Saturday, 15 June 2019


Bali selalu punya cerita. Kalau sudah ngebahas ngetrip ke pulau ini, yang kita rencanakan "mau kemana ?" dan "nginap dimana ?". Kalau mau ke Bali bagian selatan seperti Pantai Kuta, Sanur dan Uluwatu mungkin sudah biasa. Apalagi ke Ubud, Bedugul dan Patung GWK juga sangat banyak kita jumpai tulisan dan foto yang membahas tentang mereka. 

Di Bali bagian utara ada destinasi baru yang gak kalah kece dari para seniornya. Meskipun keberadaannya terbilang masih baru, tempat ini sudah ngehits di dunia instagram. Cocok sekali buat kita yang ingin ke tempat kece tapi gak seramai pengunjung seperti di Kuta, Ubud atau Bedugul. Namanya Taman Edelweis. Lokasi berada di Banjar Dinas Temukus, Desa Besakih, Kabupaten Karangasem. Lebih tepatnya di bawah kaki Gunung Agung.

Keseruan cerita saya bareng istri datang ke Taman Edelweis berawal dari teman-teman Genpi Bali yang sering sekali memposting tempat ini di akun instagram mereka. Apalagi taman ini dijadikan tempat diadakan Pasar Peken yang diadakan oleh temen-temen Genpi Bali. Pasar Peken merupakan pasar destinasi digital yang digarap oleh temen-temen Genpi Bali. Sama seperti Pasar Pancingan di Lombok, Pasar Karetan di Semarang, Pasar Kaki Langit di Jogya dan lain-lain. Di setiap daerah yang ada Genpinya, pasti ada pasar destinasi digitalnya. Tapi kali ini saya gak ngebahas tentang pasar digitalnya dan Genpinya. Saya akan bercerita apa saja sih yang saya dapatkan saat berkunjung ke Taman Edelweis. Yuk disimak terus cerita ini sampai selesai. Siapin kopi dan kacang untuk nemenin baca,hahahaha.




Punya waktu dua hari ngetrip ke Pulau Bali, kami gak mau sia-siakan kesempatan buat datang ke tempat ini dong. Hari dimana kami berdua akan balik ke Pulau Lombok, masih ada waktu untuk mengexplore tempat satu lagi sebelum pulang. Taman Edelweis menjadi tujuan terakhir kami waktu liburan kemarin. Asyiknya lagi, cuaca pagi itu cukup cerah dan besahabat. Kenapa memilih Taman Adelweis menjadi destinasi terakhir saat ngetrip ke Pulau Bali kemarin?. Kebetulan dari Kota Denpasar menuju Pelabuhan Padangbai, searah dengan jalur ke Taman Edelweis. Bermodalkan google maps, kami berdua semangat meluncur. Sepanjang perjalanan lumayan lancar meskipun bertemu dengan namanya si macet saat  akan keluar dari Kota Denpasar. Padahal masih pagi, tapi lalu lalang kendaraan sudah padat. Satu kata buat Kota Denpasar "Panas dan Macet Poooll"."

Keluar dari Kota Denpasar, kami sudah berada di By Pass Ida Bagus Mantra. Si Blue (motor kesayangan) saya gass full menuju Kabupaten Karangasem. Lalu lintas cukup ramai dengan banyaknya trafic light yang kami jumpai. Untungnya by pass ini berada di pinggiran Pulau Bali bagian timur dan gak jauh dari pantai. Hembusan angin pantai yang sepoi-sepoi menyelamatkan kami dari teriknya matahari saat itu. Lumayan ada yang kipasin, hahaha. 

Setelah satu jam perjalanan dari Kota Denpasar, kami sudah tiba di pertigaan pertemuan arah ke Kota Karangasem dan Pelabuhan Padangbai. Kami melanjutkan perjalanan ke arah Kota Karangasem.  Tinggal bentar lagi nih sampai (pikiran saya dalam hati).

Masih mengikuti jalur di google maps, gak lama kemudian kami belok kiri di pertigaan kedua. Nah,..dari sini jalurnya sudah mulai menantang. Melewati perkampungan penduduk, jalanan sudah mulai menanjak. Kami sudah berada dimana harus melewati jalanan perbukitan yang berliku-liku dan sempit. Untungnya kondisi jalan mulus dan gak berlubang. Meskipun masing asing dan hanya mengandalkan google maps, sejauh ini kami menikmati perjalanan. Kerennya melewati jalur ini, kita bisa melihat pemandangan laut dan perbukitan hijau khas Pulau Bali. Kece abis dan rekommended buat kalian yang ingin mencoba melewati jalur ini.

Setelah melewati jalan besar, kami harus melewati jalur yang agak sempit. Kurang lebih sekitar delapan kilometer lagi kami sampai di tujuan. Panorama alam di kiri kanan jalan semakin cantik. Perbukitan dan persawahan hijau menemani kami di sepanjang perjalanan. Sayangnya kami gak bisa melihat kemegahan Gunung Agung karena terhalang oleh awan tebal. Tanpa kendala yang berarti, kami sudah sampai di lokasi parkir Taman Edelweis. Penataan tamannya oke banget. Gak nyangka ada destinasi yang dikelola oleh warga desa sekeren ini.

Setelah memarkirkan motor, kami menuju loket tiket. Tiket masuk seharga 15K per orang. Gak terlalu mahal sekelas tempat seperti ini. Dari pintu masuk sudah terlihat tulisan "Selamat Datang di Taman Adelweis". Perasaan senang dan puas akhirnya sampai juga di tempat ini.







Rasa capek dan penasaran seakan hilang setelah melihat taman ini dari dekat. Gak sabar rasanya masuk ke dalam area taman. Setelah memperlihatkan tiket masuk ke petugas, kami langsung mengelilingi area taman. Kekhasan dari taman ini yaitu bunga yang mirip sekali dengan Edelweis terdapat hampir di setiap sudut area taman. Bunga yang biasa kita temui di lereng atau tebing saat mendaki gunung dan jenis bunga ini dilarang dipetik dan dibawa pulang oleh pendaki. 

Bunga yang mirip dengan Edelweis ini bernama Bunga Kasna. Menurut informasi bunga ini sering dipetik untuk digunakan pada upacara keagamaan Umat Hindu. Jadi sangat beruntung sekali buat kita yang dapat melihat bunga ini lagi mekar-mekarnya pada waktu-waktu tertentu. Dari kejauhan bunga ini sangat mirip sekali dengan Bunga Edelweis. Apa bedanya ?, saya pun kurang memahami karena bertemu dengan Bunga Edelweis saja belum pernah. Melihat Bunga Kasna secara langsung saja, sudah sangat beruntung. Belum melihat Bunga Edelweis, Bunga Kasna pun jadi. Apalagi melihat secara langsung bersama kamu ya kamu (mulai leebaay).

Selain ribuan Bunga Kasna yang tersebar di setiap sudut taman, ada lagi bunga yang gak kalah mencoloknya disini yaitu Bunga Gumitir. Bunga yang dari kejauhan mirip dengan bunga matahari ini juga sering digunakan untuk upacara keagamaan Umat Hindu. Saat kami kesana, bunga gumitir lagi mekar-mekarnya. Tapi harus diingat, gak boleh memetik dan merusak tanaman disini. Yang saya suka dari tempat ini yaitu tamannya tertata dengan rapi. Deretan gazebo dan beberapa spot foto yang sangat instagramable banget.

Kerennya lagi, lokasi Taman Edelweis berada tepat di kaki Gunung Agung dan gak jauh dari Pura Besakih. Udara pegunungan yang sangat sejuk, kabut yang mendadak datang tanpa mengabari terlebih dahulu, hijaunya pepohonan dan keberadaan kita disambut hangat oleh warga desa. Cocok sekali buat kita yang ingin mencari ketenangan dari ramainya kesibukan ibukota.





Sebuah bangunan kayu berbentuk kincir angin seperti di negeri Belanda, membuktikan kami sedang berada di Taman Edelweis. Salah satu daya tarik dari tempat ini yaitu kincir anginnya. Gak fotoan berlatarbelakang kincir angin, berarti belum pernah ke Taman Edelweis. Jadi hukumnya wajib foto selfie ala-ala instagramable dengan kincir anginnya. 

Taman Edelweis berbeda dengan Pantai Kuta, Patung GWK, Ubud, atau Bedugul yang sangat ramai dikunjungi oleh pengunjung dari luar Bali dan mancanegara. Rata-rata pengunjung yang datang ke taman ini kebanyakan warga lokal atau sekitaran Pulau Bali saja. Ada plus minusnya buat saya. Plusnya gak apa-apa gak banyak datang kesini karena Taman Edelweis enaknya dinikmati dalam kondisi sepi. Minusnya, kalau sepi pengunjung, pemasukan desa juga sepi, hehehe.

Over all, untuk fasilitas umum lainnya cukup baik. Toilet dan warung makan sudah tersedia disini. Sistem tiketing juga sudah baik. Keramahan petugas juga saya acungin jempol. Satu lagi, gak ada saya temukan sampah yang berserakan di area taman. Tingkat kesadaran pengunjung saya acungin jempol. Tempat lain harus bisa mencontoh Taman Edelweis. Bisa dibilang tempat wisata ini berada di pedalaman dan jauh dari kota. Tapi banyak orang yang rela-rela datang kesini, demi bisa melihat Taman Edelweis dari dekat,contohnya saya bareng datang dari Lombok (gak nanya) hehehe. 

Saya bareng istri ingin sekali balik lagi kesini di lain waktu. Rasanya belum puas kalau gak lama-lama menikmati Taman Adelweis saat berkabut. Saat kami datang, kabutnya hanya sebentar dan gak sempat buat difoto. Mau keluarin kamera, eh kabutnya malah minggat (kelamaan sih). Berhubung gak banyak waktu untuk bisa berlama-lama disini karena harus balik ke Pulau Lombok, cerita di Taman Adelweis saya cukupkan sampai disini dulu. Sampai bertemu di cerita saya selanjutnya. Bocorannya, setelah Taman Adelweis, ada detinasi kece lainnya yang gak lama lagi saya posting. Ditunggu saja. Bukan saya namanya kalau gak memberikan cerita dan informasi terupdate tentang tempat-tempat kece yang sudah saya datangi. So.. sabar menunggu. 

Oke... Di akhir tulisan, di bawah ini saya beri peta jalur menuju Taman Edelweis versi google maps. No Hoax dan rekommended buat kalian. Bye !!!

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

4 comments:

  1. Tempatnya sejuk dan nyaman untuk d kunjungi.. suka bgt sama icon kincir angin dan deretan bunganya ��

    ReplyDelete
  2. kirain di luar negeri
    eh ternyta di Bali
    bagusss

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pngen ksana lg pas waktu longgar.. Udaranya adem dsana

      Delete