Pengalaman Pertama Menyaksikan Perang Api (Bobok)


Pernah mendengar Perang Api atau Perang Bobok ?. Pasti dibayangan kita, perang api itu menakutkan. Mirip film perang kolosal yang pernah kita tonton. Perang antara dua kerajaan yang sudah bermusuhan sejak lama, dimana ending dari cerita ada salah satu yang kalah. Atau mungkin saja ada yang membayangkan perang api seperti perang game COC, Kids Jaman Now pasti paham apa itu COC,hehehe. 

Perang Api atau Bobok yang saya bahas ini bukan seperti perang-perang yang tadi dibayangkan. Bukan perang dalam arti sesungguhnya. Ini adalah sebuah tradisi dari turun temurun yang sudah menjadi sebuah tontonan yang menarik dan ditunggu-tunggu setiap tahunnya oleh masyarakat Kota Mataram dan sekitarnya.

Di tahun ini (2018), saya akhirnya ada waktu menyaksikan Perang Api atau Bobok secara LIVE di Cakranegara, Kota Mataram. Di tahun sebelumnya, saya gak bisa menonton perang ini karena ada urusan kerjaan. Perang Bobok dimulai sore harinya setelah pawai Ogoh-Ogoh. Kalian pasti tau kan apa itu Ogoh-Ogoh ? Klik kalau penasaran ---> Ogoh-Ogoh

Untuk di tahun ini, saya gak dapat hunting foto Ogoh-Ogoh seperti di tahun sebelumnya karena masih jam sibuk sama kerjaan. Untungnya di sore harinya, saya cepet pulang kantor dan capcuss ke arena peperangan,ceileeh. Emang sudah niat dari berangkat kerja untuk menonton Perang Api. Saya pun membawa tas yang isinya kamera dslr lengkap dengan kedua lensa andalan. Jarak antara tempat tugas dengan arena Perang Api bisa dibilang sangat dekat. So... gak perlu buru-buru, ganti pakaian di kantor ala fotografer kece, terus lanjut ke lokasi. 

Gimana keseruan Perang Api di tahun ini ? Yuuk disimak terus yoo !





Kalau boleh dijujur, saya lebih tertarik menyaksikan Perang Api dibandingkan pawai Ogoh-Ogoh. Sudah bosen juga nonton pawainya dari tahun ke tahun. Nah untuk kali ini, saya penasaran untuk menyaksikan langsung gimana keseruan Perang Api yang katanya menakutkan dan menghibur. 

Perang Api atau lebih dikenal dengan sebutan Perang Bobok, dilaksanakan di Jalan Selaparang, tepatnya di persimpangan Negarasakah, Cakranegara, Kota Mataram. Dimulai tepat jam enam sore waktu setempat. Kalau masih bingung, buka saja google maps dan ketik Negarasakah. Pasti nanti ketemu lokasinya (buat kalian yang nonton di tahun depan),hehehe. 

Saya tiba di lokasi sekitar jam lima sore. Setelah memarkirkan kendaraan di tempat yang aman, saya pun memilik posisi yang tepat untuk mengambil foto demi foto. Di lokasi sudah ada teman-teman fotografer lainnya yang sudah ready. Duduk, ngobrol sambil menyetting kamera dslr andalan masing-masing. Saya pun ikut gabung bareng mereka sambil kenalan satu sama lainnya. Banyak teman itu asyiik lhoo,hehehe. 

Selain para fotografer, di lokasi juga sudah dipadati oleh para warga yang ingin menonton Perang Bobok. Dari anak kecil, cewek-cewek manis, orang dewasa, para orang tua pun gak mau ketinggalan untuk menyaksikan tradisi yang hanya dilaksanakan setahun sekali ini. 

Untuk mengamankan jalannya perang, sejumlah polisi lengkap dengan kendaraan Water Cannon berjaga-jaga di lokasi. Saya juga lagi berjaga-jaga untuk soal hati, siapa tau ada yang bening-bening juga hehehe (pernyataan gak jelas). 







Tau gak sejarah dari Perang Api atau Bobok ?

Perang Api atau Bobok ini merupakan tradisi dari dua banjar yang sudah berlangsung lama (sejak tahun 1838). Menurut sejarah yang dapat dipercaya, lokasi Perang Api ini dulunya adalah lokasi perang saudara dua kerajaan yaitu Kerajaan Singosari dan Kerajaan Karangasem (Mentaram). 

Untuk Perang Api sendiri dilakukan oleh dua banjar yaitu Banjar Negarasakah dan Banjar Sweta yang dipisahkan oleh jalan raya. Perang ini dilakukan oleh para pemuda dari dua banjar menggunakan daun kelapa kering kemudian diikat seperti sapu (bobok) dan disiram oleh minyak tanah dan dibakar. Jadi kenapa Perang ini dinamakan Perang Bobok karena senjata mereka menggunakan kelapa kering yang diikat seperti sapu atau bobok. Setelah dibakar, kemudian bobok yang sudah terbakar tersebut disabet ke tubuh lawan. Saat menyabet ke lawan, timbul sebuah percikan-percikan api yang bertebaran. Peserta yang dikatakan kalah apabila apinya sudah padam. 

Dulunya tradisi ini dilakukan karena ada penyebabnya. Sebab utama yaitu adanya wabah penyakit yang gak tahu asal muasalnya yang melanda kedua banjar. Orang Bali menyebutnya dengan gering atau gerubug. Banyak warga dari kedua banjar tersebut meninggal dunia. Oleh sebab itu, ada yang menganjurkan untuk dilakukan pembakaran api. Tradisi perang api ini dulunya terkenal dengan nama mancesanah (ritual untuk mengusir buthakala) dan dilakukan pada malam sebelum umat Hindu menjalankan ibadah Nyepi. Seperti yang saya jelaskan tadi, perang ini dilakukan setelah pawai Ogoh-Ogoh dan upacara Tawur Kesange (penyucian) di Pura Jagatnate, Taman Mayura. 





Tepat jam enam sore, kedua kubu sudah bersiap memulai jalannya perang. Saya pun segera menyiapkan kamera dan mencari posisi untuk mengambil foto. Tapi sayang beribu sayang, posisi ideal untuk mengambil foto terbaik sudah gak ada. Lokasi perang sudah dipadati oleh ratusan warga yang ingin menonton jalannya perang dari dekat. Sempat kebingungan, tapi apa mau dikata, sayapun rela balik sana balik sini untuk mengambil foto-foto yang saya rasa cukup baik meskipun belum sesuai harapan. Gak apa-apa deh.hmmmmm.

Akhirnya pecalang sudah memberi aba-aba untuk dimulainya perang. Kedua kubu dari dua banjar sudah gak sabar untuk memenangkan peperangan. Suasana semakin memanas, langitpun sudah mulai gelap. Untungnya cuaca sore itu cerah, jadi gak mengganggu jalannya peperangan yang menggunakan api ini. Saya pun gak terganggu melihat dirimu yang berdiri di seberang sana, eheeem eheeem (ini ngomong apaan sih).

Tradisi ini bukan untuk saling menyakiti, tetapi untuk mengeluarkan rasa benci dan dendam diantara satu sama lainnya meskipun gak sedikit ada yang kulitnya melepuh terkena sabetan bobok yang terbakar tadi. Meskipun begitu, gak ada rasa benci atau dendam diantara mereka. Makna dari tradisi ini yaitu agar manusia bisa memerangi hawa nafsu yang disimbolkan dengan api. 


Aturan dari tradisi perang ini yaitu peserta dilarang membakar kembali bobok yang telah padam dan mengejar lawan yang boboknya sudah padam. Alasannya kenapa ya gak boleh dinyalakan lagi ?. Menurut saya sih biar adil dan sportif saja sih. Takutnya kalau dinyalakan lagi, gak kelar-kelar perangnya. Bisa-bisa gak jadi menyepi mereka saking lamanya perang,hehehe..dugaan saja. Tetapi yang saya lihat, ada juga yang melanggar aturan,hehehehe...sssSstttsss jangan sampai ketauan yee.

Jadi polisi dan pecalang (polisi adat) kehadirannya disini sangatlah penting untuk mengamankan jalannya tradisi perang ini. Saya pun sempat khawatir kalau ini perang bakalan menjadi perang sungguhan. Gak kebayang kalau gak ada polisi dan pecalang yang mengatur jalannya tradisi ini. Ternyata kekhawatiran saya gak terjadi berkat bapak-bapak polisi dan pecalang yang mengatur jalannya perang. Makasi pak sudah mengamankan jalannya perang. Untung saja bapak-bapak polisi gak ikutan perang api, bisa berabe nanti. Bukan pakai bobok tapi pakai Water Cannon jadi senjatanya,hehehe...peace pak, hanya becanda saja.

Perang Api ini berlangsung kurang lebih lima sampai sepuluh menit saja. Jadi gak terlalu lama perangnya, yang lama itu nunggu perangnya dimulai,hehehe. Perang Api atau Bobok sore itu berlangsung seru dan sangat sengit. Bau minyak tanah dan asap sangat menyengat tercium di hidung. Meskipun begitu, jalannya perang bisa terkontrol dengan baik. Luar biasa moment-moment saat berlangsungnya perang. Saya pun dibuat gak berkedip ketika melihat salah satu peserta berlari di tengah arena menuju lawan sambil membawa bobok yang terbakar. Baku hantam pun gak terelakkan, keren dan kece pastinya.


So.. banjar mana yang keluar sebagai pemenang ?. Kalau gak salah pemenangnya dari Banjar Sweta atau kubu timur. Meskipun demikian, kedua banjar tetap damai dan pulang ke rumah masing-masing tanpa adanya rasa dendam untuk membalas kekalahan. Sekitar jam setengah tujuh malam, warga yang menonton segera bubar dan arus lalu lintas kembali normal lagi. Pengalaman yang cukup mengesankan buat saya pribadi bisa menyaksikan secara langsung keseruan dalam adu kekuatan dalam memukul bobok atau dikenal dengan Perang Api atau Bobok.

Setelah Perang Api berakhir, saatnya saudara kita yang beragama Hindu bersiap-siap untuk melakukan ibadah Nyepi yang dilaksanakan dari jam enam pagi sampai jam enam pagi keesokan harinya. Jaga ketenangan yaa, jangan mengganggu !. Saling hormat menghormati antar keyakinan yang ada. 

Buat teman-teman yang beragama Hindu, Selamat Menjalankan Ibadah Nyepi Tahun Baru Saka 1940. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Comments

  1. Wah, seru nih
    Kemaren kecapekan, gak bisa kemana mana, heuheuheu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pantes ngilang dri grup hehehe... Seru mas tp syang kalah cepet cari posisi yg bagus bwt jepret2.. Next.. Minggu dpan hunting pasar yook ! Hehehe

      Delete
  2. Jadi tau sejarah lengkapnya
    😄

    ReplyDelete
  3. Asyik.
    Keduluan Bang Didit deh.
    Saya masih harus menunggu tahun depan lagi.

    Ijin nyontek sebagian kisah dari Perang Api (Bobok) yaaa.

    ReplyDelete

Post a Comment