Saturday, 2 August 2025

Pengalaman Pertama ke Jakarta Fair : Cobain Makan Kerak Telor


Kebetulan di Bulan Juni lalu, saya datang ke Jakarta untuk mengikuti acara PIT dan Muskernas Hisfarsi 2025  yang lokasinya di Raffles Hotel Kuningan, Jakarta.


Di bulan yang sama sedang ada event sale terbesar di Jakarta yaitu Jakarta Fair atau bahasa kerennya itu Pekan Raya Jakarta (PRJ). Lokasinya berada di JIExpo Kemayoran atau di eks lahan Bandara Kemayoran. 


Festival ini berlangsung dari tanggal 19 Juni hingga 13 Juli 2025 lalu. Buka setiap hari dari jam tiga sore hingga sebelas malam kecuali di Hari Sabtu Minggu, buka dari jam sepuluh pagi. 


Pas banget datang ke Jakarta di minggu akhir Bulan Juni, setelah seharian berada di hotel mengikuti seminar dan workshop, saatnya mencari oleh-oleh pakaian buat anak-anak di rumah. 


Sekitar jam empat sore, saya menghubungi teman yang kerja di Jakarta untuk menjemput kami bertiga di hotel. Kurang lebih sepuluh menit menunggu, jemputan pun sudah berada di depan lobi hotel. 


Namanya Bang Juan asli orang Jakarta. Pertama kali bertemu karena Bang Jaka kebetulan gak bisa menjemput kami dikarenakan ada urusan lain yang mendesak. 


Kebetulan Bang Jaka dan Juan merupakan staf yang bekerja di salah satu distributor alat kesehatan di rumah sakit yang berada di Jakarta. 


Sore itu seperti biasa Jakarta pasti macet. Tapi untungnya, Bang Juan memilih menggunakan jalur alternatif untuk menghindari titik-titik kemacetan. 


Pasukan Orange siap borong di Jakarta Fair 


Menyusuri jalanan ibukota dengan gedung-gedung pencakar langitnya. Meskipun hanya beberapa hari saja di Jakarta, tapi kota ini buat saya pribadi bikin betah karena suasananya yang ramah transportasi umum. Mau kemanapun, kita gak bingung. 


Sebenarnya awalnya pengen naik TransJakarta dari depan hotel tapi berhubung mau kejer waktu biar gak kena macet dan kesorean, jadinya minta tolong teman buat nganter ke lokasi. 


Untuk transportasi umum yang bisa kalian gunakan menuju Jakarta Fair sangat banyak pilihan. Dari MRT kalian harus turun di Stasiun Bundaran HI lalu lanjut menggunakan TransJakarta sampai di Kemayoran. Bisa juga menggunakan LRT dan turun di Stasiun Cawang, lalu lanjut menggunakan TransJakarta dan Jaklingko. 


Bisa juga menggunakan TransJakarta langsung dengan beberapa koridor tertentu (gak hafal). Semua moda transportasi bisa kalian gunakan karena semuanya terakses. Lebih jelasnya, bisa kalian cek di situs resmi TransJakarta atau Jaklingko (koreksi bila salah). 


Dari Hotel Raffles di daerah Kuningan, kami langsung menuju Kemayoran tanpa ganti pakaian dulu di penginapan dengan alasan kalau mampir di penginapan takutnya tambah kesorean lagi sampai di PRJ. 


Estimasi waktu tempuh dari Kuningan ke Kemayoran sekitar setengah jam (sudah termasuk macet di jalan) dengan jarak sekitar lima belas kilometer menggunakan mobil. 


Syukurnya dari Hotel Raffles sampai di Jalan Benyamin Suaib salah satu tokoh pelawak legend di Indonesia, kami gak terkena macet. Untungnya juga waktu masih jam empat sore dan belum banyak yang pulang kerja, jadinya sepanjang jalan Benyamin Suaib masih ramai lancar 


Dari jalan tersebut, lokasi JIExpo Kemayoran sudah dekat. Terlihat antrian kendaraan roda empat sudah banyak yang mengantri untuk masuk ke dalam area parkir. 


Berhubung Bang Juan gak ikutan masuk, jadinya kami bertiga turun dari mobil di luar saja. Tepatnya persis di samping pintu masuk bagian timur atau pintu 2B. Kami sudah janjian sama Bang Juan kalau dijemput nanti, saya akan menelpon beliau. 




Setelah turun dari mobil, kami berjalan menuju pintu masuk. Untungnya kami sudah beli tiket online via website resmi di Jakarta Fair. Kami membeli tiket seharga 50 ribu per orang untuk di hari itu (Rabu).


Untuk yang membeli tiket online, gak perlu berlama-lama mengantri. Cukup menunjukkan barcode di handphone masing-masing untuk di scan oleh petugas. Sedangkan yang membeli tiket langsung atau manual, harus rela ngantri panjang. 


Setelah melewati petugas tiket, saya dan teman lainnya jalan menuju area PRJ. Sore itu masih belum ramai. Terlihat beberapa toko pakaian bermerk sudah dibanjiri oleh pembeli. 


Ada juga area permainan anak-anak seperti komedi putar, odong-odong dan permainan lainnya seperti di pasar malam pada umumnya. 


Saya, Mbak Zahra dan Mas Erwin sudah punya tujuan masing-masing. Kami bertiga berpisah untuk mencari barang yang kami cari. Dan akan bertemu setelah selesai membeli barang yang dicari. 


Yang menarik bagi saya yaitu ada toko pakaian yang bertuliskan serba 50 ribu per pcs. Saya pun tergoda untuk masuk ke dalam tokonya. Pilih-pilih baju kaos untuk anak-anak. Kualitas kaosnya cukup bagus. Saya pun mendapatkan empat kaos untuk anak-anak. 


Keluar dari toko, saya pun berjalan menuju toko lainnya. Satu per satu toko pakaian saya masuki. Bagus-bagus dan godaan terbesar pun datang. Tantangan terbesar menahan diri untuk gak belanja berlebihan. Waktu masih panjang di Jakarta, hehehe. 


Selain toko pakaian, disini juga ada perlengkapan anak sekolah, alat tulis, buku, barang elektronik, sepeda listrik, otomotif, motor, perabotan rumah tangga dan makanan yang unik-unik. Apapun yang dicari, hampir semua ada disini. Mau cari cewek manis dan modis, ada banyak terlihat disini (semoga gak dibaca sama istri) hehehe. 


Sejarah Jakarta Fair Kemayoran 


Event  ini berawal dari tradisi Pasar Gambir di Batavia (sekarang Jakarta) sekitar tahun 1898 yang diadakan untuk merayakan penobatan Ratu Wilhelmina. Sempat dihentikan pada masa penjajahan Jepang sekitar tahun 1942. 


Di tahun 1967, Gubernur DKI Jakarta pada masa itu, Bapak Ali Sadikin menginisiasi acara terpusat yang memadukan pasar malam, budaya, dan perdagangan dengan nama Pekan Raya Jakarta. Dan resmi digelar sejak tahun 1968 di Lapangan IKADA (sekarang bernama Monas) dan diresmikan oleh Presiden Soeharto sekaligus menjadi edisi pertama. 


Pada tahun 1992, lokasi berpindah ke Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran. Sejak saat itu, event ini dikenal sebagai Jakarta Fair Kemayoran (JFK). Itulah sejarah singkat dari awal mulanya Jakarta Fair ini diselenggarakan hingga sekarang. Sudah cukup tua juga ya umurnya. 


Festival ini diselenggarakan untuk menyambut HUT DKI Jakarta. Di tahun 2025, merupakan helatan yang ke-56 sejak tahun 1968. Dan di tahun 2025 umur Provinsi DK Jakarta sekarang yaitu 498 tahun. Gak usah kaget sama umur Jakarta, hehehe. 


Tema yang diangkat di tahun 2025 yaitu "Jakarta Fair Kemayoran Mendukung Indonesia Maju Melalui Inovasi dan Karya Bangsa Berkelanjutan". 


Jakarta Fair bukan sekadar pameran dagang, melainkan juga festival rakyat yang menggabungkan ekonomi, budaya, dan hiburan dalam skala besar. Kira-kira seperti itulah yang saya tangkap dari beberapa media yang sudah mengulas tentang festival ini. 





Berkeliling ke beberapa tenant yang menjual pakaian, pernak pernik khas Jakarta, jajanan viral dengan harga promonya dan makanan tradisional. Gak terasa kaki pun teras pegal. Kelihatan jarang olahraga rupanya.


Perut pun sudah keroncongan. Tandanya harus diisi. Lihat-lihat tenant yang menjual makanan, mata pun jatuh kepada salah satu abang penjual Kerak Telor khas dengan gerobaknya. Kerak Telor merupakan salah satu jajanan khas Jakarta. Biasanya jajanan ini ada saat perayaan hari besar Betawi seperti Pekan Raya Jakarta.


Sebelumnya saya hanya tau saja ada jenis makanan seperti ini. Saya pun belum pernah nyobain seumur hidup. Hanya sering mendengar dan membaca cerita teman tentang review makan Kerak Telor. Penasaran juga rasanya seperti apa. Mari kita coba !. 


Di dalam area Jakarta Fair dengan luas sekitar 44 hektar ini, banyak sekali bejejeran pedagang Kerak Telor. Yang saya lihat kalau gak salah lebih dari dua puluh penjual yang berjejer rapi di sepanjang jalan di dalam area festival. 


Gak hanya saya saja yang penasaran, tapi Mbak Zahra pun sama. Kami memesan satu porsi Kerak Telor dengan pilihan Telur Ayam saja seharga 30 ribu seporsi. 


Uniknya, saya bisa melihat cara buat Kerak Telor dari penjual asli dari Betawi. Kalau gak salah nama bapaknya, Babe Saffan (babe untuk sebutan bapak di Betawi). 


Bapaknya cukup ramah meskipun wajahnya lempeng gitu dan gak ada senyum. Tapi over all, bapaknya baik kok. 





Kerak Telor berbahan dasar ketan putih yang diberi telur ayam atau bebek biasanya. Kemudian ditaburi ebi (udang kering yang ditumbuk ) dan parutan kelapa sangrai. Ada bumbu halusnya juga seperti bawang merah, bawah putih, merica dan kencur. Dimasak tanpa menggunakan minyak goreng. 


Cara membuatnya cukup beras ketan putih yang sudah direndam diletakkan di atas wajan kecil. Kemudian dicampur dengan telur dan bumbu, lalu dimasak di atas tungku arang.


Setelah setengah matang, wajan dibalik langsung ke atas bara agar bagian atas kerak menjadi kering dan sedikit gosong dan ini yang memberi aroma khas.


Disajikan tanpa saus atau kuah. Ditaburi kelapa sangrai dan ebi kering di atasnya. Biasanya langsung dimakan dari wadah daun pisang atau kertas nasi. 


Setelah pesanan Kerak Telor saya jadi, saya pun menyantap dengan memotong beberapa bagian menggunakan sendok. Selagi hangat, enak banget dimakan. Rasa bumbu halus dengan ebi dan sangrai kelapanya nendang banget. Rasanya gurih dan buat cepat kenyang. 


Aroma telur ayamnya kuat banget. Tumben makan ketan putih dicampur dengan telur ayam. Rasanya seperti makan nasi rasul kalau di daerah saya di Lombok. Biasanya makan jajanan seperti ini di hari-hari besar Islam seperti Maulid Nabi, acara kawinan, orang naik haji dan acara di masjid-masjid kampung. 


Soal rasa karena saya baru pertama kali makan dan rasanya sudah familiar di lidah, cukup enak dan mengenyangkan. Mungkin ada beberapa orang yang gak biasa makan seperti ini apalagi yang alergi makan telur. Jangan coba-coba makan ya !. 


Cukup bahagia rasanya bisa mencicipi Kerak Telor di Jakarta Fair Kemayoran karena kata orang sini, akhir-akhir ini penjual Kerak Telor sudah jarang ditemui kecuali hari-hari besar di Jakarta, salah satunya di Pekan Raya Jakarta ini. 





Setelah mencicipi Kerak Telor, kami bertiga melanjutkan keliling ke area yang belum sempat kami sambangi. Langit sudah gelap dan lampu-lampu di area PRJ sudah dihidupkan. Suasana semakin meriah karena semakin malam, jumlah pengunjung semakin membludak. 


Ditambah lagi ada konser setiap hari selama festival ini berlangsung (di jam-jam tertentu). Yang tampil konser di festival ini dari berbagai band ibukota yang sudah terkenal. Salah satunya The Changcuters, salah satu band favorit saya pada masa itu sekitar tahun 2009-2013. Dan masih banyak lagi band-band yang hadir mengisi konser di festival ini. 


