Friday, 10 July 2026

Mengexplore Air Terjun Ai Kalela Jereweh : Gak Ada Obat

 


Perjalanan dari Lombok hingga menginjakkan kaki di Jereweh, salah satu kota kecamatan yang ada di Kab.Sumbawa Barat, tenaga masih lebih dari cukup karena sepanjang perjalanan kami merasa bahagia. Ditambah lagi anak-anak semakin semangat diajak melanjutkan perjalanan. Syukurnya kami semua dalam keadaan sehat dengan waktu istirahat yang lebih dari cukup. 

Setelah dari Pantai Balad, kami kembali ke penginapan untuk packing barang. Kebetulan siangnya kami langsung check out dan melanjutkan perjalanan ke lokasi berikutnya. 

Jaraknya kurang lebih dua puluh kilometer dari Kota Taliwang. Ini alasan kami punya rencana berkunjung kesini. Kebetulan juga sudah janjian bareng temen kuliah istri dulu yang rumahnya di Jereweh. 

Hari itu tepat Hari Jumat, kami check out sekitar jam sebelas siang. Target kami, sampainya di Jereweh sebelum shalat Jumat. Kemanapun kita jalan, jangan lupa melaksanakan kewajiban kepada Allah SWT agar perjalanan kita lancar dan selamat sampai balik ke rumah lagi. 

Estimasi kurang lebih lima belas menit motoran dari Taliwang ke Jereweh. Jalur yang kami lewati yaitu Desa Labuan Lalar yang merupakan desa tanah kelahiran nenek dan bapak saya sendiri. Kebetulan keluarga di Labuan Lalar sudah gak ada. Jadinya kami gak sempat mampir. 

Jalur yang kami lewati yaitu jalan yang berkelok-kelok. Melewati pinggir pantai dengan view yang sangat eksotis. View pantai di Sumbawa Barat ini gak kalah dengan Lombok punya. Melewati Desa Labuan Lalar, kurang lebih lima menit berjalan, kami sudah sampai di pertigaan kota kecamatan Jereweh. 





Kami menuju rumah temen istri yang bernama Mbak Afri. Rumahnya gak jauh dari jalan besar. Memasuki perkampungan warga khas Sumbawa dengan rumah-rumah panggung yang masih terjaga dan kita bisa lihat sampai sekarang. 

Sesampainya di depan rumah Mbak Afri, kami disambut dengan hangat. Anak-anak juga gak rewel bertamu ke rumah orang. Istirahat sebentar, saya lanjut menuju Masjid Besar Nurul Ihsan untuk melaksanakan shalat Jumat yang lokasinya gak jauh dari rumah mbaknya. 

Selesai Shalat Jumat, saya balik ke rumah mbaknya. Lanjut makan siang yang sudah dihidangkan oleh tuan rumah. Setelah makan siang, kami sudah janjian bakal mengexplore Air Terjun Ai Kalela. 

Waktu menunjukkan jam setengah dua siang. Kami langsung menuju air terjun yang jaraknya gak begitu jauh dari perkampungan warga. Berhubung ditemani oleh orang sini, jadinya kami merasa aman saja.

Ini kedua kalinya saya sendiri datang ke Ai Kalela. Sudah hampir delapan tahun lamanya sejak pertama kali kesini. Jadinya agak lupa jalur yang dilewati. Seingat saya, kita bakalan lewat jalur tanah di tengah sawah. Belum lagi ada sedikit tanjakan. Pokoknya bakalan seru perjalanan ini. 

Jarak lokasi air terjun dari rumahnya Mbak Afri itu kurang lebih dua kilometer. Keluar perkampungan warga, kami melewari jalur persawahan. Awalnya kondisi jalan aspal mulus, belok ke kiri mendadak kondisi jalan berubah menjadi berbatu dan berdebu.

Untungnya pakai motor Nmax yang ukurannya lebih besar dan ban motor yang terpenting. Tapi disini tantangannya dimulai. Kami harus melewati jalanan berbatu yang sempit. Memasuki kebun warga dan jalanan sempit mulai menanjak. Viewnya sebenarnya keren. Area persawahan yang dikelilingi oleh perbukitan hijau. 

Cuaca juga sangat mendukung. Tapi karena jalanan berdebu dan berbatu, fokus kami hanya gimana caranya keluar dari rintangan ini dengan selamat terutama ban motor gak ada masalah. Itu saja yang saya khawatirkan, semoga ban motor gak ada yang pecah karena beban kami yang cukup berat. Sementara Mbak Afri dan kedua anaknya, santai sekali melewati jalanan berdebu dan berbatu. Mungkin karena orang sini dan sudah biasa datang kesini kali ya.

Kurang lebih lima belas menit waktu yang ditempuh, sampai juga kami di pintu masuk Air Terjun Ai Kalela. Berhubung Hari Jumat dan datangnya siang hari, otomatis sepi pengunjung. Saya memarkirkan motor di area parkir yang sudah disediakan. Disini sudah ada penjaga parkirnya, jadi kendaraan kita sangat aman. 




Terlihat ada beberapa pengunjung yang datang lebih pagi dari kami. Mereka datangnya rombongan, keliatannya dari luar pulau. Selain kami ada warga lokal yang datang kesini buat mandi siang. Terlihat pakaian mereka basah kuyup. Kebanyakan emak-emak yang bawa bocil masing-masing. 

Gak hanya mereka saja, tapi kami membawa para bocil juga. Untungnya mereka aman-aman saja di atas motor. Bahkan di luar ekspektasi saya dan istri, mereka ketawa-ketawa saat motor bergetar karena menginjak batu-batu krikil. 

Setelah memarkirkan motor, kami berjalan kaki menyusuri hutan melewati jalanan tanah. Fasilitas umum disini ada kamar mandi dan toilet untuk berbilas. Hanya saja, kondisinya agak kurang terawat. Disini juga gak ada tiket masuk ke air terjun. Hanya kita bayar sukarela saja kepada bapak penjaga parkirnya. Kurang tau juga kalau weekends, mungkin ada petugas yang menarik uang tiket masuk ke lokasi air terjun.

Perjuangan menuju air terjun belum sampai di parkiran saja. Tapi kami harus menyusuri hutan dengan trek menanjak. Apalagi ini kali pertamanya anak-anak kami bawa ke alam liar. Gak kebayang jalur treknya seperti ini. Dulu sepertinya aman-aman saja. Apa saya sudah lupa ya kondisi treknya seperti ini. Andai masih ingat, mungkin mikir-mikir bawa anak-anak kesini. 

Sekitar seratus meter berjuang menyusuri hutan liar dengan jalanan setapak sempit. Suara air terjun sudah terdengar. Terdengar pula, suara anak-anak yang sedang mandi disini. Gak terasa, Air Terjun Ai Kalela sudah terlihat. Ujian terakhir yaitu menuruni jalanan tanah menuju bawah sungai. Gak semudah itu turun kebawah dalam keadaan bawa anak kecil. Fokus menjaga mereka agar aman sampai bawah. 

Welcome Air Terjun Ai Kalela !. 

Mengenal air terjun ini, banyak warga desa yang menamakan air terjun ini dengan sebutan yang berbeda-beda. Ada yang menyebutnya Air Terjun Ai Koa, Air Terjun Jantup dan nama yang tertulis di papan petunjuk, membuat kami kebingungan yaitu Air Terjun Semporon Tangkil. 

Saya pernah bertanya pada saat datang pertama kali kesini kepada salah satu warga, ternyata Semporon Tangkil adalah sebutan lain dari Air Terjun Ai Kalela dan nama Ai Kalela lebih dikenal oleh warga Jereweh maupun dari luar Jereweh. 






Meskipun saya sudah pernah datang kesini, tapi rasanya bahagia bisa berkunjung lagi ke salah satu air terjun terindah di Pulau Sumbawa. Kolam alami dengan air berwarna hijau toska. Bebatuan yang putih kecokelatan. Air terjun yang jatuh ke kolam alami dengan derasnya. 

Beruntungnya kami datang kesini pas peralihan dari musim hujan ke musim kemarau. Jadi debit air terjunnya masih cukup melimpah. Bebantuan yang umurnya ribuan tahun lalu membentuk sebuah lelukan dan ruang di balik air terjun. Mirip seperti air terjun Mata Jitu yang ada di Pulau Moyo. 

Kolam alaminya cukup dalam dan gak disarankan buat kalian yang gak jago renang untuk berenang di kolam alami ini. Bagi yang bawa anak kecil juga harus ekstra hati-hati. Orang tua jangan sibuk foto-fotoan saja. Ingat jaga anak yang lebih penting  !. 

Untuk airnya cukup dingin dan udara disini sangat sejuk. Sinar matahari menyinari dari balik rimbunnya pepohonan hutan alami. Destinasi alam yang masih cukup dijaga dan belum banyak orang luar yang datang kesini. 

Pointnya tempat seperti ini harus dijaga dari sisi kebersihan, gak ada sampah plastik dimana-mana, gak menebang pohon sembarangan. Gak merusak benda apapun yang ada di sekitar area destinasi. 

Waktu yang pas buat datang kesini saat pagi hari dan selain hari libur sekolah dan kerja. Untuk mendapatkan alaminya itu bisa datang di luar waktu libur panjang juga. Menikmati serasa kolam dan air terjun milik sendiri. 

Btw, istri dan anak-anak sangat bahagia diajak kesini. Awalnya saya menawarkan untuk ke tempat lain yang lebih dekat dengan penginapan di Kota Taliwang. Tapi berhubung mau jalan-jalan ke Jereweh, yasudah kita gass ke Air Terjun Ai Kalela. 

Over all, buat yang akan merencanakan mengexplore Sumbawa Barat, gak ada salahnya berkunjung kesini. Lokasinya gak jauh dari pusat kota kecamatan. Hanya saja dicek kembali kendaraan yang akan dibawa karena jalur menuju kesini masih benar-benar alami. 

Destinasi wisatanya aman dan nyaman. Sepanjang perjalanan dari pusat kota menuju lokasi air terjun jika berpapasan dengan warga desa, mereka pada ramah semua. Begitu juga dengan petugas yang menjaga tempat tersebut juga sangat ramah. 

Saking ramahnya, gak tega kami gak memberikan sekedar untuk beli rokok dan kopi. Bapaknya menerima dengan ramah. Itu yang saya suka kalau mengexplore Pulau Sumbawa, warga lokalnya ramah dan gak segan-segan mau menolong. 

Singkat cerita, setelah menikmati view air terjun Ai Kalela yang menjadi kisah terindah tersendiri bagi anak-anak dan istri. Pastinya akan dikenang sampai mereka besar nanti (kecuali istri yang memang sudah besar). 

Pulang dari air terjun, waktu sudah menuju sore hari. Sebelum ashar, kami berpamitan kepada Mbak Afri dan keluarga. Sayangnya suami mbaknya belum pulang kerja, jadinya gak sempat bertemu. 

Setelah lepas dari Jereweh, kami menuju arah utara yaitu Desa Alas, Kab. Sumbawa. Gimana keseruan cerita kami di Desa Alas, ditunggu ceritanya di minggu depan  !. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra






0 comments:

Post a Comment