Bisa dibilang ini adalah ridding dadakan ke Bali. Ditugaskan untuk menghadiri salah satu acara di daerah Seminyak, Kuta. Surat tugas sudah ditandatangani pimpinan, saya pun bersiap-siap berangkat.
Kali ini saya ridding sendirian. Sebenarnya bisa ajak anak istri, tapi modal buat ke Balinya butuh budget besar. Panitia kegiatan hanya menanggung satu orang peserta saja. Awalnya mau pakai pesawat, tapi karena acaranya di Bali, sayang sekali hanya terbang sebentar saja. Biar seru, kita motoran sekalian bisa jalan-jalan dengan kendaraan sendiri.
Acaranya hanya dua hari saja dan kebetulan lanjut dengan long weekends. Sempat tergoda mau nambah hari di Bali, tapi kalau gak bareng anak istri rasanya kurang seru. Saya putuskan selesai acara nanti, langsung balik ke Lombok.
Tepat di hari keberangkatan, saya memilih jalan tengah malam agar sampai Kota Denpasar keesokan paginya. Rencana berangkat jam dua pagi dari rumah, ngejar kapal yang berangkat jam empat pagi dari Pelabuhan Lembar.
Sebelum berangkat, saya beli tiket via aplikasi ferizy di handphone. Caranya gak susah, tinggal buka website ferizy.com. Pilih dari pelabuhan asal ke pelabuhan tujuan. Saya memilih dari Pelabuhan Lembar, tujuan Pelabuhan Padangbai.
Selanjutnya pilih jenis kendaraan bagi yang bawa kendaraan. Lalu menginput jumlah penumpang yang akan berangkat. Ikutin saja petunjuk untuk pengisian di aplikasinya. Selesai semua diisi, lalu proses pembayaran sesuai jenis transaksi pembayaran. Catatan pentingnya, nomor kendaraan yang diinput di aplkasi harus sama dengan kendaraan yang akan naik ke dalam kapal.
Selain lewat webiste atau aplikasinya, kalian juga bisa beli langsung ke konter-konter tiket yang ada di pinggir jalan menuju pelabuhan. Mereka buka dua puluh empat jam. Jadinya gak khawatir gak bisa beli tiket online.
Setelah e-tiket dikirim ke email, tidur dulu sebelum bangun tengah malam nanti. Lumayan bisa tidur dulu di rumah. Takutnya di kapal nanti gak bisa tidur nyenyak.
Sekitar jam dua pagi, saya bangun dan bersiap-siap jalan. Anak-anak masih tertidur lelap, sedangkan istri ikut bangun sambil menyiapkan segala keperluan saya di perjalanan nanti.
Sekitar jam setengah tiga pagi, saya mulai jalan dari rumah. Kurang lebih hanya lima belas menitan waktu tempuh dari rumah ke pelabuhan. Suasananya di jalan sepi bebas hambatan. Untungnya sepanjang jalan aman-aman saja.
Cuaca juga cukup baik. Gak ada tanda-tanda mau turun hujan. Sesampainya di pintu masuk pelabuhan, suasana kembali ramai oleh kesibukan petugas pelabuhan. Ada warung yang buka dua puluh empat jam. Suasana yang saya rindukan bila akan menyeberang ke pulau seberang.
Sesampainya di loket tiket, saya memperlihatkan e-tiket ke petugas. Tinggal scan barcode, boarding pass sudah tercetak. Selanjutnya, saya menuju ke dermaga I untuk masuk ke dalam kapal. Kebetulan kapalnya sudah stanby di dermaga. Gak ada antrian baik kendaraan besar maupun kecil.
Ini enaknya jalan ke Bali ngambil waktu tengah malam. Gak ramai penumpang, jadi gak bakalan khawatir gak kebagian tempat duduk. Masuk ke dalam lambung kapal bersama si Bluemax. Terlihat lambung kapal masih kosong melompong.
Kapal yang saya naiki yaitu KMP Caityln milik dari PT. Munic Line. Kapal ini masih satu perusahaan dengan KMP Munic I yang pernah saya dan keluarga naiki pas motoran ke Bali dua tahun yang lalu.
Bisa baca disini : Balik ke Lombok dengan KMP Munic I
Ini pertama kalinya saya menaiki kapal ini. Sebelumnya KMP Caitlyn melayani rute Pelabuhan Merak, Banten menuju Pelabuhan Bakauheni, Lampung.
