Mencicipi Ayam Merangkat Khas Pasar Bambu Bonjeruk

Makan bareng di area kebun bambu ?, mungkin belum pernah kebayang sebelumnya. Nah, di Pulau Lombok ada tempat makan baru nan asyik yang berada di kebun bambu gitu. Sebut saja namanya Pasar Bambu Bonjeruk. 

Awal mengetahui tempat ini pas Pak Sandiaga Uno datang ke Lombok, tepatnya ke Desa Wisata Bonjeruk dan meresmikan Pasar Bambu Bonjeruk beberapa bulan yang lalu. Terlihat unik dan buat saya penasaran ingin datang kesini untuk menikmati berbagai kuliner yang disajikan. 

Maunya sih pas Bulan Ramadhan lalu, tapi berhubung waktu gak memungkinkan buat kesini, jadi datangnya setelah Lebaran Idul Fitri. Berawal dari ajakan teman-teman kantor buat makan siang disini setelah paginya bertugas. Sambilan refreshing dan mencari menu makan siang berbeda dari biasanya. Saya seneng banget akhirnya kesini juga.


Jam makan siang tiba, jadilah kita serombongan berangkat ke Pasar Bambu Bonjeruk. Dari informasinya tempat makan ini bukanya dari jam 11 siang sampai 8 malam lhoo ya. Jadi jangan khawatir yang mau makan malam, bisa datang kesini. 

Ohya, lokasi Pasar Bambu Bonjeruk terletak dai Jalan Raya Ubung, Desa Bonjeruk, Kec.Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah. Jalurnya dari Kota Mataram, kita mengambil arah ke Kota Praya. Di pertigaan Ubung, belok kiri dan gak jauh dari Puskesmas Ubung di sebelah kanan, lokasi Pasar Bambu Bonjeruk. Kurang lebih memakan waktu hanya 20 menit saja dari Kota Mataram. Lebih jelasnya di akhir tulisan, saya kasi mapsnya ya. 


Dibilang apes sih gak juga, di pertengahan jalan hujan lebat turun. Sesampainya di area parkir Pasar Bambu hujan semakin lebat. Kami di dalam mobil terjebak. Mau turun gak bawa payung. Kalau gak turun, gak bisa makan,hahaha. Untungnya para pelayan yang cantik-cantik sigap membantu membawakan payung buat pengunjung yang baru datang. Kondisi parkiran saat itu hampir full yang didominasi kendaraan roda empat semua. Sekedar saran saja, mungkin area parkir ditata kembali sehingga terlihat lebih rapi kedepannya.

Meskipun sudah ada payung, tetap saja basah kuyup. Dan sepatu kotor penuh dengan lumpur. Gak apa-apa, ini namanya ngetrip ala-ala. Seru sih iya. Kami pun tertawa tanpa ada keluhan karena hujan. Sejauh ini enjoyed semua.

Sesampai di lokasi, kami mencari tempat duduk. Siang itu tempat sudah hampir terisi semua oleh pengunjung. Untungnya di sisi bagian belakang, masih ada tempat kosong dan cukup luas buat kami bersepuluh. Semua tempat makannya berupa berugaq (gazebo) gitu atau bahasa umumnya "saung".



Dari segi penampilan, tempatnya ethnic banget. Kebun bambu disulap menjadi tempat makan yang cakep dan Instagramable. Semua tempat berupa berugaq bambu dengan atap dari alang-alang. Ada tiga lapak yang dibangun dari bambu dan alang-alang sebagai atap. Para pelayan juga semuanya menggunakan pakaian adat Sasak serba hitam semua. 

Dari infonya tempat makan ini berawal dari ide warga desa yang bernama Pak Dayat. Beliau bersama temannya mendapat ide membuat tempat makan yang berbeda dari lainnya. Dengan konsep etnic Sasak dengan berbagai macam menu masakan tradisional khas Sasak, Pasar Bambu Bonjeruk berhasil membuat pengunjung datang beramai-ramai kesini. 


Menu yang laris disini yaitu Ayam Merangkat. Ayam kampung yang dibakar kemudian disuir-suir dan diberi sambal terasi super pedas diatasnya. Disajikan di atas piring tanah liat dan daun pisang. 

Kalian tau kenapa dinamakan Ayam Merangkat ?. Dari penjelasan Pak Dayat, Ayam Merangkat berasal dari Merangkat yang artinya upacara prosesi di malam hari untuk menyambut calon pengantin wanita yang berhasil diculik oleh calon pengan pria. Masakan ini dikhususkan untuk calon pengantin. Sedangkan untuk rombongan yang hadir mendapatkan dalam bentuk porsi. 

Pasar Bambu Bonjeruk ingin memperkenalkan kuliner khas dari Desa Bonjeruk dan tradisi merangkat ini kepada para pengunjung yang datang terutama warga dari luar desa. Cukup unik sih. Ayam yang digunakan yaitu ayam kampung yang berusia kalau gak salah tiga bulan biar tulangnya lunak. Bumbunya juga harus pedas dan semuanya mentah dan minyak yang digunakan yaitu minyak kelapa alias bukan minyak goreng. Cocok nih buat yang doyan pedas, bisa pesen Ayam Merangkat satu porsi.


Selain Ayam Merangkat, ada juga menu Ikan Nila Goreng, Tempe Goreng, Ayam Kampung Goreng, dan Sayur Bening (Jagung dan Daun Kelor). Disini menunya pake paket lho ya. Satu paket yang berisikan Ayam Merangkat dan kawan-kawannya itu seporsinya 145 ribu untuk bertiga. Kalau menurut saya sih ini bisa untuk berenam. Porsinya lumayan cukup banyak. 

Tambahannya ada Pelecing Kangkung dan Urap. Sambel Pelecing Kangkungnya mantap banget. Rekommended dipasangkan dengan Ayam Merangkat. Jangan lupa pakai nasi putih ya biar tambah nikmat. Untuk cemilannya kami pesan lupis dan jajanan pasar lainnya. 



Menu penutupnya, saya memesan segelas kopi hitam Sasak hangat dengan gula sedang saja. Sangat pas diminum sambil menikmati hujan turun. Apalagi udara khas perkebunan bambu dari Pasar Bambu Bonjeruk sejuk banget. Tambah betah berlama-lama disini sambil ngobrol. 

Over all, saya suka datang makan ke Pasar Bambu Bonjeruk. Pelayanannya cepat sekali, para pelayannya juga ramah dan baik semua. Nila plusnya,  semua penampilan pelayannya serba tradisional dengan menggunakan pakaian khas gadis Sasak yang serba hitam. Cantik-cantik semua, buktikan dah buat para cowok-cowok yang masih jomblo, hehehe. 

Cara penyajiannya juga serba tradisional. Dari tempat cuci tangan menggunakan "ceret" yang terbuat dari tanah liat. Makanannya juga disajikan secara tradisional. Ditutup dengan "tebolak" berwarna merah dan semua hidangan ditaruh di atas daun pisang. Benar-benar menggunakan tradisi orang tua jaman dulu. 

Semuanya serba tradisional dan menarik buat sering-sering dikunjungi. Gak hanya Pasar Bambu Bonjeruk saja yang ada di desa ini, tapi ada beberapa destinasi wisata yang Desa Bonjeruk miliki. Kapan-kapan kita explore ya tempatnya !.

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Comments