Menginap di Hotel Kapsul Enak Gak Sih ? : Nomad Hostel Kemang


Diawal cerita ini saya menyampaikan turut berduka cita atas musibah banjir dan tanah longsor yang dialami oleh saudara kita yang berada di daerah yang terkena bencana.

Ditengah euforia jutaan orang merayakan malam pergantian tahun, kita gak menyangka keesokan paginya bencana yang gak kita inginkan pun terjadi.

Jakarta banjir lagi, eh gak hanya Jakarta saja tapi judulnya Jabodetabek dilanda banjir. Parah memang, tapi kita mau bilang apa. Sejak sore hingga detik-detik menuju tahun 2020, hujan terus mengguyur Pulau Lombok. Buka-buka berita ternyata hampir seluruh wilayah di Indonesia turun hujan lebat.

Saya pun awalnya senang hujan turun di malam pergantian tahun, syahdu banget. Tapi keesokan paginya mendengar berita banjir melanda Jabodetabek. Hati ini menjadi sedih melihat wajah-wajah yang sebagian besar anak-anak dan lansia berjuang menyelamatkan diri di tengah dinginnya malam. Banjir yang terparah menurut saya. Mungkin kalian sependapat ?. Banyak yang menjadi korban, dari anak-anak hingga lansia. Syukurnya gak ada kabar korban yang meninggal dunia.

Banyak yang mengungsi, bahkan yang paling memilukan beberapa diantara korban sudah dua hari belum mendapat bantuan dan terjebak di rumah mereka sendiri. Banyak diantara mereka yang kebingungan mau mengungsi kemana. Sanak saudara gak ada, bahkan sama-sama menjadi korban banjir juga. Posko-posko pengungsian sudah dibangun tapi gak bisa memberikan harapan besar. Mereka harus merelakan rumah, mobil, motor bahkan kehilangan hewan ternak. Meskipun gak menjadi korban banjir, tapi saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan.

Beberapa hari setelah banjir terjadi, saya melihat banyak korban yang mengungsi ke beberapa hotel yang aman dari banjir. Untuk itu, kebetulan saya mempunyai referensi salah satu hotel yang menurut saya bisa menjadi pilihan teman-teman yang menjadi korban banjir. Selain nyaman, harganya pun terjangkau alias sangat murah dibanding hotel-hotel lainnya. Yuuk disimak !!!

***

Jakarta, kota kedua saya merasakan sensasi menginap di hotel kapsul. Kalau ditanya,"hotel mana yang gak boleh ngomong keras-keras?". Jawabannya, menginap di hotel kapsul.

Apa itu hotel kapsul?. Bentuknya kayak kapsul gitu?. Terus dimasukkin ke dalam mulut langsung ditelen?. Itu mah kapsul obat bu. Saya pernah menulis tentang hotel kapsul yang ada di kawasan legian, Bali saat honeymoon bareng istri tercinta. Kesan pertama kali menginap, sangat menyenangkan. Apa kalian sudah membacanya ?.

Hotel Kapsul hanya istilah saja buat menyebutkan hotel-hotel unik yang sengaja tercipta karena kehadiran para backpacker di seluruh dunia. Pertama kalinya Jepang yang memperkenalkan istilah hotel kapsul ini. Setelah itu beberapa negara termasuk Indonesia tertarik untuk membuat hotel kapsul dengan konsep uniknya.

Penampakan hotel kapsul berbeda seperti hotel pada umumnya yang memiliki kamar, dimana di dalamnya ada tempat tidur, ac, kamar mandi, toilet, meja kerja, sofa, tv led, jendela biar bisa melihat putri duyung berenang di kolam renang.

Sedangkan Hotel kapsul lebih sederhana lagi. Terdiri dari beberapa pods/kabin yang dipasang bersusun seperti ranjang susun. Kemudian di dalamnya ada kasur, bantal, meja lipat, lampu belajar dan diberi tirai untuk menjaga privasi kita. Ada laci juga buat menyimpan barang bawaan.

Biasanya yang menjadi pertimbangan saya memilih hotel kapsul karena bisa ngirit dan bentuk hotel kapsul yang ada di Indonesia saat ini unik-unik dan instagramable banget. Jangan diragukan soal keamanan dan kenyamanan. Selama pengalaman saya menginap di hotel kapsul, sejauh ini sangat nyaman dan asyik. Bisa dapat temen baru dan pengalaman baru pasti.








Hotel kapsul yang saya coba kali ini bernama Nomad Hostel. Hotel ini berlokasi di daerah Kemang, Jakarta Selatan yang mulai beroperasi sejak awal Juli 2018 lalu. Alasan utama kenapa memilih Nomad Hostel karena tempatnya kece, instagramable, harga yang murah dan lokasinya yang strategis. Dekat dengan shelter transjakarta dan stasiun MRT (St.Haji Nawi) itu yang penting.

Denger-denger juga, Nomad Hostel menjadi akomodasi berbiaya paling murah dari perusahaan Archipelago International Group yang merupakan perusahaan penginapan yang membawahi Fave Hotel, Neo Hotel dan Aston Hotel.

Pertama kali mengenal Nomad Hostel dari aplikasi tiket online (tiket.com). Langsung saja saya memesan satu pods untuk menginap semalam saja karena keesokan harinya harus berpindah hotel untuk menjalankan tugas negara. Ada jatah satu hari untuk bersantai-santai sambil mengexplore ibukota dan bermalamnya di Nomad Hostel.

Dari lokasinya saja gak susah mencarinya. Berangkat dari daerah Tebet, saya menggunakan ojek online menuju Nomad Hostel yang berada di daerah Kemang. Kurang lebih memakan waktu lima belas menit saja melewati daerah Pancoran. Syukurnya gak terkena macet karena kebetulan di hari biasa.

Di dalam mobil ojek online, saya pun penasaran ingin melihat lokasi hotelnya lewat google maps. Ternyata keterangan lokasi hotel ini cukup detail. Salut sama google maps. Sesekali pak supir mengajak saya ngobrol juga sepanjang perjalanan. Bapaknya nanya kenapa menginap di daerah Kemang ?.

Saya yang bukan orang Jakarta, sempat heran. Ternyata bapaknya menceritakan bahwa tempat elit dan surganya hiburan malam di Jakarta, Kemanglah tempatnya. Waaaww, saya saja baru tau kalau Kemang terkenal dengan hiburan malam dan daerah elit ibukota.

Ngobrol ngalor ngidul bareng pak supir, gak terasa kita sudah memasuki jalanan kecil, hampir mirip seperti gang gitu. Lirik kanan kiri, memang bener ini daerah elit dan banyak cafe sepanjang jalan. Kita sudah memasuki daerah Kemang. Buka google maps, kurang lebih lima ratus meter lagi kita sampai di lokasi tujuan.

Sampai juga !!!

Dari penampilan luar, bangunan hotelnya cukup instagramable, elit, kece dan bener kata pak supir tadi. Setelah turun dari mobil, saya langsung masuk ke dalam hotelnya. Bertemu dengan karyawan di meja resepsonis. Karyawannya cukup ramah kepada saya. Proses check in punya berlangsung. Saya mendapatkan satu buah kartu yang bertuliskan kode pintu.

Untuk lokasi kamarnya, Nomad Hostel terdiri dari tiga lantai yang dihubungkan dengan lift. Dimana lantai satu dan tiga untuk kamar cowok, sedangkan lantai dua untuk cewek. Berhubung sedang ada renovasi di lantai satu dan tiga, untuk yang cowok dapat jatah di salah satu kamar di lantai dua. Jadi di satu lantai kurang lebih ada empat kamar, dimana dalam satu kamar ada sekitar 12 sampai 20 pods / tempat tidur.

Setelah proses check in selesai, gak langsung menuju pods di lantai dua. Saya bersantai-santai dulu di sharing roomnya. Disini ada cafenya lhoo. Kalau gak salah namanya Coliving Cafe. Bukanya dari jam sepuluh pagi sampai tengah malam. Penampilan cafenya pasti kecelah. Mengangkat konsep industrial, instagramable karena banyak mural-mural disini.

Di belakang cafe ada tempat santai outdoor gitu dan kolam renang portable. Yang menjadi perhatian saya yaitu bentuk kolam renangnya. Gak seperti kolam renang pada umumnya, kolam renang Nomad Hostel seperti ember raksasa yang terbuat dari kain parasut. Tapi sayang, saya gak menyempatkan berenang karena lagi kurang enak badan. Sejauh ini cukup oke menurut saya. Gak sabar kalau malam seperti apa suasana di dalam cafenya. Katanya ada live musiknya segala.




Mengangkat tema spent less explore more, adanya Nomad Hostel ini memang diperuntukkan untuk para backpacker atau kalian yang hanya numpang tidur saja setelah seharian jalan-jalan.

Masuk ke dalam kamar dengan cara menekan sebuah kode rahasia. Kecenya setiap penghuni kamar, punya kode yang berbeda-beda. Untungnya saya mendapat kode yang gak terlalu sulit dihafal. Setelah kode berhasil dan pintu kamar terbuka. Suasana di dalam kamar sangat adem. Dingin banget dan buat kita ngantuk.

Saya dapat pods nomor 2010 dan letaknya di bawah. Enakan di bawah, jadi gak mengganggu penghuni pods di bawah kita. Suasana cukup hening padahal di dalam kamar, tamu full. Saya sempat berkenalan dengan tetangga sebelah pas saat beres-beres. Inilah asyiknya menginap di hotel kapsul. Kita dapat saling berkenalan dan sharing tanpa mengurangi rasa kenyamanan saat beristirahat. Bagi yang phobia dengan ruang sempit, gak saya sarankan mencoba hotel ini.

Untuk reviewnya, podsnya terbuat dari kayu dengan model tempat tidur susun dua. Setiap podsnya dilengkapi dengan lampu tidur, stop kontak, lemari penyimpanan, dan tirai. Adanya tirai, kita tetap bisa mendapat privasi meski harus berbagi kamar dengan orang lain. Tapi jangan sampai berbagi hati dengan orang lain yaak !!!

Kamar mandinya juga mengangkat tema sharing bathroom. Gak hanya kamar saja yang berkonsep sharing, tapi kamar mandi dan toilet pun mengangkat tema seperti itu. Terdiri dari banyak bilik dan wastafel. Jadi buat kalian yang sudah kebelet, gak perlu khawatir. Mandi pun gak perlu lama mengantri.




Gak hanya menghabiskan waktu di kamar saja, pada malam hari kita bisa turun ke ruang lobi yang instagramable. Masih satu ruang dengan ruang lobi, di cafenya juga asyik buat nongkrong. Kebetulan malam itu ada live music. Saya yang seorang diri, memilih untuk mojok sambil kencan bareng si lepi, hahahaha.

Suasana semakin malam semakin ramai. Gak hanya tamu hotel saja, tapi pengunjung lainnya juga banyak memilih cafe ini untuk menghabiskan waktu bersama. Pemilihan lagu-lagunya juga update banget. Saya pun merequest sebuah lagu cinta milik Andmesh yang berjudul "Cinta Luar Biasa". Lagu ini saya persembahkan buat istri tercinta di rumah yang sedang hamil tua. I miss u sayang 

Semakin malam suasana semakin asyik saja. Sambil menikmati live music, satu tulisan di lepi akhirnya selesai juga. Setelah beberapa jam nongkrong, saya memutuskan untuk mencari makan malam dulu. Buka aplikasi gofood, ternyata ada tempat makan yang enak nih. Karena lagi males makan makanan cafe, saya akhirnya pergi nyari nasi goreng.

Selamat makan !!!




Keesokan paginya, saya memutuskan untuk jalan-jalan ke Bundaran HI naik MRT. Cerita jalan-jalan bareng MRT ada di tulisan sebelumnya, bisa dicek sendiri ya.

Sebelum jalan, saya dapat jatah sarapan gratis dari hotel. Disini sarapannya gak begitu surprise menurut saya. Biasa saja, sarapan ala-ala backpacker gitu. Saya dikasi Rice Bowl pake ayam. Rasanya lumayan enak dan lumayan ganjel perut. Untuk minuman, kita hanya disediakan air putih yang bisa kita ambil di dispenser. Ini baru bener-bener sarapan ala-ala backpacker.

Sarapan dimulai jam tujuh pagi, tapi saya sudah standby setengah jam sebelumnya karena gak mau berangkat kesiangan. Ohya, saat duduk santai sambil makan, saya melihat banyak motor warna kuning. Setelah saya tanya, itu motor ternyata disewakan. Satu harinya 50 ribu pakai sepuasnya. Pengen nyoba sih tapi masih banyak agenda hari itu. Next time saja...

Oke, itu dia cerita singkat pengalaman saya menginap di Nomad Hostel. Bagi kalian yang punya rezeki, bisa ajak keluarga, teman dekat dan sanak saudara menginap disini.

Kalau ditanya kekurangan menginap disini hanya satu, kita gak disediakan handuk gratis. Jadi kalau minta, satu handuk dikenakan tarif sewa 10 ribu saja. Mungkin kedepannya bisa menyediakan handuk gratis bagi tamu yang menginap.

Untuk sarannya, semoga ada peningkatan pelayanan kedepannya. Kamar ditambah, fasiltas juga ditambah dan harganya jangan dinaikkan, hahahaha.



Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Comments

  1. Ulala hotel yang menarik terutama motor sewanya

    ReplyDelete
  2. lagi nge hits kayaknya ya hotel kapsul, sering liat liputannya di TV. Tp belum bisa ngebayangin sih rasanya tidur di kotak seukuran segitu, heuheuheu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehee iya mas. Smoga Lombok dan Kupang segera ada hotel kapsul. Amiin.

      Nanti klo k Bali ato kota lain, coba aj hotel kapsul hahahaha

      Delete
  3. Sering ke Jakarta hanya untuk singgah semalam dua malam,,boleh ni rekomendasinya. Saya anak hostel juga, tp jarang ke hotel kapsul,. Aselii itu swimming poolnya saik bgt.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama bang. sya jg jd ketagihan nginap di hotel kapsul. Murah dan instgramable hehehe

      Delete

Post a Comment