Tuesday, 17 October 2017

Kecantikan Alam Gerupuk dari Inlight Lombok


Hari Sabtu adalah hari favorit saya sejauh ini. Alasannya karena hari paling tersantai diantara hari lainnya di dalam kerjaan saya sebagai petugas kesehatan sekaligus abdi negara. Dibandingkan Hari Minggu, saya lebih suka dengan Hari Sabtu. Saat masih di bangku sekolah dasar sampai sekarang, Sabtu gak pernah tergantikan di hati,cieeee. Kok jadi baper gene yaak?

Ngomong-ngomong soal Hari Sabtu, di akhir pekan yang lalu saya bareng temen-temen kerja pergi bersantai sejenak menghabiskan waktu. Tujuan selanjutnya yaitu ke sebuah tempat yang lagi ngehits di instagram. Lokasinya di daerah Gerupuk.

Gerupuk ???

Kalian sudah mengenal daerah Gerupuk belum ?. Ada yang sudah mengenal dan ada yang masih asing dengan nama daerah ini. Gerupuk adalah nama sebuah desa atau daerah yang memiliki panorama alam yang sungguh kece. Berada di sebelah timur dari Pantai Kuta Mandalika dan Tanjung Aan. Kurang lebih satu jam perjalanan dari Kota Mataram menuju Gerupuk. Gak terlalu lama memang dengan kondisi jalan aspal yang sudah mulus.

Di Gerupuk ada sebuah desa nelayan dan terkenal dengan tempat budidaya udang dan ikan laut di Lombok Tengah bagian selatan. Gerupuk juga terkenal dengan ombaknya yang cocok sekali buat penggila olahraga ekstrem yaitu surfing. Selain Pantai Kuta Mandalika, pantai-pantai yang ada di daerah Gerupuk juga sangat ramai dikunjungi oleh para tamu asing dari penjuru dunia. Selain surfing, perairan Gerupuk juga sering digunakan untuk kegiatan mancing mania. Beragamnya jenis ikan yang terdapat disini dan panorama alam yang kece, menjadi alasan para pecinta mancing mania untuk berlomba-lomba datang kesini. Keren kan Gerupuk ?

Tempat yang kami datangi yaitu sebuah resto dan penginapan yang aduhai kecenya "Inlight Lombok". Sebenarnya sudah seminggu yang lalu kami mau datang kesini, tapi berhubung sibuk dengan kerjaan, jadinya kesininya dipending dulu. Tepatnya Hari Sabtu kemarin tanggal 14 Oktober 2017 saya bareng temen-temen sudah merawanin tempat ini. Merawanin ? Maksudnya sudah menebar virus lewat foto-foto kece di akun medsos masing-masing hehehehe. 

Gimana tanggapan kalian dengan foto di atas ?. Pasti kalian punya pendapat masing-masing. Yuuk dibaca tulisan saya sampai selesai ! hehehe.





Berangkat sekitar jam dua siang sehabis pulang kantor dengan beranggotakan delapan orang. Anggotanya sama seperti saat cerita saya di Panyawangan Resto  beberapa minggu yang lalu. Cuaca saat itu cerah meskipun paginya turun hujan. Jalur yang kami tempuh melalui By Pass Lombok International Airport kemudian mengarah ke jalur Pantai Kuta Mandalika. Kondisi jalan beraspal mulus meskipun di beberapa titik di daerah Desa Sade sedang ada pelebaran jalan dan membuat macet beberapa ratus meter saja. 

Berhubung disaat ini Pantai Kuta Mandalika dan sekitarnya sedang ada proyek pembangunan dari perbaikan jalan, pembuatan masjid termegah yaitu Masjid Mandalika yang dijadwalkan Bulan September lalu sudah digunakan dan penataan pantai berstandar internasional yang sudah tahap akhir. Awalnya sih mau melewati jalur Pantai Kuta Mandalika, tapi berhubung ngejer waktu biar gak kesorean sampai tujuan. So, saat balik ke Kota Mataram rencananya kami melewati Pantai Kuta Mandalika. 

Jalur yang akhirnya kami lalui yaitu jalur Pantai Bumbang. Katanya Mas Dika yang menyetir mobil saat itu, kita akan melewati proyek pembangunan Sirkuit Kuta Mandalika Lombok. Waaah, mata yang tadinya ngantuk-ngantukan di mobil jadi cerah kembali. Karena penasarannya saya pun gak sabar ingin melihat sirkuit balap yang digadang-gadang menjadi salah satu sirkuit termegah dan terkece di Indonesia bahkan dunia, Amiin.. Memang benar penampakan sirkuit yang baru 50 persen jadi ini  sungguh luas dan keren. Kita lihat saja kedepannya bagaimana bentuk akhirnya. 

