Skip to main content

Staycation Tiga Hari di The Sultan Recidence Hotel Senayan, Jakarta Pusat

Saat tau bakalan menginap di The Sultan & Recidence Hotel Senayan. Saya langsung bahagia banget. Bahagianya bisa ke Jakarta lagi semenjak Covid-19 melanda sejak dua tahun yang lalu. Sedihnya, bakalan ninggalin istri dan dua anak yang sedang lucu-lucunya untuk bertugas dinas ke ibu kota. 

Mau gak mau harus berangkat karena ditugaskan berangkat sama pimpinan untuk menghadiri acara Symposium & Launching Formularium Fitofarmaka di Jakarta.

Untuk cerita perjalanan saya dari rumah hingga sampai di Jakarta, bisa kalian baca di tulisan saya sebelumnya. Saya kasi linknya dibawah ini ya. 

Baca juga disini : Penerbangan Makassar - Jakarta


Sesampainya di Terminal 2E, Bandara Soekarno Hatta, suasana bandara sangat ramai sekali oleh penumpang yang baru tiba dari berbagai daerah di Indonesia bahkan luar negeri. Namanya juga bandara internasional terbesar di Indonesia, pastilah sangat ramai lah.

Saya berjalan membawa tas ransel favorit menuju pintu keluar bandara. Rencananya sih mau pakai taxi saja biar cepat sampai hotel. Kalau mau pakai publik bus atau kereta bandara, rasanya gak mungkin karena badan sudah capek banget dari habis subuh sudah jalan dari rumah. Mana pakai acara transit lagi.

Waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB, perjalanan dari bandara ke hotel butuh waktu lima belas menit saja via tol. Untungnya gak sulit mendapatkan taxi bandara yang sesuai keinginan dan budget di bandara. Tanya-tanya berapa tarif sampai hotel, ternyata estimasinya sekitar 100 ribuan saja. Pelayanannya cukup oke, supirnya juga sangat ramah sekali. Untuk nama taxinya saya skiip ya (bukan ngendorse).


Welcome to The Sultan Recidence Hotel Senayan !.

Singkat cerita, dulu hotel ini adalah sebuah apartemen yang dibangun sekitar tahun 1987 - 1989 dengan nama The Hilton Recidence. Total berjumlah 30 lantai dan berbentuk gedung kotak bertingkat. Sejak tahun 2006, apartemen ini berubah fungsi menjadi hotel dan berganti nama menjadi The Sultan Recidence. Dilihat dari jauh, gedung hotel ini seperti gedung kembar dengan cat khas berwarna krem.

Setiba di depan lobi hotel, saya turun dari mobil taxi kemudian menuju meja resepsionis. Saya disambut hangat oleh karyawan hotelnya. Selesai administrasi, mas-masnya memberikan satu card kunci kamar. Kamar saya saat itu berada di lantai 10 (gak sebut nomor kamarnya berapa). Ternyata saya gak sendirian, ada salah satu teman dari provinsi lain yang sekamar dengan saya dan tiba lebih awal. 


Jalan menuju kamar sambil lihat penampakan hotelnya dari dalam. Konsep hotelnya elegan sekali. Bernuansa Jawa klasik dan ketebak ini hotel sudah berumur lama. Terlihat dari bentuk bangunan dan furniturenya yang bernuansa Jawa klasik nan modern. Kursi sofa yang elegan. Lampu-lampu kaca yang menghiasi ruang lobi. Dinding lobi yang membawa kita ke era-80an.  Lukisan-lukisan yang menempel di setiap sudut ruangan dan suara musik instrumen klasik yang menyambut saya setiba di hotel. Hotel klasik nan mewah.

The Sultan Recidence Hotel Senayan beralamatkan di Jalan Gatot Subroto, RT 01/RW 03, Gelora, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Tepatnya berada di depan area Senayan atau Stadion Gelora Bung Karno (GBK) dan gak jauh dari Gedung Jakarta Convention Center (JCC) Senayan. 

Setelah tau bakalan menginap di salah satu hotel termewah di Ibukota Jakarta dan dekat dengan Senayan, sudah kebayang mau kemana. Semoga saja ada waktu dan kesempatan buat melihat Stadion GBK secara dekat. 




Sesampai di kamar hotel, saya disambut oleh Abang Budi dari Kalimantan Barat. Orangnya ramah banget. Baru pertama kali bertemu, langsung nyambung saja. Kamar yang diberikan panitia penyelenggara yaitu kelas superior dengan dua bed. Kamarnya lumayan besar. Bednya juga gede bener. Cukup lah buat seukuran badan saya. Kasurnya empuk dan suasananya hening banget. 

Fasilitas di kamarnya lumayan lengkap. Ada layar LED, meja kerja, alat pemanas air, lemari pakaian, box berangkas, kamar mandi yang super duper bersih dan lengkap. Ada juga sandal hotel, handuk, dua buah botol air, gelas cangkir dan terpenting ada kopi sachetan guys. Penting ada di kamar buat ngopi malam hari. Menurut informasi yang saya cari via aplikasi online, tarif kamar per malamnya sebesar 1,5 sampai 2 juta rupiah untuk kelas superior. Waw mahal amat yaak ?.

Setelah beres-beres dan mandi. Saya ijin keluar sebentar melihat suasana di luar. Kebetulan juga belum makan siang, jadi sekalian nyari makan. Kata Abang Budi, gak jauh dari hotel ada food court yang menjual berbagai macam makanan minuman. Ada Pecel Madiun, batagor, Nasi Padang, gorengan dan lainnya. Soalnya panitia gak menyediakan makan siang buat peserta. Jadi makannya di luar hotel gitu. 


Setelah perut kenyang, saya kembali ke hotel sambil jalan kaki menikmati suasana Senayan sore hari. Gak banyak kegiatan hingga malam. Saya pergunakan waktu buat istirahat di kamar saja sambil menikmati pemandangan Jakarta di malam hari. Lumayan capek juga seharian di perjalanan. Total penerbangan hampir lima jam (kayak ke Mekkah saja).

Paginya saya dan Abang Budi pergi ke restoran hotel buat sarapan. Lokasi restonya berada di area lantai paling bawah.  Penampakan restonya bener-bener klasik banget dengan perpaduan nuansa Jawa dan modern. 



Menu-menunya juga menyajikan makanan Nusantara. Menu utamanya ada nasi goreng, nasi kuning, ayan goreng, mie goreng dan lain-lain. Jajannya ada jajanan khas pasar seperti agar-agar, arem-arem, gorengan. Minumannya cukup beragam, ada wedang ronde, es campur, es bajigur, es cendol, es dawet ayu dan buah-buahan juga ada disini. Selama tiga hari di hotel ini, saya sangat suka dari pelayanan dan menu-menunya.

Setelah sarapan dan bersih-bersih, saya dan Abang Budi berangkat ke lokasi pertemuan. Kebetulan pertemuannya gak di hotel tempat kami menginap, tetapi di Gedung JCC yang lokasinya gak jauh dari hotel. 

Kesananya naik apa ?.


Awalnya sih mau pesen ojek online. Tapi dari informasi yang diberikan panitia, kita bisa melewati terowongan bawah tanah yang menghubungi antara hotel dan gedung JCC. Kaget dong dengernya dan sudah gak sabar pengen tau dimana sih terowongannya. Saya dan Abang Budi mengikuti petunjuk yang diberikan pihak hotel bahwa menuju terowongan melewati resto tempat kami sarapan tadi. 

Ternyata terowongannya persis di belakang restonya. Berjalan kaki melalui terowongan yang panjangnya kurang lebih 1 kilometer. Gak seperti terowongan yang ada di bayangan saya yang gelap dan serem gitu. Tapi terowongan yang menuju gedung JCC ini sangat lebar dan terang. Di setiap dinding ada lampu penerang, lukisan dan foto. Jadi gak gelap ya. Suasana di sepanjang perjalanan juga gak serem-serem amat. Kecenya lagi ada eskalator agar jalan kita bisa dipercepat. 

Setibanya di Gedung JCC, suasana sudah sangat ramai sekali. Selain pertemuan yang akan kami hadiri, disini juga ada pameran yang diadakan oleh Kementerian Kesehatan RI dalam rangkaian G20 lhoo. Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di JCC. Biasanya hanya bisa lihat di layar tv dan medsos saja (katrok ya).


Alhamdulillah, kegiatan pertemuan dari pagi hingga sore hari berjalan dengan lancar. Saya gak langsung balik hotel tapi masuk dan melihat-lihat isi pameran di ruang sebelah. Sangat berkesan sekali dan bahagia bisa datang ke acara sebesar ini.

Karena masih belum sore-sore amat, saya dan Abang Budi memutuskan balik ke hotel dengan jalur yang sama. Setibanya di hotel, saya langsung bersiap untuk berenang dulu di kolam renang hotel. Pakai celana renang dan bersiap turun ke lobi bawah dan menuju kolam renang. 

Sedangkan Abang Budi pergi lari sore ke Stadion GBK. Sempat dilema sih mau ikut Abang Budi atau tetap renang. Tapi saya putuskan buat renang saja karena sayang sekali gak renang di kolam renang mewah milik The Sultan Recidence Hotel Senayan.



Kolam renangnya keren habis. Bingung mau komentar apa. Dari kualitas airnya menurut saya sih bersih dan gak berminyak. Lantai kolamnya juga saya suka karena gak licin. Kedalamannya juga pas sekitar 150 meter gitu. Lokasinya juga berada di area cafe outdoornya. Sambil berenang ditemani alunan musik yang up to date

Gak terasa waktu sudah menjelang malam. Saya putuskan untuk segera naik dan berbilas. Sampai di kamar hotel, langsung tepar karena mata sudah lima watt.

Over all, saya suka dengan hotel ini. Pelayanannya sangat baik. Suasana hotelnya juga cukup nyaman. Sinyal wifi juga kenceng banget. Makanannya juga cocok di lidah. Fasilitas kamarnya gak buat kecewa. Sangat pantas dengan status hotel bintang lima. 

Oke, itu dia review sekilas dari saya selama staycation di The Sultan Recidence Hotel Senayan, Jakarta Pusat. Mungkin ada dari teman-teman yang memiliki pengalaman yang berbeda selama menginap di hotel ini. Bisa ditulis di kolom komentar ya !. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Comments

  1. Ini salah satu hotel favoritku ❤️❤️❤️. Sebelum pandemi kami sekeluarga stay di sana semingguan lah, sambil nunggu asisten2ku pulang mudik mas 😄. Biasanya tiap lebaran, aku memang sengaja ngungsi ke hotel sampe asisten pulang, biar ga pusing urusan rumah. Jadi waktu itu stay di Sultan hotel . Ga nyesel sih, Krn memang bagus, fasilitas komplit, sarapan banyak bgt jenisnya, dan ada jogging track juga Playground anak. Jadi tiap sore aku olahrga di sekitar hotel.

    Dan inget banget waktu itu sempet rame ternyata ada timnas Korsel yg under 21 atau apaa gitu, stay di hotel yg sama, satu lantai Ama kamar yg kami pesan. Eksekutif kalo ga salah. Sayangnya aku bukan penggemar bola, jadi ga tau sbnrnya siapa aja mereka walopun wartawan banyak nungguin di bawah 🤣.

    Puaaaas pokoknya stay lama di Sultan. Anak2 malah kepengn lagi semisal mudik lebaran ga pulang, sambil nunggu asisten ya bakal stay di sana lagi. Kekurangan palingan Krn ini hotel lama yaaa, jadi furniture banyak yg jadul. Cuma masih terawat sih. Jadi okelaah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lokasi hotelnya jg sangat strategis. Dekat dgn Bandara, stasiun MRT, KA Bandara dan Stadion GBK. Sangat beruntung bisa menginap di hotel ini. :)

      Delete
  2. wah dari namanya saja sudah ketahuan, ini hotel buat sultan, heuheuheu
    keren banget ada terowongannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya terowongannya kece abis. Perlu diikutin nih sama hotel2 d Lombok. Buat terowongan sampai ke Sirkuit Mandalika hahahaha

      Delete
  3. bakal betah banget aku klo staycation di sini apalagi lebih dari semalam
    udah mupeng berendam di bathubnya hahahha
    sesuai namanya sultan bener bener mevvah banget fasilitasnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener bang. semoga bisa bermalam disini lg kalau datang ke Jakarta lg.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pengalaman Baru : Naik Boat di Danau Beratan, Bedugul

Siapa yang gak kenal Bali dengan keindahan pantai dan budayanya. Hampir semua destinasi di Bali sudah mainstream . Apalagi kalau sudah yang namanya long weekend , jangan diharap bisa menikmati alam Bali sendirian. Bus-bus pariwisata dan kendaraan lainnya berjejer dan membuat jalur di kawasan wisata macet total. Itu pengalaman yang saya rasakan di Bali minggu yang lalu. Agak sedikit curhat di awal tulisan mengenai kemacetan di Bali yang sudah terasa saat ini. Beda dengan keadaan Bali dua puluh tahun yang lalu, disaat saya pertama kali ke Bali. Lengang, gak panas dan gak macet. Oke... Kita lupakan kemacetan di Bali akhir-akhir ini. Kita bahas hal-hal yang menarik di Bali saja. Salah satunya tempat yang sempat saya kunjungi saat ke Bali kemarin, tepatnya di bagian utara Bali. Tempatnya dingin, adem, sejuk, jauh dari polusi dan kece pastinya. Fotoan kece di atas boat dengan latar Pura Ulun Danu, Danau Beratan Welcome Danau Beratan !!! Kalian

Kuliner Lagi di Bebek Goreng Pondok Galih : Gajah Mada, Lombok

Kalau ditanya tempat makan yang nyaman dengan penampilan kece di seputaran Kota Mataram. Saya langsung menjawab Bebek Goreng Pondok Galih Gajah Mada. Sudah lama juga saya gak mereview tempat makan sambil kulineran. Akibat terlalu lama virus Covid-19 menghantui kita, sampai-sampai mau makan keluar saja harus mikir beribu kali. Pertimbangannya pastinya keamanan dan kesehatan diri sendiri. Untuk kali ini saya gak mau kehilangan momentum. Kebetulan ada libur empat hari dan gak traveling kemana-mana. So, saya bareng keluarga berencana pergi kulineran ke tempat yang belum didatangi. Wah, ini yang saya tunggu-tunggu. Saya pun merekomendasikan mencoba olahan bebek yang cukup terkenal di Kota Mataram, yaitu Bebek Goreng Pondok Galih. Dari namanya saja agak kesunda-sundaan ya. Memang bener, resto ini bernuansa khas Sunda.  Gimana ceritanya ?. Pasti seru dong. Buat yang gak berminat sama tulisan ini, bisa leave . Tapi buat kalian pembaca setia blog ini, pasti sudah gak sabaran sama cerita-cerita

Nama Menu Makanan Minuman yang Unik di Warung Meekow

Kalau hujan gini, enaknya ngebahas tentang makanan kali ya. Udara dingin dikala hujan menggoda, ujung-ujungnya larinya ke perut, laper guys. Nah, ngebahas makanan, saya punya review sebuah warung makan yang rekommended buat dicoba. Namanya Warung Meekow. Sudah pasti di media sosial tepatnya instagram, sudah ramai sekali ini tempat tongkrongan. Kalau gak salah sekitar akhir tahun 2020 lalu, tempat ini dilaunching. Sayangnya saya gak sempat datang di acara launchingnya, lebih tepatnya gak diundang,hehehe...curhat.  Kenapa saya review tempat nongkrong ini ?. Alasannya, karena beberapa teman menyarankan untuk datang mencicipi menu-menu enaknya. Jadi penasaran dong, so akhirnya saya datang untuk pertama kalinya bareng temen-temen kantor di jam makan siang. Gak puas hanya datang sekali, seminggu kemudian, saya kesini lagi bareng anak istri. Over all , pelayanan yang cukup memuaskan dan makananya enak, jadi saya review (gak ngendorse).  Dari informasi yang saya dapat, pemilik Warung Meeko