Sunday, 23 August 2020

Etika Berwisata di Era New Normal : Taman Impian Suranadi

Punya waktu liburan bersama keluarga, saya gak buang kesempatan kali ini. Kebetulan ada libur empat hari, saya mengajak anggota keluarga untuk jalan-jalan tipis sambil mengenalkan alam kepada si kecil. Hari yang spesial ini, saya memberanikan diri untuk membawa si kecil (Kenzi) yang sudah berumur enam bulan untuk pertama kalinya ikut ayah dan bundanya jalan-jalan ke alam,  meskipun kita masih dihantui oleh wabah Covid-19. Bismillah saja, yang penting tetap menjaga diri terhadap lingkungan sekitar.

Dalam kesempatan kali ini saya ingin mengajak pembaca setia blog ini untuk selalu menerapkan protokol kesehatan Covid-19 kapan dan dimanapun kalian berada. Sangat penting sekali disaat seperti ini kita saling menjaga dan mengingatkan diri sendiri dan orang di sekitar untuk bersama-sama hidup bersih dan sehat. 

Gak hanya saya, istri dan si kecil saja yang ikut. Ada bapak, mama dan tante yang juga pengen refreshing. Biar lebih asyik dan seru bisa berkumpul bersama keluarga, apalagi dibarengi dengan jalan dan kulineran. Biar tambah keseruannya, saya merekomendasikan untuk menghabiskan waktu di Taman Impian Suranadi yang lokasinya di Desa Suranadi, Lombok Barat. 

Kalau dari rumah di Ampenan, menempuh waktu tiga puluh menit saja menggunakan motor atau mobil. Untuk lokasi lebih detailnya, bisa kalian lihat di akhir tulisan. 

Bisa baca juga : Taman Rekreasi Jaman Now di Lombok : Taman Impian Suranadi

Sebenarnya ini kedua kalinya saya kesini. Kalau istri sudah tiga kali dan buat kami berdua, gak ada bosen-bosennya datang kesini hanya sekedar jalan-jalan menghabiskan waktu. Menurut kami berdua, taman ini sangat cocok untuk dijadikan tempat kumpul keluarga, media belajar dan bermain untuk anak-anak. 



Kami jalan dari rumah sekitar jam dua siang. Kebetulan Hari Jumat, jadi kami jalannya sehabis Shalat Jumat dan makan siang. Syukurnya setibanya di lokasi, hanya rombongan kami saja yang ada saat itu. "Kan hari libur, kok sepi ya ?". Mungkin karena masih siang, jadi sepi. Apalagi masih suasana Covid-19, jadi harap maklum saja. 

Setelah turun dari mobil, kami membeli tiket terlebih dahulu. Untuk tiketnya dikenakan tarif 10 ribu per orang. Sedangkan untuk anak di bawah 5 tahun, gratis tis tis. Kami ada berlima dan si Kenzi. Jadi hanya membayar 50 ribu saja dan satu tiket masuk, dapat voucher minuman ringan yang nantinya bisa ditukar di kantin dalam area taman. 

Dari penampakan yang dulu gak banyak berubah. Dari bangunan, taman, tempat bermain dan bersantai sama seperti pertama kali saya bersama istri datang kesini. Hanya saja peraturan yang berlaku saat ini antara lain setiap pengunjung harus menggunakan masker, jangan berkerumun banyak orang, suhu badan gak boleh lebih dari 37 derajat (nanti di ukur suhu badan menggunakan thermalgun), mencuci tangan pakai sabun sebelum masuk ke dalam area taman, gak berjabat tangan dan menjaga lingkungan. Jadi di pintu masuk sudah disediakan tempat mencuci tangan lengkap dengan sabunnya. Ada toilet laki-laki dan perempuan juga lhoo. Saya suka dengan kondisi toiletnya, bersih dan wangi.

Setelah semuanya memenuhi syarat, kami diijinkan masuk ke dalam area taman. Gak lupa di pintu masuk kami berfoto bersama dulu. Terimakasih buat Bli Wayan yang sudah sukarela mengambil foto kami sekeluarga. 

Ada untungnya hanya kami yang berada di lokasi. Bisa kesana kemari tanpa harus berdekatan dengan pengunjung lainnya. Bisa buka masker di beberapa kesempatan untuk menghirup udara segar siang menjelang sore hari di dalam Taman Impian Suranadi. 

Sejak kapan Taman Impian Suranadi dibuka untuk umum ?. Jawabannya, ada di tulisan saya di Taman Impian Suranadi sebelumnya. Bisa dicari di daftar tulisan. 











Disini banyak sekali jenis tumbuh-tumbuhan dan bunga yang bisa kita lihat. Lebih banyak tanaman yang biasa kita jumpai di taman pekarangan depan rumah. Dari informasinya ada sekitar tiga puluh jenis tanaman dan bunga yang ada disini. 

Dari tanaman bulu ayam, pucuk merah, lidah mertua, dan masih banyak lagi. Selain tanaman ada juga binatang peliharaan seperti burung, musang, ayam kalkun dan kelinci. Si Kenzi sangat senang melihat si lucu putih Kelinci. Gak bosen-bosennya dia menatap Kelinci yang ada di dalam kandangnya. 

Taman Impian Suranadi memiliki luas sekitar satu hektar. Jadi kalian bisa explore taman ini dalam waktu yang gak sebentar. Disini juga terdapat spot foto-foto yang bisa dibilang instagramable untuk kids jaman now. Jadi buat para pecinta selfie dan eksis, jangan sampai ketinggalan fotoan di spot-spot yang sudah disediakan. 

Saya bersama istri dan Kenzi berkeliling area taman. Melihat-lihat berbagai jenis tanaman yang tumbuh subur. Menandakan mereka dipelihara dengan baik oleh tuannya. Disiram dengan penuh kasih sayang. Sehingga tumbuhnya juga baik. Sama seperti hati, kalau dipelihara dengan baik dan disiram dengan hal-hal yang positif, maka akan menjadi pribadi yang baik pula. "Betul tidak ?", ala-ala Aa Gimi. 

Bapak,mama dan tante sedang asyik bercengkrama di berugak (gazebo) yang berada di tengah-tengah area taman. Melihat kami berfoto di salah satu spot, mau ikut juga eksis. Emak-emak dan babe gak mau ketinggalan nih. Ada sekitar empat berugaq dan satu bangunan kantin yang dibangun di tengah-tengah area taman. Kecenya, berugaqnya dilengkapi dengan colokan. Jadi yang takut baterai smartphonenya habis, bisa nyolok disini pakai gratis lagi. Colokan boleh dipakai sepuasnya, asalkan gak buat nyolok rice cooker atau kulkas dua pintu yaak !.




Karena ini pertama kalinya Si Kenzi kami ajak jalan-jalan ke alam, senengnya minta ampun. Gak henti-hentinya minta digendong dan berkeliling di sekitar taman. Liat Ikan Koi berenang di dalam kolam, bunga-bunga indah, kelinci dan ingin bermain di area bermain anak-anak. Adek masih kecil, belum cukup umur untuk main-main di area bermain. Besok kalau sudah bisa jalan, baru ayah dan bunda ijinkan untuk main-main. 

Enam bulan di rumah saja, membuat kami pribadi bosen juga. Mau kemana-mana agak khawatir dengan penyebaran virus yang merepotkan sampai saat ini. Jadi, memasuki pertengahan tahun ini, saya mencoba menerapkan protokol kesehatan Covid-19 saat membawa keluarga sekedar refreshing ke tempat-tempat wisata. Tapi harus pinter-pinter memilih tempat mana yang dirasa aman untuk dikunjungi. Pastinya saya gak merekomendasikan membawa si kecil datang ke tempat yang terlalu ramai meskipun tempat tersebut menerapkan protokol kesehatan. 

Selalu pakai masker, jaga jarak dengan lingkungan sekitar, mencuci tangan pakai sabun setelah memegang benda apapun di sekitar lokasi, hindari kerumunan banyak orang, dan selalu menjaga lingkungan sekitar pastinya. Khusus buat si Kenzi saya memakaikan face shield untuk anak-anak. Bagi orang tua yang membawa anak saat jalan-jalan, kalau boleh saran, pakaikan anak anda face shield atau masker bila diperlukan.

Berwisata boleh-boleh saja, asalkan harus mematuhi aturan yang diterapkan di tempat kalian datangi. Selamat berlibur dan Salam Sehat buat kalian sekeluarga !

Penulis : Lazwardy Perdana Putra


10 comments:

  1. Jadi pingin sering jalan-jalan lg yah 😂

    Semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya dan terhindar dri covid

    ReplyDelete
  2. Wahhh mata jadi seger banget ngelihat yang hijau-hijau begini. Tapi semoga enggak banyak nyamuk karena banyak tanaman. Hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nyamuk sih ada tp untung bawa baby oil kemana2 hehehe

      Delete
  3. Aku juga paling suka lho, ke taman terbuka begini. Bisa lihat hijau-hijau dan air dengan bebas. Kalau dulu sebelum covid mungkin bisa piknik yaa, gelar tikar dan bisa bersantai dan bercanda sama keluarga. Kalau sekarang mungkin belum bisa dulu, hiks. Semoga pandemi segera usai, dan berwisata jadi lebih mudah seperti dulu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin. Semoga musibah ini cepat berlalu. Semangat berwisata

      Delete
  4. Meski kita sdh disiplin namun jika pengelola jg menyiapkan protokol kesehatan tentunya kita akan semakin nyaman menikmati wisata ya.

    Berbeda hal misalnya kalo pengelola lalai, membiarkan kerumunan, sia2lah kita yang disiplim menggunakan masker dan apd.

    ReplyDelete