Thursday, 21 May 2026

Menghadiri Pameran dan Business Matching Peningkatan Penggunaan Alat Kesehatan Dalam Negeri : Seminyak, Bali


Motoran ke Bali, kali ini bukan dalam rangka liburan. Tapi menghadiri sebuah acara yang cukup menarik yaitu Pameran dan Business Matching Peningkatan Penggunaan Alat Kesehatan Produk Dalam Negeri yang diadakan oleh Direktorat Ketahanan Farmasi dan Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI yang berlokasi di Hotel Grand Mercure Seminyak, Bali. 

Acara ini sudah pernah saya ikuti dua kali. Pertama kalau gak salah tahun 2022 di Senggigi, Lombok dan tahun ini, di Seminyak, Bali. Pertemuan di dibagi beberapa zona. Nah kebetulan Bali dan Lombok merupakan zona Bali dan Nusa Tenggara. 

Setelah dapat disposisi dari pimpinan untuk berangkat ke Bali, saya cukup senang karena bisa ke Bali lagi. Gak sia-siakan moment, saya putuskan untuk ke Bali bawa motor sendiri. 

Gimana menariknya acara ini, yuuk dibaca ceritanya sampai selesai!. 




Acara ini berlangsung dari tanggal 29 - 30 April. Meskipun dua hari tapi rundown acaranya cukup padat. Kita sebagai peserta diharuskan registrasi satu jam sebelum acara dimulai yaitu sekitar jam dua belas siang. 

Panitia acara menanggung seluruh kebutuhan peserta, dari penginapan, transportasi hingga konsumsi. Jadinya seluruh peserta menginap di hotel yang sama dengan acara. Saya sangat senang bisa menginap di salah satu hotel bintang lima yang ada di daerah Seminyak. Untuk review hotelnya, akan dibahas di cerita selanjutnya. Ditunggu saja!. 

Saya tiba di hotel sekitar jam satu siang. Agak telat satu jam karena kapal telat sandar ditambah kejebak macet di Kota Denpasar. Langit Bali siang itu cukup terik. Lumayan bawa motor panas-panasan dari Pelabuhan Padangbai ke Seminyak. Mana pakai drama kapal mogok di tengah laut. 

Bisa baca disini : Motoran Ke Bali Lagi

Setelah parkirkan motor di parkiran bawah hotel, saya langsung menuju lobi hotel. Naik tangga ke lantai dua tempat acara berlangsung. Suasana sudah ramai sekali. Ada puluhan stand vendor sudah berjejer rapi di luar ruang pertemuan. Para peserta sudah berkumpul di depan ruangan. Ada yang langsung berkeliling di area pameran dan ada juga yang masih sibuk registrasi. 



Karena datangnya kesiangan alias telat satu jam dari jadwal resgistrasi, saya langsung menyelesaikan registrasi. Setelah beres, saya berkeliling pameran sambil mencari teman-teman dari NTB juga. Ada sekitar lima puluh empat satker yang diundang antara lain satker dinas kesehatan, rumah sakit pemerintah dan laboratorium kesehatan pemerintah se-pulau Bali, NTB dan Jawa Timur. 

Infonya pada akhir Maret 2026, kegiatan serupa telah dilaksanakan di Bekasi, Jawa Barat. Dengan dukungan dari Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (ASPAKI). Pameran dan business matching kembali diselenggarakan di Bali. 

Karena keasyikan berkeliling pameran dan melihat beberapa produk alat kesehatan di beberapa vendor, saya pun lupa mengambil jatah makan siang yang sudah disiapkan oleh panitia. Mari kita makan siang dulu kalau gitu !. 

Sekitar jam satu siang lebih, acara dibuka oleh panitia, sekaligus sambutan dan pengantar diskusi oleh Direktur Ketahanan Farmasi dan Alat Kesehatan, bapak Jefri Ardiyanto. Beliau menyampaikan bahwa ketahanan kesehatan Indonesia sebelumnya masih lemah akibat tingginya ketergantungan terhadap alat kesehatan impor yang mencapai sekitar 88 % transaksi alat kesehatan impor. Tapi melalui berbagai cara yang dilakukan saat ini telah terjadi peningkatan penggunaan produk dalam negeri dengan target substitusi transaksi alat kesehatan impor hingga 30 %.



Setelah sambutan-sambutan, acara dimulai dengan diskusi panel terkait pengadaan dan pengawasan alat kesehatan. Acara hari itu selesai sekitar jam empat sore. Para peserta dipersilahkan untuk beristirahat sejenak di kamar yang sudah disediakan oleh panitia. 

Saya kebetulan sekamar dengan salah satu teman satu kota yaitu Mas Tyo. Kamarnya pun gak jauh dari ruang acara. Jadinya gak capek turun naik lift. Untuk kamar hotelnya kita bahas di tulisan berikutnya ya. Khusus mereview hotel tempat saya menginap !. 

Acara dimulai lagi jam tujuh malam. Masih ada waktu sekitar dua jam untuk istirahat. Bukannya istirahat, saya pergunakan waktu untuk jalan-jalan ke pantai depan hotel. Lumayan bisa lihat view senja di Pantai Seminyak. 

Sekitar jam tujuh malam. Acara pembukaan dimulai. Sebelumnya kami makan malam terlebih dahulu. Setelah itu menyimak rangkaian acara pembukaan. 

Acara pembukaan malam itu diawali oleh sambutan Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan, L. Rizka Andalusia. Dalam sambutannya beliau menegaskan bahwa salah satu tantangan utama adalah mewujudkan sistem ketahanan alat kesehatan yang tangguh dan berkelanjutan. Dimana kebutuhan dalam negeri dapat dipenuhi oleh produksi nasional. 

Beliau juga menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pemangku kepentingan untuk mempercepat penggantian alat kesehatan impor dengan produk dalam negeri. 

***
Setelah selesai acara pembukaan, sesi malam itu ditutup dengan foto bersama dan seluruh peserta diperkenankan untuk meninggalkan ruangan. Saya dan teman-teman lainnya, melanjutkan berkeliling di pameran. Disana saya pribadi banyak berjumpa dengan vendor-vendor baru yang belum pernah saya kenal sebelumnya. 

Alat-alat yang dibawa juga cukup menarik. Pastinya saya mencari alat kesehatan dan bahan media habis pakai yang dibutuhkan oleh rumah sakit tempat saya bertugas. Suasana malam itu di pameran cukup ramai. Apalagi ada tujuh puluh vendor yang berpartisipasi dalam pameran alat kesehatan yang diadakan ASPAKI. Pastinya alat kesehatan yang dipamerkan yaitu Alat Kesehatan Dalam Negeri yang ber-TKDN. Cukup menarik!. 




Keesokan harinya, acara dilanjutkan dengan sesi Business Matching dimana pertemuan langsung antara pengguna dan penyedia untuk menjembatani kebutuhan dan solusi produk dalam negeri. 

Gak hanya itu saja, pertemuan pengguna dan penyedia untuk membangun hubungan yang baik dalam rangka memenuhi kebutuhan satker khususnya rumah sakit tempat saya bertugas. 

Ada tujuh puluh vendor yang berinteraksi dengan pengguna atau satker. Dimana dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama berlangsung selama satu jam. Dilanjutkan sesi kedua selama satu jam juga. 

Overall, saya cukup antusias bisa mengikuti kegiatan ini dari hari pertama hingga akhir. Banyak ilmu yang didapat. Apalagi ini bukan dunia baru yang saya temukan. Dinamika penggunaan alat kesehatan di negeri ini cukup baik menurut saya pribadi. Sudah banyak produsen dalam negeri yang berlomba-lomba menciptakan alat kesehatan dalam negeri yang gak kalah kualitasnya dari produk luar. Dari sisi harga juga jauh cukup terjangkau dan murah. 

Dan kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan pemahaman teknis dan regulasi terkait pengadaan alat kesehatan. Mengidentifikasi kebutuhan spesifik fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat dan sebagian Jawa Timur. Serta mendorong peningkatan penyerapan produk dalam negeri melalui e-katalog. 

Sebagai bentuk apresiasi, Kementerian Kesehatan memberikan penghargaan kebutuhan rumah sakit di Provinsi Bali dengan transaksi e-purchasing alat kesehatan dalam negeri tertinggi pada tahun 2025.

Kementerian Kesehatan terus berkomitmen memperkuat ketahanan alat kesehatan nasional dan mendorong kemandirian sektor kesehatan Indonesia. 

Semoga kedepannya, kegiatan seperti ini terus berlanjut. Harapan setiap tahun diadakan dengan tujuan agar pengguna mudah menemukan alat kesehatan dan bahan medis habis pakai yang ber-TKDN dan terverifikasi. 


Penulis : Lazwardy Perdana Putra

0 comments:

Post a Comment