Saturday, 23 August 2025

Menyusuri Sejarah Kebun Raya Bogor Sambil Bersepeda


Kalau mendengar nama Bogor, pasti yang terlintas di benak banyak orang adalah kota hujan, kuliner enak, dan tentu saja Kebun Raya Bogor. Destinasi ini selalu jadi pilihan favorit untuk wisata alam, kuliner, edukasi, sekaligus refreshing dari hiruk pikuk ibu kota. Saya sendiri baru-baru ini sempat explore langsung dan pengalaman di sana benar-benar menyenangkan. 


Awalnya gak ada rencana buat ke Bogor. Karena ikut Mas Erwin ke rumah saudaranya di Depok, mendadak kami ingin jalan-jalan ke Bogor. Hari itu kami gak ada kegiatan karena acara pembukaan PIT & Muskernas Hisfarsi Jakarta 2025 keesokan harinya. 


Kami berempat setelah sarapan bersiap-siap menuju ke Bogor. Menunggu mobil jemputan di lobby hotel. Gak lama menunggu, jemputan sudah tiba di depan hotel. 


Sekitar jam sembilan pagi, kami berangkat menuju Depok. Kali ini tujuan kami ke daerah Cilodong, Depok. Kurang lebih waktu tempuh satu setengah jam perjalanan dengan jarak sekitar tiga puluh kilometer dari hotel kami yang berada di daerah Kuningan,Jakarta Selatan.  


Lalu lintas Kota Jakarta pagi itu cukup padat merayap. Syukurnya kami melintas di luar jam kerja. So, gak terjebak macet. Melewati beberapa jalan utama antara lain Jalan Raya Tj.Barat kemudian masuk ke Jalan Margonda Raya yang mengarah ke arah Bogor. 


Berbelok ke Jalan Boulevard Grand Depok City. Gak jauh dari situ, kami tiba di perumahan Grand Mako tempat tinggal saudara Mas Erwin. 


Setelah beristirahat sejenak dan makan siang. Kami berencana jalan-jalan ke Bogor. Dadakan juga rencana kesana. Berhubung dari daerah Cilodong ke Bogor jaraknya cukup dekat. Kami memutuskan untuk berkunjung ke Kebun Raya Bogor. 


Gak ada terpintas buat saya ngetrip ke Kota Bogor. Melainkan berencana ke Bandung. Emang namanya rencana itu siapa yang gak sangka. Maunya ke rumah temen, eh malah nyangkut ke rumah mantan, hahahaha. 


Kurang lebih setengah jam perjalanan, kami tiba di Kota Bogor. Suasana Bogor siang itu cukup ramai lancar. Udara di kota ini cukup sejuk. Untungnya gak turun hujan seperti sebutan kota ini yaitu "Bogor Kota Hujan". 


Selain hujan, kota ini juga punya sebutan "Kota Angkot" karena banyak mobil angkot di kota ini. Yang saya kangenin kalau datang ke Bogor yaitu naik angkotnya. Dulu pernah sekali ke Bogor, jalan-jalan keliling kota pakai angkot. Itupun naiknya gak berani sendiri melainkan bareng temen yang sudah sering ke Bogor. 





Akses Menuju Kebun Raya Bogor 


Ada beberapa cara menuju ke Kebun Raya Bogor bagi kalian yang memulai perjalanan dari Kota Jakarta. 


Kalian bisa menggunakan KRL dari Stasiun Manggarai menuju ke Stasiun Bogor. Setelah turun di Stasiun Bogor, bisa berjalan kaki selama lima belas menit atau naik ojek online. 


Selain itu bisa menggunakan bus. Kalian bisa naik bus ke arah Bogor dari Terminal Kampung Rambutan atau Pulogebang. Nanti turunnya di Terminal Baranangsiang Bogor. Jarak ke Kebun Raya dari terminal ini cukup dekat. Kita bisa berjalan kaki sejauh satu kilometer saja. 


Atau kalian yang dari Bandara Soekarno Hatta langsung menuju Bogor, bisa menggunakan DAMRI jurusan Bogor. Kalian bisa turun di Pool DAMRI depan Kebun Raya Bogor atau Amarossa Royal Bogor.


Buat kalian yang membawa kendaraan pribadi juga sangat mudah. Yang membawa mobil, bisa melalui Tol Jagorawi mengarah ke Bogor lalu keluar Tol Bogor dan menuju Kota Bogor. Sedangkan yang membawa motor, banyak jalan menuju Bogor dari arah Jakarta. So, kalian bisa memilih mau menggunakan transportasi yang mana. 


Baca juga disini : Sensasi Menginap di Amarossa Royal Hotel Bogor


Baca juga disini : Berolahraga Menikmati Udara Pagi Kota Bogor


Sesampainya di Bogor, kami langsung menuju Kebun Raya Bogor melalui pintu utama di sebelah selatan. Memutari Tugu Kujang yang berada persis di depan Amarossa Royal Bogor. 


Kami turun dari mobil di pinggir jalan depan pintu masuk karena di dalam parkiran sudah penuh. Kami sudah janjian sama abang supirnya kalau sudah mau pulang, nanti dijemput di depan pintu masuk.


Suasana Kebun Raya Bogor siang itu sedang ramai-ramainya oleh rombongan keluarga karena masih musim libur sekolah. Ini pertama kalinya saya masuk ke Kebun Raya Bogor.


