Melihat Suasana Senggigi Menjelang "New Normal" di Pulau Lombok


Menjelang era New Normal, banyak hal yang sempat tertunda gara-gara Si Covid menyerang kampung kita, akhirnya perlahan-lahan bisa kita lakukan. Seperti bersepeda, joging di pagi hari, ke pasar tradisional dan kegiatan lainnya. Tapi tetap harus dilakukan dengan protokol Covid-19, memakai masker dan jaga jarak dengan orang sekitar. 

Berbicara tentang bersepeda yang menjadi hits saat ini, banyak yang berbondong-bondong membeli sepeda. Selain trend memakai masker dan face shield, bersepeda juga sudah mulai trend dan menjadi primadona.

Saya kurang tau sejak kapan trend ini muncul. Yang jelas dalam sebuah artikel yang mengatakan bersepeda mampu menangkal virus yang namanya Covid-19 dari tubuh kita. Mungkin maksud dari artikel tersebut, dengan berolahraga seperti bersepeda, mampu meningkatkan daya tahan tubuh dan gak gampang terserang virus atau penyakit. Apapun itu, virus bersepeda sepertinya mampu mengalahkan Covid-19. Itu menurut saya sih. 

Ngomong-ngomong soal bersepeda (gowes), saya ingin menunjukkan ke kalian jalur gowes yang menjadi favorit warga Kota Mataram dan sekitarnya, termasuk saya juga.Bisa dibilang ini jalur paket komplit untuk para goweser pemula atau profesional.






Berhubung sudah lama banget saya gak ke daerah Senggigi. Ingin rasanya bergowes kesana. Itung-itung uji kemampuan lagi menaklukkan jalur tanjakan yang penuh dengan keeksotisan perpaduan bukit dan pantainya. Gimana ya suasana Senggigi disaat pandemi Covid-19. Beberapa teman yang bekerja di hotel sekitaran Senggigi pernah curhat ke saya kalau sekarang hotel mereka hampir tutup dan karyawannya banyak yang dirumahkan karena gak ada tamu. Untung saja sekarang, sudah mulai ada tamu yang menginap. Itupun mereka ada urusan bisnis dan hal yang mendesak. 

Si Gebleks (sepeda kesayangan) sudah ready nih. Cek kedua ban, rantai, botol minum, helm, masker, sarung tangan dan yang terpenting ngisi tenaga dulu buat mengayuh dengan jarak tempuh sekitar 20 kiloan. Setelah semua siap, berangkat kita.

Cekibrooott !!!

Sekitar jam enam pagi, saya dan Si Gebleks mulai jalan. Istri dan si kecil masih tertidur pulas di kamar. Langit sudah mulai terang, udara pagi yang sangat sejuk. Hari Minggu yang sangat indah. 

Setelah keluar dari kompleks rumah, di sepanjang jalan saya banyak melihat warga kota yang bersepeda. Dari anak kecil sampai orang tua banyak yang bersepeda menuju arah Senggigi. Saya gak sendirian, banyak temen gowes ke Senggigi. 

Mengayuh sepeda dengan santai dulu. Itung-itung pemanasan biar kaki gak kram di tengah jalan. Setelah memasuki daerah Batulayar yang memiliki jalur yang menanjak, saya harus mengatur posisi gear belakang dan depan biar mulus nanjaknya. Beruntung kondisi Si Gebleks masih topcer nih. Gak rewel alias bandel. Tanjakan pertama dilewati dengan mulus. Saya menyempatkan untuk berinstirahat sejenak sambil menikmati pemandangan pantai dan perbukitan di Tanjakan Batulayar. 

Setelah beristirahat kurang lebih sepuluh menit, saya melanjutkan perjalanan ke tanjakan selanjutnya. Tanjakan kedua gak begitu terjal dibandingkan yang pertama. Namanya Tanjakan Batubolong. Disini ada sebuah pura bernama Pura Batubolong yang menjadi tujuan wisata di Lombok. Tempat sembahyangan umat Hindu ini memiliki keunikan yaitu Pura yang berada di pinggir pantai. Tulisannya pernah saya posting di blog ini. Di Tanjakan Batubolong saya gak berhenti dan memilih melanjutkan perjalanan. 





Gak jauh dari Tanjakan Batubolong, saya sudah tiba di tanjakan ketiga atau Tanjakan Senggigi. Bagi saya ini tanjakannya paling terjal. Memilki kemiringan sekitar 45 derajat dan menguras tenaga. Saya memilih gear depan nomor 1 dan belakang nomor 3. Ini posisi gear yang ternyaman buat saya. Di Tanjakan ini, banyak sekali para goweser yang beristirahat karena memang ini tanjakan yang benar-benar menguras tenaga. Tapi saya memilih melanjutkan perjalanan setelah berhasil melewati tanjakan ketiga. 

Bisa baca ini juga : Gowes ke Pantai Senggigi

Setelah tanjakan ketiga, sampailah saya di Senggigi. Lihat jam tangan,,waktu menunjukkan jam tujuh pagi. Disini banyak sekali hotel-hotel dari bintang tiga sampai lima berjejeran. Pusat keramaian di daerah Senggigi. Biasanya kalau pagi banyak bule-bule dan wisatawan lainnya yang berjalan kaki sepanjang kawasan Senggigi. Tapi saat itu, sepi banget. Sedih lihat Senggigi sepi begini. Semoga setelah wabah ini pergi dari Indonesia, dunia pariwisata khususnya Lombok dan Sumbawa kembali pulih.  

Kalian sudah tau kan Senggigi ?. Senggigi merupakan daerah di Kabupaten Lombok Barat yang memiliki deretan pantai yang sangat kece. Gak hanya pantai-pantai saja, disini juga merupakan tempat menginap terbaik di Pulau Lombok selain di Gili Trawangan dan Pantai Kuta Mandalika. Bagi kalian yang berencana ke Pulau Lombok dalam waktu dekat ini, wajib hukumnya  mengexplore destinasi yang ada di Senggigi. Senggigi juga terkenal dengan keindahan sunsetnya. Surganya para wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang sedang berlibur ke Pulau Lombok. 







Setelah melewati pusat keramaian Senggigi, saya melanjutkan perjalanan ke Tanjakan selanjutnya. Namanya Tanjakan Sheraton karena di bawah tanjakan ini ada sebuah hotel bintang lima bernama Sheraton Hotel. Tanjakannya lumayan terjal sama seperti Tanjakan Senggigi. Di atas tanjakan ini viewnya kece habis. Disini kita bisa melihat Pantai Senggigi dari atas Bukit Senggigi. Kalau sore hari sampai malam, banyak para pedagang jagung bakar yang berjejeran disini. Tempat nongkrong sambil ngopi juga tempatnya disini. Disini saya memilih untuk beristirahat sejenak mungkin agak lama karena ingin berlama-lama menikmati suasana Senggigi dari atas bukit.

Semakin siang para goweser semakin ramai yang beristirahat di atas Bukit Senggigi. Saya rencananya pengen lanjut ke Kerandangan sampai Pantai Klui sana, tapi tenaga hari itu cukup terkuras. So, saya memutuskan untuk sampai di Bukit Senggigi saja sambil nongkrong menikmati keindahan pemandangan Senggigi di pagi hari. Sinar mentari perlahan-lahan muncul dari balik perbukitan. Cahaya yang hangat serta udara yang sangat sejuk. 

Gak terasa waktu sudah menunjukkan jam sembilan pagi. Saatnya balik ke rumah karena istri sudah menyiapkan sarapan pagi. Kurang lebih tiga jam waktu tempuh gowes ke Senggigi (pulang pergi) dari rumah. Cukup menyegarkan, keringat juga cukup banyak yang keluar. 

Cara bahagia yang sederhana bisa kita lakukan dengan cara berolahraga seperti bersepeda. Biar imun kita tetap terjada dan mood juga kembali baik. Kalau hati bahagia, imun juga bertambah dan mood juga akan kembali baik. Ini salah satu cara untuk melawan wabah Covid-19. Gak hanya berdiam diri di rumah saja, tapi kita harus melakukan hal-hal yang positif dan bermanfaat.

Tapi harus tetap menjaga diri dengan menggunakan masker bila keluar rumah, mencuci tangan pakai sabun setelah memegang sesuatu, jaga jarak, jaga pandangan juga (liat cewek-cewek maksudnya), mandi sesampai di rumah (habis beraktivitas) dan terpenting selalu bahagia. 

Covid1-19 pasti bisa kita lawan. Pasti bisa !. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Comments

  1. halo senggigi....
    jadi kangen sate pasar seni :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sate Bulayak mas broo. Ayo kpan k Lombok lg ? Hehehe

      Delete
  2. asik bgt gowes di lombok, jalannya mulus, viewnya cakep, ya walaupun banyak tanjakan sih :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jalurnya cocok buat goweser bang. Perlu dicoba hehehe

      Delete

Post a Comment