Kalau gak salah mulai awal tahun 2026, kapal ini pindah rute melayani penyeberangan Lembar - Padangbai. Nambah lagi kapal besar di Selat Lombok setelah KMP Munic I yang terlebih dahulu pindah ke Lembar - Padangbai.
Naik kapal jam tiga pagi. Suasana di atas kapal masih sepi penumpang. Terlihat kurang dari sepuluh motor yang terparkir di deck lantai dua dan satu mini bus. Di deck lantai satu khusus untuk bus besar dan truk berukuran besar.
Kapal ini cukup besar. Memiliki dua lantai untuk parkir kendaraan. Ada tiga lantai ruang penumpang untuk kelas duduk ekonomi, ruang VIP dan ruang tidur untuk supir. Fasilitas lainnya ada toilet di setiap lantainya. Ada mushola, ruang terbuka, kantin, muster station atau titik kumpul. Sekoci dua buah, dan peralatan keselamatan lainnya.
Untuk ruang penumpang semuanya ada ACnya kecuali kursi yang di luar, ACnya dari angin laut yang sepoi-sepoi. Ruang penumpangnya luas banget terutama ruang VIP di lantai tiga tempat saya istirahat. Kursinya empuk semua terbuat dari kain beludru yang dilapisi oleh plastik transparan.
Ada kursi yang berhadapan, ada juga ada yang panjang. Cocok sekali untuk tidur selonjoran disaat sepi penumpang. Kalau lagi ramai penumpang, jangan egois ya. Beri tempat duduk bagi yang belum dapat.
Selain kursi, ada juga area lesehan. Disini ukuran lesehannya cukup luas. Lantainya juga bersih dan gak ada matrasnya. Semua fasilitas di atas kapal gratis ya !. Kalau ada oknum yang meminta bayaran sewa, itu pelanggaran. Kita bisa lapor petugas pelabuhan atau posting saja di media sosial seperti teman saya dulu yang berdebat sama oknum di atas kapal masalah kasur yang disewakan untuk penumpang. Padahal itu fasilitas gratis penumpang.
Oke lanjut!
Waktu menunjukkan jam empat pagi. Ada tanda-tanda kapal mau berangkat. Satu per satu truk dan puso besar masuk ke dalam lambung kapal. Gak lama kemudian, rumdoor kapal ditutup. KMP Caitlyn segera diberangkatkan. Sampai kapal berangkat pun suasana di ruang VIP penumpang masih sepi. Hanya ada beberapa penumpang saja termasuk saya sendiri.
Saya mengambil tempat duduk di pojokan. Tepat di samping kaca lebar. Di depannya kita bisa melihat bagian depan kapal. Di sebelah jendela, kita bisa melihat view cantik Selat Lombok nantinya kalau sudah terang.
Karena ngantuk sekali dan di luar juga masih gelap, saya putuskan untuk tidur sejenak. Lampu kelap-kelip pelabuhan terlintas seolah berjalan. Kapal sudah meninggalkan dermaga dan berjalan per lahan-lahan keluar dari Teluk Lembar. Mata pun terpejam dan saya terbangun ketika kapal sudah berlayar kurang lebih dua jam.
Langit sudah agak terang meskipun matahari belum terbit. Saya langsung shalat subuh terlebih dahulu kemudian berkeliling kapal sambil menikmati view cantik dari Selat Lombok. Di sebelah timur, kita sudah melihat langit berwarna orange pertanda matahari akan terbit. Deretan perbukitan Pulau Lombok yang mempesona. Air laut yang cukup tenang.
Sedangkan di sebelah barat, sudah terlihat puncak Gunung Agung yang berada di Pulau Bali. Perjalanan sudah memakan waktu tempuh dua jam. Kurang lebih sekitar dua jam lagi kapal akan sampai di Padangbai.
Sambil menikmati pemandangan, saya pun melihat deretan perahu nelayan yang sedang memancing di tengah laut. Ikan-ikan kecil pun terlihat berenang di permukaan air. Ada juga yang loncat seolah ingin terbang tinggi. Saya gak tau nama ikannya. Yang pastinya, saya menanti salah satu ikan favorit kalau berlayar di lautan yaitu lumba-lumba. Biasanya lumba-lumba akan muncul menemani perjalanan kapal. Tapi belum beruntung bisa melihat mereka.
Sampailah di cerita membingungkan. Gak tau kenapa, tiba-tiba kapal berjalan pelan gak seperti biasanya. Dan akhirnya kapal gak jalan sama sekali. Anehnya, kelistrikan di dalam kapal gak ikutan mati. Cerobong asap kapal juga masih terdengar. Anggapan saya saat itu, mesin kapal dalam keadaan gak baik-baik saja.
Keadaan saat itu kami terombang-ambing di tengah Selat Lombok. Posisi masih di antara Pulau Lombok dan Nusa Penida. Entah saya gak tau penyebab kapal berhenti tapi mesin masih menyala. Penumpang lainnya pun masih tenang dan tertidur lelap. Saya yang tadinya penasaran, akhirnya balik ke tempat duduk untuk melanjutkan tidur.
Duduk santai di kursi sambil memandang ke arah luar jendela. Kapal masih posisi diam. Terkena gelombang laut dan oleng kanan dan kiri. Kondisi gelombang masih normal. Sesekali kapal membunyikan bel. Ada mungkin dua kali bunyikan bel. Gak ada pengumuman apapun. Saya mencoba untuk tenang.
Akhirnya saya beranggapan kapal ini sedang menunggu kapal barang yang berukuran panjang dan besar melintas di hadapan kapal. Atau sedang menghindari jaring tangkap nelayan yang sedang memancing. Bisa saja kan?. Tapi ini pertama kali saya alami. Ini yang buat saya agak sedikit tenang.
Waktu menunjukkan jam delapan pagi, kapal mulai jalan perlahan-lahan. Kapal ini lelet sekali atau saat itu ada yang gak beres di bagian mesin kapal ya?. Syukurnya, kapalnya bisa jalan saja meskipun lambat.
Pastinya gagal menuju daerah Ubud. Padahal sengaja berangkat tengah malam biar bisa mampir ke salah satu destinasi wisata di Ubud. Target awal sampai di Padangbai jam sembilan pagi tapi kenyataannya jam sepuluh pagi kapal baru sampai Padangbai dan itupun ngantri untuk sandar di dermaga.
It's oke, saya atur rencana kedua. Setelah turun dari kapal, langsung ke arah Kota Denpasar. Mungkin ada satu jam mampir di salah satu kedai kopi buat santai-santai sejenak sebelum menuju ke hotel tempat acara.
Kenyataannya, baru jam setengah dua belas siang, saya dan penumpang lainnya baru turun kapal. Yasudah, saya langsung ke hotel saja karena acara dibuka sekitar jam satu siang. Kurang lebih dua jam perjalanan dari Pelabuhan Padangbai ke daerah Seminyak, Kuta. Kebayang pastinya nanti bakal kena macet di daerah Renon dan Legian. Kita nikmatin saja perjalanan ini !.
Bawa santai saja, baru saja jalan masak langsung bad mood. Memang yang sudah kita rencanakan belum tentu sama seperti yang kita dapatkan. Pegang selalu prinsip itu di perjalanan, hehehe.
Over all, perjalanan kali ini memang saya sengaja ingin naik KMP Caitlyn karena sebelumnya belum pernah dicoba. Sebenarnya kapal ini cukup besar di rutenya. Terdapat dua deck parkiran kendaraan. Ruang penumpangnya juga sangat nyaman. ACnya dingin dan ruangannya harum. Toilet juga bersih. Kapal legend bekas dari kapal Jepang ini dibuat sekitar tahun 1986. Jadinya cukup lama juga.
Memiliki panjang 78,6 meter dengan lebar 17,5 meter. Berat total 757 ton. Sumbernya dari marine trafic dan mbah google. Bisa dibilang kapal ini salah satu kapal roro terbesar di rute Lembar - Padangbai selain Munic I, Athayana, Parama Kalyani dan Dharma Ferry VIII.
Pastinya setiap kapal memiliki kelebihan dan kekurangan. Tergantung selera kita mau naik kapal yang mana. Jelasnya ketika kita naik kapal itu, pasti punya cerita tersendiri dan berkesan.
Setelah turun dari kapal, saya melanjutkan perjalanan menuju arah Kota Denpasar. Cuaca siang itu sangat cerah sekali. Sesampainya di daerah Sanur, saya berbelok ke arah Renon dan sampai di hotel pas jam satu siang dengan segala drama kena macet di daerah Kuta.
Cerita kali ini saya cukupkan sampai disini. Tunggu saja kelanjutan di part kedua yaitu review hotel dan acaranya. Pastinya jangan bosan ya!.
Penulis : Lazwardy Perdana Putra

















0 comments:
Post a Comment