buat saya ada kapal balapan di Selat Alas.
Kalau sudah melihat proses kapal berangkat, moment yang gak boleh dilewatkan. Sejak kecil kalau naik kapal, saya pastinya suka melihat proses kapal berangkat. Dari ramdoor kapal ditutup. Melihat para pedagang yang berlarian turun dari kapal karena gak semua kapal menerapkan aturan pedagang asongan boleh ikut berlayar sampai ke tanah seberang.
Saat tali tambat kapal dilepas oleh petugas dermaga lalu para ABK menariknya ke atas kapal. Terkadang, kita juga bisa melihat anak-anak kecil bertelanjang saling berlompatan ke dalam air untuk menangkap uang koin yang dilempar oleh penumpang dari atas kapal saat kapal hendak menjauh dari dermaga. Moment-moment yang sangat saya kenang. Tapi sekarang sudah sangat jarang saya melihat moment itu lagi.
Saya mengajak anak-anak untuk melihat proses kapal berangkat. Kakak Ken dan Adeq Lala sangat bersemangat. Untuk pertama kalinya saya dan istri mengajak mereka jalan-jalan ke Sumbawa.
Perlahan-lahan, kapal meninggalkan pelabuhan. Selamat tinggal Pulau Sumbawa, terimakasi sudah menyambut kami selama empat hari dengan ramah. Sampai berjumpa lagi di kesempatan lainnya !.
Gak langsung kembali ke tempat istirahat, saya dan anak-anak masih menikmati view cantik dari Pelabuhan Pototano. Gak ada bosannya melihat gugusan pulau-pulau yang ada di sekitar pelabuhan. Ada Pulau Kenawa, Pulau Namo, Pulau Paserang, Pulau Belang, Pulau Kambing dan beberapa pulau gak berpenghuni lainnya.
Gak salah kalau Pelabuhan Pototano menjadi salah satu pelabuhan terindah di Indonesia. Pelabuhan yang memiliki dua dermaga dan pasir putih. Banyak warga yang berkunjung ke pelabuhan ini untuk berenang karena di sisi barat pelabuhan ada pantai dengan pasir putih dan Bukit Pototano. Dari sini juga kita bisa menyeberang ke beberapa pulau di sekelilingnya. Keren kan !.
Setelah setengah jam berlayar, saya dan anak-anak balik ke tempat istirahat. Sedangkan istri lagi betah selonjoran di ruang lesehan sambil istirahat dan nonton film.
Gak banyak kegiatan yang kami lakukan selain istirahat, mengisi tenaga biar kembali fresh setelah beberapa hari ngebolang terus. Anak-anak langsung tidur siang karena kecapean juga. Saya pun ikut tertidur dan gak terasa goyangan kapal yang menghantam arus laut.
Siang itu arus laut sedang kencang-kencannya. Hal yang wajar karena itu namanya arus air surut. Biasanya sekitar jam dua siang hingga empat sore, air laut surut dan menciptakan arus laut dan gelombang yang cukup buat sebagian penumpang mabuk laut.
Untungnya kami berempat gak ada yang mabuk laut. Kami menikmati pelayaran hingga kapal mendekat ke Pelabuhan Kayangan. Kurang lebih satu jam pelayaran, posisi kapal sudah dekat dengan Pelabuhan.
Tadinya mau melihat moment kapal balapan, tapi ketiduran sampai kapal berhenti menunggu antrian masuk pelabuhan. Gak apa-apalah, terpenting kami dan penumpang lainnya selamat sampai tujuan.
Cukup lama mengantri masuk pelabuhan karena jalan kapal ini cepat banget. Gak heran memang kapal ini menjadi kapal favorit sebagian penumpang yang sering bolak-balik Lombok Sumbawa. Terlihat KMP Jax juga masih mengantri di samping kapal kami. Next time, pengen naik Si Jax ini karena bentuknya yang unik. Berukuran panjang dan memiliki dua anjungan di bagian depan dan belakang. Ukurannya lebih besar daripada Si Putri Gianyar yang kami naiki.
Setelah satu jam lebih menunggu, akhirnya kapal kami berjalan perlahan-lahan dan bersiap sandar di dermaga satu. Gak sabar ingin menginjakkan kaki kembali di tanah Lombok. Akhirnya cerita perjalanan motoran ke Pulau Sumbawa edisi kali ini saya cukupkan dulu. Sampai berjumpa di cerita tentang Sumbawa yang pastinya lebih seru dengan destinasi baru lainnya.
Penulis : Lazwardy Perdana Putra
0 comments:
Post a Comment