Showing posts with label Kuliner Sumbawa. Show all posts
Showing posts with label Kuliner Sumbawa. Show all posts

Saturday, 25 July 2026

Pulau Bungin Saya Kembali ! : Lesehan Apung Bungin


Membuka mata, ternyata sudah menunjukkan jam enam pagi. Benar-benar tidur pulas tadi malam. Apa karena efek kelelahan seharian jalan-jalan dari Kota Taliwang ke Jereweh, lalu lanjut ke Desa Alas, Kab. Sumbawa kali ya?. 

Buka pintu kamar, langit sudah agak terang. Anak-anak dan istri masih terbang di dalam mimpi masing-masing. Matahari masih belum terbit. Udara pagi yang sangat sejuk. Saya keluar kamar untuk jalan kaki sejenak ke arah depan penginapan. Lalu lintas pagi di depan penginapan sudah cukup ramai.

Terlihat banyak lalu-lalang anak sekolah yang hendak berangkat ke sekolah karena bertepatan di Hari Sabtu. Badan sudah kembali segar, mata sudah gak ngantuk. Rasanya sudah gak sabar untuk mengexplore tempat-tempat indah lainnya. 

Kali ini kami akan akan mengexplore salah satu pulau terpadat di dunia yaitu Pulau Bungin. Dulu masih disebut Pulau Bungin. Tapi sekarang bisa dibilang gak pulau lagi karena sudah dibuatkan jalan penghubung menuju pulau ini. 

Saat balik ke kamar, anak-anak sudah pada bangun. Saya dan istri beres-beres barang bawaan biar gak buru-buru saat check out nanti siang. Lanjut memanaskan mesin motor dan sarapan pagi yang sudah disediakan oleh penginapan. 

Cuaca pagi cukup cerah, semoga saja sampai siang nanti gak turun hujan karena terkadang Sumbawa masih turun hujan. Setelah menyiapkan perlengkapan yang akan dibawa. Kami bersiap-siap jalan ke lokasi tujuan. 

Kurang lebih hanya sepuluh menit waktu tempuh dari penginapan ke Bungin. Gak jauh memang karena Bungin berada di Kec. Alas, Sumbawa. Oleh karena itu kami memilih Agal Homestay sebagai tempat menginap. 

Sekitar jam sembilan pagi, kami jalan dari penginapan. Melewati jalan kota kecamatan, terminal, pasar tradisional dan pusat pertokoan yang sudah menjadi legend bagi para pelancong. Gak jauh dari pusat kota kecamatan, terdapat beberapa destinasi wisata yang wajib kalian explore. Antara lain, Desa Marente, Air Terjun Agal, Air Terjun Sebra, dan Pulau Bungin. 

Setelah melewati pusat kota kecamatan, menuju arah timur dan belok kiri di pertiga Ind****rt Alas Dalam. Dari pertigaan ini, kami melewati jalan perkampungan warga dengan aspal yang mulus. Dulu pas datang kesini, jalannya masih sebagian aspal dan sisanya jalan tanah dan kericil. 





Untuk menuju Bungin, kami harus melewati jalur yang mengelilingi perbukitan. Meskipun memutar tapi viewnya keren karena jalannya berada persis di tepi laut.  Disini pantainya tenang dan gak ada ombak. Dikelilingi oleh beberapa pulau yang gak berpenghuni seperti Pulau Panjang dan beberapa pulau lainnya. 

Kurang lebih lima ratus meter, kami sudah melihat Bungin dari kejauhan. Angin laut sepoi-sepoi, sinar matahari pagi yang hangat dan aktivitas warga desa yang sebagian besar dari mereka yaitu seorang nelayan. Puluhan perahu kayu berjejer rapi di tepi laut. 

Jalan aspal memanjang lurus di kiri - kanan air laut menjadi ciri khas menuju Desa Bungin. Gapura besar yang menandakan bahwa kami memasuki desa. Rumah-rumah panggung khas Bungin yang mayoritas berasal dari Suku Bajo dan Bugis. Dari bahasa mereka juga sudah berbeda dari bahasa orang Sumbawa pada umumnya. Vibesnya seperti di kampung halaman orang tua saya yaitu Desa Labulalar yang berada di Kab. Sumbawa Barat. 