Selama berada di Jakarta Fair beberapa jam saja, rasanya kaki ini pegal sekali. Gak sanggup rasanya kalau mengelilingi area festival semuanya. Mana membludak sama ribuan pengunjung yang datang semakin malam semakin padat. 


Sedikit tips dari saya ketika kalian datang ke Jakarta Fair, antara lain : jaga baik-baik barang berharga kalian seperti handphone dan dompet. Kalau bawa tas ransel, usahakan posisi taruhnya di depan dada agar terhindar yang hal-hal yang gak diinginkan. 


Membeli tiket pada situs resmi bagi yang membeli online dan membeli di loket-loket resmi di dalam area Jakarta Fair untuk menghindari calo.


Yang membawa anak kecil, pegang terus anak kalian. Karena di dalam area festival penuh dengan ribuan pengunjung yang saling berdesakan (apalagi di akhir pekan). Kecuali yang bawa gebetan kali ya yang rawan tangannya dipegang sama orang lain, Asyiiik. 


Membawa air mineral untuk menghindari dehidrasi di dalam area festival. Di dalam banyak sekali penjual minuman. So, kalian gak bingung kalau kehausan. 


Tips yang terakhir, pintar-pintar membeli barang. Kalau sudah di dalam area festival, godaan besar itu yaitu jika menemukan barang kesukaan kita, berat untuk dilewatkan, hahahaha. 


Itu dia cerita pengalaman pertama kali saya datang ke Jakarta Fair Kemayoran. Kalau kalian ceritanya gimana ?. Tulis di kolom komentar ya !. 


Penulis : Lazwardy Perdana Putra


Friday, 25 July 2025

PIT dan Muskernas Hisfarsi 2025 Digelar di Raffles Hotel Jakarta : Berkelas Sultan


Sebagai seorang apoteker yang berkecimpung di fasilitas pelayanan kesehatan salah satu rumah sakit pemerintah, saya cukup bangga bisa mengikuti rangkaian acara pertemuan ilmiah tahunan dan musyawarah kerja nasional atau disingkat PIT dan Muskernas Hisfarsi 2025. 


Bertempat di Raffles Hotel Jakarta di Jalan Prof.dr.Satrio Kav 3-5.  Salah satu hotel mewah bintang lima yang berada di Ciputra World I, Mega Kuningan - Jakarta Selatan.


Dari judulnya saja "Berkelas Sultan". Bisa dibilang ini merupakan hotel yang berada di Kawasan Segitiga Emas. Memiliki 52 lantai dengan ketinggian sekitar 253 meter. Menjadikan salah satu gedung pencakar langit di Jakarta. 


Cukup antusias saat melihat flyer undangan pertemuan ini. Pas lihat venue acaranya, ternyata di Raffles Hotel Jakarta. Kawasan bisnis sekaligus perkantoran. 


Awalnya sih gak mau berangkat karena lagi-lagi Jakarta. Bosan juga kalau ke tanah Betawi lagi. Pengennya sih ke kota lainnya seperti Bandung, Medan, Banjarmasin atau kota-kota di luar Pulau Jawa. 


Tapi berhubung teman-teman lainnya gak bisa berangkat karena habis lahiran. Jadinya saya, Mbak Zahra dan Mas Erwin yang berangkat. Ya hitung-hitung refreshing sejenak dari dunia pekerjaan. Sambil update ilmu, kita jalan-jalan. 


Berangkat ke Jakarta sehari sebelum acara. Tapi berhubung kami gak mengikuti kegiatan hospital tour sebelum acara pembukaan dikarenakan ada kegiatan lainnya dan menyempatkan bertemu dengan keluarga di Jakarta. 


PIT dan Muskernas Hisfarsi 2025 diselenggarakan dari tanggal 24-27 Juni 2025. Dimana di tanggal 24 Juni diadakan kegiatan hospital tour, berkunjung ke beberapa rumah sakit terpilih di seputaran Jakarta. 


Untuk acara pembukaan dijadwalkan pada tanggal 25 Juni 2025 di ballroom yang terletak di lantai 11, Raffles Hotel Jakarta. 


Apa itu Hisfarsi ?


Sebelum melanjutkan cerita saat menghadiri acara tahunan apoteker seluruh Indonesia, kita mengenal terlebih dahulu dengan Hisfarsi. Mungkin diantar kalian ada yang belum tau Hisfarsi ?. 


Hisfarsi kepanjangan dari Himpunan Seminat Farmasi Rumah Sakit Indonesia merupakan wadah resmi bagi apoteker yang bekerja di rumah sakit di seluruh Indonesia dan berada di bawah naungan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI).


Organisasi ini menjadi tempat bertukar ilmu dan pengalaman, mengembangkan kompetensi apoteker rumah sakit, menyusun standar pelayanan kefarmasian, dan berkolaborasi dalam pengembangan kebijakan nasional bidang farmasi rumah sakit.


Adapun beberapa peran dari Hisfarsi sendiri antara lain memberikan masukan kepada pemerintah terkait regulasi farmasi rumah sakit, memperjuangkan peran apoteker rumah sakit dalam sistem pelayanan kesehatan, berkolaborasi dengan (rumah sakit, perguruan tinggi, industri farmasi, Kemenkes dan BPOM) dan mengadakan kegiatan semacam pertemuan ilmiah tahunan untuk update ilmu, pelatihan kompetensi dan workshop. 


Anggotanya yaitu para apoteker yang berpraktek di rumah sakit. Dan di setiap tahunnya, Hisfarsi mengadakan PIT yang diadakan di kota yang berbeda di setiap tahunnya.


Seingat saya di tahun-tahun sebelumnya PIT dan Muskernas Hisfarsi pernah diselenggarakan di Kota Batam, Denpasar, Palembang, Semarang dan di tahun ini sukses digelar di Daerah Khusus Jakarta. 


Adapun di tahun 2025, PIT dan Muskernas Hisfarsi mengangkat tema "Advancing Hospital Pharmacy Practice: Ensuring Medication Safety and Optimizing Efficiency”. Mendukung penguatan keamanan penggunaan obat dan efisiensi pelayanan kefarmasian rumah sakit. 


Kegiatan dimulai dengan hospital tour sehari. Di keesokan harinya dimulai acara pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan seminar dan workshop. Untuk kegiatan Muskernasnya hanya pengurus-pengurus saja yang hadir. Dan di malam terakhir dilaksanakan gala dinner dan diakhiri dengan penutupan. Pastinya seru dong !. 






Mengikuti Kegiatan PIT Hisfarsi Hari Pertama Sampai Hari Terakhir ! 


Di hari pertama, pukul 06.00 WIB, saya terbangun dari tidur. Rasanya seger sekali sudah tidur cukup lama tidur semalam. Siap-siap shalat subuh, habis itu lanjut olahraga sejenak di lantai dua hotel tempat kami menginap. 


Agar tubuh lebih fresh sebelum berkegiatan seharian nanti, saya berenang sejenak di kolam renang hotel yang ukurannya gak terlalu besar. Setelah berenang, saya kembali ke kamar dan siap-siap untuk mandi. 


Setelah mandi, naik ke lantai tujuh untuk sarapan. Lumayan padat juga ya kegiatan di pagi itu, hehehe. Untuk review hotel dari hari pertama sampai hari terakhir, di tulisan selanjutnya ya. 


Singkat cerita, kami bertiga bersiap-siap menuju tempat acara. Berhubung jarak penginapan ke Hotel Raffles sangat dekat, kami memutuskan untuk berjalan kaki saja. Kurang lebih sepuluh menit berjalan kaki, kami sudah sampai di depan hotel. 


Melewati super mall bintang lima, Ciputra World 1 Mall. Sempat masuk sebentar di lantai pertama dan isinya tempat makan semua. Tepat di sebelah mall, gedung Raffles Hotel-nya.


Gila, hotelnya mewah dan tinggi sekali. Di depan lobinya hanya mobil saja yang boleh menurunkan penumpang. Kelihatan katrok rasanya lihat hotel mewah bintang lima di kawasan bisnis-Mega Kuningan. 


Baru melihat pemandangan langsung, dimana setiap mobil berhenti di depan pintu lobi, petugas hotel membantu membuka pintu mobil. Wih, rasanya seperti tamu terpandang gitu. Tapi ada juga sih yang buka pintu sendiri karena terlalu lama kalau menunggu dibukain sama mas-mas petugasnya. 


Suasana pagi menjelang siang, sudah ramai sekali dengan para peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Wajah-wajahnya belum ada yang saya kenal. 


Berpakaian batik rapi dengan motif batik khas dari daerah masing-masing. Gak ada ketentuan harus pakai pakaian khusus. Tapi kami dari NTB sudah sepakat pakai seragam batik berwarna orange agar terlihat kompak dan mudah dikenali.





Sekitar jam sepuluh pagi, saya dan teman-teman lainnya naik ke lantai sebelas. Sebelumnya, kami harus melewati area pemeriksaan barang bawaan. Cukup ketat juga hotel ini. 


Setelah itu, berjalan melewati lobinya yang begitu klasik. Sofa, meja, lampu gantung dan beberapa prabotan hotel yang mewah dan klasik. Lantainya saja marmer dengan karpet merah bermotif yang tebal sekali. 


Setelah keluar dari lift, kami sudah berada di lantai sebelas. Disini suasana sudah ramai sekali. Kami pun bergegas berjalan menuju meja registrasi. Terlihat antrian sudah panjang sekali. Lirik sana-sini, belum ada wajah peserta lainnya yang saya kenal juga.


Akhirnya, sekian lama mengantri, ada rombongan teman-teman dari NTB juga yang sudah datang. Btw, kami dari NTB yang ikut kegiatan ini kurang lebih ada tiga puluh orang. Ada yang berangkat di hari yang sama dengan kami. Ada juga yang berangkat di hari berikutnya alias di hari pembukaan acara. 


Next, setelah registrasi, saya mendapatkan tas dengan isi alat tulis. Dan uniknya, semua peserta mendapatkan kartu e-money yang sudah tertulis nama masing-masing di kartunya. Tapi masih kosongan ya alias top up sendiri. 


Awalnya setelah registrasi, kami mau menuju tempat lainnya. Karena di kawasan Raffles Hotel, ada beberapa tempat yang jaraknya cukup dekat seperti Ciputra mall, Kuningan Mall, Pasar Tanah Abang, Tamrin City, Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, dan beberapa pusat perbelanjaan lainnya. 


Tapi niat itu saya urungkan karena males sekali turun ke lobi lagi dan berpanas-panasan jalan ke luar hotel. So, saya putuskan untuk keliling pameran saja sambil cari gimik bareng Mbak Zahra dan Mas Erwin.hehehe. 





Sumber foto dari panitia


Di pameran PIT Hisfarsi banyak sekali yang ikut terlibat. Terlihat stand-stand beberapa brand besar seperti PT. Dexa Medika, Sanbe Farma, Kalbe, Kimia Farma, Ferron Pharmaceutical, Erella dan perusahaan farmasi dan alat kesehatan lainnya ikutan semua. Hanya PT.Cendo yang gak ada ikutan (colek bos Cendo dulu). 


Berkeliling pameran sambil update informasi terkini tentang produk-produk obat best seller mereka. Saya dan teman-teman lainnya juga ikutan game dan kuis. Jika berhasil, dapat hadiah. Seru juga ya !. 


Gak terasa se-jam-an berkeliling di pameran. Barang bawaan yang isinya goody bag lengkap dengan gimik di dalamnya. Ada juga saya lihat ibu-ibu peserta yang bawa goody bag hampir lima kilo lebih sepertinya. Tangan kanan dan kirinya nenteng tas besar dan berat. Niat banget tuh ibu-ibu, hehehe.


Waktu shalat dzuhur dan makan siang sudah tiba. Sebelum acara pembukaan dimulai, kami makan siang terlebih dahulu dengan menu-menu hotel yang super enak. Beneran enak, apalagi rendang dagingnya yang super empuk. 


Pertama kalinya makan rendang daging di hotel bintang lima (kelihatan katroknya). Belum lagi lauk lainnya. Ada daging lada hitam dengan toping potongan kentang. Untuk cemilannya, ada berbagai macam kue-kue yang lumer di mulut. 





Antrian mengambil makan siang panjang bener. Untungnya, tempat pengambilan makan siang dibagi beberapa tempat agar gak menumpuk di satu tempat saja. Konsep makan siangnya ala standing party


Banyak diantara peserta yang komplain masalah tempat makannya. Gak ada kursi dan meja makan. Gak ada pula ruang resto untuk menikmati makanan yang dihidangkan. Tapi namanya juga di Jakarta, mungkin hobit makan di acara-acara formal seperti ini. Beda daerah, beda juga culture nya. Kalau saya bisa maklumi. 


Biar gak tulisan ini panjang lebar, kita masuk saja ke dalam acara pembukaan PIT Hisfarsi yang dimulai pada pukul 13.00 WIB. 


Setelah makan siang dan shalat dzuhur, saya dan peserta lainnya dikumpulkan pada satu ballroom yang besar dan infonya bisa memuat sampai tiga ribu orang. 


Sorotan lampu, layar LED di depan dan kursi-kursi putih berjejer rapi. Seluruh tim panitia sudah bersiap. Host cantik berpakaian kebaya betawi membuka acara dengan sebuah pantun. Saya lupa kalimat pantunnya karena gak dicatat. 





Acara pembukaan siang itu sangat meriah. Diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne IAI. Dua lagu yang buat saya bangga menjadi apoteker Indonesia. 


Setelah selesai menyanyi bersama, acara dilanjutkan dengan pertunjukkan selamat datang buat seluruh peserta dan tamu undangan. Tarian modern yang dibawakan oleh adik-adik kita yang diiringi dengan musik khas Betawi. Merinding juga nonton tariannya. Terharu karena begitu kayanya Indonesia dengan suku budaya.  


Selanjutnya, ada sambutan dari Ketua panitia PIT Hisfarsi, Ketua Umum Hisfarsi Indonesia, Ketua Umum PP IAI, Dinas Kesehatan Prov. DK Jakarta. Setelah itu dilanjutkan sambutan oleh Menteri Kesehatan RI yang diwakili oleh Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes RI. 


Acara pembukaan ditutup dengan doa dan foto bersama. Setelah acara pembukaan, dilanjutkan dengan sesi pemotongan pita menandakan pameran PIT dan Muskernas Hisfarsi 2025 Jakarta telah dibuka dan dilanjutkan berkeliling stand pameran. 


Sedangkan seluruh peserta melanjutkan acara berikutnya yaitu keynote speaker dari Kemenkes RI dan perwakilan dari PERSI (Persatuan Rumah Sakit Indonesia). 


Seharian di acara, cukup melelahkan juga. Apalagi pas di jam-jam ngantuk. Duduk di ruang ber-AC dan kekenyangan habis makan siang, menambah godaan buat terpejam sejenak. Untungnya beberapa materi yang disampaikan cukup menarik. Jadinya ngantuk pun berkurang.  Ditambah lagi ada kopi susu gula aren gratis dari salah satu brand. Lumayan buat kepala rileks sejenak. 


Disini saya gak akan membahas materi-materi apa saja yang disampaikan karena nanti kepanjangan. Cukup beberapa materi yang menarik untuk diikuti, antara lain "Dukungan PERSI untuk Meningkatkan Peran Apoteker di Rumah Sakit". Dan "Inovasi dan Strategi untuk Apoteker dalam Pencegahan Resistenti Antimikroba". Butuh effort untuk mengikuti kedua materi di atas di hari tersebut 


Masih banyak materi-materi lainnya yang disampaikan oleh pakar-pakar yang ahli di bidangnya. Semuanya sangat menarik untuk diikuti. 


Di hari pertama, saya dan teman-teman mengikuti materi sampai sore hari. Mau ngikutin sampai materi selesai, tapi sudah janjian mau ke Jakarta Fair di Kemayoran. Mumpung di Jakarta, jadi penasaran mau kesana untuk pertama kalinya. Hehehe. 


Untuk review Jakarta Fairnya, saya buatkan tulisan terpisah biar lebih fokus. Sekarang fokusnya ke PIT dan Muskernas Hisfarsi dulu. 





Kembali ke laptop ! 


PIT dan Muskernas Hisfarsi 2025 merupakan ajang ilmiah terbesar bagi apoteker rumah sakit se-Indonesia yang menghadirkan narasumber nasional dan internasional yang sudah ahli dalam bidangnya masing-masing. 


Biar lebih seru, acara ini diwarnai dengan enam kategori lomba menarik seperti poster ilmiah, got talent, hospital pharmacy of the year, olimpiade farklin, tiktok, parade pakaian daerah dan karya ilmiah. 


Acara ini sukses digelar dengan jumlah peserta lebih dari dua ribu dua ratus orang yang terdiri dari apoteker rumah sakit, praktisi farmasi klinis dan mahasiswa farmasi. 


Ketua Umum PP IAI, apt.Noffendri Roestam memberikan dukungan penuh atas terselenggaranya kegiatan ini. Beliau mengajak seluruh apoteker Indonesia untuk meningkatkan kompetensi sebagai apoteker profesional dan bertanggung jawab. 


Dukungan juga datang dari Dirjen Farmalkes Kemenkes RI, apt.Rizka Andalusia dan berbagai instansi terkait termasuk dari Dinas Kesehatan DK Jakarta, drg. Ani Ruspitawati. 


PIT dan Muskernas Hisfarsi 2025 memiliki peran besar dalam pengembangan farmasi rumah sakit di Indonesia. Kegiatan ini menjadi platform utama dalam mengoptimalkan praktek farmasi demi keselamatan pasien dan efisiensi pelayanan kesehatan serta memperkuat kolaborasi dan jejaring antar apoteker. 


Spill sedikit, untuk biaya pendaftarannya saja kami membayar sejumlah Rp.3.750.000 per orangnya. Ini sudah termasuk kegiatan selama tiga hari penuh. 


Sedangkan untuk biaya penginapan dan transport, kita keluarin dari kantong pribadi. Tapi untungnya, kami mendapatkan sponsor dari beberapa rekanan dan dukungan rumah sakit tempat saya bertugas. Kalau biaya dari kantong pribadi, saya pribadi agak berat kalau ikut acara terbesar seperti ini. Hehehe


Yang sudah mendukung kami selama mengikuti kegiatan hampir seminggu di Jakarta, kami ucapkan terimakasi banyak. Dan kepada pihak-pihak yang sudah menyuseksaskan acara tahunan ini, saya ucapkan terimakasi sudah menyajikan kegiatan yang cukup spektakuler.


Kontingen Parade dari Prov.NTB


Singkat cerita, di hari terakhir kegiatan. Saya dan teman-teman lainnya mengikuti gala dinner sekaligus acara penutupan. Acara gala dinner dimulai pukul 19.00 WIB di ballroom lantai 11 Hotel Raffles Jakarta. 


Acara malam itu sangat meriah sekali. Ada beberapa penampilan yang menarik. Salah satunya mendatangkan salah satu grup band ibukota yang membawakan lagu-lagu lawas yang membuat suasana semakin meriah. Apalagi rata-rata usia peserta di atas sekitar empat puluh tahun. Pas banget tuh, hehehe.


Setiap perwakilan provinsi memakai pakaian daerah masing-masing dan melakukan parade kontingen di depan panggung. Sayangnya saya gak ikutan karena gak bawa pakaian daerah dari rumah hehehe. 


Kemudian dilanjutkan dengan penampilan got talent. Kebetulan ada tiga kontestan yang lolos ke babak grand final yaitu dari Prov. Jawa Tengah, Prov.Sumatera Selatan dan Prov.Sulawesi Selatan. Ketiga kontestan tersebut menampilkan penampilan terbaik mereka. Dan saya suka dengan kontestan dari Sumatera Selatan yang mempertunjukkan tarian kreasi yang kece benar. 


Congratulation buat kontestan dari Prov.Sulawesi Selatan yang meraih juara satu di ajang got talent Hisfarsi 2025 !. 


Malam semakin larut, saya dan beberapa peserta lainnya gak mengikuti acara penutupan sampai selesai karena besok jam enam pagi, saya dan Mbak Zahra harus ke bandara Soeta untuk balik ke Lombok. 


Sedangkan Mas Erwin masih stay di Jakarta karena ada acara keluarga di Kota Depok, Jawa Barat. 


Over all, selama mengikuti kegiatan PIT Hisfarsi 2025, saya cukup senang bisa datang lagi ke Jakarta. Banyak ilmu baru yang saya dapat. Sayangnya waktunya yang cukup singkat. Semoga di PIT dan Muskernas Hisfarsi di tahun depan lebih baik lagi. Bocorannya, tahun depan acara PIT diselenggarakan di Kota Pekanbaru, Riau. 


Pantun sedikit : 


Ke Pekanbaru naik perahu,

Menyusuri sungai nan tenang.

Senangnya hati bertemu di Riau,

Persaudaraan jadi semakin terang.


Sampai jumpa tahun depan di Kota Pekanbaru, Riau ya ! 


Penulis : Lazwardy Perdana Putra


Saturday, 19 July 2025

Terbang Lagi Bersama Garuda Indonesia dengan Menu Nasi Goreng Ayam Taliwang


Sudah lama rasanya gak bepergian menggunakan si burung besi. Mungkin hampir tiga tahun gak pernah menginjakkan kaki lagi ke bandara.

Di bulan Juni lalu, saya berkesempatan mengikuti acara Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Hisfarsi Apoteker Indonesia di Jakarta. 

Saya gak sendirian, saya berangkat bareng dua teman apoteker lainnya yaitu Mbak Zahra dan Mas Erwin. Kami bertugas di rumah sakit yang sama. 

Kurang lebih seminggu lamanya saya meninggalkan keluarga di rumah. Berangkatnya di Senin siang, balik ke Lombok lagi di Hari Sabtu pagi. 

Saya dan teman-teman memilih berangkat menggunakan maskapai plat merah kebanggaan Indonesia yaitu Garuda Indonesia dengan alasan agar lebih tenang saja jika naik maskapai ini, dibandingkan dengan maskapai sebelah. 

Apalagi beberapa hari sebelum berangkat, telah terjadi kecelakaan pesawat Air India Boeing 787 Dreamliner yang jatuh disaat setelah take off dari Ahmedabad, India menuju London, Inggris. 

Mendengar berita duka tersebut, tumben banget saya takut naik pesawat. Meskipun hidup mati itu rahasia Yang Maha Kuasa, bepergian menggunakan moda transportasi teraman di dunia ini juga butuh keberanian. Terpenting selalu berdoa untuk diberi keselamatan dan kesehatan kepada Sang Maha Pencipta. 

Untuk harga tiketnya, kami kena diharga satu setengah juta rupiah Itupun pesannya di website resmi Garuda Indonesia. Cukup terjangkau menurut saya. 

Sedangkan pulangnya ke Lombok nanti, saya akan naik salah satu maskapai yang catatan armadanya juga baik. Apa itu, ditunggu saja saat cerita pulang ke Lomboknya nanti !.  

Berhubung kegiatan dimulai keesokan harinya, kami memilih penerbangan siang di hari sebelumnya. Estimasi sampai di hotel nanti di sore harinya. Kebayang akan terkena macet dari bandara menuju hotel,hehehe.




Di hari keberangkatan, saya dijemput oleh kedua teman menggunakan mobil pribadi menuju bandara. Perjalanan ke bandara kurang lebih sekitar setengah jam melalui By Pass Bandara Internasional Zainuddin Abdul Majid (BIZAM). 

Berhubung waktu boarding sekitar jam setengah tiga siang, kami tiba di bandara dua jam sebelumnya. Tips saja, kalau menggunakan pesawat, dianjurkan sampai di bandaranya dua atau satu jam sebelum boarding untuk menghindari terburu-buru atau halangan di jalan. 

Setelah tiba di bandara, kami langsung menuju tempat check ini karena kami membawa bagasi. Buat yang gak pakai bagasi, bisa cetak boarding pass di mesin otomatis yang tersedia di beberapa titik bandara. 

Untuk bagasinya diusahakan gak lebih dari 10 kg ya. Seingat saya kemarin, untuk tas bagasi yang saya bawa beratnya 6,5 kg. Sedangkan ransel, saya bawa masuk ke dalam kabin pesawat karena isinya laptop. 

Suasana di bandara BIZAM siang itu cukup ramai. Untuk area check in nya sekarang telah mengalami perubahan. Yang dulu sudah dipindahkan ke tempat yang baru dan lebih luas dan penampakannya modern. 

Setelah proses cetak boarding pass dan bagasi selesai, kami menuju ruang tunggu penumpang yang berada di lantai dua. Menggunakan eskalator untuk menuju lantai dua. Gak banyak perubahan yang ada di ruang tunggu karena bandara ini hanya ada satu terminal saja. 




Pastinya ruang tunggu penumpangnya sekarang lebih luas dan gate nya ditambah sampai gate 5 untuk keberangkatan domestik. Sedangkan di sebelahnya untuk keberangkatan internasional. 

Di ruang tunggu penumpang sudah ramai sekali oleh calon penumpang lainnya. Penerbangan siang itu cukup padat. Ada beberapa maskapai yang berangkat dengan jarak yang cukup berdekatan. 

Terlihat di apron, sudah berjejer beberapa pesawat yang akan menuju ke berbagai kota di Pulau Jawa dan Bali. Untuk pesawat kami, masih belum tiba dari Soekarno Hatta. 

Sambil menunggu pesawat kami tiba, saya berjalan-jalan berkeliling ruang penumpang. Ruangannya semakin nyaman. Ada sofa panjang, tempat duduk yang nyaman dan banyak fasilitas pendukung lainnya seperti ada area playground anak yang cukup nyaman, mushola berdekatan dengan ruang tunggu, toilet yang cukup bersih dan tenant-tenant yang semakin banyak di area ruang tunggu penumpang.

Berhubung belum shalat dzuhur, jam tunggu saya pergunakan untuk melaksanakan shalat terlebih dahulu. Ruang shalatnya juga cukup nyaman dan luas. Setelah shalat, saya kembali ke tempat duduk yang berada berdekatan dengan gate 4.





Selain kami bertiga, ternyata kami berjumpa dan satu pesawat dengan teman-teman apoteker rumah sakit lainnya. Tapi mereka gak stay ke Jakarta dulu, melainkan mau jalan-jalan ke Kota Bandung. Namanya juga emak-emak, kalau dapat tugas ke Jakarta, sudah tergoda dengan nyobain kereta cepat yang lagi viral saat ini yaitu Whoosh. Jadi pengen naik kereta itu juga. Semoga besok ada waktu naik Whoosh. 

Sekitar jam dua siang, pesawat kami sebentar lagi akan landing. Buka aplikasi FlightRadar melihat pesawat apa yang akan kami gunakan. Pesawat yang kami gunakan yaitu Garuda Indonesia Boeing 737-800 dengan kode registrasi PK GMY dan dilihat dari profilnya di aplikasi, pesawat ini berusia sekitar dua tahun empat bulan. Wow, cukup muda juga ya.

Total seat 162 seat, dimana untuk kelas bisnis 12 seat dengan konfigurasi 2-2. Sedangkan kelas ekonomi 150 seat dengan konfigurasi 3-3. 

Nomor penerbangan kami yaitu GA 433 dari Lombok menuju Soeta dengan waktu boarding pukul 14.25 WITA. Saya duduk di seat 30A yaitu di emergency seat samping sayap. 

Bukannya kebetulan dapat seat tersebut, tapi memang sengaja saya meminta seat itu agar lebih lega saja karena jarak seat di depannya cukup luas. Sedangkan kedua teman yang lain duduk di seat yang terpisah dari saya. 

Kurang pukul 14.15 WITA, pesawat Garuda Indonesia landing dengan sempurna di runway BIZAM. Cuaca siang itu juga cukup baik. Gak ada keterlambatan yang saya dan penumpang lainnya alami. Malahan waktu boardingnya tepat waktu. 

Setelah pesawat terparkir dengan sempurna. Para penumpang sudah berjejer ngantri di depan gate 4. Gak lama petugas sudah menginfokan bahwa seluruh penumpang sudah bisa boarding. Satu per satu para petugas mengecek kembali tiket dan kartu identitas penumpang sebelum berjalan menuju pesawat.

Melewati petugas, saya dan rombongan berjalan melalui lorong menuju garbarata di gate 4. Terlihat moncong putih khas Boeing 737-800 dengan livery polos putih bertuliskan Garuda Indonesi lengkap dengan logo kepala garuda dengan bagian ekor berwarna dominan biru tua dan muda.





Penumpang Garuda siang itu ramai dan full seat. Heran juga, padahal maskapai ini kalau dari harga tiket, paling mahal dibandingkan kompetitor lainnya di dalam negeri. Tapi penumpangnya gak pernah sepi. 

Tapi kalian sudah tau jawabannya. Mungkin pikiran saya dan penumpang lainnya, kami ingin terbang nyaman dan aman. Apalagi Garuda sudah terkenal dengan armadanya yang terawat baik. 

Fasilitasnya oke dengan mendapatkan service makan di atas pesawat untuk durasi penerbangan dua jam. Sedangkan service snack di bawah satu jam penerbangan (koreksi bila saya salah). 

Satu per satu, para penumpang masuk ke dalam kabin pesawat. Saya pun sudah masuk ke dalam kabin mendapatkan senyuman hangat dari pramugari yang berdiri tepat di depan pintu pesawat dengan pakaian khas kebaya warna biru toska dan orange. 

Yang buat saya kaget setelah masuk ke dalam kabinnya. Ternyata di kelas ekonomi, penampakan seatnya berubah dari warna kain seatnya. Terakhir kali saya naik Garuda, seatnya warna dasarnya cokelat dengan bantalan kepala berwarna hijau. Sekarang warnanya menjadi biru tua dan bantalan berwarna cokelat. 

Sayangnya seatnya sekarang agak lebih ramping dibandingkan sebelumnya yang agak tebal. Tapi sejauh ini, cukup nyaman dengan seat baru dari Garuda. 

Untungnya saya duduk di seat nomor 30A dan saat itu belum ada penumpang yang duduk di seat sebelahnya. Jadi saya masih bisa bebas masuk menuju seat. Setelah duduk dan meletakkan tas di kompatermen kabin atas, saya melihat ke arah luar jendela. 




Pas banget mendapatkan foto cantik kalau duduk di seat ini. Jadi tips buat kalian yang akan terbang dan ingin duduk di sebelah jendela. Kalian bisa pilih nomor kursi nomor 30A dan 30F karena posisinya tepat di samping pintu darurat atau emergency seat. 

Tapi buat yang takut duduk di emergency seat. Kalian bisa request nomor lainnya pada saat melakukan proses check in online maupun offline. 

Kurang lebih lima belas menit proses boarding, pesawat melakukan pushback dan bersiap untuk taxi. Layar LED yang berhadapan dengan saya, memutar flight safety demonstration. 

Jadi untuk fasilitas di seat Garuda masih seperti biasanya. Ada kompartemen layar LED di masing-masing seatnya. Ada meja lipat untuk menaruh barang ringan dan makan.

Ada bantalan kepala yang empuk. Jarak antar seat di depannya cukup lega. Ada buku keselamatan yang bisa dibaca selama penerbangan, buku doa dan majalah tentang travel dan kuliner. Ada juga headseat disediakan di masing-masing seat. 

Gak lama menunggu, pesawat kami pun melakukan proses taxi yang artinya sudah diperbolehkan untuk berjalan menuju runway. Lalu lintas penerbangan di Lombok siang itu cukup padat. 

Bismillah.... Saatnya pesawat take off. Hati pun berdebar-debar. Semoga critical eleven berjalan dengan lancar. Dimana sebelas menit paling penting dalam sebuah penerbangan yaitu tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing. Sering terjadi kecelakaan pesawat di sebelah menit tersebut. 

Setelah take off dan pesawat berada di ketinggian aman. Tanda mengenakan sabuk pengaman sudah dipadamkan. Artinya kita sudah melewatkan tiga menit paling krusial. 

Dari atas tampak di kejauhan gunung Rinjani tapi sayangnya tertutup oleh awan. Kumpulan awan di atas Lombok siang itu cukup tebal dan membuat turbulensi kecil terasa. 




Nikmatnya duduk di seat dekat jendela itu, kita bisa melihat view lautan awan dan pulau-pulau kecil yang terlihat jauh di bawah. Birunya lautan dan hijaunya pegunungan dan persawahan. Terlihat gedung-gedung yang semakin mengecil. 

Kurang lebih lima belas menit terbang. Para pramugari-pramugari membagikan makan siang ke seluruh penumpang baik di kelas bisnis maupun ekonomi. 

Menu makan siang yaitu Nasi Goreng Ayam Bumbu Taliwang. Kedengarannya enak dan ini pertama kalinya saya makan nasi goreng pake ayam bumbu taliwang. Biasanya kalau gak nasi kuning ya nasi putih dengan ayam gulai kalau naik Garuda. 

Dihidangkan menggunakan wadah berbentuk persegi panjang dengan nampan di bawahnya. Selain nasi, ada cemilan berupa kacang koro, snack cruffles dan tissue bawah. Untuk minumannya saya pesan susu putih dingin. 

Soal rasa nasi gorengnya menurut saya cukup enak. Bumbunya terasa tapi gak terlalu pedas. Nasi gorengnya pulen dan ayam bumbu taliwangnya enak bener. Daging ayamnya empuk. Bumbu taliwangnya gak terlalu pedas tapi berasa rempah-rempahnya. 

Cukup mengenyangkan dan saya suka banget sama menu satu ini. Apalagi setelah makan ada snack cruffles rasa strawberry sebagai pencuci mulut. 

Ditambah lagi minum segelas susu putih. Dan saya pun meminta segelas susu putih lagi dan pramugaranya memberikan. Terimakasi mas !.

Ada sedikit insiden disaat kami menikmati makanan di dalam pesawat. Penumpang di sebelah saya menumpahkan teh panas ke kaki saya. Untungnya saya pakai celana pendek. Jadinya hanya kaki dan sendal yang basah. 

Wajah Mas bule yang gak tau asalnya dari mana seketika pucat dan meminta maaf kepada saya. 

"It's oke, no problem sir", jawab saya dengan sedikit senyum kecut ke arah dia. Dia pun memanggil pramugara tadi untuk memberikan saya satu gelas minuman lagi. Tapi saya menolaknya karena sudah kekenyangan. 

Saya pun langsung mengingat kejadian terakhir kali naik Garuda disaat saya menumpahkan kopi ke penumpang di sebelah saya. Kejadiannya tiga tahun yang lalu. Jadi lucu sendiri. 

Dia pun tersenyum dan masalah tersebut saya anggap selesai karena ada etika baik dia ke saya. Untungnya saya masih berbaik hati dan good mood saat itu. Kalau gak, mungkin sudah saya lempar mas bulenya keluar pesawat, hehehe.. i just kidding sir. 




Saya melanjutkan untuk bersantai sejenak sambil menutup mata, menikmati sisa penerbangan siang menjelang sore itu. Mas bulenya juga cuek dengan melanjutkan baca novel yang dia bawa dari awal tadi. 

Pikiran saya, kenapa gak penumpang cewek di samping mas bule itu aja yang di sebelah saya. Lumayan cantik dan sepertinya orang Asia juga tapi gak tau negara mana. Dari tampilannya sih bukan orang Indonesia. Sudahlah lupakan saja !.

Sejauh ini penerbangan lancar-lancar saja. Kurang lebih satu setengah jam penerbangan, posisi pesawat dilihat dari flight radar sudah berada di atas Jakarta. Artinya sebentar lagi kami akan landing. 

Melihat keluar jendela, terlihat gedung-gedung tinggi Kota Jakarta. Sudah lama rasanya gak melihat view seperti ini. Informasi pilot bahwa kita akan segera melakukan landing. Tanda sabuk pengaman sudah dinyalakan. 

Di sela-sela akan landing, saya lupa melakukan lavatory inspektion yaitu masuk ke dalam toiletnya. Gak apa-apa. Lagian gak ada rasa ingin untuk buang air kecil juga. Dan moment itu saya lewatkan saja. 

Gak terasa dua jam penerbangan, pasawat berhasil landing dengan mulus. Dan pesawat berjalan menuju terminal tiga. Untuk Garuda Indonesia, Pelita Air, Trans Nusa dan penerbangan internasional lainnya turunnya di Terminal 3 Soeta. 

Jam tangan menunjukkan pukul 16.10 WIB. Saya dan penumpang lainnya bersiap-siap untuk turun dari pesawat melalui garbarata lagi. Kalau boleh jujur, saya kurang suka naik dan turun pesawat itu dari garbarata. Paling suka pakai tangga biasa karena bisa lihat pesawatnya lebih jelas dan mengambil foto lebih maksimal. 

Anehnya lagi, setiap nasi pesawat, disaat pesawat sudah landing dan akan menuju apron. Banyak penumpang sudah berdiri padahal pintu pesawatnya belum dibuka. Dan jengkelnya lagi, mereka buka kompartemen bagasi atas dan mengambil tas-tas besar atau koper berukuran sedang. Padahal penumpang lain masih duduk. Sering terjadi itu. 

Kalau saya sih duduk santai dulu sampai penumpang sudah banyak yang turun. Setelah agak sepi, baru saya dan teman-teman turun. 

Welcome Jakarta !. 

Perasaan bahagia dan lega sudah sampai di Jakarta dengan selamat dan sehat. Berjalan menuju area pengambilan bagasi dan pintu kedatangan domestik. 

Buka handphone dan mengecek apa sudah dijemput apa belum sama teman yang bersedia menjemput kami. 

Ternyata beliau sudah menunggu di pintu kedatangan. Kami pun segera menuju area pengambilan bagasi dan keluar ke arah pintu kedatangan. 

Suasana Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno Hatta sore itu sangat ramai dan padat jam penerbangan. Pemandangan yang biasa saya lihat jika ke Jakarta. 

Perjalanan dari bandara ke hotel yang lokasinya berada di daerah Kuningan sekitar satu jam saja (sudah dihitung sama macetnya). 

Untuk hotel tempat kami menginap, saya review di cerita berikutnya. Ditunggu saja ya !. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra