Saturday, 11 December 2021

Akhirnya Indonesia sukses menggelar ajang balapan World Superbike 2021 (WSBK) guys !. Ada rasa bangga dan terharu, ditambahkan lagi saya berkesempatan datang langsung ke Sirkuit Mandalika buat nonton Si Toprak dan kawan-kawan balapan seri terakhir di musim ini. Pasti sudah gak sabar kan gimana keseruan pengalaman saya nonton langsung WSBK di Sirkuit Mandalika ?. Yuk langsung saja dibaca sampai habis !.

Pertamina Mandalika International Street Circuit, itulah nama resmi dari sirkuit yang dibangun di Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, Lombok Tengah. Selalu mengikuti progres pembangunan sirkuit yang dibangun di salah satu pulau terkece yang Indonesia miliki, sebut saja Pulau Lombok. Siapa gak mengenal Pulau Lombok yang memiliki puluhan destinasi wisata alam yang sudah diakui dunia. Diantaranya Gili Trawangan, Gili Meno, Gunung Rinjani, Danau Segara Anak, Desa Sembalun, dan yang sedang nge-hits saat ini yaitu Kuta Mandalika karena disinilah Indonesia akan mengukir sejarah dengan menggelar ajang balapan dunia seperti World Supetbike, MotoGP, dan F1 nantinya.

Sirkuit ini dibangun kurang dari setahun lhoo, kece kan. Apalagi sirkuit ini berada di pinggir pantai dan dikelilingi perbukitan yang kece habis. So, menambah keindahan yang dimiliki dari sirkuit yang memiliki panjang lintasan 4,3 kilometer di lahan seluas 130 hektare ini. Jumlah tikungan di sirkuit ini sebanyak 17 tikungan dengan kesulitan yang beragam. 

Kecenya lagi, aspal yang digunakan merupakan aspal dengan tekhnologi terbaru yaitu Stone Mastic Asphalt. So, kelebihan dari jenis aspal ini, ban motor lebih lengket alias anti slip disaat kondisi trek basah. Untuk kondisi kering, aspal ini memanjakan para pembalap untuk menggeber motor mereka sampai kecepatan 320 kilometer per jam karena aspal ini memiliki keunikan dengan permukaan yang lebih kasar dari jenis aspal lainnya. Beberapa sirkuit yang sudah menggunakan jenis aspal ini antara lain Sirkuit Losail Qatar, Sirkuit Silverstone Inggris, Sirkuit Philip Island Australia dan Sirkuit Pertamina Mandalika Indonesia. Kece.... Gak kebayang kalau Valentino Rossi balapan disini. Sayangnya Abang Rossi sudang pensiun. 

Btw, gimana ceritanya saya dapat nonton langsung final race WSBK di Sirkuit Mandalika ?. Berawal dari teman-teman kantor yang mengajak saya nonton bareng di Hari Minggu, dimana bertepatan dengan final race WSBK. Cari-cari tiket via online, akhirnya dapat juga di tiket.com (maaf sebut merk). Untungnya lagi ada paket promonya, beli dua dapat tiga. Kami membeli tiket dengan harga 1,1 juta untuk bertiga. Bisa lebih irit dibandingkan dengan harga tiket di website lainnya, jauh lebih mahal dan ribet dapetinnya. Harga tiket WSBK kemarin itu berkisar dari 300 ribu sampai 2 jutaan. Ada juga yang kelas VVIP yang harganya super duper mahal yaitu belasan jutaan. 

Cara membeli tiket via tiket.com gak ribet. Pertama-tama buka aplikasinya. Cukup mengisi nama pemesan, nomor KTP, alamat email, nomor handphone, pilih mau nonton di grand stand yang mana, habis itu bayar melalui transfer debit atau kredit. Setelah itu kita mendapatkan e-tiket yang dikirimkan ke email apabila sudah membayar. Cukup mudah dijaman sekarang. Hal penting yang perlu diingat, ketika ingin membeli tiket, kita harus sudah vaksin kedua, swab antigen 1x24 jam dengan hasil negatif dan memiliki akun di aplikasi pedulilindungi yang ada di handphone. 

Saya dan teman-teman memilih grand stand atau tribun berwarna kuning yang berada di tikungan 13 dan 14 menuju tikungan 15 dan 16. Katanya sih ini tribun dengan view yang paling kece. Wah, sudah gak sabar nih menunggu hari-H buat datang langsung ke sirkuit. 