Sudah lama rasanya gak datang ke desa ini. Sebagian besar gak banyak perubahan. Rumah-rumah panggung yang terbuat dari kayu kokoh masih terjaga sampai sekarang. Lorong-lorong kecil yang sudah dipaping tertata rapi. Dan yang masih terjaga yaitu kambing disini masih makan kertas koran. Paling kaget lagi, para komplotan kambing disini sudah meresahkan warga desa karena mereka sudah makan jemuran para warga. 

Muter-muter sebentar di desa ini sambil menyapa para warga yang sedang asyik duduk di tangga rumah mereka masing-masing. Ada yang berkumpul sambil ngopi, emak-emak ada yang sedang sibuk berjualan, ada yang sedang bersiap melaut dan anak-anak kecil yang sedang main bola sepulang mereka sekolah. 

Yang membuat Bungin begitu menarik bukan hanya ukurannya yang mungil, tapi juga cerita di balik terbentuknya pulau ini. Sebagian besar daratannya merupakan hasil timbunan batu karang yang dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat Suku Bajo. Tradisi tersebut menjadi simbol semangat gotong royong dan kebersamaan yang masih terjaga hingga sekarang.

Buat kalian yang belum pernah datang ke Bungin, gak ada salahnya datang kesini sambil melihat kehidupan warga desa. Apalagi di desa ini ada salah satu lesehan apung yang wajib dikunjungi. 

Setelah puas berkeliling desa, rasanya kurang lengkap kalau belum mampir ke Lesehan Apung Bungin. Tempat makan yang berada di permukaan laut ini menawarkan suasana yang benar-benar bikin tenang. Semilir angin laut, suara ombak yang tenang, dan pemandangan perahu nelayan yang lalu-lalang menjadi teman sempurna untuk bersantai.

Untuk menuju lesehan apung kami harus berjalan menuju dermaga yang berada di sisi timur pulau. Memarkirkan kendaraan di area parkir depan dermaga yang gak terlalu besar tapi aktivitas warga yang baru pulang melaut cukup ramai disini. 

Berhubung datangnya kepagian, lesehan apungnya belum buka. Untuk bukanya mulai jam sepuluh pagi hingga sepuluh malam. Berarti saya salah informasi karena teman yang tinggal di Sumbawa kalau lesehan ini buka jam sembilan pagi. Gak apa-apa, yang penting lesehannya masih buka, hehehe. 

Itu informasi yang kami dapatkan ketika sampai di dermaga. Salah satu warga desa yang mempersilahkan kami menunggu sejenak di depan salah satu warung. Pemilik warungnya juga yang punya lesehan apung. Kata si ibu, kami diminta tunggu disini karena para karyawan lesehan pada belum datang. 




Kurang lebih setengah jam menunggu, kami dipersilahkan menuju salah satu perahu berwarna biru. Kami gak sendirian, tapi di atas perahu ditemani beberapa karyawan lesehan yang sama-sama akan menuju lesehan yang berada di tengah laut. 

Di atas perahu sudah banyak bahan makanan dan sayuran yang akan dibawa menuju lesehan. Meskipun datangnya kepagian, tapi kami bisa berkeliling desa sambil menyapa para warga dan kawanan kambing.

Disini kambingnya ganas-ganas dan gak ada takutnya. Meskipun sudah diusir, tapi tetap saja mereka mengendus-endus baju saya. Apa dikira belum mandi kali ya ?. Tapi kenyataannya memang belum mandi, hehehe. 

Karena jaraknya gak terlalu jauh dari dermaga, perahu yang kami tumpangi sudah sampai di tepi lesehan. Anak-anak senang sekali naik perahu, bahkan gak pengen turun dari perahu. Satu per satu penumpang turun dari perahu. Perasaan senang gak bisa kami tutupi. Anak-anak sudah heboh gak sabar melihat beberapa ikan dan hewan laut yang berada di dalam kolam. Jangankan anaknya, ayah bundanya gak kalah hebohnya sampai lupa tas bawaan di atas perahu, hehehe. 

