Ngabuburit ke Sungai Korea di Kota Denpasar, Bali


Kalian pasti penasaran dengan judul dan foto di atas. Kita nyeberang dulu ke pulau tetangga sebelah, tepatnya di Pusat Kota Denpasar, Bali. Dua minggu yang lalu sebelum memasuki Bulan Ramadhan, saya bareng istri nyuri-nyuri waktu honeymoon ke Pulau Bali. Kenapa pilihan jatuh ke Pulau Bali?. Pertama, karena lebih dekat dengan Pulau Lombok. Kedua, gak perlu ngeluarin budget banyak. Dan alasan terakhir karena hanya ada waktu dua hari buat liburan.

Oke.. Yang buat kami pengen banget ke Bali saat itu yaitu pengen nyobain hotel capsule yang lagi ngehits saat ini (comming soon) dan Sungai Koreanya. Sebenarnya sebutan Sungai Korea berasal dari mulut ke mulut anak-anak milenials di Kota Denpasar. Karena keseringan nyebut Sungai Korea, jadi nama tersebut menjadi booming dan ngehits. Gak mungkin kan Sungai Korea dipindah ke Pulau Bali. So.. Kenapa sih dinamakan Sungai Korea?  Yuuk disimak sampai selesai.

Sebagai informasi saja, di Korea Selatan ada sungai yang bernama Sungai Cheonggyecheon yang terletak di pusat kota Seoul. Keunikan dari sungai ini yaitu bentuknya yang sengaja dibuat berkelok-kelok dan instagrammable banget. Yang penasaran dengan sungai ini bisa digoogling ya pemirsa. Penampakan Sungai Cheonggyecheon sangat cantik dan tertata rapi. Bila malam lampu kelap kelip menghiasi sungai. Bila kita berkunjung ke Kota Seoul, wajib hukumnya datang ke sungai tersebut sekedar duduk santai sambil menikmati keindahan sungai.

Sungai Cheonggyecheon, sumber : intisari.grid.id

Tukad Badung, sumber : travelingyuk.com / infogrambali



Mungkin kalau ke Korea Selatan hanya sekedar datang ke Sungai Cheonggyecheon (susah amat nulisnya), terlalu jauh dan seperti kita-kita yang gak punya modal buat kesana, hanya tinggal mimpi saja. Tapi jangan khawatir, di Kota Denpasar ada kembaran dari Sungai Cheonggyecheon namanya Tukad Badung. Tukad berarti sungai dan Badung adalah nama wilayah di Kota Denpasar. Tukad Badung terletak di antara Pasar Badung dan Pasar Kumbasari lhoo.

Buat kami berdua, lokasinya masih asing. So.. Untuk mencari lokasi Tukad Badung, kami mengandalkan Google Maps. Untungnya kami menggunakan sepeda motor, jadi gak takut macet berhubung kalau ngandelin aplikasi terkece ini kita diarahkan menggunakan jalur alternatif. Bagi yang sering punya pengalaman pakai Google Maps pasti taulah, hahaha.

Kebetulan kami menginap di daerah Kuta. Perkiraan waktu tempuh hingga sampai di lokasi hanya menghabiskan waktu dua puluh delapan menit saja. Oke.. Saat itu masih jam lima sore. Setelah keluar dari hotel, kami menuju lokasi melewati macetnya jalur Kuta dan Legian. Maklum, saat itu lagi  weekend dan jam sibuk. Mau jalan sempit atau protokol, semuanya macet. Dengan penuh kesabaran kami berusaha selalu menikmati perjalanan.

Selalu mengikuti arahan dari mbah google maps. Ternyata kami kena zonk. Waah.. Gimana sih mbah google nih, ngasi alamat salah. Posisi kami saat itu lagi di daerah Renon dan ternyata mbah google ngarahin ke perumahan penduduk mirip rumah btn gitu dan jalannya bernama Jalan Tukad Badung. Bener sih di samping jalan ada sungai namanya Tukad Badung, tapi bukan ini tempatnya. Berhubung perut sudah laper, kami berdua memutuskan untuk makan malam dulu di sekitar Renon.

Sempat badmood, si istri akhirnya menanyakan ke temennya yang kebetulan asli Denpasar. Ternyata Tukad Badung yang dimaksud berada di Pasar Badung. Oke.. Buka Google Maps lagi. Ternyata benar, di Google Maps namanya Sungai Pasar Seni Kumbasari. Ini kami berdua yang bego atau mbah googlenya yang belum makan. Lain kali kalau ke Tukad Badung, nulisnya Pasar Badung atau Sungai Pasar Seni Kumbasari saja yaak hahaha.

Oke, setelah perut kenyang. Waktu sudah malam saja. Kami memutuskan untuk shalat magrib dulu setelah itu lanjut ke Pasar Badung. Dari tempat kami makan, lokasinya gak jauh kok. Hanya sembilan menit saja. Mengikuti petunjuk si google, akhirnya kami sampai di Pasar Badung dan Pasar Kumbasari. Diantaranya ada jembatan yang sudah lama dibangun. Lirik kanan kiri, ternyata sungai yang kami cari sudah ada di depan mata. Perasaan bahagia dan lega, akhirnya tempat yang kami cari ketemu juga.





Suasana malam itu sangat syahdu. Warga Denpasar cukup ramai menikmati suasana malam minggu disini. Kami memarkirkan kendaraan di sebuah basemant pasar yang saya lupa ini di Pasar Badung atau Pasar Kumbasari. Untuk tarif parkir disini kalau gak salah hanya 2ribu saja. Sedangkan turun ke Tukad Badungnya gratis tis tis. Meskipun masuknya gratis, harus jaga kebersihan ya.

Lokasi yang baru dengan status yang baru pula, asyiik. Yaa, kali ini saya ke Bali sudah bareng istri. Biasanya ke Bali bersolo trip atau bareng temen, sekarang sudah sama pasangan hidup (curhat colongan). Ternyata ke Bali gak hanya taunya Pantai Kuta, Sanur, Bedugul, Tanah Lot atau yang sudah mainstream. Tapi di tengah-tengah Kota Denpasar ada wisata baru yang wajib kalian kunjungi bila datang ke Pulau Dewata ini.

Saya merasa takjub dengan keindahan Tukad Badung. Belum lagi istri yang kesenengan diajak kesini. Gimana caranya membuat sungai begitu bersih dan rapi. Aliran sungai juga bebas dari sampah. Dari datang sampai kami pulang, malam itu kami gak melihat sampah yang mengambang (bukan si kuning lhoo ya). Di kiri kanan sungai terdapat jalan setapak yang tertata rapi dengan lampu-lampu penerang. Dinding pinggiran sungai juga dipercantik dengan adanya lukisan dan foto-foto sejarah sungai ini dari masa lalu. Ada lagi air pancuran dengan lampu kelap-kelipnya. Serasa berada di luar negeri. Siapa sangka ini di Indonesia, tapi kenyataannya ada sungai kece seperti di Bali, keren keren.





Semakin malam, pengunjung semakin ramai yang berdatangan. Ada bareng keluarga, pacar, pasangan dan ada yang jomblo alias menunggu kekasihnya datang, mirip drama Korea gitu pemirsa (korban drakor). Pedagang juga gak mau ketinggalan menjajakan dagangan mereka di sekitar pinggiran sungai. Berhubung tempatnya instagrammable banget. Saya bareng istri gak lupa untuk numpang foto-foto. Setiap sudut Tukad Badung kami abadikan dalam sebuah foto. Habis eksi foto-foto, kami menikmati malam minggu di Tukad Badung dengan duduk berduaan di pinggiran sungai sambil ngobrol ngalor ngidul. Meskipun gak duduk berduaan sih tapi duduknya rame-rame bareng pengunjung lainnya.

Gak banyak cerita yang bisa saya tulis tentang Tukad Badung kecuali hanya bisa menikmati suasana yang ada saat itu. Berhubung lagi Bulan Ramadhan, untuk kalian yang sedang menjalankan ibadah puasa di Kota Denpasar, Tukad Badung bisa dijadikan alternatif tempat ngabuburit menunggu datangnya waktu berbuka. Yang penting selalu menjaga kebersihan dan jangan buah sampah sembarangan. Sayang sekali sungai yang kece dan bersih seperti Tukad Badung tercemar dengan sampah yang kalian buang. Nanti gak kece lagi dong.

Satu hal lagi, ketika kami berdua ke Tukad Badung, kami belum melihat wisatawan mancanegara yang datang kemari. Mungkin ini pesan buat pemerintah setempat untuk ditingkatkan lagi promosi wisata Tukad Badung biar Go Internasional.

Kesimpulannya, Tukad Badung Kece Badai.

Lokasi Tukad Badung :


 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Comments

  1. Gerakan sungai bersihnya sangat menginspirasi.. patut di contoh nih 😄

    ReplyDelete
  2. huaaa, beneran mirip yang di korea

    ReplyDelete
  3. Wahahahah bali lagi memodirnasikan diri nih. Kece abis!

    ReplyDelete

Post a Comment