Skip to main content

Naik KA Bandara (Railink) Lanjut Nyobain Kalayang ke Terminal 2, Bandara SHIA

Bisa dibilang ini tulisan balas dendam saya dua tahun yang lalu, tepatnya Bulan Februari 2020. Wow, sudah lama amat ya. Mungkin yang sudah sering wara-wiri di blog saya, masih ingat cerita saya nyobain KA Bandara atau bahasa kerennya Railink dari Stasiun Manggarai ke Stasiun Soeta (SHIA). Bagi yang belum boleh dibaca dulu, bisa dicari di daftar tulisan ya !. 

Ada kesempatan datang lagi ke ibukota (Jakarta), perasaan seneng dong. Apalagi datangnya dalam rangka tugas dinas pastinya semuanya ditanggung negara, Asyik. Kalau datang ke Jakarta pastinya pengen nyobain moda transportasinya. Namanya saya datang dari pulau seberang, wajib hukumnya nyobain MRT (Mass Rapid Transit), LRT (Light Rapid Transit), (Railink) KA Bandara, Commuter Line (KRL) dan TransJakarta. Banyak juga ya yang pengen dicoba. 



Setelah tugas menghadiri pertemuan di daerah Senayan, Jakarta, siap-siap pulang ke kampung halaman. Setelah check-out hotel, saya bergegas masuk ke dalam monjol (mobil ojek online) yang sudah dipesan melalui aplikasi. Arahnya bukan langsung bandara, melainkan ke Stasiun Sudirman BNI City dengan alasan paling dekat jaraknya dengan hotel tempat saya menginap. 

Stasiun yang awalnya bernama Stasiun Sudirman Baru ini, saat ini dikenal dengan nama Stasiun KA Bandara BNI City. Lokasinya di Jalan Jenderal Sudirman membuat stasiun ini mudah diakses. Stasiun ini mulai melayani penumpang sejak 26 Desember 2017 dan diresmikan pada tahun 2 Januari 2018. 

Fasilitas di stasiun ini cukup lengkap. Ada vending machine, mesin check-in mandiri yang ada di lantai dua, papan informasi jadwal kedatangan dan keberangkatan kereta, free wifi meskipun saya susah sekali ngaksesnya,hehehe. Gak hanya itu saja, ruang tunggu penumpang juga sangat nyaman. Sedangkan untuk menunggu kereta bandara datang, kita harus turun ke lantai satu. 


Saya pun berjalan mencari vending machine untuk mencetak ralilink boarding pass. Caranya sangat mudah, pertama kita berdiri di hadapan vending machine-nya. Selanjutnya, tentukan tujuan turun di stasiun mana dengan menekan layar machine sesuai dengan stasiun dituju. Saya memilih Stasiun Soekarno-Hatta International Airport (SHIA). Ada lima pemberhentian khusus KA bandara antara lain Stasiun Manggarai, Stasiun Sudirman BNI City, Stasiun Duri, Stasiun Batu Ceper dan paling ujung SHIA. Infonya sih kedepannya ada penambahan stasiun sampai ke Stasiun Bekasi. Semoga terealisasi ya. Amin. 

Selanjutnya menambahkan nomor handphone yang aktif. Setelah memasukkan nomor handphone, baru melakukan pembayaran yang diterima berdasarkan non tunai. Saya memilih melakukan pembayaran melalui kartu debit saja. Harga tiketnya masih tetap sama yaitu 70 ribu sekali jalan. Saya rasa sama jatuhnya bila kita menggunakan bus Damri dari Gambir menuju SHIA yaitu 70 ribu rupiah. 

Setelah itu, proses cetak boarding pass selesai. Boarding Pass keluar secara otomatis dari machine. Di boarding pass sudah tertera stasiun keberangkatan dan stasiun tujuan. Untuk seat kita bisa dibebaskan mau duduk dimana karena di boarding pass gak dicantumkan nomor seat. 

