Saturday, 29 August 2020

Kalau ditanya tempat makan yang nyaman dengan penampilan kece di seputaran Kota Mataram. Saya langsung menjawab Bebek Goreng Pondok Galih Gajah Mada.

Sudah lama juga saya gak mereview tempat makan sambil kulineran. Akibat terlalu lama virus Covid-19 menghantui kita, sampai-sampai mau makan keluar saja harus mikir beribu kali. Pertimbangannya pastinya keamanan dan kesehatan diri sendiri.

Untuk kali ini saya gak mau kehilangan momentum. Kebetulan ada libur empat hari dan gak traveling kemana-mana. So, saya bareng keluarga berencana pergi kulineran ke tempat yang belum didatangi. Wah, ini yang saya tunggu-tunggu. Saya pun merekomendasikan mencoba olahan bebek yang cukup terkenal di Kota Mataram, yaitu Bebek Goreng Pondok Galih. Dari namanya saja agak kesunda-sundaan ya. Memang bener, resto ini bernuansa khas Sunda. 

Gimana ceritanya ?. Pasti seru dong. Buat yang gak berminat sama tulisan ini, bisa leave. Tapi buat kalian pembaca setia blog ini, pasti sudah gak sabaran sama cerita-cerita saya dong (kepedean dikit). 




Resto itu merupakan cabang baru yang menggantikan Bebek Goreng Pondok Galih yang berada di bundaran Jempong alias pindah lokasi saja. Alasan kenapa pindah, saya juga kurang tau. Yang jelas lokasi yang baru tempatnya lebih luas dan viewnya lebih kece. 

Bisa baca cerita ini juga : Bebek Goreng Pondok Galih

Bebek Pondok Galih baru dibuka beberapa bulan ini. Meskipun masih suasana wabah Covid-19, resto ini gak pernah sepi pengunjung sejak pertama kali dibuka. Terlihat beberapa kali saya lewat depan resto ini, kendaraan yang parkir sangat ramai sekali. Begitu juga saat kami datang, pengunjung sore itu cukup ramai. 

Khawatir gak dapat tempat duduk, ternyata masih ada tempat yang sesuai dengan keinginan kami. Saya gak lupa keliling sejenak melihat-lihat suasana restonya. Maklum baru pertama kali datang kesini sejak dibuka. Jadi agak katrok dikit, foto sana-sini dilihat sama karyawannya. "Mas siapa ya ?", mbaknya siapa juga ?". hahaha 

Resto ini berada di Jalan Gajah Mada no. 9, Kota Mataram. Kurang lebih dua kilometer dari lokasi sebelumnya (bundaran Jempong). Lebih tepatnya berada persis di samping Kampus baru UIN Mataram yang sama-sama baru dibangun juga. Buat kalian yang ingin datang kesini, gak perlu bingung. Lokasinya persis di jalan besar yang menghubungkan Kota Mataram dengan By Pass Bill 2. Detail lokasinya ada di akhir tulisan. 

Dari segi bangunan dibandingkan di tempat yang lama jauh lebih besar dan gak sempit. Dimulai dari area parkir kendaraan yang cukup luas. Di pintu masuknya juga dibuat seperti taman. Ada lampu taman dan kursi panjang. Disini kita bisa berfoto bareng berlatarbelakang tulisan Bebek Goreng Pondok Galih. Instagramable banget pokoknya. Bagi kalian yang datang kesini, wajib hukumnya fotoan dulu sebelum menyesal. 

Masuk ke dalam, sebelumnya jangan lupa mencuci tangan dulu pakai sabun dan dicek suhu badan menggunakan thermalgun oleh petugas. Ini salah satu langkah dalam mencegah penularan Covid-19. Datang menikmati kuliner sambil bersantai, jangan lupa harus tetap waspada dengan virus yang menyebalkan ini.




Setelah itu, kita melewati satu ruang yang cukup luas. Disini  berjejer meja dan kursi kayu dan di bagian dinding, terpajang foto-foto menu yang tersedia disini dan ruang kasir. Saya melihat kesibukan para karyawan resto yang sedang melayani pengunjung. Kami melangkah lebih ke dalam lagi untuk mencari tempat duduk. Dapatlah kita di salah satu saung yang menghadap ke arah persawahan yang ditumbuhi dengan ratusan bunga dan menghadap ke jalan. Disini kami bisa melihat matahari terbenam. Sungguh indah sekali suasana sore itu. 

Saung-saungnya pun (berugaq) dibuat lebih besar. Jadi kita bisa beramai-ramai makan di satu saung. Mejanya pun sangat besar dan memang dibuat untuk sepuluh orang bahkan lebih. Saya gak sempat menghitung berapa saung yang ada saat itu. Gak lupa di setiap saung dilengkapi dengan bak cuci tangan dan pentungan untuk memanggil karyawan. Kerennya di bawah saungnya merupakan kolam yang cukup luas. Jadi jangan coba-coba fotoan di pinggiran saungnya. Bisa-bisa handphone kalian jatuh ke dalam kolam. 

Selain saung, ada juga tempat makannya yang berupa ruang semi outdoor dengan jejeran meja dan kursi kayu. Ada juga yang di indoor berupa rumah lengkap dengan meja dan kursi kayunya. Tinggal pilih mau makan sambil bersantai dimana. 

Ciri khas dari resto ini semua bangunan terbuat dari kayu dan bambu kecuali bangunan berbentuk rumah yang dibuat untuk meeting atau acara lainnya. Ada juga jalan setapak yang ukurannya lebih lebar dibandingkan yang dulu dan terakhir ada tanaman bunga dan kolam ikannya menambah suasana benar-benar dalam suasana pedesaan. 

Saya bersama istri dan Si Kenzi sangat senang datang kesini. Begitu juga dengan bapak, mama dan adek-adek. Melihat restonya saja sekece ini, apalagi menyantap menu-menunya. Sudah gak sabar dan sudah laper banget. 




Setelah dapat tempat duduk yang kece abis, karyawan resto menghampiri kami membawa daftar menu. Lihat-lihat daftar menunya, saya langsung  memilih Bebek Goreng dan segelas es teh. Istri memesan Bebek Bakar biar bervariasi katanya. Sedangkan yang lainnya ada yang memesan Nila Bakar. Pelengkapnya biar ada sayurnya, kami memesan Cah Kangkung, Pelecing Kangkung dan Sayur Asem. Mantap makan malam kali ini. 

Sambil memenunggu pesanan datang, saya bersama istri mengajak si Kenzi jalan-jalan melihat suasana menjelang malam di resto ini. Kesibukan yang semakin malam semakin terasa. Para pengunjung juga semakin malam semakin ramai saja yang datang. Gak lupa sebelum makan, melaksanakan kewajiban Shalat Magrib dulu di mushola yang sudah disediakan. Baik Mushola, tempat wudhu dan kamar mandi dibuat sekece mungkin. Suasana malam begitu indah melihat lampu-lampu di resto ini. 

Shalat sudah, pesanan pun sudah datang dan siap di atas meja. Meja yang tadinya kosong melompong, sudah terisi penuh dengan makanan. Perut semakin laper dan waktunya makan. Mengambil posisi duduk senyaman mungkin, sedangkan Si Kenzi sibuk dengan snack bayinya dan maenan yang dibawa. Untungnya Si Kenzi gak pernah rewel dibawa kemana-mana. Sehat-sehat terus yang nak. Harus jadi jagoan ayah bunda nanti besarnya.  


Bebek Goreng Paha

Bebek Goreng Paha menu yang saya pesan. Tumben nih gak pesan dada. Untuk kali ini saya ingin mencoba bagian pahanya biar gak dada mulu yang dimakan, hehehe (jangan ngeres bacanya). Dari beberapa menu bebek yang ada, saya lebih suka dengan bebek gorengnya. Daging pahanya empuk banget. Apalagi bumbunya berasa perpaduan rempah-rempahnya. Apalagi sambelnya, pedas dan seger sekali. Saking pedesnya nambah nasi lagi, hahaha. Soal rasa bebek gorengnya gak perlu diragukan lagi. Harga seporsinya 25 ribu dan kita sudah bisa makan puas dan sekenyangnya. 


Bebek Bakar Paha

Kalau menu bebek satu ini yang jelas dibayangkan kita pasti rasanya pedas manis. Suka juga sih olahan yang bakar tapi berhubung pengen yang goreng, yang bakarnya dicoba di lain kesempatan deh. Kebetulan istri memilih menu satu ini. Dapat nyicip juga sih. Untuk rasa, dagingnya empuk sama seperti yang goreng. Bumbunya kecapnya pas dilidah dan porsinya besar sekali. Baik yang goreng maupun bakar, ukuran paha bebeknya besar dan gak kecewa deh. Untuk harga seporsinya yaitu 27 ribu. Masih tergolong murah dan terjangkau pastinya. 

Nila Bakar

Menu yang satu ini dipesan oleh bapak mama. Karena beliau berdua gak suka makan bebek. Untungnya masih ada menu nila dan itu kesukaan mereka berdua. Pas banget. Dari hasil nanya-nanya bapak mama soal rasa Nila Bakarnya, yang jelas ukuran nilanya besar sekali. Satu porsi gak habis lhoo. Bukannya gak enak, tapi memang sudah kekenyangan. Saya sempat icip-icip nilanya dan memang bener tekstur dagingnya lembut dan bumbunya meresap sampai dalam dagingnya. Apalagi makan kulitnya, enak banget pemirsa. Satu porsi Nila Bakar seharga 20 ribu saja.

Sebagai pelengkap ada Sayur Asem dengan potongan jagung yang menambah nafsu makan kami semakin menggebu-gebu. Belum lagi pedasnya Pelecing Kangkung dan Cah Kangkungnya. Mantap jiwa kuliner malam kali ini. 



Bagi kalian yang gak suka bebek, masih banyak menu lainnya. Ada ayam, nasi goreng telur, nasi uduk dan lain-lain. Selengkapnya bisa dilihat di daftar menu di atas. 

Gak terasa Bebek Goreng dan Bakarnya sudah habis tersisa Ikan Nila yang belum habis. Disuruh habisin, perut sudah gak sanggup lagi. Mau dipaksa gak baik. Untuk Nasi Goreng Telurnya, next time saya akan mencobanya. 

Sudah dulu ya ceritanya, saya nulis review ini jadi laper. Ditunggu cerita kuliner selanjutnya yang lebih informatif, menggoda lidah dan buat kalian laper pastinya. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

6 comments:

  1. Manteeep, jadi kepingin review lalapan langgananku

    ReplyDelete
  2. jadi makin keren aja nih bebek galih.. dulu sering jadi tempat makan makan temen kantor, tapi yang di rembiga..

    ReplyDelete
  3. Mas nya tinggal di Mataram yaa.
    Kapan2 kalo aku ke sana, ada referensi tempat makan yg cocok di sana nih. Btw salam kenal yaaa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal jg. Iya tinggal di Mataram. Pantengin terus tulisan saya di setiap minggu. Selalu memberikan rekomendasi tempat2 yg bagus n kece

      Delete