Saturday, 14 July 2018

Fokus ke modelnya yaak !!! 

Beberapa minggu lalu saya sudah menulis tentang perjalanan saya bareng si doi ke destinasi-destinasi kece yang ada di Sumbawa Barat. Saya ingin melanjutkan cerita kami berdua, masih tentang mengexplore alam Sumbawa Barat. Cerita kali ini agak berbeda dengan dua cerita saya sebelumnya, mengexplore Pantai Maluk dan Pantai Poto Batu

Ceritanya ada disini : Pantai Maluk & Pantai Poto Batu

Sebelum melanjutkan cerita. Bagi kalian yang baru pertama kali berkunjung ke blog pribadi saya ini, gak ada salahnya untuk follow on my blog yaa ! Terimakasi

Kembali ke Laptop !!!

Bagi kalian yang sudah membaca cerita sebelumnya, pasti sudah bisa menebak kemana kami berdua tuju dong ?. Setelah dari Pantai Poto Batu, kami berdua menuju Kota Taliwang untuk bertemu teman baru saya alias sahabatnya si doi, asli orang Taliwang. Sebut saja namanya " Si Yudik".




Kami bertemu dengan Si Yudik di Masjid Agung Darussalam. Masjid megah dan tekece di Sumbawa Barat. Masjid Agung Darussalam terletak di pinggiran Kota Taliwang. Bagi yang belum pernah ke Kota Taliwang, jangan khawatir. Bila ingin ke masjid ini, kalian tinggal buka google maps dan masalah bingung di jalanpun teratasi.

Bertepatan dengan masuknya waktu Shalat Ashar, kami tiba di halaman parkir masjid. Kami melaksanakan shalat ashar sebelum mengexplore masjid ini. Masjid megah kebanggaan orang Taliwang, berada di kawasan komplek kantor pemerintahan Kabupaten Sumbawa Barat yang diberi nama komplek Komutar Telu Center (KTC).

Masjid Agung Darussalam selesai dibangun pada bulan Juni 2010 dimasa pemerintahan Bupati KH.Zulkifli Muhadli dengan menghabiskan dana sekitar 30 miliyaran rupiah. Luas bangunan masjid sendiri 15.500 m2, sedangkan luas secara keseluruhan 48.500 m2, dengan daya tampung mencapai 8000 jamaah. Besar juga nih masjid. Pantesan saja disebut-sebut salah satu masjid termegah di Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Secara keseluruhan bangunan masjid ini mirip dengan masjid-masjid lainnya. Hanya saja masjid ini dikelilingi oleh kolam yang ukurannya dua kali lebih luas dari bangunan masjid. Memiliki empat lantai dimana ada paling dasar berupa basemant, lantai satu (lantai utama ) dan dua lantai untuk jamaah perempuan. Di bagian dalam dinding kubah tertulis sifat-sifat Allah SWT dalam bentuk kaligrafi yang cukup indah dipandang. Memiliki warna dasar hijau tua dan putih membuat siapapun yang berada di dalam masjid, baik shalat atau pun i'tikaf, merasa tenang dan damai. 

Bagian yang paling saya suka dari masjid ini yaitu Masjid Agung Darussalam  memiliki taman yang hijau dan di jauh mata memandang, kita bisa melihat hamparan perbukitan alam Sumbawa Barat. Beruntungnya saat kami kesana, bukit-bukit di sekitar Kota Taliwang masih hijau. 

Sore itu gak terlalu banyak para jamaah yang shalat berjamaah di masjid. Mungkin letaknya yang lumayan jauh dari pusat keramaian kota atau masih tidur di rumah masing-masing. Maklum, suasana Bulan Puasa dan cuaca agak panas. So, malas keluar rumah, tapi ibadah jangan dibawa malas yaa !! Hehehe

Berada di dalam Masjid Agung Darussalam, membuat hati saya tenang dan bahagia. Kenapa gak ?. Serasa perjalanan trip kami berdua gak sia-sia. Dapat mengexplore pantai-pantai kece dan Alhamdulillah, ibadah gak terlewatkan. Dapat shalat di Masjid Agung Darussalam, melengkapi perjalanan trip saya kali ini. Apalagi tripnya bareng si doi, Asyik.

Si Yudik si murah senyum 

Setelah Shalat Ashar dan jepret-jepret bagian terpenting dari Masjid Agung Darussalam meskipun belum puas jepret sih, kami berjumpa dengan Si Yudik.

Kalau boleh jujur, saya gak nyangka Si Yudik ini supel banget. Ramah dan gak (bukan agak) pendiam, hahaha. Ada saja yang diceritakan tentang Kota Taliwang ke kami. Mirip-mirip guide travel gitu. Bahkan saya khawatir kalau dia minta jasa tour guide sih, hehehe..becanda.

Rencana selanjutnya yaitu mencari takjil untuk bekal kami berbuka puasa. Kami bertiga segera meluncur ke sebuah tempat dimana banyak para pedagang takjil yang menjual berbagai macam kue khas Sumbawa Barat. Si Yudik yang memiliki kenalan salah satu pedagang, mengantarkan kami untuk mencari takjil yang dicari. 



Ibu Emi sedang sibuk melayani pembeli

Menyusuri jalan Kota Taliwang di sore itu membuat saya kaget, ternyata Kota Taliwang sangat ramai. Beda seperti dua puluh tahun yang lalu, dimana saat saya datang pertama kali ke Kota Taliwang, kota ini masih sepi dan jauh dari kata Polusi Udara.

Kami bertiga sudah berada di pertigaan Jalan Teuku Umar, Kampung Selayar. Lebih tepatnya berada di depan kantor Keluarahan Dalam, Kota Taliwang. Deretan tenda-tenda pedagang takjil sudah ramai diserbu oleh warga lokal. 

Si Yudik mengantarkan kami menuju ke sebuah tenda takjil milik dari Ibu Emi. Ibu hitam manis dan agak gemuk ini sangat ramah ke kami berdua. Beliau sudah menduga, kami berdua bukan asli orang Taliwang. Nyangkanya sih wartawan yang lagi nyari takjil. Emang saya seperti wartawan ya ?,hehehe...Ada-ada saja si ibu mah. 

Banyak kue khas Sumbawa Barat yang dijual oleh Ibu Emi. Ada namanya Tepung Pria, Goges, Tepung Dange, Plopo dan Es Bardan. Aneh-aneh kan namanya ?. Jelas saja aneh, nama kuenya kan nama-nama khas yang berasal dari bahasa Sumbawa Barat alias Bahasa Samawa. 

Tepung Pria "Idaman Seorang Wanita"
Tepung Pria

Tepung Pria, dari namanya saja aneh. Jenis kue ini paling banyak diburu oleh warga Kota Taliwang. Karena rasanya yang sangat lezat, saat digigit terasa kenyel-kenyel gitu. Kue ini mirip seperti kelepon tapi ukurannya lebih besar dari kelepon yang kita kenal. Terbuat dari tepung beras dan kanji membuat kue ini sangat lezat di mulut. Isi dalam kue Tepung Pria yaitu kelapa bercampur gula merah. Rekommended buat dicoba saat berkunjung ke Kota Taliwang.

Bolu Berai 
Bolu Berai

Kue ini biasa disebut dengan sebutan bolu yang memiliki kadar air. Hanya saja kadar air ini bukan air putih pada umumnya tapi cairan gula. Gula yang digunakan disini yaitu gula putih. Cara membuatnya yaitu sama halnya seperti membuat kue bolu pada umumnya. Hanya saja setelah menjadi bolu, kemudian direndam di air gula dan siap untuk dinikmati. Enaknya dimakan saat berbuka puasa. Dicobain saja deh. 

Tepung Dange "Baroncong Khas Sumbawa Barat"

Tepung Dange

Dange berasal dari salah satu kue khas Pulau Sumbawa. Mirip dengan kue Baroncong dari Sulawesi Selatan. Hanya saja kue Baroncong teksturnya lebih lembut, sedangkan Tepung Dange memiliki tekstur yang agak kasar. Kue ini terbuat dari tepung ketan dengan parutan kelapa yang dikukus lalu dibakar setelah tercetak berbentuk segitiga. Kemudian isiannya diberikan gula merah. Gak kebayang kan makan kue ini rasanya gimana. Kalau penasaran, dicobain saja. Saya saja pengen makan lagi karena gurih dan krenyes-krenyes sih. 

Palopo "Susu Kerbau"

Palopo

Inti dari tulisan ini ada disini sebenarnya. Saya ingin mengenalkan kepada kalian makanan khas sekaligus sangat legendaris di Sumbawa Barat. Bagi kalian yang datang ke Kota Taliwang atau Sumbawa Barat, kalau gak nyoba makanan ini, jangan bilang sudah ke Sumbawa Barat. 

Kenapa makanan saya bilang sangat legendaris, karena di jaman dulu orang asli Sumbawa Barat banyak memiliki ternak kerbau. Selain mengkonsumsi dagingnya, masyarakat setempat memanfaatkan susu kerbau untuk diolah menjadi makanan dengan cara susu kerbau diperah dan diambil airnya. Kemudian diendapkan dalam sebuah ember atau wadah, kemudian diberi garam. Dulu kala, masyarakat Sumbawa Barat mengkonsumsi olahan susu ini untuk lauk dan pelengkap nasi yang dimakan. 

Seiring berjalannya waktu, dengan alasan selera. Olahan susu kerbau ini dimodifikasi bukan lagi hanya sebagai lauk saja tapi kue khas Sumbawa Barat. Olahan susu kerbau ini sudah berhenti diberi garam. Sebagai gantinya dicampur dengan air gula jawa sehingga agak berasa manis. Oleh sebab itu, olahan susu kerbau ini sekarang lebih dikenal dengan sebutan Palopo alias susu kerbau gula jawa. Kalau saya sih belum terbiasa makan olahan susu kerbau ini karena masih belum berteman dengan rasanya yang enek. Bagi penggemar aneka bubur, Palopo perlu kalian coba. 


Es Badar "Es Campur Khas Sumbawa Barat"

Es Badar

Sebagai pelengkap, saya membeli es campur khas Sumbawa Barat. Kata Si Yudik sih namanya Es Badar. Saya masih merasa asing dengan nama esnya. Kalau diperhatikan sih, ini es campur dengan aneka macam campuran buah, kolang kaling, agar-agar dan rumput laut. Apapun nama yang diberikan, yang jelas es campur ini seger banget, pengen nambah dan nambah lagi. Harga seporsi Es Badar sangat murah di kantong yaitu hanya sepuluh ribu saja. Dengan harga segitu, kita sudah dapat seporsi Es Badar dengan ukuran yang sangat besar bagi saya. 

Setelah semua takjil yang kami cari sudah dibeli. Kami bertiga menuju ke rumah Si Yudik yang gak jauh dari tempat membeli takjil tadi. Kami berencana berbuka puasa di rumanya Si Yudik. Dadakan sih, tapi karena kami berdua diundang, yasudah gak apa-apa, hehehe.

Trip yang sangat lengkap bagi saya pribadi. Jauh-jauh nyeberang dari Pulau Lombok. Hanya memiliki waktu sehari bisa dapat pantai-pantai kece ala Sumbawa Barat, Shalat Ashar di Masjid Agung Darussalam dan terakhir berburu takjil khas Sumbawa Barat. Hal yang paling spesial yaitu trip bareng si doi.

Saatnya berbuka puasa, menikmati kuliner khas Sumbawa Barat bersama Yudik sekeluarga membuat saya merasakan memiliki keluarga baru. Ada satu kalimat yang masing saya ingat dari Si Yudik. Kata dia "Pantang pulang sebelum kenyang". Artinya kalau makan belum kenyang, gak boleh pulang. Mantaap !.

Perut sudah kenyang, saatnya balik ke Pulau Lombok. Biar gak kemalaman sampai Kota Mataram, kami berdua pamit.

Sebenarnya sih pengen cerita lebih panjang lagi tentang trip kami berdua ke Sumbawa Barat. Tapi ada beberapa hal yang saya gak ceritakan disini. Biar jadi rahasia kami berdua, Asyiiik. Kesimpulannya kami berdua sangat menikmati perjalanan sehari ke Sumbawa Barat.

Bagi kalian yang ingin tahu catatan trip kami berdua saat itu, saya kasi listnya deh.

Catatan 
Trip Perjalanan :
6AM        : Berangkat dari Kota Mataram ke Pelabuhan Kayangan, Lombok Timur
8AM        : Sampai di Pelabuhan Kayangan
8.30AM   : Berlayar ke Pelabuhan Poto Tano, Sumbawa Barat
11AM      : Sampai di Pelabuhan Poto Tano dan menuju Kota Taliwang
12.30PM : Sampai di Pantai Maluk, Desa Maluk
2PM        : Sampai Pantai Poto Batu, Taliwang
4PM        : Shalat Ashar di Masjid Agung Darussalam, Taliwang
5PM        : Ngabuburit sambil berburu takjil
6PM        : Berbuka bersama
8PM        : Balik menuju Pelabuhan Poto Tano
10PM      : Berlayar menuju Pelabuhan Kayangan
12AM      :Sampai di Pelabuhan Kayangan
1AM        : Sampai di Kota Mataram lagi - Finish

Budget : 
1. Bensin motor : 50ribu
2. Tiket Kapal Ferry : 100ribu (PP)
3. Tiket masuk pantai : gratis
4. Berburu Takjil dan biaya gak terduga : 50 ribu (sesuai selera dan isi dompet)
Total : 200 ribu perjalanan (bisa menyesuaikan)
      
Semoga bermanfaat dan sekian dari saya, Si blogger kece dari Pulau Lombok (kasi julukan sendiri).

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

4 comments:

  1. pantang pulang sbesebe kenyang 🤣

    ReplyDelete
  2. Wow, kue kuenya sepertinya enak nih.

    Salam kenal mas. Jangan lupa singgah ke kidalnarsis.com

    ReplyDelete