Wednesday, 4 September 2019


Ada yang punya pengalaman mau nonton pertandingan bola ke stadion tapi kehabisan tiket ?. Pasti banyak yang pernah mengalami. Tapi kalau datang jauh-jauh dari pulau seberang demi nonton tim bola kesayangan tanding, sampai di stadion terima kenyataan tiketnya ludes terjual ?, saya banget itu.

Disini saya mau cerita kejadian yang gak disangka-sangka bakalan terjadi. Kejadiannya beberapa minggu yang lalu ketika Bali United melawan Arema Malang di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar. Sebelumnya sih gak ada firasat apa-apa ?. Berangkat sekitar jam sembilan pagi Kota Mataram, Lombok. Berpamitan sama istri dan orang tua. Istri kali ini gak ikut touring ke Bali dulu karena ada si dedek di dalam perut. Doain semoga sehat selalu sampai lahiran. Amiiin.




Lagi-lagi gak ada firasat gak enak yang saya rasakan. Seperti biasa, nyiapan bekal yang akan dibawa. Tas ransel, kamera, pakaian ganti dan si istri nyiapin bekal untuk makan siang sesampainya di Pulau Bali. Gak lupa cek kebugaran dari Si Blue (Nmax kesayangan). Oke, setelah semuanya siap dengan baca doa, solo touring pun dimulai. Perjalanan dari rumah ke Pelabuhan Lembar gak ada halangan. Gak menunggu lama untuk ngantri masuk kapal, saya pun dapat kapal ferry yang jadwal keberangkatannya jam sepuluh pagi.

Cuaca juga sedang bersahabat meskipun angin agak sedikit kencang. Kapal ferry yang saya tumpangi segera berlayar meninggalkan Pelabuhan Lembar. Perjalanan yang paling saya sukai ketika ke Pulau Bali. Meskipun kata orang ke Pulau Bali naik kapal ferry itu suatu hal yang melelahkan karena waktu tempuhnya yang cukup lama yaitu empat sampai lima jam berlayar. Tapi bagi saya, itu adalah hal yang menyenangkan. Menikmati pemandangan perbukitan hijau Pulau Lombok dari atas kapal. Di pertengahan pelayaran, kita bisa melihat Pulau Nusa Penida dari kejauhan. Laut biru, terkadang ada lumba-lumba yang berlompatan di samping kapal. Pokoknya menyenangkan bagi saya.

Setelah menunggu lima jam lamanya, sampailah saya di Pelabuhan Padangbai, Karangasem Bali. Gak ada halangan selama pelayaran tadi. Arus laut juga gak begitu besar meskipun angin laut cukup kencang. Setelah turun dari kapal, saya beristirahat dulu di sebuah warung di dalam pelabuhan. Makan siang dulu, selamat makan !!! (di warung hanya numpang beli kopi saja, bekal makan siang sudah disiapin istri),hehehe.

Lagi-lagi saya gak merasakan firasat jelek saat itu. Makan siang sudah selesai, saya langsung tancap gas menuju Gianyar. Entah kenapa, pengen sekali saya menggunakan jalur tercepat biar cepat sampai. Akhirnya saya menggunakan jalur Klungkung ke Gianyar. Dari sini lumayan cepat meskipun jalurnya berkelok-kelok dan banyak pertigaan. Dengan modal Google Maps, semua masalah tersesat teratasi.



Sekitar satu kilo sebelum sampai di stadion, kok saya sempat curiga ya. Kecurigaan saya, apa saya yang salah liat jadwal. Bali United versus Arema Malang dijadwalkan bertanding jam setengah sepuluh malam waktu setempat. Tapi masih jam tiga siang, kok sepanjang jalan menuju stadion sudah macet oleh suporter kedua tim. Untuk memastikan lagi, saya buka jadwal lagi. Jadwalnya benar jam setengah sepuluh malam. Sesampai di parkiran stadion, penonton sudah ramai banget. Ratusan orang berkaos merah dan biru sudah memadati halaman luar stadion. Para pedagang jersey dan assesoris sudah kebanjiran pembeli. Namanya juga big match ala-ala Liga 1 Indonesia, pasti banyak yang datang menonton langsung ke stadion.

Kendaraan sudah terparkir dengan aman. Saya langsung menuju ke loket pembelian tiket reguler. Seperti biasa setiap nonton Bali United tanding, saya beli tiketnya di kelas reguler. Tiket paling murah soalnya yaitu 50 ribu saja. Setelah di depan loket, saya melihat banyak calon pembeli yang duduk menunggu loket dibuka. Sampai disini, saya belum curiga. Hanya berharap cemas saja, kok sampai sekarang, loket tiketnya masih tutup.

Gak ada kejelasan kapan loketnya dibuka. Tanya sana-sini, jawabannya sama "Gak Tau". Akhirnya berhubung gak sabaran, saya nanya ke salah satu panitia yang sedang berdiri di depan dagang sate #@%$**. Saya memanggilnya "Bli" (sebutan mas-mas di Bali).

"Pemirsi Bli, Tiang mau nanya, loketnya jam berapa dibuka ?" (mendadak pakai logat Bali). Tanpa pasang muka senyum dan ramah, Si bli hanya menjawab datar "Tiketnya sudah abis !" (pakai logat Bali). Mendengar kalimat itu, banyak calon penonton yang belum dapat tiket menghampiri si bli tadi. Seakan-akan mau dikeroyok gitu. Blinya sudah pasang kuda-kuda,hahaha.

Beberapa kali jawaban dari si bli tetap sama "Tiketnya Sudah Abis". Mendengar kalimat itu, saya sempat syok. Apa benar tiketnya sudah habis. Saya pun bertanya lagi, apa tiket di kelas lain juga habis. Jawaban si bli yang sudah capek ngejawab sampai mulutnya kering, tetap sama "Semua Tiket Sudah Habis Terjual".

Sempat bingung, gimana ini. Tambah stress lagi liat layar lebar yang sudah disiapkan di luar stadion. Ini artinya, penonton yang gak dapat tiket masuk, bisa nonton disini. Masak iya, datang jauh-jauh dari Lombok nonton di layar lebar. Gak kehabisan akal, akhirnya saya menuju loket VIP. Disana juga nasibnya sama, tiketnya sudah habis dari kemarin. Agak nyesel juga gak membeli via online. Tapi buat apa menyesal. ya kan? (mencoba menenangkan hati).

Entah masih belum percaya tiket pertandingannya sudah habis. Saya pun kembali bertanya kepada petugas yang lainnya. Ada si mas-mas yang baik hati menyuruh saya pergi ke Bali Cafe. Kata masnya, tiket cafe masih tersedia. Gak pikir dua kali, saya pun langsung kesana. Sesampainya di dalam cafe, saya menghampiri si mbak cantik yang sedang menunggu pengunjung di depan pintu.

"Mbak, tiketnya masih ada ?". Mbaknya langsung menjawab masih ada tersisa tiga kursi. Alhamdulillah, saya pun langsung booking satu kursi. Dramatisnya, kalau saya telat semenit saja, mungkin saya gak dapat tiket semuanya. Soalnya setelah saya membooking tiket, ada mas-mas yang booking untuk lima kursi, tapi masih tersisa dua kursi saja. Seandainya, saya telat datang, mungkin mas tadi booking ketiga kursi tadi. Keberuntungan masih berpihak kepada saya.

Sebenarnya lebih suka nonton di dalam stadion, tapi nonton di dalam cafenya juga gak apa-apa.  Daripada gak dapat liat Lilipaly dan Platje beraksi secara live, ya kan?. Gimana keseruan nonton di dalam Bali United Cafe ?. Jangan beranjak dulu, saya mau minum kopi haus dari tadi ngetik ini cerita.

***

Masih lima jam lagi bertandingan dimulai, buka dompet ternyata duit sudah menipis gara-gara beli tiket cafe yang harganya 200ribu. Tiket termahal yang pernah saya beli sebelumnya. Manalagi hanya bawa satu kartu ATM saja (sombong dadakan). Berhubung si kartu susah banget nyari lokasi ATMnya. Kalau gak salah hanya ada dua tempat di sekitar Gianyar. Karena duit menipis dan hanya ada modal buat balik ke Lombok, mau gak mau harus ambil buat jaga-jaga.

Gak jauh dari stadion, sampailah saya di sebuah mesin ATM @@&*$. Ternyata mesimnya bermasalah, wah gawat nih. Apa pakai modal makan nanti. Cari lokasi ATM satunya, alhasil gak nemu juga. Untung saja bawa cemilan dan botol air putih di dalam tas.




Dengan hati pasrah dan sabar, saya pun balik ke stadion. Saya memutuskan untuk hunting-hunting di luar stadion. Waktu sudah beranjak senja, para suporter kedua tim sudah menyanyikan yel-yel kebanggaan tim mereka masing-masing.

Yang buat saya tersenyum saat itu, suasana aman tentram. Kedua suporter saling bersahabat. Gak ada kalimat sindirian yang terucap. Yang ada saling menyemangati satu sama lainnya. Pemandangan yang sungguh menyenangkan hati. Inilah Indonesia yang sesungguhnya. Saling menguatkan satu sama lainnya. Gak ada kekerasan dan diskriminasi, apalagi rasis terhadap kelompok lainnya.

Langit sudah mulai gelap, saya memutuskan untuk segera masuk ke dalam cafe dengan menggunakan jersey kebanggaan dong, Semeton Dewata. Suasana di dalam cafe gak kalah ramainya seperti di luar stadion. Ada yang sudah duduk manis bareng keluarga dan sahabat. Mirisnya saya gak melihat yang duduk sendirian alias jomblo, hanya saya saja yang ngejomblo saat itu, hahaha.

Saya segera duduk di kursi sesuai dengan nomor yang ada di tiket gelang yang sudah saya kenakan. Lagi-lagi seorang diri tanpa istri menemani (curhat bung ?). Meskipun datang sendirian dari Pulau Lombok, di dalam cafe saya gak sendirian. Semuanya memakai jersey yang sama kayak saya, Bali United. Ada belasan ribu penonton di dalam stadion.

Sebelum pertandingan dimulai, ada sedikit insiden yaitu kami yang nonton di dalam cafe terhalangi oleh bendera-bendera dari suporter lawan. Untung saja, para panitia dan petugas keamanan segera bertindak. Kondisi kembali aman dan kami pun dapat melihat lapangan pertandingan tanpa terhalang sama bendera lagi. 




Sisa satu jam lagi pertandingan dimulai, semua penonton yang dapat tiket segera memenuhi kursi-kursi di dalam stadion. Lampu stadion sudah menyala sempurna. Nyanyian dan sorak-sorakan suporter sudah menggema dimana-mana. Beruntungnya kita yang kebagian tiket dibandingkan teman-teman yang gak kebagian, mereka nonton di layar lebar luar stadion.

Disini bukan masalah mau nonton dimana, tapi yang penting doa dan semangatnya buat tim yang dibela. Dimanapun kita berada, tetap selalu dukung tim kesayangan kita. Tim menang kitapun senang. Forzaaaaa...!!!



Sudah duduk manis di kursi, saya pun mendapatkan berita bahagia. Tiket yang sudah saya beli tadi ternyata ada voucher makan malamnya. Pilihannya, nasi goreng atau burger. Untuk minumnya ada air mineral botol dan teh botol. Lumayan buat ganjel perut saat nonton bola nanti.

Setelah dipikir-pikir, ada enaknya juga nonton di dalam Bali United Cafe. Kita bisa menonton dari balik jendela kaca yang lebar. Seluruh dalam stadion bisa terlihat semua. Para pemain dan official terlihat sangat dekat dengan kami yang menonton dari dalam cafe.

Apalagi di dalam cafenya disediakan layar LED di setiap sudut ruang. Jadi kita bisa melihat cuplikan ulang dari beberapa moment sepanjang pertandingan. Enaknya lagi, kita bisa menonton dengan nyaman, gak berisik kalau gak ada gol. Pokoknya dengan harga 200 ribu kita bisa menonton dengan puas dan dapat makan malam pula. Nonton sambel ngadem di dalam cafe, itu keuntungan tambahannya.  "Nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan" (Surat Ar-Rahman)

Untuk profil Bali Unitef Cafe, saya pernah ceritakan di tulisan sebelumnya. Bisa kalian baca disini yaak --> Nongkrong Asyik di Bali United Cafe

Disini saya gak menceritakan jalannya pertandingan. Nanti di akhir tulisan, saya cantumin cuplikan pertandingannya yak. Pokoknya Bali United menang melawan Arema Malang. Saat ini juga Bali United sedang menduduki posisi puncak klasemen. Terpaut jauh dengan PS Tira Persikabo di posisi kedua.

Itulah pengalaman saya yang kehabisan tiket nonton di kelas reguler. Tapi keberuntungan masih ada. Meskipun dapat tiket super mahal di kelasnya, saya tetap bisa nonton pertandingan dan bahagianya lagi, Bali United menang dengan dramatis. Semoga sampai akhir kompetisi, posisi Bali United tetap gak bergeser dan menjadi juara Liga 1 Shopee musim ini. Amin.

Saran sedikit dari saya, dimanapun pertandingan digelar, bila ada big match kalau bisa jauh-jauh hari sudah pesan tiket, bisa minta tolong teman atau via online. Jangan sampai sudah sampai di stadion, tiket sudah ludes terjual. Yang ada malah nyari tiket di calo yang sudah dipastikan harganya jauh lebih mahal dari harga aslinya. Jadi pelajaran saja untuk kedepannya. Kasian jauh-jauh datang, eh gak dapat tiket. Itu saja sarannya.

Cuplikan pertandingan on youtube.com



Penulis : Lazwardy Perdana Putra

0 comments:

Post a Comment