Melihat Lombok Kembali Bangkit #LombokBangkit


Hari Minggu, tanggal 5 Agustus 2018

Cuaca di Minggu sore yang cukup cerah. Langit biru dan sinar matahari yang menghangatkan tubuh. Waktu dimana banyak orang pergi bersantai dan berkumpul bersama keluarga, sahabat dan gebetan.

Pulau Lombok !

Ya Pulau Lombok, di hari itu Pulau Lombok lagi cerah-cerahnya. Pantai, air terjun, destinasi wisata lainnya selalu dipenuhi oleh para wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Satu kata, "liburan". Ya mereka semua ke Lombok untuk liburan.

Di hari yang sama, saya bersama teman-teman dari lintas profesi berangkat menuju salah satu desa yang berada di Lombok Utara. Kami pergi kesana untuk membawa misi kemanusiaan yaitu membawa logistik buat para korban gempa bumi yang terjadi pada tanggal 29 juli 2018 yang lalu.

Seminggu sebelumnya,  Pulau Lombok bagian utara dan timur diguncang gempa yang cukup besar (6,4 SR). Guncangan terjadi di pagi hari yaitu sekitar jam enam pagi membuat beberapa bangunan runtuh gak tersisa. Kami di Kota Mataram dan sekitarnya pun merasakan guncangan tersebut hingga kami berusaha berlari menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman.





Beberapa rumah warga di beberapa daerah seperti Desa Obel-Obel, Sajang (Lombok Timur) dan Bayan (Lombok Utara) mengalami kerusakan yang cukup parah dan gak luput memakan korban jiwa. Mungkin kalian sudah menonton berita di tv atau di media sosial, ada salah satu korban dari Malaysia yang meninggal dunia akibat terkena reruntuhan bangunan. Beritanya heboh sekali saat itu.  Belum lagi keadaan ratusan pendaki yang terjebak di Gunung Rinjani disaat gunung tertinggi ketiga di Indonesia tersebut mengalami longsor di beberapa bagiannya akibat gempa tersebut.

Seminggu berlalu, para korban sudah aman di tenda pengungsian. Banyak para donatur dan relawan yang berbondong-bondong membawa logistik menuju posko-posko yang tersebar di beberapa titik.

Kami pun gak mau ketinggalan. Beberapa sumbangan dari teman-teman, kami bawa menuju beberapa titik yang kami anggap sangat membutuhkan. Selimut, tikar, beras, terpal, susu bayi dan beberapa sembako adalah kebutuhan yang sangat mendesak saat itu.

Berangkat dari Mataram pagi harinya melewati jalur Pusuk, Lombok Utara. Perjalanan dengan suasana hati yang bercampur aduk. Ada sedih dan ada bahagia bisa berbagi dengan sesama. Hari yang sangat berharga buat kami, bisa datang ke mereka (para korban) dan merasakan penderitaan mereka.

Sore harinya, kami memutuskan balik ke Kota Mataram. Semua sumbangan sudah kami serahkan kepada para korban. Sekitar jam enam sore,  kami sudah tiba di Kota Mataram. Pulang ke rumah masing-masing dengan membawa kisah yang diceritakan ke keluarga di rumah.

Sore pun berganti malam. Malam yang tenang dan agak mendung. Habis shalat Magrib, saya bareng keluarga makan malam di ruang keluarga. Suasana yang paling ngangenin buat saya disaat hari libur ini. Hanya di hari libur, kami makan malam bareng. Kesibukan kerja yang membuat kami jarang makan malam bareng (curhat bang ?)

Awalnya kami mengira malam itu menjadi malam yang menenangkan. Tamu gak diundang pun datang. Guncangan hebat yang membuat kami kaget dan berlari ke luar rumah, mencari tempat yang aman. Gempa datang lagi dan ini guncangannya lebih besar dari guncangan seminggu sebelumnya. Guncangan itu datang disaat kami sedang melaksanakan shalat Isya. Saya menyebutkan Si Gempa 7.0 SR. Gempa terbesar yang saya rasakan seumur hidup ini.

Suasana yang sangat mencekam. Saya masih membayangkan bencana itu datang. Banyak orang berlarian ke luar rumah. Suara teriakan meminta ampun kepada Maha Pencipta yang saling bersahutan. Mama, papa, nenek dan adek-adek, Alhamdulillah selamat semua. Bangunan rumah juga selamat dari retakan. Gak ada yang perlu dikhawatirkan kecuali satu hal yaitu isu Tsunami.

Pihak berwenang menginformasikan gempa tersebut berpotensi tsunami. Ada keinginan saya untuk melihat hp untuk memastikan hal tersebut, tapi hp tertinggal di dalam kamar. Suasana semakin mencekam karena listrik padam. Yang terlihat malam itu yaitu hanya cahaya lampu senter dari beberapa orang saja.

Setiap orang bertanya-tanya apakah ada Tsunami. Saya pun sempat bingung, ini gempa apa. Guncangannya mampu membuat saya hampir terjatuh disaat menyelamatkan diri. Apa ada Tsunami ?. Suasana kembali hening dan gak lama kemudian, gempa susulan pun datang kembali. Guncangan yang gak kalah besarnya dengan guncangan yang pertama. Allahu Akbar....Allahu Akbar !!!.

Setelah gempa pergi berlalu, saya memberanikan diri masuk ke dalam rumah untuk mengambil hp yang tertinggal. Hanya dengan penerangan lampu senter, saya melihat dinding ruangan gak ada retakan yang berarti. Hanya saja beberapa buku dan perabotan rumah jatuh berantakan di lantai. Guncangan yang hebat, mampu membuat isi rumah porak poranda. 

Gak berlama-lama di dalam rumah, saya bareng adek yang saat itu menemani masuk ke dalam cepat-cepat keluar. Gak menunggu lama, saya menelpon si doi yang saat itu sedang berkumpul dengan keluarganya di sebuah tempat yang sudah aman. Ternyata isu Tsunami sudah menyebar disana. 

Kami berdua kembali lagi bergabung dengan keluarga dan tetangga di jalan depan rumah. Membuka hp dan mencari informasi terkini tentang gempa yang kami rasakan barusan. Gempa berkekuatan 7 SR berpusat di Gangga, Lombok Utara. Tenang !. Berusaha menenangkan diri yang bisa kami lakukan di malam yang gelap-gulita saat itu. 

Seperti banjir bandang, saya melihat orang-orang pesisir pantai sudah berlarian ke arah Kota Mataram. Hanya satu kata yang mereka ucapkan saat itu "Tsunami". Apa isu Tsunami itu benar terjadi  ?. Akal sehat saya sulit bekerja saat itu. Segala macam teori yang saya tahu tentang Tsunami hilang seketika hanya karena  kepanikan dari orang-orang di sekitar. Papa,mama,nenek dan adek-adek ikut juga termakan isu Tsunami. Para tetangga juga berlarian karena panik. Kami semua berlari mencari tempat yang aman. Tapi disaat itu saya tersadar, rumah masih dibiarkan terbuka. Ada kebingungan dari saya sendiri, di satu sisi saya harus menjaga nenek yang saya genggam tanggannya sejak tadi. Kasian si nenek, beliau lagi sakit dan harus berlarian di tengah gelap gulita saat itu. 

Setelah suasana hati kembali tenang, saya memutuskan untuk balik ke rumah bersama nenek. Gak peduli dengan datangnya Tsunami. Yang ada di pikiran saya saat itu yaitu menyelamatkan nenek entah naik ke atas atap rumah atau mencari tempat yang lebih tinggi di sekitaran rumah seandainya Tsunami itu datang. 

Gimana dengan anggota keluarga lainnya ?. Papa mama bersama adek menyelamatkan diri ke masjid dekat rumah. Rumah sempat kami tinggal dalam keadaan terbuka. Untungnya gak ada maling yang sempat memasuki rumah kami. Maling dimana-mana merajalela, makanya itu alasan saya kembali ke rumah. Bisa saja yang membuat suasana semakin mencekam ada diantara mereka (si maling).

Nenek sudah saya dudukkan di sebuah kursi yang berada di depan gerbang rumah. Nenek saat itu sehat meskipun dari wajah beliau terlihat kepanikan yang luar biasa. Beliau hanya terdiam dengan tarikan nafas yang terdengar keras dan duduk lesu. Kasian nenek. Saya mencoba untuk memantau perkembangan dari dampak gempa yang terjadi. 

Gak lama kemudian, pihak berwenang akhirnya mencabut potensi Tsunami. Bagi saya, ini adalah sebuah kesalahan informasi. Awalnya mereka mengumumkan adanya potensi Tsunami tapi gak lama kemudian potensi Tsunami tersebut dicabut. Hal seperti ini yang mungkin saja dimanfaatkan orang-orang jahat untuk membuat suasana menjadi mencekam, menakutkan para warga akan adanya Tsunami. 

Akhirnya kami pun balik ke rumah masing-masing dan berkumpul di depan rumah. Gempa demi gempa yang kami rasakan malam itu hingga subuh datang meskipun guncangan semakin melemah. Gempa macam apa ini ?. Saya pun bertanya-tanya, ini jenis gempa seperti apa?. Gempa yang sangat aneh buat saya. Semalaman kami tidur di depan rumah beralaskan tikar dan terpal. Emak-emak dan anak kecil kami suruh beristirahat dan tidur, sedangkan laki-laki, berjaga-jaga. Kami gak berani masuk ke dalam rumah disaat seperti ini. 

Pagi pun menyapa kami dengan penuh duka cita. Gak ada aktivitas hari itu, anak-anak sekolah dan kegiatan perkantoran diliburkan. Hanya petugas pelayanan medis yang ditugakan bekerja untuk emergency dan operasi. Jalan-jalan kota mendadak sepi, gak ada yang berani jauh dari rumah. Gak ada juga yang berani masuk ke dalam rumah.

Saudara-saudara kami yang berada di lereng-lereng perbukitan gak luput menjadi korban, begitu juga dengan warga Lombok Utara, dimana rumah-rumah mereka sudah rata dengan tanah. Lebih dari tiga ratus orang meninggal dunia dan lebih dari lima ratus orang luka-luka akibat gempa semalam. Sedih ?. Sudah sepatutnya kami se-Pulau Lombok bersedih saat itu. Pulau yang kami sangat cintai ini ditegur oleh Allah SWT dengan gempa bumi berkekuatan mematikan. Trauma ? Jelas kami sangat ketakutan dan masih terbayang kejadian tersebut sampai detik ini. 

***





Beberapa hari kemudian, saya bersama teman-teman lintas profesi melakukan kegiatan baksos untuk membantu meringankan para korban gempa di sebuah dusun, sebut saja Dusun Penjor, Desa Genggelang, Kec.Gangga, Lombok Utara. Kebetulan saya memiliki sahabat disana yang menjadi korban juga. Hampir seluruh rumah disana sudah rata dengan tanah. Gak ada yang tersisa lagi. Masjid pun sudah  rusak dan gak layak lagi untuk digunakan untuk beribadah. 

Jarak tempuh dari Kota Mataram menuju Dusun Penjor, memakan waktu dua jam perjalanan. Di sepanjang jalan, saya melihat rumah-rumah sudah runtuh. Tenda-tenda pengungsian sudah didirikan, para relawan dan tim medis sudah berada di pos mereka masing-masing. Pemandangan yang membuat saya bernafas lega saat itu yaitu mobil-mobil pengangkut logistik dari para donatur sudah sangat banyak dan sempat membuat kemacetan. Masih banyak diantara kita yang menyisihkan hartanya untuk korban gempa.

Sekitar jam sembilan pagi, kami satu tim sudah sampai di lokasi pengungsian. Si Desma, sahabat saya sudah menunggu kami datang. Melihat-lihat sekitar, suasana hati semakin miris. Melihat warga Dusun Penjor yang tersenyum kepada kami meskipun saya yakin di dalam hati mereka, tersimpan kesedihan yang sangat mendalam. Harapan mereka sempat meredup, terdengar dari curhatan mereka yang kehilangan rumah, toko dan keluarga yang meninggal dunia. 




sumber youtube : Goyang Kewer-Kewer untuk Trauma Healing

Trauma Healing ?

Kegiatan Baksos yang kami lakukan di Dusun Penjor yaitu Trauma Healing. Sebelum menulis lebih jauh, apa sih Trauma Healing itu ?. Jujur, saya pun baru mempelajari Trauma Healing setelah Gempa Lombok terjadi. 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), trauma diartikan sebagai keadaan jiwa atau tingkah laku yang gak normal sebagai akibat dari adanya tekanan jiwa atau cedera jasmani. So, Trauma Healing adalah kegiatan yang dilakukan seseorang atau tim menggunakan metode tertentu dengan tujuan menyembuhkan atau meringankan beban seseorang atau sekelompok orang yang tergoncang jiwanya, akibat bencana alam seperti Gempa Lombok yang terjadi beberapa waktu yang lalu. 

Trauma Healing kali ini sasarannya yaitu anak-anak. Kami meyakini, anak-anak jauh lebih trauma dibandingkan dengan orang dewasa atau orang tua mereka. Cara kami melakukan Trauma Healing yaitu dengan membuat permainan atau lomba dan mengajak mereka menari-nari. Anak-anak kecil butuh hiburan. Saya bersama Si Eza bertugas menjadi relawan Trauma Healing saat itu, sedangkan teman-teman yang lain sibuk menyiapkan logistik yang sudah dibawa dari rumah.

Kegiatan trauma healing diawali dengan senam sehat dulu. Gak hanya anak-anak saja, tetapi para orang tua dan remaja ikut senam juga. Gerakan senam membuat suasana menjadi hangat kembali setelah sekian hari hanya duduk di bawah tenda pengungsian beralaskan tikar. Setelah senam, Si Eza mengajak para anak-anak untuk berbaris mengikuti arahan saya. Kali ini saya akan mengajak adek-adek kecil untuk menari pinguin dan kewer-kewer. Itu jenis senam ala-ala saya sih. Kalian penasaran dengan gerakannya, bisa dicek di chanel youtube di atas yaak !, hehehe. 

Lagi-lagi gak hanya anak-anak saja yang ikut gerakan saya, tapi para orang tua juga gak mau kalah. Justru mereka lebih semangat mengikuti gerakan gila ala-ala saya. Gak apa-apa deh, yang penting mereka senang. Mereka senang, kami pun ikut senang. Sama seperti melihat kamu tersenyum, saya pun ikut tersenyum, apaan sih (jangan ditanggepin). 








Keceriaan dan kehangatan sudah muncul. Saya sedikit bernafas lega karena kegiatan kami ini sangat direspon baik oleh mereka. Setelah senam selesai, acara dilanjutkan dengan permainan. Kali ini ada permainan memakan kerupuk, meniup bola dan membuat bendera merah putih. Berhubung dalam suasana Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-73, jadi kami mengambil tema Merah Putih. Seragam yang kami kenakan juga merah putih. 

Jalannya permainan berjalan dengan lancar. Bagi yang menang, akan mendapatkan hadiah dari kami. Ada boneka, alat sekolah dan snack. Suasana cemas dan sedih hilang seketika ketika kami tertawa dan menyemangati anak-anak kecil yang ikut berlomba. Para orang tua yang terpilih mengikuti senam pinguin dan kewer-kewer, mendapatkan hadiah juga dari kami. Bagi yang gerakan senamnya bagus dan bersemangat pastinya,hehehe. 

Bahagia melihat mereka semua tersenyum saat itu. Semoga senyuman itu selalu tetap terjaga sampai keesokan harinya. Sembuhlah Lombok kami !. 

Setelah kegiatan Trauma Healing selesai, kami para tim menyerahkan beberapa logistik, antara lain air minum, makanan, terpal, selimut, pakaian layak pakai dan perlengkapan sholat kepada koordinator yang berada di tenda pengungsian. Semoga pemberian kami yang sedikit ini dapat meringankan kesedihan mereka disana. Kami pun melakukan pengobatan kepada para pengungsi yang menderita sakit ringan. Di tim kami ada dokter umum, dokter gigi, apoteker dan tenaga kesehatan lainnya. Kami melakukan pengobatan dasar saja. 

Sebenarnya masih banyak yang saya ingin tuliskan tentang cerita Gempa Lombok. Sampai detik ini masih banyak para relawan baik tim medis maupun dari beberapa komunitas dan organisasi yang bertugas sampai darah penghabisan di posko-posko pengungsian. Meskipun waktu tanggap bencana sudah dicabut oleh pemerintah, tapi gak membuat semangat para relawan kendor. Kiriman bantuan dari teman-teman dari luar pulau bahkan mancanegara masih banyak berdatangan. 

Terimakasi untuk para donatur dan relawan yang telah menolong para korban Gempa Lombok sampai detik ini. Semoga apa yang telah kita lakukan untuk mereka, mendapat balasan dari Allah SWT. Amiiin.


Gempanya masih ada gak ?

Nah ini dia, sampai detik ini gempanya masih jalan-jalan. Pagi berguncang di Indonesia bagian timur, malamnya kembali lagi mengguncang Lombok. Semoga saja musibah ini cepat berlalu dan Lombok kembali bangkit. Rindu melihat keindahan Pulau Lombok lagi. Rindu ke pantai, gili, air terjun dan Gunung Rinjani.

Jangan lupa buat teman-teman memberikan hastag #LombokBangkit di medsos masing-masing. Selain kita, siapa lagi yang akan menolong mereka, korban Gempa Lombok. 

(...Bersambung...)

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Comments

  1. Ganti tema blogger yang lain biar lebih enak bacanya gan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siap..thanks masukanny. Ini tulisan khusus Gempa Lombok soalny :)

      Delete
  2. Terenyuh baca tulisan tentang Lombok. Kebayang gimn perasaan teman-teman diombok kala gempa itu terjadi. Kami yang jauh hanya bisa berdoa dan berharap semoga Lombok kembali aman seperti biasa.

    Lombok yang selalu dirindukan. Btw.... tuh goyang kewer-kewer asyik juga ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasi bwt doa dan bantuan dri teman2 di luar Pulau Lombok. Smoga Lombok kembali aman dan bangkit. Amiiinn. Ayook mbak Goyang Kewer2 bwt trauma healing hehehe

      Delete

Post a Comment