Dulu belum sempat mau masuk ke dalam. Saat itu belum jam buka. Jadinya hanya joging mengelilingi Kebun Raya Bogor dari luar pagar saja. Melewati Pasar Tradisional Bogor, Hotel Salak, Melihat kawanan rusa di halaman depan Istana Bogor, melewati Sungai Ciliwung dan finish di hotel tempat menginap.


Kebun Raya ini berada di tengah kota. Dikelilingi oleh jalan utama. Meskipun berada di tengah kota, udara disini sangat sejuk karena ada ribuan jenis tanaman hijau yang hidup disini. 





Setelah turun dari mobil. Kami berjalan kaki menuju pintu masuk untuk membeli tiket masuk. Menaiki anak tangga dengan kiri kanan ada patung singa. Kalau di Bali sebutannya togog (patung kembar penjaga pintu). Kami memasuki ke dalam bangunan bergaya Eropa melalui pintu tadi. 


Di hari Senin sampai Jumat, Kebun Raya Bogor dibuka dari jam delapan pagi hingga jam empat sore. Sedangkan di akhir pekan mulai buka dari jam tujuh pagi hingga jam empat sore. 


Kalau sekedar saran saja, kalau ingin berkunjung ke Kebun Raya Bogor bisa dari pagi hari hingga sore agar bisa berkeliling sepuasnya disini. Sayangnya kami datangnya sudah siang hari. So, gak banyak spot yang bisa kami datangi. 


Harga tiket masuk baik domestik maupun mancanegara yaitu lima belas ribu rupiah saja (Senin-Jumat). Sedangkan di akhir pekan atau hari libur sebesar dua puluh lima ribu (harga bisa berubah).  Yang bertugas mengantri membeli tiket satu orang saja. Sedangkan lainnya menunggu di pintu cek tiket sambil melihat-lihat suasana di sekitar. 


Antrian cukup panjang ketika kami akan memasuki kebun raya. Didominasi oleh anak-anak yang sedang liburan. Terlihat pepohonan rindang dan hijaunya kebun raya sudah memanggil-manggil kami untuk segera masuk. 


Kebun Raya Bogor merupakan kebun raya kedua yang sudah saya kunjungi setelah Kebun Raya Eka Sari Bedugul, Bali. Keduanya memiliki keunikan masing-masing. Tapi disini saya gak akan membahas perbedaan dari kedua tempat tersebut. 





Welcome to Kebun Raya Bogor ! 


Kebun Raya Bogor beralamatkan di Jalan Ir. H. Juanda No.13, Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat.


Lokasinya sangat strategis, berada di pusat Kota Bogor dan bersebelahan langsung dengan Istana Bogor. Dari Stasiun Bogor jaraknya hanya sekitar lima belas menit menit berjalan kaki atau dua kilometer dengan kendaraan.


Begitu masuk pintu cek tiket, suasana langsung berubah. Pohon-pohon besar yang usianya ratusan tahun, hamparan rumput hijau, dan jalan setapak yang rapi membuat kita merasa seperti masuk ke dunia berbeda. Udara di dalam jauh lebih sejuk, meski lokasinya berada di tengah kota.


Rombongan kami yang jumlahnya kurang lebih tujuh orang berjalan kaki menuju tepian danau melewati jalan setapak yang tertata rapi. Kursi-kursi taman yang berjejer. Melihat rombongan lainnya yang menggelar tikar di atas rumput. Mereka sangat menikmati suasana sambil piknik bersama orang-orang tersayang. 


Gak jauh berjalan kaki, kami sudah berada di tepian danau yang bernama Danau Gunting. Salah satu spot terbaik menurut saya. Apalagi mendengar kicauan burung danau dan langit siang itu cukup mendung. Syahdu sekali. 


Saya sangat suka dengan danau. Ditambah lagi di sekeliling danau terlihat hijaunya pepohonan rindang dan rerumputan. Tanaman yang tumbuh di permukaan air. Sejauh mata memandang di tepi danau, terlihat dari kejauhan bangunan putih bergaya Eropa. Itulah gedung Istana Presiden Bogor. Akses masuk kesana sangat ketat. Pengunjung kebun raya dilarang masuk ke dalam area istana yang dijaga oleh petugas berseragam. 





Kami gak melewati moment untuk menikmati keindahan danau yang ukurannya cukup luas sambil berfoto ala foto keluarga. Suasana hangat dengan keceriaan hari itu. Anak-anak pun sangat senang. 


Setelah berfoto bersama di tepian danau, kami melanjutkan berjalan kaki menuju tempat penyewaan sepeda. Melihat pengunjung lain yang didominasi oleh anak-anak yang bersepeda mengelilingi kebun raya, kami tertarik untuk bersepeda juga. 


Awalnya sih saya pengennya menikmati kebun raya dengan berjalan kaki saja. Tapi berhubung waktu yang sudah siang dan ingin explore kebun raya secara keseluruhan. Rasanya kalau jalan kaki, besok pagi baru kelar kelilingnya, hehehe. 


Di kebun raya ini sudah disediakan tenda-tenda penyewaan sepeda. Fasilitas yang cukup menarik untuk dicoba. Saya dan Mas Erwin memilih untuk bersepeda dengan sepeda MTB saja. Biaya sewanya yaitu tiga puluh ribu rupiah per jam. Sedangkan Mbak Zahra dan lainnya memilih sepeda listrik dengan biaya sewa empat puluh ribu rupiah per jam. Biaya ini berlaku di saat weekday maupun weekend. 


Setelah memilih sepeda yang sesuai. Kami cek dulu sepedanya. Petugas di tenda mengecek kondisi sepedanya. Dari ban sampe rem dicek semua. Setelah dinyatakan sepeda dalam kondisi baik, barulah kami pakai sepedanya. 


Begitu juga dengan sepeda listrik. Dicek dulu semuanya dari ban sampai baterainya apa masih penuh atau sudah mau habis. Penting juga, takutnya baterai hampir habis dan dipakai keliling,malah mogok di tengah jalan nantinya. 


Setelah semua sepeda dalam kondisi baik. Kami memulai mengexplore Kebun Raya Bogor. Ada waktu satu jam kami untuk mengexplore. Tujuan kami pertama yaitu berfoto di depan Istana Bogor. 







Jalanan aspal dengan dikelilingi oleh pepohonan rindang yang usianya sudah gak muda lagi. Bisa diperkirakan usia pohon-pohon disini sudah ratusan tahun. 


Titik point pertama tempat kami berhenti di tepian danau dekat dengan latar belakang Istana Bogor. Disini kami mengambil foto. Suasana di sekitar cukup ramai oleh pengunjung lainnya. Gak lama berhenti untuk berfoto, saya melanjutkan mengayuh sepeda ke spot berikutnya. 


Sejarah Kebun Raya Bogor 


Kebun Raya Bogor memiliki luas keseluruhan sekitar delapan puluh tujuh hektar. Menjadi rumah bagi lebih dari dua belas ribu jenis koleksi tumbuhan, termasuk pohon langka, tanaman obat, kaktus, anggrek, hingga bunga bangkai (Amorphophallus titanum) yang terkenal.


Dari beberapa sumber terpercaya yang saya kutip. Kebun Raya Bogor sudah ada sejak abad ke lima belas. Dahulu, Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran pernah membangun Samida, semacam hutan lindung, untuk menanam berbagai pohon langka. Dari sinilah, tempat yang sekarang kita kenal sebagai Kebun Raya Bogor mulai memiliki kisah panjang.


Melompat jauh ke abad ke sembilan belas ketika Belanda berkuasa di Hindia Timur. Seorang ahli botani bernama Prof. Dr. C.G.C. Reinwardt datang ke Bogor. Ia melihat betapa suburnya tanah dan indahnya view di sekitar Istana Bogor. Dari idenya, lahirlah sebuah kebun penelitian yang akhirnya diresmikan pada 18 Mei 1817. Tanggal ini kemudian dianggap sebagai hari lahir Kebun Raya Bogor.


Sejak saat itu, Kebun Raya Bogor bukan hanya sekadar taman atau destinasi wisata alam. Berperan juga menjadi pusat penelitian tanaman tropis di Asia Tenggara. Banyak tanaman penting yang sekarang menjadi komoditas besar Indonesia seperti karet, kelapa sawit, dan kina yang pernah ditanam dan diuji coba pertama kali di sini sebelum menyebar luas ke seluruh Nusantara (sebutan Indonesia dulu).


Setelah Indonesia merdeka, pengelolaan Kebun Raya berpindah ke Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), selanjutnya sekarang di bawah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Tetapi perannya gak pernah berubah. Tetap menjadi jantung penelitian botani sekaligus ruang hijau bersejarah di tengah Kota Bogor.


Ketika kami berjalan-jalan di jalur rindang Kebun Raya, melewati pohon-pohon berusia ratusan tahun atau sekadar duduk di tepi Danau Gunting sambil memandang Istana Bogor, kami sebenarnya sedang menyusuri jejak panjang sejarah. Dari hutan buatan kerajaan, taman penelitian kolonial, hingga destinasi wisata alam dan ilmu pengetahuan modern. Kebun Raya Bogor adalah saksi hidup perjalanan waktu yang memiliki sejarah panjang. 







Spot yang Ada di Kebun Raya Bogor 


Setelah berfoto di Danau Gunting yang menjadi spot terkece dengan latar belakang Istana Bogor. Spot berikutnya yang saya dan lainnya kunjungi yaitu Taman Meksiko. Disini kami hanya melihat dari luar saja. Disini kami bisa menjumpai koleksi kaktus dan tanaman sukulen yang unik. So, berasa  berada di daerah gurun.


Selanjutnya kami bisa jumpai Jembatan Merah. Salah satu spot yang menjadi ikon romantis di Kebun Raya Bogor. Sering menjadi spot favorit pengunjung untuk foto prewedding. 


Buat kalian yang sedang di Bogor. Bolehlah foto berdua dengan pasangannya atau berfoto bersama keluarga tercinta. Konon katanya, kalau yang berfoto disini orang yang berpacaran, katanya hubungannya bisa putus. Hanya mitos, boleh percaya atau gak, hehehe. 


Di Kebun Raya Bogor ada juga Museum Zoologi. Tempat yang cocok buat anak-anak belajar tentang hewan. Banyak koleksi hewan yang diawetkan dan memiliki nilai yang edukatif. 


Selain itu, banyak juga taman tematik lain seperti Taman Soedjana Kassan, Taman Obat, dan bahkan ada makam kuno Belanda yang menambah nilai historis. Wah kalau makan kuno apalagi makam Belanda, saya absen dah gak ikutan kesini. Takutnya lihat yang aneh-aneh. 


Fasilitas di Kebun Raya Bogor


Selain fasilitas seperti taman tematik (Taman Meksiko, Taman Anggrek, Taman Obat), Danau Gunting, Jembatan Merah, Museum Zoologi. Sewa sepeda, mobil wisata (buggy car).


Disini juga terdapat toilet, mushola, kantin, Grand Garden Cafe, toko souvenir. Ada juga perpustakaan botani, herbarium, laboratorium dan tur edukasi.


Di Kebun Raya Bogor juga tersedia jalur disabilitas & shuttle internal untuk para lansia dan anak-anak. Ingat ya shuttlenya khusus lansia dan anak-anak (sama pendamping). 


Kesimpulan 


Ternyata setelah bersepeda mengelilingi kebun raya, kaki dan pantat pegel semua. Ngayuh sepeda satu jam, untungnya sepedanya cukup baik. Mana trek jalannya juga gak datar saja. Ada di beberapa titik, jalannya menanjak dan berkelok-kelok. Harus ekstra hati-hati juga dalam berkendara karena kondisi siang itu cukup ramai oleh pengunjung yang bersepeda juga.


Singkat cerita, setelah sejam saya dan lainnya bersepeda. Kami kembali ke tenda penyewaan sepeda yang berada di dekat pintu masuk. Syukurnya kami kembali tepat waktu. Misalkan kembalinya lewat jam yang sudah ditentukan, kita bisa kena denda bayar lagi seharga satu jam. 


Setelah mengembalikan sepeda, saatnya kami balik ke Cilodong buat nganterin saudaranya Mas Erwin dan anak-anaknya. Kemudian lanjut balik ke Jakarta lagi. 


Over all, pengalaman mengelilingi Kebun Raya Bogor memang melelahkan. Dapat lelahnya dapat pula senangnya. Akhirnya kesampaian juga bisa masuk ke dalam kebun raya tertua di Asia Tenggara ini. Banyak pelajaran yang bisa kami dapat


Menjaga kelestarian alam dengan terus memberikan pendidikan kepada anak-anak kita bahwa lingkungan harus tetap dijaga dengan baik dan benar. Belajar merawat alam dan ikut menjaga aset negara yang kaya akan sejarah. 


Dengan luas delapan puluh tujuh hektar dan sejarah lebih dari dua ratus tahun, Kebun Raya Bogor bukan hanya tempat wisata, tapi juga semacam “ensiklopedia hidup” yang menyimpan cerita tentang alam, sejarah, hingga budaya.


Penulis : Lazwardy Perdana Putra



Saturday, 16 August 2025

Menginap di Avissa Suites Hotel Jakarta : Dekat Dengan Pusat Perbelanjaan dan Transportasi Umum


Setelah landing di Bandara Soekarno Hatta, saya dan kedua teman berjalan menuju pengambilan bagasi. Selanjutnya menuju pintu keluar kedatangan di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. 

Kami sudah dijemput oleh teman yang bekerja di Jakarta, namanya Bang Jaka. Saya, Mbak Zahra dan Mas Erwin menunggu Bang Jaka di depan pintu kedatangan timur untuk mengambil mobil di parkiran. 

Menghirup udara ibukota lagi. Suasana yang saya kangenin kalau datang ke Jakarta itu melihat para pekerja yang berjalan kaki  dan naik transportasi umum sepulang kerja. Senang aja gitu lihatnya. Pemandangan langka orang masih membiasakan diri berjalan kaki dan nungguin angkutan umum di pinggir jalan. Di daerah saya, sudah jarang sekali orang pulang berjalan kaki naik angkot gitu. Kebanyakan pada menggunakan kendaraan pribadi. 

Kami sudah di dalam mobil yang dibawa oleh Bang Jaka. Meninggalkan area bandara menuju daerah Kuningan, Jakarta Selatan. Perjalanan cukup ramai lancar. Melewati jalan tol tengah kota, lalu masuk ke jalan Sudirman dan memasuki daerah Kuningan yang sudah padat merayap. Disini kami terjebak macet parah karena jam pulang kerja. 

Bagi kami orang pulau yang jauh dari ibukota, rasanya tersiksa sekali melihat kemacetan parah yang ada di depan mata. Karena di tempat tinggal saya, yang namanya macet itu sangat jarang kecuali ada event atau penutupan jalan. 

Tapi mungkin warga di ibukota yang sudah bertahun-tahun tinggal disini, rasanya sudah biasa sekali. Menurut saya sih sudah saatnya warga Jakarta lebih memilih transportasi umum untuk mengurangi kemacetan. 

Kurang lebih hampir dua jam perjalanan, kami sudah sampai di depan hotel tempat kami menginap lima hari kedepan. Selamat datang di Avissa Suites Hotel. Pertama kali melihat hotel ini dari depan, saya sudah yakin ini hotel nyaman dan gak ada gangguan makhluk lain hehehe. 




Avissa Suites Hotel adalah hotel bintang tiga yang terletak strategis di kawasan segitiga emas, Kuningan, Jakarta Selatan. Tepatnya di Jalan Karet Pedurenan No. 19 . 

Lokasinya sangat dekat dengan pusat bisnis dan pusat perbelanjaan. Akses transportasi umum juga mudah, dengan stasiun MRT Bendungan Hilir dan Dukuh Atas BNI dan transportasi feeder dekat sekitar hotel .

Gak jauh dari jalan utama Prof.dr.Satrio dan jalan layang Kp.Melayu-Tanah Abang. Dekat juga dengan Ciputra World I Mall, Mall Ambasador dan Raffles Hotel. 

Di sekitar penginapan, banyak sekali warung makan, cafe/kedai kopi, resto dan pedagang kaki lima. Jadi, gak susah buat nyari makanan. Buat beli obat-obatan juga sangat dekat dengan apotek.

Setelah turun dari mobil, kami memasuki lobby hotel dengan disambut hangat oleh staf hotel. Langit Jakarta sudah mulai gelap. Pas adzan magrib berkumandang kami tiba di hotel. Bang Jaka membantu kami menurunkan barang bawaan. Orangnya sangat ramah dan baik. Setelah mengantar kami ke hotel, beliau langsung ijin pamit untuk pulang. Thanks bang !. 

Untuk penampakan hotelnya cukup keren. Bangunan hotelnya sih gak terlalu besar. Tapi cukup tertata dan modern. Udara di dalam looby hotel cukup dingin. Ada sofa empuk untuk para tamu yang sedang menunggu jemputan taxi atau tempat bersantai. 

Karena proses check in gak terlalu lama. Kami diantarkan oleh staf hotel menuju kamar kami sambil membantu membawakan barang bawaan seperti tas dan koper. Untuk akses ke kamar bisa melalui lift dan tangga. 

Saya dan Mas Erwin satu kamar berdua di kamar nomor 519. Sedangkan Mbak Zahra dan anaknya Mas Erwin di kamar nomor 517 yang berada di lantai lima. Jadi Avissa Suites ini memiliki tujuh lantai. Dimana lantai satu merupakan looby. Lantai dua sampai lantai enam itu kamar tamu. Dan lantai tujuh yaitu resto dan ruang meeting.

Untuk parkir kendaraan ada di basemant. Halaman hotel gak begitu luas. Hanya untuk kendaraan untuk menurunkan penumpang dan area taman seukuran mini. Tapi hotelnya sangat hijau nan sejuk di tengah panasnya Jakarta. 



Untuk memasuki kamarnya, kami diberikan dua kartu (masing-masing satu kartu). Kami akan bermalam di kamar kelas superior yang kisaran harga per malamnya itu 600-700 ribu (harga bisa berubah-ubah). Bisa dipesan melalui aplikasi travel online atau website resmi. 

Penampakan kamarnya seperti kamar kelas superior biasanya. Ukuran kamarnya cukup luas. Kasurnya empuk untuk dua orang dewasa. Ada sofa dan meja. Ada kursi dan meja kerja dan kaca cermin.

Lemari dengan beberapa gantungan pakaian. Ditambah lagi fasilitas lainnya seperti lemari es berukuran mini, alat pemanas air, dua cangkir kopi, dua botol air mineral, ada layar tv, wifi yang kencang, ketel listrik, brankas dan colokan listrik di meja kerja dan samping tempat tidur lengkap dengan lampu baca. 

Untuk kamar mandinya, seperti biasa. Ada shower air panas dan air dingin. Wastafel, cermin besar, alat mandi (sabun,shampo,pasta dan sikat gigi), dua handuk warna putih, closed duduk. Antara toilet dan kamar mandi disekat dengan sebuah pintu kaca. Over all, semuanya bersih. 

Sayangnya jendela kamar gak menghadap ke view perkotaan, tapi menghadap ke sebelah bangunan di sebelahnya. It's oke, gak apa-apa. 

Sesampainya di kamar, gak banyak yang saya lakukan. Habis bersih-bersih badan, lanjut shalat dan keluar nyari makan malam bareng lainnya. Untungnya di dekat hotel ada beberapa tempat makan yang cukup enak. Ada warung bakso dan lalapan. Gak khawatir kebingungan kalau soal makanan. 

Setelah selesai makan, jalan-jalan sebentar menikmati Kota Jakarta di malam hari dengan berjalan kaki. Ada dua mall besar yang dekat dengan hotel kami yaitu Ciputra World I dan Ambasador Mall.

Kembali ke hotel, lanjut istirahat agar besok pagi kembali fit karena besok kegiatan cukup padat. 






Bangun tidur, saya langsung melaksanakan kewajiban shalat Subuh berjamaah bareng Mas Erwin. Setelah itu menunggu sunrise di lantai dua yaitu di kolam renang tapi sayangnya pagi itu langit cukup mendung. View keren dari hotel ini yaitu bisa melihat gedung-gedung pencakar langit. 

Di area kolam renang yang berada di lantai dua, saya bersantai sejenak sambil menikmati Kota Jakarta di pagi hari. Udara pagi itu cukup sejuk dan dingin. 

Emang pagi itu niatnya mau renang. Setelah duduk sebentar, saya langsung turun ke kolam renang yang ukuran gak terlalu luas dan dalamnya hanya 130 meter. Air kolamnya bersih dan jernih. Di mata juga aman dan gak buat perih karena kaporit. 

Sedangkan Mas Erwin, olahraganya di dalam fitnes center (treadmill, multi-gym, sepeda statis) yang letaknya bersebelahan dengan kolam renang. Kami berdua mengabiskan waktu sekitar satu jam untuk berolahraga. 

Fasilitas lainnya dari hotel ini ada ruang meeting, restaurant, gazebo tempat bersantai, dan kolam ikan. 

Waktu menunjukkan jam tujuh pagi. Kami berdua kembali ke kamar untuk mandi-mandi dan bersiap sarapan di resto yang berada di lantai tujuh. 






Sebut saja Kecapi Resto. Ruang restonya gak begitu luas. Ada beberapa meja dan kursi dan sofa. Terbagi menjadi dua ruang, indoor dan outdoor. 

Ruangannya cukup nyaman dan sejuk. Paling enak menikmati hidangan di outdoornya atau balkon. Dari sini kita bisa melihat view gedung-gedung pencakar langit sambil bersantai dan ngobrol bareng orang lain. 

Sarapan dimulai dari jam enam pagi hingga sepuluh pagi. Untuk menunya beragam setiap harinya. Menu andalan yaitu menu Nusantara. Ada nasi goreng, nasi putih, mie goreng, ayam opor, sambel kentang, cah kangkung, bubur ayam, segala macam roti atau crossiant dan buah-buahan. Minumnya ada aneka jus, susu putih dan air mineral.

Soal rasa, selama lima hari menikmati menu sarapan di Avissa Suites, gak mengecewakan. Yang paling saya suka yaitu nasi goreng, opor ayam, sambel kentang dan rice bowlnya. Bumbunya nendang dilidah. Bener-bener mengenyangkan atau all you can eat. 

Over all, bagi saya menginap di Avissa Suites Hotel Jakarta memberikan pengalaman yang sangat menyenangkan. Lokasi yang sangat strategis dan dekat dengan venue acara yang akan kami hadiri selama lima hari yaitu di Raffles Hotel Kuningan .

Untuk menuju stasiun LRT atau MRT juga dekat yaitu stasiun MRT Bendungan Hilir dan LRT Dukuh Atas BNI. Dan dekat dengan berbagai jalur feender dan Trans Jakarta. 

Bukannya ngendorse, tapi bagi yang akan berlibur atau ada kerjaan/bisnis di Jakarta. Avissa Suites Hotel bisa menjadi salah satu pilihan buat kalian. 

Sebagai tamu yang sudah menginap di hotel ini, saya beri bintang lima untuk pelayanan, kamar, fasilitas lainnya seperti kolam renang dan fitnes center, restonya yang nyaman dengan menu-menu yang enak, dan keramahan staf hotel yang membuat saya pribadi betah di Jakarta. Apalagi ada servise tambahan gratis loundry empat pakaian selama menginap. Mantaap !. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra


Friday, 8 August 2025

Kalau Belum Coba Gak Bakalan Tahu : LRT Dukuh Atas - Halim


Sejak pertama kali dioperasikan (28 Agustus 2023) oleh Bapak Jokowi, saya pun antusias dengan adanya transportasi publik terbaru di Jakarta. Meskipun gak tinggal di Jakarta, saya ikut senang karena mau kemanapun, sudah terkoneksi oleh beberapa moda transportasi umum dan biaya yang kita keluarkan pastinya gak semahal naik taxi. 

Kebetulan sedang di Jakarta, tiba-tiba saya ingin naik LRT yang kata netizen, kondisi penumpang LRT lebih sepi dibandingkan kakaknya yaitu MRT yang terlebih dahulu ada di ibukota. Ada yang bilang juga, naik LRT itu gak seaman MRT. 

Ada juga yang berkomentar positif, yang nyaman dan suka naik LRT. Apapun komentar netizen, itu semua hak mereka. Kita boleh berpendapat, yang penting tetap menjaga suasana yang kondusif. 

Mungkin kalau saya sendiri, lebih percaya kalau sudah merasakan langsung. Kalau belum mencoba, mana kita tau rasanya. Pengalaman berharga itu akan kita dapatkan setelah kita merasakannya langsung. Betul gak ?. 

LRT yang akan saya coba kali ini yaitu LRT Jabodebek. LRT itu apa sih ?. Mungkin kalian sudah pernah melihat kereta listrik yang memiliki jalur khusus berupa rel yang melayang di medsos atau berita di tv. Dulu sempat viral karena terjadi insiden kecelakaan disaat uji coba. 

LRT (Light Rail Transit) adalah kereta ringan yang digunakan sebagai moda transportasi publik perkotaan. LRT dirancang untuk mengangkut penumpang dalam jumlah sedang hingga besar, terutama di kota-kota dengan lalu lintas padat.

LRT merupakan produk dari karya asli anak bangsa yaitu PT.INKA yang berada di Madiun, Jawa Timur.  Kereta ini dilengkapi dengan sistem otomatis tanpa masinis menggunakan teknologi CBTC (Communication-Based Train Control) dengan otomatisasi tingkat GoA-3.

Kereta ini seluruhnya berjalan di rel layang atau permukaan dan membawa sekitar tiga rangkaian kereta saja. Digerakkan tanpa masinis tetapi tetap diawasi oleh petugas. Horor juga ya naik kereta yang digerakkan oleh sistem komputer alias tanpa masinis. Hehehehe. 

Mari kita coba ! 




Hari itu, Jumat pagi setelah sarapan di penginapan, saya ijin ke teman-teman untuk jalan-jalan sebentar. Jadwal pagi itu ada beberapa materi tapi saya gak ngikutin. Rencananya ngikut materi yang siang sampai sore saja. 

Karena sudah sering jalan sendiri kalau bepergian ke luar kota, saya sih enjoy saja muter-muter Jakarta sendirian tanpa khawatir jika bertemu sama orang jahat. Yang penting bawa diri pede saja. Jangan sampai terlihat sama orang kita kebingungan di jalan. O

Dari penginapan, saya memesan ojek online via aplikasi hijau. Rencana akan naik LRT dari Stasiun Dukuh Atas BNI Jalan Setia Budi karena jarak dari penginapan gak terlalu jauh. Siapin uang receh biar gak ribet nunggu kembalian. 

Buat kalian yang akan bepergian melalui Stasiun Dukuh Atas, apabila naik MRT bisa turun di Stasiun MRT Dukuh Atas. Atau yang dari Bandara Soeta, bisa menggunakan Kereta Bandara turunnya di Stasiun Sudirman Baru lalu jalan kaki kurang lebih seratus meter menuju Stasiun LRT Dukuh Atas BNI. Buat naik KRL juga bisa diakses oleh stasiun ini. 

Setelah si abang ojek datang. Saya pun berangkat menuju stasiun. Waktu tempuh hanya sepuluh menit saja melewati jalan pintas untuk menghindari macet. Untungnya hari itu hari libur nasional alias tanggal merah. Saya lupa hari besar apa itu. Jadinya di jalan gak begitu ramai kendaraan. Mungkin masih pada tidur di rumah masing-masing. 

Sesampainya di pintu masuk Stasiun Dukuh Atas BNI. Saya pun berjalan menaiki anak tangga menuju stasiun yang berada di atas jalan raya. Suasana stasiun Dukuh Atas BNI masih sepi. Mungkin hari libur dan saya datangnya terlalu pagi. 

Hanya beberapa calon penumpang saja yang terlihat. Sempat ragu jadi apa gak mau naik LRT. Sempat berubah pikiran untuk naik MRT saja ke Blok M. Tinggal nyeberang jalan ke Stasiun MRTnya. 

Tapi karena LRT belum sama sekali saya cobain. Sedangkan MRT sudah pernah beberapa kali. So, tetap pilihan jatuh kepada LRT. 

Pikir saya, enak lah naik kereta dalam keadaan sepi. Gak perlu rebutan kursi dan berdiri di dalam kereta. Tinggal duduk manis, bebas pilih kursi dan bebas buat konten pastinya. Hehehe. 




Suasana stasiunnya nyaman. Penampakannya keren dan mirip seperti Stasiun MRT. Hanya saja kalau MRT ada stasiun bawah tanahnya karena jalurnya ada lewat terowongan bawah tanah. Sedangkan MRT full rel layang di atas permukaan jalan. 

Fasilitas di dalam stasiun sangat baik. Ada toiletnya yang bersih. Dibedakan toilet laki-laki dan perempuan. Ada juga toilet khusus disabilitas. Petunjuk informasi sangat membantu. Gak perlu bingung melihat beberapa arah petunjuk. 

Layar lebar digital yang menunjukkan jadwal keberangkatan kereta dan beberapa informasi yang sangat membantu kita yang baru pertama kali mencoba layanan transportasi keren ini. 

Yang perlu diingat, di Stasiun Dukuh Atas ini ada dua jalur LRTnya yaitu dari Dukuh Atas menuju stasiun pemberhentian Stasiun Jati Mulya Bekasi via Stasiun Halim (Bekasi Line). Sedangkan ada juga jalur dari Dukuh Atas hingga pemberhentian terakhir di Stasiun Cibubur via TMII (Cibubur Line). 

Apabila buat kalian yang akan menuju arah Cibubur, kalian bisa turun di Stasiun Cawang untuk transit lalu lanjut LRT ke arah Stasiun Harjamukti. Bila masih bingung, kalian bisa bertanya kepada petugas yang ada di dalam kereta atau stasiun. 

Sebelum berangkat ke stasiun, saya mencoba mencari informasi cara pembelian tiket LRT lewat aplikasi KAI Accees. Tapi kebetulan aplikasi saya sedang trouble. Jadinya pakai cara lain yaitu lewat kartu e-money saja. 

Karena e-money belum diisi, saya pun mencoba membayar dengan kartu lain. Menggunakan kartu MRT ternyata gak bisa. Jadinya, beli kartu KRL yang bisa digunakan untuk LRT seharga 30 ribu. Ditambah top up 20 ribu. Jadi totalnya 50 ribu. Hitung-hitung nambah kartu perjalanan gitu. 

Jadwal keberangkatan LRT Jabodebek setiap sepuluh menit (koreksi bila keliru). Rencananya saya akan menuju Stasiun Halim. Alasan pertama, ingin melihat Stasiun KCIC Halim yang sedang viral dengan Kereta Woosh Jakarta - Bandungnya. Katrok amat yaa ! Hahaha. 

Setelah membeli kartu KRL Multi Trip di loket. Saya pun memasuki area tunggu penumpang dengan masuk melalui gate otomatis. Kartu tadi tinggal di tap di mesin scan otomatis. Lalu gatenya terbuka setelah tap kartu. 





Selanjutnya saya berjalan menuju area tunggu di peron. Terlihat hanya saya dan beberapa penumpang saja yang menunggu kedatangan kereta dengan arah yang sama. 

Waktu menunjukkan jam sembilan pagi. Kereta saya pun akhirnya datang. Dari kejauhan terlihat kereta berwarna dominan merah dengan ukuran lebih kecil dibandingkan kakaknya (MRT). 

Saya berdiri di depan pintu otomatisnya. Berdiri mengikuti tanda panah di lantai. Setelah kereta berhenti dengan sempurna. Pintu kereta dan pintu pembatas terbuka otomatis secara bersamaan. 

Setelah terbuka, saya pun langsung masuk ke dalam kereta. Karena gak ada penumpang turun, jadinya kita diperbolehkan langsung masuk. Tetapi kalau ada penumpang turun, kita dahulukan penumpang yang turun dulu. Setelah itu baru kita masuk. 

Suasana di dalam kereta dingin banget. Kaca kereta kinclong. Maklum saja, baru dua tahun kereta ini beroperasi. Kursi berwarna merahnya sangat empuk. Tapi jumlahnya gak sebanyak di MRT. Fasilitas di dalam kereta cukup lengkap.

Ada kursi empuk, pegangan tangan untuk penumpang yang berdiri. Ada alat pemadam kebakaran. Ada alat pemecah kaca yang digunakan disaat kondisi tertentu. Ada petugas keamanannya sehingga kita di dalam kereta merasa tenang. 





Papan informasi cukup lengkap dari jalur, stasiun pemberhentian hingga aturan gak boleh merokok dan makan minum selama di dalam kereta. Pastinya gak ada toilet di dalam kereta. 

Setelah duduk, saya melihat sekitar dalam kereta. Vibesnya seperti kereta kota di Jepang gitu meskipun belum pernah naik kereta di Jepang. 

Gak menunggu lama, LRT pun berangkat. Pintu otomatis sudah tertutup. Kereta pun bergerak secara perlahan lalu melaju dengan kencang sekitar 80 km/jam. Gak ada goncangan berarti. Jalan keretanya mulus sekali. Benar-benar dibuat nyaman. 

View yang kita lihat di perjalanan sungguh keren. Melewati gedung-gedung pencakar langit ibukota Jakarta. Cuaca juga cukup cerah. Jadi teringat film Spiderman. Dimana saat bang Spider sedang berantem di kereta dengan Prof.Octopus, hehehe.

Beberapa stasiun yang akan dilewati hingga ke Halim antara lain Stasiun Setiabudi, Rasuna Said, Kuningan, Pancoran Bank BJB, Cikoko, Ciliwung, Cawang dan sampai di Stasiun Halim. 

Perjalanan diperkirakan sekitar lima belas menit saja. Jarak antar stasiun juga gak terlalu jauh, setiap lima menit kereta sudah sampai di stasiun pemberhentian. 

Gak banyak saya lakukan di dalam kereta. Hanya duduk sambil menikmati perjalanan. Buka handphone untuk mengambil beberapa foto. Sisanya benar-benar menikmati view yang ada di depan mata. 





Sudah melewati Stasiun Cawang, saatnya saya dan beberapa penumpang lainnya bersiap-siap turun di Stasiun Halim. Dari kejauhan sudah terlihat Stasiun Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Halim dengan bangunan yang super megah dan cat dominan putih. 

Sempat melihat Kereta Whoosh di detik-detik keberangkatan menuju Stasiun Tegaluar, Kab.Bandung disaat LRT sampai di Stasiun Halim. 

Setelah berhenti dengan sempurna dan pintu otomatis LRT terbuka. Saya dan penumpang lainnya turun. Suasana masih sepi di stasiun padahal stasiun ini merupakan stasiun penghubung ke Stasiun KCIC Whoosh. Apa mungkin kebetulan pas saya kesini, stasiun masih sepi. 

Setelah keluar dari LRT, saya berjalan menuju pintu keluar. Untuk keluar stasiun masih menggunakan tap kartu. Jadi kartu yang kita pegang, jangan sampai hilang atau tertinggal. Kalau gak ada, kita gak bisa keluar stasiun. 

Pas saya tap, ternyata di layar mesin scan kartu tertera tarif yang saya sudah tempuh. Jadi dari Stasiun Dukuh Atas ke Halim, hanya 8,5 ribu saja dengan durasi lima belas menit. Cukup murah banget. 

Stasiun LRT Halim sangat modern. Apalagi stasiun ini nyambung dengan Stasiun KCIC Whoosh. Saya cukup berjalan kaki kurang lebih lima menit saja melewati lorong penghubung menuju stasiun Whoosh. 





Sesampainya di Stasiun Whoosh, suasana sangat ramai oleh calon penumpang yang akan menuju ke Bandung. Bisa jadi karena hari libur alias long weekends. Jadinya banyak warga Jakarta yang keluar kota. Tujuannya paling terdekat kalau gak ke Bandung ya ke Bogor. 

Sayangnya, saya belum sempat mencoba kereta Whoosh dikarenakan waktu yang gak memungkinkan. Besok pagi sudah balik ke Lombok. Next time kalau ke Jakarta lagi, diusahakan cobain Whoosh. 

Setelah berkeliling sebentar di dalam stasiun Whoosh yang super super ramai oleh para penumpang. Saya pun balik ke Stasiun LRT untuk balik ke Stasiun Duluh Atas lagi. 

Nah pas baliknya, saya mendapatkan LRT dengan kondisi penumpang ramai. Sampai-sampai gak kebagian tempat duduk alias berdiri di lorong kereta. 

Kesimpulan awal saya terbantahkan setelah melihat kondisi penumpang LRT dari Stasiun Jati Mulya Bekasi yang ramai sekali. Sebelumnya saya berpikir, kalau mau naik kereta sepi, bisa naik LRT. Ternyata baik MRT, KRL maupun LRT sama-sama menjadi favorit warga Jabodebek. 

Ini juga menjadi solusi tepat untuk mengatasi kemacetan di Jakarta, Bekasi dan ke arah Bogor. Dengar-dengar juga, Jakarta sekarang ini sudah mulai gak terlalu macet. Sudah banyak warga yang sadar akan pentingnya naik moda transportasi umum. Bahkan pegawai pemerintahan di Jakarta, setiap hari Rabu harus menggunakan transportasi umum menuju ke kantor. Keren kan !. 

Kurang lebih satu jam waktu jalan-jalan saya menggunakan LRT. Perasaan saya senang sekali akhirnya bisa nyobain kereta ini. Bagi saya, LRT memiliki kelebihan dibandingkan moda transportasi lainnya yang ada di Jakarta. Salah satunya, setiap stasiun LRT memiliki akses ke Trans Jakarta, MRT, KRL dan KCIC. Jadi kita gak perlu bingung mau naik apa. Tinggal sesuaikan dengan waktu perjalanan kalian saja. 

Gak rugi naik LRT ! 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra