Saturday, 20 October 2018

Berburu Buah Strawberry ke Desa Sembalun, Lombok Timur


Horeee... Touring lagi kita!

Disaat orang-orang masih enggan keluar rumah dan masuk mall karena khawatir gempa, kita berdua sudah nonton film favorit di bioskop. Paling parahnya kita sudah jalan-jalan explore alam Lombok disaat banyak destinasi wisata di Lombok yang terkena dampak dari gempa di Bulan Agustus yang lalu.

Kalimat di atas merupakan ungkapan takjub si doi di atas motor saat kami berdua mengexplore salah satu destinasi favorit di Pulau Lombok. Antara nekat atau lucu saja kalau diinget-inget. Banyak hal yang kita bicarakan sepanjang jalan antara Kota Mataram dan Desa Sembalun. Dari ngomongin kondisi para korban gempa saat ini, ngalor ngidul dan ujung-ujungnya ngomongin hal privasi. Apa itu? Mau tau aje kalian, gak boleh. Ini rahasia dan hanya kita berdua yang tau. #MalahCurhat

Di tulisan kali ini, saya akan bercerita tentang touring kami berdua mengexplore Desa Sembalun,  Lombok Timur. Faktanya, desa tertinggi di Pulau Lombok ini merupakan salah satu titik gempa yang terjadi di Bulan Agustus lalu. Cukup parah kerusakan yang terlihat dari desa ini. Rumah warga banyak yang runtuh, masjid juga semuanya rusak serius. Parahnya lagi, deretan bukit-bukit yang menjadi tujuan pendakian mengalami longsor. Desa Sembalun berduka saat itu.

Sejak gempa terakhir yang mengguncang Desa Sembalun cukup parah, saya belum pernah ke desa ini lagi. Kebetulan saat itu hari libur dan gak ada kegiatan,  saya bareng si doi janjian buat touring. Tujuan kami mencari tempat yang sejuk dan jauh dari polusi. Mau ke pantai, panas coy. Mau ke mall, tiba-tiba inget harus nabung. Mau trauma healing, kurang personel. Yasudah, kita berdua mencari destinasi yang kece sambil hunting-hunting foto dan trauma healing berdua.

Bisa dibilang ini kencan yang kesekian kali kami berdua. Pas banget juga si doi lagi persiapan ujian penerimaan cpns tahun ini. Jadi dia lagi mencari tempat yang nyaman buat belajar. Jauh amat belajarnya yaak?. Gak apa-apa,  dimanapun belajarnya, yang penting berkualitas. Ada pepatah, belajarlah sampai ke negeri China. Nah, kita saja disuruh belajar sampai China. So.. Belajar ke Desa Sembalun sih mah deket banget dari rumah. Pertanyaannya ini beneran belajar atau kencan yaak? Hahaha.

Kalau mau tau belajar atau kencan,  dibaca sampai habis yaak guys !



Berangkat jam tujuh pagi dari Kota Mataram memakai Si New Blue soalnya Si Blue sudah dijual. #GakNanyak. Jemput si doi, kemudian langsung tancap gas ke lokasi tujuan. Cuaca pagi itu cukup cerah, gak ada kemacetan sepanjang perjalanan. Hanya saja setiap kami bertemu dengan pasar tradisional, cukup membuat macet tapi gak terlalu berarti. Waktu tempuh dari Kota Mataram menuju Desa Sembalun sekitar dua jam perjalanan (ngegass normal).

Kurang lebih satu jam perjalanan,  kami sudah berada di sepanjang jalan Kebun Raya Lombok, Lemor menuju Desa Sembalun. Melewati jalan menanjak, berkelok-kelok dan kiri-kanan hutan belantara. Udara yang sangat sejuk, berkabut dan hijaunya pepohonan yang membuat mata dan hati adem. Seadem melihat senyummu dari spion motor yang duduk di belakang.

Gak begitu lama melewati jalan menanjak tengah hutan belantara, kami berdua sudah sampai di Puncak Pusuk, Desa Sembalun. Dari atas puncak ini kita sudah bisa melihat Desa Sembalun di kejauhan. Desa Sembalun gak berkurang keindahnya.

Tapi sayangnya disaat kami berdua berada disana, suasana masih sepi pengunjung. Entah masih pagi atau gimana, saya pun bertanya ke salah satu pedagang cilok (bakso tusuk) di atas Puncak Pusuk Sembalun. Beliau bercerita kalau saat ini masih sepi pengunjung dikarenakan Desa Sembalun masih dalam masa pembenahan pasca gempa. Banyak warga lokal baik dari Lombok maupun luar Lombok yang masih enggan datang ke Sembalun. Mungkin saja masih takut bepergian disuasana bencana yang gak henti-hentinya melanda negeri kita tercinta ini.

Sedih juga sih,  tapi buat kami berdua datang ke Desa Sembalun itu sangat menyenangkan disaat suasana seperti ini. Disamping touring dan liburan kece,  kita juga bisa bersosialisasi dengan warga desa yang menjadi korban gempa lalu.





Next... Sampai juga kami di salah satu rest area yang berada di pinggir jalan Desa Sembalun. Pemandangan dari rest area ini cukup kece. Ada berugaq (gazebo) untuk siapa saja yang ingin beristirahat sejenak. Melepas lelah sambil menikmati pemandangan persawahan yang hijau, bukit-bukit yang masih kering dikarenakan belum kunjung datangnya musim penghujan. Tapi overall semuanya masih mempesona. Benar apa yang saya lihat diberita dan beberapa foto teman-teman media. Bukit-bukit yang menjadi tujuan pendakian di Desa Sembalun hampir semuanya mengalami longsor. Parahnya jalur pendakian ditutup karena titik longsor ada di jalur pendakian tersebut.

Memandang ke arah barat, Lereng Gunung Rinjani yang menjadi jalur pendakian pun terlihat ada sisa-sisa longsoran. Serem juga bentuk jalur longsornya, tapi itulah kekuasaan Sang Pemilik Alam ini. Apapun yang dikehendaki-Nya pasti terjadi.

Waktu masih panjang, kami berdua duduk santai di atas berugaq (gazebo) sambil ngobrol ngalor ngidul. Itulah kami berdua, ada saja yang dibahas dan didiskusikan. Berhubung sudah bawa buku bahan-bahan ujian cpns, saya menemani si doi belajar di atas berugaq sambil menikmati alam pedesaan Sembalun.

Suasana belajar disini memang sangat asyik. Terbukti buat kami berdua yang nyaman sekali belajar dan diskusi tentang apa saja yang berkaitan dengan Indonesia dan dunia. So.. bagi kalian yang punya pasangan dan akan ujian masuk cpns atau kerja apa saja, bisa belajar disini. Dijamin seru, asyik dan nyaman. Apalagi sama pasangan, pasti betah dah. Tapi inget jangan niat kencan yaak, niatnya belajar berdua sambil melemparkan senyuman dan pujian buat dia ya dia #PodoWaeRek.

Gak terasa sudah dua jam kami di berugaq sambil belajar. Memberi soal-soal ke doi. Dan doi pun menjawab dengan benar. Soal-soalnya beragam. Dari soal nama ibukota, undang-undang, nama presiden, siapa nama pedagang cilok yang kita ajak ngobrol sampe mau kemana kita setelah ini, cieee... Dududududu.

Pas asyiknya belajar, datang seorang bapak-bapak pake motor membawa dagangannya. Terlihat buah strawberry yang sudah dibungkus dengan plastik mika. Bukannya menawarkan dagangannya, tapi bapak tersebut mau berjualan di berguaq ini. Waduh, merusak suasana nih. Awalnya bapak tersebut malu-malu mau mengusir kami, tapi kami berdua tau maksud bapak tersebut grasak grusuk menyiapkan buah strawberry yang akan dijual.

Akhirnya kami berdua menyudahi belajar saat itu dan berencana untuk ke tempat selanjutnya. Melihat buah strawberrynya yang merah-merah. Saya pun bertanya kepada si bapak, "Pak, sudah masuk musim strawberry ya? ".

"Sudah mas", kata si bapak. Wah, langsung saya ngajak si doi buat metik buah strawberry di kebunnya langsung. Keliatannya ini hari pas buat berburu strawberry karena pas banget lagi sepi pengunjung.











Cari-cari kebun strawberry, akhirnya kami menemukan salah satu kebun strawberry yang keliatannya cocok buat kami. Berada di pinggir jalan Desa Sembalun Bumbung. Sepanjang jalan ini banyak sekali kita jumpai pedagang strawberry.

Kami berdua pun menepi dan berkenalan dengan pedagang strawberry sekaligus petaninya. Kalau gak salah namanya Ibu Suri. Seorang ibu yang menjadi korban ganasnya gempa Lombok saat itu. Rumah beliau roboh dan sekarang beliau masih tinggal di tenda pengungsian. Yang saya salut dari beliau adalah beliau masih semangat untuk berjualan dan mencari rezeki ditengah duka yang beliau alami. Semoga sehat selalu ibu. Doa kami berdua yang terbaik buat ibu.

Setelah ngobrol sebentar, kami berdua langsung menuju kebun strawberry yang tepat berada di belakang warung Ibu Suri. Lahan kebunnya lumayan luas. Kurang lebih empat are, luas juga ya. Buah strawberrynya sudah merah-merah dan besar-besar. Sudah waktunya dipanen nih. Hanya kami berdua yang berada di kebun strauberry. Puas milih-milih.

Untuk menuju kebun dan memetik langsung buah strawberry, kami dikenakan biaya masuk 5 ribu per orang. Itu sudah sama makan langsung buah strawberrynya. Cara pinter, makan sepuasnya di dalam kebun dan pilih yang bagus-bagus buat ditimbang dan dibawa pulang hehehe.

Gak lupa kami berdua eksis foto-foto disini. Meskipun terik matahari yang menyengat tapi gak terasa di kulit, kami berdua sibuk mencari spot fotoan. Bukan pencitraan tapi inilah kami berdua yang sudah keluar konyolnya.

Sambil bawa keranjang buah, mencari strawberry yang kondisinya bagus, kami berdua menikmati dan bahagia saat itu. Bahagia dengan cara sederhana ditengah duka yang masih terasa. Apalagi bersamamu, bahagia lebih terasa dan waktu pun gak terasa sudah menjelang sore hari.

Setelah dirasa sudah cukup metik strawberrynya. Buah yang kami petik kemudian ditimbang dan saat itu kami membayar 12 ribu, itu sudah termasuk duit masuk ke dalam kebun. Murah kan dan tergantung berapa hasil petikannya sih.

Melihat buah strawberry yang sudah dibungkus ke dalam plastik mika. Berjejer rapi dan menunggu si pembeli datang. Kami berdua tergoda untuk membeli yang sudah dibungkus. Satu plastik mika dikenakan harga 5 ribu. Kami berdua berencana mau membeli banyak. Akhirnya saya menawar 5 bungkus 20ribu. Setelah lama tawar menawar, akhirnya ibunya nyerah dan memberikan kami seharga tawaran tadi. Horeee...

Gak sampe itu saja, kami melihat ada sayur wortel yang baru saja dipanen. Wah.. Tergoda lagi untuk menawar. Untuk ini kami gak tega, harga wortel kami gak tawar. Kami membayar dengan harga yang dikasi Ibu Suri. Cukup strauberry saja yang ditawar hehehe.

Hari sudah menjelang sore dan kami berdua segera balik ke Kota Mataram biar gak kemalaman. Membawa buah strawberry dan wortel buat dijus nantinya. Pulau Lombok sudah aman dikunjungi. Meskipun masih ada beberapa destinasi yang belum dibuka untuk umum, tapi gak sedikit destinasi wisata yang sudah bisa didatangi dan dinikmati karena Pulau Lombok banyak memiliki destinasi wisata yang kece-kece.

Jangan ragu untuk berlibur ke Pulau Lombok karena Pulau Lombok selalu aman dan kece untuk Indonesia.

#LombokBangkit

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

5 comments: