Membuka mata, ternyata sudah menunjukkan jam enam pagi. Benar-benar tidur pulas tadi malam. Apa karena efek kelelahan seharian jalan-jalan dari Kota Taliwang ke Jereweh, lalu lanjut ke Desa Alas, Kab. Sumbawa kali ya?.
Buka pintu kamar, langit sudah agak terang. Anak-anak dan istri masih terbang di dalam mimpi masing-masing. Matahari masih belum terbit. Udara pagi yang sangat sejuk. Saya keluar kamar untuk jalan kaki sejenak ke arah depan penginapan. Lalu lintas pagi di depan penginapan sudah cukup ramai.
Terlihat banyak lalu-lalang anak sekolah yang hendak berangkat ke sekolah karena bertepatan di Hari Sabtu. Badan sudah kembali segar, mata sudah gak ngantuk. Rasanya sudah gak sabar untuk mengexplore tempat-tempat indah lainnya.
Kali ini kami akan akan mengexplore salah satu pulau terpadat di dunia yaitu Pulau Bungin. Dulu masih disebut Pulau Bungin. Tapi sekarang bisa dibilang gak pulau lagi karena sudah dibuatkan jalan penghubung menuju pulau ini.
Saat balik ke kamar, anak-anak sudah pada bangun. Saya dan istri beres-beres barang bawaan biar gak buru-buru saat check out nanti siang. Lanjut memanaskan mesin motor dan sarapan pagi yang sudah disediakan oleh penginapan.
Cuaca pagi cukup cerah, semoga saja sampai siang nanti gak turun hujan karena terkadang Sumbawa masih turun hujan. Setelah menyiapkan perlengkapan yang akan dibawa. Kami bersiap-siap jalan ke lokasi tujuan.
Kurang lebih hanya sepuluh menit waktu tempuh dari penginapan ke Bungin. Gak jauh memang karena Bungin berada di Kec. Alas, Sumbawa. Oleh karena itu kami memilih Agal Homestay sebagai tempat menginap.
Sekitar jam sembilan pagi, kami jalan dari penginapan. Melewati jalan kota kecamatan, terminal, pasar tradisional dan pusat pertokoan yang sudah menjadi legend bagi para pelancong. Gak jauh dari pusat kota kecamatan, terdapat beberapa destinasi wisata yang wajib kalian explore. Antara lain, Desa Marente, Air Terjun Agal, Air Terjun Sebra, dan Pulau Bungin.
Setelah melewati pusat kota kecamatan, menuju arah timur dan belok kiri di pertiga Ind****rt Alas Dalam. Dari pertigaan ini, kami melewati jalan perkampungan warga dengan aspal yang mulus. Dulu pas datang kesini, jalannya masih sebagian aspal dan sisanya jalan tanah dan kericil.
Untuk menuju Bungin, kami harus melewati jalur yang mengelilingi perbukitan. Meskipun memutar tapi viewnya keren karena jalannya berada persis di tepi laut. Disini pantainya tenang dan gak ada ombak. Dikelilingi oleh beberapa pulau yang gak berpenghuni seperti Pulau Panjang dan beberapa pulau lainnya.
Kurang lebih lima ratus meter, kami sudah melihat Bungin dari kejauhan. Angin laut sepoi-sepoi, sinar matahari pagi yang hangat dan aktivitas warga desa yang sebagian besar dari mereka yaitu seorang nelayan. Puluhan perahu kayu berjejer rapi di tepi laut.
Jalan aspal memanjang lurus di kiri - kanan air laut menjadi ciri khas menuju Desa Bungin. Gapura besar yang menandakan bahwa kami memasuki desa. Rumah-rumah panggung khas Bungin yang mayoritas berasal dari Suku Bajo dan Bugis. Dari bahasa mereka juga sudah berbeda dari bahasa orang Sumbawa pada umumnya. Vibesnya seperti di kampung halaman orang tua saya yaitu Desa Labulalar yang berada di Kab. Sumbawa Barat.
Sudah lama rasanya gak datang ke desa ini. Sebagian besar gak banyak perubahan. Rumah-rumah panggung yang terbuat dari kayu kokoh masih terjaga sampai sekarang. Lorong-lorong kecil yang sudah dipaping tertata rapi. Dan yang masih terjaga yaitu kambing disini masih makan kertas koran. Paling kaget lagi, para komplotan kambing disini sudah meresahkan warga desa karena mereka sudah makan jemuran para warga.
Muter-muter sebentar di desa ini sambil menyapa para warga yang sedang asyik duduk di tangga rumah mereka masing-masing. Ada yang berkumpul sambil ngopi, emak-emak ada yang sedang sibuk berjualan, ada yang sedang bersiap melaut dan anak-anak kecil yang sedang main bola sepulang mereka sekolah.
Yang membuat Bungin begitu menarik bukan hanya ukurannya yang mungil, tapi juga cerita di balik terbentuknya pulau ini. Sebagian besar daratannya merupakan hasil timbunan batu karang yang dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat Suku Bajo. Tradisi tersebut menjadi simbol semangat gotong royong dan kebersamaan yang masih terjaga hingga sekarang.
Buat kalian yang belum pernah datang ke Bungin, gak ada salahnya datang kesini sambil melihat kehidupan warga desa. Apalagi di desa ini ada salah satu lesehan apung yang wajib dikunjungi.
Setelah puas berkeliling desa, rasanya kurang lengkap kalau belum mampir ke Lesehan Apung Bungin. Tempat makan yang berada di permukaan laut ini menawarkan suasana yang benar-benar bikin tenang. Semilir angin laut, suara ombak yang tenang, dan pemandangan perahu nelayan yang lalu-lalang menjadi teman sempurna untuk bersantai.
Untuk menuju lesehan apung kami harus berjalan menuju dermaga yang berada di sisi timur pulau. Memarkirkan kendaraan di area parkir depan dermaga yang gak terlalu besar tapi aktivitas warga yang baru pulang melaut cukup ramai disini.
Berhubung datangnya kepagian, lesehan apungnya belum buka. Untuk bukanya mulai jam sepuluh pagi hingga sepuluh malam. Berarti saya salah informasi karena teman yang tinggal di Sumbawa kalau lesehan ini buka jam sembilan pagi. Gak apa-apa, yang penting lesehannya masih buka, hehehe.
Itu informasi yang kami dapatkan ketika sampai di dermaga. Salah satu warga desa yang mempersilahkan kami menunggu sejenak di depan salah satu warung. Pemilik warungnya juga yang punya lesehan apung. Kata si ibu, kami diminta tunggu disini karena para karyawan lesehan pada belum datang.
Kurang lebih setengah jam menunggu, kami dipersilahkan menuju salah satu perahu berwarna biru. Kami gak sendirian, tapi di atas perahu ditemani beberapa karyawan lesehan yang sama-sama akan menuju lesehan yang berada di tengah laut.
Di atas perahu sudah banyak bahan makanan dan sayuran yang akan dibawa menuju lesehan. Meskipun datangnya kepagian, tapi kami bisa berkeliling desa sambil menyapa para warga dan kawanan kambing.
Disini kambingnya ganas-ganas dan gak ada takutnya. Meskipun sudah diusir, tapi tetap saja mereka mengendus-endus baju saya. Apa dikira belum mandi kali ya ?. Tapi kenyataannya memang belum mandi, hehehe.
Karena jaraknya gak terlalu jauh dari dermaga, perahu yang kami tumpangi sudah sampai di tepi lesehan. Anak-anak senang sekali naik perahu, bahkan gak pengen turun dari perahu. Satu per satu penumpang turun dari perahu. Perasaan senang gak bisa kami tutupi. Anak-anak sudah heboh gak sabar melihat beberapa ikan dan hewan laut yang berada di dalam kolam. Jangankan anaknya, ayah bundanya gak kalah hebohnya sampai lupa tas bawaan di atas perahu, hehehe.
Sesampai di lesehan apung, baru kami pengunjung pertama. Gimana gak, kami menuju lesehan naik perahu bareng dengan karyawan lesehannya. Pas banget nih, suasana masih sepi dan tinggal pilih mau duduk dimana.
Namanya juga lesehan apung, pastinya bangunan lesehannya terapung di permukaan air. Bisa dibilang seratus persen bahan bangunannya dari kayu semua. Terdiri dari bangunan utama beratapkan dari spandek biar gak panas. Tiang-tiang bangunan dari kayu semua. Kolam-kolam ikan yang dilengkapi dengan jaring di bawah kolam agar ikan atau hewan laut lainnya gak kabur.
Beberapa hewan laut yang kami temui yaitu ikan kerapu, lobster, udang, kepiting, teripang dan masih banyak jenis ikan lainnya yang gak hafal namanya. Untuk keliling kolamnya, kami bisa berjalan di atas drum plastik apung. Meskipun goyang-goyang tapi dijamin aman.
Biar gak panas, dipasang paranet agar mengurangi sinar matahari langsung. Anak-anak antusias keliling melihat ikan-ikan di lesehan apung ini. Sedangkan istri sedang sibuk memilih menu yang akan kami nikmati untuk menu makan siang.
Kami memilih duduk di salah satu meja yang menghadap langsung ke laut. Tempat duduknya semuanya lesehan terdiri dari meja panjang kayu dan karpet berwarna biru. Nyaman dan bersih tempat duduknya.
Sambil menunggu pesanan datang, mata dimanjakan dengan panorama birunya laut dan aktivitas warga sekitar. Saking jernihnya,kami bisa melihat batu karang dari dasar laut. Ini moment yang gak ada obatnya. Suasananya sederhana, tetapi justru itu yang membuat tempat ini terasa begitu nyaman.
Bangunan lesehan ini bisa bergerak seperti perahu yang berlabuh pada umumnya. Hanya saja diikat oleh beberapa tali agar gak berpindah terlalu jauh dari daratan. Lucu saja pas asyik makan, eh ternyata lesehan apungnya sudah pindah ke Selat Alas, hahahaha
Menu andalan di sini tentu saja olahan seafood yang masih segar. Ikan bakar, cumi, udang, hingga aneka sambal khas Sumbawa terasa semakin nikmat disantap di tengah suasana laut yang tenang.
Untuk menunya, kami pesan Ikan Singang Kerapu, Ikan Kerapu Bakar, Cumi Goreng, aneka sambal dan sebakul nasi putih. Minumnya Es Jeruk Peras, Jus Alpukat dan Kopi Hitam.
Ikan Singang Kerapu ini merupakan masakan olahan ikan khas Sumbawa yang memakai kuah bumbu kuning. Biasa kita menyebutkan masakan ikan kuning. Aroma rempah-rempahnya kuat banget. Kuah bumbu kuningnya seger.
Perpaduan rasa asin, asem dan pedas. Enak banget disantap selagi laper-lapernya. Ini merupakan ikan favorit saya sejak kecil. Dulu mama atau nenek, sering buatkan ikan kuah bumbu kuning ini atau bahasa Sumbawanya itu Ikan Singang.
Selain Singang, kami pesan Ikan Kerapu Bakar untuk anak-anak. Syukurnya mereka sangat menyukainya. Dagingnya gurih, empuk dan gak amis. Ada aroma smoke-nya gitu. Enak banget.
Menu selanjutnya, ada cumi goreng. Ukuran cuminya besar-besar dan porsinya juga mantap. Bisa untuk empat orang dewasa. Tapi daging cuminya masih alot karena baru saja ditangkap. Jadi belum sempurna bakarnya.
Berhubung istri pesan setiap menu hanya setengah kilo, jadinya banyak banget. Ikan Singangnya setengah kilo, cumi dan ikan goreng juga setengah kilo. Ini karena lapar apa doyan sampai kebablasan pesannya.
Untuk minumnya kami pesan jus alpukat pakai susu cokelat kental manis dan es jeruk peras. Pas banget habis makan besar dan pedas, minumnya yang segar-segar.
Kalau harga, semua menu yang dipesan, kami hanya membayar kurang dari 300 ribu. Cukup terjangkau dengan porsi banyak seperti itu, harga masih ramah di dompet.
Over all, pelayanan di Lesehan Apung Bungin ini cukup cepat. Apa karena baru kami saja pengunjung yang datang pagi itu. Infonya lesehan apung ini tetap ramai setiap harinya. Pengunjung banyak dari luar kota. Pas melintas di Sumbawa, menyempatkan mampir disini.
Pemiliknya juga sangat ramah ke kami. Jadinya kami nyaman selama berada di lesehan apung satu-satunya yang masih bertahan disini. Dulu ada dua lesehan disini yang dikelola oleh desa, tapi karena dampak Covid 19, lesehannya terpaksa tutup.
Lesehan Apung Bungin yang sekarang ini dikelola oleh satu orang. Bisa dibilang lesehan ini milik pribadi. Kalau kalian mau pesan orderan, bisa hubungi dulu ke nomor kontak yang tertera di foto. Jadi, pas datang sudah dihidangkan.
Selain wisata kuliner, kita juga bisa belajar sejarah dan sosial dari pulau ini. Pulau yang terkenal dengan pulau terpadat di dunia ini. Karena jarak antar rumah yang mepet dan jumlahnya ribuan, makanya pulau ini disebut Pulau Terpadat di Dunia.
Gak terasa waktu sudah siang hari. Ketika perut sudah kenyang, saatnya balik ke penginapan untuk check out. Pas kami balik, para pengunjung satu per satu datang. Ada yang berdua sama pasangan, ada juga yang rombongan.
Pas baliknya kami dijemput oleh perahu kayu tadi. Untuk perahunya gratis ya bagi para pengunjung lesehan apung. Jadi gak kena cash lagi. Gimana, menarik bukan datang ke Bungin?.
Penulis : Lazwardy Perdana Putra






















0 comments:
Post a Comment