Sesampai di lesehan apung, baru kami pengunjung pertama. Gimana gak, kami menuju lesehan naik perahu bareng dengan karyawan lesehannya. Pas banget nih, suasana masih sepi dan tinggal pilih mau duduk dimana. 

Namanya juga lesehan apung, pastinya bangunan lesehannya terapung di permukaan air. Bisa dibilang seratus persen bahan bangunannya dari kayu semua. Terdiri dari bangunan utama beratapkan dari spandek biar gak panas. Tiang-tiang bangunan dari kayu semua. Kolam-kolam ikan yang dilengkapi dengan jaring di bawah kolam agar ikan atau hewan laut lainnya gak kabur. 





Beberapa hewan laut yang kami temui yaitu ikan kerapu, lobster, udang, kepiting, teripang dan masih banyak jenis ikan lainnya yang gak hafal namanya. Untuk keliling kolamnya, kami bisa berjalan di atas drum plastik apung. Meskipun goyang-goyang tapi dijamin aman. 

Biar gak panas, dipasang paranet agar mengurangi sinar matahari langsung. Anak-anak antusias keliling melihat ikan-ikan di lesehan apung ini. Sedangkan istri sedang sibuk memilih menu yang akan kami nikmati untuk menu makan siang. 

Kami memilih duduk di salah satu meja yang menghadap langsung ke laut. Tempat duduknya semuanya lesehan terdiri dari meja panjang kayu dan karpet berwarna biru. Nyaman dan bersih tempat duduknya. 

Sambil menunggu pesanan datang, mata dimanjakan dengan panorama birunya laut dan aktivitas warga sekitar. Saking jernihnya,kami bisa melihat batu karang dari dasar laut. Ini moment yang gak ada obatnya. Suasananya sederhana, tetapi justru itu yang membuat tempat ini terasa begitu nyaman. 

Bangunan lesehan ini bisa bergerak seperti perahu yang berlabuh pada umumnya. Hanya saja diikat oleh beberapa tali agar gak berpindah terlalu jauh dari daratan. Lucu saja pas asyik makan, eh ternyata lesehan apungnya sudah pindah ke Selat Alas, hahahaha

Menu andalan di sini tentu saja olahan seafood yang masih segar. Ikan bakar, cumi, udang, hingga aneka sambal khas Sumbawa terasa semakin nikmat disantap di tengah suasana laut yang tenang. 










Untuk menunya, kami pesan Ikan Singang Kerapu, Ikan Kerapu Bakar, Cumi Goreng, aneka sambal dan sebakul nasi putih. Minumnya Es Jeruk Peras, Jus Alpukat dan Kopi Hitam. 

Ikan Singang Kerapu ini merupakan masakan olahan ikan khas Sumbawa yang memakai kuah bumbu kuning. Biasa kita menyebutkan masakan ikan kuning. Aroma rempah-rempahnya kuat banget. Kuah bumbu kuningnya seger.

Perpaduan rasa asin, asem dan pedas. Enak banget disantap selagi laper-lapernya. Ini merupakan ikan favorit saya sejak kecil. Dulu mama atau nenek, sering buatkan ikan kuah bumbu kuning ini atau bahasa Sumbawanya itu Ikan Singang. 

Selain Singang, kami pesan Ikan Kerapu Bakar untuk anak-anak. Syukurnya mereka sangat menyukainya. Dagingnya gurih, empuk dan gak amis. Ada aroma smoke-nya gitu. Enak banget. 

Menu selanjutnya, ada cumi goreng. Ukuran cuminya besar-besar dan porsinya juga mantap. Bisa untuk empat orang dewasa. Tapi daging cuminya masih alot karena baru saja ditangkap. Jadi belum sempurna bakarnya. 

Berhubung istri pesan setiap menu hanya setengah kilo, jadinya banyak banget. Ikan Singangnya setengah kilo, cumi dan ikan goreng juga setengah kilo. Ini karena lapar apa doyan sampai kebablasan pesannya. 

Untuk minumnya kami pesan jus alpukat pakai susu cokelat kental manis dan es jeruk peras. Pas banget habis makan besar dan pedas, minumnya yang segar-segar. 

Kalau harga, semua menu yang dipesan, kami hanya membayar kurang dari 300 ribu. Cukup terjangkau dengan porsi banyak seperti itu, harga masih ramah di dompet. 


Over all, pelayanan di Lesehan Apung Bungin ini cukup cepat. Apa karena baru kami saja pengunjung yang datang pagi itu. Infonya lesehan apung ini tetap ramai setiap harinya. Pengunjung banyak dari luar kota. Pas melintas di Sumbawa, menyempatkan mampir disini. 

Pemiliknya juga sangat ramah ke kami. Jadinya kami nyaman selama berada di lesehan apung satu-satunya yang masih bertahan disini. Dulu ada dua lesehan disini yang dikelola oleh desa, tapi karena dampak Covid 19, lesehannya terpaksa tutup. 

Lesehan Apung Bungin yang sekarang ini dikelola oleh satu orang. Bisa dibilang lesehan ini milik pribadi. Kalau kalian mau pesan orderan, bisa hubungi dulu ke nomor kontak yang tertera di foto. Jadi, pas datang sudah dihidangkan. 

Selain wisata kuliner, kita juga bisa belajar sejarah dan sosial dari pulau ini. Pulau yang terkenal dengan pulau terpadat di dunia ini. Karena jarak antar rumah yang mepet dan jumlahnya ribuan, makanya pulau ini disebut Pulau Terpadat di Dunia. 

Gak terasa waktu sudah siang hari. Ketika perut sudah kenyang, saatnya balik ke penginapan untuk check out. Pas kami balik, para pengunjung satu per satu datang. Ada yang berdua sama pasangan, ada juga yang rombongan. 

Pas baliknya kami dijemput oleh perahu kayu tadi. Untuk perahunya gratis ya bagi para pengunjung lesehan apung. Jadi gak kena cash lagi. Gimana, menarik bukan datang ke Bungin?. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra 


Friday, 1 November 2019

Sarapan di Salami Garden : Sumbawa Besar


Dapat jatah tiga hari jalan-jalan ke pulau seberang yakni Pulau Sumbawa dari ibu bos di kantor. Asyik nih dapat kesempatan explore Pulau Sumbawa lagi. Jalan-jalannya rasa kerja atau kerja rasa jalan-jalan ?. Yang penting selesaikan kerjaan dulu, baru jalan-jalan, itu yang bener.

Di hari terakhir bertugas dan sebelum melanjutkan pekerjaan di pagi itu, saya dan tim dari kantor diundang makan-makan nih di salah satu resto milik teman sejawat kami bernama Mbak Indah. Restonya baru buka beberapa minggu yang lalu dan tempatnya asyik nan kece. Jujur, baru kali ini saya menemukan tempat makan yang membuat mata menjadi sejuk dan hijau. Hijau disini bukan karena liat yang merah-merah lhoo ya, tapi melihat pemandangan yang hijau-hijau.

Lokasinya berada di daerah Unter Gedong, Kerato, Sumbawa Besar. Kurang lebih hanya sepuluh menit dari pusat kota Sumbawa Besar. Alamatnya masih asing buat saya. Jalurnya agak sedikit rumit karena berada di pinggiran kota. Bila kalian dari Bandara Sumbawa Besar, jalan terus ke arah timur. Bertemu dengan perempatan (simpang bingung), ambil jalur ke kiri (arah ke BTN Olat Rarang). Setelah itu, ambil jalur menuju jalur selatan. Sebelum sampai di jalur selatan, di kanan jalan kalian akan melihat resto bernama Salami Garden (Samawa Alam Asri).

Bukanya dari jam delapan pagi sampai jam enam sore. Saran dari saya sih, lebih bagus lagi dibuka sampai malam dengan diberi lampu-lampu taman untuk memperindah. Bagusnya lagi kalau ada live musiknya. Hehehe







Dari namanya Samawa Alam Asri (Salami) Garden, sudah jelas konsep yang digunakan yaitu argowisata dengan alam yang asri. Apalagi di tengah cuaca panas di Pulau Sumbawa, hampir seluruh perbukitan dan padang rumput terlihat kering dan menguning. Jadi Mbak Indah sengaja membuat konsep argowisata ini untuk membuat pengunjung yang datang, betah berlama-lama di resto ini. 

Dari depan resto kita dapat melihat dua rumah panggung yang terbuat dari kayu, beratapkan spandek. Rumah panggungnya digunakan untuk lesehan, sudah lengkap dengan tikar dan meja makannya. Kita dapat duduk santai sambil tiduran juga boleh disini. Banyak pepohonan juga, jadi gak terasa panas dan terhindar dari sengatan sinar matahari. 

Beranjak ke bagian belakang, ada tempat duduk lengkap dengan meja dan kursi. Uniknya kita duduk di bawah tanaman labu air yang dimana tanaman ini berjenis tanaman menjalar yang ditopang dengan potongan-potongan kayu. Jadi kita bisa bersantai disini, terlindungi dengan tanaman labu air. Labu airnya besar dan panjang lhoo (jangan pikir jorok dulu).

Selain labu air, ada juga bunga marigold. Dimana kebanyakan orang menyebutnya, bunga gumitir. Di Pulau Lombok dan Bali, bunga ini sering dibudidaya untuk keperluan peribadahan umat Hindu. Harganya pun lumayan lhoo. Di jaman +62 sekarang, bunga ini banyak kita jumpai di tempat-tempat yang sedang ngehits. Yang membuat ngehits karena keberadaan bunga gumitir. Dengan warnanya yang cerah dan menarik untuk difoto. Kalau saya menyebut bunga ini dengan sebutan bunga instagramable karena banyak anak milenials pajang foton mereka di tempat yang banyak bunga gumitir ini. 

Dan sekarang bunga gumitir hadir di Salami Garden dengan penampakannya yang kece. Apakah bisa menarik banyak pengunjung untuk datang kesini berfoto-foto dan berwisata kuliner seperti yang ada di Pulau Lombok dan Bali ?. Semoga saja banyak yang datang kesini. 







Gak hanya labu air dan marigold (bunga gumitir) saja yang ada disini, tapi masih banyak lagi. Ada bayam, kangkung, mangga, kelapa, manggis dan lain-lain. Kerennya lagi disini kangkungnya ditanam di sebuah tempat menyerupai pipa paralon yang sudah dimodifikasi. Mbak Indah sih menyebut tempat ini dengan sistem hidroponik. Saya kurang paham dengan sistem pertanaman ini. Yang jelas nanam kangkung dengan sistem hidroponik menghasilkan kangkung yang enak dimakan. hahaha.

Biasanya kalau ke sebuah resto atau lesehan, kita hanya duduk di atas kursi sambil menunggu pesanan datang. Tapi di Salami Garden, kita dibuat penasaran dan gak betah duduk berlama-lama. Maunya jalan berkeliling kebun bunga. Gak hanya berkeliling saja, tapi kita disini dimanjakan dengan spot-spot foto yang sangat instagramable. Mau gaya apapun disini, bisa. Yang penting jangan pakai gaya alay saja seperti bertapa di bawah sinar matahari, entar lama-lama gosong atau fotoan ala-ala Syahrono, pakai sepatu tingginya 2 meter sambil bilang "becek lagi becek lagi, syantik". 

Untungnya diantara kami gak ada yang pakai gaya alay saat difoto, hahaha. Suasana pagi itu masih sepi yang datang. Hanya satu dua orang saja yang membeli dan dibungkus. Ada juga cabe-cabean dan terong-terongan yang nongki disini pakai baju bebas. Ini anak gak sekolah apa ya ?. Ini kan jam sekolah mereka. Wah, jangan-jangan mereka bolos lagi (mendadak jadi menteri pendidikan).




Setelah berkeliling, akhirnya pesanan kami datang juga. Semangkuk bakso khas Sumbawa dan segelas es jeruk berhasil mendarat di meja saya. Ada yang nanya rasa bakso khas Sumbawa itu gimana ?. Jika kalian penasaran, datang saja ke Sumbawa Besar dan cicip bakso ini di Salami Garden !. 

Soal rasa, baksonya mantap banget. Bumbu dan kuahnya pas dilidah. Mie putih dan olahan dagingnya gurih dan empuk banget. Sudah lama saya gak makan bakso di Sumbawa Besar. Selain bakso dan mie putihnya, diberi juga semacam lemu. Lemu itu campuran daging dan lemak. Wih, gurih banget saat digigit, enak-enak. Bagi yang punya gejala Kholesterol dan Hipertensi, mohon jangan kebanyakan makan baksonya ya !. Seporsi bakso seharga 15 ribu. Murah meriah kan.

Habis makan bakso, kita minum yang seger-seger dulu. Saya memesan es jeruk yang dingin dan seger di tenggorokan. Sangat cocok diminum di tengah cuaca panas seperti ini. Habis makan bakso dan minum es jeruk, datanglah kenyang. Segelas es jeruk juga harganya murah yaitu 7 ribu. Selain dua menu di atas, masih banyak menu yang lainnya. Next time... pasti saya cobain menu lainnya. 

Gimana setelah baca cerita ini, kalian tertarik ke Salami Garden ?. Buat kalian yang sedang berada di Sumbawa Besar untuk urusan kerjaan, bisnis atau liburan. Gak ada salahnya nyobain kuliner rasa argowisata ini. Dijamin gak bakalan nyesel !.

Thanks buat Mbak Indah yang sudah mengundang kami ke Salami Garden !. Jangan lupa sering-sering ngundang makan di Salami Garden, hehehe.  Sukses terus bisnis kulinernya. Amin. 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Wednesday, 24 August 2016

Cerita Wisata Kuliner di Kota Sumbawa Besar

Asyiik, saya akhirnya ke Sumbawa Besar lagi untuk menghadiri acara pernikahan sahabat kuliah dulu. Setelah mendapatkan ijin sama big bos di kantor, saya langsung capcuus menggunakan sepeda motor. Ya, sepeda motor karena disamping pengeluaran biaya perjalanan menjadi lebih murah, yang pastinya agak lebih santai dan emang saya paling hobi menggunakan sepeda motor. 

Touring sendirian gak mengurangi semangat saya untuk segera berangkat sambil menikmati perjalanan. Berangkat sekitar pukul 06.00 pagi waktu Kota Mataram dan sesampainya di Pelabuhan Kayangan sekitar pukul 08.00 pagi waktu Lombok Timur. Alhamdulillah perjalanan menuju pelabuhan berjalan dengan lancar. Segera menaiki kapal ferry yang membawa kami menyeberangi Selat Alas menuju Pelabuhan Pototano. Sisa waktu tempuh sampai di Kota Sumbawa Besar sekitar dua jam, sekitar pukul 12.00 waktu Kota Sumbawa Besar, saya sampai dan segera mencari hotel yang paling murah. Setelah mendapatkan kamar hotel, saya melajutkan acara kuliner yang ditunggu-tunggu. 

Waktu wisata kuliner telah datang !!!



Dipikiran saya yang namanya masakan ikan sepat, singang, gecok, dan lainnya sudah mainstream di lidah dan dirumah mama sering buat masakan seperti itu. Memang sih semuanya itu adalah masakan khas Pulau Sumbawa, tapi saya mencoba kuliner yang berbeda.