Gak terlalu jauh dari sirkuit, mobil kami melewati jalur baru yang sedang dibangun. Tembusannya yaitu jalur menuju Gerupuk, ini termasuk jalan pintas sebenarnya. Busyeet, ini mah jalan masih belum berbentuk, belum beraspal mulus alias masih tanah dan kerikil. Mas Dika nekat sekali lewat sini. Untung saja rombongan gak ada yang doyan muntah, jadinya aman-aman saja. Teriak sana teriak sini saat mobil goyang kesana-kemari, sejauh ini seruu abis. 

Kurang lebih tiga ratus meter lagi sebelum sampai di Inlight Lombok, kami melewati desa nelayan dan melewati jalur menanjak dengan kondisi jalan yang kurang mulus. Harus berhati-hati yang membawa mobil, disini jalannya agak sedikit curam jadi harus pinter-pinter ngegas dan atur gigi mobil. 

Next... Kami pun sampai di parkiran Inlight Lombok. Salah satu karyawan disini menghampiri kami dengan ramah. Kami pun mendengar si masnya yang menjelaskan aturan masuk di tempat ini. Aturannya antara lain, biaya masuk per orangnya 50 ribu itu baru masuknya saja, belum lagi biaya pemesanan makanan dan minuman disini. Untuk harga menu disini hampir mirip dengan resto-resto lainnya yang pernah saya datangi, berkisar 25 ribu - 80 ribu. Ada juga penginapan yang bertarif 1,3 juta per malamnya di hari biasa, Dicatat ! hehehe. Berhubung kami gak menginap, Jadi dikenakan biaya masuk sesuai aturan di atas. 





Setelah si mas karyawan tadi menjelaskan tentang aturan masuk, kami pun diarahkan menuju tempat restonya. Berhubung sisa satu meja lagi dan gak cukup buat kami berdelapan, jadinya kami memilih bersantai-santai di depan kolam renang yang berada di bawah resto. Salah satu karyawan lainnya sibuk menyiapkan tempat buat kami. Resort ini terdiri dari dua lantai, dimana lantai pertama merupakan kamar penginapan dan resto yang dipisahkan oleh tangga utama, sedangkan lantai kedua yang merupakan area kolam renang. Kolam renang di resort ini ada tiga, satu berada di depan resto, sedangkan duanya berada di lantai dua. Ada kolam kecil dan kolam berukuran besar. Arah resort dan kolam renang ini mengarah ke timur, sehingga bisa menikmati sunrise di pagi hari, sedangkan sunset gak bisa kita lihat dari resort ini karena terhalang oleh perbukitan yang berada di bagian atas.

Sayangnya saya dan temen-temen gak ada yang membawa pakaian renang. Pengen banget rasanya segera nyebur ke kolam yang berhadapan langsung dengan Teluk Gerupuk. Next time... kesini lagi bareng kekasih hati untuk nyebur bareng, lhoooo... ?

Datang kesini gak lengkap rasanya bila gak pesan makanan dan minuman. Setelah baca daftar menunya, ada sedikit kejanggalan disini. Apa itu ?. Keanehan yang saya rasakan kok gak ada daftar menu yang berbau dengan ikan, ayam atau daging-dagingan. Semuanya serba sayur alias vegetarian. Usut punya usut, ternyata si pemilik resort ini yang gak lain adalah orang asing, gak suka bawang dan cabe kecil. Si pemilik resort ini juga adalah seorang vegetarian. Jadi sudah terjawab kenapa menu masakan disini gak ada yang berbau daging-dagingan. It's Ok..., saya pun penasaran bagaimana rasanya masakan tanpa cabe kecil dan bawang. Comming Soon !!! hehehe.













Sambil menunggu makanan dan minuman yang sudah dipesan datang, seperti biasa eksis dulu kita. Kali ini kami membawa dua kamera dslr (Cannon 700D dan 70D) dan satu kamera xiaomi yi yang selalu saya bawa. Keindahan alam Gerupuk gak diragukan lagi, saya pun memulai petualangan untuk mengambil spot-spot foto yang kece. Berhubung baru selesai musim kemarau, perbukitan dan pepohonan disini masih kering dan eksotis. Salah satu pohon yang berada di depan kolam renang utama masih tanpa dedaunan yang menggugurkan daunnya ketika musim kemarau tiba. Di sisi sebelah selatan terlihat sebuah bukit kecil yang menjadi kekhasan dari tempat ini.

Waktu semakin sore saja, sedangkan cuaca semakin bersahabat kepada kami. Birunya laut, putihnya buih yang diciptakan oleh ombak-ombak, cerahnya langit yang ditemani oleh deretan awan-awan putih serta terlihat para nelayan bersama perahunya yang sedang berlayar ke tengah lautan untuk memulai petualangan mencari ikan sebanyak mungkin untuk dibawa pulang keesokan harinya. Ditambah lagi pasir putih dan bebatuan pantai yang terdapat di depan resort. Pemandangan yang sangat eksotis dan jarang saya temui di tempat-tempat lain. Resort yang tepat berada di depan pantai yang sunyi, jauh dari perkotaan dan kece pastinya.

***


Kok makanan dan minuman yang kita pesan belum datang juga ya ? Sudah satu jam kita nunggu. Usut punya usut ternyata chef di restonya hanya satu orang saja. Wajar saja apa yang kami pesan lama datang, ternyata masih proses masak-memasak. Jadi harus sabar-sabar menunggu yaa mbak broo. Perlu dimaklumin dalam hal-hal seperti ini. Gak semuanya berjalan dengan mulus, pasti ada saja kelebihan dan kekurangan yang kita dapat. 

Hampir satu jam lebih kami mununggu, makanan dan minuman yang dipesan akhirnya datang juga. Kami sudah kelaparan dan kehausan karena kecapean eksis fotoan. Fotoan juga bisa capek ya, apalagi yang jadi tukang foto ? bayangin saja sendiri, hehehehe. Meskipun semua menu sudah datang, salah satu teman tetap komplain ke bagian restonya. Kebetulan disana ada si pemilik resort, Mr.bule senyum-senyum saja mendengar ocehan salah satu temen, namanya emak-emak pasti cerewet lah bila pesenannya belum datang. Bayangin saja lagi kalo gaji suaminya telat dikasi, ocehannya seperti apa yaak ?,hehehehe. 

Berhubung ada komplain dari kami, salah satu karyawan resort menghampiri kami yang sedang menikmati hidangan yang ada. Ada kabar gembira yang disampaikan oleh si masnya, asyiiikkk... Ternyata kami dapat free biaya masuk, yang tadinya dikenakan biaya masuk 50 ribu per orang, jadi free karena adanya keterlambatan dalam penyajian hidangan yang telah kami pesan. Wajah yang tadinya cemberut kembali ceria. 







Berbicara soal menu disini, sama saja dengan menu-menu yang ada di resto yang pernah saya datangi. Di awal cerita, saya sudah menuliskan kekhasan menu masakan disini. Si pemilik gak suka dengan bawang dan cabe kecil, lebih uniknya lagi disini makanannya berbahan dasar sayur dan buah-buahan. Cocok sekali bagi kalian yang vegetarian. 

Untuk kesempatan kali ini saya gak terlalu banyak bercerita tentang kelezatan masakan disini, biar kalian penasaran, hehehehe. Pastinya ada beberapa menu yang enak disini, yang cocok dengan lidah kita orang Indonesia. Beberapa foto menu yang ada di atas yaitu beberapa menu rekomended sari saya. Apa itu, silahkan langsung saja datang ke Inlight Lombok ! Dijamin gak nyesel dan pengen lama-lama bersantai disini. 

Hari Sabtu yang menyenangkan bagi saya pribadi. Ke tempat baru dengan pengalaman yang unik, ada keberuntungan yang kami peroleh yaitu free biaya masuk gara-gara pesanan kami terlambat datang karena chefnya hanya satu orang, rezeki buat kami. Alhamdulillah hehehe.

"Apapun Masalah yang Kita Hadapi, Disenyumin Saja Meskipun Hati Lagi Bersedih", Jangan Lupa Bahagia !!! hehehe (curhat colongan).



Penulis : Lazwardy Perdana Putra
google.com

Tuesday, 10 October 2017

Bersantai di Panyawangan Resto Lombok : Bengkaung, Lombok Barat


Akhir pekan itu enaknya ngumpul bareng keluarga, sahabat atau kekasih hati. Apalagi yang sedang bete sama kerjaan, gak ada salahnya refreshing sejenak ke sebuah tempat yang bisa membuat hati kembali tenang. Berhubung di bulan ini saya mendapat rezeki yang lebih, saya mengajak teman-teman kantor untuk berburu kuliner. Kali ini giliran saya yang traktir, asyiiikk (nyombong dikit) hehehehe.

Hari Sabtu sehabis bertugas dinas, kami bertujuh pergi ke sebuah resto yang sedang ngehits di Pulau Lombok. Tepatnya di daerah Bengkaung, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat (lokasinya ada di peta di akhir tulisan ini). Saya bersama teman-teman medis lainnya berencana menghabiskan waktu sambil makan siang.

Makan siang sambil bersantai di resto kece, Panyawangan Resto, Bed & Breakfast. Mau tau keseruan kami disana?. Dibaca tulisan saya sampai selesai ! 



Resto kece yang sudah dua tahun eksis ini merupakan resto yang memiliki tema masakan nusantara. Untuk menuju Panyawangan Resto dibutuhkan hanya lima belas menit saja dari Kota Mataram (8 km). Berhubung tempat kerja berada di tengah kota, jadi gak terlalu lama di jalan. Jalurnya pun gak susah aspal mulus, hanya saja sekitar tiga ratus meter sebelum sampai di restonya, jalannya sedikit menanjak karena letak resto ini di atas perbukitan. Kami bertujuh menggunakan mobil ibu bos (mobil pribadi) karena saat itu sedang mendung pertanda hujan akan turun, biar gak kehujanan di jalan hehehe.

Memang di awal bulan Oktober ini hujan sering sekali turun, maklum sudah memasuki musim penghujan. Bahkan sudah dua hari ini hujan terus menerus. Paling enak hujan-hujan gene makan dan minum yang hangat-hangat. 

Bayangan saya di akhir pekan, resto ini ramai dikunjungi apalagi saat jam makan siang. Tetapi setelah sampai dilokasi, gak ada pengunjung lainnya. Asyiik... hanya kami bertujuh saja, seperti tempat privasi rasanya.

Tempatnya kece, berada di atas bukit dan menghadap ke arah barat. Terlihat dari kejauhan pantai Batulayar, Lombok Barat. Ruangan di Panyawangan Resto terbagi menjadi dua bagian. Bila yang ingin bersantai sambil menikmati pemandangan perbukitan Senggigi, bisa mengambil tempat duduk di bagian luar resto. Tempatnya kece abis, sangat cocok buat yang ingin berduaan bareng si doi. Sedangkan untuk ruangan bagian dalam, cocok untuk berkumpul dengan keluarga besar karena tempat duduknya lumayan besar dibandingkan di bagian luar. Bisa juga dijadikan tempat meeting.

Resto ini berukuran gak terlalu besar. Hanya saja bentuknya unik, semua dindingnya dari kaca. Jadi yang berada di dalam ruangan, bisa melihat ke arah luar dengan keindahan perbukitan dan pantai. 

Saat kami tiba, kami disambut dengan ramah oleh para karyawan resto. Hujan sepertinya gak lama lagi turun. Kami segera masuk ke dalam resto sebelum hujan turun. Para karyawan resto mencarikan kami tempat untuk tujuh orang. Awalnya saya ingin di luar saja, tapi berhubung tempatnya gak cukup jadi di dalam saja. 




Tempatnya nyaman sekali baik di bagian luar maupun di dalam, kembali lagi ke selera masing-masing. Setelah mendapat tempat duduk yang pas untuk bertujuh, kami pun segera memesan makanan yang ada di daftar menu. Salah satu karyawan menjelaskan kepada kami menu-menu apa saja yang enak dan spesial pastinya. 

Untuk menu disini sangat beragam dan lumayan banyak pilihan. Kebanyakan masakan nusantara, selain itu ada juga beberapa menu yang dari luar Indonesia tapi sudah disesuaikan dengan lidah kita. Oke, saya pun segera memilih makanan dan minuman, teman lainnya pun segera memilih juga. 

Dari penjelasan karyawan resto, ada beberapa menu yang menarik perhatian saya antara lain Panyawangan Calzone, Panyawangan Yum, Nasi Goreng Seafood Panyawangan, Karedok, Jengkol Balado, Grill Banana ( Pisang Bakar ), dan Kue Cubit. Untuk minumnya yang menjadi favorit saya yaitu Panyawangan Spesial, Dragon Fruit Juice, dan Es Sarang Burung. 

Kok ada Karedok ya ?. Saya pun penasaran kok ada jenis masakan Sunda disini. Usut punya usut ternyata yang memiliki resto ini adalah orang Jawa Barat alias urang Sunda. Pantesan saja ada masakan Sunda disini. Semakin beragam saja jenis resto yang buka di Pulau Lombok. Sejauh ini pelayanan lumayan memuaskan. 






Setelah memesan beberapa makanan dan minuman, saya pun segera mengambil kamera kesayangan yang selalu dibawa kemana pun saya pergi. Sambil menunggu makanan datang, kami pun segera menuju ke bagian luar resto. Disini nyaman sekali tempatnya, tapi sayang tempatnya terlalu sempit untuk kami bertujuh. Untungnya saat itu gak ada pengunjung, jadi saya bisa jepret sana jepret sini tanpa mengganggu kenyamanan tamu yang lain. Bagi yang gak doyan foto-foto, kalian juga bisa duduk santai sambil menikmati pemandangan atau main permainan bola-bolaan yang ada di dalam ruang (liat foto di atas).

Hijaunya perbukitan, indahnya garis pantai dari kejauhan dan udara yang sangat sejuk. Gak salah kami memilih untuk makan siang dan menghabiskan waktu disini. Spot-spot untuk berfoto juga sangat kece disini. Perut yang tadinya lapar, agak berkurang seketika karena asyik menikmati pemandangan disini.

Oke..!!! Selanjutnya saya akan menjelaskan makanan dan minuman yang sudah dipesan...Cekidooot 


Grill Bananan

Beberapa menu yang kami pesan diantaranya ada grill banana atau pisang bakar. Pisang bakar dengan taburan cokelat dan keju lebih nikmat dan menyehatkan. Jenis pisang yang digunakan yaitu pisang raja yang ukurannya jumbo. Saya gak ketinggalan mencicipi satu pisang bakar khas dari resto ini. Ternyata bener-bener enak dan gurih. Sangat cocok dinikmatin hangat-hangat disaat hujan turun. Satu porsi pisang bakar diberi harga 25 ribu. 


French Fries

Dimanapun tempat kulineran, pasti kentang goreng menjadi menu wajib buat saya. Makanan cemilan favorit yaitu kentang goreng. French fries khas Panyawangan Resto ukurannya lumayan besar. Gak terlalu banyak minyak dan rasanya gurih. Satu porsi kentang goreng seharga 20 ribu.


Fruid Salad

Bagi yang lagi program diet, kalian bisa memesan salad buah khas resto ini. Buah yang digunakan antara lain buah mangga, naga, dan leci. Ditambah lagi dengan sayur kubis sebagai pelengkap. Saos saladnya asem-asem seger. Cocok sekali dinikmatin sebelum makan makanan berat (eh lupa kalo mau diet) hahahahaha. Satu porsi fruid salah seharga 25 ribu.


Kue Cubit

Namanya kue cubit itu salah satu cemilan favorit saya banget. Pertama kali jenis kue ini disaat saya jalan-jalan ke Kota Bandung, Jawa Barat. Kue cubit saudaraan dengan kue pukis. Hanya bentuknya saja yang berbeda. Bila kue pukis bentuknya pipih dan lonjong, sedangkan kue cubit bentuknya setengah bola dan bulat. Disini kue cubitnya ada dua rasa, rasa coklat dan keju. Satu porsi ada sepuluh buah kue cubit, lumayan buat perut kenyang. Harga satu porsi kue cubit yaitu 20 ribu. 


Nasi Goreng Seafood Panyawangan

Menu spesial yang dimiliki resto ini salah satunya yaitu Nasi Goreng Panyawangan. Dari keterangan teman yang memesan nasi goreng ini, rasanya gurih dan bumbunya pas. Berhubung saya penasaran dengan rasanya, akhirnya saya pun ikut mencicipi (antara penasaran ato doyan). Rasanya bener-bener gak bohong. Satu porsi nasi goreng ini sudah cukup membuat kita kenyang. Harga satu porsi yaitu 30 ribu.


Panyawangan Calzone

Jenis makanan ini merupakan saudara dari pizza. Calzone adalah makanan khas yang berasal dari Italia. Jadi apa perbedaan pizza dengan calzone ?. Bedanya, kalau pizza itu berbentuk lingkaran dan ditaburi toping di atasnya kemudian dipanggang. Sedangkan, calzone itu rotinya dilipat sehingga topingnya ada di dalam, jadi mirip seperti membuat pastel. Jadi isian pizza dan calzone ini sama tapi bentuknya saja yang berbeda. 

Panyawangan Calzone agak sedikit berbeda dari calzone pada umumnya. Calzone di resto ini digoreng pakai tepung panir atau tepung roti sehingga saat dimakan terasa gurih. Saya baru dua kali makan calzone, memang berbeda calzone saat pertama kali saya makan dengan calzone khas dari Panyawangan Resto. Satu porsi Panyawangan Calzone seharga 25 ribu. Cukup murah bila dibandingkan dengan harga calzone yang pernah saya makan. 


Dragon Fruid Juice

Dragon fruid juice atau bahasa kerennya jus buah naga ini kesegarannya gak perlu diragukan lagi. Buah naga yang digunakan yaitu buah naga yang daging buahnya berwarna ungu atau kemerahan. Dinikmatin sambil makan siang, menikmati pemandangan alam Batu Layar menambah suasana jadi syahdu. Satu gelas jus buah naga seharga 17 ribu.


Penyawangan Spesial

Awalnya saya bertanya minuman spesial yang ada di resto ini kepada karyawangan resto. Si mbaknya menyebut nama Penyawangan spesial. Minuman sejenis jus dengan campuran mango (buah mangga), biji belewa, dan potongan leci yang baunya harum dan rasanya manis. Dicampur menjadi satu dengan air soda. Seger banget dinikmatin disaat rintik-rintik hujan yang turun. Satu porsi penyawangan spesial seharga 20 ribu.



Berhubung di luar lagi turun hujan deras, kami kembali ke tempat duduk yang sudah disediakan. Hidangan yang sudah dipesan sudah datang satu per satu. Menikmati makan siang bersama para sahabat dan orang-orang terdekat sambil duduk menikmati hujan turun, terasa hari itu sangat menyenangkan.

Setelah habis makan, hujan pun berhenti. Kami pun kembali menuju keluar untuk mengambil sesi foto sambil menunggu datangnya senja. Awalnya mau menunggu sunset, tapi cuaca gak bersahabat. Kata karyawan resto, sunset disini keren. Wah, tempat sangat kece untuk menikmati sunset dong. Mantaaap.

Thanks buat para karyawan Panyawangan Resto untuk pelayanannya. Good Job

Gimana ? Tempat rekomended untuk kalian menghabiskan waktu weekend bersama keluarga, sahabat dan kekasih. Selain resto, Panyawangan Resto juga menyediakan penginapan dan tempat sarapan, bisa dilihat dari namanya sekarang yaitu Panyawangan Resto, Bed & Breakfast.

Penulis : Lazwardy Perdana Putra
google.com

Friday, 6 October 2017

Sensasi Berada di Dalam Kapal Selam KRI Pasopati 410, Surabaya


Terlihat seram tapi kece yaa ? hehehe.

Itulah kesan pertama kali saya memasuki kapal selam perang milik Indonesia buatan tahun 1952 ini. Terlihat gagah perkasa dari kejauhan dan agak seram sih. Kenapa seram, karena saya membayangkan saat kapal selam ini bertempur di lautan luas untuk sebuah tujuan demi membela bangsa dan negara Indonesia kita tercinta ini, saya merasakan suasana di dalam kapal yang menegangkan disaat mulai bertempur, Sereemmm ( terlalu banyak nonton film perang Hollywood ).

Apa saja kesan-kesan yang saya temui disaat mengunjungi Kapal Selam KRI Pasopati 410 ini ? Yuuk disimak terus cerita saya sampai selesai !.





Berawal dari keisengan saya jalan-jalan di Kota Surabaya seorang diri tanpa ada si doi menemani dikarenakan lagi ada jam kuliah. Jadi, daripada bosan di kamar hotel sendirian, saya coba membuka aplikasi taksi online. Saat mengecek tempat wisata yang ada di Surabaya. Saya tertarik datang ke Museum Kapal Selam Pasopati 410 yang lokasinya gak terlalu jauh dari hotel tempat saya menginap. Setelah memesan taksi online, gak lama sebuah mobil Avanza hitam sudah parkir di depan hotel. Pak Sopir yang bernama Pak Efendi menyapa saya dan siap mengantarkan saya keliling Kota Surabaya. Asyiiikk...bisa cuci mata nih tanpa ketauan si doi.hehehehe. Yang namanya bersolo trip sih saya sudah biasa, jadi selalu dinikmatin di setiap perjalanan #JiwaBackpackerSejati. 

Hanya membutuhkan waktu lima belas menit saja, saya sudah sampai di Jalan Pemuda dan Sungai Kalimas dimana lokasi sosok Kapal Selam KRI Pasopati 410 berada. Setelah mobil berhenti dan membayar ongkos, saya pun turun dari mobil. Segera berjalan ke pintu masuk dan membeli tiket untuk bisa masuk ke dalam badan kapal selam ini. 

Kota Surabaya yang terkenal dengan sebutan Kota Pahlawan ini memiliki banyak cerita sejarah yang dapat kita ketahui. Bila kebetulan berlibur atau berkunjung ke kota terbesar kedua setelah Jakarta, gak ada salahnya mengunjungi tempat-tempat yang membuat kita belajar tentang sejarah berdirinya negara kita tercinta ini "Indonesia".

Banyak sekali tempat-tempat sejarah yang dapat kita jumpai, salah satunya Monkasel KRI Pasopati 410, sebuah kapal selam tipe Whiskey Class buatan tahun 1952 yang didatangkan dari Uni Soviet (Rusia) ke Indonesia yang memiliki banyak cerita sejarah saat itu diantaranya dalam operasi pembebasan Irian Barat dari kolonial Belanda.

Monumen Kapal Selam Pasopati 410 dibangun di sisi Sungai Kalimas, Kota Surabaya. Bila kita sedang berada di Jalan Pemuda atau di dekat Stasiun Kereta Api Gubeng, Surabaya, kita dapat melihat sosok sebuah Kapal Selam Pasopati 410 yang berdiri gagah di pinggiran Sungai Kalimas. Jadi kapal selam ini asli lhoo yaa alias bukan miniatur. Kalo gak percaya dibuktikan saja sendiri dengan datang langsung kesini. hehehehe.





Monkasel KRI Pasopati 410 ini diresmikan tanggal 27 Juni 1998 untuk memperingati keberanian para pahlawan Indonesia. Monkasel ini didirikan dengan gagasan para sesepuh kapal selam TNI Angkatan Laut. Informasi yang saya dapat dari salah satu pemandu wisata bahwa Kapal Selam KRI Pasopati 410 ketika dibawa ke Indonesia ternyata harus dipotong-potong dulu menjadi 16 bagian. Gimana caranya sebuah badan kapal selam yang memiliki panjang 76,6 meter dan lebar 6,3 meter dipotong menjadi 16 bagian yaa?. Percaya gak percaya sih, tapi saya percaya karena sejarah mengatakan demikian. 

Selanjutnya potongan kapal selam ini dibawa ke lokasi Monkasel kemudian dirakit kembali menjadi sebuah monumen. Monkasel yang terletak di sisi Sungai Kalimas ini merupakan Monkasel terbesar di kawasan Asia Tenggara. Kece bukan ?

Saat memasuki pintu masuk ke dalam kapal selam, ada aura yang membuat saya merinding. Jujur saja, ini jenis kapal yang baru pertama kali saya naikin. Meskipun KRI Pasopati 410 sudah menjadi monumen alias gak beroperasi lagi, tapi saat berada di ruang pertama, saya merasa kapal selam ini masih beroperasi alias masih hidup. Penyinaran yang kurang, hanya dibantu dengan lampu neon yang hanya beberapa watt saja. Apalagi aliran udara yang sangat hangat meskipun sudah terbantu oleh adanya alat pendingin ruangan, tapi masih saja terasa hangat (menurut saya). Ditambah lagi aroma yang khas, membuat kami yang berada di dalam kapal selam perang ini dibawa kembali ke waktu lampau disaat kapal selam ini masih beroperasi. Saya pun dibuat takjub dengan suasana berada di dalam kapal selam terhebat dan tercanggih pada zamannya. Kereen...!!!

Di ruang pertama merupakan ruang torpedo haluan. Ruang untuk mempersiapkan segala macam serangan melalui roket mematikan atau torpedo. Disini ada empat tabung peluncuran torpedo, dimana untuk memasukkan torpedo ke dalam lubang tabung, ada alat berupa rantai diberi nama Transportasi Torpedo yang berfungsi untuk mengangkat torpedo agar mudah dimasukkan ke dalam tabung peluncuran. 




Memasuki ruangan selanjutnya, saya menjumpai sebuah ruangan tempat para perwira dan para pejabat terkait berkumpul. Sebuah ruangan yang sangat nyaman dilengkapi dengan sebuah meja persegi panjang yang berfungsi untuk mengadakan rapat dan berdiskusi. Masih di ruangan yang sama, terdapat sebuah tempat tidur yang merupakan ruang tidur para perwira atau yang memangku jabatan tertinggi di KRI Pasopati 410 saat itu.

Saya pun mencoba tidur-tiduran di tempat tidur yang berbentuk seperti kursi busa yang sangat empuk. Seperti inilah bentuk tempat tidur para awak kapal selam perang. Untuk diperhatikan disini, setiap memasuki ruang demi ruang di kapal selam ini, perlu kita membaca dan memahami apa saja informasi atau larangan yang tertulis dan wajib hukumnya kita ikutin. 








Memasuki ruangan selanjutnya, saya berada di tengah badan kapal selam. Suasana yang tadinya ramai sama pengunjung lainnya, berubah menjadi sangat sepi. Mana nih emak-emak rempong yang asyik selfiean sama anaknya tadi ? Kok tiba-tiba menghilang. Penyebabnya karena saya keasyikan mengamati satu per satu peralatan terjanggih yang dimiliki kapal selam di zamannya ini. Selain mengamati satu per satu, kamera selalu on (jepret sana-sini). 

Suasana menjadi sunyi sekali. Para pemandu sudah berada di ruangan sebelah. Meskipun berada di ruangan sebelah, suara antar ruang gak begitu terlalu terdengar. Jadi jangan heran bila kita berada seorang diri di sebuah ruang kapal selam walaupun ada orang lain di ruang sebelah, suara mereka gak jelas terdengar. 

Saat ini saya sudah berada di sebuah ruangan kendali. Disinilah ruang utamanya menjalankan kapal selam perang ini. Disini saya menjumpai sebuah teropong yang berfungsi untuk memantau keadaan sekitar di permukaan air disaat kapal selam berada di permukaan air. Selanjutnya ada ruang komunikasi, tempat para awak yang bertugas menyampaikan dan menerima segala macam informasi dari luar. Ada juga sebuah Giro Kompas yang berfungsi mengetahui posisi kapal selam tersebut berada.



Gak terasa waktu berlalu, ternyata saya sudah setengah jam berada di dalam Monkasel KRI Pasopati 410 ini. Panjang juga ya kapal selam ini. Untuk berada di dalam satu ruang saja, diperlukan waktu yang lama karena saya ingin tahu apa saja yang ada di dalam Monkasel. 

Saya sudah berada di ruang mesin utama. Disini ruangannya gak terlalu sempit alias lumayan luas. aliran udara gak begitu hangat lagi seperti di ruangan sebelumnya. Saya pun penasaran dengan hal ini. Kebetulan saya melihat pemandu wisata yang berjalan ke arah ruangan tempat saya berdiri. Gak menunggu lama, saya langsung bertanya kepada si pemandu.

Saya : "Di dalam kapal selam ini, kok udaranya hangat meskipun sudah terbantukan oleh alat pendingin ruangan ya?
Si Pemandu : "Iya mas, di setiap ruang disini memang terasa hangat karena kapal selam ini dirancang untuk menyesuaikan suhu di laut perairan dingin"

Jadi inti dari penjelasan si pemadu tadi bahwa kapal selam berjenis "W" ini sengaja dibuat untuk menyesuaikan dengan suhu perairan dingin seperti di Uni Soviet atau Rusia yang bersuhu dingin. Beda dengan di perairan Indonesia beriklim tropis yang  memiliki perairan bersuhu hangat. 

Saat kapal selam ini digunakan oleh Uni Soviet, mereka memakai pakaian hangat yang diberi nama Hanoman saat berada di bawah permukaan air. Berbeda saat kapal selam ini beroperasi di perairan Indonesia, semua awak kita saat itu hanya memakai celana pendek dan kaos oblong saja. Luas biasa tentara kita saat itu ternyata. Kece... !



Waktu sudah menjelang senja, saya segera menuju ke ruangan terakhir dari Monkasel. Disini saya menjumpai dua tabung torpedo lagi. Tabung torpedo buritan berada di bagian belakang dari kapal selam ini. Jadi jumlah tabung torpedo dari KRI Pasopati 410 berjumlah enam tabung torpedo (empat tabung depan dan dua tabung belakang).

Di area Monkasel ada juga studio film yang disediakan oleh pengelola. Dimana ada pemutaran film dokumenter yang bercerita tentang sejarah dari Kapal Selam KRI Pasopati 410 sejak mulai beroperasi sampai pensiun. Tapi sayang beribu sayang, saya gak sempat menontonnya dikarenakan harus segera balik ke hotel. Sudah janjian sama si doi untuk makan malam bareng sebelum keesokan harinya saya balik ke Pulau Lombok.hehehehe


Dari Monkasel KRI Pasopati 410, saya bisa belajar banyak tentang sejarah kapal selam ini. Selain berwisata sejarah, kita juga dapat merasakan suasana saat dimana para pahlawan kita yang berperang melawan para musuh demi membela tanah air kita tercinta ini "Indonesia". Sebagai bangsa yang besar, kita harus menghargai segala macam perjuangan para pahlawan yang rela mengorbankan harta dan nyawa mereka demi kemerdekaan bangsa ini. Semoga arwah para pahlawan yang telah gugur, diterima disisi Allah SWT. Amiin. 

Tulisan ini saya persembahkan untuk para pahlawan yang telah gugur di medan perang dan memperingati Hari Ulang Tahun Tentara Nasional Indonesia yang ke-72.  

"Semoga Bangsa Ini Menjadi Bangsa yang Lebih Besar Lagi dan Jauh dari Korupsi", Amiiinn.. 

Catatan :
- Waktu berkunjung ke Monkasel KRI Pasopati 410 : pukul 08.00 - 22.00 WIB.
- Tiket Masuk Rp.10.000,- per orang
- Berpakaian rapi dan sopan



Penulis :Lazwardy Perdana Putra
google.com