Sebenarnya untuk pembelian tiket KA bandara gak begitu susah. Selain membeli langsung, kita bisa memesan melalui aplikasi Railink yang didownload via Play Store atau IOS. Selanjutnya, buka aplikasinya dan ikuti semua ketentuan yang ada. Di aplikasi Railink kita bisa melihat jadwal keberangkatan KA bandara. Jadi sebelum membeli, sesuaikan dengan jadwal penerbangan kita dulu ya. 



Masih ada cukup waktu untuk melihat sekitaran stasiun. Suasana stasiun pagi itu masih sepi. Entah kenapa kok masih sepi ya, apa penumpang KA bandara gak begitu banyak yang naik melalui stasiun ini. Padahal Stasiun Sudirman BNI City ini berada di tengah Kota Jakarta dan menjadi penghubung antara Stasiun MRT Sudirman dan Stasiun Commuter Line (KRL). Kabarnya Stasiun Sudirman BNI City sudah dioperasikan juga untuk pelayanan Commuter Line (KRL). Wah jadi tambah ramai nih kalau KRL berhenti di stasiun ini. 

Lihat jam menunjukkan pukul 07.30 WIB. Lima belas menit lagi kereta akan berangkat. Berjalan menuju peron, saya harus turun lagi ke lantai bawah melalui tangga eskalator. Pas sampai di peron, lhoo mana keretanya ?. Ternyata keretanya belum sampai. Infonya kereta yang saya akan naiki baru jalan dari Stasiun Manggarai. Yo wes, cari kursi dulu sambil duduk santai nonton KRL yang lewat. 

Gak lama menunggu, keretanya sudah terlihat dari kejauhan. Bersiap-siap memasuki kereta. Suasana di dalam kereta sudah cukup ramai ya. Banyak juga penumpang yang naik dari Stasiun Manggarai. Untungnya masih cukup banyak seat yang kosong. Saya memilih seat yang menghadap searah kereta berjalan. Masih tetap sama ya penampakan seatnya. Hanya yang berbeda, setiap seat diberi pembatas kaca transparan. Tujuannya untuk pencegahan penularan Covid-19. 



Perlu diingat, meskipun kasus Covid-19 sudah menurun, kita harus tetap jaga kesehatan ya terutama memakai masker, mencuci tangan dan membatasi kontak dengan orang di sekitar. Jangan sampai pulang ke rumah membawa oleh-oleh yang gak kita inginkan. Waktu tempuh dari Stasiun KA Sudirman BNI City hingga Stasiun SHIA ditempuh dengan waktu 40 menit saja.

Kereta akhirnya berangkat, saya lebih memilih menikmati perjalanan di pagi itu. Suasana ibu kota pagi itu sudah sangat sibuk. Gedung-gedung pencakar langit sangat kokoh terlihat. Sesekali melewati pemukiman kumuh yang sangat mengiris di hati. Di tengah kemewahan Jakarta, masih banyak yang tidur beralaskan papan. Kalau hujan turun, harus bersiap-siap menyelamatkan diri ke daerah aman banjir. 

Setelah melewati beberapa stasiun, sampailah juga di Stasiun SHIA. Saya bersama penumpang lainnya turun dari kereta menuju gedung stasiun bandara. Waw, ternyata ramai juga penumpang kereta bandara sekarang. Berbeda dengan dua tahun yang lalu saat pertama kali saya naik kereta ini. Sekarang sudah semakin ramai dengan pelayanan yang cukup baik. 



Masih cukup banyak waktu untuk menuju Terminal 2E. Saya pun berjalan santai menuju stasiun berikutnya. Untuk menuju Terminal 2E ada dua cara. Pertama, menggunakan suttle bus atau bus DAMRI. Kedua, menggunakan Skytrain atau bahasa kerennya "Kalayang". Saya lebih memilih naik Kalayang saja karena belum pernah mencoba sama sekali,hehehe. 

Untuk menuju stasiun Kalayang, kita harus keluar dari stasiun kereta bandara dulu. Setelah itu ambil arah ke kanan dan menaiki tangga eskalator atau lift ke lantai dua. Setelah itu, lihat papan petunjuk yang bertuliskan Stasiun Kalayang. 

Tipsnya buat pemula seperti saya, kita harus perhatikan layar informasi yang menunjukkan jadwal pemberhentian Kalayang. Perhatikan juga gate mana untuk menuju Terminal 1,2 dan 3. Kalau belum jelas, bisa tanyakan langsung ke petugas yang berdiri di depan gate. Malu bertanya sesat di jalan. Malu bertanya nanti salah naik Kalayangnya. 



Untungnya setibanya saya di dalam stasiun, Kalayang yang menuju Terminal 2 lima menit lagi akan tiba. Untungnya lagi, kita gak ribet pesan tiketnya alias langsung masuk kereta karena semuanya gratis. Kalayang ini merupakan moda transportasi berbasis rel yang menghubungkan Terminal 1, Terminal Bandara, Terminal 2 dan Terminal 3. Jam operasionalnya dari pukul 06.00 pagi sampai 21.00 WIB.

Saat Kalayang yang akan mengantarkan saya ke Terminal 2 tiba, saya bergegas masuk ke dalam. Ternyata sangat padat sekali di dalam Kalayang. Saya pun gak mendapatkan tempat duduk alias berdiri. Untungnya bisa berdiri di belakang masinis yang mengoperasikan Kalayang ini. Di dalam Kalayang sangat sejuk meskipun sangat padat oleh penumpang. Kecenya lagi, semua penumpang sangat tertib. Gak ada penumpang yang egois dan mau seenaknya. 


Di setiap stasiun pemberhentian, Kalayang hanya berhenti satu menit saja. Jadi jangan sampai tertinggal Kalayang ya. Jarak dari stasiun bandara ke Terminal 2 hanya tiga menit saja. Gak begitu jauh dibandingkan Terminal 1 dan 3. Kecepatannya juga gak begitu cepat, berjalan santai dan sangat mulus. Berbeda rasanya kalau naik kereta pada umumnya. Penampakannya terdiri dari dua gerbong dimana ruang kemudinya terdapat di depan dan belakang. Mirip seperti LRT, tapi Kalayang lebih pendek lagi. 

Over all, dengan Kalayang ini, para penumpang sangat dipermudah untuk pindah dari terminal satu ke terminal lainnya begitupun sebaliknya. Pelayanannya juga sangat baik. Saya sangat nyaman sekali saat berada di dalam Kalayang meskipun gak dapat tempat duduk. Akhirnya, balas dendam saya terbayarkan bisa ada waktu mencoba Kalayang. Katrok gak sih, hehehe. 

Itu sepintas cerita saya mencoba KA Bandara dari Stasiun Sudirman Baru BNI City ke Stasiun SHIA dan dilanjutkan mencoba menggunakan Kalayang ke Terminal 2E untuk pulang ke kampung halaman. Ditunggu cerita selanjutnya di dalam perjalanan saya balik ke Pulau Lombok dari Terminal 2E, Bandara Soekarno Hatta International Airport.

Penulis: Lazwardy Perdana Putra

Comments

  1. Kalayang nya aku pernah cobain, tapi kereta bandara blm pernah sampe skr 😅. Soalnya dari rumahku ke St Manggarai dan Sudirman itu jauuuuh mas. Hrs naik transport lain dulu menuju kesana. Lebih efisien kalo naik taxi Krn kluar rumah LGS tol bandara 😄. Makanya sampe skr blm pernah cobain kereta bandara, padahal pengen . Cuma Krn alasan ga efisien dan malah lebih mahal Krn jarak yg jauh, jadi blm bisa deh.

    ReplyDelete
  2. seru banget pengalaman naik keretanya
    plus bisa berdiri di belakang masinis, bs ngeliat view depan kereta

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pengalaman Baru : Naik Boat di Danau Beratan, Bedugul

Siapa yang gak kenal Bali dengan keindahan pantai dan budayanya. Hampir semua destinasi di Bali sudah mainstream . Apalagi kalau sudah yang namanya long weekend , jangan diharap bisa menikmati alam Bali sendirian. Bus-bus pariwisata dan kendaraan lainnya berjejer dan membuat jalur di kawasan wisata macet total. Itu pengalaman yang saya rasakan di Bali minggu yang lalu. Agak sedikit curhat di awal tulisan mengenai kemacetan di Bali yang sudah terasa saat ini. Beda dengan keadaan Bali dua puluh tahun yang lalu, disaat saya pertama kali ke Bali. Lengang, gak panas dan gak macet. Oke... Kita lupakan kemacetan di Bali akhir-akhir ini. Kita bahas hal-hal yang menarik di Bali saja. Salah satunya tempat yang sempat saya kunjungi saat ke Bali kemarin, tepatnya di bagian utara Bali. Tempatnya dingin, adem, sejuk, jauh dari polusi dan kece pastinya. Fotoan kece di atas boat dengan latar Pura Ulun Danu, Danau Beratan Welcome Danau Beratan !!! Kalian

Kuliner Lagi di Bebek Goreng Pondok Galih : Gajah Mada, Lombok

Kalau ditanya tempat makan yang nyaman dengan penampilan kece di seputaran Kota Mataram. Saya langsung menjawab Bebek Goreng Pondok Galih Gajah Mada. Sudah lama juga saya gak mereview tempat makan sambil kulineran. Akibat terlalu lama virus Covid-19 menghantui kita, sampai-sampai mau makan keluar saja harus mikir beribu kali. Pertimbangannya pastinya keamanan dan kesehatan diri sendiri. Untuk kali ini saya gak mau kehilangan momentum. Kebetulan ada libur empat hari dan gak traveling kemana-mana. So, saya bareng keluarga berencana pergi kulineran ke tempat yang belum didatangi. Wah, ini yang saya tunggu-tunggu. Saya pun merekomendasikan mencoba olahan bebek yang cukup terkenal di Kota Mataram, yaitu Bebek Goreng Pondok Galih. Dari namanya saja agak kesunda-sundaan ya. Memang bener, resto ini bernuansa khas Sunda.  Gimana ceritanya ?. Pasti seru dong. Buat yang gak berminat sama tulisan ini, bisa leave . Tapi buat kalian pembaca setia blog ini, pasti sudah gak sabaran sama cerita-cerita

Nama Menu Makanan Minuman yang Unik di Warung Meekow

Kalau hujan gini, enaknya ngebahas tentang makanan kali ya. Udara dingin dikala hujan menggoda, ujung-ujungnya larinya ke perut, laper guys. Nah, ngebahas makanan, saya punya review sebuah warung makan yang rekommended buat dicoba. Namanya Warung Meekow. Sudah pasti di media sosial tepatnya instagram, sudah ramai sekali ini tempat tongkrongan. Kalau gak salah sekitar akhir tahun 2020 lalu, tempat ini dilaunching. Sayangnya saya gak sempat datang di acara launchingnya, lebih tepatnya gak diundang,hehehe...curhat.  Kenapa saya review tempat nongkrong ini ?. Alasannya, karena beberapa teman menyarankan untuk datang mencicipi menu-menu enaknya. Jadi penasaran dong, so akhirnya saya datang untuk pertama kalinya bareng temen-temen kantor di jam makan siang. Gak puas hanya datang sekali, seminggu kemudian, saya kesini lagi bareng anak istri. Over all , pelayanan yang cukup memuaskan dan makananya enak, jadi saya review (gak ngendorse).  Dari informasi yang saya dapat, pemilik Warung Meeko