World Super Bike di Sirkuit Mandalika dihelat selama tiga hari yaitu dari tanggal 19 sampai 21 November 2021. Dimana di hari pertama dilakukan free practice 1 dan 2 atau bahasa awamnya latihan bebas. Kemudian di hari kedua yaitu kualifikasi 1 dan 2 yang kemudian dilanjutkan dengan race 1. Ohya, selama tiga hari, gak hanya WSBK saja yang digelar, tapi ada IATC dan World SuperPole dimana ini merupakan kelas dibawah WSBK. Seperti Moto3 dan Moto2 di MotoGP. 



"Bangun tidur ku terus mandi. Jangan lupa menggosok gigi !". Kayak lirik lagu. Hari yang sudah ditunggu-tunggu datang juga. Cuaca pagi itu lumayan mendung. Semoga saja selama balapan nanti gak turun hujan. Persiapan untuk menonton, saya membawa jas hujan yang paling penting, ada kamera dslr juga, cemilan dan minum pastinya. Lumayan lama nontonnya nanti, dari jam sepuluh pagi hingga sore hari. Jadi biar gak kelaperan, bawa bekal yang cukup.

Setelah semuanya dipastikan gak ada yang tertinggal, saya pun langsung bersiap-siap untuk jalan. Gak lupa pamitan dengan istri dan anak. "Maaf ya nak, ayah pergi nonton balapan dulu. Nanti pulangnya ayah belikan jajan" (ayah sekaligus suami yang baik). Setelah berpamitan, saya menunggu teman-teman buat jalan bareng.

Perjalanan dari Mataram memakan waktu satu jam setengah hingga sampai di lokasi. Saya kebetulan gak bawa motor alias numpang di mobil teman kantor yang bareng nonton juga. Sekitar jam delapan pagi kami berangkat menuju lokasi. Melalui Bypass Bandara International Lombok kemudian lanjut mengambil jalur baru yaitu Bypass Mandalika. Jalur yang baru saja diresmikan oleh Bapak Jokowi bersamaan dengan Sirkuit Mandalika pada tanggal 12 November 2021 kemarin.

Jalur ini bisa memakan waktu hanya lima belas menit saja hingga sampai di Kuta Mandalika dibandingkan dengan jalur sebelumnya yaitu melalui Desa Ende, Desa Sade dan Kuta Mandalika. Sebelum sampai di sirkuit, kita dapat menikmati view yang kece sepanjang jalur Bypass Mandalika. Jalur yang membelah bukit ini mampu membuat siapa saja yang lewat sini langsung jatuh cinta. Apalagi ada spot yang menarik untuk berfoto yaitu sebuah bukit yang bertuliskan Bypass Mandalika. Tapi saya belum berminat fotoan disini karena sudah gak sabar sampai di sirkuit,hehehe.

Sesampainya di lokasi parkir timur dua, kendaraan pribadi hanya bisa sampai disini saja. Kami turun semua dan melanjutkan dengan bus jemputan menuju parkir timur satu yang sudah disiapkan panitia. Suasana pagi itu sudah sangat ramai oleh penonton yang sedang menunggu bus juga. Kami pun menunggu bus yang datangnya selang lima menit sekali. Kenapa turunnya di parkir timur dua ?. Saat itu parkir timur satu sudah full. Jadi kendaraan dialihkan ke parkir timur dua yang lokasinya berdekatan. Saat itu kami hanya ikut saja aturan yang diberlakukan panitia.



Dengan penuh kesabaran, bus jemputan akhirnya datang juga. Bus hanya mampu menampung sekitar tiga puluh menumpang saja. Beruntungnya, saya dan teman-teman bisa naik ke bus disaat orang pada rebutan masuk ke dalam bus. Seperti musim mudik saja. Hahaha. Bus menuju ke parkir timur satu dimana disini tempat kita transit untuk menuju sirkuit. Setelah turun dari bus, kami langsung menuju penukaran tiket. Saat memasuki area loket, kami diharuskan untuk membuka aplikasi pedulilindungi di handphone masing-masing. 

Setelah dicek satu-satu oleh petugas, kami semua bisa masuk ke dalam dan selanjutnya menuju loket penukaran tiket. Gak menunggu waktu lama, kami semua sudah mendapatkan tiket gelang berwarna kuning sesuai warna grand stand yang dipasang di pergelangan tangan. Tiket ini gak boleh hilang dan rusak karena dengan tiket ini kita bisa keluar masuk sirkuit. Jadi harus dijaga baik-baik seperti menjaga hubungan kita gitu, Asyiiikkk.  

Setelah memasang tiket di tangan. Kami pun diperiksa lagi oleh petugas sebelum naik ke dalam bus sesuai dengan warna tiket. Kecenya disini bus-busnya sudah diatur mau ke grand stand mana. Jadi kita gak boleh salah naik bus ya. Nanti salah diturunkan oleh abang supir. Gawat nanti gak bisa liat abang Toprak dan Rea balapan di sirkuit. Para penonton naik ke dalam bus dengan teratur dan tertib. Pemandangan yang baru saya lihat di Indonesia. Sejauh ini semuanya aman tentram jaya.


Jarak dari parkiran timur ke lokasi sirkuit cukup jauh. Kurang lebih dua kilometer dengan memakan waktu sepuluh menit saja. Saya duduk di kursi nomor dua dari depan samping jendela. Memandang ke luar jendela sambil tersenyum. Ada rasa terharu, Pulau Lombok sudah ramai dikunjungi lagi. Jalanan yang berlelok-kelok menambah perjalanan semakin seru saja. Perjalanan yang cukup menarik buat saya pribadi. Bisa melihat perbukitan hijau Kuta Mandalika lagi. Sudah lama rasanya gak ngetrip kesini. Terakhir kali ke Kuta Mandalika saat bareng istri dan anak untuk melihat suasana sore di Pantai Kuta. 

Bus yang mengantarkan kami ke sirkuit sudah sampai di pemberhentian terakhir penumpang. Terlihat dari kejauhan paddock yang dibangun kurang dari sebulan dan semua bahannya adalah karya anak bangsa. Kece kaan. Selain itu stand-stand UMKM juga sangat banyak jumlahnya. Ada yang menjual kaos Mandalika Sirkuit, mutiara, jajanan, Nasi Padang, junk food dan masih banyak lainnya. Uniknya lagi ada warung kopi lhoo disini. Ini merupakan warung kopi warga lokal yang diijinkan berjualan oleh pihak panitia. Btw, orang-orang yang berjualan kaos dan pernak-pernik yang kesannya memaksa pembeli gak terlihat di area dalam sirkuit. Emang mereka gak dibolehkan masuk oleh panitia, hehehe.

Welcome to Pertamina Mandalika Circuit !.

Setelah turun dari bus, kami harus berjalan kaki sekitar satu kilo jauhnya. Siap-siap jalan sehat kalau seperti ini. Cuaca di area sirkuit mendung dan gerimis. Meskipun demikian, gak menurunkan semangat kami untuk terus berjalan menuju grand stand. Selama berjalan kaki, saya melihat di beberapa titik tanah masih becek dan tergenang air. Maklum saja, sehari sebelumnya hujan turun sangat deras. Bertepatan di hari kedua dimana race 1 WSBK mau dimulai, hujan angin tiba-tiba datang selama beberapa jam. Akhirnya pihak panitia menunda race 1 dan dilanjutkan di hari ketiga. Saya pun sempat menonton di tv, tapi berhubung hujan deras, race ditunda. 

Benar kata orang tua dulu, hujan itu membawa berkah. Kenapa ?. Karena hujan dan race 1 ditunda, saya bisa nonton langsung race 1 di sirkuit. Memang rezeki itu gak kemana. 

Berjalan kaki menuju grand stand lumayan pegal juga. Maklum, sudah lama rasanya gak jalan kaki sejauh ini. Kecenya lagi kami harus melewati terowongan atau tunnel karena grand stand kami berada di tengah sirkuit. Saat berada di dalam terowongan, di atas kepala kita itu trek sirkuitnya lhoo. Setelah melewati terowongan, harus berjalan lagi sekitar seratus meter lagi. Terlihat ada panggung hiburan dan layar lebar. Jadi disini kita bisa menonton jalannya balapan yang disiarkan secara live di tv. 




Lumayan pegal nih kaki yang sudah lama gak diajak mendaki. Tapi rasa pegal hilang ketika sudah sampai di grand stand. Di setiap tangga grand stand, kami dicek kembali tiket gelang dan barang bawaan. Kita dilarang membawa botol mineral dan cemilan. Payung juga gak diperbolehkan digunakan disaat menonton. Dikhawatirkan payung bisa terbang dan mengenai pembalap yang sedang melintas. Konyol juga ya kalau salah satu pembalap ketiban sial kena payung warna unyu-unyu terus crash. Pasti jadi sorotan dunia dan viral dimana-mana. 

Setelah semua aman, saya naik ke atas grand stand. Untungnya langit lagi mendung, so gak kepanasan. Bayangkan saja, tiba di grand stand waktu menunjukkan jam sepuluh pagi. Kalau langit lagi cerah, pasti kami berjemur. Jadi disarankan memakai sunblock dan topi ya guys kalau ingin menonton. Beda halnya kalau nonton di grand stand dengan atap, kita sih santai saja. Mau panas atau hujan gak masalah, tapi harga tiketnya guys, mehong amat.

Suasana di atas grand stand sudah ramai oleh penonton lainnya. Terlihat pemandangan trek sirkuit dengan view Bukit Seger dan perbukitan lainnya pinggir pantai yang kece, seperti mimpi saja. Gak nyangka bisa berdiri di atas grand stand sirkuit kelas dunia. Sudah gak sabar melihat para pembalap Super Bike melintas di depan mata. 

Setengah jam menunggu, akhirnya race 1 WSBK segera dimulai. Terdengar suara mesin motor 1000 cc 4 silinder yang sebentar lagi akan digeber oleh para pembalap. Safety car sudah mulai mengecek persiapan balapan dan kondisi trek. Trek secara keseluruhan dalam kondisi kering. Ini artinya para pembalap akan menggeber motor mereka dengan kecepatan maksimal. Sudah gak sabar melihat motor 1000 cc yang melaju dengan kecepatan bisa sampai 320 km/jam. Kita tunggu saja !.



Warm up sudah dimulai !

Suara sorakan penonton dari berbagai grand stand di sirkuit terdengar dengan meriahnya. Gak ketinggalan saya dan teman-teman juga ikutan berteriak. Ada dua nama yang selalu terdengar di telinga yaitu Rea dan Toprak. Wah, kedua bintang Super Bike ini menjadi idola dadakan di Lombok. Yang awalnya gak semua mengenal mereka, jadi terkenal karena ada Super Bike, keduanya menjadi idola. Kalau kamu idolanya siapa, Rea, Toprak atau saya ?. Hahahaha...gaje

Oke, setelah warm up sebanyak dua kali. Para pembalap sudah bersiap di posisi masing-masing di garis start untuk bertarung habis-habisan. Posisi pertama ada Toprak dengan nomor motor 54 dari Pata Yamaha, selanjutnya dibelakangnya ada Rea nomor 1 (Kawasaki Racing Team) dan Readding nomor 45 (Aruba.it Ducati) di posisi kedua dan ketiga. Jumlah yang ikut bagian di race 1 ada 23 pembalap dari 12 team. Dalam kondisi trek kering, bisa dipastikan jalannya balapan semakin seru. Apalagi dalam kondisi penentuan gelar juara dunia WSBK 2021 akan kita ketahui sebentar lagi di sirkuit ini.



Start !. Suara gemuruh motor yang digeber oleh para pembalap sudah melaju. Menunggu dan menunggu, akhirnya para pembalap sudah terlihat di tikungan kesepuluh menuju kesebelas dan seterusnya. Toprak masih memimpin jalannya balapan. Diikuti dari belakang oleh Rea dan Redding. Jumlah lap untuk race 1 sebanyak 20 lap. Serunya itu pada tikungan kelima belas dan keenam belas. Dimana pembalap harus mengurangi kecepatan dan menikung tajam sebelum menyentuh garis finish. Penentuannya ada di tikungan ketujuh belas. Kalau diperhatikan, setelah menikung tajam ke kiri, jalanan dalam kondisi menanjak. So, pembalap jangan sampai telat menggeber motor dalam kecepatan maksimal lagi. (Sok tau banget nih gue).

Entah di lap keberapa (saya lupa), Si Toprak mampu disalip oleh Rea. Seru nih pas kedua pembalap yang mati-matian memperebutkan juara dunia saling nikung. Emang gak enak ya ditikung, dibandingkan menikung sampai garis finish,hehehe....gaje. Dari segi point, Toprak masih unggul dari Rea. Jadi Toprak harus berusaha jangan sampai ditikung lagi sama Redding dan kalau bisa jangan crash gara-gara payung unyu-unyu milik salah satu penonton terbang ke arahnya kalau mau juara dunia. 

Di lap terakhir posisi masih belum berubah. Rea terdepan, Toprak kedua dan Redding ketiga. Para pembalap lainnya mengikuti dari belakang. Ada beberapa pembalap yang mengalami crash tapi gak fatal. Kecenya para marshall sigap melakukan tugasnya dengan cepat. Good Job Marshall, kalian memang keren !. 



Finish !. Rea pertama, Toprak kedua dan Redding ketiga. Btw, maaf ya hanya nyebut tiga pembalap saja soalnya pada belum kenal semua. Lanjut !. Artinya Toprak keluar jadi juara dunia Super Bike 2021. Ini artinya juga memutus dominasi Rea yang juara dunia enam kali berturut-turut dari 2015 sampai 2020. Juara dunia baru World Super Bike 2021 diambil oleh Toprak Razgatlioglu yang masih berusia 25 tahun dan berasal dari Turki.

Bagi para fans Toprak sangat bahagia hari itu,termasuk saya sendiri. Saya lumayan mengikuti World Super Bike dari tahun ke tahun. Dan mengenal Super Bike sekitar tahun 2010 disaat Max Biaggi pindah dari MotoGP ke Super Bike. Apalagi sekarang para pembalap Super Bike gak kalah jauh kualitasnya dengan MotoGP. Meskipun jenis motornya yang beda tapi mesinnya sama di 1000 cc. Salah satu bintang Super Bike saat itu ada Toprak Razgatlioglu, Jonathan Rea dan Scot Readding. 

Kecenya lagi, saya bisa melihat Toprak merayakan kemenangannya di depan grand stand tempat saya menonton. Mengganti pakaian balapnya dari warna sebelumnya dominan biru, jadi dominan gold. Begitu juga dengan bagian depan motornya, diganti dengan dominan gold. Gak lupa Toprak dan team berfoto bersama di pinggir trek. Kerennya lagi Toprak menunjukkan atraksi yang gak biasanya saya lihat yaitu standing kedepan dengan motor tunggangannya. Saya lupa namanya apa, ada yang tau apa namanya ?. Kece abis pokoknya, gila keren banget. 

Setelah race 1 WSBK selesai, saya dan teman-teman menuruni grand stand untuk mencari makan siang dulu. Syukurnya dari awal race sampai finish, hujan gak turun. Tapi kemungkinan di race 2 yang akan dimulai sekitar jam tiga sore nanti, bakalan hujan sepertinya. Dan benar saja, saat akan dimulai race kedua, hujan turun sangat lebatnya. Saya langsung memakai jas hujan dan menunggu race dimulai di atas teribun. Singkat cerita, race kedua ditunda sekitar satu jam menunggu hujan agak sedikit reda. Sampai race kedua hujan masih turun tapi sudah gak terlalu lebat. Race dilanjutkan dan yang menjadi juara di race kedua lagi-lagi Jonathan Rea. Sayangnya si Toprak gagal naik podium karena hanya berada di posisi keempat sampai garis finish.

Over all, saya merasa puas banget dapat nonton langsung World Super Bike di Pertamina Mandalika Circuit dan melihat langsung Toprak Razgatlioglu keluar sebagai juara dunia WSBK 2021 sekaligus mematahkan dominasi Jonathan Rea yang menjadi juara dunia selama enam tahun berturut-turut.

Selamat buat Toprak Razgatlioglu !.

Next time... Di tahun depan MotoGP akan digelar di Pertamina Mandalika International Street Circuit. Bakalan lebih seru lagi nih. Semoga pandemi Covid-19 kasusnya semakin menurun dan kita bisa dengan lancar menjadi tuan rumah MotoGP Indonesia di sirkuit kita tercinta ini. 

Sorry nih ya kalau selama bercerita, saya agak sok tau soal dunia otomotif. Emang sih bukan bidangnya menjelaskan. Tapi kalau menjelaskan ilmu dasarnya sedikit sih gak apa-apa kali ya. Sorry juga gak menjelaskan profil sirkuitnya secara lengkap karena lengkapnya bila sirkuitnya sudah jadi seratus persen. Oke, itu dia cerita singkat pengalaman saya nonton langsung World Super Bike di Sirkuit Mandalika. Sampai bertemu di MotoGP Mandalika Circuit tahun depan !.

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

2 comments: