Saturday, 15 February 2020


Sebagai seorang suami dan sekarang menyandang status sebagai seorang ayah, saya ingin sedikit berbagi cerita tentang perjuangan istri saya dalam melahirkan anak pertama kami berdua. Gak terasa kehamilan istri sudah memasuki sembilan bulan. Banyak persiapan yang sudah kami lakukan, dari menyiapkan pakaian bayi dan segala kebutuhan si kecil ketika sudah lahir nanti. Kami berusaha gak ada sedikitpun kebutuhan yang tertinggal. Insyaallah semuanya sudah siap.

Begitu juga dengan kesehatan istri dan anak. Sejak kandungan berumur sebulan sampai delapan bulan, kami berdua rutin ngontrol ke dokter tempat nantinya istri akan melahirkan. Alhamdulillah selama kehamilan berumur satu sampai menginjak di angka sembilan, kesehatan istri dan bayi sehat-sehat semua.

Kali ini saya akan menulis cerita yang cukup mengharukan buat saya dan istri alami selama proses persalinan. Gak ada yang menyangka kami berdua mengalami kisah yang cukup menegangkan. Siapa yang tau sebelumnya kalau ceritanya akan menjadi begini. Tapi itulah perjalanan hidup. Kami berdua hadapi dengan sabar dan tegar.

Cerita dimulai dari malam Jumat, tanggal 6 Februari 2020. Istri yang sudah dari sore hari sudah merasakan rasa gak enak di perutnya. Ketika malamnya, tiba-tiba istri memberitahukan ke saya kalau dia merasakan ada kontraksi. Awalnya dia ragu, tapi mau gak mau harus kasitau saya segera mungkin. Saya yang orangnya agak panikan langsung memberitahukan ke orang tua. Kami berdua sementara ini tinggal bareng orang tua saya karena istri dalam kondisi akan melahirkan. Ketika itu ada bercak darah di maaf (celana dalam) istri. Saya amati lebih lama, dan langsung saya bilang, "Yuk, kita segera ke rumah sakit !".

Kami berdua memutuskan pergi ke IGD Rumah Sakit Ibu dan Anak Permata Hati yang jaraknya gak terlalu jauh dari rumah. Rumah Sakit Ibu dan Anak Permata Hati merupakan rumah sakit khusus bersalin dan anak yang berada di Kota Mataram. Syukurnya waktu tempuh perjalanan dari rumah hanya lima menit saja. Selama perjalanan, istri hanya mengalami mules saja dan masih bisa diajak bicara.

Setelah sampai di IGD, istri langsung diperiksa oleh perawat jaga. "ibunya masih bukaan dua pak !", si perawat memberitahukan keadaan istri kepada saya. Terus saya menanyakan tindakan selanjutnya apa. "Istri bapak bisa dibawa pulang dulu ke rumah, nanti kalau sudah kontraksi lebih sering dan sakit lagi, baru dibawa lagi kesini !". Saya sempat bingung, kenapa gak ditunggu saja di IGD ya. Namanya juga kehamilan anak pertama, jadi banyak paniknya. Saya pun mengiyakan perintah si perawat. Kami berdua pulang ke rumah.

Liat jam tangan, waktu menunjukkan jam dua pagi. Kurang lebih satu jam istri saya diobservasi lebih dulu.  Gak terasa waktu begitu cepat berlalu. Hari Jumat dilewati dengan merasakan mules ringan saja. Lagi-lagi sebelum waktu Jumatan, istri mengalami kontraksi yang cukup sering. Cek celana dalam, bercaknya semakin melebar. Langsung saja kami ke IGD RS lagi. Hasil pemeriksaan disana, istri masih bukaan dua. Disuruh pulang lagi. Yoo wes, pulang lagi kita. Namanya juga yang pertama, jadi agak panikan, hehehe.

Karena penasaran saya iseng buka google. Banyak informasi yang menjelaskan gejala yang dialami oleh si istri. Ternyata gejala itu dinamakan kontraksi palsu. Kontraksi yang timbul ngilang sama seperti cowok yang PHPin ceweknya (fokus wooi).

Lanjut !.

Hari Jumat terlewatkan begitu saja sambil was-was kalau saja ada keadaan emergency lagi. Keesokan harinya, Hari Sabtu, tanggal 8 Februari. Keadaan istri masih tetap saja, mengalami kontraksi palsu. Gak ada kondisi yang begitu mengkhawatirkan. Bapak dan ibu mertua datang ke rumah untuk melihat keadaan anaknya. Alhamdulillah keadaan istri dalam kondisi sehat. Masih mengalami mules dan harus jalan mondar-mandir di dalam rumah.

Hari gak terasa sudah malam saja. Sekitar jam sepuluh malam, istri mengalami kontraksi yang begitu hebat. Gak mikir dua kali,saya langsung melarikan dia ke rumah sakit. Saya pikir sudah bukaan tiga atau empat.  Ortu, mertua dan adek-adek sudah saya beritahu. Setelah sampai di  IGD, istri segera menuju tempat tidur di ruang IGD. Suasana hening dan terdengar suara petir menyambar. Gak lama hujan pun turun. Syahdu banget dengan bercampur suasana menegangkan !.

Saat itu dokter jaga memeriksa istri saya dan ternyata informasi dari dokter, istri sudah pecah ketuban dini tapi masih bukaan 2. Istri pun ditangani oleh perawat jaga. Obat injeksi segera diberikan ke istri. Dokter jaga ketika itu memutuskan bahwa istri saya harus di opname dan dipindahkan ke ruang bersalin. Saya sangat cemas, tapi saya berusaha menenangkan dan terus berikan semangat  ke istri biar gak kendor.


Gak memakan waktu lama, kami sudah berada di sebuah ruangan yang hening bernama ruang bersalin. Istri beristirahat disini sambil menunggu detik-detik persalinan. Saya pun berada di samping istri apapun yang terjadi. Tepat jam sebelas malam, perawat di ruang bersalin datang untuk memeriksa istri saya kembali. Hasilnya masih bukaan dua. Cemasnya, kontraksi semakin menjadi-jadi sampai istri saya seorg diri harus merasakan sakitnya kontraksi. Saya pun dibuat mules dan cemas. 

"Ibunya masih bukaan dua, jadi harus diobservasi dulu selama empat jam", kata perawat ke saya. Waktu yang begitu lama buat saya dan istri. Waktu menunggu selama empat jam bersamaan dengan kontraksi yang begitu menyakitkan. Obat injeksi sudah masuk ke tubuh istri tapi gak memberikan perubahan menjadi lebih baik.

Mondar-mandir di ruang bersalin sambil menjaga istri yg sedang kontraksi. Ruangan yg bgitu hening. Hanya menyisakan suara rintihan istri menahan kontraksi yg begitu panjang. Sesekali saya keluar sebentar untuk bergantian dengan mertua untuk menemani si istri. Dokternya belum datang dan harus menunggu menunggu dan menunggu (kayak lirik lagu).

Jam dua pagi perawat datang lagi. Hasilnya masih bukaan dua. Gimana ini ?. Ada apa dgn istri hamba ya Allah ?. Kontraksi yg dibarengi dengan naiknya asam lambung, buat saya gak tega melihat rintihan istri sambil meneteskan air mata menahan sakitnya kontraksi.

Observasi kedua dari jam dua sampai enam pagi. Waktu yang sangat lama dan panjang bagi saya terutama buat istri. Ingin rasanya menjemput dokter spesialis biar istri saya cepat tertangani. Keluarga pun sudah menunggu terlalu lama di ruang tunggu pasien. Hujan turun dengan derasnya dan suara petir menyambar seolah-olah menyambut kehadiran si kecil. Entah kebetulan atau sudah jadi cerita, tumben-tumbenan hujan turun dengan derasnya dibarengi dengan kilatan petir (mirip film-film horor Indonesia), hahaha..kebanyakan nonton film.

Hanya doa dan usaha yang masih bertahan. Semangat istri yg sudah mulai kendor buat saya semakin cemas. Saya berusaha gak mikir yang macem-macem dulu. Yang ada berusaha memikirkan cobaan ini akan berakhir dengan kebahagiaan. Hanya fokus ke istri dan selalu menemani apapun yg terjadi.

Tepat jam enam pagi sehabis saya shalat subuh, perawat datang lagi. Hasilnya tetap sama, masih bukaan dua. Sedangkan air ketuban sudah mulai keruh dikarenakan si bayi sudah buang kotoran di dalam kandungan. Segala usaha sudah dilakukan. Beri minum istri air zam-zam,kurma dan makanan yang manis-manis buat memulihkan tenaga lagi.

Saya harus mengambil keputusan cepat. Dokter melalui telepon menyuruh istri saya untuk mengambil tindakan operasi. Tadinya kami berdua memutuskan untuk normal saja. Dari hasi USG sebelumnya, posisi bayi sudah bagus. Tapi keadaan berkata lain. Berubah keputusan, mau gak mau harus operasi sesar.

Tanpa pikir dua kali, saya langsung mengiyakan saran dokter. Keputusan yang Insyaallah terbaik. Tepat jam tujuh pagi, dokter bersama tim melakukan tindakan operasi. Tepat Hari Minggu, tanggal 9 Februari 2020, jam tujuh lebih lima belas menit pagi, anak laki-laki kami telah lahir. Jagoan yang sudah kami berdua tunggu selama sembilan bulan. Alhamdulillah istri dan si kecil selamat. Anak laki-laki kami berdua dalam kondisi sehat dan cakep lagi mirip seperti ayahnya, asyik.

Terimakasi kepada tim dokter dan bidan yang sudah bekerja keras menyelamatkan istri dan anak saya. Untung tindakan operasinya tepat waktu dan semuanya berjalan dengan lancar. Alhamdulillah


Sampai tulisan ini selesai dan diposting, keadaan istri sudah mulai membaik. Si kecil sehat dan sudah memaksa kami berdua untuk piket malam, hahahaha. Malaikat kecil kami beri nama panggilan Kenzi. Anak pertama yang menjadi kado terindah kami berdua di tahun ini. Hanya dua hari bermalam di rumah sakit, dokter membolehkan kami pulang ke rumah.

Pelayanan di Rumah Sakit Permata Hati menurut saya sangat luar biasa. Segala macam tindakan medis sudah sesuai dengan SOP yang berlaku. Dokter yang sengaja saya gak menyebutkan namanya demi kode etik yang menangani istri juga sangat ramah dan enak diajak diskusi. Terimakasi dok atas pertolongannya!. Para bidan dan perawat yang cukup ramah dan cukup profesional. Dari bagian gizi juga sangat ramah dan makanannya enak-enak. Cleaning Service juga sangat telaten membersihkan ruangan pasien sehingga tetap bersih dan nyaman buat kami. Terakhir yang paling penting yaitu pemberian macam obat-obatan buat istri semuanya tepat dan aman. Semuanya berkat orang-orang di bagian Farmasi dari Apoteker sampai tenaga teknis kefarmasian. Terimakasi semuanya !.

Mohon maaf kalau fotonya gak detail dan lengkap dengan alasan di ruang-ruang tertentu kita gak boleh mengambil foto untuk menjaga privasi pasien dan keluarga. Jadi harap maklum saja. 

Pengalaman yang sangat istimewa buat saya dan istri. Next, hari-hari kami akan dipenuhi dengan tingkah laku si kecil yang menggemaskan. So, ditunggu cerita trip kami bertiga ya !. Thank's

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

6 comments:

  1. Alhamdulillah, selamat untuk kelahiran anak pertamanya. Semoga ibu dan si dedek sehat selalu!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiin.. Makasi doanya mbak. Doain bapaknya jg donk biar sehat dan semangat nyari rezeki 😊😊😊

      Delete
  2. alhamdulillah selamat atas kelahiran si buah hati ya mas, semoga Ibu dan Kenzi sehat2 selalu, amiiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin. Makasi doanya mas. Semoga cepet gede biar bisa diajak traveling hehehe

      Delete
  3. Alhamdulilah, selamat kakak...

    Kita dulu juga lahiran anak pertama di Permata Hati, awalnya mau normal juga, tapi cuma sampai bukaan 4, gak kuat, akhirnya operasi deh, alhamdulilah sehat semua

    ReplyDelete