Siapa yang gak kenal dengan Pantai Senggigi, Lombok. Destinasi wisata yang berada di daerah Lombok Barat ini dulunya sangat terkenal dengan keindahan pantai berpasir putih, ombak yang tenang dan sunset yang cantik. Banyak wisatawan domestik maupun mancanegara kalau berlibur ke Pulau Lombok, pasti datang ke Senggigi.
Senggigi berjarak kurang lebih sepuluh kilometer dari pusat Kota Mataram. Waktu tempuh kurang lebih lima belas menit menggunakan motor atau mobil. Transportasi umum yang melayani dari Kota Mataram ke destinasi ini yaitu DAMRI saja. Selain itu kita bisa memesan ojek online atau menyewa kendaraan.
Senggigi juga merupakan kawasan perhotelan, resort dan villa. Gak hanya itu saja, sejak dulu Senggigi sangat terkenal dengan hiburan malamnya. Puluhan cafe, resto maupun bar ada disini. Bagi warga Kota Mataram dan sekitarnya, kalau ingin mencari hiburan sambil berkumpul dengan teman atau keluarga, pastinya Senggigi menjadi pilihan utama. Tapi itu dulu sebelum Kuta Mandalika dan Desa Sembalun gak seramai sekarang.
Sejak tragedi Bom Bali puluhan tahun yang lalu dan parahnya lagi, Indonesia dan dunia sempat dilanda wabah Covid-19 di tahun 2020 sampai 2022, kawasan Senggigi mulai ditinggalkan oleh wisatawan domestik dan mancanegara. Banyak dari mereka yang lebih memilih stay di Gili Trawangan atau Kuta Mandalika.
Sebenarnya dari nama-nama berikut, Senggigi gak kalah soal keindahan pantainya. Bahkan menurut saya pribadi, Senggigi jauh lebih hemat dari sisi budget karena menawarkan destinasi wisata yang murah tapi gak murahan.
Kalau lagi suntuk di rumah atau pekerjaan, saya biasanya jalan-jalan ke Senggigi. Jalur Senggigi juga merupakan jalur favorit saya kalau gowes. Cerita gowes ke Senggigi pernah saya tulis di blog ini. Bisa kalian cari di daftar tulisan blog ya !.
Sudah lama gak jalan-jalan ke Senggigi, saya mengajak istri dan anak-anak ke salah satu spot cakep di kawasan Senggigi. Pas banget di Minggu pagi, cuaca cerah. Setelah sarapan di rumah, kami bersiap-siap untuk jalan.
Masih pakai motor kesayangan "Blumax", estimasi perjalanan kurang lebih setengah jam. Kami berencana mengajak anak-anak main air dan pasir. Jadinya membawa perlengkapan mandi dan pakaian ganti.
Melewati pinggiran Kota Mataram menuju arah Kota Tua Ampenan, lanjut menuju arah Pantai Senggigi. Kondisi lalu lintas pagi itu cukup ramai lancar. Gak sepadat di hari kerja karena orang-orang masih pada tidur di rumah masing-masing.
Setelah melewati padatnya daerah Ampenan, kami sudah berada di jalur menuju Pantai Senggigi. Jalanan sudah aspal mulus semua. Baik kendaraan roda dua dan roda empat, ramai juga mengarah ke Senggigi.
Sesampainya di tanjakan Batu Layar, view Pantai dan perbukitan hijau cakep benar. Sedikit ada perbaikan jalan tapi gak menghalangi arus lalu lintas pagi itu. Jalur Senggigi dari Kota Mataram merupakan jalur pinggir laut. Jadinya selama di perjalanan, waktu gak terasa. Eh, ternyata kami sudah sampai di pusat keramaian Senggigi. Udara pagi yang sejuk, langit yang biru, lautan yang indah, pasir putih yang menyambut kami pagi itu.
Tujuan kami yaitu ke Pantai Senggigi atau biasa disebut Dermaga Cicak Senggigi. Lokasinya gak jauh dari Pasar Seni Senggigi, Hotel Merumata dan Matta Siput. Untuk menemukan pantai ini gak sulit. Patokannya, setelah Hotel Aruna dan Hotel Montana, di sebelah kiri ada jalanan kecil dimana ada tulisan Hotel Merumata.
Kita belok ke kiri menyusuri jalanan kecil tersebut. Kurang lebih dua ratus meter, ada area parkiran kendaraan Pelabuhan fast boat Senggigi. Kita bisa memarkirkan kendaraan di parkiran dengan membayar uang parkir 5 ribu saja. Tenang saja, parkirannya resmi dan gak ada biaya tambahan lagi masuk ke dalam pantainya.
Suasana pagi itu cukup ramai oleh pengunjung yang sama-sama lagi menghabiskan akhir pekan bersama keluarga tercinta. Setelah kendaraan aman, kami berjalan kaki menuju pantai. Dari depan masih terlihat sama seperti terakhir saya kesini. Tapi setelah memasuki area pantai. Ada yang sedikit berubah.
Dermaga pelabuhan sudah direnovasi. Banyak fast boat yang bersandar disini menunggu jam keberangkatan. Oh ya, dermaga ini sudah dioperasikan setiap hari untuk melayani penyeberangan Senggigi menuju Pelabuhan Padangbai, Gili Trawangan dan Nusa Lembongan (pulang pergi).
Bila kita ingin menggunakan fast boat atau kapal cepat menuju Bali, bisa melalui Senggigi. Operator yang melayani penyeberangan ini cukup banyak, salah satunya yaitu KM Eka Jaya. Selain itu ada beberapa operator lainnya dengan harga tiket yang beragam. Kisarannya yang saya ketahui dari 450 ribu hingga 650 ribu. Lebih jelasnya kalian bisa cek di website masing-masing.
Pas kami tiba di pantai, suasana ramai sekali. Yang berbeda dari pantai ini selain dermaga yang semakin cakep yaitu gak ada lagi perahu-perahu nelayan yang terparkir di pinggir pantai. Jadinya agak lengang kalau kita ingin bersantai menikmati suasana pantai sambil cuci mata.
Anak-anak sudah gak sabaran mau main pasir dan air. Tapi saya dan istri, mengajak mereka dulu berjalan menuju salah satu spot cakep untuk menikmati view. Kurang lebih seratus meter berjalan kaki menyusuri jalanan stapak yang sudah tertata rapi.
Kami menuju ke Matta Siput, salah satu spot favorit saya kalau datang ke Pantai Senggigi. Kalau dilihat dari atas pesawat, Matta Siput ini berbentuk seperti kepala siput dengan dua sungutnya. Bisa dibilang spot ini merupakan tanjung kecil di sudut Pantai Senggigi.
Dari sini kita bisa melihat perbukitan hijau, Kota Mataram dari kejauhan, ujung pulau Lombok paling barat, Pulau Nusa Penida dan Gunung Agung di Bali. Aktivitas yang bisa kita lakukan disini yaitu duduk santai di atas undakan tangga yang sudah di paping blok sambil makan kacang rebus dan ngopi. Yang hobi mancing, kalian juga bisa mancing dan surfing disini karena ombak disini lumayan besar. Terlihat batu karang dari permukaan air laut yang berwarna gradasi biru dan hijau.
Yang paling cakep lagi, spot ini persis di depannya Hotel Merumatta. Buat kalian yang menginap di Merumatta sangat beruntung karena bisa langsung ke spot ini tanpa ada drama ketinggalan moment sunset. Cukup buka pintu kamar, lalu berjalan kaki beberapa langkah. Kalian sudah berada di salah satu spot cakep buat menikmati sunset.
Sayangnya kami datangnya pagi hari, jadinya gak sampai sore disini. Next time, ajak anak istri buat kesini lagi. Btw, berhubung angin cukup kencang dan khawatir anak-anak masuk angin, kami memutuskan puter balik menuju dekat dermaga.
Rencananya mau duduk santai sambil menemani anak-anak main pasir dan air. Kami cukup menyewa tikar untuk duduk biar pantat gak kotor. Untuk sewanya cukup 10 ribu saja dan dipakai sepuasnya. Sampai malam pun boleh asalkan gak dibawa pulang saja tikarnya.
Selain itu ada juga yang menawarkan sewa life jacket buat berenang di pantai atau bermain banana boat dan kano. Untuk sewanya saya kurang tau ya karena gak nanyak juga. Disini juga kita bisa bermain jetsky. Pastinya mahal nih sewanya.
Karena kali ini temanya liburan paket hemat, jadi kami hanya bersantai dan menemani anak-anak saja. Selain itu kami memesan masakan khas Lombok. Apa itu?. Ya bener, Sate Bulayak.
Sate Bulayak merupakan salah satu kuliner khas Lombok yang menawarkan perpaduan rasa gurih, pedas, dan aroma rempah yang cukup kuat. Sekilas memang terlihat seperti sate pada umumnya, tetapi yang membuatnya berbeda adalah cara penyajian serta pasangan uniknya, yaitu bulayak.
Bulayak adalah lontong khas Lombok yang dibungkus menggunakan daun aren atau daun kelapa dengan bentuk memanjang dan sedikit berpilin. Untuk menikmatinya, kita harus membuka pembungkusnya terlebih dahulu, kemudian menyantapnya bersama potongan sate dan siraman bumbu khasnya.
Sate yang digunakan biasanya berupa daging sapi atau jeroan, meskipun di beberapa tempat terdapat variasi lainnya. Dagingnya dipotong kecil-kecil, ditusuk menggunakan tusukan bambu, lalu dibakar hingga matang. Aroma sate yang sedang dibakar menjadi salah satu hal yang cukup menggoda, apalagi saat disantap langsung dalam keadaan masih hangat.
Dari dulu kalau mau makan Sate Bulayak, kita bisa ke Pantai Senggigi. Tapi sekarang sudah banyak tempat yang menjual masakan khas Lombok yang terkenal ini. Perpaduan aneka rempah di bumbunya yang menarik kita untuk pengen makan lagi. Harganya kisarab 25 ribu -35 ribu (tergantung tempat). Porsinya juga cukup banyak dan mengenyangkan.
Paling enak lagi habis makan Sate Bulayak, kita bisa memesan kelapa muda yang segar. Namanya kalau sudah di pantai, pastinya banyak penjual kelapa muda. Apalagi di Lombok yang banyak memiliki pohon kelapa di sepanjang pantainya.
Karena akhir pekan, pengunjung yang datang ramai sekali. Meskipun suasana ramai, tapi kami masih bisa menikmati pantai dengan pasir putih yang lembut, gradasi hijau biru air laut, angin sepoi-sepoi dan yang paling saya sukai disini yaitu kita bisa melihat fast boat yang akan nyandar di dermaga. Jadi pengen naik kapal cepat ini ke Bali.
Selain fast boat, ada juga privat boat yang bisa kalian sewa menuju beberapa pantai yang ada di sekitaran Senggigi dan ada juga yang menyewa untuk nyeberang ke Gili Trawangan. Biasanya sih tamu bule yang pakai jasa ini karena pastinya harga sewanya mahal.
Gak terasa, sudah tiga jam kami main air. Tapi masih betah juga lama-lama disini. Enaknya di Pantai Senggigi ini gak panas karena banyak pohon-pohon rindang dan pohon kelapa yang menjulang tinggi di sepanjang pantai. So, pengunjung sangat nyaman bersantai disini.
Pantai Senggigi sekarang sudah tertata rapi dan bersih. Penjual souvenir dan Sate Bulayak sudah ditempatkan di tempat yang sudah disediakan oleh pengelola. Dermaga pelabuhan fast boat juga sudah cakep. Untuk jadwal fast boatnya cukup banyak dari pagi hingga sore hari. Jadinya rame banget fast boat silih berdatangan dan berangkat menuju Bali dan Gili Trawangan.
Kerennya lagi disini gak ada para penjual souvenir yang resek dan memaksa pengunjung untuk beli barang dagangannya seperti di kawasan pantai lainnya. Over all, buat kalian yang sedang merencanakan berlibur ke Lombok dan masih bingung mau menginap dimana, kalian bisa memilih Senggigi sebagai tempat untuk berlibur. Tapi kembali lagi ke selera ya.
Penulis : Lazwardy Perdana Putra
















Wah, tiga jam main air di Senggigi tapi masih betah juga ya 😄 Saya juga suka pantai yang masih punya banyak pohon rindang, jadi bisa menikmati suasana tanpa merasa terlalu panas. Apalagi kalau sekarang sudah lebih tertata, bersih, dan penjualnya nggak terlalu memaksa. Jadi pengin mampir ke Senggigi kalau ada kesempatan liburan ke Lombok. 🌴🏖️
ReplyDeletebaca post ini jadi kangen jalan-jalan di pinggiran Pantai Senggigi sore-sore, waktu aku ke Lombok pertama kali, aku jalan disekitaran Pasar seni, makan sate dan main kayak. seru banget pokoknya
ReplyDeleteperlu diagendakan lagi buat ke Lombok,cuman belum tau kapan nih realisasinya
wah kece-kece bangets fotonya. Saya yang belun pernah ke lombok jadi berasa ikut jalan-jalan, menikmati pantai senggigi. pengen icip juga sate bulayak, khas lombok. moga kesampaian main ke lombok.
ReplyDeleteMasih menjadi salah satu wishlist untuk bisa mengunjungi Pantai Senggigi yang cantik banget ini, nih. Tapi juga jadi penasaran nyobain bulayak yang diceritakan, karena baru kali ini dengar namanya. Bulayak ini selain menjadi pendamping saat makan sate, apakah juga biasanya disajikan bersama dengan masakan lainnya? Mungkin yang berkuah seperti soto atau makanan lainnya?
ReplyDeleteSenggigi memang punya pesona yang berbeda. Aku suka bagian ketika jalan-jalan pagi bareng keluarga justru terasa lebih santai dan nggak terlalu ramai. Kadang menikmati tempat wisata di pagi hari memang memberikan suasana yang jauh lebih nyaman.
ReplyDeleteAsyik banget cerita jalan-jalan paginya! Nited banget nih, kalau ke Senggigi itu wajib nyobain Sate Bulayak. Saya belum pernah makan sate ini. Membayangkan perpaduan bumbu rempah sama tekstur bulayaknya kayaknya bakal bikin ketagihan. Apalagi saya juga suka jeroan.
ReplyDeletePantai Senggigi sama Sate bulayak udah jadi paket komplit yang harus dirasakan kalo maen Lombok.
ReplyDeleteLombok selalu menawan yaaa. Bahkan pantai Senggigi pun sangat cakep pisan. Ngeliat warna air lautnya aduhai, auto betah main air sih. Apalagi sekarang lebih tertata yaa. Makin nyaman buat liburan para wisatawan dan bener kalau nggak ada tukang souvenir yang maksa di beli atau ganggu wisatawan rasanya makin nyaman. Sempet makan sate khas juga yaaa, ciamik betul ini sih momen liburannya. Jadi pengen liburan ke Lombok juga nih. Suka dengan air laut dan suasana yang lebih teduh karena banyak pepohonan.
ReplyDeletePasirnyaa... mashaAllah yaa.. kuning dan angin pantaaii.. bener-bener rindduu..
ReplyDeleteAKu pernah ke Senggigi pas SD, hhihii.. lawass syekallii..
Senggigi kalau pas lagi kemarau gini, terasa teriknya yaa.. kalau lagi musim penghujan, ombaknya apakah besar?
Wah, pingin banget jalan-jalan ke Senggigi sama keluarga. Semoga dalam waktu dekat bisa ke sana juga nikmatin pantainya. Bagus ya yg spot Matta Siput. Penasaran juga pingin nyobain sate bulayak. Dari penampakannya aja keliatan enak! :D
ReplyDeleteMasya Allah...ada keindahan tersendiri pesona Pantai Senggigi di pagi hari. Saya biasanya ke sana jelang sunset, ternyata di pagi hari pun tak kalah cantik. Warna biru air laut dan biru langit jadi pemandangan yang kontras dengan pasir pantai.
ReplyDeleteWah masukin Senggigi ke to-go list kalau ke Lombok. Kupikir bakal ombak atau areanya dalam karena dekat dermaga untuk fast boat. Aman yah berenang di sana? atau anak-anak main air di pinggir pantai saja? trus ganti bajunya di mana? toilet banyak tersedia?
ReplyDeletebtw, enggak ada yang maksa jualan souvenir itu penting!