Saturday, 31 October 2026

Nonton Race Moto3 Dari Sudut Yang Berbeda : Sirkuit Internasional Mandalika


Gak terasa Motogp Mandalika sudah digelar selama lima tahun. Setiap tahunnya, mata selalu tertuju ke Pulau Lombok. Saya yang anak kampung sini saja masih gak nyangka, Motogp bisa digelar di Lombok. Dengan segala kekurangan dan kelebihan, kita mampu berbicara di dunia bahwa Indonesia juga punya sirkuit yang indah di dunia. Salah satunya, Sirkuit Internasional Mandalika. 

Kalian pastinya sudah mengetahui lokasi sirkuit ini. Sirkuit Internasional Mandalika terletak di kawasan KEK Mandalika, Kuta, Kab. Lombok Tengah. Sirkuit ini mulai dibangun sekitar tahun 2019 dan diresmikan di tahun 2021. Sirkuit Internasional Mandalika memiliki panjang lintasan kurang lebih 4,3 kilometer dengan memiliki 17 tikungan. Sudah melahirkan juara kelas Motogp yang berbeda di setiap tahunnya. 

Di tahun ini awalnya saya gak berencana untuk nonton langsung ke sirkuit karena pengalaman yang sebelum-sebelumnya. Dimana kita rela panas-panasan saat menuju sirkuit. Parkiran kendaraan yang jaraknya cukup jauh. Rebutan suttle bareng penonton lainnya di saat sedang ramai-ramainya. Berjemur di atas tribun saat balapan dimulai. So, persiapan kalau ke sirkuit itu butuh effort lebih. Apalagi jarak dari rumah ke sirkuit cukup jauh. Kurang lebih satu jam perjalanan menggunakan motor atau mobil. Itu kalau situasi normal, kalau ketemu macet bisa dua jam-an. 


Dua hari menjelang balapan tepatnya di Hari Jumat, saya mendapatkan tiket dari salah satu teman. Tiketnya berbentuk gelang seperti biasanya. Tapi warnanya berbeda yaitu warna hijau. Tahun sebelumnya, saya mendapatkan tiket berwarna merah. Artinya mendapatkan tribun di area tengah sirkuit. 


Bisa baca disini  : Nonton Motogp Mandalika 2025


Sedangkan warna hijau, kita mendapatkan zona di luar sirkuit. Tepatnya di gate 3 atau zona I,J,K dan L. Kebetulan saya mendapatkan zona I atau kita biasa menyebutnya tribun merah putih karena kursi tribunnya perpaduan warna merah dan putih seperti warna bendera Indonesia. 


Mendadak saya senang sekali dapat tiket di zona I. Selama empat tahun nonton langsung, baru tahun ini dapat nonton di zona I. Posisi tribunnya ada di sebelah barat sirkuit atau berada di tikungan 15,16 dan 17. Sebenarnya banyak yang mengincar tribun ini karena dari sini, mata dapat melihat para pembalap mencapai garis finish karena tribun ini berhadapan langsung dengan lintasan panjang dan tikungan mematikan sebelum garis finish. 


Tapi karena tribun ini merupakan tribun beratapkan langit, jadinya orang-orang agak ragu mau nonton balapan sambil berjemur. Kalau bule mah suka di tempat seperti ini karena kulit mereka putih. Lah kalau saya sudah hitam gini, bisa-bisa kayak ikan teri yang sudah dijemur berminggu-minggu nanti. Bukannya tambah hitam tapi kulit jadi kering. 


Tiket Motogp kali ini berlaku untuk tiga hari. Dimulai hari Jumat hingga race di Hari Minggu. Berbeda di tahun pertama digelar, tiket gelang dibedakan per harinya. Harganya pun berbeda ketiga harinya. Tapi kalau sekarang harga sudah termasuk nonton tiga hari. Terserah mau ke sirkuit kapan. Tiga hari juga gak masalah. Yang penting jangan hari Senin karena yang kalian lihat nantinya, panitia lagi bongkar panggung konser. 


Berhubung jarak dari rumah cukup jauh, saya pergi nontonnya di Hari Minggu saja. Itupun rencananya mau nonton balapan kelas Moto3 saja. Mau lihat secara langsung Veda Pratama balapan di sirkuit. Pembalap kebanggaan Indonesia diharapkan mampu naik podium di rumah sendiri. 


Cuaca di Minggu pagi cukup cerah. Kebayang nanti di sirkuit pasti terik banget. Persiapan buat nonton sudah beres. Dari topi, kacamata hitam, baju warna putih, sunblock, dan terpenting bawa botol termos satu liter yang isinya air mineral es. 


Berangkat dari rumah jam sembilan pagi menggunakan motor. Estimasi sampai di sirkuit sebelum race Moto3 yang jadwalnya dimulai jam dua belas siang. Sepanjang jalan By Pass BIZAM, kondisi lalu lintas ramai lancar. Motor dan mobil pun cukup ramai yang melintas. Begitu juga dengan beberapa club motor yang datang dari luar Lombok sedang berkumpul di salah satu SPBU jalur lintas sirkuit. 


Gak begitu terburu-buru, saya bawa motor santai saja. Oh ya saya berangkat berdua bareng adik, tapi bawa motor masing-masing. Tribunnya nontonnya pun sama. Setibanya di bundaran bandara BIZAM, lalu lintas cukup padat. Disini penonton yang memiliki gelang di zona VIP, paddock, A, B, C, D, E, F, G dan H diarahkan melalui By Pass Mandalika atau mengarah ke Pantai Tanjung Aan. Sedangkan bergelang hijau di zona I, J, K dan L diarahkan melalui jalur Desa Sade dan Kuta Mandalika. 


Untuk jarak ke sirkuit  kurang lebih sama. Tapi untungnya yang bergelang hijau, parkir kendaraannya gak jauh dari tribun. Oke, saya pun melalui jalur Desa Sade. Sudah lama rasanya gak melalui Desa Sade. Kondisi lalu lintas arah Desa Sade gak begitu ramai dibandingkan melalui jalur By Pass Mandalika. 






Singkat cerita, melewati Desa Sade yang sedang proses pembangunan kembali paska musibah kebakaran hebat yang menghanguskan hampir seluruh rumah adat beberapa bulan yang lalu. Sampai di Bundaran Kuta Mandalika, petugas standby mengarahkan kendaraan yang akan memasuki area parkir. Saya pun diminta untuk jalan terus hingga Hotel Pullman, salah satu hotel bintang lima yang baru dibuka di daerah Kuta Mandalika. 


Sedangkan ada puluhan kendaraan yang mengarah ke arah berbeda. Sempat bingung tapi masih mengikuti instruksi petugas. Akhirnya sampai juga di salah satu area parkir tepat di persimpangan yang akan mengarah ke Hotel Pullman. Terlihat ratusan kendaraan roda dua sudah terparkir. Petugas sudah standby disini. 


Tanpa ragu saya masuk ke area parkir dan dipandu oleh salah satu petugas parkir. Untuk masuk ke area parkir, kita membayar 20 ribu per motor. Ini parkir resmi dan pastinya aman karena dijaga ketat oleh petugas. 


Setelah memarkirkan motor, saya berjalan menuju ke tempat shelter bertuliskan Gate 3. Tapi anehnya, disini banyak bapak-bapak ojek yang menawarkan mengantar penonton hingga sampai di tribun. Awalnya saya menolak tawaran bapak ojek. Pas di shelter, saya bertanya ke salah satu petugas untuk suttlenya datangnya lama apa gak. Ternyata petugasnya menyarankan untuk saya berjalan kaki karena jarak ke tribun gak begitu jauh. 


Sekarang bukan masalah jaraknya yang dekat tapi saat itu panas banget. Gak sanggup rasanya untuk jalan kaki karena saya harus menjaga kondisi tubuh agar gak dehidrasi. Lumayan juga jalan kaki saat sinar matahari sedang terik-teriknya. 


Akhirnya saya memutuskan untuk naik ojek saja seharga sepuluh ribu rupiah. Mau naik ojek mana pun, tetap harganya dipatok sepuluh ribu. Gak ada aturan tawar menawar ya. Ini harga yang sudah disepakati sesama bapak-bapak ojek. 


Naik ojek sepuluh ribu eh ternyata bener, jaraknya hanya seratus meter saja. Gak apa-apalah. Hitung-hitung bagi rezeki kepada bapak ojek. Turun dari ojek, saya berjalan menuju Gate 3. Di kiri kanan trotoar, banyak sekali pedagang jersey bertema Motogp. Dari penjual kaos, jersey tim, kain pantai dan topi. Saya hanya melihat sepintas saja. Gak tertarik buat beli karena pastinya harga saat event itu jauh lebih mahal. 





Sesampainya di Gate 3,saya langsung menuju area pengecekan tiket dan barang bawaan. Disini suasananya gak terlalu ramai seperti di gate lain yang berada di area tengah sirkuit. Enak juga ternyata, menghemat waktu dan tenaga. 


Pengecekan tiket dan barang bawaan begitu ketat. Satu per satu penonton dicek barang bawaannya. Petugas meminta tas bawaan dibuka dan memeriksa apa saja yang dibawa. Gak ada drama barang bawaan disita petugas, saya langsung menuju tribun yang jaraknya hanya beberapa langkah dari pintu masuk. 


Tribun zona I sudah terlihat ramai. Sampai di tribun sedang berlangsung balapan Asia Talents Cup. Sorak sorai penonton terdengar riuh. Pembalap asal Indonesia yang saya lupa namanya keluar jadi juara dan naik podium. Saya gak langsung naik ke tribun karena lagi menyimpan tenaga buat nanti race Moto3. 


Kebayang panas banget di atas tribun. Nengok ke langit, gak ada satupun awan putih terlihat. Gila ini bisa buat kita gosong kalau berlama-lama di atas tribun. Saya dan adik memutuskan duduk santai di bawah tribun. Gak hanya kami berdua saja, tapi penonton lainnya pun ikutan bersantai di bawah tribun besi dan baja. Kalau balapannya sudah mau dimulai baru kita naik ke tribun. Asyik juga, ada kesan tersendiri nonton di tribun ini. Hehehe. 






Di bawah tribun ada yang makan siang, ngopi, ngemil dan tidur siang. Niat banget ada yang sempat-sempatnya tidur siang. Emang enak kalau duduk di bawah tribun. 


Kurang lebih setengah jam sebelum race Moto3 dimulai, ada parade pembalap Motogp yang memutari sirkuit sambil menyapa para penonton di tribun. Mereka naik di atas sebuah minibus tanpa atap. Memakai jersey tim masing-masing. Melambaikan tangan dan melepaskan senyuman hangat. 


Hampir seluruh pembalap saya kenal. Ada abang Pecco, Jorge Martin, Pedro Acosta, dan si calon juara dunia tahun ini yaitu abang Marc Marquez yang masih mencari wangsit buat menaklukkan Sirkuit Mandalika. Semoga dia bisa menaklukkan sirkuit ini setelah "Disembek" sama Mamiq Iqbal (Gubernur Prov.Nusa Tenggara Barat) saat baru tiba di Lombok. 


Saya dan adik, naik ke atas tribun dan duduk di bagian tengah karena di bagian atas sudah dipenuhi penonton yang sudah dari tadi duduk berjemur. Saya menuju tribun yang paling selatan karena dari sini kita bisa melihat lintasan lurus dan garis finish. 


Dari kejauhan terlihat tribun zona A dan B, paddock dan tribun zona H. Di sisi selatan terlihat tribun zona J dan K sudang sesak oleh penonton. Tribunnya beratap jadinya enak nonton disana. Next time, tahun depan semoga bisa dapat tiket di tribun J,K atau L. Dari pagi sampai sore pastinya bakalan betah duduk tanpa harus panas-panasan.


Setelah parade pembalap Motogp selesai, saya turun dari tribun lagi dan duduk di bawah kolong tribun buat menghindari sinar matahari yang sangat terik. Nyempatin beli air mineral lagi di depan tribun. Ada beberapa stand yang buka. Dari menjual minuman, makanan dan pernak pernik bertemakan Motogp. Fasilitas umum lainnya yang disediakan oleh panitia yaitu toilet portabel yang jumlahnya cukup banyak. Ada juga tenda mushola bagi yang muslim untuk melaksanakan shalat Dzuhur karena kalau ke masjid, kita harus keluar sirkuit lagi dan jaraknya cukup jauh.





Waktu sudah menunjukkan jam dua belas kurang, suara motor yang digeber terdengar dari paddock. Tandanya sebentar lagi race Moto3 segera dimulai. Para penonton yang berada di bawah kolong tribun berbondong-bondong naik ke atas tribun. Saya pun ikutan naik dan ternyata kursi sudah hampir terisi penuh. Untungnya di bagian tengah masih ada kursi tersisa. Siapa cepat dia yang dapat.


Gak peduli siang itu terkena teriknya matahari. Untungnya langit agak berawan. Angin laut berhembus ke arah kami. Cukup membuat suasana menjadi sedikit sejuk. Sorak sorai penonton dari berbagai tribun terdengar meriah. Layar LED raksasa yang berada di beberapa titik terlihat persiapan race di garis start. 


Kok saya deg-deg kan ya. Ada rasa haru dan bangga bisa melihat Veda Pratama bisa melangkah sejauh ini. Penonton lainnya juga agak tegang dan berharap Veda bisa meraih podium. Peluang besar bisa menang di rumah sendiri. Seluruh bangsa Indonesia berdoa yang terbaik buat Veda Pratama.


Saya yang sudah menggunakan jersey Timnas Indonesia, mendukung penuh Veda Pratama bisa mengharumkan Indonesia di rumah sendiri. Semoga gak terjatuh saja dan bisa finish di barisan terdepan. Helikopter Dorna sudah terbang tinggi di atas Sirkuit Mandalika. Suara komentator berbahasa Indonesia terdengar di speaker yang ada di beberapa sudut pagar sirkuit.


Ketika pembalap sudah berada di posisinya masing-masing dan akan bersiap memulai balapan. Terdengar suara penonton yang meneriakkan "Veda" Veda" membuat seluruh sirkuit menggema meneriakkan nama Veda Pratama.


Lampu hijau sudah menyala,suara motor yang digeber terdengar sangat berisik. Pembalap sudah adu ketangkasan menaklukkan tikungan demi tikungan Sirkuit Mandalika. Para pembalap saling salip menyalip. Veda sempat berada di posisi kedua sehingga kita semua bersorak senang. Sayangnya sampai di akhir balapan, Veda finish di posisi enam. 


Pembalap yang keluar menjadi juara yaitu Maximo Quiles, pembalap asal Spanyol yang sekaligus memastikan mengunci gelar juara dunia kelas Moto3 musim 2026 di Sirkuit Mandalika. Meskipun gagal naik podium, kami semua bangga Veda bisa di posisi enam dan masih berada di rangking sepuluh besar dunia di kelas Moto3. Luar biasa buat Veda Pratama.


Balapan yang sangat seru sampai saya gak merasakan panasnya matahari dari atas tribun. Seluruh mata tertuju ke Veda Pratama. Lap demi lap kami menantikan Veda masih berada di barisan terdepan bersaing bersama para pembalap favorit dari berbagai belahan dunia. Berharap bisa sukses sampai garis finish.


Menurut saya, di tahun depan Veda Pratama bisa berkembang lagi menjadi pembalap yang mampu bersaing dengan pembalap dunia lainnya di kelas Moto3. Ini tahun pertamanya di kelas Moto3, semoga tahun depan dan seterusnya, Veda bisa sampai di kelas Motogp. Good Job Veda !.


Jadi, masih kapok nonton Motogp ke Sirkuit Internasional Mandalika lagi !. Ditunggu di tahun depan. 


Penulis : Lazwardy Perdana Putra

0 comments:

Post a Comment