Saturday, 8 July 2017


Dapat kesempatan libur lebaran yang cukup panjang, membuat kaki terasa gatal untuk segera pergi berpetualang ke alam lagi. Moment ini gak akan saya lewatkan begitu saja. Berawal dari buka puasa bareng dengan para  Crew Patrick di pertengahan Bulan Ramadhan lalu di sebuah kedai kopi ternama di Mataram ( Soetjipto Coffe & Resto ). Kami memutuskan untuk traveling ke Pulau Sumbawa. Hari dan tanggal berangkat sudah ditentukan yaitu empat hari setelah lebaran Idul Fitri.

Menjelang hari keberangkatan, segala persiapan sudah beres. Dari penginapan, mengontak teman-teman disana, apa saja yang dibawa dan mengatur kemana saja tempat ngetripnya. Alhamdulillah masih diberikan kesehatan dan rezeki untuk bisa ngetrip bareng lagi.

Berangkat hari Kamis siang dari Kota Mataram menggunakan motor, cuaca saat itu lumayan cerah. Tujuan kami yaitu Pelabuhan Kayangan, Lombok Timur. Setelah sampai di pelabuhan, hanya beberapa menit saja kami menunggu antrian masuk ke kapal ferry. Suasana baik di pelabuhan maupun di dalam kapal cukup ramai. Banyak para pemudik yang sudah balik ke pulau rantauan.

Sekitar jam empat sore, kapal ferry yang kami tumpangi segera berangkat menuju Pelabuhan Pototano, Sumbawa Barat. Cuaca saat itu masih cukup cerah dan arus laut gak terlalu besar. Syukurnya teman-teman semuanya gak ada yang mabuk laut. Menjelang senja, kapal ferry segera merapat ke dermaga pelabuhan. Kami pun perlahan-lahan turun dari kapal ferry dan segera menuju ke sebuah desa yang bagi saya pribadi adalah desa yang sangat nyaman untuk kami bermalam. Desa Marente ( Maras Nyaman Ate ).

Desa ini terletak di Kecamatan Alas, Sumbawa. Kurang lebih lima kilometer dari jalan utama Kota Alas yang menghubungkan Pelabuhan Pototano dengan Sumbawa Besar. Untuk menuju desa ini, kita hanya membutuhkan waktu lima belas menit saja dari terminal Kota Alas ke arah timur menggunakan motor. Kondisi jalan sudah bagus, nyaman dan aman. Bagi yang bingung, bisa meminta bantuan dari Google Map untuk mencari lokasi Desa Marente.




Keesokan harinya, saat yang ditunggu-tunggu tiba juga. Tujuan kami bermalam di Desa Marente yaitu karena kami ingin mencoba olahraganya yang cukup berbahaya yaitu River Tubing. Meskipun dilihat asyik-asyik saja, tapi olahraga satu ini dibutuhkan fisik dan mental yang kuat. Peralatannya pun harus lengkap sesusai standar keselamatan. 

Kami berdelapan ditambah tim Sagara ( Saketok, Agal, Sebra ) segera berangkat ke tempat yang dimana menjadi star awal memulai petualangan baru. Berangkat dari Rumah Pak Din ( tempat kami bermalam ) menggunakan mobil pickup. Bapak Din dan keluarga sangat ramah dan baik kepada kami. Awal perkenalan di tahun lalu saat kami menuju Air Terjun Agal. Secara gak sengaja, kami bertemu dengan Pak Din sekeluarga dan sampai sekarang kami menjadi keluarga baru. 

***
Mobil segera meluncur dan membawa kami  menuju titik pertama dimulainya River Tubing. Perasaan deg-degkan, ini pengalaman pertama saya melakukan olahraga satu ini. Melewati jalan berbatu dan bertanah dan dikiri-kanan jalan terbentang luas perbukitan dan Hutan Marente. Sungguh alami dan masih terjaga. Udara sejuk, sinar matahari  dan kicauan burung di pagi hari menyambut kami di perjalanan. Seolah-olah mereka menyemangatkan kami dan berdoa semoga petualangan pagi ini dimudahkan. Amiin.





Sampailah kami di lokasi yang menjadi awal petualangan mengarungi derasnya Sungai Tiu Kele. Sebelum memulai kegiatan, kami berdelapan dipandu oleh ketua tim melakukan doa bersama dan menjelaskan hal-hal penting yang harus diperhatikan selama River Tubing.

Pesan dari ketua tim, jangan meremehkan Sungai Tiu Kele. Hal-hal kecil harus diperhatikan, jangan sampai melanggar aturan yang sudah diberlakukan. Mulai dari helm, life jaket, ban dan pakaian yang kita kenakan harus diperhatikan. Saran saya, pakailah pakaian renang atau nyaman di badan dan jangan lupa sarapan terlebih dahulu biar gak masuk angin. 







Tepat jam delapan pagi kami memulai petualangan mengarungi Sungai Tiu Kele. Air sungai yang dingin dan batu-bebatuan besar menyambut kami dan mengucapkan Welcome to Tiu Kele. Sejauh ini kece... !!!

Sungai Tiu Kele yang harus kami tempuh sepanjang 1,5 - 2 kilometer. Cukup panjang dan pasti seru. Bentuk geografis sungai ini banyak bebatuan dan airnya cukup deras. Ban yang membawa kami segera berjalan mengikuti arus sungai. Arus sungai disini kebetulan gak terlalu deras seperti biasanya karena sudah beberapa hari gak turun hujan. Menurut saya yang kebetulan baru pertama kali mencoba olahraga ini airnya lumayan deras dan menantang. Sesuai dengan kami yang masih baru pertama kali mencoba olahraga kece ini.

Tantangnya kami harus bisa menyeimbangkan badan dan ban, setelah itu mengikuti arus sungai dan bersiap-siap melewati beberapa titik sungai yang memiliki arus yang sangat deras. Serunya disini kami harus melewati setiap bebatuan yang menghalangi. Cukup anyep rasanya bila kita terlepas dari ban karena tersangkut batu. hehehehe...






Sejauh ini saya bareng temen-temen cukup happy dan gila-gilaan. Alhamdulillah belum ada yang KO ( hahahahaha ). Semangat temen-temen dan tim yang profesional membuat pagi itu terasa hangat. Kami semua akrab dan seru-seruan bareng. Alam juga menyambut kami dengan ramah. Luar biasa !!!







Kurang lebih satu kilometer mengarungi derasnya sungai bebatuan, kami istirahat sejenak untuk mengembalikan tenaga yang terbuang. Banyak hal yang kami lakukan saat istirahat, foto bareng dan loncat dari atas batu besar. Kebetulan disini, sungainya sangat dalam sekitar empat meter, jadi aman buat kami loncat dari atas batu. Bukannya istirahat berdiam diri, tapi justru melakukan hal yang lebih gila lagi. "Ayook loncaaatt !!!", Teriakan teman-teman yang lainnya. 




Waktu masih pagi, kami segera melanjutkan perjalanan lagi menuju garis finish. Masih menyisakan satu kilometer dan tantangan selanjutkan lebih gila lagi. Kami harus melewati beberapa air terjun mini yang airnya cukup deras. Keceriaan ditambah sedikit ketegangan karena melihat medan yang dilalui cukup menguras tenaga dan fisik pastinya. Untung saja teman-teman dari tim Sagara selalu mendampingi kami berdelapan. Wajah yang tadinya tegang, berubah menjadi ceria setelah sampai di garis finish. Alhamdulillah



Beberapa medan dari soft hingga hard sudah kami lewati semua. Keceriaan semakin terlihat ketika semua teman-teman gak ada yang mengalami masalah kesehatan. Semuanya fun and happy. 

Rasanya gak ingin cepet-cepet selesai. Mengarungi Sungai Tiu Kele sejauh dua kilometer selama dua jam rasanya belum cukup. Ingin kembali lagi kesini dengan tantangan baru. Semoga saja diberikan kesehatan dan umur panjang oleh Allah SWT. Amin

Salah satu ciptaan Allah SWT yaitu Alam Marente, Sungai Tiu Kele yang sangat mempesona dan membuat saya jatuh cinta. Datang jauh-jauh dari Lombok hanya untuk mencoba olahraga satu ini di Sungai Tiu Kele karena destinasi ini sangat luar biasa indahnya.

Salut dengan warga Desa Marente yang penuh semangat bareng-bareng memajukan desanya dalam bidang ekonomi dan pariwisata. 

Thank's to all ( Bapak Din sekeluarga, Mas Hans, Mas Wandi, Mas Aen, Mas Samiaji, dan tim ). Terimakasi sudah mengenalkan saya pribadi tentang Desa Marente bersama alamnya. 

Catatan :

Paket River Tubing :
- 75 ribu ( 2 km ) selama 2 jam per orang
- 50 ribu ( 1,5 km ) selama 1 jam  per orang
- 30 ribu ( 1 km ) selama 30 menit per orang

Instagram : marente_ecotourism, sammyajji, wan_abdoell, jabrickaen ( kontak yang bisa dihubungi bila ingin River Tubing ).

Penulis : Lazwardy Perdana Putra
google.com

5 comments: