Skip to main content

Mampir Yuuk ke Taman Jinja !


Masih ingat dengan cerita saya di Taman Edelweis Karangasem Bali ?. Saya saranin buat kalian yang belum baca, boleh buka postingannya di bawah cerita ini. Kenapa ?, biar nyambung dan kalau sudah dibaca, baru kalian lanjut baca cerita saya kali ini (kayak novel saja berseri).

Satu lagi, pasti kalian bertanya tentang foto cover di atas. Itu dimana, di Jepang ya ?. Jawabannya, itu masih di Pulau Bali. Di Pulau Bali ada bangsa Jepang ya ?. Dulu ada pas jaman penjajah, pas nenek buyut kita masih muda. Sekarang sudah pada pulang kampung ke negeri asalnya. Berarti itu peninggalan bangsa Jepang ya ?. Aduuh, banyak nanya nih. Sudah, kalian simak saja deh cerita saya kali ini. Siapin kacang dan kopi buat nemenin baca cerita yang biasanya agak alay dan baper ini.

Masih dekat dengan Pura Besakih Bali, ada sebuah taman yang gak kalah kecenya dengan Taman Edelweis. Meskipun memiliki konsep yang hampir sama yaitu taman instagenic, namun keduanya punya kekhasan. Taman Edelweis khas dengan bangunan kincir anginnya, dan sebut saja Taman Jinja memiliki kekhasan dengan Toriinya.

Ya, namanya Taman Jinja yang memiliki arti Taman Ekspresi atau Kekaguman, itu kata si istri. Maklum istri doyan nonton drakor/drama jepang gitu. Kenapa dinamakan Taman Jinja, saya pun gak tau pasti. Kalau menurut saya sih, dinamakan Taman Jinja karena letaknya yang keren banget. Berada di daerah pegunungan yang memiliki udara sejuk dengan latar belakang Gunung Agung. Penuh kagum dan pengen rasanya balik lagi kesini. Sayangnya pas kami berdua datang kesini, Gunung Agungnya tertutup dengan awan tebal.




Setelah kami ke Taman Edelweis, nanggung dong kalau gak mampir di Taman Jinja. Jalurnya pun sama, hanya saja Taman Jinja berada sebelum Taman Edelweis. Taman Jinja berada di Desa Besakih, Kabupaten Karangasem. Hanya berjarak delapan ratus meter dari Taman Edelweis. Jalurnya pun gak buat pusing bagi kalian yang berencana kesini. Tinggal buka google maps, ketik Taman Jinja dan tinggal kalian ikutin arah yang diberi oleh si mbah goggle.

Untuk penjelasan jalurnya, bisa kalian baca di postingan Taman Edelweis ya (makanya baca Taman Edelweis dulu). Taman Jinja baru dibuka sekitar Bulan Februari 2019 lalu. Bisa dibilang taman ini masih tergolong baru dan langsung ngehits di medsos. Taman Jinja seratus persen dikelola oleh warga desa setempat. Saya salut sekali, meskipun dikelola oleh warga desa, penataan tamannya kece dan niat banget buat taman sekeren ini.

Dari parkiran kendaraan yang berada di pinggir jalan, Taman Jinja berada di seberangnya. Saya bareng istri sudah gak sabar pengen cepat-cepat masuk ke taman ini. Sebelumnya, kami harus membeli tiket masuk di pos tiket. Harga tiketnya pun tergolong murah yaitu 10 ribu per orang. Dengan harga segitu, kita bebas mengexplore Taman Jinja dari pagi sampai sore. Untuk jam bukanya dari jam 8 pagi sampai 7 malam (koreksi kalau salah).









Setelah membeli tiket, kami berdua langsung memasuki area taman. Penampakan taman ini berbukit-bukit dengan jalan setapak yang lumayan menguras keringat (menurut saya). Anggap saja sekalian olahraga kecil-kecilan. Uniknya di sepanjang jalan setapak, banyak sekali dibangun Torii. Torii merupakan gerbang kuil yang berwarna merah. Gerbang kuil yang sering kita temukan di kuil-kuil Shinto, Jepang yang terbuat dari kayu. Torii di Jepang biasa dibuat dengan palang sejajar yang kemudian ditunjang dengan dua batang vertikal. Namun uniknya di Taman Jinja, toriinya dibuat dari bambu kemudian dicat merah dan di bagian bawah tiang, dicat warna hitam.

Mistisnya, selain menjadi pintu gerbang kuil, Torii sendiri dipercaya memiliki aura horor. Horornya, torii berfungsi sebagai pembatas antara kehidupan manusia dengan Kami. Kami sendiri merupakan sosok spritiual yang menjadi obyek penyembahan para penganut agama Shinto di Jepang (sumber dari mbah google). Percaya gak percaya, ya selama kita masih berada di tempat tersebut, kita harus jaga sopan santun dan menghormati tempat tersebut. Yang pengen kenalan dengan Kami juga boleh, tapi jangan tanya saya caranya gimana,hahaha...peace.

Lupakan yang mistis-mistis dulu !!!

Suasana Taman Jinja saat itu cukup ramai. Pengunjung yang akan atau sudah ke Taman Edelweis, pasti mampir ke Taman Jinja. Begitu pun dengan kami berdua, sayang banget kalau gak mampir. Sambil menyelam minum air. Capek-capek motoran turun naik bukit, dua tempat kece digass langsung, hahaha. 




Dari anak kecil hingga emak-emak sangat semangat mendaki dan turun bukit ala Taman Jinja. Ada satu turunan dan dua tanjakan. Buat yang punya riwayat asma atau asam urat, jalannya harus pelan-pelan ya. Terpenting, sebelum jalan ke Taman Jinja, obatnya harus dibawa. Sepanjang jalan setapak yang penuh dengan Torii, kalian bisa foto-foto eksis karena spot foto disini instagramable banget. Rombongan emak-emak saja eksis fotoan disini. Masak kalian yang anak milenials, kalah sama mereka,hahaha (Ngomporin).

Gak berbeda jauh dengan Taman Edelweis, di Taman Jinja juga banyak kita temukan Bunga Kasna lhoo. Hampir seluruh area taman dipenuhi dengan Bunga Kasna. Bunga Kasna sangat mirip dengan Bunga Adelweis. Dari kejauhan memang mirip, tapi sebenarnya kedua bunga ini sangat berbeda. Bunga Edelweis biasa kita temukan di lereng atau tebing di gunung. Hanya saja yang kita lihat di Taman Edelweis dan Taman Jinja, bukan Bunga Edelweis ya, tapi Bunga Kasna, So..kalian jangan debat di dalam mobil atau di atas motor bareng pasangan gara-gara bunga satu ini seperti saya sama istri,hahahhaa. Yang harus diingat lagi, Bunga Kasnanya gak boleh dipetik ya !.

Habis turun naik bukit dan foto-foto, pasti capek kan. Tenang saja, disini ada beberapa tempat duduk buat santai-santai. Nyari pedagang juga ada disini. Saya lihat kemarin ada penjual sate (gak tau satenya daging apaan), makanan dan minuman ringan disini. Tapi jangan lupa, sampahnya dibuang di tempah sampah ya. Sayang sekali tempat sekece ini, rusak dan kurang indah gara-gara sampah yang dibuang sembarangan oleh pengunjung.

Over all, Saya dan istri suka dengan Taman Jinja. Tamannya bersih, kreatif, banyak spot foto yang instagenic, dan buat betah berlama-lama disini. Bagi kalian yang masih mencari tempat prewed ala-ala instagramable, Taman Jinja bisa jadi solusinya. 

Oke, hari sudah semakin sore, saatnya kami melanjutkan perjalanan pulang ke Pulau Lombok. Ada perasaan puas bisa datang ke Taman Jinja. Tempat yang awalnya gak masuk ke dalam list touring/motoran bareng istri saat itu, tapi berhubung ada teman asal Bali yang rekomendasikan ke kami untuk mampir ke Taman Jinja. Taman Jinja rekommended banget buat kalian pecinta foto-foto instagramable.


Share Lokasi : Taman Edelweis ke Taman Jinja

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Comments

  1. Aku langsung browsing tentang Torii.
    ... dan menemukan fakta dibalik warna merah keoranyean Torii.

    Yang paling aku ingat adalah seribu Torii di Kuil Fushimi Inari Taisha, Kyoto. Torii ini hits banget ya.

    Juga yang di Pulau Miyajima Hiroshima.
    Kuil ini pernah dikunjungi putriku yang lolos seleksi AFS ke Jepang beberapa waktu lalu.

    Semoga suatu hari bisa berkunjung ke Taman Jinja Karangasem Bali.

    Baidewei,
    Sepertinya ini kunjungan pertamaku ya.
    Salam kenal dari bumi Borneo, Balikpapan, Kaltim, Mas Didit Lombok (^_^)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah informasinya lengkap, hehehe. Sya jg baru tau Torii ini sangat terkenal di Jepang. Thanks mbak sudah berkunjung. Salam balik dari Lombok.

      Delete
  2. Aaah keren banget pasangan travel blogger yg satu ini. Sekarang travelingnya udah berdua ya bang ^^

    ReplyDelete
  3. kirain tadi desain Tiongkok ternyata jepang yah hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sya jg baru tau pas dijelasin dsnaa. Itu namanya Torii :)

      Delete
  4. Tempatnya bagus ya, kalaupun panas tapi masih ada angin sepoi-sepoi saya pasti semangat jalannya

    ReplyDelete
  5. Wah baru tau saya ada taman jinja di Indonesia

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pengalaman Baru : Naik Boat di Danau Beratan, Bedugul

Siapa yang gak kenal Bali dengan keindahan pantai dan budayanya. Hampir semua destinasi di Bali sudah mainstream . Apalagi kalau sudah yang namanya long weekend , jangan diharap bisa menikmati alam Bali sendirian. Bus-bus pariwisata dan kendaraan lainnya berjejer dan membuat jalur di kawasan wisata macet total. Itu pengalaman yang saya rasakan di Bali minggu yang lalu. Agak sedikit curhat di awal tulisan mengenai kemacetan di Bali yang sudah terasa saat ini. Beda dengan keadaan Bali dua puluh tahun yang lalu, disaat saya pertama kali ke Bali. Lengang, gak panas dan gak macet. Oke... Kita lupakan kemacetan di Bali akhir-akhir ini. Kita bahas hal-hal yang menarik di Bali saja. Salah satunya tempat yang sempat saya kunjungi saat ke Bali kemarin, tepatnya di bagian utara Bali. Tempatnya dingin, adem, sejuk, jauh dari polusi dan kece pastinya. Fotoan kece di atas boat dengan latar Pura Ulun Danu, Danau Beratan Welcome Danau Beratan !!! Kalian

Kuliner Lagi di Bebek Goreng Pondok Galih : Gajah Mada, Lombok

Kalau ditanya tempat makan yang nyaman dengan penampilan kece di seputaran Kota Mataram. Saya langsung menjawab Bebek Goreng Pondok Galih Gajah Mada. Sudah lama juga saya gak mereview tempat makan sambil kulineran. Akibat terlalu lama virus Covid-19 menghantui kita, sampai-sampai mau makan keluar saja harus mikir beribu kali. Pertimbangannya pastinya keamanan dan kesehatan diri sendiri. Untuk kali ini saya gak mau kehilangan momentum. Kebetulan ada libur empat hari dan gak traveling kemana-mana. So, saya bareng keluarga berencana pergi kulineran ke tempat yang belum didatangi. Wah, ini yang saya tunggu-tunggu. Saya pun merekomendasikan mencoba olahan bebek yang cukup terkenal di Kota Mataram, yaitu Bebek Goreng Pondok Galih. Dari namanya saja agak kesunda-sundaan ya. Memang bener, resto ini bernuansa khas Sunda.  Gimana ceritanya ?. Pasti seru dong. Buat yang gak berminat sama tulisan ini, bisa leave . Tapi buat kalian pembaca setia blog ini, pasti sudah gak sabaran sama cerita-cerita

Nama Menu Makanan Minuman yang Unik di Warung Meekow

Kalau hujan gini, enaknya ngebahas tentang makanan kali ya. Udara dingin dikala hujan menggoda, ujung-ujungnya larinya ke perut, laper guys. Nah, ngebahas makanan, saya punya review sebuah warung makan yang rekommended buat dicoba. Namanya Warung Meekow. Sudah pasti di media sosial tepatnya instagram, sudah ramai sekali ini tempat tongkrongan. Kalau gak salah sekitar akhir tahun 2020 lalu, tempat ini dilaunching. Sayangnya saya gak sempat datang di acara launchingnya, lebih tepatnya gak diundang,hehehe...curhat.  Kenapa saya review tempat nongkrong ini ?. Alasannya, karena beberapa teman menyarankan untuk datang mencicipi menu-menu enaknya. Jadi penasaran dong, so akhirnya saya datang untuk pertama kalinya bareng temen-temen kantor di jam makan siang. Gak puas hanya datang sekali, seminggu kemudian, saya kesini lagi bareng anak istri. Over all , pelayanan yang cukup memuaskan dan makananya enak, jadi saya review (gak ngendorse).  Dari informasi yang saya dapat, pemilik Warung Meeko