Monday, 4 December 2017

Tradisi Perang Topat (Ketupat) : Pura Lingsar


Di awal bulan Desember ini, saya sangat beruntung sekali bisa menyaksikan tradisi tahunan yang sangat populer di Pulau Lombok, khususnya di Lombok Barat. Tradisi yang hanya ada satu tahun sekali dan dilaksanakan pada akhir tahun, saat bulan purnama ketujuh menurut penanggalan Suku Sasak. Sebut saja namanya Tradisi Perang Topat (Ketupat). Sebuah peperangan yang gak memakan korban dan perpecahan, melainkan sebuah hiburan dan kebahagiaan bagi masyarakat yang ikut meramaikan acara tersebut. 

Meskipun saling perang dengan melemparkan ketupat, diantara mereka gak ada rasa dendam, terluka dan saling benci. Bahkan yang ada malah saling tertawa dan ada juga yang bertingkah lucu membuat para penonton yang menyaksikan tradisi tersebut tertawa terbahak-bahak. 



Lokasi acara di Pura & Kemaliq Lingsar, Lombok Barat. Kurang lebih sepuluh kilometer dari Kota Mataram menuju lokasi. Sudah turun temurun tradisi ini dilakukan oleh masyarakat dari Suku Bali dan Suku Sasak (Lombok). Konon sejarahnya saat umat Hindu dari Bali datang ke Pulau Lombok pada abad ke-16 tepatnya di Lingsar, umat Muslim (Lombok) sudah bersiap-siap untuk melakukan penyerangan. Tapi disaat itu ada seorang kyai yang mendamaikan kedua umat tersebut. Peperangan dalam arti sebenarnya bisa dihindari dan digantikan dengan Perang Topat (Ketupat) dengan menggunakan ketupat yang berukuran kecil. Sejarah singkatnya seperti itu.

Acara Perang Topat dimulai sore hari sekitar jam tiga sehabis shalat Ashar. Antusias masyarakat yang datang bisa dilihat dari keramaian yang ada di lokasi Pura Lingsar. Uniknya di tradisi Perang Topat ini, dua masyarakat yang berbeda keyakinan antara Umat Hindu dan Umat Muslim berkumpul bersama meramaikan tradisi ini dengan melakukan Upacara Pujawali atau ungkapan rasa syukur atas keberkahan yang didapat setahun ini kepada Sang Maha Pencipta.




Kalian pasti bertanya-tanya, kenapa lokasinya ada di komplek Pura yang menjadi tempat sembahyangnya Umat Hindu ?. Jawabannya di dalam komplek Pura & Kemaliq Lingsar ini ada dua bangunan besar yaitu Pura Gaduh yang menjadi tempat sembahyangnya Umat Hindu, sedangkan yang satunya yaitu bangunan Kemaliq yang disakralkan untuk Umat Muslim (Sasak) dan masih digunakan untuk acara adat hingga sekarang. Jadi sudah jelas kan jawabannya ?,hehehe.

Saya saja melihatnya sempat bingung. Di satu sisi Umat Hindu melakukan persembahyangan, sedangkan Umat Muslim Sasak melakukan acara pembukaan Perang Topat. Ini namanya bener-bener Bhineka Tunggal Ika (Berbeda-beda tetapi Tetap Satu Jua). Ini merupakan cerminan dari toleransi antar umat beragama yang bertahan hingga detik ini. 





Oke, sekarang kita ngebahas tentang rangkaian acara Perang Topat ! 

Acara Perang Topat diawali dengan beberapa acara hiburan antara lain atraksi gendang beleq dan tarian. Gendang Beleq sendiri merupakan alat musik yang berasal dari Pulau Lombok. Biasanya Gendang Beleq ini dibawakan oleh minimal oleh dua atau empat orang penabuh gendang. Ukuran gendangnya sendiri sangat besar sehingga disebut Gendang Beleq (Besar). Selanjutnya ada penampilan tarian yang baru pertama ada di acara Perang Topat tahun ini, namanya Tari Rejang Santhi yang menurut informasi terpercaya, tarian ini berasal dari Pulau Bali. 

Tari Rejang Santhi ini memiliki makna yaitu sebuah cerminan terhadap suasana negeri dan dunia yang dipenuhi dengan keributan, kebencian dan peperangan antar sesama manusia. Tarian kedua yaitu Tarian para prajurit berbaju hijau yang melakukan gerakan-gerakan lucu sehingga saya sendiri tertawa melihat tingkah laku para prajurit tersebut. Konon tarian ini dilakukan saat para prajurit dari Lombok akan berperang melawan penjajah. Jadi kita bisa ngebayangin suasana peperangan dulu kala di Pulau Lombok. 

Setelah acara tari-tarian selesai, ada parade yang sangat unik bagi saya. Dimana para ibu-ibu dari dua kepercayaan yang berbeda (Umat Hindu dan Umat Muslim) berjalan menuju sebuah pura yang gak boleh sembarangan orang memasukinya. Para ibu-ibu tersebut berjalan sambil membawa Topat (Ketupat) di atas kepala mereka dimana ketupat ini nantinya akan dipakai untuk perang.

Sedangkan para pemuda sudah berada di atas tembok pagar pura. Tugas mereka adalah mendistribusikan ketupat-ketupat tersebut kepada para prajurit yang akan berperang di medan perang. Saya pun ingin ikutan perang. Saat itu saya bareng Mas Irwan (travel blogger) sudah bersiap-siap untuk perang,hehehehe. Ingin merasakan gimana rasanya Perang Topat. 

Sebelum acara Perang Topat dimulai, kita mendengarkan sambutan dulu dari Bupati Lombok Barat, Bapak Fauzan Khalid dan Wakil Gubernur NTB, Bapak Muhammad Amin. 

Dalam sambutannya, Bapak Fauzan Khalid memberikan sebuah kalimat indah yaitu "Kita ingin memberikan keteladanan bagi dunia Jargon yang kita pilih di tahun ini : Dari Lingsar untuk Lombok Barat, Dari Lombok Barat untuk NTB, Dari NTB untuk Indonesia, dan Dari Indonesia untuk dunia ". Kalimat yang sangat kece bagi saya. 

Sedangkan Bapak Muhammad Amin di dalam sambutannya mengatakan  bahwa Perang Topat adalah tradisi budaya yang harus dilestarikan. Tidak ada kalah maupun yang menang. Ini event yang harus tetap terjaga kelestariannya. Kurang lebih sambutannya seperti itu. 



Setelah sambutan dari Bupati Lombok Barat dan Wakil Gubernur NTB, acara dilanjutkan dengan pembukaan Perang Topat dan sekaligus memberikan aba-aba bahwa perang segera dimulai. Sebelum pelemparan ketupat, terlebih dahulu melepas puluhan burung merpati yang melambangkan simbol perdamaian. Setelah pelepasan puluhan ekor burung merpati, acara Perang Topat dimulai.

Tanpa ragu Bapak Muhammad Amin yang didampingi oleh Bapak Fauzan Khalid beserta para pejabat lainnya melempar ketupat berukuran kecil ke medan perang sekaligus pertanda bahwa perang sudah dimulai. Para pemuda yang berdiri di atas tembok pagar segera melemparkan ratusan ketupat ke medan perang. Para pemuda termasuk saya sendiri sudah gak sabar untuk menerima ketupat yang dilempar dari atas.

Perang Topat pun berlangsung, para pemuda yang berada di bagian selatan langsung melemparkan ketupat tersebut ke arah kubu yang berada di bagian utara. Perang berlangsung seru, saya pun mendapatkan kesempatan pertama kali untuk melemparkan ketupat ke arah kubu atas atau bagian utara. Lemparan saya lumayan jauh juga, Seruuuu dan menjadi pengalaman pertama saya ikut di dalam tradisi ini, hahahaha. 


Duet Trip : diditpharm.blogspot.com & berbagifun.com 

Perang Topat hanya berlangsung kurang lebih dua pulu menit saja. Meskipun sebentar, gak mengurangi keseruan dari anak kecil hingga orang tua yang ikut berperang. Kece banget event seperti ini.

Setelah perang selesai, ketupat-ketupat tadi diambil dan dibawa pulang. Menurut kepercayaan yang berada di tengah masyarakat bahwa ketupat tersebut dapat menjadi keberkahan dan memberikan kesuburan bagi sawah dan ladang. Kalau untuk enteng jodoh, bisa gak yaaak ? (Loe jangan curhat donk). Siapa tau saja bisa kan,hehehehe. Kembali lagi ke diri kita masing-masing, boleh percaya boleh gak.

Point yang bisa saya ambil dari event ini yaitu meskipun kita berbeda dari kepercayaan, agama, dan suku, kita harus saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Berbeda itu indah bila kita saling hormat-menghormati antar umat beragama. Hidup Damai lebih baik daripada kita berperang.



Penulis : Lazwardy Perdana Putra

8 comments:

  1. Baru tahu ada acara seperti ini. Keren banget. Bukti bahwa orang Indonesia sebetulnya nggak terlalu mempermasalahkan perbedaan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tradisi yg dlaksanakan setiap 1 tahun sekali... Kece nih acaranya hehehe

      Delete
  2. wah ada aku
    heuheuheu

    seru seru seru

    ReplyDelete
    Replies
    1. qta kan artis ibukota mas broo.. Kota mana tapi ? hehehehe

      Delete
  3. saya belum pernah melihat tradisi ini secara langsung. Takut :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak serem kok.. klo kena lempar, pake helm hehehhe

      Delete
  4. Hebat ya, dua kepercayaan yang berbeda tapi bisa rukun. Adem ayem, semoga bisa menjadi contoh ditempat lain. Bhinneka tunggal ika.

    ReplyDelete