Tujuan saya adalah ke Warung Om Suhan Arif, berlokasi di Jalan Setia Budi kawasan pertokoan atau di depan SMP 1 Kota Sumbawa Besar. Menu masakannya ada dua macam, sate daging sapi dan soto daging sapi. Sate dan soto yang paling enak menurut saya di kota ini. Dari masih kecil bila datang ke Sumbawa Besar, pasti mampir di warung ini.

Penjualnya sebenarnya bukan asli orang Sumbawa, tapi asli Madura. Sate dan sotonya juga bukan masakan khas Sumbawa, tapi khas Madura. Meskipun begitu, setelah saya mencoba di tempat lain seperti di Lombok dan Jawa, sate dan soto Madura di Warung Om Suhan Arif rasanya berbeda. Saya lebih suka makan sate dan soto Madura di warung ini.  Harga seporsi sate yaitu 20 ribu dan bila ditambah dengan soto, harga seporsinya jadi 35 ribu. Gak terlalu mahal buat kita yang penasaran ingin mencoba. 




Disamping Warung Om Suhan Arif, ada warung yang menjual es campur. Penjualnya lebih dikenal dengan sebutan Ibu Cantik, jadi saya beri sebuta es campur Ibu Cantik. Memang cantik dan berwajah arab gitu. Es campurnya enak dan seger banget. Ini adalah jenis es campur terenak yang pernah saya coba di Kota Sumbawa Besar. Harga satu porsi es campurnya yaitu 7 ribu per mangkok. Isinya bermacam-macam, ada kelapa muda, belewa, olang-aling, dan mata ikan dengan dicampur dengan susu kental putih. 

Makan siang yang mengenyangkan... !!!. 


Waktu makan malam telah tiba !!!

Sempat bingung mau makan malam dimana ?. Kebetulan banyak temen yang bertugas di Sumbawa Besar, saya langsung menghubungi mereka. Ternyata mereka ada waktu untuk bermalam minggu bersama sambil wisata kuliner malam. Setelah sepakat menjemput saya di hotel, kami langsung menuju ke sebuah tempat nongkrong baru di Sumbawa Besar, namanya Pantai Jempol. 



Pantai Jempol terletak di kawasan Labuan Sumbawa. Dahulunya pantai ini adalah perkampungan nelayan Labuan Sumbawa. Beberapa tahun yang lalu perkampungan nelayan ini disulap menjadi tempat tongkrongan kebanggaan masyarakat Kota Sumbawa Besar. Hampir mirip dengan tempat tongkrongan di Pantai Ampenan, Kota Mataram. 

Para penjual menjajakan berbagai macam jajanan dan minuman. Dari kue pasar, gorengan, minuman ringan sampai beberapa menu kuliner seperti sate, pelecing urap, gecok dan lain sebagainya. Para pengunjung sangat ramai yang datang terutama saat menjelang senja sampai tengah malam. Kumpul bersama keluarga, teman atau pacar di Pantai Jempol adalah pilihan yang tepat bila berkunjung ke Kota Sumbawa Besar. 




Beberapa menu yang kami pilih antara lain sate ikan lengkap dengan lontongnya, serabi, gorengan dan es jeruk. Malam minggu yang mengasyikkan sekalian dinner ala-ala backpacker bersama teman-teman tercinta. 

Menu kuliner yang paling enak di Pantai Jempol adalah serabi dan sate ikannya. Racikan bumbunya pas di lidah saya. Memang doyan atau kelaperan, semua menunya habis kami makan. he..he..he. Soal harga jangan khawatir, disini semua menu harganya terjangkau. Seperti sate ikan saja, harga seporsinya hanya 15 ribu saja, murah bukan. 

Silahkan bagi teman-teman yang kebetulan berlibur di Kota Sumbawa Besar, jangan lupa mengunjungi beberapa tempat kuliner yang sudah saya ceritakan yaitu Warung sate dan soto Om Suhan Arif, es campur Ibu Cantik, kuliner di Pantai Jempol. Ditunggu cerita kuliner saya selanjutnya yang lebih seru lagi !!! Cekidooott... 


Penulis : Lazwardy Perdana Putra