Skip to main content

Menjelajah Sungai Tiu Kele, Desa Marente, Alas, Sumbawa : River Tubing


Dapat kesempatan libur lebaran yang cukup panjang, membuat kaki terasa gatal untuk segera pergi berpetualang ke alam lagi. Moment ini gak akan saya lewatkan begitu saja. Berawal dari buka puasa bareng dengan para  Crew Patrick di pertengahan Bulan Ramadhan lalu di sebuah kedai kopi ternama di Mataram ( Soetjipto Coffe & Resto ). Kami memutuskan untuk traveling ke Pulau Sumbawa. Hari dan tanggal berangkat sudah ditentukan yaitu empat hari setelah lebaran Idul Fitri.

Menjelang hari keberangkatan, segala persiapan sudah beres. Dari penginapan, mengontak teman-teman disana, apa saja yang dibawa dan mengatur kemana saja tempat ngetripnya. Alhamdulillah masih diberikan kesehatan dan rezeki untuk bisa ngetrip bareng lagi.

Berangkat hari Kamis siang dari Kota Mataram menggunakan motor, cuaca saat itu lumayan cerah. Tujuan kami yaitu Pelabuhan Kayangan, Lombok Timur. Setelah sampai di pelabuhan, hanya beberapa menit saja kami menunggu antrian masuk ke kapal ferry. Suasana baik di pelabuhan maupun di dalam kapal cukup ramai. Banyak para pemudik yang sudah balik ke pulau rantauan.

Sekitar jam empat sore, kapal ferry yang kami tumpangi segera berangkat menuju Pelabuhan Pototano, Sumbawa Barat. Cuaca saat itu masih cukup cerah dan arus laut gak terlalu besar. Syukurnya teman-teman semuanya gak ada yang mabuk laut. Menjelang senja, kapal ferry segera merapat ke dermaga pelabuhan. Kami pun perlahan-lahan turun dari kapal ferry dan segera menuju ke sebuah desa yang bagi saya pribadi adalah desa yang sangat nyaman untuk kami bermalam. Desa Marente ( Maras Nyaman Ate ).

Desa ini terletak di Kecamatan Alas, Sumbawa. Kurang lebih lima kilometer dari jalan utama Kota Alas yang menghubungkan Pelabuhan Pototano dengan Sumbawa Besar. Untuk menuju desa ini, kita hanya membutuhkan waktu lima belas menit saja dari terminal Kota Alas ke arah timur menggunakan motor. Kondisi jalan sudah bagus, nyaman dan aman. Bagi yang bingung, bisa meminta bantuan dari Google Map untuk mencari lokasi Desa Marente.




Keesokan harinya, saat yang ditunggu-tunggu tiba juga. Tujuan kami bermalam di Desa Marente yaitu karena kami ingin mencoba olahraganya yang cukup berbahaya yaitu River Tubing. Meskipun dilihat asyik-asyik saja, tapi olahraga satu ini dibutuhkan fisik dan mental yang kuat. Peralatannya pun harus lengkap sesusai standar keselamatan. 

Kami berdelapan ditambah tim Sagara ( Saketok, Agal, Sebra ) segera berangkat ke tempat yang dimana menjadi star awal memulai petualangan baru. Berangkat dari Rumah Pak Din ( tempat kami bermalam ) menggunakan mobil pickup. Bapak Din dan keluarga sangat ramah dan baik kepada kami. Awal perkenalan di tahun lalu saat kami menuju Air Terjun Agal. Secara gak sengaja, kami bertemu dengan Pak Din sekeluarga dan sampai sekarang kami menjadi keluarga baru. 

***
Mobil segera meluncur dan membawa kami  menuju titik pertama dimulainya River Tubing. Perasaan deg-degkan, ini pengalaman pertama saya melakukan olahraga satu ini. Melewati jalan berbatu dan bertanah dan dikiri-kanan jalan terbentang luas perbukitan dan Hutan Marente. Sungguh alami dan masih terjaga. Udara sejuk, sinar matahari  dan kicauan burung di pagi hari menyambut kami di perjalanan. Seolah-olah mereka menyemangatkan kami dan berdoa semoga petualangan pagi ini dimudahkan. Amiin.





Sampailah kami di lokasi yang menjadi awal petualangan mengarungi derasnya Sungai Tiu Kele. Sebelum memulai kegiatan, kami berdelapan dipandu oleh ketua tim melakukan doa bersama dan menjelaskan hal-hal penting yang harus diperhatikan selama River Tubing.

Pesan dari ketua tim, jangan meremehkan Sungai Tiu Kele. Hal-hal kecil harus diperhatikan, jangan sampai melanggar aturan yang sudah diberlakukan. Mulai dari helm, life jaket, ban dan pakaian yang kita kenakan harus diperhatikan. Saran saya, pakailah pakaian renang atau nyaman di badan dan jangan lupa sarapan terlebih dahulu biar gak masuk angin. 







Tepat jam delapan pagi kami memulai petualangan mengarungi Sungai Tiu Kele. Air sungai yang dingin dan batu-bebatuan besar menyambut kami dan mengucapkan Welcome to Tiu Kele. Sejauh ini kece... !!!

Sungai Tiu Kele yang harus kami tempuh sepanjang 1,5 - 2 kilometer. Cukup panjang dan pasti seru. Bentuk geografis sungai ini banyak bebatuan dan airnya cukup deras. Ban yang membawa kami segera berjalan mengikuti arus sungai. Arus sungai disini kebetulan gak terlalu deras seperti biasanya karena sudah beberapa hari gak turun hujan. Menurut saya yang kebetulan baru pertama kali mencoba olahraga ini airnya lumayan deras dan menantang. Sesuai dengan kami yang masih baru pertama kali mencoba olahraga kece ini.

Tantangnya kami harus bisa menyeimbangkan badan dan ban, setelah itu mengikuti arus sungai dan bersiap-siap melewati beberapa titik sungai yang memiliki arus yang sangat deras. Serunya disini kami harus melewati setiap bebatuan yang menghalangi. Cukup anyep rasanya bila kita terlepas dari ban karena tersangkut batu. hehehehe...






Sejauh ini saya bareng temen-temen cukup happy dan gila-gilaan. Alhamdulillah belum ada yang KO ( hahahahaha ). Semangat temen-temen dan tim yang profesional membuat pagi itu terasa hangat. Kami semua akrab dan seru-seruan bareng. Alam juga menyambut kami dengan ramah. Luar biasa !!!







Kurang lebih satu kilometer mengarungi derasnya sungai bebatuan, kami istirahat sejenak untuk mengembalikan tenaga yang terbuang. Banyak hal yang kami lakukan saat istirahat, foto bareng dan loncat dari atas batu besar. Kebetulan disini, sungainya sangat dalam sekitar empat meter, jadi aman buat kami loncat dari atas batu. Bukannya istirahat berdiam diri, tapi justru melakukan hal yang lebih gila lagi. "Ayook loncaaatt !!!", Teriakan teman-teman yang lainnya. 




Waktu masih pagi, kami segera melanjutkan perjalanan lagi menuju garis finish. Masih menyisakan satu kilometer dan tantangan selanjutkan lebih gila lagi. Kami harus melewati beberapa air terjun mini yang airnya cukup deras. Keceriaan ditambah sedikit ketegangan karena melihat medan yang dilalui cukup menguras tenaga dan fisik pastinya. Untung saja teman-teman dari tim Sagara selalu mendampingi kami berdelapan. Wajah yang tadinya tegang, berubah menjadi ceria setelah sampai di garis finish. Alhamdulillah



Beberapa medan dari soft hingga hard sudah kami lewati semua. Keceriaan semakin terlihat ketika semua teman-teman gak ada yang mengalami masalah kesehatan. Semuanya fun and happy. 

Rasanya gak ingin cepet-cepet selesai. Mengarungi Sungai Tiu Kele sejauh dua kilometer selama dua jam rasanya belum cukup. Ingin kembali lagi kesini dengan tantangan baru. Semoga saja diberikan kesehatan dan umur panjang oleh Allah SWT. Amin

Salah satu ciptaan Allah SWT yaitu Alam Marente, Sungai Tiu Kele yang sangat mempesona dan membuat saya jatuh cinta. Datang jauh-jauh dari Lombok hanya untuk mencoba olahraga satu ini di Sungai Tiu Kele karena destinasi ini sangat luar biasa indahnya.

Salut dengan warga Desa Marente yang penuh semangat bareng-bareng memajukan desanya dalam bidang ekonomi dan pariwisata. 

Thank's to all ( Bapak Din sekeluarga, Mas Hans, Mas Wandi, Mas Aen, Mas Samiaji, dan tim ). Terimakasi sudah mengenalkan saya pribadi tentang Desa Marente bersama alamnya. 

Catatan :

Paket River Tubing :
- 75 ribu ( 2 km ) selama 2 jam per orang
- 50 ribu ( 1,5 km ) selama 1 jam  per orang
- 30 ribu ( 1 km ) selama 30 menit per orang

Instagram : marente_ecotourism, sammyajji, wan_abdoell, jabrickaen ( kontak yang bisa dihubungi bila ingin River Tubing ).

Penulis : Lazwardy Perdana Putra
google.com

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pengalaman Baru : Naik Boat di Danau Beratan, Bedugul

Siapa yang gak kenal Bali dengan keindahan pantai dan budayanya. Hampir semua destinasi di Bali sudah mainstream . Apalagi kalau sudah yang namanya long weekend , jangan diharap bisa menikmati alam Bali sendirian. Bus-bus pariwisata dan kendaraan lainnya berjejer dan membuat jalur di kawasan wisata macet total. Itu pengalaman yang saya rasakan di Bali minggu yang lalu. Agak sedikit curhat di awal tulisan mengenai kemacetan di Bali yang sudah terasa saat ini. Beda dengan keadaan Bali dua puluh tahun yang lalu, disaat saya pertama kali ke Bali. Lengang, gak panas dan gak macet. Oke... Kita lupakan kemacetan di Bali akhir-akhir ini. Kita bahas hal-hal yang menarik di Bali saja. Salah satunya tempat yang sempat saya kunjungi saat ke Bali kemarin, tepatnya di bagian utara Bali. Tempatnya dingin, adem, sejuk, jauh dari polusi dan kece pastinya. Fotoan kece di atas boat dengan latar Pura Ulun Danu, Danau Beratan Welcome Danau Beratan !!! Kalian

Kuliner Lagi di Bebek Goreng Pondok Galih : Gajah Mada, Lombok

Kalau ditanya tempat makan yang nyaman dengan penampilan kece di seputaran Kota Mataram. Saya langsung menjawab Bebek Goreng Pondok Galih Gajah Mada. Sudah lama juga saya gak mereview tempat makan sambil kulineran. Akibat terlalu lama virus Covid-19 menghantui kita, sampai-sampai mau makan keluar saja harus mikir beribu kali. Pertimbangannya pastinya keamanan dan kesehatan diri sendiri. Untuk kali ini saya gak mau kehilangan momentum. Kebetulan ada libur empat hari dan gak traveling kemana-mana. So, saya bareng keluarga berencana pergi kulineran ke tempat yang belum didatangi. Wah, ini yang saya tunggu-tunggu. Saya pun merekomendasikan mencoba olahan bebek yang cukup terkenal di Kota Mataram, yaitu Bebek Goreng Pondok Galih. Dari namanya saja agak kesunda-sundaan ya. Memang bener, resto ini bernuansa khas Sunda.  Gimana ceritanya ?. Pasti seru dong. Buat yang gak berminat sama tulisan ini, bisa leave . Tapi buat kalian pembaca setia blog ini, pasti sudah gak sabaran sama cerita-cerita

Nama Menu Makanan Minuman yang Unik di Warung Meekow

Kalau hujan gini, enaknya ngebahas tentang makanan kali ya. Udara dingin dikala hujan menggoda, ujung-ujungnya larinya ke perut, laper guys. Nah, ngebahas makanan, saya punya review sebuah warung makan yang rekommended buat dicoba. Namanya Warung Meekow. Sudah pasti di media sosial tepatnya instagram, sudah ramai sekali ini tempat tongkrongan. Kalau gak salah sekitar akhir tahun 2020 lalu, tempat ini dilaunching. Sayangnya saya gak sempat datang di acara launchingnya, lebih tepatnya gak diundang,hehehe...curhat.  Kenapa saya review tempat nongkrong ini ?. Alasannya, karena beberapa teman menyarankan untuk datang mencicipi menu-menu enaknya. Jadi penasaran dong, so akhirnya saya datang untuk pertama kalinya bareng temen-temen kantor di jam makan siang. Gak puas hanya datang sekali, seminggu kemudian, saya kesini lagi bareng anak istri. Over all , pelayanan yang cukup memuaskan dan makananya enak, jadi saya review (gak ngendorse).  Dari informasi yang saya dapat, pemilik Warung Meeko